Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

EKSPERIMEN FISIKA 1

Interferometer Michelson Morley


diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Eksperimen Fisika 1
Dosen pengampu: Drs. Parlindungan Sinaga, M.Si

Oleh :
Anti Haryanti (1404176)

PELAKSANAAN PERCOBAAN :
Hari/Tgl/Jam: Selasa / 8 November 2016 / 13.00-14.40

LABORATORIUM FISIKA LANJUT


DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016
C2 C2

C3

Layar

A. Tujuan Percobaan
Menentukan panjang gelombang sinar laser

C1 B. Alat dan bahan


1. Counter 1 buah
2. Perangkat percobaan Interferometer Michelson
Sumber sinar 1 set
3. Sinar laser HeNe

C. Dasar Teori
Interferometer adalah alat yang di gunakan untuk mengukur panjang gelombang atau
perubahan panjang gelombang dengan ketelitian yang sangat tinggi berdasarkan
penentuan garis-garis interferensi. Interferensi sendiri merupakan suatu kejadian dimana
dua gelombang atau lebih berjalan melalui bagian yang sama dari suatu ruangan pada
waktu yang bersamaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya superposisi dari gelombang-
gelombang tersebut sehingga menghasilkan pola intensitas baru. Perpaduan dari dua
gelombang yang memiliki beda fase yang tetap. Interferensi itu sendiri ada dua, yaitu
interferensi maksimum dan interferensi minimum. Interferensi maksimum yaitu
interferensi yang saling menguatkan dimana dalam kasus cahaya akan menimbulkan
pola terang pada layar. Sedangkan interferensi minimum adalah interferensi yang saling
melemahkan dimana pada layar akan menampakkan pola gelap. Dengan menggunakan
prinsip interferensi ini kita dapat mengukur panjang gelombang sinar laser. Secara garis
besar prinsip kerjanya sebagai berikut :

Skema Arah Sinar pada Percobaan

Interferometer Michelson

Alat interferometer bekerja berdasarkan prinsip superposisi atau interferensi, prinsip kerja
alat ini adalah berkas sinar monokromatis diarahkan pada beam spliter C3, sinar pecah
menjadi dua berkas, sebagian diteruskan ke C2, dan sebagian lagi diteruskan ke C1. Sinar
yang menuju C2 sebelumnya dilewatkan dulu pada pelat kompensator. Sinar-sinar pantul dari
cermin C1 dan dari C2 (melewati kompensator) ini, kemudian keduanya diteruskan ke C3.
Sinar dari C1 oleh C3 diteruskan ke layar dan sinar dari C2 dipantulkan oleh C3 dan
ditangkap oleh layar. Pada layar akan tampak dua buah titik sinar. Kedua sinar yang datang
pada layar ini dapat diatur supaya berinterferensi, sehingga membentuk pola interferensi
lingkaran. Pengaturan dilakukan dengan cara memutar sekrup pada cermin C1 dan C2 yaitu
mengubah kemiringan masing-masing cermin. Dengan menggeser C2 ke C2 sejauh d akan
dihasilkan perubahan pola interferensi tersebut. Menggeser cermin C2 dilakukan dengan cara
memutar mikrometer sekrup pada alat. Pola interferensi (gelap-terang) yang terjadi seperti
gambar di bawah ini:

Pola terang

Pola gelap

Analisis perambatan gelombang dapat diturunkan dari percobaan Young (pembelahan muka
gelombang)

r1

S1 Y
S r2


S2

Persamaan gelombang untuk lintasan r 1 dan lintasan r 2


E (r1 , t ) E o cos r1 k t
E (r2 , t ) E o cos r2 k t

Kedua gelombang tersebut akan terpadu di layar akibat sifat superposisi dari gelombang itu,
maka secara matematis dapat dituliskan

E r , t E1 r1 , t E 2 r2 , t

E r , t E o cos r1 k t E o cos r2 k t
r1 k t r2 k t r k t r2 k t
E r , t 2 E o cos . cos 1
2 2
r1 r2 k r r k
E r , t 2 E o cos t cos 1 2
2 2

Jika sumber S diletakan tidak simestris terhadap S1 dan S2 maka antara E 1(r1,t) dan E2(r2,t)
terdapat beda fase. Sehingga persamaan gelombangnya

E (r1 , t ) E o cos r1 k t 1
E (r2 , t ) E o cos r2 k t 2
r1 r2 k 2 r r k
E (r , t ) 2 E o cos t 1 cos cos 1 2 1 2
2 2 2 2

1 2
misal: r1- r2 = r


dan apabila r <<< dan <<< maka

r kr
E (r , t ) 2 E o cos k r1 t 1 cos
2 2 2 2
kr
E (r , t ) 2 E o cos kr1 t 1 . cos
2 2

