Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR GENETIKA

PERSILANGAN JAGUNG

Disusun oleh:
Nama : Edwin Pradana
NIM : 15/379663/PN/14117
Gol./Kel. : A2 / 2

LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN GENETIKA


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
PERSILANGAN JAGUNG

ABSTRAKSI

Praktikum Acara V Persilangan Jagung pada Praktikum Dasar-Dasar Genetika bertujuan melatih
mahasiswa untuk melakukan persilangan jagung sebagai tanaman model dalam genetika dan
mempelajari hasil persilangan tersebut. Adapun praktikum ini dilaksanakan mulai 16 sampai 18 Oktober
2016 di Kebun Tri Dharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Yogyakarta.
Metode yang digunakan dalam praktium ini yaitu metode kantung (Tasselbagmethod) yakni dengan
cara membungkus bunga jantan maupun betina sebelum mekar dengan menggunakan kantong kertas
minyak. Dari metode percobaan tersebut diatas, didapatkan 4 macam jenis persilangan yaitu :
Pembastaran (tongkol Hibrida x malai Lokal), Selfing (tongkol Hibrida x malai Hibrida), Pembastaran
tongkol Lokal x malai Hibrida), Selfing (tongkol Lokal x malai Lokal).

Keywords : pembastaran, selfing, jagung , Tasselbagmethod

TINJAUAN PUSTAKA

Persilangan adalah suatu teknik mengawinkan bunga dengan meletakkan pollen atau
serbuk sari pada stigma (lubang atau rongga yang dangkal berisi cairan kental agak lengket
sebagai tempat meletakkan pollen dan masuknya tabung pollen ke dalam ovari (bakal buah)
pada waktu polinasi/penyerbukan. Dikenal dua macam persilangan, yaitu perkawinan sendiri
(selfing) dan perkawinan silang (crossing). Perkawinan sendiri (selfing) adalah perkawinan
dengan meletakkan pollen pada stigma yang berasal pada satu bunga, satu tanaman, tetapi
masih dalam satu spesies. Perkawinan silang (crossing) adalah perkawinan dengan
meletakkan pollen pada stigma yang berasal dari dua jenis bunga yang berbeda pada spesies
yang sama baik. Jika persilangan dilakukan siang hari, putik mengering sehingga tidak akan
terjadi pembuahan, kalaupun terjadi pembuahan kualitas buah tidak maksimal. Umur bunga
satu atau dua hari setelah mekar hingga lima minggu setelah mekar (Soebagio, 1990).

Jagung merupakan tanaman serealia yang paling produktif di dunia, sesuai ditanam
di wilayah bersuhu tinggi, dan pematangan tongkol ditentukan oleh akumulasi panas yang
diperoleh tanaman. Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase
baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang dari
40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada dataran rendah, umur jagung
berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran tinggi di atas 1000 mdpl berumur 4-5 bulan.
Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari
permukaan laut, umur panen jagung akan mundur satu hari (Heyne, 1987).

Jagung merupakan salah satu tanaman yang dapat melakukan penyerbukan silang
tetapi juga dapat melakukan penyerbukan sendiri. Darwin membuktikan bahwa penyerbukan
sendiri pada jagung akan menghasilkan produksi yang rendah dan tanaman tidak dapat
tumbuh tinggi, padahal penyerbukan sendiri memiliki vigor yang normal (Sinnot et. al.,
1958).

Banyak sifat pada tanaman,binatang,mikrobia yang diatur oleh suatu gen. Gen-gen
dalam individu diploid berupa pasangan alele dari pasangan gen tadi diwariskan kepada
keturunannya secara genetik disebut Hereditas. Hukum pewarisan ini mengikuti pola yang
teratur dan terulang dari generasi ke generasi. Dengan mempelajari cara pewarisan gen
tunggal akan dimengerti mekanisme pewarisan suatu sifat dan bagaimana suatu sifat tetap ada
dalam populasi. Demikian juga akan dimengerti bagaimana pewarisan dua sifat atau lebih
(Crowder, 2006).
METODE PRAKTIKUM

