Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Sejak tahun 1970, bahkan sejak perekonomian diikuti oleh kenaikan harga minyak
dunia pada 1973, banyak pemerintah Eropa Barat tidak bisa menghalangi datangnya pekerja
asing kendati mereka memiliki hak untuk melakukannya. Arus perpindahan penduduk
melewati batas negara ini dipahami sebagai isu utama yang berdampingan sebagai dampak
dari fenomena integrasi dimensi perdagangan, makroekonomi, pertumbuhan, dan kesehatan
yang terjadi berdampingan karena proses globalisasi. Fenomena, penyebab, dan konsekuensi
perpindahan melewati batas negara tersebut saat ini tidak dikesampingkan dalam berbagai
studi akademis ilmu sosial terkait dengan ekonomi, ilmu politik, hubungan internasional dan
studi lain yang melibatkan serangkaian etika dan teori.
Terkait dengan apakah arus migrasi merupakan sebab proses globalisasi? Arus
migrasi pada era saat ini tidak lebih besar daripada arus migrasi di era-era sebelumnya.
Migrasi yang terjadi saat ini hanya sebesar 175 juta orang saja, artinya jumlah ini hanya
berkisar 3 persen dari total penduduk dunia (Bhagwati, 2004: 209). Bhagwati menyebutkan
banyak pengamat menilai arus migrasi saat ini lebih kecil disebabkan hambatan seperti
kontrol perbatasan yang ketat dan migrasi bukan hal yang cuma-cuma. Ahli sejarah banyak
yang setuju bahwa migrasi yang paling fenomenal hingga mencapai 10 persen jumlah
penduduk dunia terjadi di abad kesembilan belas. Perbedaan migrasi era lalu dengan saat ini
terletak pada perpindahan penduduk dari negara miskin ke negara kaya daripada perpindahan
penduduk dari Old World(Eropa) ke New World (Amerika Serikat), merujuk pada
perpindahan penduduk atau migrasi sebelum dan pasca Perang Dunia. Pernyataan Bhagwati
ini juga didukung oleh Martin Wolf, Jeffrey William, dan Timothy Hutton yang menyatakan
Empat puluh tahun sebelum PD I, migrasi meningkatkan daya kerja Dunia Baru (Amerika
Serikat) sebanyak 1/3 jumlah populasi dunia dan mengurangi daya kerja Eropa sebanyak 1/8,
merupakan gambaran yang tidak terlampaui oleh migrasi California dan Meksiko yang terjadi
empat puluh tahun yang lalu. Perpindahan atau migrasi saat ini diyakini merupakan suatu
hal yang membawa pertentangan dan menimbulkan anggapan bahwa mesti dikonfrontasi
(Bhagwati, 2004: 209).
Arus perpindahan manusia (migrasi) terjadi dalam banyak cara sehingga mengundang
diterapkannya suatu kebijakan sebagai respon terhadap fenomena tersebut. Bhagwati dalam
tulisannya berjudul International Flows of Humanity meyakini analisis arus perpindahan
tersebut dikelompokkan menjadi tiga tipe yang dapat membantu dalam mengenali problem
migrasi saat ini dan metode untuk mengatasinya antara lain:
(1) arus migrasi dari negara miskin ke negara kaya dengan perbedaan implikasinya
apabila arus tersebut berjalan sebaliknya.
(2) arus migrasi pekerja ahli dan pekerja non-ahli, pada awalnya dapat dianggap
menyebabkan problema brain-drain di negara yang ditinggalkan biasanya terjadi di negara
miskin dan berkembang atau opportunity bagi para migran sendiri.
(3) arus migrasi secara ilegal dan legal, dan yang mana dipicu kondisi dan situasi
misalnya akibat perselisihan dan tekanan migrasi yang bersifat karena dorongan (voluntary)
atau paksaan (involuntary) seperti arus pengungsi.
