Anda di halaman 1dari 14

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I IRIAN JAYA

NOMOR : 11 TAHUN 1979


TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGUJIAN MUTU HASIL PERIKANAN
DIPROPINSI DAERAH TINGKAT I IRIAN JAYA

DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I IRIAN JAYA,

Lampiran : 2(dua).

Menimbang : a. bahwa untuk terselenggaranya kegiatan


pengujian mutu hasil perikanan secara berdaya
guna perlu didukung oleh kegiatan
penyelenggara administrasi sebagaimana
mestinya;
b. bahwa untuk dapat terselenggaranya kegiatan
pengujian mutu hasil perikanan, maka
laboratorium memerlukan media mikrobiologis
dan reagenasia Kimia yang habis terpakai pada
setiap kali pengujian, disamping beberapa
peralatan laboratorium merupakan peralatan
yang memerlukan ketelitian tinggi (precision
instruments) yang secara rutin perlu dirawat
(diservise) agar supaya tetap berfungsi
secara baik dan teliti;
c. bahwa fungsi dan kegiatan laboraturium
Pembinaan dan Pengujian mutu hasil perikanan
bukanlah statis melainkan terus berkembang
secara dinamis mengikuti perkembangan dan
kemajuan tehnologi, oleh karena itu perlu
dipertimbangkan biaya untuk pemeliharaan
(maintenance) dan perbaikan (repairing) serta
pengembangannya;
d. bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut
diatas maka dipandang perlu untuk
melaksanakan pungutan biaya administrasi dan
biaya pengujian mutu hasil perikanan yang
diatur dengan Peraturan Daerah.

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 (L.N. Tahun


1974 No. 38);
2. Undang-undang Nomor 12 tahun 1969 (L.N. Tahun
1969 No. 47) jo Peraturan Pemerintah R.I.
Nomor 5 Tahun 1973;
3. Undang-undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957 (L.N.
Tahun 1957 Nomor 57);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1957;
5. Peraturan bersama Menteri Pertanian R.I.
31/Kpts/Um/1/75 dan Menteri Kesehatan R.I.No.
32/1/Kab/B.U./75 tentang Pembinaan Mutu hasil
Perikanan;
6. Keputusan Direktur Jenderal Perikanan
No.H.II/2/1/77 tentang Pedoman Pembinaan dan
Pengelolaan Laboratorium Pembinaan dan
Pengujian Mutu Hasil Perikanan;
7. Instruksi Direktur Jenderal Perikanan
No.H.I/4/1/11/77;
8. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I
Irian Jaya Nomor 2 Tahun 1975 tentang
Retribusi Uang Leges.

Mengingat pula: 1. Surat Menteri Pertanian Nomor


047/Mentan/I/1977 tentang Wewenang
pengelolaan Laboratorium Pengujian Hasil
Perikanan;
2. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor
Pem.2/1/10 tanggal 19 Januari 1978 tentang
wewenang Pengelolaan Laboratorium Pengujian
Mutu Hasil Periksanan;
3. Surat Menteri Dalam Negeri Noomor Ekon.I/10/7
tanggal 5 Juni 1978 tentang Pungutan Biaya
Administrasi dan Biaya Pengujian Mutu Hasil
Perikanan;
4. Surat Direktur Jenderal Perikanan Nomor
E.III/3/15/10/77 tentang Penanda tanganan
Sertifikat Mutu Ekspor;

