Anda di halaman 1dari 12

Zona Intertidal

August 30, 2015 / Eskasatri

17 Votes

*Cover

TUGAS MAKALAH BIOLOGI LAUT


ZONA INTERTIDAL

Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Biologi Laut

Disusun oleh kelompok 1:


MARDIANA ZUMROH 230110100001
GUNAWAN PRAMONO 230110100003
ILHAM FAUZI 230110100005
ESKASATRI 230110100006
ADRIO JULIARDI 230110100007
CHRISTINA SIREGAR 230110100096

PROGRAM STUDI PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan berbagai macam keindahan
pulau dan juga berbagai macam ekosistem yang terkandung didalamnya. Ekosistem pesisir
dan lautan merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya
menyulitkan kita untuk dapat membicarakan secara utuhsebagai suatu kesatuan. Sehingga
terkadang kita harus membaginya menjadi sub-bagian yang dapat dikelola agar lebih mudah
dipahami. Selanjutnya, masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi
yang menentukan kemampuan adaptasi organism dalam suatu komunitas.

Ekosistem pesisir dan laut merupakan ekosistem alamiahyang produktif, unik dan
mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Kawasan pesisir memiliki sejumlah
fungsi ekologis berupa hasil sumberdaya, penyedia jasa kenyamanan, penyedia kebutuhan
pokok hidup dan penerima limbah (Bengen, 2002).

Salah satu perairan laut Indonesia memiliki zona intertidal. Wilayah pesisir atau
coastal adalah salah satu sistem lingkungan yang ada, dimana zona intertidal merupakan zona
yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan luas area yang sempit antara daerah
pasang tertinggi dan surut terendah. Zona intertidal dapat juga diartikan sebagai bagian laut
yang paling banyak dikenal serta terdiri dari daerah pantai berbatu, pantai berpasir, dan pantai
berlumpur serta memiliki keragaman faktor lingkungan. Hanya zona inilah tempat penelitian
terhadap organism perairan dapat dilaksanakan secara langsung selama periode air surut
tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona ini telah diamati oleh manusia dalam waktu cukup
lama.

Di dalam zona intertidal terdapat substrat yang berbeda seperti pasir, batu, dan
lumpuryang menyebabkan adanya fauna dan struktur komunitas di daerah intertidal.
Tampaknya oksigen bukanmerupakan faktor pembatas kecuali pada keadaa tertentu. Nutrient
dan pH juga tidak penting bagi organism seta struktur komunitad di daerah intertidal.

Tata ruang sebagai wujud structural ruang dan pola penggunaannya secara terencana
atau tidak dari bagian permukaan bumi di laut dan pesisir, dikenal selama ini sebagai objek
dalam memenuho berbagai kebutuhan manusia. Selain mengandung beranekaragam
sumberdaya alam dan jasa lingkungan yang telah dan sementara dimanfaatkan manusia,
ruang laut dan peisisr menampilkan berbagai isu menyangkut keterbatasan dan konflik dalam
pemanfaatannya. Untuk mengharapkan keberlanjutan fungsi dimensi ekologi yang dimiliki
kawasan pesisir perlu ditingkatkan upaya pelestarian dan pemanfaatan segenap sumberdaya
yang ada di dalamnya secara berkelanjutan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah tentang zona intertidal antara lain:

Untuk menganalisa bagaimana proses kehidupan organisme (biota) yang terdapat di


zona intertidal

Mengetahui cara-cara pengelolaan di zona intertidal

Merumuskan bentuk pengelolaan pada zona intertidal

Mengetahui lebih lanjut akan zona intertidal


1.3 Manfaat

Sebagai bentuk pemahaman akan kondisi lingkungan dan jenis biota yang ada di zona
intertidal untuk dijadikan sebagai pengelolaan zona intertidal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Zona Intertidal

Zona intertidal merupakan zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan
luas area yang sempit antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah. Zona intertidal dapat
juga diartikan sebagai bagian laut yang paling banyak dikenal serta terdiri dari daerah pantai
berbatu, pantau berpasir, dan pantai berlumpur serta memiliki keregaman faktor lingkungan.
Zona intertidal merupakan daerah laut yang dipengaruhi oleh daratan sehingga mengandung
unsur hara yang tinggi. Daerah ini dapat mencakup berbagai jenis habitat, termasuk batu-batu
karang yang curam, pasir pantai, atau lahan basah (misalnya, luas mudflats).