Persoalan yang muncul terletak pada asimetri kepentingan negara kurang maju
(miskin) dan negara maju terkait dengan migrasi. Misalnya, terkait dengan arus migrasi
tenaga ahli dan tenaga non-ahli: negara maju cenderung menginginkan imigran yang masuk
adalah tenaga-tenaga ahli yang kompeten dan sibuk untuk menerapkan berbagai kebijakan
yang mencegah tenaga non-ahli memasuki batas negara mereka. Sedangkan negara kurang
maju (negara asal miskin) memiliki kepentingan untuk membiarkan/ mengijinkan tenaga
kerja non-ahli keluar dari wilayahnya, dan menahan tenaga ahli untuk tetap tinggal di
negaranya. Fenomena perpindahan tenaga ahli ke negara maju inilah yang sering dirujuk
sebagai fenomena brain drain atau human capital flight.
Persoalan kedua terletak pada ketidakseimbangan kesempatan di negara kurang maju
(asal) dan negara maju (negara tujuan) dalam menyediakan hiburan, fasilitas-fasilitas yang
mendukung karir profesional tenaga ahli, pengalaman pekerjaan yang lebih baik, dan
pendidikan untuk anak-anak mereka. Akan lebih tidak masuk akal jika negara asal
menerapkan kebijakan untuk membatasi imigran menetap di negara tujuan. Oleh karena itu
terdapat beberapa kondisi yang ditawarkan oleh Bhagwati dalam melihat fenomena brain
drain ini dari dua dimensi, negara asal dan negara tujuan.
Tulisan ini bertujuan mendapatkan gambaran umum secara deskriptif tingkat migrasi
internasional menciptakan problem brain drain di negara asal beserta alternatif kebijakan
migrasi di beberapa negara di berbagai kawasan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. TEORI GLOBALISASI DALAM MIGRASI INTERNASIONAL


Menurut Bhagwati, proses migrasi internasional ini tidak terlepas dari fenomena
globalisasi yang membuat negara seakin terintegrasi. Prospek Globalisasi terhadap arus
migrasi secara global: Globalisasi menciptakan peluang adanya perdagangan dan interaksi
internasional menguat. Globalisasi mendorong kompetisi pasar dengan menciptakan dan
menarik perhatian tenaga-tenaga ahli dan profesional. Pemerintah melihat kualitas pekerja
yang demikian akan cenderung lebih mudah berasimilasi dengan lingkungan masyarakat
baru.
Hal ini meningkatkan permintaan yang sesuai dengan penawaran yang ada. Misalnya negara
yang kurang berkembang tidak mampu menyediakan imbalan ekonomi atau kondisi sosial
yang diperlukan oleh kelompok tenaga kerja ahli dan profesional. Akan tetapi, Eropa dan
Amerika serikat mampu memberikan kesempatan pendidikan anak-anak tenaga ahli dan
prospek karir yang tidak tersedia di negara asal mereka.

B. DEFINISI KONSEPTUAL MIGRASI


Migrasi didefinisikan sebagai suatu bentuk perpindahan seseorang atau kelompok
orang dari satu unit wilayah geografis menyebrangi perbatasan politik atau administrasi
dengan keinginan untuk tinggal dalam tempo waktu yang tidak terbatas atau untuk sementara
di suatu tempat yang bukan daerah asal.[1] Sedangkan migrasi tenaga kerja biasanya
didefinisakan sebagai perpindahan manusia yang melintasi perbatasan untuk tujuan
mendapatkan pekerjaan di negara asing (IOM, 2009).

C. MIGRASI INTERNASIONAL
Bhagwati menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena migrasi:
faktor pendorong dan penarik. Faktor pendorong ialah sejumlah faktor yang mempengaruhi
keputusan emigran untuk meninggalkan negara asal, sedangkan faktor penarik ialah sejumlah
faktor yang mempengaruhi arus masuk migrasi. Sejumlah faktor tersebut tidak hanya
beroperasi dalam ruang lingkup mekanisme pasar (penawaran dan permintaan) tetapi juga
konstruksi sosial yang mendorong brain drain.
