Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PRAKTIKUM ORAL MEDICINE

LAPORAN KASUS

RECURRENT APTHOUS STOMATITIS DAN ORAL


CANDIDIASIS PADA PENDERITA STRESS DAN KELELAHAN

OLEH :
Lita Damafitra
111611101054

PEMBIMBING
Drg. Leni R Dewi, Sp.PM

Praktikum Putaran 2 (Tanggal 24 April s/d 27 Mei 2015)


Semester Genap Tahun Ajaran 2014/2015

BAGIAN ILMU PENYAKIT MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
Pendahuluan

Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) adalah penyakit mukosa rongga mulut yang
paling sering dijumpai pada manusia atau biasa yang disebut sariawan. Recurrent Aphthous
Stomatitis (RAS) merupakan ulser suatu kelainan yang ditandai dengan berulangnya ulser.
Frekuensi RAS terjadi hingga 25% pada populasi umum dan 50 % berulang dalam 3 bulan.
Sampai saat ini, etiologi yang pasti dari RAS belum diketahui dengan pasti. Tetapi,
terdapat beberapa faktor yang turut berperan dalam timbulnya lesi yaitu herediter, infeksi
bakteri dan virus, psikologi atau emosi, gangguan hipersensitif atau alergi, hormonal.
Stress dan kelelahan sangat berpengaruh pada sejumlah perubahan hidup yang terjadi
termasuk kemampuan dalam menimbulkan suatu penyakit. Stress dapat disertai rasa cemas
dan kadang terlihat adanya depresi. Kejadian stress dapat memberikan respon terhadap tubuh
baik itu respon fisiologis, respon psikologis, respon hormonal, maupun respon hemostatik.
Aktifnya hormon glukokortikoid pada orang yang mengalami stress menyebabkan
meningkatnya katabolisme protein sehingga sintesis protein menurun. Akibatnya
metabolisme sel terganggu sehingga rentan terhadap rangsangan (mudah terjadi ulcer).
RAS dapat terjadi pada semua kelompok umur tetapi lebih sering ditemukan pada
masa dewasa muda. RAS paling sering dimulai selama dekade kedua dari kehidupan
seseorang. Pada sebagian besar keadaan, ulser akan makin jarang terjadi pada pasien yang
memasuki dekade keempat dan tidak pernah terjadi pada pasien yang memasuki dekade
kelima dan keenam.
Selain itu, penyakit mulut lain yang disebabkan infeksi bakteri yaitu Oral
Candidiasis. Oral Candidiasis adalah infeksi oportunistik umum pada rongga mulut yang
disebabkan oleh pertumbuhan yang berlebihan dari spesies Candida. Kira-kira 40% dari
populasi mempunyai spesies Candida di dalam mulut dalam jumlah kecil sebagai bagian yang
normal dari mikroflora oral, dengan berbagai hal mikroflora oral normal ini bisa menjadi
pathogen pada keadaan: imunokompromise, obat-obatan (antibiotik, kortikosteroid),
chemotherapy, diabetes mellitus, produksi saliva yang menurun, dan protese. Pada sebagian
besar kasus, lesi tersebut disebabkan oleh jamur Candida albicans.
Faktor predisposisi terjadinya kandidiasis oral terdiri atas faktor lokal dan sistemik.
beberapa faktor lokal tersebut seperti penggunaan gigi tiruan, xerostomia, dan kebiasaan
merokok. Selain faktor lokal, beberapa faktor sistemik seperti penyakit defisiensi imun ,
kemoterapi, radioterapi, dan penggunaan obat antibiotik dan steroid juga dapat menyebabkan
timbulnya kandidiasis oral.
Laporan Kasus
Seorang perempuan berusia 22 tahun datang ke RSGM Universitas Jember dengan
keluhan sariawan pada bibir bawah bagian dalam. Berdasarkan anamnesa yang telah
dilakukan, sariawan pada bibir bawah bagian dalam muncul secara tiba-tiba sejak kurang
lebih 3 hari yang lalu. Keadaan sekarang sakit dan sudah diobati dengan Abothyl.
Sebelumnya pasien sering mengalami sariawan dengan sebab yang sama atau secara tiba-tiba
dengan tempat yang berpindah pindah. Pasien mengaku dalam seminggu terakhir ini
mengalami stress dan kelelahan akibat tugas yang menumpuk di kampusnya.
Dari hasil dari perhitungan Body Mass Index (BMI) menunjukkan bahwa pasien
normal, keadaan sosial pasien dalam kategori baik, dan pasien juga tidak mempunyai
kebiasaan buruk.
Pada pemeriksaan intra oral menunjukkan bahwa terdapat ulser single pada mukosa
labial bawah dengan ukuran 8 mm, bentuk oval, beraturan, tengah putih, tepi kemerahan, dan
sakit (Gambar 1) . Pada lidah juga terdapat plak putih, dapat dikerok, dan tidak sakit (Gambar
2).

