Anda di halaman 1dari 5

5 CONTOH KASUS ISSU KEBIJAKAN DAN AKHIRNYA JADI KEBIJAKAN PUBLIK

1. KASUS NENEK AMINAH


Ketika itu sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao
yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya untuk
disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao itu tidak
disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao. Lahan
garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao.
Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor
itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos, Minah mengaku hal
itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena
sama saja mencuri.
Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak
akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor
tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja.Namun dugaanya
meleset.Ternyata peristiwa itu berbuntut panjang. Sebab seminggu kemudian dia
mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses hukum terus berlanjut sampai
akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri
(PN) Purwokerto.
Dan hari ini, Kamis (19\/11\/2009), majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang
Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan.
Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang
pencurian.Selama persidangan yang dimulai pukul 10.00 WIB, Nenek Minah terlihat
tegar. Sejumlah kerabat, tetangga, serta aktivis LSM juga menghadiri sidang itu untuk
memberikan dukungan moril.
Suasana persidangan Minah berlangsung penuh keharuan. Selain menghadirkan
seorang nenek yang miskin sebagai terdakwa, majelis hakim juga terlihat agak ragu
menjatuhkan hukum. Bahkan ketua majelis hakim, Muslih Bambang Luqmono SH,
terlihat menangis saat membacakan vonis."Kasus ini kecil, namun sudah melukai banyak
orang," ujar Muslih.
Sehingga pemerintah menghimbau bahwa nenek Minah untuk tidak d hukum berat
karna tidak melakukan kesalahan yang fatal.Dan hakim memvonisnya 1 bulan 15 hari
dengan masa percobaan selama 3 bulan disambut gembira keluarga, tetangga dan para

2. KASUS ERWIANA
Erwiana adalah buruh migran Hong Kong yang disiksa majikan bernama Law Wan
Tung selama tujuh bulan bekerja di Apartemennya. Komite Hak Asasi Manusia Asia
dalam laporannya mengatakan bahwa Erwiana kerap dipukuli dengan berbagai benda, di
antaranya pipa penyedot debu dan gantungan baju di kepalanya. Eli Lestari, juru bicara
gerakan untuk Erwiana bahwa majikannya itu hanya memberi makan roti dan sedikit nasi
dan minum di air kran.passwordnya juga disita.Dia juga dilaporkan pernah disiram air
panas.
Sebenarnya dia pernah kabur setelah kerja baru sebulan di rumah tersebut. Namun
agen pengirimnya, mengembalikannya ke tangan Law. Alasannya, Erwiana tidak boleh
berhenti sebelum uang penempatannya dia lunasi. Semenjak itu, pintu rumah dikunci
rapat-rapat.Di minggu-minggu terakhir masa kerjanya, luka-luka Erwiana bertambah
parah. Darah menetes terus dari lukanya, mengotori karpet majikan. Bukannya kasihan,
Law malah membungkus luka tersebut dengan plastik. Namun darah masih bisa keluar.
Akhirnya, majikannya itu memulangkannya ke Indonesia diam-diam. Erwiana diancam
dibunuh jika berani menceritakan apa yang dia alami.
Erwiana ditinggal majikannya di ruang imigrasi di Bandara. Saya ketemu dia duduk
sendirian di ruang tunggu, oleh majikan hanya dibekali sandal jepit, dua pampers dan tisu
yang dimasukkan dalam tas kecil. Selain itu dia juga diberi uang saku Rp100.000 dan
tiket pulang ke Indonesia
Kasus ini memicu kemarahan pekerja asal Indonesia di Hong Kong. Ada lebih dari
300.000 pekerja migran di Hong Kong, setengahnya berasal dari Indonesia, kebanyakan
perempuan. Pada 12 Januari lalu, mereka menggelar aksi damai di depan kantor Konsulat
Jenderal RI di Hong Kong. Konjen Hong Kong Chalief Akbar Tjandradiningrat berjanji
akan memberikan bantuan hukum untuk Erwiana dan mendesak agen penyalurnya PT
Graha Ayu Karsa untuk membiayai seluruh biaya pengobatan Erwiana di Indonesia.