Pada Praktikum Dasar-Dasar Genetika Acara Persilangan Jagung dilaksanakan secara


kelompok pada tanggal 16-18 Oktober 2016 di Kebun Tri Dharma, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Yogyakarta.
Adapun bahan yang digunakan yaitu tanaman jagung (Zeamays), berupa populasi
tanaman jagung hibrida dan jagung lokal. Sedangkan alat yang digunakan yaitu perlengkapan
polinasi (kantong kertas, gunting, label, paper clip, kuas, staples, tali/ benang). Pada metode
ini baik bunga jantan maupun bunga betina dibungkus sebelum mekar menggunakan
kantong kertas minyak. Malai (tassel) yang keluar dari pucuk tanaman dikerodong
menggunakan kantong kertas. Untuk bunga betina (ear/tongkol), dikerodong sebelum
kepala putih (rambut jagung) keluar. Hari berikutnya tongkol diperiksa untuk melihat
laju keluarnya rambut jagung. Rambut jagung yang sudah tinggi dipotong menggunakan
gunting setinggi 12 cm di atas permukaan ujung klobot. Pemotongan ini
dimaksudkan untuk mencegah rambut tongkol keluar dari kantong sehingga terjadi
penyerbukan yang tidak dikehendaki. Pemotongan dilakukan 2-3 kali sampai seluruh
rambur tongkol telah keluar. Tongkol yang seluruh rambutnya telah keluar dari klobot
menunjukkan bahwa tongkol tersebut siap diserbuki. Malai bunga jantan yang telah
dikerodong dikumpulkan serbuk sarinya untuk digunakan sebagai tetua
jantan.Penyerbukan buatan dilakukan dengan cara menaburkan serbuk sari (pollen) yang
telah terkumpul tersebut di atas permukaan potongan rambut jagung. Prosedur ini dapat
diulang 23 kali (menggunakan pollen dari tetua yang sama) untuk meyakinkan
seluruh putik telah terserbuki. Tanda-tanda bahwabunga jantan siap menyerbuki adalah
serbuk sari melekat pada kantong pembungkus. Persilangan yang dilakukan adalah:
jagung Hibrida X jagung Lokal (pembastaran),
jagung Hibrida X jagung Hibrida (selfing),
jagung Lokal X jagung Hibrida (pembastaran),
jagung Lokal X jagung Lokal (selfing).
HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Hasil persilangan tanaman jagung ( Zea mays )

Pengamatan
Jantan Betina
Panjang Jumlah Bentuk/Tekstur
Warna Bulir Dokumensi
Tongkol Bulir Bulir
95 putih, 2 Putih,
Hibrida Lokal 8,9 cm kuning Halus Kuning
Hibrida Hibrida 15,7 cm 95 kuning Halus Kuning
226
kuning,7 Kuning,
Lokal Hibrida 20,3 cm putih Halus Putih
Lokal Lokal 9,5 cm 100 putih Halus Putih

PEMBAHASAN

-Materi Genetik Jagung( Kromosom )


- Sistem Reproduksi jagung ( alat kelamin, embryo, penyerbukan)
- Metode Persilangan, Tassel Bag
- Gen pengatur karakter jagung dalam persilangan saat ini
- Hasil Persilangan
Persilangan tanaman merupakan salah satu cara yang digunakan untuk memperoleh
keturunan yang bervariasi. Persilangan tanaman bisa dibedakan menjadi persilangan sendiri
(selfing) dan pembastaran (crossing). Selfing adalah persilangan yang dilakukan terhadap
tanaman itu sendiri. Artinya, tidak ada perbedaan antara genotipe kedua tanaman yang
disilangkan. Sedangkan crossing atau pembastaran adalah persilangan antara dua individu
yang berbeda karakter atau genotipnya. Tujuan melakukan persilangan adalah untuk
menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru, memperluas keragaman
genetic, dan menguji potensi tetua (uji turunan). Pada praktikum ini dilakukan persilangan
pada tanaman jagung (Zea mays). Tanaman jagung dipilih karena penyerbukan buatan yang
dapat dilakukan relative mudah. Selain itu periode tumbuh atau masa tanam jagung juga tidak
terlalu lama, sekitar dua bulan.
Tanaman jagung juga merupakan tanaman monoecious yaitu memiliki organ generatif
jantan dan betina pada satu tanaman. Organ tersebut terpissah secara jelas dan berukuran
besar sehingga mudah untuk diamati. Adapun faktor internal lain adalah, jagung memiliki
genom yang relatif sedikit (2n=2x=20) yang menyebabkan jagung seringkali menjadi model
persilangan dalam genetika.
Adapun struktur jagung secara umum tergambar secara umum pada gambar berikut :
1.1 Gambar struktur bulir jagung

