Anda di halaman 1dari 12

Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Interaktif untuk Materi Laju Reaksi di SMA

Diah Syafitri*, Fakhili Gulo**, dan Hartono**


*Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia FPMIPA FKIP Universitas Sriwijaya
Email: diah_syafitri0035@yahoo.co.id
**Dosen Program Studi Pendidikan Kimia FPMIPA FKIP Universitas Sriwijaya

ABSTRACT

The developing of interactive student worksheet for rate of reaction has been conducted and tried in SMA N
8 Palembang. This developing used is Alessi and Trollip model with planning phase, design phase, and
development phase. In alpha test, it showed that the everage was 3,73 with valid category and in bheta test, it
showed that the everage was 3,73 with practice category. The efectiveness of this teaching material appear
from the learning result that which was done in product validation test phase. According to this test, 93,55%
students got score more than 75. This showed that interactive students worksheet has fulfilled the valid
category, practice category, and effective category to be used in rate of reaction learning. Researcher hopes
teacher and students can use the interactive student worksheet as one of teaching materials. For other
researcher can develop interactive student worksheet in other interesting material lessons.

Keyword: the development, interactive student worksheet, validity, practicability, effectiveness

ABSTRAK

Pengembangan LKPD interaktif untuk Laju Reaksi telah dilakukan dan diujicoba di SMA Negeri 8
Palembang. Pengembangan dilakukan dengan menggunakan model Alessi dan Trollip dengan tahap
perencanaan, desain, dan pengembangan. Pada uji alfa diperoleh rata-rata sebesar 3,73 dengan kategori valid
dan uji beta diperoleh rata-rata sebesar 3,73 dengan kategori praktis. Keefektifan bahan ajar ini tampak dari
hasil belajar yang dilakukan pada tahap uji validasi produk. Berdasarkan uji ini, 93,55% peserta didik
memeroleh nilai lebih besar dari 75. Hal ini menunjukkan bahwa LKPD interaktif telah memenuhi kriteria
valid, praktis dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran Laju Reaksi. Bagi guru dan peserta didik agar
dapat memanfaatkan LKPD interaktif sebagai salah satu bahan ajar. Bagi peneliti lain agar dapat
mengembangkan LKPD interaktif pada materi atau mata pelajaran lain yang lebih menarik.

Kata kunci : pengembangan, LKPD interaktif, kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan

PENDAHULUAN

Pembelajaran kurikulum 2013 dituntut untuk berkontribusi dalam pembentukan sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didik. Proses pembelajaran yang berlangsung dapat melalui dua cara yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Pada pembelajaran langsung, peserta didik dididik untuk mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan psikomotorik, sedangkan pada pembelajaran tidak langsung para peserta didik
dididik untuk mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan sikap (Katriani, 2014). Dari hal
tersebut, maka peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran untuk mengoptimalkan sikap, keterampilan,
dan pengetahuan yang dimiliki.
Ilmu kimia merupakan bagian dari sains yang mempelajari berbagai fenomena dan hukum alam.
Dalam mempelajari kimia, peserta didik diharapkan dapat memahami konsep-konsep yang ada sehingga
dapat menyelesaikan permasalahan atau soal-soal yang diberikan selama kegiatan pembelajaran berlangsung
atau yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan angket yang diberikan kepada
peserta didik, 54,84% dari peserta didik menyatakan bahwa mata pelajaran kimia tidak mudah dipelajari.
Hasil angket yang didapatkan dikuatkan dengan wawancara yang dilakukan dengan guru yang menyatakan
bahwa para peserta didik masih terpaksa dalam mempelajari kimia dan penggunaan bahan ajar cetak selama
proses pembelajaran berlangsung belum membuat peserta didik lebih tertarik untuk belajar.
Sebanyak 61,29% dari peserta didik menyatakan bahwa belum memahami konsep dari soal-soal yang
terdapat dalam bahan ajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru
atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan ajar yang berkualitas dapat
digunakan peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan kimia (Septiani dkk, 2013). Pengadaan bahan
ajar yang tepat dapat membantu peserta didik dalam mengoptimalkan sikap, keterampilan dan
pengetahuannya. Salah satu bahan ajar yang digunakan adalah lembar kerja peserta didik (LKPD). 67,74%
peserta didik menyatakan LKPD merupakan salah satu bahan ajar yang disukai. LKPD merupakan kumpulan
dari lembaran yang berisikan kegiatan yang memungkinkan peserta didik untuk melakukan aktivitas nyata
dengan objek dan persoalan yang dipelajari (Katriani, 2014). LKPD berfungsi sebagai panduan belajar
peserta didik dan juga memudahkan peserta didik dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar. Menurut
Prastowo (Katriani, 2014) LKPD juga dapat didefinisikan sebagai bahan ajar cetak berupa lembar-lembar
kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas yang harus dikerjakan oleh
peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang dicapai. LKPD disajikan semenarik mungkin agar
semua peserta didik dapat terlibat di dalamnya dan dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi
dan situasi kegiatan yang dapat dihadapi.
Sebagian besar peserta didik di SMA Negeri 8 Palembang telah memanfaatkan teknologi seperti
komputer. Sebanyak 74,19% peserta didik suka belajar dengan menggunakan media komputer. Tetapi
pemanfaatan dalam proses pembelajaran masih belum maksimal, hal ini dikarenakan peserta didik hanya
menggunakan komputer sebagai media pencari informasi untuk tugas-tugas harian. Komputer dapat
digunakan sebagai penunjang dalam proses pembelajaran, misalnya dalam menampilkan video atau animasi
yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.
Menurut Wilson (Zulkardi, 2002) pengelompokan suasana pembelajaran atau tempat berlangsungnya
kegiatan pembelajaran dalam tiga jenis, yaitu berbasis komputer, berbasis kelas, dan internet. Alternatif
kegiatan pembelajaran manapun yang dipilih guru dan peserta didik tidak menjadi masalah dalam penilaian.
Karena ketiga kegiatan penyajian materi pembelajaran mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama.
Jika peserta didik dapat menyelesaikan program pembelajarannya dan lulus melalui kegiatan pembelajaran
berbasis komputer, berbasis kelas atau internet, maka institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan
pengakuan yang sama. Keadaan yang fleksibel sangat membantu peserta didik untuk mempercepat
penyelesaian pembelajarannya (Yusuf, 2010). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan LKPD berbasis komputer dengan judul penelitian Pengembangan
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Interaktif untuk Materi Laju Reaksi di SMA.
LKPD ditampilkan secara interaktif dengan menggunakan bantuan software yang ada pada komputer.
LKPD interaktif selain menampilkan materi pembelajaran, juga akan menampilkan video atau animasi
penunjang agar dapat menarik minat peserta didik untuk memahami materi tersebut. LKPD interaktif dapat
dijadikan salah satu alternatif untuk keberlangsungan proses belajar mengajar. Menurut Yusuf (2010)
penggunaan LKPD interaktif dapat membantu kegiatan pembelajaran lebih bervariatif dan inovatif sehingga
dapat meningkatkan keterampilan proses, keaktifan, motivasi dan hasil belajar peserta didik. Penggunaan
LKPD interaktif yang juga media interaktif dapat dikatakan sebagai pemanfaatan teknologi dalam kegiatan
pembelajaran, ini merupakan salah satu saran pembelajaran bagi peserta didik, mempunyai kekuatan dasar,
seperti yang dikemukakan oleh Philips (Hasrul, 2010) sebagai berikut; a) mixed media yang dapat
mengintegrasikan berbagai media konvensional yang ada ke dalam satu jenis media interaktif, seperti media
teks, audio, video, dan lain sebagainya, b) user control, teknologi IMMI, memungkinkan pengguna
menelusuri materi ajar sesuai dengan kemampuan dan latar belakang pengetahuan yang dimilikinya,
disamping itu menjadikan pengguna lebih nyaman dalam mempelajari isi media, secara berulang-ulang, c)
simulasi dan visualisasi merupakan fungsi khusus yang dimiliki oleh multimedia interaktif, sehingga dengan
teknologi animasi, simulasi dan visualisasi komputer, pengguna akan mendapatkan informasi yang lebih
nyata dari informasi yang bersifat abstrak. Dalam beberapa kurikulum dibutuhkan pemahaman yang
kompleks, abstrak, proses dinamis dan mikroskopis, sehingga dengan simulasi dan visualisasi peserta didik
