Anda di halaman 1dari 8

MENINGKATKAN JARING PENGAMAN PENERIMAAN PERPAJAKAN

Ziaulhaq As Shidqi (ziaulhaqas.shidqi@gmail.com)


Universitas Hasanudin

Abstrak

Sekitar kurang lebih 70% pendapatan dalam APBN disokong oleh


Direktorat Jenderal Pajak (DJP) . Di mana setiap tahunnya target
penerimaan pajak cenderung makin meningkat walaupun realisasi tahun
sebelumnya belum mencapai 100 %. Hal ini mendorong DJP untuk
melakukan langkah-langkah strategis agar target penerimaan tetap bisa
tercapai. Upaya DJP tidak hanya untuk lingkup jangka pendek tetapi juga
untuk jangka panjang. Upaya ini juga mencakup perbaikan sistem,
penciptaan sarana kemudahan bagi Wajib Pajak, hingga perlindungan
hukum bagi para fiskus agar dapat melaksanakan tugas dan
tanggungjawabnya dengan baik. Langkah yang menyeluruh ini diharapkan
dapat membantu DJP dalam pencapaian target penerimaan dalam rangka
membiayai belanja negara.

Kata Kunci : DJP, APBN, penerimaan perpajakan

A. Direktorat Jenderal Pajak Masa Kini

Sesuai Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas


Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2015, target APBN-P mengalami penurunan
menjadi Rp 1.761,76 triliun yang diakibatkan oleh penurunan Penerimaan Bukan
Pajak (PNBP). Namun, di sisi perpajakan target penerimaan mengalami kenaikan
hingga menyentuh angka Rp 1.489,3 triliun.

Hal ini menunjukkan bahwa beban yang harus diemban oleh DJP cukup tinggi.
Padahal di beberapa tahun sebelumnya realisasi penerimaan pajak belum dapat
mencapai angka 100%. Oleh karena itu DJP harus meningkatkan upaya seiring
dengan adanya kenaikan target yang diberikan oleh pemerintah. Bagi DJP,
penerimaan perpajakan merupakan siklus tahunan selama APBN Indonesia masih
mengandalkan pendapatan dari sisi perpajakan. Artinya hal ini menjadi tujuan
yang harus ditempuh DJP dalam kerangka membiayai belanja negara.

Sesuai www.pajak.go.id, sampai dengan 30 April 2015, realisasi penerimaan


perpajakan mencapai Rp 310,100 triliun. Dibandingkan dengan periode yang
sama di tahun 2014, di tahun 2015 terdapat beberapa pertumbuhan yang cukup
baik di sektor tertentu, namun juga ada beberapa penurunan di sektor yang lain.
Beberapa sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi di antaranya PPh
Pasal 26, PPh Final, PPh Pasal 25/29 Badan, PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, dan PPh
Pasal 25/29 Orang Pribadi. Penurunan peneriman perpajakan di antaranya adalah
penurunan penerimaan PPh Pasal 22 Impor dan PPN/PPnBM baik impor maupun
dalam negeri. Sesuai kajian Bank Indonesia, penurunan PPh Pasal 22 Impor
diantaranya disebabkan oleh perlambatan ekonomi di kuartal pertama 2015
akibat pelemahan nilai rupiah.

Berikut ini disajikan ikhtisar mengenai target dan realisasi penerimaan pajak
selama lima tahun terakhir.

Tahun Target Realisasi %

2015 1,4983

2014 1,2461 1,1469 92

2013 1,1484 1,0773 93,81

2012 1,0117 0,9805 97

2011 0,8786 0,8738 99,45

2010 0,7433 0,7233 97,31

Sumber : Data diolah dari UU APBN-P dan Nota Keuangan, Lapkeu Pemerintah
Pusat

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya target penerimaan
perpajakan semakin mengalami kenaikan. Hal ini tentu saja mendorong DJP
untuk melakukan langkah- langkah pengamanan. Kondisi yang perlu diperhatikan
di antaranya kondisi ekonomi global yang tidak dapat diprediksikan dengan tepat
sedangkan dampak volatilitasnya akan berpengaruh terhadap penerimaan pajak.

