Anda di halaman 1dari 19

Perpajakan Dan Fiskal

Kenaikan BBM

Dosen : Erlina Diamastuti


Kelas :B

Nama Anggota :
1. Achmad Zamroni (1011510007)
2. Deni Widiya Wati (1011510022)
3. Tahalli D. Nasir (1011510031)
4. Ricca Sofyantinie (1011510046)
5. Yulis Yuningsih (1011510051)
6. Endang Suliati (1011510059)
7. Faizal Adji W. (1011510090)

UNIVERSITAS INTERNASIONAL SEMEN


INDONESIA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kebijakan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri
menyebabkan perubahan perekonomian secara drastis. Kenaikan BBM ini akan diikuti oleh
naiknya harga barang-barang dan jasa-jasa di masyarakat. Kenaikan harga barang dan jasa ini
menyebabkan tingkat inflasi di Indonesia mengalami kenaikan dan mempersulit
perekonomian masyarakat terutama masyarakat yang berpenghasilan tetap.

Jika terjadi kenaikan harga BBM di negara ini, akan sangat berpengaruh terhadap
permintaan (demand) dan penawaran (supply). Permintaan adalah keinginan yang disertai
dengan kesediaan serta kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan (Rosyidi,
2009:291). Sementara penawaran adalah banyaknya jumlah barang dan jasa yang ditawarkan
oleh produsen pada tingkat harga dan waktu tertentu.

Permintaan dari masyarakat akan berkurang karena harga barang dan jasa yang
ditawarkan mengalami kenaikan. Begitu juga dengan penawaran, akan berkurang akibat
permintaan dari masyarakat menurun. Harga barang-barang dan jasa-jasa menjadi melonjak
akibat dari naiknya biaya produksi dari barang dan jasa. Ini adalah imbas dari kenaikan harga
BBM. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan, Jika harga suatu barang naik, maka jumlah
barang yang diminta akan turun, dan sebaliknya jika harga barang turun, jumlah barang yang
diminta akan bertambah (Jaka, 2007:58).

Masalah lain yang akan muncul akibat dari kenaikan harga BBM adalah kekhawatiran
akan terhambatnya pertumbuhan ekonomi. Ini terjadi karena dampak kenaikan harga barang
dan jasa yang terjadi akibat komponen biaya yang mengalami kenaikan. Kondisi
perekonomian Indonesia juga akan mengalami masalah. Daya beli masyarakat akan menurun,
munculnya pengangguran baru, dan sebagainya.

Inflasi yang terjadi akibat kenaikan harga BBM tidak dapat atau sulit untuk dihindari,
karena BBM adalah unsur vital dalam proses produksi dan distribusi barang. Disisi lain,
kenaikan harga BBM juga tidak dapat dihindari, karena membebani APBN. Sehingga
Indonesia sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik itu tingkat investasi, maupun
pembangunan-pembangunan lain yang dapat memajukan kondisi ekonomi nasional.
Dengan naiknya tingkat inflasi, diperlukan langkah-langkah atau kebijakan-kebijakan
untuk mengatasinya, demi menjaga kestabilan perekonomian nasional. Diperlukan kebijakan
pemerintah, dalam hal ini Bank Sentral yakni Bank Indonesia untuk mengatur jumlah uang
yang beredar di masyarakat. Jumlah uang yang beredar di masyarakat ini berhubungan
dengan tingkat inflasi yang terjadi. Banyaknya uang yang beredar di masyarakat ini adalah
dampak konkret dari kenaikan harga BBM.

Bank Indonesia selaku lembaga yang memiliki wewenang untuk mengatasi masalah ini,
selain pemerintah tentunya, bertugas untuk mengatur jumlah uang yang beredar di
masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mengatasi inflasi ini adalah dengan
mengatur tingkat suku bunga. Kebijakan menaikan dan menurunkan tingkat suku bunga ini
dikenal dengan sebutan politik diskonto yang merupakan salah satu instrumen kebijakan
moneter.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai dampak
dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap perekonomian Indonesia, yang
didalamnya juga berdampak pada tingkat inflasi.. Dalam makalah ini dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :

1. Apa definisi BBM?


2. Apa definisi BBM Bersubsidi?
3. Kenaikan BBM?
4. Apa saja dampak dari kenaikan harga BBM?
5. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap perekonomian Indonesia?
6. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap pertumbuhan ekonomi?
7. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap inflasi?
8. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap buruh?
9. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap pengangguran?
10. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap harga bahan-bahan pokok?
11. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap laju inflasi?
12. Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap penggunaan transportasi
umum?
13. Faktor apa saja Yang Menyebabkan Pemerintah Ingin Menaikkan Harga BBM?
14. Faktor Yang Mempengaruhi Kenaikan BBM?
15. Hal hal yang saja yang dapat diusahakan untuk menangani kenaikan BBM ?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi BBM


Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi. Biasanya bahan
bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan dimanipulasi. bahan bakar
minyak terutama solar,premium dan pertamax menjadi bahan bakar minyak yg sangat diincar
masyarakat luas dan menjadi bhan bakar unggulan yang di beli setiap hari sebagai bahan
bakar kendaraan , maka oleh karena itu kenaikan harga bbm sangat berpengaruh terhadap
masyarakat terutama kalangan menengah kebawah terutama untuk bahan bakar premium
.Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan yang sangat
vital dalam semua aktifitas ekonomi. BBM adalah salah satu sumber daya alam yang
dimiliki oleh bumi dan kita tahu bahwa persediaannya terbatas, sehinga pada saat ini dimana
BBM memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, khususnya untuk kendaraan
bermotor, sangat sulit untuk dicari, atau bisa dikatakan langka. Kelangkaan ini bisa saja
disebabkan oleh sumber daya mimyak bumi yang terbatas,dan orang-orang yang
mementingkan kepentingannya sendiri. Pemerintah menjual BBM kepada rakyat dengan
harga bersubsidi, sehingga banyak sekali rakyat yang mengantri untuk mendapatkan BBM
pemerintah yang disubsidi, namun banyak juga masyarakat yang tidak bisa mendapatkan
BBM yang bersubsidi dari pemerintah tersebut, tapi mereka dapat membelinya dari
pedangang eceran, tentunya dengan harga yang tidak bersubsidi, disinilah BBM banyak
disalah gunakan. Semakin langkanya BBM ini, pemerintah mengeluarkan sebuah program,
yaitu mengganti minyak tanah dangan gas, rencana ini pada awalnya disambut dengan baik,
namun dalam pelaksanaannya, banyak mengalami kegagalan yang berakibat fatal, bahkan
menelan korban jiwa.

2.2 Definisi BBM Bersubsidi

Bahan bakar minyak yang diperuntukkan kepada rakyat yang telah mengalami proses subsidi.
Subsidi adalah sebuah bantuan keuangan yang diberikan sebuah badan (dalam hal ini oleh
pemerintah) kepada rakyat atau sebuah bentuk usaha.
Tujuannya : Untuk mempertahankan atau meningkatkan daya beli.

2.3 Kenaikan BBM.

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan komoditas yang memegang peranan sangat vital
dalam semua aktifitas ekonomi. Dampak langsung perubahan harga minyak ini adalah
perubahan-perubahan biaya operasional yang mengakibatkan tingkat keuntungan kegiatan
investasi langsung terkoreksi. Secara sederhana tujuan investasi adalah untuk maksimisasi
kemakmuran melalui maksimisasi keuntungan, dan investor selalu berusaha mananamkan
dana pada investasi portofolio yang efisien dan relatif aman.

Kenaikan harga BBM bukan saja memperbesar beban masyarakat kecil pada umumnya tetapi
juga bagi dunia usaha pada khususnya. Hal ini dikarenakan terjadi kenaikan pada pos-pos
biaya produksi sehingga meningkatkan biaya secara keseluruhan dan mengakibatkan
kenaikan harga pokok produksi yang akhirnya akan menaikkan harga jual produk. Multiple
efek dari kenaikan BBM ini antara lain meningkatkan biaya overhead pabrik karena naiknya
biaya bahan baku, ongkos angkut ditambah pula tuntutan dari karyawan untuk menaikkan
upah yang pada akhirnya keuntungan perusahaan menjadi semakin kecil. Di lain pihak
dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak tersebut akan memperberat beban hidup
masyarakat yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Turunnya daya beli masyarakat mengakibatkan tidak terserapnya semua hasil produksi
banyak perusahaan sehingga secara keseluruhan akan menurunkan penjualan yang pada
akhirnya juga akan menurunkan laba perusahaan.

2.4 Dampak Dari Kenaikan Harga BBM

Dalam situasi ekonomi masyarakat yang sulit, kenaikan BBM bisa kontraproduktif. Kenaikan
harga BBM akan menimbulkan kemarahan masyarakat, sehingga ketidakstabilan
dimasyarakat akan meluas. Kenaikan BBM ini merupakan tindakan pemerintah yang
beresiko tinggi. Kenaikan harga BBM tidak hanya menimbulkan dampak negatif saja, tetapi
kenaikan harga BBM juga menimbulkan dampak positif.

A. Dampak Positif dari Kenaikan Harga BBM


1) Munculnya bahan bakar dan kendaraan alternatif
Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai macam bahan bakar
alternatif baru yang sudah dikenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas).
Harga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar
yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar
alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain
itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM,
misalnya mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
2) Pembangunan Nasional akan lebih pesat
Pembangunan nasional akan lebih pesat karena dana APBN yang awalnya digunakan
untuk memberikan subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi dicabut dan
dialihkan untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah hingga ke seluruh
daerah.
3) Hematnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh
pemerintah akan berkurang. Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dapat di
minimalisasi.
4) Mengurangi Pencemaran Udara
Jika harga BBM mengalami kenaikan, masyarakat akan mengurangi pemakaian bahan
bakar. Sehingga hasil pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat berkurang, dan akan
berpengaruh pada tingkat kebersihan udara.

