Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara kesatuan Republik Indonesia adalah Negara yang terdiri

dari beberapa pulau yang dimana di kenal dengan Negara kepulauan

terbesar di asia maupun dunia, Negara Indonesia juga dibagi atas daerah

provinsi, kemudian dari daerah provinsi dibagi menjadi daerah

kabupaten/kota yang masing-masing memiliki daerah pemerintahan

sendiri yang berhak mengatur dan mengurus daerah pemerintahannya

sendiri dan dari pemerintahan kabupaten/kota terbagi lagi atas kelurahan

dan desa yang dimana keberadaan penduduk Indonesia mayoritas

bertempat tinggal di dalam desa. Dengan melihat realita segala bentuk

dari kesenjangan masyarakat ada dalam desa baik secara pendidikan,

kesehatan, kesejahteraan dan infrastruktur lainnya ada dalam desa,

kebanyakan kita ketahui anak-anak putus sekolah dan hidup tidak jelas di

jalanan dan mencari uang dengan mengamen itulah cara mereka untuk

hidup. Maka salah satu cara agar masyarakat desa dapat hidup makmur

dan berkembang serta memiliki pendidikan, kesehatan, dan memiliki

keadilan dalam haknya maka akan dilakukan pembangunan nasional.

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

tahun 1945 tercantum hakekat pembangunan nasional yang bertujuan

untuk menciptakan masyarakat Indonesia makmur, adil dan merata.

1
2

Undang-Undang Dasar 1945 di dalamnya tercantum berbagai aspek yang

salah satunya penyelenggaraan pemerintahan.

Untuk diketahui dalam penyelenggaraan pemerintahan menjadi

persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik di tingkat

pusat maupun daerah. Dalam proses penyelenggaraan pemerintahan,

pemerintah dituntut untuk bisa memberikan yang terbaik dalam

membangun serta mengembangkan daerahnya sesuai dengan tujuan dari

apa visi misi dari daerahnya untuk mewujudkan keadilan yang merata.

Oleh karena itu, lahir Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah, bahwa penyelengaraan pemerintahan daerah di arahkan untuk

mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan

pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta

peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip

demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam

sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berpedoman

terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 maka di terbitkan

tentang desa atau desa adat atau yang di sebut dengan nama lain,

selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang

memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus

urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan


3

prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui

dan dihormati dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa merupakan salah satu lembaga pemerintahan terkecil yang

berada langsung di bawah naungan kabupaten/kota yang memiliki hak

dalam mengatur dan mengurus sendiri masyarakat yang berada dalam

wilayahnya atau yang biasa di kenal dengan otonomi desa serta peraturan

desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh kepala

desa setelah dibahas dan disepakati bersama badan permusyawaratan

desa.

Sangat jelas bahwa desa memiliki hak otonom untuk mengatur

dan mengurus segala aspek kehidupan di desa baik bidang pelayanan,

pengaturan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang

hak dan kewajiban desa dan masyarakat desa bahwa Desa berhak,

sebagai berikut:

a. Mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak

asal usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa.
b. Menetapkan dan mengelola kelembagaan desa; dan
c. Mendapatkan sumber pendapatan.

Menyangkut masalah keuangan pendapatan desa sebagaimana

dimaksud dalam pasal 71 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014

bersumber dari:

a. Pendapatan asli desa terdiri dari hasil usaha , hasil aset, swadaya dan

partisipasi, gotong-royong, dan lain-lain pendapatan asli desa.


b. Alokasi anggaran pendapatan dan belanja Negara.
4

c. Bagian dari hasil pajak dan retribusi daerah kabupate/kota.


d. Alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan

yang diterima kabupaten/kota.


e. Bantuan keuangan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah

provinsi dan anggaran pendapatan dan belanja daerah

kabupaten/kota.
f. Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ke tiga; dan
g. Lain-lain pendapatan desa yang sah.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 mengisyaratkan bahwa

pengelolaan keuangan desa diatur dengan asal-usul desa, artinya desa di

tuntut pada tataran kemampuan tentang pemanfaatan ADD secara efektif.

APBN menetapkan besaran ADD di tahun 2015 yaitu sebesar 10%.

