Anda di halaman 1dari 20

Kondisi Perekonomian Indonesia tahun 2017 Harus

Hati Hati
Posted By: Amiruddin UdinPosted date: Desember 27, 2016In: Ekonomi, NasionalNo Comments

JAKARTA, Beritalima- Kami melihat 2016 mungkin suatu tahun puncak dari pelemahan ekonomi
yang dirasakan oleh Indonesia. Pelemahan berasal dari lingkungan global, yaitu pemulihan ekonomi
yang masih lemah di dunia. Juga ketidakpastian dari sisi perdagangan internasional. Itu terasa
sekali pada 2014, 2015, dan puncaknya di 2016 ini.

Kemudian, 2016 adalah akumulasi dari permasalahan APBN kita. Dari 2014. Jadi kita selama tiga
tahun berturut-turut menargetkan penerimaan negara yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan
ketidakpastian terhadap perekonomian. Pasarnya lemah, harga-harga turun, kemudian dari sisi
dalam negeri, fiskal kita memberikan ketidakpastian.

Meskipun kalau kita lihat kuartal terakhir, mulai muncul optimisme baru. Seperti harga komoditas,
baik itu pertambangan, CPO, maupun minyak sekarang, dengan adanya tekad dari OPEC.
Meskipun itu akan sangat gradual, perlahan-lahan.

Pemerintah, dari sisi perubahan kebijakan fiskal yang secara terbuka mengakui bahwa target
penerimaan terlalu tinggi, telah memberikan suatu kepastian. Kami tidak mengejar pertumbuhan
penerimaan yang tidak realistis. Itu memberikan kepercayaan diri sektor usaha. Kalau kita lihat dari
sisi tax amnesty, itu juga memberikan suatu kesempatan baru bagi para wajib pajak, terutama dunia
usaha.

Ini merupakan suatu kombinasi yang diharapkan menimbulkan suatu momentum positif. Momentum
positif ini sangat diperlukan pada saat gempuran dari kondisi globalnya makin memuncak.

Gempuran dari sisi politiknya, berbagai perkembangan yang menimbulkan ketidakpastian, apakah
itu pemilu di Amerika, Brexit di Eropa, referendum di Italia, dan bahkan akan ada pemilu di negara-
negara yang cukup signifikan peranannya yaitu Jerman dan Perancis. Di China, sekarang ini dalam
situasi dilematis mengenai perubahan desain ekonominya,rebalancing yang memiliki dimensi sosial,
finansial, maupun politik.

Nah, kondisi ketidakpastian itu, menurut saya, tidak akan menurun, tapi akan meningkat tahun
depan. Ditambah lagi dengan tren dari kebijakan moneter. The Fed yang sudah sangat jelas
dengan kebijakan ekonomi yang akan dilakukan oleh Presiden terpilih Trump antisipasinya adalah
kenaikan dari kegiatannya ekonominya akan jauh lebih cepat. Itu menjustifikasi, pada saat kondisi
Amerika sudah maximum capacity, ditambah dengan stimulasi demand maka inflasi mungkin akan
meningkat lebih cepat. Ini yang memberikan gambaran bahwa tahun depan kondisi ketidakpastian
itu bukan menurun, malah akan tereskalasi.

Kalau lihat domestik, kita sudah mengalami suatu belokan dari sisi yang tidak pasti karena
ketidakpastian kebijakan fiskal waktu itu. Sekarang paling tidak, sudah dianggap sebagai sesuatu
yang jauh lebih clear. Selain itu, ada paket-paket kebijakan yang sudah dilakukan dua tahun
sebelumnya, termasuk dalam hal ini berbagai usaha reformasi untuk mengurangi biaya ekonomi.
Kita berharap Indonesia memiliki suatu pondasi yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian
2017.

Presiden Jokowi mengatakan ketidakpastian harus dilihat dengan kacamata optimistis. Saya rasa
untuk Indonesia, pemerintah sebetulnya telah melakukan down payment dari tindakan-tindakan dan
kebijakan-kebijakan yang dianggap cukup fundamental dan bisa memberikan pondasi, sehingga kita
memiliki kesiapan yang relatif lebih baik dibandingkan negara-negara lain yang barangkali sibuk
dengan persoalan-persoalan politik, bahkan masalah keamanan.

Ini yang menjadikan kita memasuki 2017 dengan dua sikap yaitu optimisme juga kehati-hatian.
Kombinasi optimisme dan kehati-hatian diperlukan supaya kita memiliki fleksibilitas.

Kehati-hatian itu tercermin pada kebijakan APBN 2017. Asumsinya sangat konservatif. Pertumbuhan
ekonomi, mungkin waktu itu saya yang dianggap paling hati-hati, 5,1%. Sementara range dari BI
bisa sampai 5,4%, bahkan prediksi berbagai lembaga internasional lebih tinggi dari itu.

Defisit APBN 2017 yang didesain pada 2,4% menggambarkan suatu keseimbangan. Di satu sisi
perlu memberikan daya dorong lebih, namun juga kita memberikan space yang cukup apabila
ketidakpastian akan menimbulkan pengaruh terhadap penerimaan negara. APBN 2017 bukan pada
masalah desain belanjanya, itu arahnya sudah sangat jelas. Presiden menginginkan lebih banyak
belanja pada aktivitas yang produktif, infrastruktur, human capital, pendidikan, kesehatan, transfer
ke desa, supaya lebih inklusif dan berpengaruh langsung kepada grass root. Yang menimbulkan
ketidakpastian di 2017 sama, yaitu pada sisi penerimaan. Namun, kami sudah coba untuk membuat
target penerimaan yang hati-hati. Kalau Anda perhatikan target penerimaan 2017, nilainya bahkan
lebih kecil dari APBNP 2016. Ini menggambarkan sudah ada kehati-hatian.

