Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA

Kertas, Serat, dan Pulp

Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi

serat. Serat yang digunakan biasanya adalah serat alami, dan mengandung

selulosa. Kertas merupakan bahan yang sering dipakai dan selalu berhubungan

dengan manusia. Setidaknya sampai saat ini kertas masih dipercaya sebagai bahan

yang paling efektif dan efisien sebagai media buku. Karena terbuat dari bahan

organik (serat kayu), kertas sangat rawan busuk, basah, mudah terbakar, dan

berjamur (Hadi, 2008).

Bahan baku pembuatan kertas adalah selulosa yang diberi perlakuan

kimia, dibilas, diuraikan, dipucatkan, dibentuk menjadi lembaran setelah pressing

dan dikeringkan. Kayu terdiri dari 50% selulosa, 30% lignin dan bahan bersifat

adhesif di lamela tengah, 20% karbohidrat berupa xylan, resin dan tanin. Jenis

kayu dan lembaran akhir kertas yang di inginkan sangat menentukan cara

pembuatan kertas. Pada pembuatan kertas dengan bahan baku berupa kayu

terlebih dahulu dibuat menjadi pulp (Syafiisab, 2010)

Properti kertas yang perlu diperhatikan terutama adalah kuat tarik dan

daya serap air. Kekuatan kertas dipengaruhi oleh kekuatan individual serat dan

panjang rata-rata serat, dimana hal ini ditentukan oleh bahan baku kertas itu

sendiri. Sebagai contoh kertas yang terbuat dari bahan kayu (wood) mempunyai

kekuatan lebih besar jika dibandingkan dengan kertas yang terbuat dari tanaman

tahunan (annual plant). Kuat tarik merupakan gaya longitudinal terbesar yang

diterima oleh selembar kertas hingga sobek. Tekanan ini dinyatakan sebagai gaya

5
6

per satuan unit luas penampang dari spesimen uji. Daya serap air dinyatakan

sebagai kuantitas air yang dapat diserap oleh kertas dalam waktu dan kondisi

lingkungan (Paskawati, dkk., 2010).

Serat secara umum terdiri dari dua jenis yaitu serat alam dan serat sintetis.

Serat alam adalah serat yang dapat langsung diperoleh dari alam. Biasanya berupa

serat yang dapat langsung diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Serat

ini telah banyak digunakan oleh manusia diantaranya adalah kapas, wol,

sutera, pelepah pisang, sabut kelapa, ijuk, bambu, nanas dan knaf atau goni. Serat

alam memiliki kelemahan yaitu ukuran serat yang tidak seragam, kekuatan serat

sangat dipengaruhi oleh usia. Serat sintetis adalah serat yang dibuat dari

bahan-bahan anorganik dengan komposisi kimia tertentu. Serat sintetis

mempunyai beberapa kelebihan yaitu sifat dan ukurannya yang relatif

seragam, kekuatan serat dapat diupayakan sama sepanjang serat. Serat

sintetis yang telah banyak digunakan antara lain serat gelas, serat karbon,

kevlar, nylon, dan lain-lain (Syafiisab, 2010).

Semakin panjang serat kayu maka pulp yang dihasilkan memiliki kekuatan

yang tinggi. Hal ini disebabkan serat panjang memberikan bidang persentuhan

yang lebih luas dan anyaman lebih baik antara satu serat dengan lainnya, yang

memungkinkan lebih banyak terjadi ikatan hidrogen antar serat-serat tersebut.

Lebih lanjut, pulp serat panjang lebih sulit lolos saringan, sehingga lebih mudah

dicuci. Panjang serat mempengaruhi sifat-sifat tertentu pulp dan kertas, termasuk

ketahanan sobek, kekuatan tarik dan daya lipat (Aprianis, dkk., 2013).
7

Tujuan utama pembuatan pulp kayu adalah untuk melepaskan serat-serat

yang dapat dikerjakan secara kimia atau secara mekanik atau dengan kombinasi

dua tipe perlakuan tersebut. Pulp-pulp perdagangan yang umum dapat

dikelompokkan menjadi tipe-tipe kimia, semikimia, kimia mekanik, dan mekanik.