B. Dampak Negatif dari Kenaikan BBM


1. Harga barang semakin mahal
Kebutuhan akan komoditas BBM sudah menyentuh semua aspek kehidupan. Tekanan
harga pada komoditas BBM akan berpengaruh pada harga barang dan jasa lainnya. Harga
barang dan jasa akan mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya produksi
sebagai imbas dari naiknya harga bahan bakar.
2. Daya beli masyarakat menurun
Kenaikan harga BBM yang disertai dengan peningkatan harga barang berimplikasi pada
menurunnya daya beli masyarakat. Ini akan semakin memberatkan masyarakat kecil di
saat momen kenaikan harga BBM berdekatan dengan hari raya Lebaran dan masa liburan
sekolah.kenaikan harga BBM ini juga membuat apa yang diperjuangkan para buruh
mengenai peningkatan UMR menjadi sia-sia. Buruh merepresentasi kalangan masyarakat
kecil.
3. Kemiskinan Bertambah
Kenaikan harga BBM bersubsidi akan berimplikasi pada melonjaknya tingkat
kemiskinan. Meski pemerintah berjanji untuk memberikan kompensasi pada masyarakat
kecil. Namun dampaknya dinilai tidak akan signifikan.Kompensasi yang bertujuan
sebagai jaring pengaman agar masyarakat miskin tidak semakin jatuh ke jurang
kemiskinan justru berpotensi dimanfaatkan oleh agenda politik. Pasalnya, dalam waktu
dekat Indonesia akan memasuki masa pemilihan umum (pemilu). Pemerintah juga akan
memberikan dana kompensasi kepada masyarakat kalangan bawah per bulan. Besaran
kompensasi per Rumah Tangga Sasaran (RTS) sudah dihitung oleh Kementerian
Keuangan. "Sekitar Rp 150.000 per RTS.
4. Pengangguran Bertambah
Kenaikan harga BBM bersubsidi akan membuat biaya produksi usaha bertambah. Hal ini
menimbulkan pengusaha mengurangi beban usaha salah satunya dengan Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK).
PHK tentunya akan menimbulkan angka pengangguran meningkat. Rencana pembatasan
konsumsi BBM yakni sebesar 0,7 liter per motor per hari dan 3 liter per mobil per hari
akan membuat kondisi semakin parah.
Rencana ini akan membuat gerak ekonomi terganggu. Pengangguran akan bertambah.
Jika pemerintah ingin menurunkan beban subsidi sebaiknya menggunakan cara konversi
BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG). Pemerintah sebaiknya konsentrasi pada
pengembangan infrastruktur gas yang mana komoditas ini masih melimpah di bumi
Indonesia.
5. Inflasi
si akan terjadi jika harga BBM mengalami kenaikan. Inflasi yang terjadi karena
meningkatnya biaya produksi suatu barang atau jasa.
6. Usaha Kecil Semakin Terpukul
Usaha kecil menjadi sektor yang paling terpukul akibat dampak kenaikan harga BBM ini.
Sektor ini mengalami penambahan beban produksi terbesar.
Dengan modal secukupnya ditambah beban produksi yang bertambah diyakini akan
membuat sektor usaha kecil gulung tikar. Usaha kecil banyak yang gunakan kendaraan
untuk kendaraan operasional seperti antar barang. Itu akan membuat ongkos naik,
Ini menjadi dilema bagi usaha kecil. Pasalnya, jika usaha kecil berniat membebankan
ongkos produksi pada produknya maka akan membuat volume penjualan menurun.

2.4 Bagaimana dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap perekonomian Indonesia?


Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi, akan tetapi lumbung minyak di
tanah air ini banyak dikelola oleh perusahaan asing dikarenakan keterbatasan SDM yang
dimiliki indonesia. Pertamina sebagai jargon BUMN dalam pengelolaan minyak bumi hanya
sebagai pajangan dan Pemerintah lebih bernafsu memberikan izin pengelolaan kepada
perusahaan asing untuk mencari keuntungan tersendiri tanpa mempedulikan kesejahteraan
rakyatnya.Beberapa tahun belakangan ini pemerintah sering sekali mengeluarkan wacana yang
menyerukan kenaikan harga BBM , ditahun ini juga pemerintah sudah menetapkan akan
melakukan kenaikan BBM. kenaikan harga BBM justru semakin mensengsarakan rakyat, belajar
dari kenaikan BBM tahun 2005 dan 2008 justru menimbulkan polemik dan kesengsaraan dalam
masyarakat. Akan tetapi Menteri Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan hal yang
kontaradiktif dengan kondisi yang dialami masyarakat bahwa harga kebutuhan pokok stabil
bahkan beberapa bahan pokok mengalami penurunan terutama beras, gula naik sedikit begitu
pula dengan minyak goreng dan harga-harga lainya masih dalam batas wajar. Aneh bin ajaib,
pernyataan ini sungguh jauh dari normal dan hanya mementingkan kepentingan pejabat saja
tanpa melihat rakyatnya menjerit akibat kebijakan sesat ini.
Kenaikan BBM juga akan meningkatkan laju inflasi. Memandang kenaikan harga BBM justru
berdampak pada peningkatan harga-harga sehingga mendorong laju inflasi pada level yang
cukup tinggi yang dapat memicu gejolak sosial di masyarakat serta meningkatkan jumlah
masyarakat miskin akibat daya beli masyarakat makin merosot.
Kebutuhan akan komoditas BBM sudah menyentuh semua aspek kehidupan. Tekanan harga
pada komoditas BBM akan berpengaruh pada harga barang atau jasa lainnya. Kenaikan harga
BBM yang disertai dengan peningkatan harga barang berimplikasi pada menurunnya daya beli
masyarakat. Ini akan semakin memberatkan masyarakat kecil di saat momen kenaikan harga
BBM berdekatan dengan hari raya lebaran dan masa liburan sekolah.
Selain itu kenaikan harga BBM bersubsidi akan berimplikasi pada melonjaknya tingkat
kemiskinan. Meski pemerintah berjanji untuk memberikan kompensasi pada masyarakat kecil
namun dampaknya dinilai tidak akan signifikan.Kompensasi yang bertujuan sebagai jaring
pengaman agar masyarakat miskin tidak semakin jatuh ke jurang kemiskinan justru berpotensi
dimanfaatkan oleh agenda politik. Pasalnya, dalam waktu dekat Indonesia akan memasuki masa
pemilihan umum (pemilu).Orang miskin akan semakin bertambah karena ada kepentingan
politik untuk pencitraan.
Selain berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia kenaikan harga BBM juga berpengaruh
terhadap kondisi social rakyat Indonesia. Kemudian terkait dengan dampak sosial adalah adanya
anggapan bahwa Pemerintah hanya mementingkan kepentingan kelompok asing dan golongan
kaya yang hanya mencari keuntungan bahkan aspek sosial yang selama ini terabaikan seperti
fasilitas jalan raya yang banyak berlubang, bangunan sekolah banyak yang rusak, belum lagi
persoalan sampah yang menumpuk tidak dikelola mengancam kesehatan.

