Anda di halaman 1dari 29

1.

Pengertian Tindak Pidana Khusus Ruang lingkup hukum tindak pidana khusus:
Pertama kali dikenal istilah Hukum Pidana Khusus,
sekarang diganti dengan istilah Hukum Tindak 1. Hukum Pidana Ekonomi (UU Drt. No. 7
Pidana Khusus. Timbul pertanyaan, apakah ada Tahun 1955)
perbedaan dari kedua istilah ini. Oleh karena yang 2. Tindak Pidana Korupsi
dimaksud dengan kedua istilah itu adalah UU 3. Tindak Tindak Pidana Narkotika dan
Pidana[1] yang berada di luar Hukum Pidana Psikotropika
Umum yang mempunyai penyimpangan dari 4. Tindak Pidana Perpajakan
Hukum Pidana Umum baik dari segi Hukum 5. Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai
Pidana Materiil maupun dari segi Hukum Pidana 6. Tindak Pidana Pencucian Uang (money
Formal. Kalau tidak ada penyimpangan tidaklah laundering)
disebut Hukum Pidana Khusus atau Hukum Tindak 7. Tindak Pidana Anak
Pidana Khusus. Tindak pidana ekonomi merupakan tindak pidana
Hukum Tindak Pidana Khusus mengatur perbuatan khusus yang lebih khusus dari kedua tindak pidana
tertentu atau berlaku terhadap orang tertentu yang khusus lainnya. Tindak pidana ekonomi ini
tidak dapat dilakukan oleh orang lain selain orang dikatakan lebih khusus karena aparat penegak
tertentu. Oleh karena itu hukum tindak pidana hukum dan pengadilannya adalah khusus untuk
khusus harus dilihat dari substansi dan berlaku tindak pidana ekonomi. Misalnya Jaksanya harus
kepada siapa Hukum Tindak Pidana Khusus itu. Jaksa ekonomi, Paniteranya harus panitera ekonomi
Hukum Tindak Pidana Khusus ini diatur dalam UU dan hakim harus hakim ekonomi demikian juga
di luar Hukum Pidana Umum. Penyimpangan pengadilannya harus pengadilan ekonomi.
ketentuan hukum pidana yang terdapat dalam UU
Pidana merupakan indikator apakah UU Pidana itu
merupakan Hukum Tindak Pidana Khusus atau 1. Dasar Hukum serta Keberlakuan
bukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Hukum Peraturan Perundang-Undangan Tindak
Tindak Pidana Khusus adalah UU Pidana atau Pidana Khusus
Hukum Pidana yang diatur dalam UU Pidana UU Pidana yang masih dikualifikasikan sebagai
tersendiri. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Hukum Tindak Pidana Khusus adalah UU No. 7
Pompe yang mengatakan: Hukum Pidana Khusus Drt. 1955 tentang Hukum Pidana Ekonomi, UU
mempunyai tujuan dan fungsi tersendiri. No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah
dengan UU No. 20 Tahun 2001, dan UU No.
1/Perpu/2002 dan UU No. 2/Perpu/2002.
UU Pidana yang dikualifikasikan sebagai Hukum
Tindak Pidana Khusus ada yang berhubungan
dengan ketentuan Hukum Administrasi Negara Hukum Tindak Pidana Khusus mengatur
terutama mengenai penyalahgunaan kewenangan. perbuatan tertentu; untuk orang/golongan
Tindak Pidana yang menyangkut penyalahgunaan tertentu.
kewenangan ini terdapat dalam perumusan tindak Hukum Tindak Pidana Khusus
pidana korupsi. menyimpang dari Hukum Pidana Materiil dan
Hukum Pidana Formal.
Penyimpangan diperlukan atas dasar
1. Ruang Lingkup Tindak Pidana Khusus
kepentingan hukum.
Ruang lingkup tindak pidana khusus ini tidaklah
Dasar hukum UU Pidana Khusus melihat
bersifat tetap, akan tetapi dapat berubah tergantung
dengan apakah ada penyimpangan atau menetapkan dari hukum pidana adalah Pasal 103 KUHP. Ps.
sendiri ketentuan khusus dari UU Pidana yang 103 KUHP ini mengandung pengertian:
mengatur substansi tertentu. Contoh: UU No. 32 1. Semua ketentuan yang ada dalam Buku I
Tahun 1964 tentang Lalu Lintas Devisa telah KUHP berlaku terhadap UU di luar KUHP
dicabut dengan UU No. 24 Tahun 1999 tentang sepanjang UU itu tidak menentukan lain.
Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar Uang, 2. Adanya kemungkinan UU termasuk UU
sehingga UU yang mengatur tentang Lalu Lintas Pidana di luar KUHP, karena KUHP tidak
Devisa ini tidak lagi merupakan tindak pidana mengatur seluruh tindak pidana didalamnya
khusus. (tidak lengkap dan tidak mungkin lengkap).
Perundang-undangan Pidana
1. UU Pidana dalam arti sesungguhnya, yaitu 2. Adanya kemungkinan UU termasuk UU
hak memberi pidana dari negara; Pidana di luar KUHP, karena KUHP tidak
2. Peraturan Hukum Pidana dalam arti mengatur seluruh tindak pidana didalamnya
tersendiri, adalah memberi sanksi pidana (tidak lengkap dan tidak mungkin lengkap).
terhadap aturan yang berada di luar Hukum 1. Kekhususan Tindak Pidana Khusus
Pidana Umum. Hukum Tindak Pidana Khusus mempunyai
Apabila diperhatikan suau undang-undang dari segi ketentuan khusus dan penyimpangan terhadap
hukum pidana ada 5 substansi: Hukum Pidana Umum, baik dibidang hukum
pidana materiil maupun dibidang hukum pidana
1. UU saja yang tidak mengatur ketentuan formal. Hukum Tindak Pidana Khusus berlaku
pidana seperti (UU No. 1 Tahun 1974, UU No. terhadap perbuatan tertentu dan atau untuk
7/1989 yang diubah dengan UU No. 32/2004, golongan/orang-orang tertentu.
UU No. 4/2004, UU No. 23/1999 yang diubah
dengan UU No. 3/2004) 1. Kekhususan Hukum Tindak Pidana
2. UU yang memuat ketentuan pidana, Khusus dibidang Hukum Pidana Materiil
maksudnya mengancam dengan sanksi pidana Penyimpangan dalam pengertian menyimpang dari
bagi pelanggaran terhadap pasal-pasal tertentu ketentuan HPU dan dapat berupa menentukan
yang disebut dalam Bab ketentuan pidana sendiri yang sebelumnya tidak ada dalam HPU
seperti (UU No. 2/2004, UU No. 8/1999, UU disebut dengan ketentuan khusus.
No. 7/1996, UU No. 18/1997 yang diubah
dengan UU No. 34/2000, UU No. 23/2004, UU 1. Hukum Pidana bersifat elastis (ketentuan
No. 26/2000). khusus).
3. UU Pidana, maksudnya UU yang 2. Percobaan dan membantu melakukan
merumuskan tindak pidana dan langsung tindak pidana diancam dengan hukuman
mengancam dengan sanksi pidana dengan tidak (menyimpang).
mengaur bab tersendiri yang memuat ketentuan 3. Pengaturan tersendiri tindak pidana
pidana (seperti UU No. 31/1999 sebagaimana kejahatan dan pelanggaran (ketentuan khusus).
telah diubah dan ditambah dengan UU No. 4. Perluasan berlakunya asas territorial
20/2001, UU No. 1/Perpu/2000, UU No. (ektrateritorial) (menyimpang/ketentuan
15/2002 yang diubah dengan UU No. 25/2003). khusus).
4. UU Hukum Pidana adalah UU yang 5. Hukum berhubungan/ditentukan
mengatur ketentuan hukum pidana. UU ini berdasarkan kerugian keuangan dan
terdiri dari UU pidana mateiil dan formal (UU perekonomian negara (ketentuan khusus).
acara pidana). Kedua UU hukum pidana ini 6. Pegawai Negeri merupakan sub. Hukum
dikenal dengan sebutan Kitab Undang-Undang tersendiri (ketentuan khusus).
Hukum Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum 7. Mempunya sifat terbuka, maksudnya
Acara Pidana (seperti KUHP, UU No. 8/1981 adanya ketentuan untuk memasukkan tindak
tentang KUHAP, KUHP Militer). pidana yang berada dalam UU lain asalkan UU
Hukum Pidana Khusus ada yang berhubungan lain menentukan menjadi tindak pidana
dengan Hukum Administrasi (HPE, Hk. Pidana (ketentuan khusus).
Fiskal, UU No. 31/1999 sebagaimana telah diubah 8. Pidana denda + 1/3 terhadap korporasi
dengan UU No. 20/2001 khusus masalah (menyimpang).
penyalahgunaan kewenangan). 9. Perampasan barang bergerak, tidak
bergerak (ketentuan khusus).
Dasar hukum UU Pidana Khusus dilihat dari 10. Adanya pengaturan tindak pidana selain
hukum pidana adalah Pasal 103 KUHP. Pasal 103 yang diatur dalam UU itu (ketentuan khusus).
ini mengandung pengertian: 11. Tindak Pidana bersifat transnasional
(ketentuan khusus).
1. Semua ketentuan yang ada dalam Buku I 12. Adanya ketentuan yurisdiksi dari negara
KUHP berlaku terhadap UU di luar KUHP lain terhadap tindak pidana yang terjadi
sepanjang UU itu tidak menentukan lain. (ketentuan khusus).
13. Tidak dipidananya dapat bersifat politik
14. Dapat pula berlaku asas retroactive 2. Kekhususan Tindak Pidana Ekonomi
2. Penyimpangan terhadap Hukum Tindak Pidana Ekonomi (Hukum Pidana Ekonomi)
Pidana Formal mempunyai kekhususan tersendiri dibandingkan
3. Penyidikan dapat dilakukan oleh Jaksa[2], dengan pidana khusus yang lain. Menurut Andi
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hamzah[4] kekhususan Hukum Pidana Ekonomi
[3] yang dimaksud adalah:
4. Perkara pidana khusus harus didahulukan 1. Peraturan Hukum Pidana Ekonomi
dari perkara pidana lain. bersifat elastis, mudah berubah-ubah.
5. Adanya gugatan perdata terhadap 2. Perluasan subyek hukum pidana
tersangka/terdakwa Tindak Pidana Korupsi. (pemidanaan badan hukum).
6. Penuntutan kembali terhadap pidana bebas 3. Peradilan in absentia; peradilan in absentia
atas dasar kerugian negara. berlaku terhadap orang yang sudah meninggal
7. Perkara pidana khusus diadili di dunia dan terhadap orang yang tidak dikenal.[5]
Pengadilan Khusus (HPE). 4. Percobaan dan membantu melakukan pada
8. Dianutnya peradilan in absentia. delik ekonomi.
9. Diakuinya terobosan terhadap rahasia 5. Pembedaan delik ekonomi berupa
bank. kejahatan dan pelanggaran.
10. Dianut pembuktian terbalik. 6. Perluasan berlakunya hukum pidana.
11. Larangan menyebutkan identitas pelapor. 7. Penyelesaian di luar acara (schikking).
12. Perlunya pegawai penghubung. 8. Perkara Tindak Pidana Ekonomi diperiksa
BAB II dan diadili di Pengadilan Ekonomi. Berarti
TINDAK PIDANA EKONOMI pengadilannya khusus Pengadilan Ekonomi.
Perlu diketahui bahwa sampai sekarang, belum
1. Pengertian Tindak Pidana Ekonomi ada Pengadilan Ekonomi secara fisik akan tetapi
2. Pengertian dan Dasar Hukum fungsinya tetap ada sesuai dengan ketentuan
UU Drt. No. 7 Tahun 1955 tidak memberikan atau Pasal 35 ayat (1) UU Drt. No 7 Tahun 1955,
merumuskan dalam bentuk definisi mengenai bahwa pada tiap-tiap Pengadilan Negeri
hukum pidana ekonomi. Melalui ketentuan Ps. 1 ditempatkan seorang Hakim atau lebih dibantu
UU Drt. No. 7 Tahun 1955 pada intinya yang oleh seorang Panitera atau lebih dan seorang
disebut tindak pidana ekonomi ialah pelanggaran Jaksa atau lebih yang semata-mata diberi tugas
sesuatu ketentuan dalam atau berdasarkan Ps. 1 sub untuk mengadili perkara tindak pidana
1e, Ps. 1 sub 2e, dan Ps. 1 sub 3e. Jadi setiap terjadi ekonomi. Menurut Ps. 35 ayat (2) Pengadilan
pelanggaran terhadap ketentuan Ps. 1 UU Drt. No. tersebut adalah Pengadilan Ekonomi.
7 Tahun 1955 adalah tindak pidana ekonomi. 9. Hakim, Jaksa dan Panitera adalah Hakim,
Hukum Pidana Ekonomi diatur dalam UU Drt. No. Jaksa dan Panitera yang diberi tugas khusus
7 Tahun 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan untuk memeriksa dan mengadili perkara tindak
Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. pidana ekonomi, berarti bukan Hakim, Jaksa
dan Panitera umum.
Tujuan dibentuknya UU Drt. No 7 Tahun 1955 10. Hakim, Jaksa dan Panitera pada
adalah untuk mengadakan kesatuan dalam Pengadilan Ekonomi dapat dipekerjakan lebih
peraturan perundang-undangan tentang pengusutan, dari satu Pengadilan Ekonomi.
penuntutan dan peradilan mengenai tindak pidana 11. Pengadilan Ekonomi dapat bersidang di
ekonomi. UU ini merupakan dasar hukum dari luar tempat kedudukan Pengadilan Ekonomi.
Hukum Pidana Ekonomi. Disebut dengan hukum 1. Unsur-Unsur dan Bentuk-Bentuk
pidana ekonomi, oleh karena UU Drt. No. 7 Tahun Tindak Pidana Ekonomi
1955 mengatur secara tersendiri perumusan Hukum Hukum Pidana Ekonomi merumuskan tindak
Pidana Formal disamping adanya ketentuan Hukum pidana ekonomi yang diatur dalam UU Drt. No. 7
Pidana Formal dalam Hukum Pidana Umum Tahun 1955 adalah tindak pidana sebagaimana
(Hukum Acara Pidana). Selain itu juga terdapat disebutkan dalam Pasal 1 sub 1e, sub 2e, dan sub
penyimpangan terhadap ketentuan Hukum Pidana 3e.[6] Tindak pidana Pasal 1 sub 2e adalah tindak
Materiil (KUHP). pidana dalam Pasal 26, 32 dan 33 UU Drt. No. 7
Tahun 1955. Sedangkan tindak pidana Pasal 1 sub
3e adalah pelaksanaan suatu ketentuan dalam atau
berdasar undang-undang lain, sekedar undang- hukuman tambahan sebagai tercantum dalam Ps. 7
undang itu menyebutkan pelanggaran itu sebagai ayat (1) a, b, atau c, dengan suatu tindakan tata
pelanggaran tindak pidana ekonomi. tertib seperti tercantum dalam Ps. 8, dengan suatu
Tindak pidana ekonomi dalam UU Drt. No. 7 peraturan seperti termaksud dalam Ps. 10 atau
Tahun 1955 ini lebih bersifat hokum administrasi. dengan suatu tindakan tata tertib sementara atau
Secara teliti pelanggaran terhadap UU Drt. No. 7 menghindari hukuman tambahan, tindakan tata
Tahun 1955 disebut dengan tindak pidana ekonomi, tertib, peraturan, tindakan tata tertib sementara
oleh karena berupa kejahatan yang merugikan seperti tersebut diatas.
keuangan dan perekonomian Negara. Berdasarkan
ketentuan Pasal 1 sub 1e, sub 2e, dan sub 3e UU Menurut pembuat UU, yang dimuat dalam
Drt. No. 7 Tahun 1955, tindak pidana ekonomi ini Penjelasan Ps. 32 ini agar agar dengan mudah dapat
terdapat dua kelompok: dipaksakan kepada yang bersalah untuk memenuhi
pidana tambahan dan sebagainya, sebab pengusaha
1. Pertama, tindak pidana yang berasal dari yang membandel, banyak mempunyai alat untuk
luar UU Drt. No. 7 Tahun 1955, yaitu undang- menghindari diri dari dibebankannya pelbagai
undang atau staatblad sebagaimana disebutkan pidana tambahan.
dalam Ps. 1 sub 1e dan Pasal 1 sub 3e.
2. Kedua, tindak pidana yang dirumuskan 1. Tindak Pidana Ekonomi berdasarkan
sendiri yaitu Ps. 26, Ps. 32 dan Ps. 33 Pasal 33
sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 sub 2e. Tindak Pidana Ekonomi dalam Pasal 33 ini mirip
1. Tindak Pidana berdasarkan Pasal 26 dengan ketentuan Pasal 32 diatas. Perbedaannya
Tindak pidana Ps. 26 merupakan pelanggaran terdapat pada unsur menarik bagian-bagian
karena tidak mengindahkan tuntutan pengawal kekayaan untuk dihindarkan dari beberapa tagihan
pengusut (selanjutnya disebut penyidik).[7] Pasal atau pelaksanaan hukuman, tindakan tata-tertib,
26 merumuskan dengan sengaja tidak memenuhi atau tindakan tata tertib sementara, yang dijatuhkan
tuntutan pegawai pengusut, berdasarkan suatu berdasarkan UU Drt. No. 7 Tahun 1955.
aturan dari undang-undang ini.
Bagi penyidik untuk dapat diberlakukan ketentuan
Pasal 26 harus diketahui dulu bahwa yang disidik Rumusan secara lengkap sbb: Barang siapa
itu bukan tindak pidana ekonomi bagi yang tidak dengan sengaja, baik sendiri maupun dengan
mengindahkan tuntutan penyidik dikenakan peraturan orang lain, emnarik bagian kekayaan
ketentuan Ps. 216 KUHP. Jadi apabila yang disidik untuk dihindarkan dari tagihan-tagihan atau
itu adalah tindak pidana ekonomi, maka orang yang pelaksanaan suatu hukuman, tindakan tata tertib
tidak memenuhi tuntutan penyidik diberlakukan Ps. atau tindakan tata tertib sementara, yang dijatuhkan
26. Tuntutan sebagaimana yang dimaksud Ps. 26 berdasarkan undang-undang ini.
adalah:
Ps. 33 ini dimaksudkan untuk dapat mengatasi jika
Tuntutan menyerahkan untuk disita semua seseorang yang dengan sengaja baik sendiri
barang yang dapat digunakan untuk maupun perantaraan orang lain:
mendapatkan keterangan atau yang dapat
dirampas atau dimusnahkan (Ps. 18 ayat (1)). Menarik bagian kekayaan untuk
Tuntutan untuk diperlihatkan segala surat dihindarkan dari tagihan atau pelaksanaan suatu
yang dipandang perlu untuk diketahui Penyidik pidana atau;
agar penyidik ini dapat melakukan tugas dengan Tindakan tata tertib atau tindakan tata
sebaik-baiknya (Ps. 19 ayat (1)). tertib sementara yang dijatuhkan kepadanya
Tuntutan untuk membuka bungkusan berdasarkan UU Drt. No. 7 Tahun 1955, karena
barang-barang, jika hal itu dipandang perlu oleh sering orang menghindari dari hukuman
penyidik untuk memeriksa barang-barang itu kekayaan itu.
(Ps. 22 ayat (1)). Berarti untuk dapat dikenakan Pasal 33 hanya
1. Tindak Pidana berdasarkan Ps. 32 terbatas terhadap:
Barang siapa dengan sengaja berbuat atau tidak
berbuat sesuatu yang bertentangan dengan
Tagihan-tagihan; Sedangkan tindakan tata tertib sebagaimana diatur
Pelaksanaan suatu tindakan tata tertib; dalam Ps. 8 UU Drt. No. 7 Tahun 1955.
Pelaksanaan suatu tindakan tat tertib Tindakan tata tertib berupa:
sementara, yang kesemuanya 1), 2), 3) harus
berdasarkan UU Drt. No. 7 Tahun 1955. 1. Penempatan perusahaan si terhukum
Menurut penulis, apa yang diamksudkan dengan berada dibawah pengampuan;
menarik bagian tagihan-tagihan dalam Ps. 33 2. Kewajiban membayar uang jaminan;
adalah mungkin sama dengan mencabut barang dari 3. Kewajiban membayar sejumlah uang
harta bendanya dalam Ps. 399 KUHP. Ps. 399 sebagai pencabutan keuntungan dan kewajiban
KUHP merupakan kejahatan yang dilakukan oleh mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak;
pengurus atau pembantu suatu korporasi yang 4. Meniadakan apa yang dilakukan tanpa hak
dinyatakan jatuh pailit yang diperintahkan Hakim dan melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki
untuk menyelesaikan urusan perniagaannya, akan akibat satu sama lai, atas biaya si terhukum
tetapi ia mengurangi dengan jalan penipuan apabila hakim
terhadap hak penagih. Kegiatan yang dilakukannya: Sanksi pidana pokok sebelum ada perubahan diatur
dalam Ps. 6 ayat (1), yaitu sanksi pidana penjara
Menyembunyikan keuntungan atau dan denda. Sanksi pidana terhadap pelanggaran Ps.
melarikan suatu barang dari harta bendanya; 1 sub 1e, Ps. 1 sub 2e dan Ps 1 sub 3e dianut sanksi
Memindahkan sesuatu barang baik dengan pidana secara kumulatif atau alternative,
menerima uang; maksudnya dijatuhkan dua sanksi pidana pokok
Menguntungkan salah seorang yang sekaligus (pidana penjara dan denda) atau salah
satu diantara dua sanksi pidana pokok itu.
berpiutang padanya dengan jalan apapun juga
pada waktu jatuh pailit atau penyelesaian urusan
dagang; Perkembangan selanjutnya, ancaman pidana dalam
Tidak mencukupi kewajibannya dalam hukum pidana ekonomi mengalami perubahan dan
mencatat segala sesuatu. pemberatan, yaitu:
1. Tindak Pidana Ekonomi berdasarkan
Ps. 1 sub 3e 1. UU Drt. No. 8 Tahun 1958 selain
Pelaksanaan suatu ketentuan dalam atau menambah tindak pidana ekonomi terhadap
berdasarkan undang-undang lain, sekedar undang- ketentuan Ps 1 sub 1e, memperberat ancaman
undang itu menyebut pelanggaran sebagai tindak hukuman yang terdapat dalam Ps 6 ayat (1)
pidana ekonomi. Tindak pidana yang dimaksud huruf a yaitu kata-kata lima ratus ribu rupiah
dalam pasal ini hingga tahun 1955 ada tiga undang- diubah menjadi satu juta rupiah.
undang yang menyatakan pelanggaran terhadap 2. UU No. 5/PNPS/1959 memperberat
undang-undang itu sebagai tindak pidana ekonomi: ancaman sanksi pidana terhadap ketentuan
Hukum Pidana Ekonomi, tindak pidana korupsi,
UU No. 8 Prp. Tahun 1962 LN No. 42 tindak pidana dalam buku II Bab I dan II
Tahun 1962 tentang Perdagangan Barang- KUHP, dengan hukuman penjara sekurang-
Barang dalam Pengawasan. kurangnya satu tahun[8] dan setinggi-tingginya
UU No. 9 Prp. Tahun 1962 LN No. 43 20 tahun atau hukuman penjara seumur hidup
Tahun 1962 tentang Pengendalian Harga. atau hukuman mati.
UU No. 11 Tahun 1965 LN. No. 54 Tahun Untuk itu dapat dikenakan ketentuan ini apabila
1965 tentang Pergudangan. mengetahui, patut menduga bahwa tindak pidana
1. Sanksi dalam Tindak Pidana Ekonomi itu akan menghalang-halangi terlaksana program
Sanksi terhadap pelanggaran Hukum Pidana pemerintah, yaitu:
Ekonomi menganut sistem sanksi pidana dan
tindakan tata tertib. Sistem ini dikenal dengan 1. Memperlengkapi sandang pangan rakyat
istilah double track system. Sanksi pidana berupa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya;
sanksi pidana pokok dan pidana tambahan. Sanksi 2. Menyelenggarakan keamanan rakyat dan
pidana ini sesuai dengan ketentuan Ps. 10 KUHP. negara;
3. Melanjutkan perjuangan menentang Pada tingkat pertama, Ps. 35 ayat (1) disebutkan
imperealisme ekonomi politik (Irian Barat). bahwa pada tiap-tiap Pengadilan Negeri
UU No. 21/Peperpu/1959 memperberat ancaman ditempatkan seorang hakim atau lebih dibantu oleh
hukuman dendz yang semulanya satu juta seorang panitera atau lebih dan seorang jaksa atau
berdasarkan UU No. 8/Drt/1958 dikalikan dengan lebih yang semata-mata diberi tugas untuk
30, berarti dari satu juta menjadi 30 juta rupiah. memeriksa dan mengadili perkara tindak pidana
Jika tindak pidana itu dapat menimbulkan ekonomi.
kekacauan dibidang perekonomian dalam
masyarakat, maka pelanggar dihukum dengan Ps. 35 ayat (2) dikatakan bahwa pengadilan pada
hukuman mati atau penjara seumur hidup atau tingkat pertama tindak pidana ekonomi adalah
penjara sementara selama-lamanya 20 tahun dan pengadilan ekonomi. Berdasarkan kedua ketentuan
hukuman denda sebesar 30 kali jumlah yang ini berarti bahwa dengan adanya hakim, panitera
ditetapkan pada ayat (1). Hakim harus menjatuhkan dan jaksa adalah tugas khusus atau pengkhususan
pidana secara kumulatif. dari peradilan umum. Pengadilannya khusus hanya
pengadilan ekonomi saja yang dapat memeriksa
1. Sistem Peradilan Tindak Pidana dan mengadili perkara pidana ekonomi bukan
Ekonomi pengadilan negeri. Hanya lokasinya saja ada di
2. Penyelesaian di Luar Acara (Schikking) Pengadilan Negeri. Ps. 35 ayat (1) memberikan arti
dalam Tindak Pidana Ekonomi Pengadilan Ekonomi ada di Pengadilan Negeri.
Pompe menunjuk patokan Pasal 91 WvS Ned (Pasal Pengadilan Ekonomi itu timbul ketika pada saat
103 KUHP) yaitu jika ketentuan undang-undang memeriksa dan mengadili perkara pidana ekonomi.
(diluar KUHP) banyak menyimpang dari ketentuan Fisiknya tidak Nampak akan tetapi fungsinya ada.
umum hukum pidana (Bab I Bab VIII Buku I).
Wvs Ned (Bab I Ban VIII Buku I KUHP) maka Menurut Ps. 36, seorang Hakim atau Jaksa pada
itu merupakan hukum pidana khusus. Patokan Pengadilan Ekonomi itu dapat dipekerjakan lebih
seperti ini sejajar dengan adagium lex specialis dari satu Pengadilan Ekonomi. Perlu diketahui
derogate legi generali (ketentuan khusus ketentuan ini, dikehendaki pada tahun 1955 untuk
menyingkirkan ketentuan umum). Hukum pidana mempercepat dan memberantas tindak pidana
ekonomi mempunyai watak tersendiri yang ekonomi, ketika itu Hakim di Indonesia tidak
ternyata pada aturan Strafbaarheid nya yang sebanding dengan tindak pidana yang ada.
semuanya menyimpang dari hukum pidana biasa. [10] Oleh karena pada Ps. 36 itu tidak disebut
Contoh yang ditempuh oleh Pompe ialah dapatnya Panitera berarti Panitera tidak dapat dipekerjakan
dipidana dari badan hukum, perampasan barang- lebih dari satu Pengadilan Ekonomi.
barang bukti (maksudnya termasuk barang-barang Untuk mengatasi kesulitan terhadap percepatan,
kepunyaan pihak ketiga) dan barang tidak penyelesaian tindak pidan ekonomi maka dalam Ps.
berwujud). Penyelesaian diluar acara (schikking) 37 diatur bahwa Pengadilan Ekonomi dapat
dan disamping itu penyimpangan dari ketentuan bersidang di luar tempat keduudkan Pengadilan
acara pidana yang penting.[9] Ekonomi. Berarti dapat bersidang diluar wilayah
2. Peradilan Tindak Pidana Ekonomi hokum Pengadilan Negeri apabila pada Pengadilan
Peradilan tindak pidana ekonomi yang diatur dalam Negeri dalam lingkungan Pengadilan Tinggi itu
UU Drt. No. 7 Tahun 1955 terdapat perbedaan tidak terdapat Hakim atau Jaksa yang khusus diberi
dengan peradilan tindak pidana lainnya baik tugas memeriksa dan mengadili perkara tindak
peradilan tindak pidana khusus maupun pada tindak pidana ekonomi.
pidana umum.