Dengan Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah


Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian


Jaya tentang Pungutan Biaya Administrasi dan Biaya
Pengujian Mutu Hasil Perikanan di Propinsi Daerah
Tingkat I Irian Jaya.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
(a) Daerah adalah Propinsi Tingkat I Irian Jaya.
(b) Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I
Irian Jaya.
(c) Gubernur Kepala Daerah ialah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I
Irian Jaya.
(d) Dinas Perikanan Daerah ialah Dinas Perikanan Daerah Propinsi
Daerah Tingkat I Irian Jaya.
(e) Kas Daerah ialah Kas Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian
Jaya.
(f) Hasil Perikanan ialah segala jenis ikan, binatang serta
tumbuh-tumbuhan perairan yang diolah menjadi produk yang
dapat dipakai sebagai makanan manusia, makanan ternak dan
keperluan industri.
(g) Pembinaan Mutu ialah pengawasan dan peningkatan mutu dengan
cara mengawasi unit-unit pengolahan, penyimpanan, ditribusi
dan sebagainya dari hasil perikanan.
(h) Standar Mutu ialah nilai suatu Produk yang memenuhi
persyaratan identitas, hygienis, kimiawi, keseragaman
mengenai ukuran, berat atau isi, jumlah, rupa, label dan
sebagainya.
(i) Laboratorium Perikanan ialah Laboratorium Pembinaan dan
Pengujian mutu hasil Perikanan yang fungsi utamanya adalah
membimbing, membina dan mengadakan pengawasan sewaktu-waktu
terhadap fasilitas, metode, tehnik, bahan baku dan produk
akhir dari unit pengolahan hasil perikanan.
(j) Sertifikat mutu ialah Surat tanda bukti Pengujian
Laboratorium yang menerangkan bahwa suatu produk telah
memenuhi standar mutu untuk diekpor.
(k) Unit Pengolahan ialah suatu perusahaan yang menangani dan
mengolah hasil perikanan.
(l) Produk akhir ialah hasil akhir penanganan dan pengolahan ikan
yang siap untuk dikonsumsi.

BAB II
OBJEK DAN SUBJEK

Pasal 2

(1) Setiap orang atau Badan yang membawa hasil perikanan baik
untuk keluar Daerah maupun untuk ekspor diwajibkan memiliki
Sertifikat Mutu.
(2) Untuk mendapatkan Sertifikat Mutu seperti dimaksud pada ayat
(1) pasal ini, Produk akhir hasil perikanan yang akan dikirim
dilakukan pemeriksaan dan pengujian oleh Laboratorium
Perikanan dengan pengembalian contoh (sampling) sebagaimana
tercantum dalam Lampiran I Peraturan Daerah ini.
(3) Atas pemeriksaan dan pengujian hasil perikanan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) pasal ini dikenakan biaya administrasi
dan biaya pengujian mutu.

BAB III
PENGECUALIAN

Pasal 3

Dikecualikan dari kewajian pemeriksaan dan pengujian hasil


perikanan dimaksud pada pasal 2 ayat (1) Peraturan Daerah ini
adalah yang dibawa untuk keperluan sendiri, tidak melebihi dari 12
(dua belas) Kg dan tidak untuk diperdagangkan.

BAB IV
BESARNYA PUNGUTAN

Pasal 4

(1) Besarnya pungutan biaya pemeriksaan dan pengujian adalah satu


permil dari harga patokan tertinggi udang, kali jumlah Kg
komoditi yang akan diekspor. Ketentuan rumus tersebut
merupakan Standar Perhitungan dengan ketentuan bahwa untuk
setiap jenis komoditi diperhitungkan dengan prosentase biaya
pengujian sebagai berikut:

No. Jenis Produk Prosentase


Biaya
Pengujian

1. Lobster, Udang segar/beku 100%


2. Ikan segar/beku 25%
3. Paha Kodok segar/beku 50%
4. Krupuk Ikan/Udang 15%
5. Ikan Kaleng 20%
6. Kepiting kerang hidup/segar/beku 20%
7. Ubur-ubur Asin 20%
8. Rumput laut/agar-agar 5%
9. Ikan kering/asin 5%
10. Tepung ikan 50%

(2) Pengelompokan Komoditi menurut jenis Produk adalah


sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan Daerah ini.
BAB V
CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN
BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA PENGUJIAN MUTU
HASIL PERIKANAN

Pasal 5

(1) Pemungutan biaya administrasi dan biaya pengujian mutu hasil


perikanan ini dilaksanakan oleh Dinas Perikanan cq
Laboratorium Perikanan.
(2) Biaya administrasi dan biaya pengujian mutu tersebut pada
ayat (1) pasal ini disetorkan langsung kepada Kas Daerah.

