Anda di halaman 1dari 73

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

RINGKASAN EKSEKUTIF

Belanja dalam APBD dialokasikan untuk melaksanakan program/kegiatan sesuai dengan


kemampuan pendapatannya, serta didukung oleh pembiayaan yang sehat sehingga diharapkan
mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan pendapatan, serta
pembangunan di berbagai sektor. Pencapaian tujuan tersebut diharapkan dapat dilakukan
melalui peningkatan potensi penerimaan pajak dan retribusi daerah ditambah dengan dana
transfer dari pemerintah Pusat yang digunakan untuk mendanai penyelenggaraan layanan
publik dalam jumlah yang mencukupi dan juga berkualitas. Dengan belanja yang berkualitas
diharapkan APBD dapat menjadi injeksi bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat.
Namun demikian, sebagaimana selalu terjadi dalam pengelolaan keuangan publik, selalu
terjadi kendala penganggaran (budget constraint), yang tercermin dari banyaknya kebutuhan
yang dihadapkan pada keterbatasan sumber-sumber pendapatan daerah. Oleh karena itu,
prioritas belanja dan perencanaan yang baik dapat menjadi kunci untuk menyiasati kendala
penganggaran. Terkait dengan hal tersebut, secara nasional kiranya perlu dilakukan analisis
tentang kesehatan keuangan APBD yang mampu memberikan informasi yang berguna dalam
memotret kondisi keuangan APBD baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan.
Di sisi pendapatan, analisis kesehatan keuangan APBD dilakukan dengan melihat
beberapa hal, yaitu: rasio pajak (tax ratio), ruang fiskal (fiscal space), serta rasio kemandirian
daerah. Rasio pajak mencerminkan hubungan pajak daerah dengan pendapatan domestic
regional bruto (PDRB) daerah. Secara kewilayahan, daerah-daerah di wilayah Jawa-Bali
menunjukkan rasio pajak yang tertinggi, namun untuk perbandingan antar-pemerintah provinsi,
Provinsi Maluku menduduki posisi tertinggi. Ada tiga kemungkinan penyebab tingginya rasio
tersebut, yaitu tingginya penerimaan pajak daerah, rendahnya PDRB, atau gabungan
keduanya. Tingginya rasio pajak di Jawa-Bali disebabkan oleh faktor pertama yang mana
potensi pajak daerah (yang memang bias kekotaan) di Jawa-Bali memang lebih besar,
sedangkan untuk Pemerintah Maluku, faktor kedua membuat nilai rasio pajaknya tinggi.
Ruang Fiskal merupakan rasio yang menggambarkan besarnya pendapatan yang masih
bebas digunakan oleh daerah untuk mendanai program/kegiatan sesuai kebutuhannya.
Penghitungan Ruang Fiskal diperoleh dengan mengurangkan seluruh pendapatan dengan
pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) dan belanja wajib seperti
belanja pegawai dan bunga. Hasil analisis menunjukkan bahwa ruang fiskal tertinggi baik untuk
total pemda perprovinsi, kabupaten/kota perprovinsi, pemerintah provinsi, maupun per wilayah

DJPK KEMENKEU RI iii


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

adalah di wilayah Kalimantan, utamanya di Kalimantan Timur. Posisi terendah untuk


kabupaten/kota adalah daerah-daerah di provinsi Jawa Tengah, sementara untuk pemerintah
provinsi yang terendah adalah Aceh, serta untuk per wilayah adalah wilayah Sulawesi. Tinggi
rendah angka tersebut dapat disebabkan oleh 4 (empat) faktor, yaitu: tinggi-rendahnya
pendapatan umum, tinggi-rendahnya pendapatan yang bersifat terikat, tinggi-rendahnya belanja
wajib, serta gabungan beberapa faktor di atas.
Rasio kemandirian daerah dicerminkan oleh rasio Pendapatan Asli Daerah terhadap total
pendapatan, serta rasio transfer terhadap total pendapatan. Dua rasio tersebut memiliki sifat
berlawanan, yaitu semakin tinggi rasio PAD semakin tinggi kemandirian daerah dan sebaliknya
untuk rasio transfer. Untuk rasio PAD, Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio tertinggi secara
nasional, Provinsi Bali untuk kabupaten/kota per provinsi, Jawa Timur untuk per pemerintah
provinsi dan Jawa-Bali untuk kewilayahan. Sementara itu, yang terendah secara nasional,
kabupaten/kota per provinsi, serta per pemerintah provinsi adalah adalah Provinsi Papua Barat,
sedangkan untuk per wilayah adalah Nusa Tenggara-Maluku-Papua. Posisi tertinggi dan
terendah rasio transfer umumnya berkebalikan dengan posisi provinsi yang bersangkutan pada
rasio PAD. Artinya, provinsi yang tertinggi untuk rasio PAD merupakan rasio terendah untuk
rasio transfer dan demikian pula sebaliknya.
Di sisi belanja daerah, analisis meliputi rasio belanja pegawai terhadap total belanja, rasio
belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja, rasio belanja modal per total belanja,
rasio belanja per jumlah penduduk, serta rasio belanja modal per jumlah penduduk. Semua
rasio tersebut menunjukkan kecenderungan pola belanja daerah, apakah suatu daerah
cenderung mengalokasikan dananya untuk belanja yang terkait erat dengan upaya peningkatan
ekonomi, seperti belanja modal, atau untuk belanja yang sifatnya untuk pendanaan aparatur,
seperti belanja pegawai tidak langsung.
Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk belanja pegawai, Provinsi DIY memiliki rasio
tertinggi untuk total pemda per provinsi dan kabupaten/kota per provinsi. Sementara itu, rasio
belanja pegawai terendah untuk seluruh pemda per provinsi dan pemerintah provinsi adalah
Provinsi Papua Barat, sedangkan untuk daerah kabupaten/kota per provinsi yang terendah
adalah Kalimantan Timur. Hal yang hampir serupa terjadi untuk rasio belanja pegawai tidak
langsung. Hal ini wajar, karena secara rata-rata porsi belanja pegawai tidak langsung terhadap
total belanja pegawai total relatif hampir seragam di seluruh daerah. Sebagaimana patut
diduga, kondisi berkebalikan terjadi untuk rasio belanja modal. DIY memiliki rasio terendah
untuk rasio belanja modal, sedangkan Kalimantan Timur merupakan yang tertinggi. Untuk rasio
belanja per kapita, Papua Barat dan Jawa Barat merupakan yang memiliki rasio tertinggi dan
terendah dalam agregat per provinsi. Sementara berdasarkan pembagian wilayah, rasio di
Kalimantan merupakan yang tertinggi, dan Jawa-Bali (tidak termasuk DKI) adalah yang
terendah.

DJPK KEMENKEU RI iv
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Analisis APBD juga meliputi analisis atas defisit/surplus dan pembiayaan yang meliputi
analisis defisit/surplus, Selisih Lebih atas Perhitungan Anggaran (SiLPA), penerimaan
pembiayaan melalui pinjaman, serta rasio keseimbangan primer. Dari analisis di sisi bellow the
line ini ternyata terdapat beberapa hal yang perlu dicermati. Salah satunya adalah adanya
beberapa daerah yang menganggarkan defisit namun anggaran pembiayaannya tidak
mencukupi untuk menutup defisit tersebut. Paling tidak terdapat 20 kabupaten/kota yang
mengalami kejadian ini. Hal ini menunjukkan tidak sehatnya APBD mereka, karena dengan
demikian belanja menjadi tidak jelas sumber pendanaannya. Sebaliknya, kondisi yang
berlawanan juga terjadi dimana terdapat beberapa daerah yang menganggarkan surplus
penerimaan (yang berarti terjadi selisih positif antara defisit/surplus dengan netto pembiayaan).
Hal ini menunjukkan bahwa daerah-daerah tersebut memang mentargetkan SiLPA mereka.
Terlepas dari apapun tujuan target SiLPA, namun hal ini tidak layak dilakukan dalam pola
pengelolaan keuangan yang sehat, karena akan menimbulkan tidak efisiennya penggunaan
budget untuk membiayai peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong munculnya
dana yang off budget. Di samping itu, hal ini kemungkinan dapat juga disebabkan oleh
ketidakmampuan SDM pengelola keuangan daerah dalam melakukan perencanaan anggaran.

DJPK KEMENKEU RI v
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

KATA PENGANTAR

Penyelenggaraan pemerintahan, baik oleh Pusat maupun Daerah mempunyai fungsi


untuk mendorong dan memfasilitasi Pembangunan guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang
memadai bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan fungsi dan peran
sebagai motivator dan fasilitator pembangunan tersebut, pemerintah telah mengambil suatu
pilihan kebijakan untuk lebih mengedepankan peran pemerintah daerah sebagai penggerak
pembangunan. Melalui kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, diharapkan agar
pemerintahan di level yang paling dekat dengan masyarakat mampu menyerap aspirasi dan
partisipasi masyarakat lokal sehingga arah pembangunan akan sesuai dengan kebutuhan riil
masyarakat setempat.
Guna mendukung peran dan fungsi pemerintah daerah dalam pembangunan,
Pemerintah telah dan akan terus mendukung pendanaan melalui mekanisme transfer ataupun
pola pendanaan lainnya. Dukungan pendanaan tersebut telah dibuktikan dengan besarnya
dana APBN yang disalurkan ke daerah, baik melalui skema desentralisasi maupun skema
lainnya, seperti dekonsentrasi, tugas pembantuan, subsidi, maupun bantuan langsung ke
masyarakat.
Dana yang besar yang telah dan akan digulirkan melalui skema desentralisasi serta
dana yang memang bersumber dari daerah sendiri (seperti pajak daerah dan retribusi daerah),
selanjutnya dikelola sepenuhnya oleh pemerintah daerah dalam APBD dan
pertanggungjawabannya sepenuhnya berada di daerah. Pada dasarnya tidak ada lagi
mekanisme pertanggungjawaban APBD kepada Pemerintah Pusat, namun hanya berupa
penyampaian data APBD kepada Pusat untuk keperluan Sistem Informasi Keuangan Daerah
(SIKD).
Dari data yang disampaikan melalui SIKD inilah kemudian disusun informasi dan
analisis atas APBD seluruh Indonesia. Analisis APBD yang kami sampaikan dengan
mempergunakan rasio-rasio dari komponen APBD ini diharapkan akan dapat berguna untuk
memberikan gambaran yang menyeluruh namun ringkas mengenai situasi dan kondisi
keuangan daerah saat ini. Potret APBD yang informatif dan akurat selanjutnya dapat digunakan
oleh pihak yang berkepentingan, baik di pusat maupun di daerah, sebagai bahan masukan
dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

DJPK KEMENKEU RI vi
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Kami mengharapkan agar buku Deskripsi dan Analisis APBD Tahun 2011 ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Besar harapan kami, agar buku ini dapat
memberikan kontribusi yang optimal dalam pengambilan kebijakan sehingga tujuan dan cita-
cita otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dapat terwujud.

Jakarta, Juni 2011

DirekturJenderal Perimbangan Keuangan,

Dr. Marwanto Harjowiryono, MA

DJPK KEMENKEU RI vii


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................... ii
RINGKASAN EKSEKUTIF ........................................................................................................ iiii
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. vii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL......................................................................................................................... xi
DAFTAR GRAFIK...................................................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Gambaran Umum APBD 2011 .................................................................................. 2
1. Pendapatan Daerah ........................................................................................... 5
2. Belanja Daerah .................................................................................................. 7
3. Surplus, Defisit dan Pembiayaan Daerah........................................................... 8

BAB II ANALISIS PENDAPATAN DAERAH .............................................................................. 9


A. Rasio Pajak (Tax Ratio) ............................................................................................ 9
1. Nasional........................................................................................................... 10
2. Kabupaten/Kota ............................................................................................... 11
3. Pemerintah Provinsi ......................................................................................... 12
4. Per Wilayah ..................................................................................................... 13
B. Ruang Fiskal (Fiscal Space) .................................................................................. 13
1. Definisi .............................................................................................................. 13
2. Nasional ............................................................................................................ 14
3. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 15
4. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 16
5. Per Wilayah ....................................................................................................... 17
C. Rasio Kemandirian Daerah .................................................................................... 18
1. Pendahuluan ..................................................................................................... 18
2. Nasional ............................................................................................................ 18
3. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 19
4. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 20
5. Per Wilayah ....................................................................................................... 20

DJPK KEMENKEU RI viii


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

BAB III ANALISIS BELANJA DAERAH ..................................................................................... 23


A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah ......................................... 23
1. Nasional ............................................................................................................ 23
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 24
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 25
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 25
B. Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap Total Belanja Daerah ............... 26
1. Nasional........................................................................................................... 26
2. Kabupaten/Kota ............................................................................................... 27
3. Pemerintah Provinsi ......................................................................................... 28
4. Per Wilayah ..................................................................................................... 28
C. Rasio Belanja Modal terhadap Total Belanja Daerah .............................................. 29
1. Nasional........................................................................................................... 29
2. Kabupaten/Kota ............................................................................................... 30
3. Pemerintah Provinsi ......................................................................................... 31
4. Per Wilayah ..................................................................................................... 31
D. Rasio Belanja Daerah terhadap Jumlah Penduduk ................................................. 32
1. Nasional ............................................................................................................ 32
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 33
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 34
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 35
E. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk ................................................... 35
1. Nasional ............................................................................................................ 35
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 36
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 37
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 38

BAB IV ANALISIS DEFISIT DAN PEMBIAYAAN DAERAH ...................................................... 39


A. Defisit ...................................................................................................................... 39
1. Nasional ............................................................................................................ 39
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 40
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 41
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 41
5. Daerah dengan defisit yang belum ter cover oleh pembiayaan.......................... 43
B. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran .......................................................................... 44
1. Nasional ............................................................................................................ 44
DJPK KEMENKEU RI ix
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 45
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 45
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 46
C. Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman ............................................ 46
1. Nasional ............................................................................................................ 46
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 47
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 47
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 48
5. Daerah yang melampaui batas maksimal defisit yang dibiayai pinjaman ........... 49
6. Daerah yang menganggarkan pinjaman dengan APBD surplus ........................ 50
D. Rasio Keseimbangan Primer................................................................................... 51
1. Nasional ............................................................................................................ 52
2. Kabupaten/Kota ................................................................................................ 53
3. Pemerintah Provinsi .......................................................................................... 54
4. Per Wilayah ....................................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 56

UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................................................ 57

DJPK KEMENKEU RI x
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 1.1 Pembiayaan Daerah (Juta Rupiah) ........................................................................ 3
Tabel 2.1 Provinsi yang memiliki Rasio Pajak diatas rata-rata Nasional (%) ....................... 11
Tabel 2.2 Provinsi yang memiliki Ruang Fiskal diatas rata-rata Nasional (%) ...................... 15
Tabel 4.1 Daerah dengan APBD minus ............................................................................... 43
Tabel 4.2 Daerah dengan % Pinjaman diatas ketentuan yag ditetapkan di PMK ................. 49
Tabel 4.3 Daerah yang menganggarkan pinjaman dengan APBD Surplus .......................... 51

DJPK KEMENKEU RI xi
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

DAFTAR GRAFIK

Hal
Grafik 1.1 Komposisi Pendapatan Daerah .............................................................................. 2
Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah ..................................................................................... 2
Grafik 1.3 Trend APBD (dalam juta rupiah) ............................................................................ 3
Grafik 1.4 Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2007 2011(%) .................................... 4
Grafik 1.5 Trend Belanja Daerah ............................................................................................ 5
Grafik 1.6 Rasio Pendapatan Daerah per Wilayah ................................................................. 6
Grafik 1.7 Rasio Belanja Daerah per Wilayah ......................................................................... 7
Grafik 1.8 Pembiayaan per Wilayah ....................................................................................... 8
Grafik 2.1 Rasio Pajak Nasional ........................................................................................... 10
Grafik 2.2 Rasio Pajak Kabupaten/Kota ............................................................................... 12
Grafik 2.3 Rasio Pajak Pemerintah Provinsi ......................................................................... 12
Grafik 2.4 Rasio Pajak per Wilayah ...................................................................................... 13
Grafik 2.5 Ruang Fiskal Nasional ......................................................................................... 14
Grafik 2.6 Ruang Fiskal Kabupaten/Kota .............................................................................. 15
Grafik 2.7 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi ....................................................................... 16
Grafik 2.8 Ruang Fiskal per Wilayah .................................................................................... 17
Grafik 2.9 Rasio Kemandirian Nasional ................................................................................ 18
Grafik 2.10 Rasio Kemandirian Kabupaten/Kota..................................................................... 19
Grafik 2.11 Rasio Kemandirian Pemerintah Provinsi .............................................................. 19
Grafik 2.12 Rasio Kemandirian per Wilayah ........................................................................... 20
Grafik 3.1 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Nasional......................... 21
Grafik 3.2 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Kabupaten/Kota ............. 24
Grafik 3.3 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Pemerintah Provinsi ....... 24
Grafik 3.4 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah per Wilayah .................... 25
Grafik 3.5 Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap Total Belanja Daerah Nasional27
Grafik 3.6 Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap Total Belanja Daerah
Kabupaten/Kota ................................................................................................... 27
Grafik 3.7 Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap Total Belanja Daerah
Pemerintah Provinsi ............................................................................................. 28
Grafik 3.8 Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap Total Belanja Daerah
per Wilayah .......................................................................................................... 29