Pada tingkat banding disebutkan pada Ps. 41 ayat


1. Tingkat pertama, Peradilan tindak pidana (1) bahwa pada tiap-tiap Pengadilan Tinggi untuk
ekonomi diatur dalam Ps. 35, Ps. 36, Ps. 37, Ps. wilayah hukumnya masing-masing diadakan
38, Ps. 39; Pengadilan Tinggi Ekonomi yang diberi tugas
2. Tingkat banding, diatur dalam Ps. 41, Ps. memeriksa dan mengadili perkara pidana ekonomi
42, Ps. 43, Ps. 44, Ps. 45, dan Ps. 46; pada tingkat banding. Ketentuan ini mempunyai
3. Tingkat kasasi, diatur dalam Ps. 47, Ps. 48. jiwa yang sama dengan Ps. 35 ayat (1).
1. Badan-Badan Pegawai Penghubung Apabila dikaji ketentuan kedua pasal itu, terdapat 4
Sifat dari tindak pidana ekonomi mengancam dan (empat) macam substansi, yaitu: 1) syarat, 2)
merugikan kepentingan yang sangat gecompliceerd, waktu, 3) tujuan, 4) tindakan yang harus dilakukan
sehingga orang biasa dan kadang-kadang Hakim pengambilan tindakan tata tertib sementara.
dan Jaksa sering tidak mempunyai gambaran yang
sebenarnya, sehingga menyebabkan timbul Syarat pengambilan Tindakan Tatatertib Sementara
perbedaan pendapat antara Jaksa dan Hakim. Untuk adalah:
emngatasi masalah yang berhubungan dengan
penyidikan, penuntutan dan peradilan terhadap
perkara tindak pidana ekonomi, diperlukan badan- 1. Ada hal-hal yang dirasa sangat
badan pegawai penghubung. Badan ini diangkat memberatkan tersangka;
oleh menteri yang bersangkutan (terkait) 2. Ada keperluan untuk mengadakan
berdasarkan persetujuan Menteri Kehakiman. tindakan-tindakan dengan segera terhadap
Badan ini diwajibkan memberikan bantuan kepada kepentingan-kepentingan yang dilindungi oleh
Penyidik, Jaksa dan Hakim baik diluar maupun ketentuan-ketentuan yang disangka telah
didala pengadilan. Menteri yang bersagkutan dilanggar oleh tersangka.
maksudnya adalah menteri yang ada hubungannya Waktu pengambilan Tindakan Tatatertib Sementara,
dengan materi perkara tindak pidana ekonomi itu, adalah:
apakah yang diperlukan bantuan terhadap badan
pegawai penghubung. Jika yang diperlukan itu 1. Supaya tidak melakukan perbuatan-
mengenal lalu-lintas devisa, berarti yang perbuatan tertentu;
dimintakan itu dari Bank Indonesia, maka menteri 2. Supaya tersangka beusaha agar barang-
yang bersangkutan adalah Menteri Keuangan. barang yang disebut dalam perintah untuk
Pegawai Bank Indonesia dapat diangkat menjadi diadakan tindakan tata tertib sementara yang
pegawai penghubung oleh Menteri Keuangan atas dapat disita, dikumpulkan dan disimpan
dasar persetujuan Menteri Kehakiman. Orang yang ditenpat yang ditunjuk dalam perintah tersebut.
dapat diangkat adalah orang yang ahli dibidang Jaksa dapat mengenakan tindakan tata tertib
perekonomian. Oleh karena sifatnya member sementara yang tentu tidak dikenal didalam delik
bantuan saja, bantuan ini tidak mengikat terhadap umum. Tindakan tata tertib sementara itu berupa:
penyelesaian perkara tindak pidana ekonomi. [11]
Badan pegawia penghubung ini bukanlah sebagia 1. Penutupan sebagian atau seluruh
saksi ahli sebagaimana dalam Ps. 120 jo. Ps. 180 perusahaan si tersangka, dimana tindak pidana
KUHAP. ekonomi itu disangka telah dilakukan;
2. Penempatan perusahaan tersangka, dimana
Tindakan tata tertib sementara diatur dalam Ps. 27 tindak pidana ekonomi itu disangka telah
dan Ps. 28 UU Drt. No. 7 Tahun 1955. Instansi dilakukan, dibawah pengampuan;
yang berwenang megambil tindakan tata tertib 3. Pencabutan seluruh atau sebagian hak
sementara ini adalah Jaksa sebagaimana diatur tertentu, atau pencabutan hak seluruh atau
dalam Ps. 27 ayat (1), dan Hakim sebagaimana sebagian keuntungan, yang telah atau dapat
diatur dalam Ps. 28 ayat (1) UU Drt. No. 7 Tahun diberikan oleh Pemerintah kepada si tersangka
1955. Selain kedua instansi ini tidak berwenang berhubungan dengan perusahaan itu;
mengambil tindakan tata tertib sementara. 4. Supaya si tersangka tidak melakukan
perbuatan-perbuatan tertentu;
5. Supaya si tersangka berusaha supaya
Ketentuan Ps. 27 ayat (1) dan Ps. 28 ayat (1) telah barang tersebut dalam perintah yang dapat disita
diubah oleh UU No. 26/Prp/1960. Secara dikumpulkan dan disimpan di tempat yang
akademik, untuk dapat mengambil tindakan tata ditunjuk dalam pemerintah itu.
tertib sementara harus sesuai dengan ketentuan Didalam pelaksanaan pengambilan tindakan
sebagaimana diatur dalam Ps. 27 ayat (1) dan Ps. tatatertib sementara, apabila Hakim telah menerima
28 ayat (1). Ketentuan Ps. 27 ayat (1) sama dengan berkas perkara ekonomi harus diperhatikan
Ps. 28 ayat (1). apakah Jaksa sudah atau belum mengambil
tindakan tata tertib sementara sesuai dengan
ketentuan syarat, waktu, dan tujuan. Jaksa setelah
mengambil tindakan tata tertib sementara
berdasarkan Ps. 27 ayat (2) dapat mengeluarkan
perintah-perintah sebagaimana diatur dalam Ps. 10
ayat (1). Apabila Jaksa sudah melakukan, maka
Hakim berdasarkan ketentuan Ps. 28 ayat (3) dapat
mengambil keputusan: BAB III
TINDAK PIDANA NARKOTIKA DAN
Memperpanjang tindakan tatatertib PSIKOTROPIKA
sementara satu kajian selama-lamanya 6 (enam)
1. Pengertian Tindak Pidana Narkotika
bulan atas dasar hakim karena jabatannya, atau
1. Pengertian Narkotika dan
tuntutan Jaksa.
Psikotropika
Mencabut atau merubah tindakan tatatertib
Secara umum, yang dimaksud dengan narkotika
semnetara yang diambil Jaksa atas dasar Hakim
adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan
karena jabatannya, atau tuntutan Jaksa, atau
pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang
permohonan terdakwa.
menggunakannya,yaitu dengan cara memasukkan
Tindakan tata tertib sementara berdasarkan
ke dalam tubuh.
ketentuan Ps. 27 ayat (3) dapat diubah atau dicabut
oleh Jaksa atau Hakim asal perkara tindak pidana
ekonomi itu belum diputus oleh Hakim. Jika Jaksa Istilah narkotika yang dipergunakan di sini
belum mengambil tindakan tatatertib sementara, bukanlah narcotics pada farmacologie (farmasi),
maka Hakim berdasarkan Ps. 28 ayat (1) dapat melainkan sama artinya dengan drug, yaitu
mengambil tindakan tatatertib sementara. Setelah sejenis zat yang apabila dipergunakan akan
Hakim mengambil tindakan tatatertib sementara, membawa efek dan pengaruh-pengaruh tertentu
Hakim dapat emngeluarkan perintah-perintah pada tubuh si pemakai, yaitu:
sebagaimana diatur dalam Pasal. 10 ayat (1).
Tindakan tatatertib sementara yang diambil oleh 1. Mempengaruhi kesadaran;
Hakim, dapat diperpanjang dengan satu kali 2. Memberikan dorongan yang dapat
selama-lamanya 6 bulan, atau diuabh atau dicabut: berpengaruh terhadap perilaku manusia;
3. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa:
1. Oleh Hakim karena jabatannya; Penenang;
2. Atas tuntutan Jaksa; Perangsang (bukan rangsangan
3. Atas permohonan terdakwa. sex);
Mengingat tindakan tata tertib sementara Menimbulkan halusinasi
kemungkinan dapat menimbulkan kerugian yang (pemakainya tidak mampu membedakan
besar, maka berdasarkan Ps. 31 mengatur ketentuan antara khayalan dan kenyataan, kehilangan
mengganti kerugian jika tindak pidana ekonomi itu kesadaran akan waktu dan tempat). [12]
berarti dengan: Yang dimaksud narkotika dalam UU No. 35 Tahun
2009 adalah zat atau obat yang berasal dari
Tidak dijatuhkan pidana pokok atau tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang
tindakan tata tertib; dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
Dijatuhkan pidana pokok atau tindakan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
tata tertib sehingga tindakan tata tertib
ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
sementara yang dijatuhkan dipandang terlalu
golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam
berat.
Undang-Undang ini.
Uang pengganti kerugian itu dibebankan kepada
kas negara. Lembaga yang berhak mengambil
keputusan adalah pengadilan yang telah mengadili Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah
perkara tindak pidana ekonomi itu dalam tingkat maupun sintetis bukan narkotika, yang berkasiat
penghabisan. psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas 3. Jual beli narkotika.
pada aktivitas mental dan perilaku. Ini pada umumnya dilatarbelakangi oleh motivasi
untuk mencari keuntungan materil, namun ada juga
2. Jenis-Jenis Narkotika karena motivasi untuk kepuasan.
Jenis-jenis narkotika di dalam Undang-Undang No.
35 Tahun 2009 tentang Narkotika 3. Sanksi-Sanksi Pidana Terhadap Tindak
Pidana Narkotika
Pasal 6: Sanksi hukum berupa pidana, diancamkan kepada
pembuat tindak pidana kejahatan dan pelanggaran
(punishment) adalah merupakan ciri perbedaan
(1) Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 hukum pidana dengan jenis hukum yang lain.
digolongkan ke dalam: Sanksi pidana umumnya adalah sebagai alat
pemaksa agar seseorang mentaati norma-norma
1. Narkotika Golongan I; yang berlaku, dimana tiap-tiap norma mempunyai
2. Narkotika Golongan II; dan sanksi sendiri-sendiri dan pada tujuan akhir yang
3. Narkotika Golongan III. diharapkan adalah upaya pembinaan (treatment).
Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
tentang Psikotropika, bahwa Psikotropika yang Pasal 10 diatur mengenai jenis-jenis pidana atau
mempunyai potensi mengakibatkan sindroma hukuman.
ketergantungan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) digolongkan menjadi: 1. Pidana Pokok:
Pidana mati
1. Psikotropika golongan I; Pidana penjara
2. Psikotropika golongan II; Kurungan
3. Psikotropika golongan III; Denda
4. Psikotropika golongan IV. 2. Pidana Tambahan
1. Kebijakan Kriminalisasi Tindak Pidana Pencabutan hak-hak tertentu
Narkotika Perampasan barang-barang
1. Pokok-Pokok Pengertian Tindak tertentu
Pidana Narkotika Pengumuman putusan hakim
Tindak Pidana Narkotika dapar diartikan dengan
Ketentuan Pidana mengenai tindak pidana
suatu perbuatan yang melanggar ketentuan-
narkotika, diatur dalam Undang-Undang No. 35
ketentuan hokum narkotika, dalam hal ini adalah
Tahun 2009 tentang Narkotika, sebagai berikut:
Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 dan ketentuan-
ketentuan lain yang termasuk dan atau tidak
bertentangan dengan undang-undang tersebut. [13] Pasal 74
2. Bentuk-Bentuk Tindak Pidana Narkotika
Menurut Ketentuan Hukum Pidana para pelaku (1) Perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap
tindak pidana itu pada dasarnya dapat dibedakan: Narkotika dan Prekursor Narkotika, termasuk
perkara yang didahulukan dari perkara lain untuk
1. Pelaku utama; diajukan ke pengadilan guna penyelesaian
2. Pelaku peserta; secepatnya.
3. Pelaku pembantu. [14]
Bentuk tindak pidana narkotika yang umum dikenal (2) Proses pemeriksaan perkara tindak pidana
antara lain berikut ini: Narkotika dan tindak pidana Prekursor Narkotika
pada tingkat banding,tingkat kasasi, peninjauan
1. Penyalahgunaan/melebihi dosis; hal ini kembali, dan eksekusi pidana mati, serta proses
disebabkan oleh banyak hal. pemberian grasi, pelaksanaannya harus dipercepat
2. Pengedaran narkotika, karena keterikatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
dengan sesuatu mata rantai peredaran narkotika,
baik nasional maupun internasional. Pasal 111
(1) Setiap orang yang tanpa hak atau melawan Pasal 127 ayat (1), Pasal 128 ayat (1), dan Pasal
hukum menanam, memelihara, memiliki, 129 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
menyimpan, menguasai, atau menyediakan (satu) tahun atau pidana denda paling banyak
Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun Pasal 132
dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00
(delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah). (1) Percobaan atau permufakatan jahat untuk
melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor
Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111,
(2) Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal
memiliki, menyimpan, menguasai, atau 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120,
menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal
tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana
beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 dengan pidana penjara yang sama sesuai dengan
(lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara Pasal tersebut.
paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20
(dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud
(sepertiga). dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114,
Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal
119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123,
Pasal 130 Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129
dilakukan secara terorganisasi, pidana penjara dan
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pidana denda maksimumnya ditambah 1/3
dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, (sepertiga).
Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal
119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, (3) Pemberatan pidana sebagaimana dimaksud pada
Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129 ayat (2) tidak berlaku bagi tindak pidana yang
dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan diancam dengan pidana mati, pidana penjara
denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat seumur hidup, atau pidana penjara 20 (dua puluh)
dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda tahun.
dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda
sebagaimana dimaksud dalam Pasal-Pasal tersebut.
Sedangkan ketentuan pidana mengenai tindak
pidana psikotropika diatur dalam Undang-Undang
(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, sebagai
pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhi pidana berikut:
tambahan berupa:

Pasal 59
1. pencabutan izin usaha; dan/atau
2. pencabutan status badan hukum.
Pasal 131 (1) Barang siapa :

