Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA INGUINALIS LATERALIS SINISTRA DI RUANGAN


RECOVERI ROOM RUMAH SAKIT KARSA HUSADA
BATU

OLEH

BRIAN BRAMMAD PRIAMBODO


NIM 130146014

PROGRAM D IV KEPERAWATAN PERIOPERATIF POLITEKNIK


KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN MALANG

2017

A. KONSEP DASAR
1. Pengertian
Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang
memungkinkan isi abdomen (seperti peritonium, lemak, usus, atau
kandung kemih) memasuki defek tersebut sehingga timbul kantong
berisikan materi abdominal.Menurut Leyner & Goldberg (2009), ada
berbagai jenis hernia pada tubuh, yang paling umum adalah hernia
inguinal. Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam
anulus inguinalis di atas kantong skrotum, yang disebabkan oleh
kelemahan atau kegagalan menutup kongenital. Menurut sifatnya,
hernia dapat berupa hernia reponible atau irreponible. Hernia repobible
merupakan hernia yang hilang timbul karena isi hernia yang dapat
kembali ke dalam rongga abdomen, sedangkan hernia irreponible
merupakan hernia dengan isi hernia yang tidak dapat susut kembali ke
dalam rongga abdomen (Suryanah, 2009). Sehingga hernia inguinalis
lateral reponible adalah hernia yang berada di atas kantung skrotum
dengan isi hernia dapat kembali ke dalam rongga abdomen.
2. Etiologi
Menurut Henry dan Thompson (2009), terdapat dua faktor
predisposisi utama terjadinya hernia, yaitu:
a. Tekanan yang meningkat pada abdomen:
b. Mengangkat beban berat.
c. Batuk akibat PPOK.
d. Tahanan saat miksi seperti BPH atau karsinoma.
e. Tahanan saat defekasi seperti konstipasi atau obstruksi usus
besar.
f. Distensi abdomen yang mungkin mengindikasikan adanya
gangguan intraabdomen.
g. Perubahan isi abdomen seperti adanya asites, tumor jinak atau
ganas, kehamilan, dan lemak tubuh.
h. Kelemahan dinding abdomen:
i. Umur yang semakin bertambah.
j. Malnutrisi baik makronutrien seperti protein atau kalori maupun
mikronutrien seperti Vit. C.
k. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik
l. Abnormal metabolisme kolagen.