BAB VI
LARANGAN DAN KETENTUAN PIDANA

Pasal 6

(1) Apabila dalam pemeriksaan terhadap hasil perikanan yang akan


dikeluarkan dari Daerah ternyata tidak memenuhi standar mutu,
maka produk tersebut harus ditarik kembali oleh unit
pengolahan yang menghasilkannya dan dilarang untuk
didistribusikan.
(2) Apabila produk yang dimaksud ayat (1) pasal ini dapat
membahayakan kesehatan manusia, maka produk tersebut harus
dihancurkan.
(3) Apabila produk yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini hanya
mutunya saja yang kurang baik, maka produk tersebut dapat
diolah kembali untuk diperbaiki dan setelah itu diijinkan
untuk didistribusikan.

Pasal 7

Barang siapa melanggar ketentuan seperti dimaksud pasal 2 ayat (1)


dan pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Daerah ini dihukum
dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau dengan
sebanyak-banyaknya Rp. 30.000,- (tigapuluh ribu rupiah) dan barang
bukti disita.

BAB VII
PENUTUP

Pasal 8

(1) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini
sepanjang peraturan pelaksanaannya akan diatur kemudian oleh
Gubernur Kepala Daerah.
(2) Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak hari pertama tanggal
pengundangannya.

Jayapura, 28 Nopember 1979

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I


IRIAN JAYA,

cap/ttd.

H.SOETRAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH


PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
KETUA

Cap/ttd.

Ds. WILLEM MALOALI

LAMPIRAN I: Perturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya


Nomor: 11 Tahun 1979
Tanggal : 28 Nopember 1979
------------------

PUNGUTAN BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA PENGUJIAN MUTU


HASIL PERIKANAN DI PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
-------------------------------------------------

METODE PENGAMBILAN CONTOH PENGUJIAN HASIL PERIKANAN

Cara pengambilan contoh (sampling) dan besarnya jumlah contoh


(sampling size) untuk Produk perikanan yang akan diuji
kwalitasnya, haruslah dilakukan secara acak (at rendem) dengan
pedoman kepada tabel dibawah ini :

1. Untuk setiap jenis produk perikanan yang telah dikemas dalam


suatu wadah (prepacked) termasuk didalamnya komoditi hasil
perikanan seperti Lobster beku, Udang beku, paha kodok beku,
Krupuk ikan, krupuk udang, ikan kaleng, kerang beku dan cumi-
cumi beku besarnya jumlah contoh pengujian (sampling size)
adalah sebagai berikut :

Daftar tingkat periksaan pertama:


Berat bersih kemasan terkecil kurang dari 1 Kg.

Besarnya Lot Besarnya Jumlah Jumlah


Contoh Penyimpangan
(N) (N) Yang Di
perbolehkan
(C)

4.800 kemasan 6 kemasan 1 kemasan


atau kurang
4.801 - 24.000 kemasan 13 kemasan 2 kemasan
24.001 - 48.000 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
48.001 - 84.000 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
84.000 - 144.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
144.000 - 240.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
lebih dari 240.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan

Berat bersih kemasan terkecil lebih dari 1 Kg tetapi kurang Dari


4,5 Kg


4.800 kemasan 6 kemasan 1 kemasan
atau kurang
2.401 - 15.000 kemasan 13 kemasan 2 kemasan
15.001 - 48.000 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
24.001 - 42.000 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
42.001 - 72.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
72.001 - 120.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
lebih dari 120.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan

Berat bersih kemasan terkecil lebih dari 4,5 Kg

600 kemasan 6 kemasan 1 kemasan


atau kurang
601 - 2.000 kemasan 13 kemasan 2 kemasan
2.001 - 7.200 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
7.201 - 15.000 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
15.001 - 24.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
24.001 - 42.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
lebih dari 42.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan

Apabila terhadap perbedaan pendapat (sanggahan) mengenai hasil


pengujian diantara pihak pemilik barang dengan pihak penguji, maka
kedua belah pihak dapat bersepakat mengadakan pengujian ulangan
dengan besar jumlah contoh menurut tingkat pemeriksaan ulangan.
Daftar tingkat pemeriksaan ulangan.

