Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel
organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material
hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena
virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.
Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya
menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam
nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduannya) yang
diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid,
glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik
protein yang digunakan untuk membuat bahan genetik maupun protein
yang dibutuhkan dalam daur hidupnya. Istilah virus biasanya merujuk
pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariotik, sementara
istilah bakteriofag atau fag digunakan untuk jenis yang menyerang jenis-
jenis sel prokariotik.
Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup
karena ia tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya secara bebas. Karena
karekteristik khasnya ini virus selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu,
baik pada manusia (misalnya virus influenza dan HIV), hewan (misalnya
virus flu burung) atau tanaman (misalnya virus mosaik tembakau).

B. Tujuan
Adapuan makalah ini dibuat adalah untuk mengetahui tentang virus
dan nematoda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
VIRUS
A. Definisi Virus
Virus adalah parasit intraseluler obligat dan ukurannya 20-200 nm,
bentuk dan komposisi kimianya bervariasi, tetapi hanya mengandung RNA
atau DNA. Partikel secara utuh disebut VIRION yang terdiri dari Capsid
yang dapat terbungkus oleh sebuah membran lipid. Virus resisten terhadap
antibiotik, virus merupakan partikel yang bersifat parasit obligat pada sel/
makhluk hidup aseluler (bukan merupakan sel). Berukuran sangan renik.
Didalam sel inang virus menunjukkan ciri makhluk hidup, sedangkan diluar
sel menunjukkan ciri bukan makhluk hidup. Bentuk virus berbeda-beda ada
yang bulat, batang, polohidris, dan seperti huruf T.

B. Sejarah Virus
Penelitian mengenai virus dimulai dengan penelitian mengenai
penyakit mosaik yang menghambat pertumbuhan tanaman tembakau dan
membuat daun tanaman tersebut memiliki bercak-bercak. Pada tahun 1883,
Adolf Mayer, seorang ilmuan Jerman, menemukan bahwa penyakit tersebut
dapat menular ketika tanaman yang diteliti menjadi sakit setelah disemprot
dengan getah tanaman yang sakit. Karena tidak berhasil menemukan mikroba
di getah tanaman tersebut, Mayer menyimpulkan bahwa penyakit tersebut
disebabkan oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan tidak dapat dilihat
dengan mikroskop. Pada tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari Rusia
menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan
penyaring bakteri masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky lalu
menyimpulkan dua kemungkinan, yaitu bahwa bakteri penyebab penyakit
tersebut berbentuk sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau
bakteri tersebut mengeluarkan toksin yang dapat menebus saringan.
Kemungkinan kedua ini dibuang pada tahun 1897 setelah Martius Beijerinck
dari Belanda menemukan bahwa agen infeksi I dalam getah yang sudah
disaring tersebut dapat bereproduksi karena kemampuannya menimbulkan
penyakit tidak berkurang setelah beberapa kali ditransfer antartanaman.
Pathogen mosaik tembakau disimpulkan sebagai bukan bakteri, melainkan
merupkan contadium vivum fluidum, yaitu sejenis cairan hidup pembawa
penyakit. Setelah itu, pada tahun 1898, Loeffler dan Frosch melaporkan
bahwa penyebab penyakit mulut dan kaki sapi dapat melewati filter yang
tidak dapat dilewati bakteri. Namun demikian, mereka menyimpulkan bahwa
patogennya adalah bakteri yang sangat kecil. Pendapat Beijerinck baru
terbukti pada tahun 1935, setelah Meredith Stanley dari Amerika Serikat
berhasil menkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik yang kini dikenal
sebagai virus mosaik tembakau. Virus ini juga merupakan virus yang pertama
kali divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939 oleh ilmuan
Jerman G.A. Kausche,E. Pfankuch dan H. Ruska.

