Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nikel laterit merupakan bijih yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan

ultrabasa yang ada di atas permukaan bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari

bahasa Latin later yang berarti batubata merah, yang dikemukakan oleh M. F.

Buchanan (1807).

Endapan nikel laterit Indonesia telah diketahui sejak tahun 1937. Informasi

mengenai endapan nikel laterit yang tertera pertama kali dalam literatur adalah

Pomalaa pada tahun 1916 oleh pemerintah Belanda. Sejak itu, endapan-endapan

nikel laterit lainnya baru disebut-sebut, seperti Gunung Cycloops (1949) dan

Pulau Waigeo (1956) di Irian Jaya (Papua Barat), Sorowako di Sulawesi (1968),

Pulau Gebe (1969), Maluku (Tanjung Buli) dan Obi di Pulau Halmahera

(1969) serta Pulau Gag (1982).

Nikel memiliki banyak kegunaan salah satunya digunakan sebagai pelapis

logam tahan karat. Selain itu juga nikel digunakan sebagai bahan campuran dalam

pembuatan stainless steel, campuran pada besi baja, aplikasi nikel dalam dunia

otomotif dan variasi Pembuatan koin. Dengan demikian keberadaan nikel sangat

mempengaruhi pertumbuhan industri di dunia.

Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Menurut Vinogradov

batuan ultrabasa rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel

tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil

substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan

Mg dapat diterangkan karena radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan
di antara unsur-unsur tersebut. Pembentukan endapan nikel laterit erat kaitanya

dengan proses serpentinisasi, proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan

peridotit akibat pengaruh larutan hydrothermal, akan mengubah batuan peridotit

menjadi batuan serpentinit atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses

kimia dan fisika dari udara, air serta pergantian panas dingin yang bekerja

kontinu, menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. proses

serpentinisasi bisa mempengaruhi nilai suatu kadar Ni pada endapan nikel laterit

Hal tersebut yang melatarbelakangi dilakukanya penelitian ini, guna

mengetahui pengaruh serpentinisasi terhadap kadar nikel pada daerah penelitian.

Analisis yang digunakan adalah analisis petrografi, dan analisis XRF untuk

mengetahui unsur utama penentu kadar nikel pada sampel yang diambil di

lapangan.

Dalam penentuan suatu kadar nikel laterit pada daerah penelitian,

dibutuhkan suatu sampel batuan yang akan diteliti di laboratotium dan data bor.

Sampel tersebut kemudian dianalisis secara petrografi dan menggunakan XRF,

agar diketahui berapa besar kadar Nikel (Ni) pada daerah penelitian.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diajukan dari proposal penelitian ini

yaitu :
1. Bagaimana pengaruh serpentinisasi terhadap kadar nikel (Ni) pada daerah

penelitian.
2. Bagaimana sebaran serpentinisasi pada daerah penelitian.

C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh serpentinisasi terhadap kadar nikel (Ni) pada daerah

penelitian.
2. Mengetahui sebaran serpentinisasi pada daerah penelitian.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang

telah diperoleh di bangku perkuliahan pada dunia pertambangan, dapat

memberikan informasi dan pengetahuan bagi peneliti dan bagi pembaca, serta

dapat memberikan manfaat bagi instansi yang berkaitan, berupa pengaruh

serpentinisasi terhadap kadar nikel (Ni) dan sebaran serpentinisai yang

berkembang pada daerah penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Geologi Regional Daerah Penelitian

Secara umum daerah penelitian termasuk Mandala Geologi Sulawesi Timur,

yang dicirikan oleh himpunan batuan malihan, serpentinit, gabro, basal, dan

batuan sedimen pelagic Mesozoikum (Sukamto, 1975). Batuan-batuan yang

tersingkap di daerah kegiatan inventarisasi berumur mulai dari Paleozoikum

sampai Kuarter.

1. Geomorfologi Regional

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini,

terdiri atas pegunungan Mengkongga, pegunungan tangkelemboke, pegunungan

mandoke, dan pegunungan rumbian yang terpisah di ujung selatan tenggara.

Satuan morfologi ini mempunyai topografi yang kasar dengan kemiringan lereng
yang tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini mempunyai pola yang

hampir sejajar berarah barat laut-tenggara arah ini sejajar dengan pola struktur

sesar regional kawasan ini. Pola tersebut mengeindikasikan bahwa pembentukan

morfologi pegunungan itu erat dengan sesar regional (Surono, 2010).

Diitinjau dari citra IFSAR di bagian Tengah dan Ujung Selatan Lengan

Tenggara Sulawesi, ada tiga bagian satuan morfologi yang terdapat di Sulawesi,

dan di Daerah Rumbia yaitu satuan pegunungan, satuan perbukitan rendah, dan

satuan dataran.

a. Satuan Pegunungan

Satuan morfologi pegunungan menempati bagian terluas di kawasan ini,

yang terdiri atas pegunungan Mengkongga, Pegunungan Tangkelemboke,

Pegunungan Mendoke, dan Pegunungan Rumbia yang terpisah di ujung Selatan

Lengan Tenggara. Satuan morfologi ini mempunyai topografi yang kasar

dengan kemiringan lereng tinggi. Rangkaian pegunungan dalam satuan ini

mempunyai pola yang hampir sejajar berarah Barat laut-Tenggara. Arah ini

sejajar dengan pola struktur sesar regional di kawasan ini. Pola tersebut

mengindentifikasikan bahwa pembentukan morfologi pegunungan itu erat

hubungannya dengan sesar regional. Satuan pegunungan terutama di bentuk

oleh batuan malihan dan setempat oleh batuan ofiolit. Pegunungan yang

disusun dari batuan ofiolit mempunyai punggung gunung yang panjang dan

lurus dengan lereng relatif lebih rata, serta kemiringan yang tajam. Sementara

itu, pegunungan yang dibentuk batuan malihan punggung gunungnya terputus

pendek-pendek dengan lereng yang tidak rata walaupun bersudut tajam.


b. Satuan Perbukitan Rendah

Satuan morfologi perbukitan rendah melampar luas di Utara Kendari dan

ujung Selatan Lengan Tenggara. Satuan ini terdiri atas bukit kecil dan rendah

dengan morfologi yang bergelombang. Batuan penyusun satuan ini terutama

batuan sedimen klastik Mesozoikum dan Tersier.

c. Satuan Pedataran

Satuan morfologi dataran rendah dijumpai di bagian Tengah ujung

Selatan Lengan Tenggara. Tepi Selatan dataran Wawotobi dan Dataran

Sampara berhadapan langsung dengan satuan morfologi pegunungan.

Penyebaran satuan dataran rendah ini tampak sangat dipengaruhi sesar geser

mengirih (Sesar Kolaka dan System Sesar Konaweha). Kedua sistem sesar ini

diduga masih aktif, yang ditunjukkan dengan adanya torehan pada endapan

alluvial dalam kedua dataran tersebut (Surono dkk, 1997), sehingga sangat

mungkin kedua dataran itu terus mengalami penurunan.


Gambar 1. Bagian Selatan Lengan Sulawesi dari Citra IFSAR (Surono, 2013).