DJPK KEMENKEU RI xii


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.9 Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah Nasional ..................................... 30
Grafik 3.10 Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota .......................... 30
Grafik 3.11 Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi.................... 31
Grafik 3.12 Rasio Belanja Modal terhadap Belanja Daerah per Wilayah ................................ 32
Grafik 3.13 Rasio Belanja Daerah per Kapita Nasional........................................................... 33
Grafik 3.14 Rasio Belanja Daerah per Kapita Kabupaten/Kota ............................................... 34
Grafik 3.15 Rasio Belanja Daerah per Kapita Pemerintah Provinsi ........................................ 34
Grafik 3.16 Rasio Belanja Daerah per Kapita per Wilayah ...................................................... 35
Grafik 3.17 Rasio Belanja Modal per Kapita Nasional ............................................................ 36
Grafik 3.18 Rasio Belanja Modal per Kapita Kabupaten/Kota ................................................. 37
Grafik 3.19 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi ........................................... 37
Grafik 3.20 Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah........................................................ 38
Grafik 4.1 Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Nasional .......................................... 39
Grafik 4.2 Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan Kab/Kota ........................................ 40
Grafik 4.3 Kab/Kota berdasarkan Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan (%) .............. 40
Grafik 4.4 Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Provinsi ............................................ 41
Grafik 4.5 Rasio Defisit/Pendapatan per wilayah .................................................................. 42
Grafik 4.6 Penyebaran Rasio Defisit/Pendapatan per wilayah ............................................. 42
Grafik 4.7 Rasio SiLPA terhadap Belanja Nasional .............................................................. 44
Grafik 4.8 Rasio SiLPA terhadap Belanja Kabupaten/Kota ................................................... 45
Grafik 4.9 Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Provinsi ............................................. 45
Grafik 4.10 Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah.......................................................... 46
Grafik 4.11 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Nasional .................................................. 46
Grafik 4.12 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Kabupaten/Kota ....................................... 47
Grafik 4.13 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi ................................ 48
Grafik 4.14 Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah .............................................................. 48
Grafik 4.15 Penyebaran Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah ......................................... 49
Grafik 4.16 Rasio Primary Balance Nasional .......................................................................... 52
Grafik 4.17 Rasio Primary Balance Kabupaten/Kota .............................................................. 53
Grafik 4.18 Rasio Primary Balance Pemerintah Provinsi ........................................................ 54
Grafik 4.19 Rasio Primary Balance per wilayah ...................................................................... 54

DJPK KEMENKEU RI xiii


Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka mewujudkan pelayanan publik kepada masyarakat maka seluruh


Pemerintah Daerah di Indonesia setiap tahunnya harus merencanakan, menyusun dan
melaksanakan seluruh kegiatan dan pendanaan yang sudah terangkum dalam rencana
keuangan tahunan berupa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). APBD yang
disahkan dan diundangkan dengan Peraturan Daerah sebelumnya harus disetujui oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
APBD menunjukkan alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan dan sumber-
sumber pendapatan, serta pembiayaan yang digunakan untuk mendanainya. Program/kegiatan
dimaksud dilaksanakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan
pendapatan, serta pembangunan di berbagai sektor. Pencapaian tujuan tersebut diharapkan
dapat dilakukan melalui peningkatan potensi penerimaan pajak dan retribusi daerah ditambah
dengan dana transfer dari pemerintah Pusat yang digunakan untuk mendanai penyelenggaraan
layanan publik dalam jumlah yang mencukupi dan juga berkualitas. Dengan belanja yang
berkualitas diharapkan APBD dapat menjadi injeksi bagi peningkatan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat.
Namun demikian, sebagaimana selalu terjadi dalam pengelolaan keuangan publik,
selalu terjadi kendala penganggaran (budget constraint), yang mana banyaknya kebutuhan
selalu dihadapkan pada keterbatasan sumber-sumber pendapatan daerah. Oleh karena itu,
prioritas belanja dan perencanaan yang baik dapat menjadi kunci untuk menyiasati kendala
penganggaran. Terkait dengan hal tersebut, secara nasional kiranya perlu dilakukan analisis
tentang kesehatan keuangan APBD yang mampu memberikan informasi yang berguna dalam
memotret kondisi keuangan APBD baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan.
Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang analisis rasio keuangan
APBD 2011. Berdasarkan rasio keuangan APBD tersebut maka dapat disimpulkan tentang
kualitas dan tingkat kesehatan APBD. Analisis ini didasarkan pada data sekunder berupa data
ringkasan APBD 2011 sebanyak 524 daerah. Alat analisis utamanya adalah rasio keuangan
yang dilakukan secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten
dan kota dan berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara-Maluku-Papua).

DJPK KEMENKEU RI 1
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

B. Gambaran Umum APBD 2011

Berdasarkan data APBD yang telah dikumpulkan oleh Direktorat EPIKD yang terdiri dari
33 Provinsi 398 Kabupaten dan 93 Kota, maka bisa kita lakukan analisis untuk mengetahui
kondisi keuangan daerah yang tercermin dari beberapa komponen dalam APBD Tahun
Anggaran 2011. Data yang dianalisis menggunakan data APBD yang telah dikonsolidasikan
untuk menghilangkan penghitungan ganda atas beberapa reciprocal account.

Grafik 1.1
Komposisi Pendapatan Daerah

13,0% 19,0%

PAD

68,0% Dana Perimbangan

Lain-lain pend yang sah

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Komposisi Pendapatan Daerah pada APBD TA 2011 secara nasional dapat dibagi
dalam 3 (tiga) bagian utama yaitu PAD, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan yang
sah. Grafik 1.1, menunjukkan dana perimbangan merupakan komposisi yang paling
mendominasi yaitu sebesar 68,0% atau Rp327,361 triliun dalam komposisi pendapatan daerah,
sedangkan PAD hanya sebesar 19,0% atau sebesar Rp90,393 triliun dan Lain-lain Pendapatan
yang sah sebesar 13,0% atau sebesar Rp61,343 triliun.

Grafik 1.2
Komposisi Belanja Daerah

45% 20% Belanja Pegawai


Belanja Barang dan jasa
22% Belanja Modal
13%
Lain-lain

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


DJPK KEMENKEU RI 2
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Belanja daerah secara nasional pada TA 2011 mencapai Rp514,467 triliun. Belanja
pegawai porsinya masih dominan yaitu mencapai 45,0% atau sebesar Rp229,077 triliun.
Belanja Modal mencapai Rp113,622 triliun atau sebesar 22,0%. Belanja Barang dan Jasa
mencapai Rp104,193 triliun atau 20,0%.
Tabel 1.1
Pembiayaan Daerah (Juta Rupiah)
Pembiayaan 36.090.622
Penerimaan Pembiayaan 44.497.235
Pengeluaran Pembiayaan 8.406.574

Defisit pada APBD secara nasional yang mencapai Rp35,369 triliun. Total pembiayaan
daerah secara nasional mencapai Rp36,090 triliun dengan penerimaan pembiayaan (SiLPA,
Pinjaman dll) mencapai Rp44,497 triliun serta pengeluaran pembiayaan dianggarkan sebesar
Rp8,406 triliun.

Trend APBD (2007 2011)

Berdasarkan data Realisasi APBD tahun 2007 2009 dan APBD 2010 hingga 2011
yang telah dikonsolidasikan maka diperoleh gambaran sebagai berikut:
Grafik 1.3
Trend APBD

500,000

400,000

300,000
Miliar Rupiah

200,000

100,000

-100,000
2007 2008 2009 2010 2011
Pendapatan 310,173 363,211 379,862 386,338 459,857
Belanja 304,034 353,739 390,077 426,857 495,226
Surplus/Defisit 6,138 9,472 -10,215 -40,519 -35,369
Pembiayaan 55,152 59,184 63,883 40,818 36,119

Sumber: Realisasi APBD 2007 2009 dan APBD 2010 - 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 3
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Dari grafik tersebut di atas dapat kita ketahui secara nasional bahwa setiap tahun sejak
2007 hingga 2011 terjadi peningkatan pendapatan daerah rata-rata sebesar 11,4% dan yang
tertinggi peningkatannya adalah pada tahun 2011 sebesar 18%, dimana pendapatan daerah
pada tahun 2011 sebesar Rp459,856 triliun dan pada tahun 2010 hanya sebesar Rp386,338
triliun.
Secara nasional trend belanja daerah mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2007
hingga 2011 sebesar 11,8%. Pada tahun 2011 belanja daerah dianggarkan sebesar Rp495,225
triliun atau meningkat 17% dari tahun 2010 yang hanya dianggarkan sebesar Rp426,857 triliun.
Trend defisit yang dianggarkan daerah cenderung fluktuatif, tapi sejak tahun 2009 terus
mengalami penurunan. Rata-rata defisit yang dianggarkan dari tahun 2007 hingga 2009 hanya
sebesar -0,4%. Defisit daerah secara nasional yang tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu
sebesar sebesar Rp40,519 triliun atau 3,6%. Sedangkan pada tahun 2011 defisit daerah secara
nasional adalah sebesar Rp35,369 triliun atau sebesar 1,1%.
Pembiayaan daerah netto juga menunjukkan trend yang fluktuatif selaras dengan trend
defisit daerah. Walau rata-rata trend pembiayaan daerah netto dari tahun 2007 hingga 2011
sebesar 0,2%, dan cenderung mengalami penurunan cukup besar pada tahun 2010 dan 2011.
Pembiayaan daerah netto pada tahun 2011 sebesar Rp36,118 triliun bila dibandingkan dengan
tahun 2010 yang menganggarkan pembiayaan netto sebesar Rp40,818 triliun.

Grafik 1.4
Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2007 2011

80
70
60
50
%

40
30
20
10
0
2007 2008 2009 2010 2011
PAD 16.82 17.83 17.79 18.6 19.66
DAPER 78.62 76.02 74.4 75.65 71.18
Lain2 Pend yg Sah 4.57 6.16 7.82 5.75 9.16

Sumber: Realisasi APBD 2007 2009 dan APBD 2010 - 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 4
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Secara nasional ketergantungan seluruh pemerintah daerah terhadap dana


perimbangan masih tinggi. Hal ini terlihat pada porsi PAD walaupun mengalami peningkatan
setiap tahunnya tetapi pada tahun 2011 anggarannya hanya sebesar 19,66%. Sedangkan trend
dana perimbangan setiap tahun mengalami penurunan hingga mencapai 71,18% pada tahun
2011. Trend kontribusi lain-lain pendapatan yang sah sangat fluktuatif, tetapi pada tahun 2011
menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 9,16%.

Grafik 1.5
Trend Belanja Daerah TA 2007 2011

50
45
40
35
30
%

25
20
15
10
5
0
2007 2008 2009 2010 2011
B_Pegawai 39.91 41.98 43.11 46.52 46.25
B_Barang&Jasa 18.9 18.82 19.32 19.21 21.04
B_Modal 29.98 27.67 26.28 22.53 22.92
B_Lain-lain 11.2 11.53 11.28 11.74 9.78

Sumber: Realisasi APBD 2007 2009 dan APBD 2010 - 2011 (Diolah)

Bila dicermati komposisi belanja daerah secara nasional dari tahun 2007 hingga 2011
maka dapat diketahui bahwa porsi belanja pegawai tetap dominan bila dibandingkan dengan
jenis belanja yang lainnya. Belanja Pegawai mengalami peningkatan yang cukup tajam pada
tahun 2010 yaitu sebesar 46,5% tetapi pada tahun 2011 turun sedikit menjadi 46,2%.
Besarnya belanja barang dan jasa juga meningkat menjadi 21,0% pada tahun 2011.
Sedangkan porsi belanja modal terus mengalami penurunan, yang cukup tajam terjadi pada
tahun 2010 hanya sebesar 22,5%, tetapi pada tahun 2011 porsinya menjadi 22,1%. Sedangkan
belanja lainnya cenderung turun hingga hanya dianggarkan sebesar 9,78% pada tahun 2011.

1. Pendapatan Daerah

Komposisi APBD Tahun Anggaran 2011 pada kabupaten, kota, dan provinsi secara
aggregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

DJPK KEMENKEU RI 5
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 1.6
Rasio Pendapatan Daerah Per Wilayah

100

80

60
%

40

20

00
PAD /Tot Daper/Tot Transf/ Tot
NT Maluku Papua 6.310 76.870 92.370
Sulawesi 12.470 80.210 86.710
Sumatera 14.350 75.330 83.980
Kalimantan 14.680 80.860 83.620
Jawa Bali 32.940 59.240 65.610

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Terlihat dari grafik tersebut beberapa rasio yang terkait dengan pendapatan daerah.
Rasio PAD dibandingkan total pendapatan daerah yang tertinggi adalah di wilayah Jawa dan
Bali yaitu sebesar 32,9% sedangkan yang terendah di wilayah Nusa Tenggara, Maluku, Papua
yang hanya sebesar 6,3%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian seluruh daerah
yang berada di wilayah Jawa dan Bali relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Fakta tersebut diperkuat juga dengan rendahnya rasio dana perimbangan dan transfer
ke daerah dibandingkan total pendapatan. Berdasarkan dua rasio tersebut Jawa dan Bali hanya
memiliki ketergantungan terhadap dana perimbangan dan transfer ke daerah masing-masing
sebesar 59,2% dan 65,6%. Wilayah yang memiliki tingkat ketergantungan tertinggi terhadap
dana perimbangan adalah di wilayah Kalimantan dimana rasio dana perimbangan terhadap
total pendapatannya mencapai 80,9% persen. Sedangkan untuk rasio transfer ke daerah
terhadap total pendapatan maka wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua menjadi wilayah
yang tertinggi hingga mencapai 92,3%. Besarnya rasio tersebut ditengarai berasal dari adanya
pengalokasian dana otonomi khusus dan dana penyesuaian yang relatif lebih besar bila
dibandingkan dengan wilayah lainnya.

DJPK KEMENKEU RI 6
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

2. Belanja Daerah

Grafik 1.7
Rasio Belanja Daerah Per Wilayah

52.51
60.0

50.6

45.53
50.0

38.39
37.52

32.28
40.0
%

26.62
24.18
22.24

22.02

21.47
21.12
21.07
30.0

18.25

18.06
20.0

10.0

0.0
BP/Total BM/Tot BBJ/Tot

Jawa Bali Sulawesi Sumatera NT Maluku Papua Kalimantan

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Bila dilihat besaran belanja daerah yang dianggarkan pada APBD TA 2011 antar
wilayah maka dapat diketahui bahwa belanja pegawai tetap merupakan porsi terbesar yang
harus dibelanjakan oleh daerah, selanjutnya baru diikuti oleh belanja modal serta belanja
barang dan jasa.
Belanja pegawai di wilayah Sulawesi mencapai 52,5% sedangkan wilayah Kalimantan
belanja pegawainya hanya sekitar 37,5%. Fakta tersebut juga didukung oleh rasio pegawai
terhadap jumlah total penduduk yang mencapai 1,38% di wilayah Sulawesi. Tetapi rasio
pegawai di wilayah Kalimantan (1,26%) bukanlah yang terendah karena rasio pegawai per total
penduduk di wilayah Jawa hanya mencapai 0,6%.
Bisa diartikan bahwa jumlah pegawai di wilayah Jawa sangat rendah karena total
penduduk di wilayah tersebut sangat banyak sehingga rasio belanja pegawai terhadap total
belanja juga besar yaitu sekitar 50,6%. Ironisnya berbagai pengeluaran kegiatan yang
terangkum dalam akun belanja modal di wilayah Jawa sangat kecil yaitu hanya sekitar 18,3%.
Hal ini bisa berarti bahwa di satu sisi kebutuhan infrastruktur di Jawa dan Bali relatif rendah
sehingga setiap daerah di wilayah tersebut tidak perlu menganggarkan terlalu banyak belanja
modal atau memang karena APBD di semua daerah di Jawa dan Bali sudah terlalu berat untuk
memberikan pelayanan publik yang tercermin dari besarnya jumlah pegawai dan rasio belanja
pegawai per total belanjanya.

DJPK KEMENKEU RI 7
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Wilayah Kalimantan menunjukkan geliat pembangunan infrastruktur yang paling


signifikan tercermin dari rasio belanja modalnya yang mencapai sekitar 32,3% dan belanja
barang dan jasanya juga relatif tinggi yaitu sekitar 21,1%.

3. Surplus, Defisit, dan Pembiayaan Daerah

Grafik 1.8
Pembiayaan Per Wilayah

Sulawesi

Jawa Bali

Sumatera

NT Maluku Papua

Kalimantan

-15.00 -10.00 -5.00 .00 5.00 10.00 15.00

Kalimantan NT Maluku Papua Sumatera Jawa Bali Sulawesi


Defisit/Pend -12.190 -3.430 -7.350 -8.280 -3.420
SiLPA /Bel 12.400 4.800 8.360 8.570 3.780
Pinj /pend 1.00 .260 .500 .340 1.630

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Besarnya defisit APBD TA 2011 yang paling tinggi terjadi di wilayah Kalimantan yang
mencapai -12,2%. Sedangkan untuk menutup defisit tersebut seluruh daerah di wilayah
Kalimantan mengandalkan SiLPA yang bisa langsung digunakan untuk mendanai kebutuhan
belanja yang belum tersedia dananya, rasio SiLPA terhadap total belanja daerah adalah
sebesar 12,4%. Tetapi untuk mengantisipasi tidak tercapainya pendapatan daerah yang
dianggarkan maka seluruh daerah di wilayah Kalimantan berencana mengajukan pinjaman
yang rasionya mencapai 1,0% dari total pendapatan.
Wilayah Sulawesi menganggarkan defisit sebesar -3,4% dengan rasio SiLPA sebesar
3,8%. Rasio pinjaman terhadap total pendapatan Sulawesi sebesar 1,6% menunjukkan adanya
kecenderungan bahwa dalam melakukan proyeksi pendapatan daerah-daerah di Sulawesi tidak
terlalu yakin akan tingkat ketercapaian pendapatan yang berasal dari PAD maupun dana
transfer ke daerah. Besarnya ketergantungan atas dana transfer ke daerah serta risiko fiskal
yang harus ditanggung oleh APBN menyebabkan seluruh daerah sebaiknya juga harus mulai
melakukan perhitungan risiko fiskal yang harus ditanggung. Porsi belanja pegawai yang tinggi
menyebabkan berkurangnya alternatif efisiensi belanja daerah. Sehingga daerah harus mulai
lebih inovatif dan kreatif untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya dengan ekstensifikasi

DJPK KEMENKEU RI 8
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

dan intensifikasi pajak daerah dan retribusi daerah agar alternatif pendanaan untuk menutup
defisit tidak semata tergantung pada SiLPA dan pinjaman daerah.

