Anda di halaman 1dari 25

STATUS MEDIK PASIEN

I. IDENTITAS
1. Identitas Pasien
Nama : An. D
Umur : 4 tahun 2 bulan
TTL : Jakarta, 21 Desember 2006
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jalan Budimulya Utara RT 13/ RW 12
No. RM : 00-15-16-73
Tanggal masuk RS : 26 Januari 2013
Pendidikan : TK B

2. Identitas Orangtua
Ayah
Nama : Tn. O
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Alamat : Idem
Pekerjaan : Buruh
Penghasilan : Rp. 1jt 1,5jt

Ibu
Nama : Ny. M
Umur : 31 tahun
Agama : Islam
Alamat : Idem
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Penghasilan : Rp. 0 .-

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung, anak pertama

II. ANAMNESIS
Dilakukan alloanamnesa bersama ibu pasien pada tanggal 29 Januari 2013 pukul
10.00 WIB di Bangsal anak kamar 405 RSUD Koja.
Keluhan Utama :
Pasien panas naik turun sudah 4 hari sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan :
Mual, nyeri ulu hati, rasa ngilu di sendi-sendi, belum BAB 3 hari.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD koja pada tanggal 26 Januari 2013 pukul 20.30 WIB.
Pasien diantar kedua orang tua nya dengan keluhan utama badan panas sudah 4 hari sebelum
masuk rumah sakit. Demam dirasakan makin tinggi terutama saat malam. Demam hanya
turun apabila pasien diberi minum obat penurun panas oleh ibunya, tetapi ibu pasien tidak
pernah mengukur panas pasien dengan termometer. Pasien juga merasakan mual tetapi tidak
sampai muntah. Pasien mengeluh nyeri pada ulu hati dan rasa ngilu di sendi-sendinya. Pasien
belum BAB selama tiga hari terakhir. Pasien BAK 3-4x sehari dan tidak ada rasa nyeri saat
BAK. Pasien tidak mengeluh batuk, pilek, nyeri pada telinga ataupun nyeri saat menelan.
Tidak terdapat bercak-bercak merah pada kulit pasien. Pasien tidak mengalami mimisan dan
gusi berdarah. Pada hari pertama sampai hari kedua dirawat pasien panasnya tidak terlalu
tinggi, keluhan seperti nyeri ulu hati masih dirasakan. Pasien kurang nafsu makan, tetapi
masih mau minum. Di hari ketiga dirawat atau demam hari keenam, pasien suhunya
mencapai 38,2o C, pasien menggigil saat suhunya tinggi, namun panas kembali mereda
setelah diberi obat penurun panas. Menurut orang tua pasien, di sekitar rumah pasien ada juga
anak yang terkena demam berdarah.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien pernah di rawat di rumah sakit pada usia 10 bulan karena diare selama 5 hari.
Pasien juga pernah dirawat pada usia 3 tahun, tetapi ibu pasien lupa pasien menderita demam
tifoid atau demam berdarah.

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Alergi - Difteria - Jantung -


Cacingan - Diare + Ginjal -

Demam - Kejang - Darah -


Berdarah
Demam + Kecelakaan - Radang paru -
Thypoid
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -

Parotitis - Operasi - Morbili -

Riwayat Penyakit Keluarga :


Pada keluarga pasien tidak terdapat riwayat penyakit seperti yang dialami oleh
pasien. Penyakit menular seperti TBC, campak, cacar dan sebagainya disangkal ibu
pasien.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :


KEHAMILAN Morbiditas Tidak ditemukan kelainan
kehamilan
Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan
KELAHIRAN Tempat kelahiran Puskesmas
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Normal
Masa gestasi 9 bulan
Berat lahir 3100 gram
Panjang badan 48 cm
Cairan ketuban jernih
Keadaan bayi
Langsung menangis
Nilai Apgar tidak diketahui
Tidak ada kelainan bawaan
Kesan : Riwayat kehamilan baik sedangkan riwayat kelahiran baik.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :


Pertumbuhan gigi I : Umur 5 bulan (Normal: 5-9 bulan)
Psikomotor
Tengkurap : Umur 5 bulan (Normal: 3-4 bulan)
Duduk : Umur 6 bulan (Normal: 6 bulan)
Berdiri : Umur 10 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : Umur 1 tahun 2 bulan (Normal: 13 bulan)
Bicara : Umur 10 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Baca dan Tulis : Umur 4 tahun

Kesan :
Riwayat pertumbuhan dan riwayat perkembangan tak terganggu.