2. Satuan Stratigrafi

Kompleks batuan malihan menempati bagian tengah lengan tenggara

sulawesi membentuk pegunungan mandoke dan ujung Selatan membentuk

pegunungan rumbia. Komplek ini di dominasi batuan malihan yang terdiri dari

sekis, kuarsa, sabak dan marmer (Simandjuntak dkk.,1993c; Rusmana dkk.,

1993b) dan terobos aplit dan diabas (Surono,1986). Secara garis besar kedua

mendala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo . Batuan yang terdapat di Lajur Tinodo

yang merupakan batuan alas adalah batuan malihan Paleozoikum (Pzm) dan

diduga berumur Karbon. Pualam Paleozoikum (Pzmm) menjemari dengan batuan

malihan Paleozoikum terutama terdiri dari pualam dan batugamping terdaunkan.

Pada Permo-Trias di daerah ini diduga terjadi kegiatan magma yang menghasilkan
terobosan antara lain aplit PTr (ga), yang menerobos batuan malihan

Paleozoikum. Formasi Meluhu (TRJm) ,secara tak selaras menindih Batuan

Malihan Paleozoikum. Pada zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala

(TRJt). Hubungan dengan Formasi Meluhu adalah menjemari. Pada kala Eosen

(Surono. 2010).

Gambar 2. Peta Geologi Lengan Tenggara Sulawesi (disederhanakan dan


dimodifikasi dari Rusmana dkk., 1993: Simanajuntak dkk., 1993a, b, c).
Gambar 3. Stratigrafi regional Lengan Tenggara Sulaweasi (Rusmana dkk 1993b.
Saimandjuntak dkk. 1993a, b, c: Surono 1994).

3. Struktur Geologi

Sesar kolaka diberi nama oleh simandjuntak dkk (1993) berdasarkan kota

kolaka yang dilaluinya memanjang sekitar 250 km dari pantai barat teluk bone

sampai ujung selatan lengan tenggara sulawesi, Sesar kolaka, yang relatif sejajar

dengan sesar lawanopo, dan sesar konaweha ini nampak jelas pada citra jauh,

udara, landsat dan IFSAR.


Struktur geologi yang dijumpai di daerah kegiatan adalah sesar, lipatan dan

kekar. Sesar dan kelurusan umumnya berarah baratlaut-tenggara searah dengan

Sesar geser jurus mengiri Lasolo. Sesar Lasolo aktif hingga kini, sesar ini diduga

ada kaitannya dengan Sesar Sorong yang aktif kembali pada Kala Oligosen

(Simandjuntak, dkk., 1983). Sesar naik ditemukan di daerah Wawo, sebelah barat

Tampakura dan di Tanjung Labuandala di selatan Lasolo; yaitu beranjaknya

batuan ofiolit ke atas Batuan Malihan Mekonga, Formasi Meluhu dan Formasi

Matano. Sesar Anggowala juga merupakan sesar utama, sesar mendatar menganan

(dextral), mempunyai arah baratlaut-tenggara.

Gambar 4. Struktur geologi Sulawesi dan sekitarnya. Disederhanakan dari Silver


dkk. (1983) dan Rehahult dkk (1991) dalam Surono (2010).

B. Batuan Ultramafik

Proses terbentuknya nikel adalah dimulai dari batuan ultramafik dengan


komposisi penyusunnya adalah mineral-mineral mafik (Ferromagnesia). Mineral

mafik adalah mineral yang mengandung gugusan senyawa besi (Fe) dan

magnesia (Mg), dimana mineral-mineral yang termasuk didalamnya adalah

olivin, piroksen, hornblende. Akumulasi endapan nikel pada batuan dasar terjadi

proses serpentinisasi dan pelapukan. Menurut Hughes (1982) batuan beku

ultrabasa adalah batuan yang kurang akan kandungan SiO2. Batuan ultrabasa

adalah batuan beku yang kandungan silikanya rendah (<45 %), kandungan

MgO >18 %, tinggi akan kandungan FeO, rendah akan kandungan kalium dan

umumnya kandungan mineral mafiknya lebih dari 90 %. Batuan ultrabasa

umumnya terdapat sebagai ofiolit.

Menurut Whillie (1976), ada beberapa hipotesa terjadinya batuan

ultramafik dari mantel :

1. Diferensiasi larutan basaltik akan membentuk mush (bubur)

ultramafik berasal dari perlapisan kumulat atau bubur ultramafik masif.

2. Pembentukan magma primer peridotitik pada mantel kemudian

diintrusikan sebagai mush atau terpindahkan pada kondisi padat oleh

pergerakan tektonik.

1. Klasifikasi Batuan Ultramafik


a. Dunit

Dunit merupakan batuan ultramafik monomineral yang hampir

semuanya mengandung olivin (umumnya magnesia). Kandungan olivin dalam

batuan ini adalah 90%. Mineral-mineral penyerta dalam batuan dunit

seperti kromit, magnetit, ilmonit, dan spinel. Menurut William (1954), bahwa

dunit merupakan batuan yang hampir murni olivin 90-100%, umumnya hadir
dalam forsterit atau krisolit.

b. Peridotit

Peridotit merupakan anggota dari kompleks ofiolit yang terbentuk pada

sikuen mantel bagian bawah dan berasosiasi dengan dunit. Peridotit

mempunyai kandungan olivin yang banyak tetapi juga mengandung mineral

mafik lainnya dalam jumlah signifikan sehingga terkadang peridotit

mempunyai jenis Fs pyroxene peridotit, hornblende peridotit dan mika

peridotit (kimberlite). Pyroxene peridotit adalah salah satu dari banyaknya

batuan ultramafik yang umum. Berdasarkan pada tipe pyroxene di atas,

pyroxene peridotit dapat diklasifikasikan ke dalam :

Harzburgit : Tersusun oleh olivin dan orthopiroksen

Wehrlit: Tersusun oleh olivin dan klinopiroksen

Lherzolit : Tersusun oleh olivin, orthopiroksen dan klinopiroksen

Peridotit tersusun atas mineral silikat magnesium dan ferro-magnesium

seperti olivin (Mg,Fe,Ni)2SiO4, enstatit (MgSiO3), hipersten

2+ 3+
((Mg,Fe)2Si2O6) dan kromit (Fe Mg)O(Fe AlCr2)3).

Menurut Burger (2000), mineralogi dan komposisi kimia peridotit,

yaitu :

1. Mineral utama (major mineral), adalah :

Olivin (Mg,Fe,Ni)2SiO4

Pyroxene, contohnya : hipersten ((Mg,Fe)2Si2O6), enstatit


(orthorombik MgSiO3).

Gambar 5. Klasifikasi Streckeisen (1974), Batuan Ultramafik Berdasarkan


Kandungan Olivine, Clinopyroxene dan Orthopyroxene

2. Mineral minornya adalah :

2+ 3+
Hornblende (CaNa(Ng,Fe )4(Al,Fe ,Ti)Al,Si8O22(O,OH)2).

