Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN HASIL KEGIATAN INDIVIDU PADA TUAN Y

TENTANG PEMASANGAN INFUS DI RUANGAN UGD

PUSKESMAS KARANG TALIWANG

PADA TANGGAL 02 FEBUARI 2013

Oleh

NAMA : HAJRATUL ASWAD

NIM : 55 SYE BID 12

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI D.III KEBIDANAN

2013

LEMBAR PENGESAHAN
2

Laporan ini dibuat sebagai hasil tindakan Praktek Laboratorium Klinik Kebidanan

Di Puskesmas Karang Taliwang

Tanggal 28 Januari s/d 10 Febuari 2013

Disahkan pada tanggal :

Tempat : Puskesmas Karang Taliwang

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lahan

( Yopi Suryatim Pratiwi S.sit) (Hj. Masnah Ishaka, SST)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, taufik

serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan Laporan Individu Prodi DIII Kebidanan

STIKES YARSI Mataram.


3
333333333

Penulisan laporan ini dalam rangka menerapkan laboratorium klinik KDPK

dan Konsep Kebidanan yang merupakan salah satu mata kuliah atau kurikulum yang

harus dilalui dalam proses pendidikan kebidanan.

Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dan

masih banyak kekurangan, dan kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ns. Agus Supinganto, M.Kes selaku Ketua STIKES Yarsi Mataram yang telah

memberikan kesempatan kepada mahasiswi kebidanan untuk turun praktek di

Puskesmas Karang Taliwang


2. Bq. Citra Lestari, S.ST selaku Ketua Prodi DIII Kebidanan STIKES Yarsi

Mataram yang memberikan bimbingan dan kesempatan kepada mahasiswi

kebidanan praktek di Puskesmas Karang Taliwang.


3. Dr. H. Usman Hadi selaku PLT Puskesmas Karang Taliwang Karang yang

memberikan kesempatan kepada mahasiswi kebidanan untuk praktek di

Puskesmas Karang Taliwang.


4. Hj. Masnah Ishaka, S.ST selaku Pembimbing Lahan yang memberikan

pengarahan serta bimbingannya kepada kami selama menjalankan praktek di

puskesmas Karang Taliwang.


5. Yopi Suryatim Pratiwi. S.SiT selaku Pembimbing Institusi yang memberikan

bimbingan serta dukungan kepada mahasiswa.


6. Ibu-ibu bidan, perawat dan petugas Lab yang telah banyak membantu dalam

praktek.

Penyusun sangat mengharapkan saran dan masukan dari pembimbing lahan

maupun pendidikan guna untuk memperbaiki kesalahan pada laporan ini. Semoga

laporan ini dapat bermanfaat.


4

Mataram, 2 Februari 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i

LEMBARAN PENGESEHAN......................................................................... ii

KATA PENGANTAR........................................................................................ iii

DAFTAR ISI...................................................................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1


1.2 Tujuan................................................................................................... 2
1.3 Manfaat................................................................................................. 2

BAB 2 TINJUAN TEORI................................................................................. 4

2.1 Pemasangan Infus................................................................................ 4


2.2 Hal-hal yang perlu diketahui sebelum pemasangan infus..................... 5
2.3 Jenis-Jenis Cairan Infus........................................................................ 8
2.4 Langkah-Langkah Persiapan Pemasangan Infus.................................. 10

BAB 3 TINJAUAN KASUS.............................................................................. 14

3.1 Pengkajian............................................................................................. 14
3.2 Diagnosa............................................................................................... 15
3.3 Rencana dan Tindakan.......................................................................... 15
3.4 Hasil Kegiatan ...................................................................................... 17
BAB 4 PEMBAHASAN................................................................................... 18

BAB 5 PENUTUP.............................................................................................. 19

5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 19


5.2 Kritik Dan Saran .................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1

PENDAHULUAN
5
555555555

1.1 Latar Belakang


Pemasangan infus merupakan proser invasi dan tindakan yang sering

dilakukan di Rumah Sakit maupun di Puskesmas. Yang bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan cairan dan elektrolit . Tindakan pemasangan infus akan berkualitas apabila

dalam pelaksanaan selalu mangacu pada standar yang telah ditetapkan, sehingga

kejadian infeksi atau brbagai permasalah akibat pemasangan infus dapat dikurangi

bahkan tidak terjadi (Pri Harjo, 2006).


Pemasangan infus digunakan untuk mengobati berbagi kondisi penderita di

semua lingkunga perawatan di rumah sakit maupun puskesmas dan merupakan satu

terapi utama. Sebanyak 60% pasien yang dilakukan rawat inap mendmpatkan terapi

cairan infus. Sistem terapi ini memungkinkan terapi berefek langung, lebih cepat,

lebih efektif, dapat dilakukan secara kontinue dan penderitapun merasa lebih nyaman

jika dibndingkan dengan cara lainnya (Hinlay, 2006).