Gamber 1. Zona
Intertidal
Sumber : yumechantiq.files.wordpress.com

Menurut Nybakken (1988) zona intertidal (pasang surut) merupakan daerah terkecil
dari semua daerah yang terdapat di samudera dunia, merupakan pinggiran yang sempit sekali,
hanya beberapa meter luasnya, terletak antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah.
Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena
sangat mudah dicapai manusia.

Menurut Prajitno (2007) zona intertidal adalah area sempit dalam sistem bahari antara
pasang tertinggi dan surut terendah. Zona kedua merupakan batas antara surut terendah dan
pasang tertinggi dari garis permukaan laut (intertidal). Zona ketiga adalah batas bawah dan
surut terendah dari garis permukaan laut. Pada batas yang berbeda, zona intertidal memiliki
biota yang berbeda serta suhu yang berbeda.
Gambar 2. Bagian Zona Intertidal
Sumber : marlinraunsai-biologiperairan.blogspot.com

Letak zona intertidal yang dekat dengan berbagai macam aktifitas manusia dan
memiliki lingkungan dengan dinamika yang tinggi menjadikan kawasan ini akan sangat
rentan terhadap gangguan.Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap segenap
kehidupan di dalamnya.Salah satu pengaruhnya dapat berupa cara beradaptasi.Dimana
adaptasi ini sangat diperlukan untuk mempertahankan kehidupan biota yang terdapat di zona
intertidal ini.Keberhasilan beradaptasi akan menentukan keberlangsungan organisme di zona
intertidal.

Luas zona intertidal sangat terbatas tetapi meskipun memiliki luas yang terbatas
terdapat variasi faktor lingkungan yang terbesar dibandingkan dengan daerah bahari lainnya
dan variasi ini dapat terjadi pada daerah yang hanya berbeda jarak beberapa sentimeter saja.
Adapun variasi faktor lingkungan ini meliputi suhu,fluktuasi,kecerahan dan lain-
lain.Bersamaan dengan ini terdapat keragaman kehidupan yang sangat besar,lebih besar
daripada yang terdapat di daerah subtidal yang lebih luas.

2.2 Kondisi Lingkungan

Zona intertidal sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya. Kondisi


lingkungan di zona ini cukup bervariasi dan biasanya dipengaruhi oleh faktor harian maupun
musiman.Kondisi lingkungan yang beragam dan berbeda dapat dilihat dari perbedaan
(gradient) yang secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas
biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal
yang dapat berupa daerah pantai berpasir,berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur.
Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi
lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen
biotik (parameter fisika-kimia lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen
makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya.

2.2.1 Pasang surut (Tide)

Faktor pasang surut merupakan peristiwa naik turunnya permukaan laut secara
periodik selama suatu interval waktu.Proses terjadinya pasang surut ini karena adanya
interaksi gaya gravitasi matahari dan bulan terhadap bumi serta gaya sentrifugal yang
ditimbulkan oleh rotasi bumi dan sistem bulan.Umumnya pasang surut mempengaruhi
organisme dan juga komnitas di zona ini karena adanya kontak langsung dengan udara
terbuka secara periodik.

Peristiwa pasang-surut (tide) dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

1. Pasang Purnama, merupakan pasang yang menunjukkan kisaran terbesar (baik naik
maupun turun) dan terjadi ketika bulan dan matahari terletak sejajar sehingga kedua
gayanya bergabung

2. Pasang Perbani ,merupakan pasang yang terjadi apabila matahari dan bulan
membentuk sudut siku-siku dan gayanya saling menetralkan.