2+ 3+
Biotit (K(Mg,Fe )3(Al,Fe
)Si3O10)
2+ 3+AlCr
3. Mineral asesorisnya adalah kromit (Fe Mg)O(Fe )). Komposisi

kimia penyusun peridotit adalah sebagai berikut :

SiO2 (38 - 45%) MgO (30 - 40%)

Fe2O3 (7 - 10%) Al2O3 (0,3 -

5,0%)

Cr2O3 (0,2 - 1,0%) NiO (0,2 - 0,3%)

CaO (0,01 - 0,02%) MnO (0,10 - 0,30%)

NaO (0,00 - 1,00%) K2 O (0,00 - 0,30%)

H2O (10 - 14%)

Kelompok batuan peridotit tidak umum tersingkap di permukaan

dan sangat tidak stabil. Umumnya batuan peridotit yang tersingkap telah
terubah menjadi serpentinit, dimana mineral piroksen dan olivin terubah

menjadi mineral serpentin dan amfibol, proses perubahan ini (hydrasi) diikuti

dengan perubahan volume yang mengakibatkan terjadinya perubahan

(deformasi) dari tekstur awalnya.

c. Piroksenit

Merupakan batuan ultramafik monomineral yang seluruhnya

mengandung piroksen (>90%). Selanjutnya batuan piroksenit diklasifikasikan

menjadi orthorombik piroksen, yang disebut sebagai orthipiroksenit dan

monoklin piroksen yang disebut sebagai klinopiroksenit.

Orthopiroksenit : bronzitit

Klinopiroksenit : diopsidit

d. Hornblendit

Merupakan batuan ultamafik monomineral yang seluruhnya mengandung

mineral hornblenda (>90% hornblenda). Secara fisik berdasarkan kandungan

mineralnya, batuan ini mempunyai warna cokelat atau hijau, bahkan kadang-

kadang hitam.

e. Serpentinit

Batuan ini merupakan hasil alterasi mineral olivin dan piroksen yang

merupakan alterasi hidrothermal yang kemudian membentuk mineral

serpentin. Batuan ini juga terbentuk dari dunit yang terserpentinisasikan dari

hornblendit ataupun peridotit. Secara umum serpentinit mempunyai komposisi

batuan berupa monomineralik serpentin, dimana serpentin merupakan mineral

yang chrysotile asbestos (Curtis, 2002). Serpentinit terbentuk dari mineral


kelompok serpentin >50%. Pada prinsipnya kerak serpentinit dapat dihasilkan

dari mantel oleh hidrasi dari mantel ultramafik (mantel peridotit dan dunit) di

bawah punggungan tengah samudera (mid oceanic ridge) pada temperatur

0
<500 C, kemudian terserpentinisasikan terbawa keluar melalui migrasi

litosfer. Serpentin merupakan suatu pola dengan komposisi H4Mg3Si2O9,

terbentuk melalui alterasi hidrothermal dari mineral ferromagnesian seperti

olivin, piroksen dan amfibol.

Umumnya alterasi pada olivin dimulai pada pecahan atau retakan pada

kristalnya, secepatnya keseluruhan kristal mungkin teralterasi dan mengalami

pergantian. Serpentinisasi pada olivin memerlukan penambahan air,

pelepasan magnesia atau penambahan silika, pelepasan besi (Mg, Fe) pada

2+ 3+
olivin konversi pelepasan besi dari bentuk ferrous (Fe ) ke ferri (Fe ) ke

bentuk magnetit, Streckeisen (1976).

C. Laterisasi

Pada umumnya endapan nikel terdapat dalam dua bentuk yang berlainan,

yaitu berupa nikel sulfida dan nikel laterit. Endapan nikel laterit merupakan bijih

yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas

permukaan bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin later yang

berarti batubata merah, yang dikemukakann oleh Buchanan (1807), yang

digunakan sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang

merupakan wilayah India bagian selatan. Material tersebut sangat rapuh dan

mudah dipotong, tetapi apabila terlalu lama terekspos, maka akan cepat sekali
mengeras dan sangat kuat (resisten). Smith (1992) mengemukakan bahwa laterit

merupakan regolith atau tubuh batuan yang mempunyai kandungan Fe yang

tinggi dan telah mengalami pelapukan, termasuk di dalamnya profil endapan

material hasil transportasi yang masih tampak batuan asalnya.

Sebagian besar endapan laterit mempunyai kandungan logam yang tinggi

dan dapat bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan

dan bauksit. Dari beberapa pengertian bahwa laterit dapat disimpulkan

merupakan suatu material dengan kandungan besi dan aluminium sekunder

sebagai hasil proses pelapukan yang terjadi pada iklim tropis dengan intensitas

pelapukan tinggi.

Laterit adalah nama umum mineral yang berupa tanah merah sebagai akibat

dari pelapukan batuan asal (induk) di daerah tropis atau sub tropis. Laterit kaya

akan kaonilit, goethite, dan kwarsa, sehingga komposisi dari laterit sangat

kompleks. Secara kimia, laterit dicirikan oleh adanya besi, nikel, dan silica

sebagai sisa-sisa proses pelapukan batuan induk (Firdiyono dkk: 1983) Evans

(1989) pernah menyatakan bahwa kebanyakan laterit terbentuk dari batuan yang

kaya akan besi seperti hematite dan geothit yang berwarna merah, kuning atau

coklat. Tanah laterit mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Reaksi tanah masam,

2. Kadar lempung meningkat,

3. Kejenuhan basa dan kapasitas pertukaran kation rendah,

4. Mineral dapat lapuk rendah,

5. Kadar bahan organik tanah sangat rendah.


Laterit terutama terdapat di wilayah beriklim tropis dan subtropis yang

memiliki suhu tinggi dan curah hujan yang cukup. Akibatnya laterit banyak

ditemukan di Brasil, Filipina, India, Afrika Selatan, Amerika Serikat dan

Indonesia (daerah Sulawesi Tenggara) serta beberapa wilayah lain yang memiliki

iklim tropis dan subtropis.

D. Endapan Nikel Laterit

Nikel adalah logam putih seperti perak yang bersifat keras dan anti karat.

Logam ini membantu dalam proses pengubahan beberapa logam olahan dalam

bentuk larutan yang menghasilkan energi panas. Selain itu Ni juga berperan

penting dalam beberapa proses pengendapan logam keras dalam bentuk paduan

logam (alloy) seperti Stainlestel yang mengandung 18% Ni dan 8% Cr dan

Nikhrome yang mengandung 80% Ni dan 20% Cr disarankan oleh Roberts

(Rusmini: 2010).

Nikel terletak dalam tabel periodik yang memiliki symbol Ni dengan nomor

atom 28 merupakan unsur logam transisi dengan nomor massa 58,71 yang terletak

dalam golongan VIII periode 4 dengan konfigurasi elektron [Ar] 3d umumnya

tingkat oksidasi dari Ni adalah +2. Ni pada tingkat oksidasi +3 hanya sedikit

dikenal. Hidrat ion Ni2+ berwarna hijau dan garam-garam Ni berwarna hijau dan

biru (Heslop dan Robinson, 1960).

Endapan nikel yang ada di daerah penelitian adalah jenis nikel laterit, yang

merupakan hasil pelapukan dari batuan ultrabasa. Menurut Vinogradov, batuan

ultrabasa pada awalnya mempunyai kandungan nikel rata-rata sebesar 0.2%.


Proses terbentuknya nikel laterit dimulai dari peridotit sebagai batuan induk.

Batuan induk ini akan berubah menjadi serpentin akibat pengaruh larutan

hidrotermal atau larutan residual pada waktu proses pembentukan magma (proses

serpentinisasi) dan akan merubah batuan peridotit menjadi batuan Serpentinit atau

batuan Serpentinit Peridotit.

Selanjutnya terjadi proses pelapukan dan laterit yang menghasilkan

serpentin dan peridotit lapuk. Adanya proses kimia dan fisika dari udara, air, serta

pergantian panas dan dingin yang kontinu, akan menyebabkan disintegrasi dan

dekomposisi pada batuan induk. Batuan asal yang mengandung unsur-unsur Ca,

Mg, Si, Cr, Mn, Ni, dan Co akan mengalami dekomposisi.

