Anda di halaman 1dari 8

2.

1 TEKNIS ANALISIS SWOT

Analisis SWOT adalah instrumen yang digunakan untuk melakukan analisis strategis.
Menurut Drs. Robert Simbolon, MPA (1999), analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif
dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis atas lingkungan
strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Dalam situasi
lingkungan yang penuh dengan dinamika ini, manajemen usaha harus dapat menciptakan
pelayanan yang dapat memuaskan kepada konsumen dan dalam saat bersamaan dapat pula
bersaing secara efektif dalam kontek lokal, regional bahkan kontek global. Kegiatan yang paling
penting dalam proses analisis SWOT adalah memahami seluruh informasi dalam suatu kasus,
menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa
yang harus segera dilakukan utuk memecahkan masalah (Freddy Rangkuti, 2001:14). SWOT
merupakan singkatan dari strengths (kekuatan-kekuatan),weaknesses (kelemahan-
kelemahan), opportunities (peluang-peluang) dan threats(ancaman-ancaman). Pengertian-
pengertian kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam analsis SWOTadalah sebagai
berikut :
Kekuatan (strengths)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan atau keunggulan lain relatif terhadap pesaing
dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan (Amin W.T, 1994:75). Kekuatan kawasan pariwisata
adalah sumber daya alam, pengelolaan dan keunggulan relatif industri pariwisata dari pasar dan
pesaing sejenis.
Kelemahan (weaknesses)
Kelemahan adalah keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya alam, keterampilan
dankemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan (Amin W.T,
1994:75). Kelemahan kawasan pariwisata adalah keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya
alam, keterampilan dan kemampuan pengelolaan industri pariwisata.
Peluang (opportunities)
Peluang adalah situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan dalam lingkungan
perusahaan (Amin W.T, 1994:74). Peluang kawasan pariwisata adalah situasi/kecenderungan
utama yang menguntungkan industri pariwisata dalam lingkungan suatu kawasan pariwisata.
Ancaman (threats)
Ancaman adalah situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan dalam
lingkungan perusahaan (Amin W.T, 1994:74). Ancaman kawasan pariwisata adalah
situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan industri pariwisata dalam lingkungan
suatu kawasan pariwisata.

Menurut Freddy Rangkuti (200), analisis SWOT adalah suatu identifikasi faktor strategis
secara sistematis untuk merumuskan strategi. Strategi adalah alat yang sangat penting untuk
mencapai tujuan (Porter : 1985). Sedangkan menurut Freddy Rangkuty (200:183) strategi adalah
perencanaan induk yang komprehensive yang menjelaskan bagaimana mencapai semua tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan kamus popular (Masud, 2000) strategi adalah
siasat. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa strategi
adalah siasat atau perencanaan induk yang komprehensive dan sebagai alat penting yang
menjelaskan bagaimana mencapai semua tujuan.
Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang,
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Proses pengambilan
keputusan harus menganalsis faktor-faktor strategis dalam kondisi saat ini. Hal ini disebut
dengan analisis situasi, model yang paling popular disebut analisis SWOT.

2.2 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR STRATEGIS EKSTERNAL (EFAS)