Peristiwa pasang surut tentu berkaitan dengan waktu. Hubungan pasang surut dengan
waktu akan menimbulkan suatu fenomena terhadap zona intertidal. Biota yang terdapat di
zona intertidal yang terkena udara dalam waktu yang lama maka akan semakin besar
kemungkinannya mengalami suhu letal(mematikan) atau kehilangan air.

Pasang surut dapat terjadi sekali sehari atau sering juga disebut pasang surut
diurnal,atau dua kali sehari atau disebut juga pasang surut semi diurnal. Dan ada juga yang
berperilaku diantara keduanya disebut dengan pasang surut campuran.Kombinasi antara
pasang surut dan waktu dapat menimbulkan 2 akibat langsung yang nyata pada kehadiran dan
organisasi komunitas intertidal. Akibat pertama yang timbul disebabkan oleh perbedaan
waktu relatif antara lamanya suatu daerah tertentu di intertidal berada di udara terbuka
dengan lamanya terendam air. Lamanya terkena udara terbuka merupakan hal yang paling
penting karena pada saat itulah organisme laut akan berada dalam kisaran suhu terbesar dan
kemungkinan mengalami kekeringan (kehilangan air).

2.2.2 Suhu

Semakin dalam suatu perairan maka suhunya akan semakin dingin dengan kandungan
oksigen yang sedikit,sedangkan perairan yang berada dipermukaan mengalami suhu yang
tinggi dan juga kandungan oksigen yang tinggi.Hal ini dipengaruhi oleh jumlah sinar
matahari yang masuk ke perairan.Pada daerah intertidal suhu juga sangat berpengaruh baik
secara musiman maupun harian.Pada suhu yang tinggi pada daerah intertidal tentu akan
meyebakan kematian terhadap organismenya karena adanya perbedaan suhu tersebut.

Suhu pada suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi surya,posisi surya,letak geografis,
musiman, kondisi awan dan proses anatara air tawar dan air laut.

2.2.3 Salinitas

Salinitas adalah jumlah kandungan garam dalam suatu perairan yang dinyatakan
dalam permil.Pada air laut salinitas yang dikandung tentu akan sangat berbeda dengan air
tawar dan payau.Perbedaan salinitas pada perairan ini tentu memiliki perbedaan biota baik
dalam sistem osmoregulasinya,cara beruaya dan lain-lain.Salinitas yang terkandung pada
perairan dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan seperti muara sungai atau gurun
pasir,adanya musim,dan interaksi air dan udara.Salinitas yang berbeda antara perairan
tawar.payau dan laut akan mengalami perubahan salinitas.
Perubahan salinitas terjadi melaui 2 cara, yaitu:

Salinitas akan menurun apabila zona intertidal terbuka pada saat pasang turun dan
kemudian digenagi air akibat hujan lebat.

Daerah yang menampung air ketika pasang surut turun dapat digenangi oleh oleh air
tawar yang mengalir masuk ketika hujan deras sehingga salinitas menurun atau
kenaikan salinitasa dapat dilihat apabila proses penguapan terjadi.

2.2.4 Gerakan Ombak

Di zona intertidal,gerakan ombak (gelombang) air laut mempunyai pengaruh besar


terhadap kehidupan organisme dibandingkan dengan daerah-daerah laut lainnya. Pengaruh ini
terlihat nyata baik secara langsung maupun tidak langsung.Pengaruh gelombang terhadap
zona intertidal berupa,pengaruh mekanik yang dapat menghancurkan dan menghanyutkan
benda yang terkena,sehingga organisme yang mendiami zona ini harus mampu beradaptasi
dengan kondisi tersebut.Di samping itu,gelombang kuat dapat menjadi pembatas bagi
sebagian organisme. Akan tetapi ada pula sebagian organisme lain yang hanya cocok di
daerah dengan ombak yang kuat. Pengaruh lain dari gelombang yakni mencampur dan
mengaduk gas-gas di atmosfer sehingga meningkatkan kadar oksigen di dalam air.