C. Sifat Dasar Virus


Sifat dasar virus secara umum adalah sebagai berikut:
1. Berbeda dengan sel organisme yang memilki DNA maupun RNA, bahan
genetis virusnya hanya RNA atau DNA saja.
2. Struktur virus sangat sederhana hanya tersusun atas asam nukleat yang
terbungkus oleh selaput protein.
3. Virus mengadakan produksi dan bermetabolisme hanya jika berada dalam
sel hidup.
4. Virus tidak membelah diri secara biner sebagaimana pada sel organisme.
Partikel virus diperbanyak melalui proses replikasi asam nukleat dan
biosintesis protein pelengkap.
5. Bila menginfeksi sel inang, virus mengambil alih kekuasaan dan
pengawasan sistem enzim sel inangnya, dan mengarahkannya selaras
dengan proses sintesis asam nukleat dan protein virus.
6. Virus menggunakan ribosom sel inangnya untuk untuk keperluan
biosintesisnya.
7. Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah-pisah dan
baru digabung manjadi satu partikel virus lengkap menjelang dibebaskan
dari sel inangnya.
8. Sebelum berlangsung proses pembebasan, terdiri dari inti asam nukleat
yang dikelilingi lapisan protein bersifat antigenik yang disebut kapsid
dengan atau tanpa selubung.

D. Cara Hidup Virus


Virus tidak biasa hidup secara bebas. Melainkan harus berada di dalam
sel makhluk hidup yang lain. Misalnya: virus dapat hidup pada sel bakteri,
tumbuhan, hewan dan pada sel manusia. Virus menginfeksi bakteri maka
bakteri akan mati. Sedangkan virus yang menginfeksi manusia, maka virus
tersebut hidup didalam sel tubuh manusia dan berakibat yang orang yang
terinfeksi akan menjadi sakit. Sedangkan apabila virus yang hidup pada sel
tumbuhan, maka akan menyebabkan tumbuhan tersebut lama-kelamaan akan
mati terserang virus.

E. Struktur Virus
Tubuhnya masih belum dapat disebut sebagai sel, hanya tersusun dari
selubung protein di bagian luar dan asam nukleat (AND dan ARN) di bagian
dalamnya. Berdasarkan asam nukleat yang terdapat pada virus, kita mengenal
virus AND atau virus ARN. Virus hanya dapat berkembangbiak pada medium
yang hidup. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membentuk bagian virus
baru, berasal dari sitoplasma sel yang diinfeksi. Virus berukuran lebih kecil
dari bakteri, yaitu berkisar antara 20 milimikron-300 milimikron.
1. Bentuk Virus
Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dari lolos dari
saringan bakteri. Jika diamati dengan mikroskop, virus memiliki bentuk
yang beranekaragam, ada yang berbentuk bola, kotak, jarum dan huruf T
Virus pada umumnya berupa semacam hablur (Kristal) dan bentuknya
sangat bervariasi, yaitu ada yang berbentuk oval, memanjang silindris,
kotak dan kebanyakan berbentuk seperti kecebong dengankepala oval
dan ekor silindris.

2. Susunan Tubuh Virus


Virus bersifat aseluler (tidak mempunyai sel). Hanya memilki satu
macam asam nukleat (RNA dan DNA). Tubuh virus terdiri atas: kepala,
kulit (selubung atau kapsid), isi tubuh dan selaput ekor.
a. Kepala
Kepala virus berisi DNA dan bagian luar diselubungi kapsid.
b. Kapsid
Kapsid adalah selubung yang berupa protein. Kapsid terdiri atas
selubung yang berupa protein. Kapsid terdiri atas bagian-bagian yang
disebut kapsomer. Misalnya, kapsid pada TMV dapat terdiri atas satu
rantai polipeptida yang tersusun atas 2.100 kapsomer. Kapsid juga
terdiri atas protein monomer. Protein-protein monomer yang identik,
yang masing-masing terdiri dari rantai peptide.
c. Isi Tubuh
Isi tubuh yang sering disebut virion. Adalah bahan genetik yakni asam
nukleat (DNA atau RNA), contoh adalah sebagai berikut:
1) Virus yang isi tubuhnya RNA dan bentuknya kubus antara lain,
poliomyelitis, virus ranga mulut dan kuku, dan virus influenza.
2) Virus yang isi tubuhnya RNA, protein, lipida, dan polisakarida,
contohnya paramixovirus.
3) Virus yang isi tubuhnya terdiri atas RNA, protein dan banyak lipida,
contohnya virus cacar.
d. Ekor
Ekor virus merupakan alat penancap ketubuh organisme yang
diserangnya. Ekor virus terdiri atas tubus bersumbat yang dilengkapi
benang/serabut.
Tubuh virus tersusun atas senyawa-senyawa berikut:
1. Asam nukleat
2. Protein
3. Lipid
4. Karbohidrat