Riwayat Makanan
Umur
(bulan ASI/PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
)
02 ASI - - -
24 ASI - - -
46 ASI - - -
6-8 SF + + +
8 10 SF + + +
10 12 SF + + +

Kesan :
Kebutuhan gizi pasien belum terpenuhi dengan cukup baik.
Umur di atas 1 Tahun
Jenis Frekuensi dan Jumlah Takaran/hari sesuai AKG
Makanan
Nasi / Nasi putih, sehari 3x 3 piring
Pengganti
Sayur 4-5x seminggu, 1-2 sendok mangkuk
Daging 2-3x sebulan, 1 potong
Telur 2-3x sehari, 1 butir
Lauk Hewani
Ikan 1x sehari hampir setiap hari,
1-2 potong
sepotong
Tahu 1-2 hari sekali, 1 potong Lauk Nabati
1-2 potong

Kesan : asupan gizi pasien tercukupi

Riwayat Imunisasi :
vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG Lahir
DPT / DT 2 bln 4 bln 6bln
POLIO Lahir -- -
CAMPAK 9 bln
HEPATITIS B Lahir 1 bln 6 bln
MMR - - -
TIPA - - -

Kesan :
Riwayat imunisasi lengkap.

Riwayat Keluarga :

Ayah Ibu
Nama Tn. O Ny.M
Perkawinan Pertama Pertama
Umur 33 tahun 30 tahun
Pendidikan Terakhir SMA SMP
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Tasik Jawa
Keadaan Kesehatan Baik Baik

Kesan :
Keadaan kesehatan kedua orang pasien saat ini dalam keadaan baik.

Riwayat Perumahan dan Sanitasi :


Kedua orang tua pasien, kakak kandung pasien dan pasien tinggal di sebuah rumah
sendiri. Lingkungan padat, agak jauh dari jalan raya. Ventilasi kurang, cahaya matahari
kurang, air mandi berasal memakai air PAM sedangkan untuk makan, minum, dan
memasak memakai air kemasan. Di daerah tempat tinggal pasien jarang dilakukan
gotong royong dan fogging.

Kesan :
Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang sehat.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukan pada tanggal 29 Januari 2013.

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis

Data Antropometri
Berat Badan : 16 kg
Tinggi Badan : 107 cm

Status Gizi
BB/U : 16/16 x 100% = 100 % gizi baik
TB/U : 107/102 x 100% = 104,9 % tinggi baik
BB/TB : 16/17,4 x 100% = 91,9 % gizi baik
Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa pasien dalam gizi baik

Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 120 x/menit, reguler, cukup, simetris kanan kiri
Suhu : 38,2 C
Pernapasan : 32 x/menit
Kulit : coklat, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik, efloresensi: ptekie
di tangan dan di kaki
Kepala : Normosefali, rambut warna hitam, distribusi merata tidak
mudah dicabut.
Mata : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
kelopak mata tidak cekung.
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping -/-, sekret -/-
Telinga : Normotia, simetris kanan-kiri, serumen -/-, nyeri tekan -/-
Mulut : Bibir tidak kering, sianosis (-), mukosa merah muda, mukosa
hiperemis (-), trismus (-), oral kandidiasis (-)
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis, Tonsil T1 T1 tenang
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak
teraba membesar, trakea letak normal, kaku kuduk (-)
Thorax
Paru
o Inspeksi :Bentuk dada normal, pernafasan simetris,
retraksi epigastrium(-), retrasi sela iga (-).
o Palpasi : Gerak dinding dada simetris
o Perkusi : Sonor di semua lapang paru
o Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi basah halus -/-, wheezing -/-

Jantung
o Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
o Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga ke 5 garis mid klavuikula
o Perkusi : Tidak dilakukan
o Auskultasi : S1 nornal,S2 normal, reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
o Inspeksi : Datar
o Palpasi : Supel, turgor baik, hepatospleenomegali (-), nyeri tekan (+) di
epigastrium
o Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
o Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas
o Atas : akral hangat, sianosis (-), edema (-), deformitas (-), ptekie
pada lengan kiri yang di lakukan uji bendung.
o Bawah : akral hangat, sianosis (-), edema (-), deformitas (-),

Refleks Patologis : Kaku kuduk (-), Brudzinksy I (-), Brudzinsky II (-).


Kernig (-), Laseque (-) Babinsky (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Jenis Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal Tanggal Nilai normal
pemeriksaan 26/01/13 27/01/13 28/01/13 29/01/13 30/01/13

Hemoglobin 13,7 g/dl 14,4 g/dl 16,0 g/dl 13,4 g/dl 12,7 g/dl 12-16 g/dl
Leukosit 2.200/UL 2.000/UL 5.900/UL 7.700/UL 9.700/UL 4100-
10.900/UL
Hematokrit 39% 42% 45% 39% 37% 36-46%
Trombosit 111.000/UL 133.000/UL 31.000/UL 33.000/UL 57.000/UL 140.000
440.000/UL

