Anda di halaman 1dari 66

BORANG PORTOFOLIO

Pendamping ;
dr Riyono

Disusun Oleh :
dr Diana Verify Hastutya

PUSKESMAS SALAMAN I
KABUPATEN MAGELANG JAWA TENGAH
PERIODE FEBRUARI MEI 2016
Data Peserta
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman I
KIDI Wilayah/Provinsi : Kabupaten Magelang/ Jawa Tengah
Mulai Tanggal : 01 Februari 2016
Selesai Tanggal : 31 Mei 2016
Tanda tangan peserta :

Identitas
Nama Dokter dr Diana Verify Hastutya
Nomor Sertifikat Kompetensi 993/KDPI/SK/U.PNUKMPPD.1/X/2014
No. STR Internsip 3321100115159123
No. SIP Internsip
Alumnus FK Universitas Jenderal Soedirman Tahun : 2014
Alamat Rumah : Jln Karang Turi Desa Pakunden RT 004/001 Banyumas 53192
Email : Telp : Fax : -
diana.priatama@gmail.com 085726135033
LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP
DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS SALAMAN I
Alamat: Jalan Raya Magelang-Purworejo Km. 15
Kab. Magelang 56162

SURAT LAPORAN PELAKSANAAN INTERNSIP

Pada hari Selasa tanggal 31 Mei 2016 setelah mempertimbangkan kinerja yang
dilakukan oleh para pendamping, kepada peserta dengan nama dr Diana Verify
Hastutya, tempat wahana Puskesmas Salaman I, Kabupaten Magelang, maka pada
rapat penilaian akhir dinyatakan yang bersangkutan sudah selesai melaksanakan
seluruh kegiatan internsip.
Semua dokumen pendukung kegiatan peserta disimpan di Wahana Puskesmas
Salaman I.

Salaman, 31 Mei 2016


Pendamping,

dr. Riyono
NIP. 197110132010011001

Koordinator Wahana,

dr. Heri Sumantyo, MPH


NIP. 19691012200112006
Kinerja UKM Caturwulan I

No Caturwulan I Kinerja

Perilaku A B C D E

Disiplin (kehadiran tepat waktu) [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Partisipasi (dalam melakukan assassmen dan intervensi [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


E.1 s/d E.7)

Argumentasi (rasionalitas) [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Tanggung jawab (misalnya, menulis laporan kasus, [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


laporan kunjungan rumah, penyuluhan)

Kerjasama (tenggang rasa, tolong-menolong, tanggap) [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Manajerial (dinilai berdasarkan laporan dan atau presentasi kasus)

Latar Belakang permasalahan atau kasus [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Permasalahan di keluarga, masyarakat maupun kasus [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Perencanaan dan pemioihan intervensi (misalnya [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


metode penyuluhan, menetapkan prioritas masalah dan
intervensi)

Pelaksanaan (proses intervensi) [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Komunikasi

Kemampuan berkomunikasi secara efektif (dengan [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


kasus, keluarga maupun masyarakat)

Kemampuan bekerja dalam tim (kerjasama dengan [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


semua unsur di masyarakat)

Kepribadian dan profesionalisme

Tanggung jawab profesional (kejujuran, keandalan) [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]

Menyadari keterbatasan (merujuk, konsultasi pada saat [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


yang tepat)

Menghargai kepentingan dan pendapat kasus [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


maupun pihak lain (menjelaskan semua pilihan tindak
medis UKP dan UKM yangbdapat dilakukan dan
membiarkan kasus/keluarga/masyarakat untuk
memutuskan pemecahan masalah)
Partisipasi dalam pembelajaran (aktif mengutarakan [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]
pendapat dan rasionalisasi tindak UKP dan UKM dalam
setiap kegiatan pembelajaran)

Kemampuan membagi waktu (menyelesaiakan semua [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


tugas pada waktunya dan mempunyai waktu untuk
membantu orang lain)

Pengelolaan rekam medis (selalu menulis data medis [ ] [ ] [ ] [ ] [ ]


secara benar dan baik)

Komentar Pendamping

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya Pendamping: dr Riyono

Nama Wahana : Puskesmas Salaman I Tanda tangan :


BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari Senin, tanggal 25 April 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F1 Upaya Promosi Kesehatan / Imunisasi pada Balita
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F1 Upaya Promosi Kesehatan

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Imunisasi pada Balita
Tanggal (kasus) : 12 April 2016
Tanggal Presentasi : 25 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Bahan Bahasan Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas Diskusi Presentasi Email Pos
dan Diskusi
A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti
untuk mencegah penyakit tertentu.
Manfaat imunisasi :
1. Bagi anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan
cacat atau kematian.
2. Bagi keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukkan keluarga apabila orang tua yakin bahwa
anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
3. Bagi negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.
Lima vaksin imunisasi yang wajib diberikan pada setiap bayi dan balita
di Indonesia adalah :
1. BCG
- Imunisasi BCG adalah imunisasi yang digunakan untuk mencegah
penyakit TBC berat. TBC berat contohnya TBC pada selaput otak,
TBC milier pada seluruh lapang paru, atau TBC tulang.
- Pemberiannya adalah 1 kali pada bayi usia 0-2 bulan, diberikan secara
intradermal.
2. Hepatitis B
- Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi untuk mencegah terjadinya
penyakit hepatitis B.
- Pemberian dilakukan 3 dosis melalui intramuscular.
3. Polio
- Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit polio
atau lumpuh layu.
- Imunisasi polio dapat diberikan secara oral atau suntikan
intramuscular. Pemberiannya sebanyak 4 dosis.
4. DPT
- Imunisasi DPT dapat mencegah penyakit difteri, pertussis, dan tetanus.
- Frekuensi pemberian DPT adalah 3 dosis secara intramuscular.
5. Campak
- Imunisasi campak adalah imunisasi untuk mencegah infeksi campak.
- Pemberiannya secara intramuskuler, sebanyak 1 dosis pada anak usia
di atas 9 bulan.
Beberapa masalah dan isu yang salah tentang pemberian imunisasi :
1. Beredar isu bahwa vaksin imunisasi mengandung lemak babi
Pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 - 20 tahun lalu,
proses panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pancreas
babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi induk
bibit vaksin tersebut kemudian dicuci dan dibersihkan total dengan cara
ultra filtrasi ratusan kali, sehingga vaksin yang diberikan kepada anak
tidak mengandung tripsin babi. Hal ini dapat dibuktikan dengan
pemeriksaan khusus. Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa vaksin
tersebut dapat dipakai, selama belum ada penggantinya.
2. Orang tua khawatirakan efek samping imunisasi berupa demam, bengkak,
nyeri, dan kemerahan
Demam, nyeri, kemerahan, bengkak, gatal di bekas suntikkan adalah
reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Umumnya keluhan
tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat turun panas
dan dikompres. Bila perlu dapat dilakukan konsultasi kepada petugas
kesehatan yang telah memberikan imunisasi untuk mendapat penjelasan,
pertolongan atau pengobatan.
3. Pendapat bahwa ada cara lain yang dapat menggantikan imunisasi untuk
memberikan kekebalan spesifik terhadap penyakit
Tidak ada satupun badan penerlitian di dunia yang menyatakan bahwa
kekebalan akibat imunisasi dapat digantikan oleh zat lain, termasuk ASI,
nutrisi, maupun suplemen herbal, karena kekebalan yang dibentuk sangat
berbeda. ASI, nutrisi, suplemen herbal, maupun kebersihan dapat
memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun tidak membentuk
kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya.
Vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan spesifik (antibodi)
terhadap kuman, virus atau racun kuman tertentu. Setelah antibody
terbentuk, vaksin akan bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk
mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

B. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Dalam upaya promosi kesehatan, yaitu melakukan intervensi dalam
upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya
imunisasi pada balita, dilakukan rencana pelaksanaan penyuluhan. Sasaran
peserta adalah ibu yang mempunyai bayi dan balita. Penyuluhan dilakukan
dengan memberikan pengarahan tentang pentingnya imunisasi bagi bayi dan
balita, serta bahayanya bila tidak melakukan imunisasi. Setelah penyuluhan
direncanakanakan dilakukan diskusi terbuka.

C. PELAKSANAAN
Penyuluhan dilakukan oleh para dokter dan tenaga kesehatan dari Puskesmas
Salaman I yang dilaksanakan di Posyandu Sojomerto Lor pada hari Selasa, 12
April 2016.
Penyuluhan mengenai Imunisasi dilaksanakan pada pukul 09.30 WIB dan
berakhir pada pukul 11.00 WIB. Penyuluhan dibuka oleh bidan desa setempat,
dan perwakilan Puskesmas Salaman I (Bidang Promosi Kesehatan).
Selanjutnya dilakukan penyuluhan tentang Imunisasi, meliputi :
1. Pengertian imunisasi
2. Manfaat imunisasi
3. Bahaya bila tidak melakukan imunisasi
4. Efek samping imunisasi dan cara mengatasinya

D. MONITORING DAN EVALUASI


1. Kegiatan : Penyuluhan di Posyandu Sojomerto Lor pada Hari Selasa, 12
April 2016
2. Sasaran : Para Ibu yang mempunyai bayi dan balita di wilayah kerja
Posyandu Sojomerto Lor
3. Monitoring :
Penyuluhan mengenai imunisasi balita diikuti oleh para Ibu yang
mempunyai bayi dan balita di wilayah kerja Posyandu Sojomerto Lor.
Acara berjalan dengan baik dan lancar. Para peserta menyimak dengan
baik penjelasan tentangi munisasi, dan berperan aktif pada diskusi terbuka
yang dilakukan setelah penyuluhan.
4. Evaluasi :
Sebagian besar peserta sudah dapat memahami mengenai pentingnya
imunisasi bagi bayi dan balita.