Analisis faktor strategi eksternal adalah pengolahan faktor-faktor strategis pada lingkungan
eksternal dengan memberikan pembobotan dan rating pada setiap faktor srtategis. Faktor
strategis adalah faktor dominan dari kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang
memberikan pengaruh terhadap kondisi dan situasi yang ada dan memberikan keuntungan bila
dilakukan tindakan posistif. (Robert G. Dyson, 1990: 8-12).
Menganalisis lingkungan eksternal (EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan
peluang dan ancaman. Masalah strategis yang akan dimonitor harus ditentukan karena masalah
ini mungkin dapat mempengaruhi pariwisata dimasa yang akan datang. Penggunaan metode-
metode kuantitatif sangat dianjurkan untuk membuat peramalan (forcasting) dan asumsi-asumsi
secara internal. Guide (2008).
2.3 LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN TABEL EFAS
A. Buat daftar faktor-faktor eksternal utama sebagaimana yang disebutkan dalm proses audit
ekternal. Masukan faktor-faktor peluang dan ancaman pada Tabel EFAS, kolom 1. Susun
5 sampai dengan 10 faktor dari peluang dan ancaman (Freddy Rangkuti, 2001 : 22)
B. Berikan bobot masing-masing faktor strategis pada kolom 2, dengan skala 1,0 (sangat
penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Semua bobot tersebut jumlahnya tidak
melebihi dari skor total = 1,00 (Diklat Spama, 2000 : 13). Faktor-faktor itu diberi bobot
didasarkan pada dapat memberikan dampak pada faktor strategis.
C. Berikan rating dalam kolom 3 untuk masing-masing faktor dengan skala mulai dari 4
(sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap
kodisi bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori
peluang) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata
pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya, jika ancaman
besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1, sedangkan
jika nilai ancaman kecil/di bawah rata-rata pesaing-pesaingnya nilainya 4.
D. Kalikan bobot dengan nilai (rating) untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom
4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya
bervariasi mulai dari 4,0 (menonjol) sampai dengan 1,0 (lemah).
E. Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan.

Tabel Model Analisis Faktor Strategi Eksternal (EFAS) dapat dilihat pada Tabel 1.1
berikut :
Tabel 1.1
Model Analisis Faktor Strategis Eksternal (EFAS)
N Faktor-Faktor Bobot Nilai Bobot x Nilai
o Strategis
Peluang :

(Jumlah perkalian bobot


(faktor-faktor (Professional (Professional
dengan nilai pada setiap
yang menjadi Judgement) Judgement)
faktor dari peluang)
peluang)

Jumlah (Jumlah bobot (Jumlah nilai (Jumlah bobot X nilai


peluang) peluang) peluang)
Ancaman :

(Jumlah perkalian bobot


(faktor-faktor (Professional (Professional
dengan nilai pada setiap
yang menjadi Judgement) Judgement)
faktor dari ancaman)
ancaman)

(Jumlah bobot (Jumlah nilai (Jumlah bobot X nilai


Jumlah
ancaman) ancaman) ancaman)
Sumber : Diklat Spama, 2000

2.4 CONTOH PENERAPAN EFAS DI DALAM PERUSAHAAN PEGADAIAN


A. Kekuatan Faktor Strategis Eksternal
Dalam menentukan point bobot menggunakan perbandingan kekuatan ber dasarkan
skala prioritas kepentingan, misalnya Sistem dan prosedur yang relatif cepat mendapat nilai
tertinggi (bobot : 0,20). Bobot berkisar antara nol (0) sampai dengan satu (1), artinya dari
semua kekuatan yang mendukung system dan prosedur yang relative cepat mendapat point 20
dari point 100 atau angka nol menunjukkan makna tidak penting, dan angka 1 menunjukkan
angka sangat penting, total bobot tidak boleh lebih dari 1 dari keseluruhan Faktor Strategis
Internal. Point bobot penilaian menggunakan skala ordinal yaitu dengan menggunakan urutan
paling ren dah mulai dari (0) sebagai berikut :
0,00 diartikan = tidak penting
> 0,00 - 0,05 diartikan = cukup penting
> 0,05 - 0,10 diartikan = penting
> 0,10 - 0,15 diartikan = sangat penting
> 0,15 diartikan = amat sangat penting

Peringkat terkait dengan daya ungkit terhadap situasi dan kondisi yang lebih luas
dibandingkan dengan bobot yang terbatas pada penting tidaknya diantara faktor. Peringkat
yang digunakan adalah sebagai berikut :

5 : sangat berpengaruh
4 : berpengaruh
3 : cukup berpengaruh
2 : tidak berpengaruh
1 : sangat tidak buruk