Gambar 1. Ulser single, uk.5 mm, tengah putih, tepi kemerahan, sakit

Gambar 2. Plak putih, dapat dikerok, tidak sakit


Penatalaksanaan stomatitis diawali dengan mengeringkan lesi menggunakan tampon
atau cotton roll, kemudian diolesi menggunakan BBG. Sedangkan untuk suspect oral
candidiasis, lidah dibersihkan dengan tampon atau cotton roll steril lalu ditetesi dengan anti
jamur Nistatin (Nymiko). Pasien diberi resep BBG untuk dioleskan pada lesi 3 kali sehari, dan
Nymico untuk dioleskan pada bibir 4 kali sehari dan Becomzet multivitamin untuk diminum 1
kali sehari. Pasien diinstruksikan untuk menggunakan obat sesuai anjuran, istirahat yang
cukup, makan-makanan yang bergizi, menjaga kebersihan mulut, serta datang kembali untuk
kontrol 1 minggu kemudian.
Pasien datang kembali untuk kontrol setelah 7 hari. Dari anamnesa diketahui bahwa
sariawan pada bibir bawah bagian dalam sudah tidak terasa sakit lagi. Pada pemeriksaan intra
oral menunjukkan bahwa terdapat cicatrix dengan warna sekit kemerahan pada mukosa labial
bawah, berbatas tidak jelas dan tidak sakit (Gambar 3). Sedangkan pada lidah Sedikit plak
putih, tidak dapat dikerok, tidak sakit

