Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

MODUL : FILTRASI

PEMBIMBING : Emma Hermawati, Ir. MT

Oleh :

Kelompok : III

Nama : 1. Dahliana Alami NIM. 141424008

2. Desi Bentang Widiyanti NIM. 141424009

3. Dini Oktavianti NIM. 141424010

4. Elis Sri Wahyuni NIM. 141424011

Kelas : 3A- TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu sumber kehidupan makhluk hidup yang paling utama, air
yang dibutuhkan oleh makhluk hidup khususnya manusia adalah air bersih. Biasanya air
digunakan manusia untuk kebutuhan sehari-hari, selain itu digunakan untuk keperluan
pertanian, industri dan lain-lain. Namun pada kenyataannya, sudah banyak air yang
tercemar oleh bahan-bahan berbahaya akibat aktivitas manusia, sehingga untuk
menggunakan air tersebut harus melalui beberapa tahap pengolahan sampai benar-benar
aman untuk digunakan atau dikonsumsi. Selain itu, air mempunyai karakteristik fisik
dan kimiawi yang sangat memepengaruhi kehidupan organisme di dalamnya.

Dalam sistem pengolahan air limbah atau pencemaran pada air , proses filtrasi biasanya
merupakan bagian dari pengolahan ketiga atau pengolahan lanjutan dari Sedimentasi-
koagulasi-flokulasi yang disebut Tertiary Treatment. Filtrasi adalah suatu proses
pemisahan campuran antara padatan dan cairan dengan melewatkanya melalui medium
penyaringan. Disamping itu, filtrasi dapat mereduksi kandungan zat padat, kandungan
bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan. Secara umum filtrasi
dilakukan bila jumlah padatan dalam suspensi relatif kecil dibandingkan zat cairnya.
Pemisahan padatan dapat dilakukan dengan menggunakan media yang disebut media
filter yaitu merupakan bahan padat seperti pasir, batu bara, kerikil dan sebagainya.
Salah satu media filtrasi yang efektif digunakan adalah pasir kuarsa yang akan
dilakukan oleh praktikan dan Air baku yang akan digunakan adalah air sungai.
.
1.2 Tujuan

1. Menentukan efisiensi proses filtrasi menggunakan filter pasir kuarsa.


2. Menentukan waktu tinggal optimum dan waktu maksimum pada proses filtrasi secara
batch beserta kekeruhn effluen dan presentase penurunan kekeruhan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Filtrasi

Filtrasi adalah proses menghilangkan padatan tersuspensi dalam air dengan melewatkan
air pada lapiran permeable yang memiliki pori. Air didalam tanah merupakan contoh
filtrasi, air diserap oleh tanah dan di saring melalui lapisan-lapisan yang ada didalam
tanah. Filtrasi merupakan salah satu metode sederhana dalam proses pemisahan. Proses
filtrasi merupakan proses pengolahan dengan cara mengalirkan air limbah melewati
suatu media filter yang disusun dari bahan-bahan butiran dengan diameter dan tebal
tertentu. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tak terlarut
(biological floc yang masih tersisa setelah pengolahan secara biologis). Disamping
mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri,
menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan. Perencanaan suatu sistem filter
untuk pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan dan pre-treatment yang telah
dilakukan pada air baku sebagai influen filter.

Filtrasi terdiri dari filtrasi dengan menggunakan pasir, filtrasi membran, dan lain
sebagainya. Filtrasi dibagi menjadi 2 jenis, yakni filtrasi dengan menggunakan gravitasi
dan menggunakan tekanan. Filtrasi menggunakan tekanan dilengkapi dengan valve
tertutup berisi material granular, air dipaksa untuk melewatinya dengan bantuan
tekanan. Sedangkan filtrasi gravitasi menggunakan wadah terbuka berisi material
(biasanya pasir), air dialirkan tanpa menggunakan bantuan tekanan.

