Anda di halaman 1dari 15

Laporan Praktikum

Tatalaksana Padang Penggembalaan Peternakan Rakyat

PERCOBAAN II
DEFOLIASI

NAMA : NUR HIKMAWATI


NIM : I111 13 080
KELOMPOK : 3 (TIGA)
HARI/GELOMBANG : SABTU / 2
ASISTEN : YUSMAR

LABORATORIUM TANAMAN PAKAN DAN MANAJEMEN


PADANG PENGGEMBALAAN RAKYAT
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hijauan makanan ternak adalah semua bahan makanan yang berasal dari

tanaman dalam bentuk daun-daunan dan yang termasuk kedalam kelompok makanan

hijauan untuk ternak ini dapat berupa hijauan segar berupa rumput dan kacang-

kacangan atau leguminosa. Untuk Megetahui bagaimana kualitas hijauan rumput

yang ada dipadang penggembalaaan maka dilakukan suatu metode yang disebut

dengan defoliasi.

Pada umumnya, semakin tua hijauan waktu dipotong, maka kadar serat kasar

akan meningkat dan kadar protein akan menurun karena makin meningkatnya

senyawa-senyawa bukan protein sebaliknya bertambahnya umur, produksi makin

meningkat pada akhirnya menyebabkan kandungan dan produksi protein semakin

lambat suatu tanaman dipotong, kandungan serat kasarnya semakin meningkat dan

nilai gizinya semakin menurun. Sebaliknya semakin panjang interval defoliasi, makin

rendah kadar protein sedangkan kadar seratnya semakin meningkat. Oleh karena itu,

maka perlu diatur jarak antara pemotongan pertama dan kedua dan selanjutnya, jarak

defoliasi pada musim penghujan sebaiknya 40 hari sekali dan musim kemarau 60

hari.

Untuk menjamin pertumbuhan kembali (regrowth) yang optimal yang sehat

dan kandungan gizi yang baik, defoliasi diharuskan dilakukan pada periode tertentu

yakni pada akhir vegetatif atau menjelang berbunga. Biasanya defoliasi dilakukan 40
hari sekali pada musim penghujan dan 60 hari sekali di musim kemarau. Kesemuanya

hanya bias dilakukan apabila pemeliharaan itu baik. Bahwa salah satu faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan kembali ialah adanya persediaan bahan makanan (food

reserve) berupa karbohidrat di dalam akar dan tunggal yang ditanggalkan setelah

defoliasi.

1.2 Tujuan dan kegunaan

Tujuan dari praktikum Defoliasi yaitu untuk mengetahui

pengaruh tingkat defoliasi tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil produksi dan

untuk mengetahui kapan waktu terbaik untuk melakukan defoliasi tanaman untuk

mendapatkan hasil produksi yang optimum.


Kegunaan dari praktikum Defoliasi yaitu agar masyarakat

umum dapat mengetahui pengaruh tingkat defoliasi tanaman terhadap

pertumbuhan dan hasil produksi dan agar mengetahui kapan waktu terbaik untuk

melakukan defoliasi tanaman untuk mendapatkan hasil produksi yang optimum.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Defoliasi

Defoliasi mempunyai arti pemotongan daun, yang secara

luas dapat diartikan pemotongan bagian-bagian tanaman yang

berada di atas permukaan tanah (bagian aerial) baik dengan sistem

cut and carry atau dengan perenggutan oleh ternak yang

digembalakan (Susetyo, 1978). Defoliasi adalah pemotongan bagian

tanaman yang ada di permukaan tanah, baik oleh manusia ataupun

oleh renggutan hewan. Faktor yang perlu diperhatikan dalam

defoliasi adalah frekuensi tinggi rendahnya batang tanaman yang

ditinggalkan, pemotongan paksa dan pengaturan dalam blok

pemotongan (Sosroatmodjo, 1980).

Dalam sistem penggembalaan, waktu pemanenan hijauan

perlu kiranya mendapatkan perhatian karena waktu pemanenan

identik dengan umur tanaman. Umumnya kadar protein akan turun

sesuai dengan meningkatnya umur tanaman tetapi kadar serat

kasar menunjukkan perilaku sebaliknya (Susetyo, 1978).

Pastura alam. Padangan yang terdiri dari tanaman dominan yang berupa

rumput perennial, sedikit atau tidak ada sama sekali belukar gulma (weed), tidak ada

pohon, sering disebut padang penggembalaan permanen, tidak ada campur tangan

manusia terhadap susunan floranya, tetapi hanya mengawasi ternak yang


digembalakan. Pastura alam yang sudah ditingkatkan. Spesies-spesies

hijauan makanan ternak dalam padangan belum ditanam oleh

manusia, tetapi manusia telah mengubah komposisi botaninya

sehingga didapat spesies hijauan yang produktif dan

menguntungkan dengan jalan mengatur pemotongan defoliasi

(Reksohadiprodjo, 1985).

2.2 Gambaran Umum Rumput Benggala (Penicum

Maximum)

Rumput Benggala (Pennicum Maximum) Berasal dari Afrika Tropik

dan sub-Tropik, bahan penanaman adalah pols dan biji. Dapat hidup pada jenis tanah

mulai dari struktur ringan, sedang sampai berat, tetapi lebih disukai tanah sedang

yang subur. Ketinggian sesuai pada dataran rendah ataupun dataran tinggi (0- 1.200

m). Curah hujan 1.000- 2.000 mm/tahun. Dengan demikian rumput ini akan lebih

sesuai apabila ditanama di daerah yang banyak curah hujannya. Namun demikian

tanaman ini tak tahan genangan air (Aak, 1983).

Pannicum maximum termasuk tanaman rumput berumur panjang (tahunan).

Tanaman tersebut tumbuh tegak, kuat, batang seperti padi, mencapai tinggi 2- 2,5 m,

warna daunnya hijau tua, bentuknya ramping, bagian tepi kasar tetapi lunak dan

dengan lidah daun yang kuat. Rumput ini membentuk rumpun yang jumlahnya bisa

mencapai ratusan batang, karena mudah membentuk anakan, dan memiliki akar

serabut yang dalam, sehingga rumput ini lebih tahan kekeringan. Rumput benggala

digemari oleh semua ternak, lebih-lebih sapi. Rumput ini merupakan bahan hijauan
yang baik untuk dikeringkan sebagai hay ataupun bahan silage; di samping itu juga

bisa dijadikan rumput gembalaan. Produksi rata-rata per tahun bisa mencapai 150

ton/Ha (Aak, 1983).

Klasifikasi

Divisi : Angiospermae

Klass : Monocotyledoneae

Ordo : Graminales

Family : Graminaceae

Genus : Pannicum

Spesies : Pannicum maximum.

Ciri-cirinya bersifat perennial, batang tegak, kuat, dan

membentuk rumpun. Akarnya membentuk serabut dalam, buku dan

lidah daun berbulu. Warna bunga hijau atau keunguan (Tumbuh

pada daerah dataran rendah sampai pegunungan 01200 m di atas

permukaan laut. Produksi Panicum maximum yang dihasilkan


mencapai 100150 ton/ha/th dalam bahan segar. Panen pertama

dilakukan setelah 23 bulan setelah penanaman (Sutopo, 1985).

2.3 Interval Defoliasi

Intensitas defoliasi adalah tinggi rendahnya pemotongan dari hijauan makanan

ternak diukur dari permukaan tanah. Umumnya untuk rumput-rumputan dan legum

bukan pohon intensitas pemotongan (disisakan) 15-20 cm dari permukaan tanah.

Untuk menjaga pertumbuhan tunas kembali, intensitas pemotongan jangan terlalu

pendek dan jangan pula terlalu panjng agar tanaman tidak berkayu, pada tanaman

yang batangnya mudah berkayu misalnya rumput raja. Interval dan intensitas

pemotongan akan memengaruhi pertumbuhan kembali hijauan makanan ternak yang

bersangkutan (Reksohadiprodjo, 1991).

Pertumbuhan kembali merupakan sifat fisiologis suatu tanaman makanan

ternak untuk menyembuhkan diri dan tumbuh kembali setelah mengalami defoliasi.

Salah satu faktor yang menentukan kondisi pertumbuhan kembali tanaman pakan

ternak adalah tersedianya bahan makanan cadangan yang berupa karbohidrat didalam

akar atau rhizome dan tunggul yang ditinggalkan setelah pemotongan

(Reksohadiprodjo, 1991).

Defoliasi diharuskan dilakukan pada periode tertentu yakni pada akhir

vegetatif atau menjelang berbunga. Biasanya defoliasi dilakukan 40 hari sekali pada

musim penghujan dan 60 hari sekali di musim kemarau. Kesemuanya hanya bias

dilakukan apabila pemeliharaan itu baik. Bahwa salah satu faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan kembali ialah adanya persediaan bahan makanan (food


reserve) berupa karbohidrat di dalam akar dan tunggal yang ditanggalkan setelah

defoliasi (Reksohadiprodjo, 1991).

2.4 Ketinggian Defoliasi

Pertumbuhan kembali merupakan sifat fisiologis suatu

tanaman makanan ternak untuk menyembuhkan diri dan tumbuh

kembali setelah mengalami defoliasi. Salah satu faktor yang

menentukan kondisi pertumbuhan kembali tanaman pakan ternak

adalah tersedianya bahan makanan cadangan yang berupa

karbohidrat didalam akar atau rhizome dan tunggul yang

ditinggalkan setelah pemotongan (Reksohadiprodjo, 1991).

Pada saat tanaman rumput itu dipotong, bagian tanaman

yang ditinggalkan tidak boleh terlalu pendek atau terlalu tinggi.

Sebab semakin pendek bagian tanaman yang ditinggalkan,

pertumbuhan kembali tanaman tersebut akan makin lambat, karena

persediaan energi (karbohidrat) dan pati yang ditinggalkan pada

tunggul pun semakin sedikit. Demikian pula sebaliknya jika pada

saat defoliasi itu bagian tanaman yang ditinggalkan terlalu tinggi

pun tidak benar. Sebab hal ini akan memberikan kesempatan

terhadap pertumbuhan tunas batang saja, tetapi pertumbuhan

anakan tak bias berkembang. Rumput benggala 10 cm dari atas

tanah (Rahardjo, 2002).


Perlu dijelaskan di sini bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan kembali ialah adanya persediaan bahan makanan (food reserve) berupa

karbohidrat di dalam akar dan tunggal yang ditanggalkan setelah defoliasi.

Karbohidrat ini dihasilkan oleh proses asimilasi. Segera setalah defoliasi karbohi

dratini dirombak oleh enzim tertentu menjadi energy untuk pertumbuhan kembali.

(Informasi Peternakan, 2009).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum mengenai Defoliasi, dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Maret 2015

pukul 08.00 WITA - Selesai, bertempat di Lahan Pastura dan Laboratorium Tanaman

Pakan, Fakultas Peternakan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

3.2 Materi Praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam melakukan praktikum

mengenai Defoliasi adalah Pisau/gunting, meteran dan timbangan.

Adapun bahan yang digunakan dalam melakukan praktikum

mengenai Defoliasi adalah tali rafia, spidol dan papan tripleks

ukuran 25 cm x 30 cm
3.3 Metode Praktikum

Pengaruh interval defoliasi terhadap produksivitas padang

rumput

Membentangkan tali rafia di padang rumput seluas 1x1 m

pada tiga tempat/petak yang berbeda dan semua hijauan yang ada

di bagian dalam tali rafia memotong rata dengan gunting setinggi 5

cm dari permukaan tanah. Daerah sepanjang 1 m di luar tali rafia

juga dipotong setinggi 5 cm. Setelah dipotong, petak pertama

dipotong dengan interval 20 hari, petak kedua dipotong dengan

interval 30 hari dan petak ketiga dipotong dengan interval 60 hari.

Dengan demikian, petak pertama, kedua dan ketiga masing-masing

dipotong sebanyak 3, 2 dan 1 kali setelah pemotongan seragam

pada permuaan praktikum,. Pada tiap praktikum (kecuali

pemotongan seragam), hijauan yang terpotong ditimbang berat

segarnya dan untuk berat tiap pemotongan dijumlah untuk

memperoleh produksi kumulatif. Disamping itu juga dihitung jumlah

anakannya. Spesies yang dominan pada petak tersebut dicatat.

Pengaruh ketinggian defoliasi terhadap produksi hijauan

Membentangkan tali raffia di padang rumput seluas 1 x1 m

pada ketiga tempat/petak yang berbeda dan memotong semua

hijauan yang ada di bagian dalam tali raffia rata dengan ketinggian
yang berbeda. Petak pertama memotong setinggi 5 cm, petak

kedua setinggi 10 cm dan petak ketiga setinggi 15 cm dari

permukaan tanah. Gunting setinggi 5 cm. Daerah sepanjang 1 m

diluar tali raffia juga dipotong setinggi 5 cm. Melakukan

pemotongan selanjutnya 30 dan 60 hari setelah pemotongan

pertama dengan ketinggian seperti pemotongan pertama. Bagian

tanaman yang terpotong kemudian ditimbang kemudian

menjumlahkan untuk memperoleh hasil kumulatif.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum mengenai pengaruh interval defoliasi

terhadap produktivitas pada rumput benggala maka diperoleh

sebuah hasil yaitu sebagai berikut:

Tabel 1. Pengaruh Interval Defoliasi Terhadap Produktivitas Rumput


Benggala
Interval Defoliasi Berat Tanaman
20 Hari 347 gr
30 Hari 420 gr
Sumber: Data Primer Hasil Praktikum Tatalaksana Padang Pengembalaan Peternakan
Rakyat, 2015

Berdasarkan hasil praktikum mengenai pengaruh interval defoliasi

terhadap produktivitas pada rumput benggala maka diperoleh

sebuah hasil yaitu berat tanaman untuk setiap interval defoliasi

berbeda-beda, dimana untuk interval defoliasi 20 hari memiliki

berat 347 gr dan untuk interval defoliasi 30 hari memiliki 420 gr,

penyebab perbedaan berat adalah perbedaan waktu pada saat

pemotongan sehingga akan mempengaruhi ukuran tanaman yang

akan dipotong dimana semakin lama interval pemotongan maka

serat kasar tanaman pun semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan

pendapat Sajimin et al. (2014) Penicum. maximum cv Guinea dengan interval

pemotongan 3 sampai 8 minggu terlihat bahwa produksi bahan kering tertinggi

terdapat pada pemotongan umur 8 minggu dan terendah umur 3 minggu. Melihat

keadaan demikian, bahwa dengan semakin panjang interval pemotongan semakin

meningkat produksi segar maupun bahan keringnya. Peningkatan produksi pada umur

potong empat minggu sampai 8 minggu ratarata 63,2%. Kenaikan produksi tertinggi

pada pemotongan 8 minggu namun jika dihubungkan dengan nutrisi maka pada

interval potong 4 minggu adalah protein kasar tertinggi dengan produksi yang tidak

jauh berbeda dengan yang lebih lama interval potong. Hasil tersebut mengindikasikan

bahwa pemotongan yang tepat sebagai rumput potong pada umur 4 minggu dan
setelah umur tersebut tanaman kefase generatif dimana tidak ada lagi penambahan

bobot daun karena telah mencapai pertumbuhan maksimum.


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum mengenai pengaruh interval defoliasi

terhadap produktivitas pada rumput benggala maka dapat

disimpulkan bahwa semakinla panjang interval pemotongan pada

rumput benggala maka serat kasar tanaman pun semakin tinggi

yang akan mempengaruhi berat pada tanaman.

V.2 Saran

Sebaiknya dalam melakukan praktikum, setiap praktikan

memerhatikan tiap proses yang dilakukan agar hasil yang dicapai

lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah.


Kanisius. Yogyakarta.

Informasi Peternakan, 2009. Petunjuk Budidaya Hijauan Makanan


Ternak. Departemen Pertanian.

Rahardjo, Tri. 2002. Ilmu Teknologi Pangan. Unsoed. Purwokerto.

Reksohadiprodjo, Soedomo. 1991. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak


Tropik. BPFE. Yogyakarta.

Sosroatmodjo, P. 1980. Pembukaan Lahan dan Pengolahan Tanah.


Lembaga Penunjang Pembangunan, Jakarta.

Susetyo, S, 1978. Pengelolaan dan Potensi Hijauan Makanan Terak


untuk Produksi Ternak Daging. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor.

Sajimin, Sutedi E., Purwantari N. D., dan Prawiraputra B. R., 2014. Agronomi
Rumput Benggala (Panicum maximum) dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput
Potong. Balai Penelitian Ternak, Bogor.