Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Di dalam lingkungan kerja, berbagai faktor dapat mempengaruhi jalannya
suatu pekerjaan. Faktor-faktor ini perlu diperhatikan bukan hanya karena bersifat
wajar atau manusiawi, tetapi karena tidak diperhatikan akan dapat menimbulkan
berbagai kerugian, sebaliknya apabila diperhatikan dan diatur dengan baik, maka
dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Salah satu faktor yang
mempengaruhi suatu pekerjaan adalah komponen penyusun dari sistem kerja
tersebut. Untuk itu di dalam perancangan sistem kerja yang melibatkan manusia
harus diperhatikan kelebihan dan kekurangan dari manusia itu sendiri baik dari segi
fisik maupun psikologisnya. Kelebihan dan kekurangan manusia dari segi fisik harus
dapat diselesaikan dengan komponen dari sistem kerja yang berupa fasilitas kerja
dan tempat kerjanya. Penyesuaian komponen sistem kerja terhadap fisik manusia
yang menggunakan komponen tersebut akan sangat membantu kerja manusia
tersebut sehingga sistem akan berjalan dengan optimal. Untuk itulah sangat
diperlukan suatu pengukuran ANTROPOMETRI
Pengukuran ANTROPOMETRI merupakan pengukuran yang dilakukan
terhadap dimensi-dimensi tubuh manusia. Hasil dari pengukuran ini kemudian dapat
diaplikasikan pada sistem kerja yang melibatkan manusia saat melakukan interaksi
dengan komponen sistem kerja tersebut, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Dalam melakukan perancangan dalam suatu fasilitas dan tempat kerja di
dalam suatu sstem sangat diperlukan pengetahuaan tentang ERGONOMI dan
ANTROPOMETRI untuk dapat menghasilkan suatu rancangan yang tepat dan
optimal dengan memanfaatkan data-data pengukuran dimensi tubuh manusia yang
akan berinteraksi dengan dengan fasilitas dan tempat kerja tersebut. Diharapkan
nantinya dengan adanya pengetahuan tentang ANTROPOMETRI fasilitas dan
tempat kerja dapat membuat keadaan kerja lebih produktif dan nyaman.
Data mengenai perancangan fasilitas kerja, maupun lokasi dan perpindahan,
ditentukan oleh karakteristik tubuh manusia. ANTROPOMETRI membicarakan
ukuran tubuh manusia dan aspek-aspek segala gerakan manusia maupun postur dan
gaya-gaya yang dikeluarkan. Dengan bantuan dasar-dasar ANTROPOMETRI,
maupun aspek-aspek pandangan dan medan VISUAL, dapat membantu mengurangi
2

beban kerja dan memperbaiki untuk kerja. Dengan cara menyediakan tata letak
tempat kerja yang optimal, termasuk postur kerja yang baik dan landasan yang
dirancang dengan baik.
ANTROPOMETRI merupakan bagian dari ERGONOMI yang akan secara
khusus mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi LINIER, BERAT, ISI,
1
meliputi juga UKURAN, KEKUATAN, KECEPATAN, dan aspek lain dari gerakan
tubuh. Istilah ANTROPOMETRI berasal dari kata ANTRO yang artinya manusia
dan METRI yang artinya ukuran. Jadi dapat disimpulkan arti dari kata
ANTROPOMETRI secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-
pertimbangan ergonomis yang memerlukan interaksi manusia dan
ANTROPOMETRI yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas, antara
lain:
1. Perancangan area kerja.
2. Perancangan peralatan mesin perkakas.
3. Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja komputer.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Oleh karena itu dalam kaitan ini makan perancangan produk harus mampu
mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
produk hasil rancangan tersebut. Contoh dari ANTROPOMETRI adalah
pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas, pengukuran lemak tubuh,
dan lain-lain. Apabila kita merasa kurang nyaman atau kurang percaya diri karena
berat badan kita atau tinggi badan kita, maka itulah salah satu efek dari seseorang
yang telah melakukan pengukuran ANTROPOMETRI
Data ANTROPOMETRI yang diperoleh nantinya akan menentukan bentuk,
ukuran, dimensi, yang tepat dan berkaitan dengan produk yang akan dirancang
sehingga manusia yang akan menggunakan atau mengoperasikan produk tersebut
akan merasa nyaman dan aman.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang
dapat diambil adalah:
3

1. Peralatan apa yang digunakan dalam pengukuran ANTROPOMETRI?


2. Bagaimana cara mengukur dimensi-dimensi tubuh manusia sesuai dengan
ANTROPOMETRI?
3. Bagaimana pengolahan data untuk ANTROPOMETRI?

1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka penulis
membatasi penelitian ini meliputi:
1. Peralatan yang digunakan untuk mengukur merupakan fasilitas praktek Teknik
Industri Universitas Pamulang.
2. Pengukuran tubuh manusia dilakukan pada semua mahasiswa Teknik Industri
Angkatan 2011 Universitas Pamulang kecuali yang tidak hadir.

1.4 Tujuan Penelitian


Berdasarkan uraian perumusan masalah di atas, maka tujuan penulis
melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui alat-alat pengukuran yang digunakan untuk mengukur tubuh
pada saat praktikum.
2. Untuk mengetahui tata cara mengukur dimensi tubuh sesuai dengan
ANTROPOMETRI.
3. Untuk megetahui dimensi tubuh mahasiswa Teknik Industri Angkatan 2011
Universitas Pamulang.
4. Untuk mengetahui pengolahan data ANTROPOMETRI.

1.5 Manfaat Penelitian


Melalui praktikum ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat kepada
beberapa pihak, yaitu:
1. Bagi Penulis
Manfaat praktek ini bagi penulis adalah untuk menambah wawasan dan
pengalaman serta menerapkan ilmu yang telah dipelajari.

2. Bagi Universitas
Hasil praktek ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan
dapat memberikan suatu informasi yang dapat dipergunakan untuk menentukan
kebijakan dalam kegiatan selanjutnya.
3. Bagi Khalayak Umum
Penulisan ini dapat dipergunakan oleh khalayak umum sebagai bahan referensi
dan sebagai bahan pengetahuan bagi yang membaca terutama tentang
ANTROPOMETRI.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan pada penelitian ini disusun dalam 5 (lima) BAB, agar
4

memudahkan dalam pembahasan masalah dan memudahkan bagi pembaca untuk


memahami permasalahan yang diuraikan.
BAB I PENDAHULUAN
Bagian ini berisi tentang latar belakang, perumusan masalah,
pembatasn masalah, tujuan praktek, manfaat praktek, dan sistematika
penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menerangkan tentang dasar teori yang mendukung untuk
pengumpulan data praktek.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menerangkan tentang tempat dan waktu praktikum, obyek
penelitian, flow chart kegiatan praktikum, dan langkah-langkah
praktikum.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang proses praktikum dan mengolah data
ANTROPOMETRI.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan diperoleh kesimpulan dan saran-saran keseluruhan
dari hasil yang didapat pada bab-bab.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Ergonomi
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Ergonomi
Pada zaman dahulu ketika masih hidup dalam lingkungan alam asli, kehidupan
manusia sangat tergantung pada kegiatan tangannya. Alat-alat, perlengkapan-
perlengkapan, atau rumah-rumah sederhana, dibuat hanya sekedar untuk mengurangi
ganasnya alam pada saat itu. Perubahan waktu, walaupun secara perlahan-lahan,
telah merubah manusia dari keadaan primitif menjadi manusia yang berbudaya.
Kejadian ini antara lain terlihat pada perubahan rancangan peralatan-peralatan
5

yang dipakai, yaitu mulai dari batu yang tidak berbentuk menjadi batu yang mulai
berbentuk dengan meruncingkan beberapa bagian dari batu tersebut. Perubahan pada
alat sederhana ini, menunjukkan bahwa manusia telah sejak awal kebudayaannya
berusaha memperbaiki alat-alat yang dipakainya untuk memudahkan pemakaiannya.
Hal ini terlihat lagi pada alat-alat batu runcing yang bagian atasnya dipahat
bulat tepat sebesar genggaman sehingga lebih memudahkan dan menggerakan
pemakaiannya. Banyak lagi perbuatan-perbuatan manusia yang serupa dengan itu
dari abad ke abad. Namun hal tersebut berlangsung secara apa adanya, tidak teratur
dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang secara kebetulan. Baru di abad ke-20 ini
orang mulai mensistemasikan cara-cara perabaikan tersebut dan secara khusus
mengembangkannnya. Usaha-usaha ini berkembang terus dan sekarang dikenal
sebagai salah satu cabang ilmu yang disebut " Ergonomi".
Ergonomi ialah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan
informasi-informasi mengenal sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem
itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu,
dengan efektif, aman dan nyaman. (Sumber: Ajenraj).
Menurut Nurmianto (2008), istilah ergonomi mulai dicetuskan pada tahun
1949, akan tetapi aktivitas yang berkenaan dengannya mulai telah bermunculan
beberapa tahun sebelumnya. Berikut adalah kejadian-kejadian pentingnya:

1. C.T. Thackrah, England, 1831.


5 yang meneruskan pekerjaan dari
Thackrah adalah seorang dokter dari Inggris
seorang Italia bernama Ramazzini. Pada saat itu Thackrah mengamati seorang
penjahit yang bekerja dengan posisi dan dimensi kursi meja yang kurang sesuai
secara antropometri, serta pencahayaan yang tidak ergonomis sehingga
mengakibatkan membungkuknya badan dan iritasi penglihatan.
2. F.W. Taylor, USA, 1898.
Ia adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan metode ilmiah untuk
menentukan cara yang terbaik dalam melakukan suatu pekerjaan. Beberapa
metodenya merupakan konsep ergonomi dan manajeman modern.
3. F.B. Gilbreth, USA, 1911.
Gilbreth mengamati dan mengoptimasi metode kerja dalam hal ini lebih
6

mendetail dalam analisa gerakan. Ia menunjukkan bagaimana postur


membungkuk dapat diatasi dengan mendesain suatu sistem meja yang dapat
diatur naik-turun.
4. Industrial Fatigue Research Body, England, 1918.
Badan ini didirikan sebagai penyelesaian masalah yang terjadi di pabrik amunisi
pada Perang Dunia Pertama. Mereka menunjukkan bagaimana output setiap
harinya meningkat dengan jam kerja yang perharinya menurun. Disamping itu
mereka juga mengamati waktu siklus yang optimum untuk sistem kerja berulang
dan menyarankan adanya variasi dan rotasi pekerjaan.
5. E. Mayo dan teman-temannya, USA 1933.
Ia adalah seorang warga Negara Australia, memulai beberapa studinya di suatu
Perusahaan Listrik yaitu Western Electric Company, Hawthorne , Chicago.
Tujuannya adalah mengkuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti misalnya
pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap faktor efisiensi dari para
operator kerja pada unit perakitan.
6. Perang Dunia Kedua, England dan USA.
Masalah yang adaa saat itu adalah penempatan dan identifikasi untuk pengendali
pesawat terbang, efektivitas alat peraga, handle pembuka, ketidaknyamanan
karena terlalu panas atau terlalu dingin, desain pakaian untuk suasana yang
terlalu dingin dan pengaruhnya pada kinerja operator.

7. Pembentukan Kelompok Ergonomi.


Pembentukan masyarakat peneliti ergonomi (The Ergonomics Research Society)
di England pada tahun 1949 melibatkan beberapa professional yang telah
banyak berkecimpung dalam bidang ini. Hal ini menghasilkan jurnal (majalah
ilmiah) pertama dalam bidang ERGONOMI pada November 1957. Perkumpulan
Ergonomi Internasional (The International Ergonomics Association) terbentuk
pada tahun 1957, dan The Human Factors Society di Amerika pada tahun yang
sama. Disamping itu patut diketahui bahwa Konferensi Ergonomi Australia yang
pertama diselenggarakan pada tahun 1964, dan hal ini mencetuskan
terbentuknya masyarakat Ergonomi Australia dan New Zealand (The
Ergonomics Society of Australia and New Zealand).
7

2.1.2 Pengertian Ergonomi


Seperti yang telah disinggung sebelumnya di atas, bahwa manusia memegang
peranan yang sangat penting dalam perancangan suatu sistem kerja. Hal tersebut
sangatlah memungkinkan, karena dalam perancangan kita harus dapat
merencanakan, mengendalikan, serta mengevaluasi sistem kerja agar dapat
menghasilkan keluaran yang baik. Dalam suatu sistem kerja, bekerjanya seseorang
tidak akan lepas dari pengaruh berbagai dorongan baik langsung maupun tidak
langsung yang datangnya dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Untuk dapat
merancang sistem kerja yang baik tersebut, kita harus dapat mengenal sifat,
kemampuan dan keterbatasan manusia, yang mana semua hal tersebut dapat
dipelajari secara sistematis dalam ergonomi.
Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu terdiri atas kata dasar Ergos
yang berarti bekerja, dan Nomos yang artinya hukum alam, sehingga dapat
didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dan lingkungan kerjanya
yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan
desain/perancangan (Nurmianto, 1996:1)
Istilah ergonomi untuk berbagai wilayah berbeda-beda, seperti halnya di
Jerman mereka memberi istilah Arbelt Swissen Chraft, kemudian di daerah negara-
negara Skandinavia memberi istilah Bioteknologi, dan untuk negara-negara di bagian
Amerika sebelah utara memberi istilah Human Engineering atau Human Factors
Engineering. Pada dasarnya Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis
untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan
keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat
hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu untuk mencapai tujuan yang
diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman.(Sutalaksana,
1979:61)
Mc Cormick, dalam buku Human Factor in Engineering and Design
memberikan pengertian ergonomi ke dalam bagian-bagian berikut ini:
1. Fokus utama dari ergonomi berkaitan dengan pemikiran manusia dalam
mendesain peralatan, fasilitas, dan lingkungan yang dibuat oleh manusia, yang
digunakan dalam berbagai aspek kehidupannya.
2. Tujuan dari ergonomi dalam mendesain peralatan, fasilitas dan lingkungan yang
dibuat manusia ada dua hal:
a. Untuk meningkatkan efektifitas fungsional dari penggunaannya.
b. Untuk mempertahankan atau meningkatkan human value, seperti halnya
8

kesehatan, keselamatan, dan kepuasan kerja.


3. Pendekatan utama dari ergonomi adalah penerapan yang sistematis dari
informasi yang relevan mengenai karakteristik dan tingkah laku manusia untuk
mendesain peralatan fasilitas dan lingkungan yang dibuat oleh manusia.
(Mc Cormick, 1982:4).

2.1.3 Perkembangan Ergonomi


Pada zaman dahulu ketika masih hidup dalam lingkungan alam asli, kehidupan
manusia sangat bergantung pada kegiatan tangannya. Alat-alat, perlengkapan-
perlengkapan, atau rumah-rumah sederhana, dibuat hanya sekedar untuk megurangi
ganasnya alam pada saat itu. Perubahan waktu, walaupun secara perlahan-lahan,
telah merubah manusia dari keadaan primitif menjadi manusia yang berbudaya
kejadian ini antara lain terlihat pada perubahan rancangan peralatan-peralatan yang
dipakai, yaitu mulai dari batu yang tidak berbentuk menjadi batu yang mulai
berbentuk dengan meruncingkan beberapa bagian dari batu tersebut.
Perubahan pada alat sederhana ini menunjukkan bahwa manusia telah sejak
awal kebudayaan berusaha memperbaiki alat-alat yang dipakainya untuk
memudahkan pemakaiannya. Hal ini terlihat pada alat-alat batu runcing yang bagian
atasnya dipahat bulat tepat sebesar genggaman sehingga memudahkan dan
menggerakkan pemakaiannya. Banyak lagi perbuatan-perbuatan manusia yang
serupa dengan itu dari abad ke abad. Namun hal tersebut berlangsung secara apa
adanya, tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang secara kebetulan.
Baru di abad ke-20 ini orang mulai mensistematiskan cara-cara perbaikan tersebut
khusus mengembangkannya. Usaha-usaha ini berkembang terus dan sekarang
dikenal sebagai salah satu cabang ilmu yang disebut Ergonomi. (sutalaksana,
1979:61) Perkembangan ergonomi moderen sendiri dimulai kurang lebih seratus
tahun yang lalu pada saat Taylor (1880-an) dan Gilbert (1890-an) secara terpisah
melakukan studi tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata
dimulai pada zaman perang dunia I untuk mengoptimasikan pabrik-pabrik pada
tahun 1924-1930 di Hawthorne Works of Western electric, Amerika, dilakukan suatu
percobaan tentang ergonomi yang selanjutnya terkenal dengan Hawthrone Effect
(efek Hawthrone). Hasil dari percobaan ini memberikan suatu konsep baru tentang
motivasi ditempat kerja dan menunjukkan adanya hubungan fisik yang langsung
antara manusia dan mesin.
Ergonomi memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor
9

keselamatan dan kesehatan kerja misalnya : desain suatu sistem kerja untuk
mengurangi rasa nyeri paha sistem kerangka dan otot manusia, desain stasiun kerja
untuk alat peraga visual (visual display unit stasiun). Hal ini adalah untuk
mengurangi ketidaknyamanan visual pada postur kerja, desain suatu perkakas kerja
(hands tools) untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan instrumen
dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi dengan
menghasilkan suatu respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kerja dan
hilangnya resiko kesalahan, serta supaya didapatkan optimasi, efisiensi kerja dan
hilangnya resiko kesehatan akibat metoda kerja yang kurang tepat. (Nurmianto,
1996:3)
Ergonomi dibagi ke dalam empat kelompok utama, yaitu (Sutalaksana, 1979,
Teknik Tata Cara Kerja:
1. Antropometri
Menitikberatkan pada nilai ukuran ukuran yang sesuai dengan ukuran tubuh
manusia. Dalam hal ini terjadi penggabungan dan pemakaian data antropometri
dengan ilmu statistik yang menjadi prasarat utama.
2. Biomekanik
Menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas manusia ketika bekerja dan cara
mengukur dari setiap aktivitas tersebut.