B. Upaya Mengamankan Penerimaan Perpajakan

1. Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, beberapa upaya telah dilakukan DJP untuk dapat
mencapai target penerimaan yang telah dibebankan. Upaya ini berhubungan
dengan penyempurnaan administrasi, proses bisnis dan juga program kerja yang
disesuikan dengan kondisi jangka pendek. Beberapa di antaranya adalah

a. Extra effort

Kegiatan ini merupakan upaya penggalian potensi Wajib Pajak yang


diharapkan dapat menyokong pencapaian target penerimaan tiap tahunnya. Hal
ini telah dilakukan sejak beberapa tahun silam dan cukup memberikan dampak
positif bagi peningkatan penerimaan DJP secara umum. Secara teknis, kegiatan
ini dilakukan melalui kegiatan pengawasan dan penegakan hukum, penagihan,
dan ekstensifikasi pada unit Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

b. Tahun pembinaan Wajib Pajak 2015


Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah mencanangkan tahun 2015 sebagai
Tahun Pembinaan Wajib Pajak dengan motto Reach the Unreachable, Touch the
Untouchable yang telah diresmikan oleh Presiden 29 April 2015.

Sebagai sarana pendukungnya, diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan


Nomor 91/PMK.03/2015 tentang Pengurangan atau Penghapusan Sanksi
Administrasi Atas Keterlambatan Penyampaian Surat Pemberitahuan,
Pembetulan Surat Pemberitahuan dan Keterlambatan Pembayaran atau
Penyetoran Pajak. Aturan ini merupakan sarana legal untuk memberikan insentif
penghapusan sanksi administrasi jika Wajib Pajak membetulkan SPTnya.

Pihak-pihak yang akan dibina oleh DJP adalah kelompok orang pribadi atau
badan yang belum terdaftar sebagai Wajib Pajak, kelompok Wajib Pajak terdaftar
namun belum pernah menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), serta
kelompok Wajib Pajak terdaftar yang telah menyampaikan SPT, namun belum
sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Secara garis besar ditunjukkan dengan
bagan berikut ini :

Sumber gambar : www.pajak.go.id

c. Perbaikan dan peningkatan pengelolaan database


Dalam rangka mendukung program tahun pembinaan Wajib Pajak 2015,
DJP melakukan upaya perbaikan database dan penyempurnaan proses bisnis
yang ada. Kondisi yang menjadi penghambat DJP untuk mencapai target
penerimaan adalah terkait dengan kesulitan untuk menentukan Wajib Pajak
terdaftar yang potensial. Hal ini salah satunya disebabkan oleh database yang
belum mendukung. Masih terdapat banyak Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
terdaftar yang memang sama sekali belum pernah melakukan kewajiban
perpajakan atau ditemukannya NPWP ganda. Di sisi lain, untuk Wajib Pajak
Badan sering ditemukan alamat palsu yang ternyata tidak mencantumkan
alamat sebenarnya atau bahkan dengan mencantumkan alamat yang mengada-
ada.

Dahulu, masyarakat mempunyai NPWP salah satunya untuk tujuan


bepergian ke luar negeri agar mendapatkan fasilitas fiskal. Selain itu, DJP juga
melakukan upaya ekstensifikasi untuk menyasar masyarakat yang seharusnya
sudah memenuhi syarat subjektif dan objektif Wajib Pajak dan belum memiliki
NPWP melalui program PWPM yaitu pembuatan NPWP secara masal.

