Anda di halaman 1dari 13

MAKRORADIOGRAFI

Makalah ini disusun untuk memenuhi persyaratan salah satu tugas

Teknik Radiografi Lanjut V

Disusun oleh :

Aida Fitria Nur Afifah

Anwar Wahyudi

Galih Fachruroji K

Ira Nurvadilah

Tira Nur Siffah

Yesi Megasilvia

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) CIREBON

Jl. Brigjen Dharsono 12B By Pass Cirebon

Telp. (0231)247852

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Wilhelm Conrad Rontgen seorang ahli fisika di Universitas Wurzburg,
Jerman, pertama kali menemukan sinar rontgen pada tahun 1895 sewaktu
melakukan eksperimen dengan sinar katoda ( Rasad, 2006 ).
Penemuan sinar rontgen ini akhirnya membawa revolusi besar dalam
dunia kedokteran, yang bisa menegakkan diagnosa untuk dilakukan tindakan
selanjutnya.
Dari hasil gambaran radiografi, dapat membantu dokter menegakan
diagnosa suatu kelainan dalam tubuh pasien. Dalam mendiagnosa suatu
penyakit diperlukan suatu radiogaf yang berkualitas, dengan tetap
memperhatikan proteksi radiasi.
Karena keterbatasan mata kita maka bagian terkecil dari suatu
gambaran radiografi terkadang tidak terlihat, untuk itu kita butuh gambaran
yang lebih besar dari aslinya, sehingga struktur organ yang kecil dapat terlihat.
Gambaran tersebut dapat kita peroleh dengan mengubah Focus Film Distance (
FFD ), Focus Object Distance ( FOD ), dan Object Film Distance ( OFD ) pada
saat pemeriksaan radiografi berlangsung, tehnik radiografi ini sering di sebut
dengan teknik makroradigrafi.
Salah satu kelebihan dari tehnik makroradiografi adalah untuk
memperlihatkan struktur organ yang kecil, hal ini sesuai dengan salah satu
prinsip makroradiografi, yaitu detail yang kecil menjadi lebih besar
(carrol,1985) .
Makroradiografi adalah metode pembesaran image yang dihasilkan
dengan cara meletakan objek dan film pada jarak 1,5 kali dan 2 kali
pembesaran, sehingga akan menghasilkan pembesaran yang diinginkan. Salah
satu contohnya adalah pada pemeriksaan mastoid.

2
1.2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan
masalah pada penulisan makalah adalah :
1.2.1 Apa itu makroradiografi ?
1.2.2 Bagaimana teknik makroradiografi ?

1.3 Tujuan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas maka
tujuan makalah adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui apa itu makrodigrafi.
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana teknik makrodiografi.

1.4 Maanfaat Makalah


Berdasarkan tujuan makalah yang telah diurakan di atas maka
manfaat makalah adalah :
1.4.1 Manfaat institusi
Sebagai bahan referensi dan pustaka di kampu STIKes Cireon
terutama pada program studi DIII Radiologi
1.4.2 Manfaat penulis
Dapat menambah wawasan serta ilmmu pengetahuan mengenai
Makroradiografi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Makroradiograf

Makroradiografi ialah teknik radiografi yang digunakan


untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran
awalnya (gambaran yang sebenarnya).
Tujuan dari pembuatan gambar makroradiografi ialah
untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang tidak
diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari
bagian bagian tersebut yang teramat kecil misalnya tulang
yang berukuran kecil, saluran- saluran, dsb.
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi
atau pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan
cara meletakkan objek pada jarak tertentu dari film.

2.2. Prinsip makroradiografi.

Adapun prinsip pemeriksaan teknik makroradiografi antara


lain :

Tanpa grid karena adanya air gap yang diakibatkan


oleh OFD (objek film distance) yang lebih besar

Gambaran yang dihasilkan akan lebih besar dari


gambaran yang sebenarnya bergantung pada
pembesaran yang diinginkan

4
Pemilihan focus kecil guna mengurangi ketidaktajaman
gambar

Faktor eksposi lebih besar dikarenakan adanya


pengaruh dari FFD dan Air Gap

Namun prinsip utama dari makroradiografi


adalah mengubah FFD (focus - film distance) tanpa mengubah
OFD (objek film distance), mengubah FOD (focus - objek distance)
tanpa mengubah FFD (focus - film distance).