2.1.1 Pengertian sand filter

Dalam fitrasi gravitasi, pasir adalah media yang popular digunakan. Laju alir yang
diatur sebesar 0.1-0.4 m3/h per m2 luas permukaan. Untuk menghilangkan kekeruhan,
jenis filtrasi ini bisa menghabiskan waktu selama berminggu-minggu. Laju alir unit
filtrasi ini dibuat lambat, agar proses pemisahan berjalan sempurna. Filtrasi sangat
tergantung pada luas permukaan media filtrasi. Luas permukaan media yang besar
menyebabkan volume filtrasi juga besar. Berikut mekanisme filtrasi dengan
mengunakan pasir :
(sumber : Mr. Noel Bourke)
Gambar 1. Mekanime Pemisahan Partikel
2.2. Prinsip kerja sand filter
Berikut ini adalah prinsip kerja dari sand filter :

Gambar 2 Prinsip Kerja Sand Filter


(Sumber : L. Huisman)
1. A supernatant (raw) water reservoir berfungsi untuk mengatur tinggi air diatas
media filtrasi. Ketinggian ini mempengaruhi tekanan yang mendorong air untuk
melalui media filtrasi.
2. A bed of filter (biasanya adalah pasir) merupakan tempat dimana terjadi proses
pemisahan suspense.
3. An under-drainage system, berfungsi untuk menyempurnakan media filtrasi pasir.
4. A system of control valve, berfungsi untuk mengatur laju alir pada saat melalui
media filtrasi, juga mengatur ketinggian air di water reservoir
2.3 Mekanisme Filtrasi dengan Media Butiran
Selama air kotor diarlirkan melewati saringan pasir berlangsung proses pembersihan
yang bekerja menurut proses-proses mekanis, pengendapan dan penyerapan,
metabolisme biologis dan perubahan elektrolisa.
a. Proses Mekanis
Dalam lapisan suatu saringan pasir terdapat rongga-rongga kecil yang
memungkinkan air lewat sebagai aliran dalam tanah. Partikel halus yang tidak dapat
lolos dari rongga-rongga ini akan tertahan dan dengan demikian dapat memebaskan
air dari kandungan kotornya.
b. Pengendapan dan Penyerapan
Rongga antara butiran tanah / pasir akan berlaku sebagai kolam sedimentasi,
selanjutnya kotoran halus akan mengendap di situdan tidak akan lolos lagi karena
adanya daya adhesi dari butiran tanah / pasir yang mengikat kotoran. Selain itu
proses penangkapan kotoran ini dapat pula dipercepat oleh adanya gelatine yang
menyelimuti butiran pasir sebagai akibat adanya bakteri atau bahan kimia yang ikut
terbawa dalam aliran.
c. Metabolisme Biologis
Perkembangan dari proses kehidupan disebut sebagai metabolisme biologis. Selama
proses pengaliran air lewat rongga-rongga pori tanah, bakteri yang ikut terbawa akan
terperangkap dalam rongga ini. Selanjutnya bakteri ini akan mengeluarkan lender
yang dapat membentuk lapisan tipis di sekitar butiran pasir.
Setelah beberapa waktu lapisan lender ini akan membentuk suatu lapisan yang terdiri
dari kumpulan bakteri yang mampu menangkap, menyaring serta merubah bahan-
bahan organik menjadi bahan yang lain melalui proses biokimia yang kompleks.
Dengan demikian lapisan ini yang sering disebut sebagai schmutzdecke akan
merupakan media kehidupan mikrorganisme ataupun bakteri yang sekalius bekerja
sebagai saringan yang efektif.
d. Perubahan Elektrolisa
Butiran tanah / pasir, kotoran halus maupun bahan-bahan terlarut pada aliran air
mengandung aliran listrik. Menurut teori ion, suatu benda yang mempunyai muatan
listrik yang saling bertolak belakang akan mengalami gaya tarik menarik dan saling
menetralisir. Kejadian ini akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi
kandungan yang menyebabkan perubahan kualitas airnya.

2.4 Jenis-jenis Filter


Berdasarkan kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.
2.4.1 Filter Pasir Cepat
Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
cepat, berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi-
flokulasi dan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada
influen filter pasir cepat berkisar 5-10 NTU maka efisiensi penurunan keekruhannya
dapat mencapai 90-98%.
Gambar 3. Bagian-bagian filter cepat

(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)
Bagian-bagian filter pasir cepat meliputi:

a. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak
tergantung debit pengolahan.
b. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori diantara
butiran media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan.
c. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengaliran air yang telah melewati
proses filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas:
Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air
dari media filter ke dalam pipa,
Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.
Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan
mengalirkannya ke bangunan penampung air.

Gambar 4. Aliran air pada saat operasi filter


(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)
Gambar 5 . Aliran air pada saat pencucian filter

(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

Filter pasir cepat dapat dibedakan dalam beberapa kategori:

1. Menurut sistem kontrol kecepatan filtrasi


2. Menurut arah aliran
3. Menurut sistem pengaliran

2.4.2. Filter Pasir Lambat


Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
lambat, yaitu sekitar 0,1-0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan
ukuran media pasir lebih kecil (effective size = 0,15-0,35 mm). Filter pasir lambat
merupakan sistem filtrasi yang pertama kali digunakan untuk pengolahan air, dimana
sistem ini dikembangkan sejak taun 1800 SM. Prasedimentasi dilakukan pada air baku
mendahului proses filtrasi. Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk
menghilangkan kandungan bahan organik dan organisme patogen pada air baku yang
mempunyai kekeruhan relatif rendah. Filter pasir lambat banyak digunakan untuk
pengolahan air dengan kekeruhan air baku di bawah 50 NTU. Efisiensi filter pasir
lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel pasir, ratio luas permukaan filter
terhadap kedalaman kecepatan filtrasi.
Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan biofilm di beberapa
milimeter bagian atas lapisan pasir halus yang disebut lapisan hypogeal atau
schmutzdecke. Lapisan ini mengandung bakteri, fungi, protozoa, rotifera, dan larva
serangga air. Schmutzdecke adalah lapisan yang melakukan pemurnian efektif dalam
pengolahan air minum. Selama air melewati schmutzdecke, partikel akan terperangkap
dan organik terlarut akan terabsorpsi, diserap dan dicerna oleh bakteri, fungi, dan
protozoa. Proses yang terjadi dalam schmutzdecke sangat kompleks da bervariasi,
tetapi yang utama adalah mechanical straining terhadap kebanyakan bahan tersuspensi
dalam lapisan tipsi yang berpori-pori sangat kecil, kurang dari satu mikron. Ketebalan
lapisan ini meningkat terhadap waktu hingga mencapai sekitar 25 mm, yang
menyebabkan aliran mengecil. Ketika kecepatan filtrasi turun sampai tingkat tertentu,
filter harus dicuci dengan mengambil lapisan pasir bagian atas setebal sekitar 25 mm.
Keuntungan filter lambat antara lain:
1. Biaya kontruksi rendah
2. Rancangan dan pengoperasian lebih sederhana
3. Tidak diperlukan tambahan bahan kimia
4. Variasi kualitas air baku tidak terlalu mengganggu
5. Tidak diperlukan banyak air untuk pencucian, pencucian yang tidak
menggunakan backwash, hanya dilakukan di bagian atas media
Kerugian filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan, yaitu sebagai
akibat dari lambatnya kecepatan filtrasi.
Secara umum, filter pasir lambat hampir sama dengan filter pasir cepat. Filter
pasir lambat tersusun oleh bak filter, media pasir, dan sisten underdrain (Gambar 2.5)
(Ade Dian Saputra, t.t.)

Gambar 6. Skema Filter Pasir Lambat


(Sumber: http://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI)

2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Effisiensi Filtrasi


Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktorfaktor
yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi,
efisiensinya, dan sebagainya. Faktorfaktor tersebut adalah debit filtrasi, kedalaman
media, ukuran dan material, konsentrasi kekeruhan, tinggi muka air, kehilangan
tekanan, dan temperatur.

1. Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara efisien.
Sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat adanya aliran air
yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara butiran media pasir. Hal ini
menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan butiran media penyaring
dengan air yang akan disaring. Kecepatan aliran yang terlalu tinggi saat melewati
rongga antar butiran menyebabkan partikelpartikel yang terlalu halus yang tersaring
akan lolos.

