Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM KOROSI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

MODUL : Inhibitor

PEMBIMBING : Ir. Retno Indarti, MT.

Praktikum : 2 Desember 2015


Penyerahan : 16 Desember 2015
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : II (Dua)

Nama : 1. Annisa Novita Nurisma 131424005

2. Caesaria Rizky Kinanti 131424007

3. Diah Nurul Sayekti 131424008

Kelas : 3 TKPB

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Untuk melindungi komponen suatu logam dapat menggunakan inhibitor. Bahan
inhibitor menguntungkan untuk menangani logam-logam besi karena dapat menghambat
laju korosi. Di industry inhibitor berfungsu untuk mengurangi korosifitas lingkungan. Di
boiler sering ditambahkan inhibitor fosfat maupun hidrazine. Hidrazine biasa disebut
sebagai oksigen scavenger yang efektif untuk mengambil oksigen dari lingkungan,
sehingga elektrolit dalam boiler korosivitasnya berkurang dan menyebabkan laju korosi
menjadi turun. Karena pentingnya inhibitor di industri maka modul inhibitor dapat
dilakukan di laboratorium korosi yang cara simulasi .

1.2 Tujuan Pecobaan


Mahasiswa dapat menjelaskan proses korosi logam baja dalam larutan NaCl.
Mahasiswa dapat mempelajari pengaruh inhibitor nitrit, benzoat, dan CaO
terhadap laju korosi logam baja dalam larutan NaCl

BAB II
LANDASAN TEORI

Inhibitor adalah zat organik maupun anorganik yang ditambahkan kedalam suatu
lingkungan untuk mengendalikan proses korosi. Sifat-sifat sebuah elektrolit dapat diubah
untuk membatasi agresifitas terhadap permukaan logam. Ion-ion yang paling agresif yang
dapat menyerang permukaan logam baja adalah ion-ion sulfat, tiosulfat, tiosianat, dan
klorida. Untuk menghambat ion-ion agresif tersebut dapat ditambahkan inhibitor nitrit
sehingga dapat mengurangi laju korosi pada permukaan logam. Secara kualitatif inhibitor
dibagi dalam tiga kelompok yaitu inhibitor anodic, inhibitor katodik, dan inhibitor absorbsi.
Inhibitor anodik adalah zat-zat yang ditambahkan ke dalam elektrolit, sehingga mampu
menahan terjadinya reaksi anodic diaksoda. Beberapa inhibitor anodic antara lain kromat,
nitrat, dan nitrit yang merupakan inhibitor anodik oksidator.
Untuk inhibitor anodik non oksidator yaitu molibdat, silikat, fosfat, dan borax.
Adanya inhibitoe anodik menghasilkan selaput pasif tipis pada permukaan anoda sehingga
menghambat laju korosi. Sedang inhibitor katodik adalah zat yang dapat menghambat
terjadinya reaksi dikatoda, karena apada daerah katodik terbentuk logam hidroksida (MOH)
yang sukar larut dan menempel kuat pada permukaan logam sehingga menghambat laju
korosi.
Beberapa contoh inhibitor katodik adalah garam magnesium, kalsium karbonat, dan
poliphospat. Pada umumnya inhibitor anodik lebih efisien daripada inhibitor katodik apabila
jumlah yang ditambahkan mencukupi. Rumus korosi dapat dihitung sebagai berikut:
W ( g ) 1000 365day
r (mpy) x milx
A(cm ) xtx 2,54
2
1 years