Dari permasalah diatas dapat diambil proses tindakan pemasangan infus

yang di lakukan pada Tn Y di Puskesmas Karang Taliwang. Yang dapat dijadikan

sebgai bahan pengumpulan hasil kegiatan atau laporan Keterampilan Dasar Praktek

Klinik .

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah dilaksanakan praktek laboratorium praktik klinik diharapkan

mahasiswa mampu melakukan pemasangan infus.


1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan praktek laboratorium klinik mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menerapkan pemasangan infus sesuai dengan prosedur.
6

2. Berkomunikasi dan menjelaskan kepada pasien tujuan tindakan pemasangan

infus.
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Institusi Pendidikan
1. Dapat menjadikan acuan praktik mahasiswa berikutnya
2. Dapat dijadikan sebagai motivasi bagi mahasiswa untuk meningkatkan

pendidikan menjadi lebih maksimal atau menjadi lebih baik


1.3.2 Bagi Puskesmas Karang Taliwang
Dapat dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan, sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara optimal.


1.3.3 Bagi Pembimbing
1. Dapat mengetahui kemampuan mahasiswa di lahan
2. Dapat mengetahui kegiatan mahasiswa selama praktik
1.3.4 Bagi Mahasiswa
1. Dapat dijadikan sebagai lahan pembelajaran dalam melakukan praktik

selanjutnya.
2. Dapat menambah keterampilan dan pengetahuan mahasiswa untuk menerapkan

teori-teori yang diperoleh di kampus.


3. Dapat dijadikan sebagai motivasi bagi mahasiswa supaya pada saat melakukan

praktik ditempat yang lain dapat memberikan pelayanan yang lebih memuaskan

bagi pasien.

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pemasangan Infus


2.1.1 Pengertian
Pemasangan infus adalah pemberian sejumlah cairaan kedalam tubuh

melalui sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembulu balik) untuk menggantikan

cairan atau Zat-Zat makan dari tubuh. Keadaan-keadaan yang dapat memerlukan

pemberian cairan infus ( Hidayat ; 2011 ) .


7
777777777

1. Perdarahan dalam jumlah banyak ( kehilangan cairan dalam tubuh dan

komponen darah )
2. Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
3. Faktur tulang, khususnya dipelvis (panggul) dan paha.
4. Kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi
5. Diare dan demam
6. Luka bakar luas
7. Semua trauma kepala, dada, fan tulang punggung ( Hidayat ; 2011 ).
2.1.2 Tujuan :
Menurut Ambarawati ( 2011 ) Tujuan Pemasangan Infus adalah :
1. Sebagai pengobatan
2. Mencukupi kebutuhan akan cairan, elektrolit, vitamin, protein lemak, dan

kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral.


3. Sebagai makanan bagi psien yang tidak dpat/ tidak boleh makan melalui

mulut.

Menurut Hidayat ( 2011 ) tujuan pemasangan infus adalah :

1. Memperbaiki keseimbangan asam basa.


2. Memperbaiki volume komponen-komponen darah
3. Memperbaikai jalan masuk untuk pemberian obat-obatan dalam tubuh
4. Memonitor tekanan Vena Central (CVT)
5. Memberikan nutrisi pada saat sisitem pencernaan diistrahatkan.

2.2 Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Pemasangan Infus:


2.2.1 Tujuan Pembelajaran :
1. Memahami anatomi vena yang terkait dengan pemasangan infus
2. Memahami pemberian cairan yang baik dan benar
3. Memahami alat-alat pemasangan infus
4. Memahami tehnik pemasangan infus
2.2.2 Tujuan Terapi Intra Vena :
a. Mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
b. Sebagai akses pemberian obat, kemoterapi dan tranfusi darah serta produk

darah
c. Memberikan parenteral nutriens
d. Pra dan pasca bedah sesuai program.
2.2.3 Resiko Pemasangan Infus :
a. Perdarahan
b. Infiltrasi (dimana cairan infus masuk kedalam jaringan disekitar pembulu

darah)
8

c. Infeksi
d. Overdose (karena respon obat i.v. lebih cepat)
e. Inkompabilitas antara obat dengan cairan infus ketika dicampur
2.2.4 Pedoman Pemilihan Vena :
a. Gunakan vena distal terlebih dahulu
b. Gunakan lengan pasien yang tidak dominan jika mungkin
c. Pilih vena diatas area fleksi
d. Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat

kedalam kateter
e. Palpasi vena untuk menentukan kondisinya. Selalu pilih vena yang

lunak,penuh.
f. Pastikan lokasi yang dipilih tidak mengganggu aktifitas pasien
g. Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur yang

direncanakan.
9
999999999

2.2.5 Perbedaan Vena & Arteri :

2.2.6 Hindari Tipe-Tipe Vena :


a. Vena yang telah digunakan sebelumnya
b. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau flebitis
c. Vena yang keras dan sklerotik
d. Vena kaki, karena sirkulasi lambat dan komplikasi sering terjadi
e. Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke
f. Vena yang dekat area terinfeksi
g. Vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium.
10