akan dapat mengembangkan mental model dalam aspek kognitifnya, dan d) Gaya belajar yang berbeda.
Multimedia interaktif mempunyai potensi untuk mengakomodasi pengguna dengan gaya belajar yang
berbeda-beda.
Dikatakan LKPD interaktif karena lembar kerja dikemas dengan bentuk flash. Pembuatan LKPD
interaktif menggunakan aplikasi powerpoint yang selanjutnya diubah kedalam bentuk flash dengan bantuan
aplikasi ispring. Ispring merupakan program edukasi yang berfungsi untuk mengembangkan e-learning
professional yang bekerja sebagai add-ins power-point dengan menambahkan aplikasi quiz, survey dan
interaksi. Beberapa bentuk media yang dapat dikembangkan ispring yaitu merekam dan sinkronisasi video
presenter, menambahkan flash dan video youtube, mengimpor atau merekam audio, menambahkan informasi
membuat presentasi dan logo perusahaan, serta membuat navigasi dan desain yang unik (Hernawati, 2010).
Dipilihnya LKPD interaktif diharapkan dapat membatu peserta didik dalam pemahamannya terhadap
pelajaran kimia khususnya pada materi Laju Reaksi.
Pengembangan bahan ajar interaktif telah banyak dilakukan oleh peneliti lain. Dapat dilihat dari
penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati dkk (2014) dalam pengembangan bahan ajar interaktif berbasis IT
pada pembelajaran IPA yang memenuhi kriteria valid, respon positif dari peserta didik, dan rata-rata hasil
belajar peserta didik mencapai 88,02%. Pada pembelajaran kimia juga telah dilakukan pengembangan bahan
ajar multimedia interaktif pada materi asam basa yang mendapatkan respon baik dari peserta didik (Oktiarmi
dkk, 2014). Keberhasilan LKPD interaktif dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari penggunaan LKPD
interaktif pada materi Hidrokarbon dengan ketuntasan belajar 92,31% (Dewi, 2012). Penggunaan LKPD
interaktif dalam pembelajaran materi Laju reaksi juga telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif
(Yanti, 2014).
Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan lembar kerja peserta didik (LKPD) interaktif untuk
materi Laju Reaksi yang valid, praktis dan efektif di SMA. Sehingga diharapkan hasil dari penelitian ini
bermanfaat bagi peserta didik sebagai bahan ajar yang membantu dalam memahami materi laju reaksi,
mengetahui penerapan laju reaksi dalam kehidupan sehari-hari dan membuat peserta didik aktif dalam
pembelajaran. Bagi guru, sebagai bahan ajar untuk materi laju reaksi yang membantu guru menyampaikan
materi dalam kegiatan pembelajaran. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dalam peningkatan kualitas
pembelajaran. Bagi peneliti lain, sebagai acuan dalam melakukan penelitian yang relevan.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan Alessi
dan Trollip (2001). Model pengembangan ini memiliki tiga tahapan yaitu perencanaan, desain, dan
pengembangan. Objek penelitian ini adalah lembar kerja peserta didik (LKPD) interaktif dan subjek
penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIA 5 SMA Negeri 8 Palembang.
Prosedur yang dilakukan dalam pengembangan LKPD interaktif dengan menggunakan model
pengembangan Alessi dan Trollip (2001) adalah sebagai berikut: 1) Tahap perencanaan yang terdiri dari; a)
identifikasi karakteristik peserta didik yang dilakukan dengan penyebaran dan pengisian angket untuk
peserta didik kelas XI MIA 5 dan melakukan diskusi dengan guru mata pelajaran kimia di SMA N 8
Palembang; b) penentuan tujuan pembelajaran ditentukan sesuai kompetensi dasar dan indikator. 2) Tahap
desain yang terdiri dari; a) analisis materi ajar, analisis ini dilakukan terhadap materi laju reaksi dan
selanjutnya dikembangkan sesuai kurikulum yang berlaku; b) pembuatan flowchart dan story board LKPD
interaktif untuk materi laju reaksi; c) pembuatan instrumen uji validitas dan uji kepraktisan dengan
menyusun aspek-aspek yang dapat menghasilkan valid dan praktisnya LKPD interaktif. 3) Tahap
Pengembangan yang terdiri dari; a) penyiapan teks yaitu menyiapkan materi tentang laju laju reaksi
disiapkan sesuai kebutuhan yang meliputi pengertian laju reaksi, faktor-faktor yang mempangaruhi laju
reaksi, persamaan laju reaksi, dan teori tumbukan. b) penggabungan bagian, materi yang disiapkan
digabungkan di dalam aplikasi yang digunakan untuk membuat produk berdasarkan gambaran yang telah
dibuat di storyboard. c) penyiapan materi pendukung, dilakukan dengan menyiapkan materi pendukung
seperti video peletusan kembang api, video luas permukaan, konsentrasi, suhu, dan katalis yang
mempengaruhi laju reaksi, animasi praktikum luas permukaan, konsentrasi, dan suhu yang mempengaruhi
laju reaksi, dan gambar yang berkaitan dengan laju reaksi. d) pembuatan produk, dilakukan dengan
mengubah produk yang dibuat pada powerpoint ke bentuk flash dengan bantuan ispring. e) uji alfa, dengan
melakukan uji validitas oleh tiga dosen ahli yaitu ahli materi, ahli pedagogik, dan ahli desain untuk
mengetahui validitas LKPD interaktif yang telah dikembangkan. f) revisi, dilakukan berdasarkan hasil
penilaian dari uji alfa dengan mempertimbangkan komentar dan saran untuk perbaikan LKPD interaktif yang
telah dikembangkan. g) uji beta, dilakukan dengan menyebarkan angket kepada tiga peserta didik kelas XI
SMA N 8 Palembang untuk mengetahui kepraktisan LKPD interaktif yang telah dikembangkan. h) revisi
akhir, dilakukan berdasarkan hasil penilaian, komentar dan saran dari uji beta. i) uji validasi produk,
dilakukan dengan cara menguji LKPD interaktif kepada peserta didik untuk melihat peningkatan hasil belajar
peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan LKPD interaktif.
Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan angket dan tes. Pengumpulan data
menggunakan angket dan tes dilakukan pada langkah di tahap pengembangan model Alessi dan Trollip.
Angket digunakan pada saat langkah uji alfa dan uji beta. Setelah didapatkan hasil dari uji alfa dan uji beta
dilakukan perhitungan skor untuk mengetahui kriteria interpretasi dari skor validasi dan skor kepraktisan.
Kriteria skor validasi dapat dilihat pada Tabel 1 dan skor kepraktisan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut
(Widoyoko, 2012).