Berat bersih kemasan terkecil kurang dari 1 Kg.


4.800 kemasan 13 kemasan 2 kemasan
atau kurang
4.801 - 24.000 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
24.001 - 48.000 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
48.001 - 84.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
84.001 - 144.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
144.001 - 240.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan
lebih dari 240.000 kemasan 200 kemasan 19 kemasan

Berat bersih kemasan terkecil lebih dari 1 Kg tetapi kurang dari


4,5 Kg.


2.400 kemasan 13 kemasan 2 kemasan
atau kurang
4.801 - 15.000 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
15.001 - 24.000 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
24.001 - 42.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
42.001 - 72.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
72.001 - 120.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan
lebih dari 120.000 kemasan 200 kemasan 19 kemasan

Berat bersih kemasan terkecil lebih dari 4,5 Kg.

600 kemasan 13 kemasan 2 kemasan


601 - 2.000 kemasan 21 kemasan 3 kemasan
2.001 - 7.200 kemasan 29 kemasan 4 kemasan
7.201 - 15.000 kemasan 48 kemasan 6 kemasan
15.001 - 24.000 kemasan 84 kemasan 9 kemasan
24.001 - 42.000 kemasan 126 kemasan 13 kemasan
lebih dari 42.000 kemasan 200 kemasan 19 kemasan

2. Untuk setiap jenis produk perikanan yang tidak dikemas suatu


wadah (unprepackaged) termasuk didalamnya komodity hasil
perikanan seperti ikan segar/beku, sidat atau kepiting hidup
besarnya jumlah contoh (samping size) adalah sebagai berikut:

Daftar tingkat pemeriksaan pertama:


Berat bersih tiap ikan kurang dari 10 Kg.

Besarnya Lot Besarnya Jumlah Jumlah


Contoh Penyimpangan
(N) (N) yang di
perbolehkan
(C)

8.000 ekor atau kurang 3 ekor 1 ekor


8.001 - 14.000 ekor 5 ekor 2 ekor
14.001 - 24.000 ekor 8 ekor 3 ekor
24.001 - 40.000 ekor 14 ekor 4 ekor
lebih dari 40.000 ekor 21 ekor 5 ekor

Berat bersih tiap ekor ikan lebih dari 10 kg tetapi kurang dari 30
Kg

1.200 ekor atau kurang 3 ekor 1 ekor


1.201 - 2.100 ekor 5 ekor 2 ekor
lebih dari 2.100 ekor 8 ekor 3 ekor

Berat bersih tiap ekor ikan lebih dari 30 Kg.

420 ekor atau kurang 1 ekor -


lebih dari 420 ekor 2 ekor 1 ekor

Apabila terdapat perbedaan pendapat (sanggahan) mengenai hasil


pengujian diantara pihak pemilik barang dengan pihak penguji, maka
kedua belah pihak dapat bersepakat mengadakan pengujian ulangan
dengan besar jumlah contoh menurut tingkat pemeriksaan ulangan.

Daftar tingkat pemeriksaan ulangan.

Berat bersih tiap ekor ikan kurang dari 10 Kg.

8.000 ekor atau kurang 6 ekor 2 ekor


8.001 - 14.000 ekor 10 ekor 4 ekor
14.001 - 24.000 ekor 16 ekor 6 ekor
24.001 - 40.000 ekor 28 ekor 8 ekor
lebih dari 40.000 ekor 42 ekor 10 ekor

Berat bersih tiap ekor ikan lebih dari 10 kg tetapi kurang


dari 30 Kg

1.200 ekor atau kurang 6 ekor 2 ekor


1.201 - 2.100 ekor 10 ekor 4 ekor
lebir dari 2.100 ekor 16 ekor 6 ekor

Berat bersih tiap ekor ikan lebih dari 30 Kg.