2.2.7 Anatomi Tempat Pemasanagan Infus :

Gambar 2.1 Anatomi Tempat Pemasangan Infus (Rudy, 2012)


11
111111111111111111

2.3 Jenis- Jenis Cairan Infus


2.3.1 Cairan Hipotonik :
Osmolaritasnya lebih rendah di bandingkan serum (konsentrasi ion Na +

lebih rendah dibndingkan serum) sehingga larutan dalan serum, dapat mnurunkan

osmalarita serum. Maka cairan ditarik dari pembuluh darah keluar ke jaringan

sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah keosmolaritas tinggi )

sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju ( Perry; 2005 ).


Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi. Misalnya pda paien cuci

darah (dialisis) dalam terapai diuretik, juga pada pasien hiperglikimia ( kadar gula

darah tinggi ) dengan ketoasidosis dia betik. Komplikasi yang membahayan adalah

perpindaha cairan yang secara tiba-tiba melalui pembuluh darah ke sel,

menyebabkan kolapskardiofaskuler dan meningkatkan tekanan intrakarnial (dalam

otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCL 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2.3.2 Cairan Isotonik
Osmolaritas (tingkat kepekaan) cairan mendekati serum (bagian cair dari

komponen darah) sehingga terus berada dalam pembulu darah. Bermanfaan pada

pasien yang mengalami hipovolemi ( kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan

darah terus menurun). Memiliki resiko kejadian overload ( kelebihan cairan),

khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah

cairan Ringer Lekta (RL), dan normal sliene/ larutan garam fisiologis (NaCL 0,9% )

( Perry; 2005 ).

2.3.3 Cairan Hipertonik


Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan

dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan
12

tekanan darah, meningkatkan produktivitas urin, dan mengurangi edema

(bengkak).Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya dextose

5%, Nacl 45% hipertonik, Dextrose5%+Ringer-Lactate, Dextrose5%+Nacl 0,9%,

produk darah (darah), dan albumin (Perry; 2005 ) .

Pembagian Cairan Berdasarkan Kelompoknya:

1. Kristaloid B bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume

cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat,

dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera . Misalnya Ringers

Laktat dan garam fisiologis.


2. Koloid Ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan

keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, makanya

sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah.

Contohnya adalah albumin dan steroid.


Contoh:
a.Natrium klorida 0,9 % komposisi: NaCL : 4,5 gr
b. Air untuk injeksi : 500 ml
c.Osmolaritas : 308 mO sm/1: 154 mEq/1
d. Ringer lakta Komposisi : Natrium Lakta, C3H5NaO3: 1,55 gr Natrium

Klorida, NaCl : 3,0 gr Kalium Klorida KCl : 0,15 gr Klasium Klorida CaC

12.2H2O : 0,1 gr Air untuk injrksi : 500 ml Osmolaritas : 274 mOsm/1.


2.4 Langkah Langkah Persiapan Pemasangan Infus
2.4.1 Persiapan
1. Petugas Kesehatan
a. Cuci tangan: untuk mencegah infeksi nosokomolial.
b. Memakai APD ( Alat Pelindung Diri )
c. Sarung tangan
d. Masker
e. Kaca mata google( untuk pasie khusu) untuk melindingi mata petugas.
2. Masalah Pada Pasien :
a. Takut, cemas
b. Tegang
Langkah-Langkah Yang Dapat Mendorong Pasien Kerja Sama :
13
131313131313131313