Magelang, 25 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr Riyono


NIP. 197110132010011001
LAMPIRAN

Dokumentasi kegiatan
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini Senin, tanggal 25 April 2016, telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F2 Upaya Kesehatan Lingkungan / Rumah Sehat
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F2 Upaya Kesehatan Lingkungan

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Rumah Sehat
Tanggal (kasus) : 25 Maret 2016
Tanggal Presentasi : 25 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Bahan Bahasan : Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Diskusi Presentasi Email Pos
Membahas : dan Diskusi
A. LATAR BELAKANG
Setiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal
yang disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepas lelah,
tempat bergaul dan membina rasa kekeluargaan diantara keluarga, tempat
berlindung dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan
status lambang sosial. Perumahan juga merupakan kebutuhan dasar manusia
dan merupakan determinan kesehatan masyarakat. Karenanya pengadaan
perumahan dan tersedianya standar perumahan merupakan isu penting.
Perumahan yag layak untuk tempat tinggal harus memenuhi syarat kesehatan
sehingga penghunnya tetap sehat.
Rumah adalah struktur fisik yang terdiri dari ruangan, halaman, dan area
sekitarnya yag dipakai sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga
(UU RI No.4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau
bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk
kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan
keluarga dan individu (WHO, 2001). Oleh karena itu keberadaan rumah yang
sehat, aman, dan serasi, dan teratur sangat diperlukan agar fungsi dan
kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.

B. PERMASALAHAN
Rumah sehat menurut Winslow dan APHA (American Public Health
Association) harus memiliki syarat, antara lain :
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan
(ventilasi), ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan/suara yang
mengganggu.
2. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain cukup aman dan nyaman bagi
masing-masing penghuni rumah, privasi yang cukup, komunikasi yang
sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, lingkungan tempat
tinggal yang memiliki tingkat ekonomi yang relatif sama.
3. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan air limbah
rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian
yang berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan
minuman dari pencemaran.
4. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang
timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah. Termasuk dalam
persyaratan ini antara lain bangunan yang kokoh, terhindar dari bahaya
kebakaran, tidak menyebabkan keracunan gas, terlindung dari kecelakaan
lalu lintas, dan lain sebagainya.
Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah
sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan kesehatan perumahan. meliputi
3 lingkup kelompok komponen penilaian, yaitu :
1. Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai,
ventilasi, sarana pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
2. Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, pembuangan
kotoran, pembuangan air limbah, sarana tempat pembuangan sampah.
3. Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela ruangan
dirumah, membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja ke jamban,
membuang sampah pada tempat sampah.
Menurut Kemenkes, Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya
disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya di wilayah kerjanya. Salah satu upaya preventif adalah dengan
deteksi rumah masyarakat di wilayah kerjanya, apakah sudah memenuhi
kriteria rumah sehat atau tidak. Sanitasi rumah berperan penting dalam
pencegahan penyakit menular seperti diare, kolera, ispa, skabies, demam
berdarah, malaria, dan lain-lain. Untuk itu, dilakukan kunjungan rumah
kepada salah satu warga di wilayah kerja Puskesmas Salaman I Kabupaten
Magelang, yaitu rumah Tn. W di Dusun Gorangan Kidul RT 06 RW 08 Desa
Kalisalak.

C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI


Tenaga kesehatan mengunjungi rumah Tn. W di Dusun Gorangan Kidul
RT 06 RW 08 Desa Kalisalak Kecamatan Salaman, kemudian meneliti,
mencatat, menilai sesuai kriteria yang ada dan kemudian memberikan
masukan agar tercipta rumah yag memenuhi syarat kesehatan.

D. PELAKSANAAN
Tenaga kesehatan menilai rumah berdasarkan daftar tilik inspeksi rumah
sehat kemudian memberikan penilaian terdapat kriteria yang harus diperiksa.
Masing-masing kriteria diberi skor 0, 1, atau 2 sesuai kondisi yang ditemukan.
Cara menghitung hasil penilaian adalah Nilai x Bobot. Bila nilainya 1068
1200, maka rumah termasuk rumah sehat, sedangkan bila skor kurang dari
1068, maka termasuk kriteria rumah tidak sehat.

Komponen Kriteria Hasil


rumah pemerik-
No Nilai
yang saan
dinilai
KOMPO-
31
I NEN
(bobot)
RUMAH
Langit- a. Tidak ada 0
langit b. Ada, kotor sulit dibersihkan
1
1 dan rawan kecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan
2
kecelakaan
Dinding a. Bukan tembok (terbuat dari
1
anyaman bambu / ilalang)
b. Semi permanen / setengah
tembok/pasangan bata atau
batu yang tidak 2
diplester/papan yang tidak
2 kedap air
c. permanen
(tembok/pasangan bata atau
batu yang diplester/papan
3
kedap air)

3 Lantai a. Tanah 0
b. papan/anyaman bambu 1
dekat dengan tanah/plesteran
yang retak dan berdebu
c. Diplester/ubin/keramik/
2
papan (rumah panggung)
Jendela a. Tidak ada 0
4
kamar tidur b. Ada 1
Jendela a. Tidak ada 0
5 ruang b. Ada
1
keluarga
Ventilasi a. Tidak ada 0
b. Ada, luas ventilasi
permanen < 10% dari luas 1
6 lantai
c. Ada, luas ventilasi
permanen > 10% dari luas 2
lantai
Lubang a. Tidak ada 0
asap dapur b. Ada, luas ventilasi < 10%
1
dari luas lantai dapur
c. Ada, luas ventilasi >10%
7
dari luas lantai dapur (asap
keluar dengan sempurna) atau 2
ada exhauster fan ada
peralatan lain yang sejenis
Pencaha- a. Tidak terang, tidak dapat
0
yaan digunakan untuk membaca
b. kurang terang, sehingga
1
kurang jelas untuk membaca
8
c. Terang dan tidak silau,
sehingga dapat dipergunakan
2
untuk membaca dengan
normal
SARANA 25
II
SANITASI (Bobot)
Sarana air a. Tidak ada 0
bersih b. Ada, bukan milik sendiri
(SGL/SPT/ dan tidak memenuhi syarat 1
PP/KU/ kesehatan
PAH) c. Ada, milik sendiri dan tidak
2
1 memenuhi syarat
d. Ada, bukan milik sendiri
3
dan memenuhi syarat
e. Ada, milik sendiri dan
memenuhi syarat 4

2 Jamban a. Tidak ada 0


(sarana b. Ada, bukan leher angsa, 1
pembuang- tidak ada tutup, disalurkan ke
an kotoran) sungai/kolam
c. Ada, bukan leher angsa dan
ditutup (leher angsa),
2
disalurkan ke sungai/kolam

d. Ada, bukan leher angsa ada


3
tutup, septic tank
e. Ada, leher angsa, septic
4
tank
Sarana a. Tidak ada, sehingga
pembuang- tergenang tidak teratur di 0
an air halaman rumah
limbah b. Ada, diresapkan tetapi
(SPAL) mencemari sumber air (jarak 1
3 dengan sumber air <10m)
c. Ada, dialirkan ke selokan
2
terbuka
d. Ada, dialirkan ke selokan
tertutup (saluran kota) untuk 3
diolah lebih lanjut
Sarana a. Tidak ada 0
pembuang- b. Ada, tetapi tidak kedap air
1
an sampah dan tidak ada tutup
4
(tempat c. Ada, kedap air dan tidak
sampah) 2
tertutup
d. Ada, kedap air dan tertutup 3
PERILA-
KU 44
III
PENGHU- (Bobot)
NI
Membuka a. Tidak pernah dibuka 0
1 jendela b. Kadang-kadang 1
kamar c. Setiap hari dibuka 2
Membuka a. Tidak pernah dibuka 0
jendela b. Kadang-kadang 1
2
ruang c. Setiap hari dibuka
2
keluarga
Membersih a. Tidak pernah dibuka 0
-kan rumah b. Kadang-kadang 1
dan c. Setiap hari dibuka 2
3 halaman

4 Membuang a. Dibuang ke
tinja bayi sungai/kebun/kolam 0
dan balita sembarangan
ke jamban b. Kadang-kadang ke jamban 1
c. Setiap hari dibuang ke
2
jamban
Membuang a. Dibuang ke
sampah sungai/kebun/kolam 0
pada sembarangan
5
tempat b. Kadang-kadang ke jamban 1
sampah c. Setiap hari dibaung ke
2
tempat sampah
TOTAL HASIL PENILAIAN (6x31) + 343
(1x25) +
(3x44)

E. KESIMPULAN
Rumah tersebut termasuk kriteria rumah tidak sehat. Untuk
meningkatkan sanitasi dan juga kesehatan, petugas kesehatan perlu melakukan
penyuluhan untuk memotivasi masyarakat dalam pengadaan rumah sehat.

F. SARAN
1. Melakukan penyuluhan tentang kriteria rumah sehat, dan pentingnya
mempunyai tempat tinggal yang sesuai dengan kriteria tersebut
2. Bekerjasama dengan pemerintah atau pihak swasta untuk membantu
pembangunan rumah yang memenuhi kriteria rumah sehat pada
masyarakat yang tidak mampu

Magelang, 25 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr. Riyono


NIP. 197110132010011001
Foto Kegiatan

BERITA ACARA
PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari Sabtu, tanggal 30 April 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F3 Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga
Berencana (KB) / Mastitis Post Partum
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F3 Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB)

