Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

(LKIP)
TAHUN ANGGARAN 2016

BALAI BESAR INDUSTRI AGRO


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
LKIP BBIA 2016

RINGKASAN EKSEKUTIF

Balai Besar Industri Agro (BBIA) pada Tahun 2016 telah


menetapkan 8 (delapan) indikator kinerja pada 6 (enam) sasaran
strategis dalam perjanjian kinerja (perjakin) dan 3 (tiga) output
kegiatan, yang terdiri dari beberapa sub output dan komponen.
Secara umum, pencapaian Perjanjian Kinerja (Perjakin) TA
2016 sebagian besar sudah tercapai. Sasaran strategis yang terkait
litbang sudah mencapai target. Sasaran strategis yang terkait
kualitan pelayanan publik belum mencapai target yang ditetapkan.
Hal ini terutama disebabkan karena delivery time masih jauh dari
target yang direncanakan. Penambahan volume contoh yang tidak
sebanding dengan penambahan kapasitas layanan jasa pengujian
menjadi penyebab utama masih rendahnya delivery time atau
penyelesaian contoh yang tepat waktu
Realisasi penyerapan anggaran Tahun Anggaran (TA) 2016
tidak terlampaui tinggi yaitu hanya sebesar Rp 46.861.411.795
atau 82,29% dari pagu sebesar Rp 56.945.112.000,-. Realisasi ini
lebih kecil dari target yang ditetapkan Kementerian Perindustrian
yaitu 95,80%. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 yang
mencapai 96,48% maka realisasi tahun ini relatif lebih kecil. Salah
satu penyebabnya adalah Pengembangan/ pembangunan Gedung
Laboratorium yang Pagunya berasal dari penggunaan Saldo Kas
BLU sebesar Rp 14.393.658.000,- tidak jadi dilaksanakan pada
tahun ini. Namun sebagai satker BLU, sisa total pagu dari PNBP
yang belum terealisasi akan masuk kembali ke Kas BLU BBIA dan
menjadi saldo kas awal untuk tahun anggaran yang akan datang.
Dengan demikian pembangunan gedung laboratorium dapat
diusahakan kembali pada tahun anggaran 2017, melalui revisi
DIPA terlebih dahulu.

ii
LKIP BBIA 2016

Realisasi penerimaan PNBP BBIA dari jasa pelayanan teknis


Tahun 2016 sebesar Rp 27.754.184.009,-. Jika dibandingkan
dengan PNBP tahun 2015 pada triwulan yang sama yakni sebesar
Rp 25.454.485.078,- maka terjadi kenaikan penerimaan sebesar
9,03%. Hal ini merupakan indikator bahwa layanan jasa teknis
yang BBIA sudah cukup baik dan dipercaya oleh pelanggan
khususnya dunia industri.
Kontribusi paling besar terhadap penerimaan tersebut
berturut-turut berasal dari Jasa Pengujian (62,5%), Jasa Sertifikasi
(16,5%), dan Jasa Kalibrasi (10,5%). Namun peningkatan
pendapatan ini khususnya pada layanan Pengujian berdampak
pada menurunnya delivery time karena volume contoh yang masuk
ke BBIA juga meningkat. Oleh karena itu diperlukan berbagai
upaya untuk mengatasi permasalahan ini.

iii
LKIP BBIA 2016

DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR i
IKHTISAR EKSEKUTIF ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL v
DAFTAR GAMBAR vi

BAB. I PENDAHULUAN
1.1. Tugas Pokok dan Fungsi BBIA I-1
1.2. Peran Strategis Organisasi I-3
1.3. Struktur Organisasi BBIA I-4
BAB. II PERENCANAAN DAN PERJANJIANKINERJA
2.1. Rencana Sasaran Strategis 2015-2019 II-1
2.2. Rencana Kinerja Tahun 2016 II-2
2.3. Rencana Anggaran II-3
2.4. Dokumen Perjanjian Kinerja II-5

BAB. III AKUNTABILITAS KINERJA


3.1. Capaian Perjanjian Kinerja Tahun 2015 III-2
3.2. Realisasi Keuangan III-33

BAB. IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan IV-1
4.2. Permasalahan dan Kendala IV-2
4.3. Saran dan Rekomendasi IV-3

LAMPIRAN
1. Pengukuran Perjanjian Kinerja BBIA Tahun 2016
2. SDM BBIA Berdasarkan Pendidikan Tahun 2016
3. DIKLAT tahun 2016
4. Ringkasan Hasil Litbang Tahun 2016
5. Volume dan Pelanggan Jasa Layanan BBIA

iv
LKIP 2016

DAFTAR TABEL

No. Judul Tabel Hal


2.1 Penetapan Kinerja BBIA Tahun 2016 II-2
2.2 Peta Strategis BBIA Berdasarkan Perspektif Stakeholders II-3
2.3 Kegiatan dan Output BBIA Tahun Anggaran 2016 II-4
2.4 Kegiatan dan Output BBIA Tahun Anggaran 2016 (revisi) II-5
2.5. Anggaran Berdasarkan Belanja BBIA TA 2016 II-5
2.6. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Kegiatan BBIA II-6
Tahun 2016
3.1 Capaian Perjanjian Kinerja tahun 2016 III-1
3.2 Delivery Time Jasa Layanan BBIA Tahun 2016 III-
24
3.3 Realisasi Jasa Layanan Teknis BBIA per 31 Desember III-32
2016
3.4 Target dan Realisasi PNBP Tahun 2016 III-33
3.5 Realisasi Anggaran Output Kegiatan Per Triwulan Tahun III-24
2016
3.6 Realisasi Anggaran Kegiatan Penelitian dan III-24
Pengembangan Teknologi Industri Agro Tahun 2016
3.7 Pagu dan Realisasi Berdasarkan Belanja Ta 2016 III-35
3.8 Perkembangan Realisasi Anggaran TA. 2013-2016 III-35
3.9 Penerimaan dan Belanja PNBP Tahun 2016 III-36
3.10 Penerimaan PNBP Berdasarkan Jenis JPT Tahun 2011- III-37
2016.

Balai Besar Industri Agro (BBIA) iv


LKIP 2016

DAFTAR GAMBAR
No. Judul Gambar Hal

1 Susunan Pejabat dan Dewan Pengawas BLU BBIA I-4


1 Grafik Target dan Realisasi Kinerja Hasil Litbang yang Siap III-8
Diterapkan
2 Grafik Target dan Realisasi hasil litbang yang siap diterapkan III-9
3 Jumlah Target dan Realisasi Hasil Litbang Yang Telah III-15
Implementasikan
4 Grafik Target dan Realisasi Kerjasama Litbang III-21
5 Tingkat Kualitas Pelayanan Publik III-23
3.6 Grafik Prosentasi Pelayanan Tepat Waktu III-25
3.7 Grafik Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang Dipublikasikan III-27
3.8 Grafik Peningkatan Jumlah Jenis Parameter Uji yang Sudah III-29
Bisa Diuji di Laboratorium
3.9 Grafik Pertumbuhan PNBP BBIA BLU III-32

Balai Besar Industri Agro (BBIA) ix


LKIP BBIA 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi

Balai Besar Industri Agro (BBIA) adalah salah satu satuan kerja yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri, dengan tugas pokok sesuai dengan Peraturan Menteri
Perindustrian Nomor 39/M-IND/PER/6/2006 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Balai Besar Industri Agro, yang dinyatakan bahwa BBIA mempunyai
tugas pokok dan fungsi melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan,
kerjasama, standardisasi, pengujian, kalibrasi, sertifikasi, pelatihan,
konsultansi, RBPI dan pengembangan kompetensi industri agro.
Selain itu, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.
517/KMK.05/2009 tanggal 28 Desember 2009, BBIA telah ditetapkan sebagai
Instansi Pemerintah yang mendapatkan kewenangan menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU). Mengingat statusnya
tersebut, maka BBIA dituntut untuk menjalankan organisasinya secara
profesional khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
industri agro harus dilakukan dengan lebih baik, transparan, akuntabel, dan
mandiri. Adapun jasa pelayanan teknis yang menjadi layanan unggulan BBIA
saat ini antara lain: jasa pengujian, sertifikasi, kalibrasi, pelatihan, kerjasama
penelitian dan pengembangan, rancang bangun dan perekayasaan industri,
konsultansi, dan inspeksi teknis.
BBIA dalam mempertahankan eksistensi organisasi serta upaya untuk
meningkatkan kinerja yang lebih baik, perlu mengenali potensi yaitu kekuatan
internal dan peluang dari eksternal serta permasalahan dengan memahami
kelemahan dan hambatan organisasi BBIA. Perkembangan kinerja BBIA akan
tergantung sejauh mana manajemen dapat mengoptimalkan potensi yang ada

I-1
LKIP BBIA 2016

dan mengatasi permasalahan yang dihadapi baik secara internal maupun


eksternal.

Permasalahan utama yang sedang dihadapi organisasi


BBIA antara lain
LAYANAN KEUANGAN
Waktu penyelesaian yang lama, Biaya investasi dan pemeliharaan
jumlah contoh semakin banyak tinggi.
dan bervariasi (komoditas BBIA menghadapi kendala
maupun prameter uji). terkait biaya peningkatan
Penerapan pola PTSP belum kapasitas layanan
optimal.

SDM & ORGANISASI SARANA PRASARANA


Jumlah SDM berpengalaman Keterbatasan prasarana lab
cenderung menurun (pensiun) pengujian, kalibrasi dan
Kaderisasi SDM membutuhkan litbang.
waktu yang lama. Tata letak dan pemeliharaan
SDM perlu mengikuti peralatan, perlu perencanaan
perkembangan IPTEK. dan penyempurnaan.

I-2
LKIP BBIA 2016

1.2.Peran Strategis Organisasi


Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Besar Industri Agro telah
ditetapkan Visi dan Misi yang merupakan panduan/acuan dalam menjalankan
tugas dan fungsinya. Visi dan Misi tersebut selanjutnya dijabarkan dalam
tujuan yang lebih terarah dan lebih operasional berupa perumusan tujuan
strategis (strategic goals) dan sasaran strategis organisasi Tahun 2015-2019
atau Indikator Kinerja Utama (IKU) yang digunakan dalam pengukuran kinerja
dan pengendalian pelaksanaaan program dan kegiatan.