a. Tunjukan sikap percaya diri


b. Beri salam kepada pasien dengan menyebut namanya
c. Perkenalkan diri
d. Valaidasi identifikasi pasien
e. Jelaskan proedur yang mudah dimengerti oleh pasien/ kelurga
f. Libatkan orang tua (terutama pada anak dan bayi) ( Rudy; 2012 ).
3. Alat-Alat Untuk Pemasangan Infus
Menurut Ambrawati (2012), alat-alat pemasangan infuse:
a. Baki yang telah dialasi
b. Handuk kecil
c. Bengkok
d. Tiang infus
e. Sarung tangan
f. Tornikquet
g. Kapas alkohol
h. Cairan infus
i. Infus set
j. Abochat
k. Plester/ hepafik
l. Kassa steril
m. Gunting plester
n. Jam tangan
o. Buku catatan
p. Bengkok
2.4.2 Prosedur Pemasangan Infus
Menurut Ambarawati (2012), Prosedur Pemasangan Infuse:
1. Beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2. Dekatkan alat
3. Pasang sampiran
4. Atur posisi pasien senyaman mungkin
5. Pasangan perlak dan pengalas dibawah daerah yang akan dipasang infus.
6. Cuci tangan
7. Pakai sarung tangan
8. Buka kemasan steril infus
9. Gantungkan cairan infus pada tiang infuse.
10. Atur klem rol sekitar 2-4 cm dibawah balik drip dan tutup klem pada saluran

infus.
11. Tusukkan pipa saluran infus ke dalam botol cairan dan tabung tetesan diisi

setengan dengan cara memencet tabung tetetsan infus.


12. Buka klem dan aliran cairan keluar sehingga tidak ada udara pada selang

infus lalu tutup kembali klem.


13. Cari dan pilih vena yang akan pasang infus.
14

14. Letakkan terniquet 10-12 cm diatas tempat yang akan ditusuk (bila

pemasangan infus dilakukan pada daerah ekstremitas )


15. Desinfeksi daerah pemasangan secara sirkuler.
16. Tusukkan jarum abbocath ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas

(apabila berhasil darah akan keluar da dapat lihat pada pipat abbocath)
17. Dorong pelan-pelan abbocath masuk kedalam vena sambil menarik pelan-

pelan jarum abbochat masuk semua kedelam vena.


18. Sambugkan keras abocath dengan selang infus.
19. Lepaskan terniquet dan longgarkan klem untuk melihat kelancaran tetesan.
20. Bila tetesan sudah lancar, pangkal jarum diretakan pada kulit dengan plester.
21. Atur tetesan sesuai kebutuhan
22. Tutupkan tempat jarum atau tempat tusukan dengan kassa steril
23. Bereskan alat-alat dan rapikan pasien
24. Lepaskan sarung tangan
25. Cuci tangan
26. Dokumentasi / evaluasi meliputi ( Rudy ; 2012 )
a. Tangggal dan waktu penggantian slang infus, tuliskan semua semua selang

tambahan.
b. Tanggal waktu dan isi cairan infus.
c. Kecepatan aliran infus, termasuk perubahan kecepatan berikutnya.
d. Peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur aliran
e. Pengkajian tempat penusuka infus secara teratur
f. Komplikasi tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki maslah.
g. Waktu saat terapi infus diperhentikan dan apakah kateter untuh saat

dilepas
h. Obserfasi kondisi kateter dua kali tiap shift ( untuk dewasa) dan tiap jam

untuk anak-anak.

BAB 3

TINJAUAN KASUS

LAPORAN HASIL KEGIATAN PEMASANGAN INFUS

DI RUANGAN UGD PUSKESMAS KARANG TALIWANG


15
151515151515151515

02 Febuari 2013

Hari / Tanggal : Sabtu, 2 Febuari 2013

Waktu : 10.00 WITA

Tempat : R. UGD

3.1 PENGKAJIAN
3.1.1 Identitas

Nama : Tuan Y
Umur : 30 tahun
Suku : SASAK
Agama : ISLAM
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : PETANI
Alamat : MONJOK

3.1.2 Keluhan Utama


Pasien datang dengan keluahan panas naik turun, pusing, nyeri ulu hati, mual

muntah setiap kali masuk makanan.

3.2 DIAGNOSA

Tn, Y dengan Febris.

3.3 RENCANA DAN TINDAKAN


3.3.1 Rencana Asuhan Menyeluruh
1. Persiapan alat
2. Menjelaskan tindakan yang akan di berikan kepada pasien
3. Persiapan pasien
3.3.2 Pelaksanaan Asuhan
Tanggal : 02 Februari 2013
Waktu : 10.15 WITA
1. Persiapan Alat
a. Infu set
b. Cairan infus
c. Abochat
16

d. Gunting plester
e. Plester
f. Kassa steril
g. Betadin
h. Kapas alkohol
i. Com
j. Bengkok
k. Buku catatan
l. Tiang infus
2. Porosedur pemasangan infus
a. Memeberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
b. Mendekatkan alat samping lengan pasien yang dipasangakan infus
1) Gunting plester dan letakan pada tiang infus
2) Tuangkan petadin sedikit di kassa steril dan letakkan kassa pada kom yang

disediakan.
3) Kapas alkohol
c. Atur posisi pasien
d. Buka kemasan steril infus
e. Gantung cairan infus pada tiang infus
f. Atur klem rol 2-4 cm dibawah balik drip dan tutup klem yang ada pada sluran

infus.
g. Tusuk pipa saluran infus kedalam botol cairan dan tabung tetesan diisi

setengah dengan cara memencet tabung yang berisi cairan infus.