W (mg )
r (mdd )
A(dm 2 ) xt

Keterangan :
W = Selisih berat (berat awal dikurang akhir (gr))
A = Luas benda kerja (cm2)
t = Waktu (hari)
= densitas logam (g/cm3)
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi dengan
lingkunganyang korosif.Korosi juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam
karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan.(Putri dkk,
2012)
Proses pencegahan korosi dapat dilakukan, diantaranya dengan pelapisan pada
permukaan logam, perlindungan katodik, penambahan inhibitor korosi dan lain-lain.
Sejauh ini, penggunaan inhibitor merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk
mencegah korosi, karena biayanya yang relatif murah dan proses yang sederhana.
Inhibitor adalah suatu zat kimia yang dapat menghambat atau memperlambat
suatu reaksi kimia.inhibitor korosi adalah suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam
suatu lingkungan, dapat menurunkan laju penyerangan korosi lingkungan itu terhadap
suatu logam. Umumnya inhibitor berasal dari senyawa-senyawa organik dan anorganik
yang mengandung gugus-gugus yang memiliki pasangan elektron bebas, seperti
nitrit,pospat,dan lain-lain.(Anonim, 2012)
Bahaninhibitor menguntungkan untuk menangani logam-logam besi karena
dapatmenghambatlaju korosi. Inhibitor merupakan metoda perlindungan yang fleksibel,
yaitumampu memberikan perlindungan dari lingkungan yang kurang agresif sampai
padalingkungan yang tingkat korosifitasnya sangat tinggi, mudah diaplikasikan
(tinggaltetes), dan tingkat keefektifan biayanya paling tinggi karena lapisan yang
terbentuk sangat tipis sehingga dalam jumlah kecil mampu memberikan perlindungan
yang luas pada logam.Inhibitor yang saat ini biasa digunakan adalah sodium nitrit,
kromat, fosfat, dangaram seng.(Putri dkk, 2012)
Sifat-sifat sebuah elektrolit dapat diubah untukmembatasi agresifitas terhadap
permukaan logam. Ion-ion yang paling agresif yang dapat menyerang permukaan
logam baja adalah ion-ion sulfat, tiosulfat, tiosianat, dan klorida. Untuk menghambat
ion-ion agresif tersebut dapat ditambahkan inhibitor nitrit sehingga dapat
mengurangi laju korosi pada permukaan logam.

Berdasarkan Bahan Dasarnya :


Inhibitor Organik : Menghambat korosi dengan cara teradsorpsi kimiawi pada
permukaan logam, melalui ikatan logam-heteroatom. Inhibitor ini terbuat dari bahan
organik. Contohnya adalah : gugus amine, tio, fosfo, dan eter. Gugus amine biasa
dipakai di sistem boiler.
Inhibitor Inorganik : Inhibitor yang terbuat dari bahan anorganik.

Berdasarkan reaksi yang dihambat, maka inhibitor dibedakan menjadi :


1) Inhibitor katodik adalah zat yang dapat menghambat terjadinya reaksi di katoda
(reduksi), karena pada daerah katodik terbentuk logam hidroksida (MOH) yang
sukar larut dan menempel kuat pada permukaan logam sehingga menghambat
laju korosi. Dengan berkurangnya akses ion hidrogen yang menuju permukaan
elektroda, maka hydrogen overvoltage akan meningkat sehingga menghambat reaksi
evolusi hidrogen yang berakibat menurunkan laju korosi.Dan karena adanya
inhibitor katodik maka potensial korosi bergeser ke arah negative. Inhibitor katodik
merupakan kation yang bermigrasi ke permukaan katodik dan diendapkan secara
kimia atau elektrokimia dan mengisolasi permukaan ini, sehingga menghalangi
pembebasan gas hydrogen di permukaan katodik. Reaksi yang terjadi pada
lingkungan netral adalah
2H2O + O2 + 4e 4OH-
Pada reaksi ini, inhibitor bereaksi dengan ion hidroksil menghasilkan senyawa yang
mengendap di permukaan katoda, sehingga menyelimuti katoda dari elektrolit dan
mencegah masuknya oksigen. Inhibitor yang banyak digunakan untuk tipe ini adalah
larutan garam seng dan magnesium yang membentuk hidroksida tidak larut, kalsium
yang menghasilkan karbonat dan polifosfat. Reaksi katodik di lingkungan asam:
2H+ + 2e H2
Pembentukan gas hidrogen dapat dikendalikan oleh peningkatan sistem seperti
yang ditunjukkan gambar di bawah ini.