Namun, bahkan dalam sikap sudah hati-hati pun, kita masih akan menghadapi ketidakpastian,
apakah tadi pengaruh global dan regional, yang pasti akan tetap bisa mempengaruhi sentimen
maupun faktual, yang benar-benar terjadi.

Kemudian pada 2017, kita tidak punya lagi tambahan penerimaan dari tax amnesty yang sekarang
ini sudah mencapai Rp100 triliun. Artinya, di 2017 kita juga harus menyiapkan suatu langkah-
langkah pengamanan dari sisi penerimaan negara dalam bentuk kemampuan kita untuk melakukan
intensifikasi dan ekstensifikasi, serta reformasi perpajakan yang mampu
menciptakan confident tanpa membebani atau mengancam sektor-sektor usaha.

Jadi pada 2017, tema untuk menciptakan kepastian domestik dan memperkuat pondasi dari
sumber-sumber ekonomi dalam negeri harus tetap dilakukan, bahkan dengan ektra lebih keras,
karena ketidakpastian global akan makin meningkat.

Dari sisi pengelolaan ekonomi, BI, menteri keuangan, dan menko perekonomian harus bersama-
sama memberikan sinyal yang harmonis. Saya rasa kalau dari sisi bacaan, kami bertiga memiliki
bacaan yang sama. Jadi kalau BI melihat hal yang sama dengan yang saya baca tadi,
ketidakpastian global dan regional menimbulkan dampak sentimen maupun faktual. Sentimen itu
bisa dalam bentuk arus modal. BI pada akhirnya harus melihat ke dalam neraca pembayaran, dari
sisi capital flow, yang sifatnya shortterm dan longterm. Kemudian, akan melihat perkembangan
ekspor dan impor, terutama dari kemampuan kita untuk mengeskpor yaitu dari competitiveness kita,
dan apakah ada demand dari luar terhadap barang-barang kita. Walaupun kita competitive, tapi
ekonomi China maupun Eropa dan Jepang meredup, mereka juga akan mengurangi volume
impornya. Saya rasa itu yang dilakukan BI dan mengatakan bahwa dengan kondisi yang sekarang
maka the first line of defense-nya adalah menjaga stabilitas. Karena bahkan untuk menjaga
stabilitas memerlukan suatu effortsekarang.

Bagi pemerintah, kalau stabil maka pondasi untuk tumbuh ada. Maka buat kami itu adalah suatu hal
yang harus dilengkapi. Jadi kalau BI sekarang policy-nya adalah menjaga stabilitas, dan kita
memang berharap itu harus dijaga pada saat goncangan yang sangat besar.

Jangan lupa, dalam suatu perekonomian, begitu goncangan besar, yang menjadi shock
absorbers pertama di semua perekonomian yang terbuka seperti kita itu biasanya muncul di dalam
neraca pembayaran. Makanya shock absorbers pertama itu adalah nilai tukar. Ini kemudian akan
tertransmisikan dalam bentuk kebijakan moneter yaitu berapa jumlah uang beredar dan kemudian
pengaruhnya kepada interest rate. Itu yang kemudian masuk ke dalam. Kalau nilai tukarnya bisa
meng-absorb cukup goncangan ini, di dalam dia tidak memunculkandomino effect yang terlalu
besar. Tapi kalau ada yang tidak semuanya ter-absorb, pasti ada goyangannya. Di sinilah peranan
pemerintah, baik menggunakan instrumen fiskal maupun kebijakan sektor riil, agar kalau getaran
masih tersisa dan masuk kepada perekonomian, dia juga makin bisa di-minimize. Kita juga akan
lihat dalam APBN, seluruh pos-pos yang bisa mengurangi atau memberikan bantalan sehingga
kalau getaran itu muncul, dia teredam.

Jadi, buat saya, BI memiliki pilihan yang tepat untuk menjaga stabilitas karena memang dalam
jangka pendek sekarang ini butuh penyesuaian atau adjustment dengan kondisi global dan arah
kebijakan. Apalagi, The Fed itu sudah sangat clear. Dia akan menimbulkan sedikit goncangan
karena semua pelaku ekonomi akan menyesuaikan.

Buat Indonesia, ini adalah kesempatan. Kalau BI mengatakan stability over growth, itu tidak berarti
bahwa kita hanya stabil saja tanpa growth. Growth-nya sudah diklaim oleh pemerintah dan BI sendiri
pada level 5,1%, bahkan BI mengatakan range-nya sampai 5,4%. Jadi menurut saya, untuk bisa
menjaga range itu, BI harus menjaga stabilitas.

RUU KUP pada prinsipnya akan memberikan suatu pembaruan di bidang pengelolaan seluruh
proses bisnis di dalam Ditjen Pajak atau lembaga penerimaan pajak, apapun namanya nanti. Yaitu
dia memberikan semacam suatu penataan organisasi dan penataan proses yang sangat penting.