F. Reproduksi Virus
Reproduksi virus secara umum terbagi manjadi dua yaitu siklus litik dan
siklus lisogenik.
1. Siklus Litik
Siklus litik dari bakteriofage:
1) Adsorbsi dan penetrasi
2) Penggabungan DNA virus dengan DNA sel
3) Replikasi DNA virus
4) Pembentukan kapsid
5) Pembentukan tubuh dan ekor bakteriofage
6) Lisis

Siklus litik dan virology merupakan salah satu siklus reproduksi


virus selain siklus lisogenik. Siklus litik dianggap sebagai cara reproduksi
virus yang utama karena menyangkut penghancuran sel inangnya. Siklus
litik, secara umum mempunyai 3 tahap yaitu adsorbsi dan penetrasi,
replikasi (biosintesis) dan lisis. Setiap silkus litik dalam prosesnya
membutuhkan waktu dari 10-60 menit.
Adsorbsi
Tahap adsorbsi yaitu penempelan virus pada inang. Virus
mempunyai reseptor protein untuk menempel pada inang spesifik. Setelah
menempel, virus kemudian akan melubangi membran dari sel inang
dengan enzim lisozim. Setelah berlubang, virus akan menyuntikkan DNA
virus kedalam sitoplasma sel inang.
Replikasi (biosintesis)
Setelah disuntikkan kedalam sel inang, DNA dari virus akan
menonaktifkan DNA sel inangnya dan kemudian mengambil alih kerja dari
sel inang, lalu menggunakan sel tersebut untuk memperoleh energi dalam
bentuk ATP untuk melanjutkan proses reproduksi. DNA dari virus, akan
menjadi sel inang sebuah tempat pembentukan virus baru, kemudian DNA
akan mengarahkan virus untuk menghasilkan protein dan mereplikasi
DNA virus untuk dimasukkan kedalam virus baru yang sedang dibuat.
Molekul-molekul protein (DNA) yang telah terbentuk kemudian
diselubungi oleh kapsid, kapsid dibuat oleh protein sel inang dan berfungsi
untuk memberi bentuk tubuh virus.
Lisis
Tahap lisis terjadi ketika virus-virus yang dibuat dalam sel telah
matang. Ratusan virus-virus kemudian akan berkumpul pada membran sel
dan meyuntikkan enzim lisozom yang menghancurkan membran sel dan
menyediakan jalan keluar untuk virus-virus baru. Sel yang membrannya
hancur itu akhirnya mati dan virus-virus yang bebas akan menginvasi sel-
sel lain dan siklus akan berulang kembali.

2. Siklus Lisogenik
Siklus lisogenik dalam virology merupakan siklus reproduksi virus
selain siklus litik. Tahap dari siklus ini hampir sama dengan siklus litik,
perbedaannya yaitu sel inangnya tidak hancur tetapi disisipi oleh asam
nukleat dari virus. Tahap penyisipan tersebut kemudian membentuk
provirus. Siklus lisogenik secara umum mempunyai tiga tahap, yaitu
adsorpsi dan penetrasi, penyisipan gen virus dan pembelahan sel inang.
Virus menempel pada permukaan sel inang dengan reseptor protein
yang spesifik lalu menghancurkan membran sel dengan enzim lisozim,
virus melakukan penetrasi pada sel inang dengan menyuntikkan materi
genetik yang terdapat pada asam nukleatnya kedalam sel.
Asam nukleat dari virus yang telah menembus sitoplasma sel inang
akan kemudian akan menyisip kadalam asam nukleat sel inang, tahap
penyisipan tersebut kemudian akan membentuk provirus (pada
bakteriofage disebut profage). Sebelum terjadi pembelahan sel, kromosom
dan provirus akan bereplikasi.
Sel inang yang telah disisipkan kemudian melakukan pembelahan,
provirus yang telah bereplikasi akan diberikan sel anakan dan siklus ini
pun akan berulang sehingga sel yang memiliki profage menjadi sangat
banyak.
Provirus yang baru dapat memasuki keadaan litik dalam kondisi
lingkunganya yang tepat tetapi kemungkinannya sangat kecil.
Kemungkinan akan bertambah besar apabila diberi agen penginduksi.