VISI, MISI dan TUJUAN BBIA

VISI
Menjadi institusi litbang yang unggul di MISI
bidang hilirisasi produk agro, komponen 1. Melakukan penelitian dan
aktif alami, dan energi baru-terbarukan; pengembangan yang unggul dan
serta sebagai penyedia jasa pelayanan terpercaya di bidang hilirisasi produk
teknis yang profesional dan terpercaya di agro, kompenen aktif alami, dan
bidang komoditas agro yang berkelas dunia energi baru-terbarukan secara
pada tahun 2035. berkesinambungan untuk
pengembangan industri agro;
TUJUAN
2. Melaksanakan secara profesional jasa
1111. Meningkatnya inovasi
pelayanan teknis untuk industri agro,
teknologi
C.Struktur yang unggul di
Organisasi yang meliputi jasa penelitian,
bidang hilirisasi produk
pengembangan, standardisasi,
agro, komponen aktif alami,
pengujian, sertifikasi, kalibrasi dan
dan energi baru-
pengembangan kompetensi industri
terbarukan;
agro.
2. Meningkatnya kepuasan
I-3
pelanggan melalui
pelayanan prima jasa
pelayanan teknis.
LKIP BBIA 2016

1.3. Struktur Organisasi BBIA

Gambar 1. Susunan Organisasi BLU BBIA

Tugas pokok masing-masing jabatan adalah sebagai berikut :


1. Dewan Pengawas

Dewan Pengawas adalah organisasi yang dibentuk oleh Menteri


Perindustrian dengan persetujuan Menteri Keuangan dengan tugas melakukan

I-4
LKIP BBIA 2016

pengawasan terhadap pejabat Pengelola BLU-BBIA berkaitan dengan


pelaksanaan RBA, Renstra Bisnis jangka Panjang dan Peraturan Perundangan
yang berlaku.
Kewajiban dan tanggung jawab Dewan Pengawas adalah :
1) Memberi pendapat dan saran kepada Menteri Perindustrian dan Menteri
Keuangan mengenai Rencana Bisnis dan Anggaran yang diusulkan oleh
Pejabat Pengelola BLU BBIA.
2) Mengikuti perkembangan kegiatan BLU BBIA, memberi pendapat dan saran
kepada Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan mengenai setiap
masalah yang dianggap penting bagi pengelolaan BLU BBIA.
3) Melaporkan kepada Menteri Perindustrian dan Menteri Keuangan apabila
terjadi penurunan kinerja BLU BBIA,
4) Memberi nasihat kepada pejabat pengelola BLU BBIA dalam melaksanakan
pengelolaan BLU BBIA.
5) Membuat laporan pelaksanaan tugasnya secara berkala kepada Menteri
Perindustrian dan Menteri Keuangan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1
semester atau sewaktu-waktu apabila diperlukan
2. Pejabat Pengelola BLU-BBIA

a. Pemimpin BLU-BBIA

Pemimpin PK BLU BBIA adalah Kepala Balai Besar Industri Agro yang
berfungsi sebagai penanggung jawab umum operasional dan keuangan,
berkewajiban untuk :
1) menyiapkan rencana strategis bisnis;
2) menyiapkan rencana bisnis dan anggaran (RBA) tahunan;
3) mengusulkan calon pejabat keuangan dan pejabat teknis sesuai dengan
ketentuan yang berlaku; dan
4) menyampaikan pertanggungjawaban kinerja operasional dan keuangan

I-5
LKIP BBIA 2016

b. Satuan Pemeriksaan Intern.

Satuan Pemeriksaan Intern (SPI) merupakan unit organisasi yang berada di


bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala BBIA. Satuan
Pemeriksaan Intern berfungsi membantu Kepala BBIA dalam hal
peningkatan pengendalian internal BBIA agar pengelolaannya sesuai dengan
prinsip-prinsip Tata Kelola Pemerintahan yang baik.
Dalam melaksanakan fungsinya, SPI mempunyai tugas :
1) melaksanakan rencana kerja audit tahunan termasuk penugasan khusus
dari Kepala BBIA;
2) menyusun rencana kerja audit tahunan;
3) menyusun pedoman, mekanisme kerja SPI dan prosedur audit yang
berbasis risiko;
4) melakukan pengawasan keakuratan data akutansi keuangan;
5) melaksanakan pengawasan operasional kebijakan BBIA;
6) melaksanakan upaya-upaya yang mendorong efesiensi dan efektivitas
kerja;
7) memberikan konsultasi peningkatan penerapan manajemen resiko dan
prinsip-prinsip Good Governance;
8) menilai efektifitas sistem pengendalian intern (internal control system),
termasuk di dalamnya memberikan rekomendasi mengenai
penyempurnaan sistem pengendalian intern dan mengidentifikasikan hal-
hal yang memerlukan perhatian serta tindak lanjut atas hasil audit;
9) melaporkan hasil pengawasan kepada Kepala BBIA
Sesuai dengan kedudukannya, SPI mempunyai wewenang mengakses
seluruh dokumen, pencatatan, personil dan fisik kekayaan BBIA
diseluruh Bagian, Bidang dan unit-unit lainnya untuk mendapatkan
data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas auditnya.

I-6
LKIP BBIA 2016

c. Kepala Bagian Tata Usaha

Kepala Bagian Tata Usaha BBIA berfungsi sebagai penanggung jawab


keuangan berkewajiban untuk :
1) mengkoordinasikan penyusunan RBA;
2) menyiapkan dokumen pelaksanaan anggaran BLU;
3) melakukan pengelolaan pendapatan dan belanja;
4) menyelenggarakan pengelolaan kas;
5) melakukan pengelolaan utang-piutang;
6) menyusun kebijakan pengelolaan barang, aset tetap, dan investasi BLU;
7) menyelenggarakan sistem informasi manajemen keuangan; dan
8) menyelenggarakan akuntansi dan penyusunan laporan keuangan.
Selain itu Kepala Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok memimpin
dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan teknis administratif kepada semua
unsur di lingkungan BBIA.
d. Pejabat Teknis BLU-BBIA.

Pejabat teknis BLU BBIA berfungsi sebagai penanggung jawab teknis di bidang
masing-masing dan berkewajiban untuk :
1) menyusun perencanaan kegiatan teknis di bidangnya;
2) melaksanakan kegiatan teknis yang sesuai RBA-nya; dan
3) mempertanggungjawabkan kinerja operasional di bidangnya.
Pejabat Teknis BLU BBIA terdiri dari :
1) Kepala Bidang Pengembangan Jasa Teknik
2) Kepala Bidang Sarana Riset dan Standardisasi;
3) Kepala Bidang Pengujian, Sertifikasi dan Kalibrasi;
4) Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi dan Alih Teknologi

I-7
LKIP BBIA 2016

BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

Visi dan Misi BBIA periode 2015-2019 telah dirumuskan secara kolektif
dan mengandung nilai-nilai, aspirasi, harapan-harapan stakehoder di masa
depan serta mengacu kepada Visi, Misi dan Program Aksi Presiden RI Tahun
2015-2019, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-
2019, Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035
dan Visi, Misi Kementerian Perindustrian.
Visi dan Misi BBIA tersebut telah diturunkan ke dalam tujuan dan
sasaran strategis tahun 2015-2019.

2.1.Rencana Sasaran Strategis 2015-2019


Dalam tahun 2015-2019 terdapat 2 (dua) tujuan BBIA yang dirinci ke
dalam 6 (enam) sasaran strategis sebagai berikut :
1. Meningkatnya inovasi teknologi yang unggul di bidang hilirisasi produk
agro, komponen aktif alami, dan energi baru-terbarukan,
Sasaran strategis yang terdiri dari:
a. Meningkatnya inovasi dan penguasaan teknologi
b. Meningkatnya publikasi inovasi teknologi
2. Meningkatnya kepuasan pelanggan melalui pelayanan prima jasa
pelayanan teknis.
Sasaran strategis yang terdiri dari:
a. Meningkatnya kerjasama litbang dengan industri
b. Meningkatnya kualitas pelayanan publik

II-1
LKIP BBIA 2016

2.2. Rencana Kinerja Tahun 2016


Mengacu kepada tujuan dan sasaran strategis pada Renstra BBIA,
maka Indikator Kinerja Utama (IKU) atau dengan sebutkan lain dengan
Perjanjian Kinerja (PERJAKIN) BBIA Tahun 2016 seperti Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja (PERJAKIN) BBIA Tahun 2016

No Sasaran Strategis Indikator Satuan Target

Meningkatnya Jumlah hasil litbang yang


1 Penelitian 3
inovasi dan siap diterapkan
1
penguasaan
teknologi Jumlah hasil litbang yang
2 Penelitian 3
telah diimplementasikan
Meningkatnya
Karya tulis ilmiah yang
2 publikasi ilmiah Penelitian 10
dipublikasikan
hasil litbang
Meningkatnya
Kerja sama litbang instansi
3 kerja sama Kontrak 6
dengan industri
litbang
Tingkat kualitas pelayanan Skor rata-
1 4,02
publik (skala 5) rata
Prosentasi pelayanan tepat
2 waktu (pengujian, kalibrasi % 82
Meningkatnya
dan sertifikasi)
4 kualitas
pelayanan publik Peningkatan jumlah jenis
Parameter
3 parameter uji yang sudah bisa 2
uji
diuji di laboratorium

4 Tingkat pertumbuhan PNBP % 5,61

IKU BBIA tersebut telah ditetapkan melalui Keputusan Kepala BBIA


nomor 1473/Bd/BBIA/V/2015 tanggal 11 Mei 2015 tentang Penetapan IKU
Balai Besar Industri Agro Tahun 2015-2019. IKU tersebut telah dijadikan
sebagai dasar penetapan Perjanjian Kinerja tahun berjalan.
Strategis organisasi perspektif stakeholders yang tercantum dalam
dokumen rencana strategis daapat dilihat pada Tabel 2.2.