Gambar 1. Polarisasi Katodik


Contoh: Arsen (AS+3), antimon (Sb+3), fosfor (P), kation positif dari logam divalent
(seperti Zn+2, Pb+2, dan Fe+2), air sadah yang mengandung kalsium bikarbonat,
soda, dan polifosfat.

Inhibitor katodik dibedakan menjadi:


Inhibitor racun : Contohnya As2O3, Sb2O3.
o menghambat penggabungan atom-atom Had menjadi molekul gas H2 di permukaan
logam
o dapat mengakibatkan perapuhan hidrogen pada baja kekuatan tinggi
o Bersifat racun bagi lingkungan

Inhibitor presipitasi katodik :


o mengendapkan CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4 dari dalam air
Contoh : ZnSO4 + dispersan.

Oxygen scavenger :
o mengikat O2 terlarut
Contoh : N2H4 (Hydrazine) + O2 N2 + 2 H2O
Hydrazine diinjeksikan di up stream Deaerator dalam sistem WHB (Waste Heat
Boiler) dan WHR (Waste Heat Recovery) di unit pabrik Ammonia maupun
Utilitas.

2) Inhibitor anodic adalah zat yang ditambahkan ke dalam elektrolit, sehingga


mampu menahan terjadinya reaksi anodic dioksida. Inhibitor ini berakibat potensial
korosi bergerak ke arah positif.
Contoh : kromat, nitrat, dan nitrit yang merupakan inhibitor anodic oksidator
(efektif tanpa oksigen), sedangkan inhibitor non oksidator (efektif hanya dengan
adanya oksigen terlarut) seperti boraks, fosfat, silikat.
Inhibitor anodik ini merupakan inhibitor yang sangat efektif dan secara luas
digunakan, tetapi jenis inhibitor ini mempunyai sifat yang tidak diinginkan, yaitu bila
kandungan atau konsentrasi inhibitor tidak cukup melapisi semua permukaan anodik,
sehingga mengakibatkan terjadinya korosi sumuran (pitting).Dengan demikian,
inhibitor anodik sering ditunjuk sebagai inhibitor yang berbahaya.Pengaruh
konsentrasi inhibitor terhadap korosinya dapat ditunjukkan seperti gambar berikut.
Gambar 2. Pengaruh Konsentrasi Inhibitor Anodik
Inhibitor anodik adalah inhibitor yang menghambat reaksi oksidasi.
Fe + OH- FeOHad + e-
FeOHad + Fe + OH- FeOHad + FeOH+ + 2e-
Molekul organik teradsorpsi di permukaan logam, sehingga katalis FeOHad berkurang
akibatnya laju korosi menurun. Contoh inhibitor anodik adalah molibdat, silikat,
fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat.Inhibitor jenis ini sering dipakai / ditambahkan
pada saat chemical cleaning peralatan pabrik.

3) Inhibitor campuran : Campuran dari inhibitor katodik dan anodic


Inhibitor campuran merupakan gabungan antara inhibitor anodic dan inhibitor
katodik. Biasanya dalam inhibitor campuran mengandung salah satu bahan oksidator
seperti kromat, nitrit, dan bahan non oksidator. Contoh aplikasi dari inhibitor
campuran adalah senyawa kromat dan ortofosfat dalam air garam, senyawa
kromat dan polifosfat sebagai inhibitor anodic dan katodik.

