Anda di halaman 1dari 19

Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini

(PAUD)

PENGEMBANGAN MORAL DAN NILAI- NILAI


AGAMA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
( PA U D ) 1

H. Mas’oed Abidin2

MUKADDIMAH
Sudah lama kita mendengar ungkapan, “jadilah kamu berilmu yang
mengajarkan ilmunya, atau belajar (muta’alliman), atau menjadi
pendengar (mustami’an). Dan, jangan menjadi kelompok keempat,
yang tidak memiliki aktifitias keilmuan sama sekali. Yakni, tidak
mengajar, tidak pula belajar, serta enggan untuk mendengar”.

Peran Guru di tengah umat dan anak didiknya, adalah sesuatu


pengabdian mulia, dan tugas sangat berat. Mereka adalah
pelopor pembangunan (agent of changes). Bekal utamanya
adalah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, hidup
beradat, berakhlaq mulia. Inilah, yang menjadi program utama
di dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Tugas itu berat. Umat
hanya mungkin dibentuk melalui satu proses pembelajaran, dengan
pengulangan terus menerus (kontiniutas), pencontohan (uswah) yang
baik. Pekerjaan ini memerlukan ketaletenan dan semangat yang prima.
Kemuliaan seorang guru (pendidik) terpancar dari
keikhlasan membentuk umat dan anak manusia menjadi pintar,
beriman, berakhlaq, berilmu, mengamalkan ilmunya, untuk
H. Mas’oed Abidin 1
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

kebaikan diri sendiri, keluarga, dan kemaslahatan umat, di


kelilingnya, serta mempunyai ibadah yang teratur, shaleh
pribadi, dan shaleh social, dengan tauhid yang istiqamah.
Keberhasilan murabbi (guru) akan banyak didukung oleh kearifan,
yang dibangun oleh kedalaman pengertian, pengalaman dalam
membaca situasi, serta upaya dan kondisi yang kondusif di sekitarnya.

TANTANGAN DI ABAD KE 21
Abad ini ditandai oleh, (a). mobilitas serba cepat dan modern,
(b). persaingan keras dan kompetitif, (c). komunikasi serba
efektif, dalam satu global village, dan (d). Akibatnya, banyak
ditemui limbah budaya kebaratan (westernisasi).
Alaf baru ini hadir dengan cabaran global yang menuntut
keteguhan, dalam menghadapi tantangan yang berjibun banyaknya, di
antaranya infiltrasi budaya sekularis yang menjajah mentalitas
manusia, the globalization life style meniru sikap yahudi, suburnya
budaya lucah (sensate culture), menjauh dari adat budaya luhur,
pemujaan nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sensual,
erotik, seronok, ganas semata mengejar kesenangan badani,
kebiasaan miras, pergaulan bebas, kecanduan madat dan narkoba.
Menghadapi tantangan ini, semua elemen masyarakat berkewajiban
mempersiapkan generasi yang siap bersaing dalam era global terse-
but, dengan sibghah yang nyata, melalui pendidikan anak pada usia
dini.
Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan
akhlak. Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa
akan lenyap dengan lemahnya remaja.
Penyebab utama di antaranya, rusaknya sistim, pola dan politik
pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan di
kalangan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan dan
masyarakat, impotensi di kalangan pemangku adat, hilangnya wibawa
ulama, dan suluah bendang di nagari, bergesernya fungsi lembaga
pendidikan menjadi bisnis, dan profesi da’i, guru, dan suluah bendang,
dilecehkan.

PERILAKU UMAT JUGA BERUBAH


Interaksi dan ekspansi kebudayaan dari luar, bergerak secara
meluas. Pengaruh budaya asing berkembang pesat, seperti
pengagungan materia secara berlebihan (materialistik), pemisahan
kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik), pemujaan
kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik).
H. Mas’oed Abidin 2
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Perilaku di atas merupakan penyimpangan sangat jauh dari


budaya luhur. Pada akhirnya, melahirkan Kriminalitas, perilaku
Sadisme, dan Krisis moral, secara meluas.
Perubahan dalam hidup beradat juga telah merambah
Minangkabau.
Adat ndak dipacik arek, agamo ndak dipagang taguah.
taguah.
Fakta menunjukkan bahwa adat tidak berdampak banyak
terhadap generasi muda. Tempat bertanya tidak ada,
Sudah banyak yang tidak mengerti adat.
adat. Karena itu,
generasi muda di Nagari mulai kebingungan.
Manakala problematika sosial ini lupa mengantisipasi melalui
gerakan dakwah, melalui Pendidikan Anak Usia Dini berbasis aqidah,
maka arus globalisasi ini membawa perubahan yang negatif.
Hilangnya keseimbangan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat,
yang menyebabkan timbulnya berbagai krisis.
Perilaku luhur akan bergeser, dan menipisnya ukhuwah,
serta berkembangnya perbuatan maksiat. Maka sekolah atau
pendidikan berbasis aqidah, mesti menjadi cerminan idealitas
masyarakat yang mempertahankan pembelajaran budi akhlak.