Analisa Factor Strategis Eksternal/EFAS (External Strategic Factor Summary) yang


paling menonjol yaitu adanya Peraturan Pemerintah Nomor 103 tentang Perubahan Status
Pegadaian dari Perjan menjadi Perum. Perubahan status ini telah mem berikan nafas lega
terhadap pegadaian sehingga pegadaian yang awalnya tidak leluasa mengambil kebijakan
kredit, kepegawaian, gaji, investasi, dan lain-lain. Sebagai Perjan status karyawan adalah
PNS, meskipun gaji dan kesejahteraan tidak dibayar dari APBN. Rekruitmen, jabatan, karir
dan pensiun masih sangat kaku di undang-undang Kepegawaian, pendek kata fokus sosial dan
lapisan bawah, PNS dengan reward yang sama dan kental dengan Priyayi. Dengan adanya
perubahan menjadi Perusaha an Umum (Perum) Pegadaian menjadi lebih fokus pada orientasi
bisnis berbasis kompetensi/kapabilitas, profesional (kepuasan pelanggan/profit. Dengan
demikian adanya Peraturan Pemerintah Nomor 103 tahun 2000 tersebut menempatkan bobot
0,15 dengan peringkat ke-4.
Peluang dengan bobot 0,10 dtempati oleh penghargaan yang diperoleh perum
Pegadaian. Perum pegadaian telah mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya :
1. Tahun 2002, Perum Pegadaian menerima penghargaan se bagai perusahaan jasa
pembiayaan terbaik untuk BUMN dengan asset Rp. 1-10 triliun berdasarkan data yang
dihim pun oleh Majalah Investor.
2. Perum Pegadaian menerima penghargaan Juara I Annual Report Award tahun 2002 yang
diselenggarakan oleh Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance untuk kategori
Perusahaan Non-Listing pada Bursa Efek Jakarta.
3. Dalam bulan Oktober 2003 Perum Pegadaian mendapat penghargaan dari Kementerian
Negara BUMN berupa BUMN & CEO Award dengan meraih predikat 20 BUMN Terbaik
dari 186 BUMN yang ada di Indonesia.
4. Tahun 2004, Perum Pegadaian menerima penghargaan se bagai perusahaan jasa
pembiayaan terbaik untuk BUMN dengan asset Rp. 1-10 triliun berdasarkan data yang di
himpun oleh Majalah Investor.
5. Business Review bekerja-sama dengan Kementerian Negara BUMN memberikan
penghargaan kepada Perum Pegadaian sebagai BUMN Terbaik I 2005, BUMN Terbaik I
2005 Kategori Jasa Keuangan, CEO BUMN Terbaik I 2005 atas nama Drs. Deddy
Kusdedi, MM sebagai CEO Perum Pegadaian.
6. Business Review bekerja-sama dengan Kementerian Negara BUMN dalam BUMN
Award 2006 memberikan penghargaan kepada Perum Pegadaian sebagai BUMN Terbaik
Sektor Bank dan Keuangan, BUMN Terbaik I Kategori Pemasaran, dan CEO BUMN
Terfavorit atas nama Drs. Deddy Kusdedi, MM sebagai CEO Perum Pegadaian.
7. Perum Pegadaian menerima penghargaan Juara I Annual Report Award tahun buku 2005
yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance untuk
kategori Perusahaan Listed pada Bursa Efek Jakarta.
8. Perum Pegadaian menerima Anugerah Business Review Kategori CEO Terbaik III
Selanjutnya dengan adanya jumlah masyarakat kecil dan menengah yang relatif
masih banyak memperikan kesempatan perum pegadaian dalam memperoleh nasabah, karena
sasaran atau target dari Perum Pegadaian adalah masyarakat menengah kecil dan menengah.
Dalam hal ini jumlah masyarakat kecil dan menengah menempati peringkat ke-3 dan bobot
0,10 sejajar dengan banyaknya jumlah penghargaan yang diperoleh.
Peluang dengan bobot 0,05 yaitu sejalan dengan tekad pemerintah yang terus
mengembangkan perekonomian Indonesia, maka kemajuan Perum Pegadaian secara tidak
langsung dapat mengikuti perkembangan perekonomian di Indonesia. Karena dengan adanya
perkembangan perekonomian Indonesia Perum Pegadaian juga merasakannya.