Eritrosit - - 5,97 - - 4,5 5,5


juta/UL juta/UL
MCV - - 76 fl - - 80 100 fl
MCH - - 27 pg - - 26-34 pg
MCHC - - 35 g/dl - - 31 36 g/dl
Basofil - - 0% - - 0-2 %
Eosinofil - - 0% - - 0-5 %
Batang - - 0% - - 2-6 %
Segmen - - 24% - - 47-80 %
Limfosit - - 61% - - 13-40 %
Monosit - - 15% - - 2-11 %
LED - - 5 mm/jam - - < 15 mm/jam
RDW - - 12,4 - - 11,6-14,8
Ig G Dengue - - Positif - - Negatif
Ig M Dengue - - Negatif - - Negatif

V. RESUME
Pasien panas naik turun sudah 4 hari sebelum masuk rumah sakit, tinggi saat malam
dan turun setelah minum obat. Mual, nyeri ulu hati, rasa ngilu di sendi-sendi, belum BAB 3
hari. Menurut orang tua pasien, di sekitar rumah pasien ada juga anak yang terkena demam
berdarah.
Pemeriksaan fisik :
KU : Tampak sakit sedang
Kesadaran : CM
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 120 x/menit, reguler, cukup, simetris kanan kiri
Suhu : 38,2 C
Pernapasan : 32 x/menit
Pada pemeriksaan status antropometri didapatkan kesan gizi baik dan pada
pemeriksaan fisik adanya petekie pada lengan yang dilakukan uji bendung. Pada
laboratorium tanggal 26/1/2013 leukosit 2.200/UL dan trombosit 111.000/UL.

VI. DIAGNOSIS BANDING


1. Demam Dengue
2. Demam Tifoid

VII. DIAGNOSIS KERJA


DBD derajat 1

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


Tes Widal

IX. PENATALAKSANAAN
IGD
1. IVFD RL 16 tetes per menit
Bangsal
1. IVFD RL 20 tetes per menit
2. IVFD Gelofusin 16 tetes per menit
3. Inj. Clavamox 3x250 mg i.v
4. Inj. Ranitidin 2x30 mg i.v
5. Inj. Ondancentron 2x2 mg i.v
6. Paracetamol Syrup 3 x cth II
7. Fuzide 3 x cth I
X. PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Functionam : ad bonam
Ad Sanationam : dubi ad bonam

XI. FOLLOW UP
27/01/2013
S : Demam (+)
Pusing (+)
O : Ku/ks : Tampak sakit sedang /compos mentis
S: 37,7 C RR: 32x/menit N: 120x/menit
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : Demam Dengue
P : 1. IVFD RL 20 tpm
2. Inj. Clavamox 3x250 mg i.v
3. Inj. Ranitidin 2x30 mg i.v
4. Inj. Ondancentron 2x2 mg i.v
5. Paracetamol Syrup 3 x cth II

28/01/13
S : Demam (+) naik turun, turun tiap di beri obat penurun panas saja. BAK
jumlahnya sedikit
O : Ku/ks : Tampak sakit sedang /compos mentis
S: 37,1 C RR: 24x/menit N: 90x/menit TD: 100/80 mmHg
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
Uji bendung pada lengan kiri dengan tekanan 90 mmHg: hasil (+)
A : DHF derajat 1
P : 1. IVFD RL 20 tpm Gelofusin 16 tpm 1 kolf setelah hasil trombosit
31.000/UL diketahui.
2. Inj. Clavamox 3x250 mg i.v
3. Inj. Ranitidin 2x30 mg i.v
4. Inj. Ondancentron 2x2 mg i.v
5. Paracetamol Syrup 3 x cth II

29/01/13
S : Semalam OS demam tinggi sampai menggigil, tetapi turun setelah minum
obat penurun panas. Mimisan (-), gusi berdarah (-). Makan dan minum (+)
O : Ku/ks : Tampak sakit sedang /compos mentis
S: 38,2 C RR: 32x/menit N: 120x/menit TD: 100/60 mmHg
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : DHF derajat 1
P : 1. IVFD RL 20 tpm
2. Inj. Clavamox 3x250 mg i.v
3. Inj. Ranitidin 2x30 mg i.v
4. Inj. Ondancentron 2x2 mg i.v
5. Paracetamol Syrup 3 x cth II

30/01/2013
S : Demam (-), BAB cair, 5x, ampas (+), lendir (-). Nafsu makan dan minum
baik.
O : Ku/ks : Tampak sakit sedang /compos mentis
S: 37,1 C RR: 24x/menit N: 90x/menit TD: 100/80 mmHg
Kepala : normocephali
Mata : CA-/-, SI -/-
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thoraks: cor : S1 S2 reguler, M(-), G (-)
Pulmo : SN vesikuler, rh -/-, wh -/-
Abdomen: supel, BU (+), NT (-)
Ekstremitas : akral hangat,
A : DHF derajat 1
P : 1. IVFD RL 20 tpm
2. Inj. Clavamox 3x250 mg i.v
3. Inj. Ranitidin 2x30 mg i.v
4. Inj. Ondancentron 2x2 mg i.v
5. Fuzide 3 x Cth I

ANALISA KASUS
Pada kasus ini didiagnosa sebagai DBD berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium
WHO tahun 1997:
1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
2. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,
ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
3. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ul).
4. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sebagai berikut:
Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis
kelamin.
Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia,
hiponatremia.
Pada pasien ini adanya demam yang mendadak selama 7 hari, terdapat hasil uji
bendung positif pada pasien ini, dan adanya trombositopenia dimana pada hari ketiga
perawatan di rumah sakit. Selain itu terdapat peningkatan dari hematokrit >20% pada hari
pertama perawatan hingga hari ketiga, dan diikuti penurunan hematokrit > 20% setelah
pemberian terapi cairan parenteral.