II-2
LKIP BBIA 2016

Tabel 2.2. Peta Strategis BBIA Berdasarkan Perspektif Stakeholders

Perspektif Pemangku 1
Kepentingan Jumlah hasil litbang yang siap diterapkan

2 Jumlah hasil litbang yang telah


diimplementasikan

3 Tingkat pertumbuhan PNBP

Perspektif Proses 1 Peningkatan jumlah jenis parameter uji


Internal yang sudah bisa diuji di laboratorium

2 Kerja sama litbang instansi dengan industri

3 Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan

4 Tingkat kualitas pelayanan publik

5 Prosentasi pelayanan tepat waktu


(pengujian, kalibrasi dan sertifikasi)

2.3. Rencana Anggaran

Untuk melaksanakan program dan mencapai sasaran yang telah


ditetapkan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, maka Balai Besar
Industri Agro (BBIA) menyusun kegiatan dan output, sesuai dengan RENSTRA
BBIA Tahun 2015 2019 dan RKA-KL Tahun 2016. Kegiatan Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Industri Agro pada TA 2016 menghasilkan 3 (tiga)
output. Bila dibandingkan dengan TA 2015 dan sebelumnya, terdapat perbedaan
jumlah Output dimana pada tahun-tahun sebelumnya jumlah Output BBIA
adalah 9 (Sembilan). Hal ini disebabkan adanya penyederhanaan jumlah Output
dan penyesuaian dengan penerapan ADIK (Arsitektur Dan Informasi Kinerja).
Adapun Output Kegiatan BBIA pada TA 2016 adalah seperti pada Tabel 2.3 di
bawah berikut ini:

II-3
LKIP BBIA 2016

Tabel 2.3. Kegiatan dan Output BBIA Tahun Anggaran 2016

Volume
Kode Program/Kegiatan/Output Anggaran (Rp.)
Output
Program Penelitian dan
019.07.12
Pengembangan Industri
Penelitian dan Pengembangan
1867 42.852.890.000,-
Teknologi Industri Agro
Hasil Penelitian dan
13 Hasil
1867.001 Pengembangan Teknologi Industri 1.305.946.000,-
Litbang
Agro
Layanan Jasa Teknis kepada 12 bulan
1867.002 17.605.721.000,-
Industri Layanan
12 Bulan
1867.994 LayananPerkantoran 23.941.223.000,-
Layanan

Pada awal TA 2016, jumlah pagu pada DIPA BBIA adalah sebesar Rp
42.852.890.000,- . Kemudian pada bulan Februari 2016, BBIA melakukan
revisi penambahan pagu yang berasal dari penggunaan Saldo Kas BLU sebesar
Rp 14.393.658.000,- sehingga total pagu BBIA berubah menjadi Rp
57.246.548.000,- Pada bulan Agustus ada pemotongan anggaran sebesar Rp
301,436,000 sehingga total pagu BBIA berkurang menjadi Rp 56.945.112.000,-
Pengurangan pagu ini dilakukan pada pagu yang berasal dari Rupiah Murni
(RM). Hal ini merupakan tindak lanjut dari Inpres No.4 Tahun 2016 tentang
Langkah-Langkah Penghematan dan Pemotongan Anggaran Belanja
Kementerian/Lembaga TA 2016 dan surat Menteri Keuangan No. S-
377/MK.02/2016 tanggal 13 Mei 2016 perihal Penghematan/Pemotongan
Anggaran Belanja Kementerian/Lembaga TA 2016 serta Surat Menteri
Perindustrian No. 372/M-IND/5/2016 tanggal 20 Mei 2016 perihal
Penghematan/Pemotongan Anggaran Belanja Kementerian/Lembaga Tahun
2016. Di samping itu BBIA juga melakukan beberapa kali revisi antar Jenis
Belanja khususnya yang berasal dari PNBP BLU.

Adapun rincian kegiatan, output dan anggaran BBIA TA 2016 setelah


melakukan revisi DIPA ke-6 pada bulan September seperti pada Tabel 2.4.

II-4
LKIP BBIA 2016

Tabel 2.4.Kegiatan dan Output BBIA Tahun Anggaran 2016 (revisi)

Volume
Kode Program/Kegiatan/Output Anggaran (Rp.)
Output
019.07.1 Program Penelitian dan
2 Pengembangan Industri
Penelitian dan Pengembangan
1867 56.945.112.000,-
Teknologi Industri Agro
Hasil Penelitian dan
13 Hasil
1867.001 Pengembangan Teknologi Industri 1.296.278.000,-
Litbang
Agro
Layanan Jasa Teknis kepada 12 bulan
1867.002 29.831.576.000,-
Industri Layanan
12 Bulan
1867.994 Layanan Perkantoran 25.817.258.000,-
Layanan

Apabila anggaran tersebut dikelompokan ke dalam jenis belanja maka


akan terlihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Anggaran Berdasarkan Belanja BBIA TA 2016

NO BELANJA PAGU (Rp)


I RUPIAH MURNI (RM) 21.833.455.000
1 BELANJA PEGAWAI 18.134.891.000
2 BELANJA BARANG 2.742.038.000
3 BELANJA MODAL 956.526.000
II PNBB BADAN LAYANAN UMUM (BLU) 35.111.657.000
1 BELANJA PEGAWAI
2 BELANJA BARANG 23.319.902.000
3 BELANJA MODAL 11.791.755.000
TOTAL 56.945.112.000

2.4. Dokumen Perjanjian Kinerja


Dalam rangka pengukuran dan evaluasi kinerja kegiatan BBIA, maka
perlu diuraikan dan ditetapkan sasaran strategis kegiatan dan indikator

II-5
LKIP BBIA 2016

kinerjanya. Sasaran strategis merupakan outcome dari kegiatan dan outcome


kegiatan diperoleh apabila output kegiatan dapat berfungsi. Tabel 2.2 berikut ini
menggambarkan Sasaran Strategis BBIA yang juga merupakan Perjanjian
Kinerja BBIA Tahun 2016, seperti pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6. Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Kegiatan BBIA Tahun 2016

No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target


1 Meningkatnya hasil- Jumlah hasil litbang yang 3 Penelitian
hasil Litbang yang siap diterapkan
dimanfaatkan oleh Jumlah hasil litbang yang 3 Penelitian
industri telah diimplementasikan
2 Meningkatnya Jumlah Kerjasama litbang 6 Kontrak
kerjasama litbang instansi dengan industri
3 Meningkatkan Tingkat kualitas pelayanan 4,02 Skor rata-rata
kualitas pelayanan publik (skala 5)
publik
Prosentasi pelayanan tepat 82 %
waktu (pengujian, kalibrasi
dan sertifikasi)
4 Meningkatnya Jumlah Karya Tulis Ilmiah 10 KTI
publikasi ilmiah (KTI) yang dipublikasikan
hasil litbang
5 Meningkatnya Peningkatan jumlah jenis 2 Parameter uji
usulan penerapan produk yang sudah bisa diuji
SNI di laboratorium
6 Meningkatnya jasa Tingkat pertumbuhan PNBP 5,61 %
pelayanan

Salah satu indikator capaian kinerja adalah pertumbuhan PNBP. Target


Penerimaan JPT atau PNBP Tahun 2016 (sesuai pagu belanja PNBP BLU)
sebesar Rp 27.019.986.000,-. Komposisi target PNBP Tahun 2016 berdasarkan
jasa layanan ditetapkan seperti pada Tabel 2.8.

II-6
LKIP BBIA 2016

Tabel 2.8. Target Penerimaan PNBP Tahun 2016

N0. JENIS LAYANAN PENERIMAAN (Rp.)


1 Jasa Pengujian 18.310.641.000
2 Jasa Kalibrasi 2.074.502.000
3 Jasa Pelatihan 1.688.081.000
4 Jasa Konsultasi 427.379.000
5 Jasa Sertifikasi 3.174.065.000
6 Jasa RBPI 191.634.000
7 Jasa Kerjasama Litbang 236.048.000
8 Jasa Uji Profisiensi 300.000.000
9 Jasa Inspeksi Teknis 100.000.000
10 Jasa Layanan Lainnya 100.000.000
11 Bunga Bank 417.636.000
Jumlah 27.019.986.000

II-7
LKIP BBIA 2016

BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA

Keberhasilan Balai Besar Industri Agro akan tercermin pada tercapai atau
tidaknya tujuan dan sasaran strategis yang telah dirumuskan di Renstra Bisnis
BBIA yang telah diturun pada Rencana Kerja Tahun 2016. Tujuan dan sasaran
strategis BBIA dapat tercapai jika asumsi-asumsi yang telah ditetapkan
terpenuhi dan didukung pula oleh SDM yang berintegritas serta kompeten, tidak
terkecuali dukungan dari sarana prasarana yang memadai.
Capaian kinerja tahun 2016 berdasarkan sasaran strategis dan indikator
kinerja yang ditetapkan dalam Perjakin 2016 dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1. Capaian Perjanjian Kinerja tahun 2016

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi %

(1) (2) (3) (4) (5)

Meningkatnya Jumlah hasil litbang yang Penelitia


1 3 Penelitian 4 133,33
hasil-hasil Litbang siap diterapkan n
yang dimanfaatkan
Jumlah hasil litbang yang Penelitia
oleh industri 2 3 Penelitian 3 100,00
telah diimplementasikan n
Meningkatnya kerja Kerja sama litbang dengan
1 6 Kontrak 7 Kontak 116,67
sama litbang industri
Tingkat kualitas Skor rata- Skor
1 4 3,85 95,77
Meningkatkan pelayanan publik (skala 5) rata rata-rata
kualitas pelayanan Prosentasi pelayanan
publik 2 tepat waktu (pengujian, 82 % 77,39 % 94,38
kalibrasi dan sertifikasi)
Meningkatnya
Jumlah Karya Tulis Ilmiah
publikasi ilmiah 1 10 KTI 8 KTI 80,00
(KTI) yang dipublikasikan
hasil litbang
Meningkatnya Peningkatan jumlah jenis
Parameter Paramete
kemampuan 1 parameter uji yang sudah 2 2 100,00
uji r uji
standardisasi bisa diuji di laboratorium
Meningkatnya jasa Tingkat pertumbuhan
1 5,61 % 9,03 % 161,25
pelayanan PNBP

III-1
LKIP BBIA 2016

3.1.Analisis Capaian Perjanjian Kinerja

1. Sasaran Strategis I : Meningkatnya hasil-hasil litbang yang


dimanfaatkan oleh industri.

Realisasi
Indikator Kinerja Target
Capaian %
Jumlah hasil litbang yang siap
3 Penelitian 4 133,33
diterapkan
Jumlah hasil litbang yang telah
3 Penelitian 3 100
diimplementasikan

Sasaran Strategis I terdiri dari dua indikator kinerja yaitu :

a. Jumlah hasil litbang yang siap diterapkan.

Sampai dengan akhir tahun 2016 realisasi fisik dari indikator


kinerja ini adalah 3 penelitian dengan capaian 100%. Adapun judul
penelitian yang siap diterapkan TA 2016 tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan.
Pada tahun 2016 ada 4 hasil litbang yang siap diterapkan. Adapun
penelitian yang siap diterapkan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Uji Manfaat Dan Uji Kestabilan Produk Bahan Aktif Skopoletin
Asal Mengkudu Hasil Filtrasi Membran Keramik (lanjutan).
Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk menguji
manfaat dan kestabilan produk sediaan skopoletin asal
mengkudu hasil filtrasi dengan membran keramik untuk
sediaan produk pangan fungsional. Adapun sasarannya adalah
tersedianya teknik proses peningkatan zat aktif skopoletin untuk
enrichment produk juice mengkudu.