Supply Factors: Peningkatan kualitas standar hidup, kemajuan pendidikan dan
kesempatan bagi anak-anak, serta ketertarikan adanya fasilitas profesional lebih baik terkait
dengan migran tenaga ahli adalah sejumlah dorongan ekonomi utama emigrasi. Variabel
tersebut menjelaskan dorongan emigrasi, perpindahan dari negara kurang maju ke negara
maju, perpindahan tersebut dapat juga terjadi antarnegara maju. Akan tetapi arus pengungsi
ke satu wilayah tidak menjelaskan adanya penyebab atau ketertarikan dorongan ekonomi di
atas.
Meningkatnya ketimpangan (inequality) antar negara yang dilihat sebagai insentif
yang menambah keinginan emigran untuk keluar dari negara asalnya. Tetapi, Bhagwati
menyebutkan bahwa seiring ketimpangan ini berkurang, turut menjelaskan (meskipun tidak
secara dramatis) menekan arus migrasi begitu pesat.
Salah satu faktor yang menekan arus migrasi saat ini ialah faktor finansial untuk
melakukan perjalanan, khususnya bagi negara kurang maju (miskin) yang kemudian
cenderung untuk menempuh jalur ilegal.
Migrasi biasanya dipicu oleh emigrasi sebelumnya yang membangun momentum
untuk tumbuh migrasi yang lebih besar. Ditambah lagi biaya migrasi menjadi semakin rendah
karena faktor kemudahan teknologi, travel, dana telekomunikasi yang mudah diakses.
Faktor Permintaan. Faktor permintaan emigrasi meningkat di negara-negara maju, dan akan
terus bertambah untuk dua alasan: demografi dan bertambahnya permintaan terhadap tenaga
kerja ahli yang terspesialisasi.Pertama, faktor yang membuat permintaan migrasi menguat
dikarenakan oleh kondisi demografi negara maju yang menunjukkan penurunan angka
kelahiran dan pertumbuhan penduduk yang rendah. Kedua, karena adanya permintaan
terhadap pekerja ahli di negara kaya. Proses perkembangan informasi dan teknologi yang
kompleks telah mendatangkan kebutuhan pasar untuk ahli komputer, programer, dan
lainnnya. Ketiga, meningkatnya rekrutmen tenaga kerja kontrak di berbagai pelayanan jasa
yang ditampung oleh pihak-pihak asing seperti perusahaan asing yang memiliki cabang di
luar negeri (Bhagwati, 2004: 212). Ketiga, meningkatnya tren outsourcing, perekrutan tenaga
kerja kontraktual di suatu perusahaan.
D. FENOMENA BRAIN DRAIN DI NEGARA BERKEMBANG.
Brain Drain adalah keadaan di suatu negara yang mengalami migrasi kaum intelektual.
ke luar negeri. Fenomena Brain Drain pertama kali diperkenalkan oleh Royal Society untuk
menggambarkan fenomena migrasi kaum teknokrat Inggris ke Amerika Utara pada era tahun
1950an. Saat ini, China, India, Pakistan, dan Iran terkenal sebagai negara pengekspor kaum
intelektual ke negara negara maju di AS maupun Eropa Barat. Tulisan ini akan mengulas
lebih lanjut dampak dari Brain Drain dan cara penanggulangnya. Umumnya, brain drain
memberikan tiga bentuk kerugian bagi negara pengekspor (negara asal). Pertama, brain drain
menyebabkan kelangkaan SDM ahli. Hijrahnya kaum intelektual ke luar negeri menyebabkan
kurangnya tenaga ahli di dalam negeri. Untuk mengatasi jurang antara kebutuhan industri dan
kelangkaan SDM ahli, negara yang terkena brain drain harus merogoh kocek sangat dalam
untuk membayar ekspatriat. Tentu saja, membayar para ekspatriat juga akan berimbas pada
lemahnya produk domestik bruto negara. Negara negara Afrika mengalami kerugian hingga
sekitar 38 trilyun rupiah setiap tahun akibat brain drain. Negara jazirah Arab harus merogoh
kocek hingga 200 milyar dolar juga akibat brain drain.