Maka intensitasnya

I E r , t 4 E o cos 2 kr1 t 1 cos 2


2 2

I 4 I o cos 2
2
kr

2 2
dimana

1 2
r d sin
jika

untuk << maka sin ~ tan

r =d tan

.2 Y
=d
k L

C2 C2
Yk dY
=d . =
C3 2 L L

Layar
dY
n
.n L
I akan maksimum jika , maka
C1
Jarak maksimum ke minimum diperoleh

nL Y Sumber sinar
2Y 2d n. 2d sin n
d L sin 1
, karena << tan ~

2.d n
Jadi diperoleh hubungan

Dimana :

n = orde interferensi ; n = 0,1,2,3...

Dengan demikian kita dapat menghitung panjang gelombang dari sinar laser dengan
mengukur jarak d dari C2 s.d C2 dan menghitung sampai pola interferensi berubah sebanyak
n kali.

D. Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menyusun alat-alat seperti pada gambar eksperimen berikut :
3. Menyalakan alat Interferometer Michelson Morley.
4. Mengatur posisi C1 sehingga berkas pantulan dapat terlihat dilayar.
5. Mengatur beam spliter C3 sampai terlihat bahwa sinar laser langsung menuju C3,
kemudian mengatur beam spliter C3 sampai terlihat bahwa sinar yang dipantulkan
segaris dengan sinar datang,
6. Mengatur posisi C2 sehingga cahaya dari C2 berimpit dengan cahaya dari C1.
7. Memutar sekrup pengaturan pada C2 secara perlahan sehingga pola interferensi dapat
dilihat jelas pada layar pengamatan.
8. Memutar micrometer sekrup satu putaran penuh belawanan arah jarum jam.
9. Mencatat posisi awal micrometer sebelum mulai melakukan penghitungan.
10. Memutar knop micrometer perlahan-lahan searah jarum jam. Pada saat yang sama
menghitung banyaknya pola terang gelap yang melintasi garis batas.
11. Mencatat posisi akhir micrometer sesudah melakukan perhitungan.
12. Menggeser C2 ke C2, misalkan jaraknya d sedemikian dan dalam waktu yang
bersamaan mengamati perubahan pola interferensi sebanyak n = 200, n =400 dan n=600
kali.
13. Mengulangi langkah 9-12 untuk masing-masing n = 200, n =400 dan n=600 kali
sebanyak 3 data.
14. Mencatat setiap data ketika n = 200, n =400 dan n=600.
15. Mematikan dan merapihkan kembali alat-alat yang telah digunakan.

E. Data Percobaan
Suhu awal = (24.00 0.05)oC
Suhu akhir = (24.00 0.05)oC

No. n (d10,005)mm (d20,005)mm


1 100 15.30 15.28
2 100 15.28 15.26
3 100 15.26 15.24
4 100 15.24 15.23
5 100 15.23 15.13
6 100 15.13 15.10
7 100 15.10 15.08
8 100 15.08 15.06
9 100 15.06 15.01
10 100 15.01 14.46

F. Pengolahan Data
1. Menggunakan Metode Statistik
a. N = 200
(d10,005)
(d20,005) (d0,005)
No (d) m (m) ()
mm mm mm
1 15.30 15.26 0.04 4E-05 4.00E-07 4000
2 15.13 15.08 0.05 5E-05 5.00E-07 5000
3 15.10 15.06 0.04 4E-05 4.00E-07 5000
JUMLAH 1.30E-06 14000
RATA - RATA 4.33E-07 4330
STANDAR DEVIASI 5.77E-08 577
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN 13.32% 13.33%
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN TERHADAP LITERATUR 31.57%

Setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metoda statistika


diperoleh panjang gelombang sinar laser sebagai berikut

=( 4.33 0.577 ) x 103


Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.577
x 100 = x 100 =13.32
4.33
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

4330 6328
literatur x 100 = =31.57
literatur 6328

b. N = 400

(d10,005) (d20,005) (d0,005)


No. (d) m (m) ()
mm mm mm
1 15.30 15.23 0.07 7.00E-05 3.50E-07 3500
2 15.28 15.13 0.15 1.50E-04 7.50E-07 7500
3 15.26 15.01 0.25 2.50E-04 1.25E-06 6000
JUMLAH 2.35E-06 17000
RATA - RATA 7.83E-07 5666.67
STANDAR DEVIASI 4.51E-07 2020
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN 57.56% 35.65%
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN TERHADAP
10.45%
LITERATUR
Setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metoda statistika diperoleh
panjang gelombang sinar lasersebagai berikut
=

=( 5.66 0.20 ) x 10 3
Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.20
x 100 = x 100 =3.53
5.66
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

5667 6328
literatur x 100 = =10.45
literatur 6328

c. N = 600

(d10,005)
(d20,005) (d0,005)
No. (d) m (m) ()
mm mm mm
1 15.30 15.10 0.20 2.00E-04 6.67E-07 6670
2 15.28 15.08 0.20 2.00E-04 6.67E-07 6670
3 15.24 15.01 0.23 2.30E-04 7.67E-07 7670
JUMLAH 2.10E-06 21010
RATA - RATA 7.00E-07 7003.33
STANDAR DEVIASI 5.77E-08 577
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN 8.25% 8.24%
PRESENTASI KESALAHAN PENGUKURAN TERHADAP
10.67%
LITERATUR

Setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metoda statistika


diperoleh panjang gelombang sinar laser sebagai berikut

=( 7.003 0.577 ) x 103


Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.577
x 100 = x 100 =8.23
7.003
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

7003 6328
literatur x 100 = =10.67
literatur 6328 %

G. Analisis
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan oleh kelompok kami, diperoleh
hasil sebagai berikut:

1. Untuk N = 200

=
=( 4.33 0.577 ) x 103
Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.577
x 100 = x 100 =13.32
4.33
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

4330 6328
literatur x 100 = =31.57
literatur 6328

2. Untuk N = 400

=
=( 5.66 0.20 ) x 10 3
Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.20
x 100 = x 100 =3.53
5.66
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

5667 6328
literatur x 100 = =10.45
literatur 6328

3. Untuk N = 600

=
=( 7.003 0.577 ) x 103
Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar,
0.577
x 100 = x 100 =8.23
7.003
dan kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar

7003 6328
literatur x 100 = =10.67
literatur 6328 %

Berdasarkan dari hasil percobaan yang diperoleh terdapat perbedaan dengan nilai

panjang gelombang ( ) pada literatur yaitu 6328 . Hal tersebut dapat terjadi

karena disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

1 Sulitnya mendapatkan pola interferensi yang baik. Hal ini terjadi karena alat
interferometer yang sangat sensitif terhadap pergeseran, sebagai contoh ketika sudah
didapatkan pola interferensi yang cukup baik, dapat langsung berubah ketika ada
pergeseran kecil di sekitarnya.

2 Kesalahan pada saat pembacaan skala mikrometer sekrup penggeser cermin C2. Hal
ini tentu akan mempengaruhi akurasi dari pengambilan data d.

3 Kurang teliti pada saat menghitung perubahan pola gelap-terang di pusat pola
lingkaran interferensi (N), karena pada saat praktikum ketika sekrup untuk
menggeser cermin C2 diputar sedikit saja sudah dapat terjadi perubahan pola gelap-
terang yang sangat banyak di pusat pola lingkaran interferensi sehingga pengamat
kesulitan untuk menghitung pola perubahan tersebut.

4 Kesulitan dalam mendapatkan pola interferensi lingkaran yang berpusat di tengah


layar karena posisi antara sinar laser dengan cermin yang kurang lurus.

5 Sering hilangnya pola interferensi atau pola gelap terang dari penglihatan pengamat.

Kesalahan-kesalahan tersebut dapat dihindari dengan memperhatikan beberapa hal


berikut:

1 Lebih teliti dalam melihat perubahan pola interferensi pada layar sehingga tidak
terjadi kesalahan perhitungan.
2 Lebih berhati-hati dalam menggunakan alat interferometer karena alatnya yang
sangat sensitif.

3 Ketelitian dalam pembacaan skala mikrometer sekrup pada penggeser cermin C2.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode statistik dan analisis dapat
disimpulkan bahwa nilai panjang gelombang sinar laser yang didapat dari
hasil percobaan yaitu:
N=200
=( 4.33 0.577 ) x 103

Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar = 13.32


Kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar 31.57
N=400
=( 5.66 0.20 ) x 10 3

Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar = 3.53


Kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar 10.45%
N=600
=( 7.003 0.577 ) x 103
Dengan presentasi kesalahan relatif sebesar = 8.23
Kesalahan presisi pengukuran terhadap literature sebesar 10.67

I. Daftar Pustaka
Halliday, David dan Resnick, Robert. 1984. Fisika (Terjemahan Pantur Silaban dan
Erwin Sucipto). Jakarta: Erlangga.
Tim Dosen Fisika UPI. 2009. Eksperimen Fisika I. Bandung: Jurusan Pendidikan
Fisika FPMIPA UPI.
Tipler, P.A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid II (Terjemahan Dra. Lea
Praseto, M.Sc dan Rahmad W. Adi, Ph.D). Jakarta : Erlangga
J. Lampiran