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:


1. Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji torniquet/uji bendung.
2. Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
3. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin
dan lembab, tampak gelisah.
4. Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.
Berdasarkan spektrum klinis DBD berdasarkan WHO, pasien ini berada pada derajat
1, dimana tidak ditemukan tanda-tanda perdarahan hanya adanya petekie pada uji bendung.
Berdasarkan pemeriksaan penunjang didapatkan uji serologi IgG untuk virus dengue
pada pasien ini positif, hal ini menandakan bahwa infeksi virus yang terjadi pada pasien ini
merupakan infeksi sekunder. Pada pasien ini uji serologi IgM dengue negatif dikarenakan
IgM pada penderita demam berdarah dengue dengan infeksi sekunder titernya tidak setinggi
apabila saat ini penderita mengalami infeksi dengue pertama kali. Serum IgG akan meningkat
pada fase akut pada infeksi sekunder ini.(WHO, 2009)
Diagnosis banding :
1. Demam dengue. Demam dengue dijadikan diagnosis banding pada pasien ini pada
awalnya karena adanya demam yang mendadak selam 2-7 hari, nyeri sendi, mual, dan
pada hasil lab di dapatkan adanya trombositopenia, leukopenia, dan adanya
peningkatan hematokrit. Namun dapat disingkirkan karena ada menifestasi
perdarahan yaitu berupa hasil positif pada hasil uji bendung.
2. Demam tifoid. Dijadikan diagnosis banding pada pasien ini dikarenakan adanya
manifestasi gastrointestinal berupa mual pada pasien ini dan pasien belum BAB
selama 3 hari. Selain itu demam pada pasien ini sedikit lebih lama, hampir melebihi 7
hari. Untuk memastikan dapat dilakukan uji widal.

Terapi yang diberikan berupa terapi non farmakologis dan farmakologis.


Nonfarmakologis berupa pasien di rawat inap untuk pemantauan tanda-tanda vital, tanda
perdarahan, dan laboratorium. Pasien tirah baring dan pemberian asupan peroral yang cukup.
Terapi farmakologis berupa:
1. Terapi cairan. Pemberian cairan ringer laktat yang merupakan cairan kristaloid adalah
sebagai koreksi cairan di plasma dan mencegah terjadinya syok. Pada pasien ini
sempat diberikan gelofusin (cairan koloid) sebanyak 1 kolf pada saat trombosit
31.000/UL, namun menurut literatur, cairan koloid diberikan biasanya apabila adanya
tanda-tanda syok pada pasien. Bagi pasien dikasus ini cukup diberikan cairan
kristaloid saja, karena tidak ada tanda-tanda syok.
2. Paracetamol syrup diberikan per oral sebagai antipiretik. Paracetamol dipilih karena
dibandingkan dengan antipiretik yang lain, paracetamol tidak ada efek antikoagulasi
yang sebaiknya dihindari pada pasien ini dan juga efek samping yang minimal pada
pemberian paracetamol. Diberikan pada pasien ini 3 x Cth II, dengan dosis 10-15 mg/
kgBB/kali pemberian. Berat pasien 16 kg, dapat diberikan paracetamol berkisar 160-
240mg tiap kali pemberian maka pada pasien ini 2 sendok teh, dimana tiap ml
paracetamol syrup mengandung 100 mg paracetamol.
3. Clavamox. Clavamox merupakan antibiotik amoxicilin dan asam clavulanat yang
diberikan dengan dosis 25 mg/kgBB. Apabila tidak dicurigai adanya infeksi bakteri
pada pasien ini, lebih baik tidak diberikan antibiotik. Namun dengan pertimbangan
pencegahan infeksi sekunder , antibiotik dapat diberikan pada pasien ini.
4. Ranitidin. Ranitidin diberikan untuk mengatasi gejala dyspepsia pada pasien ini dan
mengurangi efek samping dari pemberian antibiotik.
5. Ondancentron.ondancentron merupakan Antagonis serotonin 5-HT3 yang berfungsi
untuk mengurangi rasa mual yang di alami pasien ini. Sebaiknya apabila sudah tidak
ada keluhan pemberian ondancentron dapat dihentikan.
6. Fuzide. Fuzide mengandung nifuroxazide yang merupakan senyawa nitrofuran
memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli, Shigella dysenteriae,
Streptococcus, Staphylococcus dan Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja
lokal pada saluran pencernaan. Obat diare ini diindikasikan untuk dire akut, diare
yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus. Fuzide diberikan kepada pasien ini
karena pada hari kelima perawatan, pasien mengalami diare akut.