Pembuatan pulp secara kimia adalah proses dimana lignin dihilangkan sama sekali

hingga serat-serat kayu mudah dilepaskan pada pembongkaran dari bejana

pemasak (digester) atau paling tidak setelah perlakuan mekanik lunak. Hampir

semua produksi pulp kimia di dunia saat ini masih didasarkan pada proses-proses

sulfit dan sulfat (kraft), yang terakhir yang paling banyak (Sjstrm, 1995).

Pengecilan ukuran adalah proses penghancuran atau pemotongan suatu

bentuk padatan menjadi bagian bagian yang lebih kecil oleh gaya mekanik. Ada

empat yang sering digunakan pada mesin mesin pengecilan ukuran, cara itu

adalah kompresi, pukulan, atrisi, dan pemotongan. Pada umumnya, kompresi

digunakan pada pengecilan ukuran padatan yang keras, pukulan digunakan untuk

bahan padatan yang kasar, setengah kasar, dan halus. Atrisi digunakan untuk

memperoleh produk produk yang sangat halus, sedangkan pemotongan untuk

menghasilkan produk dengan bentuk dan ukuran tertentu, halus atau kasar. Tujuan

pengecilan ukuran produk adalah :

1. Mempermudah ekstraksi unsur tertentu dan struktur komposisi.

2. Penyesuaian dengan kebutuhan spesifikasi produk atau

mendapatkan bentuk tertentu.

3. Untuk menambah luas permukaan padatan .

4. Mempermudah pencampuran bahan secara merata.

(Listiarsi, 2013).
8

Komposisi Kulit Durian

Kulit durian secara proporsional mengandung unsur selulose yang tinggi

(50-60 %) dan kandungan lignin (5 %) serta kandungan pati yang rendah (5 %)

sehingga dapat diindikasikan bahan tersebut bisa digunakan sebagai campuran

bahan baku papan olahan serta produk lainnya yang dimampatkan. Selain itu,

limbah kulit durian mengandung sel serabut dengan dimensi yang panjang serta

dinding serabut yang cukup tebal sehingga akan mampu berikatan dengan baik

apabila diberi bahan perekat sintetis atau bahan perekat mineral. Berdasarkan hasil

penelitian menunjukkan bahwa nilai kalor kulit durian yang diperoleh

menunjukkan angka sebesar 3786,95 kal/gram dengan kadar abu rendah sebesar

4 persen (Prabowo, 2009).

Berdasarkan penelitian dari University Chulalongkom Thailand yang

menyebutkan bahwa kulit durian memilki kandungan selulosa terbanyak sekitar

50%-60% carboxymethylcellulose dan lignin 5%. Penggunaan selulosa ini dapat

diaplikasikan karena bahan ini dapat mengikat bahan logam. Selulosa pada kulit

durian memiliki tiga gugus hidroksil yang reaktif dan memiliki unit

berulang-ulang yang membentuk ikatan hidrogen intramolekul dan antar molekul.

Ikatan ini memiliki pengaruh yang besar pada kereaktifan selulosa terhadap

gugus-gugus lain. Polimer selulosa terdiri dari monomer Dglukosa yang dapat

dimodifikasi oleh gugus fosfat (Aprianis, dkk., 2013).

Pembuatan Kertas dan Penggunaan NaOH

Proses pembuatan kertas adalah proses penyusunan serat yang telah

dilepaskan dari kayu ke dalam bentuk lembaran. Dari lembaran tipis ataupun tebal
9

yang dibuatnya dibutuhkan sifat-sifat tertentu untuk memenuhi kegunaan dari

kertas-kertas tersebut. Proses pembuatan kertas dapat dilakukan dengan

mengubah bahan baku serat menjadi pulp dan kertas. Urutan proses

pembuatannya adalah: persiapan bahan baku, pembuatan pulp (secara kimia,

semikimia, dan mekanik), pemutihan (bleaching), pengambilan kembali bahan

kimia, pengeringan pulp dan pembuatan kertas. Proses yang membutuhkan energi

paling tinggi adalah proses pembuatan pulp dan proses pengeringan kertas

(Lumbanbatu, 2008).

