Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Definisi Obat Secara Umum
Secara umum, obat dapat diartikan sebagai semua bahan tinggal atau

campuran yang digunaka oleh semua maklhuk hidup untuk bagian dalam dan luar

tubuh, guna mencegah, meringankan dan menyembuhkan penyakit.


Obat berperan sangat pentindalam pelayanan kesehatan. Penenganan dan

pencegahan berbagaipenyakit tidak bisah dilepaskan dari tindakan terapi denganobat

atau farmakoterapi. Dewasa ini, sejalan dengan pesatnya perkembangan penelitian

dibidan obat dan kesehatan, semua profesi yang bergerak dibidan farmasidan

kedokteran, dituntutuntuk selalu meningkatkan ilmuh dan pengetahuan sesuai

kemajuan IPTEK yang sangat cepat, bukan saja di bidang farmasi seperti

farmaekkoomi, farmakoepidermiologi, farmakogenomik, serta riset mutakhir yang

mencakup stem cell, gen therapy, xeno transplantation dan lain-lain (Tjay & Kirana,

2002).
a. Definisi Obat Secara Khusus
Pengertian obat secara khusus yaitu sebagai berikut:
a. Obat tradisional ialah obat jadi atau obat berbungkus berasal dari bahan

tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral dan atau sediaan gelenik atau

campuran dari bahan-bahan tersebut yang usaha pengobatan berdasarkan

pengalaman (Per. Menkes No.179/VII/1976).


b. Obat jadi yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk

serbuk, cairan, salep, tablet, pil, supositoria atau bentuk lain yang

mempunyai nama teknis sesuai dengan F.I. atau buku lain.


c. Obat paten yakni obat jadi dengan nama dagan yang terdaftar atas nama

sipembuat atauyang dikuasakannya dan dijual dalam bunkus asli dari

pabrik yang memproduksinya.


d. Obat baru ialah obat yang terdiri atau berisi suatu zat baik sebagai bagian

yang berkhasiat, maupun yang tak berkhasiat, misalnya, lapisan, pengisi,

pelarut, bahan pembantu (vehiculum) atau komponen lai yang belum

dikenal, hingga tidak diketahui khasiat dan keamanannya.


e. Obat asensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan

pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak yang meliputi diagnose,

profilaksi terapi dan rehabilitasi.


f. Obat generik berlogo adalah obat esensial yang tercantum dalam daftar

obat esensial nasional (DOEN)dan mutunya terjamin karena diproduksi

sesuai dengan persyaratan cara pembuatan obat yang baik (C.P.O.B). dan

diuji ulang oleh pusat pemeriksaan obat dan makanan Departemen

Kesehatan.
g. Obat wajib apoteker ialah obat keras yang dapat diserahkan tampa resep

Dokter oleh Apoteker di apotek (Anief, 2010)


2. Penggolongan obat
Dari berbagai macam obat yang beredar di masyarakat, obat dapat

digolongkan berdasarkan :
a. Obat digolongkan berdasarkan merek dagang
1. Obat paten
Obat paten adalah obat milik suatu perusahaan dengan nama khas

yang dilindungi hokum, yaitu merek terdaftar atau proprietary


name. Banyak obat paten dengan beraneka-garam nama yang

setiap thun dikeluarkan oleh industry farmasidan kekacauan yamg

diakibatkannya telah mendorong WHO untuk menyusun daftar

obat dengan nama-nama resmi.


Contohnya : Aspirin, penbritin
2. Obat generic
Obat generik adalah obat yang digunakan disemua Negara tampa

melanggar hak patenobat bersangkutan. Hamper semua

farmakologi sudah menyesuaikan nama obatnya dengan nama

generik ini, karena nama kimia yang semula digunakan seringkali

terlalu panjang dan tidak praktis.


Contohnya : Asetosal, Ampisilin
b. Obat digolongkan menurut cara penggunaan obat
1. Medicamentum ad unsum internum (pemakaian dalam) melalui oral,

diberi etiket putih.


2. Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui

implantasi, injeksi, rektal, vaginal, intra okuler, topical, diberi etiket

biruh (Tjay dan Kirana).


c. Obat digolongkan Undang-Undang farmasi.
1. Obat Narkotik

Obat narkotik adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau

bukan tanaman, baik sintetis maupun semi-sintetis, yang dapat

menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya

rasa, mengurangi sampai menghilangkkan rasa nyeri dan

menimbulkan ketergantungan, untuk memperoleh obat ini harus


dengan resep dokter dan apoteker wajip melaporkan jumlah dan

macamnya.
2. Obat keras

Obat keras yang dimaksudkan dengan obat berkhasiat keras adalah

bahan-bahan yang disamping berkhasiat menyembuhkan,

menguatkan, membunuhkan atau mempunyai khasiat pengobatn

lainnya tehadap tubuh manusia.


a. Obat-obat ini hanya dapat dibeli di apotik dengan resep dokter dan

dapat diulang tampa resep baru bila dokter menyatakan pada

resepnya, boleh diulang


b. Sebagai tanda obat keras, bulat berwarna merah dengan garis tepi

hitam dengan huruf K yamg manyantuh tepi.


3. Obat psikotropik

Obat psikotropik adalah obat yang mempengaruhi proses mental,

merangsang atau menenangkan, dan mengubah pikiran, perasaan

atau kelakuan seseorang. Obat yang masuk digolongan ini

misalnya ekstasi, diazepam, dan barbital/luminal.


4. Obat bebas terbatas

Obat bebas terbatas yaitu obat keras yang dapat diserahkan tampa

resep dokter, maka diterbitkan surat Keputusan Mentri Kesehatan

Republik Indonesia No. 2380/A/SK/VI/83 tanggal 15 Juni 1983


yang mengharuskan pabrik farmasi memberikan tanda-tanda

khusus. Untuk obat bebas terbatas lingkaran biru dengan garis tepi

berwarna hitam.
5. Obat bebas

Obat bebas adalah suatu kelompok obat yang tidak termasuk

dengan golongan obat-obat berbahaya, yakni golongan obat bebas

ini tercakup dalam pasal 11, ayat 2 dari Undang-Undang pokok-

pokok kesehatan, maka diterbitkan surat Keputusan Mentri

kesehatan Repoblik Indonesia No. 2380/A/SK/VI/83 tanggal 15

Juni 1983 yang mengharuskan pabrik farmasi memberikan tanda-

tanda khusus. Untuk obat bebas lingkaran hijau dengangaris tepi

berwarna hitam (Tjay dan Kirana).


d. Penggolongan obat menurut bentuk sediaan obat (bentuk sediaan

farmasi)
1. Bentuk padat seperti, serbuk, tablet, pil, kapsul, dan supositori.
2. Bentuk setenga padat seperti, salep, krim, cerata, gel, dan salep

mata
3. Bentuk cairan/larutan, poti, sirop, tingtur, losio, obat tetes,

ekstrak, dan lain-lain.


4. Bentuk gas seperti, inhalasi, spray, atau aerosol (Anonim,

1976).
e. Penggolongan obat berdasarkan proses fisiologi dan biokimia

dalam tubuh
1. Obat farmakodinamik
Obat ini bekerja terhadap tuan-rumah dengan jalan

mempercepat atau memperlambat proses fisiologi atau fungsi

biokimia dalam tubuh, misalnya hormone, diuretic, hipnotika

dan obat otonom.


2. Obat kemoterapeutik
Obat ini dapat membunuh parasite dan kuman didalam

tubuh tuan-rumah. Hendaknya obat ini memiliki kegiatan

farmakodinamika yang sekecil-kecilnya terhadap organisme

tuan rumah dan berkhasiat membunuh sebesar-besarnya

terhadap banyak mungkin parasite (cacing, protozoa) dan

mikroorganisme (bakteri dan virus)


3. Obat diagnostis
Obat ini merupakan obat penbunuh melekukan

diagnosis (pengenalan penyakit), misalnya dari saluran

lambung-usus (bariumsulfat) dan saluran empedu (Tjay dan

kirana, 2007).
B. Tinjauan tentang tablet
1. Definisi tablet
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempan cetak, berbentuk

rata atau cembung rangap, umumnya bulat, mengandung satujenis obat atau

lebih dengan atau tampa zat tambahan, (Anief, 1987).