Yuan (1992) menyatakan ada 5 faktor utama penyebab dari brain drain, yakni:
keunggulan fasilitas belajar dan riset di luar negeri, prospek karir yang lebih cerah di luar
negeri, tingkat pendapatan dan penghargaan yang lebih tinggi, kepuasaan dalam pekerjaan,
dan desakan dari keluarga inti. Lebih lanjut lagi, Yuan (1992) memberikan 5 faktor utama
yang memotivasi intelektual untuk pulang ke negara asal, yakni: patriotisme, perasaan
bersalah, rindu terhadap keluarga, tersedianya pekerjaan yang sesuai, dan rasa nasionalisme.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi dapat dilihat melalui kerangka teoritis oleh Bhagwati
(2006). Dampak lebih jauh brain drain ialah kondisi dimana berkurangnya tenaga ahli dan
terdidik suatu negara. Kedua,rendahnya kesejahteraan terhadap lingkungan di negara asal.
Ketiga,pengembangan sumber daya manusia negara asal yang semakin tertinggal. Dampak
ketiga ini dialami oleh negara Indonesia. berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP
(United Nations Development Program) pada 2005, menyebutkan Indonesia menduduki
peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Pada tahun sebelumnya, yakni 1997 peringkat
Indonesia naik dari 99, ke 102 pada 2002 dan merosot pada peringkat 111 pada tahun 2004.
[2]
E. Dilema Brain Drain Indonesia.
Dilema brain drain di Indonesia berasal dari tiga hal utama. Pertama, tingkat angkatan
kerja Indonesia yang masih sangat rendah. Pada tahun 2005, dari 107 juta angkatan kerja
Indonesia, persentase lulusan S1, D3, dan D1 secara berturut-turut hanya sebesar 3,13%,
1,26%, dan 1,03%. Untuk lulusan SMP dan SMA masing-masing sebesar 19,55% dan 18,8%.
Sedangkan untuk mereka yang tamat maupun tidak tamat Sekolah Dasar (SD) masing-masing
sebesar 37,3%. Hal ini diperparah oleh jumlah angka putus sekolah yang demikian besarnya,
yaitu mencapai 334.000 siswa setiap tahunnya. Ini belum termasuk sekitar 14,6 juta
penduduk Indonesia yang masih buta aksara untuk golongan umur 15 tahun ke atas.[3]
Meskipun belum terdapat terdapat data empiris, diperkirakan telah mencapai angka 5%.
Jumlah ini dapat kita katakan cukup signifikan di tengah terpuruknya SDM Indonesia yang
disertai dengan kecilnya alokasi anggaran pendidikan yang hanya menyisihkan sebesar 11,8
persen dari APBN.
Kedua, penyebab brain drain dari dimensi struktural seperti beberapa kondisi riil di
dalam negeri menjadi pertimbangan penting bagi mereka untuk tetap menetap di luar negeri.
Misalnya, ketiadaan fasilitas dan dana untuk melakukan riset; kurangnya jaminan sosial dan
kenyamanan hidup, baik bagi sang tenaga ahli maupun keluarganya; kurangnya prospek dan
kesempatan berkarir; masih terjadinya konsep senioritas yang kaku, lemahnya institusi,
panjangnya birokrasi; hingga terjadinya pendeskriditan pendapatan dan fasilitas antara tenaga
ahli asing dengan Indonesia walaupun berkualifikasi keahlian yang sama.
Ketiga, problem brain drain berasal dari rendahnya kompetisi. Di sisi lain, universitas
unggulan di dalam negeri sebagai produsen utama tenaga ahli juga masih sangat minim,
sehingga menyebabkan terjadinya kekeringan dalam rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi
di tanah air. Padahal berdasarkan UNESCO Science Report 2005, pengembangan perguruan
tinggi di negeri asal menjadi magnet yang paling efektif untuk menarik para peneliti kembali
ke negara tempat kelahirannya. Secara kasat mata, salah satunya dapat kita nilai dari tidak
masuknya universitas-universitas terbaik di Indonesia untuk 100 besar Asia Pasifik atau
hanya menempatkan tiga universitas di urutan akhir dari 500 universitas di dunia.[4].