Setiap orang yang dengan sengaja tidak 1. menggunakan psikotropika golongan 1


melaporkan adanya tindak pidana sebagaimana selain dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2); atau
dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, 2. memproduksi dan/atau menggunakan
Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, dalam proses produksi psikotropika golongan 1
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6; atau
3. mengedarkan psikotropika golongan 1
Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3); atau
4. mengimpor psikotropika golongan 1 selain memungkinkan terjadinya penyuapan, pemalsuan
untuk kepentingan llmu Pengetahuan; atau serta berbagai ketidakberesan lainnya.
5. secara tanpa hak memiliki, menyimpan [15] Pengertian korupsi menurut pendapat para
dan/atau membawa psikotropika golongan 1 ahli: (1) Andi Hamzah: Korupsi berasal dari kata
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 corruption atau corruptus yang secara harfiah
(empat) tahun, paling lama 15 (lima belas) berarti kebusukan, keburukan, ketidakjujuran, dan
tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. tidak bermoral;[16] (2) Robert Klitgaard:
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah), Korupsi ada apabila seseorang secara tidak sah
dan paling banyak Rp.750.000 000,00 (tujuh meletakkan kepentingan pribadi diatas kepentingan
ratus lima puluh juta rupiah). masyarakat dan sesuatu yang dipercayakan
(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada kepadanya untuk dilaksanakan.[17] Berdasarkan
ayat (1) dilakukan secara terorganisasi dipidana pengertian-pengertian tersebut diatas dapat
dengan pidana mati atau pidana penjara seumur diketahui bahwa pengertian korupsi adalah
hidup atau pidana penjara selama 20 (dua puluh) penyalahgunaan wewenang demi kepentingannya
tahun dan pidana denda sebesar Rp. sendiri.
750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Dalam konteks kriminologi atau ilmu tentang
kejahatan ada Sembilan tipe korupsi yaitu:
(3) Jika tindak pidana dalam pasal ini dilakukan
oleh korporasi, maka di samping dipidananya 1. Political bribery adalah termasuk
pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan kekuasaan dibidang legislatif sebagai badan
pidana denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima pembentuk undang-undang. Secara politis
milyar rupiah). badan tersebut dikendalikan oleh suatu
kepentingan karena dana yang dikeluarkan pada
Pasal 69 masa pemilihan umum sering berkaitan dengan
aktivitas perusahaan tertentu. Para pengusaha
berharap anggota yang duduk di parlemen dapat
Percobaan atau perbantuan untuk melakukan tindak membuat aturan yang menguntungkan mereka.
pidana psikotropikasebagaimana diatur dalam 2. Political kickbacks, yaitu kegiatan-
Undang-Undang ini dipidana sama dengan jika kegiatan yang berkaitan dengan sistem kontrak
tindak pidana tersebut dilakukan. pekerjaan borongan antara pejabat pelaksana
dan pengusaha yang memberi peluang untuk
Pasal 70 mendatangkan banyak uang bagi pihak-pihak
yang bersangkutan.
3. Election fraud adalah korupsi yang
Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana
berkaitan langsung dengan kecurangan
dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal
pemilihan umum.
63, dan Pasal 64 dilakukan oleh korporasi, maka di
4. Corrupt campaign practice adalah praktek
samping dipidananya pelaku tindak pidana, kepada
kampanye dengan menggunakan fasilitas
korporasi dikenakan pidana denda sebesar 2 (dua)
Negara maupun uang Negara oleh calon yang
kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana
sedang memegang kekuasaan Negara.
tersebut dan dapat dijatuhkan pidana tambahan
5. Discretionary corruption yaitu korupsi
berupa pencabutan izin usaha.
yang dilakukan karena ada kebebasan dalam
menentukan kebijakan.
6. Illegal corruption ialah korupsi yang
BAB IV dilakukan dengan mengacaukan bahasa hukum
TINDAK PIDANA KORUPSI atau interpretasi hukum. Tipe korupsi ini rentan
dilakukan oleh aparat penegak hukum, baik itu
1. Pengertian Tindak Pidana Korupsi polisi, jaksa, pengacara, maupun hakim.
Istilah korupsi berasal dari kata Latin corruptio 7. Ideological corruption ialah perpaduan
artinya penyuapan, dan corrumpere diartikan antara discretionary corruption dan illegal
merusak. Gejala dimana para pejabat badan-badan corruption yang dilakukan untuk tujuan
negara menyalahgunakan jabatan mereka, sehingga kelompok.
8. Mercenary corruption yaitu 1. Subyek Hukum dan
menyalahgunakan kekuasaan semata-mata Pertanggungjawaban Tindak Pidana
untuk kepentingan pribadi. Korupsi
Dalam konteks hukum pidana, tidak semua tipe 2. Subyek Hukum Tindak Pidana Korupsi
korupsi yang kita kenal diatas dikualifikasikan Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999
sebagai perbuatan pidana. Oleh Karena itu, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
perbuatan apa saja yang dinyatakan sebagai No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
korupsi, kita harus merujuk pada undang-undang Pidana Korupsi dalam ketentuan Bab I, II, III dapat
pemberantasan korupsi.[18] disimpulkan bahwa subyek hukum dalam tindak
Pengertian korupsi diatur juga dalam Undang- pidana korupsi adalah:
Undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 1. Korporasi: kumpulan orang atau kekayaan
2001, yaitu: yang terorganisasi baik merupakan badan
hukum maupun bukan badan hukum.
1. Pasal 2 ayat (1): Tindak Pidana Korupsi 2. Pegawai Negeri:
adalah setiap orang yang secara melawan Menurut Undang-Undang No. 43
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi Kepegawaian, bahwa pegawai negeri adalah
yang dapat merugikan keuangan negara atau orang yang memenuhi syarat perundang-
perekonomian negara, dipidana undangan diangkat oleh pejabat yang
2. Pasal 3: Setiap orang yang dengan tujuan berwenang, diserahi tugas jabatan negeri
menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau atau tugas lainnya serta digaji menurut
suatu korporasi, menyalahgunakan undang-undang yang berlaku.
kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada Menurut Kitab Undang-Undang
padanya karena jabatan atau kedudukan yang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 92, pegawai
dapat merugikan keuangan negara atau negeri adalah:
perekonomian negara, dipidana .. Orang yang dipilih dalam pemilihan yang
3. Barangsiapa melakukan tindak pidana diadakan berdasarkan aturan-aturan umum,
tersebut dalam KUHP yang ditarik sebagai begitu juga orang-orang yang bukan karena
tindak pidana korupsi, yang berdasarkan pemilihan menjadi anggota badan pembentuk
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 undang-undang badan pemerintahan, badan
rumusannya diubah dengan tidak mengacu perwakilan rakyat, yang dibentuk oleh
pasal-pasal dalam KUHP tetapi langsung pemerintah atau atas nama pemerintah; begitu
menyebutkan unsur-unsur yang terdapat dalam juga semua anggota dewan subak, semua kepala
masing-masing Pasal KUHP. rakyat Indonesia asli dan kepala golongan timur
4. Dalam Undang-Undang No. 28 Tahun asing yang menjalankan kekuasaan sah.
1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Hakim termasuk ahli memutus
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan perselisihan (wasit) yang menjalankan peradilan
Nepotisme. Pada Pasal 1 butir 3, dimuat administrasi, ketua/anggota peradilan agama.
pengertian korupsi sebagai berikut: korupsi Anggota angkatan perang.
adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud Penerima gaji atau upah dari keuangan
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
negara atau daerah.
yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.
Penerima gaji atau upah dari korporasi
Berdasarkan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999
yang menerima bantuan dari keuangan negara
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No.
atau daerah.
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Penerima gaji atau upah dari korporasi
Pidana Korupsi dalam ketentuan Bab I, II, III dapat
lain yang menggunakan modal atau fasilitas dari
disimpulkan bahwa subyek hukum dalam tindak
negara atau masyarakat.
pidana korupsi adalah korporasi dan pegawai
1. c. Setiap orang adalah orang perorangan
negeri.
atau termasuk korporasi.
Setiap orang yang dimaksud disini adalah orang per
orang atau individu-individu. Menurut Moelyatno,
pengertian diatas mengandung arti bahwa orang mensyaratkan adanya sifat limitatif (terbatas) dan
tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi eksepsional (khusus). Dari pendekatan doktrin dan
pidana), kalau dia tidak melakukan delik, tetapi komparasi sistem hukum pidana, makna atau arti
meskipun dia melakukan delik tidak selalu Terbatas atau Khusus dari implementasi Sistem
dipidana.[19] Pembalikan Beban Pembuktian (di Indonesia
1. Sistem Peradilan Tindak Pidana nantinya) adalah:
Korupsi
Dalam sistem peradilan tindak pidana korupsi, 1. Bahwa Sistem Pembalikan Beban
hakim dapat menerapkan sistem pembuktian Pembuktian hanya terbatas dilakukan terhadap
terbalik. Sedangkan istilah Sistem Pembuktian delik gratification (pemberian) yang
Terbalik telah dikenal oleh masyarakat sebagai berkaitan dengan bribery (suap), dan bukan
bahasa yang dengan mudah dapat dicerna pada terhadap delik-delik lainnya dalam tindak
masalah dan salah satu solusi pemberantasan pidana korupsi. Delik-delik lainnya dalam UU
korupsi. Istilah ini sebenarnya kurang tepat, apabila No. 31 Tahun 1999 yang tertuang dalam Pasal 2
dilakukan pendekatan gramatikal. Dari sisi bahasa sampai dengan Pasal 16 beban pembuktiannya
dikenal sebagai Omkering van het Bewijslast atau tetap berada pada Jaksa Penuntut Umum.
Reversal Burden of Proof yang bila secara bebas 2. Bahwa Sistem Pembalikan Beban
diterjemahkan menjadi Pembalikan Beban Pembuktian hanya terbatas dilakukan terhadap
Pembuktian. Sebagai asas universal, memang perampasan dari delik-delik yang didakwakan
akan menjadi pengertian yang bias apabila terhadap siapapun sebagaimana tertuang dalam
diterjemahkan sebagai pembuktian terbalik. Pasal 2 sampai dengan Pasal 16 UU No. 31
Disini ada suatu beban pembuktian yang diletakkan Tahun 1999. Perlu ditegaskan pula bahwa
kepada salah satu pihak, yang universalitas terletak sistem pembuktian terhadap dugaan
pada Penuntut Umum, namun mengingat adanya pelanggaran pada Pasal 2 sampai dengan Pasal
sifat kekhususan yang sangat mendesak beban 16 UU No. 31 Tahun 1999 tetap dibebankan
pembuktian itu diletakkan tidak lagi pada diri kepada Jaksa Penuntut Umum. Hanya saja,
Penuntut Umum, tetapi kepada Terdakwa. Proses apabila Terdakwa berdasarkan tuntutan Jaksa
pembalikan beban dalam pembuktian inilah yang Penuntut Umum dianggap terbukti melakukan
kemudian dikenal sebagai Pembalikan Beban pelanggaran salah satu dari delik-delik tersebut
Pembuktian yang bagi masyarakat awam hukum dan dikenakan perampasan terhadap harta
(lay-man) cukup dikenal dengan istilah Sistem bendanya. Terdakwa wajib membuktikan
Pembuktian Terbalik. (berdasarkan sistem pembalikan beban
Darwan Prinst mengemukakan pendapatnya pembuktian) bahwa harta bendanya bukan
mengenai pembuktian terbalik dalam Undang- berasal dari tindak pidana korupsi.
Undang No. 20 Tahun 2001 sebagai berikut: Pada 3. Bahwa Sistem Pembalikan Beban
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 dilahirkan Pembuktian hanya terbatas penerapan asas Lex
suatu sistem pembuktian terbalik yang khusus Temporis-nya, artinya sistem ini tidak dapat
diberlakukan untuk tindak pidana korupsi. Menurut diberlakukan secara Retroaktif (berlaku surut)
sistem pembuktian terbalik, terdakwa harus karena potensiel terjadinya pelanggaran Hak
membuktikan bahwa gratifikasi bukan merupakan Asasi Manusia (HAM), pelanggaran terhadap
suap. Jadi, dengan demikian berlaku asas praduga asas legalitas, dan menimbulkan apa yang
tak bersalah.[20] dinamakan asas Lex Talionis (balas dendam).
Selain yang disebutkan diatas, pembuktian terbalik 4. Bahwa Sistem Pembalikan Beban
juga diberlakukan terhadap tuntutan perampasan Pembuktian hanya terbatas dan tidak
harta benda terdakwa yang diduga berasal dari diperkenankan menyimpang dari asas Daad-
salah satu tindak pidana korupsi sebagaimana daderstrafrecht. KUHPidana yang
dimaksud dalam Pasal 2, 3, 4, 13, 14, 15 dan 16 direncanakan bertolak dari pokok pemikiran
Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 dan Pasal 15- keseimbangan monodualistik, dalam arti
21 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. memperhatikan keseimbangan dua kepentingan,
antara kepentingan masyarakat dan kepentingan
Sedangkan Fungsi Sistem Pembuktian Terbalik individu, artinya Hukum Pidana yang
atau Sistem Pembalikan Beban Pembuktian memperhatikan segi-segi obyek dari perbuatan
(daad) dan segi-segi subyektif dari isteri atau suami, anak, dan harta benda setiap
orang/pembuat (dader). Dari pendekatan ini, orang atau korporasi yang diduga mempunyai
sistem pembalikan beban pembuktian sangat hubungan dengan perkara yang bersangkutan.
tidak diperkenankan melanggar kepentingan Apabila terdakwa mampu membuktikan tidak
dan hak-hak prinsipiel dari pembuat/pelaku melakukan tindak pidana korupsi, hal ini dapat
(tersangka/terdakwa). Bahwa penerapan sistem dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan
pembalikan beban pembuktian ini sebagai terdakwa dan apabila terdakwa gagal membuktikan
realitas yang tidak dapat dihindari, khususya harta benda yang tidak seimbang dengan
terjadinya minimalisasi hak-hak dari dader penghasilan atau sumber penambahan
yang berkaitan dengan asas non self- kekayaannya, hal ini dapat memperkuat alat bukti
incrimination dan presumption of innocence, bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana
namun demikian adanya suatu minimalisasi korupsi. Disebut pembuktian terbalik yang terbatas
hak-hak tersebut sangat dihindari akan karena jaksa masih tetap berkewajiban untuk
terjadinya eliminasi hak-hak tersebut, dan membuktikan dakwaannya, baik terdakwa berhasil
apabila terjadi, inilah yang dikatakan bahwa maupun gagal membuktikan tindak pidana korupsi
sistem pembalikan beban pembuktian adalah maupun dalam hal pemilikan harta benda.[23]
potensiel terjadinya pelanggaran HAM.[21] Pembuktian dalam proses beracara merupakan hal
Dari penjelasan tersebut diatas, ada 2 (dua) hal yang sangat penting dan menentukan, karena dari
pokok yang harus menjadi atensi semua pihak sinilah hakim dapat mengambil keputusan apakah
berkaitan dengan Sistem Pembalikan Beban seorang terdakwa dinyatakan telah bersalah
Pembuktian yang rencananya akan diterapkan melakukan perbuatan yang didakwakan oleh
dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia. Bahwa penuntut umum atau tidak. Pembuktian terbalik
Sistem Pembalikan Beban Pembuktian diterapkan yang terbatas dalam tindak pidana korupsi
secara terbatas dan khusus hanya terhadap 2 (dua) merupakan penyimpangan dari asas yang dianut
perbuatan saja, yaitu penyuapan dan perampasan dalam KUHAP, terutama terkait dengan kedudukan
harta benda terdakwa. terdakwa. Dalam Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang
No. 31 Tahun 1999 dinyatakan bahwa: Terdakwa
Asas Pembalikan Beban Pembuktian merupakan mempunyai hak untuk membuktikan dirinya tidak
suatu sistem pembuktian yang berada di luar melakukan tindak pidana korupsi.
kelaziman teoritis pembuktian dalam Hukum
(Acara) Pidana yang universal. Dalam Hukum Dari pasal tersebut maka dapat dikatakan bahwa
Pidana (Formil), baik sistem kontinental maupun pembuktian selain merupakan kewajiban Jaksa
anglo-saxon, mengenal pembuktian dengan tetap Penuntut Umum juga merupakan hak terdakwa.
membebankan kewajibannya pada Jaksa Penuntut Apabila terdakwa mempergunakan haknya dan
Umum, hanya saja dalam certain cases (kasus- dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah
kasus tertentu) diperkenankan penerapan dengan maka hal tersebut merupakan hal yang
mekanisme yang diferensial, yaitu Sistem menguntungkan posisinya demikian juga
Pembalikan Beban Pembuktian atau dikenal sebaliknya apabila terdakwa tidak dapat
sebagai Reversal of Burden Proof (Omkering membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan
van Bewijslast), itupun tidak dilakukan korupsi maka hal tersebut akan memperlemah
secara overall, tetapi memiliki batas-batas yang posisinya. Disisi yang lain terdakwa wajib untuk
seminimal mungkin tidak melakukan suatu memberikan keterangan tentang harta bendanya,
destruksi terhadap perlindungan dan penghargaan isteri, suami, dan anak-anaknya serta harta benda
Hak Asasi Manusia, khususnya Hak setiap orang atau korporasi yang diduga
Tersangka/Terdakwa.[22] berhubungan dengan perkara yang didakwakan, hal
Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 menerapkan itu termuat dalam Pasal 37 ayat (3) Undang-
asas pembuktian terbalik yang bersifat terbatas atau Undang No. 31 Tahun 1999: Terdakwa wajib
berimbang sebagaimana ketentuan dalam Pasal 37 memberikan keterangan tentang seluruh harta
yang mengatur terdakwa mempunyai hak untuk bendanya, harta benda isteri atau suami, anak-
membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak anaknya serta harta benda setiap orang atau
pidana korupsi dan wajib memberikan keterangan korporasi yang diduga mempunyai hubungan
tentang seluruh harta bendanya dan harta benda dengan perkara yang bersangkutan.
Terhadap pembuktian terdakwa penuntut umum telah berlaku seperti ketentuan perampasan dan
tetap berkewajiban untuk membuktikan penyitaan dalam KUHAP dan ketentuan di luar
dakwaannya seperti yang termuat dalam Pasal 37 KUHP atau KUHAP seperti Undang-Undang
ayat (5) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Pemberantasan Korupsi dan UU Pencucian Uang.
sebagai berikut: Dalam hal terdakwa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan Masalah relevansi RUU PA saat ini terkait langah
ayat (5), penuntut umum tetap berkewajiban untuk pemerintah dalam pemberantasan korupsi terutama
membuktikan dakwaannya. UU No. 20 Tahun upaya pengembalian kerugian Negara termasuk
2001 menerapkan pembuktian terbalik murni dan yang telah dilarikan ke Negara lain, tampak bahwa
pembuktian terbalik yang terbatas. Pembuktian RUU tersebut sangat penting dan mendesak.
terbalik diterapkan dalam tindak pidana gratifikasi Mengapa?
dan tuntutan perampasan harta benda terdakwa pertama, pengalaman pahit dalam hal
yang bukan didakwakan tetapi diduga berasal dari pengembalian kerugian Negara selama 30
tindak pidana korupsi. Pembuktian terbalik (tigapuluh) tahun lebih tidak memberikan