2. Macam-macam Tablet
a. Tablet bersalut
Tablet ini biasanya berwarna atau tidak berwarna dengan maksud dan

tujuan tertentu, tablet disalut dengan zat penyalutyang cocok.


1. Tablet bersalut gula
Tablet ini sering disebut dragee. Penyalutan dilakukan dengan

larutan gula dalam panci untuk penyalutan dan panci mengkilapkan


tabletdiputar dengan motor penggerak yang dilengkapi dengan alat

penghisap dan sistem penghembus dengan udara panas (blower).


2. Tablet bersalut kempa
Tablet inti yang sudah jadi mengalami proses seperti berikut,

yaitu granul halus dan kering dikempa disekitar tablet ini, sering

disebut tablet dalam tablet. Tablet salut kempa adalah lebih cepet

pembuatannya dan lebuh ekonomis. Tetapi proses pembuatannya harus

bebas lembab serta tidak terjadi inkompatibilitas tablet karena lembab

(Anief, 2010).
3. Tablet bersalut selaput
Ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan zat

penyalut yang dikenangkan atau disemprotkan pada tablet. Biasanya

lapisan ini berwarna, kelebihannya dari penyalutan dengan gula lebih

tahan lama, lebih sedikit bahan, waktu yang lebih sedikit untuk

penggunaannya. Selaput ini pecah dalam saluran lambung usus.


4. Tablet bersalut enterik
Tablet bersalut enterik adalah tablet yang disalut dengan zat

penyalut yang relatif tidak larut dalam asam lambung, tetapilarut

dalam usus halus. Dengan demikian membiarkan supaya tablet pindah

melewati lambung dan hancur sert, diabsobsi di usus. Teknik ini

digunakan dalam hal bahan obat dirusak oleh asam lambung,

mengititasi mukosa lambung atau bila lintasi lambung menambah

absrpsi obat di usus halus sampai jumlah yang berarti.(anief, 2010).


b. Tablet yang digunakan untuk tujuan pengobatan local atau sistemik.
1. Tablet untuk vagina
Tablet ini berbentuk seperti telut (oval) atau seperti buah pir,

agar dapat diletakan dengan baik di dalam vagina. Bentuk tablet

seperti ini digunakan untuk melepaska obat-obat anti bakteri,

antiseptic atau astringen ke dalam vagina untuk mengobati infeksi di

vagina, atau mungkin juga digunakan untuk pemberian steroid dalam

pengonbatan sistemik.
2. Tablet hisap (lozenges)
Tablet ini untuk pemakayan dalam rongga mulut. Penggunaan

tablet ini dimaksudkan untuk pemberian efek lokal pada mulut atau

kerongkongan. Bentuk tablet ini umumnya digunakan untuk

mengobati batuk pada influenza (Lachman, 2012).


c. Tablet berefek sistemik dan tidak untuk ditelan.
1. Tablet bukal
Tablet ini dimaksudkan untuk diletakkan didalam mulut, agar

dapat melepaskan obatnya sehingga diserap langsung oleh selaput

lender mulut. Obat ini diletakan diantara pipi dalam dengan gigi dan

gusi.
2. Tablet sublingual
Tablet ini dimaksudkan untuk diletakkan didalam mulut, agar

dapat melepaskan obatnya sehingga diserap langsung oleh selaput

lender mulut. Obat ini diletakan dibawah lidah


3. Tablet implantasi
Tablet implantasi dimaksidkan untuk ditanam dibawah kulit

badan manusia atau hewan. Tujuannya untuk mendapatkan efek obat

dalam jangka waktu yang lama (Lachman, 2012).


