Anda di halaman 1dari 14

A.

Candidiasis
Candidiasis adalah infeksi akibat jamur Candida. Jamur ini memiliki lebih dari 20 jenis.
Meski demikian, jenis Candida yang paling sering menyebabkan infeksi adalah Candida
albicans.
Candiadisis bisa muncul pada berbagai bagian tubuh manusia. Bagian tubuh yang paling
sering mengalami infeksi ini adalah mulut dan di sekitar kelamin. Bagian tubuh lain yang
dapat terkena infeksi Candida adalah kuku, esophagus, daerah sekitar anus, dan saluran
pencernaan.

Candidiasis Mulut (Oral Trush)


Gejala umum candidiasis mulut meliputi bintil-bintik berwarna putih di dalam mulut dan
lidah, kulit di sudut mulut pecah-pecah, dan kemerahan pada rongga mulut. Sakit
tenggorokan dan sulit menelan juga mungkin dialami oleh penderita.

Infeksi Candida di sekitar kelamin


Infeksi jamur ini merupakan penyebab umum dari iritasi pada vagina, tapi juga bisa
dialami oleh pria (khususnya pria yang belum disunat). Gejala infeksi jamur pada wanita
meliputi gatal luar biasa yang terasa di sekitar vagina, bagian di sekeliling vagina
memerah dan perih, serta keputihan yang menggumpal seperti keju. Sementara gejala
pada pria biasanya berupa ruam merah pada penis, gatal dan sensasi terbakar di ujung
penis, serta bau tidak sedap.
Infeksi jamur pada kelamin termasuk penyakit menular seksual, khususnya pada
pasangan. Karena itu, pengobatan sesegera mungkin sangat penting bagi pasien yang
terinfeksi.
Infeksi jamur sebaiknya segera diobati, terutama yang sudah parah. Jika tidak ditangani
dan dibiarkan terlalu lama, candidiasis berpotensi menyebabkan jamur masuk hingga ke
aliran darah dan memicu infeksi di darah.

Penyebab dan Faktor Risiko Candidiasis


Pada kondisi normal, jamur Candida memang sudah ada pada permukaan kulit manusia.
Tetapi jika berkembang biak secara berlebihan, terutama pada bagian tubuh yang lembap,
jamur ini akan memicu terjadinya infeksi. Beberapa faktor yang diduga dapat
meningkatkan risiko infeksi jamur adalah:
Usia. Infeksi jamur lebih sering dialami oleh bayi dan lansia. Contohnya, ruam popok
pada bayi.
Sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV, pasien yang menjalani
kemoterapi, serta pengguna steroid.
Penyakit kronis, seperti diabetes.
Obat-obatan tertentu, contohnya antibiotik.
Pengobatan dan Pencegahan Candidiasis
Pengobatan yang akan dijalani oleh tiap pengidap tentu berbeda-beda, bergantung pada
lokasi infeksi, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan pasien. Terdapat berbagai jenis
obat anti-jamur yang bisa dibeli secara bebas di apotek-apotek terdekat untuk mengobati
infeksi jamur yang Anda alami. Namun, pastikan Anda selalu memeriksakan diri ke
dokter untuk memastikan diagnosis. Hal ini dilakukan agar obat yang dipilih benar-benar
sesuai dengan jenis infeksi jamur yang Anda idap.
Berikut adalah contoh jenis obat yang mungkin dianjurkan berdasarkan jenis candidiasis
yang dialami pasien.
Candidiasis mulut dapat diobati dengan antijamur berbentuk obat kumur atau gel. Lama
pengobatan yang dibutuhkan umumnya berkisar antara satu hingga dua minggu. Dokter
mungkin akan memberikan obat anti-jamur dalam bentuk tablet atau kapsul.
Infeksi Candida di sekitar kelamin dapat diobati dengan anti-jamur berbentuk krim,
supositoria, serta tablet.
Ruam popok akibat candidiasis dapat diberikan antijamur dalam bentuk krim, salep, serta
bedak.
Selain dengan obat-obatan, ada beberapa cara untuk mempercepat kesembuhan infeksi
candidiasis mulut, antara lain:
Menjaga kebersihan, misalnya rajin menggosok gigi, merawat gigi secara teratur ke
dokter, serta membersihkan sela gigi dengan dental floss atau benang gigi secara teratur.
Berhenti merokok.