Air tanah yang mengandung CO2 dari udara meresap ke bawah sampai ke

permukaan air tanah sambil melindi mineral primer yang tidak stabil seperti

olivin, serpentin, dan piroksen. Air tanah meresap secara perlahan dari atas ke

bawah sampai ke batas antara zone limonit dan zone saprolit, kemudian mengalir

secara lateral dan selanjutnya lebih banyak didominasi oleh transportasi larutan

secara horizontal. Proses ini menghasilkan Ca dan Mg yang larut disusul dengan

Si yang cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat

halus sehingga memungkinkan terbentuknya mineral baru melalui pengendapan

kembali unsur-unsur tersebut. Semua hasil pelarutan ini terbawa turun ke bagian

bawah mengisi celah-celah dan pori-pori batuan.

Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa ke bawah sampai

batas pelapukan dan diendapkan sebagai Dolomit dan Magnesit yang mengisi

celah-celah atau rekahan-rekahan pada batuan induk. Di lapangan, urat-urat ini


dikenal sebagai batas petunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar

yang disebut dengan akar pelapukan (root of weathering).

Fluktuasi muka air tanah yang berlangsung secara kontinu akan melarutkan

unsur-unsur Mg dan Si yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal di zone

saprolit, sehingga memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam. Dalam hal

ini, zone saprolit akan bertambah ke dalam, demikian juga dengan ikatan yang

mengandung oksida MgO sekitar 30 50%-berat dan SiO2 antara 35 40%-berat.

Oksida yang masih terkandung pada bongkah-bongkah di zone saprolit ini akan

terlindi dan ikut bersama-sama dengan aliran air tanah, sehingga sedikit demi

sedikit zone saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya menjadi zone

limonit. Sedangkan bahan-bahan yang sukar atau tidak mudah larut akan tinggal

pada tempatnya dan sebagian turun ke bawah bersama larutan sebagai larutan

koloid. Bahan-bahan seperti Fe, Ni, dan Co akan membentuk konsentrasi residu

dan konsentrasi celah pada zona yang disebut dengan zona saprolit, berwarna

coklat kuning kemerahan. Batuan asal ultramafik pada zone ini selanjutnya

diimpregnasi oleh Ni melalui larutan yang mengandung Ni, sehingga kadar Ni

dapat naik hingga 7%-berat. Dalam hal ini, Ni dapat mensubstitusi Mg dalam

Serpentin atau juga mengendap pada rekahan bersama dengan larutan yang

mengandung Mg dan Si sebagai Garnierit dan Krisopras.

Sementara Fe di dalam larutan akan teroksidasi dan mengendap sebagai

Ferri-Hidroksida, membentuk mineral-mineral seperti Goethit, Limonit, dan

Hematit yang dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta

unsur Co dalam jumlah kecil. Semakin ke bawah, menuju bed rock maka Fe dan
Co akan mengalami penurunan kadar. Pada zona saprolit Ni akan terakumulasi di

dalam mineral Garnierit. Akumulasi Ni ini terjadi akibat sifat Ni yang berupa

larutan pada kondisi oksidasi dan berupa padatan pada kondisi silika.

Endapan laterit biasanya terbentuk melalui proses pelapukan kimia yang

intensif, yaitu di daerah dengan iklim tropis-subtropis. Proses pelindian batuan

lapuk merupakan proses yang terjadi pada pembentukan endapan laterit, dimana

proses ini memiliki penyebaran unsur-unsur yang tidak merata dan menghasilkan

konsentrasi bijih yang sangat bergantung pada migrasi air tanah.

Nikel bersifat liat dapat ditempa dan sangat kukuh. Logam ini melebur pada

1455C. Selain itu, nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan murni,

nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom dan logam lainnya,

dapat membentuk baja tahan karat yang keras, mudah ditempa, sedikit

ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan

listrik. Nikel tergolong dalam grup logam besi-kobal, yang dapat menghasilkan

alloy yang sangat berharga.

1. Genesa Endapan Nikel Laterit

Tubuh endapan nikel laterit terbentuk setelah tubuh batuan beku yang

tersingkap di permukaan dan mengalami pelapukan secara terus-menerus yang

mengakibatkan batuan menjadi rentan terhadap proses pencucian (Prijono,1977).

Sedangkan menurut Evans (1933), endapan nikel residual terbentuk karena

tingginya intensitas pelapukan kimia batuan yang mengandung Ni di daerah

tropis, Batuan tersebut adalah peridotit, serpentinit, dan beberapa batuan lainnya.

Batuan-batuan tersebut mineral utamanya adalah grup olivin, grup serpentin, dan
grup piroksen dengan Ni sebagai unsur asesoris. Serpentinisasi peridotit akan

merubah olivin menjadi serpentin dan akan membentuk mineral pembawa Ni

berupa air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan

kembali oleh material-material organik di permukaan meresap ke bawah

permukaan tanah sampai pada zona pelindian, dimana fluktuasi air tanah terjadi

dan mempercepat proses pelapukan dan proses pencucian, unsur-unsur bersifat

asam, sementara silika terlarut dan tertransport sebagai larutan koloid

(Prijono,1977), atau dapat dikatakan bahwa air tanah yang kaya akan CO2

berasal dari udara luar dan tumbuh-tumbuhan, akan menghancurkan olivin.

Penguraian olivin, magnesium, besi, nikel, dan silika ke dalam larutan,

cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel silika yang

submikroskopis. Di dalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida dan

mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan

air dengan membentuk mineral-mineral seperti karat, yaitu goetit (FeO(OH)),

hematit (Fe 2O3) dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan

permukaan tanah.

Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut

dan silika dari profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam, hangat, dan

lembab, serta membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi

pada unsur Fe, Cr,Al, Ni, dan Co (Rose, 1979 dalam Nushantara, 2002).

Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi, akan menyebabkan unsur Fe,

Cr, Al, Ni, dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral-mineral

oksida/hidroksida, seperti limonit, hematit, goetit dan sebagainya (Hasanuddin,


1992). Pada proses pelapukan lebih lanjut Magnesium (Mg), Silika (Si), dan

Nikel (Ni) akan tertinggal di dalam larutan selama air masih bersifat asam. Tetapi

jika dinetralisasi karena adanya reaksi dengan batuan dan tanah, maka zat-zat

tersebut akan cenderung mengendap dengan membentuk mineral Ni-magnesium

hidrosilicate yang disebut mineral garnierite (Ni,Mg) SiO 3nH2O dan mineral

nickelliferous phyllosilicates (Boldt,1967). Akibat pengkayaan sekunder ini, zona

bijih nikel silikat terbentuk diantara zona paling atas yang telah mengalami

pencucuian dan batuan peridotit segar. Zona bijih dicirikan oleh tingginya

kandungan nikel, magnesia, silika, dan bongkah- bongkah residual dari peridotit

yang terlapukkan dan terserpentinisasi sebagian (Nushantara, 2002).

Endapan nikel laterit terbentuk dari hasil pelapukan dan erosi pada periode

waktu yang lama dalam batuan ultramafik yang kandungan nikelnya tinggi.