Pengumpulan data dengan menggunakan tes dilakukan pada langkah uji validasi produk di tahap
pengembangan Alessi dan Trollip. Tes dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan hasil belajar
peserta didik dengan menganalisisnya menggunakan gain yang dinormalisasikan dilihat dari peningkatan
yang terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran berlangsung (Hake, 2000). Kriteria n-gain dapat dilihat pada
Tabel 3 berikut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengembangan ini menggunakan model pengembangan Alessi dan Trollip yang terdiri dari tiga tahap
yaitu tahap perencanaan, tahap desain, dan tahap pengembangan.
Tahap pertama pada penelitian ini adalah perencanaan. Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan
dan perumusan tujuan pembelajaran. Dalam analisis kebutuhan, peneliti melakukan wawancara dengan guru
mata pelajaran Kimia SMA Negeri 8 Palembang. Selain mewawancarai guru mata pelajaran Kimia, juga
dilakukan pengisian angket oleh peserta didik kelas XI MIA 5 dengan yang berjumlah 31 peserta didik.
Selanjutnya dilakukan perumusan tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kompetensi inti (KI) dan
kompetensi dasar (KD). Dalam penulisan tujuan pembelajaran, formatnya mengikuti format ABCD yaitu
audience, behavior, conditions, dan degree. Singkatan ABCD tersebut merupakan rumusan tujuan
pembelajaran yang sejak dulu telah diterapkan (Prawiradilaga, 2012).
Tahap kedua yaitu desain. Pada tahap desain, ada tiga langkah yaitu analisis topik, membuat flowchart
dan story board, serta membuat Instrumen uji validitas dan uji kepraktisan. Analisis topik mengacu pada
tujuan pembelajaran yang telah dibuat untuk menentukan kegiatan belajar pada LKPD interaktif yang akan
dibuat. Lalu disajikan dalam bentuk flowchart yang berisi tentang topik laju reaksi dan story board yang
berisi tentang gambaran desain LKPD baik berupa tulisan, gambar, animasi, dan video yang mendukung.
Tahap ketiga yaitu tahap pengembangan. Pada tahap desain, ada 9 langkah yaitu menyiapkan teks,
menggabungkan teks, menyiapkan materi pendukung, membuat produk, melakukan uji alfa, melakukan
revisi, uji beta, membuat revisi akhir, dan melakukan uji validasi produk. Menyiapkan teks yang dilakukan
adalah menyiapkan materi sesuai dengan kebutuhan. Materi laju reaksi yang disiapkan meliputi pengertian
laju reaksi, persamaan laju reaksi, faktor-faktor yang mempangaruhi laju reaksi, dan teori tumbukan. Materi
yang disiapkan digabungkan di dalam power-point dan diletakkan berdasarkan gambaran yang telah dibuat
di storyboard. Setelah menggabungkan materi ke dalam power-point, materi pendukung seperti gambar,
video, dan animasi tentang laju reaksi disiapkan lalu dimasukkan ke dalam power-point berdasarkan
keterkaitannya pada tiap subbab. Rancangan LKPD interaktif yang dibuat dengan bantuan power-point
diubah ke bentuk flash dengan bantuan ispring.