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Mastitis Post Partum
Tanggal (kasus) : 24 Maret 2016
Nama Pasien/ RM : Ny N
Tanggal Presentasi : 30 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : seorang wanita, P2A0, usia 30 tahun, post partum 3 minggu, sedang
menyusui, mengeluh payudara kanan bengkak, kemerahan, dan terasa nyeri
Tujuan :
Melakukan diagnosis mastitis
Melakukan terapi medikamentosa dan non medikamentosa pada pasien
mastitis
Mencegah kekambuhan dan komplikasi mastitis
Bahan Bahasan : Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas : Diskusi Presentasi Email Pos
dan Diskusi
Data pasien Nama : Ny N No RM : -
Nama Klinik : Poli Telp : - Terdaftar sejak : 2014
Umum
Data utama utuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis
Ibu P2A0, 30 tahun, post partum 3 minggu dengan mastitis
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke balai pengobatan Puskesmas Salaman 1 dengan keluhan
nyeri pada payudara kanan. Nyeri dirasakan sejak 1 minggu terakhir. Nyeri
dirasakan terus menerus dan bertambah nyeri saat menyusui bayinya. Nyeri
berkurang bila payudara dikompres dengan air hangat. Selain nyeri, pasien
merasa payudaranya kemerahan dan teraba hangat, pasien juga mengeluh
demam dan ASI yang keluar berwarna agak keruh.
Pasien adalah ibu P2A0, melahirkan 3 minggu yang lalu secara caesar
dengan indikasi lewat HPL. Pasien mengaku belum teratur menyusui
bayinya dikarenakan nyeri pada perut di bagian bekas operasi. Selain itu
setelah mengalami nyeri pada payudara kanan, pasien mengaku hanya
menyusui bayinya dengan payudara kirinya saja. Bayi diberi ASI dan susu
formula dengan jumlah ASI lebih banyak. Selama sakit, pasien belum
pernah berobat ke manapun.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat keluhan serupa saat menyusui anak pertama disangkal
- Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus disangkal
- Riwayat trauma disangkal
- Riwayat alergi disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan yang sama
5. Riwayat Sosial ekonomi
Pasien tinggal bersama dengan suami dan kedua anaknya di rumah
kontrakan. Pasien adalah ibu rumah tangga, sedangkan suaminya adalah
karyawan pabrik. Pasien berobat ke puskesmas dengan fasilitas BPJS yang
didapat dari kantor suaminya.
6. Pemeriksaan Fisik
- Umur : 30 tahun
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Tanda vital : TD 120/80 mmHg, Nadi 96 kali/menit regular, RR 22 kali/
menit, Suhu 38,6o C
- Kepala : normocephal
- Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
- Cor : S1 > S2 reguler, murmur -, gallop
- Pulmo : SD vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
- Abdomen : luka operasi +, kering dan bersih, TFU tidak teraba
- Ektremitas : edema -/-
Status lokalis
Regio mamae dextra
Inspeksi : tampak eritema +, batas tidak tegas, edema +, pus -, darah
Palpasi : permukaan kulit menegang, nyeri tekan +, massa -
Daftar Pustaka :
Amir, LH & The Academy of Breastfeeding Medicine Protocol Committee.
2014. ABM Clinical Protocol #4 : Mastitis, Revised March 2014.
Breastfeeding Medicine, 9(5): 239-43.

Spencer, JP. 2008. Management of Mastitis in Breastfeeding Women. American


Family Physician. 78(6): 727-32.

WHO. 2000. Mastitis : Cause and Management. Geneva: WHO.

IDAI. 2013. Mastitis : Pencegahan dan Pennaganan. Diambil dari :


http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-
penanganan. Diakses tanggal 7 April 2016.

Hasil Pembelajaran :
1. Definisi Mastitis
Mastitis adalah masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui.
Diperkirakan 3-20% ibu menyusui dapat mengalami mastitis. Mastitis pada
ibu menyusui harus mendapatkan perhatian lebih, karena mastitis ini bisa
menurunkan produksi asi dan menjadi alasan ibu untuk berhenti menyusui.
Kedua, mastitis berpotensi meningkatkan transmisi vertikal pada beberapa
penyakit (terutama aids).
Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen
payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Berdasarkan
prosenya, dikenal istilah statis asi, mastitis tanpa infeksi dan mastitis infeksi.
Apabila asi menetap di bagian tertentu payudara, karena ada sumbatan,
maka disebut statis asi. Bila asi tidak juga dikeluarkan, maka akan terjadi
peradangan, disebut mastitis non infeksi. Bila telah terinfeksi bakteri disebut
mastitis infeksi.
Namun perlu diperhatikan, bahwa mastitis pun bisa terjadi pada wanita yang
sedang tidak menyusui.
2. Diagnosis
Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:
- Demam dengan suhu lebih dari 38,5o C
- Menggigil
- Nyeri seluruh tubuh
- Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa nyeri
- Peningkatan kadar natrium dalam asi yang membuat bayi menolak
menyusu
- Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain untuk menunjang diagnosis
tidak selalu diperlukan. World Health Organization (WHO) menganjurkan
pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas pada beberapa keadaan yaitu bila:
- pengobatan dengan antibiotik tidak -- memperlihatkan respons yang
baik dalam 2 hari
- terjadi mastitis berulang
- mastitis terjadi di rumah sakit
- penderita alergi terhadap antibiotik atau pada kasus yang berat.
Bahan kultur diambil dari ASI pancar tengah hasil dari perahan tangan yang
langsung ditampung menggunakan penampung urin steril. Puting harus
dibersihkan terlebih dulu dan bibir penampung diusahakan tidak menyentuh
puting untuk mengurangi kontaminasi dari kuman yang terdapat di kulit
yang dapat memberikan hasil positif palsu dari kultur. Beberapa penelitian
memperlihatkan beratnya gejala yang muncul berhubungan erat dengan
tingginya jumlah bakteri atau patogenitas bakteri.
3. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang menjadi predisposisi terjadinya mastitis pada ibu
menyusui adalah sebagai berikut :
a. Luka pada puting atau puting lecet
b. Tidak teratur menyusui, atau durasi menyusui tidak adekuat
c. Tidak menyusui sama sekali
d. Pengosongan payudara tidak sempurna
e. Pelekatan bibir bayi yang kurang baik. Bayi hanya mengisap puting
(tidak termasuk areola) menyebabkan putting terhimpit di antara gusi
dan bibir
f. Ibu atau bayi sakit
g. Frenulum bayi pendek
h. Produksi ASI terlalu banyak
i. Penekanan payudara terlalu ketat
j. Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,
serpihan kulit, dan lain-lain
k. Penggunaan krim pada putting
l. Ibu stress atau kelelahan
m. Ibu malnutrisi
4. Patofosiologi
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus
(saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka
terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang
memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas
jaringan ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama protein kekebalan
tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke
jaringan sekitar sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya
respons inflamasi, dan kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus ke
lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus
(periduktal) atau melalui penyebaran hematogen (pembuluh darah).
Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia
coli dan Streptococcus. Kadang-kadang ditemukan pula mastitis
tuberkulosis yang menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil.
Pada daerah endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai
1%.
5. Pencegahan
Pencegahan terhadap kejadian mastitis dapat dilakukan dengan
memperhatikan faktor risiko di atas. Bila payudara penuh dan bengkak
(engorgement), bayi biasanya menjadi sulit melekat dengan baik, karena
permukaan payudara menjadi sangat tegang. Ibu dibantu untuk
mengeluarkan sebagian ASI setiap 3 - 4 jam dengan cara memerah dengan
tangan atau pompa ASI yang direkomendasikan. Sebelum memerah ASI
pijatan di leher dan punggung dapat merangsang pengeluaran hormon
oksitosin yang menyebabkan ASI mengalir dan rasa nyeri berkurang. Teknik
memerah dengan tangan yang benar perlu diperlihatkan dan diajarkan
kepada ibu agar perahan tersebut efektif. ASI hasil perahan dapat
diminumkan ke bayi dengan menggunakan cangkir atau sendok.
Pembengkakan payudara ini perlu segera ditangani untuk mencegah
terjadinya feedback inhibitor of lactin (FIL) yang menghambat penyaluran
ASI.
Pengosongan yang tidak sempurna atau tertekannya duktus akibat pakaian
yang ketat dapat menyebabkan ASI terbendung. Ibu dianjurkan untuk segera
memeriksa payudaranya bila teraba benjolan, terasa nyeri dan kemerahan.
Selain itu ibu juga perlu beristirahat, meningkatkan frekuensi menyusui
terutama pada sisi payudara yang bermasalah serta melakukan pijatan dan
kompres hangat di daerah benjolan.
Pada kasus puting lecet, bayi yang tidak tenang saat menetek, dan ibu-ibu
yang merasa ASInya kurang, perlu dibantu untuk mengatasi masalahnya.
Pada peradangan puting dapat diterapi dengan suatu bahan penyembuh luka
seperti atau lanolin, yang segera meresap ke jaringan sebelum bayi
menyusu. Pada tahap awal pengobatan dapat dilakukan dengan mengoleskan
ASI akhir (hind milk) setelah menyusui pada puting dan areola dan
dibiarkan mengering. Tidak ada bukti dari literatur yang mendukung
penggunaan bahan topikal lainnya.
Kelelahan sering menjadi pencetus terjadinya mastitis. Seorang tenaga
kesehatan harus selalu menganjurkan ibu menyusui cukup beristirahat dan
juga mengingatkan anggota keluarga lainnya bahwa seorang ibu menyusui
membutuhkan lebih banyak bantuan.
Ibu harus senantiasa memperhatikan kebersihan tangannya karena
Staphylococcus aureus adalah kuman komensal yang paling banyak terdapat
di rumah sakit maupun masyarakat. Penting sekali untuk tenaga kesehatan
rumah sakit, ibu yang baru pertama kali menyusui dan keluarganya untuk
mengetahui teknik mencuci tangan yang baik. Alat pompa ASI juga
biasanya menjadi sumber kontaminasi sehingga perlu dicuci dengan sabun
dan air panas setelah digunakan.
6. Tatalaksana
a. Pengosongan ASI dengan efektif dan adekuat
Statis ASI adalah penyebab yang paling sering menyebabkan mastitis,
oleh karenanya, terapi yang penting untuk mastitis adalah pengosongan
ASI yang efektif dan adekuat.
- Ibu dinasehati untuk menyusui lebih sering, terutama pada payudara
yang terkena
- Bila payudara yang terkena sangat nyeri, menyusui dapat dimulai
pada payudara yang sehat, kemudian baru berganti ke payudara yang
sakit dengan perlahan-lahan
- Posisikan bayi dengan benar agar ASI keluar adekuat
- Selama menyusui, pijat payudara dengan minyak atau pelumas yang
non toksik. Pijatan dapat dilakukan oleh ibu sendiri atau dengan
bantuan orang lain. Pijatan dimulai dari bagian payudara dengan ASI
yang terkumpul, ke arah puting.
Ibu dan bayi biasanya mempunyai jenis pola kuman yang sama,
demikian pula pada saat terjadi mastitis sehingga proses menyusui dapat
terus dilanjutkan dan ibu tidak perlu khawatir terjadi transmisi bakteri ke
bayinya. Tidak ada bukti terjadi gangguan kesehatan pada bayi yang
terus menyusu dari payudara yang mengalami mastitis. Ibu yang tidak
mampu melanjutkan menyusui harus memerah ASI dari payudara
dengan tangan atau pompa. Penghentian menyusui dengan segera
memicu risiko yang lebih besar terhadap terjadinya abses dibandingkan
yang melanjutkan menyusui. Pijatan payudara yang dilakukan dengan
jari-jari yang dilumuri minyak atau krim selama proses menyusui dari
daerah sumbatan ke arah puting juga dapat membantu melancarkan
aliran ASI.
b. Terapi suportif
Ibu perlu istirahat cukup, cukup minum, dan terpenuhi kebutuhan
nutrisinya. Anggota keluarga lain perlu diberi nasehat untuk membantu
ibu, sehingga ibu dapat beristirahat. Kompres hangat terutama saat
menyusu akan sangat membantu mengalirkan ASI. Setelah menyusui
atau memerah ASI, dapat dilakukan kompres dingin untuk mengurangi
bengkak dan nyeri. Pada payudara yang sangat bengkak, kompres panas
kadang membuat rasa nyeri bertambah, dan kompres dingin dapat
membuat ibu nyaman. Keputusan untuk memilih kompres panas atau
dingin lebih tergantung pada kenyamanan ibu.
Sebagian besar ibu dengan mastitis dapat dirawat sebagai pasien rawat
jalan, namun tindakan rawat inap dapat dipertimbangkan bila klinis ibu
lemah/ sakit berat, perlu antibiotik intravena, dan/ atau tidak bisa
istirahat di rumah. Di RS, sebaiknya ibu dirawat gabung dengan bayi
agar proses menyusui dapat terus dilakukan.
c. Medikamentosa
Terapi diberikan sesuai indikasi, dan harus dipilih obat-obatan yang
aman untuk ibu menyusui.
1) Obat anti nyeri
Obat anti nyeri golongan NSAID (Non Steroid Anti-inflammatory
Drugs) dapat diberikan untuk mengurangi nyeri, sehingga ibu mau
tetap menyusui. Obat pilihan adalah ibuprofen, yang lebih efektif
mengurangi nyeri dan inflamasi dibandingkan parasetamol/
acetaminophen. Ibuprofen tidak ditemukan pada ASI hingga dosis
1,6 gr/hari, sehingga aman untuk ibu menyusui.
2) Antibiotik
Apabila gejala penyakit ringan, dan kurang dari 24 jam, maka
antibiotik belum perlu diberikan. Pasien harus dimotivasi untuk
melakukan pengosongan ASI dan menyusi bayinya dengan teratur
dan adekuat. Namun bila gejala berat, keluhan memburuk dalam 12-
24 jam, dan terdapat luka pada putting payudara, maka antibiotik
harus diberikan.
Antibiotik pilihan adalah yang sensitif terhadap patogen penyebab
mastitis, yaitu bakteri S. aureus. Pilihan antibiotiknya adalah sebagai
berikut :
- Eritromisin, 250 500 mg per 6 jam
- Flucloxacillin 250 mg per 6 jam
- Dicloxacillin 125-500 mg per 6 jam
- Amoxicillin 250-500 mg per 8 jam
- Cephalexin 250-500 mg per 6 jam
Antibiotik diberikan paling sedikit selama 10 - 14 hari. Biasanya ibu
menghentikan antibiotik sebelum waktunya karena merasa telah
membaik. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya mastitis berulang.
Tetapi perlu pula diingat bahwa pemberian antibiotik yang cukup
lama dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi jamur pada
payudara dan vagina.
7. Komplikasi
a. Penghentian menyusui dini
Mastitis dapat menimbulkan berbagai gejala akut yang membuat
seorang ibu memutuskan untuk berhenti menyusui. Penghentian
menyusui secara mendadak dapat meningkatkan risiko terjadinya abses.
Selain itu ibu juga khawatir kalau obat yang mereka konsumsi tidak
aman untuk bayi mereka. Oleh karena itu penatalaksanaan yang efektif,
informasi yang jelas dan dukungan tenaga kesehatan dan keluarga
sangat diperlukan saat ini.
b. Abses
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena
pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara
teraba keras, merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi, maka kita
harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih 3% dari
kejadian mastitis berlanjut menjadi abses. Pemeriksaan USG payudara
diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul.
Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi jarum halus yang berfungsi
sebagai diagnostik sekaligus terapi, bahkan mungkin diperlukan aspirasi
jarum secara serial. Pada abses yang sangat besar terkadang diperlukan
tindakan bedah. Selama tindakan ini dilakukan ibu harus mendapat
antibiotik. ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur agar
antibiotik yang diberikan sesuai dengan jenis kumannya.
c. Mastitis berulang/ kronis
Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat
atau tidak adekuat. Ibu harus benar-benar beristirahat, banyak minum,
makanan dengan gizi berimbang, serta mengatasi stress. Pada kasus
mastitis berulang karena infeksi bakteri diberikan antibiotik dosis rendah
(eritromisin 500 mg sekali sehari) selama masa menyusui
d. Infeksi jamur
Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh jamur
seperti Candida albicans. Keadaan ini sering ditemukan setelah ibu
mendapat terapi antibiotik. Infeksi jamur biasanya didiagnosis
berdasarkan nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang
saluran ASI. Di antara waktu menyusu permukaan payudara terasa gatal.
Puting mungkin tidak nampak kelainan. Ibu dan bayi perlu diobati.
Pengobatan terbaik adalah mengoles nistatin krem yang juga
mengandung kortison ke puting dan areola setiap selesai bayi menyusu
dan bayi juga harus diberi nistatin oral pada saat yang sama.
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjektif
Ibu P2A0, post partum SC 3 minggu yang lalu, datang dengan keluhan nyeri
pada payudara kanan sejak seminggu terakhir. Nyeri terus menerus terutama
saat menyusui. Nyeri berkurang bila payudara dikompres dengan air hangat.
Selain nyeri, pasien merasa payudaranya kemerahan dan teraba hangat, pasien
juga mengeluh demam dan ASI yang keluar berwarna agak keruh. Pasien
mengaku belum teratur menyusui bayinya dikarenakan nyeri pada perut di
bagian bekas operasi.
2. Objektif
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Tanda vital : TD 120/80 mmHg, Nadi 96 kali/menit regular, RR 22 kali/
menit, Suhu 38,6o C
- Status lokalis
Regio mamae dextra
Inspeksi : tampak eritema +, batas tidak tegas, edema +, pus -, darah
Palpasi : permukaan kulit menegang, nyeri tekan +, massa -
3. Assessment
Ibu P2A0, 30 tahun, post partum 3 minggu dengan mastitis
4. Plan
a. Diagnosis
Diagnosis sudah dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pada pasien ini belum diperlukan pemeriksaan penunjang.
b. Terapi
- NSAID : Ibuprofen tablet 3 x 400 mg
- Antibiotik : Amoksisilin tablet 3 x 500 mg
Ibuprofen diberikan dengan tujuan sebagai anti nyeri, anti inflamasi,
sekaligus untuk menurunkan demam pasien. Pemberian obat ini
diharapkan dapat secara langsung menurunkan nyeri pasien, sehingga
pasien mau menyusui bayinya pada kedua payudaranya.
Antibiotik diberikan kepada pasien karena kondisi pasien sudah sakit
selama satu minggu. Pemilihan amoksisilin karena antibiotik ini tersedia
di Puskesmas, harganya murah, dan sensitif terhadap bakteri penyebab
mastitis (S. aureus).
c. Pendidikan
- Memberi motivasi kepada pasien untuk tetap menyusui bayinya pada
kedua payudaranya
- Meyakinkan ibu bahwa dalam kondisi sedang sakit, ASInya tidak
berbahaya untuk bayinya
- Mengajari cara memijat payudara dan mengeluarkan ASI yag
terkumpul pada payudara
- Mengajari ibu cara menyusui yang benar, baik posisi ibu maupun bayi
- Menasehati ibu agar banyak istirahat, minum air putih yang cukup, dan
makan makanan bergizi
- Memberi pengertian pada keluarga pasien untuk mendukung proses
pengobatan dan menyusui
d. Monitoring
Kegiatan Periode Hasil yang diharapkan