Bagaimana wajib pajak, yang namanya diubah menjadi pembayar pajak, jadi sama dengan dunia
internasional. Ini bagian dari konsekuensi kita menjadi warga negara di suatu negara, di mana kita
menjadi pembayar pajak dan ini menjadi semacam shareholder contributionyang harus dijaga untuk
perekonomian. Nah, kemudian juga akan ditata kembali bagaimana mendapatkan nomor pokok
pajak, bagaimana dilakukan suatu pemungutan pajak, bagaimana pemeriksaan bisa dilakukan,
bagaimana kemudian proses pemeriksaan itu harus dijalankan dan diawasi, itu semuanya ada di
dalam KUP.

Reformasi di banyak negara yang sukses karena, pertama, internalnya sendiri memang
menginginkan perubahan itu. Saya selalu mengatakan rasa memiliki atau ownershipterhadapreform.
Bisa berbagai macam alasannya, bahwa mereka memiliki mandat dan tugas dari konstitusi, bahwa
perhatian Presiden sudah luar biasa besar pada institusi ini sampai diberikan berbagai macam
dukungan, juga dari dalam mereka merasa bahwa penerimaan pajak Indonesia dengan perhatian
yang begitu besar masih belum optimal, masih kecil.

Sehingga dari dalam, kami harapkan ada perasaan bahwa mereka memiliki utang kepada Republik
Indonesia. Saya ingin menunjukkan kepada republik bahwa kami adalah institusi pajak yang
kredibel, bisa diandalkan, memiliki tingkat kepercayaan, profesionalisme, dan kompetensi yang baik,
dengan tata kelola yang bersih. Ini unsur pertama, mesin, motor, dan motivasi untuk me-reform dari
dalam, bukan karena dipaksa dari luar.

Kedua, reform yang berhasil karena dia dirancang dengan sequence yang benar. Ini seperti
membongkar mesin mobil, mana dulu yang dibongkar, kemudian diperbaiki dan dipasang lagi. Sama
juga dengan organisasi. Untuk bisa membuat organisasi yang hasilnya lebih baik, kita harus
memiliki keyakinan bahwa rancangan desainnya bisa dilakukan dengan cara terorganisir dan sesuai
dengan kebutuhan organisasi itu, termasuk dalam hal ini mana yangurgent, mana yang
kurang urgent, mana yang strategis, mana yang taktis, mana yang kritis, mana yang harus bisa
ditunggu. Ini semuanya harus dilihat. -Sbr, Bisnis-

https://www.beritalima.com/2016/12/27/kondisi-perekonomian-indonesia-tahun-
2017-harus-hati-hati/

9 TANTANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2017

Ekonomi Indonesia di 2017 masih akan dihadapkan pada sejumlah tantangan, baik dari sisi internal
maupun eksternal. Hal ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di tahun depan.

Pengamat Ekonomi Prasetijono Widjojo mengatakan, dari sisi internal, setidaknya Indonesia akan
dihadapkan pada lima tantangan. Pertama, tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Di 2016, jumlah
penduduk miskin di Indonesia sebesar 28 juta orang atau 10,86 persen dari jumlah penduduk.

"Terjadi penurunan, namun penurunannya melambat, dan jumlahnya masih tinggi," ujar dia dalam
acara Refleksi dan Pernyataan Akhir Tahun Alumni GMNI di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Tantangan ekonomi Indonesia kedua, kerentanan di mana penduduk Indonesia yang hidup di atas
garis kemiskinan masih rentan terhadap goncngan ekonomi. Ketiga, kesenjangan ditandai dengan
tingkat rasio gini yang masih cukup tinggi yaitu di angka 0,39.

"Meski pun sudah sedikit menurun, tapi pertumbuhan yang condong lebih memberikan manfaat
kepada kelompok menengah ke atas," kata dia.

Keempat, tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi yaitu sebesar 5,5 persen. Dan kelima,
kondisi fiskal yang masih dihadapkan pada persoalan belum optimalnya penerimaan negara dan
belanja yang masih harus dipertajam.

"Defisit anggaran harus dijaga dan keseimbangan primer masih harus diperbaiki," ungkap dia.

Sementara dari sisi eksternal, ekonomi Indonesia setidaknya akan dihadapkan dengan
empat tantangan. Pertama adalah perlambatan ekonomi global. Kedua adalah masih berlanjutnya
ketidakpastian di Eropa pasca Brexit.

Ketiga adalah perubahan politik di Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump yang diyakini
akan berdampak luas. Terakhir atau keempat adalah mengenai harga komoditas. "Harga komoditas
yang masih belum pulih sepenuhnya," tandas dia. (Dny/Gdn)
http://bisnis.liputan6.com/read/2691037/9-tantangan-ekonomi-indonesia-di-2017

Meski Daya Saing Turun, RI Pede Bisa Tarik


Banyak Investor
Daya saing Indonesia di dunia dinyatakan menurun dari sebelumnya peringkat 37 kini menjadi
peringkat 41 versi World Economic Forum (WEF). Meski begitu pemerintah mengaku optimistis
terhadap daya tarikIndonesia di mata investor dunia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai Indonesia adalah negara dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen dan berkualitas. Hal itu menjadi salah satu
poin utama yang dipertimbangkan investor.

"Kebanyakan pengusaha itu masuk ke Indonesia lebih melihat kebijakan pemerintahnya, jadi saya
pikir tetap sesuai yang kita inginkan, dan kita akan genjot terus investasi itu," kata Airlangga saat
berbincang dengan Liputan6.com, Senin (26/12/2016).