G. Peranan Virus dalam Kehidupan


1. Virus yang Menguntungkan
a. Pembuatan antitoksin
b. Untuk melemahkan bakteri
c. Untuk memproduksi vaksin
2. Virus yang Merugikan
a. Mosaik, penyakit yang menyebabkan bercak kuning pada daun
tumbuhan seperti tembakau.
b. Yellows, penyakit yang menyerang tumbuhan aster.
c. Daun mengulung, terjadi pada tembakau, kapas dan lobak yang
diserang virus TYMV.
d. Penyakit tungro (virus tungro) pada tanaman padi.
e. Penyakit degenerasi pembuluh tapis (CCPD)

NEMATODA
A. Pengertian Nematoda
Kata nematoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu nematos yang berarti benang
atau tambang. Cacing ini berukuran kecil (mm) sampai satu meter atau lebih,
telur mikroskopis.
Cirri-ciri nematoda:
1. Bilateral simetris, triploblastik, pseudoselomatik, tidak bersegmen.
2. Tubuh ramping silindris, ditutupi oleh kutikula yang kuat.
3. Seluruh pencernaan lengkap, bentuk lurus (tabung) dimulai mulut
sampai anus.
4. Tunuh dilengkapi serabut otot longitudinal.
5. Tidak mempunyai alat respirasi, sikulasi dan alat ekskresi sederhana.
6. Memilki cincin saraf yang mengelilingi esophagus, 6 saraf anteriror, 6
atau lebih saraf posterior.
7. Jenis kelamin terpisah, jantan lebih kecil dari betina.

Berdasarkan habitat hidupnya, keseluruhan populasi nematoda dapat


dipilahkan ke dalam tiga (3) katagori yaitu :

1. Nematoda yang hidup sebagai parasit binatang termasuk manusia


(Animal nematodes) dengan populasi sebesar 15% dari
keseluruhan populasi nematoda.
2. Nematoda yang hidup dalam ekosistem taut ( Marine nema-todes)
merupakan golongan nematoda yang mempunyai populasi yang
menduduki urutan pertama, yaitu sebesar 50% dari keseluruhan
populasi nematoda.
3. Nematoda yang hidup di dalam tanah dan air tawar (Soil and fresh
water nematodes) dengan populasi 35% yang terdiri atas nematoda
parasit tanaman (Plant parasitic nematodes) sebesar 10% dan
nematoda yang hidup bebas dalam tanah dan air tawar ( Free living
nematodes) dengan populasi sebesar 25%.

B. Reproduksi Nematoda
Anggota filum nematode hanya melakukan reproduksi secara seksual
yaitu dengan peleburan gamet jantan dengan gamet betina. System reproduksi
bersifat gonokoris, yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah pada
individu yang berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal. Telur hasil fertilisasi
dapat membentuk kista dan ista dapat bertahan hidup pada lingkungan yang
tidak menguntungkan.
Jenis kelamin kebanyakan nematode adalah terpisah. Pada cacing jantan
terdiri dari satu atau kadang-kadang dua testis tubuler. Tahap-tahap
pertumbuhan nematode:
1. Telur
2. Juvenile tahap pertama: perkembangannya masih dalam telur dan
terjadi molting yang pertama.
3. Juvenile tahap kedua: menetas dari telur dan terjadi molting yang
kedua.
4. Juvenile tahap tiga
5. Juvenol tahap keempat
6. Dewasa