Kepatuhan minum obat 3 hari sekali - Mengetahui kepatuhan


penggunaan obat-obatan
- Memeriksa adanya komplikasi

Nasehat Setiap kali - Tidak berhenti menyusui


- Menjaga higienitas putting
kunjungan
payudara

e. Konsultasi
Konsultasi kepada spesialis bedah diperlukan apabila pada pasien
ditemukan komplikasi abses yang memerlukan tindakan bedah. Pada
pasien tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda abses, sehingga tidak
dilakukan konsultasi.

Magelang, 30 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr. Riyono


NIP. 197110132010011001
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari Sabtu, tanggal 30 April 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F4 Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat/ Diet Pasien
Hipertensi
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F4 Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Nutrisi Pasien Hipertensi
Tanggal (kasus) : 28 Maret 2016
Nama Pasien/ RM : Tn. S
Tanggal Presentasi : 30 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi : seorang laki-laki, usia 50 tahun, datang untuk berobat rutin
hipertensi
Tujuan :
Mengetahui nutrisi yang tepat untuk pasien hipertensi
Memberikan terapi medikamentosa pada penyakit hipertensi
Mencegah terjadinya komplikasi
Bahan Bahasan : Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas : Diskusi Presentasi Email Pos
dan Diskusi
Data pasien Nama : Tn. S No RM : -
Nama Klinik : Poli Umum Telp : - Terdaftar sejak : 2014
Data utama utuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis
Hipertensi grade II
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang sendiri ke Balai Pengobatan Puskesmas Salaman 1 untuk
melakukan pemeriksaan tensi (tekanan darah). Saat ini pasien mengeluh
kadang-kadang merasa nyeri seluruh kepala hingga ke leher belakang.
Keluhan sesak napas, tidur dengan 2 bantal, sering terbangun karena sesak
pada malam hari, dan kedua kaki bengkak disangkal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat hipertensi : diakui, namun tidak rutin kontrol (pasien
memeriksakan diri hanya jika ada keluhan :
- Riwayat nyeri dada : disangkal
- Riwayat sakit jantung : disangkal
- Riwayat stroke : disangkal
- Riwayat DM : tidak tahu (tidak pernah periksa), namun tidak ada gejala
poliuri, polidipsi, dan polifagi
- Riwayat hiperkolesterol : tidak tahu (tidak pernah periksa)
4. Riwayat Kebiasaan
- Riwayat merokok diakui sejak usia 19 tahun, banyaknya rokok 1 bungkus
per hari. Saat ini sudah tidak merokok sejak 2 tahun belakangan ini.
- Riwayat menyukai makanan asin dan gurih
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat hipertensi : diakui, yaitu ayah dan kakak pasien
- Riwayat sakit jantung dan stroke : disangkal
6. Riwayat Sosial ekonomi
Pasien adalah seorang buruh tani. Pasien tinggal bersama istri dan anak
bungsunya. Istri pasien adalah buruh tani, anak pasien ada 3 orang, anak
pertama dan kedua sudah berkeluarga dan berpisah rumah. Anak bungsu
pasien masih duduk di bangku SMP. Pasien berobat dengan fasilitas KIS.
7. Pemeriksaan Fisik
- Umur : 50 tahun
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Antropometri
BB : 80 kg
TB : 175 cm
Status gizi (IMT) : BB/TB2 = 62 / (1,6)2 = 24,21 (overweight dengan
risiko)
- Tanda vital : TD 170/100 mmHg, Nadi 88 kali/menit regular, RR 22 kali/
menit, Suhu 36o C
- Kepala : normocephal
- Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
- Leher : JVP tidak meningkat
- Pulmo : SD vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
- Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba kuat pada SIC V linea midclavicula sinistra
Perkusi : batas jantung kiri bawah bergeser ke kiri, yaitu pada SIC V
linea midclavicula sinistra
- Abdomen : agak cembung, Bising usus + normal, timpani pada seluruh
lapang abdomen, hepatosplenomegaly -
- Ektremitas : edema pada ekstremitas bawah -/-
Daftar Pustaka :
PERKI Pusat dan Yayasan Jantung Indonesia. 2002. Pedoman Makan untuk
Kesehatan Jantung Indonesia. Jakarta: PERKI.