diberlakukan terhadap harta benda milik terdakwa kontribusi signifikan terhadap kas Negara.Bahkan
yang belum didakwakan, tetapi diduga berasal dari sebaliknya, laporan BPK tahun 2006 tentang
tindak pidana korupsi, dan terdakwa wajib setoran Kejaksaan Agung sebesar 6 (enam) trilyun
membuktikan sebaliknya. Apabila terdakwa rupiah, sampai saat ini raib entah kemana. Begitu
berhasil membuktikan harta benda bukan berasal juga pemasukan biaya perkara kepada Negara
dari tindak pidana korupsi, tidak dapat dilakukan sampai saat ini masih dipermasalahkan sehingga
perampasan, tetapi tidak demkian apabila menimbulkan silang sengketa antara MA dan BPK.
sebaliknya sebagaimana diatur dalam Pasal 38 B
ayat (1) sampai ayat (6) UU No. 20 Tahun 2001.
Kedua, Keadaan APBN yang masih sangat terbatas
untuk membiayai kegiatan operasional penegakan
hukum terutama pemberantasan korupsi
1. Masalah Pengembalian Asset Negara menimbulkan hambatan sehingga gerak langkah
Pasca Ratifikasi Konvensi Anti Korupsi 2003 penegakan hukum tidak maksimal. Bahkan jika
(UNCAC 2003) diungkap secara terbuka mungkin akan besar pasak
Di dalam Program Legislasi Nasional untuk tahun daripada tiang. Ketiga, Gerakan pemberantasan
2008 yang telah disetujui Pemerintah dan DPR RI, korupsi internasional yang dipelopori Bank Dunia
Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset dan UNODC, STAR Initiative dengan mengacu
(RUU PA) termasuk salah satu prioritas program kepada Konvensi PBB Anti Korupsi (KAK PBB)
RUU yang akan dibahas mulai tahun 2008, di juga telah mengisyaratkan agar masalah
samping RUU Pengadilan TIPIKOR; RUU pengembalian asset hasil kejahatan terutama untuk
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dan RUU tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat
Perubahan UU Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK. khususnya mengatasi kemiskinan global,
Keempat paket RUU tsb di atas akan merupakan merupakan prioritas utama yang tidak boleh
bench-mark yang amat menentukan dalam diabaikan. Keempat, perangkat hukum yang
sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia untuk berlaku di Indonesia saat ini belum mampu secara
masa yang akan datang. maksimal mengatur dan menampung kegiatan-
kegiatan dalam rangka pengembalian asset hasil
RUU PA merupakan RUU terbaru dari keempat korupsi dan kejahatan di bidang keuangan dan
paket ruu tsb sebagai konsekuensi politik dari perbankan pada umumnya. Ketentuan perundang-
ratifikasi terhadap Konvensi PBB Anti Korupsi undangan KUHAP dan UU Pemasyarakatan yang
(KAK PBB,2003) dengan Undang-undang Nomor mengatur tentang Rumah Penyimpanan Benda
7 tahun 2006. Pertanyaan pertama yang patut Sitaan (Rupbasan) tidak khusus ditujukan untuk
diajukan adalah, relevankah saat ini diajukan suatu mengatur pemulihan asset/pengembalian asset hasil
Rancangan Undang-undang tentang Perampasan kejahatan kecuali untuk penyimpanan benda-benda
Aset (RUU PA), dan bagaimanakah kiranya yang sitaan Negara akibat putusan pengadilan melalui
merupakan landasan pemikiran diperlukannya proses penuntutan pidana.
suatu pengaturan secara khusus dan tersendiri, di Sedangkan RUU PA justru akan mengatur juga
luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang asset-aset hasil kejahatan baik yang dirampas
sementara atau yang disita setelah memperoleh membuktikan bahwa asset-aset yang disimpan di
putusan pengadilan yang telah memperoleh Negara yang diminta adalah benar asset hasil
kekuatan hukum tetap, atau asset yang berhasil kejahatan dan dimiliki oleh tersangka/terdakwa
dikembalikan melalui gugatan keperdataan yang untuk mana asetnya dituntut untuk dikembalikan ke
dilakukan oleh pihak pemerintah. Selain itu RUU Negara peminta; Negara Peminta harus
PA tsb diharapkan dapat mengatur pengelolaan membuktikan bahwa proses peradilan terhadap
asset hasil kejahatan seefisien dan sefektif mungkin tersangka/terdakwa untuk mana asetnya hendak
baik untuk kepentingan pelaksanaan operasional ditrariik kembali ke Negara asalnya telah berjalan
penegakan hukum maupun untuk mengisi kas sesuai dengan prinsip-prinsip umum internasional
Negara. Bahkan merujuk kepada KAK PBB yang mengenai fair trial dan due process of law.
telah diratifikasi dengan UU Nomor 7 tahun 2006, Masih banyak persyaratan-persyaratan lainnya
kepentingan pihak ketiga yang beritikad baik dan yang dituntut oleh Negara yang Diminta, antara
dirugikan karena tindak pidana korupsi, dapat lain, dalam kasus Filipina, harta kekayaan mantan
mengajukan tuntutan ganti rugi/klaim atas sebagian presiden Marcos, tidak langsung dikembalikan ke
dari asset yang telah disita dan ditampung dalam Filipina melainkan harus ditempatkan di suatu
lembaga pengelola asset berdasarkan RUU PA. escrow account Bank di Swiss. Pencairan dan
Untuk tujuan ini memang diperlukan lembaga pengembalian harta dimaksud hanya atas perintah
khusus dan tersendiri untuk mengkelola asset hasil Pengadilan Filipina yang benar fair dan
kejahatan termasuk korupsi, bersifat independent, independent. Untuk kasus Nigeria, pengembalian
dikelola secara transparan dan bertanggung jawab harta kekayaan Sani Abacha harus disertai jaminan
serta professional. Ketentuan tentang Rupbasan bahwa, penggunaan harta kekayaan dimaksud
yang berada dalam lingkup UU Pemasyarakatan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan
masih jauh dari memadai untuk tujuan sebagaimana rakyat Nigeria; bahkan sebagian digunakan untuk
disampaikan di atas; apalagi kepercayaan akan membayar hutang-hutang luar negeri Negara yang
kredibilitas pemasyarakatan dalam mengkelola bersangkutan.
tugas pokoknya masih jauh dari harapan Proses pengembalian asset dengan berbagai
masyarakat luas. persyaratan-persyaratan tersebut di atas merupakan
suatu kebiasaan yang tumbuh dan berkembang
Kelima, RUU Perampasan Aset sangat relevan dalam praktik hukum internasional khususnya
dengan maksud dan tujuan pengembalian asset dalam pemberantasan korupsi, dan sekaligus
hasil kejahatan tsb di atas. Bahkan RUU PA tsb merupakan preseden di masa yad bagi setiap
harus diperluas lingkup dan objek pengaturannya, Negara yang memiliki kebijakan hukum dengan
termasuk asset-aset kejahatan yang dapat tujuan pengembalian asset hasil kejahatan /korupsi;
dikembalikan tidak saja melalui tuntutan pidana kebijakan hukum dimaksud tidak dapat kita ingkari
(penuntutan) melainkan juga asset yang dapat kenyataan di mana kejahatan telah bersifat
dikembalikan melalui gugatan perdata yang transnasional dan asset hasil kejahatan selalu saja
dilakukan oleh pemerintah atas asset seorang lebih cepat berhasil ditempatkan di Negara lain jika
tersangka/terdakwa yang ditempatkan di Negara dibandingkan dengan keberhasilan suatu
lain. Negara/aparat penegak hukum mengembalikan
asset dimaksud dengan cepat dan mudah ke
Negara-nya.
Keenam, pengalaman pengembalian asset hasil
korupsi dalam kasus Marcos (Filipina) , Sani
Abacha (Nigeria) , dan Fujimori (Peru) telah Berkaca kepada pengalaman pengembalian asset
terbukti bahwa, proses pengembalian asset tersebut korupsi dari negara-negara tersebut, dan hukum
tidak semudah apa yang telah dituliskan di dalam kebiasaan internasional yang telah berlaku di
KAK PBB tsb. Bahkan dalam beberapa hal proses dalamnya, jelas bahwa ketentuan peraturan
pengembalian asset tersebut tidak serta berjalan perundang-undangan dalam pemberantasan
mulus karena masih ada beberapa persyaratan kejahatan termasuk korupsi dan pencucian uang
khusus (conditional recovery) yang diminta oleh yang berlaku di Indonesia saat ini belum cukup
Negara Yang Diminta (Requested State) dan harus memadai jika ditujukan menyelamatkan asset-aset
dipenuhi oleh Negara peminta (Requesting State), hasil kejahatan tersebut dari Negara lain untuk
antara lain, Negara peminta harus dapat
kepentingan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan pihak rakyat kepada Kas Negara untuk
rakyat dan mengatasi kemiskinan.[24] membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya
BAB V digunakan untuk public saving yang merupakan
TINDAK PIDANA PERPAJAKAN sumber utama untuk membiayai public
investment.
1. Pengertian Tindak Pidana Perpajakan
Pajak dalam istilah asing disebut: tax (Inggris); 1. Karakteristik Tindak Pidana
import contribution, taxe, droit (Perancis); Steuer, Perpajakan
Abgabe, Gebuhr (Jerman); impuesto contribution, Tindak pidana dibidang perpajakan adalah
tributo, gravamen, tasa (Spannyol) dan belasting sebagaimana disebut dalam Pasal 38 dan Pasal 39
(Belanda). Dalam literature Amerika selain istilah UU KUP. Pasal 38 UU KUP merupakan ketentuan
tax dikenal pula istilah tarif. Pajak adalah iuran pidana yang dilakukan karena kealpaan Wajib
rakyat kepada kas negara berdasarkan undang- Pajak karena tidak menyampaikan SPT atau
undang (sehingga dapat dipaksakan) dengan tiada menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau
mendapat balas jasa secara langsung. Pajak tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang
dipungut penguasa berdasarkan norma-norma isinya tidak benar, sehingga dapat menimbulkan
hukum guna menutup biaya produksi barang- kerugian pada pendapatan negara. Kealpaan yang
barang dan jasa kolektif untuk mencapai dimaksud berarti tidak sengaja, lalai, tidak hati-
kesejahteraan umum. Pajak adalah bantuan baik hati, atau kurang mengindahkan kewajibannya.
langsung maupun tidak langsung yang dipaksakan
oleh kekuasan publik dari penduduk atau dari Selain karena kealpaan, tindak pidana perpajakan
barang utk menutup belanja pemerintah. Pajak juga juga dapat terjadi karena kesengajaan. Hal ini
berarti bantuan uang secara insidental atau secara diatur dalam Pasal 39 UU KUP. Secara ringkas
periodik yang dipungut oleh badan yang bersifat tindak pidana yang dapat menimbulkan kerugian
umum (negara) untuk memperoleh pendapatan pada pendapatan negara itu meliputi:[25]
tanpa adanya kontraprestasi, di mana terjadi suatu 1. Tidak mendaftarkan diri, atau
taabestand dan sasaran pajak telah menimbulkan menyalahgunakan NPWP;
utang pajak karena UU. 2. Tidak menyampaikan SPT;
3. Menyampaikan SPT dan keterangan yang
Terdapat bermacam-macam batasan atau definisi isinya tidak benar atau tidak lengkap;
tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli 4. Menolak dilakukan pemeriksaan;
diantaranya adalah : 5. Memperlihatkan pembukuan, pencatatan,
atau dokumen lain yang palsu;
1. Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani, pajak 6. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau
adalah iuran masyarakat kepada negara (yang pencatatan, tidak memperlihatkan atau tidak
dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang meminjamkan pembukuan;
wajib membayarnya menurut peraturan- 7. Tidak menyetorkan pajak yang telah
peraturan umum (undang-undang) dengan tidak dipotong atau dipungut.
mendapat prestasi kembali yang langsung dapat 1. Pemeriksaan Pajak dalam Self
ditunjuk dan gunanya adalah untuk membiayai Assesment
pengeluaran-pengeluaran umum berhubung Pemeriksaan pajak boleh dikatakan merupakan
tugas negara untuk menyelenggarakan langkah awal Direktorat Jenderal Pajak dalam
pemerintahan. melakukan penegakan hukum dibidang perpajakan.
2. Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro Menurut International Tax Glossary, pemeriksaan
SH, pajak adalah iuran rakyat kepada Kas pajak atau tax audit disefinisikan: Tax audit is an
Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat investigation carried out by tax authorities, of
dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal taxpayers books and accounts and/or the general
(kontra prestasi/tegen prestasi) yang langsung accuracy of returns and declarations either as a
dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk routine operation, or where evasion is suspected.
membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut Pemeriksaan pajak adalah pemeriksaan yang
kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai dilakukan oleh pemeriksa pajak yang berwenang
berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari terhadap buku-buku dan dokumen rekening bank
Wajib Pajak, baik dalam rangka pemeriksaan ruti Tujuan pemeriksaan pajak meliputi 2 kategori,
maupun pemeriksaan khusus adanya dugaan yaitu:[27]
penggelapan pajak. 1. Untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan agar diperoleh kepastian
Sedangkan menurut ketentuan perpajakan hukum, keadilan dan pembinaan kepada Wajib
Indonesia, pengertian pemeriksaan pajak diatur Pajak, antara lain dalam hal:
dalam Pasal 1 angka 24 Undang-Undang Nomor 6 2. SPT menunjukkan kelebihan pembayaran
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata pajak, termasuk yang telah diberikan
Cara Perpajakan (dikenal sebagai UU KUP) pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir 3. SPT Tahunan PPh menunjukkan rugi.
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000, 4. SPT yang disampaikan atau disampaikan
bahwa pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan tidak pada waktu yang telah ditetapkan.
untuk mencari, mengumpulkan, mengolah data dan 5. SPT yang memenuhi kriteria seleksi yang
atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak.
pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan 6. Ada indikasi kewajiban perpajakan tidak
lain dalam rangka melaksanakan ketentuan dipatuhi oleh Wajib Pajak.
peraturan perundang-undangan perpajakan. 7. Untuk tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan, misalnya:
Dasar hukum pelaksanaan pemeriksaan pajak 8. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak
diatur dalam Pasal 29 UU KUP dan aturan (NPWP) secara jabatan atau penghapusan
pelaksanaannya dengan Keputusan Menteri NPWP.
Keuangan Nomor 545/KMK.04/2000 yang 9. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan
menyatakan: Pengusaha Kena Pajak (PKP).
1. Direktur Jenderal Pajak berwenang 10. Wajib Pajak mengajukan keberatan.
melakukan pemeriksaan untuk menguji 11. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah
kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan terpencil.
dan untuk tujuan lain dalm rangka 12. Penentuan satu atau lebih tempat terutang
melaksanakan ketentuan peraturan perundang- PPN.
undangan. Dalam melaksanakan pemeriksaan pajak,
2. Untuk keperluan pemeriksaan petugas pemeriksa pajak berwenang untuk:[28]
pemeriksa harus memliki kartu tanda pengenal 1. Memeriksa dan atau meminjam buku-
pemeriksa dan dilengkapi dengan Surat Perintah buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen
Pemeriksaan kepada Wajib Pajak yang pendukungnya termausk keluaran atau media
diperiksa. computer dan perangkat elektronik pengolah
3. Wajib Pajak yang diperiksa wajib: data lainnya.
4. Memperlihatkan dan atau meminjamkan 2. Meminta keterangan lisan dan atau tertulis
buku atau catatan, dokumen yang menjadi dari Wajib Pajak yang diperiksa.
dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan 3. Memasuki tempat atau ruangan yang
dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan diduga merupakan tempat menyimpan
usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau obyek dokumen, uang, barang, yan dapat memberi
yang terutang pajak. petunjuk tentang keadaan usaha Wajib Pajak
5. Memberikan kesempatan untu memasuki dan atau tempat-tempat lain yang dianggap
tempat atau ruang yang dipandang dan memberi penting serta melakukan pemeriksaan di
bantuan guna kelancaran pemeriksaan. tempat-tempat tersebut.
6. Memberikan keterangan yang diperlukan. 4. Melakukan penyegelan tempat atau
7. Apabila dalam mengungkapkan ruangan tersebut pada huruf c, apabila Wajib
pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta Pajak atau wakil atau kuasanya tidak
keterangan yang diminta Wajib Pajak terikat memberikan kesempatan untuk memasuki
oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka tempat atau ruangan dimaksud, atau tidak ada di
kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan tempat pada saat pemeriksaan dilakukan.
oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.
[26]
5. Meminta keterangan dan atau data yang Sedangkan kewajiban Wajib Pajak dalam hal
diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai dilaksanakan pemeriksaan adalah sebagai berikut:
hubungan dengan Wajib Pajak yang diperiksa. [29]
Sedangkan kewajiban pemeriksaan pajak adalah 1. Dalam hal Pemeriksaan Kantor, Wajib
sebagai berikut: Pajak wajib memenuhi panggilan untuk dating
menghadiri pemeriksaan sesuai dengan waktu
1. Memberitahukan secara tertulis tentang yang ditentukan.
akan dilakukan pemeriksaan kepada Wajib 2. Memenuhi permintaan peminjaman buku,
Pajak. catatan-catatan, dan dokumen-dokumen yang
2. Memperlihatkan tanda pengenal diperlukan untuk kelancaran pemeriksaan dan
pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan memberikan keterangan dalam jangka waktu 7
Pajak (SP3) kepada Wajib Pajak. (tujuh) hari sejak tanggal surat permintaan.
3. Menjelaskan maksud dan tujuan 3. Memberi kesempatan kepada pemeriksa
pemeriksaan kepada Wajib Pajak yang akan untuk memasuki tempat atau ruangan yang
diperiksa. dipandang perlu.
4. Membuat Laporan Pemeriksaan Pajak. 4. Memberikan keterangan yang diperlukan
5. Memberitahukan secara tertulis kepada secara tertulis maupun lisan.
Wajib Pajak tentang hasil pemeriksaan berupa 5. Menandatangani surat persetujuan apabila
hal-hal yang berbeda antara SPT dengan hasil seluruh hasil pemeriksaan disetujui.
pemeriksaan. 6. Menandatangani Berita Acara Hasil
6. Memberi petunjuk kepada Wajib Pajak Pemeriksaan apabila hasil pemeriksaan tersebut
mengenai penyelenggaraan pembukuan atau tidak atau tidak seluruhnya disetujui.
pencatatan dan petunjuk lainnya mengenai 7. Menandatangani surat pernyataan
pemenuhan kewajiban perpajakan sehubungan penolakan pemeriksaan, apabila menolak
dengan pemeriksaan yang dilakukan. membantu kelancaran pemeriksaan.
7. Mengembalikan buku-buku, catatan- 8. Memberi kesempatan kepada pemeriksa
catatan, dan dokumen pendukung lainnya untuk melakukan penyegelan tempat atau
kepada Wajib Pajak paling lama 7 hari (untuk ruangan tertentu.
pemeriksaan kantor) dan 14 hari (untuk 1. Surat Ketetapan Pajak dan Surat
pemeriksaan lapangan) sejak selesainya Tagihan Pajak
pemeriksaan. Produk hukum yang dihasilkan dari dilakukannya
Dalam pelaksanaan pemeriksaan diatur pula pemeriksaan pajak adalah diterbitkannya ketetapan
kewajiban dan hak-hak Wajib Pajak. Hak-hak pajak yang dapat berupa surat ketetapan pajak
Wajib Pajak dalam pemeriksaan adalah sebagai (SKP) atau surat tagihan pajak (STP), kecuali
berikut: apabila pemeriksaan tersebut dilanjutkan dengan
tindakan penyidikan pajak.