2.2.5 Faktor Lain

Adanya substrat yang berbeda-bed yaitu pasir, batu, dan lumpurmenyebabkan


perbedaan fauna dan struktur komunitas di daerah intertidal. Hal ini dibicarakan secara
terpisah. Tampaknya oksigen bukan merupan faktor pembatas kecuali pada keadaan tertentu.
Nutrient dan pH juga tidak penting bagi organism dan struktur komunitas.

2.3 Tipe Pantai Intertidal

Dari semua pantai intertidal, pantai berbatu yang tersusun dari bahan yang keras
merupakan daerah yang padat organismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk
jenis hewan maupun tumbuhan.Berbeda dengan pantai berpasir dan berlumpur yang memiliki
jumlah dan keanekaragaman biota yang rendah.

Zonasi adalah distribusi atas & bawah organisme yang dipengaruhi berbagai faktor .
Penyebab adanya zonasi dikarenakan dua faktor, yaitu faktor fisik dan faktor biologis.

Faktor Fisik
Faktor fisik : Kemiringan permukaan berbatu, Kisaran Pasang Surut & Keterbukaan
terhadap gerakan ombak
Akibat : Kekeringan, Suhu, Salinitas & Gelombang Cahaya.
Pada faktor fisik, faktor pembatas utamanya ialah kekeringan. Kekeringan merupakan
masalah yang serius pada zona intertidal. Karena organisme intertidal merupakan
organisme laut, sehingga ketika diletakkan di atas ketinggian pasang-surut normal
akan mati, dan yang lebih muda lebih cepat mati daripada yang tua. Hal itu
disebabkan karena kekeringan.
Faktor BiologisFaktor biologis yang utama adalah persaingan (kompetisi),
pemangsaan (prtedator) dan grazing (herbivor).
Kompetisi : Pantai berbatu terbatas persediaan ruang karena luas daerah yang terbatas.
Predator utama : BintangLaut.
Grazer : Limpet, Bulu Babi, Siput litorina

2.3.1 Pantai Berbatu

Pantai berbatu merupakan pantai yang paling padat makroorganisme dan mempunyai
keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan. Pembagian zona untuk
pantai berbatu, yaitu:

Zona Horizontal : Zona ini tersusun tegak lurus mulai dari permukaan pasang surut
terendah (low tide) sampai ke daratan yang sebenarnya (High tide).

Zona Vetikal : Pada zona intertidal berbatu amat beragam,bergantung pada


kemiringan permukaan berbatu,kisaran pasang-surut,dan keterbukaannya terhadap
gerakan ombak.

Menurut Stephenson dan Stephenson (1949) mengusulkan suatu skema universal untuk
pantai berbatu ini, yaitu :

Tepi supralitoral, batas atasnya adalah zona untuk teritip (organisme penempel) dan
meluas ke batas atas untuk siput dari genus Littorina. Bagian dari zona ini dapat
dicapai pasang purnama (full moon), akan tetapi lebih dominan oleh gelombang yang
pecah di pesisir.

Zona Midlitoral, merupakan batas yang paling luas,dan batas teratasnya bertepatan
dengan batas teratas zona teritip sedangkan bagain bagian bawah ditempati Laminaria
yang mencapai penyebaran yang paling tinggi.

Tepi infralitoral, merupakan zona yang membentang dari pasang surut terendah
sampai batas atas dari kebun kelp (sejenis tumbuhan air yang banyak hidup di zona
intertidal).