Untuk mendukung upaya itu, dan terus memperbaiki daya saing Indonesia di mata internasional,
pemerintah telah dan terus melakukan deregulasi melalui paket-paket kebijakan yang diluncurkan.

Salah satu buktinya, Ease of Doing Business Indonesia meningkat tajam jika dibandingkan negara-
negara lainnya. Tingkat kemudahan usaha Indonesia itu naik ke peringkat 91 dari sebelumnya
peringkat 106.

Tak hanya itu, pemerintah juga terus mengupayakan percepatan pembangunan infrastruktur dasar,
seperti salah satunya pembangkit listrik. Karena investor masuk ke Indonesia perlu pasokan listrik.

"Pemerintah juga terus bangun infrastruktur mulai dari pembangkit listrik, jalan, dan lain sebagainya.
Selain itu pemerintah juga coba fasilitasi pengembangan industri berbasis kawasan," papar
Airlangga.
Dari berbagai langkah yang diupayakan oleh pemerintah itu, Airlangga berharap Indonesia bisa
menjadi negara industri pada 2035. (Yas)

http://bisnis.liputan6.com/read/2687859/meski-daya-saing-turun-ri-pede-bisa-tarik-banyak-investor

OPINI: Prospek Ekonomi dan Perbankan


Indonesia 2017
Di tengah maraknya potensi ketidakpastian pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden
Amerika Serikat ke-45 pada 9 November 2016 lalu, di dalam negeri berkembang kabar baik yang
patut dicermati.

Sentimen positif berasal dari dua lembaga riset ternama dan kredibel, yaitu AC Nielsen dan
Danareksa Research Institute (DRI). Keduanya memaparkan hasil tentang kenaikan indeks
kepercayaan konsumen, berdasarkan riset yang baru saja mereka lakukan.

Menurut survei Nielsen, indeks kepercayaan konsumen (IKK) Indonesia terus naik tahun 2016
hingga menembus 122 pada triwulan III, meningkat enam poin dibanding kuartal sama tahun 2015
sebesar 116.

Indeks yang menunjukkan optimisme konsumen ini merupakan terbaik ketiga di Asia-Pasifik, setelah
India dan Filipina.

Ada dua indikator yang membuat indeks kepercayaan konsumen naik. Pertama, indikator keyakinan
konsumen akan kondisi keuangan pribadi dalam 12 bulan ke depan yang cukup aman. Kedua,
indikator keinginan berbelanja yang cukup meyakinkan.

Sementara itu, survei DRI menyatakan, ekspektasi perekonomian ke depan lebih baik sehingga
membuat kepercayaan konsumen di Indonesia meningkat. Konsumen percaya pemerintah telah
bekerja dengan baik, tercermin pada laju inflasi yang terkendali, yang terefleksi pada harga pangan
yang relatif stabil.

DRI juga mencatat konsumen percaya, perekonomian yang membaik di masa depan akan
mendorong naiknya investasi. Peningkatan investasi ini akan memicu penciptaan lapangan kerja
dan peningkatan pendapatan per kapita, sehingga daya beli pun meningkat.

Pada akhirnya hasil survei kedua lembaga riset tersebut merupakan modal bagi harapan ekonomi
Indonesia yang lebih baik. Kepercayaan konsumen juga dapat berdampak positif terhadap
meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia.

Di antara negara-negara Asia, India, Tiongkok dan Indonesia merupakan tiga besar negara tujuan
investasi terbaik. Bahkan bagi kalangan pebisnis Jepang, Indonesia menduduki peringkat kedua
setelah India.

Apresiasi juga patut dialamatkan ke pemerintah, termasuk keberhasilannya dalam program amnesti
pajak yang juga telah dipuji oleh dunia internasional.

Tugas Utama

Kini tugas utama pemerintah adalah memastikan setiap kebijakan yang diluncurkan dan tugas yang
diemban dapat terlaksana dengan baik. Misalnya, pemerintah harus dapat menyukseskan pencairan
belanja pemerintah pada kuartal IV agar mampu menjadi stimulus.

Ini akan semakin menguatkan dukungan konsumsi rumah tangga yang pada dua kuartal terakhir ini
mampu tumbuh di atas 5 persen, setelah sebelumnya hanya mampu tumbuh di bawah 5 persen.

Mesin pendorong utama pertumbuhan kuartal keempat tahun 2016 yaitu dari ekspansi belanja
pemerintah. Konsumsi pemerintah di sektor infrastruktur, akan memberikan sumbangan besar di
sektor publik terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kalangan analis dan ekonom juga melihat kinerja ekspor akhir tahun akan memberikan sumbangan
terhadap pertumbuhan, sejalan dengan harga sejumlah komoditas yang mulai meningkat.

Semula tahun 2016 harga komoditas diperkirakan turun 4 persen. Namun saat ini justru tumbuh
positif 0,8 persen. Ini akan mendorong ekspor dan menyumbang dari sektor eksternal terhadap
ekonomi.

Tugas lain adalah menjaga iklim investasi tetap kondusif dan atraktif. Pembangunan infrastruktur
harus dipercepat, deregulasi terus didorong, serta paket kebijakan ekonomi yang ada harus terus
dikawal agar terimplementasi dengan baik.
Publik berharap naiknya kepercayaan konsumen, kepercayaan investor, dan apresiasi dunia
internasional terhadap kinerja pemerintah Indonesia menjadi amunisi bagi terjadinya akselerasi
perekonomian secara lebih nyata.