WAHYU ALLAH

IMAN
Undang-Undang
ETIKA RELIJI AKHLAQ

IBADAH ILMU

Karakter Umat

8/ 29/ 2007 H. Mas'oed Abidin 11

Pergeseran budaya akan terjadi ketika mengabaikan nilai-


nilai agama. Pengabaian nilai-nilai agama, menumbuhkan
penyakit social yang kronis, seperti kegemaran berkorupsi,
aqidah tauhid melemah, perilaku tidak mencerminkan akhlak
H. Mas’oed Abidin 3
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Islami, serta suka melalaikan ibadah.


Salah satu solusi untuk mengatasi problematika keumatan ini,
adalah dengan melaksanakan pendidikan aqidah pada anak usia dini
(PAUD), dengan menambah ilmu, menguatkan amal, menanamkan
akhlak, menjaga ibadah dan karakter umat, dengan berpedoman
wahyu Allah SWT.
Pendidikan aqidah dan akhlaq, membawa umat kepada
bertaqwa. Janji Allah SWT sangat tepat, ” apabila penduduk
negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka
keberkatan langit dan bumi.“ (QS.7,al-A’raf:96).

MENGHIDUPKAN ANTISIPASI UMAT


Umat mesti diajak mengantisipasi perkembangan global agar tidak
menjadi kalah. Dalam persaingan dimaksud, beberapa upaya mesti
disejalankan dengan ;
a. Memantapkan watak terbuka,
b. Pendidikan aqidah tauhid,
c. Mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar,
d. Integrasi moral yang kuat,
e. Memiliki penghormatan terhadap orang tua,
f. Mempunyai adab percakapan di tengah pergaulan,
g. Pendalaman ajaran agama tafaqquh fid-diin, berpijak pada nilai-
nilai ajaran Islam yang universal tafaqquh fin-naas.
h. Perhatian besar terhadap masalah sosial atau umatisasi,
i. Memacu penguasaan ilmu pengetahuan,
j. Kaya dimensi dalam pergaulan rahmatan lil ‘alamin,
k. Iman dan ibadah, menjadi awal dari ketahanan bangsa.

KETAHANAN UMAT DAN BANGSA, PADA UMUMNYA TERLETAK


PADA KEKUATAN RUHANIYAH, KEYAKINAN AGAMA DENGAN
IMAN TAQWA DAN SIASAH KEBUDAYAAN.
INTINYA ADALAH TAUHID. IMPLEMENTASINYA AKHLAQ.
Program pendidikan anak usia dini (PAUD) dapat dilakukan
dengan nuansa surau. Surau adalah suatu institusi yang khas
dalam masyarakat Minangkabau. Fungsinya bukan sekedar
tempat sholat. Juga sebagai tempat pendidikan dan tempat
mendapat pengajaran bagi anak muda. Banyak tokoh-tokoh
besar di Minangkabau lahir dari surau. Pengelolaan pendidikan
bernuansa surau, pada masa sekarang bisa dihidupkan
kembali. Esensi dan semangatnya lewat menggerakkan
kebersamaan anak Nagari.

H. Mas’oed Abidin 4
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Para pendidik mesti tampil mengambil peran, karena ada


gejala, adat tidak memberi pengaruh yang banyak terhadap
generasi muda di Minangkabau, dan adanya tendensi bahwa
generasi tua, terlihat kurang pula memberikan suri teladan.
Akibatnya, generasi muda jadi bersikap apatis terhadap
adat itu sendiri.
Peran para pendidik mesti membentuk watak Generasi
Sumatera Barat, sesuai petatah yang berbunyi, “Indak nan
merah pado kundi, indak nan bulek pado sago, Indak nan indah pado
budi, indak nan elok pado baso. Anak ikan dimakan ikan, gadang di
tabek anak tanggiri, ameh bukan pangkaik pun bukan, budi sabuah
nan diharagoi. Dulang ameh baok balaie, batang bodi baok pananti,
utang ameh buliah bababie, utang budi dibaok mati.”
Ada enam unsur yang diperlukan untuk membentuk masyarakat
yang mandiri dan berprestasi, melalui harakah dakwah, dalam
pendidikan bernuansa surau ;
1. IMAN, 2. ILMU, 3. Kerukunan, Ukhuwah dan Interaksi, 4.
Akhlaq, Moralitas sebagai Kekuatan Ruhiyah, 5. Badunsanak,
sikap Gotong royong (Ta’awun), 6. Menjaga Lingkungan
sebagai Social Capital, menerapkan Eko Teknologi.
Kegiatan Pendidikan Anak Usia DINI (PAUD), mesti dijadikan upaya
pembinaan karakter anak, dengan berbasis nilai-nilai agama, yang
akan menjadi pagar adat dan syarak, dalam menghadapi krisis
identitas, sebagai akibat dari perubahan dalam nilai – nilai adat.