2.3. Teknik makroradiografi.

Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau

pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan cara meletakkan objek

pada jarak tertentu dari film.

Teknik makroradiografi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu dengan

mengubah FFD (focus - film distance) tanpa mengubah OFD (objek - film

distance), mengubah FOD (focus - objek distance) tanpa mengubah FFD (focus -

film distance).

5
Gambar 1. Perubahan FFD, diikuti perubahan Faktor Eksposi

Magnifikasi atau perbesaran citra radiografi tidak selamanya harus

dihindari, ada beberapa pemeriksaan radiografi yang memerlukan perbesaran

citra guna lebih memperjelas kelainan yang mungkin masih diragukan

penilaiannya pada pemeriksaan radiografi tanpa magnifikasi.

Gambar 2.4: rumus magnifikasi.

Magnifikasi tetap harus dilakukan dengan prosedur yang benar untuk

menghindari adanya distorsi, cara untuk menghindari adanya distorsi berkas

sinar-x harus sejajar dengan object. dan kaset / film tetap harus sejajar atau satu

garis lurus. Distorsi terjadi bila fokus , obyek, dan film tidak saling tegak lurus

satu sama lainnya ( Rasad, 2006 ).

2.4. Faktor yang berpengaruh pada tehnik makroradiografi.

Beberapa hal yang mempengaruhi teknik makroradiografi adalah:

6
2.4.1. Faktor Pembesaran.

Jarak OFD ( object focus distance ) = FOD ( focus object distqnce )

maka objek terletak diantara 2 focus, pembesaran bertambah bila OFD

(object focus distance ) ditambah atau diperbesar, pemilihan ukuran focus

berkaitan dengan adanya UG (Unsharpness Geometric). Ukuran focus yang

semakin kecil akan memperkecil ketidaktajaman geometri.

2.4.2. Faktor Ketidaktajaman Geometri

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketidak tajaman hasil

radiografi:

1. Unsharpness Geometri berbanding lurus dengan ukuran focus

yang digunakan. Maksudnya, semakin kecil focus yang digunakan

semakin besar hasil gambaran yang dihasilkan.


2. Unshrpness Geomrtri berbanding terbalik dengan FOD ( focus

object distance), maksudnya semakin jauh obyek dari fokus, sudut

penyebaran Sinar-X akan semakin kecil mengenai obyek, sehingga

obyek akan terproyeksi di film radiografi menjadi sama, demikian

pula sebaliknya.
3. Unshrpness Geomrtri berbanding lurus dengan OFD ( focus

object distance), maksudnya Semakin besar FFD ( focus film

distance) maka magnifikasi akan semakin kecil karena sifat

penyebaran Sinar-X yang divergen ( menyebar ).


2.4.3. Faktor Ketidaktajaman karena Gerakan

7
Faktor ketidaktajaman karena gerakan ( unshrapness

movement) juga mempengaruhi hasil gambaran radiografi, dan untuk

mengurangi ketidaktajaman karna karna gerakan dapat dilakukan

dengan menggunakan alat fiksasi.

2.4.4. Faktor Eksposi.

Pemilihan faktor eksposi berpengaruh pada teknik

makroradiografi, semakin besar Air Gap ( celah udara ) maka faktor

eksposi yg digunakan akan semakin besar. Semakin jauh FFD (focus

film distance) maka faktor eksposi yg digunakan akan semakin besar.

2.4.5. Faktor Posisi

Dalam teknik makroradiografi faktor posisi juga harus

diperhatikan diantaranya:

1. Tabung sinar X harus diatur tegak lurus terhadap film dan

objek.