3. Display
Menitikberatkan pada bagian dari lingkungan yang mengkomunikasikan pada
manusia.
4. Lingkungan
Menitik beratkan kepada fasilitas-fasilitas dan ruangan yang biasa digunakan
oleh manusia dan kondisi lingkungan kerja karena kedua hal tersebut banyak
mempengaruhi tingkah laku manusia.

2.1.4 Tujuan dan Prinsip Ergonomi


Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan ilmu ergonomi.
Tujuan-tujuan dari penerapan ergonomi adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2004):
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera
dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental,
mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
10

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial


dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik
selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan
antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas
kerja dan kualitas hidup yang tinggi.
Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau
pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan
dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip
ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Menurut
Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi, yaitu sebagai
berikut:
1. Bekerja dalam posisi atau postur normal.
2. Mengurangi beban berlebihan.
3. Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan.
4. Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh.
5. Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan.
6. Minimalisasi gerakan statis.
7. Minimalisasikan titik beban.
8. Mencakup jarak ruang.
9. Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
10. Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja.
11. Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti.

2.1.5 Aplikasi atau Penerapan Ergonomi


Terhadap beberapa aplikasi dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Aplikasi atau
penerapan tersebut antara lain:
1. Posisi Kerja, terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana
kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.
Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan
tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
a. Posisi Kerja Duduk
Keuntungan:
1. Mengurangi kelelahan pada kaki.
2. Terhindarnya sikap yang tidak alamiah.
3. Berkurangnya pemakaian energi.
Kerugian:
1. Melembeknya otot perut.
2. Melengkungnya punggung.
3. Efek buruk bagi organ bagian dalam.
11

b. Posisi Kerja Berdiri


Keuntungan: Otot perut tidak kendor, sehingga vertebra (ruas tulang
belakang) tidak rusak bila mengalami pembebanan.
Kerugian: Otot kaki cepat lelah.
c. Posisi Kerja Duduk-Berdiri
Posisi Duduk-Berdiri mempunyai keuntungan secara Biomekanis dimana
tekanan pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih rendah dibandingkan
dengan posisi duduk maupun berdiri terus menerus.
2. Proses Kerja. Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan
posisi waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran antropometrinya. Harus
dibedakan ukuran antropometri barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja. Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan
aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional harus lebih
banyak digunakan daripada hanya kata-kata saja.
4. Mengangkat beban. Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni,
dengan kepala, bahu, tangan, punggung dan sebagainya. Beban yang terlalu
berat dapat menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian
akibat gerakan yang berlebihan.

2.1.6 Evaluasi Ergonomi


Berdasarkan Antropometri, Biomekanika, Fisiologi Kerja, Pencegahan dan
Pengendalian Bahaya. Dengan diterapkannya ergonomi, sistem kerja dapat menjadi
lebih produktif dan efisien. Dilihat dari sisi rekayasa, informasi hasil penelitian
ergonomi dapat dikelompokkan dalam beberapa bidang penelitian, yaitu:
1. Antropometri
2. Biomekanika
3. Fisiologi
4. Pencegahan dan Pengendalian Bahaya

1. Antropometri
Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengkuran dimensi tubuh
manusia dan karakteristik khusus lain dari tubuh yang relevan dengan
perancangan alat-alat/benda-benda yang digunakan manusia. Antropometri
dibagi atas dua bagian utama, yaitu:
a. Antropometri Statis (struktural). Pengukuran manusia pada posisi diam, dan
linier permukaan tubuh.
b. Antropometri Dinamis (fungsional). Yang dimaksud dengan antropometri
12

dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam


keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi
saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.
Yang sering disebut sebagai antropometri rekayasa adalah aplikasi dari kedua
bagian utama di atas untuk merancang workspace dan peralatan.
Permasalahan variasi dimensi antropometri seringkali menjadi faktor dalam
menghasilkan rancangan sistem kerja yang fit untuk pengguna. Dimensi
tubuh manusia itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang harus
menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sampel data yang akan
diambil.
Faktor-faktor tersebut adalah:
1 Umur. Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai
sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan
berkurang setelah 60 tahun.
2 Jenis kelamin. Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih
besar kecuali bagian dada dan pinggul.
3 Rumpun dan Suku Bangsa.
4 Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh.
5 Kondisi waktu pengukuran.
Metode Perancangan dengan Antropometri (Antropometric Method) terdapat
dua pilihan dalam merancang sistem kerja berdasarkan data antropometri, yaitu:
1. Sesuai dengan tubuh pekerja yang bersangkutan (perancangan individual)
yang terbaik secara ergonomi.
2. Sesuai dengan populasi pemakai/pekerja Perancangan untuk populasi
sendiri memiliki tiga pilihan, yaitu:
a Design for extreme individuals.
b Design for adjustable range.
c Design for average.
Gambar antropometri pada tubuh manusia dapat dilihat, seperti gambar 2.1
berikut:
13

Gambar 2.1: Antropometri Perempuan


14

Gambar 2.1: Antropometri Laki-Laki


2. Biomekanika
Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep-
konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai
macam bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Faktor ini sangat berhubungan
dengan pekerjaan yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan
pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan
otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas
manusia, namun tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat
dihilangkan dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan.
Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam durasi waktu
kerja tertentu, misalnya penanganan atau pemindahan material secara manual.
15

Usaha fisik ini banyak mengakibatkan kecelakaan kerja ataupun low back pain,
yang menjadi isu besar di negara-negara industri belakangan ini.
3. Fisiologi
Secara garis besar, kegiatan-kegiatan kerja manusia dapat digolongkan menjadi
kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak). Pemisahan ini tidak dapat dilakukan
secara sempurna, karena terdapat hubungan yang erat antara satu dengan
lainnya. Apabila dilihat dari energi yang dikeluarkan, kerja mental murni relatif
lebih sedikit mengeluarkan energi.

2.1.7 Dasar Keilmuan dari Ergonomi


Banyak penerapan ergonomi yang hanya berdasarkan sekedar common sense
dianggap suatu hal yang sudah biasa terjadi), dan hal itu benar, jika sekiranya suatu
keuntungan yang besar bisa didapat hanya sekedar dengan penerapan suatu prinsip
yang sederhana. Hal ini biasanya merupakan kasus dimana ergonomi belum dapat
diterima sepenuhnya sebagai alat untuk proses desain, tetapi masih banyak aspek
ergonomi yang jauh dari kesadaran manusia. Karakterisrik fungsional dari manusia
seperti kemampuan penginderaan dari manusia. Waktu respon/tanggapan, daya ingat,
posisi optimum tangan dan kaki untuk efisiensi kerja otot, dan lain-lain, adalah
merupakan suatu hal yang belum sepenuhnya dipahami masyarakat awam. Agar
didapat suatu perencanaan pekerjaan maupun produk yang optimal dari pada
tergantung dan harus dengan trial and eror maka pendekatan ilmiah harus segera
diadakan.

Ilmu-ilmu terapan yang banyak berhubungan dengan fungsi tubuh manusia


adalah anatomi dan fisiologi. Untuk menjadi ergonomi diperlukan pengetahuan dasar
tentang fungsi dari sistem kerangka otot, yang berhubungan dengan hal tersebut
adalah kinesiologi (mekanika pergerakan manusia) dan biomekanik (aplikasi ilmu
mekanika teknik untuk analisis sistem kerangka otot manusia). Ilmu ini akan
memberikan modal dasar untuk mengatasi masalah postur dan pergerakan manusia
di tempat dan ruang kerjanya. Disamping itu, suatu hal yang vital pada penerapan
ilmiah untuk ergonomi adalah antopometri (kalibrasi tubuh manusia). Dalam hal ini
terjadi penggabungan dan pemakaian data antopometri dengan ilmu-ilmu statistik
yang menjadi prasyarat umumnya.

