Anda di halaman 1dari 14

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

(PPOK)

PATOLOGI

A. Definisi
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) didefinisikan sebagai penyakit yang
dikarakterisir oleh adanya obstruksi saluran pernafasan yang tidak reversibel
sepenuhnya. Sumbatan aliran udara ini umumnya bersifat progresif dan berkaitan
dengan responinflamasi abnormal paru-paru terhadap partikel atau gas yang
berbahaya (WHO,2006)
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan suatu istilah yang sering
digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan
ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran
patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang
dikenal dengan PPOK adalah : Bronchitis kronis, emfisema paru-paru dan asthma
bronchiale. (Smeltzer 2001)

B. Etiologi
Ada beberapa faktor risiko utama berkembangnya penyakit ini, yang dibedakan
menjadi faktor paparan lingkungan dan faktor host. Beberapa faktor paparan
lingkungan antara lain adalah:
1. Merokok
Merokok merupakan penyebab utama terjadinya PPOK, dengan resiko 30 kali lebih
besar pada perokok dibanding dengan bukan perokok, dan merupakan penyebab
dari 85-90% kasus PPOK. Kurang lebih 15-20% perokok akan mengalami PPOK.
Kematian akibat PPOK terkait dengan banyaknya rokok yang dihisap, umur mulai
merokok, dan status merokok yang terakhir saat PPOK berkembang. Namun
demikian, tidak semua penderita PPOK adalah perokok. 10% orang yang tidak
merokok juga mungkin menderita PPOK. Perokok pasif (tidak merokok tetapi sering
terkena asap rokok) juga berisiko menderita PPOK.

2. Pekerjaan
Para pekerja tambang emas atau batu bara, industri gelas dan keramik yang
terpapar debu silika, atau pekerja yang terpapar debu katun, debu gandum, dan
debu asbes, mempunyai risiko yang lebih besar daripada yang bekerja di tempat
selain yang disebutkan di atas.
3. Polusi udara
Pasien yang mempunyai gangguan paru akan semakin memburuk gejalanya
dengan adanya polusi udara. Polusi ini bisa berasal dari asap dapur, asap pabrik, dll.
Sedangkan risiko yang berasal dari host/pasiennya antara lain adalah:
1. Usia
Semakin bertambah usia semakin besar risiko menderita PPOK. Pada pasien yang
didiagnosa PPOK sebelum usia 40 tahun, kemungkinan besar dia menderita
gangguan genetik berupa defisiensi 1 antitripsin. Namun kejadian ini hanya
dialami < 1% pasien PPOK.
2. Jenis kelamin
Laki-laki lebih berisiko terkena PPOK daripada wanita, mungkin ini terkait dengan
kebiasaan merokok pada pria. Namun ada kecenderungan
peningkatan prevalensi PPOK pada wanita karena meningkatnya jumlah wanita
yang merokok.
3. Adanya gangguan fungsi paru
Adanya gangguan fungsi paru-paru merupakan faktor risiko terjadinya PPOK,
misalnya defisiensi Immunoglobulin A (IgA/hypogammaglobulin) atau infeksi pada
masa kanak-kanak seperti TBC dan bronkiektasis. Individu dengan gangguan fungsi
paru-paru mengalami penurunan fungsi paru-parulebih besar sejalan dengan waktu
daripada yang fungsi parunya normal, sehingga lebih berisiko terhadap
berkembangnya PPOK. Termasuk di dalamnya adalah orang yang pertumbuhan
parunya tidak normal karena lahir dengan berat badan rendah, ia memiliki risiko
lebih besar untuk mengalami PPOK.