Gambar 3. Cicatrix warna sekitar kemerahan, batas tidak jelas, tidak sakit

Gambar 4. Sedikit plak putih, tidak dapat dikerok, tidak sakit


Pasien diinstruksikan untuk tetap menjaga kebersihan mulut, makan bergizi dan
istirahat teratur. Perawatan dinyatakan selesai.
Pembahasan
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) merupakan suatu ulser yang terjadi berulang
dan terbatas pada mukosa rongga mulut pasien tanpa adanya tanda dari penyakit lain. RAS
biasanya ditandai dengan ulser bulat atau oval , sakit, dikelilingi oleh pinggiran yang
eritematus dengan dasar kuning keabu-abuan, tunggal maupun lebih dari satu. RAS dapat
menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, serta palatum dalam
rongga mulut. Meskipun tidak tergolong berbahaya, namun sariawan sangat mengganggu.
Secara klinis RAS dibagi menjadi tiga tipe yaitu ulser minor, ulser mayor dan herpetik
form. Ulser minor memiliki diameter kurang dari1cm, jarang disertai sakit pada kelenjar atau
gejala prodormal dan biasanya tunggal. Ulser mayor memiliki diameter lebih dari 1cm, dapat
disertai sakit pada kelenjar limfe regional, pada beberapa pasien disertai gejala prodormal
seperti rasa terbakar 2-28 jam sebelum lesi muncul. Sedangkan tipe herpetik form merupakan
ulser yang kecil-kecil dan berkelompok dan berjumlah 20-100 dengan ukuran rata-rata 1-
2mm.
Stanley telah membagi karakter klinis dari SAR kepada 4 tahap yaitu premonitori,
pre-ulseratif, ulseratif dan penyembuhan. Tahap premonitori terjadi pada pada 24 jam
pertama perkembangan lesi SAR. Pada waktu prodromal, pasien akan merasakan sensasi
mulut terbakar pada tempat dimana lesi akan muncul. Secara mikroskopis sel sel
mononuklear akan menginfeksi epitelium, dan oedema akan mulai berkembang. Tahap pre-
ulserasi terjadi pada 18 72 jam pertama perkembangan lesi SAR. Pada tahap ini, makula
dan papula akan berkembang dengan tepi eritematous. Intensitas rasa nyeri akan meningkat
sewaktu tahap preulserasi ini. Tahap ulseratif akan berlanjut selama beberapa hari hingga 2
minggu. Pada tahap ini papula papula akan berulserasi dan ulser itu akan diselaputi oleh
lapisan fibro membranous yang akan diikut i oleh intensitas nyeri yang berkurang. Tahap
penyembuhan terjadi pada hari ke 4 hingga 35. Ulser tersebut akan ditutupi oleh epitelium.
Penyembuhan luka terjadi dan selalu tidak meninggalkan jaringan parut dimana lesi SAR
pernah muncul. Oleh karena itu, semua lesi SAR menyembuh dan lesi baru berkembang.
Dari anamnesa diketahui pasien mengeluhkan keadaan tersebut terjadi ketika pasien
mengalami kelelahan dan stress akibat tugas yang menumpuk selama satu minggu terakhir,
mengingat pasien merupakan mahasiswa Faperta yang sedang menjalankan beban kuliah
dengan jadwal yang padat dan tugas-tugas yang mengharuskan pasien menulis dan bekerja
terus-menerus. Pengaruh adanya stress dan kelelahan akan merangsang hipofisis yang dapat
meningkatkan produksi ACTH, peningkatan produksi ACTH akan mempengaruhi korteks
adrenal yang dapat meningkatkan glukokortikoid (mengakibatkan sistem imun turun). Sistem
imun yang mengalami penurunan ini juga dapat mempengaruhi penurunan kolagen, sehingga
mukosa menjadi tipis dan rentan.
Teori yang mendukung bahwa RAS dapat terjadi karena stress dan kelelahan adalah
teori Sindrome Adaptasi Umum (GAS). Teori ini menyebutka bahwa ketika tubuh bertemu
stressor maka mekanisme penyesuaian akan terjadi, hal ini adalah usaha yang dilakukan
tubuh untuk mencapai atau tetap dalam keseimbangan (haemostatik). Tahap pertama dari
GAS adalah reaksi alarm, yaitu segala bentuk fisik atau mentalakan memicu beberapa reaksi
diri yang akan melawan stress. Karena sistem imun pada tahap awal sudah tertekan, maka
pertahanan tubuh akan menurun, hal ini menyebabkan tubuh lebih mudah terserang infeksi
dan penyakit. Jika stress yang terjadi tidak menetap atau menahun maka tubuh akan mampu