Dalam kaitannya dengan genetika, jaringan yang memberi andil besar pada
kenampakan fenotipe jagung adalah endosperma hingga lapisan luarnya aleuron. Adapun
kenampakan yang diberikan pada bulir jagung adalah warna serta kandungan gula yang
dibawa oleh endosperma. Kandungan gula dipengaruhi oleh alel Sh dan Su, dimana Su
resesif memberikan fenotipe berupa bulir keriput dan tembus pandang, sedangkan Sh
memberikan fenotipe bulir yang manis, gembung, bening dan bersudut. Keadaan Su dominan
akan memberikan jagung yang normal.
Adapun pemberian warna pada bulir jagung ditentukan oleh 3 jaringan, yaitu pericarp,
aleuron, dan endosperma. Pericarp bertugas memberi warna transparan hingga kusamnya
bulir. Sedangkan dalam endosperma alel Y dan y memberi warna kuning dan putih pada bulir.
Bulir jagung hanya akan berwarna putih jika pada kondisi resesif yyy, sedangkan kehadiran
dominan Y akan menguatkan intensitas warna kuning. Lalu dalam aleuron, memberikan
warna dengan dominansi Ungu>Merah>Kuning>Putih. Hal ini disebabkan karena adanya
interaksi alel A,C,R dan Pr/pr. Pada umumnya warna aleuron akan menutupi warna dari
endosperma apabila A,C,R dalam keadaan dominan diikuti interaksi dengan alel Pr/pr .
Apabila dalam kondisi sebaliknya, apabila alel A,C,R dalam keadaan homozigot resesif akan
memberi warna transparan pada bulir yang akan memperlihatkan warna kuning ataupun putih
dari akumulasi karotenoid pada endosperma. Sedangkan bila ada interkasi A,C,R dominan
dengan Pr dominan akan memberikan warna ungu dan bila berinteraksi dengan pr homozigot
resesif akan memberikan warna merah yang sumber warnanya berasal dari akumulasi
antosianin pada aleuron.
Adapun organ generatif jagung terdiri dari malai(tassel) yang merupakan organ
generatif jantan dan tongkol(ear) yang merupakan organ generatif betina. Pada umumnya
organ generatif jantan lebih matang terlebih dahulu dibanding organ generatif betina sehingga
disebut tanaman protandri. Secara umum, biasanya polen akan lepas 1-3 hari sebelum rambut
tongkol keluar sedangkan setelah rambut tongkol keluar, akan bersifat reseptif selama kira-
kira 10 hari dan optimum pada hari ke 3-5.
Pada umumnya penyerbukan jagung bersifat bebas dan dibantu oleh angin maupun
serangga seperti lebah kecil, namun pada praktikum ini dilakukan secara manual dengan
bantuan manusia untuk memperlihatkan hasil hibridisasi tertentu pada jagung. Menurut
Sunarto (1997), Adapun faktor yang mempengaruhi hibridisasi terdiri dari faktor internal dan
eksternal. Faktor internal yaitu penyesuaian antara waktu berbunga dan waktu emaskulasi
serta penyerbukan. Lama pembungaan terjadi sekitar 5-8 hari tergantung varietas yang
digunakan. Waktu berbunga tanaman jagung maksimal terjadi pada pukul 09.00-11.00. Bunga
betina muncul 1-3 hari setelah kantong sari pecah. Dengan diketahuinya waktu pembungaan,
maka dapat disesuaikan waktu yang tepat untuk melakukan penyerbukan.
Sementara itu faktor eksternal antara lain yaitu suhu dan kelembapan saat
penyerbukan, pemilihan tetua, dan pengetahuan tentang organ reproduksi dan tipe
penyerbukan. Pada tanaman menyerbuk silang, biasanya tetua betina diisolasi agar tidak
dibuahi serbuk sari luar. Kemudian suhu yang terlalu panas atau dingin serta malai yang
terlalu basah atau kering akan menyebabkan bunga jantan tidak dapat mekar, sehingga tidak
dapat menghasilkan serbuk sari.
Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari ke kepala putik (Sunarto, 1997).
Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari ke berbagai kepala putik pada pohon yang
berbeda. Penyerbukan silang dapat terjadi karena:
1. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri
2. Perbedaan periode matang serbuk sari dan kepala putik