2. Bidang objek dan film diatur sejajar.

3. Adanya kemiringan dari berkas sinar mengakibatkan

terjadinya distorsi hasil gambaran.

2.5. Percobaan Makroradiograf

8
1. Judul Percobaan : Teknik makroradiografi pada Sella
Tursica
2. Tujuan Percobaan :
untuk mendapatkan gambaran radiografi dari Sella
Tursica tampak lebih besar dari gambaran radiografi
biasa
3. Alat dan Bahan :
Pesawat Rontgen Shimadtzu 500 mA
Kaset 18 x 24 cm
Film 18 x 24 cm
Marker R/L
Panthom sebagai objek
Cairan developer
Cairan Fixer
Air
4. Prosedur PemeriksaanPemeriksaan Sella Tursica
a. Teknik makroradiografi
Teknik menjauhkan jarak objek film (OFD)
dilakukan untuk pembesaran 2 kali
b. Teknik radiografi
Pasien diposisikan semi prone di atas meja
pemeriksaan
MSP tubuh sejajar dengan bidang film
Kepala diposisikan lateral, dengan
menempatkan : MSP kepala sejajar bidang
film dan garis interpupilary tegak lurus
bidang film
Atur kedua bahu agar berada pada bidang
transversal yang sama
Atur kepala sehingga garis IOML sejajar
dengan garis khayal horizontal film
Atur CR Tegak lurus bidang film
Central point 2,5 cm anterior dan 2,5 cm
superior dari MAE.

9
c. Teknik Pembesaran
Atur jarak focus ke objek (FOD) : 80 cm
Letakkan kaset diatas lantai sehingga jarak
antara film dan objek pada meja pemeriksaan
(OFD) 80 cm dan jarak antara fokus film
(FFD) menjadi 160 cm.
Atur supaya sentrasi sinar tepat berada
tengah kaset.
M = FFD = 160 = 2 , Jadi, M = 2 ( 2x
Pembesaran )
OFD 80
d. Faktor Eksposi
Pada pemeriksaan Sella Tursica dengan
Faktor Eksposi normal adalah 60 kV dan 20 mAs,
maka pada pembesaran 2x , faktor eksposinya
menjadi :
FFD12 = mAs12
FFD22 mAs22

802 = 202
1602 mAs22

mAs22 = 25600 x 400


6400
mAs22 = 1600
mAs22 = 40
Jadi, Untuk pemebesaran 2x pemakaian
faktor eksposinya adalah 60 kV dan 40 mAs

10
e. Procesisng film
Developing = 3 menit
Rinsing = 20 detik
Fixing = 4 menit
Washing = 20 detik
Drying = 5 menit
f. Hasil gambaran
Tampak Sella Tursica proyeksi lateral
dengan pembesaran 1.5 x pada film
Dorsum sellae dan clivus blumenbachi
Processus clinoideus anterior kiri dan kanan
superposisi
Processus clinoideus posterior kiri dan kanan
superposisi
Detail gambaran baik
Densitas dan kontras gambaran radiografi
yang dihasilkan baik
Tampak marker R
Tampak label

11
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Makroradiografi ialah teknik radiografi yang digunakan


untuk memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran
awalnya (gambaran yang sebenarnya).

Prinsip utama dari makroradiografi adalah mengubah FFD


(focus - film distance) tanpa mengubah OFD (objek film distance), mengubah
FOD (focus - objek distance) tanpa mengubah FFD (focus - film distance).

Faktor yang berpengaruh pada tehnikmakroradiografiantaralain adalah

pembesaran, ketidaktajaman geometri, ketidaktajaman akibat gerakan, eksposi,

dan posisi.

3.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap pasien pada tekhnik
makroradiografi dengan kasus dan indikasi pemeriksaan yang lain.

12
DAFTAR PUSTAKA

( http://siavent.blogspot.com/2010/05/teknik-radiografi-makroradiografi.

html)
Rasad Siriraj.2006.RADIOLOGI DIAGNOSTIK Edisi Kedua.Jakarta:Balai

Penerbit FKUI

13