Adapun untuk mempercepat kesembuhan infeksi Candida di sekitar kelamin, Anda dapat
melakukan hal-hal berikut:
Kenakan pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun.
Jangan mengenakan pakaian dalam yang terlalu ketat.
Hindari penggunaan sabun yang mengandung pewangi pada organ intim.
Pastikan organ intim senantiasa kering, khususnya setelah dibersihkan atau sehabis
mandi.

B. Luka bakar
Luka bakar adalah kerusakan pada kulit yang sering disebabkan oleh panas dan bisa
sangat menyakitkan hingga mengakibatkan gejala seperti:
Kulit memerah
Kulit mengelupas
Luka melepuh
Kulit hangus
Pembengkakan

Berikut ini adalah beberapa penyebab luka bakar yang sering terjadi:

Suhu panas. Biasanya disebabkan oleh api, uap, cairan, atau benda yang panas.

Listrik. Ini bisa disebabkan karena terkena arus listrik atau pun petir.

Sinar matahari. Kondisi ini disebabkan karena pajanan terhadap sinar matahari.
Beberapa alat untuk menggelapkan warna kulit juga bisa mengakibatkan luka bakar.

Kimia. Biasanya disebabkan karena bersentuhan dengan bahan kimia rumah tangga
maupun industri.

Radiasi. Peralatan seperti X-ray dan terapi radiasi untuk penderita kanker juga bisa
mengakibatkan luka bakar pada kulit.

Selain menyebabkan kerusakan pada lapisan kulit, penyebab-penyebab di atas juga bisa
melukai bagian tubuh lainnya, seperti otot, pembuluh darah, saraf, paru-paru, dan mata.

Tingkat Keparahan

Bagi Anda yang mengalami luka bakar ringan, pastikan untuk membersihkan daerah yang
terkena luka bakar. Hindari memecahkan sendiri luka melepuh pada kulit. Hal ini dilakukan
untuk menghindari infeksi terhadap luka, terlebih ketika Anda memecahkan luka melepuh
dengan benda yang tidak steril.

Tingkat keparahan luka bakar seseorang sangat tergantung kepada:


Ketebalan lapisan kulit yang terbakar

Ukuran dan lokasi luka bakar

Penyebab luka bakar

Usia dan faktor kesehatan penderita luka bakar

Terdapat beberapa luka yang harus langsung ditangani oleh IGD di rumah sakit, terutama
luka bakar akibat bahan kimia dan listrik. Luka bakar yang besar dan dalam juga perlu
ditangani secepatnya. Begitu juga dengan luka bakar pada sebagian lapisan kulit wajah,
tangan, lengan, kaki, atau alat kelamin juga dianggap sebagai kondisi yang memerlukan
penanganan medis. Terutama pada wanita hamil dan juga balita, luka bakar juga harus
mendapatkan penanganan sesegera mungkin. Operasi plastik mungkin diperlukan jika luka
bakar yang terjadi terlalu parah.

Jika Anda menghirup asap atau pun uap kimia atau bersuhu panas, Anda juga perlu diperiksa
secara medis. Menghirup uap panas atau gas bisa menyebabkan paru-paru terluka.
Menghirup gas beracun seperti karbonmonoksida bisa mengakibatkan kondisi keracunan.

Pengobatan Luka Bakar

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menangani luka bakar sebagai
pertolongan pertama. Langkah pertama adalah mendinginkan luka bakar yang terjadi dengan
air biasa kira-kira selama 20-30 menit. Pastikan tidak memakai es, air es, krim, atau bahan
yang berminyak untuk mendinginkan luka bakar. Es atau pun air es yang diterapkan secara
langsung, bisa membuat luka makin parah.