2.1.8 Konsep Pertumbuhan Sebagai Dasar Antropometri


16

1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan


a. Pertumbuhan
Pertumbuhan dalam kehidupan manusia dimulai sejak janin dalam
kandungan berlanjut pada masa bayi, kanak-kanak dan pada masa remaja
kemudian berakhir pada masa dewasa. Pertumbuhan merupakan suatu proses
yang berkelanjutan dan mengikuti perjalanan waktu. Selama pertumbuhan
terjadi perubahan ukuran fisik. Ukuran fisik tidak lain adalah ukuran tubuh
manusia baik dari segi dimensi, proporsi maupun komposisinya. Ukuran fisik
manusia dapat diukur. Ilmu yang mempelajari ukuran fisik pada bagian tubuh
tertentu dikenal dengan sebutan antropometri.
Pola pertumbuhan dibatasi oleh dua hal yaitu faktor genetik dan faktor
lingkungan. Faktor lingkungan seperti intake zat gizi, infeksi penyakit,
sanitasi lingkungan, pelayanan kesehatan dan lain-lain). Pengukuran
pertumbuhan secara antropometri akan berkait dengan umur yang nantinya
akan dipadukan dengan ukuran: berat badan, panjang badan, lingkar kepala,
lemak di bawah kulit dan lingkar lengan atas. Berat badan untuk umur
(BB/U) merupakan indikator yang mendasar dan absah untuk penentuan
keadaan gizi , terutama gizi kurang. Panjang badan untuk umur (PB/U) untuk
mengukur riwayat kekurangan gizi di masa lampau. Berat badan untuk
panjang badan (BB/PB) merupakan indikator yang kuat untuk menentukan
akibat gizi salah akut dan masa penyembuhannya.

Pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: kelenjar yang


menghasilkan hormon pertumbuhan, penyakit, keturunan, emosi, sistem
syaraf, musim dan iklim, gizi, seluler, social ekonomi. Faktor ras dapat
mempengaruhi densitas tulang. Ras Afrika memiliki idensitas tulang yang
tinggi, sehingga perbedaan ras memiliki hubungan yang penting pada
osteoporosis.
b. Perkembangan
Definisi perkembangan menurut Sinclair, D (1973) meliputi parameter
psikologi, idea dan pemahaman dan perolehan skill motorik dan sensorik.
Hurlock, B (1980) dalam psikologi perkembangan menganggap penting dasar
permulaan merupakan sikap kritis karena mengarah kepada penyesuaian diri
pribadi atau sosial bila sudah tua. Banyak para ahli psikologi memandang
17

tahun pra sekolah merupakan tahapan penting atau kritis dimana mulai
diletakkan dasar struktural perilaku komplek yang dibentuk dalam kehidupan.
Perkembangan juga seperti pertumbuhan mengikuti suatu pola spesifik dan
dapat diramalkan mengikuti hukum arah perkembangan yang disebut hukum
cephalocaudal yang menjelaskan bahwa perkembangan menyebar keseluruh
tubuh dari kepala ke kaki dan hukum proximodistal yang menentapkan
bahwa perkembangan menyebar keluar dari titik poros sentral ke anggota
tubuh. Perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku umum jika kondisi
lingkungan mendukung. Setiap tahapan perkembangan mempunyai perilaku
karakteristik. Perkembangan sangat dibantu rangsangan. Setiap tahapan
mempunyai resiko. Perkembangan terjadi karena kematangan dan
pengalaman dari lingkungan serta perkembangan dipengaruhi oleh budaya.
Namun disadari tahap perkembangan anak berbeda seperti yang
dikemukakan oleh beberapa pakar.
Pola perkembangan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, fisik dan psikis
yang menimbulkan perbedaan tampilan dari setiap anak. Perkembangan
mencakup rangsangan yang diberikan kepada anak dan umumnya pencapaian
perkembangan optimal tergantung rangsangan (stimuli) dari luar dan
umumnya anak mencapai perkembangan tertentu pada umur yang lebih
tinggi. Perkembangan mengikuti jalur pertumbuhan dan memiliki pola sesuai
dengan umur dan taraf perkembangan. Apabila beberapa taraf perkembangan
tidak dicapai oleh anak pada umur batas anak, maka perlu dicurigai bahwa
anak-anak mengalami kelambatan perkembangan dan perlu dikonsultasikan
kepada ahlinya. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan tidak
dapat dipindahkan dan harus berjalan beriringan. Misalkan perkembangan
kepala terjadi sangat cepat khususnya pada tahun pertama umur bayi, karena
otak berkembang sangat pesat. Perkembangan kepandaian bayi terutama
tergantung pada berfungsinya otak dan sistem syaraf serta rangsangan yang
diterima anak. Waktu dilahirkan bayi hanya dapat melakukan sesuatu terbatas
untuk dirinya, tetapi kemudian secara teratur semakin berkembang sampai
mampu mengontrol tubuhnya dan melakukan pekerjaan khusus. Tingkatan
(fase-fase) perkembangan kemampuan anak menurut umur perlu diketahui
untuk dapat dipakai sebagai indikator perkembangan kepandaian anak.
18

2.1.9 Pengendalian Kualitas Data Antropometri


Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai
standar prosedur pengumpulan data antropometri. Tujuan dari prosedur standarisasi
adalah memberikan informasi yang cepat dan menunjukkan kesalahan secara tepat
sehingga perubahan dapat dilakukan sebelum sumber kesalahan dapat dipastikan.
Pengertian Presesi dan Akurasi
Akurasi menunjukkan kedekatan hasil pengukuran dengan nilai sesungguhnya.
Presisi menunjukkan seberapa dekat perbedaan nilai pada saat dilakukan
pengulangan pengukuran. Kesalahan dalam pengukuran, kesalahan yang terjadi pada
saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran
antropometri gizi. Ada 3 penyebab utama kesalahan yang signifikan yaitu:
1. Kesalahan pengukuran.
2. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
3. Analisis dan asumsi yang keliru.
Sedangkan kesalahan lainnya yang umum terjadi dalam pengukuran
antropometri antara lain:
1. Pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa memperhatikan posisi
orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung, pinggul, dan tumit
harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap sempurna.
Disamping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak memperhatikan
situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak menggunakan sandal atau
sepatu.
2. Pada waktu penimbangan berat badan, timbangan belum di titik nol, dacin belum
dalam keadaan seimbang dan dacin tidak berdiri tegak lurus.
3. Kesalahan pada peralatan. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat
badan adalah dacin dengan kapasitas 20-25 kg dan ketelitian 0,1 kg. Untuk
mengukur panjang badan, alat pengukur panjang badan berkapasitas 110 cm
dengan skala 0,1 cm. Tinggi badan dapat diukur dengan mikrotoa berkapasitas
200 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Lingkar lengan atas dapat diukur dengan pita
LLA yang berkapasitas 33 cm dengan skala 0,1 cm.
4. Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur. Kesalahan ini dapat terjadi
karena petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan
yang memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering
disebut Measurement Error.
19

2.1.10 Metode Ergonomi


Terdapat beberapa metode dalam pelaksanaan ilmu ergonomi. Metode-metode
tersebut antara lain:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat
kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan
pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang
sederhana sampai kompleks.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat
diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi mebel, letak
pencahayaan atau jendela yang sesuai. Membeli furniture sesuai dengan dimensi
fisik pekerja.
3. Follow-up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya
dengan menanyakan kenyamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku,
keletihan, sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter
produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain.

2.1.11 Pengelompokkan Bidang Kajian Ergonomi


Pengelompokkan bidang kajian ergonomi yang secara lengkap dikelompokkan
oleh Dr. Ir. Iftikar Z. Sutalaksana (1979) sebagai berikut:
1. Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang
dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk
perancangan sistem kerja yang dapat meminimasi konsumsi energi yang
dikeluarkan saat bekerja.
2. Antropometri, yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan
pengukuran dimensi tubuh manusia untuk digunakan dalam perancangan
peralatan dan fasilitas sehingga sesuai dengan pemakainya.
3. Biomekanika, yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan
mekanisme tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot
manusia dalam bekerja dan sebagainya.
4. Penginderaan, yaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya dengan masalah
penginderaan manusia, baik indera penglihatan, penciuman, perasa dan
sebagainya.
5. Psikologi kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan dengan efek
psikologis dan suatu pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadinya stres
dan lain sebagainya.
20

Pada prakteknya, dalam mengevaluasi suatu sistem kerja secara ergonomi,


kelima bidang kajian tersebut digunakan secara sinergis sehingga didapatkan suatu
solusi yang optimal, sehingga seluruh bidang kajian ergonomi adalah suatu sistem
terintegrasi yang semata-mata ditujukan untuk perbaikan kondisi manusia
pekerjanya.