Sebelum tahun 2016 di Kabupaten Pinrang sejumlah 12

kecamatan masing-masing mendapatkan ADD seperti pada tabel di

bawah ini:
5

TABEL 1.1
Besaran Jumlah Alokasi Dana Desa
Di Kabupaten Pinrang
TAHUN
NO KECAMATAN
2013 2014 2015
1 2 3 4 5
1 Sawitto - - -
2 Paleteang - - -
3 Tiroang - - -
4 Duampanua 1.726.049.100 1.780.689.900 2.832.490.000
5 Lembang 2.627.294.400 2.743.980.300 4.143.712.000
6 Batu Lappa 677.703.500 709.169.900 1.146.174.ooo
7 Cempa 1.009.364.000 1.242.868.800 1.701.333.000
8 Mattiro Bulu 1.202.012.500 1.227.692.700 1.964.143.000
9 Suppa 1.474.536.000 1.516.412.000 2.329.754.000
10 Lanrisang 1.034.372.000 1.059.961.000 1.699.437.000
11 Mattiro Sompa 1.210.998.500 1.238.924.400 1.963.780.000
12 Patampanua 1.166.900.500 1.215.640.100 2.138.925.000
Sumber : PMD Kabupaten Pinrang Tahun 2013-2015

Di tuliskan pada tabel di atas adalah besaran dana alokasi, dana

desa yang dialokasikan oleh pemerintah Kabupaten Pinrang kepada

kecamatan yang ada di Kabupaten Pinrang dari tahun 2013 sampai

dengan tahun 2015 sedangkan dari 3 (tiga) kecamatan yang memiliki

tanda garis datar (-) hanya memiliki dana alokasi kelurahan atau ADK.

Dari tabel 12.2 dapat disimpulkan bahwa penerimaan ADD tahun

2013 ke tahun 2015 terjadi peningkatan di kecamatan patampanua untuk

meningkatkan sumberdaya masyarakat yang ada di kecamatan

patampanua mulai dari belanja tunjangan, belanja operasional, bansos,


6

dan kegunaan operasional lainnya yang berkaitan dengan peningkatan

sumber daya manusia yang ada di kecamatan patampanua.

TABEL 1.2
Besaran ADD Kecamatan Patampanua
Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2013-2015
Tahun Penerimaan Swadaya
2013 1.166.900.500 48.475.140
2014 1.215.640.100 46.536.786
2015 2.138.925.000 51.897.243
Sumber: Kecamatan Patampanua Tahun 2013-2015

Dari tabel 1.2 di atas disimpulkan bahwa penerimaan ADD tahun

2013 sampai dengan 2015 terjadi peningkatan, karena ketepatan waktu

dalam pembuatan pertanggungjawaban keuangan alokasi dana desa

tersebut, sedangkan swadaya masyarakat dari tahun 2013 sampai tahun

2014 terjadi penurunan karena kurang maksimalnya partisipasi swadaya

gotong-royong masyarakat desa di wilayah kecamatan Patampanua.

Di samping kurangnya partisipasi swadaya gotong-royong

masyarakat kesulitan dalam menyusun surat pertanggungjawaban untuk

pencairan dana selanjutnya, karena lemahnya sumber daya manusia oleh

aparat desa sebagian besar tidak memahami cara mengoprasikan

komputer dengan baik sehingga lambat dalam menyelesaikan surat

pertanggungjawaban tersebut.

Desa di kecamatan Patampanua menerima alokasi dana desa

berkisar antara Rp.375.000.000,00 sampai dengan Rp.425.000.000,00


7

perdesa di hitung dari luas wilayah dan angka kemiskinan serta jumlah

penduduk tiap desa.

Dari dana yang diterima oleh desa sepenuhnya dipergunakan oleh

desa untuk kepentingan masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan

dan kepentingan sosial lainnya dalam bermasyarakat.

Namun terkadang dalam desa sendiri atau otonomi desa kurang

berperan dan berpartisipasi dalam mengelola serta mewujdkan budaya

adat yang ada dalam desa sebagai pendorong kerjasama untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program alokasi dana desa di kecamatan Patampanua sudah

berjalan begitu lama namun dalam pelaksanaan otonomi desa di

kecamatan Patampanua masih saja terdapat kendala baik dari segi

pemerintah maupun dari masyarakat.

Dari apa yang diuraikan permasalahan di atas penulis tertarik untuk

meneliti dan mengetahui lebih mendalam tentang apa permasalahan

alokasi dana desa di kecamatan Patampanua. Sehubungan dengan hal

tersebut penulis mengambil judul EFEKTIVITAS PEMANFAATAN

ALOKASI DANA DESA DI KECAMATAN PATAMPANUA KABUPATEN

PINRANG PROVINSI SULAWESI SELATAN.