Gambar 1. Tampilan Awal LKPD interaktif Gambar 2. Tampilan Materi LKPD Interaktif
Gambar 3. Tampilan Animasi Praktikum LKPD Gambar 4. Tampilan Evaluasi LKPD Interaktif

Pada tahap uji alfa dilakukan penilaian produk oleh diri sendiri dan uji validasi oleh dosen ahli yang
terdiri dari dosen ahli pedagogik, ahli desain, dan ahli materi. Pada penilaian produk oleh diri sendiri
didapakan beberapa kesalahan dalam penulisan. Pada uji validasi yang dilakukan oleh tiga dosen ahli ini
bertujuan untuk mengetahui kevalidan LKPD yang telah dibuat. Validasi pedagogik yang telah dilakukan
oleh dosen ahli didapakan nilai tiap indikator sebagai berikut; 1) kejelasan kompetensi sebesar 3,6; 2)
kesesuaian dengan perkembangan peserta didik sebesar 3,75; 3) ketepatan dengan kaidah bahasa Indonesia
yang benar sebesar 3,5; 4) penggunaan bahasa yang komunikatif sebesar 3,5 ; 5) kemampuan peserta didik
untuk merespon pembelajaran 3,67; 6) mengamati sebesar 3,4; 7) menanya sebesar 3,75; 8) mengumpulkan
informasi sebesar 4; 9) mengasosiasi sebesar 4; 10) menyimpulkan sebesar 3.75; dan 11) pendekatan
kontekstual sebesar 4. Selanjutnya validasi desain yang telah dilakukan oleh dosen ahli didapatkan nilai tiap
indikator sebagai berikut; 1) komposisi halaman sampul sebesar 3,75; 2) komposisi halaman isi sebesar 4; 3)
kualitas tampilan sebesar 3,5; dan 4) rekayasa perangkat lunak sebesar 4. Sedangkan validasi materi yang
telah dilakukan oleh dosen ahli didapakan nilai tiap indikator sebagai berikut; 1) cakupan materi sebesar 3,8;
2) keakuratan materi sebesar 3,33; dan 3) pendukung penyajian materi 3,6. Berdasarkan hasil penilaian yang
di peroleh dari uji validasi di atas, maka didapatlah rata-rata nilai validasi keseluruhan sebesar 3,73 dengan
kriteria valid. Kriteria valid didapatkan karena ada beberapa bagian dari LKPD interaktif yang harus
diperbaiki, hingga tidak mencapai nilai maksimal.

Tabel 4. Hasil Uji Alfa LKPD Interaktif


No Validasi Jumlah Jawaban Validator Jumlah Butir Rata-rata
1 Pedagogik 169 45 3,76
2 Desain 94 25 3,76
3 Materi 47 13 3,62
Total 310 83
Rata-Rata Skor 3,73
Kriteria Valid
Pada tahap revisi, produk yang telah dilakukan uji alfa direvisi sesuai komentar dan saran dari ahli
validasi. Pada uji alfa, saran yang diberikan oleh ahli validasi pedagogik adalah bahan ajar yang dibuat harus
mengacu pada RPP. Saran yang diberikan oleh ahli validasi desain adalah sampul LKPD interaktif sebaiknya
dibuat lebih menarik dan ditambahkan interaktifnya. Komentar yang diberikan oleh ahli validasi desain
adalah tombol home pada halaman i (daftar isi) diperbaiki karena ketika diklik tidak menuju ke halaman
utama melainkan ke halaman petunjuk penggunaan. Saran yang diberikan oleh ahli validasi materi adalah
LKPD perlu diperbaiki. Komentar yang diberikan oleh ahli validasi materi adalah langkah-langkah
pertanyaan-pertanyaan masalah perlu diperbaiki, masih ada media yang belum sesuai tujuan, interaktifnya
belum terlihat, dan redaksi kata diperbaiki.
Uji beta dilakukan kepada 3 peserta didik SMA Negeri 8 kelas XI. Uji beta ini bertujuan untuk
mengetahui kepraktisan dari LKPD interaktif. Kepraktisan ini ditunjukkan dengan kemudahan dalam
pemakaian LKPD interaktif oleh 3 peserta didik. Peserta didik diminta membaca petunjuk yang ada pada
LKPD interaktif dan bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti. Setelah menggunakan LKPD interaktif
peserta didik diberi angket untuk menilai kepraktisan LKPD interaktif. Berdasarkan data angket uji alfa
didapatlah rata-rata tiap nilai angket dari 3 siswa sebagai berikut 1) DR dengan rata-rata 3,69, 2) CR dengan
rata-rata 4,38, dan 3) RAR dengan rata-rata 3,56. Dari nilai rata-rata tiap peserta didik didapatlah rata-rata
keseluruhan sebesar 3,88 dengan kategori praktis.
Tabel 5. Hasil Uji Beta Terhadap Kepraktisan LKPD Interaktif