Berdasarkan Mekanisme (Cara Kerja) Inhibisi :
Inhibitor Pasivator : menghambat korosi dengan cara menghambat reaksi anodik
melalui pembentukan lapisan pasif, sehingga merupakan inhibitor berbahaya, bila
jumlah yang ditambahkan tidak mencukupi. Inhibitor Pasivator terdiri dari : Inhibitor
Pasivator Oksidator, misalnya, Cr2O72-, , CrO42-, ClO3-, ClO4-. Cr2O72- mempasivasi
baja dengan peningkatan reaksi katodik dari Cr2O72- menjadi Cr2O3, dan menghasilkan
lapisan pasif Cr2O3 dan FeOOH. Inhibitor Pasivator non oksidator, contohnya ion
metalat (vanadat, ortovanadat, metavanadat), NO2-. Inhibitor vanadium dipakai di Unit
CO2 Removal Pabrik Ammonia, karena larutan Benfield yang bersifat korosif.
Molybdat (MoO42-) menginhibisi dengan cara membentuk lapisan pelindung yang
terdiri dari senyawa ferro-molybdat.
Inhibitor Presipitasi : Membentuk kompleks tak larut dengan logam atau lingkungan
sehingga menutup permukaan logam dan menghambat reaksi anodik dan katodik.
Contoh : Na3PO4, Na2HPO4.
Inhibitor Adsorpsi : Agar teradsorpsi harus ada gugus aktif (gugus heteroatom). Gugus
ini akan teradsorpsi di permukaan logam. Contoh : Senyawa asetilen, senyawa sulfur,
senyawa amine dan senyawa aldehid.
Inhibitor Aman dan Inhibitor Berbahaya :
Inhibitor aman (tidak berbahaya) adalah inhibitor yang bila ditambahkan
dalam jumlah yang kurang (terlalu sedikit) dari konsentrasi kritisnya, tetap akan
mengurangi laju korosi. Inhibitor aman ini umumnya adalah inhibitor katodik,
contohnya adalah garam-garam seng dan magnesium, calcium, dan polifosfat.
Inhibitor berbahaya adalah inhibitor apabila ditambahkan di bawah harga
kritis akan mengurangi daerah anodik, namun luas daerah katodik tidak terpengaruh.
Sehingga kebutuhan arus dari anoda yang masih aktif bertambah hingga mencapai
harga maksimum sedikit di bawah konsentrasi kritis.Laju korosi di anoda-anoda yang
aktif itu meningkat dan memperhebat serangan korosi sumuran.Yang termasuk
inhibitor berbahaya adalah inhibitor anodik, contohnya adalah molibdat, silikat,
fosfat, borat, kromat, nitrit, dan nitrat.
(Choerunnisa dkk, 2012)

Menghitung Laju Korosi

W ( g ) 1000 365day
r (mpy) x milx
A(cm ) xtx 2,54
2
1years

W (mg )
r (mdd )
A(dm 2 ) xt

Keterangan :
W = Selisih berat (berat awal dikurang akhir (gr))
A = Luas benda kerja (cm2)
t = Waktu (hari)
= densitas logam (g/cm3)
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Peralatan
Gelas kimia 1000 ml
Logam kerja sebanyak 8 buah
Batang Pengaduk
Hotplate
3.1.2 Bahan
Kertas ampelas
Larutan NaCl 3,56 gpl 1000 ml
Asam nitrit 5% sebanyak 5 ml
Benzoat 1% sebanyak 5 ml
CaO 1% sebanyak 3 ml
Larutan ethanol
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Persiapan Benda Kerja
Menyiapkan 8 buah plat baja ukuran 2x5,7x0,1 cm
Mengampelas semua plat baja hingga bersih dari kotoran
Membersihkan lemak yang menempel di permukaan benda kerja dengan
mencelupkannya pada larutan ethanol selama 3 menit
Mencuci dengan air mengalir selama 3 menit
Mengeringkan dan menimbang semua plat yang telah disiapkan
Mengukur luas permukaan masing-masing logam
3.2.2 Persiapan Larutan
Membuat larutan NaCl 3,56 gpl 1000 mL
Membuat larutan asam nitrit (HNO3) 5%
Membuat larutan CaO 1%
Membuat larutan benzoat 1%
3.2.3 Proses Korosi
Merangkai peralatan proses korosi
Mencelupkan logam yang telah dipersiapkan ke dalam larutan
Mengkorosikan logam selama 7 hari
Menimbang logam yang sudah terkorosi dalam keadaan kering dan bebas produk
korosi.
3.3 Diagram Alir

