Anda di halaman 1dari 5

Nama: Putri Hardiyanti

NPM : 1112013032
Tugas Mencari Resin Akrilik

Resin Akrilik
Resin akrilik adalah turunan etilen yang mengandung gugus vinil dalam rumus
strukturnya. Ada dua kelompok resin akrilik dalam kedokteran gigi. Satu kelompok adalah
turunan asam akrilik, CH=CHCOOH dan kelompok lain dari asam metakrilik
CH2=C(CH3)COOH

Setiap molekul metil metakrilat dianggap sebagai mer. Pada keadaan yang sesuai, molekul
metil metakrilat akan menyambung membentuk suatu rantai poli (metilmetakrilat). Resin akrilik
adalah rantai polimer yang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang berulang. Resin akrilik
digunakan untuk membuat basis gigi tiruan dalam proses rehabilitatif, untuk pelat ortodonsi,
maupun restorasi crown and bridge.

A. Klasifikasi
Menurut American Dental Asociation (ADA), resin akrilik dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Resin Akrilik Polimerisasi Panas (Heat-Cured Polymerization).


Merupakan resin akrilik yang polimerisasinya dengan bantuan pemanasan. Energi termal
yang diperlukan dalam polimerisasi dapat diperoleh dengan menggunakan perendaman air
atau microwave. Penggunaan energi termal menyebabkan dekomposisi peroksida dan
terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas yang terbentuk akan mengawali proses
polimerisasi.

Komposisi

Komposisi resin akrilik polimerisasi panas terdiri atas:

1. Polimer

Polimer: butiran atau granul polimetalmetakrilat

Inisiator: benzoil peroksida

Pigmen atau pewarna: garam cadmium atau besi, atau pewarna organik

2. Monomer

Monomer: metil metakrilat

Agen Cross-linked: etilenglikol dimetilakrilat (1-2%)

Inhibitor: hidrokuinon (0,006%)

1
Agen cross-linked dapat berfungsi sebagai jembatan atau ikatan kimia yang menyatukan 2 rantai
polimer. Apabila etilenglikol dimetilakrilat dimasukkan ke dalam adukan, beberapa ikatan akan
terbentuk yang mana merupakan suatu struktur disebut jaringan 3 dimensi. Cross-linked ini
memberikan peningkatan ketahanan terhadap deformasi serta mengurangi solubilitas dan
penyerapan air.

Resin akrilik polimerisasi panas umumnya diproses dalam sebuah kuvet dengan menggunakan
teknik compression-moulding. Perbandingan polimer dan monomer biasanya 3:1 berdasarkan
volume atau 2:1 berdasarkan berat.

Bahan yang telah dicampur akan melewati empat tahap yaitu :

1. Tahap pertama: tahap basah, seperti pasir (wet sand stage).


2. Tahap kedua: tahap lengket berserat (tacky fibrous) selama polimer larut dalam
monomer (sticky stage).
3. Tahap ketiga: tahap lembut, seperti adonan, sesuai untuk diisi ke dalam mould (dough
stage atau gel stage).
4. Tahap keempat: tahap kaku, seperti karet (rubbery stage).

Setelah pembuangan malam, adonan dimasukkan ke dalam mould gips. Kuvet ditempatkan, di
bawah tekanan, dalam water bath dengan waktu dan suhu terkontrol untuk memulai polimerisasi
resin akrilik polimerisasi panas. Umumnya resin akrilik polimerisasi panas dipolimerisasi dengan
menempatkan kuvet dalam water bath dengan suhu konstan pada 70C selama 90 menit dan
dilanjutkan dengan perebusan akhir pada suhu 100C selama 30 menit.

2. Resin Akrilik Swapolimerisasi ( Self-Cured Autopolymerizing atau Resin Cold Curing)

Merupakan resin akrilik yang teraktivasi secara kimia. Resin yang teraktivasi secara kimia
tidak memerlukan penggunaan energi termal dan dapat dilakukan pada suhu kamar. Aktivasi
kimia dapat dicapai melalui penembahan amintersier terhadapa monomer. Bila komponen
powder dan liquid diaduk, amintersier akan menyebabkan terpisahnya benzoil peroksida
sehingga dihasilkan radikal bebas dan polimerisasi dimulai.

B. Komposisi
Berikut adalah table komposisi dari resin akrilik.

Polymer Butir polymetakrilat


POWDER Initiator Peroxide seperti benzoil peroxide
Pigmen Salt dari cadmium of Iron atau organic dyes
Monomer Methylmetacrylat
Cross-Linking Ethylenglycoldimethacrylate
LIQUID Agent Kira-kira 10%
Inhibitor Hydroquinone
Activator* N-dimethyl-P-toluidinol
Ket: *hanya pada self-curing materials.