Pasien ini diperbolehkan pulang setelah hari kelima perawatan karena memenuhi
kriteria memulangkan pasien pada penderita demam berdarah dengue, yaitu:
o Tidak demam 24 jam tanpa antipiretik.
o Nafsu makan membaik.
o Secara klinis tampak perbaikan.
o Hematokrit stabil.
o Tiga hari setelah syok teratasi.
o Jumlah trombosit > 50.000/UL
o Tidak dijumpai distres pernafasan.

TINJAUAN PUSTAKA
DEMAM BERDARAH DENGUE

1. DEFINISI
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang
disebabkan oleh virus dengue serta memenuhi kriteria WHO untuk DBD.

2. ETIOLOGI
Virus dengue
Virus dengue adalah RNA positif berantai arbovirus biasanya ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti. Virus ini merupakan anggota dari grup arbovirus yang termasuk dalam
genus Flavivirus dan famili Flaviviridae. Istilah arbovirus digunakan untuk menyatakan
suatu kelompok besar virus yang memiliki siklus biologis yang melibatkan arthropoda
dan vertebrata sebagai host untuk mereplikasi diri. Virus dengue termasuk dalam
kelompok genus Flavivirus dan famili Flaviviridae dengan serotipenya adalah DENV-1,
DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan
memberikan kekebalan seumur hidup, tetapi tidak menimbulkan kekebalan terhadap
serotipe yang lain, sehingga seseorang yang hidup di daerah endemis DBD dapat
mengalami infeksi sebanyak empat kali seumur hidupnya. Virus dengue merupakan jenis
virus RNA berantai tunggal dengan strand positif yang ditransmisikan melalui nyamuk
tipe Aedes aegypti. Virion virus dengue terdiri dari suatu genom positif single-stranded
RNA (+SS- RNA) yang dikelilingi oleh nukleokapsid yang dibungkus oleh lipid envelope
yang mengandung protein E (envelope protein) dan protein M (membrane- associated
protein). Bentuk morfologinya adalah bola dengan diameter 40-60 nm.
.

Vektor
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk
aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain
merupakan vektor yang kurang berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada
perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya.
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus
dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegypti
merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan
(rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang
biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana bejana yang terdapat di dalam
rumah. Umur nyamuk Aedes berkisar 2 minggu sampai 3 bulan atau rata rata 1,5 bulan
tergantung dari suhu, kelembaban sekitarnya. Kepadatan nyamuk akan meningkat pada
waktu musim hujan dimana terdapat genangan air bersih yang dapat menjadi tempat
untuk berkembang.
Peranan nyamuk Aedes Albopictus dalam menyebarkan penyakit demam berdarah
kurang jika dibandingkan nyamuk Ae. aegypti. Ae. aegypti suka beristirahat di tempat
yang gelap, lembab, dan tersembunyi di dalam rumah atau bangunan termasuk di kamar
tidur, kamar mandi, kamar kecil maupun dapur. Nyamuk betina lebih menyukai
menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari.
Host
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan
mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin
untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya.
Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan
infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau
lebih, dapat pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue untuk pertama
kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta.

3. PATOGENESIS
Dua teori yang banyak dianut dalam menjelaskan patogenesis infeksi dengue adalah
hipotesis infeksi sekunder (secondary heterologous infectiontheory) dan hipotesis immune
enhancement. Menurut hipotesis infeksi sekunder yang diajukan oleh Suvatte, sebagai akibat
infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berbeda, respon antibodi anamnestik pasien
akan terpicu, menyebabkan proliferasi dan transformasi limfosit dan menghasilkan titer tinggi
IgG antidengue. Karena bertempat di limfosit, proliferasi limfosit juga menyebabkan
tingginya angka replikasi virus dengue. Hal ini mengakibatkan terbentuknya kompleks virus-
antibodi yang selanjutnya mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a
menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya cairan
ke ekstravaskular. Hal ini terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium
dan terdapatnya cairan dalam rongga serosa. Hipotesis immune enhancement menjelaskan
menyatakan secara tidak langsung bahwa mereka yang terkena infeksi kedua oleh virus
heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD berat. Antibodi
herterolog yang telah ada akan mengenali virus lain kemudian membentuk kompleks antigen-
antibodi yang berikatan dengan Fc reseptor dari membran leukosit terutama makrofag.
Sebagai tanggapan dari proses ini, akan terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan
hipovolemia dan syok.

4. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi simptomatik infeksi virus dengue adalah sebagai berikut:
1. Demam tidak terdiferensiasi
2. Demam dengue (dengan atau tanpa perdarahan): demam akut selama 2-7 hari,
ditandai dengan 2 atau lebih manifestasi klinis (nyeri kepala, nyeri retroorbital,
mialgia/ atralgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan [petekie atau uji bendung
positif], leukopenia) danpemeriksaan serologi dengue positif atau ditemukan pasien
yang sudah dikonfirmasi menderita demam dengue/ DBD pada lokasi dan waktu yang
sama.
3. DBD (dengan atau tanpa renjatan)

5. DIAGNOSIS
Berdasarkan kriteria WHO 1997, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal ini
terpenuhi:
a. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari biasanya bifasik.
b. Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan berikut: uji bendung positif; petekie,
ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa; hematemesis dan melena.
c. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).
d. Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma sbb:
a. Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur dan jenis
kelamin.
b. Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
c. Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites, hipoproteinemia,
hiponatremia.

Anamnesis
Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak tinggi, selama 2-7 hari.
Disertai lesu, tidak mau makan dan muntah.
Pada anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, nyeri otot, dan nyeri perut.
Diare kadang-kadang ditemukan.
Perdarahan paling sering dijumpai adalah perdarahan di kulit dan mimisan.
Pemeriksaan Fisik
Gejala klinis DBD diawali dengan demam menddak tinggi, facial flush, muntah, nyeri
kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis, nyeri di bawah
lengkung iga kanan. Gejala penyerta tersebut lebih mencolok pada DD daripada DBD.
Hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering terjadi pada DBD.
Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler sehingga mnyebabkan perembesan plasma, hipovolemia dan syok.
Perembesan plasma dapat mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura dan
rongga peritoneal selama 24-48 jam.
Fase kritis sekitar hari ketiga hingga kelima perjalanan penyakit. Pada saat ini suhu turun,
yang dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi ringan, namun pada DBD berat
merupakan tanda awal syok.
Perdarahan dapat berupa petekie, epistaksis, melena, ataupun hematuria.
Tanda tanda syok
Anak tampak gelisah, hingga terjadi penurunan kesadaran.
Nafas cepat, nadi terasa lembut bahkan sampai tidak teraba.
Tekanan darah turun, tekanan nadi < 10 mmHg.
Akral dingin, capillary refill time menurun.
Diuresis menurun sampai anuria.

Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:


1. Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji torniquet.
2. Derajat 2: Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan perdaran lain.
3. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut kulit dingin
dan lembab, tampak gelisah.
4. Derajat 4: Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Trombositopenia ( 100.000/uL) dan hemokonsenterasi yang dapat dilihat dari
peningkatan nilai hematokrit pada masa sebelum sakit atau masa konvalescen.
Ditemukannya dua atau tiga patokan klinis pertama disertai trombositopenia dan
hemokonsenterasi sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DBD. Dengan patokan
ini 87% kasus tersangka DBD dapat didiagnosis dengan tepat, yang dibuktikan oleh
pemeriksaan serologis, dan dapat dihindari diagnosis yang berlebihan.
Antigen protein NS-1 Dengue (Dengue NS-1 Antigen ) sudah dapat terdeteksi pada
hari ke-1 demam. Pemeriksaan ini sangat spesifik terhadap virus dengue sehingga
diharapkan diagnosis infeksi dengue dapat ditegakkan lebih dini.
Setelah 1 minggu tubuh terinfeksi virus dengue, terjadi viremia yang diikuti oleh
pembentukan IgM-antidengue. IgM hanya berada dalam waktu yang relatif singkat dan
akan disusul segera oleh pembentukan IgG. IgM-anti Dengue sudah dapat terdeteksi pada
hari ke 5 demam, IgG-anti Dengue sudah dapat terdeteksi pada hari ke-2 demam dan
dapat bertahan seumur hidup bila infeksi sekunder, sedang pada infeksi primer baru dapat
terdeteksi pada hari ke -14 demam.

Parameter laboratorium yang dapat diperiksa:


Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis
relatif (> 45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) >
15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.
Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8 akibat depresi
sumsum tulang.
Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan
hematokrit 20% dari hematokrit awal. Sering ditemukan mulaihari ke-3.
Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer,atau FDP
pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
Imunoserologi: Pemeriksaan anti-dengue IgG, IgM. Pemeriksaan yang saat ini
banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan mendeteksi IgM
dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa IgM terdeteksi mulai hari ke 3-5,
meningkat sampai minggu ke 3 dan menghilang setelah 60-90 hari. Pada infeksi
primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada infeksi sekunder
dapat terdeteksi mulai hari ke 2
Uji HI: 1: 2560 Infeksi sekunder Flavivirus
Protein/Albumin: dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma.
SGOT/SGPT dapat meningkat.
Ureum, Kreatinin: dapat meningkat pada keadaan gagal ginjal akut.-Gas darah:
terdapat gangguan pada konsentrasi gas darah sesuaidengan keadaan pasien.
Elektrolit: sebagai parameter pemberian cairan.
Golongan darah dan cross match: dilakukan sebelum tindakan tranfusi darah
untuk keamanan pasien