III-2
LKIP BBIA 2016

Gambar KOLOM/Filter Membran Keramik

Gambar/Design Filter Membran Keramik

Apapun hasil penelitian diperoleh hasil Uji Kestabilan


skopoletin dalam filtrat, pada penyimpanan 25oC dan 45oC
dengan penambahan Vitamin E/tokoferol lebih stabil
dibandingkan dengan penambahan Vitamin C/Asam askorbat
.Uji Manfaat terhadap anti koagulan bahwa ekstrak yang diuji
mempunyai efek antikoagulan pada kosentrasi 0,1 g/mL. Efek

III-3
LKIP BBIA 2016

antikoagulan terkecil terlihat pada volume ekstrak 250 uL/mL


darah yang setara dengan 25 mg ekstrak /1 ml.darah.

b) Pengembangan Modifikasi Proses Produksi Makanan Berbasis


Buah-buahan Tropis ( Fruit Leather) Dalam Skala IKM.

Penelitian ini bertujuan untuk penyempurnaan teknologi


proses produksi fruit leather untuk perbaikan mutu (tekstur dan
daya impan) serta aplikasi untuk bahan produk olahan pangan.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan diperoleh
teknologi proses pengolahan dan produk Fruit Leather dari
aneka buah tropis dengan mutu yang lebih baik dan lebih tahan
lama serta dapat diaplikasikan sebagai bahan produk olahan
pangan dan diaplikasikan kepada IKM .

III-4
LKIP BBIA 2016

Gambar produk hasil penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, formulasi terbaik


adalah dengan menggunakan Bahan baku (buah atau pure),
ahan penolong gula pasir dan bubuk glukosa, margarin Bahan
pengisi : bubuk agar-agar BTP : asam sitrat. Kondisi optimal
proses adalah pengeringan dengan alat dehidrator suhu 45- 480C
selama 18 jam.

c) Pembuatan Kit Untuk Deteksi Alergen Tepung Terigu Dalam


Produk Pangan.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat kit deteksi cepat


allergen terigu atau gluten dalam produk olahan pangan dengan
mengguakan metode immunostick. Tahapan penelitian yang
dilakukan adalah Pengadaan sampel biscuit mengandung gluten
dan tidak mengandung gluten, Analisis proksimat biscuit yang
mengandung gluten dan tidak mengandung gluten, Analisis
gluten dengan metode SDS-PAGE pada biscuit yang mengandung
gluten dan tidak mengandung gluten, Analisis gluten dengan
metode Immunobotting pada biscuit yang mengandung gluten
dan tidak mengandung gluten, Optimasi kit dan Uji unjuk kerja
kit, uji sensitivitas dan spesifisitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa system immunostick
dapat digunakan untuk mendeteksi allergen gluten dalam
produk pangan berupa biscuit dalam waktu 1 jam 20 menit.

III-5
LKIP BBIA 2016

Kondisi optimum yang diperoleh adalah capture antibody 1:1000


dalam larutan carbonate/bicarbonate buffer, pH 9.6. Larutan
pencuci yang digunakan adalah akuades dan pelarut yang
digunakan untuk ekstraksi adalah EtOH 60%. Conjugate yang
digunakan adalah 1:500 dalam PBST dan substrat yang
digunakan adalah ODN. Penelitian ini merupakan model
pembuatan kit deteksi allergen dalam produk pangan dan dapat
digunakan untuk pembuatan kit untuk deteksi allergen yang
lain.

Gambar Alergen Kit

d) Separasi MCT (Medium Chain Triglyceride) Dari Minyak Kelapa


Dengan Metode Pemanasan-pendinginan Sebagai Bahan Farmasi
Dan Pemanfaatan Hasil Samping Asam Lemak Untuk Biodiesel.
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan hasil
fraksinasi asam lemak MCT (medium chain trygliceryde) menjadi
bahan farmasi atau bahan kesehatan untuk penurun kolesterol
dan campuran pendamping susu ibu dan Untuk meningkatkan
nilai tambah produk kelapa dan minyak kelapa sehingga dalam
pengolahannya akan meningkatkan pendapatan industri
pengolahan kelapa.

III-6
LKIP BBIA 2016

Gambar Alat Hasil Rancangan Alat Separasi MCT

Gambar Hasil Separasi Mct Dan Non-Mct

Berdarkan penelitian yang telah dilakukan, didapat hasil


sebagai berikut :
Proses separasi MCT dari minyak kelapa dengan metode
pemanasan-pendinginan dapat menghasilkan minyak kelapa
yang memiliki nilai MCT yang lebih besar Dengan cara press
hidaulik (dibandingkan metode spnner atau isothermal).

III-7
LKIP BBIA 2016

Proses pemisahan stearin dan olein perlu dilakukan pada


ruangan dengan suhu yang rendah agar saat proses
pemisahan fase sterin tidak mudah mencair.
Makanan pendamping ASI yang dibuat dengan menggunakan
minyak hasil separasi, memiliki kandungan MCT lebih besar
dibandingkan dengan menggunakan Butter.

Perkembangan jumlah penelitian yang siap diterapkan baik


target maupun realisasinya sejak tahun 2011 sampai 2016 dapat
lihat pada gambar di bawah ini.

Realisasi HASIL LIBANG YANG SIAP DITERAPKAN

10 9
7

5 5
4
3 4

0
2011 2012 2013 2014 2015 2016

Gambar 1. Grafik Target dan Realisasi Kinerja Hasil Litbang yang


Siap Diterapkan
Gambar 1 tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2011 dan
2012 realisasi hasil litbang yang siap diterapkan cukup tinggi yaitu 7
dan 9 penelitian juga di atas target yang ditetapkan, sementara itu
jumlah penelitian yang siap diterapkan sejak tahun 2013 sampai
2016 mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena ada perbedaan
pengertian terutama dalam penilaian kinerja litbang yang dilakukan
oleh BPKIMI/BPPI selama ini.

III-8
LKIP BBIA 2016

Pemahaman mengenai litbang yang siap diterapkan sebelum


tahun 2013 selama ini dimaknai oleh masing-masing satker sebagai
hasil litbang tahun yang bersangkutan dan berpotensi untuk
diimplementasikan pada periode berikutnya. Akan tetapi sejak tahun
2013 pengertian siap diimplementasikan adalah hasil litbang yang
dievaluasi dan telah dilakukan pengukuran sesuai dengan
Teknometer dan sekurang-kurangnya mencapai level 6.
Oleh karena itu ke depan setiap kegiatan atau judul litbang
yang diusulkan di BBIA diharus diarahkan dan disesuaikan dengan
kebutuhan pelanggan atau industri. Dengan kata lain judul litbang
harus sudah mempertimbangkan kemungkinan implementasinya
sehingga memiliki prospek dalam meningkatan produktivitas dan
efisiensi industri melalui perbaikan produk atau proses produksi
serta teknologi yang dipakai.
Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini
dengan target jangka menegah yang terdapat dalam dokumen
perencanaan strategis BBIA, dapat dilihat pada Gambar 2.

10 9

8 7

6 5 5
4 4 4 4 4
4 3 3 3

2
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi
Gambar 2. Grafik Target dan Realisasi hasil litbang yang siap
diterapkan

III-9
LKIP BBIA 2016

Dari Gambar 2 menunjukkan bahwa target yang ditetapkan


telah tercapai setiap tahun sesuai terdapat dalam dokumen
perencanaan strategis BBIA.

b. Jumlah hasil litbang yang telah diimplementasikan

Pada tahun 2016 realisasi fisik dari indikator ini sudah


mencapai 100% yaitu 3 judul penelitian dari 3 yang ditargetkan.
Adapun rincian litbang yang telah diimplementasikan adalah sebagai
berikut :
a) Rancang Bangun Pengiris Tempe dengan QiQi Nabati.
Keripik tempe adalah makanan yang sering dijadikan oleh-oleh
atau dijadikan camilan untuk dikonsumsi sehari-hari. Qiqi Nabati
adalah perusahaan yang bergerak dibidang produksi tempe dan
keripik tempe. Perusahaan Qiqi Nabati adalah perusahaan yang
didirikan oleh Bpk Triyono Bin Raswan, beliau memproduks itempe
sendiri dan mengolahnya menjadi keripik tempe. Seiring dengan
meningkatnya permintaan salah satu langkah awal yang dilakukan
untuk meningkatkan produksi adalah dengan mempercepat proses
pemotongan tempe. Untuk tahap pertama Bpk Triyono
menggunakan motor dari mesin jahit yang dipasang pisau pemotong
ujung poros mesin sebagai alat pemotong tempe. Dengan cara ini
proses pemotongan tempe dapat dilakukan lebih cepat
dibandingkan dengan cara manual atau dengan pisau. Namun
proses ini masih kurang cepat disebabkan proses pemotongan
tempe dilakukan satu per satu.

III-10
LKIP BBIA 2016

Gambar Keripik Tempe QiqiNabati

Gambar Alat pemotong tempe konvensional

Dari hasil diskusi Kepala Seksi Alih Teknologi dengan Bpk


Triyono kemudian didiskusikan kembali dengan tim yang ada di
Seksi Alih Teknologi. Dari hasil diskusi disimpulkan untuk alat
pemotong tempe, pisau pemotong yang digunakanakan berbentuk
lingkaran dengan sistem pisau berputar namun tidak bergerak.
Yang akan bergerak adalah bongkah tempe yang akan dipotong.
Dan sekali bergerak langsung memotong 4 bongkah tempe
sekaligus.
Motor yang digunakan untuk memutar pisau dan
menggerakkan tempe hanya 1 (satu) namun dihubungkan dengan
gearbox. Hasil potongan tempe akan jatuh pada conveyor yang
bergerak, lalu tempe hasil potongan akan dikumpulkan pada satu
wadah. Tempe akan diletakkan pada selongsong stainless steel dan
diberi pemberat untuk menekan tempe setiap habis terpotong.

III-11
LKIP BBIA 2016

Gambar Alat pemotong tempe dengan sistem conveyor

Gambar Proses pemotongan tempe dengan alat pemotong

b) Pengembangan Disain Alat Pencair dan Pencetak Produk Coklat


serta Implementasinya di IKM Coklat di PT Tama. Garut, Jabar.
Tujuan penelitian ini adalah merancang bangun alat pencair
dan pencetak cokelat dengan sistem otomatis dengan kapasitas
produksi sebesar 900 kg per hari.