Secara sederhana, proses pembuatan kertas melibatkan:

1. pemecahan kayu menjadi serat penyusunnya (pulp),

2. pelarutan serat didalam air,

3. penggilingan atau penghalusan pulp,

4. pencampuran bahan-bahan tambahan (bahan pengisi, bahan

pengelem, bahan pengikat kekuatan basa, dan sebagainya),

5. pembentukan tikar serat,

6. pengurasan air,

7. pengeringan lembaran untuk banyak tipe kertas, pembentukan

lembaran mungkin diikuti oleh perlakuan permukaan

(Haygreen dan Bowyer, 1996).

Pada pembuatan kertas seni, penambahan larutan NaOH berfungsi

untuk melarutkan lignin saat proses pembuburan (pulping) sehingga mempercepat

proses pemisahan dan pemutusan serat, pulp dapat dihasilkan dengan

semikimia dengan larutan NaOH dan pembuatan serat dengan pengilingan.


10

Untuk mengikat komponen antar serat pada proses pembentukan lembaran

(forming) diperlukan penambahan bahan perekat sehingga serat dapat

membentuk lembaran kertas yang kuat. Penambahan bahan perekat pada

produksi kertas seni bertujuan untuk memperkuat ikatan antar serat, serta

mengawetkan kertas sehingga diperoleh kertas yang berkualitas dengan

ketahanan tarik dan ketahan sobek yang tinggi (Sucipto, dkk., 2009).

Penggunaan NaOH sebagai larutan pemasak berfungsi untuk

mendegradasi lignin sehingga memudahkan dalam pemisahan serat. Larutan

NaOH bisa menyerap ke dalam struktur amorf dan kristalin dalam dinding serat,

yang menyebabkan pengembangan (pembesaran) penampang melintang

diameter serat dan lumen serta penipisan dinding serat, tetapi pada proses

pelunakan lignin, sebagian hemiselulosa maupun selulosa ikut terlarut sehingga

berpengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan (Fatriasari, dkk., 2009).

Lama pemasakan yang optimum pada proses delignifikasi adalah sekitar

60-120 menit dengan kandungan lignin tetap setelah rentang waktu tersebut.

Semakin lama waktu pemasakan, maka kandungan lignin di dalam pulp tinggi,

karena lignin yang tadi telah terpisah dari raw pulp dengan berkurangnya

konsentrasi NaOH akan kembali menyatu dengan raw pulp dan sulit untuk

memisahkannya lagi. Waktu perendaman yang divariasikan dalam pembentukan

kertas berhubungan dengan pelunakan kertas bekas yang akan dibentuk menjadi

pulp. Serat mempengaruhi terhadap ketahanan dari kertas yang akan dibuat

(Dahlan, 2011).
11

Tujuan dari pemasakan serpihan kayu adalah memisahkan serat dari

pengikatnya. Dalam kayu yang berperan sebagai serat adalah selulosa dan

hemiselulosa dan zat pengikatnya adalah lignin. Serat-serat yang telah dimasak

dipisahkan dari cairan pemasak. Cairan pemasak melarutkan senyawa-senyawa lain

selain selulosa. Sisa pemasakan dipisahkan dengan pencucian. Baik tidaknya pulp

yang dihasilkan tergantung kepada jumlah pemakaian alkali aktif. Jika pemakaian

alkali aktif terlalu banyak maka akan merusak pulp yang dihasilkan. (Fikri, 2012).