DJPK KEMENKEU RI 9
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

BAB II
ANALISIS PENDAPATAN DAERAH

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

Perbandingan pajak terhadap pendapatan suatu perekonomian (economy), selanjutnya


dalam analisis ini disebut rasio pajak (tax ratio), merupakan perbandingan antara jumlah
penerimaan pajak dengan pendapatan suatu perekonomian. Dalam konteks keuangan negara,
rasio pajak merupakan perbandingan antara pajak suatu negara dengan Pendapatan Domestik
Bruto (PDB), sedangkan di tingkat daerah rasio pajak merupakan rasio antara pajak daerah
wilayah perekonomian daerah tersebut dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB).
Angka rasio pajak suatu daerah dipengaruhi oleh PDRB.
PDRB dapat dilihat dari tiga sisi: produksi, pengeluaran, serta pendapatan. Di sisi
produksi, PDRB mengindikasikan kegiatan ekonomi suatu daerah yang secara umum dapat
digambarkan melalui kemampuan daerah tersebut menghasilkan barang dan jasa yang
diperlukan bagi kebutuhan hidup masyarakat pada periode tertentu. Dari sisi pengeluaran,
PDRB menggambarkan keseluruhan pengeluaran yang dilakukan oleh sektor-sektor ekonomi
yang ada di suatu wilayah pada periode tertentu yaitu sektor rumah tangga (berupa konsumsi
rumah tangga), sektor swasta (pembentukan barang modal/investasi), sektor pemerintah
(konsumsi pemerintah di luar pembayaran non jasa /transfer non payment), serta sektor luar
negeri (ekspor dan impor). Sementara itu, di sisi pendapatan, PDRB menggambarkan jumlah
pendapatan yang diterima penduduk wilayah tersebut pada suatu periode berupa gaji dan
sejenisnya, sewa modal, bunga dan sejenisnya, serta laba yang dihasilkan oleh pengusaha.
Dari sisi mana pun PDRB diukur akan dihasilkan angka yang sama (setelah dilakukan
penyesuaian dan koreksi).
Terkait dengan rasio pajak, PDRB menggambarkan jumlah pendapatan potensial yang
dapat dikenai pajak. PDRB juga menggambarkan kegiatan ekonomi masyarakat yang jika
berkembang dengan baik merupakan potensi yang baik bagi pengenaan pajak di wilayah
tersebut. Oleh karena itu, mengetahui angka-angka rasio pajak di berbagai wilayah di Indonesia
akan membantu kita dalam menganalisis secara sederhana hubungan antara pajak daerah
wilayah tersebut dengan PDRB-nya, mengetahui jenis-jenis pajak apa saja yang potensial serta
sektor ekonomi yang terkait, dan menilai kondisi suatu daerah dengan membandingkannya
dengan daerah lain.

DJPK KEMENKEU RI 10
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.1 menunjukkan rasio pajak Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota pada 33
Provinsi seluruh Indonesia. Dari grafik dapat dilihat bahwa Provinsi yang mempunyai rasio
pajak tertinggi adalah provinsi Bali yaitu sebesar 8,8%. Tingginya rasio pajak ini karena pajak
daerah Provinsi Bali sangat tinggi. Pajak daerah ini terutama berasal dari pajak yang
disumbangkan oleh sektor industri pariwisata. Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak
paling rendah adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 1,2%. Hal ini dapat mengindikasikan
bahwa pajak daerah Provinsi Papua Barat sangat rendah.

Grafik 2.1
Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
10.00

8.8
9.00
8.00
7.00

5.2
6.00
%

4.6
4.4
4.4
5.00

4.1
3.9
3.8
3.6
3.5
3.3
3.3
3.3
4.00
3.1
2.9
2.9
2.8
2.7
2.6
2.6
2.5
2.5
2.5
2.4
2.4
2.3
2.3
2.2

3.00
2.1
1.9

2.9
1.5
1.4
1.2

2.00
1.00
.00
Papbar
Papua
Riau
Sulteng
Sulbar
Kaltim
NTT
Aceh
Jateng
Sultra
Kalbar
Jabar
Kepri
Sumsel
Jatim
Lampung
Sumbar
Kalteng
Malut
Sulut
Babel
Jambi
Sumut
DKI
NTB
Banten
Sulsel
DIY
Bengkulu
Kalsel
Goronta
Maluku
Bali
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Terkait dengan perekonomian daerah, daerah yang memiliki rasio pajak yang tinggi akan
memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
yang dicerminkan oleh berkembangnya sektor-sektor produksi penyumbang pertumbuhan
ekonomi di daerah tersebut telah berperan secara optimal dalam memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap pajak daerah. Selain itu, peran pemerintah daerah dalam menetapkan
kebijakan yang menunjang tercapainya peningkatan pajak daerah juga sangat menentukan.
Sebagai contoh adalah Provinsi Bali. Selain mempunyai potensi pajak daerah yang sangat
tinggi dari sektor pariwisata, provinsi ini juga didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah
daerah untuk memaksimalkan potensi tersebut. Kondisi berbeda ditunjukkan oleh Provinsi
Papua Barat yang merupakan provinsi hasil pemekaran Provinsi Papua. Potensi Sumber Daya
Alam yang melimpah, seperti pemandangan alam yang sangat indah yang dapat dikembangkan
pada sektor pariwisata (contoh: pemandangan bawah laut di Raja Ampat), air bawah tanah, dan
bahan galian golongan C yang dapat menjadi sumber penerimaan pajak daerah belum bisa

DJPK KEMENKEU RI 11
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

dioptimalkan untuk menunjang pendapatan pajak Daerah. Kekayaan alam lain seperti hasil
hutan, hasil tambang selain bahan galian golongan C dan minyak bumi merupakan sumber
pendapatan nasional yang selanjutnya dikembalikan ke provinsi tersebut berupa pendapatan
bagi hasil yang tidak dimasukkan dalam analisis ini.
Dari data rasio pajak 33 provinsi, diperoleh gambaran bahwa rata-rata rasio pajak
(daerah) secara nasional adalah sebesar 3,1%, serta terdapat 13 provinsi yang memiliki rasio
pajak diatas rata-rata nasional yaitu:

Tabel 2.1
Provinsi yang memiliki Rasio Pajak
diatas rata-rata Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota (%)
No Nama Daerah Rasio No Nama Daerah Rasio
1 Provinsi Bali 8,8 8 Provinsi Banten 3,8
2 Provinsi Maluku 5,2 9 Provinsi Nusa Tenggara Barat 3,6
3 Provinsi Gorontalo 4,6 10 Provinsi DKI Jakarta 3,5
4 Provinsi Bengkulu 4,4 11 Provinsi Sumatera Utara 3,3
5 Provinsi DI Yogyakarta 4,1 12 Provinsi Jambi 3,3
6 Provinsi Kalimantan Selatan 3,9 13 Provinsi Bangka Belitung 3,3
7 Provinsi Sulawesi Selatan 3,9

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 2.2 memperlihatkan rasio pajak per pemerintah kabupaten dan kota untuk
masing-masing wilayah provinsi. Rasio pajak pemkab dan pemkot se-Provinsi Bali
menunjukkan angka yang paling tinggi, yaitu sebesar 4,9%. Penyebab tingginya rasio tersebut
adalah tingginya pajak daerah pemkab dan pemkot se-provinsi tersebut yang berasal dari
sektor pariwisata. Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat pada pemerintah kabupaten
dan kota se-Provinsi Riau, yaitu sebesar 0,3%. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh
rendahnya potensi penerimaan pajak daerah. Potensi penerimaan pajak yang tinggi di Riau
adalah dari sektor pertambangan yang merupakan sumber penerimaan Negara yang
selanjutnya akan menjadi sumber pendapatan bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) yang
dalam rasio ini tidak dihitung.

DJPK KEMENKEU RI 12
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 2.2
Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)
6.00

4.9
5.00

4.00
%

3.00

2.00

1.4
1.2
1.2
1.2
0.9
0.9
0.9
0.9
0.9
0.8
0.8
0.7
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
1.00
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.3
0.3

0.6
.00
Riau
Papbar
Sulbar
Kaltim
Lampung
Sumsel
Kalteng
Sulteng
Papua
Sumbar
Aceh
Jateng
NTT
Jambi
Kalsel
Kalbar
Babel
Bengkulu
Sultra
Jabar
Sulut
Jatim
Sulsel
Malut
Sumut
NTB
Gorontalo
Banten
DIY
Maluku
Kepri
Bali
Sumber: APBD 2011 (Diolah)
*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Sebagaimana terlihat pada Grafik 2.3, untuk seluruh pemerintah provinsi, rasio pajak
tertinggi dicapai oleh Pemerintah Provinsi Maluku, yaitu sebesar 4%. Tingginya angka tersebut
disebabkan angka pembaginya, yaitu PDRB-nya rendah. Sementara itu, rasio pajak terendah
dari ke-33 pemprov di Indonesia adalah Pemerintah Provinsi Papua (0,9%). Rendahnya rasio
tersebut disebabkan karena penerimaan pajak daerah yang sangat rendah.

Grafik 2.3
Rasio Pajak Pemerintah Provinsi
4.500
4.0
3.9
3.8
3.8
3.7

4.00
3.5

3.500
3.0
2.9
2.7
2.7
2.7

3.00
2.6
2.5
2.4
2.3
2.3
%

2.3
2.2

2.500
2.1
1.9
1.9
1.8
1.8
1.8

2.3
1.8
1.8
1.8
1.8

2.00
1.5
1.2
1.2

1.500
0.9
0.9

1.00
.500
.00
Papua
Papbar
Kepri
Riau
Sulteng
Sulbar
NTT
Jatim
Sultra
Aceh
Jabar
Jateng
Kaltim
Kalbar
Malut
Sumsel
Sumbar
Lampung
Sulut
Sumut
Kalteng
Banten
Babel
NTB
Jambi
DIY
Sulsel
DKI
Goront
Bengkulu
Kalsel
Bali
Maluku

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 13
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

4. Per Wilayah

Grafik 2.4
Rasio Pajak per Wilayah*)
4.00
3.4
3.500 3.2
3.00 2.7 2.6 3.1
2.500 2.3
%

2.00
1.500
1.00
.500
.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Grafik 2.4 menunjukkan bahwa berdasarkan pada pembagian 5 wilayah yang terdiri atas
Nusa Tenggara-Maluku-Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa-Bali, rasio pajak untuk
wilayah Jawa-Bali merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya. Bali
yang menempati peringkat pertama berdasarkan agregat pemerintah kabupaten dan kota se-
provinsi, setelah digabungkan dengan seluruh daerah di Pulau Jawa tetap berada pada
peringkat 1 berdasarkan pembagian wilayah ini.

B. Tax perkapita

Tax perkapita adalah perbandingan antara jumlah penerimaan pajak yang dihasilkan
suatu daerah dengan jumlah penduduknya. Tax perkapita menunjukkan kontribusi setiap
penduduk pada Pendapatan suatu daerah (PAD).

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Tax perkapita secara aggregate yang dapat dilihat pada Grafik 2.5 menunjukkan bahwa
Prov. DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki tax perkapita tertinggi, yaitu sebesar
Rp5.201.223 yang berarti setiap penduduk yang ada di Prov. DKI Jakarta memiliki kontribusi
sebesar Rp5.201.223 dalam membentuk penerimaan daerah berupa Pajak Daerah. Pada grafik
ini juga dapat dilihat ketimpangan tax perkapita yg sangat signifikan antara Prov. DKI Jakarta
dengan provinsi yang lainnya. Hal ini dapat disebabkan oleh karena kegiatan perekonomian di
DKI Jakarta sangat besar sehingga menimbulkan basis pajak yang sangat besar. Provinsi lain

DJPK KEMENKEU RI 14
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

yang memiliki tax perkapita tertinggi adalah Prov. Kalimantan Timur sebesar Rp1.058.038 dan
Prov. Bali sebesar Rp632.155.

Grafik 2.5
Rasio Tax perkapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
6,000,000

5,000,000

4,000,000

3,000,000

2,000,000

1,000,000

-
Sulawesi Tengah

Bangka Belitung
Sulawesi Barat
Maluku Utara

Papua
Gorontalo

Maluku

Bengkulu

DI Yogyakarta

Riau
Banten

Sumatera Utara
Lampung

Bali
Nusa Tenggara Barat

Kalimantan Barat

Sulawesi Utara

DKI Jakarta
Nusa Tenggara Timur

Jawa Tengah

Jambi
Jawa Barat

Sumatera Barat

Kalimantan Selatan
Papua Barat

Jawa Timur

Kepulauan Riau

Kalimantan Timur
Aceh

Sumatera Selatan
Sulawesi Tenggara

Kalimantan Tengah
Sulawesi Selatan
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Tax perkapita pada kabupaten kota yang ada di setiap Provinsi, dapat dilihat pada
Grafik 2.6. Pada grafik tersebut Provinsi DKI Jakarta tidak diikutsertakan, dapat dilihat bahwa
ketimpangan tax perkapita pada daerah kabupaten dan kota dalam setiap provinsi juga terjadi
tetapi tidak sebesar ketimpangan yang terjadi pada daerah agregat provinsi, kabupaten dan
kota. Tiga daerah yang memiliki tax perkapita yang tertinggi adalah Bali (Rp348.952),
Kepulauan Riau (Rp335.478) dan Kalimantan Timur (Rp180.515). Daerah Kabupaten kota
memiliki tax perkapita yang rendah hal ini dapat disebabkan oleh karena basis pajak dan
potensi pajak yang rendah diwilayah kabupaten kota.

DJPK KEMENKEU RI 15
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 2.6
Rasio Tax perkapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *)
400,000
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
-

Sulawesi Selatan
Jawa Tengah

Banten
Papua
Bengkulu

Maluku

DI Yogyakarta
Sumatera Utara
Lampung

Nusa Tenggara Barat

Riau
Aceh

Bali
Kalimantan Barat

Jawa Barat
Sulawesi Utara
Bangka Belitung

Kalimantan Timur
Kepulauan Riau
Nusa Tenggara Timur

Jambi

Sumatera Barat

Kalimantan Selatan
Sumatera Selatan

Jawa Timur
Sulawesi Tengah

Sulawesi Barat

Maluku Utara
Gorontalo

Papua Barat
Kalimantan Tengah
Sulawesi Tenggara

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Tax perkapita pada seluruh pemerintah provinsi dapat dilihat bahwa Pemprov. DKI
Jakarta merupakan daerah yang memiliki tax perkapita terbesar dengan jumlah sama dengan
tax perkapita pada aggregat provinsi, kabupaten dan kota. Sedangkan sebaran berdasarkan
pemerintah provinsi terdapat perbedaan dimana 3 Provinsi terbesar yaitu DKI Jakarta
(Rp5.201.223), Kalimantan Timur (Rp877.523) dan Kalimantan Selatan (Rp331.597)

Grafik 2.7
Rasio Tax perkapita Pemerintah Provinsi
6,000,000

5,000,000

4,000,000

3,000,000

2,000,000

1,000,000

-
Sulawesi Utara
Papua

DI Yogyakarta

Sumatera Utara
Lampung

Bengkulu

Banten

Bali
Nusa Tenggara Barat

Maluku

Kalimantan Barat

Riau

DKI Jakarta
Jawa Tengah

Jawa Barat

Bangka Belitung
Aceh

Jambi

Kepulauan Riau

Kalimantan Selatan
Nusa Tenggara Timur

Papua Barat

Sumatera Barat

Kalimantan Timur
Gorontalo
Sulawesi Tengah

Maluku Utara
Sulawesi Barat

Jawa Timur

Sumatera Selatan

Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara

Kalimantan Tengah

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 16
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

4. Per Wilayah
Tax perkapita per wilayah dibagi menjadi 5 wilayah yang terdiri atas Nusa Tenggara-
Maluku-Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa-Bali. Dapat dilihat pada grafik dibawah
ini ketimpangan tax perkapita terlihat lebih rendah. Secara wilayah tax perkapita terbesar ada di
wilayah Jawa Bali, hal ini dapat disebabkan oleh karena tingkat perekonomian di wilayah
tersebut lebih besar dibandingkan daerah yang lainnya.

Grafik 2.8
Rasio Tax perkapita Per Wilayah*)
350,000
300,000
250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
-
Nusa Tenggara, Sulawesi Sumatera Kalimantan Jawa Bali
Maluku, Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Mengacu kepada laporan Fiscal Policy for Growth and Development (World Bank, 2006)
dinyatakan bahwa ruang fiskal (fiscal space) tersedia, jika pemerintah dapat meningkatkan
pengeluarannya tanpa mengancam solvabilitas fiskal (fiscal solvency). Stephen S. Heller (IMF
Policy Discussion Paper, 2005) mengemukakan bahwa ruang fiskal dapat didefinisikan sebagai
ketersediaan ruang yang cukup pada anggaran pemerintah untuk menyediakan sumber daya
tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan tanpa mengancam kesinambungan posisi
keuangan pemerintah. Ruang fiskal diperoleh dari pendapatan umum setelah dikurang
pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) serta belanja yang sifatnya
mengikat seperti belanja pegawai dan belanja bunga.
Ruang fiskal bisa juga muncul dari peningkatan pendapatan di berbagai sektor dan
penurunan kewajiban pembayaran utang. Selain itu, efektivitas penggunaan anggaran di suatu
daerah juga menunjang terciptanya ruang fiskal yang cukup memberi ruang dalam
pembangunan suatu daerah. Dalam hal ini, perencanaan dan penganggaran yang dituangkan
dalam APBD suatu daerah memegang peranan sangat penting. Pemerintah daerah diharapkan
memiliki terobosan untuk memanfaatkan ruang fiskal yang ada guna memacu pertumbuhan
ekonomi.