C. Patofisiologi
Penyempitan saluran pernafasan terjadi pada bronkitis kronik maupun pada
emfisema paru. Bila sudah timbul gejala sesak, biasanya sudah dapat dibuktikan
adanya tanda-tanda obstruksi. Pada bronkitis kronik sesak nafas terutama
disebabkan karena perubahan pada saluran pernafaasan kecil, yang diameternya
kurang dari 2 mm, menjadi lebih sempit, berkelok-kelok dan kadang terjadi
obliterasai.
Penyempitan lumen terjadi juga oleh metaplasia sel goblet. Saluran pernafasan
besar juga berubah. Timbul terutama karena hipertrofi dan hiperplasia kelenjar
mukus, sehingga saluran pernafasan lebih menyempit. Pada orang normal sewaktu
terjadi ekspirasi maksimal, tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang,
sehingga saluran-saluran pernafasan bagian bawah paru akan tertutup. Pada
penderita emfisema paru dan bronchitis kronik, saluran-saluran pernafasan tersebut
akan lebih cepat dan lebih banyak tertutup. Akibat cepatnya saluran pernafasan
menutup serta dinding alveoli yang rusak, akan menyebabkan ventilasi dan perfusi
yang tidak seimbang. Tergantung dari kerusakannya, dapat terjadi alveoli dengan
ventilasi kurang/ tidak ada, akan tetapi perfusi baik. sehingga penyebaran udara
pernafasan maupun aliran darah alveoli, tidak sama dan merata. Timbul hipoksia
dan sesak nafas. Lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah paru dan polisitemia. terjadi HT pulmonal, yang dalam jangka lama
dapat timbulkan kor pulmonal.

D. Manifestasi klinis
1. Batuk produktif
Batuk produktif ini disebabkan oleh inflamasi dan produksi
mukusyang berlebihan di saluran nafas.
2. Dispnea
Terjadi secara bertahap dan biasanya disadari saat beraktivitas fisik.
Berhubungan dengan menurunnya fungsi paru-paru dan tidak selalu berhubungan
dengan rendahnya kadar oksigen di udara.
3. Batuk kronik
Batuk kronis umumnya diawali dengan batuk yang hanya terjadi pada pagi
hari saja kemudian berkembang menjadi batuk yang terjadi sepanjanghari. Batuk
biasanya dengan pengeluaran sputum dalam jumlah kecil(<60ml/hari) dan sputum
biasanya jernih atau keputihan. Produksi sputum berkurang ketika pasien berhenti
merokok (GOLD,2005)
4. Mengi, Terjadi karena obstruksi saluran nafas
5. Berkurangnya berat badan
Pasien dengan PPOM yang parah membutuhkan kalori
yang lebih besar hanya untuk bernapas saja. Selain itu pasien
juga mengalamikesulitan bernafas pada saat makan sehingga nafsu makan
berkurangdan pasien tidak mendapat asupan kalori yang cukup untuk mengganti
kalori yang terpakai.Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya berat badan pasien.
6. Edema pada tubuh bagian bawah
Pada kasus CPOD yang parah, tekanan arteri pulmonary meningkatdan ventrikel
kanan tidak berkontraksi dengan baik. Ketika jantung tidak mampu memompa
cukup darah ke ginjal dan hati akan timbul edema padakaki, kaki bagian bawah,
dan telapak kaki. Kondisi ini juga dapatmenyebabkan edema pada hati atau
terjadinya penimbunan cairan pada abdomen (acites)
E. Problematika Fisioterapi
Permasalahan fisioterapi pada pasien ini adalah sebagai berikut :
1.Adanya sesak nafas
2.Adanya batuk dengan sputum yang sulit keluar
3.Spasme otot- otot bantu pernafasan
4.Penurunan ekspansi sangkar Thorak
5.Penurunan toleransi aktifitas

BAB II
LAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK KOMPREHENSIF

A. Keterangan Umum Penderita


Nama : I. S
Umur : 72 Th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Alamat : Lamper Lor Semarang Selatan, Kodia Semarang.