Jika momentum ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan didukung oleh arah kebijakan yang
konsisten dan kondusif, niscaya pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen bukanlah sesuatu yang sulit
diraih.

Angka pertumbuhan 5 persen adalah base line. Artinya, Indonesia punya potensi tumbuh jauh di
atas 5 persen. Bisa ke arah persen, bisa juga ke arah 7 persen.

Semuanya bergantung kepada manajemen pemerintah dalam mengelola semua potensi dan
sumber daya nasional yang dimilikinya.

Peringkat Kemudahan Berusaha

Tak bisa diremehkan juga dukungan dari kalangan internasional. Lihat saja rilis Bank Dunia yang
baru saja mengumumkan peringkat kemudahan berusaha atau ease of doing business (EODB)
untuk 190 negara yang disurvei.

Dalam survei itu, peringkat kemudahan berusaha di Indonesia naik tajam, dari posisi 106 tahun
2015 ke urutan 91 di 2016. Kenaikan 15 peringkat itu menunjukkan bahwa melakukan bisnis di
Indonesia semakin mudah.

Indonesia pun mencatat rekor dengan melakukan tujuh reformasi dalam satu tahun terakhir, untuk
memperbaiki iklim usaha bagi pengusaha lokal.

Reformasi usaha yang dilakukan Indonesia dalam satu tahun terakhir, yang diukur oleh
laporan Doing Business adalah memulai usaha, kemudahan memperoleh sambungan listrik,
pendaftaran properti, kemudahan memperoleh pinjaman, pembayaran pajak, perdagangan lintas
batas, dan penegakan kontrak.

Reformasi dalam satu tahun terakhir juga ditujukan untuk menerapkan atau mendorong penggunaan
sistem online. Memulai usaha menjadi lebih mudah karena adanya berbagai sistem online yang
fungsional.

Saat ini seorang pengusaha hanya memerlukan waktu 25 hari untuk memulai sebuah usaha,
dibandingkan sebelumnya yang mencapai 48 hari.
Selain itu, proses pembayaran pajak sekarang menjadi lebih mudah setelah adanya sistemonline.
Kalangan pengusaha Indonesia mengaku sudah merasakan perbaikan dalam kemudahan
berusaha, khususnya dalam hal perizinan, setelah pemerintah menerbitkan 13 paket kebijakan
ekonomi.

Untuk menjaga momentum perbaikan tersebut, masih perlu upaya untuk lebih menyederhanakan
prosedur, serta mengurangi waktu dan biaya untuk memulai usaha, pendaftaran properti, dan
implementasi kontrak.

Akhirnya, perbaikan peringkat ini merupakan kemajuan yang baik dan bisa memberikan persepsi
positif terhadap kemudahan berbisnis di Indonesia.

Namun, peringkat 91 masih jauh di bawah target Presiden Jokowi yang menginginkan Indonesia
masuk peringkat 40. Peringkat 40 tersebut harus dicapai agar Indonesia menjadi negara yang
semakin menarik untuk berbisnis.

Sektor perbankan

Jangan diabaikan pula peran sektor perbankan. Industri perbankan Indonesia dalam dua tahun
berturut-turut, mengalami pelemahan fungsi intermediasi.

Ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang lemah, masing-masing berkisar 8-9 persen saja. Penyulut
melemahnya aktivitas kredit perbankan karena kurangnya permintaan kredit oleh dunia usaha di
tengah perlambatan ekonomi global, terutama melemahnya perekonomian Tiongkok.

Kondisi tersebut kurang lebihnya masih berlanjut di 2017, di mana proyeksi pertumbuhan kredit
perbankan nasional hanya akan berkisar 9-11 persen.

Sedikit lebih baik karena didorong oleh serapan kredit di sektor infrastruktur pemerintah, yang
memberi multiplier effects ke permintaan kredit ke subsektor lainnya, antara lain bangunan,
konstruksi, material (khususnya semen, besi, baja, gipsum, kayu dan kayu olahan).

Apalagi pemerintah juga sedang giat membangun sejumlah venue cabang-cabang olahraga
menyambut Pesta Olahraga se-Asia atau Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Sektor
eceran juga akan menggeliat sebagai dampak aktivitas ekonomi.

Apalagi indeks kepercayaan konsumen Indonesia tahun 2016 terbaik ketiga setelah India dan
Filipina, di antara 14 negara Asia yg disurvei oleh AC Nielsen.
Dengan demikian kombinasi permintaan kredit produktif dari segmen wholesale, middle, dan usaha
kecil menengah (UKM) baik untuk kredit modal kerja (KMK) maupun kredit investasi (KI) akan
membaik, disertai perbaikan serapan kredit konsumtif di sektor ritel.

Diproyeksikan permintaan kendaraan roda empat dan dua juga akan meningkat. Juga permintaan
kredit pemilikan rumah (KPR). Permintaan household atau keperluan rumah tangga akan membaik.

Tak ketinggalan sektor pariwisata juga akan menggeliat terutama setelah ditetapkan 10 daerah
destinasi wisata unggulan. Alhasil sektor transportasi, perdagangan dan perhotelan
(sektor hospitality) juga akan membaik.

Membaiknya harga minyak dunia pada kisaran 50 dolar AS per barel juga akan memperbaiki kinerja
sektor pertambangan dan penggalian, serta komoditas primer pada umumnya. Juga membaiknya
harga minyak sawit mentah (CPO) akan mengerek kredit ke sektor agriculture.

Stabilitas sosial politik yang terjaga dengan baik juga mendorong gairah pelaku usaha.