2.1.12 Spesialisasi Bidang Ergonomi


Spesialisasi bidang ergonomi meliputi: ergonomi fisik, ergonomi kognitif,
ergonomi sosial, ergonomi organisasi, ergonomi lingkungan dan faktor lain yang
sesuai. Evaluasi ergonomi merupakan studi tentang penerapan ergonomi dalam suatu
sistem kerja yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penerapan
ergonomi, sehingga didapatkan suatu rancangan keergonomian yang terbaik.
1. Ergonomi Fisik: berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri,
karakteristik fisiolgi dan biomekanika yang berhubungan dengan aktifitas fisik.
Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain: postur kerja,
pemindahan material, gerakan berulang-ulang, tata letak tempat kerja,
keselamatan dan kesehatan.
2. Ergonomi Kognitif: berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di
dalamnya: persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia
terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi
kognitif antara lain: beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human-
computer interaction, keandalan manusia, dan stres kerja.
3. Ergonomi Organisasi: berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik, termasuk
sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang relevan dalam
ergonomi organisasi antara lain: komunikasi, perancangan kerja, perancangan
waktu kerja, tim work, perancangan partisipasi, komunitas
ergonomi, kultur organisasi, organisasi virtual, dan lain-lain.
4. Ergonomi Lingkungan: berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan,
dan getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi lingkungan antara lain:
perancangan ruang kerja, sistem akustik, dan lain-lain.

2.1.13 Beban Kerja


Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh
seseorang untuk memenuhi permintaan dari pekerjaan tersebut. Sedangkan
kapasitas adalah kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari
21

kondisi fisik maupun mental seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran
(porsi) dari kapasitas operator yang terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja
tertentu.
Penjelasan sederhananya seperti ini. Misalkan suatu pekerjaan kuli angkut
mempunyai demand berupa mengangkat 100 karung per hari. Jika pekerja hanya
mampu mengangkat 50 karung per hari, berarti pekerjaan tersebut melebihi
kapasitasnya.
Seperti halnya mesin, jika beban yang diterima melebihi kapasitasnya, maka
akan menurunkan usia pakai mesin tersebut, bahkan menjadi rusak. Begitu pula
manusia, jika ia diberikan beban kerja yang berlebihan, maka akan menurunkan
kualitas hidup (kelelahan dan lain-lain) dan kualitas kerja orang tersebut
(tingginya error rate dan lain-lain), dan juga dapat mempengaruhi keselamatan dan
kesehatan kerja. Gambar 2.2 dibawah ini memperlihatkan hubungan antara beban
kerja dan kapasitas:

Gambar 2.2 Beban Kerja dan Kapasitas

Analisis Beban Kerja ini banyak digunakan diantaranya dapat digunakan


dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning), analisis ergonomi,
analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), hingga ke perencanaan penggajian
dan lain-lain. Skema beban kerja dapat dilihat pada gambar 2.3 dibawah ini:
22

Gambar 2.3 Skema Beban Kerja

Perhitungan beban kerja setidaknya dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik,
mental, dan penggunaan waktu. Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja
berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan perhitungan
beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis). Sedangkan
pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk
bekerja.
Secara umum, beban kerja fisik dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi fisiologis
dan biomekanika. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi
tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan dan lain-lain. Sedangkan
biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada
tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.
Perhitungan beban kerja berdasarkan pemanfaatan waktu bisa dibedakan antara
pekerjaan berulang (repetitif) atau pekerjaan yang tidak berulang (non-repetitif).
Pekerjaan repetitif biasanya terjadi pada pekerjaan dengan siklus pekerjaan yang
pendek dan berulang pada waktu yang relatif sama. Contohnya adalah operator
mesin di pabrik-pabrik. Sedangkan pekerjaan non-repetitif mempunyai pola yang
relatif tidak menentu. Seperti pekerjaan administratif, tata usaha, sekretaris, dan
pegawai-pegawai kantor pada umumnya.
Latar belakang diperlukannya pengukuran beban kerja adalah setiap pekerjaan
merupakan beban bagi pelakunya. Beban-beban tersebut tergantung bagaimana
orang tersebut bekerja. Beban dimaksud dapat berupa fisik ataupun mental. Menurut
Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda satu
kepada yang lainnya dan sangat tergantung dengan tingkat keterampilan, kesegaran
jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh dan pekerja yang
bersangkutan. Inilah maksud penetapan tenaga kerja yang tepat pada pekerjaan yang
tepat atau pemilihan tenaga kerja tersehat untuk pekerjaan yang sehat pula.

2.1.14 Beban Kerja Mental


Beban kerja mental yang merupakan perbedaan antara tuntutan kerja mental
dengan kemampuan mental yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan.
Beban kerja yang timbul dari aktivitas mental di lingkungan kerja antara lain
disebabkan oleh:
23

1. Keharusan untuk tetap dalam kondisi kewaspadaan tinggi dalam waktu lama
2. Kebutuhan untuk mengambil keputusan yang melibatkan tanggung jawab besar
3. Menurunnya konsentrasi akibat aktivitas yang monoton
4. Kurangnya kontak dengan orang lain, terutama untuk tempat kerja yangterisolasi
dengan orang lain.
Selain beban kerja fisik, beban kerja yang bersifat mental harus pula dinilai.
Namun demikian penilaian beban kerja mental tidaklah semudah menilai beban kerja
fisik. Pekerjaan yang bersifat mental sulit diukur melalui perubahan fungsi faal
tubuh. Secara fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu jenis pekerjaan yang
ringan sehingga kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Padahal
secara moral dan tanggung jawab, aktivitas mental jelas lebih berat dibandingkan
dengan aktivitas fisik, karena lebih melibatkan kerja otak (white-collar) dari pada
kerja otot (Blue-collar). Dewasa ini aktivitas mental lebih banyak didominasi oleh
pekerja-pekerja kantor, supervisor dan pimpinan sebagai pengambil keputusan
dengan tanggung jawab yang lebih besar. Menurut Grandjean (1993) setiap aktivitas
mental akan selalu melibatkan unsur persepsi, interpretasi dan proses mental dari
suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau
proses mengingat informasi yang lampau. Yang menjadi masalah pada manusia
adalah kemampuan untuk memanggil kembali atau mengingat informasi yang
disimpan. Proses mengingat kembali ini sebagian besar menjadi masalah bagi orang
tua. Seperti kita tahu bahwa orang tua kebanyakan mengalami penurunan daya ingat.
Dengan demikian penilaian beban kerja mental lebih tepat menggunakan penilaian
terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja. Sedangkan jenis
pekerjaan yang lebih memerlukan kesiapsiagaan tinggi seperti petugas air traffic
controllers di Bandara Udara adalah sangat berhubungan dengan pekerjaan mental
yang memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin lama orang berkonsentrasi maka akan
semakin berkurang tingkat kesiapsiagaannya. Maka uji yang lebih tepat untuk
menilai kesiap siagaan tinggi adalah tes waktu reaksi. Dimana waktu reaksi sering
dapat digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan melakukan tugas-tugas
yang berhubungan dengan mental.

2.1.15 Definisi Beban kerja


Beban kerja adalah frekuensi rata-rata masing-masing jenis pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu, dimana dalam memperkirakan beban kerja dari organisasi
dapat dilakukan berdasarkan perhitungan atau pengalaman (Peraturan Pemerintah RI
24

Nomor 97 tahun 2000 dalam Nurcahyaningtyas, 2006). Beban kerja perawat adalah
seluruh kegiatan/aktifitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di
suatu unit pelayanan keperawatan (Marquish dan huston, 2000 dalam
Nurcahyaningtyas, 2006).
Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa beban kerja
perawat adalah seluruh kegiatan atau aktifitas yang dilakukan perawat dengan jenis
pekerjaan dan beratnya pekerjaan yang ditetapkan dalam satuan waktu tertentu di
suatu unit pelayanan keperawatan.
Beban kerja dapat dibedakan menjadi beban kerja kuantitatif dan kualitatif.
Beban kerja kuantitatif menunjukkan adanya jumlah pekerjaan yang besar yang
harus dilakukan misalnya jam kerja yang tinggi, derajat tanggung jawab yang besar,
tekanan kerja sehari-hari dan sebagainya. Beban kerja kualitatif menyangkut
kesulitan tugas yang dihadapi (Putrono, 2002).

2.1.16 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja


Beban kerja disebabkan oleh kelebihan beban kerja, yang dibedakan menjadi
kelebihan beban kerja secara kuantatif (Quantitative Overload) dan beban kerja
secara kualitatif (Qualitative Overload) (Caplan HI & Sadock BJ, 1973 dalam
Putrono, 2002).
1. Beban kerja secara kuantitatif mencakup:
a. Harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam kerja.
b. Terlalu banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan.
c. Terlalu beragamnya pekerjaan yang harus dikerjakan.
d. Kontak langsung perawat klien secara terus menerus selama jam kerja.
e. Rasio perawat-klien.
2. Sedangkan beban kerja secara kualitatif mencakup:
a. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki perawat tidak mampu
mengimbangi sulitnya pekerjaan di ruangan.
b. Tanggung jawab yang tinggi terhadap asuhan keperawatan pasien kritis di
ruangan.
c. Harapan pimpinan Rumah Sakit terhadap pelayanan yang berkualitas.
d. Tuntutan keluarga pasien terhadap keselamatan pasien.
25

e. Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat.


f. Tugas memberikan obat secara intensif.
g. Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan kondisi
terminal.
h. Tindakan penyelamatan pasien.