DJPK KEMENKEU RI 17
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Stimulus berupa kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif
sangatlah diharapkan. Sektor riil seperti perdagangan dan perkembangan usaha kecil dan
menengah yang selama ini masih belum optimal, harus diberi dukungan kebijakan dari
pemerintah. Terkait dengan iklim investasi di suatu daerah, setidaknya ada dua hal yang perlu
diperhatikan. Yang pertama adalah kelompok kebijakan pemerintah yang memengaruhi biaya
seperti pajak, beban regulasi dan pungli, korupsi, infrastruktur, biaya operasi, dan investasi
perusahaan, dan yang kedua, kelompok yang mempengaruhi risiko yang terdiri dari stabilitas
makroekonomi, prediktibilitas kebijakan, hak properti, kepastian kontrak, dan hak untuk
mentransfer keuntungan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.9
Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
90.00

76.7
74.7
73.0
80.00

67.8
65.0
64.6
62.8
62.6
70.00

60.7
59.8
59.7
58.0
56.6
56.4
54.9
53.7
52.6
52.0
52.0

60.00
51.7
50.7
50.4
50.4
49.8
49.6
49.1
48.6
48.2
46.5

55.2
43.4

50.00
41.1
40.6
%

38.1

40.00

30.00

20.00

10.00

.00
Jateng

Sulut

Bengkulu

Banten

Kepri

Papua
Lampung
Jatim
Sulsel

Kalsel

Maluku

Kalteng

Malut
Bali
DIY

NTT

Riau
DKI
NTB

Jabar

Sulteng
Sumbar

Jambi
Gorontalo

Sultra
Sumut

Kalbar

Babel

Sumsel

Kaltim

Papbar
Sulbar

Aceh

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Ruang fiskal per provinsi menunjukkan persentase ruang fiskal seluruh pemda pada suatu
provinsi. Caranya adalah dengan mengurangi pendapatan dengan pendapatan hibah dan
belanja wajib yang berasal dari akumulasi APBD 2011 seluruh pemda di suatu provinsi dan
dibagi dengan total pendapatannya. Dari perhitungan tersebut, sebagaimana digambarkan
pada Grafik 2.9, terlihat besaran 33 ruang fiskal per Provinsi tahun 2011. Dari keseluruhan
provinsi yang ada di Indonesia, Provinsi Papua Barat mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu
mencapai 76,7%. Hal ini dapat disebabkan oleh besarnya penerimaan Provinsi Papua Barat
yang terutama diperoleh dari dana transfer. Oleh karena itu, Provinsi Papua Barat mempunyai

DJPK KEMENKEU RI 18
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

ruang yang cukup luas dalam memenuhi kebutuhan daerahnya untuk mencapai pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi. Sebaliknya, Provinsi Bali merupakan daerah yang memiliki ruang
fiskal terendah yaitu sebesar 38,1%. Dengan demikian, Provinsi Bali harus pandai memilih
belanja yang tepat dalam memanfaatkan ruang fiskal yang ada untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi.
Dari keseluruhan ruang fiskal provinsi di seluruh Indonesia, rata-rata nasionalnya adalah
sebesar 55,2%. Terdapat 14 provinsi yang berada diatas rata-rata nasional dengan rincian
sebagai berikut:

Tabel 2.2
Provinsi yang memiliki Ruang Fiskal
diatas rata-rata Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota (%)
Provinsi Papua Barat 76.70 Provinsi Sumatera Selatan 62.59
Provinsi Papua 74.72 Provinsi Aceh 60.67
Provinsi Kalimantan Timur 72.97 Provinsi Bangka Belitung 59.76
Provinsi Kepulauan Riau 67.75 Provinsi Kalimantan Tengah 59.65
Provinsi DKI Jakarta 65.03 Provinsi Kalimantan Barat 58.01
Provinsi Riau 64.62 Provinsi Banten 56.55
Provinsi Maluku Utara 62.76 Provinsi Maluku 56.36

2. Pemerintah Kabupaten/ Kota Se-Provinsi

Grafik 2.10
Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)
80.00
70.9
70.8
67.8
62.4

70.00
60.9
60.6
58.4
56.1
56.1
55.9
54.1

60.00
51.0
51.0
50.5
49.3
48.6
48.1
47.9
47.6
47.5
47.0
46.9
46.9
46.3
45.5
45.3
42.9
42.3

50.00 50.1
39.5
38.0
35.2
34.3
%

40.00

30.00

20.00

10.00

.00
Malut
Sulut
Bengkulu
Sulbar

Maluku

Kalbar

Papbar
Bali

Lampung

Sulsel

Kalsel
DIY
Jateng

Banten

Kepri

Papua
NTB
Jatim

Jabar

NTT

Kalteng

Riau
Sulteng

Jambi
Sumbar

Sumut

Sultra

Kaltim
Gorontalo

Babel

Sumsel
Aceh

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 19
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Ruang fiskal seluruh pemkab dan pemkot pada suatu provinsi dapat digambarkan pada
grafik 2.10. Dari hasil analisis ini, ruang fiskal tertinggi untuk kabupaten dan kota terdapat di
Provinsi Kalimantan Timur yaitu sebesar 70,9%. Tingginya angka ini dapat disebabkan oleh
pendapatan yang tidak dibatasi penggunaanya yang didominasi oleh sektor pertambangan dan
migas serta sektor kehutanan. Ada pun ruang fiskal terendah terdapat pada kabupaten dan
kota yang berada di Provinsi Bali, yaitu sebesar 34,3%. Rendahnya angka ini disebabkan
tingginya pendapatan yang bersifat earmarked serta belanja wajib, khususnya belanja pegawai.

3. Pemerintah Provinsi

Ruang lingkup analisis ini adalah ruang fiskal pada masing-masing Pemrov.
Sebagaimana berdasarkan aggregate provinsi, kabupaten dan kota , Pemprov. Papua Barat
juga memiliki ruang fiskal yang tertinggi yaitu sebesar 93,7% hal ini dapat disebabkan dana
transfer yang besar yang dialokasikan oleh pemerintah pusat, sedangkan Pemprov. NTT
mempunyai ruang fiskal yang terendah yaitu sebesar 64,4%. Hal ini dapat disebabkan karena
pendapatan daerah yang rendah, disisi lain pendapatan DAU sebagian besar digunakan untuk
belanja pegawai. Gambaran selengkapnya tentang ruang fiskal masing-masing Pemerintah
provinsi di Indonesia dapat dilihat pada Grafik 2.11.

Grafik 2.11
Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

93.7
100.00

88.6
88.0
87.9
87.8
87.1
85.0
84.6
84.5
82.7
80.7

90.00
80.4
79.9
79.5
78.9
78.1
76.4
75.9
74.2
72.8
72.4
71.5
70.9

80.00
70.0
69.0
68.9
68.4
68.0
66.6

77.5
65.2
65.0
64.9
64.4

70.00

60.00
%

50.00

40.00

30.00

20.00

10.00

.00
Lampung
Sulut

Jabar
Bali

Kepri
Bengkulu

Maluku

Malut

Kalsel

Jateng

Banten
Papua
Sulsel

Jatim
NTT

DKI

DIY

Kalteng

Riau
Sulteng
NTB

Jambi
Sumbar
Gorontalo

Sultra

Kalbar

Babel

Sumsel

Sumut

Kaltim
Sulbar

Aceh

Papbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 20
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

4. Per Wilayah

Untuk menghitung ruang fiskal berdasarkan pada pembagian 5 wilayah, maka wilayah
Indonesia dibagi menjadi 5 yang terdiri atas Nusa Tenggara-Maluku-Papua, Sulawesi,
Kalimantan, Sumatera, serta Jawa-Bali. Selanjutnya, seluruh pendapatan dikurangi pendapatan
hibah yang sudah ditentukan penggunaannya serta belanja wajib dari APBD seluruh pemda
suatu wilayah dan kemudian dibagi total pendapatan dimaksud. Dari penghitungan tersebut,
secara berurutan dari ruang fiskal yang paling besar adalah Nusa Tenggara-Maluku- Papua,
Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, serta Jawa-Bali sebagaimana ditunjukkan oleh Grafik 2.12.
Besarnya ruang fiskal pada wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua, yaitu sebesar 65,0%,
disebabkan oleh pendapatan transfer yang sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian
besar daerah di wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua mempunyai ruang fiskal yang cukup
melakukan belanja pemerintah (government spending) untuk pembangunan di daerahnya.
Kebutuhan dasar daerah untuk belanja pegawai/gaji PNSD telah terpenuhi dan masih tersisa
cukup memadai untuk mendanai pembangunan di daerah. Ruang Fiskal yang tinggi sangat
menunjang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula dengan semakin
meningkatnya percepatan pembangunan di daerah yang bersangkutan. Sementara itu, wilayah
yang memiliki ruang fiskal terendah adalah Jawa Bali yaitu sebesar 49,5%. Hal ini disebabkan
oleh sumber pendapatan dari dana tranfer pusat relatif kecil dibandingkan dengan 4 wilayah
yang lainnya.

Grafik 2.12
Ruang Fiskal Per Wilayah*)
70.00 65.0
64.0

60.00 56.6
50.5 55.9
49.5
50.00

40.00
%

30.00

20.00

10.00

.00
Jawa Bali Sulawesi Sumatera Kalimantan NT Maluku Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 21
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

D. Rasio Kemandirian Daerah


Rasio kemandirian ditunjukkan oleh rasio PAD terhadap total pendapatan serta rasio
transfer ke daerah (termasuk di dalamnya dana perimbangan) terhadap total pendapatan. Dua
rasio yang mewakili tersebut, meskipun menunjukkan kemandirian daerah, namun memiliki
makna yang berbeda atas angka-angkanya. Rasio PAD terhadap totalnya memiliki makna
yang berkebalikan dengan rasio transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka
rasio PAD maka kemandirian daerah semakin besar. Sebaliknya, makin besar angka rasio
transfer, maka akan semakin kecil tingkat kemandirian daerah dalam mendanai belanja daerah.
Oleh karena itu, daerah yang memiliki tingkat kemandirian yang baik adalah daerah yang
memiliki rasio PAD yang tinggi sekaligus rasio transfer yang rendah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota


Ruang lingkup analisis ini adalah rasio kemandirian daerah seluruh pemda di suatu
provinsi. Penghitungannya dilakukan dengan menjumlahkan PAD seluruh pemda pada satu
provinsi kemudian membaginya dengan total pendapatan untuk wilayah yang sama. Hal yang
sama juga berlaku untuk rasio transfer. Dari perhitungan tersebut diperoleh potret rasio PAD
dan Transfer terhadap pendapatan seluruh pemda yang dikelompokkan per provinsi
sebagaimana yang ditunjukkan pada Grafik 2.13. Dari grafik tersebut juga terlihat bahwa DKI
Jakarta memiliki rasio PAD yang paling tinggi, yaitu sebesar 61,4%, sekaligus rasio transfer
terendah yaitu sebesar 36,3%. Sebaliknya, Provinsi Papua Barat memiliki rasio PAD terendah
serta rasio transfer tertinggi yang masing-masing menunjukkan angka 3,5% dan 95,8%. Hal ini
menunjukkan bahwa, DKI Jaya memiliki kemandirian daerah yang paling baik dibandingkan
provinsi-provinsi yang lain, dan sebaliknya, Provinsi Papua Barat menunjukkan tingkat
kemandirian yang paling rendah. Tingginya tingkat kemandirian di Provinsi DKI tersebut
disebabkan oleh tingginya sumber-sumber PAD khususnya dari pajak daerah dan retribusi
daerah, sedangkan rendahnya tingkat kemandirian di Provinsi Papua Barat disebabkan oleh
rendahnya pajak daerah dan retribusi daerah di wilayah tersebut. Tingkat kemandirian daerah
seluruh provinsi di Indonesia ditunjukkan oleh Grafik 2.13 berikut ini.

DJPK KEMENKEU RI 22
2.
%

20.00
40.00
60.00
80.00
100.00
120.00

.00
% Aceh
7.9 91.0
Sumut
21.3 77.3

100.00
120.00

.00
20.00
40.00
60.00
80.00
Sumbar
Aceh 15.2 83.1

DJPK KEMENKEU RI
5.6 90.3 Riau
13.8 85.4
Sumut
9.2 84.6 Jambi
11.5 87.8
Sumbar
6.8 88.3 Sumsel
13.8 84.3
Riau
7.0 88.2 Bengkulu
10.9 84.9
Jambi
5.0 91.3 Lampung
12.3 84.0

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


Sumsel
5.4 89.0

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


DKI

*) Tidak termasuk DKI Jakarta


Bengkulu 36.3 61.4
4.0 89.5

PAD /Pend
Jabar
Lampung 26.6 73.1
3.7 88.5 Jateng
Jabar 20.2 78.8
12.8 78.3 DIY
24.3 75.0

PAD /Pend
Jateng
9.9 82.5 Jatim
DIY 27.7 71.8
14.2 78.3 Kalbar
Jatim 11.3 86.9
13.4 79.3 Kalteng
Kalbar 11.0 87.8
4.8 89.4 Kalsel
Kalteng 18.2 77.0
4.6 91.7

Transf/ Pend
Kaltim
Kalsel
6.1 82.7 16.0 83.5
Sulut
Kaltim
6.3 83.0 9.9 89.3

Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi


Grafik 2.13

Sulteng

Transf/ Pend
8.4 91.2

Grafik 2.14
Sulut
4.4 92.3 Sulsel
Sulteng
4.5 93.1 17.6 81.8
Sultra
Sulsel
7.8 85.6 11.6 86.4
Series3

Bali
Sultra
6.7 89.3 35.7 59.6
NTB
Bali
26.1 63.5 15.5 81.7
NTT

Series3
NTB
8.2 85.6 8.0 91.8
NTT Maluku
5.3 93.6 6.5 89.8
Maluku Papua
3.6 91.0 3.5 95.8
Series4

Papua Malut
2.8 95.5 7.7 91.5
Rasio Kemandirian Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Malut Banten
7.0 91.4 32.4 65.0
Banten Babel
16.5 69.9

Series4
14.6 84.1

Rasio Kemandirian Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)


Babel Gorontalo
7.9 86.3 8.7 90.8
Gorontalo Kepri
5.9 91.8 18.9 79.6
Kepri
14.9 79.0 Papbar
2.7 95.8
Papbar
2.6 94.6 Sulbar
6.3 93.4
79.0

Sulbar
3.5 95.1

23
19.6
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

85.0

8.6
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Pada Grafik 2.14 nampak bahwa rasio kemandirian tertinggi terdapat pada seluruh
pemkab dan pemkot di Provinsi Bali yaitu sebesar 26,1 % sedangkan yang terendah adalah di
pemkab dan pemkot di Provinsi Papua Barat sebesar 2,6%. Sedangkan rasio dana transfer
terhadap total pendapatan tertinggi adalah pemkab dan pemkot di Provinsi Sulawesi Barat
sebesar 95,1% dan terendah di pemkab dan pemkot di Provinsi Bali yaitu 63,5%.

3. Pemerintah Provinsi

PAD tertinggi dicapai oleh Pemprov Jawa timur sebesar 76,9 % dan terendah dimiliki oleh
pemda provinsi papua barat 2,9%. Sebaliknya, transfer tertinggi terhadap total pendapatan
adalah provinsi papua barat sebesar 97,5 % dan terendah adalah provinsi Jawa Timur sebesar
22,9%. Data tersebut ditunjukkan pada grafik 2.15.

Grafik 2.15
Rasio Kemandirian Pemerintah Provinsi
100.00

88.6

80.7
90.00
76.9
75.0

74.0

74.0
71.8

71.5

71.3
71.2

71.1
71.0

80.00 65.5
62.8

62.0

62.1
61.4
60.6

60.0

70.00
59.2

58.9

58.3
57.6

56.8

55.9

44.4 54.9
54.7

54.1

50.3
50.2

60.00
49.3
45.5
45.0

45.7

42.2

50.1
41.4
41.0
40.8

50.00

39.4
%

39.0

38.0
36.8

35.9

49.0
34.5
34.2

32.9
35.1

32.8
40.00
29.2
28.8

28.8

28.7
28.5
28.4

27.9
24.9
11.3 24.6

22.9

20.1

30.00
19.3

15.9
11.1

20.00
5.7

10.00 2.9

.00
Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Jambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI
Jabar
Jateng
DIY
Jatim
Kalbar
Kalteng
Kalsel
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Sultra
Bali
NTB
NTT
Maluku
Papua
Malut
Banten
Babel
Gorontalo
Kepri
Papbar
Sulbar

PAD /Pend Transf/ Pend Avg PAD/pend Avg Transf/pend

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Analisis rasio kemandirian daerah yang terbagi menjadi lima wilayah yaitu Sumatera,
Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, serta Papua-Maluku-Nusatenggara.dimaksudkan untuk
menunjukkan seberapa besar kemandirian daerah pada lima kelompok wilayah yang berbeda.
Berikut analisis terkait rasio kemandirian daerah untuk ke-5 wilayah dimaksud sebagaimana
nampak pada Grafik 2.16.

DJPK KEMENKEU RI 24
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 2.16
Rasio Kemandirian Per Wilayah*)
100.00 92.4
84.0 86.7
90.00 83.6
79.6
80.00
70.00 65.6

60.00
50.00
%

40.00 32.9
30.00
19.0
20.00 14.7 14.4 12.5
10.00 6.3

.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

PAD /Pend Transf/ Pend Series3 Series4

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Rasio Pendapatan Asli Daerah terhadap Total Pendapatan

Berdasarkan pembagian 5 wilayah, Ratio PAD terhadap total pendapatan wilayah Jawa-
Bali mempunyai rasio yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya yaitu sebesar
32,9%. Hal ini membuktikan bahwa ketergantungan daerah-daerah di wilayah Jawa-Bali
terhadap Dana Perimbangan dan Dana Transfer lainnya relatif tidak terlalu tinggi. Daerah-
daerah di Jawa-Bali relatif lebih mampu menggali sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah
untuk menutup belanjanya. Hal ini berbeda dengan wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua
yang mana rationya sangat rendah yaitu sebesar 6,3%. Namun demikian, secara umum ke-5
wilayah tersebut masih memiliki rasio PAD terhadap total pendapatan di bawah 50% yang
artinya masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap Pusat atau memiliki rasio
kemandirian daerah yang rendah.

