Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmatnya, sehingga penulis dapat merampungkan penulisan makalah yang berjudul
Ketentuan Umum dan Perpajakan.
Makalah ini bertujuan sebagai sumber bacaan yang dapat digunakan untuk
memperdalam pemahaman dari materi ini bagi kita semua.
Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, penulis cukup menyadari
bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.

Makassar, 7 Februari 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................1
DAFTAR ISI................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 3
B. Tujuan dan Manfaat....................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Surat ketetapan pajak .......................................................................... 4
B. Penagihan Pajak ................................................................................. 5
C. Keberatan dan Banding ...................................................................... 6
D. Pembukuan dan Pencatatan ............................................................... 9

E. Pemeriksaan, Penyidikan dan Ketentuan Pidana .............................. 11

BAB III PENUTUP................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 19

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pajak adalah istilah yang tidak asing lagi bagi kita, peranannyapun dalam
pengembangan suatu Negara juga sangat besar. Karena itu, di Indonesia banyak
Undang-Undang maupun peraturan perundang-undangan yang menjelaskan tentang
pajak. Dari periode ke periode peraturan tentang pajak selalu mengalami perubahan,
begitupun di Indonesia. Sehingga muncullah istilah-istilah baru tentang perpajakan
yang harus diketahui oleh orang banyak. Selain itu perlu disadari juga bahwa sebagian
besar penduduk indonesia yang belum mempunyai NPWP, padahal NPWP tersebut
sangat penting bagi pembangunan Negara. Maka dari itu kami membuat makalah ini
guna memberi tahu pembaca tentang NPWP dan menumbuhkan kesadaran pembaca
untuk membayar pajak.

B. TUJUAN DAN MANFAAT


Tujuan kami menulis makalah dan mengangkat Tema mengenai KETENTUAN
UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN ini adalah guna memenuhi tugas mata
kuliah Hukum Pajak / Perpajakan. Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk
memperluas wawasan kami dan pembaca tentang masalah Perpajakan. Selain itu
supaya ada kesadaran pada diri kami dan pembaca untuk tertib membayar pajak.

3
BAB II
PEMBAHASAN

Ketentuan Umum & Tata Cara Perpajakan

A. Surat Ketetapan Pajak

Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak (skp) hanya terbatas kepada WP tertentu
yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukannya
data fiskal yang tidak dilaporkan oleh WP.

Fungsi Surat Ketetapan Pajak Surat ketetapan pajak berfungsi sebagai:


1. Sarana untuk melakukan koreksi fiskal terhadap WP tertentu yang nyata-nyata
atau berdasarkan hasil pemeriksaan tidak memenuhi kewajiban formal dan
atau kewajiban materiil dalam memenuhi ketentuan perpajakan.
2. Sarana untuk mengenakan sanksi administrasi perpajakan.
3. Sarana administrasi untuk melakukan penagihan pajak.
4. Sarana untuk mengembalikan kelebihan pajak dalam hal lebih bayar e.Sarana
untuk memberitahukan jumlah pajak yang terutang.

Jenis-Jenis Ketetapan Pajak


1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) Adalah surat ketetapan pajak
yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah
kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan
jumlah yang masih harus dibayar.
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) Adalah surat
ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah
ditetapkan sebelumnya.
3. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Adalah surat ketetapan pajak
yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit
pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
4. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) Adalah surat ketetapan pajak yang
menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak
atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
5. Surat Tagihan Pajak (STP) Adalah surat ketetapan pajak yang diterbitkan
dalam hal :
Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar
Dari hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran pajak
4
akibat salah tulis dan atau salah hitung;
WP dikenakan sanksi administrasi denda dan/atau bunga;
Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undangundang PPN,
tetapi tidak melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak;
Pengusaha yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
tetapi membuat Faktur Pajak,
Pengusaha Kena Pajak tidak membuat Faktur Pajak atau membuat
Faktur Pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak mengisi selengkapnya
Faktur Pajak. Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang
sama dengan surat ketetapan pajak, sehingga dalam hal penagihannya
dapat dilakukan dengan Surat Paksa.
Pengusaha Kena Pajak melaporkan Faktur Pajak tidak sesuai dengan
masa penerbitan faktur pajak dikeani sanksi.
Pengusaha Kena Pajak yang gagal berproduksi dan telah diberikan
pengembalian pajak masukan diwajibkan membayar kembali.