Saat ini sebagai upaya pembenahan database Wajib Pajak, DJP mulai
melakukan penyempurnaan administrasi di antara untuk proses pendaftaran
NPWP. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh data yang valid terkait Wajib
Pajak yang memang mempunyai potensi dan juga telah memenuhi syarat
subyektif dan juga obyektif. Proses pendaftaran NPWP baik melalui loket tempat
pelayanan terpadu (TPT) maupun melalui e-Registration mulai disempurnakan
dengan menambahkan satu proses yang disebut dengan verifikasi. Verifikasi ini
bertujuan untuk memastikan bahwa data yang diisi oleh pendaftar NPWP
memang benar adanya sehingga dapat menghindari adanya database yang tidak
valid. Sebagai contoh bila pendaftaran dilakukan melalui e-Registration, hasil
cetak kartu NPWP tidak diambil oleh Wajib Pajak melainkan akan dikirim oleh
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang bersangkutan ke alamat yang telah
dicantumkan oleh Wajib Pajak. Di satu sisi mungkin hal ini menambah sedikit
panjang proses pendaftaran NPWP, namun di sisi lain hasil yang diharapkan akan
dapat bermanfaat dan memberikan efek positif dalam jangka yang lebih
panjang.

Dengan proses seperti itu, diharapkan database yang terkumpul benar-


benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan dan secara tidak langsung akan
mendukung pencapaian target penerimaan oleh DJP. Bisa diibaratkan bahwa
database yang ada sudah terminimalisir oleh sampah-sampah yang
mengganggu. Dengan demikian diharapkan upaya yang dilakukan DJP dapat
lebih maksimal karena data yang dimiliki memberikan nilai lebih dan landasan
yang kokoh untuk dapat meningkatkan pencapaian target penerimaan yang
semakin tinggi.

d. Kemudahan sarana

Tidak dapat dipungkiri bahwa pelayanan juga merupakan trigger yang


dilakukan DJP untuk dapat meningkatkan penerimaan perpajakan. Wajib Pajak
yang dimudahkan dalam pelaksanaan kewajiban perpajakannya dan juga
dipuaskan dalam pelayanannya diharapkan dapat semakin meningkatkan tingkat
voluntary compliance. Jika Wajib Pajak sendiri telah merasakan kemudahan dan
manfaat atas pembayaran pajak yang mereka lakukan, bukan tidak mungkin lagi
secara kesadaran diri mereka akan melaksanakan kewajiban perpajakannya
secara sukarela. Apabila hal ini dirasakan oleh semakin banyak Wajib Pajak yang
ada, bukan tidak mungkin lagi penerimaan perpajakan dapat semakin
meningkat.

Oleh karena itu, DJP berupaya untuk senantiasa meningkatkan pelayanan


dan kemudahan untuk dapat memfasilitasi pelaksanaan kewajiban perpajakan
Wajib Pajak. Beberapa sarana kemudahan terkait pendaftaran, pembayaran,
hingga pelaporan telah ditawarkan untuk meningkatkan partisipasi Wajib Pajak
dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Sarana tersebut antara lain : e-
Registration, e-Billing, hingga e-Filing.

Namun, dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat luas dan


persebaran penduduk yang belum merata terutama di wilayah luar pulau Jawa,
sarana kemudahan tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan maksimal.
Sampai dengan saat ini, DJP memfasilitasi dengan melalui keberadaan Kantor
Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP). KP2KP ini sebagai
perwakilan KPP untuk daerah dengan wilayah jangkaun yang cukup luas
sehingga diharapkan Wajib Pajak tidak mengalami kesulitan ketika akan
melaksanakan kewajiban perpajakan atau membutuhkan konsultasi perpajakan.

Baru Baru ini, DJP menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor
KEP-02/PJ/2015 Tentang Penunjukkan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ketapang
Dalam Rangka Uji Coba Mobile Tax Unit.Hal ini dimaksudkan sebagai sarana yang
dapat mempermudah Wajib Pajak yang tidak dapat dijangkau baik oleh KPP
maupun KP2KP dengan alasan kesulitan demografis. Program ini merupakan
program uji coba yang bertujuan menggantikan fungsi KPP maupun KP2KP. Jika
program ini berhasil, diharapkan dapat diaplikasikan di daerah lain yang
mempunyai kesulitan demografis yang sejenis. Kegiatan penyuluhan dan
pelayana yang diberikan Mobile Tax Unit, meliputi :