Soal likuiditas, Bank Indonesia (BI) terus memperhatikan hal ini dengan menerapkan kebijakan
makroprudensialnya agar likuiditas perbankan tidak cenderung ketat.

Dengan perhitungan likuiditas yang baru menggunakan loan to funding ratio (LFR), bukanloan to
deposit ratio (LDR), maka likuiditas perbankan mustinya tidak jadi masalah lagi.

Dari gambaran di atas, cukup jelas arah kebijakan moneter ke depan tidak akan lagi cenderung pro
pertumbuhan atau dovish, melainkan lebih berorientasi pada upaya menjaga aspek kestabilan
makroekonomi (stability over growth), terutama menyikapi rencana kebijakan ekonomi AS yang sulit
ditebak sehingga membawa kekhawatiran munculnya ketidakpastian baru.

Memang pelonggaran kebijakan moneter yang telah dilakukan BI melalui penurunan suku bunga
acuan BI sebesar 150 basis points (bps) terhadap suku bunga kredit masih lambat.

Namun, BI melihat ruang penurunan suku bunga kredit masih ada hingga kuartal II-2017.
Penurunan suku bunga kredit masih lambat lantaran perbankan melakukan pencadangan biaya. Hal
ini sejalan dengan peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL).

BI mencatat, per akhir Oktober 2016 NPL perbankan mencapai 3,2 persen (gross) dan 1,5 persen
(nett).
Meski demikian, BI melihat ruang penurunan suku bunga kredit masih ada sejalan dengan
perkembangan konsolidasi perbankan. Sebab, saat ini merupakan puncak peningkatan NPL dan
akan menurun hingga kuartal II-2017.

Menurut BI, penurunan suku bunga kredit kemungkinan tidak bisa menyamai penurunan suku bunga
acuan BI yang telah mencapai 150 bps.

Namun, diperkirakan penurunan suku bunga kredit masih bisa melebihi 100 bps. Bunga deposito
mungkin bisa turun 20 bps lagi.
Kalau bunga kredit setidaknya 50 bps masih bisa turun lagi.

Sejak BI melonggarkan suku bunga acuan, suku bunga deposito sudah turun 130 bps per akhir
November 2016. Sementara suku bunga kredit baru turun 67 bps per akhir November 2016.

BI optimistis pertumbuhan kredit tahun 2016 bisa mencapai target 7-9 persen. Sebab, pertumbuhan
kredit pada Oktober saja mencapai 7,5 persen (yoy).

Walaupun pertumbuhan kredit year to date (ytd) hingga Oktober 2016 baru mencapai 5,8 persen.
Untuk 2017, BI masih memperkirakan pertumbuhan kredit bisa mencapai 9-11 persen.

Jika ke depannya BI cenderung pada kebijakan stabilitas makroekonomi, maka pemerintah harus
mengandalkan kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Salah satu yang bisa dilakukan yakni dengan mempercepat realisasi belanja modal, terutama
belanja infrastruktur. Tetapi itu tidak akan mulus, sebab masih ada ancaman shortfall, sehingga
potensi terjadinya defisit APBN masing terbuka.

Kondisi tersebut akan membuat pemerintah kembali menerbitkan surat berharga negara. Namun
dengan ancaman kenaikan Fed Fund Rate (FFR) di tahun depan sebanyak tiga kali dengan
akumulasi kenaikan 75 bps, hal itu tentu memiliki risiko.

Sebetulnya kenaikan FFR sudah masuk dalam perhitungan risiko pelaku pasar jauh-jauh hari
sebelum diputuskan. Yang belum adalah rencana kebijakan ekonomi Donald Trump terkait rencana
kebijakan ekonomi yang lebih ekslusif.

Selain itu, risiko inflasi 2017 yang akan meningkat juga harus diprediksi sering potensi kenaikan
harga minyak dunia. Hal itu dipacu oleh risiko meningkatnya inflasi di sisiadministered price.
Kesimpulannya, ruang pelonggaran moneter BI ke depan mungkin saja semakin terbatas.
Jika demikian, pemerintah harus memaksimalkan kebijakan fiskalnya agar dapat tetap memberikan
stimulus pada perekonomian, meskipun situasinya juga tidak memberikan banyak pilihan, lantaran
ruang fiskal yang ada sangat terbatas.

Solusinya, pemerintah harus lebih efektif dan efisien dalam menentukan belanja prioritas.

Ada beberapa pos anggaran yang bisa dimaksimalkan. Salah satunya melalui dana transfer daerah,
yang harus lebih efektif untuk proyek-proyek infrastruktur.

Keberadaan Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Umum (DAU) tidak boleh hanya mengendap
di rekening daerah. Keberadaan dana-dana itu harus secepatnya bisa diserap untuk proyek-proyek
dan kegiatan yang produktif.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk menjaga optimisme dunia usaha agar tetap produktif.
Salah satunya melalui pemberian insentif, sehingga iklim investasi dapat terjaga.

Dengan formula-formula itu diyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2017 nanti akan berada di
kisaran 5,1-5,3 persen.

Sebagai perbandingan, target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam APBN 2017 sebesar 5,1
persen. Proyeksi pertumbuhan setinggi ini akan mudah digapai jika didorong juga oleh pertumbuhan
kredit pada kisaran 9-11 persen dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berkisar 7-9 persen
untuk 2017.

http://bisnis.liputan6.com/read/2694027/opini-prospek-ekonomi-dan-perbankan-indonesia-2017
Bappenas Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2017 5,3
Persen
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan pertumbuhan
ekonomi nasional pada tahun 2017 mencapai kisaran 5,1 hingga 5,3 persen.

"Untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2017, saya perkirakan masih pada range 5,1-5,3
persen," ucap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dalam diskusi Evaluasi Akhir Tahun 2016
dan Harapan 2017, di Kantor Bappenas, Jakarta, Sabtu 31 Desember 2016 seperti
dikutip dari Antara .

Menurut Bambang, perkiraan tersebut terjadi dengan asumsi ekonomi Indonesia masih
didominasi oleh sektor konsumsi masyarakat. Sementara itu, gejolak perekonomian
global masih belum bisa diprediksi besaran dan dampaknya terhadap ekonomi nasional.

"Karena gejolak perekonomian global belum bisa kita prediksi seperti apa. Bagaimana
pun ekonomi global itu belum terang," ungkap Bambang.

Meski demikian, perekonomian nasional masih tetap mampu bertumbuh sebesar 5,1
persen di tahun 2016, dalam kondisi terjadi gejolak perekonomian global.
Artinya, kata Bambang, ekonomi Indonesia masih mampu bertahan menghadapi
berbagai gejolak ekonomi global. Langkah untuk membuat ekonomi nasional mampu
beradaptasi terhadap perubahan global, menjadi sangat penting untuk ditingkatkan.
"Dengan kondisi global yang tidak pasti pun, kita masih bisa tumbuh 5,1 persen. Itu
sudah bagus. Jadi kalau globalnya bisa kita prediksi dan kita kendalikan, artinya
Indonesia bisa beradaptasi dengan perubahan global, itu akan bagus untuk ekonomi
Indonesia," kata Bambang.

https://m.tempo.co/read/news/2016/12/31/087831604/bappenas-prediksi-pertumbuhan-
ekonomi-2017-5-3-persen

BEI Optimis Kinerja Pasar Modal di


2017
JakartaPT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan perjalanan pasar modal
Indonesia sepanjang tahun ini memperlihatkan kinerja yang baik, yang dibuktikan
dengan pertumbuhan terbesar kedua di ASEAN. Dengan begitu, BEI meyakini, pada
tahun 2017 mendatang kinerja pasar modal juga masih akan positif.

Tahun depan insya Allah dengan raihan di 2016 saya kira 2017 cukup optimis dan
antusias perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan pasar modal dengan cukup baik,
ujar, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Samsul Hidayat, di
Jakarta, Kamis, 15 Desember 2016.

Ia menjelaskan, baiknya kinerja pasar modal juga disumbang peran pemerintah yang
mengeluarkan kebijakan yang mendorong penigkatan di pasar modal. Salah satunya,
Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) yang telah berlangsung sejak Juli 2016
hingga saat ini.

Pemerintah cukup baik. Pasar di Indonesia cukup di-support oleh berbagai kebijakan
pemerintah dan kebijakan Tax Amnesty. Meski runtuh juga cukup bagus, dengan
melihat transaksi harian yang menunjukkan bahwa likuiditas market kita cukup, jelas
Samsul.

Kendati semakin yakin bahwa pasar modal akan membukukan kinerja yang baik tahun
depan, namun tetap harus didukung oleh kondisi keamanan di dalam negeri. Pasalnya,
faktor keamanan merupakan salah satu faktor yang menentukan keinginan investor
asing untuk masuk ke pasar Indonesia.

Salah satu yang menggerakkan market kita itu kan investor asing. Kalau keamanan
tidak terjamin, maka dunia investasi juga terpengaruh. Kita ingin juga
selain support ekonomi juga didukung oleh sisi keamanan dalam negeri, tutup Samsul.
(*)

http://infobanknews.com/bei-optimis-kinerja-pasar-modal-di-2017/

BAB I
ANALISIS FUNDAMNETAL MAKRO
1.1Analisis Kondisi Ekonomi Indonesia

Sistem ekonomi Indonesia saat ini adalah sistem demokrasi ekonomi yaitu sistem
perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945
yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh dan untuk rakyat dibawah
pimpinan dan pengawasan pemerintah. Sistem ekonomi ini memiliki landasan idiil Pancasila
serta landasan konstitusional UUD 1945.

Liputan6.com, Jakarta 0 Ekonomi Indonesia di 2017 masih akan dihadapkan pada sejumlah
tantangan, baik dari sisi internal maupun eksternal. Hal ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan
ekonomi di tahun depan.

Pengamat Ekonomi Prasetijono Widjojo mengatakan, dari sisi internal, setidaknya Indonesia akan
dihadapkan pada lima tantangan. Pertama, tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Di 2016, jumlah
penduduk miskin di Indonesia sebesar 28 juta orang atau 10,86 persen dari jumlah penduduk.

"Terjadi penurunan, namun penurunannya melambat, dan jumlahnya masih tinggi," ujar dia dalam
acara Refleksi dan Pernyataan Akhir Tahun Alumni GMNI di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

BACA JUGA

Meski Daya Saing Turun, RI Pede Bisa Tarik Banyak Investor

Menperin: Indonesia Jadi Negara Industri di 2035

Ini 2 Negara Saingan Berat RI di Industri Padat Karya


Tantangan ekonomi Indonesia kedua, kerentanan di mana penduduk Indonesia yang hidup di atas
garis kemiskinan masih rentan terhadap goncngan ekonomi. Ketiga, kesenjangan ditandai dengan
tingkat rasio gini yang masih cukup tinggi yaitu di angka 0,39.