B. Penagihan Pajak

Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban membayar pajaknya, Direktorat


Jenderal Pajak akan melakukan penagihan pajak. Tindakan ini dilakukan Apabila
Wajib Pajak tidak membayar pajak terutang sesuai dengan jangka waktu yang telah
ditentukan dalam Surat Tagihan Pajak(STP), atau Surat Ketetapan Pajak (skp), Surat
Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, maka DJP
dapat melakukan tindakan penagihan. Proses penagihan dimulai dengan Surat
Teguran dan dilanjutkan dengan Surat Paksa. Dalam hal WP tetap tidak membayar
tagihan pajaknya maka dapat dilakukan penyitaan dan pelelangan atas harta WP yang
disita tersebut untuk melunasi pajak yang tidak/belum dibayar.

Adapun jangka waktu proses penagihan sebagai berikut:


1. Surat Teguran diterbitkan apabila dalam jangka 7 (tujuh) hari dari jatuh
tempo pembayaran Wajib Pajak tidak membayar hutang pajaknya.
2. Surat Paksa diterbitkan dalam jangka 21 (dua puluh satu) hari setelah
Surat Teguran apabila Wajib Pajak tetap belum melunasi hutang
pajaknya.
3. Sita dilakukan dalam jangka waktu 2 x 24 jam sejak Surat Paksa

5
disampaikan.
4. Lelang dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah
pengumuman lelang. Sedangkan pengumuman lelang dilakukan paling
singkat 14 (empat belas) hari setelah penyitaan.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat melakukan pencegahan dan


penyanderaan terhadap Wajib Pajak/penanggung pajak yang tidak kooperatifdalam
membayar hutang pajaknya.

C. Keberatan & Banding

Keberatan
Keberatan yaitu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan kemungkinan terjadi bahwa Wajib Pajak (WP) merasa kurang/tidak
puas atas suatu ketetapan pajak yang dikenakan kepadanya atau atas pemotongan/
pemungutan oleh pihak ketiga. Dalam hal ini WP dapat mengajukan keberatan.
1. Hal-hal yang Dapat Diajukan
Keberatan Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas:
a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB);
d. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN);
e. Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga.

2. Ketentuan Pengajuan Keberatan


Keberatan diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di tempat
WP terdaftar, dengan syarat:
a. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.
b. Wajib menyebutkan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong
atau dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan WP dan disertai alasan-alasan
yang jelas.
c. Satu keberatan harus diajukan untuk satu jenis dan satu tahun/masa pajak.
Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan
pelaksanaan penagihan pajak dan keberatan yang tidak memenuhi syarat, dianggap

6
bukan Surat Keberatan, sehingga tidak diproses.

3. Jangka Waktu Pengajuan Keberatan


Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal
SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN atau sejak tanggal dilakukan pemotongan/
pemungutan oleh pihak ketiga.
a.Untuk surat keberatan yang disampaikan langsung ke KPP, maka jangka waktu 3
(tiga) bulan dihitung sejak tanggal SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN atau sejak
dilakukan pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga sampai saat keberatan diterima
oleh Kantor Pelayanan Pajak.
b.Untuk surat keberatan yang disampaikan melalui pos ( harus dengan pos tercatat ),
jangka waktu 3 bulan dihitung sejak tanggal SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN atau
sejak dilakukan pemotongan/ pemungutan oleh pihak ketiga sampai dengan tanggal
tanda bukti pengiriman melalui Kantor Pos dan Giro.

Banding
1. Tata Cara Pengajuan Permohonan Banding
Apabila WP tidak atau belum puas dengan keputusan yang diberikan atas
keberatan, WP dapat mengajukan banding. kepada badan peradilan pajak, dengan
syarat:
a. Tertulis dalam bahasa Indonesia.
b. Dalam jangka waktu 3 bulan sejak keputusan atas keberatan diterima.
c. Alasan yang jelas.
d. Dilampiri salinan Surat Keputusan atas keberatan.
Pengajuan permohonan Banding tidak menunda kewajiban membayar pajak
dan pelaksanaan penagihan pajak.
Putusan badan peradilan pajak bukan merupakan keputusan Tata Usaha
Negara.
2. Imbalan Bunga
Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding diterima sebagian atau
seluruhnya, sepanjang utang pajak sebagaimana dimaksud dalam SKPKB dan
SKPKBT telah dibayar yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, maka
kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar
2% (dua persen) sebulan, paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak

7
tanggal pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Keputusan Keberatan atau
Putusan Banding.

Gugatan
Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dapat mengajukan gugatan kepada bpp
terhadap :
1) Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau
Pengumuman Lelang;
2) Keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan selain
yang ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26 UU KUP;
3) Keputusan pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 UU KUP yang
berkaitan dengan STP;
4) Keputusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 yang berkaitan dengan
STP;

Jangka Waktu Pengajuan Gugatan


1) Gugatan terhadap angka 1 diajukan paling lambat 14 hari sejak pelaksanaan
Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan atau Pengumuman
Lelang;
2) Gugatan terhadap angka 2, 3, dan 4 diajukan paling lambat 30 hari sejak
tanggal diterima Keputusan yang digugat.