Rasio Transfer terhadap Total Pendapatan

Makna rasio transfer terhadap total pendapatan adalah sama dengan makna rasio dana
perimbangan, yaitu bahwa semakin besar rasio transfer maka semakin rendah kemandirian
daerah. Sebaliknya, semakin rendah angkanya akan semakin tinggi tingkat kemandirian
daerah atau semakin rendah tingkat ketergantungan daerah terhadap dana pusat.
Berdasarkan rasio ini, sebagaimana ditunjukkan Grafik 2.16, wilayah Jawa-Bali memiliki angka
yang paling rendah yaitu 65,6%, sama dengan rasio dana perimbangan. Dengan demikian,
berdasarkan kedua rasio tersebut, wilayah Jawa-Bali memiliki tingkat kemandirian yang paling
tinggi atau tingkat ketergantungan dengan dana pusat yang paling rendah.

DJPK KEMENKEU RI 25
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Perbedaan terjadi antara wilayah yang memiliki rasio dana perimbangan per total pendapatan
dengan rasio transfer ke daerah per total pendapatan. Rasio dana perimbangan tertinggi
terdapat di wilayah Sulawesi, sedangkan rasio transfer tertinggi adalah wilayah Nusa Tenggara-
Maluku-Papua (92,4%). Dalam hal ini, daerah yang memiliki rasio kemandirian daerah terendah
adalah Nusa Tenggara-Maluku-Papua dan bukan Sulawesi. Perbedaan utamanya adalah
komponen dana transfer dari pusat selain dana perimbangan yang diterima wilayah Nusa
Tenggara-Maluku-Papua lebih besar dibandingkan Sulawesi. Mengingat dana otonomi khusus
yang diterima Papua dan Papua Barat relatif signifikan serta adanya dana penyesuaian lain
yang juga diterima oleh seluruh pemda di wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua menunjukkan
adanya kesenjangan infrastuktur di wilayah tersebut dengan wilayah-wilayah lain di negara ini.

DJPK KEMENKEU RI 26
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

BAB III
ANALISIS BELANJA DAERAH

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Rasio ini memperlihatkan rasio belanja pegawai terhadap belanja daerah. Semakin
tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk belanja
pegawai dan begitu sebaliknya semakin kecil angka rasio belanja pegawai maka semakin kecil
pula proporsi APBD yang dialokasikan untuk belanja pegawai APBD. Belanja pegawai yang
dihitung dalam rasio ini melipui belanja pegawai langsung dan belanja pegawai tidak langsung.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio belanja pegawai terhadap
total belanja daerah adalah 46,2%. Rasio belanja pegawai agregat provinsi, kabupaten, dan
kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 13 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata
nasional, sedangkan 20 provinsi yang lain memiliki rasio belanja pegawai yang lebih diatas
rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai paling kecil adalah Prov. Papua
Barat, yaitu sebesar 26,8%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar
adalah Prov. DI. Yogyakarta dengan rasio sebesar 61.0%.
Selain itu, Grafik 3.1 menunjukkan bahwa terdapat 14 provinsi yang memiliki rasio
belanja pegawai lebih dari 50,0%. Hal ini berarti bahwa pada daerah-daerah tersebut, belanja
daerahnya masih didominasi oleh belanja pegawai. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian,
karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-
nya untuk jenis-jenis belanja selain belanja pegawainya.. Hal ini akan menyebabkan
keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar belanja pegawai yang bisa didanai,
khususnya yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

DJPK KEMENKEU RI 27
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.1
Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah
Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
70.00

61.0
58.9
54.6
54.6
54.4
54.3
53.8
60.00

52.9
52.7
52.7
52.2
52.0
50.4
50.2
49.4
48.9
48.7
48.0
46.4
46.2
45.7
44.7
43.5
50.00

41.8
41.8
41.5
39.7
38.1
46.2
35.0
34.9
%

40.00
30.1
29.8
26.8

30.00

20.00

10.00

.00
Papbar
Kaltim
Papua
DKI
Kepri
Riau
Malut
Sumsel
Kalteng
Aceh
Babel
Kalbar
Banten
Maluku
Kalsel
Jambi
Sulbar
NTT
Sultra
Jabar
Sumut
Jatim
Bengkulu
Gorontalo
Sulut
Sulteng
Lampung
Sulsel
NTB
Sumbar
Bali
Jateng
DIY
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Grafik 3.2 memperlihatkan rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-
provinsi terhadap total belanjanya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio belanja
pegawai pemkab dan pemkot se-provinsi di atas 30,0%, dengan rata-rata sebesar 51,1%.
Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi mengalokasikan lebih
dari setengah belanja daerahnya untuk membayar belanja pegawai daerah. Dari angka rata-
rata tersebut, sebanyak 14 provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih rendah dan 18
provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih besar. Pemerintah kabupaten dan kota se-
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki rasio belanja pegawai terbesar yaitu
sebesar 66,9%, sedangkan yang memiliki rasio belanja pegawai terhadap belanja daerah
terkecil adalah pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Kalimantan Timur dengan rasio
sebesar 31,9%.

DJPK KEMENKEU RI 28
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.2
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah
Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
80.00

66.9
61.5
70.00

59.9
58.7
58.7
57.7
56.8
56.7
56.3
56.2
55.7
55.4
54.9
54.7
54.3
53.8
53.2
52.7
60.00

50.6
49.8
49.4
48.0
47.9
46.7
45.8
44.2
50.00
41.4
41.2
51.1
38.7
36.5
%

33.8
31.9

40.00

30.00

20.00

10.00

.00
Kaltim
Papua
Papbar
Kepri
Riau
Malut
Kalteng
Sumsel
Kalbar
Maluku
Babel
Kalsel
NTT
Jambi
Banten
Sultra
Jabar
Sulbar
Sulut
Bengkulu
Sumut
Sulteng
Gorontalo
Jatim
Lampung
Sulsel
Sumbar
Aceh
NTB
Bali
Jateng
DIY
Sumber: APBD 2011 (Diolah)
*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Rasio belanja pegawai pemerintah provinsi di Indonesia memiliki persentase rata-rata
sebesar 24,7%. Sebanyak 13 provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih rendah
dibandingkan rata-rata rasio tersebut dan sedangkan 20 provinsi lainnya di atas rata-rata.
Grafik 3.3 memperlihatkan bahwa pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai
terbesar adalah Pemprov Nusa Tenggara Timur dengan rasio sebesar 38,2%, sedangkan
pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai terkecil adalah Pemprov Papua Barat
yang sebesar 9,1%. Grafik tersebut menunjukkan bahwa rasio belanja pegawai pemerintah
provinsi relatif lebih rendah daripada rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-
provinsi.

DJPK KEMENKEU RI 29
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.3
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi
45.00

38.2
37.6
36.7
35.7
34.9
34.9
40.00

33.8
33.5
30.7
29.8
29.8
29.8
35.00

29.4
28.6
27.2
27.1
26.5
26.3
25.9
25.0
30.00

22.9
22.4
21.9
21.5
20.8
25.00
%

19.3
18.7
24.7
17.4
15.9
14.9
14.8

20.00
13.7

15.00
9.1

10.00
5.00
.00
Papbar
Banten
Aceh
Kaltim
Papua
Sumut
Kepri
Sumsel
Jabar
Riau
Jatim
Babel
Jateng
Kalteng
Sulsel
Kalsel
Kalbar
Sulbar
Bali
Malut
Lampung
NTB
Sultra
Jambi
Sumbar
DIY
Sulteng
DKI
Gorontalo
Maluku
Sulut
Bengkulu
NTT
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Grafik 3.4 memperlihatkan rasio belanja pegawai per wilayah terhadap total belanja
daerahnya. Terlihat bahwa wilayah Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi, yaitu
sebesar 52,5% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka
sebesar 37,5%. Selain wilayah Sulawesi, wilayah Jawa-Bali juga memiliki angka rasio di atas
50,0%, yaitu tepatnya 50,6%, sedangkan wilayah lainnya di bawah angka tersebut. Dengan
demikian, Jawa-Bali dan Sulawesi mengalokasikan lebih dari setengah belanja daerahnya
untuk membayar belanja pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi belanja daerah yang dapat
digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai.

Grafik 3.4
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*)
60.00
52.5
50.6
50.00 45.5
45.8
37.5 38.4
40.00
%

30.00

20.00

10.00

.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 30
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

B. Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja Daerah

Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja daerah mencerminkan
porsi belanja daerah terhadap pembayaran gaji pegawai PNSD. Semakin besar rasionya maka
semakin besar belanja daerah yang dibelanjakan untuk membayar gaji pegawai daerah dan
sebaliknya, semakin kecil angka rasionya maka semakin kecil belanja daerah yang
dipergunakan untuk membayar gaji pegawai daerah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota


Secara Agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata pengeluaran daerah untuk
membayar gaji pegawai daerah adalah 41,0%. Dari 33 provinsi di Indonesia yang memiliki
angka rasio dibawah angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota ada 13 provinsi dan
selebihnya angka rasionya melebihi angka rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Ini
menandakan bahwa sebagian besar daerah di Indonesia anggaran belanja daerahnya banyak
yang terkuras untuk membayar gaji pegawai daerah. Sama halnya dengan rasio belanja
pegawai terhadap total belanja daerah, maka rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap
total belanja daerah yang terkecil juga terdapat pada Prov. Papua Barat dengan nilai sebesar
22,2%, sedangkan daerah yang memiliki rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total
belanja daerah terbesar adalah Prov. Jawa Tengah, yaitu sebesar 55,1%.

Grafik 3.5
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja
Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

54.7
55.1
60.00
52.5
51.0
50.4
49.1
48.8
48.3
47.8
46.9
46.9
46.3
45.3
45.3
45.2
44.2
43.6

50.00
42.6
41.4
41.1
39.9
38.7
37.5
37.0
36.4
36.2
34.2

40.00 41.0
30.8
30.6
25.8
%

24.5

30.00
22.5
22.2

20.00

10.00

.00
Papbar
Kaltim
Papua
Kepri
DKI
Riau
Malut
Babel
Aceh
Sumsel
Kalteng
Banten
Kalbar
Kalsel
Maluku
Jambi
Sulbar
NTT
Jabar
Sumut
Sultra
Bengkulu
Jatim
Gorontalo
Sulut
Sulteng
Sulsel
Lampung
Sumbar
NTB
Bali
DIY
Jateng

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 31
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Rasio belanja pegawai tidak langsung pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi
terhadap belanja daerahnya memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio belanja pegawai
tidak langsung adalah 46,0% dari belanja daerah. Sebanyak 15 provinsi memiliki rasio belanja
pegawai tidak langsung yang lebih kecil dari rata-rata dan 17 provinsi memiliki rasio yang lebih
besar dari rata-rata. Dari Grafik 3.6 terlihat bahwa pemerintah kabupaten dan kota di Prov. DI
Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai tidak langsung yang tertinggi yaitu 60,7%,
sedangkan pemerintah kabupaten dan kota di Prov. Kalimantan Timur memiliki rasio terendah
dengan angka sebesar 24,2%. Grafik tersebut juga memperlihatkan sebanyak 25 provinsi
memiliki rasio di atas 40,0%, dan sisanya sebanyak 7 provinsi di bawah angka tersebut. Kondisi
ini perlu mendapatkan perhatian karena itu berarti mayoritas daerah membelanjakan lebih dari
40,0% untuk belanja pegawai tidak langsung dan sisanya baru dibagi oleh bermacam jenis
belanja lainnya.

Grafik 3.6
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Belanja Daerah
Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
70.00

60.7
57.9
57.7
55.2
53.7
52.5
52.1
52.2
51.5
60.00 51.5
50.2
50.1
50.1
49.8
49.0
48.9
48.8
45.4
45.2
45.1
44.2
43.3
41.9
41.6

50.00
40.3
39.8
35.5

46.0
33.6
31.1

40.00
29.6
27.8
%

24.2

30.00

20.00

10.00

.00
Kaltim
Papua
Kepri
Papbar
Riau
Malut
Babel
Kalteng
Sumsel
Kalbar
Maluku
Kalsel
Jambi
Banten
NTT
Jabar
Sultra
Bengkulu
Sulut
Sumut
Sulbar
Gorontalo
Sulsel
Sulteng
Jatim
Aceh
Lampung
Sumbar
NTB
Bali
Jateng
DIY

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap belanja daerah pemerintah provinsi
memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio belanja pegawai tidak langsung adalah 20,2%
belanja daerah. Berdasarkan angka rata-rata rasio belanja pegawai tidak langsung tersebut,
sebanyak 15 provinsi memiliki rasio yang lebih kecil dari angka tersebut, dan 18 provinsi
memiliki rasio yang lebih besar. Selanjutnya, Grafik 3.7 memperlihatkan bahwa Pemprov

DJPK KEMENKEU RI 32
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Sulawesi Utara memiliki rasio tertinggi sebesar 32,4%, sedangkan yang terendah, adalah
Pemprov Papua Barat, memiliki rasio sebesar 6,0%.

Grafik 3.7
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

32.4
32.0
32.3
35.00

30.6
30.5
30.4
28.1
27.9
27.3
26.9
26.7
26.0
30.00

25.4
25.3
23.3
22.3
21.6
21.1
25.00

19.5
19.5
19.2
18.9
17.5
16.6
20.00 20.2
%

14.6
14.1
13.8
11.8
11.4

15.00
10.7
10.7
9.9

10.00
6.0

5.00

.00
Papbar
Banten
Kaltim
Kepri
Aceh
Papua
Sumut
Jatim
Sumsel
Riau
Jabar
Sulbar
Babel
Kalteng
Jateng
Sulsel
Kalsel
Kalbar
Lampung
Malut
Jambi
Bali
Sumbar
Sultra
NTB
DIY
Sulteng
Gorontalo
Maluku
DKI
Bengkulu
NTT
Sulut
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Grafik 3.8 memperlihatkan rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja
daerah per wilayah di Indonesia. Sebagaimana rasio belanja pegawai terhadap total belanja,
wilayah Sulawesi masih memiliki rasio tertinggi (46,2%) diikuti oleh Jawa-Bali (43,6%),
sedangkan wilayah yang memiliki rasio belanja tidak langsung terendah adalah Kalimantan
(30,0%).

Grafik 3.8
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Belanja Daerah per Wilayah *)
50.00 46.2
43.6
45.00
38.8
40.00
35.00 33.2
30.0
%

30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
.00
Kalimantan NT Maluku Papua Sumatera Jawa Bali Sulawesi

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 33
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

C. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah


Rasio belanja modal terhadap total belanja daerah mencerminkan porsi belanja daerah
yang dibelanjakan untuk belanja modal. Belanja Modal sendiri ditambah belanja barang dan
jasa, merupakan belanja pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu daerah selain dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri. Oleh karena
itu, semakin tinggi angka rasionya, semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin buruk pengaruhnya terhadap pertumbuhan
ekonomi.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota


Grafik 3.9 menunjukkan rasio belanja modal terhadap total belanja secara agregat
provinsi, kabupaten dan kota. Persentase rasio seluruh provinsi masih di bawah 40,0% dan
rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota sebesar 22,9%. Dari jumlah tersebut, sebanyak
19 provinsi masih memiliki rasio dibawah rata-rata, sedangkan 14 provinsi berada di atas rata-
rata. Selain itu, Provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Prov. DI. Yogyakarta dengan
angka sebesar 11,1% sedangkan rasio tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur, yaitu
sebesar 38,0%. Kondisi di atas menunjukkan sebagian besar provinsi di Indonesia masih
menganggarkan belanja modal dengan proporsi yang kecil, yaitu dibawah 24,0%. Itu berarti
bahwa sebagian daerah masih belum memberikan perhatian yang cukup untuk mendorong
pertumbuhan ekonominya.

Grafik 3.9
Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah
Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
40.00 38.0
34.1
30.9

35.00
29.4
29.3
29.0
28.9
28.2
27.5
26.8
26.3
25.6
25.6
25.5

30.00
23.7
23.6
23.4
23.3
23.3
23.0
22.3
21.7
21.4
21.1

25.00
20.2
20.2
20.0
18.5
%

22.9
16.4
16.2

20.00
14.1
12.2
11.1

15.00

10.00

5.00

.00
DIY
Bali
Jateng
Jabar
Jatim
Aceh
Sumbar
Sulsel
Lampung
Sulteng
Bengkulu
NTB
NTT
Banten
Kepri
Sulbar
Sumut
Gorontalo
Sulut
Kalbar
Maluku
Sultra
Papbar
Kalsel
Jambi
Sumsel
DKI
Babel
Papua
Kalteng
Riau
Malut
Kaltim

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 34
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Rasio belanja modal terhadap belanja daerah yang ditunjukkan oleh grafik 3.10
memperlihatkan bahwa secara rata-rata nasional rasio belanja modal terhadap belanja daerah
adalah 22,5%. Sebanyak 16 provinsi memiliki rasio belanja modal lebih besar dari rata-rata,
sedangkan 16 provinsi memiliki rasio belanja modal terhadap belanja pegawai yang lebih kecil
dari rata-rata. Pemerintah kabupaten dan kota di Prov. Kalimantan Timur memiliki rasio belanja
modal yang terbesar yaitu sebesar 38,0%, sedangkan pemerintah kabupaten dan kota di
Prov.DI Yogyakarta memiliki rasio terkecil yaitu 11,00%.

Grafik 3.10
Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah
Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

38.0
40.00

33.5
32.1
31.6
35.00

29.8
29.7
27.0
26.7
26.4
26.0
25.8
30.00

24.9
24.7
24.4
24.3
24.0
23.1
22.3
22.1
22.0
21.3
21.2

25.00
20.5
20.5
19.3
18.8
%

17.4

22.5
17.1
16.9

20.00
14.5
12.0
11.0

15.00

10.00

5.00

.00
DIY
Bali
Jateng
Aceh
Jabar
Jatim
Lampung
Sumbar
Sulsel
NTB
Sumut
Bengkulu
Sulbar
Sulteng
Banten
NTT
Babel
Sultra
Sulut
Kepri
Gorontalo
Kalbar
Kalsel
Maluku
Jambi
Sumsel
Riau
Kalteng
Papbar
Papua
Malut
Kaltim
Sumber: APBD 2011 (Diolah)
*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Profil rasio belanja modal pemerintah provinsi terhadap total belanja daerahnya dapat
dilihat pada Grafik 3.11. Grafik tersebut memperlihatkan kisaran rasio antara 7,1% hingga
39.8% dengan rasio tertinggi terdapat di Pemprov. Aceh dan terendah di Pemprov. Jawa
Tengah. Rata-rata rasio belanja modal pemerintah provinsi terhadap belanja daerah adalah
20,7% dengan 19 pemerintah provinsi memiliki rasio belanja modal lebih kecil dari rata-rata,
dan 14 provinsi lebih besar dari rata-rata.