420 ekor atau kurang 2 ekor -


lebih dari 420 ekor 4 ekor 2 ekor

3
.Untuk produk perikanan yang tidak dikemas dalam suatu wadah
(unprepackaged) yang digolongkan kedalam jenis produk
perikanan ikan asin/kering, rumput laut dan ubur-ubur asing
seperti komodity hasil perikanan ikan kering, ikan asin, ikan
diawetkan lainnya, troca/lola, cumi-cumi asin, sisa ikan
(fish waste), teripang asin, telur ikan, sirip hiu, kerang
kering/asin, rumput laut, agar-agar, ubur-ubur asin dan
tepung ikan, cara pengambilan contoh dan besarnya contoh
(sampling and sample size) adalah berasal secara acak (at
rendem) dari sebanyak akar pangkat dua dari besarnya lot
(jumlah peti, karung, keranjang) dengan maximum 30 unit
(peti, karung, keranjang) untuk setiap partai kemudian dari
setiap unit hanya diambil contoh sebesar maximum 0,5 Kg dari
bagian tengah, pojok, samping atas, atau bawah yang
selanjutnya dipindahkan kedalam kantong plastik dan diberi
label sehingga setiap kantong plastik berlabel yang berisi
0,5 Kg contoh tersebut adalah merupakan satu satuan contoh.

Apabila terdapat perbedaan pendapat (sanggahan) mengenai hasil


pengujian di antara pihak pemilik barang dengan pihak penguji,
maka kedua belah pihak bersepakat mengadakan pengujian ulangan
dengan besar jumlah contoh diambil seperti tersebut diatas dengan
ketentuan bahwa dari setiap unit diambil contoh seberat maksimum 1
Kg.

Jayapura, 28 Nopember 1979


GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA,

Cap/ttd.

H.SOETRAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH


PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
KETUA
Cap/ttd.

Ds. WILLEM MALOALI

LAMPIRAN IIPeraturan Daerah Propinsi Daerah


Tingkat I Irian Jaya
Nomor : 11 Tahun 1979
Tanggal : 28 Nopember 1979.

PUNGUTAN BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA PENGUJIAN MUTU


HASIL PERIKANAN DI PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
____________________________________________________

DAFTAR PENGELOMPOKAN KOMODITI MENURUT JENIS PRODUK


__________________________________________________

1. Lobster, udang segar/beku : a. Lobster


b. Udang beku dengan kepala
c. Udang beku tanpa kepala
d. Udang segar dikuliti,
dibekukan.
e. Udang sekar dikuliti,
direbus dan dibekukan.
2. Ikan segar/beku : a. Cakalang,tongkol,tuna
lainnya.
b. Ikan hasil perikanan
darat lainnya.
c. Ikan laut lainnya.
d. Cumi-cumi
e. Sidat.
3. Paha kodok segar/beku : Paha kodok
4. Kerupuk ikan/udang : a. Kerupuk ikan
b. Kerupuk udang
5. Ikan Kaleng : Ikan kaleng
6. Ubur-ubur : Ubur-ubur asin
7. Kepiting, kerang-kerangan : a. Kepiting hidup
hidup/segar/beku b. Kerang segar/beku
8. Rumput laut/troka/lola : a. Rumput laut
b. Agar-agar
c. Troca/lola
9. Ikan kering/asin : a. Ikan kering
b. Ikan asin
c. Ikan diawetkan
d. Cumi-cumi asin
e. Sisa ikan (fisk waste)
f. Teripang asin
g. Telur ikan
h. Sirip hiu
i. Kerang asin
j. Ikan asap
k. Ikan kayu
l. Udang kering
10. Tepung ikan
________________________________________________________________
Jayapura, 28 Nopember 1979
GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA,

CAP/TTD.

H.SOETRAN

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH


PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
KETUA

Cap/TTD.

Ds. WILLEM MALOALI.