d. Tablet yang digunakan untuk membuat larutan
1. Tablet Eferfesen
Tablet eferfesen adalah sediaan tablet yang khususnya dibuat

dengan cara pengempa bahan-bahan aktif dengan campuran asam-

asam organic, seperti asam sitrat atau asam tartrat dan natrium

bikarbonat. Bila tablet seperti ini dimasukkan kedalam air, mulai

terjadi reaksi kimia antara asam dan natrium bikarbonat

sehinggaterbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan (CO)

serta air.
2. Tablet Hipodermik
Tablet hipodermik terdiri dari satu obat atau lebih, dengan

bahan-bahan lain yangdapat segera larut dalam air, dan dimaksudkan

untuk ditambahkan kedalam air yang steril atau air untuk injeksi

dibawah kulit. Dokter melarutkan sejumlah tablet yang dipergunakan

dalam pelarut yang sesuai dalam keadan steril untuk membuat larutan

injeksi.
3. Tablet Triturasi
Tablet triturasi biasanya kecil dan silindris dibuat dengan

menuang atau dengan kempa. Obat yang digunakan dalam bentuk

tablet ini biasanya cukup kuat obat keras. Tablet ini digunakan dalam

campurn obat membuat sediaan cairan untuk menghasilkan suatu masa

yamg kompak dan dapat dituang atau dicetak, dengan cara melarutkan

sejumlah tertentu dari tablet dalam sedikit air (Lachman, 2012).


3. bahan tambahan tablet
Untuk pembuatan tablet dipelukan zat tambahan berupa :
a. Zat pengisi (diluent)
Dimasukan untuk memperbesar volume tablet. Biasanya digunakan

saccharum lactis. Amylum Manihot, Calcii phosphas, Calcii Carbonas

dan zat lain yang cocok.


b. Zat pengikat (binder)
Dimasukan agar tablrt tidalk pecah atau retak, dapat merekat. Biasanya

yang digunakan adalah mucilage Gummi Arabici 10-20 % (panas,

Solutio Methylcellulosum 5 %).


c. Zat penghancur (disintegrator)
Dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalamperut. Biasanya yang

digunakan adalah Amylum Manihit kering, Gelatinun, Agar-agar,

Natrium Alginat.
d. Zat pelican (lubricant)
Dimaksudkan agar tablettidak lekat pada cetakan (matrys). Biasanya

digunakan Talacum 5 %, Magnesii Stearas, Acidum Stearicum (Anief,

2010).
4. Keuntungan dan Kerugian tablet
a. Keuntunga tablet
bentuk sediaan tablet memiliki beberapa keuntungan, antaralain

adalah sebagai berikut:


1. Tablet dapat diproduksi dalam skaa besar dengan kecepataan produksi

yang sangat tinggi sehingga harganya dapat relatif lebih murah.


2. Tablet memiliki ketepatan dosis dalam tiap tablet atau tiap unit

pemakayan
3. Tablet lebih stabil dan tidak mudah ditumbuhi mikroba karena berada

dalam bentuk kering dengan kdar air yang rendah


4. Tablet dapat dibuat produk untuk berbagai profil pelepasan.
5. Tablet bukan merupakan produk steril (kecuali tblet inplant dan tablet

hipedermik) sehingga penanganan selama produksi, distribusi, dan

pemakayan lebih mudah.


6. Tablet mudah dalam pengemasan (blister atau strip) dan transportasi.
7. Tablet dapat dibawah dengan mudah oleh pasien.
8. Bau, rasa, dan warnah yang tidak menyenankan pada tabletdapat

ditutupi melalui penyalut tablet.


9. Tablet dapat dengan mudah dapat diidentifikasi denganmemberi

tanda / logo pada puch atau dengan printing pada tablet.


10. Tablet tersedia dalam berbagai tipe tablet antara lain kunyah, isap,

eferfesen, bukal, dan sublingual.


11. tablet dapat dengan mudah digunaakan sendiri tampa bantuan tenaga

medis.
12. dibandingkan dengan kapsul, tablet lebih tamperproff (silit

dipalsukan).
b. Kerugian tablet
Bentuk sediaan tablet juga terdapat beberapa kerugian, antara lain :
1. Bahan aktif dengan dosis besar dan tidak kompresibel sulit dibuat

tablet karena tablet yang dihasilkan akan memiliki bobot atau bentuk

tablet yang besar sehingga tidak berterima.