Lambannya peran Pemerintah mengatasi aspek sosial ini akan menyulitkan pengambilan
keputusan terkait kebijakan yang akan dibuat sehingga nantinya akan menjadi tidak optimal
secara keseluruhannya. Ditinjau secara menyeluruh bahwa kehidupan masyarakat di kota dan
daerah berbeda sehingga peran pemerintah Pusat dan Daerah diharapkan dapat bersinergi
dengan kondisi sosial yang nampak saat ini. Dan masih banyak pengaruh-pengaruh yang
ditimbulkan akibat kenaikan BBM di Indonesia di segala aspek kehidupan.
Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya alam yang dapat dijadikan bahan bakar.
Seharusnya pemerintah fokus pada bagaimana mengembangkan potensi sumber daya alam
tersebut sehingga persediaan energi dapat terbarukan dan dapat menyerap lapangan pekerjaan
bagi masyarakat luas. Selama ini pemerintah hanya fokus pada politik ditingkat pusat dengan
isu demokrasi berkeadilan tetapi selama itu pula proses hukum di negeri ini banyak yang
terabaikan dan pembangunan infrastruktur yang tidak optimal. Seolah kebijakan yang dibuat
hanya untuk formalitas sebagai pembuat kebijakan yang hasil akhirnya justru soal berapa
banyak perolehan hasil pemilu mendatang untuk mempertahankan suara pemilihan atau
mungkin juga soal kebijakan ekonomi yang pro kepada pihak asing sehingga aspek sosial dan
ekonomi rakyat menjadi terabaikan.
Jika minyak bumi dikelola oleh BUMN maka keuntungan akan lebih dirasakan oleh
masyarakat. Pengelolaan yang dominan oleh asing menandakan negara gagal dalam
memanfaatkan SDA yang ada. Kenaikan harga BMM jelas tidak mensejahterakan rakyat,
seharusnya pemerintah memikirkan solusi cerdas seperti negara penghasil minyak lainnya
yang mengelola minyaknya dengan baik dan menjualnya lebih murah di dalam negeri.