Tanpa aerasi

Me

Menimbang berat akhir logam


Dengan aerasi

Menyiapkan 4 buah
logam Fe

Melakukan
pengampelasan

Mencelupkan logam ke dalam


larutan HCl

Mengeringkan logam dan menghitung


luasnya

Menimbang berat masing -


masing logam

Logam Logam Logam Logam


I II III IV
BAB IV
Larutan Larutan Larutan Larutan
DATA PENGAMATAN
NaCl+Borax NaCl+K2Cr2O7
NaCl NaCl+CaO
4.1 Tanpa Aerasi

4.1.1 Pengamatan Menambahkan


oksigen pada
Larutan Data pengamatan keterangan
Pengamatan awal Pengamatan akhir

Diamkan selama 7 hari Pada kondisi awal larutan


NaCl berwarna bening dan
logam berwarna perak,
setelah didiamkan selama
Menimbang berat akhir 7 hari larutan menjadi
NaCl logam sangat keruh dan pada
batang Fe terjadi proses
korosi ditandai dengan
adanya endapan yang
terbentuk disekitar lapisan
logam

Pada kondisi awal larutan


NaCl+ K2Cr2O7 berwarna
kuning bening dan logam
Fe berwarna perak. Setelah
NaCl + didiamkan selama 7 hari
K2Cr2O7 tidak terdapat perubahan
yang signifikan pada
larutan dan pada logam Fe,
logam Fe mengalami
proses korosi ditandai
dengan endapan yang
terbentuk di sekitar lapisan
logam tetapi hanya sedikit
sekali

Pada kondisi awal larutan


NaCl+CaO berwarna
bening dan logam Fe
berwarna perak. setelah
NaCl + didiamkan selama 7 hari
CaO larutan NaCl+CaO
menjadi keruh dan logam
Fe terkorosi ditandai
dengan terbentuknya
endapan di sekitar lapisan
logam dan di dasar larutan

pada kondisi awal larutan


NaCl+Borax berwarna
bening dan logam Fe
NaCl + berwarna Perak. setelah
Borax didiamkan 7 hari larutan
NaCl+Borax tetap
berwarna bening tetapi
terdapat endapan yang
terbentuk pada lapisan
logam Fe dan pada dasar
larutan

4.1.2 Laju Korosi Tanpa Aerasi

W (mg )
r (mdd )
A(dm 2 ) xt

Keterangan :
W = Selisih berat (berat awal dikurang akhir (mg))
A = Luas benda kerja (dm2)
t = Waktu (hari)

No Luas Berat Berat Laju


permukaan logam logam W T Lingkungan korosi
(dm2) awal akhir (mg) (hari) elektrolit (mdd)
(mg) (mg)
1 0.1008 10250 10230 30 8 Larutan NaCl 37.2023
8
2 0.1019 10180 10150 30 8 Larutan NaCl 36.8007
+ K2Cr2O7 9
3 0.105 10450 10420 30 8 Larutan NaCl 35.7142
+ CaO 9
4 0.102 9950 9920 30 8 Larutan NaCl 36.7647
+ Borax 1
4.2 Dengan Aerasi

4.2.1 Pengamatan

Larutan Data pengamatan keterangan


Pengamatan awal Pengamatan akhir

Pada kondisi awal larutan


NaCl berwarna bening dan
logam berwarna perak,
setelah didiamkan selama
7 hari Larutan berubah
NaCl warna menjadi warna
keruh dan terdapat banyak
endapan pada logam dan
larutan

Pada kondisi awal larutan


NaCl+ K2Cr2O7 berwarna
kuning bening dan logam
Fe berwarna perak. Setelah
NaCl + didiamkan selama 7 hari
K2Cr2O7 Terdapat sedikit endapan
yang menempel pada
logam.