2. Terdapat kendala dalam memformulasikan zat aktifyang sulit

terbasahi, tidak larut, serta disolusi yang kurang baik.


3. Mula kerja obat (onset of action) sediaan tablet lebih hemat

dibandingkan dengan sediaan parenteral (injeksi), larutan oral, dan

kapsul.
4. Jumlah zat aktif dalam bentuk cairan yang dapat dijerat kedalam tablet

sangat kecil.
5. Kesulitan menelang pada anak-anak, pasien dengan sakit yang parah,

dan pasien lanjut usia.


6. pasien yang menjalani radioterapi tidak dapat menelang tablet (Lannie

dan Fudholi, 2013).

C. Tinjauan Tentang Mutu Tablet


Pengujian mutu tablet ini tidak terlepas dan syarat-syarat suatu tablet, harus

memenuhi syarat. Yaitu:


1. Memenuhi keseragaman ukuran tablet
Didalam farmakope indinesia dicantumkan ukuran tablet sebagai berukut,

kecuali dinyatakan lain, garis tengah tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang

dari 11/3 tebal tablet. Ketebalan harus diperiksa dari batch ke batch. Hal ini

penting karena ketebalan dapat berbeda tampa perubahan bobot tablet yang

disebabkan karena perbedaan kerapatan atau perbedaan tekanan mesin. Bilah

tablet lebih besar dari ukuran biasanya mungkin terjadi kesulitan dalam

pengemasannya, misalnya tidak masuk kedalam wadah yang tersedia (Anonim,

1979).
2. Memenuhi keseragaman bobot tablet
Tablet harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai

berikut :
Ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet, jika ditimbang harus satu

persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menimpang

dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan

tidaksatu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari

harga yang ditetapkan kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan

10 tablet; tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot

rata-rata yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tabletpun yang bobotnya

menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B (Anonim,

1979).
Tabel 2.1 : Syarat Uji keseragaman bobot

Penyimpangan Bobot Rata-Rata Dalam %


Bobot Rata-Rata A B
25 mg atau kurang 15 % 30 %
26 mg-150 mg 10 % 20 %
151 mg -300 mg 7,5 % 15 %
Lebih dari 300 mg 5% 10 %

3. Memenuhi uji waktu hancur


Waktu hancur merupakan indicator disintegrasi sediaan yaitu pecahnya

sediaan padat menjadi granul-granul. Uji waktu hancur tidak hanya menyatakan

bahea sedian atau bahan aktifnya terlambat sempurna.


Tablet harus memenuhi syarat dan uji waktu hancur yang ditetapkan

sebagai berikut :
a. Masukan 1 tablet yang akan diuji pada masing-masing tabung darikeranjang

disusul satu cakram penutun pada setiap tabung.


b. keranjang dimasukan kedalam beaker gelas berukuran satu liter yang berisi

air suling degan suhu 36C - 38C sebagai media kecuali dinyatakan lain

dalam masing-masing monografi.


c. Dinyalakan alat, keranjang akan naik turunkan secara otomatis sebanyak 30

kali tiap menit, ngkat keranjang dan amati semua tablet, semua tablet harus

hancur sempurna.
Persyaratan : Waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan keenam tablet

tidak lebih dari 15 menit, untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60

menit untuk tablet bersalut (Lannie dan Fudholi 2013).


4. Memenuhi kekerasan tablet
Kekerasan tablet mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruan, diukur

denga cara memberi tekanan terhadap diameter tablet. Alat untuk mengukur

kekerasan Hardnes Tester.


Kekerasan merupakan parameter yang menggambarkan ketahanan tablet

dalam melawan tekanan mekanik seperti goncangan, benturan, dan keretakan

selama pengemasan, penyimpanan, transportasi, dan sampai ketangan

pengguna. Fakto-faktor yang mempengaruhi kekerasan tablet adalah tekanan

kompresi dan sifat bahan yang dikempa. Semakin besar tekanan yang

diberikan saat pentabletan akan meningkatkan kekerasan tablet meskipun

tekanan kompresinya sama.