III-12
LKIP BBIA 2016

Gambar alat Pencair dan Pencetak Produk Coklat

Berdasarkan hasil penelitian maka dihasilkan rancang


bangun Alat Pencair dan Pencetak Produk Coklat dengan
dimensi sebagai berikut :
Tangki Pencair
Diameter (D) = 39 cm
Tinggi = 60 cm
Volume total = 71,7 liter
Volume terpakai = 53,8 liter (75%)
Massa coklat = 69 Kg (+50% dari 43 kg)
Tangki Pemanas Air
Diameter (D) = 55 cm
Tinggi = 60 cm

III-13
LKIP BBIA 2016

Volume total = 135 liter


Volume terpakai = 114 lliter (85 %)

c) Rancangan Kompor Listrik Serabi dengan Bp Agus Wiyono (Cendol


De Kraton.
Berdasarkan perjaniian kerjasama (SPK) No.
1427/Bd/BBIA/KS/X/2016 tanggal 3 Oktober 2016 telah dilakukan
kerjasama pembuatan kompor serabi kerjasama dengan Bpk. Agus
Wiyono (Cendol Dkeraton). Alat ini berfungsi memasak serabi
dengan sumber pemanas yang menggunakan listrik sebagai syarat
agar kompor ini dapat digunakan didalam ruangan salah satu Mall
yang ada di bogor.
Kompor listrik serabi ini merupakan permintaan khusus dari
Bpk. Agus disebabkan belum adanya kompor yang sejenis yang
dijual dipasaran. Untuk dapat memasak serabi diperlukan sumber
panas yang merata. Biasanya untuk dapat memasak serabi dengan
baik digunakan arang atau kompor gas khusus agar serabi yang
dihasilkan matang secara merata. Maka agar dapat memasak serabi
dengan sumber tanaga listrik perlu dirancang kompor yang
menggunakan elemen pemanas listrik dengan panas yang merata.
Kompor yang dirancang menggunakan 4 (empat) elemen pemanas
listrik dengan thermostat agar suhu dapat diatur dan dapat
memasak 4 (empat) wajan sekaligus sehingga dapat memasak
untuk jumlah yang besar. Kompor listrik yang telah dibuat telah
digunakan pada stand penjualan serabi di salah satu mall di Bogor.
Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan
target jangka menegah yang terdapat dalam dokumen perencanaan
strategis BBIA, dapat dilihat pada Gambar 3.

III-14
LKIP BBIA 2016

6
5
5
4 4
4
3 3 3 3 3 3 3 3
3

1
0
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi

Gambar 3. Jumlah Target dan Realisasi Hasil Litbang Yang


Telah Implementasikan
Dari Gambar 3 menunjukkan bahwa target yang ditetapkan
telah tercapai setiap tahun, kecuali pada Tahun 2012-2016. Hasil
litbang yang telah diimplemen-tasikan relatif masih kecil
dibandingkan dengan jumlah penelitian di BBIA setiap tahunnya,
yaitu rata-rata sebanyak 10-12 judul per tahun.
Faktor yang menyebabkan kesulitan implementasikan hasil
litbang antara lain:
1) Judul atau ouput penelitian belum berorientasi kepada
pelanggan, dan lebih berorientasi pada kebutuhan peningkatan
kompetensi peneliti sendiri;
2) Kedalaman proses atau tahapan litbang belum tuntas.

2. Sasaran Strategis II: Meningkatnya kerjasama litbang

Realisasi
Indikator Kinerja Target
Capaian %
Jumlah kerjasama litbang dengan
6 Kerjasama 7 116,67
industri

III-15
LKIP BBIA 2016

Pada tahun 2016 kerjasama litbang yang sudah disepakati ada 7


(tujuh) atau 116,67% dari target yang ditetapkan. Adapun kerjasama
litbang pada TA 2016 ini adalah sebagai berikut :
1) Pendugaan masa simpan terigu (kemasan plastik) dengan PT Pundi
Kencana Mas.
Terigu merupakan salah satu produk tepung-tepungan yang
memiliki penggunaan cukup luas di masyarakat. Terigu dimanfaatkan
sebagai bahan baku industri pangan dengan berbagai skala mulai
skala industri rumah tangga hingga industri besar. Kerjasama litbang
yang dilakukan dengan PT. Pundi Kencana berupa pendugaan umur
simpan produk terigu yang disimpan dalam kemasan plastik dengan
netto 1 kg.
Metode yang dilakukan dalam proses pendugaan umur simpan
terigu adalah metode kadar air kritis. Pada metode ini, sejumlah
produk diletakkan dalam wadah dan disimpan dalam 7 desikator
tertutup. Pada masing-masing desikator, telah diatur kelembabannya
dengan cara meletakkan jenis garam yang berbeda-beda. Produk
kemudian disimpan dalam desikator selama beberapa waktu dan
dianalisa secara berkala sampai produk mengalami kerusakan.
Hasil pendugaan menyatakan bahwa umur simpan tepung terigu
yang dikemas dengan kemasan plastik dan disimpan pada
kelembaban relatif (RH) 85%-75% pada suhu penyimpanan 30 C
adalah antara 9,7 bulan sampai dengan 20,6 bulan. Umur simpan
tepung terigu tersebut sangat dipengaruhi oleh RH lingkungan, oleh
karena itu apabila disimpann pada RH lingkungan yang lebih rendah
maka umur simpan akan lebih lama. Selain itu juga umur simpan
produk ini tergantung jenis kemasan yang digunakan, jenis kemasan
yang mempunyai nilai permeabilitas lebih kecil akan mempunyai
umur simpan yang lebih lama.

III-16
LKIP BBIA 2016

2) Ekstraksi dan penghilangan rasa getir pada kecubung dengan Bpk FX.
Budianto.
Tanaman Kecubung dengan nama ilmiah Datura metel L
merupakan herba dengan bunga seperti terompet. Tanaman Kecubung
dengan bunga berwarna putih adalah yang paling beracun bila
dibanding varietas lain yang juga memiliki kandungan senyawa
alkaloida. Pada kegiatan kerjasama litbang ini, dibuat ekstrak
penghilangan rasa getir dan proses pengeringan spray drier. Hasil
proses menunjukkan warna ekstrak putih tetapi kandungan alkaloid
menurun. Hasil uji rasa dari klien menunjukkan rasa getir sudah
mulai berkurang.

3) Pendugaan masa simpan produk Snack Food (5 produk) IKM dengan


Disperindag kab. Lingga.
Produk snack food yang diujikan pada pendugaan umur simpan
ini merupakan produk yang diproduksi oleh IKM Kab. Lingga. Produk
tersebut adalah Kerupuk Suhana, Keripik Sagu bakar, kerupuk
udang 2 saudara, roti asin, kue bangkit, dan kue srikandi. Metode
yang dilakukan dalam proses pendugaan umur simpan terigu adalah
metode kadar air kritis. Pada metode ini, sejumlah produk diletakkan
dalam wadah dan disimpan dalam 7 desikator tertutup. Pada masing-
masing desikator, telah diatur kelembabannya dengan cara
meletakkan jenis garam yang berbeda-beda. Produk kemudian
disimpan dalam desikator selama beberapa waktu dan dianalisa
secara berkala sampai produk mengalami kerusakan. Hasil pendugaan
menyatakan bahwa umur simpan snack food dengan kemasan depan
plastic dan belakang metalized plastic dan dan disimpan pada
kelembaban relatif (RH) 85%-75% pada suhu penyimpanan 30 C
bervariasi berkisar di 6 hingga 12 bulan

III-17
LKIP BBIA 2016

4) Upaya memperpanjang umur simpan minuman Lou Han Guo dengan


PT Halo-halo.
PT. Halo-Halo telah mengolah buah Luo Han Guo menjadi
minuman dalam bentuk jelly drink. Namun saat ini jelly drink yang
diproduksi masih memiliki kendala pada produk yang dihasilkan.
Produk Luo Han Guo jelly drink yang mereka hasilkan mengalami
penurunan mutu pada saat penyimpanan di temperature yang tidak
stabil dengan indicator terbentuknya gelembung/ slime di dalam
produk setelah 3 hari disimpan di suhu refrigerator yang tidak stabil.
Oleh karena itu PT. Halo-Halo perlu perbaikan proses pengolahan
maupun formulasi produknya sehingga memiliki umur simpan yang
lebih lama. BBIA merupakan salah satu lembaga litbang yang memiliki
kompetensi dalam pengembangan produk industry agro. Balai Besar
Industri Agro (BBIA) bermaksud untuk melakukan penelitian dalam
rangka memecahkan permasalahan tersebut. Untuk itu maka BBIA
dan PT. Halo-Halo melakukan kerjasama penelitian perbaikan proses
dan formulasi produk Luo Han Guo jelly drink guna memperpanjang
daya simpannya.
Dalam penelitian ini yang dijadikan variable adalah proses
pasteurisasi dan penggunaan bahan tambahan pangan (pengawet).
Parameter yang dianalisis adalah pH, Derajat Brix, TPC, Coliform,
kapang kamir,, dan penampakan secara visual dengan suhu
penyimpanan dalam kondisi dingin dan suhu kamar. Dari hasil
formulasi dan kemasan yang dipilih, produk yang dihasilkan masih
baik hingga 42 hari secara organoleptik dan mikrobiologi.

5) Pembuatan minuman jeruk nipis dengan CV Arasari


CV Arasari merupakan salah satu IKM yang bergerak di produk
pangan terutama makanan khas daerah Bogor. Perusahaan tertarik
untuk membuat pengembangan produk pemanfaatan jeruk nipis akan
tetapi belum menguasai teknologi yang akan digunakan. Oleh karena
itu perlu dilakukan penelitian untuk pengembangan produk untuk

III-18
LKIP BBIA 2016

diaplikasikan di industri tersebut. Maksud dan tujuan dilakukannya


penelitian ini adalah untuk menemukan teknologi yang tepat pada
proses pembuatan minuman jeruk nipis dan mendapatkan formula
yang tepat untuk minuman jeruk nipis. Hasil kegiatan diperoleh
formula yang sesuai dengan standard perusahaan dan disukai oleh
panelis.

6) Pengembangan Pembuatan Produk Pellet Berbahan Cocopeat dengan


PT Dujung Sejahtera Bersama..
Cocopeat merupakan hasil samping pengolahan pengolahan
serat (fiber) yang juga merupakan limbah padat dari pengolahan
kelapa. Cocopeat sebagai limbah padat belum dimanfaatkan secara
maksimal, sebagaian kecil dimanfaakan sebagai media tanaman.
Cocopeat sebenarnya bisa digunakan sebagai bahan feed stock bakar
energy. Masalah utama cocopeat sebagai bahan bakar adalah
kerapatan yang rendah, kandungan air yang tinggi, nilai panas yang
rendah per satuan volume, dan mudah berjamur. Tujuan kegiatan ini
adalah untuk membuat rancangan formulasi dan pembuatan pellet
biomas berbahan baku cocopeat
Pembuatan pellet cocopeat tidak memerlukan teknologi yang tinggi,
mudah dikemas, mudah untuk didistribusikan dan disimpan, tidak
perlu ruang besar untuk storage. Pembakaran pellet cocopeat akan
menghasilkan gas sintetis (syngas) dan tidak menimbulkan asap
(emisi rendah)

7) Pembuatan Alat Gasifikasi Batu Bara dengan Universitas Veteran


Nasional.
Berdasarkan perjanjian kerjasama (SPK) No.
1271/Bd/BBIA/KS/VIII/2016 tanggal 9 Agustus 2016 telah
dilakukan kerjasama pembuatan alat gasifikasi batubara dengan Bpk.
Marsudi yang merupakan kordinator tim Litbang pada Jurusan Teknik
Mesin Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Alat ini

III-19
LKIP BBIA 2016

berfungsi untuk mengkonversi batubara menjadi gas yang dapat


disimpan pada tabung sehingga dapat digunakan untuk keperluan
rumah tangga.
Alat ini terdiri dari tiga bagian yaitu yang pertama tungku
pembakaran, fungsinya adalah tempat batubara dibakar. Bagian yang
kedua adalah pendingin, pada bagian ini gas yang dihasilkan
didinginkan. Dan pada bagian ketiga adalah filter tar, pada bagian
berfungsi menyaring gas agar bersih dari tar. Gas yang dihasilkan
dapat digunakan sebagai sumber panas pada kompor sehingga dapat
digunakan untuk memasak.