2.5 dampak kebijakan menaikkan BBM terhadap pertumbuhan ekonomi


Apapun pertimbangan menaikkan harga BBM, bagi kalangan miskin atau nyaris miskin,
implikasinya hanya satu: kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebaliknya menurut pemerintah,
tak mungkin kas negara terus-menerus dipakai untuk menambal subsidi BBM karena sektor
lain menjadi terbengkalai.
Menurut catatan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, tahun lalu besaran subsidi
kesehatan hanya Rp43,8 triliun, infrastruktur Rp125,6 triliun, bantuan sosial Rp70,9 triliun,
sementara subsidi BBM menyedot dana paling besar, Rp165,2 triliun. Padahal itu belum
termasuk subsidi listrik yang berjumlah Rp 90 triliun, sehingga secara total subsidi energi
APBN 2011 mencapai Rp 255 triliun. Realisasi subsidi BBM juga cenderung membengkak
dari angka acuan karena konsumsi BBM yang tak terkendali.
Tahun 2010 misalnya, subsidi BBM yang mestinya habis pada hitungan Rp 69 triliun
kemudian membesar menjadi Rp 82,4 triliun. Hal sama terulang pada 2011 dimana anggaran
subsidi Rp 96 triliun kemudian bengkak menjadi hampir dua kali, yakni Rp 165,2 triliun.
Akibatnya kesempatan berinvestasi dalam bentuk infrastruktur dan pembangunan nonfisik,
termasuk kesehatan dan pendidikan, menjadi lebih sedikit. Pengurangan subsidi BBM,
menurut pemerintah, akan dialihkan sebagian pada program infratsruktur, meski belum jelas
apa saja bentuknya dan bagaimana realisasinya.
Enny Sri Hartati dari INDEF menilai situasi ini sangat tak adil bagi kelompok miskin. Lebih
tepat sasaran kalau kemudian diarahkan pada pembangunan infrastruktur atau program
pengentasan kemiskinan lain.
2.6 kebijakan menaikkan BBM terhadap inflasi
Pengamat ekonomi Aviliani menyatakan, pemerintah harus mewaspadai risiko
melambungnya inflasi jika harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan. Dia memperkirakan,
kenaikan harga BBM pada kisaran Rp 1.500 hingga Rp 2.000 akan memicu tingkat inflasi
nasional menjadi 6,5 persen pada tahun ini. Jika kenaikan BBM berkisar Rp 1.500 sampai Rp
2.000 kemungkinan inflasi akan bertambah sekitar 1 hingga 2 persen sehingga inflasi
nasional akan naik menjadi sekitar 6,5 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya
mengumumkan bahwa laju inflasi umum tahun kalender 2011 mencapai 3,79 persen.
Bank Indonesia juga memperkirakan jika harga BBM dinaikan pada kisaran Rp 500 hingga
Rp 1.500 maka akan menimbulkan inflasi lebih dari 5,5 persen. Menurut Aviliani, pemerintah
tidak memiliki pilihan kecuali menaikan harga BBM akibat melambungnya harga minyak
mentah dunia. Hal itu terutama setelah Iran menghentikan ekspornya ke negara Eropa. Harga
minyak sempat mencapai 115 dolar AS per barel. Inflasi akibat kenaikan harga BBM tidak
akan menimbulkan gejolak asalkan rupiah tetap pada kisaran RP 8.500 hingga Rp 9.000 per
dolar AS.
Selain itu, tingkat konsumsi masyarakat tetap tinggi. Karena kecenderungan masyarakat
Indonesia ketika rupiah menguat, maka konsumsi akan meningkat juga. Dengan tingkat
konsumsi yang tetap tinggi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan tetap terjaga di
kisaran 6 persen pada tahun ini. Sebabnya, sekitar 64 persen angka pertumbuhan nasional
ditopang dari konsumsi.
Kenaikan harga BBM senilai Rp 2.000 per liter dari harga sekarang akan menghemat
anggaran subsidi sebesar Rp 26 triliun dengan inflasi tinggi. Guna menekan inflasi tersebut
maka pelarangan penggunaan konsumsi BBM bersubsidi khusus untuk mobil pribadi dinilai
lebih kecil risiko inflasinya dibanding kenaikan harga BBM untuk semua kendaraan.
Sementara itu, pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, pemerintah harus segera
menyesuaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi seiring dengan tren naiknya harga
minyak dunia. Krisis finansial yang terjadi di Uni Eropa dan Amerika, serta ketegangan
antara Iran dan negara barat terkait sanksi ekspor minyak Iran menjadi faktor utama pemicu
naiknya harga minyak dunia. Kenaikan BBM Rp 1.500 per liter, akan menjadi kebijakan yang
paling realistis. Kurtubi memperkirakan, harga minyak dunia akan menembus 120 dolar AS
per barel untuk Indonesian Crude Price (ICP), bahkan jika Selat Hortmutz ditutup akan
mencapai 120 dolar AS hingga 130 dolar AS per barel.
2.7 Dampak Kebijakan Menaikkan BBM Terhadap Buruh
Pengaruh kenaikan harga BBMakan sangat terasa untuk para buruh nasional. Apalagi, 46
Komponen KHL dalam Permenaker 17/2005 sudah otomatis akan naik nominal harganya.
Contoh sederhana, harga sandang, pangan, sewa kamar pasti dan lain-lainnya pasti akan naik,
sedangkan revisi komponen KHL untuk menyesuaikan harga komponen tersebut dilakukan
pada akhir tahun.
Kenaikan harga BBM juga dapat berakibat naiknya biaya produksi yang menyebabkan
kenaikan biaya produksi sehingga membebankan kenaikan biaya produksi tersebut kepada
pekerja, seperti menunda pembayaran gaji, memotong gaji atau mengurangi jumlah pekerja.
Seorang anggota DPR asal Kepulauan Riau meminta Kementrian Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (kemenakertras) untuk mengimbau Apindo agar tidak melakukan hal-hal
tersebut kepada karyawannya, akibat dampak kenaikan harga BBM yang berdampak pada
sektor Industri.
Masih ada solusi lain untuk mengatasi kenaikan harga minyak dunia selain menaikkan harga
BBM bila Pemerintah mau kreatif dan tidak selalu mencari solusi yang paling mudah. Seperti
melakukan penghematan anggaran dengan melakukan diet ketat untuk tidak belanja hal-hal
yang tidak penting, memaksimalkan pendapatan pajak agar tidak bocor dan lain-lainnya.

2.8 Dampak Kebijakan Menaikkan BBM Terhadap Pengangguran


Dampak kenaikan harga bahan bakar ini terhadap aktivitas ekonomi dikenal dengan istilah
multiplier effect. Misalnya jika BBM naik menjadi Rp 6.000/ liter maka akan menaikkan
harga barang dan jasa, karena kenaikan harga bahan bakar itu menjadi komponen penting
dalam penentuan harga produk barang dan jasa.
Ketika harga barang dan jasa naik, dengan asumsi pendapatan masyarakat tetap maka daya
beli masyarakat pun turun. Bahkan sangat mungkin terjadi bahwa pendapatan masyarakat
tidak selalu naik sebanding dengan kenaikan harga BBM. Akibat lebih lanjut, jika harga
barang dan jasa naik maka produk domestik tidak dapat bersaing dengan produk asing yang
membanjiri Indonesia.
Dampak lebih lanjut adalah penjualan industri turun, omzet turun, pendapatan masyarakat
turun. Akibat lebih lanjutnya adalah PHK dan naiknya angka pengangguran. Dalam waktu
yang bersamaan, ketika harga BBM akan naik, muncullah program bantuan tunai yang
digulirkan pemerintah dengan tujuan meredam dampak sosial ekonomi masyarakat, yang
disebut BLSM. Program bantuan tersebut bersifat konsumtif, sesaat, tampak sebagai
kebijakan tambal sulam, tidak dapat memberdayakan ekonomi masyarakat, sering salah
sasaran, dan justru akan menghambat tumbuhnya potensi-potensi ekonomi masyarakat.