3. Anatomi Hernia
Sjamsuhidayat (2009), mengemukakan bahwa hernia terdiri atas
cincin, kantong, dan isi hernia. Sedangkan menurut Laniyati et al
(2000), hernia terdiri atas orifisium hernia dan kantung hernia.
Orifisium adalah defek dari lapisan aponeurosis paling dalam dari
abdomen, dan sakus adalah kantung keluar dari peritoneum. Kolum
dari kantung hernia berhubungan dengan orifisium. Hernia disebut
eksterna jika kantung menonjol secara lengkap melalui dinding
abdomen, dan interna jika sakus terletak di dalam kavitas viseral.
Menurut Henry dan Tompson (2009), Isi hernia bervariasi,
tetapi yang paling sering adalah organ dalam. pada abdomen isi
terbanyak adalah usus halus dan omentum majus. Meskipun tidak
sering, bagian lain dari abdomen pun juga dapat masuk menjadi isi
hernia seperti:
a. Usus besar dan apendiks.
b. Divertikulum Meckel
c. Vesica Urinaria
d. Ovarium dengan atau tanpa tuba falopi
e. Cairan asites
4. Klasifikasi Hernia
a. Berdasarkan terjadinya, hernia terbagi atas:
1. Hernia bawaan atau kongenital.
Sjamsuhidayat (2009) mengemukakan bahwa pada hernia
kongenital, sebelumnya telah terbentuk kantong yang terjadi
sebagai akibat dari perintah atau gangguan proses perkembangan
intra uteri. Kantong yang terbentuk akibat lemahnya celah
abdominal (congenital defect) yang merupakan bawaan sejak
lahir (Priyatna, 2009).
2. Hernia dapatan atau akuisita.
Hernia ini merupakan hernia yang didapat seseorang akibat
beberapa faktor, salah satunya seperti mengangkat benda yang
terlalu berat. Hernia akuisita terbagi menjadi 2 tipe (Henry &
Thompson, 2009
b. Berdasarkan letaknya, hernia terbagi atas:
a) Hernia Inguinal.
1) Inguinalis , terbagi lagi menjadi :
Indirek / lateralis : hernia ini terjadi melalui cincin
inguinalis dan melewati corda spermatikus melalui kanalis
inguinalis. Umumnya terjadi pada pria dan wanita.
Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat
menjadi sangat besar dan sering turun ke scrotum.
Direk / medialis : hernia ini melewati dinding abdomen di
area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia
inguinalis. Umumnya pada lansia.
2) Femoralis : terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum
pada wanita dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak
di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap
menarik peritonium dan hampir tidak dapat dihindari kandung
kemih masuk ke dalam kantung.
3) Umbilikal : pada orang dewasa umumnya pada wanita dan
karena peningkatan tekanan abdominal. Biasanya pada klien
gemuk dan wanita multipara.
5. Patofisiologi hernia inguinalis.
Hernia inguinalis terjadi di lipatan paha. Di lipatan paha
terdapat suatu area yang disebut kanal inguinal. Kanal inguinal adalah
saluran atau lubang alami yang menembus otot-otot dinding perut.
Kanal inguinal membentuk jalan bagi testis untuk turun dari rongga
perut ke kantong skrotum. Pada umumnya, setiap kanal menutup
sebelum atau segera setelah lahir. Jika lubang ini tidak menutup, akan
terlihat benjolan di regio tersebut atau pembengkakan skrotum.
benjolan tersebut dapat terisi oleh usus maupun omentum lalu
menonjol keluar. Hernia ini bisa bersifat bawaan lahir atau didapatkan
selama masa dewasa. Hernia ini lebih sering terjadi pada pria daripada
wanita (Leyner & Goldberg, 2009). Secara sederhana hernia inguinalis
terjadi akibat penutupan tuba (prosesus vaginalis) yang tidak lengkap
antara abdomen dan skrotum (atau uterus pada wanita). hal ini
menyebabkan turunnya sebagian intestine (Hany, 2009).
6. Manifestasi klinis hernia inguinalis.
1. Berupa benjolan keluar masuk / keras
2. Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
3. Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
4. Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang
berisi kandung kencing.
7. Pemeriksaan penunjang hernia inguinalis.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penderita hernia adalah
(Henry & Thompson, 2009) :
1. Herniografi
Teknik ini, yang melibatkan injeksi medium kontras ke dalam
kavum peritoneal dan dilakukan X-ray, sekarang jarang dilakukan
pada bayi untuk mengidentifikasi hernia kontralateral pada groin.
Mungkin terkadang berguna untuk memastikan adanya hernia pada
pasien dengan nyeri kronis pada groin.
2. USG
Ultra Sonografi (USG) sering digunakan untuk menilai hernia yang
sulit dilihat secara klinis, misalnya pada Spigelian hernia.
3. CT dan MRI
CT (Computerized Tomography) dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging) berguna untuk menentukan hernia yang jarang terjadi
misalnya pada hernia obturator.