Singkirkan pakaian atau pun aksesoris yang menutupi kulit yang terbakar. Jika pakaian atau
pun aksesoris yang ada sudah menempel pada kulit yang terbakar, usahakan untuk tidak
mengangkatnya.
Pastikan orang yang mengalami luka bakar tetap merasa hangat. Bisa menggunakan selimut
untuk menutupi tubuhnya, tapi jangan sampai menggores bagian kulit yang mengalami luka
bakar. Luka bakar bisa ditutupi dengan plastik atau perban steril.

Dan terakhir, penderita disarankan untuk minum obat pereda rasa sakit seperti parasetamol
atau ibuprofen jika sakit mengganggu atau terasa tidak tertahankan. Bacalah petunjuk dan
peringatan yang terkandung di bungkus obat sebelum mulai mengonsumsinya.

Bayi dan anak kecil sering mengalami luka bakar serius karena kelalaian atau karena mereka
bermain dengan peralatan dan perlengkapan rumah. Berikut ini adalah beberapa cara untuk
menghindarkan anak mengalami luka bakar:

Ajari anak untuk tidak bermain di wilayah dapur. Banyak peralatan atau bahan yang bisa
menimbulkan luka bakar.

Usahakan untuk menyetrika di atas meja yang cukup tinggi dan jauh dari jangkauan anak
kecil. Jangan lupa untuk segera mematikan setrika setelah memakainya.

Simpan korek api atau peralatan yang dapat menghasilkan api jauh dari jangkauan dan
penglihatan anak-anak.

Jauhkan minuman panas dari anak kecil.

Ajari anak untuk tidak dekat-dekat dengan knalpot kendaraan yang panas atau kendaraan
yang baru dipakai.

Periksa suhu air yang akan dipakai untuk mandi bayi Anda. Gunakan siku Anda untuk
memeriksa kehangatan air.

Berikan pengertian tentang peralatan dan perlengkapan rumah tangga yang bisa
menyebabkan luka bakar pada anak Anda. Terutama perlengkapan yang menggunakan
arus listrik.
C. Klasifikasi Steroid
Non Steroid Anti Inflamation Drugs (NSAID)/ Anti Inflamasi Non Steroid(OAINS)
NSAID merupakan singkatan dari nonsteroidal anti-inflammatory drug atau golongan
obat anti inflamasi non steroid. Obat ini kerap diresepkan untuk mengobati inflamasi
seperti pada penyakit radang sendi atau arthritis, tendonitis dan bursitis.
Obat anti-inflamasi non streoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang
paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipireti
ka, dananti-inflamasi.
NSAID merupakan pengobatan dasar untuk mengatasi peradangan-
peradangan di dalam dan sekitar sendi seperti lumbago, artralgia, osteoartritis, artritisrem
atoid, dan gout artritis. Disamping itu, OAINS juga banyak pada penyakit-penyakit non-
rematik, seperti kolik empedu dan saluran kemih, trombosis serebri, infark miokardium,
dandismenorea.OAINS merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan
beberapa obat sangat berbeda secara kimia.
Walaupun demikian, obat-obat ini mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi
maupun efek samping. NSAID dibagi lagi menjadi beberapa golongan,yaitu :

1) golongan salisilat
(diantaranya aspirin/asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesiumsalisilat, salisil
salisilat, dan salisilamid),
2) golongan asam arilalkanoat
(diantaranya diklofenak, indometasin, proglumetasin, danoksametasin),
3) golongan profen/asam 2-arilpropionat
(diantaranya ibuprofen, alminoprofen, fenbufen,indoprofen, naproxen, dan
ketorolac),
4) golongan asam fenamat/asam N-arilantranilat
(diantaranya asam mefenamat, asamflufenamat, dan asam tolfenamat),
5) golongan turunan pirazolidin
(diantaranya fenilbutazon, ampiron, metamizol, danfenazon)
6) golongan oksikam (diantaranya piroksikam, dan meloksikam),
7) golongan penghambat COX-2 (celecoxib, lumiracoxib),
8) golongan sulfonanilida (nimesulide), serta
9) golongan lain (licofelone dan asam lemak omega 3).
Efek samping NSAID yang paling sering dialami adalah gangguan pada lambung.
10 sampai 50% pasien yang mengonsumsi NSAID dapat mengalami keluhan efek
samping seperti sakit perut, diare, kembung dan nyeri ulu hati.