2.9 Dampak Kebijakan Menaikkan BBM Terhadap Harga Bahan-Bahan Pokok


Kenaikan harga BBM tidak dapat dilihat dari satu aspek, tapi yang dikhawatirkan banyak
pihak adalah multiplier effect-nya terhadap harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.
Sehingga bisa dipastikan masyarakat kecil yang akan menerima dampak yang paling berat.
Ini yang seharusnya menjadi pertimbangan serius pemerintah sebelum mengambil langkah
menaikkan harga BBM.
APBN kita memang berat menanggung seluruh kebutuhan pembangunan. Pemerintah melihat
salah satu opsi untuk menstabilkan APBN dengan mengurangi subsidi BBM. Sebagai
gantinya, pemerintah berencana mengalihkan sebagian biaya subsidi BBM dalam bentuk
bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM.
Jazuli Juwaini mengatakan, dirinya memahami BLSM sebagai bentuk pengaman sosial untuk
mengompensasi dampak kenaikan BBM. Di luar efektifitas dan ketepatan sasaran dalam
penyalurannya, sejatinya BLSM hanya mengatasi persoalan dalam jangka pendek karena
sifatnya yang sementara dan tunai. multiplier effect kenaikan harga BBM dampaknya jangka
panjang dalam menambah beban kehidupan masyarakat ekonomi lemah.
Dalam jangka panjang kehidupan rakyat yang miskin akan semakin sulit. Jika kenaikan harga
BBM tak terelakkan maka pemerintah tak boleh merasa cukup dengan penyaluran BLSM.
Pemerintah wajib meningkatkan dan menggalakkan program-program pemberdayaan fakir
miskin dengan dukungan anggaran yang memadai dan manajemen program yang lebih
terintegrasi, transparan dan akuntabel, tepat sasaran, dan terukur (targetted).
Anggaran kemiskinan dalam APBN saat ini baru berupa bantuan sosial sekitar Rp 60 triliun
yang tersebar di sekitar 19 kementerian/lembaga. Sayangnya anggaran sebesar itu tidak
terkoordinasi dengan baik, lemah dalam perencanaan dan implementasi yang dapat dilihat
dari serapan anggaran, sehingga tidak berdampak signifikan pada penanggulangan
kemiskinan.
Adapun rincian subsidi tersebut untuk subsidi BBM, LPG, BBN (Rp 137,4 triliun) , listrik
(Rp 65 triliun) dan alokasi cadangan risiko energi (Rp 23 triliun). Kedua, memberi ruang
gerak pemerintah untuk membuat kebijakan terkait harga BBM dengan mencabut pasal 7 ayat
6 uu no. 22 tahun 2011 serta upaya penanggulangan dampaknya. Jika hal ini terealisasi,
angka defisit APBN sebesar 2,23 tercapai seperti dalam usulan pemerintah.[3]
2.10 Dampak Kebijakan Menaikkan BBM Terhadap Laju Inflasi
Harga BBM secara historis merupakan faktor yang dapat memacu laju inflasi ke level yang
tinggi. Ekonom menilai setiap kenaikan BBM bersubsidi sebesar 20% maka akan
meningkatkan laju inflasi tahunan sekitar 0,4%. Pemerintah yang sedang mempertimbangkan
meningkatkan harga BBM bersubsidi tentunya akan berdampak pada percepatan inflasi.
Inflasi yang berakselerasi akan memaksa BI untuk meningkatkan level suku bunga acuannya,
bi rate. Sebagai acuan suku bunga, peningkatan bi rate akan diikuti oleh peningkatan suku
bunga pinjaman dan kemudian suku bunga simpanan di perbankan

2.11 Dampak Kebijakan Menaikkan BBM Terhadap Penggunaan Transportasi Umum


Perseroan Terbatas Eka Sari Lorena Transport tbk (LORENA) menanggapi positif penaikan
harga bahan bakar minyak (BBM) karena akan mendorong masyarakat menggunakan
transportasi umum. Penaikan BBM itu akan mengurangi kendaraan pribadi sehingga
mendorong masyarakat menggunakan trasnportasi umum, dan kami diuntungkan.
Kenaikan harga BBM dampaknya lebih terasa kepada mobil pribadi dan tidak berpengaruh
signifikan terhadap beban perusahaan di sektor transportasi. Kenaikan BBM itu lebih
berdampak kepada mobil pribadi, sedangkan bus menggunakan solar dan naiknya tidak besar.
Ia mengatakan bahwa di negara-negara yang berkembang positif salah satunya dapat dinilai
dari transportasi umum yang baik. Dengan demikian, perseroan akan meningkatkan kinerja.
Apalagi pemerintah juga gencar melakukan pembangunan infrastruktur.