Alat Gasifikasi Batubara kerjasama dengan UPN Veteran Jakarta

III-20
LKIP BBIA 2016

Alat Gasifikasi Batubara kerjasama dengan UPN Veteran Jakarta


Perkembangan Target dan Realisasi kerjasama litbang tahun
2011-2016 dapat lihat pada gambar 4.

8
7 7
7
6 6 6
6
5
4 4 4 4
4
3 3 3
3
2
1
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi
Gambar 4. Grafik Target dan Realisasi Kerjasama Litbang

Dari Gambar 4 terlihat bahwa realisasi kerjasama litbang


hampir selalu mencapai target setiap tahunnya. Kerjasama litbang

III-21
LKIP BBIA 2016

dengan industri merupakan usaha pemecahan masalah di industri


atau perbaikan produk dan proses produksi.

3. Sasaran Strategis III : Meningkatkan kualitas pelayanan publik

Target Realisasi
Indikator Kinerja
Capaian %
Tingkat kualitas pelayanan Skor rata-
4.02 3,85 95,77
publik (skala 5) rata
Prosentasi pelayanan tepat
waktu (pengujian, kalibrasi 82 % 77,39 94,38
dan sertifikasi)

Sasaran Strategis I terdiri dari 2 (dua) Indikator Kinerja:


1) Tingkat kualitas pelayanan publik (skala 5)
Pada tahun 2016, kegiatan riset kepuasan pelanggan sudah
melakukan pengolahan data berdasarkan kuesioner yang masuk.
Penelitian menggunakan penyebaran kuesioner , kepada pelanggan
jasa layanan BBIA yaitu ;
1). Jasa Layanan Pengujian
2). Jasa Layanan Kalibrasi Alat
3). Jasa Layanan Sertifikasi
4). Jasa Layanan Penyelenggara Uji Profisiensi ( PUP)
5). Jasa Layanan Pelatihan
Kuesioner dikirim melalui jasa pengiriman JNE/Kantor Pos
sebayak ; 750 respoden , kembali namun kuesioner yang kembali
hanya sebanyak 160 responden. Selain itu kuesioner juga ada yang
diberikan langsung Kepada Pelanggan /masyarakat industri, pada saat
pengajuan permohonan Jasa Layanan Teknis, sebanyak ; 30 orang (
hasil pilihan terhadap pelanggan yang datang, misal ; penanggung
jawab, atau pegawai, pengambil keputusan, bukan supir, atau
perantara/petugas pengantar.

III-22
LKIP BBIA 2016

Hasil pengolahan data Riset Kepuasan Pelanggan adalah


sebagai berikut ;
Jasa Layanan Teknis Pengujian produk : 3.78
Kalibrasi Alat : 3.76
Sertifikasi : 3.94
Pelatihan : 3.83
Penyelenggara Uji Profisiesi : 3.93
Hasil rekapitulasi Laporan Rset Kepuasan Pelanggan
berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor : 63/KEP/M.PAN/7/ 2003 adalah ; 3,85
Angka Indek Kepuasan Pelanggan antara realisasi dan target
tahun 2011-2016 dapat lihat pada gambar 5.

6
5 5 5
5
4 3,81 4,05 4,02 4,02
3,71 3,78 3,80
4 3,63

3
2
1
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi
Gambar 5. Tingkat Kualitas Pelayanan Publik
Dari gambar 5. menunjukkan bahwa target tingkat kualitas
pelayanan publik belum pernah tercapai, hal diduga bahwa tingkat
keterlambatan penyerahan hasil dan merespon keluhan pelanggan
belum sesuai dengan harapan pelanggan.

III-23
LKIP BBIA 2016

2) Prosentasi pelayanan tepat waktu (pengujian, kalibrasi dan sertifikasi)


Adapun waktu pelayanan untuk masing-masing jasa layanan
sudah ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM) BBIA.
Data pencapaian standar waktu layanan untuk ketiga jenis layanan
(Pengujian, Kalibrasi, dan Sertifikasi) sampai dengan triwulan IV
tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 3.2 di bawah ini :
Tabel 3.2. Delivery Time Jasa Layanan BBIA Tahun 2016

Pencapaian
Standar Standar Waktu %
Jenis Pelayanan
No Pelayanan Layanan Jumlah Delivery
Publik
Minimun time
Sesuai Tidak
Sertifikasi 50 hari
A. 437 8 445 98,20
(sertifikat) kerja
Pengujian 15 hari
B. 7.596 9.874 17.470 43,48
(contoh) kerja
Kalibrasi 14 Hari
C. 9.029 950 9.979 90,49
(alat/sertifikat) kerja
Rata-rata 77.9

Berdasarkan Tabel di atas, rata-rata realisasi delivery time dari


ketiga jasa layanan adalah sebesar 77.9%. Jasa layanan kalibrasi dan
sertifikasi delivery time-nya cukup baik, namun untuk jasa pengujian
masih jauh di bawah target. Pada tahun 2016 yang lalu sudah
dilakukan penambahan pegawai THL (outsourcing) untuk mengatasi
permasalahan delivery time namun ternyata belum optimal. Oleh
karena itu, masalah delivery time untuk jasa pengujian perlu perhatian
khusus dan dilakukan perbaikan dengan mencari solusi lain.
Sebenarnya pada tahun 2016 sudah dilakukan penambahan
pegawai harian lepas untuk mengatasi permasalahan keterlambatan
delivery time namun ternyata belum berhasil memperkecil
keterlambatan pengujian. Kemungkinan keterlabatan pengujian
disebabkan adanya penambahan jumlah pelanggan dan jumlah contoh
yang masuk. Jumlah contoh pengujian tahun 2016 sebanyak 17.470
contoh uji, bila dibandingkan jumlah contoh terhadap 2015 mengalami
kenaikan sebanyak 522 contoh uji atau naik 3,1% dari tahun 2015

III-24
LKIP BBIA 2016

Perkembangan target dan realisasi kinerja dari pelayanan tepat


waktu (pengujian, kalibrasi dan sertifikasi) tahun 2013-2016 dapat lihat
pada gambar 6.

84
83
82
82 81,54
80 80
80 79,47

78 77,39
76,13
76

74

72
2013 2014 2015 2016
Target Realisasi
Gambar 6. Grafik Prosentasi Pelayanan Tepat Waktu

Gambar 6, menunjukkan realisasi kinerja pelayanan tepat waktu


tahun 2013-2016 yang masih di bawah target, kecuali pada Tahun
2015. Data tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa tingkat ketepatan
pengujian masih rendah, maka perlu perhatian khusus untuk
dilakukan dari aspek penataan SDM, peralatan dan alur kerja
(distribusi contoh uji).

III-25
LKIP BBIA 2016

4. Sasaran Strategis IV : Meningkatnya publikasi ilmiah hasil litbang

Sasaran Realisasi
Indikator Kinerja Target
Strategis
Capaian %
Meningkatnya Jumlah Karya 10 KTI 8 80
publikasi ilmiah Tulis Ilmiah (KTI)
hasil litbang yang
dipublikasikan

Pada Tahun 2016 realisasi KTI adalah sebanyak 8 judul KTI yang
dipublikasikan. Adapun KTI yang sudah diterbitkan adalah sebagai
berikut :
1) Morinda Citrifolia, L. (NONI) : A Review on Recent Research Soffunction
Food and Medical Herb , ditulis oleh Agus Sudibyo dan Tiurlan F.
Hutajulu yang diterbitkan pada Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.10
Juni 2016.
2) Aplikasi Penggunaan Surimi Berbahan Ikan Kurisi (Nemipterus Sp)
Untuk Pembuatan Aneka Produk Olahan Ikan, ditulis oleh Nami
Lestari, Yuniarti dan Tatiek Purwanti yang diterbitkan pada Warta
Industri Hasil Pertanian Vol 33 No. 1 Juli 2016.
3) Peningkatan Nilai Kalor Pellet Biomassa Cocopeat Sebagai Bahan Bakar
Terbarukan Dengan Aplikasi Torefaksi, ditulis oleh Rizal Alamsyah,
Nobel Christian Siregar dan Fitri Hasanah yang diterbitkan pada Warta
Industri Hasil Pertanian Vol 33 No. 1 Juli 2016
4) Karakterisasi dan Pendugaan Daya Tahan Simpan Bio Oil (Minyak
Alpukat dan Minyak Buah Merah) Oleh Irma Susanti dkk yang
diterbitkan pada Warta Industri Hasil Pertanian Vol 33 No. 2 Desember
2016
5) Pembuatan Dietanolamida dari Asam Lemak Sawit Destilat dan Minyak
Kelapa untuk Sabun Transparan Oleh Santi Ariningsih dkk Warta
Industri Hasil Pertanian Vol 33 No. 2 Desember 2016

III-26
LKIP BBIA 2016

6) Prediksi struktur tiga dimensi protein alergen pangan dengan metode


homologi menggunakan program swissmodel, Hendra Wijaya dan Fitri
Hasanah di Jurnal
7) Inovative technology fot dessicated coconut & medium chain
triglyceride appropriate for small to medium Enterprise. proceeding on
47th APCC Cocotech Conference 26 30 September 2016. Denpasar,
Bali, Indonesia. APCC
8) Enhanching the competitiveness of Indonesian Food and Beverage
Industry Through Facilitating the adoption of Quality Assurance
Programs. Agus Sudibyo dan Aslam Hasan. Jurnal BSN, Desember
2016.
Realisasi KTI pada tahun ini belum memenuhi target, diharapkan
pada tahun mendatang produktivitas dalam penulisan KTI akan semakin
meningkat.
Perkembangan realisasi dan target publikasi ilmiah hasil litbang
tahun 2011-2016 dapat lihat pada gambar 7.
14
12
12 11
10 10 10 10 10 10 10 10 10
10
8
8

0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi

Gambar 7.
Gambar 7 menunjukkan bahwa realisasi KTI yang dipublikasikan
selalu mencapai target yaitu atara 10-12 tulisan per tahun, kecuali tahun
2016. KTI mencerminkan kemampuan peneliti dalam mempublikasikan

III-27
LKIP BBIA 2016

hasil penelitian dan ulasan ilmiah dalam bidang industri agro dan
teknologi pangan, mikrobiologi pangan, teknik pangan, teknik industri
pertanian, khemurgi dan minyak atsiri, rekayasa peralatan, energi
terbarukan dan analisis kimia.