No Nama Peserta Didik Jumlah Jawaban Jumlah Butir Rata-Rata


1 DR 59 16 3,69
2 CR 70 16 4,38
3 RAR 57 16 3,56
Total 186 48
Rata-Rata Skor 3,88
Kriteria Praktis
Pada tahap revisi akhir, uji beta direvisi sesuai komentar dan saran 3 peserta didik. DR dan RAR tidak
memberikan saran dan komentar. Peserta didik CR memberikan komentar bahwa tidak terdapat suara pada
video yang ada pada LKPD interaktif. Peneliti telah melakukan revisi berdasarkan komentar dan saran yang
didapatkan dari uji beta tersebut.
Tahap selanjutnya adalah tahap uji validasi produk. Pada tahap ini dilakukan ujicoba LKPD interaktif
dengan jumlah peserta didik sebanyak 31 orang. Materi laju reaksi sebelumnya telah peserta didik pelajari
pada semester ganjil. Sehingga pada uji coba ini, sebelum memulai pembelajaran dengan menggunakan
LKPD interaktif peserta didik diberikan soal pretest untuk menguji tingkatan pengetahuan peserta didik
terhadap materi laju reaksi. Setelah melakukan pretest, peserta didik diberikan dan belajar dengan LKPD
interaktif. Proses pembelajaran pada tahap uji validasi produk ini menggunakan pendekatan saintifik dan
strategi REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, and Transferring).
Pada pertemuan awal, yaitu pada tahap relating peneliti bertanya pernahkah melihat besi berkarat?
Apakah proses perkaratannya memerlukan waktu berhari-hari? Peserta didik 1 menjawab pernah dan proses
perkaratan besi memerlukan waktu berhari-hari. Selanjutnya peneliti bertanya pernahkah melihat letusan
kembang api? Apakah peletusannya memerlukan waktu berhari-hari? Peserta didik 2 menjawab pernah dan
peletusannya tidak memerlukan waktu berhari-hari. Setelah menjawab pertanyaan yang diajukan, peserta
didik diminta membuka LKPD interaktif tentang pengertian laju reaksi pada halaman 1. Tahap ini
merupakan tahap experiencing. Pada tahap ini peserta didik dapat mengalami sendiri dengan mengamati
Gambar 1 yang disajikan pada halaman 1 tentang perkaratan besi merupakan contoh laju reaksi berlangsung
lambat dan Video 1 tentang peletusan kembang api merupakan contoh laju reaksi berlangsung cepat. Guru
menyampaikan materi pengertian laju reaksi dan persamaannya, laju reaksi adalah perubahan dari suatu
pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk) dengan persamaan laju reaksi r = k [A] m [B]n dengan
keterangan r sebagai laju reaksi (M.s-1), k sebagai tetapan laju reaksi, m sebagai orde terhadap A, n sebagai
orde terhadap B, [A] sebagai konsentrasi awal A (M), dan [B] sebagai konsentrasi awal B (M). Peserta didik
dapat melihat penjelasan lebih tentang laju reaksi dan persamaannya beserta contoh soal pada LKPD
interaktif. Tahap selanjutnya merupakan tahap applying. Pada tahap ini, peserta didik dikelompokkan
menjadi 6 kelompok dan ditugaskan untuk melakukan diskusi tentang contoh laju reaksi yang berlangsung
cepat dan laju reaksi yang berlangsung lambat. Selanjutnya peserta didik diminta untuk membuat laporan
hasil diskusi tersebut di LKPD interaktif yang telah disediakan. Tahap selanjutnya adalah tahap cooperating.
Pada tahap ini peserta didik kelompok 5 mempresentasikan hasil diskusi dengan memberikan contoh lain
dari laju reaksi yang berlangsung cepat adalah ledakan bom dan laju reaksi yang berlangsung lambat adalah
pembentukan minyak bumi. Setelah melakukan diskusi, peserta didik diminta mengerjakan latihan soal yang
terdapat pada LKPD interaktif yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda. Ini merupakan tahap transferring.
Selanjutnya peserta didik membuat kesimpulan.
Pertemuan kedua, pada tahap relating guru memberikan pertanyaan sebutkan contoh laju reaksi yang
berlangsung cepat dan laju reaksi yang berlangsung lambat!. Peserta didik 1 menjawab contoh laju reaksi
yang berlangsung cepat adalah letusan kembang api dan peserta didik 2 menjawab laju reaksi yang
berlangsung lambat adalah perkaratan besi. Guru mengaitkan jawaban peserta didik dengan materi yang akan
disampaikan bahwa cepat-lambatnya laju reaksi suatu zat disebabkan beberapa faktor. Tahap selanjutnya
adalah tahap experiencing yaitu peserta didik menonton video dan melakukan percobaan yang terdapat pada
LKPD interaktif. Peserta didik menyimak video tentang faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Video
pertama yaitu menjelaskan bagaimana konsentrasi mempengaruhi laju reaksi. Selanjutnya peserta didik
melakukan praktikum yang terdapat pada minilab LKPD interaktif, pada percobaan pertama peserta didik
masih bingung dalam menjalankan aplikasi, dikarenakan langkah percobaan yang agak sulit dimengerti. Lalu
guru memberikan arahan penggunaan aplikasi percobaan, yang akhirnya bisa dimengerti oleh peserta didik.