Pada kondisi awal larutan


NaCl+CaO berwarna
bening dan logam Fe
berwarna perak. setelah
NaCl + didiamkan selama 7 hari
CaO larutan NaCl+CaO
menjadi keruh dan
terbentuknya endapan di
sekitar lapisan logam dan
di dasar larutan

pada kondisi awal larutan


NaCl+Borax berwarna
bening dan logam Fe
NaCl + berwarna Perak. setelah
Borax didiamkan 7 hari Larutan
menjadi keruh dan
terdapat endapan coklat
menempel pada logam

4.2.2 Laju Korosi Dengan Aerasi

W (mg )
r (mdd )
A(dm 2 ) xt

Keterangan :
W = Selisih berat (berat awal dikurang akhir (mg))
A = Luas benda kerja (dm2)
t = Waktu (hari)

No Luas Lingkungan Laju korosi


permukaan W T elektrolit (mdd)
(dm2) (mg) (hari)
1 0.1 30 8 Larutan NaCl 37.5

2 0.1 20 8 Larutan NaCl 25


+ K2Cr2O7
3 0.098 30 8 Larutan NaCl 38.26
+ CaO
4 0.1 10 8 Larutan NaCl 12.5
+ Borax
4.3 Pembahasan

Pada praktikum inhibitor kali ini, inhibitor yang digunakan pada campuran NaCl yaitu
K2Cr2O7 5%, asam borax 1%, dan CaO 1%. Penambahan inhibitor bertujuan untuk
menurunkan nilai laju korosi dengan pembentukan lapisan pasif. Dari data praktikum didapat
laju korosi terbesar yaitu pada larutan NaCl dengan aerasi yang tidak ditambahkan dengan
inhibitor. Kandungan oksigen pun mempengaruhi laju korosi, semakin bayak kandungan
oksigen maka akan semakin besar laju korosi dan semakin cepat terjadi korosi pada logam.
Mekanisme korosi yang terjadi di larutan NaCl adalah sebagai berikut :
Anoda : Fe Fe2+ + 2e
Katoda : 2H20 + 2e 2OH- + H2
Maka ion Fe2+ akan berikatan dengan ion OH- dan membentuk logam hidroksida
sesuai reaksi berikut: Fe2+(aq) + 2OH-(aq) Fe(OH)2 (aq)
Kemudian membentuk endapan berupa karat, reaksinya adalah :
Fe(OH)2 (aq) + H2O = Fe2O3.xH2O
Fe2O3.xH20 merupakan karat yang dihasilkan besi yang berwarna merah kecoklatan,
dan apabila terlarut dalam air akan menghasilkan warna coklat. Pada baja pun terdapat
produk korosi berupa endapan bewarna hitam. Logam yang digunakan pada praktikum yaitu
campuran besi dengan karbon sehingga karbon yang terkorosi menjadi endapan bewarna
hitam.
Dari hasil praktikum inhibitor korosi tanpa aerasi diketahui bahwa setelah
penambahan larutan inhibitor ke dalam larutan elektrolit (NaCl) baik K 2Cr2O7, CaO, dan
asam borax, menunjukkan menurunnya nilai laju korosi logam besi. Hal ini menunjukkan
bahwa larutan inhibitor bekerja efektif dalam menurunkan nilai laju korosi logam. Dari data
praktikum didapat bahwa larutan inhibitor CaO adalah inhibitor yang menurunkan nilai laju
korosi paling besar jika dibandingkan dengan larutan inhibitor lainnya. Dari nilai laju korosi
awal pada larutan elektrolit sebesar 37.20238 mdd menjadi 35.71429 mdd.
Inhibitor CaO berperan sebagai inhibitor katodik berperan membentuk lapisan
hidroksida yang sukar larut. Sehingga mengubah CO 2 yang agresif diubah menjadi garam
bikarbonat yang tidak agresif. CaO dengan air dapat membentuk Ca(OH)2 sesuai dengan
persamaan reaksi berikut:

CaO + H2O Ca(OH)2

Ca(OH)2 + H2CO3 Ca(HCO3)2 +2H2O


Inhibitor katodik ini akan langsung membawa logam Fe ke daerah imun.
K2Cr2O7 merupakan inhibitor anodik oksidator akan membentuk anion dengan ion
logam dapat membentuk persenyawaan yang sukar larut dan logam akan berada di daerah
pasif.
Asam borax merupakan inhibitor anodik. Laju korosi untuk campuran NaCl+
borax tanpa aerasi yaitu 37.20238 mdd menjadi 36.76471 mdd.
Sedangkan, pada inhibitor yang menggunakan aerasi, nilai laju korosi menurun
setelah dilakukannya larutan inhibitor.
Inhibitor akan menghambat laju korosi karena membentuk lapisan protektif atau
pelindung. Inhibitor katodis akan membentuk lapisan hidroksida yang sukar larut. Sedangkan
inhibitor anodis akan membentuk anion dengan ion logam dapat membentuk persenyawaan
yang sukar larut. Terdapat laju korosi yang bernilai negatif karena adanya proses pelapisan
logam sehingga terjadi penambahan berat pada logam hal ini dapat terjadi karena proses
pembersihan awal pada benda kerja tidak maksimal. Pada proses aerasi diperoleh laju korosi
lebih besar dari pada yang tidak melalui proses aerasi.
BAB V
KESIMPULAN

Setelah melakukan percobaan inhibitor korosi, dapat disimpulkan bahwa:


Inhibitor akan menghambat laju korosi karena membentuk lapisan protektif atau
pelindung.
Inhibitor CaO berperan sebagai inhibitor katodik berperan membentuk lapisan
hidroksida yang sukar larut.
K2Cr2O7 merupakan inhibitor anodik oksidator akan membentuk anion dengan ion
logam dapat membentuk persenyawaan yang sukar larut dan logam akan berada di
daerah pasif.
Asam borax merupakan inhibitor anodic sehingga akan membentuk anion dengan ion
logam dapat membentuk persenyawaan yang sukar larut dan logam akan berada di
daerah pasif.
Laju korosi yang menggunakan aerasi lebih besar bila dibandingkan dengan laju
korosi tanpa aerasi, karena kandungan oksigen pun mempengaruhi laju korosi,
semakin bayak kandungan oksigen maka akan semakin besar laju korosi dan semakin
cepat terjadi korosi pada logam.
Dari hasil praktikum dan perhitungan, diperoleh data sebagai berikut :
Tanpa Aerasi Dengan aerasi
Lingkungan Laju korosi Lingkungan Laju korosi
elektrolit (mdd) elektrolit (mdd)
Larutan NaCl Larutan NaCl 37.5
37.20238
Larutan NaCl + Larutan NaCl + 25
K2Cr2O7 36.80079 K2Cr2O7
Larutan NaCl + Larutan NaCl + CaO 38.26
CaO 35.71429
Larutan NaCl + Larutan NaCl + 12.5
Borax 36.76471 Borax

Daftar Pustaka

Bayu, Angga Kusuma. Inhibitor Korosi. http://www.academia.edu/5493762/114755146-


Daster-Inhibitor-Korosi. Diakses 13 desember 2014.
Indarti, Retno. Jobsheet Praktikum Pengendalian Korosi: Inhibitor. Bandung: Politeknik
Negeri Bandung.

Putri, Nur Azizah, dkk. 2012. Laporan Praktikum Mandiri Kimia Dasar III Inhibitor Alami.
Jakarta: Program Studi Pendidikan Kimia, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.