2.12 Faktor Yang Menyebabkan Pemerintah Ingin Menaikkan Harga BBM


Seperti yang telah diketahui BBM atau Bahan Bakar Minyak merupakan salah satu
komoditas yang sangat berpengaruh dalam perekonomian di negara kita, karena setiap
kenaikan ataupun penurunan harga BBM akan mempengaruhi harga-harga lain yang
berkaitan seperti, harga-harga bahan kebutuhan pokok, dan lain-lain. Sejak negara kita
beralih dari negara pengekspor minyak menjadi negara pengimpor minyak, yang disebabkan
karena semakin berkurangnya tingkat produksi minyak di Indonesia kita harus selalu
memikirkan solusi bagaimana cara mengatasi masalah bila terjadi inflasi akibat naiknya harga
minyak dunia.

Biasanya faktor yang mempengaruhi naiknya harga BBM di Indonesia tidak lain karena
naiknya harga minyak dunia yang disebabkan oleh :
Berkurangnya jumlah produksi minyak yang disebabkan oleh negara produsen
minyak.

Jumlah permintaan yang terlalu banyak dari konsumen yang melebihi jumlah
produksi yang dihasilkan.

Kurangnya kemampuan OPEC dalam menstabilkan harga minyak dunia.

Menipisnya jumlah persediaan minyak.

Invasi Amerika Serikat ke Irak yang menyebabkan supply minyak mengalami


penurunan.

Dan kini harga minyak dunia pun kembali naik, sehingga pemerintah tidak dapat menjual
BBM dengan harga sama kepada masyarakat karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran
APBN untuk subsidi minyak menjadi lebih tinggi dan dapat memperburuk perekonomian di
negara kita.

Akibat dari faktor-faktor tersebut memaksa pemerintah mengambil langkah untuk


menaikkan harga BBM, namun untuk mengatasi masalah melonjaknya kenaikan BBM setiap
tahunnya dan untuk mengurangi keluhan masyarakat atas naiknya harga BBM pemerintah
telah mengeluarkan kebijakan subsidi BBM. Subsidi BBM adalah suatu kewajiban
pemerintah untuk membayar kepada pertamina jika pendapatan yang diterima oleh pertamina
sebagai penyedia BBM lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan. Kebijakan subsidi BBM
sebenarnya dilakukan untuk mengurangi beban APBN yang berdampak langsung pada
perkembangan perekonomian di negara kita.

Dan yang membuat hal ini menjadi kronis karena kenaikan BBM tidak diimbangi dengan
jumlah pendapatan rata-rata masyarakat yang diperolehnya, khususnya golongan menengah
kebawah. Jumlah pendapatan mereka yang sangat minimum membuat mereka tidak sanggup
lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apalagi ditengah melonjaknya harga-harga
kebutuhan pokok saat ini. Dan secara umum naiknya harga BBM dapat menyebabkan
bertambahnya jumlah kemiskinan dan pengangguran di negara kita, dan selain itu juga sudah
dapat dipastikan sebagai negara yang masih berkembang pembangunan ekonomi di negara
kita akan terhambat.
Dan selain itu faktor yang membuat masyarakat kecewa terhadap kinerja pemerintah dalam
menangani masalah kenaikan BBM saat ini, yang khususnya berdampak buruk bagi
kesejahteraan masyarakat adalah program pemberian dana subsidi yang diberikan pemerintah
kepada masyarakat khususnya golongan menengah kebawah beberapa tahun ini nyatanya
tidak berjalan efektif dan terkesan sia-sia bahkan membuat masyarakat sengsara dan
perekonomian di Indonesia semakin parah. Pada dasarnya subsidi yang diberikan pemerintah
ditujukan kepada masyarakat golongan menengah kebawah, namun nyatanya yang tejadi saat
ini penyebaran dana subsidi tidak pernah tepat sasaran.

Dana yang seharusnya diberikan kepada masyarakat golongan menengah kebawah itu
nyatanya lebih banyak diterima oleh golongan menengah keatas yang menyebabkan
masyarakat menengah kebawah merasa dirugikan. Dan kini masyarakat menuntut
penyelesaian yang lebih efektif dan efesien dibanding memberikan subsidi yang justru
penyalurannya tidak pernah tepat sasaran, agar dampak kenaikan BBM tidak terlalu
mengkhawatirkan dan membuat masyarakat khususnya golongan menengah kebawah
menjadi lebih terpuruk

2.13 Faktor Yang Mempengaruhi Kenaikan Bbm

Biasanya faktor yang mempengaruhi naiknya harga BBM di Indonesia tidak lain karena
naiknya harga minyak dunia yang disebabkan oleh :

Berkurangnya jumlah produksi minyak yang disebabkan oleh negara produsen


minyak

Jumlah permintaan yang terlalu banyak dari konsumen yang melebihi jumlah
produksi yang dihasilkan

Kurangnya kemampuan OPEC dalam menstabilkan harga minyak dunia

Menipisnya jumlah persediaan minyak

Invasi Amerika Serikat ke Irak yang menyebabkan supply minyak mengalami


penurunan
Kebutuhan BBM dalam negeri saat ini ditaksir mencapai 1,3 juta kiloliter (KL),
sementara produksi BBM di Indonesia kurang dari 540.000 barel per hari (bph).
Sehingga Indonesia terpaksa impor sekitar 500.000 bph.

Benar bahwa hingga saat ini Indonesia masih mengekspor minyak mentah. Sayangnya
itu dibarengi dengan impor minyak jadi. Bahkan nilai impornya lebih besar dengan
kualifikasi harga, 1:2 antara minyak mentah vs minyak jadi. Jadi tidak benar kalau
dikatakan, Indonesia akan mendapatkan banyak surplus jika harga minyak bumi naik.
Hal ini karena Indonesia mengimpor BBM lebih besar daripada ekpor minyak
mentahnya. Jadi wajar kalau pemerintah kebakaran jenggot tatkala harga minyak
dunia naik. Karena kenaikannya ekuivalen dengan kenaikan harga BBM yang
diimpor.