8

1.2 Permasalahan
1.2.1 Identifikasi Masalah

Setelah mengamati masalah alokasi dana desa di

kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang, maka penulis

mengidentifikasikan masalah-masalahnya sebagai berikut :

1. Kurang efektivitasnya pemanfaatan alokasi dana desa di

kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.


2. Masih kurangnya partisipasi masyarakat.
3. Terbatasnya fungsi otonomi desa.
4. Akuntabiliitas atau pertanggungjawaban alokasi dana desa

bertumpu pada seorang saja yaitu sekretaris desa.


5. Pengelolaan alokasi dana desa masih berjalan lambat.
6. Kepala desa kurang berperan dalam peningkatan kesejahteraan

rakyat.

1.2.2 Pembatasan Masalah


Untuk memfokuskan ruang lingkup mengingat keterbatasan

waktu dari uraian diatas, maka penulis membatasi permasalahan

tentang efektivitas pemanfaatan alokasi dana desa di kecamatan

Patampanua Kabupaten Pinrang.

1.2.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan

diatas, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut :


1. Bagaimana efektivitas pemanfaatan alokasi dana desa di

kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.


2. Apa hambatan yang terjadi dalam pemanfaatan alokasi dana

desa di kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.


3. Bagaimana solusi dalam mengatasi pemanfaatan alokasi dana

desa di kecamatan Patamanua Kabupaten Pinrang.


9

1.3 Maksud dan Tujuan


1.3.1 Maksud Magang

Maksud dari penelitian yang di lakukan di lokasi magang

untuk melihat sejauh mana Efektivitas Pemanfaatan Alokasi Dana

Desa di Kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang Provinsi

Sulawesi Selatan.

1.3.2 Tujuan Magang

Adapun tujuan dari pelaksanaan magang tersebut adalah

sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan ADD di kecamatan

Patampanua Kabupaten Pinrang.


2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat

dalam pemanfaatan ADD di kecamatan Patampanua Kabupaten

Pinrang.
3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah dalam

mengatasi faktor-faktor penghambat dari pemanfaatan ADD di

kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang.

1.4 Kegunaan Magang


1.4.1 Kegunaan Teoritis

Kegiatan praktis dari kegiatan magang diharapkan dapat

menambah pengetahuan khususnya dalam ilmu pemerintahan

serta menambah bahan referensi guna menambah ilmu

pengetahuan dalam bidang pemerintahan yang menyangkut

dengan pengalokasian dana desa dalam upaya peningkatan

PADesa di Program Studi Keuangan Daerah.


10

1.4.2 Kegunaan Praktis dan Lokasi Magang


Hasil dari penelitian magang diharapkan bisa memberi

masukan dan saran kepada pemerintah kecamatan Patampanua

Kabupaten Pinrang dalam pengelolaan alokasi dana desa yang

sesuai dengan perencanaan serta undang-undang yang berlaku

dalam mengalokasikan dana desa.

1.5 Definisi Konsep Obyek Yang Diamati Dan Dikaji


1.5.1 Definisi Efektivitas
Efektif merupakan kata yang berasal dari bahasa inggris

yaitu effective yaitu berhasil atau sesuatu yang dilakukan dengan

baik. Maka efektivitas merupakan unsur yang paling penting dalam

menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai target

yang telah ditentukan baik berupa kegiatan ataupun program.


Sendarmayanti (2001:59) mendefinisikan bahwa Efektivitas

adalah merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran

seberapa jauh target dapat tercapai. Sehubungan dengan

pendapat sendarmayanti tersebut efektivitas merupakan ukuran

yang menjadikan program yang dijalankan efektif atau tidak.


Menurut I Nyoman, (2005:105) mengatakan bahwa

efektivitas, sebagai berikut:


Seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana
seseorang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang
diharapkan maka efektivitas dalam kegiatan organisasi
dapat dirumuskan sebagai tingkat perwujudan sasaran yang
menunjukkan sejauh mana sasaran telah dicapai.