MENGAJAK, MENDIDIK, DAN MENGAMALKAN ISLAM


Peran Guru atau Murabbi dalam mendidik anak sejak usia dini
adalah ibarat Suluah Bendang di tengah umat, yang dilaksanakan
dengan keikhlasan sebagai satu pengabdian mulia dan tugas berat.
Keikhlasan membentuk umat jadi pintar, beriman,
berakhlaq, berilmu, beramal baik, membina diri,
kemashlahatan umat, dan keluarga, menjadi panutan dan
ikutan, ibadahnya teratur, shaleh peribadi dan sosial,
beraqidah tauhid yang shahih dan istiqamah.
Pendidikan anak sejak usia dini ini, tidak terlepas dari upaya
menyiapkan satu generasi yang beradab, berakhlaq, berakidah dan
berprestasi, melalui ;
 Membudayakan Wahyu Al Quran dalam memakaikan adat
basandi syarak-syarak basandi kitabullah, melalui
pendidikan dan pelatihan-pelatihan,

H. Mas’oed Abidin 5
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

 Implementasinya,
Implementasinya, dalam perilaku anak berakidah, dan
berakhlaq, dalam kerangka lebih luas, menghidupkan
dakwah membangun negeri.
Perintah untuk melaksanakan tugas-tugas da'wah itu, secara kontinyu
atau terus menerus, dan sambung bersambung.

PELAKSANA DAKWAH ADALAH SETIAP MUSLIM


Setiap mukmin adalah umat da'wah pelanjut Risalah Rasulullah
yakni Risalah Islam. Umat dan para murabbi (pendidik) mesti berupaya
sekuat tenaga untuk meneladani pribadi Muhammad SAW, dalam
membentuk effectif leader dengan mengamalkan inti dan isi
Agama Islam, yakni akhlaq Islami, Aqidah tauhid yang shahih,
kesalehan, dan keyakinan kepada hari akhirat, ”Sungguh telah
ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu,
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab, 33
: 21).
ISLAM MENDIDIKKAN KEPRIBADIAN
USWAH atau contoh tauladan terpuji, melukiskan kesan positif dalam
mayarakat. Alat canggih teknologi modern tidak dapat mengambilalih
peran orang tua dalam uswah. Faktor manusia tetap diperlukan dalam
proses pematangan sikap pribadi seseorang anak, sejak usia dini,
dengan menanamkan laku perangai (syahsiah), yang mencerminkan
watak, sifat fisik, kognitif, emosi, sosial dan rohani seorang3

SAHSIYAH MURABBI MEMBAWA KEBERHASILAN PENDIDIKAN


ISLAM
Tidak diragukan lagi bahwa guru -- murabbi, muallim, – yang
punya kepribadian baik serta uswah hidup yang terpuji akan mampu
melukiskan kesan positif dalam diri anak didik mereka.
Alat teknologi modern walau bagaimanapun canggihnya tidak
akan dapat mengambil alih peranan guru. Faktor manusia tetap
diperlukan dalam proses pembentukan dan pematangan sikap pribadi
para anak didik dan menanamkan laku perangai -- syahsiah -- murid.
Tegasnya sahsiah mencerminkan watak, sifat fisik, kognitif, emosi,
sosial dan rohani seseorang 4

CIRI UTAMA ATAU SYAHSIAH (‫ )شخصية‬ITU BERMAKNA PRIBADI


ATAU PERSONALITY, YANG MENGGAMBARKAN SIFAT INDIVIDU

H. Mas’oed Abidin 6
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

YANG MERANGKUM PADANYA GAYA HIDUP, KEPERCAYAAN,


HARAPAN, NILAI, MOTIF, PEMIKIRAN, PERASAAN, BUDI
PEKERTI, PERSEPSI, TABIAT, SIKAP DAN WATAK SESEORANG.5
Banyak kajian telah dibuat tentang sifat-sifat yang perlu ada
pada seorang guru (murabbi, mu’allim) yang baik dan akan
menghasilkan kesan mendalam pada proses pengajaran yang mereka
sampaikan.6 Karena itu, sifat dan ciri guru muslim hendaklah
merangkum :