2.14 Hal hal yang dapat diusahakan untuk menangani kenaikan BBM yakni :

1. Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak kilang minyak, namun pemerintah masih
membeli minyaknya sendiri ke Pertamina dengan harga keekonomian ($80/barrel) namun
dengan harga kerakyatan yang jauh lebih murah. Karena hasil bumi indonesia yang
seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

2. Sebetulnya bisa saja harga BBM tidak dinaikkan, tapi harus mengurangi kuota BBM yang
dikonsumsi. Secara logika, total biaya subsidi BBM yang harus ditanggung pemerintah
adalah besarnya subsidi per liter dikalikan volume BBM yang dikonsumsi. Ketika pemerintah
berencana mengurangi subsidi BBM, alangkah baiknya jika dengan cara menekan jumlah
konsumsi BBM. Langkah kongkritnya adalah dengan menggalakkan sumber energi alternatif

3. Kenaikan harga BBM juga akan memberi insentif bagi pengembangan BBG (bahan bakar
gas). Konsumen akan mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah, aman dan ramah
lingkungan, tidak perlu diatur dan dibatasi. Selama ini, subsidi BBM telah mengurangi
insentif bagi dunia usaha untuk masuk ke sektor energi alternatif. Seruan pemerintah untuk
mulai menggunakan energi alternatif hanya kadi retorika jika produk-produk energi
terbarukan tak mampu bersaing dengan harga bbm premium yang dipatok terlalu rendah.
Terbukti, pengembangan BBG sejak 5 tahun yang lalu tidak mengalami kemajuan berarti
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Isu kenaikan harga BBM subsidi sudah muncul sejak setahun lalu. Isu ini terus berkembang
hingga muncul rencana membatasi pemakaian BBM subsidi. Sejak itu banyak spekulan yang
bermain di bisnis ini mencoba mengambil untung. Caranya BBM ditimbun, dan harga pun
melambung tinggi.
Kenaikan harga BBM memang pada dasarnya tidak dapat dipungkiri sehubungan dengan
berbagai faktor-faktor baik internal dan eksternal yang menekan perekonomian negara.
Meroketnya hutang akibat peningkatan ABPN yang harus dialokasikan untuk subsidi BBM.
Selain itu, demi mewujudkan peningkatan daya beli masyarakat dan kemandirian perlu
adanya upaya untuk terus merangsang masyarakat demi tidak berpangkunya pada subsidi
yang diberikan oleh pemerintah. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut,
menerima kebijakan pemerintah untuk melakukan pengurangan subsidi BBM diharapkan
dapat menjadi jawaban atas berbagai persoalan ini. Pemerintah harus berani bersikap bahwa,
beban anggaran akan semakin berat kalau tidak dinaikkan.
Namun, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan untuk diperhatikan pemerintah.
Rencana kenaikan harga BBM subsidi telah disambut dengan berbagai aksi demonstrasi,
mulai dari mahasiswa hingga buruh.

B. SARAN
Terlambatnya respons pemerintah untuk mengelola ekspektasi inflasi akan membuat tingkat
inflasi tahun ini bergerak liar dan memberikan dampak yang tidak terlalu menggembirakan
bagi perekonomian Indonesia. Karena itu, beberapa langkah harus mendapat prioritas
pemerintah dan BI untuk meredam ekspektasi inflasi.
1. Pemerintah harus lebih fokus dan inovatif untuk menjaga dan memperbaiki manajemen
stok sebagai jaminan bahwa barang (juga jasa), khususnya barang kebutuhan pokok,
tersedia di pasaran pada tingkat harga wajar. Selain memperbaiki jalur distribusi,
pemerintah juga harus mempersiapkan diri secara matang untuk melakukan operasi pasar.
2. Penegakan hukum untuk meredam munculnya motif-motif spekulatif, seperti penimbunan
BBM dan barang kebutuhan pokok lainnya, perlu lebih diintensifkan. Dalam kaitan ini,
pemerintah perlu lebih serius melakukan penataan sistem monitoring dan evaluasi agar
tindakan bisa segera dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan spekulatif. Aktivasi Tim
Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu menjadi bagian dari penataan sistem monitoring
dan evaluasi ini.
3. Menekan biaya produksi yang selama ini membebani baik sektor pertanian atau industri.
Dalam kaitan dengan sektor pertanian,ada baiknya pemerintah menjamin stabilitas harga
dan ketersediaan beberapa saprodi (sarana produksi pertanian), seperti pupuk, pestisida,
dan benih. Dalam kaitan dengan sektor industri, fokus perhatian harus lebih diarahkan
untuk mengeliminasi faktor-faktor yang mendorong munculnya fenomena ekonomi biaya
tinggi (seperti biaya birokrasi dan pungutan liar).
4. Untuk menjaga persepsi pasar bahwa inflasi terkendali, ada baiknya BI tidak terlalu
sensitif untuk menaikkan Bi rate. Artinya, Bi rate sebaiknya tetap dipatok pada level 5,75
persen dan BI bisa menggunakan instrumen moneter lainnya, seperti giro wajib minimum
(GWM), untuk menstabilkan likuiditas.