Pada percobaan pertama konsentrasi, kelompok 3 mendapatkan waktu yang diperlukan oleh larutan HCl 5
mL dan 0,5 M larutan Na2S2O3 25 mL untuk bereaksi sebesar 31 detik, larutan HCl 5 mL dan 1 M larutan
Na2S2O3 25 mL untuk bereaksi sebesar 20 detik, larutan HCl 5 mL dan 2 M larutan Na2S2O3 25 mL untuk
bereaksi sebesar 5 detik dengan kesimpulan semakin besar konsentrasi larutan semakin cepat zat bereaksi.
Setelah melakukan praktikum, peserta didik diminta untuk mengisi hasil yang mereka dapatkan di lembar
kerja hasil praktikum yang terdapat pada LKPD interaktif. Percobaan kedua yaitu luas permukaan
mempengaruhi laju reaksi, sebelum melakukan percobaan, peserta didik menonton video yang berkaitan
dengan luas permukaan sentuh mempengaruhi laju reaksi. Percobaan kedua, pada kelompok 2 didapatkan
hasil pengamatan sebagai berikut larutan HCl 5 mL dan kepingan Pualam bereaksi pada waktu 57,04 detik,
larutan HCl 5 mL dan butiran Pualam bereaksi pada waktu 14,94 detik, larutan HCl 5 mL dan serbuk Pualam
bereaksi pada waktu 09,46 detik dengan kesimpulan akhir percobaan semakin luas permukaan bidang sentuh
maka semakin cepat reaksi berlangsung. Percobaan ketiga konsentrasi, sama seperti pada percobaan 1 dan 2,
sebelum melakukan praktikum, peserta didik menonton video tentang suhu mempengaruhi luas permukaan
terlebih dahulu. Percobaan ketiga ini, kelompok 6 mendapatkan waktu yang diperlukan oleh larutan HCl 5
mL dan 0,5 M larutan Na2S2O3 25 mL untuk bereaksi pada suhu 21oC sebesar 59,33 detik, larutan HCl 5 mL
dan 0,5 M larutan Na2S2O3 25 mL untuk bereaksi pada suhu 30oC sebesar 9,24 detik, larutan HCl 5 mL dan
0,5 M larutan Na2S2O3 25 mL untuk bereaksi pada suhu 50oC sebesar 2,73 detik dengan kesimpulan semakin
tinggi suhu semakin cepat zat bereaksi. Hasil pengamatan yang didapatkan pada percobaan kedua dan ketiga
juga di masukkan ke dalam lembar hasil pengamatan yang terdapat LKPD interaktif. Pada faktor yang
mempengaruhi laju reaksi yang keempat yaitu katalis, peserta didik tidak melakukan percobaan, tetapi hanya
melakukan diskusi bagaimana katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Hasil diskusi yang didapatkan pada
kelompok 5 adalah katalis dapat bekerja dengan membentuk senyawa antara atau mengabsorpsi zat yang
direaksikan. Sehingga katalis dapat meningkatkan laju reaksi, sementara katalis tidak mengalami perubahan
kimi secara permanen. Cara kerjanya yaitu dengan menempel pada bagian substrat tertentu dan pada
akhirnya dapat menurunkan energi pengaktifan dari reaksi, sehingga reaksi berlangsung dengan cepat. Tahap
ini merupakan tahap cooperating. Tahap selanjutnya adalah tahap transferring yaitu peserta didik kelompok
3 mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas tentang bagaimana konsentrasi, luas permukaan,
suhu, dan katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Peserta didik membuat kesimpulan dari pembelajaran.
Setelah kegiatan pembelajaran peserta didik dengan menggunakan LKPD interaktif, peserta didik
diberikan soal posttest yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan yang dicapai oleh
peserta didik. Pada hasil posttest, rata-rata peserta didik tidak dapat menjawab soal nomor 20 dikarenakan
tingkat soal yang rumit. Pada soal-soal yang lain, peserta didik memiliki kesalahan perhitungan pada nomor
soal yang berbeda-beda. Hasil posttest yang didapatkan dibandingkan dengan hasil pretest sehingga akan
diketahui efektifitas dari pembelajaran menggunakan LKPD interaktif.
Dilihat dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa nilai rata-rata posttest sebesar 80,32. Siswa
mengalami peningkatan hasil belajar dari nilai rata-rata pretest sebesar 17,74 dan didapat gain score sebesar
0,47 yang termasuk dalam kategori sedang. Hasil gain score didapatkan kategori sedang dikarenakan pada
latihan-latihan soal yang terdapat dalam LKPD interaktif hanya bisa dilakukan satu kali, tidak terjadi
pengulangan latihan yang bisa membuat peserta didik memahami materi lebih mendalam. Hasil penelitian ini
diperkuat dengan hasil penelitian Yanti (2014) menunjukkan bahwa setelah menggunakan LKPD interaktif
rata-rata hasil belajar peserta didik 93,17 dan penelitian oleh Simbolon (2014) yang memenuhi kriteria valid,
praktis, dan efektif dengan gain score dengan kategori sedang. Dilihat dari hasil posttest dan gain score ini
dapat diketahui bahwa LKPD interaktif yang dikembangkan ini memberikan pengaruh positif terhadap hasil
belajar peserta didik. Dengan kata lain, LKPD interaktif efektif digunakan sebagai bahan ajar untuk peserta
didik kelas XI. Berdasarkan hasil uji alfa, uji beta, dan uji validasi produk maka LKPD interaktif pada materi
Laju Reaksi layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar kelas XI.