Menurut Gibson, et All dalam I Nyoman (1996:50), bahwa

Efektivitas yaitu kriteria jangka pendek-produksi, mutu, efisiensi,

fleksibilitas dan kepuasan, pengembangan, kriteria jangka


11

menengah-persaingan dan kriteria jangka panjang-kelangsungan

hidup.
Sondang P. Siagian (2001:24) efektivitas adalah

pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah

tertentu yang sacara sadar ditetapkan sebelumnya untuk

menghasilkan sejumlah barang atas jasa kegiatan yang

dijalankannya.
Berdasarkan definisi efektivitas dari para ahli maka penulis

dapat menyimpulkan bahwa efektivitas adalah segala bentuk

pencapaian yang memiliki maksud dan tujuan sebagai tingkat

perwujudan sejauh mana sasaran telah dicapai.


1.5.2 Definisi Pemanfaatan

Pemanfaatan merupakan turunan kata dari kata manfaat,

yakni suatu penghadapan yang semata-mata menunjukkan

kegiatan menerima. Penghadapan tersebut pada umumnya

mengarah pada perolehan atau pemakaian yang hal-hal yang

berguna baik di pergunakan secara langsung maupun tidak

langsung agar dapat bermanfaat.

Menurut Prof. Dr. J.S. Badudu dalam kamus umum bahasa

Indonesia, mengatakan bahwa Pemanfaatan adalah hal, cara,

hasil kerja dalam memanfaatkan sesuatu yang berguna.

Berdasarkan defenisi dari para ahli maka penulis dapat

menyimpulkan bahwa pemanfaatan adalah sesuatu yang memiliki

nilai dan kegunaan yang dapat dirasakan atau digunakan.


12

1.5.3 Definisi Alokasi Dana Desa


Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 20014 pasal 72

ayat (1) huruf d, alokasi dana desa merupakan bagian dari dana

perimbangan yang diterima kabupaten/kota.


Menurut (Widjaya, 2001:43) Desa sebagai subsistem dari

sistem pemeritahan yaitu bahwa penyelenggaraan pemeritahan

desa atau marga merupakan subsistem dari sistem

penyelenggaraan pemerintahan nasional sehingga desa atau

marga memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus

kepentingan masyarakatnya.
Berdasarkan Permendagri Nomor 37 tahun 2007, Alokasi

Dana Desa berasal dari APBD kabupaten/kota yang bersumber dari

bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang

diterima oleh kabupaten/kota untuk desa paling sedikit 10%.


Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang tujuan

alokasi dana desa :


a. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan.
b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan

di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat.


c. Meningkatkan pembangunan dan infrastruktur perdesaan .
d. Meningkatkan pengalaman nilai-nilai keagamaan, sosial budaya

dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial.


e. Meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat.
f. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa dalam rangka

pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.


g. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong

masyarakat.
h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui

Badan Usaha Milik Desa (BUMdes).


13

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ADD adalah

sejumlah dana yang dialokasikan oleh pemerintah kabupaten/kota

untuk seluruh kegiatan pembangunan di desa yang diberikan

melalui dana perimbangan baik berupa DAK, DAU, maupun DBH.

Berdasarkan definisi konsep diatas yang dimaksud dengan

Efektivitas Pemanfaatan Alokasi Dana Desa dalam penelitian ini

adalah segala bentuk ukuran dalam pencapaian hasil kerja yang

dapat dimanfaatkan pada sesuatu yang berguna untuk

penyelenggaraan pemerintahan desa.


14

Tabel 1.3

Operasionalisasi Konsep Penelitian

Konsep Dimensi Indikator


1. Efektivitas Output, input, Ditentukan oleh jumlah
Pemanfaatan dan proses output, jika output dapat
Alokasi Dana Desa ditingkatkan tanpa
input, maka proses
dikatakan telah menjadi
lebih baik.

Tingkat Mengetahui sejauh


Keberhasilan mana tingkat
keberhasilan yang
dicapai dalam suatu
kegiatan.

Nilai Tolak ukur dari


seberapa manfaat yang
diperoleh hasil kegiatan
baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Kegunaan Hasil kegiatan dapat
dirasakan tingkat
keberhasilannya.
Partisipatif Masyarakat berperan
aktif mulai proses,
perencanaan,
pelaksanaan,
pengawasan, dan
pemeliharaan.
Transparan Seluruh kegiatan
dilaksanakan secara
transparan / terbuka
dan diketahui oleh
masyarakat luas.
Akuntabel Seluruh kegiatan dapat
dipertanggungjawabkan
secara administratif,
teknis dan hukum
Sumber : Berdasarkan Definisi Konsep