DJPK KEMENKEU RI 35
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.11
Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi
45.00

39.8
36.7
40.00

31.6
35.00

29.3
29.3
28.9
28.3
27.9
27.5
27.2
30.00

24.6
24.3
24.1
22.9
21.2
20.5
%

20.2
19.9
25.00

19.6
18.8
18.4
17.2
16.8
16.7
16.1
14.8
20.00 20.7
14.2
13.0
10.2

15.00
9.4
8.5
7.7
7.1

10.00
5.00
.00
Jateng
Jabar
Jatim
DIY
Bali
Sulsel
Sulteng
NTT
Kepri
Papbar
Gorontalo
Sulut
Papua
Banten
Kalbar
Bengkulu
Aceh
Maluku
Sumbar
Lampung
NTB
Kalteng
Kalsel
Sulbar
Kaltim
Jambi
Sumut
DKI
Sumsel
Sultra
Riau
Malut
Babel
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Grafik 3.12 menunjukkan rasio belanja modal terhadap total belanja daerah di 5 wilayah
yaitu Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Papua. Grafik
tersebut memperlihatkan rata-rata rasio 5 wilayah sebesar 23,51%. Dari grafik dapat dilihat
bahwa belanja modal di 3 wilayah (Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Papua) lebih
besar dibandingkan dengan rata-rata rasio. Sedangkan untuk wilayah Jawa Bali dan Sulawesi
memiliki rasio lebih besar daripada rasio rata-rata. Belanja modal yang tertinggi terdapat di
wilayah Kalimantan yaitu 32,3% dan yang terkecil terdapat di wilayah Jawa Bali yaitu 18,3%.

Grafik 3.12
Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah*)
35.00 32.3

30.00
26.6
24.2
25.00 22.2
23.5
%

20.00 18.3

15.00

10.00

5.00

.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 36
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

D. Rasio Belanja Daerah Terhadap Jumlah Penduduk


Rasio belanja daerah terhadap jumlah penduduk (belanja daerah perkapita)
menunjukkan seberapa besar belanja yang digunakan untuk menyejahterakan per penduduk di
suatu daerah. Semakin besar nilainya, semakin besar besar belanja yang dikeluarkan untuk
menyejahterakan satu orang penduduk wilayah tersebut sehingga semakin besar kemungkinan
tercapainya. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan
pemda untuk menyejahterakan penduduknya. Namun demikian, rasio ini sebaiknya juga dirinci
lagi menjadi per jenis belanja perkapita sehingga akan lebih memperlihatkan kontribusi dari
setiap jenis belanja sebagai faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota


Terkait rasio ini, berdasarkan grafik 3.13, terlihat bahwa daerah-daerah di wilayah timur
Indonesia memiliki rasio yang relatif tinggi, sedangkan daerah-daerah di Pulau Jawa memiliki
rasio yang terendah. Hal ini disebabkan oleh karena daerah-daerah di wilayah timur Indonesia
jumlah penduduknya masih sedikit sedangkan belanja yang dialokasikan adalah tinggi.
Sebaliknya provinsi yang berada di pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang besar dengan
alokasi belanja yang tidak berbeda jauh dengan wilayah Indonesia Timur.
Berdasarkan data agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata belanja daerah
perkapita adalah 2,1 juta rupiah. Artinya, rata-rata pemda di Indonesia membelanjakan
sebanyak Rp2,1 juta per penduduknya. Dari jumlah itu, sebanyak 10 Provinsi memiliki rasio
belanja daerah perkapita di atas jumlah tersebut, dan 23 provinsi memiliki rasio belanja daerah
perkapita dibawahnya. Provinsi yang mempunyai rasio belanja daerah perkapita tertinggi
adalah Prov. Papua Barat, yaitu sebesar Rp12,9 juta sedangkan yang memiliki rasio terendah
adalah Prov. Jawa Barat dengan nilai sebesar Rp1,0 juta.

Grafik 3.13
Rasio Belanja Daerah perkapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
12.9

14.00
10.6

12.00

10.00
8.3
8.1

8.00
4.9
4.7

6.00
4.6
4.5
4.1
3.8
3.5
3.4
3.3
3.3
3.2
3.2
2.8
2.7
2.7
2.6

4.00
2.5
2.4
2.4
2.3
2.1
1.9
1.9
1.8
1.7
1.3

2.1
1.2
1.2
1.0

2.00

.00
Jabar
Banten
Jateng
Jatim
DIY
Lampung
NTB
Sumut
Sulsel
Sumsel
NTT
Kalbar
Bali
Sumbar
Sulteng
Jambi
Sulbar
Kalsel
Gorontalo
Sultra
Bengkulu
Sulut
Babel
Riau
Maluku
Kalteng
Aceh
Malut
Kepri
Kaltim
Papua
DKI
Papbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 37
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Grafik 3.14 yang menunjukkan rasio belanja daerah terhadap jumlah penduduk (belanja
daerah perkapita) memperlihatkan bahwa kabupaten dan kota di wilayah timur Indonesia
memiliki rasio tertinggi, sedangkan kabupaten dan kota di Pulau Jawa memiliki rasio yang
terendah. Hal ini disebabkan oleh karena kabupaten dan kota di wilayah timur Indonesia jumlah
penduduknya masih sedikit sedangkan pendapatan daerah baik dari PAD maupun dana
perimbangan sangat tinggi. Sebaliknya kabupaten dan kota yang berada di pulau Jawa memiliki
jumlah penduduk yang besar dan pendapatan daerah yang terbatas. Rata-rata belanja daerah
kabupaten dan kota se-provinsi perkapita adalah Rp1,6 juta. Sebanyak 12 Provinsi memiliki
rasio belanja daerah perkapita di atas rata-rata, dan 21 provinsi memiliki rasio dibawah rata-rata
tersebut. Kabupaten dan kota yang mempunyai rasio belanja daerah perkapita tertinggi berada
di Prov. Papua Barat dengan Rp8,3 juta. Sedangkan kabupaten dan kota yang memiliki rasio
belanja perkapita terendah adalah Prov. Jawa Barat yaitu sebesar Rp0,9 juta.

Grafik 3.14
Rasio Belanja Daerah Perkapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

8.3
9.00
Juta Rupiah

8.00

6.6
6.6
7.00
6.00
5.00

4.1
3.9
3.8
3.4

4.00
3.1
2.9
2.8
2.7
2.7
2.7
2.6
2.6
2.3
2.3
2.3

3.00
2.2
2.2
2.1
2.0
1.9
1.8
1.6
1.6
1.5
1.3

2.00
1.1
1.1
0.9
0.9

1.6
1.00
.00
Jabar
Banten
Jateng
Jatim
DIY
Lampung
NTB
Sumut
Sumsel
Sulsel
Bali
Kalbar
NTT
Sulbar
Sumbar
Sulteng
Jambi
Gorontalo
Kalsel
Bengkulu
Sultra
Babel
Aceh
Sulut
Riau
Maluku
Kalteng
Kepri
Malut
Papua
Kaltim
Papbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Rasio belanja daerah terhadap jumlah penduduk (belanja daerah perkapita) ditunjukkan
pada grafik 3.15. Dari grafik tersebut terlihat bahwa secara rata-rata belanja daerah pemerintah
provinsi perkapita adalah Rp0,5 juta. Sebanyak 26 pemprov. memiliki rasio belanja daerah
perkapita di atas rata-rata, dan hanya 7 pemprov. yang memiliki rasio belanja daerah perkapita
dibawah rata-rata. Pemerintah Provinsi yang mempunyai rasio belanja daerah perkapita
tertinggi adalah di Pemprov. DKI Jakarta yaitu sebesar Rp10,6 juta, sedangkan pemerintah

DJPK KEMENKEU RI 38
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

provinsi yang memiliki rasio belanja perkapita terendah adalah Pemprov. Jawa Tengah dengan
rasio sebesar Rp0,2 juta.

Grafik 3.15
Rasio Belanja Daerah perkapita Pemerintah Provinsi
12.00

10.6
Juta Rupiah

10.00

8.00

6.00

4.6
4.00

2.0
1.8
1.8
1.2
2.00

0.9
0.8
0.8
0.7
0.7
0.7
0.7
0.6
0.6
0.6
0.6
0.6
0.5
0.5
0.5
0.5
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.3
0.3
0.3
0.3
0.2
0.2

.00 0.5
Jateng
Jabar
NTT
Jatim
Lampung
Banten
Sumut
NTB
Sulsel
Kalbar
Sumbar
DIY
Sulteng
Sumsel
Jambi
Sulut
Sulbar
Sultra
Bali
Gorontalo
Bengkulu
Malut
Kalsel
Maluku
Kalteng
Riau
Babel
Kepri
Papua
Aceh
Kaltim
Papbar
DKI
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Grafik 3.16 menunjukkan rasio belanja daerah perkapita per wilayah. Terlihat bahwa
belanja daerah perkapita tertinggi adalah di wilayah Kalimantan yaitu Rp4,4 juta diikuti oleh
wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua dengan rasio belanja perkapita Rp4,2 juta. Sementara
itu, rasio belanja daerah perkapita yang terkecil berada di wilayah Jawa-Bali yaitu sebesar
Rp1,1 juta.
Grafik 3.16
Rasio Belanja Daerah perkapita per Wilayah*)
5.00
4.4
Juta Rupiah

4.500 4.2
4.00
3.500
3.00 2.7 2.6
2.500
2.00 2.0
1.500 1.1
1.00
.500
.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 39
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

E. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk


Rasio belanja modal perkapita menunjukkan seberapa besar belanja yang dialokasikan
pemerintah untuk pembangunan infrastruktur daerah per penduduk. Rasio belanja modal
perkapita memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan ekonomi karena belanja modal
merupakan salah satu jenis belanja pemerintah yang menjadi pendorong pertumbuhan
ekonomi. Rasio ini bermanfaat untuk menunjukkan perhatian pemerintah dalam meningkatkan
perekonomian penduduknya dari pembangunan infrastruktur yang dikeluarkan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota


Grafik 3.17 yang menunjukkan rasio belanja modal perkapita seluruh provinsi (agregat
provinsi, kabupaten dan kota) memperlihatkan bahwa rata-rata rasio belanja modal perkapita
adalah Rp0,5 juta. Hanya 10 provinsi yang memiliki rasio belanja modal perkapita lebih besar
dari rata-rata nasional, dan 23 provinsi memiliki rasio belanja modal perkapita lebih rendah dari
rata-rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Provinsi yang memiliki rasio belanja modal
perkapita tertinggi adalah Prov. Papua Barat yaitu sebesar Rp3,4 juta, sedangkan yang
terendah adalah Prov. Jawa Tengah sebesar Rp0,2 juta.

Grafik 3.17
Rasio Belanja Modal perkapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
4.00

3.4
Juta Rupiah

3.500

3.1
3.1
3.00
2.4
2.500
2.00
1.6
1.3
1.2
1.1

1.500
1.1
1.0
0.9
0.8
0.8
0.8
0.8
0.7
0.7
0.7
0.6

1.00
0.6
0.6
0.5
0.5
0.4
0.4
0.4
0.4
0.3
0.3
0.2
0.2
0.2
0.2

.500 0.5
.00
Jabar
Jateng
DIY
Jatim
Banten
Bali
Lampung
NTB
Sulsel
Sumut
Sumbar
NTT
Sulteng
Kalbar
Sumsel
Sulbar
Bengkulu
Jambi
Gorontalo
Sulut
Aceh
Sultra
Kalsel
Babel
Maluku
Kepri
Riau
Kalteng
Malut
Papua
DKI
Kaltim
Papbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Rasio belanja modal perkapita pemkab dan pemkot se-Provinsi mencerminkan besaran
belanja modal yang dibelanjakan untuk pembangunan infrastruktur kabupaten dan kota di
setiap provinsi. Dari data APBD terlihat bahwa provinsi-provinsi yang menganggarkan APBD
untuk belanja modal yang besar atau di atas rata-rata adalah provinsi yang memiliki potensi

DJPK KEMENKEU RI 40
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

SDA yang besar dan atau memperoleh dana perimbangan yang besar dari pusat terutama DBH
SDA dan dana Otonomi Khusus.
Grafik 3.18 menunjukkan rasio belanja modal perkapita pemerintah kabupaten dan kota
se-provinsi. Secara nasional rata-rata rasio belanja modal kabupaten dan kota se-provinsi
adalah Rp0,4 juta. Pemkab dan Pemkot Se-Provinsi yang memiliki rasio belanja modal
perkapita lebih tinggi dari rata-rata sebanyak 23 provinsi, sedang yang dibawah rata-rata
sebanyak 9 provinsi. Pemkab dan Pemkot se-Prov. Papua Barat memiliki rasio belanja modal
perkapita tertinggi yaitu sebesar Rp2,6 juta sedangkan yang terendah adalah Pemkab dan
Pemkot se-Prov. DI Yogyakarta dengan rasio Rp0,1 juta.

Grafik 3.18
Rasio Belanja Modal perkapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
3.00

2.6
2.5
Juta Rupiah

2.500

2.1
2.00

1.4
1.500

1.1
1.0
0.9
0.9
1.00
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.6
0.6
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.4
0.4
0.3
0.3
0.3
0.2

.500
0.2
0.2
0.2
0.2
0.1

0.4
.00
DIY
Jabar
Jateng
Jatim
Banten
Bali
Lampung
NTB
Sumut
Sulsel
Sumbar
Aceh
Sulbar
Sumsel
NTT
Sulteng
Kalbar
Bengkulu
Jambi
Gorontalo
Babel
Sultra
Kalsel
Sulut
Maluku
Riau
Kepri
Kalteng
Malut
Papua
Kaltim
Papbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi
Rasio Belanja Modal perkapita pemerintah provinsi ditunjukkan pada Grafik 3.19. Rasio
belanja modal perkapita pemerintah provinsi memiliki rata-rata nasional sebesar Rp0,1 juta.
Sebagian besar pemerintah provinsi memiliki rasio belanja modal terhadap jumlah penduduk di
bawah rata-rata nasional yaitu 25 provinsi dan hanya 8 provinsi yang memiliki rasio di atas rata-
rata nasional. Pemerintah Provinsi yang memiliki rasio belanja modal perkapita tertinggi adalah
Pemprov. DKI Jakarta, yaitu sebesar Rp3,06 juta sedangkan yang terendah adalah
Pemprov.Jawa Tengah Rp0,01 juta.

DJPK KEMENKEU RI 41
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 3.19
Rasio Belanja Modal perkapita Pemerintah Provinsi
3.500

3.1
3.00

2.500
Juta Rupiah

2.00

1.500

0.8
1.00

0.6
0.4
0.3
0.3
0.3
0.3
.500

0.2
0.2
0.2
0.2
0.2
0.2
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0

0.1
.00
Jateng
Jabar
Jatim
NTT
DIY
Sulsel
Banten
Bali
Sulteng
Lampung
Kalbar
NTB
Sumbar
Sulut
Sumut
Gorontalo
Bengkulu
Jambi
Sumsel
Maluku
Sulbar
Kalsel
Sultra
Kalteng
Kepri
Riau
Malut
Papua
Babel
Aceh
Kaltim
Papbar
DKI
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Rasio belanja modal perkapita per wilayah yang ditunjukkan pada grafik 3.20
memperlihatkan bahwa belanja modal perkapita tertinggi adalah di wilayah Kalimantan sebesar
Rp1,4 juta. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan lebih tinggi
di bandingkan dengan daerah lain. Selanjutnya rasio belanja modal perkapita terendah adalah
di wilayah Jawa yang hanya Rp0,2 juta.

Grafik 3.20
Rasio Belanja Modal perkapita per Wilayah *)
1.600
1.4
Juta Rupiah

1.400

1.200 1.1

1.00

.800
0.7
0.6
.600
0.5
.400
0.2
.200

.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 42
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

BAB IV

ANALISIS DEFISIT DAN PEMBIAYAAN DAERAH

A. Defisit
Keseimbangan umum atau Surplus/Defisit APBD adalah selisih Lebih/kurang antara
pendapatan daerah dan belanja daerah dalam tahun anggaran yang sama. Dari 491 Kab/Kota
dan 33 Provinsi pada tahun 2011 sebanyak 438 daerah menganggarkan defisit dalam APBD-
nya, sedangkan yang menganggarkan surplus sebanyak 80 daerah dan sisanya sebanyak 6
daerah mempunyai anggaran pendapatan dan belanja yang bernilai sama (berimbang).
Besaran defisit menunjukkan tingkat belanja yang tidak dapat dipenuhi oleh pendapatan
daerah, atau dengan kata lain belanja lebih besar dari pendapatan. Berikut disajikan rasio
defisit terhadap Pendapatan, dimana semakin besar rasio tersebut berarti semakin besar pula
dana diluar pendapatan daerah (Pembiayaan) yang diperlukan guna mendanai belanja.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.1
Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
.00
-0.3
-0.7
-1.6
-1.6
-1.7
-2.3

-2.8
-2.8

-2.9

-5.00
-4.1
-4.4
-4.7
-4.8
-4.9
-5.7
-6.1
-6.2
-6.2

-7.6
-6.6
-6.9
-7.1
-8.1

-10.00
-9.0
-9.2
%

-10.1
-10.3
-11.1
-11.1
-11.9
-12.1

-15.00
-14.7

-20.00
-18.5

-22.0

-25.00
Sumsel
Papbar
Sulteng
Papua
Lampung
Maluku
Bengkulu
Sulbar
Sulsel
NTB
Sultra
Sulut
Kalbar
Sumut
Gorontalo
Malut
Jateng
Kalteng
Aceh
DKI
Jambi
DIY
NTT
Jatim
Kalsel
Sumbar
Jabar
Babel
Banten
Bali
Riau
Kaltim
Kepri

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Rata-rata rasio defisit secara nasional(agregat kab/kota dengan Provinsi) adalah 7,6%
dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisi tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi
penerimaan pinjaman dan obligasi daerah 5,9%. Kepulauan Riau merupakan daerah dengan

DJPK KEMENKEU RI 43
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

rasio defisit terbesar dimana faktor utama penyebab hal tersebut berasal dari kab/kota. Rasio
Wilayah Papua Barat dan Sumatera Selatan bernilai negatif walaupun rasio agregat kab/kota
yang bernilai surplus, hal tersebut dikarenakan defisit pemerintah provinsi wilayah tersebut lebih
besar dibanding dengan surplus agregat kab/kota.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi


Rasio Suplus/defisit dengan total Pendapatan Pemkab dan pemkot dalam satu provinsi
dapat dilihat dalam grafik 4.2 berikut. Rasio tersebut menunjukkan nilai total surplus/defisit
seluruh pemkab dan pemkot dalam satu provinsi dibagi dengan total pendapatannya.