B. Segi Fisioterapi
1. Anamesis ( Auto)
a) Keluhan Utama :
Adanya Sesak nafas, Batuk dengan dahak yang sulit dikeluarkan
b) Tempat keluhan : Pada dada pasien
c) Waktu/Onset : Malam hari dan cuaca dingin
d) Penyebab keluhan : Tidak jelas penyebabnya, tp saat masih bekerja pasien
sering mengendarai sepeda motor.
e) Faktor yang memperberat atau memperingan keluhan :
Faktor yang memperberat, saat pasien melakukan aktivitas yang berat seperti
mengangkat barang,cuaca dingin, dan jalan jauh.
Faktor yang memperingan, saat diistirahatkan pasien merasakan nyaman.
f) Riwayat pengobatan :
3 Tahun yang lalu pasien periksa di dokter spesialis penyakit dalam RSUP Dr.
Kariadi dengan keluhan sesak napas dan batuk-batuk, disana diberikan obat-obatan
inhalasi saat itu pasien mengkonsumsi obat selama 1 minggu,batuk hilang
sementara setelah itu kambuh lagi saat ini pasien kontrol rutin tiap 6 bulan sekali.
Pasien menjalani Fisioterapi 1 tahun yang lalu sampai saat ini pasien sudah
merasakan ada perubahan dari sesak dan batuk sudah mulai berkurang.

2. Pemeriksaan Fisik
a) Tanda-Tanda Vital :
1.Tekanan darah : 100/ 60 mmHg
2.Denyut nadi : 72 x / menit
3.Pernapasan : 22 x / menit
b) Inspeksi :
Statis : wajah pasien sedikit pucat, pasien tampak tenang, Postur sedikit
kyposis.
Dynamis : pola napas abdominal, Saat berjalan pasien terlihat sedkit
khyposis, base tungkai lebar
c) Palpasi :
(1) Suhu pada dada dan punggung sama dengan suhu daerah lainnya.
(2) Spasme pada otot pembantu pernafasan , terutama upper trapezius,
sternocleidomastoideus dan pectoralis mayor dan minor
d) Auskultasi :
(1) wheezing (+)
(2) Ronchi (+) ( paru kiri,lobus bawah,segmen lateral )
e) Gerakan Dasar :
(1) Gerak Aktif :
Pasien mampu melakukan gerakan respiratif yaitut inspirasi dan ekspirasi.
Rongga dada pasien mampu mengembang dan mengempis saat bernafas,
namun kurang maksimal karena sesak nafas dan adanya spasme otot bantu
pernafasan.
(2) Gerak Pasif : Tidak dilakukan
(3) Gerak Isometrik Melawan Tahanan : Tidak dilakukan

3. Pemeriksaan Spesifik (Ft D)


a) Antropometri Sangkar Thorax

Titik Inspiras
Exspirasi selisih
pengukuran i
Axilla 77 cm 76 cm 1 cm
Costa 4-5 75 cm 73 cm 2 cm
xyphoideus 70 cm 68 cm 2 cm

b) Spirometri

Parameter Measured Pre # 1 % Pred


FVC 1.76 2.86 62
Sesak Keterangan
FEV1Nafas 1.48 2.19 68
FEV1/FVC
0 84.1 Tidak ada
7.3 131

0,5 sangat sangat ringan


c) Skala Borg 1 Sangat ringan nilai 3 (sedang)

2 Ringan
3 Sedang
4 Sedikit berat
5 Berat
6 Sangat berat
7 Sangat-sangat berat
8 maksimal
d) Auskultasi
(1) Wheezing (+)
(2) Ronchi (+), (Paru Kiri Lobus bawah segmen lateral Basal)
e) Pola pernapasan : Pernapasan Diafragma

4. Diagnosis Fisioterapi
a) Impairment :
(1) Adanya keluhan sesak nafas
(2) Adanya batuk disertai dahak sulit keluar
(3) Adanya spasme otot pernapasan
(4) Penurunan Expansi Thorak
b) Fungsional limitation :
(5) Toleransi aktivitas fungsional menurun karena pasien mengalami sesak
nafas