1. Meminta kepada pemeriksa untuk


memperlihatkan Surat Perintah Pemeriksaan Pasal 1 angka 14 UU KUP. Surat Ketetapan Pajak
Pajak dan Tanda Pengenal Pemerintah. (SKP) adalah surat ketetapan yang meliputi Surat
2. Meminta kepada pemeriksa untuk Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau
menyerahkan Surat Pemberitahuan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
Pemeriksaan. (SKPKBT) atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
3. Meminta kepada pemeriksa untuk (SKPLB) atau Surat Ketetapan Pajak Nihil
memberikan penjelasan tentang maksud dan (SKPN).
tujuan pemeriksaan.
4. Meminta kepada pemeriksa mengenai Pasal 1 angka 19 UU KUP, Surat Tagihan Pajak
rincian yang berkenaan dengan hal-hal yang (STP) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak
berbeda antara hasil pemeriksaan dengan SPT. dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau
5. Memberikan tanda bukti peminjaman denda. Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (1) UU
buku/dokumen/catatan secara rinci. KUP menyatakan bahwa Surat Tagihan Pajak
(STP), SKPKB, dan SKPKBT merupakan dasar
untuk melakukan penagihan pajak.[30]
1. Penyidikan Pajak Pajak Badan adalah seseorang sebagai pengurus,
Apabila Wajib Pajak atau seseorang terdapat direksi, komisaris atau pemegang saham mayoritas.
indikasi atau petunjuk bahwa ia patut diduga
melakukan atau membantu perbuatan tindak pidana 2. Pejabat Pajak
dibidang perpajakan, maka akan dilaksanakan Pejabat pajak yang melanggar kewajiban untuk
penyidikan pajak, yang merupakan tindka lanjut merahasiakan semua data dan informasi yang
dari hasil pemeriksaan bukti permulaan. diketahuinya atau diberitahukan kepadanya oleh
Wajib Pajak kepada pihak lain yang tidak berhak,
Berdasarkan ketentuan Pasal 44 ayat (2) UU KUP, dapat dikenai hukuman pidana kurungan
Pejabat Penyidik Pajak mempunyai wewenang maksimum satu tahun dan denda setinggi-tingginya
untuk: Rp 4.000.000,- (emapat juta rupiah)

1. Menerima, mencari, mengumpulkan dan 3. Pihak Ketiga


meneliti keterangan atau laporan berkenaan 4. Pihak ketiga yang mempunyai hubungan
dengan tindak pidana dibidang perpajakan; dengan Wajib Pajak yang diperiksa atau disidik,
2. Meneliti, mencari dan mengumpulkan wajib memberikan data, keterangan dan bukti
keteranagn mengenai orang pribadi atau badan yang diminta secara tertulis oleh Direktur
tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan Jenderal Pajak, pelanggaran atas kewajiban
dengan tindak pidana dibidang perpajakan; tersebut dapat diancam dengan pidana penjara
3. Meminta keterangan dan bukti dari orang paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling
pribadi atau badan hukum; banyak Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
4. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan, 5. Penyertaan tindak pidana pajak, dalam
dokumen lain berkaitan dengan tindak pidana Pasal 43 ayat (1) UUKUP diatur ketentuan
perpajakan; tentang Penyertaan Tindak Pidana Pajak yang
5. Melakukan penggeledahan dan penyitaan bunyinya: Ketentuan sebagaimana dimaksud
bahan bukti; dalam Pasal 38 dan 39, berlaku juga bagi wakil,
6. Memanggil saksi dan meminta bantuan kuasa, atau pegawai dari Wajib Pajak, yang
tenaga ahli. menyuruh melakukan, yang turut serta
Penyidikan pajak dilaksanakan apabila terdapat melakukan, yang menganjurkan, atau yang
dugaan dan indikasi Wajip Pajak atau setiap orang membantu melakukan tindak pidana dibidang
lainnya melakukan perbuatan yang melanggar perpajakan.
larangan atau tidak melaksanakan kewajiban yang Ketentuan tersebut diadopsi dari ketentuan Pasal 55
ditentukan dalam undang-undang perpajakan, yang dan 56 KUHP, untuk melengkapi ketentuan pidana
dapat menimbulkan kerugian pendapatan negara yang diatur dalam Pasal 38 dan 39 UUKUP,
dan diancam dengan hukuman pidana. Yang sebagai antisipasi terhadap tindak pidana pajak
menjadi subyek hukum tindak pidana pajak adalah yang dilakukan oleh beberapa orang baik secara
orang, badan atau siapa yang dapat sendiri-sendiri atau secara bersama-sama.
dipertanggungjawabkan atas pelanggaran hukum
pidana pajak dan terhadapnya dapat dijatuhi 1. Penagihan Pajak
hukuman pidana. Berdasarkan Pasal 20 UUKUP, apabila jumlah
pajak yang terutang berdasarkan Surat Tagihan
Terdapat 3 (tiga) golongan subyek hukum tindak Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
pidana pajak, yaitu: (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan (SKPKBT), dan Suat Keputusan
1. Wajib Pajak/Penanggung Pajak Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Meliputi orang pribadi sebagai individu, dalam Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang
Wajib Pajak Orang Pribadi baik berkaitan dengan harus dibayar bertambah, yang tidak dibayar oleh
kewajiban Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Penanggung Pajak dalam jangka waktu 1 (satu)
Petambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan bulan sejak tanggal diterbitkan, ditagih dengan
Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Surat Paksa.
Tanah dan Bangunan (BPHTB). Dalam hal Wajib
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa itu sendiri Apabila utang pajak dan biaya penagihan yang
secara khusus diatur dalam UU No. 19Tahun1997 masih harus dibayar tidak dilunasi oleh
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa Penanggung Pajak setelah lewat waktu 14 (empat
(PPSP) sebagaimana telah diubah terakhir dengan belas) hari sejak tanggal pengumuman lelang, maka
Undang-Undang No. 19 Tahun 2000. Langkah- Pejabat segera melaksanakan lelang.
Langkah dalam melakukan tindakan penagihan
pajak adalah:[31] 7. Pencegahan
1. Surat Teguran Sesuai UU PPSP, terhadap Wajib
Surat Teguran diterbitkan segera setelah 7 (tujuh) Pajak/Penanggung Pajak yang mempunyai jumlah
hari sejak saat jatuh tempo pembayaran utang pajak sekurang-kurangnya Rp 100.000.000,-
STP/SKPKB/SKPKBT/SK Pembetulan/SK (seratus juta rupiah) dan diragukan itikad baiknya
Keberatan/Putusan Banding yang menyebabkan dalam melunasi utang paja dapat dilakukan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah. pencegahan.