F. Dilema Brain Drain di Malaysia.
Telah terjadi fenomena brain drain yang serius di Malaysia. Faktor-faktor yang
mendukung diantaranya adalah kesempatan karir yang lebih baik diluar negeri, adanya
ketidakpuasan di negara sendiri seperti korupsi, ketidaksetaraan sosial, sedikitnya
kemerdekaan beragama, kesempatan pendidikan yang lebih luas dan ketidakpuasan terhadap
kebijakan Bumiputera. Pada tahun 2011, Bernama telah melaporkan ada lebih dari 1 juta
warga Malaysia yang bekerja diluar negeri. Akhir-akhir ini fenomena brain drain telah
meningkat: sebanyak 305.000 warga Malaysia bermigrasi ke luar negeri antara Maret 2008
dan Agustus 2009 dibandingkan dengan hanya 140.000 warga Malaysia bermigrasi pada
2007. Destinasi yang popular antara lain Singapura, Australia, Amerika Serikat dan Inggris.
Fenomena ini telah menyebabkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Malaysia jatuh ke 4,6
persen per annum pada tahun 2000an dibandingkan pada tahun 1990an yakni mencapai 7,2
persen.
Brain drain atau perpindahan tenaga ahli adalah sebuah kemestian sekaligus
merupakan fenomena global. Sebuah negara tidak mungkin melakukan pelarangan atas
terjadinya fenomena brain drain karena brain drain merupakan dampak langsung dari
globaisasi. Hal yang harus dilakukan adalah penyikapan, bukan pelarangan. Brain drain akan
bernilai positif jika kita cerdas menyikapi. Namun hal yang perlu dipahami adalah
keuntungan atas penyikapan fenomena brain drain bukan merupakan sesuatu yang instan.
Jadi, penyikapan atas fenomena brain drain membutuhkan kematangan, gradualitas, dan
ketepatan perencanaan.
Beberapa hal yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia dalam rangka meraih sisi
positif dari fenomena brain drain adalah dengan cara mengimplentasikan desain sistem
pendidikan yang efektif dan measurable, membangun kepemimpinan nasional yang
tercerahkan, menciptakan pola transfer ilmu para pelaku brain drain. Untuk tahapan jangka
panjang, pemerintah perlu segera membentuk suatu program atau badan khusus untuk
mengantisipasi negative snowball effect dari brain drain.

G. Dilema Brain Drain di Taiwan.


Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami brain drain,
sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para brain drainernya untuk kembali atau
berkontribusi positif terhadap negaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya
Indonesia saat ini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa
menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan negara-negara
maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia sekarang. Bukan berdiri sama
tinggi ataupun duduk sama rendah. Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau
intelektual Taiwan bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.
Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat iklim ekonomi
dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah Pemerintah Taiwan mendekati
para brain drainer yang berdiam di LN dan sudah banyak mempunyai modal. Mereka di
harapkan dapat berkontribusi modal untuk pembangunan negaranya. Pendekatan simpatik
dari pemerintah bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong
berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul ini, tidak hanya
menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanya pada negaranya.
Contohnya, Miin Wu, braindrainer yang lulus PhD dari Stanford tahun 1976. Lalu dia
bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali
ke Taiwan, Wu mendirikan perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satu
perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300 juta/tahun dan menyerap 2
800 tenaga kerja.
Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah menjadi negara yang
takut kehilangan orang-orang pintarnya. Sebagaimana dilaporkan dalam Financial
Development tahun 1999, hanya kurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di
tahun 1990 yang tetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besar mereka
kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakui sebagai negara yang leading
dalam bidang ekonomi dan teknologi informasinya. Semua berkat reversed brain drain.