2
C. Sifat
Berikut adalah sifat dari resin akrilik.
1. Sifat Fisik
Dari penampilannya, resin akrilik memadai. Material tersedia dalam beragam nuansa.
Resin akrilik mengandung bermacam pigmen yang dapat dicocokkan pada jaringan pasien
dalam beberapa ras. Resin akrilik memiliki nilai rendah terhadap gravitasi karena terbuat dari
kelompok atom bersinar, contohnya carbon, oxygen dan hydrogen.
Resin akrilik dapat digolongkan ke isolator yang baik. Konduktivitas normalnya sekitar
100-1000 kali lebih rendah dari nilai pada logam dan alloy.
2. Sifat Mekanik
Dibandingkan dengan alloy seperti Co atau Cr dan stainless steel, resin akrilik dapat
dikatakan lembut, lemah dan material yang fleksibel. Basis gigi tiruan dibuat dengan
ketebalan yang memadai, kaku, dan kuat.
Resin akrilik juga memiliki dampak yang relative rendah terhadap kekuatan dan jika basis
ini di jatuhkan pada permukaan kasar, maka kemungkinan terjadinya fraktur adalah tinggi.
3. Sifat Kimia dan Biologi
Resin akrilik lambat dalam menyerap air dan nilai ekuilibrium sekitar 2% absorpsi
dicapai setelah beberapa hari atau minggu tergantung pada ketebalan dari basis.
Absorpsi air dapat menyebabkan perubahan dimensi, walaupun hal ini dianggap tidak
signifikan.
Hal yang berhubungan dengan absorpsi air adalah kemampuan beberapa organism
berkolon di permukaan dari resin akrilik. Masih belum jelas apakah organism,
seperti Candida albicans, terdapat pada permukaan tepat dari gigi tiruan, atau mereka
mempenetrasi lapisan luar resin.
Resin akrilik harus diperlakukan dengan tepat dan ditangani dengan hati-hati oleh teknisi
yang terlibat dalam manipulasi. Tingkat bubuk akrilik dan monomer MMA pada atmosfer
harus berada di batas minimal karena keduanya dapat berbahaya.
Monomer residu dari resin akrilik dapat mengiritasi jaringan dan menyebabkan alergi.
D. Manipulasi
Rasio polimer:monomer adalah 3:1. Hal ini akan memberikan monomer yang cukup untuk
membasahi keseluruhan partikel polimer.
Ada dua jenis cara manipulasi resin akrilik, yaitu teknik molding-tekanan, dan teknik
molding-penyuntikan.
1. Teknik Molding-Tekanan
Susunan gigi tiruan disiapkan untuk proses penanaman.
Master model ditanam dalam dentak stone yang dibentuk dengan tepat.
Permukaan oklusal dan insisal elemen gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk
memudahkan prosedur pembukaan kuvet.
Penanaman dalam kuvet gigi tiruan penuh rahang atas. Pada tahap ini, dental stone diaduk
dan sisa kuvet diisi. Penutup kuvet perlahan-lahan diletakkan pada tempatnya dan stone
dibiarkan mengeras.
Setelah proses pengerasan sempurna, malam dikeluarkan dari mold. Untuk melakukannya,
kuvet dapat direndam dalam air mendidih selama 4 menit. Kuvet kemudian dikeluarkan atau
diangkat dari air dan kedua bagian kuvet dibuka. Kemudian malam lunak dikeluarkan.
Penempatan medium pemisah berbasis alginat untuk melindungi bahan protesa.

3
2. Teknik Molding-Penyuntikan
Setengah kuvet diisi dengan adukan dental stone dan model master diletakkan ke dalam
stone tersebut. Stone dibentuk dan dibiarkan mengeras.
Sprue diletakkan pada basis malam.
Permukaan oklusal dan insisal elemen gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk
memudahkan pengeluaran protesa.
Pembuangan malam dengan melakukan pemisahan kedua bagian kuvet dan kemudian kuvet
disatukan kembali.
Resin disuntikkan ke dalam rongga mold.
Resin dibiarkan dingin dan memadat.
Kuvet dimasukkan ke dalam bak air untuk polimerisasi resin. Begitu bahan terpolimerisasi,
resin tambahan dimasukkan ke dalam rongga mold. Setelah selesai, gigi tiruan dikeluarkan,
disesuaikan, diproses akhir, dipoles.

Keuntungan dan Kerugian

Keuntungan resin akrilik polimerisasi panas adalah:

1. Harga murah dan pembuatan mudah

2. Mudah direparasi atau modifikasi

3. Tidak larut dalam cairan mulut

4. Estetik sangat baik

5. Ikatan kimia yang baik pada gigitiruan akrilik

Kerugian resin akrilik polimerisasi panas adalah:

1. Daya tahan fatik rendah

2. Konduktivitas rendah

3. Kekuatan fleksural rendah

4
DAFTAR PUSTAKA
1. McCabe JF, Walls AWG. Applied Dental Materials. 9th Ed. Blackwell: Munksgaard; 2008.
2. Anusavice Keneth J. Philips Buku Ajar Ilmu Kedokeran Gigi. Jakarta: EGC; 2004.