2. Surat Paksa 8. Penyanderaan


Surat Paksa diterbitkan apabila jumlah utang pajak Menurut Pasal 1 angka 21 UU PPSP, penyanderaan
yang masih harus dibayar tidak dilunasi setelah adalah pengekangan sementara waktu kebebasan
lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Penanggung Pajak dengan menempatkannya di
diterbitkannya Surat Teguran atau terhadap tempat tertentu. Penyanderaan hanya dapat
Penanggung Pajak telah dilaksanakan penagihan dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang tidak
pajak seketika dan sekaligus. melunasi utang pajak setelah lewat waktu 14
(empat belas) hari terhitung sejak tanggal Surat
3. Pengumuman di Media Massa hukum Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak dan
Karena Surat Paksa berkedudukan sama dengan mempunyai jumlah utang pajak sekurang-
putusan pengadilan yang telah mempunyai kurangnya sebesar Rp 100.000.000,- (seratus juta
kekuatan hukum tetap dan mempunyai kekuatan rupiah) serta diragukan itikad baiknya dalam
eksekutorial, pengumuman di media massa melunasi utang pajak.
bertujuan untuk memberitahukan kepada publik
adanya hak mendahulu negara atas asset Penyanderaan hanya dapat dilaksanakan
penanggung pajak untuk pelunasan utang pajak berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan yang
serta untuk melindungi public dari kerugian yang diterbitkan oleh Pejabat setelah mendapat izin
lebih besar karena melakukan transaksi atau tertulis dari Menteri Keuangan atau Gubernur
perikatan dengan penanggung pajak setelah Kepala Daerah Tingkat I. Masa penyanderaan
terbitnya Surat Paksa. paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang
untuk selama-lamanya 6 (enam) bulan.
4. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan Penyanderaan tidak boleh dilaksanakan dalam hal
(SPMP) Penanggung Pajak sedang beribadah, atau sedanng
SPMP diterbitkan apabila jumlah pajak yang masih mengikuti Pemilihan Umum.
harus dibayar tidak dilunasi oleh Penanggung Pajak
setelah lewat waktu 2 kali 24 (dua puluh empat) Penanggung Pajak yang disandera lepas, jika
jam sejak Surat Paksa diberitahukan. memenuhi persyaratan sebagai berikut:[32]
1. Apabila utang pajak dan biaya penagihan
5. Pengumuman Lelang pajak telah dibayar lunas;
Pengumuman lelang dilaksanakan apabila setelah 2. Apbila jangka waktu yang ditetapkan
lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal dalam Surat Penyanderaan telah dipenuhi;
pelaksanaan penyitaan Penanggung Pajak tidak 3. Berdasarkan putusan pengadilan yang
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
yang masih harus dibayar. 4. Berdasarkan pertimbangan tertentubdari
Menteri Keuangan atau Gubernur.
6. Lelang 1. Jenis Sengketa Pajak
1. Sengketa koreksi Fiskal
Untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak dalam Wajib Pajak tidak konsisten menerapkan
pemenuhan kewajiban perpajakan maupun untuk kurs yang digunakan.
tujuan lain dalam rangka pelaksanaan undang- Biaya royalty, jasa teknik dan jasa
undang perpajakan, fiskus melaksanakan tugas manajemen kepada perusahaan afiliasi lebih
pengawasan dan pembinaan, diantaranya dengan besar dari jumlah yang wajar dibayarkan kepada
pemeriksaan pajak. Pemeriksaan yang dilakukan pihak ketiga.
terhadap kegiatan Wajib Pajakdalam kurun waktu Pembayaran bunga kepada pemegang
tertentu, misalnya 1 tahun, dilakukan terhadap saham lebih besar dari suku bunga yang berlaku
berkas, dokumen yang terkait dengan transaksi di pasaran umum.
kegiatan yang terrangkum dalam pembukuan dan Adanya pembayaran biaya-biaya kepada
laporan keuangan. Dalam pelaksanaannya pemegang saham yang tidak wajar, sebagai
pemeriksaan antara lain menghasilkan koreksi dividen terselubung.
fiscal terhadap pos-pos sebagai berikut:[33] Wajib Pajak membebankan seluruh bunga
1. Peredaran usaha pinjaman dari bank, tetapi ditemukan bukti
Peredaran usaha yang dilaporkan menurut bahwa Wajib Pajak menerima penghasilan
SPT Tahunan PPh Badan lebih besar atau lebih bunga atas deposito atau tabungan lainnya.
kecil dibandingkan dengan SPT PPN. 1. Pemotongan dan pemungutan pajak
Harga jual produk kepada perusahaan Pembayaran upah, bonus tidak atau
afiliasi lebih tinggi atau lebih rendah kurang dipotong PPh (Pasal 21) oleh Wajib
dibandingkan dengan jual kepada pihak ketiga. Pajak selaku pemberi kerja.
1. Harga Pokok Penjualan Pembayaran sewa tidak atau kurang
Pembelian yang berasal dari grup atau dipotong PPh (Pasal 23), PPh Pasal 26, PPh
perusahaan afiliasi lebih tinggi atau lebih Pasal 4 ayat (2).
rendah dari harga umum pembelian dari pihak Pembayaran bunga kepada pemegang
ketiga. saham tidak atau kurang dipotong PPh Pasal
Jumlah pembelian menurut PPh Badan 23/26.
berbeda dengan jumlah pembelian menurut Pembayaran jasa teknik, jasa manajemen,
PPN. konsultan dan jasa lainnya yang tidak dipotong
Penyusutan aktiva yang digunakan untuk oleh Wajib Pajak selaku pengguna jasa.
produksi tidak sesuai dengan ketentuan UU 1. PPN
Pajak Penghasilan mengenai tariff, Jumlah peredaran usaha dan pembelian
pengelompokan aktiva, aktiva yang masih BKP/JKP yang dilaporkan SPT PPN tidak sama
disusutkan terus oleh Wajib Pajak walaupun dengan PPh Badan.
umur ekonomis/masa manfaatnya telah habis. Konfirmasi paja masukan dijawab tidak
1. Penghasilan Lain dari Luar Usaha
ada.
Masih ditemukan penghasilan lain dari
Pengkreditan pajak masukan dilakukan
luar usaha yang tidak dilaporkan Wajib Pajak
beberapa kali masa pajak.
dalam SPT PPh.
Penetapan dasar pengenaan pajak yang
Penghasilan bunga yang telah dikenakan
lebih tinggi atau lebih rendah dari yang
PPh Final dimasukkan Wajib Pajak sebagai
seharusnya, terutama penyerahan kepada
penghasilan dari luar usaha.
perusahaan afiliasi.
1. Pengurangan Penghasilan Bruto
Faktur pajak fiktif.
Biaya Penyusutan Aktiva atas kendaraan
1. Utang piutang Pemegang Saham dari
untuk keperluan pribadi komisaris atau direksi.
Afiliasi
Biaya-biaya yang tidak dapat dikurangkan
Perluasan sebab musabab terjadinya utang
dari penghasilan bruto sesuai ketentuan Pasal 9
piutang
UU Pajak Penghasilan misalnya: sumbangan
Tidak ada beban kerja
yang dikeluarkan oleh perusahaan,
Pengecilan modal
biaya entertainment yang tidak dilampiri daftar
Pengeluaran persero dilakukan oleh
nominative di SPT, dan biaya yang tidak ada
hubungannya dengan kegiatan usaha Wajib perusahaan
Pajak.
Pengeluaran usaha ditalangi pemegang 4. Gugatan terhadap Keputusan Direktur
saham Jenderal Pajak lainnya, selain keberatan dan
2. Sengketa Keberatan Pajak banding.
Dalam proses pemeriksaan terdapat tahap Semua gugatan Wajib Pajak tersebut diatas hanya
pembahasan akhir (closing conference) untuk dapat diajukan kepada Badan Peradilan Pajak, yang
membahas dan menyamakan persepsi mengenai saat ini berdasarkan UU No. 14 Tahun 2002
pos-pos yang diperiksa dan dtemukan koreksi dilaksanakan oleh Pengadilan Pajak (PP).
fiscal. Adakalanya masih terdapat perbedaan
pengakuan antara Wajib Pajak dan fiskus, namun 1. Penyelesaian Sengketa Pajak
secara procedural tidak menunda keluarnya 1. Tahap Pemeriksaan
ketetapan pajak. Bila demikian halnya, Wajib Pajak Dalam proses pelaksanaan pemeriksaan yang
dapat mengajukan keberatan atau pos-pos yang menghasilkan adanya koreksi fiscal terhadap
tidak sependapat ke Kantor Pelayanan Pajak beberapa pos, maka terhadap koreksi fiscal tersebut
tempatnya terdaftar. Beberapa masalah yang sering harus diberitahukan secara tertulis dalam Surat
dijumpai dalam pengajuan surat keberatan, antara Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) kepada
lain:[34] Wajib Pajak. Selanjutnya dengan imbangannya
1. Wajib Pajak mengajukan keberatan Wajib Pajak menyampaikan tanggapan tanggapan
sekaligus untuk beberapa SKPKB dan untuk hasil pemeriksaan tersebut secara tertulis dalam
beberapa tahun pajak. waktu 7 hari dari diterimanya SPHP. Apabila Wajib
2. Wajib Pajak mengajukan keberatan Pajak tidak setuju atas sebagian atau seluruh hasil
sekaligus untuk SKPKB dan STP. koreksi fiscal, Wajib Pajak harus menandatangani
3. Wajib Pajak tidak menyebutkan dalam dan menyampaikan Surat Tanggapan kepada
surat keberatannya mengenai jumlah pajak Kepala Unit Pelaksana Pemeriksa Pajak (UP3)
terutang, atau pajak yang dipotong, dipungut dengan disertai penjelasan data pendukung yang
atau jumlah rugi menurut perhitungannya. akurat dan lengkap. Tanggapan atas SPHP tersebut
4. Tanda penerimaan Surat Keberatan dari dibahas oleh Tim Pemeriksa dan Wajib Pajak dalam
Kantor Pelayanan Pajak atau dari kantor Pos forum Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
tercatat telah melampaui waktu tiga bulan sejak (closing conference). Untuk meminimalkan
tanggal SKPKB, dan tidak ada alasan yang sah perbedaan yang masih ada dan cukup material,
dari Wajib Pajak. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan kepada
5. Wajib Pajak tidka melengkapi pengajuan Kepala UP3 agar perbedaan tersebut dilanjutkan
keberatannya dengan alasan dan bukti pembahasannya oleh Tim Pembahas.[36]
pendukung yang memadai.
6. Wajib Pajak melengkapi dokumen 2. Sengketa Keberatan Pajak
pendukung keberatan sangat berdekatan dengan Wajib Pajak yang tidak menyetujui ketetapan pajak
saat jatuh tempo penerbitan keputusan yang dihasilkan dari pemeriksaan (SKPKB dan
keberatan. atau SKP lainnya yang diterbitkan oleh Kantor
3. Sengketa Mengenai Gugatan Pelayanan Pajak, KPP) dapat mengajukan surat
Terhitung sejak 1 Januari 2001, hak Wajib Pajak keberatan kepada Kepala KPP. Pelaksanaan proses
untuk mengajukan gugatan terhadap Direktur keberatan tersebut selanjutnya sesuai dengan
Jenderal Pajak dipertegas dan diperluas, tidak arstasinya dapat dilakukan oleh KPP atau Kantor
terbatas pada pelaksanaan penagihan aktif dengan Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak.
Surat Paksa, tetapi juga terhadap keputusan
Direktur Jenderal Pajak lainnya, sebagaimana
diatur dalam Pasal 23 KUP, yaitu:[35] Agar keputusan keberatan dapat dipertimbangkan
1. Gugatan terhadap pelaksanaan Surat secara obyektif dan seadil-adilnya, Wajib Pajak
Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, harus memenuhi syarat formal dan material
atau Pengumuman Lelang. keberatan, dengan menguraikan alasan yang benar
2. Gugatan terhadap Pembetulan Surat dan didukung dokumen pembuktian yang lengkap.
Tagihan Pajak Pasal 16 KUP. Dilain pihak KPP dan Kanwil DJP harus
3. Gugatan terhadap Keputusan Peninjauan mengumpulkan data dan keterangan yang lengkap
Kembali STP Pasal 36 KUP. dari UP3 yang bersangkutan untuk membuat dan
melengkapi uraian pemndangan keberatan terhadap
masalah dan alasan yang diajukan oleh Wajib tidak ada aturan hukum yang membatalkan
Pajak. pelaksanaan penagihan pajak atau keputusan
Direktur Jenderal Pajakyang bersangkutan.
KPP atau Kanwil DJP harus memberi waktu yang
cukup bagi Wajib Pajak untuk melengkapi dan Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir
menyampaikan dokumen pendukung yang dan mempunyai kekuatan hukum tetap, sehingga
memperkuat keberatannya, sebaliknya Wajib Pajak mengikat kedua belah pihak baik Wajib Pajak
harus memperhitungkan dan memahami bahwa maupun Direktorat Jenderal Pajak secara bersama-
kegiatan penagihan pajak secara aktif, termasuk sama sesuai posisinya untuk mematuhi dan
penerbitan Surat Paksa, tidaklah menjadi tertunda melaksanakannya.[38]
oleh karena pengajuan keberatan. 4. Penyelesaian Banding Pajak
Atas surat banding yang diajukan Wajib Pajak ke
Keputusan keberatan yang baik dan ideal bukanlah Pengadilan Pajak, Direktorat Jenderal Pajak dapat
keputusan yang memenangkan Wajib Pajak atau menyampaikan surat uraian banding. Kedua belah
memuaskan Direktorat Jenderal Pajak, tetapi pihak dapat melengkapi surat banding atau surat
keputusan yang adil dan obyektif berdasar alat uraian banding tersebut disetai dokumen dan bukti
bukti yang sah sesuai peraturan perundang- pendukung, termasuk menghadirkan saksi dan saksi
undangan perpajakan.[37] ahli di persidangan guna memperkuat alasan
3. Sengketa Gugatan Pajak banding atau surat uraian banding.
Sampai saat ini pengajuan gugatan pajak ke
Pengadilan Pajak (PP) masih sangat sedikit, dan Dari proses penyelesaian banding pajak, putusan
terbatas terhadap pelaksanaan penagihan pajak Pengadilan Pajak dapat berupa:[39]
dengan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan 1. Menolak permohonan banding, atau
Penyitaan dan Lelang, sedangkan gugatan terhadap dengan kata lain mempertahankan keputusan
STP Pasal 16 KUP, STP Pasal 36 KUP, maupun keberatan Direktorat Jenderal Pajak.
gugatan terhadap Keputusan Direktur Jenderal 2. Mengabulkan sebagian atau seluruhnya
Pajak lainnya belum dilakukan oleh Wajib Pajak. permohonan banding, berarti membatalkan
Atas surat gugatan Wajib Pajak, Direktorat Jenderal sebagian atau seluruhnya keputusan keberatan
Pajak dapat menyampaikan surat tanggapan yang Direktorat Jenderal Pajak.
berisi jawaban terhadap gugatan tersebut. Berbeda 3. Menambah pajak yang harus dibayar,
dengan materi surat keberatan maupun banding, berarti mengubah keputusan keberatan
pokok sengketa gugatan pajak lebih Direktorat Jenderal Pajak dengan keputusan
menitikberatkan pada aspek formal yuridis, sendiri yang mengakibatkan pajak terutang
prosedur pelaksanaan penagihan pajak, menjadi lebih besar.
kewenangan penerbitan surat keputusan dibidang 4. Tidak dapat diterima, berarti permohonan
perpajakan, ada tidaknya hak Wajib Pajak yang banding tidak diperiksa sampai pokok sengketa,