B. Kelemahan Faktor Strategis Eksternal


Ancaman adalah suatu kondisi dalam lingkungan umum yang dapat menghambat
usaha-usaha perusahaan untuk mencapai daya saing strategis. Salah satu faktor utama yang
menjadi ancaman yaitu munculnya pesaing baru. Hal ini sangatlah mempengaruhi
perkembangan dan kemajuan Perum Pegadaian, karena apabila muncul pesaing-pesaing baru
maka ruang kemajuan Perum Pegadaian menjadi lebih sempit dan sulit berkembang. Dengan
demikian munculnya pesaing baru memiliki bobot 0,15 dan berada pada peringkat ke-4.
Selanjutnya bobot 0,10 dan peringkat ke 3 di tempati oleh empat faktor, diantaranya adalah
Adanya reputasi sebagai warisan Pemerintahan Belanda
Reputasi sebagai peninggalan VOC relatif mempengaruhi perkembangan Pegadaian,
karena memang dahulu Pegadaian merupakan warisan pemerintah Belanda, Perjan
Pegadaian memiliki budaya feodal yang kental. Pegawai adalah kaum priyayi yang
terhormat, dan memandang sebagai orang yang membutuh kan mereka. Maka tidak
mengherankan saat itu jarang terdengar sapaan ra mah dari petugas loket. Sehingga
kenyamanan dan privasi nasabah menjadi berkurang atau bahkan tidak ada.
Adanya pergeseran gaya hidup
Pergeseran hidup di masyarakat juga relatif mempengaruhi perkembangan pegadaian.
Apabila gaya hidup masyarakat semakin berkembang dan pegadaian tidak dalam
mengimbanginya, maka hal tersebut merupakan malapetaka bagi Pegadaian.
Jaminan keamanan
Jaminan keamanan sangat rendah juga merupakan ancaman bagi Pegadaian, karena
keamanan yang rendah akan mempengaruhi tingkat keyamanan nasabah maupun
karyawan.
Situasi politik
Situasi politik juga tidak ketinggalan. Situasi politik di Indonesia tidak terkendali maka
akan berpangaruh kepada perkembangan dan stabilitas Pegadaian, kare na misi pegadaian
adalah ikut membantu program pemerintah dalam upaya me ningkatkan kesejahteraan
masyarakat golongan menengah kebawah, melalui ke giatan utama berupa penyaluran
kredit gadai dan melakukan usaha lain yang menguntungkan.
TABEL

EFAS (EXTERNAL STRATEGIC FACTORS ANALYSIS SUMMARY)


PERUM PEGADAIAN

Bobo Peringk Sko


Faktor Strategis Enternal Keterangan
t at r
Peluang
1. Peraturan Pemerintah No. 103 0,15 4 0,6 Kebijakan
Tahun 2000 tentang perubahan perekonomian
status menjadi Perum
2. Banyaknya pernghargaan yang Keunggulan
0,10 3 0,30
diperoleh Perum Pegadaian bersaing
3. Jumlah manyarakat kecil dan Kemudahan
0,10 3 0,30 untuk
menengah yang relatif banyak
perusahaan
4. Sejalan dengan tekad pemerintah
Dukungan dari
yang terus mengembangkan
0,05 1 0,05 pemerintah
perekonomian Indonesia
5. Masyarakat cenderung meminati Kemudahan bagi
prosedur pinjaman yang konsumen
sederhana dan mudah. 0,05 1 0,05
SubTot
al

1,3
Ancaman
1. Munculnya pesaing baru 0,15 4 0,6 Tingkat

2. Adanya reputasi sebagai persaingan


0,10 3 0,30 Budaya warisan
peninggalan VOC
3. Adanya pergeseran gaya hidup Tingkat kemajuan
0,10 3 0,30 Jaminan
4. Jaminan Keamanan
keselamatan
0,10 3 0,30 Stabilitas
5. Situasi Politik
keamanan
Sub Total
0,10 3 0,30

1,8
Total 1,00 3,10