D. Varisela Pada Ibu Hamil


Infeksi varicella akut ( chicken pox , cacar air , waterpoken ) disebabkan oleh virus
varicella zoster yang merupakan virus herpes DNA ( famili herpesviridae) dan ditularkan
melalui kontak langsung atau via pernafasan.Attack Rate pada individu yang rentan
sekitar 90%. Periode inkubasi 10 21 hari
Infeksi yang terjadi pada orang dewasa biasanya sangat berat dan dapat menimbulkan
komplikasi berbahaya seperti ensepalitis dan pneumonia.

Oleh karena tergolong didalam virus herpes maka virus varicella ini juga memperlihatkan
potensi latensi dalam ganglion syaraf.

Reaktivasi virus memberikan gejala herpes zoster

Pada tes serologi : IgM varicella zoster muncul pada minggu ke 2 melalui pemeriksaan
ELISA atau CFT. IgG juga meningkat dalam waktu 2 minggu setelah pemeriksaan IgM

Pemeriksaan untuk menentukan imunitas seorang wanita adalah dengan menggunakan


FAMA Fluorescent Antibody Membrane Antigen

DAMPAK TERHADAP KEHAMILAN

5 10% wanita dewasa rentan terhadap infeksi virus varicella zoster.

Infeksi varicella akut terjadi pada 1 : 7500 kehamilan

Komplikasi maternal yang mungkin terjadi :

Persalinan preterm

Ensepalitis

Pneumonia

Penatalaksanaan terdiri dari terapi simptomatik namun harus dilakukan pemeriksaan sinar
x torak untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia mengingat bahwa komplikasi
pneumonia terjadi pada 16% kasus dengan mortalitas sampai diatas 40%.
Bila terjadi pneumonia maka perawatan harus dilakukan di rumah sakit dan diberikan
pengobatan dengan antiviral oleh karena perubahan kearah pemburukan keadaan umum
akan sangat cepat terjadi.

E. Penyebab Alergi
alergi adalah suatu kondisi dimana tubuh memiliki reaksi berlebihan terhadap suatu zat
(bisa berupa makanan, obat-obatan, bulu binatang, debu, dll) dikenal juga sebagai
hipersensifitas. Jadi, dalam hal ini pada saat tubuh berpapasan terhadap bahan alergen,
tubuh akan memproduksi antibodi karena tubuh menganggap barang alergen adalah
sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh berpapasan dengan alergen yang sama tubuh akan
melepaskan antibodi yang sama, hal inilah yang yang memacu pelepasan bahan kimia
dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi.
Beberapa jenis pemeriksaan penunjang diagnosis penyakit alergi dan imunologi dapat
dilakukan walaupun tidak harus dipenuhi seluruhnya. Tiap jenis pemeriksaan mempunyai
sensitivitas dan spesifitas yang berbeda. Prinsip pemeriksaan uji kulit terhadap alergen
ialah adanya reaksi wheal and flare pada kulit untuk membuktikan adanya IgE spesifik
terhadap alergen yang diuji (reaksi tipe I). Imunoglobulin G4 (IgG4) juga dapat
menunjukkan reaksi seperti ini, akan tetapi masa sensitisasinya lebih pendek hanya
beberapa hari, sedangkan IgE mempunyai masa sensitisasi lebih lama yaitu sampai
beberapa minggu. Reaksi maksimal terjadi setelah 15-20 menit, dan dapat diikuti reaksi
lambat setelah 4-8 jam.