Proses pelapukan sangat dipengaruhi iklim. Pada daerah beriklim tropis

perombakan Si sangat cepat, sehingga pembentukan endapan mineral Ni juga

berlangsung cepat, terutama pada musim hujan, air hujan yang banyak

membawa agen-agen pelarut sehingga perombakan silika pada batuan induk

akan lebih besar jika dibandingkan dengan saat musim kering intensitas

pelapukan mekanisnya lebih tinggi (Anonim,1985).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Endapan

Proses dan kondisi yang mengendalikan proses lateritisasi batuan ultramafik

sangat beragam dengan ukuran yang berbeda sehingga membentuk sifat profil

yang beragam antara satu tempat ke tempat lain, dalam komposisi kimia dan

mineral, dan dalam perkembangan relatif tiap zona profil. Faktor yang
mempengaruhi efisiensi dan tingkat pelapukan kimia yang pada akhirnya

mempengaruhi pembentukan endapan adalah:

a. Tipe Batuan Asal

Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan

nikel laterit. Batuan asalnya adalah jenis batuan ultrabasa dengan kadar Ni 0.2-

0.3%, merupakan batuan dengan elemen Ni yang paling banyak di antara

batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau

tidak stabil (seperti Olivin dan Piroksen), mempunyai komponen-komponen

yang mudah larut, serta akan memberikan lingkungan pengendapan yang baik

untuk nikel. Mineralogi batuan asal akan menentukan tingkat kerapuhan batuan

terhadap pelapukan dan elemen yang tersedia untuk penyusunan ulang mineral

baru.

b. Struktur

Struktur geologi yang penting dalam pembentukan endapan laterit adalah

rekahan (joint) dan patahan (fault). Adanya rekahan dan patahan ini akan

mempermudah rembesan air ke dalam tanah dan mempercepat proses

pelapukan terhadap batuan induk. Selain itu rekahan dan patahan akan dapat

pula berfungsi sebagai tempat pengendapan larutan-larutan yang mengandung

Ni sebagai vein-vein. Seperti diketahui bahwa jenis batuan beku mempunyai

porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat

sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut lebih memudahkan

masuknya air dan proses pelapukan yang terjadi akan lebih intensif.
c. Topografi

Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan

sirkulasi air serta reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk

pengendapan bijih nikel adalah punggung-punggung bukit yang landai dengan

kemiringan antara 10 30. Pada daerah yang curam, air hujan yang jatuh ke

permukaan lebih banyak yang mengalir (run-off) dari pada yang meresap

kedalam tanah, sehingga yang terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif.

Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan

endapan nikel yang tipis. Sedangkan pada daerah yang landai, air hujan

bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai kesempatan untuk mengadakan

penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan dan

mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif. Akumulasi

andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan

sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk

topografi.

Menurut Ahmad (2002), keadaan topografi akan sangat mempengaruhi

sirkulasi air beserta reagen-reagen lain. Peranan topografi tersebut dalam

proses laterisasi melalui beberapa faktor, yaitu :

Penyebaran air hujan, dimana pada slope yang curam umumnya air

hujan akan mengalir ke daerah yang lebih rendah (run off) dan penetrasi

ke batuan akan sedikit. Hal ini menyebabkan pelapukan fisik lebih

besar dibanding pelapukan kimia.


Daerah tinggian memiliki drainase yang lebih baik daripada daerah

rendahan dan daerah datar.



Slope yang kurang dari 20 memungkinkan untuk menahan erosi dari

endapan laterit.

Pada proses pengkayaan nikel, air yan membawa nikel terlarut akan

sangat berperan dan pergerakannya tersebut dikontrol oleh topografi. Untuk

daerah yang bergerak landai, air akan bergerak perlahan-lahan sehingga

akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam

melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan.

Akumulasi endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah dengan

topografi landai sampai sedang, sehingga endapan laterit masih mampu untuk

ditopang oleh permukaan topografi sehingga tidak terangkut semua oleh

proses erosi ataupun ketidakstabilan lereng. Hal ini menerangkan bahwa

ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.Pada daerah yang

bertopografi curam, secara teoritis jumlah air yang meluncur (run off) lebih

banyak daripada air yang meresap sehingga ini dapat menyebabkan pelapukan

kurang intensif.

d. Iklim

Iklim yang sesuai untuk pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis

dan sub tropis, di mana curah hujan dan sinar matahari memegang peranan

penting dalam proses pelapukan dan pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada

batuan asal. Sinar matahari yang intensif dan curah hujan yang tinggi

menimbulkan perubahan besar yang menyebabkan batuan akan terpecah-pecah,

disebut pelapukan mekanis, terutama dialami oleh batuan yang dekat

permukaan bumi.
Secara spesifik, curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang

melewati tanah, yang mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan

komponen yang dapat dilarutkan. Sebagai tambahan, keefektifan curah hujan

juga penting. Suhu tanah (suhu permukaan udara) yang lebih tinggi menambah

energi kinetik proses pelapukan.

e. Reagen-reagen Kimia dan Vegetasi

Reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang

membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2

memegang peranan paling penting di dalam proses pelapukan secara kimia.

Asam-asam humus (asam organik) yang berasal dari pembusukan sisa-sisa

tumbuhan akan menyebabkan dekomposisi batuan, merubah pH larutan, serta

membantu proses pelarutan beberapa unsur dari batuan induk. Asam-asam

humus ini erat kaitannya dengan kondisi vegetasi daerah. Dalam hal ini,

vegetasi akan mengakibatkan penetrasi air lebih dalam dan lebih mudah

dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan, meningkatkan akumulasi air

hujan, serta menebalkan lapisan humus. Keadaan ini merupakan suatu

petunjuk, dimana kondisi hutan yang lebat pada lingkungan yang baik akan

membentuk endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi.

Selain itu, vegetasi juga dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan

terhadap erosi.

f. Waktu
Waktu merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pelapukan,

transportasi, dan konsentrasi endapan pada suatu tempat. Untuk terbentuknya

endapan nikel laterit membutuhkan waktu yang lama, mungkin ribuan atau

jutaan tahun. Bila waktu pelapukan terlalu muda maka terbentuk endapan yang

tipis. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup

intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Banyak dari faktor tersebut

yang saling berhubungan dan karakteristik profil di satu tempat dapat

digambarkan sebagai efek gabungan dari semua faktor terpisah yang terjadi

melewati waktu, ketimbang didominasi oleh satu faktor saja.

Ketebalan profil laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan

kimia di dasar profil dan pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat

pelapukan kimia bervariasi antara 1050 m per juta tahun, biasanya sesuai

dengan jumlah air yang melalui profil, dan 23 kali lebih cepat dalam batuan

ultrabasa daripada batuan asam. Disamping jenis batuan asal, intensitas

pelapukan, dan struktur batuan yang sangat mempengaruhi potensi endapan

nikel lateritik, maka informasi perilaku mobilitas unsur selama pelapukan akan

sangat membantu dalam menentukan zonasi bijih di lapangan (Totok Darijanto,

1986).

Pelapukan ada dua macam, yakni :

1) Pelapukan Mekanis

Pelapukan mekanis umumnya disebabkan oleh perubahan suhu yang

kontras, tekanan, dan penetrasi akar tanaman (Ollier, 1969). Pelapukan

mekanis atau disebut juga disintegrasi batuan masing-masing mempunyai


kesamaan yaitu merubah ukuran batuan atau partikel batuan menjadi

semakin kecil, sehingga luas permukaan batuan yang mengalami kontak

dengan agen-agen proses laterisasi menjadi semakin luas.