Gramatur, Ketahanan Sobek, dan Kekuatan Tarik Kertas

Gramatur adalah massa lembaran kertas dalam gram dibagi dengan

satuan luas kertas dalam meter persegi, diukur pada kondisi standar. Spesifikasi

gramatur mengikuti ketentuan SNI 14-0440-1989 adalah 71 gr/m2. Pengujian

gramatur kertas dilakukan sesuai SNI 14-0439-1989 (BSN, 1987).

Toleransi pada gramatur adalah batas penyimpangan minimal dan

maksimal dari suatu nilai gramatur kertas dan karton, dinyatakan dalam persen.

Nilai toleransi gramatur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Toleransi Gramatur


No Gramatur, g/m2 Toleransi, %
1 Di bawah 28.00 7
2 35.00 6
3 45.00-55.00 5
4 Di atas 60.00 4
(BSN, 2006).

Nilai gramatur yang besar disebabkan alat yang digunakan masih

menggunakan alat manual yaitu berupa screen sablon yang digunakan untuk

mencetak kertas pada saat penelitian, proses penggerusan juga memberikan

pengaruh terhadap gramatur kertas. Dimana ketika melakukan penggerusan yang


12

fungsinya untuk menghilangkan air tebalnya kertas menjadi tidak merata, serta

tidak adanya proses penekanan atau pressing pada kertas (Suriani, 2013).

Ketahanan sobek adalah suatu ukuran gaya atau kekuatan yang dibutuhkan

untuk memulai sebuah sobekan. kekuatan yang dibutuhkan untuk memulai sebuah

sobekan mungkin beberapa kali lebih besar dari pada kekuatan untuk melanjutkan

sobekan tersebut ketika proses menyobek telah dimulai. Hal ini biasanya

diketahui oleh orang yang pernah mengalami kesulitan untuk membuka kantung

atau tas kertas kaca, namun ketika sudah tersobek sedikit maka akan mudah untuk

membukanya. Kertas dan material - material lain yang mempunyai daya regang

yang tinggi juga mempunyai kekuatan sobek yang tinggi. Daya regang yang tinggi

menyebabkan sulitnya mengkonsentrasikan tekanan pada sebuah area yang kecil

agar cukup untuk melakukan sobekan (Caulfield and Gunderson, 1988).

Sifat ketahanan sobek dipengaruhi oleh jumlah selulosa yang terdapat

pada lembaran yang tersobek. Bahan yang mengandung selulosa yang lebih

banyak akan menghasilkan lembaran pulp yang ketahanan sobek yang lebih

tinggi. Kertas seni terbuat dari limbah kertas maupun tanaman yang

mengandung selulosa sehingga menghasilkan kertas yang bertekstur kasar.

Pembuatan kertas seni merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah dan

mengurangi penggunaan serat kayu sebagai bahan baku kertas. Berbagai

limbah hasil pertanian yang mengandung selulosa relatif besar dan dapat

dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas seni antara lain batang

pisang, jerami, mendong, batang jagung, batang tembakau dan enceng gondok

(Sugiarto, dkk., 2012).


13

Kekuatan tarik (tensile strength, ultimate tensile strength) adalah tegangan

maksimum yang bisa ditahan oleh sebuah bahan ketika diregangkan atau ditarik,

sebelum bahan tersebut patah. Kekuatan tarik adalah kebalikan dari kekuatan

tekan, dan nilainya bisa berbeda. Beberapa bahan dapat patah begitu saja tanpa

mengalami deformasi, yang berarti benda tersebut bersifat rapuh. Bahan lainnya

akan meregang dan mengalami deformasi sebelum patah, yang disebut dengan

benda elastis (ductile). Kekuatan tarik umumnya dapat dicari dengan melakukan

uji tarik dan mencatat perubahan regangan dan tegangan. Titik tertinggi dari kurva

tegangan-regangan disebut dengan kekuatan tarik penghabisan (ultimate tensile

strength). Nilainya tidak bergantung pada ukuran bahan, melainkan karena faktor

jenis bahan. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi seperti keberadaan zat

pengotor dalam bahan, temperatur dan kelembaban lingkungan pengujian, dan

penyiapan spesimen. Dimensi dari kekuatan tarik adalah gaya per satuan luas.