"Meski pun sudah sedikit menurun, tapi pertumbuhan yang condong lebih memberikan manfaat
kepada kelompok menengah ke atas," kata dia.

Keempat, tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi yaitu sebesar 5,5 persen. Dan kelima,
kondisi fiskal yang masih dihadapkan pada persoalan belum optimalnya penerimaan negara dan
belanja yang masih harus dipertajam.

"Defisit anggaran harus dijaga dan keseimbangan primer masih harus diperbaiki," ungkap dia.

Sementara dari sisi eksternal, ekonomi Indonesia setidaknya akan dihadapkan dengan
empat tantangan. Pertama adalah perlambatan ekonomi global. Kedua adalah masih berlanjutnya
ketidakpastian di Eropa pasca Brexit.

Ketiga adalah perubahan politik di Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump yang diyakini
akan berdampak luas. Terakhir atau keempat adalah mengenai harga komoditas. "Harga komoditas
yang masih belum pulih sepenuhnya," tandas dia. (Dny/Gdn)

http://bisnis.liputan6.com/read/2691037/9-tantangan-ekonomi-indonesia-di-2017
1

TEMPO.CO, Jakarta - IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan


ekonomi tahun ini untuk kawasan Asean 5, termasuk Indonesia.
Ramalan IMF ini berbeda dengan Bank Dunia yang memperkirakan
pertumbuhan positif.

Investasi swasta menjadi catatan penting bagi Dana Moneter


Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam proyeksi perekonomian
Indonesia tahun ini.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2017, IMF


memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan mencapai
1
4,9 persen. Perkiraan itu turun dari laporan WEO Oktober 2016, di mana
pada tahun ini pertumbuhan ekonomi kawasan Asean 5 diproyeksikan
tumbuh 5,1 persen.

Revisi turun ini disumbang oleh Indonesia yang diperkirakan investasi


swastanya akan tumbuh lebih rendah dari proyeksi awal dan Thailand
yang berpotensi mengalami pelambatan dari sisi konsumsi dan
pariwisata, tulis IMF dalam laporannya, Senin, 16 Januari 2017.

Baca: Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Genjot Industri

ADVERTISEMENT

Sementara itu, secara umum proyeksi pertumbuhan ekonomi global


tidak mengalami perubahan dari World Economic Outlook Oktober 2016.
Saat ituproduk domestik bruto (PDB) pada 2017 diperkirakan tumbuh 3,4
persen dan berlanjut menjadi 3,6 persen pada 2018.

Adapun pertumbuhan ekonomi negara seperti China, Amerika Serikat,


Uni Eropa dan Jepang diperkirakan meningkat. Kami melihat, ekonomi
dunia akan mendapat kecepatan baru tumbuh dalam jangka pendek.
Tahun 2017 menjadi momentum pertumbuhan itu. Namun, di sisi lain
ketidakpastian justru akan meningkat mulai tahun ini, kata Obtsfed.

Baca: Bank Dunia Klaim Kemiskinan Global Turun 10 Persen

Obstfeld menambahkan, proyesi lebih kuat dan lebih akurat diperkirakan


akan muncul dalam WEO April 2017. Pasalnya, para pelaku pasar dan
IMF telah mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari rencana
kebijakan ekonomi AS di bawah Donald Trump.

Apabila AS konsisten dengan kebijakan stimulus fiskal yang dijanjikan


Trump pada masa kampanye, maka prospek pertumbuhan ekonomi
negara berkembang berpotensi kembali mendapat tekanan ke bawah.

Proyeksi dari IMF ini berbanding terbalik dengan proyeksi yang


diterbitkan oleh Bank Dunia, terutama terkait proyeksi PDB Indonesia.

Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) Januari 2017, Naiknya


investasi sektor swasta dan menguatnya kembali harga komoditas,
diproyeksikan akan membuat sejumlah negara berkembang di Asia
Tenggara, salah satunya Indonesia, mengalami pertumbuhan ekonomi
yang lebih kuat pada 2017 dibandingkan tahun lalu.

Bank Dunia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun


ini akan mencapai 5,3 persen dan berlanjut menjadi 5,5 persen secara
berturut-turut pada 2018 dan 2019 (lihat grafis).

Menanggapi proyeksi dua lembaga tersebut, Gubernur Bank Indonesia


Agus D.W Martowardojo mengatakan perkembangan ekonomi global
masih menunggu rencana kebijakan Presiden Terpilih Amerika Serikat
Donald Trump yang rencananya akan dilantik pada 20 Januari 2017
waktu setempat.

Aksi proteksionis yang digaungkan Trump pada kampanyenya bisa


membatasi laju ekspor Indonesia ke AS. Namun, secara umum kinerja
ekonomi AS membaik di semester kedua diiringi dengan adanya
kepastian kenaikan Fed Fund Rate yang diperkirakan sebanyak dua kali
pada tahun ini.

Agus berharap pada tahun ini 2017 peran dalam pertumbuhan ekonomi
tidak hanya dari konsumsi dalam negeri dan dari pemerintah, melainkam
juga investasi swasta. "Pertumbuhan ekonomi 2017 seperti yang kami
sampaikan di antara 5-5,4 persen."
https://m.tempo.co/read/news/2017/01/17/087836732/proyeksi-ekonomi-2017-
ini-beda-ramalan-imf-dan-bank-dunia