C. Klasifikasi Nematoda
Nematoda dibagi dalam beberapa kelas antara lain Adenophorea dan
Secernentea.

1. Adenophorea
Anggota kelas dari Adhenophorea tidak mempunyai phasmid (organ
kemosreseptor) sehingga disebut dengan Aphasmida. Banyak dari anggota
Adenophorea yang hidup bebas, tetapi menjadi parasit di berbagai hewan.
Contohnya Trichuris ovis sebagai parasit di domba. Cacing Trichinella
spiralis menjadi parasit di usus karnivor dan manusia. Cacing yang
menyebabkan penyakit trikinosis. Setelah cacing dewasa kawin, cacing
jantan mati, sedangkan cacing betina menghasilkan larva. Larva memasuki
sel-sel mukosa dinding usus kemudian mengikuti peredaran darah hingga
ke otot lurik. Dalam otot lurik, larva membentuk sista. Manusia
mengalami infeksi cacing jika cacing dimakan yang kurang matang dan
mengandung sista. Penyakit trikinosis ditandai dengan rasa mual yang
hebat dan terkadang menimbulkan kematian ketika larva menembus otot
jantung.

2. Secernentea
Secernentea disebut dengan Phasmida, karena terdapat anggota spesiesnya
mempunyai phasmid. Banyak anggota kelas hidup dalam tubuh vertebrata,
serangga dan tumbuhan. Berikut uraian mengenai contoh-contoh spesies
Secernentea.

a. Ascaris Lumbricoides (Cacing Perut)


Ascaris lumbricoides adalah parasit usus halus manusia yang
menyebabkan penyakit askariasis. Infeksi cacing perut menyebabkan
penderita mengalami kekurangan gizi. Tubuh pada bagian anterior
cacing mempunya mulut yang dengan dikelilingi tiga bibir dan gigi-gigi
kecil. Cacing betina memiliki ukuran panjang sekitar 20-49 cm, dengan
diamater 4-6 mm, di bagian ekor runcing lurus, dan dapat menghasilkan
200.000 telur per hari. Cacing jantan berukuran panjang sekitar 15-31
cm, dengan diameter 2-4 mm, bagian ekor runcing melengkung, dan di
bagian anus terdapat spikula yang berbentuk kait untuk memasukkan
sperma ke tubuh betina.
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur.
Telur kemudian keluar bersama tinja. Telur mengandung embrio
terletan bersama-sama dengan makanan yang terkontaminasi. Di dalam
usus inang, telur menetas menjadi larva. Larva selanjutnya menembus
dinding usus dan masuk ke daerah pembuluh darah, jantung, paru-paru,
faring, dan usus halus hingga cacing dapat tumbuh dewasa.

b. Ancylostoma Duodenale (Cacing Tambang)


Anylostoma duodenale disebut cacing tambang karena sering
ditemukan didaerah pertambangan, misalnya di Afrika. Spesies cacing
tambang di Amerika yaitu Necator americanus. Cacing yang hidup
parasit di usus halus manusia dan mengisap darah sehingga dapat
menyebabkan anemia bagi penderita ankilostomiasis.
Cacing tambang dewasa betina yang berukuran 12 mm,
mempunyai organ-organ kelamin luar (vulva), dandapat menghasilkan
10.000 sampai 30.000 telur per hari. Cacing jantan yang berukuran 9
mm dan mempunyai alat kopulasi di ujung posterior. Di ujung anterior
cacing terdapat mulut yang dilengkapi 1-4 pasang gigi kitin untuk
mencengkeram dinding usus inang.
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan telur.
Telur keluar bersama feses (tinja) penderita. Di tempat yang becek, telur
menetas dan menghasilkan larva. Larva masuk ke tubuh manusia dari
pori-pori telapak kaki. Larva mengikuti aliran darah menuju jantung,
paru-paru, faring, dan usus halus hingga yang tumbuh dewasa.

c. Oxyuris Vernicularis (Cacing Kremi)


Oxyuris vermicularis atau Enterobius vermicularis (cacing kremi)
berukuran 10-15 mm. Cacing yang hidup di usus besar manusia,
khususnya pada anak-anak. Cacing dewasa betina menuju ke dubur
pada malam hari untuk bertelur dan mengeluarkan suatu zat yang
menyebabkan rasa gatal. Rasa gatal menyebabkan penderita
menggaruknya sehingga telur cacing mudah terselip di buku-buku.
Telur cacing dapat tertelan kembali pada saat penderita makan. Di usus,
telur akan menetas menjadi cacing kremi baru. Cara penularan cacing
kremi tersebut disebut dengan autoinfeksi.