5. Program / Rencana Fisioterapi


a) Tujuan Fisioterapi
(1) Jangka pendek :
Mengurangi sesak nafas
Membantu mengeluarkan sputum
Mengurangi spasme otot bantu pernpasan
Meningkatkan ekspansi sangkar thorak
Membantu mengeluarkan sputum
(2) Jangka panjang :
Melanjutkan program jangka pendek
Meningkatkan aktivitas fungsional
b) Modalitas Fisioterapi
(1) Teknologi alternatifexercise
c. Postural drainage
d. Tapotement
e. Batuk efektif
f. Mobilisasi sangkar thorak
(2) Modalitas terpilih :
a. Infra Red.
Tujuan penyinaran untuk mendapatkan relaksasi lokal pada daerah dada dan
punggung juga untuk memperbaiki sirkulasi darah (fasodilatasi pmbuluh darah).
b. Breathing Exercise.
Latihan ini bertujuan untuk memperbaiki ventilasi udara, melatih pernafasan
diafragma, memelihara elastisitas jaringan paru-paru dan menjaga expansi thorax.
c. Postural Drinage
Merupakan suatu teknik untuk mengalirkan sekresi dari berbagai segmen menuju
saluran nafas yang lebih besar, dengan menggunakan pengaruh gravitasi
dan pengaruh posisi pasien yang sesuai dengan letak sputumnya. Sebelum
dilakukan PD memperbanyak minum dahulu, 1 jam sebelum dilakukan PD.
d. Tapotement
Tujuannya untuk memindahkan sputum ke cabang bronkus utama yang kemudian
pasien disuruh untuk batuk.
e. Batuk efektif
Batuk merupakan suatu gerakan reflek untuk mengeluarkan benda asing atau
sputum dari dalam saluran pernafasan
f. Terapi latihan (Mobilisasi sangkar Thorak)
Latihan ini meliputi gerakan-gerakan pada trunk dan anggota gerak
atas,dapat dilakukan bersamaan dengan breathing exercise. Sehingga otot-otot
pernafasan dan otot bantunya yang mengalami ketegangan akan menjadi rilex

(3) Edukasi :
1) Pasien di anjurkan melanjutkan latihan nafas sendiri di rumah,
2) Istirahat jika terjadi keluhan sesak nafas / nyeri dada saat sedang aktifitas,
3) Pakai jaket bila udara dingin,
4) Meminum air putih banyak dan hangat,
5) menghindari asap rokok dan polusi,
6) pasien diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan.
(4) Rencana Evaluasi :
1) Expansi Sangkar Thorax Dengan Antopometri
2) Derajat Sesak Nafas Dengan Skala Borg
3) Uji Faal Paru Dengan Spirometri
4) Auskultasi dengan Stethoscope