2.2 Antropometri
Antropometri (dari Bahasa Yunani yang berati manusia and
yang berarti mengukur, secara literal berarti "pengukuran manusia"),
dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu manusia untuk
mengetahui variasi fisik manusia.
Kini, antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri,
perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data
statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk
menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari,
nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam
distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan
membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometrik.
PSG dengan metode antropometri adalah menjadikan ukuran tubuh manusia
sebagai alat menentukan status gizi manusia.[butuh rujukan]
Konsep dasar yang harus
dipahami dalam menggunakan antropometri secara antropometri adalah Konsep
Dasar Pertumbuhan
Pertumbuhan secara gamblang dapat diartikan terjadinya perubahan sel tubuh
dalam 2 bantuk yaitu 1) pertambahan sel dan 2) pembelahan sel, yang secara
akumulasi perjadinya perubahan ukuran tubuh. Jadi pada dasarnya menilai status gizi
dengan metode antropometri adalah menilai pertumbuhan. Hanya saja pertumbuhan
dalam pengertian pertambahan sel memiliki batas waktu tertentu. Para pakar
antropometri sepakat bawah pada umumnya pertumbuhan manusia dalam arti
pertambahan sel akan berhenti pada usia 18-20 tahun, walaupun masih ditemukan
sebelum 18 pertumbuhan sudah berhenti, dan sebaliknya setelah 20 tahun masih ada
kemungkinan pertumbuhan masih berjalan.
Makhluk hidup, termasuk manusia makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Kebutuhan tubuh akan makanan dapat dideskripakn dari tri fungsi makanan itu
26

sendiri, yaitu :
1. Sumber Tenaga
2. Pertumbuhan
3. Pemeliharaan
Sebagai sumber tenaga adalah karbohidrat, lemak dan protein, dalam urutan
yang berbeda sebagai sumber energi. Pembakaran 1 gram karbohidrat menghasikan
4,1 kalori, protein 41 kalori dan lemak 9 kalori per gramnya. Namun lemak bukanlah
sumber energi utama oleh karena untuk metabolisme lemak dibutuhkan kalori yang
lebih tinggi untuk Specifik Dinamyc Action (SDA)nya.
Sebagai sumber zat pembangun adalah Protein, Lemak dan Karbohidrat.
Sedangkan sebagai sumber zat pengatur adalah vitamin dan mineral.

Antropometri dapat dibagi menjadi 2 yaitu:


1. Antropometri Statis (Struktural)
Pengukuran manusia pada posisi diam, dan linier pada permukaan tubuh.
2. Antropometri Dinamis (Fungsional)
Yang dimaksud dengan antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan
ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-
gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatannya.
Hal-hal yang memengaruhi dimensi antropometri manusia adalah sebagai
berikut:
1. Umur.
2. Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20
tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang
setelah 60 tahun.
3. Jenis kelamin.
4. Pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian
dada dan pinggul.
5. Rumpun dan Suku Bangsa.
6. Sosial ekonomi dan konsumsi gizi yang diperoleh.
27

7. Kondisi ekonomi dan gizi juga berpengaruh terhadap ukuran antropometri


meskipun juga bergantung pada kegiatan yang dilakukan.
8. Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh.
9. Kondisi waktu pengukuran.

2.2.1 Definisi Antropometri


Antropometri merupakan bagian dari ergonomi yang secara khusus
mempelajari ukuran tubuh yang meliputi dimensi linear, serta, isi dan juga meliputi
daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan aspek lain dari gerakan tubuh. Secara
devinitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan
ukuran dimensi tubuh manusia meliputi daerah ukuran, kekuatan, kecepatan dan
aspek lain dari gerakan tubuh manusia, menurut Stevenson (1989) antropometri
adalah suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik
tubuh manusia ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk
penanganan masalah desain.
Salah satu pembatas kinerja tenaga kerja. Guna mengatasi keadaan tersebut
diperlukan data antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar desain sarana
prasarana kerja. Antropometri sebagai salah satu disiplin ilmu yang digunakan dalam
ergonomi memegang peran utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja.
Antropometri dapat dibagi menjadi:
1. Antropometri Statis
Antropometri statis merupakan ukuran tubuh dan karakteristik tubuh dalam
keadaan diam (statis) untuk posisi yang telah ditentukan atau standar.
Contoh: Tinggi Badan, Lebar bahu.
2. Antropometri Dinamis
Antropometri dinamis adalah ukuran tubuh atau karakteristik tubuh dalam
keadaan bergerak, atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi
saat pekerja tersebut melaksanakan kegiatan.
Contoh: Putaran sudut tangan, sudut putaran pergelangan kaki.

2.2.2 Data Antopometri


Data antropometri adalah data-data dari hasil pengukuran yang digunakan
sebagai data untuk perancangan peralatan. Mengingat bahwa keadaan dan ciri dapat
28

membedakan satu dengan yang lainnya, maka dalam perancangan yang digunakan
data antropometri terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu
(Wignjosoebroto, 2003):
1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim (minimum atau
maksimum)
Prinsip ini digunakan apabila kita mengharapkan agar fasilitas yang akan di
rancang tersebut dapat di pakai dengan enak dan nyaman oleh sebagian besar
orang-orang yang akan memakainya.
Contohnya: Ketinggian kontrol maksimum digunakan tinggi jangkauan keatas
dari orang pendek, ketinggian pintu di sesuaikan dengan orang yang tinggi dan
lain-lain.
2. Prinsip perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan.
Prinsip digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut dapat
menampung atau bisa dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang
mungkin memerlukannya. Biasanya rancangan ini memerlukan biaya lebih
mahal tetapi memiliki fungsi yang lebih tinggi.
Contohnya: Kursi kemudi yang bisa di atur maju-mundur dan kemiringan
sandarannya, tinggi kursi sekretaris atau tinggi permukaan mejanya.
Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan harga rata rata para pemakainya.
Prinsip ini hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak
mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika menggunakan prinsip perancangan
fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin
dilaksanakan bila lebih banyak rugi dari pada untungnya, ini berarti hanya sebagian
kecil dari orang-orang yang merasa enak dan nyaman ketika menggunakan fasilitas
tersebut. Kenyataan menunjukan bahwa terdapat perbedaan atribut/ukuran fisik
antara satu manusia dengan manusia yang lain. Perbedaan antara satu populasi
dengan populasi yang lain dikarenakan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi data
antropometri, yaitu :
1. Umur
2. Jenis kelamin
3. Ras dan suku bangsa
4. Jenis pekerjaan
Dalam rangka untuk mendapatkan suatu rancangan yang optimum dari suatu
ruang dan fasilitas akomodasi maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah faktor-
seperti panjang dari suatu dimensi tubuh manusia baik dalam posisi statis maupun
29

dinamis selain itu juga harus didapatkan data-data yang sesuai dengan tubuh
manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasika
pada data perorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah manusia yang diukur
dimensi tubuhnya, maka akan semakin kelihatan betapa besar variansinya antara
tubuh dengan tubuh lainnya baik secara keseluruhan tubuh maupun segmennya.

2.2.3 Antropometri dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas


Istilah antropometri berasal dari anthro yang berarti manusia
dan metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan
sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia.
Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan ergonomi dalam
proses perancangan produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi
manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas
antara lain dalam hal, (Menurut Wignjosoebroto, 2003):
1. Perancangan area kerja (work station, mobile, interior, dan lain-lain).
2. Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas dan sebagainya.
3. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, dan
sebagainya.
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa data antropometri dapat menentukan bentuk,
ukuran dan dimensi yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang
akan mengoperasikanya atau menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka
perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi dari populasi
terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut. Secara umum
sekurang-kurangnya 90%-95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok
pemakai suatu produk haruslah dapat menggunakan produk tersebut.
Untuk mendesain peralatan kerja secara ergonomi yang digunakan dalam
lingkungan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan
seharusnya disesuaikan dengan manusia di lingkungan tersebut. Apabila tidak
ergonomis akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi manusia tersebut.
Dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi dalam jangka waktu pendek
(short term) maupun jangka panjang (long term).