5. Sasaran Strategis V : Meningkatnya kemampuan standardisasi

Sasaran Realisasi
Indikator Kinerja Target
Strategis
Capaian %
Peningkatan
Meningkatnya jumlah jenis
Parameter
kemampuan parameter uji yang 2 2 100
uji
standardisasi sudah bisa diuji di
laboratorium

Pada Tahun 2016 realisasi dari indikator ini sudah 100%.


Penelitian terkait metode uji sudah mulai dilaksanakan pada akhir bulan
Februari, seiring dengan telah ditetapkannya Surat Keputusan Tim
Litbang BBIA TA 2016. Penelitian sudah dilakukan dan sudah pada
tahan Uji Banding dengan Laboratorium Uji yang lain serta Laporan.
Adapun penelitiannya adalah sebagai berikut :
1) Implementasi Metode Uji Residu Pestisida dalam Air Minum .
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah selesai dilaksanakan,
metode uji ini sudah bisa diimplementasikan. Dengan demikian ada
penambahan ruang lingkup parameter Residu Pestisida dengan
komoditi Air Mineral Alami.
2) Implementasi Metode Uji DON dalam mie kering dan mie basah.
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah selesai dilaksanakan,
metode uji ini sudah bisa diimplementasikan. Dengan demikian ada
penambahan ruang lingkup parameter DEOXYNIVALENOL (DON)
dengan komoditi mie kering dan mie basah.

III-28
LKIP BBIA 2016

Dengan adanya penambahan ruang lingkup dan peningkatan


jumlah parameter yang bisa diuji di BBIA maka diharapkan kualitas
layanan publik BBIA khususnya kepada dunia industri akan semakin
meningkat.

Perkembangan realisasi dan target jumlah jenis parameter uji


yang sudah bisa diuji di laboratorium tahun 2011-2016 dapat lihat pada
gambar 8.

8
7 7
7
6 6 6 6 6 6
6
5
5

3
2 2 2
2

0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi

Gambar 8. Grafik Peningkatan Jumlah Jenis Parameter Uji yang


Sudah Bisa Diuji di Laboratorium

Gambar 8 menunjukkan bahwa realisasi selalu tercapai dari


target yang ditetapkan, dengan adanya penambahan ruang lingkup
dan peningkatan jumlah parameter yang bisa diuji di BBIA dan
peningkatan jumlah ruang lingkup pada LPK yang diakui oleh KAN
maka diharapkan jumlah jenis layanan publik BBIA khususnya
kepada dunia industri akan semakin meningkat dan pada akhirnya
dapat menngkatkan penerimaan PNBP BLU.

III-29
LKIP BBIA 2016

6. Sasaran Strategis VI : Meningkatnya Jasa Pelayanan

Realisasi Sampai
Target
Sasaran Indikator Triwulan IV
Strategis Kinerja Fisik
Volume
Capaian %
Meningkatn Tingkat
ya jasa pertumbuhan 5,6 % 9,03 160,96
pelayanan PNBP

Kegiatan yang laksanakan dalam menghasilkan output ini yaitu


Jasa Layanan Teknis Pengujian, Kalibrasi, Sertifikasi, Pelatihan,
Konsultasi, RBPI, Litbang, dan JPT Lainnya (Uji Profisiensi, ABITIS,
Penanganan Pencemaran Lingkungan). Realisasi penerimaan PNBP BBIA
dari jasa pelayanan teknis Tahun 2016 adalah sebesar Rp
27.754.184.009,- Jika dibandingkan dengan PNBP tahun 2015 pada
triwulan yang sama (sebesar Rp 25.454.485.078,-) maka realisasi PNBP
sampai dengan tahun 2016 ini mengalami kenaikan sebesar atau 9,03%.
Capaian realisasi PNBP ini merupakan sesuatu yang
menggembirakan dan dengan demikian target pada Tapkin 2016 ini sudah
terlampaui. Diharapkan persentase kenaikan ini akan tetap terjaga pada
tahun-tahun mendatang dan target pertumbuhan PNBP yang tercantum
dalam Renstra BBIA Tahun 2015-2019 dapat senantiasa tercapai yaitu
sebesar 5,61% per tahun.
Adapun pertumbuhan penerimaan PNBP BLU selama tahun 2011-
2016 seperti Gambar 9.

III-30
LKIP BBIA 2016

18

16 15,36

14 13,06
12
10 10 10 10
10 9,03
8
5,61 5,87
6
5,61
4,82
4

2
0,58
0
2011 2012 2013 2014 2015 2016
Target Realisasi

Gambar 9. Grafik Pertumbuhan PNBP BBIA BLU

Dari Gambar 9 menunjukkan bahwa pertumbuhan PNBP BBIA


Tahun 2011-2016 sangat fluktuatif, hal terjadi sangat dipengaruhi kondisi
global dan kebijakan pemerintah.

7. Target dan Realisasi Output Jasa Layanan 2016


Kinerja masing jasa layanan selama tahun 2016 berdasarkan
volume layanan dapat lihat pada Tabel 3.3.

III-31
LKIP BBIA 2016

Tabel 3.3. Realisasi Jasa Layanan Teknis BBIA per 31 Desember 2016

Jenis Layanan Target Tahun 2016 Realisasi


NO
Jasa Teknis Volume Satuan Volume %
1 Riset 6 Penelitian/Kontrak 6 100,00

2 Pelatihan 1.440 Orang 2.041 141,74


3 Pengujian 15.329 Contoh Uji 17.470 113,97

4 Kalibrasi 7.183 Alat 9.979 138,93


5 Sertifikasi 366 Sertifikat 445 121,58
6 RBPI 7 Mesin/Alat 9 129,57

7 Konsultasi 11 MoU 13 118,18


8 JPT lainnya
8.1 Abitis 40 Titik Proses 32 80,00
8.2 Uji Profisiensi 200 Peserta 280 186,67
8.3 Penanganan 2 MoU 0 0.00
Pencemaran
Lingkungan

Berdasarkan table 3.3 memperlihatkan bahwa target output jasa


layanan secara umum tercapai di atas 100% kecuali jasa Inspeksi Teknis
hanya 80% dari target dan penanganan pencemaran lingkungan belum
menghasilkan kinerja. Hal ini merupakan indikasi bahwa kualitas
pelayanan jasa teknis yang dilakukan BBIA sudah baik dan mendapat
kepercayaan dari para pengguna jasa layanan BBIA.

8. Target dan Realisasi PNBP Tahun 2016


Kinerja masing jasa layanan selama tahun 2016 berdasarkan
penerimaan jasa layanan dapat lihat pada Tabel 3.4.

III-32
LKIP BBIA 2016

Tabel 3.4.Target dan Realisasi PNBP Tahun 2016


N0. JENIS TARGET (Rp.) Realisasi (Rp) Persentase Kontribusi
LAYANAN
1 Jasa 18.310.641.000 17.346.793.203 130,54% 62,50%
Pengujian
2 Jasa Kalibrasi 2.074.502.000 2.909.884.905 153,15% 10,50%

3 Jasa Pelatihan 1.688.081.000 966.855.000 80,57% 3,50%

4 Jasa 427.379.000 605.695.000 201,90% 2,20%


Konsultasi
5 Jasa 3.174.065.000 4.580.978.000 147,77% 16,50%
Sertifikasi
6 Jasa RBPI 191.634.000 148.602.500 99,07% 0,50%
7 Jasa 236.048.000 62.035.000 41,36% 0,20%
Kerjasama
Litbang
8 Jasa Uji 300.000.000 475.495.000 243,84% 1,70%
Profisiensi
9 Jasa Inspeksi 100.000.000 135.995.000 226,66% 0,50%
Teknis
10 Jasa Layanan 100.000.000 89.865.892 89,87% 0,30%
Lainnya
11 Bunga Bank 417.636.000 431.984.509 157,09% 1,60%
Jumlah 27.019.986.000 27.754.184.009 133,96%

Dari Tabel 3.4, menunjukkan bahwa pada tahun 2016 Realisasi


PNBP secara total sebesar Rp 27.754.184.009 atau 133,96% dari
targetnya..

3.2. Realisasi Keuangan


1. Realisasi Anggaran Keuangan
Pada awal tahun. 2016 telah disusun rencana dan target keuangan
berdasarkan triwulanan.
Adapun tingkat penyerapan anggaran per Output Kegiatan sesuai
dengan target dan realisasi tahun 2016 per triwulan diperlihatkan pada
Tabel 3,5 dan Realisasi Anggaran Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Industri Agro Tahun 2016 dapat dilihat pada Tabl 3.6.

III-33
LKIP BBIA 2016

Tabel 3.5. Realisasi Anggaran Output Kegiatan Per Triwulan Tahun 2016
Triwulan I Triwulan II Triwulan III
Triwulan IV (%)
(%) (%) (%)
Kegiatan/Komponen/
Anggaran Keuangan Keuangan Keuangan Keuangan Realisasi
Subkomponen
T R T R T R T R

Penelitian dan
Pengembangan
A. 56.945.112.000 15,69 14,61 35,42 54,72 64,65 60,90 100,00 82,29 46.861.411.795
Teknologi Industri
Agro

Hasil Penelitian dan


Pengembangan
001 1.296.278.000 0,56 0,38 39,74 44,99 72,15 75,15 100,00 92,74 1.204.561.000
Teknologi Industri
Agro
Jasa Layanan Teknis
002 29831576000 9,46 10,30 24,39 28,97 56,46 48,55 100,00 71,72 21.076.109.795
kepada Industri

994 Layanan Perkantoran 25.817.258.000 24,84 21,15 49,92 54,72 73,74 74,46 100,00 95,06 24.580.741.000

Total 56.945.112.000 15,69 4,61 35,42 54,72 64,65 60,90 100,00 82,29
46.861.411.795

Tabel 3.6. Realisasi Anggaran Kegiatan Penelitian dan Pengembangan


Teknologi Industri Agro Tahun 2016

Anggaran
Kegiatan/Komponen/
Subkomponen/ Pagu (Rp Realisasi
Sisa %
000) (Rp 000)
Penelitian Dan
Pengembangan
1867 56.945.112 46.861.412 10.083.700 82,29%
Teknologi Industri
Agro
Hasil Penelitian Dan
Pengembangan
1867001 1.296.278 1.204.561 91.717 92,92%
Teknologi Industri
Agro
Jasa Layanan Teknis
1867002 29.831.576 21.076.111 8.755.465 70,65%
Kepada Industri
1867994 Layanan Perkantoran 25.817.258 24.580.741 1.236.517 95,21%

