Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH PAJAK INTERNASIONAL

Pengertian Pajak Berganda Baik Pada Aspek Nasional dan


Internasional Berikut Penerapan Pada UU PPh

TUGAS KELOMPOK 5

M. Guntur Khadafi 43215120171

Septhiardi 43215120316

Program Studi Akuntansi

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas Rahmat dan
Hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang
berjudul Pengertian Pajak Berganda Baik Pada Aspek Nasional dan
Internasional Berikut Penerapan Pada UU PPh. Tidak lupa Shalawat dan
salam juga kami haturkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW, yang
telah membawa umat manusia dari masa Jahilyah yang penuh dengan
kebodohan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Serta para sahabat yang
selalu mendukung perjuangan beliau. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas
dari dukungan, bantuan, masukan serta doa dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Drs. Sugianto, MM selaku Dosen Perpajakan Internasional.
2. Keluarga kami yang selalu memberikan motivasi dan dukungan baik
secara moril maupun spiritual.
3. Teman-teman sekelas terutama team UMB angkatan 2016 yang telah
mendukung hingga terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.Semoga semua
hal yang penulis tuangkan dalam makalah ini, tetap bisa bermanfaat bagi
semua.Aamiin.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, Desember 2016

Penulis
A. Pengertian Pajak Berganda Internasional

Menurut Suandi (2008:255) menyatakan bahwa pajak berganda internasional


merupakan masalah pokok dalam hukum pajak internasional atau pajak yang
dikenakan lebih dari satu kali terhadap objek yang sama oleh lebih dari satu
negara, pajak berganda dapat terjadi karena ada lebih dari satu negara yang
memungut pajak dan dikenakan pada objek pajak yang sama. Persetujuan
penghindaran pajak berganda termasuk salah satu sumber hukum utama
perpajakan internasional selain undang-undang perpajakan nasional karena
persetujuan ini pada hakikatnya merupakan rekonsiliasi dari dua hukum pajak
yang berbeda.

Ehrenzweigh dan Koch

Kedua sarjana tersebut memberikan definisi sebagai berikut: Pajak ganda


terjadi apabila suatu sistem hukum atau beberapa juridiksi hukum mengenakan
pada satu objek pajak dengan dua pajak sekaligus atau lebih yang pada
pokoknya mempunyai sifat dan dampak yang sama. Disini pajak ganda dapat
dibedakan antara:

1. Pajak berganda nasional (national double taxation) adalah pajak yang


dikenakan lebih dari satu kali terhadap objek yang sama oleh suatu
negara.
2. Pajak berganda internasional (international double taxation) adalah
pajak yang dikenakan lebih dari satu kali terhadap objek yang sama oleh
lebih dari satu negara, dengan kata lain pajak berganda internasional
timbul karena :
- Ada lebih dari satu negara yang memungut pajak
- Dikenakan terhadap objek yang sama

Untuk menghindari adanya pajak berganda internasional maka diadakan


perjanjian penghindaran pajak berganda (agreement for the avoidance of
double taxation and the prevention of tax evasion) atau dikenal dengan
istilah tax treaty

Menurut Surahmat (2000:21), terdapat tiga penyebab terjadinya pajak berganda


internasional:

- Konflik antara Azas Domisili dengan Azas Sumber


Yang biasanya menjadi penyebab terjadinya pengenaan pajak berganda
adalah bertemunya azas domisili dengan azas sumber. Negara domisili
mengenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperoleh
penduduknya, sedangkan negara sumber mengenakan pajak atas
penghasilan yang berasal dari negara tersebut. Dalam hal ini terjadi
konflik antara world-wide income principle dan konsep kewenangan
atas wilayah.
- Konflik karena Perbedaan Definisi Penduduk
Seorang pribadi atau badan pada saat yang bersamaan dapat dianggap
sebagai penduduk dari dua negara. Hal ini dapat terjadi karena definisi
penduduk kedua negara tersebut berbeda sehingga pajak yang dikenakan
akan menjadi dua kali. Konflik ini akan tampak lebih nyata bila salah
satu negara menganut azas kewarga-negaraan sebagai kriteria kedua
dalam menentukan apakah seseorang merupakan penduduk negara
tersebut. Konflik atas penduduk ganda (dual residence) biasanya terjadi
atas orang pribadi, tidak halnya dengan badan hukum, karena biasanya
pe-ngurus suatu badan hukum berada di negara dimana badan tersebut
didirikan.
- Perbedaan Definisi tentang Sumber Penghasilan
Sebab ini terjadi bila dua negara atau lebih memperlakukan satu jenis
penghasilan sebagai penghasilan yang bersumber dari wilayahnya. Hal
tersebut menyebabkan penghasilan yang sama dikenai pajak di dua
negara.

Beberapa Bentuk Penerapan Pajak Berganda Internasional

a. Pajak Penjualan
Walaupun hanya ditujukan terhadap peredaran dan konsumsi domestic,
terdapat kemungkinan bahwa pajak penjualan (peredaran dan
pertambahan nilai) dapat menimbulkan PBI. Hal itu dapat terjadi
apabila dalam prinsip pemajakan Negara pengekspor menganut prinsip
Negara asal (origin principle, pemajakan oleh Negara asal barang dan
jasa ), sedangkan negara pengimpor menganut prinsip negara tujuan
(destination principle, pemajakan oleh negara tujuan sebagai pemanfaat
barang dan jasa). Namun, karena pemajakan atas transfer barang dan
jasa, hampir semua Negara pemungut pajak penjualan menganut prinsip
negara tujuan, maka tidak akan terjadi PBI dalam pajak tidak langsung.
b. Pajak Penghasilan
Dalam pemajakan ini, kita mengenal dua pendekatan kewajiban pajak,
antara lain :
1. Kewajiban pajak tidak terbatas, merupakan resultat dari
pemajakan berdasarkan pertalian subjektif yang dapat berupa
nasionalitas atau tempat pendirian atau tempat kedudukan.
2. Kewajiban pajak terbatas, merupakan resultat dari pemajakan
berdasarkan pertalian objektif yang dapat berupa lokasi aktivitas
ekonomi dan sumber penghasilan.

Dampak Pajak Berganda

Secara ekonomis pajak merupakan pengorbanan sumberdaya (kemampuan


ekonomis) yang harus ditanggung oleh pengusaha (dan masyarakat). Pajak
berganda sebagai akibat dari pemajakan oleh dua ketentuan pemajakan (dari
dua Negara) memberikan tambahan beban ekonomi terhadap pengusaha. Oleh
karena itu tampak bahwa sudah merupakan kebutuhan internasional antanegara
untuk mengupayakan agar kebijakan perpajakannya bersifat netral terhadap
kompetisi internasional. Netralitas tersebut dicapai dengan penyediaan
keringanan atau eliminasi atas PBI.