Hamparan vertikal pada zona intertidal berbatu sangat beragam, bergantung pada
kemiringan permukaan berbatu, kisaran pasang surut, dan keterbukaannya terhadap gerakan
ombak. Jika kemiringan batu itu landai, maka tiap zona akan menjadi luas sebaliknya dalam
kondisi pasang-surut dan keadaan keterbukaan yang sama tetapi permukaannya tegak lurus
maka zona yang sama akan menyempit. Pada pantai berbatu terdapat beberapa parameter
fisik seperti fenomena pasang dinamikanya berpengaruh terhadap biota yang menginginkan
kondisi alam yang bergantian antara tergenang dan terbuka dan juga gelombang yaitu energi
yang dihempaskan bisa merusak komunitas biota yang menempel di batu-batuan, terutama
pada batu yang langsung menghadap ke laut.

Pantai berbatu memiliki beragam karakteristik yaitu Pantai yang berbatu-batu


memanjang ke laut dan terbenam di air, mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies
hewan maupun tumbuhan, batu yang terbenam di air ini menciptakan suatu zonasi habitat
karena adanya perubahan naik turunnya permukaan air laut akibat proses pasang yang
menyebabkan adanya bagian yang selalu tergenang air, selalu terbuka terhadap matahari,
serta zona diantaranya yang terbenam pada pasang naik dan terbuka pada pasang surut.
Fungsi utama pantai berbatu ini adalah sebagai tempat menempel yang baik bagi
biota,sebagai tempat berlindung bagi biota dan mempunyai komunitas yang jauh lebih
kompleks karena bervariasinya relung.

Zonasi pantai berbatu lebih jelas dibanding pantai berpasir dan pantai berlumpur.
Zonasi paling menonjol di pantai berbatu karena paling padat makroorganisme dan terbesar
keragamannya (hewan maupun tumbuhan). Setiap organisme mempunyai distribusi atas dan
bawah yang terbatas sepanjang gradien vertikal.

2.3.2 Pantai Berpasir

Pantai berpasir terdapat di sepanjang garis pantai yang berbatasan langsung dengan
Samudra Hindia dan bentangan pantai Sulawesi dan Maluku di Laut Banda,dominan dengan
kondisi daerah pantai (foreshore) lebih terjal dan lebih dalam. Banyak terdapat pinggiran
pantai berkarang.

Pantai ini dapat ditemui di daerah yang jauh dari pengaruh sungai besar, atau dipulau
kecil yang terpencil. Makroorganisme yang hidup disini tidak sebanyak di daerah pantai
berbatu atau bisa disebut tidak dihuni oleh kehidupan makroskopis. Umumnya biota yang
ada cenderung menguburkan dirinya ke dalam substrat.Hal ini disebabkan adanya faktor-
faktor lingkungan yang mampu membentuk suatu konsdisi. Pantai berpasir ini lebih banyak
dimanfaatkan manusia untuk berbagai aktivitas rekreasi.

Pantai berpasir ini didominasi oleh 3 kelas invertebrata yaitu cacing polikaeta,
moluska bivalvia dan juga crusracea. Sedangkan karakteristiknya meliputi kebanyakan terdiri
dari kwarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan
batu di gunung, dibatasi hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat mengangkut partikel-
partikel yang halus dan ringan, total bahan organik dan organisme hidup di pantai yang
berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya.Fungsinya sebagai
tempat beberapa biota meletakkan telurnya. Adapun parameter lingkungan yang
mempengaruhinya adalah adanya pola arus yang akan mengankut pasir yang halus,adanya
gelombang yang akan melepaskan energinya di pantai an juga angin sebagai pengangkut
pasir.

Cara makan biota yang hidup di panati berpasir ini yaitu dengan bergantung pada
fitoplankton yang terbawa air laut dan runtuhan organik yang dibawa ombak atau memakan
hewan pantai lainnya. Kebanyakan biota (organisme) di pantai berpasir sebagai pemakan
bahan-bahan yang melayang (suspensi) atau pemakan detritus.