2.2.4 Prinsip Perancangan Produk Atau Fasilitas Dengan Ukuran Rata-Rata


30

Data Antropometri
Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran manusia.
Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang
berbeda dalam ukuran rata-rata, sedangkan bagi mereka yang memiliki ukuran
ekstrim akan dibuatkan rencana tersendiri. Berkaitan dengan aplikasi data
antropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas
kerja, maka ada beberapa sarana/rekomendasi yang bisa diberikan sesuai langkah-
langkah sebagai berikut (Nurmianto, 2003):
1. Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh mana yang nantinya
akan difungsikan untuk mengoperasikan rencana tersebut.
2. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut, dalam
hal ini perlu juga diperhatikan apakah harus menggunakan data dimensi tubuh
statis ataukah data dimensi tubuh dinamis.
3. Selanjutnya tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan
dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut. Hal ini lazim
dikenal sebagai segmentasi pasar seperti produk mainan anak-anak, peralatan
rumah tangga untuk wanita dan lain-lain.
4. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan tersebut
untuk ukuran individual yang ekstrim, rentang ukuran yang
fleksibel (adjustabel) ataukah ukuran rata-rata.
5. Pilih prosentase populasi yang harus diikuti 90th, 95th, 99th ataukah nilai
persentil yang lain yang dikehendaki.
6. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya
pilih/tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai.
Aplikasikan data tersebut dan tambahkan faktor kelonggaran (allowance) bila
diperlukan seperti halnya tambahan ukuan akibat tebalnya pakaian yang harus
dikenakan oleh operator, pemakaian sarung tangan dan lain-lain.
Selanjutnya untuk menjelaskan mengenai data antopometri untuk bisa
diaplikasikan dalam berbagai rancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka gambar
berikut akan memberikan informasi tentang berbagai macam anggota tubuh yang
perlu diukur.

2.2.5 Antropometri Tubuh Manusia


Adapun antropometri pada tubuh manusia, yaitu:
31

1. Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala).
2. Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak.
3. Tinggi bahu posisi berdiri tegak.
4. Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus).
5. Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam dalam posisi berdiri tegak.
6. Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari atas tempat duduk/pantat sampai
dengan kepala.
7. Tinggi mata dalam posisi duduk.
8. Tinggi bahu dalam posisi duduk.
9. Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus).
10. Tebal atau lebar paha.
11. Panjang paha yang diukur dari ujung pantat sampai dengan ujung lutut.
12. Panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari
lutut/betis.
13. Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk.
14. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantaisampai dengan paha.
15. Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk).
16. Lebar pinggang/pantat.
17. Lebar dari dada dalam keadaan membusung.
18. Lebar perut.
19. Panjang siku yang diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari dalam
posisi tegak.
20. Lebar kepala.
21. Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari-jari dalam
posisi tegak.
22. Lebar telapak tangan.
23. Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kanan.
24. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai
dengan telapak tangan yang terjangkau harus keatas (vertikal).
25. Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur seperti no.24 tetapi
dalam posisi duduk.
26. Jarak tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan.
Data antropometri dibuat sesuai dengan ukuran tubuh laki-laki dan perempuan,
harga rata-rata, standard deviasi serta persentil tertentu (5th-95th dan sebagainya).

2.2.6 Efek Antropometri Terhadap Kinerja Karyawan Serta


Dampak Psikologisnya
Displin ilmu ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh
manusia adalah antropometri. Data antropometri diperlukan untuk perancangan
sistem kerja yang baik. Lingkungan fisik juga dapat mempengaruhi para pekerja baik
secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan fisik adalah semua keadaan
yang terdapat di sekitar tempat kerja. Secara umum lingkungan fisik terbagi dalam
32

dua kategori, yaitu :


1. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan pekerja tersebut. Contoh:
stasiun kerja, kursi, meja dan sebagainya.
2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum. Contoh: temperatur, kelembaban,
sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna,
dan lain-lain.
Untuk bisa meminimumkan pengaruh lingkungan fisik terhadap para pekerja,
maka yang harus kita lakukan adalah mempelajari manusia baik mengenai sifat dan
tingkah lakunya serta keadaan fisiknya. Antropometri merupakan kumpulan data
numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia (ukuran,
volume, dan berat) serta penerapan dari data tersebut untuk perancangan fasilitas
atau produk. Pengukuran Anthropometri bertujuan untuk mengetahui bentuk dimensi
tubuh manusia, agar peralatan yang dirancang lebih sesuai dan dapat memberikan
rasa nyaman serta menyenangkan.
Contoh-contoh dari aplikasi data antropometri misalnya : kaus kaki, kursi,
helm, sepeda, meja dapur, perkakas tangan, tempat tidur, meja, interior mobil, mesin
produksi, dan sebagainya. Seorang desainer seharusnya memperhatikan aspek
dimensi tubuh dari populasi yang akan menggunakan peralatan hasil rancangannya
tersebut. Dalam hal ini, harus ada semacam target, misalnya sedikitnya 90 sampai 95
% dari populasi harus dapat menggunakan hasil desainnya tersebut.
Hal ini sangat diharapkan di banyak situasi dan kondisi dimana mesin atau
peralatan yang dioperasikan membutuhkan human interchangeability, dimana hal
tersebut dapat dicapai dengan membuat rancangan yang dapat disesuaikan
(adjustable design). Contoh kasus adalah pada kursi mobil untuk pengemudi, dimana
kursi seharusnya dapat disesuaikan diberbagai variasi gerakan dan kedudukan pada
waktu mengemudi supaya si pengemudi merasa nyaman. Orang yang bertubuh
pendek mungkin tidak akan bisa menjangkau kontrol yang dilakukan dengan kaki,
yaitu pedal gas, pedal rem dan pedal klos tanpa kursi yang bisa disesuaikan dengan
cara digerakkan maju/mundur.
33

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian


Adapun ruang lingkup praktikum ini dibatasi berdasarkan tempat dan obyek
penelitian, yaitu sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Praktek yang dilakukan oleh penulis adalah tentang pengukuran tubuh manusia
pada mahasiswa teknik industri angkatan 2011 Universitas Pamulang.
2. Obyek penelitian
Obyek praktek yang dilakukan penulis adalah mengukur tubuh mahasiswa yang
dibagi menjadi beberapa kelompok dan menghitung deviasi dan persentilnya.
3. Tempat dan waktu penelitian
Pada praktikum ini, penulis melakukan kegiatan praktek yang dilaksanakan di
laboraturium praktek Teknik Industri Universitas Pamulang.

3.2 Metode Pengumpulan Data


Penentuan metode pengumpulan data dipengaruhi oleh jenis dan sumber data
yang diperlukan. Adapun metodologi dalam pengumpulan data yang dilakukan pada
penulisan ini adalah:
1. Studi Pustaka
Penelitian kepustakaan yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara
mempelajari dan mengumpulkan bahan-bahan kepustakaan dan literature yang
ada kaitannya dengan kegiatan praktikum ini.
2. Teknik Lapangan
Teknik lapangan adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
langsung di lokasi penelitian.
3. Diagram Alir Penelitian
Flow chart atau diagram alir merupakan sebuah diagram dengan simbol-simbol
grafis yang menyatakan aliran algoritma atau proses yang menampilkan
langkah-langkah yang disimbolkan dalam bentuk kotak. Beserta urutannya
dengan menghubungkan masing-masing langkah tersebut menggunakan tanda
panah.
3.3 Flow Chart Kegiatan Praktikum
Adapun flow chart kegiatan pada praktikum
34 ini ditunjukan pada gambar 3.1
34

berikut:

Gambar 3.1 Flow Chart Kegiatan Praktikum

3.4 Langkah-Langkah Penelitian


Berdasarkan perumusan masalah yang disusun, urutan langkah-langkah yang
dilakukan dalam melakukan praktikum ini terdiri dari beberapa tahap. Yaitu:
35

1. Dimulai
2. Studi pustaka
3. Studi pustaka yaitu mencari, mempelajari, dan mengumpulkan bahan-bahan
kepustakaan dan literature yang ada kaitannnya dengan kegiatan praktikum ini.
4. Teknik Lapangan
5. Teknik lapangan adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
langsung dilokasi praktikum.
6. Perumusan Masalah
7. Penetapan arah dari kegiatan praktikum ini adalah tentang pengukuran tubuh,
menghitung rata-rata, menghitung standar deviasi, dan menghitung persentil.
8. Pengumpulan Data
9. Pengumpulan data yang dilakukan pada kegiatan praktikum ini adalah
pengukuran tubuh mahasiswa yang menghasilkan ukuran-ukuran tubuh. Baik
data primer maupun data sekunder.
10. Pengolahan Data
11. Pengolahan data yang dilakukan pada kegiatan praktikum ini adalah:
12. Menghitung rata-rata
13. Menghitung standar deviasi dan menghitung persentil
14. Kesimpulan
Penyusunan laporan praktikum ini dilakukan secara bertahap dan sistematis
mengikuti sistematika penulisan dan kegiatan praktikum yang telah ditentukan dalam
bentuk format laporan praktikum yang diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
ergonomi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
36