C. Pelaksanaan Fisioterapi :
1) Infra Merah
Persiapan Alat : Siapkan alat kemudian cek
keadaan lampu, cek kabel, ada yang terkelupas atau tidak.
Persiapan Pasien : Posisikan pasien senyaman mungkin, bebaskan area
yang akan diterapi dari kain atau pakaian, sebelum diterapi kulit harus kering dan
dilakukan tes sensibilitas terlebih dahulu serta berikan informasi yang jelas tentang
tujuan terapi mengenai apa yang akan dirasakan dan apa yang tidak boleh
dilakukan selama terapi.
Pelaksanaan : Alat diatur sedemikian rupa, sehingga lampu sinar infra merah
dapat menjangkau daerah dada dan punggung dengan jarak 30-45 cm. Posisi lampu
sinar infra merah tegak lurus daerah yang akan diterapi. Setelah semuanya siap
alat dihidupkan, kemudian atur waktu 10- 15 menit. Selama proses terapi
berlangsung fisioterapi harus mengontrol rasa hangat yang diterima pasien, jika
selama pengobatan rasa nyeri, pusing, ketegangan otot meningkat.Dosis harus
dikurangi dengan menurunkan intensitasnya, dengan sedikit menjauhkan sinar infra
merah. Hal ini berkaitan dengan adanya over dosis. Setelah proses terapi selesai
matikan alat dan alat dirapikan seperti semula.
2) Breathing Excercise
Persiapan Pasien : pasien rileks, pasien duduk ditepi Bed
Pelaksanaan : Pasien diinstruksikan untuk menarik nafas panjang melalui
hidung dan mengeluarkannya secara pelan- pelan melalui mulut pengulangan 2-5
kali.
3) Postural Drinage dan Tapotemen
Persiapan Alat : Bantal
Persiapan Pasien : Pasien pada posisi gravitasi untuk memudahkan
pengeluaran sekret yaitu miring kekanan sedikit diganjal bantal bagian samping
perut.
Pelaksanaan : Terapis melakukan tapotement pada daerah lateral costa
kiri pasien dengan posisi tangan membentuk arcus gerakan fleksi ekstensi. Latihan
dihentikan bila ada keluhan dari pasien seperti nyeri dada dan jantung berdebar.
4) Mobilisasi Sangkat Torak
Persiapan Pasien : Pasien tidur telentang
Pelaksanaan : Pasien diberi contoh oleh
Terapis kemudian disuruh untuk mengulanginya, pasin disuruh ambil nafas panjang
melalui hidung bersamaan dengan itu pasien menggerakkan kedua lengannya
keatas, kemudian disuruh untuk menghembuskannya secara pelan-pelan
melalui mulut sambil kedua tangannya diturunkan. Ulangi 1-8 kali.
5) Batuk Efektif
Persiapan Pasien : Posisi pasien duduk ditepi bed
Pelaksanaan : Tarik nafas pelan & dalam dengan pernafasan diafragma,
Tahan nafas 2 detik atau hitung sampai 2 hitungan Batukkan 2 kali dengan mulut
sedikit terbuka. Batuk pertama akan melepaskan secret atau mucus
dari tempatnya dan batuk kedua akan mendorong keluar mucus tersebut. Batuk
yang efektif adalah yang bersuarahollow . Sebagian penderita harus didorong
untuk berani batuk. Sugesti dapat diberikan dengan cara terapis batuk mendahului
penderita.
D. EVALUASI
1. Expansi Sangkar Thorax Dengan Antopometri

Titik Inspiras
Exspirasi selisih
pengukuran i
Axilla 78 cm 76 cm 2 cm
Costa 4-5 76 cm 73 cm 3 cm
xyphoideus 71 cm 68 cm 3 cm

2. Derajat Sesak Nafas Dengan Skala Borg

Sesak Keterangan
Nafas
0 Tidak ada
0,5 sangat sangat ringan
1 Sangat ringan
2 Ringan
3 Sedang
4 Sedikit berat
5 Berat
6 Sangat berat
7 Sangat-sangat berat
8 maksimal

3. Uji Faal Paru Dengan Spirometri ( Tidak dilakukan )


4. Auskultasi dengan Stethoscope ( Bunyi Ronchi berkurang )

E. HASIL TERAPI SESAAT :


1. Sesak nafas sedikit bertambah
2. Sputum sudah dapat dikeluarkan
3. Spasme otot pernafasan sudah agak berkurang dan pasien
merasa nyaman dari keadaan sebelumnya
4. Peningkatan ekspansi sangkar thorax yang di dukung
dengan mobilisasi sangkar thorak