Alergi Tipe 1 (IgE-mediated) adalah hasil dari produksi IgE spesifik untuk alergen oleh
alergi individu. Kondisi di mana alergi yang dimediasi IgE dapat memainkan peran utama
termasuk rhinitis alergi, asma, dermatitis atopik, anafilaksis, urticaria dan angioedema
akut, alergi makanan, alergi racun serangga, lateks alergi dan beberapa
obat alergi.Tes untuk alergi serum IgE spesifik (juga disebut sebagai tes RAST) juga
berguna dalam situasi tertentu.

Ada beberapa cara untuk melakukan uji kulit, yaitu cara intradermal, uji tusuk (prick
test), sel uji gores (scratch test) dan pacth test (uji tempel). Uji gores sudah banyak
ditinggalkan karena hasilnya kurang akurat.
1. Uji kulit intradermal Sejumlah 0,02 ml ekstrak alergen dalam 1 ml semprit tuberkulin
disuntikkan secara superfisial pada kulit sehingga timbul 3 mm gelembung. Dimulai
dengan konsentrasi terendah yang menimbulkan reaksi, kemudian ditingkatkan berangsur
masing-masing dengan konsentrasi 10 kali lipat sampai menimbulkan indurasi 5-15 mm.
Uji intradermal ini seringkali digunakan untuk titrasi alergen pada kulit.Tes alergi
pengujian injeksi intradermal tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin untuk
aeroallergens dan makanan, tetapi mungkin untuk mendeteksi racun dan diagnosis alergi
obat. Ini membawa resiko lebih besar anafilaksis dan harus dilakukan dengan tenaga
medis yang berkopeten melalui pelatihan spesialis.
2. Uji tusuk Uji tusuk dapat dilakukan dalam waktu singkat dan lebih sesuai untuk anak.
Tempat uji kulit yang paling baik adalah pada daerah volar lengan bawah dengan jarak
sedikitnya 2 sentimeter dari lipat siku dan pergelangan tangan. Setetes ekstrak alergen
dalam gliserin (50% gliserol) diletakkan pada permukaan kulit. Lapisan superfisial kulit
ditusuk dan dicungkil ke atas memakai lanset atau jarum yang dimodifikasi, atau dengan
menggunakan jarum khusus untuk uji tusuk. Ekstrak alergen yang digunakan 1.000-
10.000 kali lebih pekat daripada yang digunakan untuk uji intradermal. Dengan
menggunakan sekitar 5 ml ekstrak pada kulit, diharapkan risiko terjadinya reaksi
anafilaksis akan sangat rendah. Uji tusuk mempunyai spesifitas lebih tinggi dibandingkan
dengan uji intradermal, tetapi sensitivitasnya lebih rendah pada konsentrasi dan potensi
yang lebih rendah. Kontrol Untuk kontrol positif digunakan 0,01% histamin pada uji
intradermal dan 1% pada uji tusuk. Kontrol negatif dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan reaksi dermografisme akibat trauma jarum. Untuk kontrol negatif
digunakan pelarut gliserin. Antihistamin dapat mengurangi reaktivitas kulit. Oleh karena
itu, obat yang mengandung antihistamin harus dihentikan paling sedikit 3 hari sebelum
uji kulit. Pengobatan kortikosteroid sistemik mempunyai pengaruh yang lebih kecil,
cukup dihentikan 1 hari sebelum uji kulit dilakukan. Obat golongan agonis juga
mempunyai pengaruh, akan tetapi karena pengaruhnya sangat kecil maka dapat
diabaikan. Usia pasien juga mempengaruhi reaktivitas kulit walaupun pada usia yang
sama dapat saja terjadi reaksi berbeda. Makin muda usia biasanya mempunyai reaktivitas
yang lebih rendah. Uji kulit terhadap alergen yang paling baik adalah dilakukan setelah
usia 3 tahun. Reaksi terhadap histamin dibaca setelah 10 menit dan terhadap alergen
dibaca setelah 15 menit. Reaksi dikatakan positif bila terdapat rasa gatal dan eritema yang
dikonfirmasi dengan adanya indurasi yang khas yang dapat dilihat dan diraba. Diameter
terbesar (D) dan diameter terkecil (d) diukur dan reaksi dinyatakan ukuran (D+d):2.
Pengukuran dapat dilakukan dengan melingkari indurasi dengan pena dan ditempel pada
suatu kertas kemudian diukur diameternya. Kertas dapat disimpan untuk
dokumentasi. Dengan teknik dan interpretasi yang benar, alergen dengan kualitas yang
baik maka uji ini mempunyai spesifitas dan sensitivitas yang tinggi disamping mudah,
cepat, murah, aman dan tidak menyakitkan. Uji gores kulit (SPT) disarankan sebagai
metode utama untuk diagnosis alergi yang dimediasi IgE dalam sebagian besar penyakit
alergi. Memiliki keuntungan relatif sensitivitas dan spesifisitas, hasil cepat, fleksibilitas,
biaya rendah, baik tolerabilitas, dan demonstrasi yang jelas kepada pasien alergi mereka.
Namun akurasinya tergantung pelaksana, pengamatan dan interpretasi variabilitas.
Uji gores kulit (SPT)adalah prosedur yang membawa resiko yang relatif rendah, namun
reaksi alergi sistemik telah dilaporkan. Karena test adalah perkutan, langkah-langkah
pengendalian infeksi sangat penting.