2. Konsentrasi Kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi
kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori
dari media atau akan terjadi clogging. Sehingga dalam melakukan filtrasi sering dibatasi
seberapa besar konsentrasi kekeruhan dari air baku (konsentrasi air influen) yang boleh
masuk. Jika konsentrasi kekeruhan yang terlalu tinggi, harus dilakukan pengolahan
terlebih dahulu, seperti misalnya dilakukan proses koagulasi flokulasi dan
sedimentasi.

3. Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi, menyebabkan
massa jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis dari air akan
mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik menarik diantara
partikel hlus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan dalam ukuan besar
partikel yang akan disaring. Akibat ini juga akan mempengaruhi daya adsorpsi. Akibat
dari keduanya ini, akan mempengaruhi terhadap efisiensi daya saring filter.

4. Kedalaman media, Ukuran, dan Material


Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam perencanaan
bangunan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya pengaliran dan daya
saring. Media yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya saring yang sangat tinggi,
tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang lama.
Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan variasi
dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya tingkat
porositas dan kemampuan menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku.
Lubang pori yang terlalu besar akan meningkatkan rate dari filtrasi dan juga akan
menyebabkan lolosnya partikelpartikel halus yang akan disaring. Sebaliknya lubang
pori yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan menyaring partikel dan juga
dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh partikelpartikel halus
yang tertahan) yang terlalu cepat.

5. Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan


Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit atau
laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media akan
meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan muka air yang tinggi
akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka air diatas
media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada saat filter
dalam keadaan kotor. Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan aliran yang memiliki
tekanan yang cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas media dengan yang ada
didasar media akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung. Perbedaan inilah yang
sering disebut dengan kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan tekanan akan
meningkat atau bertambah besar pada saat filter semakin kotor atau telah dioperasikan
selama beberapa waktu. Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah
besar, hal ini dapat diakibatkan karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat)
sehingga terjadi clogging.
Dalam suatu proses filtrasi terdapat suatu parameter yang menjadi acuan bahwa
proses filtrasi berjalan dengan baik diantaranya adalah efisiensi. Efisiensi ini
menunjukkan seberapa besar kandungan pengotor yang terolah. Adapun untuk
menentukan efisiensi, yaitu dengan menggunakan rumus:

kekeruhan awalkekeruhan akhir


= kekeruhan awal x 100%

2.6. Waktu Tinggal

Waktu tinggal air limbah pada media filtrasi akan mempengaruhi hasil filtrasi. Karena,
semakin lama waktu tinggal maka endapan pengotor lebih banyak tertahan di dalam
media filter, sehingga air keluaran menjadi semakin bersih. Namun, ada waktu
tertentu dimana terjadi penurunan kekeruhan menjadi paling drastis, waktu tersebut
dinamakan waktu tinggal optimum.

2.7.Jenis-jenis Filter Berdasar Sistem Operasi dan Media


2.7.1 Jenis media Filter :
1 Single media : Satu jenis media seperti pasir silika, atau dolomit saja
2 Dual media : misalnya digunakan pasir silica, dan anthrasit
3 Multi media : misalnya digunakan pasir silica, anthrasit dan garnet.
1 Filter single media, filter cepat tradisional biasanya menggunakan pasir
kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS terjadi pada lapisan paling atas
sehingga dianggap kurang efektif karena sering dilakukan pencucian.
Gambar 2.26 menjelaskan kedalaman pasir, kerikil sebagai media
penyangga dan sistem pematusan (under drain).
2 Filter dual media, sering digunakan filter dengan media pasir kwarsa di
lapisan bawah dan antharasit pada lapisan atas.
Keuntungan dual media :
Kecepatan filtrasi lebih tinggi (10 15 m/jam)
Periode pencucian lebih lama
Merupakan peningkatan filter single media (murah).
3 Multi media filter : terdiri dari anthrasit , pasir dan garnet atau dolomit,
fungsi multi media adalah untuk memfungsikan seluruh lapisan filter agar
berperan sebagai penyaring.
Apabila air olahan mempunyai padatan yang ukuran seragam maka saringan
yang digunakan adalah single medium. Sebaliknya, jika ukuran padatan beragam
maka digunakan saringan dual medium atau multi medium.