A. SIFAT RUHANIAH DAN AKIDAH


1. Keimanan yang kental kepada Allah yang Maha Sempurna
2. Keyakinan mendalam terhadap hari akhirat, hari berbangkit
dan hari pembalasan
3. Kepercayaan kepada seluruh para Rasul di iringi dengan sifat
dan asas keimanan (arkan al iman) yang lain.
B. SIFAT-SIFAT AKHLAK
1. Benar dan jujur
2. Menepati janji dan Amanah
3. Ikhlas dalam perkataan dan perbuatan
4. Merendah diri – tawadhu’ --
5. Sabar, tabah dan cekatan
6. Lapang dada – hilm --, Pemaaf dan toleransi
7. Menyayangi murid, mengutamakan kepentingan orang
banyak dengan sikap pemurah, zuhud dan berani bertindak.
C. SIFAT MENTAL, KEJIWAAN DAN JASMANI

1. SIKAP MENTAL
• Cerdas (Kepintaran teori, amali dan sosial), menguasai mata
anak didikan takhassus
• Luas pengetahuan umum dan ilmiah yang sehat
• Mengenal ciri, watak, kecenderungan dan keperluan murid,
fasih, bijak dan cakap di dalam penyampaian

2. SIFAT KEJIWAAN
• Tenang dengan emosi mantap terkendali, optimistik dalam
hidup, penuh harap kepada Allah dan tenang jiwa bila
mengingatiNya.
• Percaya diri dan mempunyai kemauan yang kuat, lemah
lembut dan baik dalam pergaulan

H. Mas’oed Abidin 7
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

• Berfikiran luas dan mampu menyesuaikan diri dengan


masyarakat

3. SIFAT FISIK
• Sehat tubuh dan badan dari penyakit menular
• Berperawakan menarik, bersih, rapi (kemas) dan
menyejukkan.

Berapa penilitian di beberapa negara maju terdapat daftar sikap


yang diinginkan ada pada para murabbi (guru) :
• Berkelakuan baik (penyayang dan penyabar), mampu
menguraikan anak didikan dengan jelas, berdisiplin, amanah
dan menunaikan janji,
• Mempunyai sahsiah yang dihormati, berkemauan yang kuat,
berbakat kepimpinan yang tinggi, berpengetahuan umum
yang luas, bersikap menarik dan bersuara yang merangkul
dan mendidik,
• Pandai memberi nasihat, simpati terhadap kelemahan murid,
pandai memilih kata-kata, tanggap dengan suasana murid di
rumah, dan mengujudkan sikap kerjasama, serta
bersemangat riadah dan kedisiplinan
Guru muslim (murabbi) yang mempunyai sahsiah yang baik ialah
guru yang mengamalkan etika keguruan Islam yang standard dan
mempunyai personaliti yang baik.
ETIKA GURU MUSLIM
Etika pendidik Islam yang profesial, memiliki beberapa tanggung
jawab yang dapat diawali oleh kemauan dari dalam diri guru dan
kemudian dapat ditukuk tambah oleh khalayak pendidik dan dihayati
sebagai suatu etika profesi keguruan, antara lain ;

1. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ALLAH


Etika guru muslim terhadap Allah ialah :
1. Senantiasa memantapkan keyakinan kepada Allah dengan
ibadah.
2. Bersifat istiqamah, dengan semangat berbakti dan beramal
soleh.
3. Wajib menghayati rasa khusyuk, takut dan harap kepada Allah,
dan selalu bersyukur kepada Allah di samping selalu berdoa
kepadaNya dengan membaca ayat-ayat Allah dan merendahkan
diri kehadratNya.
H. Mas’oed Abidin 8
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

2. TANGGUNGJAWAB TERHADAP DIRI


1. Guru muslim hendaklah memastikan keselamatan diri sendiri,
mencakup aspek fisik, emosional, mental maupun moral, bersih
diri, pakaian, dan tempat tinggal.
2. Memahami kekuatan dan kelemahan diri untuk boleh
dimanfaatkan serta ditingkatkan dari segenap aspek dan dapat
berkhidmat sebanyak mungkin kepada Allah, masyarakat dan
negara.
3. Melibatkan diri dengan program dan agenda yang dapat
meningkatkan kualiti profesi seorang guru.

3. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ILMU


1. Memastikan penguasaan ilmu takhassus secara mantap dan
mendalam, bercita dan berbuat -- iltizam -- dengan amanah
ilmiah.
2. Sunguh-sungguh mengamalkan ilmu yang dimiliki dan
mengembangkan untuk dianak didiki, dan selalu mengikuti
perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terbaru dalam
rangkaian pembelajaran ilmu berkaitan.
3. Sepanjang masa menelusuri sudut atau dimensi spirituality Islam
dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan.

4. TANGGUNGJAWAB TERHADAP PROFESI


1. Seorang guru tidaklah boleh bertingkah laku yang mencemarkan
sifat profesinya yang berakibat kurangnya kepercayaan orang
ramai terhadap profesi perguruan.
2. Guru bertugas sebagai pengganti ibu bapa dalam usaha
membentuk tingkah laku anak didiknya ke arah sikap perangai
yang diterima oleh masyarakat, dan menumpukan perhatian
terhadap keperluan setiap anak didiknya.
3. Dia haruslah mendidik dan mengambil tindakan secara adil
terhadap semua anak didik, tanpa membedakan tempat asal
keluarga, intelek, akademik dan status-status lain.

5. TANGGUNGJAWAB TERHADAP ANAK DIDIK


1. Guru muslim hendaklah lebih mengutamakan kebajikan dan
keselamatan anak didiknya.
2. Bersikap adil terhadap, tanpa membedakan faktor-faktor
jasmani, mental, emosi, politik, ekonomi, sosial, keturunan dan
agama anak didiknya.

H. Mas’oed Abidin 9
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

3. Menampilkan suatu cara pakaian, pertuturan dan tingkah laku


yang dapat memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya.

6. TANGUNGJAWAB TERHADAP REKAN SEJAWAT


1. Guru muslim senantiasa berusaha dengan sepenuhnya
menunaikan tanggungjawab dengan rajin dan bersungguh-
sungguh dan mengekalkan kemajuan ikhtisas dan sosial.
2. Senantiasa bersedia membantu rekan sejawat terutamanya
mereka yang baru dalam profesi perguruan.
3. Mawas diri dan tidak mencemarkan nama baik profesi pendidik.

7. TANGGUNGJAWAB TERHADAP MASYARAKAT


DAN NEGARA
1. Mengelakkan diri daripada meyebarkan sesuatu ajaran yang
dapat merusak kepentingan anak didik, masyarakat atau
negara, ataupun yang dapat bertentangan dengan aturan
bernegara.
2. Memupuk dalam diri setiap anak didik sikap dan nilai yang dapat
membantu dan membimbing mereka untuk menjadi warga
negara yang taat setia, bertanggungjawab dan berguna,
menghormati orang-orang yang lebih tua dan menghormati
adanya perbedaan kebudayaan, keturunan dan agama.
3. Menghormati masyarakat tempat mereka berkhidmat dan
memenuhi segala tanggungjawab sebagai seorang warganegara
dan senantiasa sanggup mengambil bahagian dalam sebarang
kegiatan masyarakat. Berpegang kepada tingkah laku yang
sopan yang diterima oleh masyarakat dan menjalani kehidupan
harian dengan baik.

8. TANGGUNGJAWAB TERHADAP IBU BAPA DAN


RUMAH TANGGA
1. Menghormati tanggungjawab utama ibu bapa terhadap anak-
anak mereka.
2. Berusaha mewujudkan hubungan mesra dan kerjasama yang
erat di antara institusi pendidikan dengan rumahtangga.
3. Menganggap semua maklumat yang diberikan oleh ibu bapa
mengenai keadaan rumahtangga atau anak mereka sebagai sulit
dan tidak akan membocorkannya kepada sesiapa kecuali kepada
mereka yang berhak mengetahuinya.

KEBERHASILAN PENDIDIKAN ISLAM


Meskipun ciri dan sahsiah guru yang baik telah dicapai namun itu
H. Mas’oed Abidin 10
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

tidak pula bermakna pengajaran mereka dengan sendirinya berkesan.


Pengajaran yang disampaikan oleh guru akan berkesan atau tidak,
amat bergantung kepada beberapa faktor yang berkaitan degan proses
belajar dan mengajar yang menjadi hubungan erat antara guru dan
anak didiknya.
Tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mengajar
murid-murid zaman ini bukanlah suatu yang mudah. Guru
berhadapan dengan kenakalan remaja yang semakin serius.
Ibu bapa harus ikut serta dalam memudahkan kerja guru-guru
di sekolah.
Masyarakat juga wajib memainkan peranan sebagai pendukung
keberhasilan guru dalam pembelajaran terhadap murid-murid mereka.
Tanpa kerjasama semua pihak proses pendidikan tidak akan berjaya
menghasilkan generasi yang baik.