Langkah Taiwan, nampaknya sedang diikuti oleh India saat ini. India juga merupakan
negara yang sangat menderita karena brain drain. Menurut data, di tahun 1996 kurang dari 25
% warga negara India yang kembali ke negaranya setelah selesai PhD di Amerika tahun
1990-1991. Berarti pada tahun tersebut, sebagian besar orang-orang terpilih ini memilih tetap
tinggal di AS. Prestasi penduduk Amerika asal India di dream land tersebut memang tidak
main-main. Tahun 1970-1990-an SDM India dengan kualitas tinggi brain drain ke USA. Di
tahun 1998 profesional asal India menguasai 775 perusahaan teknologi di Silicon Valley
dengan omset $3.6 milyar dan penyediaan 16 600 lapangan kerja.
Akan tetapi, ternyata trend brain drain ini mulai berubah sejak akhir tahun 1999. Sejak awal
tahun 2000 sampai kini diperkirakan, terjadi reversed brain drain besar-besaran ke India.
Sekitar 35 000 warga negara India kembali ke negaranya, baik untuk tinggal permanent
ataupun sementara.
Kembalinya WN India ke negaranya, sebenarnya tak lepas dari kondisi perekonomian di
US sendiri, yang sejak tahun 1999 tidak sekondusif sebelumnya. Kondisi resesi di US,
menyebabkan banyak perusahaan yang menutup perusahaanya dan mem-PHK para tenaga
ahlinya. Kesempatan bekerja dan iming-iming insentif bagi para orang cerdas ini tidaklah
segemerlap sebelumnya. Amerikapun mulai menerapkan kebijakan outsourcing, khususnya
dalam bidang teknologi informasi seperti penyediaan software. Mereka memesan ke negara-
negara seperti Taiwan dan India yang dipandang punya kemampuan karena lebih murah
secara biaya. Para WN India yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman berprofesi
dan berbisnis menangkap peluang ini. Maka, mereka berlomba pulang ke negaranya, dan
menjadi jembatan penghubung antara para tenaga trampil yang menetap di India dan jaringan
pasar di LN dengan menjadi pengusaha ataupun konsultan di negaranya.
Misalnya kisah Nagarajan, seorang braindrainer alumni Silicon Valley yang kembali ke
India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi informasi dengan cuma 20 pekerja.
Pada tahun 2004 perusahaannya mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak
heran, jika pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran industri
teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan mendapat laba $ 87 milyar dengan
omset pasar $ 225 milyar dan akan mampu menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di
tahun 2008. Beberapa intelektual India dengan bangganya menunjukkan beberapa WN
Inggris yang saat ini brain drain ke perusahaan India, karena perusahaan tersebut mampu
membayar ahli dari Inggris tersebut lebih daripada Inggris sendiri.

H. TAWARAN KEBIJAKAN.
Kebijakan migrasi membentuk pola-pola migrasi, dimana sebagai akibatnya berdampak
pada demografi, budaya, ekonomi dan politik suatu negara. Migrasi juga memiliki andil
terhadap stabilitas populasi atau pertumbuhan masyarakat di suatu wilayah. Kebijakan
pengendalian migrasi merupakan suatu elemen yang krusial dalam menentukan pola-pola
migrasi: dengan melihat besarnya jumlah orang yang ingin beremigrasi ke negara-negara
industri untuk alasan-alasan ekonomi maupun politik, dan terbatasnya kesempatan untuk
melakukannya, maka kebijakan migrasilah yang utama menentukan ruang lingkup migrasi
global (termasuk migrasi ilegal).
Berdasarkan penelitian ini, penulis mengajukan 5 langkah penanggulangan brain drain
yakni: penempatan kerja, asistensi kewirausahaan, program visiting professor, asistensi
rekrutmen, dan penumbuhan rasa nasionalisme.