Bagian Gizi RSCM dan PERSAGI. 1996. Penuntun Diet. Jakarta: RSCM.

Nguyen, H., O.A. Odelola, J. Rangaswami, & A. Amanullah. 2013. Review Article
: A Review of Nutritional Factors in Hypertension Management.
International Journal of Hypertension. 1-12.

Hasil Pembelajaran :
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi
batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai sesuai dengan usia.
Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar
(90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi esensial). Penyebab
tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut jantung,
peningkatan resistensi (tahanan) pembuluh darah tepi, dan peningkatan volume
aliran darah.
2. Hubungan Gizi dan Hipertensi
Faktor gizi yang sangat berpengaruh terhadap kejadian hipertensi melalui
beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya
hipertensi yang berhubungan dengan diet. Walaupun faktor usia juga berperan,
karena pada usia lanjut, pembuluh darah menjadi kaku dan mengalami
penurunan elastisitas.
Pembuluh darah yang mengalami aterosklerosis akan mengalami peningkatan
resistensi dinding pembuluh darah. Hal tersebut akan memicu jantung untuk
meningkatkan denyutnya agar aliran darah dapat mencapai seluruh tubuh.
Menurut data epidemiologi, faktor risiko terjadinya aterosklerosis adalah
sebagai berikut :
Primer :
- Merokok ( 1 bungkus per hari)
- Tekanan darah (diastolik > 90 mmHg, sistolik > 105 mmHg)
- Peningkatan kolesterol darah (> 240 mg/dL)
Sekunder :
- Peningkatan trigliserida darah
- Obesitas
- Diabetes
- Stress kronis
- Pil KB

3. Penatalaksanaan Diet Bagi Pasien Hipertensi


Penatalaksanaan hipertensi tidak cukup dengan pemberian obat-obatan saja,
namun juga perlu dilakukan terapi non medikamentosa berupa pengaturan diet
dan merubah gaya hidup. Tujuannya untuk membantu menurunkan tekanan
darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Selain itu,
pengaturan diet juga bisa mencegah penyakit lain seperti hiperkolesterol dan
hiperurisemia, dan menurunkan berat badan.
Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
- Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang
- Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita
- Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis
makanannya.
Garam atau natrium, dapat ditemukan pada hampir semua makanan yang
berasal dari hewan dan tumbuhan. Selain itu, pada pengolahan makanan
biasanya juga diberi tambahan garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan
konsumsi garam dapur tidak lebih dari sampai sendok teh per hari, atau
mengganti garam dapur dengan garam rendah natrium.
a. Mengatur Menu Makanan
Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah :
1) Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak
kelapa, gajih)
2) Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biskuit,
craker, keripik, dan makanan kering yang asin)
3) Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, kornet, sayuran
serta buah-buahan dalam kaleng, softdrink)
4) Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin,
pindang, udang kering, telur asin, selai kacang)
5) Susu full cream, mentega, margarin, keju, mayonnaise, serta sumber
protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah
(sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam)

6) Bumbu-bumbu seperti kecap, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco,


serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam
natrium
7) Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian dan
tape.
Makanan yang dianjurkan :
1) Makanan yang segar : sumber karbohidrat, protein nabati dan hewani,
sayuran dan buah-buahan yang mengandung banyak serat
2) Makanan yang diolah tanpa atau sedikit menggunakan garam natrium,
penyedap rasa, dan kaldu bubuk.
3) Sumber protein hewani : penggunaan daging/ ayam/ ikan paling
banyak 100 gram/ hari. Telur ayam/ bebek 1 butir/ hari
4) Susu segar 200 ml/ hari.
Cara mengatur diet :
- Rasa tawar dapat diperbaiki dengan menambah gula merah, gula pasir,
bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, daun salam, dan bumbu
lain yang tidak mengandung atau sedikit garam natrium
- Makanan lebih enak ditumis, digoreng, dipanggang walaupun tanpa
garam
- Bubuhkan garam saat di atas meja, gunakan garam beryodium, tidak
lebih dari sendok teh/ hari
- Mengganti garam dapur dengan garam rendah natrium
b. Meningkatkan intake kalium dan kalsium :
Diet tinggi kalium berhubungan dengan penurunan tekanan darah. Dosis
kalium yang disarankana dalah 4,5 gram atau 120-175 mEq/hari. Kalium
dapat didapatkan dari apel, jeruk, tomat, pisang, kentang panggang, dan
segelas susu segar.
Intake kalsium juga harus diperhatikan. Selain sumber kalium, susu juga
bisa menjadi sumber kalsium harian pasien, disarankan juga untuk
mengonsumsi keju rendah natrium. Kebutuhan kalsium per hari rata-rata
808 mg.

c. Menghitung jumlah kalori


Kebutuhan gizi setiap individu berbeda, dipengaruhi oleh faktor-faktor di
bawah ini :
1) Umur : kebutuhan gizi pada pertumbuhan dari janin, bayi, balita,
remaja, sampai dewasa berbeda-beda.
2) Jenis kelamin : pada umumnya laki-laki memerlukan zat gizi lebih
tinggi dibandingkan wanita, karena luas permukaan tubuh maupun otot
pada laki-laki lebih besar daripada wanita. Namun kebutuhan Fe pada
wanita lebih tinggi karena wanita mengalami menstruasi.
3) Aktivitas : kegiatan atau pekerjaan sehari-hari yang lebih aktif baik
fisik maupun mental memerlukan energy/ kalori yang lebih banyak
4) Wanita hamil dan orang yang baru sembuh dari sakit umumnya
memerlukan zat gizi yang lebih banyak. Namun penyakit tertentu
seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan lainnya memerlukan
diet khusus.
5) Lingkungan : kondisi yang dingin membutuhkan kalori dan protein
yang lebih tinggi. Pada kondisi tertentu, misalnya paparan nuklir,
orang-orang yang berada di sekitarnya membutuhkan suplemen khusus
untuk menangkal efek radiasi.
Sehingga Angka Kecukupan Gizi (AKG) setiap individu berbeda sesuai
dengan kondisi masing-masing. Rumusnya menurut WHO sebagai berikut:
Jenis Kelamin Angka Kecukupan Gizi (Kkal/ hari)
Ringan Sedang Berat
Laki-laki 1,56 x BMR 1,76 x BMR 2,10 x BMR
Wanita 1,55 x BMR 1,70 x BMR 2,00 x BMR

BMR adalah Basic Metabolic Rate. Nilainya ditentukan oleh berat dan
susunan tubuh serta umur dan jenis kelamin. Secara sederhana nilai BMR
dapat ditaksir dengan rumus sebagai berikut :

Rumus untuk menaksir nilai BMR menurut WHO


Kelompok Umur BMR (Kkal/hari)
(tahun) Laki-laki Wanita
03 60,9 BB + 54 61,0 BB + 51
3 10 22,7 BB + 495 22,5 BB + 499
10 18 17,5 BB + 651 12,2 BB + 746
18 30 15,3 BB + 679 14,7 BB + 496
30 60 11,6 BB + 879 8,7 BB + 829
Lebih dari 60 13,5 BB + 487 10,5 BB + 596

Komposisi makanan yang dianjurkan adalah karbohidrat 60%, 20% dari


protein, dan 20% dari lemak. Dengan kecukupan protein yang dianjurkan
0,8 gram/kgBB/hari, konsumsi protein berlebih dapat membebani fungsi
ginjal.
4. Terapi Penunjang Lain
Selain pengobatan dan pengaturan menu makanan pada penderita hipertensi,
diperlukan terapi khusus lain seperti konseling masalah kejiwaan dan
fisioterapi, terutama pada penderita paska stroke atau infark miokardium.
Selain itu diperlukan konseling dengan anggota keluarga yang lain untuk
membantu menyiapkan makanan khusus untuk pasien, dan mengingatkan
makanan yang harus dihindari/ dibatasi.
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjektif
Pasien datang untuk melakukan pemeriksaan tensi (tekanan darah). Saat ini
pasien mengeluh kadang-kadang merasa nyeri seluruh kepala hingga ke leher
belakang. Keluhan sesak napas, tidur dengan 2 bantal, sering terbangun karena
sesak pada malam hari, dan kedua kaki bengkak disangkal. Riwayat hipertensi
diakui, namun tidak rutin kontrol.
2. Objektif
- Umur : 50 tahun
- Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Antropometri
BB : 80 kg
TB : 175 cm
Status gizi (IMT) : BB/TB2 = 62 / (1,6)2 = 24,21 (overweight dengan
risiko)
- Tanda vital : TD 170/100 mmHg, Nadi 88 kali/menit regular, RR 22 kali/
menit, Suhu 36o C
- Leher : JVP tidak meningkat
- Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba kuat pada SIC V linea midclavicula sinistra
Perkusi : batas jantung kiri bawah bergeser ke kiri, yaitu pada SIC V
linea midclavicula sinistra
- Ektremitas : edema pada ekstremitas bawah -/-
3. Assessment
Hipertensi Grade II dengan Tension Type Headache