8. Penatalaksanaan hernia inguinalis.


a. Secara konservatif (non operatif)
1) Reposisi hernia : hernia dikembalikan pada tempat semula
bisa langsung dengan tangan.
2) Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai
pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset.
b. Secara operatif
1) Hernioplasty : memindahkan fasia pada dinding perut yang
lemah, hernioplasty sering dilakukan pada anak-anak.
2) Hernioraphy. Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia
dimasukan, kantong diikat, dan dilakukan bainyplasty atau
tehik yang lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis
inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa.
3) Herniotomy. Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu
dibuang. Ini dilakukan pada hernia yang sudah nekrosis.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian perioperatif terdiri dari 3 bagian pengkajian yaitu :
A. Pengkajian Pre Operasi
1) Identitas pasien
Jenis kelamin : Jenis klamin pria mempunyai resiko 3 kali lipat
untuk teerkena hernia inguinalis dibandingkan dengan waenita.
Riwayat Keperawatan
a) Keluhan utama : keluhan utama yang paling sering muncul
pada pasien adanya benjolan pada lipatan paha bagian atas.
b) Riwayat Penyakit sekarang
Berkaitan dengan perjalanan penyakit pasien yang sekarang.
c) Riwayat penyakit dahulu
Penderia hernia inguinalis sebelumnya kemungkinan pernah
menderita.
d) Riwayat penyakit keluarga
Orang dengan riwayat keluarga hernia mempunyai resiko lebih
besar dibandingn dengan tanpa riwayat keluarga
2) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : Mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan ada
tidaknya benjolan, awasi tanda infeksi (merah, bengkak, panas,
nyeri, berubah bentuk)
b. Palpasi : Turgor kulit elastis, palpasi daerah benjolan
biasanya terdapat nyeri
c. Auskultasi : Bising usus jumlahnya melebihi batas normal >12
karena ada mual dan pasien tidak nafsu makan, bunyi nafas
vesikuler, bunyi jantung sonor.
d. Perkusi : Kembung pada daerah perut, terjadi distensi
abdomen.
B. Pengkajian intra Operasi
1) Pernapasan (B1: Breath)
Pada pembiusan dengan general anestesi, pernapasan pasien
dengan pentilator dan pemberian oksigen. Pada pembiusan dengan
SAB, pasien bisa napas sepontan.
2) Cardiovaskuler (B2 : Blood)
Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi bisa terjadi karena
proses pembedahan (nyeri), resiko terjadi perdarahan. Observasi
vital sign setiap 15 menit.
3) Persarafan (B3 : Brain)
Pasien dalam keadaan tidak sadar jika dilakukan general anestesi,
sadar jika pembiusan dengan SAB. Pada mulanya, timbul demam
ringan, yang semakin lama cenderung meninggi.
4) Per kemihan - eliminasi (B4 : Bladder)
Urine normal lewat kateter.
5) Pencernaan - Eliminasi Alvi (B5: Bowel)
BAB normal
6) Tulang otot integumen (B6 : Bone)

Pada saat intra operatif kekuatan tulang, otot dan integumen


0 (nol), tidak jarang pasien dapt menggerakkan anggota tubuh pada
saat intra operasi karena efek dari obat anestesi berkurang.
C. Pengkajian pasca operasi
1) Pernapasan (B1: Breath)
Pernapasan perlahan sepontan, terjadi penyumbatan jalan nafas
dngan secret atau lendir
2) Cardiovaskuler (B2 : Blood)
Peningkatan tekanan darah dan denyut nadi bisa terjadi karena
proses pembedahan (nyeri). Observasi vital sign setiap 15 menit di
ruang pemulihan.
3) Persarafan (B3 : Brain)
Pada pasca operasi pasien perlahan disadarkan oleh petugas
anestesi hingga sadar penuh. Pada mulanya timbul demam ringan,
yang semakin lama cenderung meninggi.
4) Per kemihan - eliminasi (B4 : Bladder)
Buang air kecil tidak ada masalah.
5) Pencernaan - Eliminasi Alvi (B5: Bowel)
Biasanya terjadi mual, muntah.
6) Tulang otot integumen (B6 : Bone)
Kekuatan otot perlahan akan kembali normal
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif,
intra operatif, post operatif : (Doenges M,E, 1999)
a) Diagnosa keperawatan pre operatif
1. Resiko tinggi injury berhubungan dengan transfer pasien dari
gendongan petugas kamar operasi ke meja operasi.
Hasil yang diharapkan : tidak terjadi injuri pada pasien
N Intervensi Rasional
O
1 Bantu pasien untuk berpindah ke Menjaga pasien supaya
brancard. tidak jatuh
2 Angkat pasien secara bersama-sama Memberikan keamanan
pada pasien
3 Memindahkan pasien dari brancard ke Memeberikan
meja ooperasi. keamanan pada pasien
dan menjaga
keseimbangan cairan

2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
Hasil yang diharapkan : adanya saling pengertian tentang prosedur
pembedahan dan penanganannya, berpartisipasi dalam progam
pengobatan, melakukan gaya hidup yang perlu
NO
Intervensi Rasional

1 Berikan informasi kepada pasien Membina hubungan


yang dapat dipercaya dan saling percaya
diperkuat dengan informasi yang
diberikan

2 Jelaskan tujuan dan persiapan Memberikan informasi


untuk diagnostic untuk penatalaksanaan
diagnostic selanjutnya

3. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang


tindakan operasi
Hasilnya yang diterapkan : pasien melaporkan takut dan ansietas
menurun sampai tingkat dapat ditangani