BAB III
PENUTUP

A. PEMBAHASAN
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) didefinisikan sebagai penyakit yang
dikarakterisir oleh adanya obstruksi saluran pernafasan yang tidak reversibel
sepenuhnya. Sumbatan aliran udara ini umumnya bersifat progresif dan berkaitan
dengan respon inflamasi abnormal paru-paru terhadap partikel atau gas yang
berbahaya.
Dari proses pelaksanaan fisioterapi bahwa dalam mengurangi spasme,
mengeluarkan sputum dan menmbah ekspansi sangkar Thorak dapat dilakukan
dengan :
1. Infra Merah, Mekanisme, Infra Merah menghasilkan Efek thermal kemudian
terjadi vasodilatasi pembuluh darah maka akan membuat rileksasi otot bantu
pernafasan menjadi baik dan sesak nafas berkurang
2. Postural Drinage, Tapotement, Breathing Exercise,Batuk efektip, Latihan
Mobilisasi Sangkar Thorak.
Adanya sputum dalam saluran pernafasan yang sulit keluar dan penurunan
ekspansi sangkar thoraxs, dengan postural drinage maka akan mengalirkan sekresi
dari berbagai segmen menuju saluaran nafas yang lebih besar kemudian lakukan
tapotement untuk memindahkan sputum ke bronkus utama setelah itu
berikan breathing excercise dan pasien disuruh batuk untuk mengeluarkan benda
asing atau sputum dalam saluran nafas dan instruksikan kepada pasien untuk
mengerakan anggota gerak atas kombinasikan dengan Breathing excercise maka
ekspansi sangkar thorax akan bertambah.

B. KESIMPULAN
Untuk kesimpulan pasien atas nama I.S umur 72 tahun drngan diagnose PPOK
dengan keluhan sesak dan batuk dengan dahak sulit dikeluarkan mempunyai
beberapa permasalahan antara lain adanya sesak nafas, dahak yang sulit keluar,
adanya spasme pada otot bantu pernafasan dan dan penurunan ekspansi sangkar
thorak yang akhirnya menggangu aktivitas fungsional sehari- hari. Infra Merah,
Breathing Exercise, Postural drainage, Tapotement, batuk efektif dan mobilisasi
sangkar thorak mempunyai peran penting dalam mengatasi permasalahan
fisioterapi tersebut.

C. SARAN
1. Fisioterapi
a) Harus memahami dan mengerti tentang fisiologi pernapasan, sehingga
mendapatkan hasil yang maximal dalam pemeriksaan dan pengobatan
b) Dalam memberikan latihan sebaiknya dilakukan scara bertahap sesuai dengan
toleransi pasien.
c) Menambah pengetahuan agar dapat mengikuti perkembangan fisioterapi dan
mempunyai pola fikir yang baik dalam melaksanakan peran dan fungsinya.
2. Pasien
a) Hendaknya pasien mau bekerja sama dengan terapis yaitu mau menghindari
hal-hal yang dapat memperparah kondisi.
b) Apabila dalam melakukan aktivitas merasa sesak nafas maka pasien segera
untuk istirahat.
c) Hendaknya pasien menghindari asap rokok atau merokok dan debu yang dapat
menimbulkan sesak.
3. Keluarga
a) Menyarankan agar selalu memberikan dukungan mental kepada penderita,
sehingga penderita mempunyai semangat dalam melakukan latihan dan
pengobatan.
b) Menganjurkan untuk menjaga kebersihan lingkungan setempat dari polusi
c) Keluarga sebaiknya mengawasi semua aktivitas pasien agar tidak terjadi sesak
nafas saat beraktivitas.

4. Masyarakat
a) Menyarankan kepada masyarakat untuk segera mungkin berobat jika terjadi
keluhan seperti masalah diatas.
b) Menyarankan kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan dan tidak
menimbulkan polusi udara.
DAFTAR PUSTAKA

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). 2005.


Pocket Guide to COPD Diagnosis, Management, and Prevention.
Dari http//www.goldcopd.org. diambil juli 2012.
Smeltzer, Suzanne C. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth, alih bahasa: Agung Waluyo (et. al.), vol. 1, edisi 8, Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai