Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Gelombang seismik merupakan sebuah getarang yang merambat pada


sebuah medium dimana yang merambat adalah energinya bukan mediumnya ,
Gelombang merambat diakibatkan karena adanya sebuah usikan. Gelombang
bergerak kesegala arah dengan arah vektor x,y dan z. Kecepatan sebuah
gelombang seismik dipengaruhi oleh densitas medium yang dilewatinya,semakin
besar densitas medium maka semakin cepat pula gelombang seismik merambat.
Dan sebaliknya semakin kecil densitas medium yang dilewati maka semakin
lambat gelombang .

Seismik Refraksi adalah salah satu metode geofisika yang memanfaatkan


gelombang seismik yang berasal dari sebuah sumber gangguan di permukaan
bumi bisa berasal dari pukulan palu dan lain-lain. Setalah terjadinya usikan maka
gelombang seismik akan merambat ke dalam permukaan bumi dan akan dibiaskan
pada saat gelombang bertemu dengan sebuah batas medium.Kemudian gelombang
bias akan ditangkap oleh sebuah geophone dan diolah.

Metode ITM dan CDM dalam seismik refraksi adalah metode yang
digunakan dalam penentuan kedalaman dan jenis batuan bawah permukaan
dalam skala dangkal. Metode ITM dan CDM berasumsi bahwa lapisan batuan
bersifat homogen dan batas perlapisan antar batuan adallah sebuah bidang datar
tanpa sebuah undulasi. Dari pengolahan data dengan metode ITM dan CDM
didapatkan data kecepatan gelombang setiap lapisan,sehingga dari kecepatan
tersebut kita bisa mengetahui jenis litologi setiap lapisan dengan mencocokkan
dengan tabel kecepatan batuan..

1
I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari praktikum ini adallah untuk mempelajari dan mengetahui


konsep kerja metode seismik refraksi ,metode ITM dan CDM untuk mencari tahu
kedalaman lapisan batuan dan jenis batuan.

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mendapatkan hasil berupa kurva
dan penampang bawah permukaan yang berisikan kedalaman perlapisan batuan .
Hasil dari praktikum ini juga berupa pendeteksian adanya sebuah lapisan miring
dengan melihat bentuk kurva t-x yang dihasilkan. Didapat data kecepatan
gelombang yang merambat pada sebuah batuan sehingga praktikan dapat
mengetahui kondisi litologi di bawah permukaan.

2
BAB II
DASAR TEORI

Dalam prinsip penjalarannya ke segala arah di bawah permukaan bumi,


gelombang seismik mengikuti azas-azas:

1. Azas Fermat menyatakan bahwa gelombang akan menjalar melalui


lintasan dengan waktu penjalaran terkecil (minimum).
2. Prinsip Huygens mengatakan bahwa setiap titik pada muka gelombang
akan menjadi sumber gelombang baru.
3. Hukum Snellius mengatakan :
a. Gelombang datang, gelombang pantul dan gelombang bias terletak
pada satu bidang.
b. Sudut pantul sama dengan sudut datang bila jenis gelombang yang
dipantulkan sama dengan jenis gelombang datang.
c. Sinus sudut bias sama dengan sinus sudut datang kali perbandingan
kecepatan gelombang pada medium pembias terhadap kecepatan
gelombang pada medium yang dilalui gelombang datang.
d. Pada sudut kritis, sinus sudut datang sama dengan perbandingan
kecepatan gelombang pada medium yang dilalui gelombang datang
terhadap kecepatan gelombang pada medium pembias.

Asumsi dasar yang digunakan untuk mempermudah dalam pemahaman


perambatan gelombang seismik di dalam medium adalah sebagai berikut :
1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan
gelombang seismik dengan kecepatan yang berbeda-beda.
2. Makin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin
kompak.
3. Panjang gelombang seismik lebih kecil dari ketebalan lapisan bumi.
Hal ini memungkinkan setiap lapisan yang memenuhi syarat tersebut
akan dapat terdeteksi.

3
4. Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar,
sehingga mematuhi hukum-hukum dasar lintasan sinar di atas.
5. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat
dengan kecepatan pada lapisan dibawahnya.

II.1. Seismik Refraksi


Seismik refraksi merupakan salah satu metode seismik aktif yang bekerja
berdasarkan gelombang seismik yang dibiaskan atau direfraksikan mengikuti
lapisan-lapisan bumi di bawah permukaan.
Metode ini hanya memanfaatkan gelombang lansung dan gelombang primer
(P) refraksi yang menjalar pada bidang batas lapisan batuan seperti pada gambar
II.1.

Gambar II.1. Proses penjalaran gelombang lansung dan


gelombang refraksi.

Metode seismik refraksi melakukan pengukuran waktu tempuh gelombang


P (pada setiap titik sepanjang bidang batas lapisan) yang dihasilkan dari sumber
energi implusif.
Karena material bumi yang bersifat elastik, apabila ada sumber gelombang;
seperti berasal dari palu, dinamit, air gun, yang dihasilkan dari sumber
gelombang, maka gelombang akan menjalar ke segala arah.Pada bidang batas
antar lapisan, gelombang sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan
dibiaskan. Gelombang yang dihasilkan tersebut akan diterima oleh serangkaian

4
detektor (geophone). Kemudian gelombang yang diterima oleh detector tersebut
akan dicatat dan direkam oleh suatu alat dipermukaan.
Data yang didapat di lapangan antara lain waktu tempuh gelombang sampai
ke geophone dan jarak antar geophone. Dari kedua data tersebut dapat diolah guna
mendapatkan kedalaman lapisan di bawah permukaan, sehingga diperoleh litologi
batuan berdasarkan informasi kecepatan
Dalam sejarahnya metode seismik refraksi pernah digunakan untuk mencari
prospek minyak bumi dan menggambarkan struktur geothermal di bawah
permukaan bumi. Hal ini dijelaskan oleh banyak tulisan-tulisan ilmiah atau karya
ilmiah.
Saat ini metode ini telah semakin berkembang dan banyak digunakan oleh
para ahli geofisika untuk:
a Menilai kekuatan batuan dan studi pondasi bangunan (eksplorasi
dangkal)
b Investigasi awal pembangunan jalan raya dan pipa-pipa minyak
c Estimasi bahan galian
d Penentuan sifat dinamik-elastik pada endapan permukaan
e Mengetahui kemiringan bidang gelincir lapisan tanah (Investigasi
Bencana Longsor-Eksplorasi Lingkungan)
f Mengetahui kedalaman batuan
g Studi struktur kerak bumi dan tektonik
h Menghitung koreksi statik
i Eksplorasi air tanah
j Aplikasi Microseismic

II.2. Metode T X
Metode T-X merupakan salah satu metode pengolahan dan interpretasi data
yang cukup terkenal dalam metode seismik refraksi karena paling sederhana dan
hasilnya cukup kasar. Kedalaman lapisan hanya diperoleh pada titik-titik tertentu
saja, sungguh pun demikian untuk sistem perlapisan yang cukup homogen dan
relatif rata mampu memberikan hasil dengan kesalahan relatif kecil. Namun pada
kondisi yang kompleks diperlukan cara interpretasi lain yang lebih akurat.

5
II.3. Metode Intercept Time
Metode Intercept Time atau Intercept Time Methode (ITM) merupakan
metode yang paling sederhana, hasilnya cukup kasar dan merupakan metode
paling dasar dalam pengolahan data seismik.
Asumsi yang digunakan metode ini adalah:
a. Lapisan homogen (kecepatan lapisa relatif seragam)
b. Bidang batas lapisan rata (tanpa undulasi)
Intercept time artinya waktu penjalaran gelombang seismik dari source ke
geofon secara tegak lurus (zero offset)
Pengolahan data seismic refraksi menggunakan metode ITM terdiri atas
dua macam:
a Satu lapisan datar (Single Horizontal Layer)
b Banyak Lapisan Datar (Multi Horizontal Layers)
II.3.1 Metode Intercept Time Satu Lapis

Cross Over

Intercept
Time
Refracted Wave
Direct

Gambar 2. 2Kurva Travel Time dan penjalaran gelombang pada satu lapisan

6
Gambar 3 menjelaskan bahwa titik O (source) dan R (geofon), dan S-M-P-
R merupakan jejak penjalaran gelombang refraksi, maka persamaan waktu total
(Tt) untuk satu lapisan dari sumber menuju geofon yaitu,

OM MP PR
+ +
Tt= V1 V2 V1 (2.1)

Dapat disederhakan menjadi

X 2 Z cos ic
+
Tt= V2 V1 (2.2)

Berdasarkan defenisi Intercept Time (ti), maka X=0, maka Tt=ti, sehingga ;

2 Z cos ic
Tt= V1

(2.3)

Maka, ketebalan lapisan pertama (Z1) dapat dicari dengan persamaan,

1 t 1 v1
Z1= 2 cos i c

(2.4)
Persamaan Intercept Time (ti) sendiri yaitu:

xx 1 y y 1
ti= = (2.5)
x 2x 1 y 2 y 1

Kecepatan lapisan pertama (V1) dan lapisan kedua (V2),

7
1 y1 y0
V1= m1 dimana m1= x1 x0

(2.6)

1 y2 y0
V2= m2 dimana m2= x2 x0

(2.7)

m1 dan m2 merupakan slope/ kemiringan tendensi waktu gelombang lansung


dan refraksi.Persamaan (2.6) dan (2.7) hanya berlaku bila surveynya
menggunakan penembakanan maju.
Dengan kata lain, kecepatan V1 didapat dari slope tendensi gelombang
lansung, sedangkan kecepatan V2 dari slope tendensi gelombang refraksi pada
grafik jarak vs waktu

II.3.2 Metode Intercept Time Banyak Lapis

V2>V

V3>v

8
Gambar 2.3. Ilustrasi penjalaran gelombang seismik dua lapisan datar yang
berhubungan dengan kurva Jarak-Waktu

Gambar 4 menjelaskan bahwa titik O=Sumber (source) dan G= geofon,


dan O-M-M-P-P-R = jejak penjalaran gelombang refraksi lapisan ke dua,
maka persamaan waktu total (Tt) untuk dua lapisan mulai dari source menuju
geofon yaitu,

SA AB BC CF
+ + +
Tt= V1 V2 V3 V1 (2.8)

Dapat disederhanakan menjadi:

X 2 Z 2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
Tt= V 3 + V 2 +
V1 (2.9)

Berdasarkan Intercept time (ti), X=0, maka Tt=t12, sehingga :

2 Z2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
Tt=t12= + (2.10)
V2 V1

Maka, ketebalan lapisan kedua (Z2) dapat dicari dengan persamaan,

2 Z1 cos i c
V 2(t 12 )
Z2 V1 (2.11)
2 cos i c2

Untuk lapisan yang lebih dari 2 lapisan Waktu total dicari dengan persamaan:

9
n1
X 2 Z 1 cos i ci
Tt= + (2.12)
V n i1 Vi

Sedangkan untuk 3 lapisan datar, kedalaman Z1,Z2, dan Z3dapat dicari dengan:

t 12 V 1
1
Z1= V1 1
+ (2.13)
2 cos (sin ) 2
V2

V1

( )
cos(sin1)
V3
t i 3
V1
cos(sin1 )
Z2= V2 (2.14)
1 V2
2 cos( sin )
V3

V1 V2

( )( )
cos (sin1) 2 Z 2 cos (sin 1 )
V4 V3
t i4
1 V 1 V2
cos(sin ) V3
Z3= V2
1 V2
2 cos(sin )
V4

(2.15)

II.3.3 Metode Intercept Time Untuk Lapisan Miring


Bila reflektor mempunyai dip, maka:
a Kecepatan pada kurva T-X bukan kecepatan sebenarnya (true
velocity), melainkan kecepatan semu (apparent velocity)
b Membutuhkan dua jenis penembakan: Forward dan Reverse Shoot
c Intercept time pada kedua penembakan berbeda, maka ketebalan
refraktor juga berbeda

10
Apparent Velocity ialah kecepatan yang merambat di sepanjang bentangan
geophone

Gambar 2.4. Skema perambatan gelombang pada lapisan miring dan hubungannya
dengan kurva T-X pada lapisan miring menggunakan forward dan reverse shoot
Metode sebelumnya hanya menggunakan forward shooting, sedangkan
untuk aplikasi lapisan miring menggunakan forward shooting dan reverse
shooting. Pada gambar 4, titik A = sumber dan B= geophone (forward
shooting),sedangkan titik B= sumber dan A= geophone (reverse shooting).
Sumber energy di titik A menghasilkan gelombang refraksi down-going (raypath
A-M-P-B) , dan sumber energi di titik B menghasilkan gelombang refraksi up-
going (ray path B-P-M-A).
Waktu rambat ABCD (Tt) pada lapisan miring sebagai berikut:

X cos ( Z a + Z b ) cos c
Tt= + (2.16)
V2 V1

Sedangkan waktu rambat Down-Dip dan Up-Dip:

X sin(c + ) 2 Z a cos c X
Down-Dip Td= + = +t a
V1 V1 Vd

X sin(c ) 2 Z a cos c X
Up-Dip Tu= + = + ta (2.21)
V1 V1 Vd

11
Besar sudut kemiringan lapisan ( dan sudut kemiringan (c), dapat

dicari dengan:

=
1
2 [ ( ) ( )]
V V
sin1 1 sin 1 1
Vd V2

1
c= 2
V
[ ( ) ( )]
V
sin1 1 +sin1 1
Vd V2

(2.17)

Vd dan Vu merupakan kecepatan semu, didapat dengan:

V1 V1
Vd = sin(c + ) dan Vu = sin(c )

(2.18)
Dimana, V1>Vd dan V1<Vu
Sedangkan persamaan Intercept Time pada lapisan miring (X=0) antara lain:

2 Z d cos c 2 Zu cos c
Td=ttd= V1 dan Tu=ttu= V1

(2.19)

Sehingga, kedalaman di bawah sumber A (Za) dan sumber B (Zb) dapat dicari
menggunakan persamaan:

2td V 1 2t u V 1
Za= 2 cos dan Zb= 2 cos

(2.20)

12
Berbeda dengan cara-cara sebelumnya, dengan mempertimbangkan
adanya kecepatan semu (Vapp), maka kecepatan V1 dan V2 dapat dicari dengan
persamaan,

V 1 up +V 1 down
V1= 2 (2.21)

V 2 up +V 2 down
V2= 2 (2.22)

dimana,

x1 x0 x1 x0
V1up= y 1 y 0 dan V1down= y 1 y 0 (2.23)

Serta

x1 x1 x1 x1
V2up= y 1 y 1 dan V2down= y 1 y 1 (2.24)

13
II.4. Metode Critical Distance (CDM)
Metode ini merupakan metode yang digunakan untuk mencari kedalaman
lapisan yang datar dan lapisan miring. Jarak kritis atau critical distance
merupakan jarak simana critical refraction muncul pertama kali, pada waktu
rambat kritik sama dengan waktu rambat gelombang pantul, sudut bias sama
dengan sudut pantul, dan waktu rambat gelombang langsung sama dengan waktu
rambat gelombang bias.

II.4.1. Metode Critical Distance Satu Lapisan


Waktu rambat gelombang dapat diturunkan sebagai berikut :

OM MP PR MP OM x 2h tan c 2h x 2h V1
t 2 1 sin c
V1 V2 V1 V2 V1 V2 V 1cos c V 2 V 1cos c V2

x 2h cos c x 2h
t t V22 V12
V2 V1 V2 V1V2
atau (2.25)

Sehingga dari persamaan 1 tersebut dapat diturunkan ketebalan lapisan h, yaitu


xc xc 2h cos c xc V2 V1
h
V1 V2 V1 2 V2 V1
(2.26)
Kedalaman lapisan pembias juga dapat dihitung berdasarkan waktu pembias pada
jarak 0 (intercept time) dan diperoleh persamaan sebagai berikut :
2
2h1 (V 2 V1 )
2 TiV2V1
Ti h1
2 2
V2V1 2 (V2 V1 )
(2.27)
Dimana Ti adalah intercept time-nya sehingga harga kedalaman refraktor dapat
ditentukan.

14
(a) (b)

Gambar 2.5. a. Kurva waktu rambat gelombang bias dan gelombang pantul
pada lapisan datar.
b. Kurva waktu rambat gelombang bias dan gelombang pantul
pada lapisan datar 3 lapis.

II.4.2. Metode Critical Distance Banyak Lapis

V2>V

V3>v

v
Gambar 2.6. Ilustrasi penjalaran gelombang seismik dua lapisan
datar yang berhubungan dengan kurva Jarak-Waktu

15
Gambar di atas menjelaskan bahwa titik O = Sumber (source) dan G=
geofon, dan O-M-M-P-P-R = jejak penjalaran gelombang refraksi lapisan
kedua, maka persamaan waktu total (Tt) untuk dua lapisan mulai dari source
menuju geofon yaitu,

SA AB BC CF
+ + +
Tt= V1 V2 V3 V1 (2.28)

Dapat disederhanakan menjadi:

X 2 Z 2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
Tt= V 3 + V 2 +
V1

(2.29)

Berdasarkan Intercept time (ti), X=0, maka Tt=t12, sehingga :

2 Z2 cos i c 2 2 Z 2 cos i c
Tt=t12= +
V2 V1

(2.30)

Maka, ketebalan lapisan kedua (Z2) dapat dicari dengan persamaan,

2 Z1 cos i c
V 2(t 12 )
Z2 V1 (2.31)
2 cos i c2

Untuk lapisan yang lebih dari 2 lapisan Waktu total dicari dengan persamaan:

n1
X 2 Z 1 cos i ci
Tt= + (2.32)
V n i1 Vi

16
Sedangkan untuk 3 lapisan datar, kedalaman Z1,Z2, dan Z3dapat dicari dengan:

t 12 V 1
1
Z1= V1 1
+
2 cos(sin ) 2
V2

(2.33)

V1

( )
cos(sin1 )
V3
t i 3
V1
cos(sin1 )
Z2= V2
V2
2 cos( sin1 )
V3

(2.34)

Z3= (2.35)

II.4.3. Metode Critical Distance Lapisan Miring


Prinsip waktu rambat gelombang pada lintasan OMPR pada bidang miring
sama dengan waktu rambat gelombang pada bidang datar, sehingga akan
diperoleh persamaan sebagai berikut :

hd hu x cos (h d hu ) tan ic
Td
V1 cos ic V2
(2.36)

dengan prinsip geometri akan didapatkan persamaan sebagai berikut :

17
x 2h cos ic x 2h cos ic
Td sin( ic ) d Tu sin( ic ) u
V1 V1 V1 V1
atau (2.37)
Berikut adalah kurva waktu rambat untuk gelombang bias pada lapisan miring.

Gambar 2.7. Kurva waktu rambat gelombang bias dan gelombang pantul
pada bidang miring

V1 V1
Sin ( c ) Sin ( c )
Vd Vu
Karena dan , maka dari persamaan 5
akan diperoleh :

1 1 V1 V
sin sin 1 1
2 Vd Vu
(2.38)

1 1 V1 V
c sin sin 1 1
2 Vd Vu
(2.39)

Kecepatan V1 dihitung langsung dari slope gelombang langsung, Vd dan Vu


dihitung dari slope gelombang bias pada masing-masing arah penembakan. Dari
harga Vd dan Vu tersebut dapat kita peroleh harga V2 dengan persamaan berikut :
2V2 uV2 d
V2 cos
V2 u V 2 d
(2.40)

18
Sedang untuk memperoleh ketebalan down-dip dan up-dip dapat kita
selesaikan dengan persamaan sebagai berikut :
t id V1
hd
2 cos c
untuk down-dip (2.41)
t iuV1
hu
2 cos c
untuk up-dip (2.42)

Untuk memperoleh nilai error dari keceptan dilakukan dengan


menggunaka persamaan sebagai berikut :

V 2 apparent V 2 true
error=
V 2 true

(2.43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3. 1 Diagr am Alir Pengolahan Data

19
3.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data

Didapatkan data sintetik yang terdiri dari data offset dan waktu pada setiap
jenis lapisan .
Membuat grafik T-X dengan menggunakan menu chart pada microsift
excel.
Melihat dan mengamati grafik T-X yang telah dibuat dan menentukan
titik-titik refraksi .
Melakukan perhitungan untuk mendapatkan intercept time , jarak
kritis,kecepatan gelombang seismik pada medium satu , kecepatan
gelombang seismik pada lapisan 2 ,kecepatan gelombang sesmik pada
lapisan 3, hingga akhirnya didapatkan kedalan dari masing-masing lapisan
batuan dibawah titik pengukuran.

20
Setelah didapatkannya komponen-komponen diatas kemudian membuat
sebuah penampang 2 dimensi kondisi perlapisan batuan bawah
permukaan tanah.dengan menggunakan menu chart dalam software
microsoft excel .
Setelah didapat gambaran bawah permukaan tanah kemudian dilakukan
pembahasan mengenai hal-hal yang terjadi di bawah permukaan
tanah,mulai dari kecepatan gelombang, kedalaman lapisan ,bentuk lapisan
apakah miring atau datar hingga jenis litologi penyusun lapisan batuan di
bawah permukaan.
Mebuat kesimpulan yang berisikan tulisan ringkas menegenai hal-hal yang
telah didapatkan selama kegiatan .

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengolahan Data


4.1.1 Metode Intercept time Satu Lapis

Tabel 4.1.1 Tabel Pengolahan Data ITM Satu Lapisan.

Satu lapis
offset (m) time (ms) Z (m)
-
0 0 6,85097
-
5 10,9 6,85097
-
10 20,8 6,85097

21
-
15 30,2 6,85097
-
20 43 6,85097
-
25 50,6 6,85097
-
30 55,6 6,85097
-
35 56,7 6,85097
-
40 59,5 6,85097
-
45 63,6 6,85097
-
50 65,9 6,85097
-
55 67,9 6,85097
-
60 72,3 6,85097
-
65 76,8 6,85097
-
70 83,2 6,85097
-
75 87,4 6,85097
-
80 92 6,85097
-
85 98,5 6,85097
-
90 100,9 6,85097
-
95 105,5 6,85097
-
100 112,2 6,85097
-
105 115,2 6,85097

ITM
TI V1
(ms) (m/s) V2 (m/s) IC COS IC Z (m)
494,07 23,513 0,9169
25,43 11 1238,39 33 67 6,850969

4.1.2 Metode Intercept time Banyak Lapis

22
Tabel 4.1.2 Tabel Pengolahan Data ITM banyak Lapisan
Banyak lapis
offset time
(m) (ms) Z1 (m) Z2 (m) Z3(m)
- - -
0 0 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
3 6,6 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
6 13,3 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
9 18,8 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
12 30,2 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
15 31,6 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
18 34,6 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
21 37,8 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
24 44,3 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
27 51,4 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
30 51,5 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
33 52,9 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
36 55,9 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
39 60 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
42 61,4 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
45 65,1 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
48 70,3 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
51 71,4 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
54 73,7 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
57 76,9 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
60 78,1 2,63191 8,77563 18,9712
- - -
63 80 2,63191 8,77563 18,9712

Ti1 ti2 ti3 v1 v2 v3 v4

23
(ms) (ms) (ms) (m/s) (m/s) (m/s) (m/s)
10,96 24,35 37,11 397,3 707,54 1111,1 1546,3
1 1 5 51 72 11 92

z2
cosic cos ic cos ic z1 (m/s z3
ic1 ic2 ic3 1 2 3 (m/s) ) (m/s)
45,9
34,16 39,55 3 0,82 0,77 0,69 2,63 6,14 10,19

4.1.3 Metode Intercept time untuk Lapisan Miring

Tabel 4.1.3 Tabel Pengolahan Data ITM Lapisan Miring


Lapisan Miring
offset Forward Reverse
(m) (ms) (ms) Z (m)
0 0 85,3 -5,62269
5 8,1 81,2 -6,52877
10 14 78,9 -7,43485
15 20,4 76,7 -8,34092
20 28,2 74,8 -9,247
25 33,6 72,3 -10,1531
30 34,6 69,9 -11,0592
35 36,4 67,4 -11,9652
40 38,5 65 -12,8713
45 40,4 64,6 -13,7774
50 43,6 61,3 -14,6835
55 45,4 57,5 -15,5896
60 48,9 55 -16,4956
65 51,5 51,2 -17,4017
70 55,2 49,5 -18,3078
75 58,5 45,8 -19,2139
80 61,5 41,9 -20,1199
85 65,7 37,4 -21,026
90 69,1 26,7 -21,9321
95 73,2 18,2 -22,8382

24
100 77,3 6,8 -23,7443
105 82,5 0 -24,6503

ti f v1 f v2 f
(ms) (m/s) (m/s) ti r (ms) v1 r (m/s) v2 r (m/s)
14,00 744,047 1635,99 534,7593 1774,530
7 6 2 85,441 583 271

Z
ic cos ic Z f (m) Z r (m)interpolasi
-
22,063 0,926 5,6226 24,650 0,9060785
25 77 88 34 38

4.1.4 Metode Critical Distance Satu Lapis

Tabel 4.1.4 Tabel Pengolahan Data CDM satu lapis


Satu lapis
Z CDM
offset (m) time (ms) (m)
-
6,78874
0 0 08
-
6,78874
5 10,9 08
-
6,78874
10 20,8 08
-
6,78874
15 30,2 08
-
6,78874
20 43 08
25 50,6 -
6,78874

25
08
-
6,78874
30 55,6 08
-
6,78874
35 56,7 08
-
6,78874
40 59,5 08
-
6,78874
45 63,6 08
-
6,78874
50 65,9 08
-
6,78874
55 67,9 08
-
6,78874
60 72,3 08
-
6,78874
65 76,8 08
-
6,78874
70 83,2 08
-
6,78874
75 87,4 08
-
6,78874
80 92 08
-
6,78874
85 98,5 08
-
6,78874
90 100,9 08
-
6,78874
95 105,5 08
-
6,78874
100 112,2 08
-
6,78874
105 115,2 08

26
Z1
V1 V2 XC CDM
494,0 1238, 20,71 6,788
711 39 436 741

4.1.5 Metode Critical Distance Banyak Lapis

Tabel 4.1.5 Tabel Pengolahan Data CDM banyak lapis


Banyak lapis
offset time
(m) (ms) Z1 (m) Z2 (m) Z3 (m)
- - -
0 0 3,0478 494,071 528,671
- - -
3 6,6 3,0478 494,071 528,671
- - -
6 13,3 3,0478 494,071 528,671
- - -
9 18,8 3,0478 494,071 528,671
- - -
12 30,2 3,0478 494,071 528,671
- - -
15 31,6 3,0478 494,071 528,671
- - -
18 34,6 3,0478 494,071 528,671
- - -
21 37,8 3,0478 494,071 528,671
- - -
24 44,3 3,0478 494,071 528,671
- - -
27 51,4 3,0478 494,071 528,671
- - -
30 51,5 3,0478 494,071 528,671
- - -
33 52,9 3,0478 494,071 528,671
- - -
36 55,9 3,0478 494,071 528,671
39 60 - - -

27
3,0478 494,071 528,671
- - -
42 61,4 3,0478 494,071 528,671
- - -
45 65,1 3,0478 494,071 528,671
- - -
48 70,3 3,0478 494,071 528,671
- - -
51 71,4 3,0478 494,071 528,671
- - -
54 73,7 3,0478 494,071 528,671
- - -
57 76,9 3,0478 494,071 528,671
- - -
60 78,1 3,0478 494,071 528,671
- - -
63 80 3,0478 494,071 528,671

v2
v1 (m/s) (m/s) v3 (m/s) v4 (m/s)
397,3509 707,54
934 72 1111,111111 1546,391753

lapisan 1
xc 1 xc 2 xc3 z1 (m)
11,5042768 27,2931 55,8599562 3,04779971
7 1 4 2

Lapisan 2
v3-v1 v2-v1
pembagi kuadrat kuadrat v3-v2
an z1/v1 akar akar kuadrat akar z2 (m)
0,007
0,471 6 1037,63 585,435 856,705 5,6791

lapisan 3
v4-v1 v4-v3
pembagia kuadrat v3-v1 kuadrat
n z1/v1 akar kuadrat akar akar
0,007
0,404 6 1375,02 1037,63 1075,527

lapisan 3
v4-v2 kuadrat v3-v2 kuadrat v4-v3 kuadrat
akar akar akar z3 (m)

28
1375,028 856,705 1075,527 10,336

4.1.6 Metode Critical Distance Lapisan Miring

Tabel 4.1.6 Tabel Pengolahan Data CDM Lapisan Miring


Lapisan Miring
offset forwar rever
(m) d se Z (m)
0 0 85,3 -5,63132
5 8,1 81,2 -6,79517
10 14 78,9 -7,95903
15 20,4 76,7 -9,12289
20 28,2 74,8 -10,2867
25 33,6 72,3 -11,4506
30 34,6 69,9 -12,6145
35 36,4 67,4 -13,7783
40 38,5 65 -14,9422
45 40,4 64,6 -16,106
50 43,6 61,3 -17,2699
55 45,4 57,5 -18,4337
60 48,9 55 -19,5976
65 51,5 51,2 -20,7614
70 55,2 49,5 -21,9253
75 58,5 45,8 -23,0892
80 61,5 41,9 -24,253
85 65,7 37,4 -25,4169
90 69,1 26,7 -26,5807
95 73,2 18,2 -27,7446
100 77,3 6,8 -28,9084
105 82,5 0 -30,0723

v2 f
v1 f (m/s) (m/s) v2 r (m/s) v1 r (m/s)
744,0476 1635,992 1774,53 534,7594

Z interpolasi
xc xc z f (m) Zr (m) (m)
18,39769 82,0852214 5,6313 30,072
136 6 19 29 -1,163855769
4.2 Hasil Dan Pembahasan Pengolahan Data
4.2.1 Metode Intercept Time Satu Lapis
4.2.1.1 Grafik T-X

29
Gambar 4.1 Gambar Grafik T-X Satu Lapisan

Gambar di atas adalah gambar kurva T-X satu lapisan batuan. KURVA T-X
memuat informasi berupa besarnya time dan offset yang kita lakukan selama
pengukuran seismik refraksi . Kurva T-X juga memberikan informasi menengenai
titik-titik yang dilalui gelombang langsung dan refraksi. Pada kurva T-X diatas
gelombang langsung ditangkap pada offset 25 meter.Dimana jarak antar geophone
adallah 5 meter. Karena gelombang seismik mengenai sebuah bidang perlapisan
Kemudian gelombang lansung terefraksikan dan pertamakali gelombang refraksi
ditangkap pada offset 25 meter. Gelombang seismik pertamakali terrefraksikan
pada jarak 25 meter dengan waktu tempuh 50,6 s dari sumber geophone hingga
jarak 105 meter dengan waktu tempuh 115,2 s . Titik refraksi sendiri adallah titik
dimana gelombang menemui sebuah perlapisan batuan dan telah melewati sudut
kritisnya. Pada kurva diatas gelombang seismik dibiaskan menjauhi dari garis
normal yang berarti besar nilai kecepatan gelombang dilapisan 1 lebih kecil
daripada kecepatan gelombang di lapisan 2.

4.2.1.2 Profil Bawah Permukaan

30
Gambar 4.2 Profil Bawah Permukaan 1 lapisan

Gambar diatas adallah gambar penampang perlapisan tanah bawah


permukaan bumi pada lokasi penelitian. Pada gambar diatas lintasan pengukuran
sepanjang 105 meter di permukaan bemi dan menghasilkan penetrasi gelombang
yang tertangkap hingga kedalaman 7 meter dibawah permukaan tanah.Dalam
gambar penampang lapisan batuan bawah permukaan tersebut diangap bahwa
batas perlapisan adalah datar tanpa adanya suatu undulasi,selain itu satu buah
lapisan yang tergambar diangap homogen tanpa adanya perselingan,sisipan dan
struktur-struktur geologi lain. Perbedaan antara metode T-X ITM dan T-X CDM
adallah pada diketahuinya jarak antara source dengan ttitik bias.Nilai kecepatan
gelombang seismik pada lapisan tersebut sebesar 494,0711462 m/s pada lapisan
pertama menurut Burger (1992) lapisan tersebut tersusun dari litologi soil dan
pada titik pembiasan gelombang merambat dengan kecepatan 1238,390093 m/s
,lapisan batuan tersebut tersusun dari litologi clay.

4.2.2 Metode Intercept Time Banyak Lapis


4.2.2.1 Grafik T-X

31
Gambar 4.3 Gambar grafik T-X Banyak Lapisan

Gambar diatas adallah kurva T-X yang mengambarkan adanya banyak


lapisan dibawah permukaan bumi yang ditangkap oleh geophone.Kurva T-X
adallah kurva yang dibentuk oleh dua komponen yaitu komponen jark(offset) dan
komponen waktu (time) . Sehingga dari dua komponen tersebut dapat diketahui
letak dan kapan gelombang refraksi dibiaskan. Dalam kurva T-X di atas diketahui
bahwa gelombang seismik dibiaskan sebanyak 3 kali sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa gelombang seismik tersebut telah melewati sebanyak 3 buah
lapisan batuan dan 4 buah batas perlapisan batuan dibawah permukaan tanah.
Pada kurva T-X diatas gelombang seismik yang terrefraksikan dan terbaca oleh
geophone pada jarak 12 meter pada waktu 30,2 ms, 27 meter pada waktu 51,4
ms dan 48 m pada waktu 70,3.

4.2.2.2 Profil Bawah Permukaan

32
Gambar 4.4 Gambar Profil Kedalaman Banyak Lapisan

Gambar diatas merupakan penampang tiga buah lapisan batuan bawah


permukaan yang berhasil didapatkan dari serangkain proses pengolahan data
seismik refraksi . Penampang perlapisan batuan bawah permukaan tersebut
diambil dengan offset sejauh 60 meter dan nilai kedalaman penetrasi gelombang
seismik yang terbaca oleh geophone berhasil mendeteksi tiga buah lapisan batuan
bawah permukaan dengan kedalaman hingga 30 meter .dimana lapisan batuan
pertama memiliki ketebalan sebesar 2,631906989 meter, ketebalan lapisan batuan
kedua sebesar 6,143724611 meter dan ketebalan lapisan ketiga yang paling bawah
setebal 10,19558778 meter. Dimana pada lapisan pertama gelombang seismik
merambat dengan kecepatam sebesar 397,3509934m/s kecepatan tersebut
menandakan adanya litologi soil menurut Burgu r(1992) ,pada lapisan batuan
kedua gelombang seismik merambat dengan kecepatan 707,5471698 m/s
kecepatan tersebut menandakan litologi clay , pada lapisan batuan ketiga
gelombang seismik merambat dengan kecepatan sebesar 1111,111111 m/s yang
diperkirakan merupakan lapisan litplogi clay dan pada batas bidang perlapisan ke
empat gelombang seismik merambat dengan kecepatan sebesar 1546,391753m/s.
Dari data kecepatan gelombang seismik tiap-tiap lapisan dapat di interpretasikan
bahawa semakin dalamlapisan batuan maka semakin keras pula batuan karena
semakin dalam batuan di bawah permukaan bmi semakin cepat pula gelombang
seismik melaluinya

4.2.3 Metode Intercept Time Lapisan Miring

33
4.2.3.1 Grafik T-X

Gambar 4.5 Gambar grafik T-X Lapisan miring

Kurva diatas merupakan kurva T-X yang menggambarkan kenampakan


lapisan miring dibawah permukaan bumi. Pengukuran metode seismik refraksi
pada kurva diatas dilakukan dengan cara dua kali dengan arah yang berlawanan
pertamakali pengukuran dilakukan dari arah offset dan bergerak maju metode ini
sering disebut forwad kemudian pengukuran dilakukan lagi dengan line yang
sama tetapi dengan arah pengukuran yang sebaliknya (reverse method). Metode
pengukuran seperti ini memungkinkan menghasilkan sebuah lapisan miring
dibawah permukaan bumi. Dari kurva diatas pengukuran forward dilakukan dari
offset 0 meter ke offset 105 meter sebaliknya pengukuran reverse dilakukan dari
offset 105 meter ke offset 5 meter.Dimana pada pengukuran forward gelombang
seismik dibiaskan pada offset 25m dan pada waktu 33,6 ms. Sedangkan pada
pengkuran reverse gelombang seismik dibiaskan pada offset 85 meter dan pada
waktu 65,7 ms. Dari kurva didapatkan bahwa titik refraksi reverse lebih tinggi
daripada titik refraksi forward hal ini menandakan semakin ke reverse lapisan
akan semakin dalam.

4.2.3.2 Profil Bawah Permukaan

34
Z ITM LAPISAN MIRING
0

-5

-10
ITM
KEDALAMAN(m) -15

-20

-25

-30

OFFSET(m)

Gambar 4.6 Gambar Profil Kedalaman lapisan miring

Penampang diatas adallah penampang yang menggambarkan hasil dari


kurva T-X forward dan reverse. Pada pengukuran seismik refraksi forward dan
reverse seismik refraksi diatas dilakukan pada offsest lintasan mulai dari 0 meter
hingga 105 meter dan lapisan batuan bawah permukaan bumi yang tergambarkan
berupa lapisan batuan miring yang arah kemiringan lapisanyan semakin dalam ke
arah offset 105 meter.dimana di offset 150 meter lapisan yang terbaca memiliki
kedalaman hingga 24 meter dibawah permukaan bumi sedangkan pada offset 0
kedalaman lapisan yang terbaca sedalam 5,6 meter dibawah permukaan tanah.
Hal ini membuktikan bahwa lapisan batuan dibawah line penelitian memiliki arah
miring ke offset 105 meter. Pada saat pengukuran forward terbaca kecepatan
gelombang pada lapisan batuan sebesar 744,047619 m/s kecepatan tersebut
kemungkinan lapisan yang dilewati gelombang adallah lapisan litologi clay dan
saat melewati batas perlapisan batuan gelombang seismik merambat dengan
kecepatan 1635,99182 m/s yang kemungkinan merupakan lapisan dengan litologi
clay menurut Burger (1992) . Sedangkan pada saat pengukuran reverse gelombang
seismik yang melewati lapisan batuan pertama memiliki kecepatan sebesar
534,7593583 m/s dan saat melewati batas bidang perlapisan gelombang seismik
bergerak dengan kecepatan 1774,530271 m/s baik pengukuran forward maupun
reverse sama-sama melewati lapisan dengan litologi clay.
4.2.4 Metode Critical Distance Satu Lapis

35
4.2.4.1 Grafik T-X

Gambar 4.7 Gambar Grafik T-X Satu Lapisan

Kurva di atas adallah kurva T-X yang menggambarkan permbatan


gelombang langsung dan refraksi dibawah permukaan bumi. Kurva T-X diatas
terdiri dari 2 komponen yaitu komponen offset(m) dan komponen Time(ms).
Kurva T-X diatas terdiri dari komponen offset dari jarak 0 meter hingga 105 meter
dan komponen time mulai dari 0ms hingga 115ms. Pada kurva T-x diatas
gelombang seismik direfraksikan pada titik dengan offset 25 meter dan pada
waktu 50,6 ms. Dan gelombang refraksi yang terhair kali terbaca oleh geophone
memilili jarak 105meter pada waktu 115,2ms. Gelombang seismik mengalami
pembiasan dikarenakan gelombang seismik bertemu dengan sebuah batas batuan
yang memiliki jenis kerapatan beda.Dimana pada kurva diatas kerapatan benda
setalah gelombang direfraksikan lebih rapat dari benda yang dilalui gelombang
seismik sebelum gelombang tersebut di refraksikan, Hal itu ditandai dengan
kecepatan gelombang dimedium 2/batas kontak perlapisan lebih cepat daripada
kecepatan gelombang seismik pada perlapisan batuan yang terbaca. Pada metdone
CDM ini kita bisa menegetahui jarak permbatan gelombang dari source ke titik
pembiasan, dari data yang didapat nilai panjang critical distance sebesar
20,7143566 meter.
4.2.4.2 Profil Bawah Permukaan

36
Gambar 4.8 Gambar Profil Kedalaman lapisan datar CDM

Gambar diatas adallah gambar penampang perlapisan tanah bawah


permukaan bumi pada lokasi penelitian. Pada gambar diatas lintasan pengukuran
sepanjang 105 meter di permukaan bemi dan menghasilkan penetrasi gelombang
yang tertangkap hingga kedalaman 7 meter dibawah permukaan tanah.Dalam
gambar penampang lapisan batuan bawah permukaan tersebut diangap bahwa
batas perlapisan adalah datar tanpa adanya suatu undulasi,selain itu satu buah
lapisan yang tergambar diangap homogen tanpa adanya perselingan,sisipan dan
struktur-struktur geologi lain. Pada penampang CDM diatas kedalaman lapisan
batuan bawah permukaan bumi yang berhasil terbaca sebesar 6,788740786 meter
dibawah permukaan bumi, nilai tersebut sedikit berbeda sengan nilai kedalaman
lapisan yang dihasilkan denganmetode T-X itm . Nilai kecepatan gelombang
seismik pada lapisan tersebut sebesar 494,0711462 m/s pada lapisan pertama
menurut Burger (1992) lapisan tersebut tersusun dari litologi soil dan pada titik
pembiasan gelombang merambat dengan kecepatan 1238,390093 m/s ,lapisan
batuan tersebut tersusun dari litologi clay.

4.2.5 Metode Critical Distance Banyak Lapis

37
4.2.5.1 Grafik T-X

Gambar 4.9 Gambar Grafik T-X Satu Lapisan

Gambar diatas adallah kurva T-X yang mengambarkan adanya banyak


lapisan dibawah permukaan bumi yang ditangkap oleh geophone.Kurva T-X
adallah kurva yang dibentuk oleh dua komponen yaitu komponen jark(offset) dan
komponen waktu (time) . Sehingga dari dua komponen tersebut dapat diketahui
letak dan kapan gelombang refraksi dibiaskan. Dalam kurva T-X di atas diketahui
bahwa gelombang seismik dibiaskan sebanyak 4 kali sehingga dapat diambil
kesimpulan bahwa gelombang seismik tersebut telah melewati sebanyak 3 buah
lapisan batuan dan 4 buah batas perlapisan batuan dibawah permukaan tanah.
Pada kurva T-X diatas gelombang seismik yang terrefraksikan dan terbaca oleh
geophone pada jarak 12 meter pada waktu 30,2 ms, 27 meter pada waktu 51,4
ms dan 48 m pada waktu 70,3. Pada metode CDM ini dapat diketahui jarak titik
source ke titik pembiasan dari data yang telah diolah. Jarak bias masing masing
lapisan sebagai berikut ,jarak antara source dengan titik bias pertama sebesar
11,50427687 meter,jarak penjalaran gelombang dari titik bias pertama ke titik bias
kedua sebesar 27,29311048 m dan jarak antara titik bias ke tiga sebesar
55,85995624 meter.

4.2.5.2 Profil Bawah Permukaan

38
Gambar 4.10 Gambar Profil Kedalaman Banyak Lapisan

Gambar diatas merupakan penampang tiga buah lapisan batuan bawah


permukaan yang berhasil didapatkan dari serangkain proses pengolahan data
seismik refraksi . Penampang perlapisan batuan bawah permukaan tersebut
diambil dengan offset sejauh 60 meter dan nilai kedalaman penetrasi gelombang
seismik yang terbaca oleh geophone berhasil mendeteksi tiga buah lapisan batuan
bawah permukaan dengan kedalaman hingga 30 meter .dimana lapisan batuan
pertama memiliki ketebalan sebesar 3,047799712meter, ketebalan lapisan batuan
kedua sebesar 5,679121338meter dan ketebalan lapisan ketiga yang paling bawah
setebal 10,33617056 meter. Dimana pada lapisan pertama gelombang seismik
merambat dengan kecepatam sebesar 397,3509934m/s yang kemungkinan litologi
yang dilewati berupa litologi soil, pada lapisan batuan kedua gelombang seismik
merambat dengan kecepatan 707,5471698 m/s Iyang kemungkinan lapisan terdiri
dari litologi clay , pada lapisan batuan ketiga gelombang seismik merambat
dengan kecepatan sebesar 1111,111111 m/s dan pada batas bidang perlapisan ke
empat gelombang seismik merambat dengan kecepatan sebesar1546,391753m/s
yang kemungkinan berlitologi clay menurut Burger (1992). Dari data kecepatan
gelombang seismik tiap-tiap lapisan dapat di interpretasikan bahawa semakin
dalamlapisan batuan maka semakin keras pula batuan karena semakin dalam
batuan di bawah permukaan bmi semakin cepat pula gelombang seismik
melaluinya.