mentoleransi dan kembali ke keadaan normal. Tetapi jika stress tersebut tetap ada maka GAS
akan berlanjut ke tahap kedua yang disebut adaptasi dari pertahanan tubuh. Pada tahap ini
tubuh melakukan adaptasi terhadap stress, jika tubuh mampu beradaptasi maka tubuh akan
lebih tahan terhadap infeksi dan penyakit, tetapi jika tidak maka sistem pertahanan tubuh
akan bekerja lebih keras lagi. Tahap ketiga dari GAS tersebut adalah kelelahan, pada tahap ini
tubuh akan kehilangan cadangan energi dan imunitas, tubuh akan kehabisan adrenalin.
Kandungan gula dalam darah menurun seiring dengan habisnya adrenalin yang memiliki sifat
imunosupresive dan mengakibatkan aktifitas sel menurun. Oleh karena itu diperlukan
instruksi yang adekuat terhadap pasien untuk istirahat yang cukup. Informasi mengenai
pentingny amengonsumsi makanan bergizi diberikan sebagai dukungan untuk perbaikan sel
dan mukosa.
Terapi yang diberikan adalah Benzokain Boraks Gliserin (BBG) yang merupakan
jenis anastesi topical yang mempunyai peran menurunkan permeabilitas membrane sel
terhadap ion Na+ (berperan dalam potensial aksi saraf) yang selanjutnya akan terjadi
penurunan aksi saraf dan secara bersamaan meningkatkan ambang rasangsang sehingga dapat
meurunkan ambang rasa sakit. Boraks merupakan antimikroba yang mempunyai kelebihan
yaitu dapat menghambat metabolisme kerja sel, menghambat sintesis dinding mikroba sel,
mengganggu keutuhan membrane sel, menghambat sintesis protein sel mikroba, dan
menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Gliserin berfungsi sebagai pelarut.
Kandidiasis adalah suatu penyakit infeksi pada kulit dan mukosa yang disebabkan
oleh jamur candida albicans. Candida Albicans adalah jenis fungi yang seperti ragi, umumnya
ditemukan di dalam mulut, kerongkongan, usus, dan saluran genital. Normalnya, bakteri baik
dalam usus akan berkompetisi dengan candida dan menjaganya agar tetap terkendali tanpa
menyebabkan masalah kesehatan apapun. Namun ketika keseimbangan antara bakteri baik
dan candida terganggu, maka infeksi/candidiasis (Penyebaran candida ke seluruh bagian
tubuh) tidak dapat dihindari lagi.
Ketika Candida tumbuh semakin pesat, sel-selnya mengalami metamorfosis. Sebagai
khamir alias ragi yang semula selnya berbentuk bulat, berubah menjadi kapang yang
berfilamen, memiliki sulur-sulur akar. Akar ini akan berkembang semakin panjang dan
menembus sel mukosa usus. Setelah mencapai sistem sirkulasi, Candida akan melepaskan zat
racun. Bersama protein yang tidak tercerna, zat racun ini akan merasuki seluruh jaringan
tubuh dan mengakibatkan kemerosotan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, muncul reaksi
alergi, kelelahan, dan masalah kesehatan lainnya.
Terapi yang diberikan yaitu nistatin (nymiko) yang merupakan obat anti jamur.
Nymiko lebih efektif dari obat lain karena memiliki efek samping yang rendah. Cara kerja
nistatin sendiri yaitu dengan mengikat sterol didalam membran sel fungi yang akan
menigkatkan permeabilitas sel fungi sehingga tidak bisa berfungsi sebagai barier selekif.
Kemudian sel interfisial sel fungi keluar dan terjadi kerusakan membran sel fungi yang
mengakibatkan sel mati/lisis.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami RAS dan
kandidiasis yang dipicu karena stress dan kelelahan yang dapat menurunkan sistem imun
tubuh. Terapi yang diberikan yaitu pemberian BBG dan Nistatin untuk terapi simptomatis
serta multivitamin sebagai terapi suportif.

Daftar Pustaka

Gayford, J, J. Haskell, R. 1990. Penyakit Mulut (Clinical Oral Medicine). Jakarta:EGC


Martin S. Greenberg, Michael Glick, Jonathan A. Ship. 2008. Burkets Oral Medicine. 11th
Ed. Ontario : BC Decker Inc.
Scully C, et al. The diagnosis and management of reccurent aphtous stomatitis. J Am Dent
Assoc 2003; 134 (2)
Roeslan BO. 2002. Respon Imun di dalam Rongga Mulut. M I Kedokteran Gigi