dilanggar, dan apakah pelanggaran tersebut atau karena tidak dipenuhinya persyaratan formal
tidak dipenuhinya hak Wajib Pajak tersebut dalam surat banding, atau perkara yang
menyebabkan tidak sah dan batalnya pelaksanaan diajukan bandin bukan kompetensi PP.
penagihan pajak atau pelaksanaan keputusan 5. Membetulkan kesalahan tertulis dan atau
Direktur Jenderal Pajak yang bersangkutan. kesalahan hitung.
Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir
Agar Wajib Pajak memperoleh hasil optimal alam yang berkekuatan hukum tetap, dan langsung dapat
gugatannya, harus diuraikan secara detail dan dilaksanakan dengan tidak memerlukan lagi
cermat kronologis dan prosedur apa yang tidak keputusan pejabat yang berwenang, kecuali
dipenuhi oleh aparat Direktorat Jenderal Pajak undang-undang mengatur lain, misalnya kelebihan
dalam pelaksanaan penagihan pajak atau dalam pembayaran pajak.
penerbitan keputusan yang menjadi obyek gugatan.
Dilain pihak Direktorat Jenderal Pajak harus dapat Atas putusan Pengadilan Pajak mengani banding
membuktikan dan meyakinkan hakim Pengadilan pajak tersebut, kedua pihak yang bersengketa
Pajak bahwa tidak ada prosedur yang dilanggar dan (Wajib Pajak dan Direktorat Jenderal Pajak) dapat
melakukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) 6. Administrasi persidangan Pengadilan
kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pajak dilaksanakan oleh Panitera, Wakil
Apabila Wajib Pajak atau Direktorat Jenderal Pajak Panitera dan Panitera Pengganti.
mempunyai bukti yang sangat meyakinkan bahwa 7. Syarat untuk pengajuan banding terhadap
hakim Pengadilan Pajak yang memutus perkaranya besarnya jumlah pajak yang terutang harus telah
melakukan pelanggaran hukum yang melanggar dibayar/disetor sebesar 50% (lima puluh
sumpah atau janji jabatan dan mengakibatkan persen).
kerugian baginya, maka atas hal tersebut dapat 8. Pemeriksaan dalam sidang Pengadilan
melaporkan pelanggaran tersebut kepada Menteri Pajak terbuka untuk umum.
Keuangan dan Majelis Kehormatan Pengadilan 9. Putusan Pengadilan Pajak dapat berupa
Pajak. putusan sela, disamping putusan akhir.
10. Putusan Pengadilan Pajak merupakan
1. Pengadilan Pajak putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa Wajib tetap, tidak dapat lagi diajukan gugatan,
Pajak yang belum puas atas keputusan banding, kasasi, tetapi dapat diajukan
keberatannya yang ditetapkan Direktur Jenderal permohonan Peninjauan Kembali kepada
Pajak dapat mengajukan permohonan banding Mahkamah Agung.
hanya kepada badan peradilan pajak, demikian pula BAB VI
Wajib Pajak/Penanggung Pajak dapat mengajukan TINDAK PIDANA KEPABEANAN DAN
gugatan terhadap pelaksanaan penagihan pajak CUKAI
yang telah dilakukan dengan Surat Paksa,
Penyitaan atau Lelang dan keputusan Peninjauan 1. Pengertian Tindak Pidana Kepabeanan
Kembali atau pembetulan Surat Tagihan Pajak, dan Cukai serta Karakteristiknya
hanya dapat diajukan kepada badan peradilan Tindak pidana pemalsuan dokumen pabean
pajak. Dengan diundangkan dan berlakunya UU merupakan tindak pidana yang merugikan negara.
No. 14 Tahun 2002 pada tanggal 12 April Tindakan penyidikan sampai pada putusan
2002, maka sebagai badan peradilan pajak tersebut penerapan sanksi pidana merupakan rangkaian
adalah Pengadilan Pajak yang menggantikan Badan hasil kegiatan pengawasan pabean. Menurut Colin
Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) sebagai Vassarotti, tujuan pengawasan pabean adalah
lembaga sebelumnya. memastikan semua pergerakan barang, kapal,
pesawat terbang, kendaraan dan orang-orang yang
melintas perbatasan Negara berjalan dalam
Beberapa perubahan penting di Pengadilan Pajak kerangka hukum, peraturan dan prosedur pabean
dibandingkan dengan Badan Penyelesaian Pajak yang ditetapkan. Untuk menjaga dan memastikan
adalah:[40] agar semua barang, kapal dan orang yang
1. Pengadilan Pajak merupakan badan keluar/masuk dari dan ke suatu Negara mematuhi
peradilan yang melaksanakan kekuasaan semua ketentuan kepabeanan. Setiap administrasi
kehakiman sebagaimana diatur dalam UU No. pabean harus melakukan kegiatan pengawasan.
48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kegiatan pengawasan pabean harus meliputi
2. Pembinaan teknis peradilan bagi seluruh pelaksanaan wewenang yang dimiliki oleh
Pengadilan Pajak dilakukan oleh Mahkamah petugas pabean dalam perundang-undangannya
Agung sebagaimana yang berlaku bagi yaitu memeriksa kapal, barang, penumpang,
pengadilan lainnya. dokumen, pembukuan, melakukan penyitaan,
3. Hakim pada Pengadilan Pajak diangkat penangkapan, penyegelan, dan lain-lain.[41]
oleh Presiden dari daftar nama calon yang Dalam modul pencegahan pelanggaran kepabeanan
diusulkan oleh Menteri Keuangan setelah yang dibuat oleh World Customs
emndapat persetujuan Ketua Mahkamha Agung. Organization (WCO) disebutkan bahwa
4. Dimungkinkan adanya Hakim Ad Hoc, pengawasan pabean adalah salah satu model untuk
yaitu untuk pemeriksaan dan memutus perkara mencegah dan mendeteksi pelanggaran
sengketa pajak tertentu. kepabeanan. Berdasarkan modul World Customs
5. Majelis Kehormatan Hakim ditetapkan Organization (WCO) tersebut dinyatakan bahwa
dengan Keputusan Presiden atas usul Ketua pengawasan Bea Cukai yang mampu mendukung
Mahkamah Agung dan Menteri Keuangan. pendeteksian dan pencegahan penyelundupan
paling tidak harus mencakup kegiatan: penelitian keadaan dan kebutuhan pelayanan Kepabeanan
dokumen, pemeriksaan fisik, dan audit pasca yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang
impor. Disamping tiga kegiatan itu menurut hemat Dasar 1945.[43]
penulis patroli juga merupakan pengawasan Bea 1. Administrasi Penyidikan Tindak
dan Cukai untuk mencegah penyelundupan. Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai
pidana kepabenan adalah tindak pidana berupa Perlunya penegasan atas kewenangan penyidik
pelanggaran terhadap aturan hukum di bidang PNS Bea dan Cukai atas tindakan penyidikan
kepabeanan. Salah satu bentuk tindak pidana perkara tindak pidana kepabeanan dan cukai untuk
kepabeanan yang paling terkenal adalah tindak memperjelas siapa yang berwenang dalam
pidana penyelundupan. Sumber hukum tindak melakukan penyidikan perkara tersebut.
pidana kepabeanan adalah Undang-Undang Nomor Kewenangan penyidikan tersebut diatur dalam
10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Undang- pasal 112 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995
undang ini mulai berlaku 1 April 1996, dimuat di yang telah diubah dan ditambah dengan UU No 17
dalam Lembaran Negara Nomor 75 Tahun 1995. tahun 2006 tentang Kepabeanan dan pasal 63 UU
[42] No. 11 tahun 1995 yang telah di rubah dan
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 10 ditambah dengan UU No. 39 tahun 2007 tentang
Tahun 1995 yang telah diubah dan ditambah Cukai jo. PP No. 55 tahun 1996 tentang Penyidikan
dengan Undang-Undang No. 17 Tahun 2006 Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai.
tentang Kepabeanan, maka aturan hukum
kepabeanan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku Pasal-pasal dalam Undang-Undang tersebut
lagi, yakni : (1) Indische tariff Wet Staatsblad menegaskan bahwa aparatur penegak hukum yang
Tahun 1873 Nomor 35 sebagaimana telah diubah berwenang melakukan penyidikan adalah Pejabat
dan ditambah; (2) Rechten Ordonantie Staatsblad Pegawai Negeri Sipil tertentu yang bertugas di
Tahun 1882 Nomor 240 sebagaimana telah diubah bidang Bea dan Cukai, hal ini selaras dengan
dan ditambah; (3) Tarief Ordonantie Staatsblad asas Lex Specialis Derogate Legi Generali. Surat
Tahun 1910 Nomor 628 sebagaimana telah diubah Jaksa Agung Republik Indonesiakepada Kepala
dan ditambah. Sedangkan pembentukan Undang- Kejaksaan Tinggi di seluruh Indonesia Nomor B-
undang Kepabeanan ini didasarkan pada beberapa 003/A/Ft.2/01/2009 tanggal 14 Januari 2009 perihal
pertimbangan yakni : (a) bahwa pelaksanaan Pengendalian & Percepatan tuntutan perkara tindak
pembangunan nasional telah menghasilkan pidana kepabeanan dan cukai butir 3 disebutkan
perkembangan yang pesat dalam kehidupan bahwa Selanjutnya apabila menerima Berkas
nasional, khususnya di bidang perekonomian, Perkara Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai
termasuk bentuk-bentuk dan praktik selain penyidik instansi tersebut diatas agar
penyelenggaraan kegiatan perdagangan ditolak hal ini perlu diingatkan sebagai antisipatif
internasional; (b) bahwa dalam upaya untuk selalu jangan sampai terulang penyidikan yang keliru
menjaga agar perkembangan seperti tersebut diatas yang dilakukan oleh Penyidik Polri terhadap kasus
dapat berjalan sesuai dengan kebijaksanaan M. Nurdin Khalid dimana Pengadilan menolak
pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan Berkas Perkara karena menganggap Pejabat yang
dalam Garis-garis Besar Haluan Negara dan agar menyidik tidak berwenang.
lebih dapat diciptakan kepastian hukum dan Dalam melangkah pada tugas dan fungsinya
kemudahan administrasi berkaitan dengan aspek sebagai penyidik termasuk penyidik kepabeanan
kepabeanan bagi bentuk-bentuk dan praktik dan cukai harusnya berpola pikir bahwa apa yang
penyelenggaraan kegiatan perdagangan akan dikerjakan atau yang telah dikerjakan sudah
internasional yang terus berkembang serta dalam dapat menggambarkan terpenuhinya peristiwa
rangka antisipasi atas globalisasi ekonomi, pidana dengan terang dan jelas disertai alat bukti
diperlukan langkah-langkah pembaharuan; (c) yang cukup sehingga dapat dengan mudah
bahwa peraturan perundang-undangan Kepabeanan dilakukan penuntutan karena alat bukti yang cukup
selama ini berlaku sudah tidak dapat mengikuti tersebut telah bersesuaian dan berfokus dan
perkembangan perekonomian dalam hubungan mengarah pada peristiwa pidana yang dapat
dengan perdagangan internasional; dan (d) bahwa dibuktikan benar dan telah terjadi. Hal ini berarti
untuk mewujudkan hal-hal tersebut, dipandang bahwa apa yang dilakukan penyidik dalam
perlu untuk membentuk Undang-undang tentang mengngungkap suatu peristiwa pidana dan
kepabeanan yang dapat memenuhi perkembangan
terangnya sebuah perkara dilakukan dengan Selanjutnya penyidik berkewajiban melakukan
mengumpulkan serangkaian alat bukti sebagaimana penyidikan tambahan sesuai dengan petunjuk yang
di kehendaki pasal 183 dan 184 KUHAP. telah di berikan dan segera mengembalikan berkas
perkara yang telah dilengkapi kepada penuntut
Berkas perkara atau yang lazim dikenal sebagai umum dalam waktu 14 hari.
hasil penyidikan, dapat dilimpahkan ke pengadilan,
apabila telah memenuhi kelengkapan formil dan Patut mendapat perhatian bahwa sanksi pidana
materiil dari suatu berkas perkara atau hasil yang diatur di dalam Undang-Undang RI No. 10
penyidikan. Perlu juga disampaikan disini bahwa tahun 1995 yang telah diperbarui dan ditambah
selain kelengkapan formil dan materiil tersebut dengan UU No. 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan
terdapat ketentuan yang diatur pada pasal 76 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 yang
KUHP, bahwa suatu perbuatan tidak dapat di tuntut telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 39
dua kali (nebis in idem) dan pasal 78 ayat 1 KUHP tahun 2007 tentang cukai telah mengatur khusus
karena telah dipenuhinya masa kadaluwarsa, atau delik Kepabeanan dan Cukai yang dijabarkan
pasal 83 KUHP jika tersangka atau terdakwa telah dalam pasal-pasal Undang-undang tersebut, dengan
meninggal dunia. demikian selaras dengan surat Jaksa Agung tersebut
diatas yang menyebutkan bahwa kepada para
Patut juga di perhatikan adanya ketentuan yang Kajari agar memperhatikan secara cermat materi
diatur pada 56 jo pasal 114 KUHAP bahwa pokok perkara Tindak Pidana Ekonomi untuk tidak
tersangka mempunyai hak untuk didampingi di Yonctokan atau dihubung-hubungkan dengan
penasehat hukum dan bahkan pasal 116 KUHAP pasal 480 atau pasal-pasal lain.[44]
tersangka memiliki hak untuk mengajukan saksi 1. Sistem Peradilan Tindak Pidana
yang menguntungkan baginya. Selain itu Kepabeanan dan Cukai
disebutkan pula pada pasal 117 KUHAP bahwa Selaras dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
keterangan tersangka dan atau saksi diberikan tanpa pada pasal 139 KUHAP Penuntut Umum
adanya paksaan dari siapapun dan dalam bentuk menentukan apakah berkas perkara tersebut telah
apapun, disamping pasal-pasal yang lain terkait memenuhi syarat untuk dapat atau tidaknya di
dengan penyidikan misalnya: syarat sahnya suatu limpahkan ke Pengadilan setelah tangung jawab
penggeledahan (pasal 33 ayat 3,4,5 KUHAP). terhadap tersangka dan barang bukti beralih dari
syarat sahnya suatu penyitaan sebagaimana diatur penyidik tindak pidana kepabeanan dan cukai ke
pada pasal 45 KuHAP, syarat sahnya suatu Penuntut Umum. Dalam hal telah terpenuhinya
penerimaan surat sebagaimana diatur pada pasal 47 syarat syarat dimaksud maka sebagaimana
KUHAP dan pasal 48 KUHAP syarat sahnya suatu dimnaksud pada pasal 140 ayat (1) KUHAP, Surat
pembukaan dan pemeriksaan surat, disamping juga Dakwaan dan pelimpahan ke Pengadilan segera
syarat sahnya suatu sumpah atau janji pasal 113 dilakukan oleh Penuntut Umum dan turunan surat
KUHAP, disamping juga yang tidak kalah penting pelimpahan beserta Surat Dakwaan tersebut
yaitu pemenuhan ketentuan pasal 113 KIHAP disampaikan kepada terdakwa/Penasihat Hukum
tentang syarat sahnya suatu permintaan keterangan dan Penyidik hal ini diatur pada pasal 143 ayat 4
di tempat kediaman tersangka atau saksi. KUHAP.