BAB III
KESIMPULAN
Migrasi internasional yang terjadi saat ini tidak semata-mata akibat globalisasi.
penjelasan berikut membantah teori globalisasi, dan sebagian besar merupakan pemikiran
dari antiglobalis. Globalisasi tidak bisa dikatakan sebagai sebab utuh migrasi atau arus
perpindahan penduduk lintas batas negara. Pada kenyataannya orang-orang telah hidup
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sejak berabad-abad lalu karena alasan yang
makin beragam, bahkan sebelum fenomena globalisasi diwacanakan. Misalnya perpindahan
pengungsi dari satu tempat ke tempat yang lebih kondusif tidak memiliki keterkaitan dengan
adanya globalisasi. Pengungsi berpindah begitu saja tanpa menggunakan transportasi yang
accessible, informasi internet, atau kesempatan kerja yang lebih baik. Aspek penting yang
dilihat dalam perpindahan pengungsi ialah persoalan keamanan untuk lepas dari represi,
opresi, penyiksaan dan lainnya. Contoh kedua ialah, orang berpindah karena ingin menikmati
pemandangan alam. Proses globalisasi tidak mengakibatkan, secara langsung, alam tumbuh
indah, maksudnya keindahan pegunungan Alpen, padang rumput Mediterania, Danau Toba
bahkan ada bahkan sebelum globalisasi muncul. Barangkali penting untuk tidak
mengeneralisasi bahwa proses globalisasi menginisiasi perpindahan penduduk. Sekiranya
penting untuk melihat tipe-tipe migrasi kemudian mengkaitkannya satu persatu dengan proses
globalisasi, sehingga dapat menjawab apakah globalisasi benar-benar sebagai katalisator arus
migrasi.
Kedua, globalisasi meningkatkan arus migrasi lintas batas negara? pernyataan ini patut
mendapat sanggahan, seperti yang diungkapkan oleh Bhagwati (2004) bahwa arus migrasi
malahan berkurang seketika globalisasi makin intensif. Hal ini terjadi karena makin banyak
dikeluarkannya regulasi sebagai counterpart diaspora akibat proses globalisasi.
Terkait dengan globalisasi dan arus migrasi terdapat dua pandangan utama: (1) pendukung
globalisasi memegang proposisi bahwa terdapat bentuk baru globalisasi akibat integrasi
global yang memungkinkan terciptanya beragam keuntungan dan kesempatan ekonomi bagi
orang-orang untuk kemudian berpindah ke satu tempat (Sanchez, 1999), salah satu
pendukung globalis yang memberikan penjelasan bagaimana hal tersebut mungkin terjadi
ialah Bhagwati (2004) sedangkan pemikir anti-globalis.[7]
Tawaran kebijakan yang mungkin ialah perbaikan struktural yang menjamin keahlian
para tenaga ahli yang bekerja di host country terfasilitasi. Secara khusus kebijakan ini disebut
reversed brain drain yang telah diimplementasikan oleh India dalam sektor IT (Information
Technology) yang memicu India sebagai leading sector dalam IT.
SUMBER BACAAN :

Sydney, Australia, 9 September 2007. Pan Mohamad Faiz, alumni Delhi Vishwavidyalaya
(University of Delhi) yang berprofesi sebagai peneliti konstitusional di Mahkamah Konstitusi
Indonesia menyampaikan makalahnya berjudul Brain Drain dan Sumber Daya Manusia
Indonesia: Studi Analisa terhadap Reversed Brain Drain di India yang disampaikan pada
Konferensi International Pelajar Indonesia (KIPI).
Pada makalah tersebut, Faiz mengidentifikasi fenomena brain drain yang umumnya
terjadi di negara-negara berkembang. Faiz menguraikan problematika dan tantangan
Indonesia dalam pengembangan SDM terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
disebabkan oleh brain drain. Dan, pada akhir makalahnya, penulis menyuguhkan pola
pengembangan SDM guna mencegah dan mengatasi efek negatif dari brain drain dengan
melakukan studi analisa terhadap keberhasilan India dalam mewujudkan reversed brain drain
khususnya di sektor TI.