Grafik 4.2
Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
2.00
0.7
0.1

.00
-0.3
-0.5

-1.2
-0.8
-0.9
-1.0
-1.0
-1.0
-1.0
-1.1
-1.1
-1.3
-1.3

-2.00
-1.6
-1.6
-1.7
-2.1
-2.1
%

-2.5
-2.5
-2.6
-2.6
-3.0
-3.0
-3.1
-3.1
-3.1
-4.00

-3.4
-5.0
-6.00

-6.7
-8.00

-9.5
-10.00
Papbar
Sumsel
Sulteng
Lampung
Sulsel
Sumut
Jabar
Banten
Jatim
Aceh
Sultra
Jateng
DIY
Kalbar
Sulbar
NTB
Sulut
Bengkulu
Papua
Bali
Riau
Jambi
Sumbar
Maluku
Babel
Kalteng
Kalsel
Kepri
Kaltim
Gorontalo
NTT
Malut

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Pemerintah Kabupaten dan Kota di wilayah Papua Barat dan Sumatera Selatan
mempunyai rasio yang benilai positif (surplus). Nilai tersebut menunjukkan total pendapatan
APBD Papua Barat dan Sumsel lebih besar dibanding dengan pendapatan di wilayah tersebut.
Namun tidak berarti semua daerah di Papua Barat dan Sumsel menganggarkan Surplus.
Dalam grafik 4.2 terlihat bahwa pemkab dan Pemkot se-provinsi yang mempunyai nilai
rasio diatas 10,0% yaitu di Kepulauan Riau, Kalimantan Timur dan Riau. Semakin besar rasio
tersebut mengindikasikan semakin besar pula rasio pembiayaan yang dibutuhkan guna
menutupi kekurangan pendanaan, dimana sebagian besar penerimaan pembiayaan didominasi
oleh SiLPA dan Penerimaan Pinjaman.

DJPK KEMENKEU RI 44
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 4.3
Pemerintah Kab/Kota se-Provinsi
berdasarkan Rasio Surplus/Defisit terhadap Pendapatan (%) *)

30

20

10

-7.87
R Def/Pend

-10

-20

-30

-40

-50

-60
Papbar

Sulbar

Kalbar

Jabar

Sumbar
Sulut
Sumut

Malut
NTB

DIY
Sulteng

Sultra
Maluku

Gorontalo
Lampung

Aceh
Bengkulu
Papua

Jateng

Kalteng
Banten

Riau
Jatim

Kaltim
Sulsel

sulsel

Jambi

Bali

Babel
Kalsel

Kepri
NTT
Wilayah

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Rentang penyebaran kab/Kota dan daerah-daerah ekstrem per provinsi disajikan dalam
grafik 4.3. Dalam grafik tersebut Jatim mempunyai dua daerah ekstrem yang berbeda dari rata-
rata daerah-daerah di provinsi Jatim, yaitu kab. Lumajang yang mempunyai rasio surplus dan
kota Surabaya yang mempunyai rasio Defisit terbesar di Jatim. Pemerintah kab/kota yang
mempunyai rasio defisit diatas rata-rata nasional antara lain kab/kota di Provinsi Papua Barat,
Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

3. Pemerintah Provinsi
Sama halnya dengan pemerintah kab/Kota, sebagian besar pemerintah provinsi juga
menganggarkan defisit dalam APBD-nya. Pemerintah provinsi yang menganggarkan surplus
hanya Pemprov. Papua, namun pembiayaan APBDnya bernilai negatif.

DJPK KEMENKEU RI 45
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 4.4
Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

0.7
1.00

.500

.00
-0.1
-0.1
-0.1
-0.1
-0.2
-0.2
-0.2
-0.2
-0.2
-0.2
-0.2
-.500 -0.4

-0.3
-0.3
-0.3
-0.4
-0.4
-0.4
-0.5
-0.5
-0.5
-0.6
%

-0.6
-1.00

-0.7
-0.8
-0.8
-0.8
-0.9
-1.2
-1.2
-1.500

-1.5
-1.6
-2.00

-2.500

-2.6
-3.00
Papua
Lampung
Kalteng
Jateng
Bengkulu
Sumut
Sulsel
Riau
Sumsel
Jatim
Sulut
Malut
Sumbar
NTB
Sulbar
Kalbar
Sulteng
Kalsel
DKI
Jabar
Maluku
Jambi
Kepri
Banten
Kaltim
NTT
DIY
Babel
Gorontalo
Bali
Papbar
Sultra
Aceh
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Aceh merupakan pemerintah provinsi yang mempunyai rasio pinjaman paling besar
yaitu sebesar 22,3%. Dari 31 pemerintah provinsi yang menganggarkan defisit, 28 pemerintah
provinsi menutup defisit tersebut dengan menggunakan SiLPA, sedangkan tiga pemerintah
provinsi lainnya menutupnya dengan SiLPA ditambah dengan penerimaan Pinjaman.

4. Per Wilayah
Rasio defisit per wilayah dapat dilihat dalam Grafik 4.5 grafik tersebut menunjukkan
bahwa Kalimantan merupakan wilayah yang mempunyai rasio defisit terhadap pendapatan
paling besar (-12,2%). Dan yang terendah adalah wilayah Sulawesi (-3,4%). Semakin besar
nilai minus rasio berarti semakin besar belanja yang tidak dapat ditutup dari pendapatan
daerah, sehingga daerah harus mencari penerimaan lain yang berasal dari pembiayaan.

Grafik 4.5
Rasio Defisit/Pendapatan Per Wilayah*)
.00
-2.00
-4.00
-3.4 -3.4
-6.00
%

-8.00
-7.3
-7.4
-10.00 -8.3
-12.00
-14.00 -12.2
Sulawesi NT Maluku Sumatera Jawa Bali Kalimantan
Papua
Sumber: APBD 2011 (Diolah)
*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 46
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 4.6
Penyebaran Rasio Defisit/Pendapatan per wilayah *)

30

20

10

-7.87
R Def/Pend

-10

-20

-30

-40

-50

-60

Jawa Bali Kalimantan NT Maluk u Papua Sulawesi Sumatera


Wilayah

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Jika dilihat dari penyebaran kabupaten, kota dan provinsi per wilayah dapat dilihat dalam
grafik 4.6. Dalam grafik tersebut dapat dilihat daerah-daerah yang mempunyai nilai rasio
ekstrim (outlier), wilayah Jawa - Bali mempunyai satu daerah yang jauh diatas rata-rata atau
bernilai surplus dan dua daerah ekstrim (defisit). Untuk wilayah Kalimantan terdapat enam
daerah yang mempunyai rasio defisit cukup besar dibanding daerah lain dalam wilayah
tersebut.

5. Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan


Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran
defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah
pembiayaan masih bernilai minus. Karena sumber lain penerimaan selain pendapatan adalah
berasal dari pembiayaan maka hal tersebut mengundang tanya Dari mana Pemda
memperoleh dana untuk menutup defisit. Beberapa daerah tersebut dapat dilihat dalam
tabel 4.1.

Tabel 4.1
Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan
Surplus/Defisit Pembiayaan Surplus/Defisit
NO Nama Daerah
(Rp) (Rp) + Pembiayaan

1 Kota Gorontalo -29,779,841,647 6,362,331,500 -23,417,510,147


2 Kab. Halmahera Utara 18,710,229,713 -42,000,000,000 -23,289,770,287
3 Kab. Lebong -22,068,387,866 4,495,391,448 -17,572,996,419

DJPK KEMENKEU RI 47
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

4 Kab. Jayawijaya -11,607,748,671 -5,000,000,000 -16,607,748,671


5 Kab. Mamuju Utara -19,187,064,000 3,527,204,478 -15,659,859,522
6 Kab. Nduga -49,332,739,152 35,926,104,078 13,406,635,074
7 Prov. Sulawesi Barat -16,023,664,312 6,000,000,000 -10,023,664,312
8 Kab. Fakfak -9,719,307,106 0 -9,719,307,106
9 Kab. Sinjai 7,634,516,950 -17,044,126,360 -9,409,609,410
10 Kab. Halmahera Tengah -93,199,089,250 85,247,299,000 -7,951,790,250
11 Kab. Labuhanbatu Selatan -69,197,140,449 64,297,140,449 -4,900,000,000
11 Kab. Malang -193,012,992,133 189,088,504,533 -3,924,487,600
12 Kab. Seram Bagian Barat 53,501,000,000 -56,500,000,000 -2,999,000,000
13 Kab. Lanny Jaya -65,145,607,759 62,863,895,376 -2,281,712,383
14 Kota Ambon 22,414,241,834 -24,561,122,126 -2,146,880,292
15 Kab. Lingga -152,325,010,000 150,325,000,000 -2,000,010,000
16 Kab. Ngada -55,866,826,000 53,866,826,000 -2,000,000,000
17 Prov. Jawa Barat -1,464,301,200,000 1,462,301,200,000 -2,000,000,000
18 Kota Ternate -22,543,844,264 21,285,104,264 -1,258,740,000
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa Kota Gorontalo merupakan daerah dengan nilai
Defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar 23,4 miliar rupiah
dan terendah adalah Kota Ternate sebesar 1,3 miliar rupiah.

B. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih
realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Dengan
demikian dalam APBD 2011 SiLPA yang dimasukkan adalah sisa realisasi APBD di tahun
2010. Berikut disajikan Rasio SiLPA terhadap belanja, rasio tersebut menunjukkan persentase
dana yang penggunaannya tertunda atau tidak terserap pada tahun sebelumnya:

DJPK KEMENKEU RI 48
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.7
Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

17.7
17.0
20.00
18.00

15.0
16.00

11.4
11.1
14.00

10.6
10.6
10.3
12.00

9.6
9.6
%

8.7
8.3
8.1
10.00

7.7
7.7
7.5
6.4
6.4
6.2
6.0
8.00 8.2

5.5
5.3
5.3
4.9
6.00 4.3
3.7
3.4
3.4
3.3
3.1
3.1
2.4

4.00
1.8

2.00
.00
Sulbar
Papbar
Lampung
Sulteng
Sultra
Sumsel
Papua
Sulsel
Bengkulu
NTB
Sulut
Goront
Kalbar
Jateng
Malut
Maluku
Sumut
Aceh
Kalteng
Jambi
NTT
DIY
DKI
Sumbar
Jatim
Jabar
Banten
Babel
Bali
Kalsel
Riau
Kaltim
Kepri
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

SiLPA adalah sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya. Rasio SiLPA terhadap
pendapatan selain menggambarkan besaran belanja yang tertunda pelaksanaannya pada
tahun sebelumnya juga menggambarkan jumlah realisasi pendapatan tahun anggaran
sebelumnya lebih besar dari proyeksinya. Rata-rata rasio SiLPA terhadap belanja daerah
secara agregat provinsi, kabupaten dan kota adalah 8,2% dengan rasio tertingginya adalah
Kepulauan Riau. Sebanyak 12 provinsi mempunyai rasio diatas rata-rata dan 21 provinsi di
bawah rata-rata.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 4.8
Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi *)
18.6

20.00
16.9
16.7

18.00
16.00
11.7

14.00
10.4

12.00
9.5
9.5
9.3
8.3
%

7.9

10.00
7.8
7.5
7.4
7.2
6.8
6.6

8.00
5.7
5.7
5.6
5.3

7.8
4.9
4.8
4.8
4.4
4.4

6.00
3.5
3.4
3.4
3.0
2.5
2.0

4.00
1.2

2.00
.00
Papbar
Sulbar
Sulteng
Sumsel
Lampung
Sulsel
Sultra
Papua
NTB
Kalbar
Bengkulu
Aceh
Gorontalo
Sulut
Sumut
Jateng
DIY
Malut
Maluku
NTT
Banten
Jambi
Kalteng
Jabar
Sumbar
Jatim
Bali
Babel
Kalsel
Kaltim
Riau
Kepri

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 49
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Kepulauan Riau, Riau dan Kalimantan Timur
merupakan daerah-daerah yang terlihat beda dibanding pemkab dan pemkot di provinsi lain,
karena pemkab dan Pemkot di ketiga provinsi tersebut mempunyai rasio SiLPA terhadap
belanja diatas 15,0% dan diatas rata-rata yang sebesar 7,8%. Sedangkan Kab/kota di Papua
barat mempunyai rasio paing rendah (1,2%)

3. Pemerintah Provinsi

Grafik 4.9
Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

16.4
18.00

15.2
13.7
16.00

13.2
12.8
12.7
11.6
14.00

11.1
10.0
12.00

9.4
8.7
8.3
8.1
10.00

7.8
7.8
%

6.7
6.5
8.00 5.9 8.4
5.8
5.3
5.2
5.1
4.5
4.2

6.00
3.8
3.1
2.6
2.3
2.2

4.00
2.0
1.1
0.9

2.00
0.0

.00
Papua
Sulbar
Lampung
Bengkulu
Sultra
Maluku
Malut
Sulut
Sulsel
Sumsel
Papbar
Gorontalo
Jateng
Kalteng
Sulteng
Riau
NTB
Jambi
Kalsel
Jatim
Kalbar
Sumut
DKI
Babel
Sumbar
Aceh
DIY
Kepri
NTT
Kaltim
Bali
Jabar
Banten
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Terdapat perbedaan pada urutan rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah pada
Pemerintah Provinsi dengan pemkab dan Pemkot se-provinsi. Dalam rasio SiLPA terhadap
belanja daerah pemprov.Aceh merupakan provinsi yang mempunyai urutan tertinggi (18,3%),
urutan kedua adalah Prov. Banten(16,4%), sedangkan provinsi yang mempunyai rasio terendah
adalah papua sebesar 0% atau Prov. Papua tidak mempunyai SiLPA. Hal ini menjadi sangat
menarik untuk dikaji lebih lanjut mengapa pemerintah kabupaten kota se-provinsi Papua bisa
tidak memiliki SiLPA, karena mengingat pada tahun 2010 terdapat beberapa jenis dana transfer
ke daerah yang relatif lambat masuk dalam kas daerah dan diperkirakan tidak bisa terserap
pada akhir tahun tersebut.

4. Per Wilayah
Rasio SiLPA terhadap belanja daerah tertinggi ada di wilayah Kalimantan(11,8%), rata-
rata nasional untuk rasio ini adalah sebesar 8,3%, semakin besar rasio menunjukkan semakin
besar dana idle yang tidak dapat dimanfaatkan pada tahun 2010. sedangkan rasio terendah
SiLPA terhadap belanja terjadi di wilayah Sulawesi. Untuk wilayah lain dapat dilihat dalam
grafik dibawah ini.

DJPK KEMENKEU RI 50
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 4.10
Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah *)
1.800 1.6
1.600
1.400
1.200
1.0
%

1.00
.800
.600 0.5
0.6
0.3
.400 0.3
.200
.00
Kalimantan NT Maluku Sumatera Jawa Bali Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman


Penerimaan pinjaman daerah digunakan untuk menganggarkan semua transaksi yang
mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang dari pihak lain (termasuk obligasi) sehingga
daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Oleh karena itu pinjaman yang
dianggarkan dalam APBD dibatasi oleh peraturan Menteri Keuangan tiap tahunnya. Berikut
rasio pinjaman terhadap pendapatan daerah dilihat dari pembagian lima wilayah, pemerintah
kabupaten dan kota se-provinsi, serta pemerintah provinsi.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.11
Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
4.2

4.500
4.0

4.00
3.500
3.00
%

2.1

2.500
1.7
1.6

2.00
1.3
1.3

1.500
0.9
0.9
0.7
0.7

1.00
0.5
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.2
0.2
0.2
0.1
0.1

.500 0.6
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0

.00
Riau
Bengkulu
DKI
Sulut
Maluku
Banten
Babel
Kalteng
DIY
NTT
Bali
Papua
NTB
Kalsel
Sumsel
Papbar
Jatim
Lampung
Sulteng
Jabar
Gorontalo
Jambi
Sumut
Sumbar
Kepri
Jateng
Aceh
Kalbar
Kaltim
Sulsel
Malut
Sultra
Sulbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)

DJPK KEMENKEU RI 51
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Rasio pinjaman terhadap pendapatan APBD secara adalah 0,6%. Nilai tersebut masih
jauh lebih kecil dibanding batas pinjaman yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.
149/PMK.07/Tahun 2010, yaitu 3,5% total pendapatan. Terlihat bahwa dua provinsi melampaui
batas yang ditentukan yaitu provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara yaitu 4,2% dan 4,0%.
Dari kedua provinsi tersebut, seluruh pemda di Provinsi Sulawesi Barat belum ada yang
mengajukan persetujuan pelampauan batas maksimal defisit kepada Menteri Keuangan.
Dari grafik diatas dapat dilihat berdasarkan 33 wilayah provinsi terdapat enam provinsi yang
tidak menganggarkan penerimaan pinjaman dalam APBD-nya.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Grafik 4.12
Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
6.00

5.3
5.00

4.00
%

3.00

2.5
2.0
2.0
1.9
1.5
2.00
1.1
0.8
0.8
0.8
0.5

1.00
0.4
0.4
0.4
0.3
0.3
0.2
0.2
0.2
0.2
0.2
0.1
0.1
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0

0.0
0.0
0.0

0.6
.00
Riau
Bengkulu
Sulut
Sultra
Maluku
Banten
Babel
Kalteng
NTT
DIY
Bali
Papua
NTB
Kalsel
Sumsel
Jatim
Lampung
Sulteng
Jabar
Papbar
Gorontalo
Jambi
Sumut
Sumbar
Jateng
Kepri
Kalbar
Sulsel
Kaltim
Aceh
Malut
Sulbar

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

Rasio pinjaman terhadap pendapatan daerah pemkab dan pemkot se-Provinsi Sulawesi
Barat adalah yang tertinggi (5,3%). Penyumbang tertinggi adalah Kab. Mamasa yang
mempunyai rasio pinjaman 24%. Pemkab dan pemkot se-Provinsi Sultra, Bengkulu, Sulut,
Maluku, Banten, Bangka Belitung dan Riau tidak menganggarkan pinjaman dalam APBD-nya.
Rasio pinjaman terhadap pendapatan APBD secara Nasional adalah 0,6%, bila dibandingkan
dengan angka rasio tersebut maka terdapat 10 provinsi yang pemkab dan pemkotnya
mempunyai rasio lebih tinggi.