MEMBENTUK GENERASI MASA DEPAN


Perkembangan kedepan banyak ditentukan oleh peranan generasi
penerus dengan ruang interaksi yang jelas. Pendidik harus menjadi
agen sosialisasi yang menggerakkan kehidupan masa depan lebih
baik. Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa
sikap;
a. individu yang berakhlak, berpegang pada nilai-nilai mulia
iman dan taqwa, daya kreatif dan innovatif, dipadukan
dengan kerja sama berdisiplin, kritis dan dinamis, memiliki
vitalitas tinggi, tidak mudah terbawa arus, sanggup
menghadapi realita baru di era kesejagatan.
b. memahami nilai- nilai budaya luhur, punya jati diri yang
jelas, generasi yang menjaga destiny, motivasi yang
bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama
akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
c. memahami dan mengamalkan nilai- nilai ajaran Islam
sebagai kekuatan spritual, mempunyai motivasi dalam
mewujudkan sebuah kemajuan fisik-material, tanpa harus
mengorbankan nilai- nilai kemanusiaan.

H. Mas’oed Abidin 11
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Sikap
Interaksi

Prestasi
Ibadah
Ilmu
Karya
8/ 30/ 2007 H. Mas'oed Abidin 12

Kekuatan hubungan ruhaniyah (spiritual emosional) dengan basis


iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan
ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural
fungsional.
Pendidikan anak usia dini, akan berperan membentuk
mental umat – dengan FAST -, satu ranah ruhani yang memiliki
kekuatan ;
 Fathanah (Ilmiah),
 Amanah (jujur),
 Amaliyah (transparan),
 Shiddiq (lurus),
 Shaleh (Yakin terhadap akhirat),
 Setia (ukhuwah mendalam),
 Tabligh (Dialogis),
 Tauhid (Percaya kepada Allah),
 Taat (Disiplin),

Generasi baru harus mampu mencipta, menjadi syarat utama


keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan
masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Generasi muda harus dibina menjadi umat dakwah, dengan
memiliki budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang
relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi, yakni nilai-nilai
agama Islam.
Generasi masa depan (era globalisasi) mesti Memiliki ;
budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan
dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi
Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan
H. Mas’oed Abidin 12
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

umatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan


transparan).

Pendidikan dikembangkan sejak usia dini si anak, dengan


menekankan pada pendidikan akhlak, budi pekerti, dengan
tujuan yang jelas ;
 Menghambat gerakan-gerakan yang merusak Islam.
 Menimbulkan keinsafan tentang perlunya adil sesuai
syara’ Islam.
 Melahirkan masyarakat penyayang yang tidak aniaya satu
sama lain.
 Menanamkan tata kehidupan saling kasih mengasihi dan
beradab sopan. Akhlak karimah adalah tujuan sesungguhnya
dari proses pendidikan, dan menjadi wadah dalam menerima ilmu
lainnya, dan membimbing umat kearah amal karya, kreasi,
inovasi, motivasi yang shaleh (baik).
AKHLAK, ADALAH JIWA PENDIDIKAN , INTI AJARAN AGAMA, DAN BUAH KEIMANAN .

BAHASA DAKWAH ADALAH BAHASA KEHIDUPAN


Mendidik tidak dapat dipisah dari satu gerakan dakwah.
Menggalang saling pengertian, koordinasi sesamanya mempertajam
faktor-faktor pendukungnya, membuka pintu dialog persaudaraan
(hiwar akhawi), untuk membentuk efektif leader, mencontoh peribadi
Rasulullah SAW, menjadi satu kunci keberhasilan da'wah Risalah.
Aktualisasi dari nilai-nilai Al-Qur'an itu, hanya bisa diwujudkan
dengan gerakan amal nyata yang berkesinambungan (kontinyu),
dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia, melalui kemampuan
H. Mas’oed Abidin 13
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (da'wah) ,


merapatkan potensi barisan (shaff), mengerjakan amal-amal Islami
secara bersama-sama (jamaah).