h. Buka klem dan alirkan cairan keluar sehingga tidak ada udara pada selang

infus lalu tutup kembali klem.


i. Cari dan pilih vena yang akan dipasang infus
j. Desinfeksi daerah pemasangan secara sirkuler dengan menggunakan kapas

alkohol.
k. Minta bantuan teman untuk memegang tangan psien 10-12 cm diatas tangan

yang ingin ditusuk agar vena bisa terlihat dengan jelas.


l. Tusuk jarum abochat ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas

(apabila berhasil darah akan keluar dan akan terlihat pada abochat)
m. Dorong pelan-pelan abochat masuk kedalam vena sambil menarik pelan-pelan

jarum abochat sehingga semua plastik abochat masuk semua ke vena.


n. Sambungkan segera abochat dengan selang infus
17
171717171717171717

o. Menganjurkan kepada teman untuk melepaskan tangananya, dan longgarkan

klem untuk melihat kelancaran tetesen.


p. Bila tetesan sudah lancar, pangkal jarum direkatakan pada kulit dengan

menggunakan plester
q. Tutup tempat jarum atau tempat tusukan dengan kapas yang berisi betadin.
r. Atur tetesan sesuai dengan kebutuhan
s. Beresakan alat-alat dan rapikan pasien
t. Lepaskan sarung tangan
u. Cuci tangan
v. Dokumentasi tindakan yang telah dilakukan
3.4 Hasil kegiatan

Dari hasil kegiatan di atas tuan Y telah dipasang infus dengan :

1. Infus RL (Ringer Laktal).


2. Jumlah tetesan 20 tetes permenit.

BAB 4

PEMBAHASAN

Dari hasil praktek saya di lahan banyak terjadi kesenjangan antara teori dan

praktik. Di teori ada tindakan cuci tangan dan memakai sarung tangan sedangkan

dilahan tidak dilakukan, karena yang melakukan tindakan pemasangan abochat

adalah perawat di Ruang UGD PKM Karang Taliwang. Tindakan pemasangan infus

ini tidak semuanya dilakukan secara mandiri, disini saya hanya membantu

mempersiapkan alat, memegang tangan pasien agar vena pasien terlihat dengan jelas,

membantu menyambung selang infus dengan abochat, dan mengatur tetesan infuse.

BAB 5

PENUTUP
18

e.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat saya simpulkan bahwa :

5.1.1 Mahasiswa mampu melakukan pemasangan infus sesuai dengan prosedur

selama praktik dilaksanakan.


5.1.2 Mahasiswa mampu berkomunikasi dengan baik dan menjelaskan prosedur

yang dilakukan dan Tn, Y sudah memahami dengan tujuan pemasangan

infus.
e.2 Saran
5.2.1 Bagi Pendidikan
Kami mengharapkan kepada pembimbing pendidikan untuk mempertahankan

dan meningkatkan bimbingan kepada para mahasiswa yang melaksanakan praktik

untuk dapat menerapkan teori yang telah diperoleh dari kampus, sehingga dapat

mengasah keterampilannya.
5.2.2 Bagi Pembimbing Lahan
Kami berharap pada pembimbing atau bidan dapat membimbing dan

mengajarkan para mahasiswi dengan baik.


5.2.3 Bagi Mahasiwa
Kami harapkan kepada mahasiswa yang sedang praktek untuk dapat

menerapkan teori yang telah didapatkan di kampus maupun di lahan praktek dengan

sebaik-baiknya dan selalu menjaga kesterilan dari alat dan bahan serta berlaku jujur,

sopan, ramah, dan taat pada peraturan praktek, sehingga apa yang dikerjakan dapat

bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarawati, Eny Retna. dkk.,2009. KDPK Kebidanan.Nusa Medika: Yogyakarta


Uliyah, Musrifatul, A. Azis Alimul Hidayat.2008.Keterampilan Dasar Praktek Klinik
Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika.
http://www.widatra.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=79&itemid=59&lang=en
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/124/jtptunimus-gdl-srimulyani-6170-1-babi.pdf
19
191919191919191919

http://duniaaaqu.wordpress.com/2011/11/01/infus-cairan-intravena-macam-macam-
cairan-infus/