4.2.6 Metode Critical Distance Lapisan Miring

39
4.2.6.1 Grafik T-X

Gambar 4.11 Gambar grafik T-X Lapisan miring

Kurva diatas merupakan kurva T-X yang menggambarkan kenampakan


lapisan miring dibawah permukaan bumi. Pengukuran metode seismik refraksi
pada kurva diatas dilakukan dengan cara dua kali dengan arah yang berlawanan
pertamakali pengukuran dilakukan dari arah offset kanan ke kiri metode ini sering
disebut forwad kemudian pengukuran dilakukan lagi dengan line yang sama tetapi
dengan arah pengukuran yang sebaliknya (reverse method). Metode pengukuran
seperti ini memungkinkan menghasilkan sebuah lapisan miring dibawah
permukaan bumi. Dari kurva diatas pengukuran forward dilakukan dari offset 0
meter ke offset 105 meter sebaliknya pengukuran reverse dilakukan dari offset
105 meter ke offset 5 meter.Dimana pada pengukuran forward gelombang seismik
dibiaskan pada offset 25m dan pada waktu 33,6 ms. Sedangkan pada pengkuran
reverse gelombang seismik dibiaskan pada offset 85 meter dan pada waktu 65,7
ms. Dari kurva didapatkan bahwa titik refraksi reverse lebih tinggi daripada titik
refraksi forward hal ini menandakan semakin ke reverse lapisan akan semakin
dalam. Dalam metode CDM didapatkan jarak permabatan gelombang seismik dari
source ke titik bias yang dinamakan xc (jarak critical) .Nilai xc pada pengukuran
forward sebesar 18,39769136 m dan nilai xc pada pengukuran reverse sebesar
82,08522146 m.
4.2.6.2 Profil Bawah Permukaan

40
Gambar 4.12 Gambar Profil Kedalaman lapisan miring

Penampang diatas adallah penampang yang menggambarkan hasil dari


kurva T-X forward dan reverse. Pada pengukuran seismik refraksi forward dan
reverse seismik refraksi diatas dilakukan pada offsest lintasan mulai dari 0 meter
hingga 105 meter dan lapisan batuan bawah permukaan buki yang tergambarkan
berupa lapisan batuan miring yang arah kemiringan lapisanyan semakin dalam ke
arah offset 105 meter.dimana di offset 150 meter lapisan yang terbaca memiliki
kedalaman hingga 30,07228976 meter dibawah permukaan bumi sedangkan pada
offset 0 kedalaman lapisan yang terbaca sedalam 5,631318606 meter dibawah
permukaan tanah. Hal ini membuktikan bahwa lapisan batuan dibawah line
penelitian memiliki arah miring ke offset 105 meter. Pada saat pengukuran
forward terbaca kecepatan gelombang pada lapisan batuan sebesar 744,047619
m/s kecepatan tersebut kemungkinan lapisan yang dilewati gelombang adallah
lapisan litologi clay dan saat melewati batas perlapisan batuan gelombang
seismik merambat dengan kecepatan 1635,99182 m/s yang kemungkinan
merupakan lapisan dengan litologi clay menurut Burger (1992) . Sedangkan pada
saat pengukuran reverse gelombang seismik yang melewati lapisan batuan
pertama memiliki kecepatan sebesar 534,7593583 m/s dan saat melewati batas
bidang perlapisan gelombang seismik bergerak dengan kecepatan 1774,530271
m/s baik pengukuran forward maupun reverse sama-sama melewati lapisan
dengan litologi clay.
BAB V

41
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari serangkaian kegiatan dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut:

Metode ITM dan CDM adallah metode sesmik refraksi dengan


menngunakan asumsi bahwa lapisan batuan bersifat homogen dan batas
antar lapisan adallah datar tanda undulasi.
Dalam kurva T-X dengan pembiasan gelombang satu kali berarti terdapat
satu jenis lapisan yang terbaca .
Pada metode ITM dan CDM satu lapisan didapatkan data kedalaman
lapisan sebesar 6,850969355 meter dan 6,788740786 meter dengan
kecepatan v1 sebesar 494,0711462 m/s dengan litologi soil dan v2 sebesar
1238,390093 m/s dengan litologi clay .
Pada metode ITM dan CDM lapisan miring didapat lapisan miring ke arah
offset 105 meter. Deng ITM didapat kedalaman mulai dari
5,622688414meter hingga 24,65033771 meter.Dan dengan metode CDM
didapat kedalaman mulai dari 5,631318606 meter hingga 30,07228976
meter.
Pada metode ITM dan CDM banyak lapis didapat sebanyak 3 lapisan
batuan yang semakin dalam semakin kompak litologinya. Pada metode
ITM didapat kedalaman lapisan 1 sedalam 2,631906989 meter, lapisan dua
sedalam 6,143724611 meter danlapisan tiga sedalam 10,19558778 meter.
Sedangkan pada metode CDM didapat profil kedalaman lapisan satu
sedalam 3,047799712 meter, lapisan dua sedalam 5,679121338 meter dan
lapiaan tiga sedalam 10,33617056 meter.

5.2 Saran

Dalam pengolahan data seismik refraksi CDM dan ITM dianjurkan dalam
keadaan sehat jasmani dan rohani , diusahan melaksanakan pengolahan data
dengan fikiran tenang,teliti dan fokus dikarenakan rumus yang dipakai dalam

42
pengolahan banyak lapis sangat panjang dan cukup membinggungkan.
Dibutuhkan kerjasama kelompok yang solid untuk dapat menyelesaikan
pengolahan data hingga laporan.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/7085736/eksperimen_seismik_refraksi (diakses pada


18 februari 2017)

43
Staff Asisten Laboratorium Seismik refraksi. 2017. Buku Panduan Praktikum
Seismik refraksi. Yogyakarta: Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta

Telford, Geldart and Sherif, 1990, Applied Geophysics, Cambridge University


Press, New York, Melbourne.

44