Setiap Muslim harus melakukan perbaikan (ishlah) kualitas diri


sendiri, sebagaimana arahan Rasulullah "Mulailah dari diri kamu
kemudian lanjutkan kepada keluargamu dan kepada lingkunganmu"
(Al Hadist), dan perbaikan kualitas lingkungan, keluarga, hubungan
sosial masyarakat, sosial ekonomi, kebudayaan dan pembinaan alam
lingkungan yang berkesinambungan.
Pendidikan usia dini ini tidak akan berhenti dan akan berkembang
terus sesuai dengan variasi zaman yang senantiasa berubah, dengan
tujuan utama membentuk generasi pintar, berilmu, dan berbudaya
dengan akhlaq karimah.
Pengembangan pendidikan berkualitas (quality oriented), akan
mendorong lahirnya umat yang mempunyai ilmu yang komprehensif,
yakni pengetahuan agama plus keterampilan, dengan aqidah tauhid
yang istiqamah.
Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sumber-
sumber belajar di dalam masyarakat menjadi bagian integral dari
masyarakat Muslim secara keseluruhan.
Dengan pengembangan dakwah ini, maka surau dan masjid, dapat
menjadi core, atau inti, mata dan pusat dari learning society,
masyarakat belajar. Sasarannya, agar lahir umat dakwah yang
terdidik, berkualitas, capable, fungsional, integrated di tengah
masyarakatnya.
Setiap Muslim harus 'arif, dalam menangkap setiap pergeseran
yang terjadi karena perubahan zaman ini, juga menjanjikan

H. Mas’oed Abidin 14
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

peluang-peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan


dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).

KEKUATAN TAUHID
PARADIGMA TAUHID, LAA ILAAHA ILLA ALLAH, MENCETAK
MANUSIA MENJADI ‘ABID (YANG MENGABDI KEPADA ALLAH) DALAM
ARTI LUAS MAMPU MELAKSANAKAN AJARAN SYAR’IY MENGIKUTI
PERINTAH ALLAH DAN SUNNAH RASUL ALLAH, MENJADI MANUSIA
MANDIRI (SELF HELP), SESUAI EKSISTENSI MANUSIA ITU DI
JADIKAN. 7 MANUSIA PENGABDI (‘ABID) ADALAH MANUSIA YANG
TUMBUH DENGAN AQIDAH ISLAMIYAH YANG KOKOH.

AQIDAH ISLAMIAH ADALAH SENDI FUNDAMENTAL DINUL ISLAM,


AQIDAH ADALAH LANGKAH AWAL UNTUK MENJADI MUSLIM.
AQIDAH ADALAH KEYAKINAN BULAT, TANPA RAGU DAN
BIMBANG, AQIDAH MEMBENTUK WATAK MANUSIA PATUH DAN
TAAT, SEBAGAI BUKTI PENYERAHAN TOTAL KEPADA ALLAH.

Aqidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan


tunggal Allah secara absolut. Aqidah ini membimbing hati manusia
merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul
Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.8
Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya
terhadap Allah, dan melaksanakan semua perintah Allah secara
konsekwen.9
Konsistensi, atau ke-istiqamah-an membentuk manusia patuh
dan taat dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus
ibarat akar dengan pohonnya.10 Maka hakikinya tanpa aqidah tidak
ada artinya seorang muslim. Aqidah Islamiyah ialah Iman kepada
Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya).
Ibadah bermakna secara konsisten penuh keikhlasan
melaksanakan perintah-perintah Allah tanpa reserve. Konsistensi
aqidah tauhid bersedia meninggalkan apa saja bentuk larangan dari
Allah, dengan sikap ketaatan dan disiplin diri, karena mencari redha
Allah.
Sikap tawakkal adalah konsekwensi dari ikhtiar dan usaha sesuai
keyakinan tauhid.
Tawakkal dan ikhtiar usaha selalu jalan seiring.
Keduanya berjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu
dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Agung.

H. Mas’oed Abidin 15
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa


Allah selalu ada di samping manusia.
Keyakinan tauhid mampu menepis rasa takut dan menghapus
gentar dalam menghadapi resiko hidup. Hilangnya aqidah tauhid
melahirkan fatalistis atau bersikap apatis dan pesimis.
Keyakinan tauhid, adalah kekuatan besar dari energi ruhaniah
yang mendorong manusia untuk hidup inovatif.

MEMBANGUN SDM MENJADI SDU

Jiwa Sadar
Iman
Spirutual
Bersatu
Bersaudara
Interaksi Mandiri
Ukhuwah Prestasi Akhlaq
Moral

Ilmu
8/ 30/ 2007 H. Mas'oed Abidin 14

Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM)


menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang berciri kebersamaan dengan
nilai berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta'awunitas.
Beberapa model perlu dikembangkan di kalangan para pendidik,
seperti ; pemurnian wawasan fikir, kekuatan zikir, penajaman
visi, perubahan melalui ishlah atau perbaikan,
mengembangkan keteladanan uswah hasanah, sabar, benar,
memupuk rasa kasih sayang, dan pendalaman spiritual religi.
Menguatkan solidaritas beralaspijak kepada iman dan adat
istiadat luhur, “nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi
nan indah baso”. Intensif menjauhi kehidupan materialistis,
“dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo,
dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno”.