Dalam satuan SI, digunakan pascal (Pa) dan kelipatannya (seperti MPa,

megapascal). Pascal ekuivalen dengan Newton per meter persegi (N/m)

(Warsito, 2010).

Faktor yang mempengaruhi ketahanan tarik lembaran adalah ikatan atau

jalinan antar serat, panjang serat dan kandungan fines. Peningkatan jumlah dan

kualitas ikatan atau jalinan antar serat akan meningkatkan ketahanan tarik

lembaran, begitu pula dengan panjang serat yang lebih tinggi akan menghasilkan

ketahanan tarik yang lebih baik. Ketahanan tarik merupakan cerminan dari

struktur ikatan serat pada suatu lembaran. Sedangkan jika kandungan fines yang

tinggi cenderung menurunkan ketahanan tarik lembaran, dikarenakan jalinan atau

ikatan antar serat semakin berkurang (Widiastono dan Zen, 2007).


14

Hasil kekuatan tarik mencerminkan struktur ikatan kertas dan sifat dari

serat itu sendiri. Dimensi dan kekuatan dari kertas tersebut, susunan serat, dan

sejauh mana serat serat tersebut berikatan satu sama lain adalah faktor penting

dalam menentukan hasil pengujian. Kertas yang dibuat dari serat yang panjang

biasanya mempunyai kekuatan tarik yang lebih tinggi dibandingkan dengan kertas

yang mempunyai serat pendek. Namun, sejauh mana ikatan antar serat adalah

faktor yang dianggap paling penting yang berkontribusi dalam menentukan sifat

kekuatan tarik (Caulfield and Gunderson, 1988).

Aplikasi Pengunaan Serat dan Kertas Bekas

Berdasarkan penelitian Syafiisab (2010), campuran serat dan kertas bekas

dapat digunakan sebagai panel dinding. Dalam pebelitian tersebut digunakan

kertas bekas yang merupakan kertas HVS (HoutVrij Schrijfpapier) dengan

campuran sabut kelapa dan sekam padi serta lem kanji dan PVAc (Polivinil

Asetat) sebagai perekat. Oladele, dkk. (2009) meneliti komposit serat berpenguat

semen untuk aplikasi plafon. Serat Acanthus montanus dipotong 35-40 mm,

kemudian dicampur dengan limbah kertas, semen, dan air. Fraksi massa serat

sebesar 0%, 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%, sedangkan perbandingan semen dan

limbah kertas sebesar 70:30.

Kualitas kertas seni untuk dijadikan produk handycraft sangat penting

dilihat dari ketahanan tarik dan ketahanan sobek. Semakin tinggi nilai

ketahanan tarik dan ketahan sobek suatu kertas seni, maka kualitas kertas

yang dihasilkan semakin baik (tidak mudah sobek) khususnya sebagai


15

bahan baku produk seperti kap lampu, kotak hias dan bingkai foto

(Sugiarto, dkk., 2012).

Analisis Ekonomi

Menurut Soeharno (2007), analisis ekonomi digunakan untuk menentukan

besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan alat ini.

Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga

keuntungan alat dapat diperhitungkan. Sedangkan menurut Nastiti et al. (2008),

Untuk menilai kelayakan finansial, diperlukan semua data yang menyangkut

aspek biaya dan penerimaan usaha tani. Data yang diperlukan untuk pengukuran

kelayakan tersebut meliputi data tenaga kerja, sarana produksi, hasil produksi,

harga, upah, dan suku bunga.

Biaya Produksi

Menurut Darun (2002), pengukuran biaya produksi dilakukan dengan cara

menjumlahkan biaya yang dikeluarkan yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap

(biaya pokok).