2) Pelapukan kimia

Pelapukan kimia yang berhubungan dengaan proses laterisasi ada

beberapa macam menurut Ollier, 1969 :

a) Pelarutan, merupakan tahap awal dari proses pelapukan kimia. Proses

ini terjadi pada saat adanya aliran air baik di permukaan atau dalam

batuan. Pelarutan dapat berupa presipitasi kimiawi yang akan merubah

volume dan meningkatkan pelapukan fisika.


b) Oksidasi dan reduksi, merupakan proses yang akan membentuk mineral-

mineral oksida akibat reaksi antara mineral dengan oksigen atau jika

mengikutsertakan air akan menjadi mineral hidroksida. Umumnya

ditunjukkan dengan hadirnya besi oksida dan hidroksida.


c) Hidrasi, merupakan proses penyerapa molekul-molekul air oleh mineral,

sehingga membentuk mineral hidrous. Contoh : hematit menjadi limonit.


d) Karbonisasi, merupakan reaksi antara ion karbonat dan ion bikarbonat

dengan mineral atau proses pembentukan asam bikarbonat dalam bentuk

cair yang akan mempermudah pelapukan. Banyak terkandung dalam air

hujan.
+
e) Hidrolisis, merupakan reaksi antara mineral dengan air, yaitu antara ion H

-
dan ion OH air dengan ion-ion mineral.
f) Desilisikasi adalah suatu proses perombakan atau penguraian silika dari

batuan. Silika merupakan penyusun utama mineral dalam batuan dan

umumnya mempunyai ikatan atom yang kuat dalam mineral-mineralnya.


3. Mobilitas Geokimia Pada Batuan Ultramafik
Mobilitas adalah kemampuan suatu unsur untuk terdispersi ke dalam

matrik material lain di sekitarnya. Mobilitas mempengaruhi respon unsur

terhadap proses dispersi. Faktor utama yang mempengaruhi mobilitas geokimia

adalah stabilitas kimiawi unsur (Rose, 1979 dalam Nushantara, 2002).

Menurut Waheed (2002), bahwa mobilitas unsur yang dijumpai pada

ultramafik dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Elemen yang bersifat sangat larut dan sangat mobile

Mudah hilang dalam profil pelapukan dan sangat larut dalam aliran air

tanah (sedikit asam), misal: Mg, Si, Ca, Na, Cu.

b. Elemen yang bersifat tidak larut dan tidak mobile

Tidak dapat larut dalam air tanah, sebagian besar unsurunsurnya merupakan

3+
penyusun dari residu tanah (residual soil), misal: Fe (ferric), Co, Al, Cr.

c. Elemen dengan daya larut yang terbatas dan mobilitas terbatas


Sebagian larut dalam air tanah yang bersifat asam, misal: Ni,

2+
Fe (ferrous).
4. Profil Endapan Nikel Laterit

Profil endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan

ultrabasa secara umum terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup

atau top soil, lapisan limonit, lapisan saprolit, dan bedrock.

a. Lapisan Tanah Penutup

Lapisan tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan

berukuran lempung, berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga

sisa-sisa tumbuhan. Pengkayaan Fe terjadi pada zona ini karena terdiri dari
konkresi Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite), dan Chromiferous

dengan kandungan nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0-2 m.

Tekstur batuan asal sudah tidak dapat dikenali lagi.

Gambar 6. Profil endapan nikel lateri (Waheed, 2004)

b. Lapisan Limonit

Merupakan lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai

pasir, tekstur batuan asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit,

dengan tebal lapisan berkisar antara 1 10 m. Lapisan ini tipis pada daerah

yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Pada zone limonit hampir seluruh

unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari

2% berat dan kadar SiO2 berkisar 2 5% berat. Sebaliknya kadar Fe2O3


menjadi sekitar 60 80% berat dan kadar Al2O3 maksimum 7% berat. Zone ini

didominasi oleh mineral Goethit, disamping juga terdapat Magnetit, Hematit,

Kromit, serta Kuarsa sekunder. Pada Goethit terikat Nikel, Chrom, Cobalt,

Vanadium, dan Aluminium.

c. Lapisan Saprolit

Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-

bongkah lunak berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan

tekstur batuan asal masih terlihat. Perubahan geokimia zone saprolit yang

terletak di atas batuan asal ini tidak banyak, H2O dan Nikel bertambah, dengan

kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2-4%, sedangkan Magnesium dan Silikon

hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite,

Mangan, Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di

beberapa tempat sudah terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.

d. Bedrock (Batuan Dasar)

Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam

kehijauan, terdiri dari bongkah bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75

cm, dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis. Kadar

mineral mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe 5%

serta Ni dan Co antara 0.01 0.30%.

E. Serpentinisasi
1. Proses Serpentinisasi

Proses serpentinisasi adalah suatu proses perubahan mineral olivin dan

piroksen menjadi mineral serpentin. Atau dengan kata lain proses perubahan pada

mineral olivin dan piroksen pada batuan ultramafic (Peridotit & Dunit) yang
kemudian tergantikan oleh mineral serpentin. Proses serpentinisasi akan lebih

reaktif terjadi pada mineral olivin dari pada mineral piroksen. Apabila mineral

olivine dan piroksen telah seluruhnya terubah menjadi mineral serpentin maka

batuan tersebut sudah terubah menjadi serpentinit (monomineral) yang sempurna.

Pada kenyataannya serpentin dapat dilihat sebagai replacement product

dari mineral utama dan terbentuk sebagai pseudomorph. Yang terendapkan pada

kekar/rekahan dan batuan terbuka lainnya. Juga dapat terbentuk dalam massa

yang sangat besar/luas, pada beberapa kasus ditemukan pada tubuh dari batuan

peridotit atau dunit.

2. Serpentinisasi Dari Olivin

Serpentin merupakan mineral dengan komposisi H4Mg3Si2O9, yang

merupakan hasil dari alterasi hidrotermal mineral ferromagnesian seperti olivin,

piroksin, dan amphibol. Serpentin magnesian murni mengandung 12,9% air

kristalisasi yang dikeluarkan pada temperatur yang tinggi dan mencapai lebih

dari 800C. Serpentinit adalah hasil ubahan dari batuan peridotit yang terbentuk

akibat serpentinisasi oleh proses hidrotermal. Umumnya ada beberapa faktor

dalam alterasi hidrotermal yang menyebabkan perubahan olivin menjadi

serpentin.

Ada 3 asal pembentukan serpentin, yaitu :

a. Dalam kondisi yang stabil terbentuk krisotil dengan struktur berserabut.


b. Dalam kondisi dibawah tekanan, terbentuk antigorite dengan

strukturberlapis. Berdasarkan hasil analisa petrografis, terdapat ubahan

dari serpentin yaitu antigorite. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa
terbentuknya karena adanya tekanan.
c. Dalam kondisi tertentu, terbentuk serpophit dengan structureless. Proses

serpentinisasi olivin membutuhkan:


1) Sejumlah air.
2) Leaching dari magnesia (atau sejumlah silika).
3) Pelepasan besi (Mg,Fe) dalam olivine.
d. Perubahan dari pengurangan besi dari ferrous menjadi ferri membentuk

magnetit berbutir halus. Pada umumnya batuan yang terserpentinisasi

membentuk magnetit.