N Intervensi Rasional
O
1 Tinjau ulang keadaan penyakit Memberikan pengetahuan
dan harapan masa depan pada pasien / keluarga yang
dapat memilih berdasarkan
infornasi
2 Observasi tingkah laku yang Ansietas ringan dapat
menunjukkan tingkat ansietas ditunjukan dengan peka
rangsang dan insomnia.
Ansietas berat yang
berkembang ke dalam
keadaan panik dapat
menimbulkan perasaan
terancam dan terror
3 Berikan lingkungan perhatian, Penerimaan dan motivasi dari
keterebukaan dan penerimaan orang terdekat meberikan
privasi untuk pasien atau orang poin penuh untuk menjalani
terdekat, anjurkan bahwa orang kehidupan selanjutnya yang
terdekat ada kapanpun saat lebih baik
diperlukan

b) Diagnosa keperawatan Intra operatif


1. Resiko tinggi terjadi ketidak efektifan kebersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan ,
pendarahan dan spasme laryngeal.
Hasil yang diharapkan : mempertahankan jalan nafas pasien
dengan mencegah aspirasi

N Intervensi
( kolaborasi dengan tim Rasional
O anastesi)
1 Pantau frekuensi pernafasan, Penafasan secara normal,
kedalaman dan kerja nafas kadang-kadang cepat, tetapi
berkembangnya distress pada
pernafasan merupakan
indikasi kompresi trakea
karena edema atau
pendarahan
2 Auskultasi suara nafas, catat Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara ronchi adanya suara rinchi.Ronchi
merupakan indikasi adanya
obstruksi spasme laryngeal
yang membutuhkan evaluasi
dan intervensi segera
3 Kaji adanya dispneu,stidor dan Indikator obstruksi trakea
sianosis, perhatikan kualitas atau spasme laring yang
suara mebutuhkan evaluasi dan
intervensi segera
4 Pertahankan alat intubasi di Terkenanya jalan nafas dapat
dekat pasien menciptakan suasana yang
mengancam kehidupan yang
memerlukan tindakan darurat
5 Pantau perubahan TTV, Bermanfaat dalam
terutama peningkatan nadi dan mengevaluasi nyeri,
penurunan TD atau pernafasan menentukan pilihan
cepat dan dalam intervensi, menentukan
efektifitas terapi

2. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pendarahan


Hasil yang diharapkan : mempertahankan keseimbangan cairan,
adekuat yang dibuktikan dengan tanda vital stabil, nadi perifer
normal, turgor kulit baik dan membran mukosa lembab
N Intervensi Rasional
O
1 Kolaborasi dengan anastesi : Membandingkan keluaran actual
awasi pemasukan dan dan yang diantisipasi membantu
pengeluaran dalam evaluasi stastis atau
kerusakan ginjal
2 Awasi tanda vital, evaluasi Sebagai indicator hidrasi atau
nadi,pengisian kapiler, volume sirkulasi dan kebutuhan
turgor kulit dan membran intervensi
mukosa
3 Berikan cairan IV Untuk mempertahankan volume
sirkulasi

3. Potensial injury (ketinggalan instrument,kassa dan injury kulit)


berhubungan dengan tindakan operasi, pemasangan arde yang
tidak kuat
Hasil yang diharapkan : Injury tidak terjadi