1) Penyediaan materi dan sarana penyuluhan,

2) Konsultasi perpajakan,

3) Pendaftaran NPWP melalui e-Registration untuk Wajib Pajak domisili,

4) Cetak ulang kartu NPWP,

5) Penerimaan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa dan SPT Tahunan, dan

6) Pengaduan masyarakat tentang masalah perpajakan

e. Penyempurnaan aturan perpajakan

Akhir- akhir ini kalangan penggiat UMKM sedang di hebohkan dengan


diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan Yang Diterima Atau Yang Diperoleh Wajib Pajak
Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Hal tersebut pada dasarnya merupakan
upaya DJP untuk dapat meningkatkan penyederhanaan prosedur untuk
meningkatkan penerimaan perpajakan. Namun, penerimaan masyarakat berbeda
tentang aturan tersebut. Informasi dari salah seorang widya iswara Pusdiklat
Perpajakan, bahwa sedang ada pembahasan lebih lanjut terkait PP 46 tersebut
sebagai bagian atas respon DJP terhadap reaksi masyarakat. Hal ini dilakukan
senantiasa untuk tetap menjadikan suatu peraturan harmoni dan secara formal
dapat menjadi dasar upaya pengumpulan pendapatan negara melalui
perpajakan.

2. Jangka Panjang

Upaya DJP untuk meningkatkan penerimaan perpajakan dalam jangka panjang


meliputi

a. Kerjasama dan penyempurnaan peraturan perpajakan dengan negara lain

Indonesia telah melakukan kerjasama dan kesepakatan dengan negara


lain dengan adanya Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). P3B dikenal
dengan istilah lain diantaranya Tax Treaty. P3B ini pada umumnya merupakan
kesepakatan bilateral dua negara tentang bagaimana mengatur pengenaan
pajak yang memiliki dimensi internasional dari dua negara yang melakukan
kesepakatan itu agar tidak terjadi pengenaan pajak secara berganda(Dudi
Wahyudi, 2009).

Selain itu P3B ada untuk menghindari praktik penghindaran pajak dalam
lingkup internasional di mana biasanya perusahaan multinasional lebih memilih
untuk mengalihkan pendapatannya ke negara lain yang mempunyai kebijakan
tarif lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia. DJP melakukan upaya
perjanjian ini semata mata untuk mengamankan target penerimaan yang ada
di mana tidak dapat dipungkiri dengan kondisi saat ini, penanaman modal asing
ke Indonesia semakin terbuka. Oleh karena itu upaya kesepakatan dengan
negara lain merupakan salah satu cara untuk tetap dapat menyentuh
penghasilan yang diperoleh oleh perusahaa multinasional yang beroperasi di
Indonesia. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah proses kesepakatan
yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Selain itu juga dibutuhkan bargaining
power yang tinggi sehingga kesepakatan yang dihasilkan tidak jadi boomerang
bagi Indonesia sendiri.

b. Perbaikan Struktur dan Infrastruktur

Beberapa hal yang dilakukan DJP di antara terkait perbaikan organisasi.


Sebagai contoh adalah aturan tentang pemisahan Account Representative dalam
hal pengawasan dan konsultasi. Sebelumnya AR berperan ganda dalam hal
pengawasan dan konsultasi. Secara teknis, AR dibebani dengan target
penerimaan KPP yang disesuaikan dengan Wajib Pajak yang berada di bawah
pengelolaannya. Hal ini terkadang menimbulkan bentrokan kepentingan. Di satu
sisi AR berfungsi sebagai kepanjangan tangan DJP dalam hal pembinaan Wajib
Pajak, namun di sisi lain mereka juga harus dihadapkan dengan target yang
membebani mereka yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap
penghargaan yang akan mereka terima. Dengan adanya pemisahan fungsi ini
diharapkan pembinaan Wajib Pajak tetap dapat terlaksana dan fungsi
pengawasan dalam rangka penggalian potensi Wajib Pajak juga dapat tercapai
dengan minimnya bentrokan kepentingan.