2. Foto Rontgen
Pemeriksaan foto rontgen dada, bisa didapatkan efusi pleura terutama pada
hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi dapat dijumpai
pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus
kanan. Pemeriksaan foto dada dilakukan atas indikasi dalam keadaan klinis ragu-ragu dan
pemantauan klinis, sebagai pedoman pemberian cairan.
3. USG
Pada pemeriksaan USG biasanya ditemukan :
Asites dan Efusi pleura
Hepatomegali

7. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran
plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam
pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara
klinis maupun laboratoris.
Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi
antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma
akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan
pada kondisi tersebut secara bertahap dikurangi. Selain pemantauan untuk menilai apakah
pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya
kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu
diwaspadai.
Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada trombositopenia
yang berat) dan pemberian makanan dengan kandungan gizi yang cukup, lunak dan tidak
mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Sebagai terapi simptomatis,
dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol, serta obat simptomatis untuk mengatasi
keluhan dispepsia. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya
dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas
(lambung/duodenum).

Kriteria rawat inap dan memulangkan pasien


Kriteria rawat inap Kriteria memulangkan pasien
Ada kedaruratan: Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Syok Nafsu makan membaik

Muntah terus menerus Secara klinis tampak perbaikan


Hematokrit stabil
Kejang
Tiga hari setelah syok teratasi
Kesadaran turun
Trombosit > 50.000/uL
Muntah darah
Tidak dijumpai distres pernafasan
Berak hitam
Hematokrit cenderung meningkat setelah 2
kali pemeriksaan berturut-turut
Hemokonsentrasi (Ht meningkat 20%)

1. Penimbangan berat badan. Berat badan perlu ditimbang saat pasien datang sebagai
dasar perhitungan pengobatan dan untuk menilai perjalanan penyakit. Pada tahap
awal, pe- nimbangan berat badan dilakukan 23 kali sehari (dengan timbangan
gantung), selanjutnya paling kurang satu kali sehari. Perkiraan berat badan dapat
dihitung berdasarkan rumus: BB (kg) = 2 x umur (tahun) + 4.
2. Pemberian tunjangan hidup dasar. Obat pertama yang harus diberikan pada kegawatan
DBD adalah oksigen. Hipoksemia harus dicegah dan dikoreksi. Dimulai dengan
resusitasi jantung paru yang memastikan jalan napas terbuka dan pernafasan adekuat.
Saturasi oksigen dipertahankan antara 95100% dan kadar hemoglobin cukup.
3. Pemasangan akses vena. Buat akses vena dan ambil contoh darah untuk analisis gas
darah, kadar hemoglobin, hemotokrit, jumlah trombosit, golongan darah dan
crossmatch, ureum, kreatinin, elektrolit Na, K, Cl, Ca, Mg, P dan asam laktat.
4. Pemasangan kateter urin. Pasang kateter urin dan lakukan penampungan urin,
pemeriksaan urinalisis, dan pengukuran berat jenis urin. Jumlah diuresis dihitung
setiap jam (normal: 2-3 ml/kgbb/jam). Bila diuresis kurang dari 1 ml/kgbb/jam berarti
terdapat hipoperfusi ginjal. Oliguria lebih dahulu muncul dari pada penurunan tekanan
darah dan takikardia.
5. Pemasangan pipa oro / nasogastrik. Pemasangan pipa oro / nasogastrik pada anak
sakit gawat berguna untuk dekompresi, memantau perdarahan saluran cerna (stres
gastritis) dan melakukan bilasan lambung dengan garam fisiologik. Stres Gastritis
biasanya memberi respons baik terhadap pembilasan lambung dan koreksi
hemodinamik.
6. Resusitasi cairan. Resusitasi cairan adalah pemberian bolus cairan resusitasi secara
cepat melalui akses intravaskular atau intraoseal pada keadaan hipovolemia. Tujuan
resusitasi cairan adalah menyelamatkan otak dari gangguan hipoksik- iskemik,
melalui peningkatan preload dan curah jantung, mengembalikan volume sirkulasi
efektif, mengembalikan oxygen-carrying capacity dan mengoreksi gangguan
metabolik dan elektrolit. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam terapi
cairan khususnya pada penatalaksanaan demam berdarah dengue: pertama adalah
jenis cairan dan kedua adalah jumlah serta kecepatan cairan yang akan diberikan.
Karena tujuan terapi cairan adalah untuk mengganti kehilangan cairan di ruang
intravaskular, pada dasarnya baik kristaloid (ringer laktat, ringer asetat, cairan salin)
maupun koloid dapat diberikan. WHO menganjurkan terapi kristaloid sebagai cairan
standar pada terapi DBD karena dibandingkan dengan koloid, kristaloid lebih mudah
idapat dan lebih murah. Jenis cairan yang ideal yang sebenarnya dibutuhkan dalam
penatalaksanaan antara lain memiliki sifat bertahan lama di intravaskular, aman dan
relatif mudah diekskresi, tidak mengganggu sistem koagulasi tubuh, dan memiliki
efek alergi yang minimal. Secara umum, penggunaan kristaloid dalam tatalaksana
DBD aman dan efektif. Beberapa efek samping yang dilaporkan terkait dengan
penggunaan kristaloid adalah edema, asidosis laktat, instabilitas hemodinamik dan
hemokonsentrasi. Kristaloid memiliki waktu bertahan yang singkat di dalam
pembuluh darah. Pemberian larutan RL secara bolus (20 ml/kg BB) akan
menyebabkan efek penambahan volume vaskular hanya dalam waktu yang singkat
sebelum didistribusikan ke seluruh kompartemen interstisial (ekstravaskular) dengan
perbandingan 1:3, sehingga dari 20 ml bolus tersebut dalam waktu satu jam hanya 5
ml yang tetap berada dalam ruang intravaskular dan 15 ml masuk ke dalam ruang
interstisial. Namun demikian, dalam aplikasinya terdapat beberapa keuntungan
penggunaan kristaloid antara lain mudah tersedia dengan harga terjangkau, komposisi
yang menyerupai komposisi plasma, mudah disimpan dalam temperatur ruang, dan
bebas dari kemungkinan reaksi anafilaktik. Dibandingkan cairan kristaloid, cairan
koloid memiliki beberapa keunggulan yaitu: pada jumlah volume yang sama akan
didapatkan ekspansi volume plasma (intravaskular) yang lebih besar dan bertahan
untuk waktu lebih lama di ruang intravaskular. Dengan kelebihan ini, diharapkan
koloid memberikan oksigenasi jaringan lebih baik dan hemodinamik terjaga lebih
stabil. Beberapa kekurangan yang mungkin didapatkan dengan penggunaan koloid
yakni risiko anafilaksis, koagulopati, dan biaya yang lebih besar.
7. Pemantauan
Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk
menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemantauan adalah :
Nadi, tekanan darah, respirasi dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau
lebihsering sampai syok teratasi.
Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai klinis pasien stabil.
Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan mengenai jenis cairan, jumlah
dantetesan, untuk mementukan apakah cairan sudah mencukupi.
Jumlah dan frekuensi diuresis (normal diuresis 2-3 ml/kgbb/jam).