Pada dasarnya serpentinisasi olivine ini melibatkan penambahan air,

penambahan silica, dan pemindahan magnesia. Genetik pembentukan serpentin,

dapat disebabkan oleh kondisi dan lingkungan yang bekerja di lapangan :

a. Proses hidrotermal metamorfosis dari kerak samudera

Proses ini mungkin mekanisme yang paling umum untuk

menghasilkan serpentinit dalam jumlah yang besar. Karena berasosiasi

dengan subduksi melange dan jalur orogenik.

b. Tektonik yang meliputi sesar dan zona kekar

Sesar dan zona kekar menjadi salah satu akses yang mudah untuk

terjadinya hidrotermal.

c. Serpentin sekunder dalam profil laterit

Meskipun jelas serpentin adalah hasil pembentukan dari proses

hidrotermal, dengan temperatur lebih dari 200C, serpentin ini juga besifat

sekunder yang mana mineral tersebut berkembang pada lingkungan laterit.

3. Perubahan Mineral Karena Proses Serpentinisasi

Satu dari hasil alterasi hidrotermal olivin adalah serpentin, dimana

serpentin memiliki 3 bentuk berdasarkan kondisi terbentuknya (Waheed, 2002)


yaitu :

a. Dalam kondisi statik, terbentuk fibrouschrysotile.


b. Dalam kodisi tegang, terbentuk flaky antigorite.
c. Dalam kondisi biasa, terbentuk structureless serpophite.

Alterasi dari olivin umumnya dimulai secara acak pada tempat yang

mempunyai rekahan atau retakan dalam kristalkristal. Pada akhirnya, seluruh

kristalkristal mungkin akan teralterasi dan mengalami penggantian tempat

seperti membentuk pseudomorph yang merupakan hasil alterasi.

Kehadiran zona serpentinisasi berada pada dasar dari batuan ultrabasa.

Proses hidrotermal menyebabkan peridotit berubah bentuk menjadi

serpentinit dengan ketebalan kurang dari 1 meter hingga lebih dari 100 meter.

Tingkat serpentinisasi dihitung mulai dari zona kontak pada batuan peridotit.

Proses serpentinisasi mineral olivin akan terjadi dalam kondisi sebagai

berikut:

a. Adisi/penambahan air.
b. Pencucian magnesia atau adisi/penambahan silica.
c. Pelepasan unsur besi didalam (Mg,Fe) olivin sebab didalam

serpentin tidak terdapat unsur besi.


d. Perubahan unsur besi dari ferro menjadi ferri yang membentuk

mineral magnetit. Oleh karena itu batuan yang mengalami serpentinisasi

umumnya akan bersifat lebih magnetik.


4. Kondisi dari proses serpentinisasi

Dengan hadirnya air dan silika bebas, maka olivin akan teralterasi menjadi

o o o
serpentin pada temperature sekitar 200 C - 500 C. Diatas 500 C, olivin akan

berubah menjadi mineral mineral lain, seperti sebagai berikut :


o o
a. 200 C - 500 C, olivin akan berubah menjadi serpentin.
o o
b. 500 C - 625 C, olivin akan berubah menjadi talk.
o o
c. 625 C - 800 C, olivin akan berubah menjadi enstatit kemudian menjadi

talk.
o
d. 800 C, olivin akan berubah menjadi enstatit (piroksen).

Di bawah ini suatu perbandingan komposisi dan densitas dari Olivin dengan

serpentin :

Tabel 1. Perbandingan Olivine dan Serpentine


Olivine Serpentin
Komposisi : Mg2SiO4 H4Mg3Si2O9
Komposisi sebagai oksida : 2MgO.SiO2 3MgO.2SiO2.2H2O
MgO 57.3% 43.0%
SiO2 42.7% 44.1%
H2O (LOI) 0.0% 12.9%
Densitas 3.2 2.2-2.4
5. Reaksi Proses Serpentinisasi

Pada dasarnya, penambahan air, penambahan silika atau perpindahan

magnesia termasuk dalam proses serpentinisasi dari olivin. Ada tiga

kemungkinan yang bisa dicapai perubahan akumulasi berat dan volume dari

massa batuan :

a. Penambahan air dan silika (serpentinisasi oleh kenaikan volume dan berat)
Serpentin membawa air dan lebih banyak silika daripada olivin, 2

komponen ini telah ditambahkan untuk menserpentinitkan olivin.


3Mg2SiO4 + 4 H2O + SiO2 = 2H4Mg3Si2O9
forsterit air silica serpentin
72.6 gm 13 gm 10.8gm 100 gm (+ 31 % total peningkatan

berat) 23.6 cc 39.3 cc (+ 68 % total peningkatan volume) 0.218 gm Ni

0.218 gm Ni
1.3 % Ni 0.218 % Ni (penurunan relatif 27 %)
Masalah yang terjadi dari model di atas adalah kebanyakan

serpentinisasi tidak menunjukkan adanya tanda dari penambahan volume

yang signifikan. Biasanya pseudomorph dari serpentin setelah olivin tidak

dapat dijelaskan dengan mekanisme tersebut.


b. Serpentinisasi pada volume konstan (pemindahan magnesia dan silika)
Yang disebut volume konstan selama proses serpentinisasi adalah

perubahan jumlah magnesia dan sedikit silika yang dibutuhkan diubah dari

sistem. Jumlah total yang diubah mencapai 31 % dari berat total olivin murni.

Hasil ini tidak terdapat perubahan volume dari olivin ke serpentin.

5 Mg2SiO4 + 4 H2O = 2H4Mg3Si2O9 + 4 MgO + SiO2

forsterit air serpentin

126.8 13 100 gm 29 gm + 10.9 gm

gm 39.8 cc gm 39.8 cc (terubah dalam

0.380 gm Ni (diasumsikan semua nikelreaksi)


berada di dalam serpentin)

0.3 % Ni 0.38% Ni (peningkatan relatif 27 %)

Reaksi di atas diasumsikan bahwa semua nikel berada didalam

pembentukan serpentin yang paling baru, kemudian proporsi relatif dari nikel

di dalam batuan ultramafik telah mengalami peningkatan sekitar 27%.

c. Serpentinisasi pada volume konstan (pembentukan Brucite, Mg(OH)2)


Merupakan salah satu proses serpentinisasi pada volume konstan

lainnya yang melibatkan penambahan air yang lebih dibandingkan dengan

dua proses sebelumnya. Dibawah ini merupakan pembentukan brucite,

sebuah mineral hidrous magnesian.

2 Mg2SiO4 + 3 H2O = H4Mg3Si2O9 + Mg(OH)2


forsterit air serpentin Brusit

72.4 gm 19.5 gm 100 gm 21.1 gm

22.6 cc 19.5 cc 42.1cc 8.8 cc (terubah dalam reaksi)

0.217 gm Ni (diasumsikan semua nikel berada di dalam serpentin)

0.3 % Ni 0.217% Ni (penurunan relatif 27 %)

Sementara serpentin dapat berasal dari sebagian/beberapa mineral

ferromagnesian, pada bagian bawah di fokuskan pada olivine yang

terserpentinikan yang menjadi komponen utama sebagian besar batuan

ultramafik pada daerah telitian.