N Intervensi Rasional
O
1 Pertahankan keadaan Untuk mempertahankan keadaan
asepsis selama asepsis selama operasi
pembedahan berlangsung
2 Atur posisi yang sesuai Posisi yang sesuai diperlukan
untuk pasien untuk memudahkan pembedahan
dan menjamin keamanan fisiologis
pasien, posisi yang diberikan pada
saat pembedahan disesuaikan
dengan kondisi pasien
3 Bantu penutupan luka Untuk mencegah kontaminasi
operasi luka, mengabsorbsi drainage, dan
membantu penutupan insisis, jika
penyembuhan luka terjadi tanpa
komplikasi, jahitan bisa dibuka
biasanya selama 7-10 hari
tergantung letak lukanya
4 Monitor terjadinya Monitoring keadaan hipothermi
hipotermi diperlukan untuk mencegah
terjadinya komplikasi berupa
kerusakan system syaraf pusat atau
bahkan kematian. Monitoring
secara kontinyu diperlukan untuk
menentukan tindakan pencegahan
dan penanganan sedini mungkin
sehingga tidak menimbulkan
komplikasi yang dapat merugikan
pasien
5 Siapkan kamar bedah 1.beberapa jenis pembedahan
yang sesuai dengan tertentu akan dilaksanakan pada
operasi pasien Hernia ruangan atau kamar bedah
inguinalis lateral. tertentu
2.Parawat sirkuler melakukan
persiapan tempat operasi sesuai
prosedur yang biasa dan jenis
pembedahan yang akan
dilaksanakan.Tim bedah harus
diberitahau jika terjadi kelainan
kulit yang menjadi
kontraindikasi pembedahan
3.Perawat sirkuler memeriksa
kebersihan dan kerapian ruang
operasi sebelum pembedahan
perawat sirkuler juga harus
memastikan bahwa peralatan
telah siap dan dapat digunakan .
Apabila prosedur ini tidak
dilaksanakan, maka dapat
menyebabkan
penundaan/kesulitan dalam
pembedahan
6 Siapkan sarana Sarana pendukung seperti kateter
pendukung pembedahan urine lengkap, alat penghisap
lengkap dalam kondisi siap pakai
7 Siapkan alat hemsotatis Alat hemostatis merupakan
dan cadangan alat dalam fondasi dari tindakan operasi
kondisi siap pakai untuk mencegah terjadinya
pendarahan serius akibat
kerusakan pembuluh darah arteri.
Perawat memeriksa kemampuan
alat tersebut untuk menghindari
cidera akibat pendarahan intra
operatif
8 Siapkan meja dan asesori Meja bedah akan disiapkan
pelengkap sesuai dengan perawat sirkuler dan disesuaikan
jenis pembedahan dengan jenis pembedahan. Perawat
sirkulasi mempersiapkan aksesori
tambahan meja bedah agar dalam
pegaturan posisi dapat efektif dan
efisien
9 Bantu ahli bedah pada Membantu ahli bedah pada saat
saat dimulainya inisisi dimulainya inisisi
10 Hitung jumlah instrument Perhitungan jumlah instrument
dan kassa dan kassa disaksikan oleh semua
tim operasi. Kesesuaian antara
jumlah penggunaan instrument
dan kassa sebelum dan sesudah
operasi sangat berperan penting
untuk menghindari terjadinya
tertinggalnya instrument selama
tindakan intraoperatif

c) Diagnose keperawatan post operatif

1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pasca operasi & trauma


jaringan
Hasil yang diharapkan : Nyeri hilang, klien mampu mengontrol
nyeri.

N Intervensi Rasional
O
1 Observasi reaksi Untuk mengetahui skala nyeri
nonverbal dari ketidak sehingga intervensi lebih tepat
nyamanan
2 Gunakan teknik Agar klien merasa nyaman dan
komunikasi teraputik tidak memperburuk suasana hati
3 Berikan posisi nyaman Untuk mengurangi faktor pencetus
rasa nyeri
4 Ajarkan teknik relaksasi Teknik relaksasi nafas dalam dapat
nafas dalam merilekskan otot-otot sehingga
mengurangi rasa nyeri
5 Kolaborasi dengan tim Analgesik membantu menredakan
medis dalam pemberian sensasi nyeri pada pasien
analgesic

2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedurinvasif, kateter dan


trauma jaringan
Hasil yang diharapkan : pasien mencapai waktu penyembuhan dan
tidak mengalami infeksi