Aksi serupa berlangsung hari Minggu kemarin, diikuti oleh ribuan pekerja asal
Indonesia. Mereka menuntut keadilan dan dihentikannya tindakan yang oleh media asing
disebut sebagai "perbudakan modern" itu.
Konjen juga berjanji akan mendesak kepolisian Hong Kong untuk menyelidiki tindak
kriminal ini. Awalnya, kepolisian Hong Kong menolaknya. Barulah pada 15 Januari lalu
kasus ini diselidiki kepolisian distrik Kwun Tong. Kepolisian Hong Kong lantas
mengirim tiga penyidik ke Indonesia untuk menanyai Erwiana.
Untuk mencegah peristiwa serupa, Direktur Perlindungan WNI di Kementerian Luar
Negeri Tatang Razak mengatakan bahwa calon TKI harus dipersiap dengan baik. Mulai
dari dokumen, pelatihan untuk bekerja dan informasi mengenai hak dan kewajibannya.
Sehingga ketika ada masalah, tahu apa yang diperbuat.Dalam kasus ini, KJRI tengah
menyelidiki peran agen di Hong Kong. Jika tidak terbukti bersalah atau tidak kooperatif
dalam penyelidikan, maka agen yang bersangkutan juga akan di-black list.
KJRI dalam akun Facebooknya mengimbau agar semua TKI yang ada di Hong Kong
dan Makau untuk melaporkan semua permasalahan yang mereka alami melalui telepon
+852 365 10200 atau SMS di nomor +852 66244 299. Mereka juga bisa mengirimkan
surat elektronik ke alamat pengaduan@cgrihk.com atau melalui pesan di akun Facebook
KJRI Hong Kong. Para TKI pun juga dapat datang langsung ke KJRI Hong Kong di
alamat 127-129 Leighton Road, Causeway Bay, Hong Kong.
"Pihak KJRI tidak bisa mengendalikan setiap majikan, oleh sebab itu apabila terjadi
suatu masalah, langsung melapor ke pihak KJRI," kata Tatang.(np
3. KASUS WAHYU
Wahyu, harus menjalani hari-hari dalam kandang kambing. Wahyu belum pulih dari
penyakit autis yang dideritanya sejak tahun 2003 silam. Bahkan, berbagai pengobatan
modern maupun tradisional sudah ditempuh tapi tak ada hasil apa pun. Sugeng Purnomo,
ayah kandung Wahyu, Dia (Wahyu, Red) hidup normal sampai usia 3 tahun. Tepat pada
tahun 2003 itu, dia jatuh pingsan selama 15 menit setelah main di depan rumah bersama
teman-temannya,katanya kepada harian ini, kemarin.
Dari sana, Sugeng mulai merasakan sesuatu keanehan terjadi pada pribadi
Wahyu.Bapak beranak empat ini melihat putra tunggalnya itu bersikap terlalu aktif alias
hiperaktif. Saking aktifnya, dia sering lari-lari ke hutan belantara yang berada di
belakang rumahnya. Selain itu, dia suka bermain di sungai dan kubangan yang berisi air
kotor. Ini sungguh aneh bagi kami, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Karena tak
mampu mengurusi Wahyu.
Sugeng bersama istrinya memutuskan memasung bocah kelahiran 8 Agustus 2000 itu
di dalam kandang kambing yang berada di belakang rumahnya. Dia mulai dimasukkan
ke dalam kandang kambing sejak tahun 2005 lalu. Kedua pasangan yang dikarunia empat
anak ini hanya sebagai buruh tani. Penghasilan minimal Sugeng sekitar Rp250 ribu/bulan,
sedangkan Pingatin tak dapat ditentukan.Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena
semuanya sudah ditempuh baik pengobatan modern maupun alternative. Bahkan, kami
telah membawa Wahyu ke Jember dan mengundang seorang Kiyai dari Blitar,Terangnya.