6. Derajat Serpentinisasi

Batuan ultramafik yang telah mengalami proses serpentinisasi dapat

dibedakan berdasarkan derajat serpentinisasinya. Berikut adalah penentuan tingkat

serpentinisasi pada batuan grup peridotit berdasarkan persentase serpentin (Ade

Kadarusman, 2013) :

Tingkat Serpentinisasi Sangat Rendah :<5%


Tingkat Serpentinisasi Rendah : 5-39 %
Tingkat Serpentinisasi Sedang : 40-59 %
Tingkat Serpentinisasi Tinggi : 60-100 %

F. Analisis Unsur Ni yang Pernah Dilakukan

Beberapa metode analisis logam telah banyak dilakukan dan dikembangkan

oleh para peneliti, antara lain menggunakan teknik dasar spektrometri, ekstraksi,

elektrokimia dan kromatografi. Beberapa penelitian tentang penentuan unsur nikel

dan unsur-unsur lain dalam berbagai sampel termasuk mineral laterit. Pada

umumnya para peneliti hanya dipusatkan pada penentuan kandungan unsur-unsur


atau analit dalam sampel. Menurut Riska (2008), telah melakukan analisis nikel

dengan metode uji noda menggunakan gravimetri. Penelitian dilakukan untuk

mengetahui kandungan nikel dalam sampel dan mengetahui interaksi antara silika

gel dengan dimetilglioksim. Sebelum dilakukan uji noda, untuk analisis ion nikel

dalam sampel terlebih dahulu dianalisis dengan metode gravimetri. Uji noda

dilakukan pada silica gel dan kertas saring menggunakan pengompleks

dimetilglioksim membentuk komples berwarna merah. Hasil penelitian

disimpulkan bahwa konsentrasi ion nikel dalam sampel menggunakan metode

gravimetric sekitar 40 ppm demikian juga menurut hasil uji coba. Irwanuddin,

K.Sofjan, dkk (2004), melakukan penelitian tentang identifikasi unsur nikel

dengan Teknik Laser Induced Plasma (LIP). Dari hasil penelitian diperoleh

spectrum garis untuk identifikasi unsur Nikel kadar tinggi dan rendah dalam

batuan tambang menggunakan metode Laser Induced Plasma (LIP). Plasma

dibangkitkan dengan memfokuskan berkas laser daya tinggi pada sampel batuan

tambang tanpa perlakuan awal. Dari hasil penelitian diperoleh spectrum garis

unsur Nikel dengan limit deteksi terendah sebesar 76,61 ppm pada emisi Ni(II)

279,7 nm.
BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu Dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016, di daerah IUP PT. Antam

Tbk.

Gambar 7. Peta lokasi penelitian

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang diajukan yaitu penelitian langsung di lapangan atau

observasi langsung di lapangan.


C. Instrumen Penelitian
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat

pada Tabel 2 dan Tabel 3 berikut :

Tabel 2. Alat beserta fungsi/kegunaan


No
Alat Kegunaan
.
Sebagai alat untuk melakukan orientasi
Kompas Geologi medan/pengeplotan titik pengamatan, mengukur
1
(Brunton) kelerengan morfologi dan untuk mengukur data
struktur baik struktur primer maupun sekunder.
Sebagai alat untuk menentukan lokasi koordinat
2 GPS
lokasi penelitian
3 Palu Geologi Sebagai alat untuk menyampling batuan
Sebagai alat untuk membantu dalam pengukuran
4 Papan Clipboard
strike dan dip pada suatu singkapan batuan
Kamera Sebagai alat untuk mengambil data dokumentasi
5
lapangan
6 Alat Tulis Menulis Sebagai alat tulis menulis di lapangan
Sebagai alat untuk mengamati sampel batuan serta
7 Lup
untuk mengamati mineral penyusun batuan
8 Busur Derajat Sebagai alat bantu dalam orientasi medan
Sebagai alat bantu untuk melakukan pengeplotan
9 Mistar 30 cm
titik kordinat di lapangan
Sebagai alat untuk memberikan keterangan warna
10 Pensil Warna
batuan pada suatu singkapan batuan
Mikroskop Untuk mengamati dan mendeskripsikan sayatan
11
polarisasi sampel batuan

Tabel 3. Bahan Beserta Fungsi/Kegunaan


No
Bahan Kegunaan
.
Sebagai bahan mencatat data-data yang ada pada
1 Buku Lapangan
saat melakukan observasi
Sebagai peta dasar untuk melakukan orientasi
2 Peta Topografi medan dan pengeplotan titik pengamatan di
lapangan.
3 Sampel batuan Sebagai bahan pengamatan di lapangan

D. Prosedur Penelitian
1. Tahapan persiapan lapangan

Pada tahapan persiapan hal-hal yang dilakukan meliputi :

a. Persiapan perlatan lapangan


Persiapan peralatan lapangan seperti yang tertera pada tabel 2 alat yang

telah digunakan dan pada tabel 3 bahan yang telah digunakan.


b. Studi pustaka
Studi pustaka yaitu pengumpulan bahan dan literatur termasuk data

sekunder yang meliputi geologi regional pada daerah penelitian, peta geologi,

peta dasar, dan peta penelitian.


2. Tahap pengumpulan data

Pada tahap pengumpulan data berupa data primer yaitu mapping atau yang

lebih dikenal sebagai pemetaan geologi adalah suatu rangkaian kegiatan

memetakan suatu daerah penelitian kedalam bentuk peta-peta (Peta Kerangka,

Peta Geomorfologi, Peta Pola Jurus, dan Peta Geologi).

3. Tahapan analisi data


a. Analisis petrografi

Analisis petrografi rinci menggunakan mikroskop polarisasi untuk

mengidentifikasi karakteristik batuan, baik dari aspek mineralogi, tekstur

pengendapan, serta perkembangan proses-proses diagenesa yang telah

berlangsung. Ketiga aspek tersebut tahap selanjutnya dipakai sebagai acuan

untuk mengevaluasi sejauh mana pengaruh serpentinisasi terhadap kadar nikel

(Ni) yang terdapat di daerah tersebut.

b. Analisis XRF
XRF merupakan alat yang digunakan untuk menganalisis komposisi

kimia beserta konsentrasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu sample

dengan menggunakan metode spektrometri. XRF umumnya digunakan untuk

menganalisa unsur dalam mineral atau batuan. Analisis unsur dilakukan secara

kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk menganalisis

jenis unsur yang terkandung dalam bahan dan analisis kuantitatif dilakukan

untuk menentukan konsentrasi unsur dalam bahan.

c. Hasil analisis serpentinisasi


1) Pengaruh serpentinisasi terhadap kadar nikel (Ni) pada daerah

penelitian.
2) Peta sebaran serpentinisasi pada daerah penelitian.
4. Tahapan penyelesaian dan penyusunan laporan

Pada tahapan ini semua data yang telah diperoleh pada kedua analisis

tersebut diatas akan dibuatkan laporan.


E. Diagram Alir Penelitian

Persiapan

- Administrasi Studi pustaka


- Perlengkapan

Pengambilan data Lapangan

Data sekunder Data primer

Data Assay - Mapping Litologi


(data bor) - Pengambilan sampel
batuan

Pengolahan data laboratorium

Analisis XRF Analisis petrografi


(Kadar) (Mineralogi)

Hasil Analisis Pengaruh Serpentinisasi terhadap Kadar Nikel (Ni)


pada Daerah IUP PT. Antam Tbk Pomalaa
Gambar 8. Diagram Alir Penelitian