Syarat kekerasan tablet untuk tablet pada umumnya 4-8 kg, untuk tablet

kunyah dan tablet hipodermik 3 kg, untuk tablet hisap 7-14 kg, sedangkan

untuk tablet lepas lambat adalah 10-20 kg (Lannie dan Fudholi 2013).
5. Memenuhi kerapuhan tablet
Kerapuhan tablet merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan

permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan

abrasi pada permukaan tablet. Alat uji kerapuhan tablet friabilator.


Uji kerapuhan/uji keregasan tablet berhubungan dengan kehilangan bobot

akibat abrasi yang terjadi pada permukaan tablet. Semakin besar nilai

persentasi kerapuhan, semakin besar pulah massa tablet yang hilang.

Kerapuhn yang tinggi akan mempengaruhi kadar zat aktif yang ada pada

tablet.
Persyaratan: Kerapuhan mempunyai syarat kehilangan berat lebih kecil dari

0,5% sampai 1% masih dapat dibenarkan (Lannie dan Fudholi 2013).


D. Tinjauan Tentang Antasida (Aluminium Hidroksida (Al(OH) dan (Magnnesium

HIdroksida mg(OH) )
Antasida adalah obat yag digunakaan untuk menetralkan asam lambung

sehingga berguna untuk menghilangkan nyeri tukak peptic. Antacid tidak

mengurangi volume HCL yag dikeluarkan lambung, tetapi peninggian pH

akan menurunkan aktivitas pepsin. Beberapa antacid misalnya aluminium

hidroksida, diduga menghambat pepsin secara langsung. Kapasitas

menetralkan asam berbagai antacid pada dosis terapiberfariasi, tetapi

umumnya pH lambung tidak sampai diatas 4, yaitu keadaan yang jelas

menurunkan aktivitas pepsin, kecuali bila pemberiannya sering dan terus

menerus.
1. Sifat kimia
a. Pemerian : berbentuk sebuk amorf dengan beberapa agregat, putih,

tidak berasa, dan tidak berbau.


b. kelarutan : praktis tidak larut dalam airdan alcohol, larut dalam asam

mineraldan larut alkali, suspense dalam air mempunyai pHtidak lebih dari 10.
2. Farmakologi
a. farmakokinetik merupakan :
penghambat pompa protonsebaiknya diberikan sedian salut

enteric untuk mencega degradasi zat aktiftersebut dalam suasana asam.

Sediaan ini tidak mengalami aktivitas di lambung, sehingga

bioavailabilitasnyalebih baik. Tablet yang pecah di lambung

mengalami aktivasi lalu terlihat pada berbagai gugus sukfuhidri mucus

dan makanan. Oleh sebab itu sebaiknya diberikan 30 menit sebelum

makan.
b. farmakodinamik merupakan :
Penghambatpompa proton adalah suatu produk yang

membutuhkan suasana asam untuk aktivitasnya. Setelah di

absorpsidan masuk ke sirkulasisistemik obat ini akan berdifusi ke sel

pariental, terkumpul dikenelikuli sekretoar dan mengalami aktivitas

disitu menjadi betuk sulfonami detetrasilklik.


c. Indikasi :
untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan kelebihan

asma lambung, gastritis, tukak lambung , tukak usus duabeas jari

dengan gejala-gejala, seperti mual, nyerilambung nyeri ulu hati.


d. Kontra indikasi
jangan diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal yagn

berat karena menimbulkan hipermagnesia (kadar kadar magnesium

dalam darah meningkat). Efek samping yang umum terjadi adalah

mual, nyeri perut, kontipasi, flatulencedan, diare. Dilaporkan pula

terjadi myopati subakut, aetralgia, sakit kepala dan kulit.


e. Dosis :
Aluminium hidroksida 200 mg, magnesium hidroksida serta

dengan magnesium oksida 200 mg, dimetilpolisiloksanaktif 20 mg tiap

5 ml suspense atau tiap tablet. Dosis dewasa 3-4 kali sehari 1-2 tablet,

dikunya diantara waktu makan dan akan tidur (Tjay dan Rahardja).