d. Wuchereria Bancrofri (Cacing Filaria atau Cacing Rambut)


Wuchereria bancrofti yang hidup parasit di kelenjar getah bening
(limfa). Cacing menyebabkan penyakit kaki gajah (elephantiasis). atau
filariasis. Cacing dewasa berdiameter 0,3 mm. Cacing betina berukuran
panjang 8 cm dan jantan berukuran panjang 4 cm.
Setelah terjadi perkawinan, cacing betina menghasilkan
mikrofilaria. Di siang hari, mikrofilaria berada di pembuluh darah yang
besar dan malam hari pinadh ke pembuluh darah kecil di bawah kulit.
Bila nyamuk perantara (Culex, Anopheles Mansonia atau Aedes)
menggigit di malam hari, mikrofilaria bersama darah masuk ke perut
nyamuk. Mikrofilaria menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot
toraks dan bermetamorfosis. Setelah mencapai ukuran 1,4 mm,
mikrofilaria pindah ke belalai nyamuk, dan siap ditularkan ke orang
lain. Cacing akan menggulung di kelenjar limfa dan tumbuh hingga
dewasa. Cacing deawasa yang berjumlah banyak akan menghambat
sirkulasi getah benang, sehingga setelah beberapa tahun mengakibatkan
pembengkakan kaki.

e. Onchorcerca Volvulus
Onchorcea vovulus merupakan cacing mikroskospis penyebab
onchocerciasis (river blindness) yang mengakibatkan kebutaan. Vektor
pembawa adalah lalat kecil pengisap darah black fly (simulium). Cacing
banyak terdapat di Afrika dan Amerika Selatan.

D. Peranan Nematoda

Umumnya Nematoda merugikan karena hidup parasit dan


menyebabkan berbagai penyakit pada manusia dan di tumbuhan, contohnya
Globodera Rostochiensis yang menjadi parasit pada tanaman kentang dan
tomat, dan sebagai vektor dari virus sebagian tanaman pertanian. Tetapi ada
juga Nematoda yang menjadi predator hama, misalnya ulat tanah,
Caenorhabditis elegans merupakan Nematoda yang hidup bebas di tanah,
telah lama digunakan sebagai organisme model untuk penelitian mengenai
perkembangan hewan, termasuk perkembangan saraf, karena mudah
dikembangbiakkan dan mudah dianalisis struktur genetiknya. NASA bahkan
menggunakan Caenorhabditis elegans untuk meneliti dampak dari gravitasi
nol pada perkembangan otot dan fisiologinya dengan mengirim sampel cacing
tersebut ke luar angkasa selama dua minggu.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Virus adalah parasit berukuran mikroskopisyang menginfeksi sel
organism biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup
dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak
memilki perlengkapan seluler untuk bereproduksi sendiri.

Kata "Nematoda" berasal dari bahasa Yunani yang terbentuk dari


gabungan kata " NEMA" yang mempunyai arti thread = benang dan kata
"OlD" yang berarti like = seperti atau menyerupai. Nama nematoda merujuk
pada kata nematoid yang kemudian mengalami modifikasi menjadi nematode
untuk mendeskripsikan golongan organisme yang bentuk tubuhnya
memanjang seperti cacing gilig, cacing seperti benang, cacing seperti belut,
dan tubuhnya tidak bersegmen. Nematoda seringkali disebut jugs dengan
istilah thread worm, eel worm atau round worm
B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


terdapat kekurangan dan diharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
membangun guna perbaikan kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Pelczar,Michael J Dan E.S.C Chan. 2008. DASAR-DASAR MIKROBIOLOGI.


Jakarta : Universitas Indonesia
Volk dan Wheeler. 1988. MIKROBIOLOGI DASAR. Jakarta : Erlangga
MAKALAH
VIRUS DAN NEMATODA

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Pertanian

Dosen:
Nurbailis.Dr.Ir.MS,
Oleh:

KHAIRUN NISAK
NIM. 1610212045

AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017