= + ............................................................. (1)

dimana :

BT = total biaya tetap (Rp/Tahun)

BTT = total biaya tidak tetap (Rp/Jam)

x = total jam kerja per tahun (Jam/Tahun)

C = kapasitas alat (Jam/Satuan Produksi).


16

Biaya Tetap

Menurut Jummy (2010), biaya tetap adalah biaya yang timbul akibat

penggunaan sumber daya tetap dalam proses produksi. Sifat utama biaya tetap

adalah jumlahnya tidak berubah walaupun jumlah produksi mengalami perubahan

(naik atau turun). Keseluruhan biaya tetap disebut biaya total (total fixed cost,

TFC). Contoh dari biaya tetap yaitu membeli mesin produksi dan mendirikan

bangunan pabrik, biaya pemasaran, biaya administrasi, gaji direktur produksi, dan

lain-lain.

Biaya Tidak Tetap

Menurut Jummy (2010), biaya variable atau sering disebut biaya variable

total (total variable cost, TVC) adalah jumlah biaya produksi yang berubah menurut

tinggi rendahnya jumlah output yang akan dihasilkan. Semakin besar output atau

barang yang akan dihasilkan, maka akan semakin besar pula biaya variable yang akan

dikeluarkan. Contoh dari biaya variabel yaitu penyediaan bahan baku untuk produksi

dan biaya tenaga kerja langsung.

Break even point

Break even point (analisis titik impas) umumnya berhubungan dengan

proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang

dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing). Dan selanjutnya dapat

berkembang sendiri (self growing). Manfaat perhitungan titik impas (break even

point) adalah untuk mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan

dipasarkan agar usaha yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi
17

ini income yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa

adanya keuntungan.

Manfaat perhitungan titik impas (break even point) adalah untuk

mengetahui batas produksi minimal yang harus dicapai dan dipasarkan agar usaha

yang dikelola masih layak untuk dijalankan. Pada kondisi ini income yang

diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya operasional tanpa adanya

keuntungan. Analisis titik impas juga digunakan untuk :

1. Hitungan biaya dan pendapatan untuk setiap alternatif kegiatan usaha.

2. Rencana pengembangan pemasaran untuk menetapkan tambahan investasi

untuk peralatan produksi.

3. Tingkat produksi dan penjualan yang menghasilkan ekuivalensi (kesamaan)

dari dua alternatif usulan investasi.

(Waldiyono, 2008)

Untuk menentukan produksi titik impas (BEP) maka dapat digunakan

rumus sebagai berikut:

F .............................................................................................. (2)
N=
(R V )

dimana:

N = jumlah produksi minimal untuk mencapai titik impas (Kg)

F = biaya tetap per tahun (rupiah)

R = penerimaan dari tiap unit produksi (harga jual) (rupiah)

V = biaya tidak tetap per unit produksi. VN = total biaya tidak

tetap per tahun (rupiah/unit)

(Darun, 2002).
18

Net present value

Net Present value (NPV) adalah selisih antara present value dari investasi

nilai sekarang dari penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang. Identifikasi

masalah kelayakan financial dianalisis dengan menggunakan metode analisis

finansial dengan kriteria investasi. Net Present Value adalah kriteria yang

digunakan untuk mengukur suatu alat layak atau tidak untuk diusahakan.

Perhitungan Net Present Value merupakan Net benefit yang telah didiskon

dengan Discount factor. Secara singkat dapat dirumuskan:

CIF COF 0 .......................................................................................... (3)

dimana :

CIF = cash inflow

COF = cash outflow

Sementera itu keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan

bertindak sebagai tingkat bungan modal dalam perhitungan:

Penerimaan (CIF) = pendapatan x (P/A, i, n) + nilai akhir x (P/F, i, n)

Pengeluaran (COF) = investasi + pembiayaan (P/A, i, n)

Kriteria NPV yaitu:

- NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan

- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan

- NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang

dikeluarkan.

(Darun, 2002).