8. KOMPLIKASI
Ensefalopati dengue, dapat terjadi pada DBD dengan syok ataupun tanpa syok
Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut
Edema paru, seringkali terjadi akibat overloading cairan

9. PROGNOSIS
Bila tidak disertai renjatan dalam 24 36 jam, biasanya prognosis akan menjadi baik.
Kalau lebih dari 36 jam belum ada tanda perbaikan, kemungkinan sembuh kecil dan
prognosisnya menjadi buruk. Penyebab kematian Demam Berdarah Dengue cukup tinggi
yaitu 41,5 %. Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan antara jenis kelamin penderita
demam berdarah dengue, tetapi kematian lebih banyak ditemukan pada anak perempuan
daripada laki laki. Penyebab kematian tersebut antara lain:
1. Syok lama
2. Overhidrasi
3. Perdarahan massif
4. Demam Berdarah Dengue dengan syok yang disertai manifestasi yang tidak syok.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sri Rezeki H.H., Hindra Irawan. 2000. Demam Berdarah Dengue. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. Halaman 16-17, 30-31, 55-62, 73-79, 136-140.
2. Sumarno S., Herry G., Sri Rezeki H.H. 2002. Buku Ajar Kesehatan Anak Infeksi dan
Penyakit Tropik. Edisi I. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Halaman 176-208.
3. Behrman R., Kliegman R., Jenson HB. 2000. Nelson Text Book of Pediatrics Jilid 1.
16th Edition. USA : Saunders Company. Page 1005-1007
4. Departemen Kesehatan RI. 2008. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah
Sakit. Alih bahasa: Tim Adaptasi Indonesia. Jakarta: Depkes RI. Page 163.
5. Hardiono, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Ed.I. 2004. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI.
6. Pudjiaji, dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
7. WHO. 2009. Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control --
New edition. Switzerland. Page 25-53, 91-105.
8. Chen, dkk. Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue,
Medicinus.Vol 22. 2009.Jakarta: page 3-7.
9. CDC. Laboratory Guidance and Diagnostic Testing. Accesed on February 2013.
http://www.cdc.gov/dengue/clinicalLab/laboratory.html
10. Darlan Darwis. Kegawatan Demam Berdarah Dengue pada Anak. Accesed on March
2013. http://www.idai.or.id/saripediatri/pdfile/4-4-1.pdf