4. Plan
a. Diagnosis
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis pasien adalah
Hipertensi Grade II dengan Tension Type Headache
b. Terapi
1) Medikamentosa
Captopril tablet 2 x 25 mg
Paracetamol tablet 3 x 500 mg
2) Diet
Laki-laki umur 55 tahun, TB = 175 cm, BB = 80 kg, tekanan darah
170/100 mmHg dengan aktivitas ringan.
IMT = 80/(1,75)2 =26,13 (gemuk)
BB Ideal = (175-100) 10% (175-100) = 67,5 kg
Kebutuhan energi pasien adalah :
BMR = (11,6 x 75) + 879 = 1749
AKG = 1,56 x 1749 = 2728 Kkal
Karena kegemukan, sehingga total kalori diturunkan menjadi 2500
Kkal
Kebutuhan karbohidrat : 60% x 2500 = 1500 Kkal = 375 gram
Kebutuhan protein : 20% x 2500 = 500 Kkal = 100 gram
Kebutuhan lemak : 20% x 2500 = 500 Kkal = 55,56 gram
3) Latihan jasmani : pasien disarankan untuk latihan jasmani 3-4 kali
seminggu, selama kurang lebih 30 menit.
c. Pendidikan
- Menjelaskan pasien tentang penyakit hipertensi, perjalanan penyakit,
dan komplikasi yang mungkin timbul
- Menjelaskan pentingnya memeriksakan diri secara rutin, walaupun
tidak ada keluhan
- Menasehati pasien dan keluarga untuk menjaga nutrisi pasien, agar
kebutuhan nutrisi terpenuhi, namun tidak memperberat penyakit
- Menjelaskan menu makanan yang sebaiknya dihindari dan dianjurkan
- Bubuhkan garam saat di atas meja, gunakan garam beryodium, tidak
lebih dari sendok teh/ hari atau mengganti garam dapur dengan
garam rendah natrium
d. Konsultasi
- Pasien dikonsultasikan kepada ahli gizi untuk pengaturan diet sehari-
hari
- Apabila muncul komplikasi, dapat dilakukan rujukan kepada dokter
spesialis
e. Monitoring
Kegiatan Periode Hasil yang diharapkan
Edukasi dan Setiap kali Penderita dapat
manajemen nutrisi kunjungan mencapai berat badan
(pengukuran berat ideal dan jumlah
badan, penilaian makanan yang
asupan makan) dikonsumsi sesuai
dengan jumlah
kebutuhan kalori per
hari

Pengukuran tekanan Setiap kali Penderita dapat


darah kunjungan mencapai dan
mempertahankan
tekanan darah normal

Pemeriksaan fisik Setiap kali Deteksi dini


kunjungan komplikasi, sehingga
dapat dilakukan
rujukan segera apabila
diperlukan

Magelang, 30 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr. Riyono


NIP. 197110132010011001

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari Senin, tanggal 25 April 2016, telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F5 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular
atau Tidak Menular/ Skabies dengan infeksi sekunder
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F5 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular atau Tidak Menular

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Skabies dengan Infeksi Sekunder
Tanggal (kasus) : 21 Maret 2016
Nama Pasien/ RM : An. A
Tanggal Presentasi : 25 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumi
Deskripsi : seorang anak, laki-laki, usia 7 tahun, gatal-gatal di sela-sela jari
tangan dan kaki
Tujuan :
Menegakkan diagnosis skabies
Melakukan tatalaksana skabies dengan infeksi sekunder
Mencegah penularan skabies
Mencegah kekambuhan skabies
Bahan Bahasan : Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas : Diskusi Presentasi Email Pos
dan Diskusi
Data pasien Nama : An. A No RM : -
Nama Klinik : Poli Umum Telp : - Terdaftar sejak : 2015
Data utama utuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis
Skabies dengan infeksi sekunder
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Umum Puskesmas Salaman 1 diantar oleh ayahnya
dengan keluhan gatal-gatal. Pasien mengeluh gatal-gatal pada sela-sela jari
kaki, tangan, ketiak, dan selangkangan. Keluhan dirasakan sejak satu bulan
terakhir dan semakin lama semakin memberat. Keluhan dirasakan terus
menerus, namun paling dirasa gatal pada malam hari. Saat gatal pasien
menggaruk bagian yang gatal tersebut hingga menimbulkan luka pada bagian
yang digaruk. Gatal berkurang bila dioles dengan minyak kelapa. Pada bagian
yang gatal tampak bintik-bintik kecil agak kemerahan, pada bagian yang
terluka bekas digaruk terdapat nanah yang mengering.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
- Pasien belum pernah mengalami sakit serupa sebelumnya.
- Riwayat alergi disangkal
4. Riwayat Kebiasaan
- Pasien mandi 2 kali sehari, memakai sabun batang, handuk dipakai
bergantian dengan kakak pasien. Air yang digunakan berasal dari air
sumur. Pakaian dalam dan luar diganti 2 kali sehari
- Pasien tidur bersama dengan kakak pasien, di atas kasur yang terbuat dari
kapuk. Kasur tersebut jarang dijemur, selimut jarang dicuci.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Ibu pasien juga mengalami keluhan serupa sejak 2 bulan terakhir. Sudah
berobat ke mantri setempat namun belum membaik.
- Kakak pasien mengalami keluhan serupa 1 bulan yang lalu, berobat dan
kemudian sembuh. Sehari-hari pasien tidur bersama dengan kakak pasien.

6. Riwayat Sosial ekonomi


Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan seorang kakaknya. Pekerjaan ayah pasien
adalah buruh tani, sedangkan ibu pasien adalah ibu rumah tangga. Pasien
berobat dengan menggunakan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari
pemerintah.
7. Pemeriksaan Fisik
Umur : 7 tahun
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Nadi : 92 kali per menit
Pernapasan : 24 kali per menit
Suhu : afebris
BB : 25 kg

Status dermatologis
Terdapat papula eritema mulipel, bentuk bulat, berbatas tegas pada lokasi
intertriginosa (sela-sela jari tangan dan kaki, ketiak, selangkangan).
Pada regio plantar manus dextra dan sinistra tampak pustula, dengan erosi dan
ekskoriasi. Di beberapa bagian terdapat krusta tipis.
Daftar Pustaka :
Handoko, R.P. 2005. Skabies. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
keempat. Jakarta: FKUI.

SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK Universitas Udayana. 2000. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin. Denpasar : Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.

Wiederkehr, M., Schwart, R.A. 2006. Scabies. Diakses dari :


http://www.emedicine.com/DERM/topic471.htm. Diakses tanggal : 20
Maret 2016.

Stone, S.P. 2003. Scabies and Pedikulosis. Dalam : Fitzpatricks Dermatology In


General Medicine. 6th Edition. Volume 1. McGraw-Hill Professional.

Hasil Pembelajaran :
1. Definisi dan etiologi skabies
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei var, horminis, dan produknya.
Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih
kotor, dan tidak bermata. Ukurannya, yang betina antara 330-450 mikron x
250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 220-240 mikron x
150-200 mikron. Pada dewasa, terdapat 4 pasang kaki.
Siklus hidup tungau ini sebagai beriut. Setelah perkawinan antara jantan dan
betina di atas kulit, yang jantan akan mati. Tungau betina kemudian menggali
terowonan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2-3 milimeter per hari
sambil meletakkan telur-telurnya. Jumlah telur bisa mencapai 40 sampai 50.
Dalam 3-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva, setelah 2-3 hari larva
berubah menjadi nimfa, dan kemudian menjadi dewasa. Mulai dari telur
hingga dewasa memerlukan waktu 8-12 hari.
2. Cara penularan dan patogenesis skabies
Cara penularan (transmisi) :
a. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan,
tidur bersama dan hubungan seksual
b. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei,
bantal, dan lain-lain.
Pada malam hari, biasanya Sarcoptes dewasa akan keluar dari lorong-lorong
unuk mencari pasangannnya. Oleh karena itu penderita scabies akan
merasakan gatal-gatal pada malam hari.
Selain karena gerakan tungau, kelainan kulit juga dapat disebabkan oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal disebabkan oleh sensitisasi terhadap
secret dan eksreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah
infestasi. Pada saat itu kelainan kulit yang muncul dapat beruba papul, vesikel,
urtika, dan lain-lain. Dengan garukan, maka dapat muncul erosi, ekskoriasi,
krusta dan menyebabkan infeksi sekunder.

3. Gejala klinis dan penegakan diagnosis skabies


Ada 4 gejala cardinal
1) Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivtas tungau.
2) Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam
suatu keluarga, atau sekitar lingkungan padat penduduk.
3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok,
rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ditemukan papul atau
vesikel. Predileksi skabies umumnya pada bagian dengan stratum korneum
yang tipis, yaitu : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar,
siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita),
umbilicus, bokong, genitalia ekstrerna (pria) dan perut bagian bawah. Pada
bayi dapat juga terkena di bagian telapak tangan dan telapak kaki.
4) Menemukan tungau, merupakan diagnosis pasti.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal tersebut.
4. Tatalaksana skabies
a. Medikamentosa
Syarat obat skabies yang ideal :
1) Harus efektif terhadap semua stadium tungau
2) Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik
3) Tidak berbau atau kotorserta tidak merusak atau mewarnai pakaian
4) Mudah diperoleh dan harganya murah
Cara pengobatannya adalah dengan mengobati seluruh anggota keluarga.
Termasuk anggota keluarga yang tidak menunjukkan gejala sakit, karena
bisa bersifat sebagai pembawa (carrier).