Pasien harus benar-benar dan tepat mengenai risiko dan manfaat.


Masing-masing pasien kontraindikasi dan tindakan pencegahan harus diperhatikan.
Uji gores kulit harus dilakukan oleh yang terlatih dan berpengalaman staf medis dan
paramedis, di pusat-pusat dengan fasilitas yang sesuai untuk mengobati reaksi alergi
sistemik (anafilaksis).
Praktisi medis yang bertanggung jawab harus memesan panel tes untuk setiap pasien
secara individual, dengan mempertimbangkan karakteristik pasien, sejarah dan temuan
pemeriksaan, dan alergi eksposur termasuk faktor-faktor lokal.
Staf teknis perawat dapat melakukan pengujian langsung di bawah pengawasan medis
(dokter yang memerintahkan prosedur harus di lokasi pelatihan yang memadai sangat
penting untuk mengoptimalkan hasil reproduktibilitas.
Kontrol positif dan negatif sangat penting.
Praktisi medis yang bertanggung jawab harus mengamati reaksi dan menginterpretasikan
hasil tes dalam terang sejarah pasien dan tanda-tanda.
Hasil tes harus dicatat dan dikomunikasikan dalam standar yang jelas dan bentuk yang
dapat dipahami oleh praktisi lain.
Konseling dan informasi harus diberikan kepada pasien secara individual, berdasarkan
hasil tes dan karakteristik pasien dan lingkungan setempat.
Pengakuan terhadap keterbatasan Uji gores kulit penting, yaitu. terbatasnya
kemampuan dalam prediksi tipe alergi reaksi lambat. positif palsu atau negatif
karena karakteristik alergi pasien atau kualitas. Adanya IgE tanpa gejala klinis
dan tes negatif tidak mengecualikan gejala yang disebabkan oleh non-IgE mediated
alergi / intoleransi atau penyebab medis lainnya .