Di sisi lain, DJP juga sedang mengembangkan Center Tax Analysis (CTA)
sebagai wadah riset yang dapat mendukung pelaksanaan fungsi DJP. Dengan
adanya CTA diharapkan dapat dihasilkan kajian- kajian yang nantinya dapat
sebagai penyokong proses bisnis maupun peningkatan peran serta DJP untuk
dapat meningkatkan pencapaian penerimaan perpajakan.

Dalam segi insfrastruktur, upaya penguatan Informasi dan Teknologi (IT)


terus digalakkan. Dibuatnya sarana yang memudahkan Wajib Pajak diharapkan
dapat berkontribusi terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.
Selain itu, DJP juga sedang memperkuat IT sebagai sarana untuk mendukung
proses bisnis yang ada. Sebagai contoh adalah penguatan IT terkait Sistem
Informasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk meminimalisir bentrok saat masa
puncak penyampaian SPT masa maupun tahunan

c. Perlindungan Hukum Bagi Fiskus

Baru baru ini Presiden Jokowi mengeluarkan aturan terkait dengan


dharuskannya perlindungan hukum bagi fiskus terkait dengan tugas fungsinya
dalam membantu pencapaian penerimaan. Beberapa kasus terdahulu terjadi
karena belum adanya harmonisasi antara DJP dan para penegak hukum maupun
aturan hukum yang konkrit terkait dengan perlindungan ini. Hal ini secara tidak
langsung memberikan kekuatan atau dukungan bagi fiskus dalam menjalankan
tugas dan fungsinya. Artinya ada perlindungan bagi dirinya ketika terjadi hal
yang tidak diinginkan ketika bertugas. Perlindungan hukum ini penting, karena
kondisi di lapangan yang terkadang di luar dugaan karena Wajib Pajak merasa
terintimidasi dengan adanya fiskus. Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar,
artinya kondisi perlawanan Wajib Pajak seringnya dilakukan karena upaya
mereka untuk dapat menghindar dari pajak. Dengan adanya perlindungan
hukum ini diharapkan tidak akan ada lagi fiskus yang harus berdandan
perempuan karena di depan kantor sudah ditunggu oleh bodyguard Wajib Pajak.

d. Transformasi Kelembagaan

Reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan merupakan langkah


nyata untuk dapat perform dengan lebih baik. Transformasi kelembagaan bagi
DJP merupakan perubahan yang kontinu yang dilakukan oleh organisasi dalam
mandat dan fungsi yang sama, namun cara delivery-nya berubah (Wahyu
Tumakaka, 2014). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesan dan suasana
yang lebih fresh dan berbeda untuk menyesuaikan dengan kepentingan dan
kondisi masyarakat yang ada saat ini. Transformasi kelembagaan pada dasarnya
dalam rangka untuk menguatkan otoritas perpajakan yang ke depannya
diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih dalam pencapaian target
penerimaan.
C. Referensi

http://www.kemenkeu.go.id/Data/realisasi-apbn-p-ta-2014-31-desember-2014-i-
account

http://www.kemenkeu.go.id/Publikasi/laporan-keuangan-pemerintah-pusat-2010-
audited

http://www.kemenkeu.go.id/Publikasi/laporan-keuangan-pemerintah-pusat-2011-
audited

http://www.pajak.go.id/content/realisasi-penerimaan-pajak-30-april-2015

http://www.pajak.go.id/node/13385?lang=en

http://dudiwahyudi.com/pajak/pajak-penghasilan/persetujuan-penghindaran-
pajak-berganda-p3b.html

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/files/uploads/Kinerja_XX.pdf

Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-02/PJ/2015 Tentang Penunjukkan


Kantor Pelayanan pajak Pratama Ketapang Dalam Rangka Uji Coba Mobile Tax
Unit

Materi Seminar Transformasi Kelembagaan DJP Sekolah Tinggi Akuntansi


Negara (19 November 2014)