Gambar 7.
(Sumber : Selintung, Mary)

2.6. Media Filter Pasir Kuarsa


Bagian filter yang berperan penting dalam melakukan penyaringan adalah media filter.
Media Filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media ini
umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia. Pasir kuarsa
(quartz sands) juga dikenal dengan nama pasir putih atau pasir silika (silica sand)
merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama, seperti kuarsa dan
feldspar. Hasil pelapukan kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau angin yang
terendapkan di tepi-tepi sungai, danau, atau laut. Pasir kuarsa adalah bahan galian yang
terdiri atas kristal-kristal silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang
terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari
SiO2, Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna
lain tergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis 2,65,
titik lebur 17-150 C, bentuk kristal hexagonal, panas spesifik 0,185 (Kusnaedi, 2010).
Proses pengolahan pasir kuarsa tergantung kepada kegunaan serta persyaratan yang
dibutuhkan baik sebagai bahan baku maupun untuk langsung digunakan. Untuk
memperoleh spesifikasi yang dibutuhkan dilakukan upaya pencucian untuk
menghilangkan senyawa pengotor. Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa
sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan
ikutan. Sebagai bahan baku utama, misalnya digunakan dalam industri gelas kaca,
semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit
(ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor,
industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain
sebagainya. Pasir kuarsa juga sering digunakan untuk pengolahan air kotor menjadi air
bersih. Fungsi ini baik untuk menghilangkan sifat fisiknya, seperti kekeruhan, atau
lumpur dan bau. Pasir kuarsa umumnya digunakan sebagai saringan pada tahap awal.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
1 Alat dan Bahan yan digunakan
Alat yang digunakan

No Nama Alat Jumlah


1. Tangki penampung air 1
2. Unit filtrasi 1
3. Spatula 1
4. Stopwatch 1
5. Gelas kimia 1
6. Turbidimeter 1
7. Neraca Analitik 1

Bahan yang digunakan

No Nama Bahan Jumlah


1. Air Sungai -
2. Tissue 1 pack

3.2. Prosedur Kerja

Mengisi bak umpan dengan air baku (air sungai)

Mengukur kekeruhan (NTU) dan pH awal

Mengambil sampel secukupnya dengan interval waktu setiap 10 menit


sekali selama 100 menit

Mengukur kekeruhan (NTU) dan pH awal pada sampel yang telah dimbil
setiap 10 menit sekali

Membersihkan dan merapihkan peralatan

BAB IV
DATA PENGAMATAN

4.1. Hasil Percobaan


Volume bak filter :
Volume air yang dimasukkan :
Voume media filter :
Kekeruhan awal :
Ph awal :
Tabel 4.1.1 Data Pengamatan Kekeruhan
Waktu (menit) Influen(NTU) Effluent(NTU) pH
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100

( Kekeruhan awalKekeruhan akhir )


Efisiensi= 100
Kekeruhan awal

Tabel 4.1.2 Efisiensi Filtrasi Berdasarkan Nilai Kekeruhan setiap 10 menit

Waktu Influen(NT Effluent(NT Efisiens


(menit) U) U) i (%)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
DAFTAR PUSTAKA

Az-Zahra,Sarah. 2013. Tugas Besar Desain Kimia-Fisika II.


https://www.academia.edu/12766121/Teori_KoagulasiFlokulasi_Sedimentasi_dan
_Filtrasi. [diaskes 20 Februari 2017]
Helyoso,Palguno. 2014. Laporan praktikum Filtrasi media butiran. Jurusan Teknik
Kimia. Politeknik Negeri Bandung
L. Huisman, Slow Sand Filtration, Department of Civil Engineering, Technological
University, Delft, Netherlands
Mr. Noel Bourke, Water Treatment Manuals FILTRATION, Ireland
Selintung, Mary dkk. 2012. STUDI PENGOLAHAN AIR MELALUI MEDIA FILTER
PASIR KUARSA(STUDI KASUS SUNGAI MALIMPUNG)(Penelitian). Makasar :
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanudin
Teach Brief, A National Drinking Water Clearinghouse Fact Sheet
Thohir.2008.UnitFitrasi.https://www.academia.edu/5874059/BAB_7_UNIT_FILTRASI
. [diakses 20 Februari 2017]
.