Jenis obat topikal :


1) Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau
krim. Obat ini tidak efektif di stadium telur, oleh karena itu harus
digunakan setiap hari berturut-turut selama minimal 3 hari.
Kekurangan lainnya adalah berbau, mengotori pakaian, dan kadang-
kadang menimbulkan iritasi. Dapat digunakan pada bayi dan anak
kurang dari 2 tahun.
2) Emulsi benzyl-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium,
diberikan tiap malam selama tiga hari. Namun obat ini susah diperoleh,
sering member iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3) Gama benzene heksa klorida (gameksan) 1% dalam krim atau losio.
Efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang member
iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak usia di bawah 6 tahun dan
wanita hamil, karena toksis terhadap susunan saraf pusat.
Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi
seminggu kemudian.
4) Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan,
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal; harus dijauhkan
dari mata, mulut, dan uretra.
5) Permetrin 5% dalam krim, kurang toksisk dibandingkan gameksan,
efektivitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam.
Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu. Tidak dianjurkan pada
bayi di bawah umur 2 bulan.
Bila disertai infeksi sekunder, dapat ditambahkan antibiotika. Untuk
mengurangi rasa gatal dapat diberikan antihistamin oral.
b. Non medikamentosa
- Mengobati seluruh anggota keluarga karena sifatnya yang mudah
menular
- Pakaian, alat-alat tidur, handuk, dan lain-lain hendaknya dicuci dengan
air panas
- Kasur dijemur
- Tidak bergantian handuk atau pakaian untuk mencegah penularan
5. Komplikasi dan prognosis skabies
Komplikasi paling sering karena skabies adalah adanya infeksi sekunder.
Namun hal ini harus diperhatikan terutama pada pasien anak-anak, karena
dapat menyebabkan glomerulonefritis. Infeksi berat dan berkepanjangan juga
dapat menyebabkan abses, pneumonia piogenik, dan septikemia. Komplikasi
lain adalah efek pengobatan dengan obat yang kurang tepat, sehingga dapat
menimbulkan iritasi.
Prognosis skabies pada umumnya baik bila memperhatikan pemilihan dan cara
pemakaian obat, syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi.
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjektif
Gatal di bagian-bagian lipatan tubuh, terutama malam hari. Selain pasien,
keluarga serumah yang lain juga mengalami hal serupa (ibu dan kakak
pasien).
2. Objektif
Terdapat papula eritema mulipel, bentuk bulat, berbatas tegas pada lokasi
intertriginosa (sela-sela jari tangan dan kaki, ketiak, selangkangan).
Pada regio plantar manus dextra dan sinistra tampak pustula, dengan erosi dan
ekskoriasi. Di beberapa bagian terdapat krusta tipis.
3. Assessment
Skabies dengan infeksi sekunder
4. Plan
Diagnosis
Diagnosis scabies adalah terdapat dua dari empat tanda cardinal :
1) Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari
2) Menyerang manusia secara berkelompok
3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat pedileksi
4) Menemukan tungau
Pada pasien ini, terdapat tanda pruritus nokturna dan menyerang pasien serta
keluarganya dalam satu rumah (kakak dan ibu pasien), sehingga diagnosis
scabies dapat ditegakkan.
Diagnosis pasti adalah dengan menemuan tungau, namun tidak dilakukan
karena bersifat invasif, mengingat usia pasien masih keci, dan tindakan
menemukan tungau cukup sulit.

Pengobatan
1) Obat topikal
Pada pasien ini, diresepkan dua jenis obat topikal :
a) Salep scabimite (permetrin)
Dioleskan ke seluruh tubuh kecuali muka, aplikasi hanya sekali dan
dibilas setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu.
b) Salep gentamisin
Dioleskan pada bagian yang gatal, tipis-tipis dua kali sehari.
2) Antihistamin : chlorpheniramine maleate tablet 4 mg 3 x tablet
3) Antibiotik : amoksisilin tablet 500 mg 3 x tablet
4) Steroid : dexametashone tablet 0,5 mg 2 x 1 tablet

Tujuan pengobatan penyakit ini adalah untuk mengatasi penyakit dasar


dan komplikasinya. Penyakit dasar adalah skabies, pemberian salep scabimite
bertujuan untuk membunuh parasit penyebabnya (Sarcoptes scabiei) pada
berbagai stadium (telur, larva, nimfa, dewasa). Antibiotik topikal (salep
gentamisin) dan antibiotik oral (amoksisilin) untuk mengatasi infeksi
sekunder. Sedangkan antihistamin diberikan untuk mengurangi rasa gatal.
Pendidikan
Edukasi pasien dan keluarga untuk
a. Menjaga kebersihan diri dengan tetap mandi
b. Tidak membiasakan menggaruk kulit, karena dapat menyebabkan luka dan
memicu timbulnya infeksi sekunder
c. Tidak bergantian handuk atau pakaian dengan orang lain
d. Membersihkan lingkungan rumah
e. Menjemur tempat tidur, mencuci selimut, handuk, dan sprei dengan air
panas
f. Kontrol kembali ke puskesmas 7 hari kemudian
g. Anggota keluarga lain yang mengalami keluhan serupa juga diobati

Konsultasi
Pada pasien dan keluarga dilakukan konsultasi dengan bagian kesehatan
lingkungan Puskesmas Salaman 1. Hal ini dilakukan untuk memberikan
penjelasan secara rinci upaya perbaikan sanitasi dan kebersihan lingkungan
rumah untuk mencegah penularan dan kekambuhan penyakit.

Kegiatan Periode Hasil yang diharapkan


Kepatuhan penggunaan 3 hari sekali Mengetahui kepatuhan
obat topikal dan minum penggunaan obat-
obat oral obatan, dan agar pasien
menggunakan obat
dengan benar
Home visit 1 kali Mengetahui kondisi
sanitasi rumah dan
lingkungan, sehingga
dapat memberikan
edukasi yang tepat untuk
pencegahan penularan
penyakit
Nasihat Setiap kali kunjungan Kepatuhan minum obat
dan perbaikan sanitasi
5. Prognosis
Prognosis pada kasus ini adalah
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungionam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Prognosis umumnya baik, dengan memperhatian pemilihan dan cara
pemakaian obat, dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hygiene).

Magelang, 25 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr. Riyono


NIP. 197110132010011001
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari Senin, tanggal 25 April 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya
Dengan judul/ topik : F6 Upaya Pengobatan Dasar/ Pitiriasis Versikolor
Nama Pendamping : dr Riyono
Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 dr Agha Chandra Sari
2 dr Alva Putri Deswandari
3 dr Diana Verify Hastutya
4 dr Ensan Galuh Pertiwi
5 dr Monica Citraningtyas Astarani
6 dr Nani Isyrofatun
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping,

dr Riyono
NIP. 197110132010011001
Borang Portofolio
F6 Upaya Pengobatan Dasar

Nama Peserta : dr Diana Verify Hastutya


Nama Wahana : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Topik : Pitiriasis Versikolor
Tanggal (kasus) : 17 Maret 2016
Nama Pasien/ RM : Tn. B
Tanggal Presentasi : 25 April 2016
Nama Pendamping : dr Riyono
Tempat Presentasi : Puskesmas Salaman 1 Kabupaten Magelang
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumi
Deskripsi : seorang laki-laki, usia 30 tahun, mengeluh muncul keputihan di
punggung dan dada
Tujuan :
Menegakkan diagnosis pitiriasis versikolor
Melakukan tatalaksana medikamentosa dan non medikamentosa pitiriasis
versikolor
Mencegah kekambuhan
Bahan Bahasan : Tinjauan Riset Kasus Audit
Pustaka
Cara Membahas : Diskusi Presentasi Email Pos
dan Diskusi
Data pasien Nama : Tn. B No RM : -
Nama Klinik : Poli Umum Telp : - Terdaftar sejak : 2014
Data utama utuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis
Pitiriasis Versikolor
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke balai pengobatan Puskesmas Salaman 1 dengan keluhan
muncul bercak keputihan bersisik halus pada kulit sejak beberapa bulan
terakhir. Bercak keputihan tersebut muncul pada dada, punggung, kedua
lengan atas, dan perut. Awalnya bercak muncul di dada, kemudian menyebar
ke tempat lain. Selain itu, pasien mengeluh kadang-kadang teraba gatal di
bagian keputihan, terutama saat cuaca panas dan berkeringat.
Keluhan mati rasa atau kurang rasa pada bercak disangkal. Riwayat luka
sebelumnya tidak ada, riwayat bercak merah sebelumnya tidak ada, riwayat
mengonsumsi obat dalam jangka waktu lama tidak ada. Pasien sudah
mengobati keluhan tersebut dengan membeli salep di apotek, namun gejala
belum hilang.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat penyakit yang sama disangkal
- Riwayat penurunan berat badan, sering lapas, haus, ke kamar kecil di
malam hari disangkal
4. Riwayat Kebiasaan
- Pasien mandi satu atau dua kali setiap hari dengan air sumur dan memakai
sabun mandi batang
- Pasien sehari-hari bekerja sebagai montir di bengkel, menggunakan
pakaian berbahan tebal ketika bekerja, dan tidak mengganti pakaian saat
berkeringat
5. Riwayat Penyakit Keluarga.
Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal

6. Riwayat Sosial ekonomi


Pasien bekerja sebagai montir bengkel. Istri pasien adalah ibu rumah tangga.
Pasien tinggal bersama istri dan dua orang anak. Pasien berobat ke Puskesmas
tanpa menggunakan fasilitas asuransi apapun (pasien umum).
7. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Nadi : 92 kali per menit
Pernapasan : 24 kali per menit
Suhu : afebris
- Status generalis
Mata : konjungtiva anemis -/-, injeksi -/-
Hidung : napas cuping hidung -, saddle nose
Telinga : tidak ada kelainan
Leher : tidak ada kelainan
Jantung : HR 92 kali per menit, murmur -, gallop
Paru : suara dasar vesikuler +/+, ronkhi -, wheezing
Abdomen : tidak ada kelainan
Ektremitas : tidak ada kelainan
- Status lokalis
Status dermatologis : Makula hipopigmentasi, multiple, berbentuk bulat
dan oval tidak teratur, diameter bervariasi antara 2-4 cm, dengan skuama
halus warna putih. Predileksi pada dada, punggung, kedua lengan atas dan
perut.
Daftar Pustaka :
Radiono, S. 2001. Pitiriasis Versicolor. Dalam : Budimulja, U dkk.
Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta : FKUI.

Partosuwiryo, S., Danukusumo HAT. 1992. Pitiriasis Versicolor. Dalam :


Diagnosis dan Penatalaksanaan Dermatomikosis. Jakarta: FKUI.

Klenk, AS., Martin AG., Heffernan MP. 2003. Yeast infection : Candidiasis,
Pityriasis (Tinea) Versicolor. Dalam : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K,
dkk, editor. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Sixth Edition.
New York: Mc Graw-Hill.

Daili, ESS, Menaldi SL, Wisnu IM. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di
Indonesia. Jakarta: Medical Multimedia Indonesia.