3. Sterilitas dan inkompatibilitas
4. Adanya bunga monocious dan diocious
Dalam percobaan kali ini, terdapat beberapa metode persilangan jagung yaitu metode
kantung (Tassel Bag Method), Metode botol (Bottle Method), dan Metode pengaturan tanggal
tanam (Overall Method). Pada metode kantung, malai dan tongkol terlebih dahulu dikerodong
dengan kertas minyak/map setelah beberapa hari disilangkan antara serbuk sari dan tongkol
jagung. Sedangkan pada metode botol merupakan modifikasi dari metode kantung namun
pada pemotongan malai bunga jantan akan dimasukkan ke larutan bisulfit (1:200) agar tidak
mengalami pembusukkan. Sedangkan pada metode pengaturan tanggal tanam yaitu dengan
penanaman tanaman secara berdekatan pada tanggal yang sama sehingga malai dan tongkol
mengalami penyerbukkan secara berdekatan setelah itu dikerodongkan. Namun dalam
percobaan kali ini, metode yang dipakai untuk persilangan adalah metode kantung ( Tassel
Bag Methods)
Adapun perkawinan antara jagung hibrida dan jagung lokal dilakukan melalui
kombinasi persilangan ( Hibrida X Hibrida), (Hibrida X Lokal), (Lokal X
Hibrida), dan ( Lokal X Lokal) pertama-tama dilakukan dengan kondisi yang layak untuk
penyerbukan berdasarkan ciri-ciri bunga jantan memiliki benangsari (malai) baik, sehat,
belum berbunga, berwarna hijau serta tidak terserang hama untuk menjaganya maka
dilakukan proses penutupan menggunakan plastik. Setelah benang sari sudah terkumpul,
gamet betinanya adalah jagung putih yang berwarna putih dan siap diserbuki (2-3 hari setelah
pengerodongan) dengan sebelumnya dilakukan sterilisasi terhadap benang sari bebas sehingga
penyerbukan dapat diamati dengan baik dan dan sesuai dengan metode penyerbukan silang.
Pada pembastaran jagung dengan bulir (Hibrida X Lokal) mendapatkan hasil
persilangan 96,9% kuning dan 3,1% putih. Dan pada pembastaran (Lokal X Hibrida)
mendapatkan hasil persilangan 97,9% putih dan 2,1% kuning. Adapun Selfing ( Hibrida X
Hibrida) menghasilkan 100% bulir kuning dan ( Lokal X Lokal) menghasilkan 100%
bulir putih. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan berhasil dan sesuai teori. Dalam hal ini
juga bahwa adanya pengaruh jaringan aleuron yang memberikan warna bulir kuning oleh alel
Y dan bulir putih oleh alel y resesif. Sedangkan warna jagung yang dipengaruhi oleh perikarp
cenderung memberikan warna yang transparan. Hal tersebut juga berlaku pada pengaruh
jaringan aleuron pada bulir jagung. Adanya warna jagung yang hanya terdiri dari variasi 2
warna saja menentukkan bahwa A,C,R pada aleuron dalam kondisi resesif dan tidak
berinteraksi dengan Pr atapun pr. Adapun faktor cuaca terutama curah hujan yang cukup
tinggi dapat diantisipasi dengan pemberian tutup plastik setelah pengkerondongan dengan
kertas agar tidak terjadi kontaminasi.
KESIMPULAN

1. Pada pembastaran jagung (Hibrida X Lokal) mendapatkan hasil persilangan


96,9% kuning dan 3,1% putih.
2. Pada pembastaran jagung (Lokal X Hibrida) mendapatkan hasil persilangan
97,9% putih dan 2,1% kuning.
3. Pada selfing jagung ( Hibrida X Hibrida) menghasilkan 100% bulir kuning
4. Pada selfing jagung ( Lokal X Lokal) menghasilkan 100% bulir putih

DAFTAR PUSTAKA

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid. II,. Yayasan Sarana Wana Jaya,
Departemen Kehutanan Republik Indonesia, Jakarta.

Sinnot, E.W., L.C. Dunn, and T. Dobzhansky. 1958. Principles of Genetics. McGraw-Hill
Book Company Inc., New York.
Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang.

Soebagio, H. 1990. Analisis korelasi parsial antara hasil dengan karakter-karakter tanaman
jagung. Riset Hasil Penelitian Tanaman Pangan: 135-138.

Crowder, L. V. 2006. Genetika Tumbuhan. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.

LAMPIRAN