Tabel 6. Hasil Pretest, Posttest, dan N-Gain

Rata-Rata Pretest Rata-Rata Posttest N-Gain


62,58 80,32 0,47

SIMPULAN

Pengembangan LKPD interaktif untuk Laju Reaksi telah dilakukan dan diujicoba di SMA Negeri 8
Palembang. Pengembangan dilakukan dengan menggunakan model Alessi dan Trollip (2001) dengan tahap
perencanaan, desain, dan pengembangan. Tahap perencanaan dilakukan identifikasi karakteristik peserta
didik dan penentuan tujuan pembelajaran. Selanjutnya pada tahap desain dilakukan analisis topik, pembuatan
flowchart dan storyboard, serta pembuatan instrumen uji validasi dan uji kepraktisan. Tahap selanjutnya
adalah tahap pengembangan. Pada tahap ini dilakukan peneliti menyiapkan teks, menggabungkan teks,
menyiapkan materi pendukung, membuat produk, melakukan uji alfa dengan skor yang didapat sebesar 3,73
dengan kriteria valid,melakukan revisi, melakukan uji beta dengan skor yang didapat sebesar 3,88 dengan
kriteria praktis, melakukan revisi akhir, dan melakukan uji validasi produk LKPD interaktif didapatkan rata-
rata posttest sebesar 80,32 dengan gain score sebesar 0,47 dan dinyatakan efektif. Berdasarkan hasil yang
dilakukan pada tahap-tahap tersebut, LKPD interaktif untuk materi Laju Reaksi dinyatakan layak digunakan
pada kegiatan belajar mengajar untuk kelas XI.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti berharap guru dan peserta didik dapat
menggunakan LKPD interaktif sebagai bahan ajar dalam mempelajari materi laju reaksi. Bagi sekolah,
sebagai bahan masukan dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Bagi peneliti lain, sebagai acuan dalam
melakukan penelitian yang relevan dan perbaikan dalam mengembangkan LKPD interaktif dengan tampilan
yang lebih menarik dengan kriteria sangat valid, praktis, dan efektif serta perbaikan dalam lembar kerja dan
tugas yang dapat dilakukan berulang kali.

DAFTAR PUSTAKA

Alessi, S. M. Dan Trollip, S. R. 2001. Multimedia for Learning: Methods and Development. Boston: Allyn
and Bacon
Dewi, P. F. 2012. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Interaktif Pada Pelajaran Kimia Pokok
Bahasan Hidrokarbon di SMA Negeri 5 Palembang. Skripsi. Indralaya: FKIP Universitas Sriwijaya.
Hake, R. R. 2000. Is it Finally Time to Implement Curriculum S?. Bloomington: Indiana University.
Hasrul. 2010. Langkah-Langkah Pengembangan Pembelajaran Multimedia Interaktif. Jurnal MEDTEK, 2(1).
Hernawati, K. 2010. Modul Pelatihan Ispring Presenter. Yogyakarta: Pendidikan Matematika PMIPA UNY.
Katriani, L. 2014. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik. Disajikan dalam PPM Pelatihan Pembuatan
Perencanaan Pembelajaran IPA untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Kelas Sebagai
Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru SMP Se-Kecamatan Danurejan, tanggal 24 Oktober 2014,
Yogyakarta.
Kurniawati, S., Lesmono, A. D., dan Wahyuni, S. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Interaktif Berbasis IT
Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang Pada Pembelajaran IPA di SMP. Jurnal Pendidikan Fisika,
3 (3): 301 -- 305
Oktiarmi, P., Rusdi, M., dan Asrial. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Multimedia Interaktif pada Praktikum
Titrasi Asam Basa. Edu-Sains 3 (1): 6 12
Prawiradilaga, D. S. 2012. Prinsip Desain Pembelajaran (Instructional Design Principles). Jakarta: Kencana
Septiani, A., Syakbaniah, dan Mufit, F. 2013. Pengembangan Bahan Ajar CD Interaktif Materi Suhu dan
Kalor Berbentuk Powerpoint Materi Suhu dan Kalor untuk Pembelajaran Fisika Kelas X SMA.
Pillar of Physics Education, 2: 49 56
Widoyoko, E. P. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Yanti, Melia L. 2014. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Interaktif untuk Pembelajaran Laju Reaksi di
kelas XI IPA SMA Negeri 1 Tanjung Raja. Skripsi. Indralaya: FKIP Universitas Sriwijaya.
Yusuf, M. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Lembar Kerja Siswa (LKS) Interaktif
Berbasis Komputer di SMA Muhammadiyah 1 Palembang. Jurnal Pendidikan Matematika, 4(2): 34--
44.
Zulkardi. 2002. Development a Learning Environment on Realistic Mathematics Education (RME) for
Indonesian Student Teacher. Dissertation. Netherlands: University of Twentee.