2.3.3 Pantai Berlumpur

Perbedaan antara tipe pantai ini dengan tipe pantai sebelumnya teretak pada ukuran
butiran sedimen (substrat).Tipe pantai berlumpur mempunyai ukuran butiran yang paling
halus. Pantai berlumpur terbentuk disekitar muara-muara sungai,dan umumnya berasosiasi
dengan estuaria.Tebal endapan lumpurnya dapat mencapai 1 meter atau lebih. Pada pantai
berlumpur yang amat lembek sedikit fauna maupun flora yang hidup disana. Perbedaan yang
lain adalah gelombang yang tiba di pantai, dimana aktivitas gelombangnya sangat
kecil,sedangkan untuk pantai yang lain kebalikannya.
Adaptasi organisme dari pantai berlumpur adalah dengan menggali substrat atau
membentuk saluran yang permanen,dan hidup dalam keadaan anaerobik atau membuat
beberapa jalan yang dapat mengalirkan air dari permukaan yang mengadung oksigen ke
bawah. Tipe cara makan yang dominan di panati berlumpur adalah dengan pemakan deposit
dan pemakan bahan melayang (suspensi), sedangkan struktur tropik dataran lumpur sering
terbentuk berdasarkan 2 hal yaitu, berdasarkan detritus bakteri dan berdasarkan tumbuhan.

2.4 Adaptasi Organisme Intertidal

Organisme intertidal umumnya berasal dari laut, maka adaptasi yang diteliti terutama
harus menyangkut penghindaran atau pengurangan tekanan yang timbul karena keadaan yang
terbuka setiap hari pada lingkungan darat.

2.4.1 Daya Tahan terhadap Kehilangan Air

Begitu organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan
air. Jika mereka ingin mempertahankan diri daerah intertidal, kehilangan harus dikurang dan
atau organisme harus mempunyai sistem tubuh yang dapat menyesuaikan diri terhadap
kehilangan air yang cukup besar selama di udara terbuka.

Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-
hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon. Spesies-spesies hewan intertidal
mempunyai mekanisme untuk mencegah kehilangan air. Mekanisme ini dapat terjadi secara
struktural, tingkah laku, maupun kedua-duanya. Banyak spesies-spesies teritip merupakan
spesies yang utama di zona intertidal diseluruh dunia.

2.4.2 Pemeliharaan Keseimbangan Panas

Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin
yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga
keseimbangan panas internal. Walaupun kematian akibat kedinginan ditemukan juga pada
beberapa organisme intertidal, namun suhu rendah yang ekstrim nampaknya tidak menjadi
masalah bagi organisme pantai dibandingkan dengan suhu yang lebih tinggi. Hal ini dapat
diatasi dengan :

(1) pengurangan panas yang didapat dari lingkungan

(2) meningkatkan kehilangan panas dari tubuh hewan.

Cara pertama, dengan memperbesar ukuran tubuh. Tubuh yang lebih besar
memerlukan waktu yang lebih lama untuk bertambah panas dibandingkan dengan tubuh yang
lebih kecil. Contohnya moluska dan gastropoda seperti Littorina littorea yang berukuran
besar lebih banyak di zona intertidal daripada yang berukuran kecil.

Cara kedua, dengan kehilangan panas seperti satu mekanisme yang ditemukan pada
organisme bercangkang keras seperti moluska, adalah dengan memperluas memperluas
cangkang dan memperbanyak ukiran pada cangkang. Ukiran-ukiran tersebut berfungsi
sebagai sirip radiator sehingga memudahkan hilangnya panas.

2.4.3 Tekanan Mekanik


Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada
pantai berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organisme
intertidal telah membentuk beberapa adaptasi. Salah satu diantaranya yang ditemuka pada
turam adalah dengan melekat kuat pada substrat. Sedangkan alga di daerah intertidal
menyatukan dirinya pada dasar perairan melalui sebuah alat pelekat. Hampir semua moluska
intertidal beradaptasi terhadap serangan ombak dengan mempertebal cangkang.

2.4.4. Pernapasan

Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai


tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat
jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi
cangkang.