Pada Tabel 3,5 dan 3.6 menunjukkkan realisasi anggaran sebesar


82,29% dari pagu anggaran. Pada Jasa Layanan Teknis kepada Industri

III-34
LKIP BBIA 2016

realisasi hanya sebesar 70,65%, realisasi tersebut rendah disebabkan


adanya Pengembangan Pembangunan Gedung Laboratorium yang
pagunya berasal dari penggunaan Saldo Kas BLU tidak jadi dilaksanakan
pada tahun 2016 karena mengalami gagal lelang. Lelang ulang telah
dilaksanakan namun tetap tidak didapat pemenang karena ketika
dilaksanakan lelang ulang, waktu yang tersisa sudah terlalu sempit dan
tidak memungkinkan untuk menyelesaikan pembangunan fisik.
Berdasarkan jenis mata anggaran belanja, maka realisasi anggaran
diperlihatkan pada Tabel 3.7.
Tabel 3.7. Pagu dan Realisasi Berdasarkan Belanja Ta 2016
Persen
NO BELANJA PAGU (Rp) REALISASI SISA
Realisasi

I. RUPIAH MURNI (RM) 99,21%


21.833.455.000 21.660.335.587 173.119.413
1 BELANJA PEGAWAI 99,76%
18.134.891.000 18.091.973.399 42.917.601
2 BELANJA BARANG 95,85%
2.742.038.000 2.628.144.529 113.893.471
3 BELANJA MODAL 98,30%
956.526.000 940.217.659 16.308.341
PNBP BADAN
II. 71,77%
LAYANAN UMUM (BLU) 35.111.657.000 25.201.076.208 9.910.580.792

1 BELANJA PEGAWAI
-
2 BELANJA BARANG 93,43%
23.319.902.000 21.786.713.608 1.533.188.392
3 BELANJA MODAL 28,96%
11.791.755.000 3.414.362.600 8.377.392.400
TOTAL 82,29%
56.945.112.000 46.861.411.795 10.083.700.205

Tabel 3.7, menunjukkan bahwa realisasi belanja Total sebesar


82,29% dari pagu yang terdiri dari Rupiah Murni adalah sebesar 99,21%
dan realisasi PNBP BLU sebesar 71,77% dari pagu.
Perkembangan realisasi anggaran belanja Tahun anggaran 2013
sampai dengan 2016 dapat lihat pada Tabel 3.8.
Tabel 3.8. Perkembangan Realisasi Anggaran TA. 2013-2016

Uraian TA. 2013 TA. 2014 TA. 2015 TA. 2016


PAGU 36.364.514.000 46.347.503.000 48.395.480.000 56.945.112.000
Realisasi 34.769.497.398 44.781.298.177 46.697.894.115 46.861.411.795
% Realisasi 95,61% 96,62% 96,48% 82,29%
.

III-35
LKIP BBIA 2016

Tabel 3.8. menunjukkan bahwa realisasi penyerapan anggaran


tahun 2013 sampai 2015 berkisar antara 95,61-96,48 dan pada tahun
2016 relatif lebih kecil dibanding tahun sebelumnya.
.

2. Realisasi Keuangan PNBP

Realisasi penerimaan dan belanja khusus dari sumber PNBP dapat


dilihat pada Tabel 3,9. Sedangkan perkembangan PNBP dari tahun 2011
sampai 2016 dapat dilihat pada Tabel 3.10.

Tabel 3.9. Penerimaan dan Belanja PNBP Tahun 2016


No Uraian Target/Pagu Realisasi %
Penerimaan
1. 27.019.986.000 27.754.184.009 115,00%
PNBP

2. Belanja PNBP 35.111.657.000 25.201.076.208 71,77%

Pada Tabel 3,9 menunjukkan bahwa ada silisih realisasi


Penerimaan PNBP dengan Belanja PNBP lebih besar dari Realisai Belanja
PNBP BLU sebesar Rp 2.553.107.801,-, tentunya nilai ini akan
menambah Saldo Kas Awal BLU tahun 2016 sebesar Rp 23.369.660.624,
menjadi Saldo Akhir Kas BLU BBIA Tahun 2016 sebesar Rp
25.992.768.425.
Adapun capaian total realisasi PNBP dari tahun ke tahun dapat
dilihat pada Tabel 3.10.

III-36
LKIP BBIA 2016

Tabel 3.10. Penerimaan PNBP Berdasarkan Jenis JPT Tahun 2011-2016.


Tahun
No Jenis JPT
2011 2012 2013 2014 2015 2016

1 Pengujian 11,818,875,397 13,248,843,859 13,997,611,783 15,295,478,037


16.360.498.973 17.346.793.203
2 Kalibrasi 1,382,139,136 1,809,424,035 1,937,599,000 2,515,316,500
2.596.812.500 2.909.884.905
3 Pelatihan 962,021,000 1,096,597,400 2,184,292,000 1,337,797,187
1.197.515.000 966.855.000
4 Standardisasi 59,200,000 60.230.000 65,000,000 70,000,000 - -

5 Konsultansi 303,500,000 400,000,000 303,690,000 416,820,000


209.250.000 605.695.000
6 Sertifikasi 2,099,125,000 2,267,584,000 2,978,750,002 3,295,434,800
3.752.867.000 4.580.978.000
7 RBPI 93,250,000 61.200.000 459,857,050 91,250,000
66.700.000 148.602.500
8 Litbang 179,788,830 109,126,909 368,355,393 72,540,000
297.032.866 62.035.000
9 JPT lainnya 689,500,789 831,436,065 643,607,878 949,313,943
973.808.739 1.133.340.401
9.1 Uji Profisiensi
475.495.000
9.2 Inpeksi Teknis
135.995.000
9.3 Bunga Bank
431.984.509
Jasa layanan
9.4
lainnya 89.865.892
Total 19.763.012.268 24.043.950.467
17.587.400.152 22.938.763.106 25.454.485.078 27.754.184.009
Pertumbuhan
0.58% 13.06% 15.36% 4.82% 5.87% 9,03%
(%)

Secara total PNBP BBIA Tahun 2011-2016 dari tahun ke tahun


terus meningkat. Penyumbang terbesar PNBP BBIA tahun 2015 adalah
Pengujian (62,50%), kedua Sertifikasi (16,50%) dan ketiga Kalibrasi
(10,50%), keempat Pelatihan (3,50%) dan jasa lainnya di bawah 2,20%.

III-37
LKIP BBIA 2016

BAB IV
PENUTUP
4.1.Kesimpulan.

Balai Besar Industri Agro (BBIA) pada Tahun 2016 telah


menetapkan 8 (delapan) indikator kinerja pada 6 (enam) sasaran strategis
dalam perjanjian kinerja (perjakin) dan 3 (tiga) output kegiatan, yang
terdiri dari beberapa sub output dan komponen.
Secara umum, pencapaian Perjanjian Kinerja (Perjakin) TA 2016
sebagian besar sudah tercapai. Sasaran strategis yang terkait litbang
sudah mencapai target. Sasaran strategis yang terkait kualitan pelayanan
publik belum mencapai target yang ditetapkan. Hal ini terutama
disebabkan karena delivery time masih jauh dari target yang
direncanakan. Penambahan volume contoh yang tidak sebanding dengan
penambahan kapasitas layanan jasa pengujian menjadi penyebab utama
masih rendahnya delivery time atau penyelesaian contoh yang tepat waktu
Realisasi penyerapan anggaran sampai dengan cukup rendah yaitu
hanya sebesar Rp 46.861.411.795 atau 82,29% dari pagu sebesar Rp
56.945.112.000,- Realisasi ini lebih kecil dari target yang ditetapkan yaitu
95,80%. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 yang mencapai
96,48% maka realisasi tahun ini relatif lebih kecil.
Adapun realisasi fisik TA 2016 adalah sebesar 86,71%. Realisasi ini
masih di bawah target yang ditetapkan yaitu sebesar 100%. Salah satu
penyebabnya adalah pembangunan gedung laboratorium yang tidak jadi
dilaksanakan pada tahun ini.
Realisasi penerimaan PNBP BBIA dari jasa pelayanan teknis Tahun
2016 sebesar Rp 27.754.184.009,-. Jika dibandingkan dengan PNBP
tahun 2015 pada triwulan yang sama yakni sebesar Rp 25.454.485.078,-
maka terjadi kenaikan penerimaan sebesar 9,03%. Hal ini merupakan
indikator bahwa layanan jasa teknis yang BBIA sudah cukup baik dan
dipercaya oleh pelanggan khususnya dunia industri.

IV- 1
LKIP BBIA 2016

Kontribusi paling besar terhadap penerimaan tersebut berturut-


turut berasal dari Jasa Pengujian (62,5%), Jasa Sertifikasi (16,5%), dan
Jasa Kalibrasi (10,5%). Namun peningkatan pendapatan ini khususnya
pada layanan Pengujian berdampak pada menurunnya delivery time
karena volume contoh yang masuk ke BBIA juga meningkat. Oleh karena
itu diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini.

4.2. Permasalahan Dan Kendala.

1) Sasaran strategis yang terkait kualitan pelayanan publik belum


mencapai target yang ditetapkan. Hal ini terutama disebabkan karena
delivery time masih jauh dari target yang direncanakan

2) Pengembangan pembangunan gedung laboratorium yang tidak jadi


dilaksanakan pada tahun ini.
4.3. Saran Dan Rekomendasi

1) Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan


kualitan pelayanan publik antara lain melakukan penambahan
kapasitas dengan cara penambahan gedung laboratorium beserta
peralatannya dan juga penambahan pegawai khususnya untuk tenaga
analis. Maka perlu perhatian dari Pusat khususnya BPPI guna
mengalokasikan pagu anggaran untuk memenuhi kebutuhan
penambahan kapasitas laboratorium BBIA tersebut disamping itu juga
perlu adanya penambahan formasi CPNS khusus untuk tenaga Analis.
Untuk solusi jangka pendeknya, penambahan pegawai non-PNS
(kontrak) adalah langkah bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan.
2) Proses Revisi Pencantuman Saldo Awal Kas dan alokasi anggaran
Pengembangan/Pembangunan Gedung Laboratorium pada DIPA BBIA
agar dilaksanakan di awal Tahun (bulan Januari 2017) serta
persiapam dan pelakasanaan proses lelang pembangunan gedung
harus dipersiapkan dengan baik dan dipantau terus
perkembangannya agar tidak terjadi gagal lelang.

IV- 2
LKIP BBIA 2016

IV- 3
LKIP BBIA 2016

Lampiran| 1