Penyidikan dianggap telah selesai umumnya di Penghentian Penuntutan dengan diterbitkannya


pahami dari hitungan waktu 14 hari penuintut Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP)
umum tidak mengembalikan hasil penyidikan atau sesuai ketenrtuan Pasal 140 ayat (2) huruf a, dapat
dapat juga sebelum waktu di maksud berakhir telah dilakukan oleh Penuntut Umum dalam hal PU
ada pemberitahuan tentang hal tersebut kepada menilai bahwa perkara tersebut tidak cukup bukti,
penyidik. Penuntut Umum yang telah menerima perbuatan tersebut bukan tindak pidana atai
hasil penyidikan dalam rentang waktu 7 hari dan dihentikan demi hukum seperti daluwarsa,
dalam waktu 7 hari beikutnya menyatakan kurang terdakwa meninggal dunia atau nebis in idem.[45]
lengkap, penuntut umum berkewajiban segera Sistem peradilan tindak pidana kepabeanan dan
mengemnbalikan berkas perkara kepada penyidik cukai didalam pelaksanaannya, tidak tertutup
disertai petunjuk untuk dilengkapi penyidik. kemungkinan terjadi persidangan in absentia atau
persidangan tanpa kehadiran terdakwa. Persidangan
ini sebenarnya mengacu pada prinsip bahwa wilayah RI atau di luar wilayah RI dan kejahatan
Pengadilan tidak boleh menolak menyidangkan tersebut merupakan tindak pidana menurut hukum
suatu perkara. Hal ini diperkuat dengan ketentuan Indonesia. Berbeda dengan UU No. 15 Tahun 2002
pasal 10 ayat (1) UU No. 48 tahun 2009 tentang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, perubahan
Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi: UU ini yang diatur dalam UU No. 25 Tahun 2003
Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, tentang Perubahan Atas UU No. 15 Tahun 2002
mengadili, dan memutus suatu perkara yang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau memberikan definisi tentang pencucian uang
kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa mendefinisikan pencucian uang sebagai perbuatan
dan mengadilinya. menempatkan, mentransfer, membayarkan,
membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan,
menitipkan, membawa keluar negeri, menukarkan
BAB VII atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang
TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil
tindak pidana dengan maksud untuk
1. Pengertian Tindak Pidana Pencucian menyembunyikan, atau menyamar asal usul harta
Uang dan Karakteristiknya kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta
Istilah cuci uang atau juga disebut kekayaan yang sah (Pasal 1 angka 1).
dengan pemutihan uang adalah merupakan
peralihan dari bahasa imggris yaitu money 1. Tahapan Tindak Pidana Pencucian
laundering kedalam bahasa Indonesia sebagai Uang
suatu istilah yag pada mulanya digunakan di Dengan cara demikiaan, membuat suatu kejelasan
America Serikat dalam khazanah kejahatan. Lalu pembenaran untuk pengawasan atau kepemilikan
mengapa uang harus dicuci? , tentu saja karena uang yang dicuci, Financial Action Task Force On
uang tersebut dalam keadaan kotor. Kotor dalam Money Laundering (FATF) merumuskan bahwa
arti uang haram yang biasanya disebut money laundering adalah proses menyembunyikan
dengan dirty money atau juga disebut secret atau atau menyamarkan asal-asal hasil kejahatan.
money, yaitu uang yang dapat dari berbagai Proses tersebut untuk kepentingan untuk
bentuk kejahatan mulai dari blue collar penghilangan jejak sehingga memungkinkan
crime hingga white collar crime.[46] pelakunya menikmati keuntnungan-keuntungan itu
Pada tanggal 17 April 2002 telah diundangkan UU dengan tanpa mengungkap sumber perolehan.
No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Penjualan senjata secara ilegal, penyelundupan, dan
Pencucian Uang melalui Lembaran Negara No. 30. kegiatan kejahatan terorganisasi, contohnya
UU ini tidak mendefinisikan apa yang dimaksud perdagangan obat dan prostitusi, dapat
dengan pencucian uang, hanya dalam penjelasan menghasilkan jumlah uang yang banyak. Adapun
dinyatakan bahwa upaya untuk menyembunyikan metode proses pencucian itu meliputi tiga tahap,
atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang yaitu :
diperoleh dari tindak pidana sebagaimana 1. Placement harta kekayaan ke dalam sistem
dimaksud dalam undang-undang ini dikenal keuangan melalui bank atau lembaga keuangan
sebagai pencucian uang (money laundering). lainnya. Negara-negara harus ada persyaratan
Tindak pidana tersebut adalah tindak pidana pelaporan terhadap transaksi tunai yang besar.
sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 Undang- 2. Layering yaitu memisahkan dana
Undang ini yakni harta kekayaan yang berjumlah (kekayaan) dari asalnya dan dilakukan untuk
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau menyamarkan apa yang sebenarnya dan
lebih atau nilai setara yang diperoleh secara membuat tidak jelas dalam melakukan
langsung atau tidak langsung dari kejahatan penelusurannya.
korupsi; penyuapan; penyeludupan barang; 3. Integration yang membutuhkan
penyeludupan tenaga kerja; penyeludupan imigran; penempatan kekayaan yang diperoleh dari hasil
perbankan; narkotika; psikotropika; perdagangan kejahatan ke dalam ekonomi yang sah tanpa
budak, wanita, dan anak; perdagangan senjata menimbulkan kecurigaan asal mula
gelap; penculikan; terorisme; pencurian; perolehannya.
penggelapan; penipuan, yang dilakukan baik di Pada mulanya, memang kejahatan pencucian uang
selalu dikaitkan dengan perdagangan narkotika atau
psikotropika, tetapi dalam perkembangannya Penyedia Jasa Keuangan. Transaksi keuangan
diperluas hingga meliputi uang haram dari hasil yang menjadi unsur pencucian uang adalah
kejahatan terorganisasi yang lain.[47] transaksi keuangan mencurigakan dan transaksi
1. Pertanggungjawaban pidana Tindak keuangan yang dilakukan secara tunai yang
Pidana Pencucian Uang belum dilaporkan dan mendapat persetujuan
Pasal 1 angka 1 UU No. 25 Tahun 2002, dari Kepala PPATK. Definisi Transaksi
mendefinisikan Pencucian Uang adalah perbuatan Keuangan Mencurigakan adalah (Pasal 1 angka
menempatkan, mentransfer, membayarkan, 7 UU No. 25 Tahun 2003):
membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, 1. transaksi keuangan yang
menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, menyimpang dari profil, karakteristik, atau
atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang 3. kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang
diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil bersangkutan;
tindak pidana dengan maksud untuk 4. transaksi keuangan oleh nasabah yang
menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk
Harta Kekayaan sehingga seolah-seolah menjadi menghindari pelaporan transaksi yang
Harta Kekayaan yang sah. bersangkutan yang wajib dilakukan oleh
Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan
Pendefinisian di atas mengandung unsur-unsur ketentuan Undang-Undang ini; atau
sebagai berikut : 5. transaksi keuangan yang dilakukan atau
batal dilakukan dengan menggunakan Harta
Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak
1. Pelaku, dalam UU No. 15 Tahun 2002 pidana, dan
maupun perubahannya dalam UU No. 25 Tahun 6. definisi Transaksi Keuangan yang
2003, digunakan kata setiap orang, dimana Dilakukan Secara Tunai diatur dalam Pasal 1
dalam Pasal 1 angka 2 dinyatakan bahwa Setiap angka 8 UU No. 25 Tahun 2003 adalah
orang adalah orang perseorangan atau transaksi penarikan, penyetoran, atau penitipan
korporasi. Sementara pengertian korporasi yang dilakukan dengan uang tunai atau
terdapat dalam Pasal 1 angka 3 yang instrument pembayaran lain yang dilakukan
menyatakan bahwa Korporasi adalah kumpulan melalui Penyedia Jasa Keuangan.
orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi 7. Merupakan hasil tindak pidana
baik merupakan badan hukum maupun bukan Penyebutan tindak pidana pencucian uang salah
badan hukum. satunya harus memenuhi unsur adanya perbuatan
2. Transaksi keuangan atau alat keuangan melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam
atau finansial untuk menyembunyikan atau Pasal 3 UU No. 25 Tahun 2003, dimana perbuatan
menyamarkan asal usul harta kekayaan seolah- melawan hukum tersebut terjadi karena pelaku
olah menjadi harta kekayaan yang sah. Istilah melakukan tindakan pengelolaan atas harta
transaksi jarang atau hampir tidak dikenal kekayaan yang merupakan hasil tindak pidana.
dalam sisi hukum pidana tetapi lebih banyak Pengertian hasil tindak pidana dinyatakan pada
dikenal pada sisi hukum perdata, sehingga Pasal 2 UU No. 25 Tahun 2003 yang telah
undang-undang tindak pidana pencucian uang mengubah UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak
mempunyai ciri kekhususan yaitu di dalam Pidana Pencucian Uang yang dalam pembuktian
isinya mempunyai unsur-unsur yang nantinya hasil tindakan pidana akan merupakan
mengandung sisi hukum pidana maupun unsur-unsur delik yang harus dibuktikan.
perdata. UU No. 25 Tahun 2003 Pembuktian apakah benar harta kekayaan tersebut
mendefinisikan Transaksi adalah seluruh merupakan hasil tindak pidana adalah dengan
kegiatan yang menimbulkan hak atau membuktikan ada atau terjadi tindak pidana yang
kewajiban atau menyebabkan timbulnya menghasilkan harta kekayaan tersebut, pembuktian
hubungan hukum antara dua pihak atau lebih, disini bukan untuk membuktikan apakah benar
termasuk kegiatan pentransferan dan/atau telah terjadi tindak pidana asal (predicate crime)
pemindahbukuan dana yang dilakukan oleh yang menghasilkan harta kekayaan.