Hewan-hewan dengan organ pernapasan yang terlindung juga harus mampertahankan


air pada waktu pasang turun dengan cara menutup operkulum atau mengaitkan diri agar
pertukaran gas berkurang. Jadi, untuk mempertahankan oksigen dan air ketika pasang turun
banyak hewan yang berdiam diri.

2.4.5 Cara Makan

Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian


berdaging dari tubuhnya. Karena itu seluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan
tubuhnya terendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan,
pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.

2.4.6 Tekanan Salinitas

Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan masalah
tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat menyesuaikan diri denagn air
laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairan
tubuhnya dan disebut osmokonformer. Adaptasi satu-satunya sama dengan adaptasi untuk
melindungi dari kekeringan.

2.4.7 Reproduksi

Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga


dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai
plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama
dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.
Hampir semua ikan intertidal berukuran kecil. Bentuk tubuh biasanya biasanya pipih dan
gepeng.

2.5 Organisme Zona Intertidal

Menurut Nybakken (1988), beberapa genera alga intertidal bagian atas yaitu Porifera,
Fucus dan Entomorpha. Limpet dari genus Patella, Acmaea dan Collisella merupakan hewan
yang dominan di daerah intertidal berbatu. Spesies Limpet tertentu mempunyai goresan
rumah (home scar) di mana cangkang dapat dengan pas menempatinya. Gastropoda lainnya
seperti siput (Littorina) mempunyai opercula yang menutup rapat celah cangkang.
Beberapa Bivalva seperti Mytilus edulis dapat hidup di daerah intertidal. Organisme
lain seperti Anemon actinia dan hydroid Clava squamata menghasilkan lender (mucus)
untuk mencegah kehilangan air.

Pada kawasan intertidal, banyak di dominasi oleh hewan-hewan yang bergerak cepat
untuk mencari makan seperti beberapa jenis kepiting dan beberapa jenis kerang-kerangan
(bivalve) serta cacing pantai (Annelida) yang dapat mengubur diri kedalam pasir. Khusus
pada zona intertidal, hewan-hewan yang membanamkan diri pada pasir (infauna) lebih
banyak di jumpai di bandingkan dengan daerah subtidal yang di dominasi oleh hewan-hewan
kecil yang hidup di atas permukaan pasir (epifauna).

Beberapa organisme yang hidup di daerah ini adalah abalone, anemone, rumput laut
cokelat, chitond, kepiting, ganggang hijau, hydroids, isopods, limpets, kerang, madibranchs,
scilpin, mentimun laut, selada laut, telapak tangan laut, bintang laut, bulu babi, udang, siput,
spons, selancar rumput, cacing tabung, dan whelks. Organism di wilayah ini dapat tumbuh
dengan ukuran yang lebih besar karena lebih banyak tersedia energy dalam ekosistem
setempat dan air dangkal yang cukup untuk memungkinkan banyak cahaya yang masuk untuk
mencapai vegetasi yang memungkinkan fotosintetik aktivitas, dan salinitas berada pada
tingkat hamper normal. Daerah ini juga dilindungi dari predator besar seperti ika karena aksi
gelombang dan air masih relative dangkal.

2.6 Ikan-ikan Interdal

Walaupun banyak penelitian yang sudah dilakukan dalam ekologi intervebrata dan
tumbuhan dari zona intertidal dengan tiga tipe patai, tetapi hanya sedikit keterangan
mengenai ikan di daerah ini atau tentang peranannya di dalam organisasi komunitas baik
secara grazer maupun predator. Karena ikan sering hadir di intertidal dalam jumlah yang
cukup banyak dank arena telah diketahui bahwa mereka mempunyai pengaruh yang berarti
terhadap komunitas lainnya seperti terumbu karang, maka cukup beralasan bila diperlukan
penelitian lebih lanjut untuk menerangkan peranan mereka di daerah intertidal.