4.1 Hasil
Adapun hasil dari kegiatan pengukuran ergonomi, yaitu tentang antropometri
atau pengukuran tubuh yang dilakukan pada seluruh mahasiswa Teknik Industri
angkatan 2012 Universitas Pamulang adalah pada tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Tubuh Mahasiswa

(Sumber: Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

Pada tabel 4.1 diatas merupakan hasil pengukuran jumlah keseluruhan


mahasiswa teknik industri semester 7 Universitas Pamulang. Dengan jumlah
mahasiswa 24 orang.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Menghitung Rata-Rata
Setelah melakukan pengukuran tubuh mahasiswa dan memperoleh ukuran,
langkah selanjutnya adalah menghitung nilai rata-rata keseluruhan. Adapun nilai
rata-rata seperti tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Nilai38


Rata-Rata
37

(Sumber: Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

Dari tabel 4.2 di atas, maka hasil nilai rata-rata untuk keseluruhan mahasiswa
pada pengukuran antropometri adalah sebagai berikut:

1. Panjang posisi merangkak = 113,9166667


2. Tinggi posisi merangkak = 66,625
3. Tinggi posisi jongkok = 101,2916667
4. Jangkauan tangan = 78,66
5. Panjang telapak tangan = 18,625
6. Panjang telapak kaki = 24,5

4.2.2 Menghitung Standar Deviasi


4.2.2.1 Menghitung Panjang Posisi Merangkak
Adapun untuk menghitung standar deviasi pada Panjang Posisi Merangkak ini
dapat dilihat pada table 4.3 berikut:

Tabel 4.3 Menghitung Standar Deviasi Panjang Posisi Merangkak


38

(Sumber :

Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran Panjang Posisi Merangkak ini
adalah sebagai berikut:
xi
SD 990,83 31,4
= = = = 13,6 cm.
241 23

4.2.2.2 Menghitung Tinggi Posisi Merangkak


Adapun untuk menghitung standar deviasi pada Tinggi Posisi Merangkak ini
dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
39

Tabel 4.4 Menghitung Standar Deviasi Tinggi posisi merangkak

( Sumber:

Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran Tinggi Posisi Merangkak ini
adalah sebagai berikut:
xi
SD 54151,66 232,7
= = = = 10,1 cm.
241 23

4.2.2.3 Menghitung Tinggi Posisi Jongkok


Adapun untuk menghitung standar deviasi pada Tinggi Posisi Jongkok ini
dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:
40

Tabel 4.5 Menghitung Standar Deviasi Tinggi posisi jongkok

(Sumbe r:
Praktikum Hasil
Pengukuran Teknik
Industri Semester 7
Universitas Pamulang)

Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran Tinggi Posisi Jongkok ini adalah
sebagai berikut:
xi
SD 4425,16 66,5
= = = = 2,89 cm.
241 23

4.2.2.4 Menghitung Jangkauan Tangan


Adapun untuk menghitung standar deviasi pada Jangkauan Tangan ini dapat
dilihat pada tabel 4.6 berikut:
41

Tabel 4.6 Menghitung Standar Deviasi Jangkauan Tangan

(Sumber: Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran jangkauan tangan ini adalah
sebagai berikut:
xi
SD 29061,33 170,4
= = = = 7,4 cm.
241 23

4.2.2.5 Menghitung Panjang Telapak Tangan


Adapun untuk menghitung standar deviasi pada Panjang Telapak Tangan ini
dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
42

Tabel 4.7 Menghitung Standar Deviasi Panjang Telapak Tangan

( sumber:
praktikum hasil
pengukuran
Teknik Industri
Semester 7
Universitas
Pamulang)

Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran Panjang Telapak Tangan ini adalah
sebagai berikut:
xi
SD 208970,49 457,1
= = = = 19,8 cm.
241 23

4.2.2.6 Menghitung Tinggi Pergelangan Kaki


Adapun untuk menghitung standar deviasi pada tinggi pergelangan kaki ini
dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut:
43

Tabel 4.8 Menghitung Standar Deviasi Panjang Telapak Kaki

(Sumber: Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)


Jadi, untuk standar deviasi pada pengukuran Panjang Telapak kaki ini adalah
sebagai berikut:
xi
SD 184083,99 429,0
= = = = 18,6 cm.
241 23

4.2.3 Menghitung Persentil


44

th
4.2.3.1 Menghitung Persentil 95:95

Jika dalam pengukuran menyatakan 95 persentil 95% ukuran tubuh,

menunjukan ukuran tubuh besar:


1. Anggota tubuh Panjang posisi merangkak
th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645
= 113,917 + 1,645 x 13,6
= 136,2 cm

2. Anggota tubuh Tinggi posisi merangkak


th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645
= 66,625 + 1,645 x 10,1

= 83,2 cm

3. Anggota tubuh Tinggi posisi jongkok


th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645

= 101,291 + 1,645 x 2,89


= 106,04 cm

4. Anggota tubuh Jangkauan tangan


th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645
= 78,66 + 1,645 x 7,4
= 90,8 cm

5. Anggota tubuh Panjang telapak tangan


th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645
= 18,625 + 1,645 x 19,8
= 51,2 cm

6. Anggota tubuh Panjang telapak kaki


th x SD
Persentil 95:95 = + 1,645
= 24,5 + 1,645 x 18,6
= 55,09 cm
45

th
4.2.3.2 Menghitung Persentil 95:5
Jika dalam pengukuran menyatakan 5 persentil 5% ukuran tubuh,
menunjukan ukuran tubuh kecil:
1. Anggota tubuh Panjang posisi merangkak
th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645
= 113,917 - 1,645 x 13,6
= 91,5 cm

2. Anggota tubuh Tinggi posisi merangkak


th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645
= 66,625 - 1,645 x 10,1

= 50,01 cm

3. Anggota tubuh Tinggi posisi jongkok


th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645

= 101,291 - 1,645 x 2,89


= 96,5 cm

4. Anggota tubuh Jangkauan tangan


th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645
= 78,66 - 1,645 x 7,4
= 66,5 cm

5. Anggota tubuh Panjang telapak tangan


th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645
= 18,625 - 1,645 x 19,8
= -13,9 cm

6. Anggota tubuh Panjang telapak kaki


th x SD
Persentil 95:5 = - 1,645
= 24,5 - 1,645 x 18,6
= -6,0 cm
46

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dan pengolahan data praktikum yang dilakukan
oleh penulis, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1 Alat yang digunakan dalam pengukuran antropometri adalah meteran, pulpen,
pensil, penghapus, dan lain-lain.
2 Cara mengukur dimensi-dimensi tubuh manusia sesuai dengan antropometri
adalah Panjang posisi merangkak, Tinggi posisi merangkak, Tinggi posisi
jongkok, Jangkauan tangan, Panjang telapak tangan dan Panjang telapak kaki
dengan karakteristik tubuh manusia seperti volume, titik berat, perangkat inersia,
dan masa dari bagian tersebut.
3 Pengolahan data antropometri adalah dengan menghitung rata-rata, standar

th th
deviasi, persentil 95:95 dan persentil 95:5 , dengan hasil seperti tabel 5.1
berikut:

Tabel 5.1 Pengolahan Data Keseluruhan


47

Standar
No Pengukuran Rata-Rata Deviasi Persentil Persentil
th th
95:95 95:5
1 Panjang posisi merangkak 113,92 cm 13,6 cm 136,2 cm 91,5 cm
2 Tinggi posisi merangkak 66,625 cm 10,1 cm 83,2 cm 50,01 cm
3 Tinggi posisi jongkok 101,29 cm 2,89 cm 106,04 cm 96,5 cm
4 Jangkauan Tangan 78,66 cm 7,4 cm 90,8 cm 66,5 cm
5 Panjang telapak tangan 18,62 cm 19,8 cm 51,2 cm -13,9 cm
6 Panjang telapak kaki 24,5 cm 18,6 cm 55,09 cm -6,0 cm
(Sumber: Praktikum Hasil Pengukuran Teknik Industri Semester 7 Universitas Pamulang)

5.2 Saran
48
Berdasarkan pada kesimpulan yang telah ditemukan di atas, penulis
memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Dalam melakukan pengukuran terhadap bagian tubuh, harus dilakukan dengan
teliti agar ukuran yang diperoleh sesuai dengan bagian tubuh yang diukur.
2. Sampel yang diukur harus terdiri dari berbagai macam ukuran tubuh, agar
mendapatkan data yang lengkap.
3. Alat ukur yang dipakai harus dikalibrasi terlebih dahulu agar ukuran yang
diambil tidak salah.