DJPK KEMENKEU RI 52
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

3. Pemerintah Provinsi
Terdapat tiga pemerintah provinsi yang menganggarkan pinjaman, hal tersebut dapat
dilihat dalam grafik 4.13. Tiga pemerintah provinsi tersebut adalah Sulawesi Barat, Maluku
Utara dan Aceh. Rasio terekstrem adalah Sulawesi Barat yang mempunyai rasio sebesar
23,0% jauh lebih tinggi dari ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebesar 4,5%.

Grafik 4.13
Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

22.9
25.00

20.00

15.00
%

10.00

5.00

1.2
0.3
0.0

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.0

0.0
0.0
0.0
0.0
0.0
0.3
.00
Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Jambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI
Jabar
DIY
Kalbar
Kalteng
Kalsel
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Bali
NTB
NTT
Maluku
Papua
Malut
Banten
Babel
Goront
Kepri
Papbar
Sulbar
Jatim
Jateng
Sultra
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

4. Per Wilayah
Sulawesi merupakan wilayah yang mempunyai rasio pinjaman tertinggi dibanding
daerah lainnya, yaitu 1,6 % dibanding pendapatan. Sedangkan yang terendah adalah wilayah
Nusa Tenggara-Maluku-Papua (0,3%).Jika dilihat penyebaran per daerah dalam rasio pinjaman
terbesar berada di wilayah Kalimantan (Penajam Paser Utara). Rasio tertinggi lainnya berada di
wilayah Sulawesi, yaitu provinsi Sulawesi Utara dan Kab.Mamasa yang mempunyai rasio diatas
20,0%. Rasio perwilayah dan penyebarannya dapat dilihat dalam grafik 4.14 dan 4.15 berikut :

Grafik 4.14
Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah *)
1.8
1.6

1.6
1.4
1.0

1.2
1.0
%

0.8
0.5

0.6 0.6
0.3
0.3

0.4
0.2
0.0
NT Maluku Jawa Bali Sumatera Kalimantan Sulawesi
Papua

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 53
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Grafik 4.15
Penyebaran Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah *)

35

30

25
R Pinjaman

20

15

10

0 0.56

NT maluku papua Jawa Bali Sumatera Kalimantan Sulawesi


wilayah.

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

5. Daerah yang Melampaui Batas Maksimal Defisit yang Dibiayai Pinjaman


Sesuai Peraturan Menteri Keuangan No. 149/PMK.07/2010 bahwa maksimum defisit
yang dibiayai oleh pinjaman adalah sebesar 4,5% dari total pendapatan dan bagi yang
melampaui batas yang ditentukan harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan c.q.
Dirjen Perimbangan Keuangan. Daerah yang melampau batas tersebut dapat dilihat dalam
tabel dibawah ini.
Tabel 4.2.
Daerah dengan % Pinjaman diatas ketentuan di PMK No. 149/PMK.07/2010

Penerimaan Pinjaman
Total Pendapatan
No Daerah Daerah dan Obligasi Daerah % Pinjaman
(Juta Rupiah)
(Juta Rupiah)

1 Kab. Penajam Paser Utara 947,704 324,645 34.26


2 Kab. Mamasa 397,357 95,216 23.96
3 Prov. Sulawesi Tenggara 1,220,581 280,000 22.94
4 Kab. Samosir 394,227 60,000 15.22
5 Kab. Kepulauan Sula 527,793 73,284 13.89
6 Kab. Simeulue 373,865 47,898 12.81
7 Kab. Barru 481,975 47,383 9.83
8 Kab. Jeneponto 533,862 50,561 9.47
9 Kota Palopo 472,300 44,121 9.34
10 Kota Langsa 411,013 32,980 8.02
11 Kab. Sambas 768,406 51,510 6.70
12 Kota Semarang 1,713,581 103,416 6.04
13 Kota Pare-Pare 530,065 31,903 6.02
14 Kab. Agam 655,528 35,761 5.46
15 Kab. Maros 583,510 30,000 5.14

DJPK KEMENKEU RI 54
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Lanjutan Tabel 4.2


16 Kab. Sidenreng Rappang 677,852 34,817 5.14
17 Kota Bogor 964,699 49,262 5.11
18 Kab. Tapanuli Selatan 599,384 30,000 5.01
19 Kab. Tanjung Jabung Timur 602,510 30,000 4.98
20 Kota Sawahlunto 371,261 17,500 4.71
21 Kab. Biak Numfor 574,134 26,936 4.69
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Terdapat 20 daerah yang melampaui batas yang ditentukan, daerah yang mempunyai
persentase tertinggi adalah Kab. Penajam Paser Utara (34,3%). Dari 20 daerah tersebut baru
daerah yang mengajukan pelampauan defisit yang dibiayai oleh pinjaman ke Menteri Keuangan
c.q. Dirjen Perimbangan Keuangan.

Jika dilihat secara nasional jumlah pinjaman APBD adalah 2,65 triliun rupiah atau setara
dengan 0,04% dibanding dengan perkiraan PDB tahun 2011. Persentase pinjaman tersebut
masih dibawah batas pinjaman APBD secara Nasional yang ditetapkan oleh PMK No.
149/PMK.07/2010, yaitu 0,3% dari PDB sehingga secara nasional pinjaman APBD 2011 masih
dapat disetujui.

6. Daerah yang Menganggarkan Pinjaman dengan APBD Surplus


Sebagian besar APBD dianggarkan defisit, dimana defisit tersebut dapat ditutup dengan
penerimaan pembiayaan. Namun terdapat daerah yang menganggarkan pinjaman walaupun
surplus/defisit ditambah pembiayaan masih bernilai positif. Beberapa daerah tersebut dapat
dilihat dalam tabel dibawah ini.

Tabel 4.3.
Daerah yang Menganggarkan Pinjaman dengan APBD Surplus

Penerimaan Surplus/Defisit +
SURPLUS/ Pembiayaan
No Daerah Pinjaman Daerah Pembiyaan Netto (SiLPA
(DEFISIT) Netto
dan Obligasi Daerah th Berkenaan)

1 Kab. Aceh Utara (116,369) 336,369 41,600 220,000


2 Kota Dumai 5,137 19,345 778 24,482
3 Kab. Nias (58,553) 72,689 3,970 14,135
4 Kab. Sijunjung (80,376) 87,214 1,900 6,837
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Kab. Aceh Utara merupakan daerah yang mengganggarkan SiLPA tahun berkenaan
paling besar yaitu 220 miliar rupiah, dimana SiLPA tersebut lebih besar dari pinjaman yang
dianggarkan yaitu sebesar 41,6 miliar Rupiah. Hal tersebut menunjukkan dengan tidak
menganggarkan pinjaman di APBD, daerah masih mempunyai kelebihan dana yang dapat

DJPK KEMENKEU RI 55
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

digunakan dalam belanja daerah. Kejadian tersebut juga terjadi di Kab. Nias dan Kab.
Sijunjung, sedangkan untuk daerah lainnya pinjaman yang dilakukan lebih besar dibanding
dengan kebutuhan, sehingga terdapat sisa dana di akhir tahun berkenaan atau dapat dikatakan
terjadi ketidakefisiensian dana APBD. Sisa dana tersebut sekiranya dapat juga dianggarkan
dalam belanja melihat dana tersebut masih cukup besar.

D. Rasio Keseimbangan Primer


Dalam Format APBD yang berstruktur I-Account, pendapatan dan belanja dipisah
dengan pembiayaan dan ditunjukkan adanya surplus/defisit pendapatan atas belanja,
Keseimbangan Primer (Primary Balance) atau Surplus/Defisit Primer merupakan selisih
pendapatan daerah dengan belanja daerah setelah belanja dikurangi dengan belanja bunga.
Penghitungan tersebut berbeda dibandingkan saat digunakan APBD berbentuk T-Account
dimana Surplus/Defisit Primer diperoleh dari selisih seluruh penerimaan daerah terhadap
pengeluaran daerah setelah pengeluaran daerah dikurangi pembayaran pokok pinjaman dan
belanja bunga. Sejak pelaksanaan UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara beserta
turunannya, Indonesia menggunakan konsep Keseimbangan Primer yang pertama.
Keseimbangan Primer menunjukkan kemampuan belanja daerah dalam rangka menjalankan
program dan kegiatannya setelah dihilangkan belanja yang tidak terkait seperti belanja bunga.
Keseimbangan primer dapat berupa defisit primer jika bernilai negatif atau surplus primer jika
bernilai positif. Nilai tersebut selain dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan belanja, juga
dipengaruhi oleh besarnya bunga. Semakin besar bunga, semakin besar perbedaan nilainya
dengan keseimbangan umum (pendapatan dikurangi belanja).
Keseimbangan primer juga mampu menunjukkan kondisi likuiditas pemda dalam
melaksanakan program dan kegiatannya, yaitu dengan menggunakan rasio keseimbangan
primer terhadap PDRB yang merupakanjumlah keseimbangan primer dibagi dengan PDRB.
Semakin besar rasio surplus keseimbangan primer, maka semakin likuid APBD dalam
membayar kewajiban jangka pendeknya. Sebaliknya, semakin rendah rasio surplus primer
semakin rendah kemampuannya. Bahkan, jika rasio menunjukkan rasio negatif (defisit primer),
itu berarti keuangan pemda dalam kondisi ilikuid, atau pemda bukan hanya tidak memiliki
kemampuan yang cukup untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya, namun bahkan untuk
membelanjai program kegiatan pokoknya. Hal ini mengakibatkan semakin besar belanja yang
harus dibiayai dari penerimaan pembiayaan, terutama utang. Jika hal ini terjadi dalam jangka
panjang, dikhawatirkan daerah tersebut akan mengalami kondisi yang biasa disebut jebakan
utang (debt trap), sebagaimana pernah disampaikan oleh Irving Fisher tahun 1933 dengan
konsepnya yang terkenal, Fisher Paradox.

DJPK KEMENKEU RI 56
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.16
Rasio Primary Balance Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota
0.0
-0.1
-0.5
-0.5
-0.7
-0.8
-1.0
-1.0
-2.0 -1.6

-1.3
-1.3
-1.4
-1.4
-1.6
-1.7
-1.9
-1.9
-2.0
-2.1
-2.2
-2.7
-2.7
-3.0
-3.1
-3.2
-4.0

-3.5
-3.5
-3.6
-3.7
-3.7
-3.9
-4.2
%

-6.0

-6.2
-8.0

-7.6
-10.0

-9.7
-12.0
Sumsel
DKI
Lampung
Sulteng
Papbar
Sumut
Sulsel
Jateng
Jatim
Jabar
Papua
Kalbar
Banten
Sulut
Sulbar
NTB
DIY
Bengkulu
Sultra
Riau
Sumbar
Kalteng
Jambi
Maluku
Kalsel
Aceh
Kepri
Bali
Babel
Kaltim
Gorontalo
NTT
Malut
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi


Primary Balance pemkab dan Pemkot setiap provinsi dapat dilihat dalam grafik 3.13.
Pemkab dan Pemkot se-Provinsi Papua Barat dan Sumatera Selatan primary balance-nya
bernilai positif. Nilai tersebut bernilai positif karena kedua wilayah tersebut menganggarkan
surplus pada APBD-nya.

Grafik 4.17
Rasio Primary Balance Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)
2.0
0.7
0.1

0.0
-0.3
-0.5

-1.2
-0.8
-0.9
-1.0
-1.0
-1.0
-1.0
-1.1
-1.1

-2.0
-1.3
-1.3
-1.6
-1.6
-1.7
-2.1
-2.1
%

-2.5
-2.5
-2.6
-2.6
-3.0
-3.0
-3.1
-3.1
-3.1

-4.0
-3.4
-5.0

-6.0
-6.7

-8.0

-10.0
-9.5
Papbar
Sumsel
Sulteng
Lampung
Sulsel
Sumut
Jabar
Banten
Jatim
Aceh
Sultra
Jateng
DIY
Kalbar
Sulbar
NTB
Sulut
Bengkulu
Papua
Bali
Riau
Jambi
Sumbar
Maluku
Babel
Kalteng
Kalsel
Kepri
Kaltim
Gorontalo
NTT
Malut

Sumber: APBD 2011 (Diolah)


*) Tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 57
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Primary Balance yang paling rendah terdapat pada pemkab dan pemkot se-provinsi
Maluku Utara (9,5%). Nusa Tenggara Timur (6,7%), Gorontalo (5,0%), sedangkan wilyah
lainnya dibawah 5,0%.

3. Pemerintah Provinsi

Grafik 4.18
Rasio Primary Balance Pemerintah Provinsi
0.7

1.0
0.5
0.0
-0.1
-0.1
-0.1
-0.1
-0.2

-0.4
-0.2
-0.2
-0.2

-0.5
-0.2
-0.2
-0.2
-0.3
-0.3
-0.3
-0.4
-0.4
-0.4
-0.5
%

-0.5
-0.5
-0.6
-0.6
-1.0

-0.7
-0.8
-0.8
-0.8
-0.9
-1.2
-1.5

-1.2
-1.5
-1.6
-2.0
-2.5

-2.6
-3.0
Papua
Lampung
Kalteng
Jateng
Bengkulu
Sumut
Sulsel
Riau
Sumsel
Jatim
Sulut
Malut
Sumbar
NTB
Sulbar
Kalbar
Sulteng
Kalsel
DKI
Jabar
Maluku
Jambi
Kepri
Banten
Kaltim
NTT
DIY
Babel
Gorontalo
Bali
Papbar
Sultra
Aceh
Sumber: APBD 2011 (Diolah)

Pemerintah Provinsi Papua mempunyai Primary Balance yang bernilai positif,


sedangkan provinsi lainnya bernilai negatif. Namun untuk provinsi lain yang bernilai negatif
APBD masih dapat seimbang jika dimasukkan SiLPA yang berasal dari APBD tahun
sebelumnya atau dengan kata lain APBD tersebut masih dapat mendanai belanja dari
penerimaan sendiri.

4. Per Wilayah
Grafik 4.19
Rasio Primary Balance Per wilayah *)
0.0
-0.5
-1.0
-1.1

-1.5
-1.68
%

-1.4

-2.0
-1.9

-2.5
-3.0
-2.9

-3.5
-3.5

-4.0
Jawa Bali Sulawesi Sumatera NT Maluku Kalimantan
Papua
Sumber: APBD 2011 (Diolah)
*) tidak termasuk DKI Jakarta

DJPK KEMENKEU RI 58
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

Primary Balance APBD per wilayah dapat dilihat dalam grafik 4.19. Primary Balance
yang bernilai negatif menunjukkan bahwa APBD tidak Liquid atau APBD tidak dapat membayar
Bunga Pinjaman dari penerimaan sendiri. Namun, hal tersebut belum termasuk penerimaan
pembiayaan yang berasal dari SiLPA karena sebagian besar defisit APBD ditutup dengan
menggunakan SiLPA. Kalimantan adalah wilayah yang mempunyai Primary Balance yang
paling kecil (3,51%) menunjukkan dibanding wilayah lain Kalimantan merupakan daerah
dengan APBD tidak likuid.

DJPK KEMENKEU RI 59
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149 Tahun 2010 tentang Batas
Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Batas
Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah.
_______________ , Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.
_______________ , Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah.
_______________ , Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.
_______________ , Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
_______________ , Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
_______________ , Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
_______________ , Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Heller, Stephen. S., Policy Discussion Paper, IMF, 2005.

DJPK KEMENKEU RI 60
Deskripsi dan Analisis APBD TA 2011

UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan buku Deskripsi dan Analisis APBD 2011 tidak akan terselesaikan tanpa
kontribusi dari seluruh pihak yang berperan sehingga apresiasi yang setinggi-tingginya
dimanifestasikan dalam ucapan terima kasih berikut ini:
Ucapan terima kasih ditujukan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan DR.
Marwanto Harjowiryono dan Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan
Daerah Drs. Yusrizal Ilyas, MPA yang telah memberikan arahan dan bimbingan
hingga diselesaikannya penyusunan buku ini.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Subdirektorat Data Keuangan Daerah
Direktorat Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah yang telah
menyediakan data Ringkasan APBD 2011 melalui Sistem Informasi Keuangan Daerah.
Selanjutnya terima kasih kepada tim dari Subdirektorat Evaluasi Dana Desentralisasi
dan Perekonomian Daerah (Putut Hari Satyaka, SE, MPP; Krisnandar, SE; Nasrullah,
SE; Aris Sudjatmiko, S.Sos, MM; Wahyu Widjayanto, SE, MM; Arif Zainuddin Fansyuri,
Ak, ME; Dhani Kurniawan, SE; Nanag Garendra Timur, S.Si; Mauliate H. Silitonga, SE;
Dastam Wijaya, SIP; Shinta Theresia; Femmy Ferdiansyah, SH; Rizki Anggunani S.Si;
dan Virgin Marthalia yang telah melakukan pengolahan data dan sekaligus menyusun
buku, melakukan editing hingga melakukan setting layout pencetakan buku ini. Terima
kasih atas kerja kerasnya.

DJPK KEMENKEU RI 61