Hampir semua ikan intertidal berukuran kecil, karena keadaan lingkungan yang
bergolak. Bentuk tubuhnya biasanya pipih dan memanjang (Blenniidae, Pholidae) atau
gepeng (Cottidae, Cobiesocidae), yang memungkinkan mereka tinggal di lubang, saluran,
celah, atau lengkukan untuk berlindung dari kekeringan dan gerakan ombak. Sebagian besar
memiliki gelembung renang dan sangat berasosiasi dengan substrat. Banyak ikan ini yang
beradaptasi untuk menahan kisaran salinitas dan suhu yang besar dibandingkan dengan
familinya yang berada I daerah subtidal. Beberapa dari mereka beradaptasi dengan cara
berada di luar air untuk beberapa saaat lamanya.

Banyak ikan intertidal di zona beriklim sedang yang merupakan karnivora dan
menunjukkan peranan yang potensial dalam organisasi komunitas intertidal. Pola daur dari
beberapa spesies yang diamati umumnya sama. Telur-telurnya demersal dan diletakkan di
batu, karang atau tumbuhan yang tenggelam. Sering, telur-telur tersebt dijaga oleh ikan
jantan. Telur menetas setelah beberapa minggu menjadi larva planktonik. Periode plankton
bervariasi, lamanya tergantung pada spesiesnya. Dapat berlangsung selama dua bulan, selama
periode ini, secara bertahap larva membentuk cirri-ciri ikan dewasa, dan akhirnya menjadi
bentik. Jangka waktu hidup dalam fase dewasa umumnya pendek, berkisar antara 2-10 tahun
dan dewasa kelamin terjadi pada tahun pertama atau kedua.
Beberapa ikan interdal mengadakan migrasi, bergerak mengikuti pasang surut harian
atau musiman.

2.7 Burung

Ketika pasang turun, berbagai burung iasanya berasosiasi dengan zona intertidal.
Cukup mengherankan, pengeruh burung-burung terhadap komunitas intervebrata pada saat
ini sangat sedikitdiketahui, kecuali peranan pada hamparandataran lumpur estuary. Banyak
burung yang berasosiasi dengan daerah intertidal merupakan burung karnivora atau
omnivore. Pengetahuan kita tentang makanan burung ini menunjukkan bahwa mereka makan
berbagai intervebrata daerah intertidal, yang selanjutnya member petunjuk bahwa mereka
mempunyai peranan penting dalan ekologi daerah intertidal.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Zona intertidal merupakan zona yang dipengaruhi oleh pasang durut air laut dengan
luas area yang sempitantara daerah pasang tertinggi dengan surut terendah. Zona intertidal
juga merupakan daerah laut yang dipengaruhi oleh daratan sehingga mengandung unsur hara
yang tinggi. Zona intertidal ini lebih banyak dikenal manusia dan juga mudah dicapai. Pada
zona intertidal terdapat keragaman organisme. Hal ini dipengaruhi adanya faktor lingkungan
dan suhu yang beragam.

Kondisi lingkungan yang beragam dan berbeda dapat dilihat dari berbedaan yang
secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta
habitatnya. Berdasarkan adanya zonasiyang berbeda, maka adanya beberapa jenis pantai di
zona intertidal. Jenis pantai meliputi pantai berbatu, pantai berlumpur, dan pantai berpasir.
Perbedaan zonasi meliputi faktor fisik dan faktor biologis.

Cara adaptasi biota di pantai berbatu, berlumpur dan berpasir memiliki perbedaan
masing-masing. Dimana pada pantai berbatu jenis biota yang ditemukan adalah hewan
intervebrata dan alga yang cenderung berumur pendek. Sedangkan pada pantai berpasir
kebanyakan biota melakukan adaptasinya dengan menguburkan diri kedalam yang tidak
dapat dilewati oleh gelombang (contohnya: kerang) dan untuk pantai berlumpur adaptasi
yang dilakukan dengan menggali substrat atau membentuk saluran permanen.

DAFTAR PUSTAKA

Nybakken, James W. 1998. Ekologi Terumbu Karang. Gramedia: Jakarta

Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut. Gramedia: Jakarta