PENJELASAN
ATAS

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I IRIAN JAYA


NOMOR : 11 TAHUN 1979
_____________________________________________________
TENTANG

PUNGUTAN BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA PENGUJIAN MUTU


HASIL PERIKANAN DI PROPINSI DAERAH TINGKAT I
IRIAN JAYA
____________________________________________________

UMUM

Ikan dan hasil perairan lainnya adalah jenis produk yang


sangat mudah busuk dan mengalami kemunduran mutu. Peningkatan
produksi ikan heruslah diikuti dengan usaha mempertahankan dan
memperbaiki mutu agar pemasaran dan distribusinya dapat terlaksana
dengan baik.
Dengan keluarnya keputusan Bersama Menteri Pertanian dan
Menteri Kesehatan tanggal 28 Januari 1975 No. 31/Kpts/Um/1/1975
dimana dalam pasal 14 menetapkan b 32/I/Kab/BU/1975
bahwa "Ekspor produk perikanan harus disertai sertifikat mutu",
berarti bahwa produk akhir hasil perikanan Indonesia yang akan
diekspor harus memenuhi standar mutu yang dilindungi oleh
Sertifikat mutu, dan pengelolaannya dilakukan oleh laboratorium
Pembinaan dan pengujian Mutu Hasil Perikanan.
Saat ini di Daerah Tingkat I Irian jaya telah berdiri dan
siap untuk beroperasi sebuah Laboratorium Perikanan di sorong.
Proses penerbitan Sertifikat Mutu adalah proses pelaksanaan
pemeriksaan laboratoris terhadap komodity perikanan yang akan
diekspor. Pelaksanaan pemeriksaan labolatoris dimaksud memerlukan
biaya tertentu disamping untuk administrasi dan tenaga pemeriksa
(tenaga ahli) juga untuk bahan-bahan kimia media mikrobiologis,
organoleptik dan sebagainya. Biaya-biaya tersebut tidak dapat
dikategorikan sebagai pelayanan cuma-cuma sehingga perlu adanya
pungutan biaya administrasi dan biaya pengujian mutu hasil
perikanan.

PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 : Cukup jelas


Pasal 2 ayat (1) : Peraturan Daerah ini disusun sedemikian
rupa sehingga jangkauannya jauh ke depan
yaitu pemberian sertifikat mutu untuk
ekspor dan konsumsi dalam Negeri (antar
daerah). Tetapi didalam pelaksanaannya
sekarang ini diseluruh Indonesia, sesuai
dengan situasi dan kondisi baru produk
ekspor saja yang diwajibkan memiliki
sertifikat mutu, namun pada masa-masa
mendatang sesuai dengan perkembangan
kebutuhan, pemberian sertifikat mutu
terhadap konsumsi dalam Negeripun akan
ditentukan.
Pasal 2 ayat (2) : Metode pengambilan contoh (sampling)
terlampir adalah Metode pengambilan
contoh pengujian Produk Hasil Perikanan
yang berlaku diseluruh Indonesia yang
dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal
Perikanan Departemen Pertanian Tahun
1976.
Pasal 2 ayat (3) : Cukup jelas.
Pasal 3 : Cukup jelas
Pasal 4 : Cukup jelas.
Pasal 5 ayat (1) : Biaya pemeriksaan udang segar/beku =
100% x 1/1000 x Harga Patokan Tertinggi
udang x Berat komodity udang.
- Biaya pemeriksaan ikan segar / beku
= 25% x 1/1000 x Harga Patokan
tertinggi udang x Berat komodity
ikan segar/beku.
- Biaya pemeriksaan paha kodok
segar/beku = 50% x 1/1000 x Harga
patokan tertinggi
udang x Berat komodity paha
kodok segar/beku.
- dan seterusnya.
Pasal 5 ayat(2) : Cukup jelas.
Pasal 6 : Cukup jelas.
Pasal 7 : Cukup jelas
Pasal 8 : - Jika pelanggaran dilakukan oleh
Badan baik yang sudah berbadan
hukum maupun belum, maka yang
dituntut adalah pengurus/penanggung
jawab atau wakil dari badan
tersebut.
- Yang dimaksud dengan disita ialah
disita untuk Negara yang
selanjutnya dilelang.
Hasil lelang adalah merupakan
pendapatan Daerah Tingkat I.
Pasal 9 : Cukup jelas.

CATATAN :
- Peraturan Daerah ini telah dirubah oleh Peraturan Daerah
Propinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya Nomor 6 Tahun 1985.
-