D. Pembukuan dan Pencatatan

Pembukuan
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba
rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.

Yang Wajib Menyelenggarakan Pembukuan, ialah:


1. Wajib Pajak (WP) Badan;

8
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas, kecuali Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam
satu tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (Empat milyar delapan ratus juta
rupiah).

Syarat-Syarat Penyelenggaraan Pembukuan :


1. Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan
keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.
2. Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab,
satuan mata uang Rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam
bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
3. Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel
kas.
4. Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah
dapat diselenggarakan oleh WP setelah mendapat izin Menteri Keuangan.
5. Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian
sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang

Pencatatan
Pencatatan yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan secara teratur tentang
peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek
pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

Yang Wajib Menyelenggarakan Pencatatan:


1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari
Rp4.800.000.000,00 (empat milyar delapan ratus juta rupiah), dapat
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan
penghasilan neto, dengan syarat memberitahukan ke Direktur Jenderal Pajak
dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan;
2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.

Syarat-Syarat Penyelenggaraan Pencatatan:

9
1. Pencatatan harus menggambarkan antara lain :
a. Peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto
yang diterima dan/atau diperoleh;
b. Penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat final.
2. Bagi WP yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha,
pencatatan harus menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis
usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.
3. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan, WP orang pribadi
harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

Tujuan Penyelenggaraan Pembukuan/Pencatatan


Tujuannya adalah untuk mempermudah:
1. Pengisian SPT;
2. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak;
3. Penghitungan PPN dan PPnBM;
4. Penyelenggaraan pembukuan juga untuk mengetahui posisi keuangan dan
hasil kegiatan usaha/pekerjaan bebas.

E. Pemeriksaan, Penyidikan & Ketentuan Pidana

Pemeriksaan
Pemeriksaan pajak merupakan salah satu hak yang dimiliki oleh fiskus. Landasan
dari pemeriksaan pajak adalah Undang-undang no 6 tahun 1983 tetang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang no 28 Tahun 2007 (sekarang UU KUP No.16 Thn 2009 ).
Pemeriksaan pajak dilakukan oleh pemeriksa pajak yang telah memiliki tanda
pengenal pemeriksa serta dilengkapi surat perintah pemeriksaan yang harus
diperlihatkan kepada wajib pajak yang akan diperiksa. pasal 1 angka
25 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan adalah
serangkaian keg.mnghimpun dan mngolah data, ket, dan atau bukti yg
dilaksanakan scra objetif dan profesional brdasarkan suatu standar
pemeriksaan utk mnguji kepatuhan kewajiban perpajakan dan atau untuk
tjuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan

10
perundang2an perpajakan

Awal proses pemeriksaan

1 Kepala kantor KPP membrikan usulan pemeriksaan/ daftar normatif kepada


KANWIL

2. Kanwil memberikan LPP (lembar penugasan pemeriksaan) kepada Kepala KPP


3. Kepala KPP membuat nota dinas dan menunjuk tim pemeriksa.
4.Nota dinas digunakan oleh tim pemeriksa sebagai dasar persiapan dan prencanan
pemeriksaan
5.Kepala KPP menerbitkan SPP (surat perintah pemeriksan) dan digunakan oleh tim
pemeriksa sebagai dasar melaksnakan pemeriksaan pajak.

Yang menjadi sasaran pemeriksaan pajak adalah :


1. Interpretasi Undang-Undang yang tidak benar
2. Kesalahan hitung
3. Penggelapan secara khusus dari penghasilan
4. Pemotongan dan pengurangan yang tidak sesungguhnya, yang dilakukan wajib
pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.

Tujuan dari pemeriksaan ada dua macam, yaitu sebagai berikut :


1. Untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka
memberi kepastian hukum, keadilan dan pembinaan kepada wajib pajak.
Dalam tujuan ini,pemeriksaan dilakukan apabila terdapat hal-hal sebagai
berikut :
Surat Pemberitahuan menunjukan kelebihan pembayaran pajak,
termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pajak.
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan menunjukan rugi.
Surat Pemberitahuan tidak disampaikan atau disampaikan tidak pada
waktu yang telah ditetapkan.
Surat Pemberitahuan yang memenuhi criteria seleksi yang ditentukan
oleh Direktur Jenderal Pajak.
Ada indikasi kewajiban perpajakan yang tidak dipenuhi.
2. Untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, yaitu sebagai berikut:
Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan.
Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.

11
Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
Wajib Pajak mengajukan keberatan.
Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan
Penghasilan Neto.
Pencocokan data dan/atau alat keterangan.
Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil.
Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai.
Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak.
Penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas
perpajakan.
Pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda.

Ruang Lingkup dan Jenis Pemeriksaan


1. Ruang lingkup
Sesuai Pasal 3 ayat 1 PerMenKeu No. 199/PMK.03/2007, ruang lingkup
Pemeriksaan pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
dapat meliputi satu, beberapa atau seluruh jenis pajak, baik untuk satu atau
beberapa masa pajak, bagian tahun pajak atau tahun pajak dalam tahun-tahun lalu
maupun tahun berjalan. Sedangkan ruang lingkup pemeriksaan pajak untuk tujuan
lain dapat meliputi penentuan, pencocokan atau pengumpulan materi yang
berkaitan dengan tujuan pemeriksaan.

2. Jenis pemeriksaan

a. Pemeriksaan Lapangan

Pemeriksaan lapangan dilakukan atas suatu jenis pajak atau seluruh jenis pajak
untuk tahun berjalan dan atau tahun-tahun sebelumnya dan atau tujuan lain yang
dilakukan di tempat wajib pajak. Pemeriksaan lapangan ini dilaksanakan dapat
dengan cara pemeriksaan lengkap atau pemeriksaan sederhana. Pemeriksaan lengkap
terhadap wajib pajak dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan yang
lazim digunakan dalam pemeriksaan pada umumnya sedangkan pemeriksaan
sederhana dilakukan dengan menerapkan teknik-teknik pemeriksaan dengan bobot
dan kedalaman yang sederhana sesuai dengan ruang lingkup pemeriksaan.
Pemeriksaan lapangan dapat dilakukan dalam jangka waktu tempat bulan dan
dapat diperpanjang paling lama delapan bulan yang dihitung sejak Wajib Pajak datang

12
memenuhi Surat Panggilan dalam rangka pemeriksaan kantor sampai dengan tanggal
Laporan Hasil Pemeriksaan.

b. Pemeriksaan Kantor

Pemeriksaan kantor dilakukan atas suatu jenis pajak tertentu baik tahun berjalan
dan atau tahun-tahun sebelumnya yang dilakukan di kantor direktorat Jenderal Pajak.
Pemeriksaan ini hanya dapat dilaksanakan dengan pemeriksaan sederhana.
Pemeriksaan kantor dapat dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan dan dapat
diperpanjang paling lama enam bulan yang dihitung sejak Wajib Pajak datang
memenuhi Surat Panggilan dalam rangka pemeriksaan kantor sampai dengan tanggal
Laporan Hasil Pemeriksaan.

Dari perbedaan ruang lingkup pemeriksaan di atas berpengaruh pada jangka waktu
penyelesaianya. Untuk pemeriksaan lengkap, harus diselesaikan dalam jangka waktu
dua bulan dan dapat diperpanjang paling lama delapan bulan. Untuk pemeriksaan
sederhana harus diselesaikan dalam jangka waktu satu bulan dan dapat diperpanjang
paling lama dua bulan. Sedangkan pemeriksaan kantor yang dilakukan secara
sederhana harus diselesaikan dalam jangka waktu empat minggu dan dapat
diperpanjang paling lama enam minggu.
Apabila dalam pelaksanaan pemeriksaan kantor yang dilakukan ternyata
ditemukan indikasi adanya transaksi yang mengandung unsur transfer pricing, maka
lingkup pemeriksaanya ditingkatkan menjadi pemeriksaan lapangan, sedangkan
apabila dalam pemeriksaan lapangan ditemukan indikasi unsur transfer pricing yang
memerlukan pemeriksaan yang lebih mendalam serta waktu yang lebih lama,
pemeriksaanya dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama dua tahun, akan tetapi
jangka waktu dua tahun tersebut tidak berlaku apabila pemeriksaan yang dilaksanakan
berkenaan dengan surat pemberitahuan yang menyatakan permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak.

*Sebenarnya seluruh pemeriksaan di lakukan dengan jenis pemeriksaan lapangan.


Hanya beberapa pemeriksaan saja yang dilakukan dengan pemeriksaan kantor. contoh

13
pemeriksaan kantor adalah pemeriksaan terhadap badan/perusahaan go public yang
laporan keuangan nya WTP ( wajar tanpa pengucualian )

Penyidikan

Menurut undang-undang no 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara


Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang no 28 Tahun
2007, pengertian penyidikan adalah sebagai berikut :

Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian


tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan
bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang
perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

Tujuan Penyidikan
Tujuan utama dari dilakukanya proses penyidikan adalah untuk menemukan
tersangka yang melakukan tindak pidana dalam perpajakan. Dengan dilakukanya
penyidikan, barang bukti untuk menemukan tersangka diharapkan dapat ditemukan
untuk kemudian segera menjadi dasar dalam menetapkan tersangka

Pihak yang Melakukan Penyidikan


Dalam Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, pihak yang berwenang
untuk melakukan proses penyidikan adalah Pejabat pegawai Negeri Sipil tertentu
dilingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai
penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. Wewenang tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau laporan
tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.
2. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi
atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak
pidana di bidang perpajakan.
3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan
dengan tindak pidana dibidang perpajakan.
14
4. Memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di
bidang perpajakan.
5. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti
tersebut;
6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang perpajakan;
7. Menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau
tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang,
benda, dan/atau dokumen yang dibawa;
8. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang Perpajakan.
9. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi.
10. Menghentikan penyidikan;dan/atau melakukan tindakan lain yang perlu untuk
kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Dalam melaksanakan proses penyidikan, penyidik memeberitahukan


dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut
umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam undang-Undang Hukum Acara Pidana. Apabila
diperlukan, penyidik juga dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain demi
kelancaran proses penyidikan.

Ketentuan pidana
Ketentuan Pidana dimaksudkan agar dalam proses penyidikan terdapat kepastisan
hukum yang jelas. Ketentuan pidana tersebut, sesuai dengan pasal 41B Undang-
Undang no 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang no 28 Tahun 2007,
pengertian penyidikan bebunyi sebagai berikut :

Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan


tindak

15
pidana di bidang perpajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).

Sementara itu, apabila tindak pidana di bidang perpajakan dilakukan oleh pegawai
Direktorat Jenderal Pajak (dalam hal ini melakukan korupsi), maka pegawai
Direktorat Jenderal Pajak yang terbukti melakukan tindak korupsi tersebut akan
diproses sesuai dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penerbitan suatu Surat Ketetapan Pajak (skp) hanya terbatas kepada WP tertentu
yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT atau karena ditemukannya
data fiskal yang tidak dilaporkan oleh WP.
Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban membayar pajaknya, Direktorat
Jenderal Pajak akan melakukan penagihan pajak. Tindakan ini dilakukan Apabila
Wajib Pajak tidak membayar pajak terutang sesuai dengan jangka waktu yang telah
ditentukan dalam Surat Tagihan Pajak(STP), atau Surat Ketetapan Pajak (skp), Surat
Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, maka DJP
dapat melakukan tindakan penagihan. Proses penagihan dimulai dengan Surat
Teguran dan dilanjutkan dengan Surat Paksa. Dalam hal WP tetap tidak membayar
tagihan pajaknya maka dapat dilakukan penyitaan dan pelelangan atas harta WP yang
disita tersebut untuk melunasi pajak yang tidak/belum dibayar.
Keberatan yaitu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan kemungkinan terjadi bahwa Wajib Pajak (WP) merasa kurang/tidak puas
atas suatu ketetapan pajak yang dikenakan kepadanya atau atas pemotongan/
pemungutan oleh pihak ketiga.
Pengajuan permohonan Banding tidak menunda kewajiban membayar pajak dan
pelaksanaan penagihan pajak. Putusan badan peradilan pajak bukan merupakan
keputusan Tata Usaha Negara.
Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa,
yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba
rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.
Pencatatan yaitu pengumpulan data yang dikumpulkan secara teratur tentang
peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek
pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.
Pemeriksaan pajak merupakan salah satu hak yang dimiliki oleh fiskus. Landasan
dari pemeriksaan pajak adalah Undang-undang no 6 tahun 1983 tetang Ketentuan
17
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang no 28 Tahun 2007 (sekarang UU KUP No.16 Thn 2009 ).
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti
itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.
Ketentuan Pidana dimaksudkan agar dalam proses penyidikan terdapat kepastisan
hukum yang jelas.

B. Saran
Setelah mempelajari makalah ini hendaklah kita sadar akan kewajiban kita untuk
membayar pajak, agar pembangunan di segala sektor yang ada di Negara kita ini
dapat berjalan dengan lancar sehingga bias dinikmati oleh seluruh masayarakat
Indonesia.

18
Daftar Pustaka

1. Waluyo, 2007, perpajakan Indonesia, Buku 1 Edisi 7, Jakarta : Salemba Empat


2. http://www.pajak.go.id
3. Komara Ahmad, 2012, cara mudah memahami KUP, Jakarta : Bee Media
Indonesia

19