Hasil Pembelajaran :
1. Definisi pitiriasis versikolor
Pitiriasis versikolor merupakan penyakit infeksi jamur superfisial kronis pada
kulit yang ditandai dengan macula hipopigmentasi dan skuama halus berwarna
putih sampai coklat hitam. Biasanya predileksi kelainan ini pada badan dan
kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher,
muka dan kulit kepala yang berambut.
2. Epidemiologi
Pitiriasis versikolor paling banyak dijumpai pada daerah tropis karena
tingginya temperatur dan kelembaban. Menyerang hampir semua usia
terutama remaja, terbanyak pada usia 16-40 tahun. Tidak ada perbedaan antara
pria dan wanita.
3. Etiologi
Pada kulit terdapat flora normal yan berhubungan dengan timbulnya pitiriasis
versikolor, yaitu Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau
Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organism
yang sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu,
media, dan kelembaban.
4. Patogenesis
Pitiriasis bersikolor timbul bila M. furfur berubah menjadi bentuk miselium
karena adanya faktor predisposisi, baik eksogen maupun endogen. Faktor
eksogen meliputi panas dan kelembaban. Hal ini merupakan penyebab
sehingga pitiriasis versikolor banyak dijumpai di daerah tropis. Selain itu bisa
karena penutupan kulit oleh pakaian atau kosmetik dimana mengakibatkan
konsentrasi karbondioksida, mikroflora dan pH.
Faktor endogen meliputi malnutrisi, dermatitis seboroik, sindrom cushing,
terapi imunosupresan, hiperhidrosis, dan riwayat keluarga yang positif. Selain
itu adanya diabetes mellitus, pemakaian steroid jangka panjang, kehamilan,
dan penyakit-penyakit berat juga memicu timbulnya pitiriasis versikolor.

Munculnya macula hipopigmentasi disebebabkan karena terhambatnya sinar


matahari yang masuk ke dalam lapisan kulit yang akan mengganggi proses
pembentukan melanin, adanya toksin yang langsung menghambat
pembentukan melanin, dan adanya asam azeleat yang dihasilkan oleh
Pityrosporum dari asam lemak dalam sebum yang merupakan inhibitor
kompetitif dan tirosinase.
5. Gejala Klinis
Penderita pada umumnya hanya mengeluhkan adanya bercak berwarna putih
(makula hipopigmentasi) atau kecoklatan (makula hiperpigmentasi) dengan
rasa gatal ringan, umumnya saat berkeringat. Ukuran dan bentuk lesi sangat
bervariasi, tergantung lamanya sakit dan luasnya lesi. Lokasi lesi umumnya
pada bagian tubuh dengan kelembaban tinggi dan tertutup paskaian, misalnya
pada daerah dada, lengan atas, tengkuk, perut, tungkai atas/ bawah.
Pada lesi baru sering dijumpai makula skuamosa folikular. Sedangkan lesi
primer tunggal berupa makula dengan batas sangat tegas tertutup skuama
halus. Makula umumnya khas berbentuk bulat atau oval. Pada kasus yang
lama tanpa pengobatan, lesi dapat berbentuk gambaran pulau yang luas
berbentuk polisiklik. Beberapa kasus dapat sembuh total, pada sebagian besar
kasus pengobatan akan menyebabkan lesi berubah menjadi makula
hipopigmentasi yang akan menetap hingga beberapa bulan tanpa adanya
skuama.
6. Diagnosis
Diagnosis klinis pitiriasis versicolor ditegakan berdasarkan adanya makula
hipopigmentasi atau hiperpigmentasi atau kemerahan yang berbatas tegas,
tertutup skuama halus. Pemeriksaan dengan lampu Wood akan menunjukkan
adanya fluoresensi berwarna kuning keemasan pada lesi. Pemeriksaan
penunjang berupa kerokan kulit yang ditetesi KOH, akan terlihat sel ragi bulat
berdinding tebal dengan miselim kasar, sering terputus-putus (pendek-
pendek). Gambaran tersebut sering dilukiskan sebagai meatball and spaghetti.
7. Pengobatan
Pitiriasis versicolor dapat diterapi secara topical maupun sistemik. Tingginya
angka kekambuhan merupakan masalah, dimana mencapai 60% pada tahun
pertama dan 80% setelah tahun kedua. Oleh sebab itu diperlukan terapi
profilaksis untuk mencegah rekurensi.
a. Pengobatan topical
Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat
yang digunakan adalah :
- Selenium sulfide 1,8% dalam bentuk shampoo 2-3 kali seminggu. Obat
digosokkan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum
mandi.
- Salisil spiritus 10%
- Turunan azol misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol dan
ekonazol dalam bentuk topical
- Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%
- Larutan tiosulfas natrikus 25%, dioleskan sehari 2 kali sehari mandi
selama 2 minggu
b. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versicolor yang luas
atau jika pemakaian obat topical tidak berhasil. Obat yang dapat diberikan:
- Ketokonazol 200 mg/hari selama 10 hari
- Itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari, disarankan untuk kasus
kembuhan atau tidak
8. Pencegahan
- Profilaksis yang disarankan adalah propilen glikol 50% dalam air atau
ketokonazol sistemik 400 mg sekali sebulan.
- Pada daerah endemik, disarankan ketokonazol 200 mg/hari selama 3
hari setiap bulan atau itrakonazol 200 mg sekali sebulan, atau
pemakaian sampo selenium sulfida sekali seminggu
9. Prognosis
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Pengobatan harus diterukan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan
pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif.
Jamur penyebab pitiriasis versicolor merupakan flora normal kulit, sehingga
kadang tertinggal dalam folikel rambut dan berisiko menyebabkan
kekambuhan. Oleh karena itu diperlukan profilaksis untuk mencegah
kekambuhan. Masalah lain adalah menetapnya hipopigmentasi dan diperlukan
waktu yang cukup lama untuk repigmentasi. Namun hal tersebut bukan akibat
kegagalan terapi, sehingga penting untuk memberi informasi kepada pasien
bahwa bercak putih akan menetap beberapa bulan setelah terapi dan akan
menghilang secara perlahan.
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. Subjektif
Pasien datang dengan keluhan bercak keputihan dengan sisik halus di dada,
perut, kedua lengan, dan paha sejak beberapa bulan terakhir, disertai dengan
gatal ringan terutama saat berkeringat. Mati rasa pada bercak disangkal,
riwayat keluarga dengan keluhan serupa disangkal. Sehari-hari pasien berkerja
sebagi montir bengkel, menggunakan pakaian yang tebal dan suhu tempat
kerja yang panas. Pasien jarang berganti pakaian saat berkeringat.
2. Objektif
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis
Nadi : 92 kali per menit
Pernapasan : 24 kali per menit
Suhu : afebris
Status generalis dalam batas normal
Status dermatologis : Makula hipopigmentasi, multiple, berbentuk bulat dan
oval tidak teratur, diameter bervariasi antara 2-4 cm, dengan skuama halus
warna putih. Predileksi pada dada, punggung, kedua lengan atas dan perut.
3. Assessment
Pityriasis Versicolor
4. Plan
Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik, maka diagnosis pasien ini
adalah Pitiriasis versicolor. Penyakit ini mempunyai diagnosis banding
morbus Hansen dan vitiligo, namun dari hasil anamnesia dan pemeriksaan
fisik sudah dapat disingkirkan. Diagnosis Morbus Hansen disingkirkan karena
pada pasien tidak mengeluh adanya mati rasa pada bercak. Pada vitiligo,
biasanya terdapat riwayat keluarga dengan keluhan bercak keputihan, namun
pada pasien ini tidak dijumpai. Diagnosis juga didukung dengan riwayat
pekerjaan pasien sebagai montir di tempat kerja yang panas dan sering
berkeringat, serta jarang berganti pakaian saat berkeringat.
Selain itu, pada status dermatologis pasien, menunjukkan khas gejala pitiriasis
versicolor. Yaitu ditemukannya makula hipopigmentasi dengan skuama halus
di atasnya, tempat predileksi berada pada bagian yang sering tertutupi oleh
pakaian dan terkena keringat.
Diagnosis pasti adalah dengan melakukan kerokan kulit pada lesi dan dicat
dengan KOH, positif bila terlihat sel ragi bulat berdinding tebal dengan
miselim kasar, sering terputus-putus (pendek-pendek). Gambaran tersebut
sering dilukiskan sebagai meatball and spaghetti. Namun pada pasien ini tidak
dilakukan.
Pengobatan
1) Obat topikal
Sampo selenium sulfide (selsun) dipakai 2-3 kali seminggu. Oleskan pada
kulit dengan lesi, dan biarkan 10-15 menit, baru dibilas.
2) Obat sistemik
- Ketoconazole tablet 2 x 100 mg, diminum rutin selama 10 hari
- Cetirine tablet 1 x 10 mg bila gatal
Pada pasien ini, diberikan preparat anti jamur oral dan topical sekaligus, yaitu
tablet ketoconazole dan sampo selenium sulfide. Hal ini karena bagian tubuh
yang terkena cukup luas dan pasien sudah merasakan keluhan ini selama
beberapa bulan. Alasan peresepan obat topical dengan sediaan sampo adalah
karena pada pasien ini, bagian tubuh yang terkena cukup luas, sehingga bila
menggunakan obat topikel berbentuk krim, maka membutuhkan jumlah yang
banyak. Sedangkan cetirine adalah preparat antihistamin yang bertujuan untuk
meringankan gejala gatal.
Pendidikan
- Menjelaskan pada pasien bahwa penyakit ini disebabkan oleh jamur
- Menjelaskan pada pasien tentang cara pengobatan dengan benar
- Menyarankan pasien untuk menghindari suasana lembab dan keringat
berlebihan. Pasien disarankan untuk menggunakan pakaian dengan bahan
yang mudah menyerap keringat dan longgar, mengganti pakaian saat
berkeringat, serta rutin mandi dengan air bersih 2 x sehari.
- Menjelaskan kepada pasien, bahwa bercak keputihan pada kulit dapat
bertahan selama beberapa bulan ke depan, walaupun penyakit sudah
sembuh. Bercak keputihan tersebut akan hilang perlahan. Hal ini karena
proses aktivasi melanin yang membutuhkan waktu lama.
Konsultasi
Pada kasus ini, tidak diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis.
5. Prognosis
Prognosis pada kasus ini adalah
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungionam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

Magelang, 25 April 2016


Dokter Internship Dokter Pendamping

dr Diana Verify Hastutya dr. Riyono


NIP. 197110132010011001