Patch test
Metode lain adalah dengan menerapkan alergi untuk sebuah patch yang kemudian
diletakkan pada kulit. Hal tersebut dapat dilakukan untuk menunjukkan yang memicu
dermatitis kontak alergi. Jika ada alergi antibodi dalam sistem anda, kulit anda akan
menjadi jengkel dan mungkin gatal, lebih mirip gigitan nyamuk. Reaksi ini berarti Anda
alergi terhadap zat tersebut
Pemeriksaan status imunologik selular dapat dilakukan secara in vivo maupun secara in
vitro. Uji kulit tipe lambat digunakan untuk mengukur reaksi imunologi selular secara in
vivo dengan melihat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat setelah penyuntikan
antigen yang sudah dikenal sebelumnya (recall antigen) pada kulit.
Uji ini menggunakan antigen spesifik yang disuntikkan secara intradermal. Antigen yang
digunakan biasanya yang telah berkontak dengan individu normal, misalnya tetanus,
difteria, streptokokus, tuberkulin (OT), Candida albicans, trikofiton, dan proteus. Pada
85% orang dewasa normal reaksi akan positif dengan paling sedikit pada satu dari
antigen tersebut. Pada populasi anak persentase ini lebih rendah, walaupun terdapat
kenaikan persentase dengan bertambahnya umur. Hanya 1/3 dari anak berumur kurang
dari satu tahun yang akan bereaksi dengan kandida, dan akan mencapai persentase seperti
orang dewasa pada usia di atas 5 tahun.

Sebuah aplikator sekali pakai yang berisi semua antigen tersebut dengan larutan
gliserin sebagai kontrol, misalnya seperti Multi-test CMI buatan Merieux Institute
sekarang banyak dipakai. Kit ini mengandung 7 jenis antigen (Candida albicans, toksoid
tetanus, toksoid difteri, streptokinase, old tuberculine, trikofiton, dan proteus) serta
kontrol gliserin secara bersamaan sekaligus dapat diuji.
Persiapan
Pastikan bahwa kondisi antigen yang digunakan dalam keadaan layak pakai, perhatikan
cara penyimpanan dan tanggal kadaluarsanya Harus diingat bahwa kortikosteroid dan
obat imunosupresan dapat menekan reaksi ini sehingga memberi hasil negatif palsu.
Setelah itu lakukan anamnesis tentang apakah pernah berkontak sebelumnya dengan
antigen yang akan digunakan.
Melakukan uji
Kalau memungkinkan gunakan aplikator seperti di atas sehingga dapat digunakan banyak
antigen sekaligus. Hati-hati sewaktu melepas penutup antigen, harus dengan posisi
menghadap ke atas sehingga antigen tidak tumpah. Kalau tidak ada aplikator seperti itu
dapat digunakan antigen yang mudah didapat (tetanus, tuberculin, dan sebagainya).
Dengan menggunakan alat suntik tuberkulin, pastikan bahwa sejumlah 0,1 ml antigen
masuk secara intrakutan hingga berbentuk gelembung dan tidak subkutan. Beri tanda
dengan lingkaran masing-masing lokasi antigen.
Hasil pemeriksaan
Hasil uji dibaca setelah 24-48 jam. Bila setelah 24 jam hasil tes tetap negatif maka cukup
aman untuk memberikan dosis antigen yang lebih kuat. Indurasi yang terjadi harus diraba
dengan jari dan ditandai ujungnya, diukur dalam mm dengan diameter melintang (a) dan
memanjang (b). Untuk setiap reaksi gunakan formula (a+b):2. Suatu reaksi disebut positif
bilamana (a+b):2=2 mm atau lebih.
Efek samping
Dapat terjadi suatu reaksi kemerahan yang persisten selama 3-10 hari tanpa
meninggalkan sikatriks. Pada orang yang sangat sensitif dapat timbul vesikel dan ulserasi
pada lebih dari satu lokasi antigen.
Interpretasi
Uji kulit ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan status imunologik selular seseorang
karena untuk dapat disimpulkan hasil uji harus disesuaikan dengan anamnesis dan
keadaan klinik. Untuk menilai suatu uji kulit, seperti juga prosedur diagnostik yang lain,
sangat tergantung pada pemeriksanya. Bila disimpulkan bahwa kemungkinan terdapat
gangguan pada sistem imunitas selular, maka dapat dipertimbangkan pemberian
imunoterapi. Tetapi untuk memulai terapi sebaiknya pemeriksaan dilanjutkan dengan
pemeriksaan secara in vivo.