N Intervensi Rasional
O
1 Kolaborasi dengan Pasien yang mengalami perubahan
anasthesi : Awasi tanda tanda vital beresiko untuk syok
vital bedah atau septic sehubungan
dengan manipulasi atau
instrumentasi
2 Observasi dan drainage Adanya drain dapat meningkatkan
luka resiko infeksi yang diindikasikan
dengan eritema dan drainage
purulen
3 Pantau suhu tubuh dan Mencegah terjadinya infeksi
frekuensi nadi,
perubahan jenis atau
peningkatan area
kemerahan dan nyeri
tekan disekitar tempat
operasi
4 Kolaborasi dengan tim Antibiotik mencegah terjadinya
medis dalam pemberian infeksi luka pada pasien
antibiotic
5 Kaji ulang identitas dan 1. Perawat ruang operasi
pemeriksaan diagnostik memeriksa kembali riwayat
kesehatan, hasil pemeriksaan.
2. Riwayat kesehatan yang
mempunyai resiko penurunan
imunitas
3. Hasil pemeriksaan darah
albumin untuk menentukan
aktifitas agen obat dan
pertumbuhan jaringan luka
6 Siapkan sarana scrub Sarana scrub meliputi cairan
antiseptic , cuci tangan pada
tempatnya, gaun yang terdiri dari
gaun kedap air dan baju bedah
steril, duk tertutup, dalam kondisi
lengkap dan siap pakai
7 Periksa adanya Manajemen instrument dari
perubahan dalam status perawat scrub sebelum
mental dan sensori pembedahan disesuaikan dengan
jenis pembedahan. Sebagai
antisipasi jika diperlukan
instrument tambahan, perawat
mempersiapkan alat cadangan
dalam suatu tromol steril yang
akan memudahkan pengambilan
apabila diperlukan tambahan alat
instrument
8 Lakukan manajemen Manajemen asepsis selalu
asepsis prabedah berhubungan dengan pembedahan
dan perawatan perioperatif. Asepsis
prabedah meliputi tehnik
aseptik/pelaksanaan scrubing cuci
tangan
9 Lakukan manajemen 1. Manajemen asepsis dilakukan
asepsis intra operasi untuk menghindari kontak
dengan zona steril, pemakaian
sarung tangan, persiapan kulit,
pemasangan duk, penyerahan
alat yang diperlukan petugas
scrub dengan perawat sirkulasi
10 Jaga kesterilan alat yang Kesterilan alat untuk operasi
digunakan untuk operasi dilakukan dengan pengecekan
indikator steril dan tanggal
pensterilan alat serta menjaga alat-
alat untuk operasi supaya tidak
terkontaminasi
11 Lakukan penutupan luka Penutupan luka bertujuan untuk
pembedahan menurunkan resiko infeksi.
Perawat biasanya memasang
sufratul, menutup dengan kassa
steril dan difiksasi dengan hepafik
12 Kolaborasi dengan tim Melakukan kolaborasi dengan tim
medis medis mengenai pemberian obat
antibiotic dan tata cara perawatan
luka post operasi

3. Hipotermi berhubungan dengan pasca anastesi, terpajan


lingkungan yang dingin, dan penggunaan pakaian yang tidak
mencukupi.
Hasil yang diharapkan : menunjukkan termoregulasi, klien tidak
menggigil.

N Intervensi Rasional
O
1 Kaji dan monitor tanda- Untuk mengetahui tingkat
tanda vital klien hipotermi sehingga intervensi lebih
tepat
2 Berikan pakaian/selimut Untuk mengurangi klien
yang hangat, tebal kehilangan panas tubuh
3 Selimuti bagian tubuh Untuk mengurangi klien
yang terbuka (ujung kehilangan panas tubuh
peripheral)
4 Bila perlu turunkan suhu Terpapar suhu ruangan yang dingin
ruangan dapat menambah faktor penurun
suhu tubuh
5 Bila perlu hangatkan Cairan dingin yang masuk dalam
cairan intravena/darah intravena juga dapat membantu
transfusi terlebih dahulu menurunkan suhu tubuh
6 Kolaborasi dengan tim Teknik diberikan seperti pemberian
medis untuk hipotermia obat-obat an yang dapat
berat dengan teknik mempengaruhi termoregulasi,
menghangatkan suhu inti ataupun dengan teknik kompres
tubuh hangat.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, dkk.1996.Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Volume 2. Jakarta: EGC.

Budi.2010. Asuhan Keperawatan pada Penyakit Hernia .Disitasi dari


http://www.mediakeperawatan.com/?id=budixtbn.

Holdstok, G. 1991. Atlas Bantu Gastroenterologi dan Penyakit Hati. Jakarta:


Hipokrates.

NANDA. (2010). Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi.


Jakarta : Prima Medika.

Wong, L. 1996. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: ECG.

Yuda. 2010. Penyakit hernia pada anak. Disitasi dari


http://dokteryudabedah.com/wp-content/uploads2015/03/