KHATIMAH
1. Menetapkan langkah kedepan ;

H. Mas’oed Abidin 16
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

a. pembinaan human capital dengan keluasan ruang


gerak mendapatkan pendidikan,
b. pembinaan generasi yang memiliki jati diri, padu dan
lasak, integreted inovatif.
c. mengasaskan agama dan akhlak sebagai dasar
pendidikan pada anak sejak usia dini.
d. mencetak anak-anak muslim berilmu yang benar,
beriman taqwa.
e. membina wawasan yang menyatu dengan akidah,
budaya bangsa, dan bahasa.
f. mewujudkan masyarakat yang berasas keadilan sosial
yang jelas.
2. Mengokohkan pegangan umat dengan keyakinan dasar
Islam sebagai suatu cara hidup yang komprehensif.
3. Menyebarkan budaya wahyu di atas kemampuan akal.
4. Meyakini Peran krusial Ajaran Islam, bahwa kemenangan
hanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana” (QS.8, Al-Anfal : 9-10).
5. Generasi penerus harus taat hukum, dapat dilakukan
dengan cara ;
a. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga,
b. memperkokoh peran orang tua, ibu bapak ,
c. pemeranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara
efektif,
d. memperkaya warisan budaya, setia, cinta dan rasa tanggung
jawab patah tumbuh hilang berganti
e. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada
agama yang dianut,
f. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi
luhur.
g. menanamkan kesadaran, tanggung jawab terhadap hak dan
kewajiban asasi individu secara amanah
h. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis
dengan alam
i. melazimkan musyawarah dengan disiplin, sebagai nilai
puncak budaya Islam yang benar.
Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu
bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Sesuatu akan selalu
indah selama benar. Demikianlah semoga Allah senantiasa Meridhai.

H. Mas’oed Abidin 17
Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD)

Padang, 12 Januari 2008.

H. Mas’oed Abidin 18
1
Disampaikan dalam Pelatihan Pendidikan PAUD se Sumatera Barat, pada tanggal 9 s/d. 13
Januari 2008, di Gedung Pusdiklat Bhakti Bunda Sumatera Barat, di Jl. Asahan No.2, Komplek
GOR H. Agus Salim, Padang., Sumatera Barat.
2
Ketua Umum BAZ Sumbar, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumbar, Wakil
Ketua Dewan Penasehat MUI Sumbar, dalam Pelatihan Pendidikan PAUD di Sumatera Barat, pada
tanggal 1 s/d. 4 September 2007, di Kompleks Sekolah ITI/INS Kayu Tanam 1926, di Jl. Raya
Padang Bukit Tinggi, Km.53, Kayutanam – 25585, Sumatera Barat.
3
Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri.
Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran
atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan
tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.
4
Sahsiah mempunyai tiga ciri utama. Pertama ialah keunikan dengan maksud tersendiri.
Kedua kebolehan atau kemampuannya untuk berubah dan diubah; sebagai hasil pembelajaran
atau pengalaman. Ketiga ialah organisasi. Dengan perkataan lain ia bukan sekadar himpunan
tingkahlaku sebaliknya ia melibatkan corak tindakan dan operasi yang bersifat konsisten.
5
G.W Allport dalam bukunya ”Pattern and Growth in Personality”, mendifinisikan sahsiah sebagai
organisasi dinamik sesuatu sistem psikofisikal di dalam diri seorang individu yang menentukan
tingkah laku dan fikirannya yang khusus. Sistem psikofisikal merangkumi segala-gala unsur-
unsur psikologi seperti tabiat, sikap, nilai, kepercayaan dan emosi, bersama dengan unsur-unsur
fisikal seperti bentuk tubuh badan, urat saraf, kelenjar, wajah dan gerak gerik seseorang ( Mok
Soon Sang, 1994:1).
6
Menurut Prof Omar al-Toumi al-Syibani
7
Lihat QS.adz-Dzariat, : 57.
8
Lihat QS.89:27, dan QS.13:20-24
9
Sesuai bimbingan dalam QS.6:82.
10
Lihat QS.14:24-25.

Anda mungkin juga menyukai