Ia mengharapkan pemerintah provinsi (pemprov) Lampung bisa mendengarkan
keluhan dan penderitaan putra semata wayangnya. Sampai saat ini, kami terus berdoa
dan tahajud agar mukjizat bisa terjadi untuk anak kami. Bahkan, kami sudah menjalani
puasa Senin-Kamis secara rutin, bebernya. Dihubungi terpisah,
Kadiskes Lampung dr.Wiwiek Ekameini menyesalkan keterlambatan informasi yang
didapatkan Diskes Lamsel sebagai penguasa wilayah. Meski begitu, ia berjanji akan
mengambil alih penanganan Wahyu agar dapat sembuh dari penyakit autis.Ia sudah
memint petugas turun ke lokasi.Setelah itu, korban akan dibawa ke RSJ untuk dicek
kejiwaannya dan RSUDAM guna menjalani terapi autis,.Wiwiek juga berjanji akan
menggratiskan pengobatan Wahyu sampai sembuh total.
Seharusnya, pemasungan terhadap anak yang mengidap penyakit autis ini tidak
boleh lagi. Orang tua semestinya bisa berkonsultasi lebih dahulu dengan pamong atau
diskes setempat, sesal mantan direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek
(RSUDAM) ini. (Pos Kota Online)
4. KASUS MALAYSIA DENGAN INDONESIA
Malaysia Mengklaim Batik Indonesia.Kepemilikan batik sebagai warisan budaya tak
berbenda, memanas setelah Malaysia mengklaim sebagai warisan nenek moyangnya.
Untuk mengakhiri polemik, Pemerintah Indonesia akhirnya mendaftarkan batik ke
UNESCO untuk mendapatkan pengakuan.
Pada 3 September 2008 sebagai titik awal proses Nominasi Batik Indonesia ke
UNESCO. Namun baru diterima secara resmi oleh UNESCO pada 9 Januari 2009.
UNESCO kemudian melakukan pengujian tertutup di Paris 11-14 Mei 2009. Hasilnya, 2
Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Batik
adalah milik Indonesia Malaysia tak berhak lagi mengklaimnya.
5. KASUS SUMIATI
Pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Madinah telah menerima
laporan penganiayaan Sumiati, 8 November 2010. Perwakilan KJRI langsung
mengunjungi Sumiati yang tengah dirawat di RS Kings Fahd Madinah.
Sumiati (23), TKI asal Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat. Sejak bekerja 18 Juli
2010, Sumiati kerap menerima penyiksaan dari istri dan anak majikannya.Dari kunjungan
itu diketahui, kondisi Sumiyati sangat memperihatinkan. Hampir seluruh bagian tubuh,
wajah, dan kedua kakinya mengalami luka-luka. Media massa setempat memberitakan
Sumiati mengalami luka bakar di beberapa titik, kedua kaki nyaris lumpuh, kulit tubuh
dan kepala terkelupas, jari tengah tangan retak, alis mata rusak. Paling mengenaskan,
adalah bagian atas bibir putus.
Pemerintah Indonesia menyebut perbuatan majikan Sumiati sangatlah tidak
berperikemanusiaan. Karena itu, KEMLU telah memanggil Duta Besar Arab Saudi untuk
Indonesia di Jakarta, Abdulrahman Mohammad Amen Al Khayyat. Dalam pertemuan itu,
Kemlu mendesak pemerintah Arab Saudi untuk membawa pelaku ke pengadilan.
Langkah konkrit pemerintah Indonesia lainnya, yakni melalui KJRI telah melaporkan
kasus ini ke kepolisian setempat dan mempersiapkan pendamping pengacara kepada
korban untuk proses hukum lebih lanjut.