Anda di halaman 1dari 41

Rangkuman HATAH

Sesi 1 29 Agustus 2016

Absensi 2,5 persen

Tugas 1 10 persen

Tugas 2 10persen 14 nov

Uts 30 persen

tugas 3 12,5 persen 28 nov

Uas 35 persen

Minggu keenam = revisi tugas 1 polio bergaris kengkap 1 baris

Pokok-pokok bahsan :

- Pengertian dan sistematika HATAH


- Pengertian dan sistematika HPI
- Latar belakang HATAH
- Sumber Hukum HATAH

Definisi HPI

keseluruhan peraturan, dan keputusan yang menunjukkan stelsel hukum mana


yang berlaku atau apa yang merupakan hukum, jika hubungan-hubungan dan
peristiwa-peristiwa antara warga (warga) negara pada satu waktu tertentu
memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah hukum
dari dua atau lebih Negara, yangt berbeda dengan lingkungan-lingkungan kuasa
tempat, (pribadi) dan soal-soal.

Pohon disiplin hukum soerjono soekanto

Istilah
- Hukum perselisihan
- Hukum collisie
- Hukum antargolongan
- Hukum antar tempat, antar adat
- Hukum antar waktu
- HATAH
- HATAH Intern
- HATAH Ekstern, HPI

HATAH:

- Intern HATAH AJA


Antar waktu
Antar tempat
Antar golongan
- Ekstern HPI

Latar belakang

1. Kebhinnekaan bangsa Indonesia

Cornelis van Vollenhoven dalam Het Adatrecht van Nederlandsch-Indi


membagi bangsa Indonesia ke dalam 19 lingkungan hukum adat
(rechtskringen),

2. Nusantara menjadi daerah tujuan emigrasi bagi banyak bangsa.

Tionghoa, India, Arab, Eropa.

3. Indonesia (Hindia Belanda) adalah bekas daerah jajahan Belanda.

4. Politik Hukum Penjajah:

Politik rasial

Pembagian kawula Hindia Belanda ke dalam golongan-


golongan rakyat (bevolkingsgroupen)

Pemberlakuan Asas Konkordansi (Concordantiebeginsel)

Pemberlakuan hukum Belanda di Hindia Belanda

5. Kemerdekaan Indonesia

Kemerdekaan di Bidang Politik

Kemerdekaan di Bidang Ekonomi

Kemerdekaan di Bidang Sosial


Penghapusan penggolongan pendudukan berdasarkan
rasialisme

Cita-cita pembentukan Sistem Hukum Nasional

Definisi HATAH

HATAH:

- Dua atau lebih sistem hukum bertemu


- Pertemuannya ditandai dgn adanya titik pertalian
- HATAH menentukan stelsel hukum yang berlaku
- HATAH intern tidak punya unsur asing karena dalam satu negara
- Kedudukan stelsel hukum sama satu sama lain
- Stelsel A diberlakukan karena ia paling cocok di situasi tersebut

Hukum antar waktu Prof Gouw

W W

TT

P P

S S

W = waktu

T = tempat

P =pribadi

S = soal-soal

Karena waktu berbeda tapi tempat sama, P dan S berbeda pula


Hukum antar tempat HPI Semu karena cmn beda satu negara, sementara HPI
beda negara

WW

T T

P P

S S

Waktu sama, tapi karena tempat beda, P dan S berbeda pula

Hukum Antar Golongan

WW

TT

P P

S S

Waktu dan tempat sama, tapi pribadi dan soal-soal berbeda

HATAH Ekstern/HPI 2 atau lebih negara

WW

T T

P P

S S

Neg. X Neg. Y
Waktu sama, namun tempat dan negara berbeda. Berbeda pula pribadi dan soal-
soalnya.

HATAH Ekstern memiliki unsur asing. HATAH ekstern adalah hukum perdata nasional
mengatur masalah-masalah yag ada unsur asing

HPI

Supra
Sumber hukum SDA

Latar Belakang HATAH:

- Kebhinekaan bangsa Indonesia


- Nusantara tujuan emigrasi
- Politik hukum penjajah
- Kemerdekaan Indonesia

Sumber Hukum HPI:

1. AB Stb 1847 No. 23:


- Pasal 16 Scripta Personal
- Pasal 17 Scripta Realia
- Pasal 18 Scripta Mixta

2. Perjanjian Internasional
3. Doktrin
4. RUU HPI Indonesia

Dasar Pasal 1 Aturan Peralihan UUD 1945

- Bawa BW
- Bawa Fotokopi Akte

Sesi 2 5 September 2016


- Penggolongan penduduk tidak sesuai dengan UUD 1945 karena UUD 1945
mengatakan semua warganegara mempunyai kedudukan yang sama di
depan hukum
- Awal pluralism kebijakan pemerintah belanda colonial yang memelihara
sistem hukum sebelum mereka datang, ditambah dengan sistem hukum
mereka sendiri
- Daftar tahun
a. 1848
1. Eropa
2. Pribumi
b. 1855
1. Eropa
eropa
Jepang karena kepentingan dagang
2. Pribumi (termasuk yg nasrani)
Tiongkok
Arab
Pribumi
India
c. 1920
1. Eropa
Belanda
orang Eropa yang berasal atau memliki tempat tinggal di Eropa
Jepang
Yang hukum keluarganya dipersamakan dengan hukum Belanda
seperti Turki dan Thailand
Keturunan yang sah daripada keempat golongan di atas
2. Timur asing
Tionghoa
Bukan Tionghoa
3. Pribumi
- 131 IS ayat 2 butir a asas konkordansi gk persis sama, sesuai kebutuhan
pemerintah kolonial
- 163 IS penggolongan penduduk
- Gk ada kata mungkin, kalau saya, ya udahlah, gak tahu
- 1855 timur asing berlaku BW dan WvK, kecuali soal kekeluargaan dan
waris
- 1919 Timur asing bukan tionghoa berlaku BW dan WvK, kecuali family,
warisan tanpa wasiat
Timur asing tionghoa berlaku BW dan WvK sepenuhnya kecuali
adopsi
- Sejauh mana concordantie disimpangkan? Sejauh kepentingan pemerintah
colonial
- Golongan Pribumi juga ada pakai hukum barat, mislanya soal IMA (PT
Pribumi), Koperasi pribumi, pengampuan
- Perkawinan dan agrarian bukan unifikasi
- Stratifikasi berdasarkan ras sudah tidak ada karena tidak sesuai dengan
semangat persamaan hak yang dibawa konstitutsi, yang ada hanya
penggologan hukum saja
- Penggolongan penduduk sdh gk ada, penggolongan hukum yang ada

Sesi 3

Titik Pertalian

Hal-hal atau keadaan yang menyebabkan berlakunya suatu stelsel hukum

Titik Pertalian Primer

Keadaan yang menciptakan suatu hubungan menjadi persoalan HATAH

Misal : 1. Para pihak (domisili, residence, kewarganegaraan)

Akibat dari penggolongan penduduk adalah warna atau pluralisme warna dalam
hukum di Indonesia.

tidak bicara tetntang golongan penduduk hari ini tapi golongan hukum. Para pihak
masih menjadi

pembeda

2. [Tanah] dihapus UU 5/60

Hukum agraria tidak mengunifikasi, masih diakui hak ulayat dalam UU PA.
contohnya Girik yang

menurut hukum adat adalah hak miliki itapi ketika di t

3. Pilihan hukum dalam hubungan intern

4. [Hakim] dihapus UU Drt 1/1951

uu kekuasaan kehakiman mengakui adanya pengadilan agama. Pengadilan adat


juga masih ada.

5. Agama

Ada Pemerintahan aceh. Hukum yang ada adalah hukum islam. Ada qanun dan KHI.
Inpres berlaku

tentang KHI, UU tentang Pemerintah Aceh.


Titik Pertalian Sekunder

Faktor yang menentukan hukum mana yang harus diberlakukan

1. Pilihan hukum para pihak (antar golongan)

2. Milieu : situasi dan kondisi dari melingkupi

3. Kedudukan masyarakat yang lebih tinggi

4. Tawaran kepada umum

5. Masuk ke dalam suasana hukum pihak lain

Orang yang berasal dari satu golongan rakyat melakukan suatu perrbuaan hukum
masuk ke suasana hukum dari

golongan rakyat lain. Seolah-olah dengan kemauan sendiri seseorang dari


menaklukkan diri pada hukum dari

suasana yang dimasukinya. Mempunyai hubungan erat dengan TPS yang


sebelumnya. Penentuannya dilakukan

oleh hakim.

6. Tanah sebagai perjanjian accessoir

7. Agama

Lex rei sitae : hukum tempat letaknya benda. Untuk benda tetap pasti pakai lex rei
sitae

Lex loci actus, lex loci contractus : tempat dilaksanakannya perbuatan hukum,
dibuatnya kontrak

1. Common law : mailbox theory : negara yg ngirim jawaban

2. Civil law : acceptance theory : negara yg ngirim offer

Lex loci solutionis : tempat dilaksanakakannya kontrak

Lex loci delicti comissi : tempat dilakukannya PMH. Jaman sekarang dipandang
terlalu kaku, perlu dilihat milieu (situasi

&kondisi) nya

1. Common law : akibat

2. Civil law : perbuatan fisik


Titik Pertalian Lebih Lanjut

Titik Pertalian Kumulatif

1. Hukum nasional + hukum asing

2. Dua stelsel hukum yg kebetulan

Titik Pertalian Alternatif domisili/residence

Titik Pertalian Pengganti utk org apatride

Titik Pertalian Tambahan

Titik Pertalian Accessoir


Sesi 4

Status Personal Subyek Hukum

Subyek Hukum :

- Pribadi Kodrati
- Pribadi Hukum

Fungsi HTI mennetukan hukum mana yang berlaku

Status Personalia kelompok kaidah-kaidah yang mengikuti seseorang di manapun


dia pergi

Mencakup:

- Keberadaan suatu subyek hukum


- Kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum
- Perlindungan terhadap subyek hukum
- Hubungan kekeluaaan dan pewarisan

Macam status personalitas

- Nasionalitas Indnesia, lihat di UU Kewarganegaraan


- Domisili
- [habitual residence]

Nasionalitas hukum dari tempat negara dia jadi WN

WNI (pasal 2 UU Kewarganegaraan)

- Orang Indonesia asli


- Bangsa lain yang jadi WNI

Ptinsip kewarganegaraan Indonesia tunggal

Sebelum 2006 harus dimintakan utk dapat kewarganegaraan

Domisili

- Anglo Saxon
- Tempat yang bersangkutan berdomisili

Domisili pusat darikehidupan seseorang


Di Inggris

- Domicile of origins
- Domicile of choice
- Domicile by operation of law

Prinsip:

- Setiap orang pasti punya


- Setiap waktu, satu domisili
- Penentuannya menuru hukum inggris

Dewasa menurut batasan umur

Cakap mampu lakukan perbuatan hukum bisa tanggung jawab pula syarat:
dewasa, tidak diampu

Domicile of origins

- Dapa dipeoleh seseoang


- Syarat-syarat:
a. Cakap
b. Residence kediaman sehari-hari
c. Keinginan uk tinggal menetap makam, testamen

By operation of law

- Karena bergantung pada orang lain


Anak belum dewasa
Wanita dalam perkawinan
Yang di bawah pengampuan

Doctrine of revival klo doc lama sdh ditinggalkan dan doc baru belum dapat, of
origins aktif lagi

Doctrine of continuance of domicile domicile yang bersangkutan tetap aktif


sampai yg baru aktif

Habitual Residence

- Kelanjutan dari yang sbeelum-sebelumnya


- HCPIL 1902, Konvensi 2007
- Interpretasi ordinary residence, chosen voluntarily, settled on purpose
- Pilihan bagi ada 2 kewarganegaraan
Status Personal Badan Hukum

- Untuk tahu ada gk sih badan hukum


- Kemampuan utk bertindak badan hukum organisasi hukum
- Hubungan-hubungan dengan pihak ketiga
- Cara-cara perubahan AD
- Berhentinya badan hukum

Status Personal Badan Hukum berguna untuk:

Menentukan ada tidaknya badan hukum

Menentukan kemampuan untuk bertindak dalam hukum

Menentukan hukum yang mengatur organisasi intern dan hubungan-hubungan


hukum dengan pihak ketiga

Menentukan cara-cara perubahan Anggaran dasar serta berhentinya badan


hukum

Menentukan hak-hak dan kewenangan dari sejak lahir 9diciptakan/berdiri)


hingga meninggal (berhentinya sebagai badan hukum setelah dilikuidasi)

Setidaknya ada 3 teori yang menjelaskan titik laut yang dapat menentukan status
personal badan hukum:

Teori inkorporasi (place of incorporation)

Teori tempat kedudukan secara statuair

Teori tempat kedudukan manajemen(legal seat, headquarters central office siege


reel)

Teori Korporasi

Badan hukum tunduk kepada hukum Negara dimana ia didirikan. Penganut:


Common Law, Belanda belakangan juga mengikuti teori ini.

Alasan:

Sesuai logika hukum jika suatu badan hukum tunduk pada hukum dimana
formalitas-formalitas unutuk pendiriannya dilangsungkan sehingga suatu badan
hukum hanya akan mendapat status dari suatu sistem hukum tertentu saja
Teori ini memberi kepastian hukum

Tidak menimbulkan kesukaran jika suatu badan hukum berpindah tempat


kedudukan.

Teori Tempat Kedudukan Secara Statuair

Menurut teori ini, badan hukum tunduk atau diatur berdasarkan hukum negara
tempatdimana menurut anggaran dasarnya badan hukum yang bersangkutan
memiliki kedudukan.

Tempat Kedudukan Manajemen yang Efektif

Suatu badan hukum harus tunduk pada hukum negara dimana ia memiliki tempat
kedudukan manajemen efektif. Pengikut: Negara-negara civil law di Eropa, kecuali
Belanda dan negara civil law di Amerika Selatan.

Implementasi: Akan bermasalah jika kantor pusat tersebut pindah ke negara lain.

Adapun asas-asas dalam status personal badan hukum adalah:

ASAS KEWARGANEGARAAN/DOMISILI PEMEGANG SAHAM

Asas ini beranggapan bahwa status badan hukum ditentukan berdasarkan hukum
dari tempat di mana mayoritas pemegang sahamnya menjadi warga negara (lex
patriae) atau berdomisili (lex domicili).

Asas ini dianggap sudah ketinggalan zaman karena kesulitan untuk menetapkan
kewarganegaraan atau domisili dari mayoritas pemegang saham, terutama jika
komposisi kewarganegaraan atau domisili itu ternyata beraneka ragam.

ASAS CENTRE OF ADMINISTRATION/BUSINESS

Status dan kewenangan yuridik suatu badan hukum harus tunduk pada kaidah-
kaidah hukum dari tempat yang merupakan pusat kegiatan administrasi badan
hukum tersebut.

ASAS PLACE OF INCORPORATION

ASAS CENTRE OF EXPLOITATION


Status dan kedudukan badan hukum harus diatur berdasarkan hukum dari tempat
perusahaan itu memusatkan kegiatan operasional, eksploitasi atau kegiatan
produksi barang/jasanya.

Teori ini akan mengalami kesulitan jika dihadapkan pada perusahaan-perusahaan


multinasional, terutama jika perusahaan induknya mengalami persoalan hukum
yang berkaitan dengan eksistensi yuridisnya (pailit, merger, akuisisi, dsb.)

Dalam Konvensi Den Haag 1951, prinsip inkorporasi yang pertama-tama


dikemukakan walaupun harus diakui bahwa sesuatunya bersifat kompromissoir,
mengingat juga prinsip central office diberikan tempat yang layak.

Di Indonesia, menurut pasal 3 UU No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal


Asing menentukan bahwa perusahaan-perusahaan yang hendak terhitung dalam
kategori-kategori perusahaan-perusahaan di bawah UU tersebut haruslah suatu
perusahaan yang seluruhnya atau sebagian terbesar beroperasi di Indonesia
sebagai suatu independent business unit yang harus merupakan badan hukum
menurut hukun Indonesia dan mempunyai domisili, tempat kedudukannya di
Indonesia.

Cara Pembentukan

Sesi 5

Bukan untuk badan hukum dan kontrak


- Timbul karena aneka warna dalam status pribadi kodrati
- Mereka yg supranasional menolak renvoi karena HPI semua negara sama

Renvoi dan kualifikasi punya hubungan yang erat

Definisi hukum asing kaidah intern saja? HPI jua?

Kaidah-kaidah HPI dari suatu negara kollisionsnormen

Hukum Intern saha sachnormen

Hukum negara secara keseluruhan kollisonnormen + sachnormen

Jenis:

- Sachnormverweisung hanya yg sachnormen saja


- Gesamtverweisung meliputi hukum suatu negara secara keseluruhan
(HPI+intern)
Klo gesamtverweisung; ada kemungkinan sachnormverweisung juga

Macam:

Penunjukan kembali gesam trus sachnorm

X Y

Penunjukan lebih jauh

Xyz

Cause celebre Forgo 1878

Penunjukan lebih jauh Kasus paman-keponakan swiss

Renvoi di negara anglo-saxon

Oreign court theory consider himself sitting in foreign court double renvoi

Penunjukan:

- Xy
- Yx
- Xy
- Bisa sachnorm atau gesamt

Contoh:

- Yang berhasil ke inggris lagi Davidson vs Ny. Amnesley, 1920


- - Yang nggak Ross vs Waterfield

Praktek di Indonesia

- Praktek administrative pada KCS 1922


- Perkara Nasrani Armenia PN Semarang 1928
- Perkara Failissement seorang british india PN Medan, 1925

Alasan Kontra renvoi:

- Tidak logis mutar2 seperti lingkaran setan


- Penyerahan kedaultan legislative gk, cmn ngasih kesempatan saja
- Membawa kepastian hukum gk, bisa ngasih piliha buat hakim

Alasan pro Renvoi


- Keuntungan praktis
- Jangan lebih raja dari raja
- Harmoni putusan

Jawaban

1. Untuk mencari titik temu dalam pemasalahan perbedaan dua atau lebih
sistem hukum , baik dalam persoalan perbedaan lingkungan, pribadi, dan
soal-soal

2. HATAH intern hanya berbicara maslaah antar tata hukum yang berbeda di
dalam satu negara. Nanti terbagi pada soal waktu, tempat, dan glongan.
Sementara hatah ekstern berbicra pada masalah perbedaan hukum pada
negara-negara yang berbeda. Dinamai pula dengan HPI

3. Prinsip nasionalistis adalah prinsip yang menganggap bahwa HPI merupakan


bagian dari hukum nasional. Dari rinsip ini dapat dikemukakan kalau HPI
bermacam-macam sistemnya, tergantung negara masing-masing. Tokohnya
adalah Prog Gouw, Wolf, Niboyet, dan van Brakel

Prinsip internasionalistis adalah prinsip yang menganggap bahwa HPI bersifat


supranasional, tak terbataskan dengan batas-batas negara. Dari prinsip ini
dapat ditarik bahwa hanya terdapat satu sistem HPI belaka sehingga setiap
negara menggunakan dan tunduk kepada HPI yang sama. Hal ini tentu pula
cukup berbeda dengan kenyataan di lapangan di mana banyak HPI yang ada,
tergantung negaranya. Tokohnya adalah Asser dan Mancini.

4. Hukum perselisihan kurang tepat karena dia memberi kesan sekana-akan ada
bentrokan di antara sistem hukum yang ada, padahal hukum tersebut
memberikan harmonisasi terhadap perbedaan sistem-sistem hukum yang
ada. Selain itu, kata perselisihan seakan-akan menggambarkan ada sistem
hukum yang lebih diunggulkan dari yang lain, padahal sebenarnya tidak.
Sementara isitilah antar tata hukum lebih bak digunakan, selain karena
berkonotasi lebih baik, frasa tersebut lebih menggambarkan keadaan
sebenarnya di mana terdapat hukum yang menjembatani perbedaan antara
sistem hukum yang ada.

5. Titik pertalian primer adalah keadaany yang menciptakan suatu hubungan


yang menjadi persoalan hatah. Dia berfungsi untuk menentukan apakah
timbul persoalan HATAH atau tidak dalam suatu permasalahan.

6. Faktor yang menentukan hukum mana yang harus diberlakukan


1. Pilihan hukum para pihak (antar golongan)

2. Milieu : situasi dan kondisi dari melingkupi

3. Kedudukan masyarakat yang lebih tinggi

4. Tawaran kepada umum

5. Masuk ke dalam suasana hukum pihak lain

Orang yang berasal dari satu golongan rakyat melakukan suatu


perrbuaan hukum masuk ke suasana hukum darigolongan rakyat lain.
Seolah-olah dengan kemauan sendiri seseorang dari
menaklukkan diri pada hukum darisuasana yang dimasukinya.
Mempunyai hubungan erat dengan TPS yang sebelumnya.
Penentuannya dilakukan oleh hakim.

6. Tanah sebagai perjanjian accessoir

7. Agama

7. Aneka titik pertalian primer antara lain:

1. Para pihak (domisili, residence, kewarganegaraan)

Akibat dari penggolongan penduduk adalah warna atau pluralisme warna dalam
hukum di Indonesia.

tidak bicara tetntang golongan penduduk hari ini tapi golongan hukum. Para
pihak masih menjadi

pembeda

2. [Tanah] dihapus UU 5/60

Hukum agraria tidak mengunifikasi, masih diakui hak ulayat dalam UU PA.
contohnya Girik yang

menurut hukum adat adalah hak miliki itapi ketika di t

3. Pilihan hukum dalam hubungan intern

4. [Hakim] dihapus UU Drt 1/1951

uu kekuasaan kehakiman mengakui adanya pengadilan agama. Pengadilan adat


juga masih ada.

5. Agama
Ada Pemerintahan aceh. Hukum yang ada adalah hukum islam. Ada qanun dan
KHI. Inpres berlaku

tentang KHI, UU tentang Pemerintah Aceh.

8. Indonesia menganut status personalitas menurut nasionalitas. Artinya


status personalitas yang dianut di Indonesia dirunut berdasarkan
kewarganegaraan orang yang bersangkutan. Pengaturan mengenai status
personalitas di Idonesia mengeacu pada pasal 16 AB. Sepanjang mengenai
status personalnya maka WNI tunduk pada hukum Indonesia, begitu pula
dengan WNA di Indonesia, mengenai status personal juga tunduk pada
hukum masing-masing.

9. Indonesia pada prinsipnya hanya mengakui prinsip kewarganegaraan


tunggal saja. Akan tetapi dengan beberapa pengecualian seperti yang diatur
dalam UU Kewarganegaraan dimungkinkan untuk memliiki
dwikewarganegaraan terbatas. Beberapa alasannya, antara lain:
mendapatkan kewaganegaraan asing karena lahir di negara yang menganut
ius soli dan mendapatkan kewarganegaraan negara yang bersangkutan
menurut hukum negara yang bersangkutan.
10. hukum negara x? gk ada gambarnya
11. pada asanya renvoi terjadi karena ada perbedaan hpi yang dianut oleh
masing-masing negara. Sementara supra nasional hanya menganut klo hpi
itu cm nada satu aja. Maka dari itu, klo supranasional renvoi tidak diakui.

Mengenai klo renvoi menyebabkan potensi konflik, malah sebenarnya tidak,


karena renvoi malah memberikan pilihan hukum bagi pihak yang
bersangkutan. Justru klo renvoi taka da, maka yang dipakai adalah hukum si
hakim, di mana belum tentu cocok dan sesuai dengan keinginan dan kondisi
pihak-pihak yang bersangkutan.

Sesi 7

1. Berkaitan dengan penentuan sistem hukum mana yang mendefinisikan pengertian-


pengertian yang terdapat dalam kaidah hukum perdata intl.
2. RENVOI dapat dianggap sebagai bentuk kualifikasi karena berkenaan dengan klasifikasi
hukum asing, apakah hukum asing itu hanya mencakup sachnorm atau sachnorm +
collisie norm nya juga.
3. Metode kualifikasi:
Kualifikasi fakta: penerjemahan fakta sehari-hari ke dalam istilah hukum, misal:
peristiwa kematian diterjemahkan ke dalam perkara kewarisan, laka lantas
diterjemahkan ke dalam perkara PMH berupa ganti rugi dalam konteks perdata.
Kualifikasi hukum: Penyalinan kaidah hukum. Bunyi istilahnya mungkin sama
tapi isinya beda, misal: definisi domisili menurut awam Indonesia beda dengan
definisi domisili menurut HPI di Inggris.
4. CONTOH KASUS:
Perihal persetujuan orangtua dalam perkawinan. Yang dimaksud persetujuan itu
apakah ditinjau dari formalitas atau substansinya? Selain itu ketentuan mana yang
akan dipakai? KUH Perdata (<30 tahun) atau UU Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan (<21 tahun)?
Perihal kedewasaan. Mau pakai ketentuan yang mana? KUH Perdata (>21 tahun)?
UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan (19 tahun utk laki-laki dan 16 tahun
untuk perempuan)? UU Nomor 23 tahun 2002 (sekarang UU Nomor 35 tahun
2014) tentang Perlindungan Anak? UU Nomor 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (>18 tahun)? Atau UU Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (lihat ketentuan SIM nya)?
Perihal perkawinan di beberapa negara:
a. Di Belanda: umur minimal 18 tahun, diperkenankan perkawinan sejenis
per KUH Perdata baru Belanda.
b. UU Perkawinan Republik Rakyat China: Monogami dengan usia
minimum 22 tahun utk laki-laki dan 20 tahun bagi perempuan, tanpa
paksaan dan didasarkan kemauan bersama.
c. Tanah Swiss: Umur minimal 18 tahun, dewasa penuh, harus didahului
upacara sipil (ke kantor capil dulu) sebelum upacara agama dan dihadiri
dua orang dewasa yang berperan sebagai saksi.
5. Locus Contractus
Kembali ke perihal lex loci contractus: hukum yang berlaku adalah hukum di
tempat di mana kontrak itu dibuat. Teori untuk kontrak antara orang yang tak
pernah bertemu langsung:
a. Mailbox (menitikberatkan pada tempat tujuan jawaban atas penerimaan
penawaran). Biasanya diterapkan di negara-negara yang sistem hukumnya
a la Anglo Saxon.
b. Acceptance (menitikberatkan pada tempat diterimanya jawaban atas
penawaran). Biasanya diterapkan di negara-negara yang sistem hukumnya
a la Eropa kontinental.
6. Locus delicti
Kembali ke perihal lex loci delicti: hukum yang berlaku didasarkan pada tempat
di mana perbuatan melawan hukum terjadi. Permasalahan: tempat di mana akibat
terjadi (last event theory) atau tempat di mana perbuatannya terjadi (real place of
the tort)?
7. Metode Kualifikasi:
Lex fori (menurut hukum materil yang dianut hakim).
Lex causae (hukum yang digunakan untuk penyelesaian persoalan HPI ybs).
Otonom (diperlukan studi banding atau analisis).

Ketertiban umum dan penyeludupan hukum

Ketertiban umum

Pokok tugas HPI --> prof gautama

Apakah ada pembatasan berlakunya hukum asing dalam wilayah tertorial


suatu negara? Ada, pubic order

Wirjono Prodjodikoro
bahwa sukar sekali untuk mengadakan suatu ukuran bagi Pengertian
ketertiban umum penentuan suatu ukuran ini juga amat dipersukar oleh
kenyataan bahwa pengertian ketertiban umm mengandung anasir-anasir mngenai
peraturan, sedangkan penentuan aturan adalah hasil pekerjaan pikiran belaka

Positivitas ketertbiban umum --> hukum asing yang seharusnya diberlakukan


berdasarkan HPI nasional suatu negara menjadi tidak doberlakukankarena
pemberlakuannya berpotensi mengguncang sendi-sendi aasi negara yang
bersangkutan

Lembaga ketertiban umum --> pengecualian dari HPI

Syaratnya --> hukum asingnya manifestmen incompatible

Relativitas dan aktualitas ketertiban umum:


- pokok waktu (rationale temporis) --> kasus raja Belanda
- pokok tempat --> kasus sophia lauren
- pokok intensitas --> inlandsbezihungen

Konsepsi ketertiban mum tidak statis, melainkan dinamis --> dipengaruhi


waktu dan tempat --> dipengaruhi pandangan di masyarakat

Contoh kasus:
- kasus tante raja belanda
- kasus sophia lauren
- kasus Yani Haryanto vs ED8 F. MAN (sugar)

Soal intesitas
- banyak dan eratnya hubungan perkara yang bersangkutan dengan keadaan
di dalam negeri
- pengecualian untuk tindakan yang bersifat barbar

Contoh:
- kasus tembakau jerman

Aktualitas ketertiban umum


- setiap negara mempunyai konsep dan pengertian masing-masing terkait
ketertiban umum

Yang menolak ketertiban umum


- Burrough (1827) --> a very unruly horse (kuda binal)
- spelbreaker
- corbens

Alasan menolak
- kental dengan muatan politis --> kasus pernikahan nazi jerman
- erat kaitannya dengan muatan policy making --> makanya di Anglo saxon
KU seri ng disebut policy making

Apkah KU harus selalu diterapkan?


Persamarataan semua stelsel hukum negara di dunia
Pengaruh terhadap perkembangan HPI

Di Indonesia
- 1337 BW --> dalam rechtsorde
- 23 AB --> keamanan
- sebagai sinonim keadilan

Contoh ketertiban umum:


- perbudakan
- perkawinan poligami
- perkawinan sejenis
- nasionalisasi tanpa ganti rugi

KKonsepsi KU:
- konsepsi romawi
- konsepsi jerman
- konsepsi anglo saxon
- konsepsi negara sosialis

Romawi-perancis:
- dipergunakan hukum sendiri
- ordre public bukan pengecualian
Romawi-italia:
- salah satu dari tiga bangunan HPI:
1. prinsip nasionalitas
2. Ketertiban umum
3. Pilihan hukum

Jerman:
- vorbehalt klausel dianggap sebagai pengecualian
Pasal 30 EGBGB --> KU kalau ketergantungan dengan kesusilaan atau
maksud tujuan dari perundang-undangan jerman
- hanya klo secara keras sangat menusuk, klo cmn ketidaksamaan gk
dianggap bertentangan

Anglo-saxon:
- public policy
- politik memegang peranan penting
- act of state doctrine:
1. luther vs sagor --> perusahaan kayu
2. Princess palay olga vs weiss --> harta warisan

Negara sosialis:
- hanya yg bertentangan dengan prinsip uud soviet yg gk dipakai

Ketertiban umum ekstern


- melindungi kesejahteraan negara
- bersifat sebagai pengecualian pasif

Ketertiban umum intern


- membawa kebebasan perseorangan
- secara aktif membantu

PENYELUDUPAN HUKUM

Kapan terhadi?
Kosters-dubbink
- berdasarkan kata-kata dalam suatu kaidah hukum
- jika melanggar jiwa dan tujuannya
- secara muslihat
- diberlakukan hukum lain klo emg seharusnya
- dengan cara yg tak hak dan penipu --> ada itikad buruk

Teori obyektif
- gak haruus ada itikad buruk

Teori subyektif
- harus ada itikad buruk
Hubugan KU - PH
- KU karena sendi asasi hukum nasional
- PH karena ia penyeludupan hukum

Wiryonoi
- ku bersifat umum -.> utk semua hal
- ph kasus per kasus

Contoh peristiwa PH
- perkawinan
- perceraian --> Ny. Mr. I. Tj
- naturalisasi --> perceraian orang cirebon; nottebohm --> orang
belanda ke estonia
- domisili
- kontrak

Akibat penyeludupan hukum:


- terdapat dualisme pendapat
- fraus omnia corrumpit --> penyeludupan hukum mengakibatkan
bahwa perbuatan hukum itu secara keseluruhan tiada berlaku

Sesi 8

Kaidah dan asas dalam HAG


Macam:
- kaidah berdiri sendiri
- kaidah penunjuk
- kaidah pencerminan
- kaidah pngubah status

Purnadi
Kaidah:
- patokan bersikap tindak
- pencerminan suatu nilai

Kaidah berdiri sendiri


- isi yang mengatur sendiri, hukum antar golongan
- contoh: hukum perkawinan campuran --> 7 ayat (2) GHR --> hukum
beda agama; 284 ayat (@) BW
Kaidah penunjuk - lebih spesifik
- isi menunjuk aturan lain
- contoh:
1. 18 AB --> ke tempat tindakan hukum itu dilakukan
2. 70 (1) HOCI - gabungan berdiri sendiri dan penunjuk
3. 7 ayat (1) GHR - berdiri sendiri - tidak mengurangi persyaratan
suami istri
- lenunjuk - menurut hukum yg berlku bagi si suami

Kaidah pencerminan
- kaidah pencerminan yang mencerminkan kaidah tidak tertulis
- contoh:
1. UUPA
2. IMA - NV - STBLD 1939/570 - Pribumi bisa megang
3. UU PT

Kaidah pengubah status


- adanya penggolongan penduduk dan pluralisme hukum
- berhubungan erat dengan pilihan hukum
- hubungan hukum/ peristiwa hukum antar golongan
- perkawinan campuran, peleburan, persatuan dengan masyarakat
hukum tertentu

Asas-asas dari praktek hukum

1. teori umum
A. Lex fori
B. Asas hukum dari pihak tergugat - udah gk berlaku lagi
C. Asas hukum dari pihak debitur - biar menyeimbangkan posisi

Lex fori
- hukum sang hakim
- terdiri atas:
A. Formil - selalu
B. Materiil - gak selalu

2. asas-asas hal yurisprudensi


- pengakuan anak
- warisan diatur hukum pewaris
- tanah status tersendiri
- hukum benda bergerak mengikuti orang yg bersangkutan - mobilia
sequintur personam
- hukum dari orang yang melanggar yg digunakan dalam PMH

Sesi 9

PILIHAN HUKUM

1. Definisi: kebebasan yang diberikan kepada kedua belah pihak (party autonomy) dalam
hal kontrak/perikatan mengenai hukum mana yang berlaku bagi tiap-tiap pihak. Hal ini
didasarkan pada asas kebebasan berkontrak (lihat BW/KUH Perdata).
2. Pertanyaan: hukum mana yang akan berlaku bagi para pihak yang terikat, apabila para
pihak misalnya diketahui beda kewarganegaraan?
3. Beberapa dasar pilihan hukum:
Tempat di mana kontrak itu dilangsungkan (lex loci contractus, pasal 18
Algemene Besluit) >> ini cara paling sederhana.
Lokasi objek kontrak, apabila menyangkut kebendaan (lex rei sitae, pasal 17
Algemene Besluit).
Untuk perikatan terkait pekerjaan, didasarkan pada tempat pelaksanaan perikatan
pekerjaan.
4. Bedakan pendasaran pilihan hukum dari tempat kontrak dilangsungkan dengan
pelaksanaan pekerjaan!
5. Misal: X seorang WNI mengadakan suatu perjanjian dengan Y warga negara Singapore di
Vietnam. Apabila ditinjau dari teori lex loci contractus maka hukum yg berlaku bagi
kontraknya adalah hukum Vietnam. Namun demikian, hal ini tidak serta merta
menyebabkan masing-masing pihak tunduk pada hukum negara ybs. Hanya hubungan
hukumnya yang tunduk pada suatu sistem hukum.
6. Mengapa perlu ada pelekatan?
Kontrak dianggap sama spt manusia dan benda, yaitu harus tunduk pd suatu
sistem hukum. Pandangan ini lahir di abad pertengahan.
Memberikan kepastian hukum bagi kedua belah pihak.
Memberikan pilihan penyelesaian sengketa bagi kedua belah pihak.
Menentukan keabsahan suatu kontrak menurut hukum masing-masing negara.
7. Untuk dua pihak yang belum pernah bertemu, dapat diberlakukan lex loci executionis
(tempat dimana pelaksanaan prestasi).
8. Adalah dimungkinkan dalam suatu perikatan berlaku >1 sistem hukum karena isi
prestasinya. Untuk memberikan kepastian, para pihak harus menyatakan hukum mana
yang berlaku bagi perikatan yang berlaku. Hal ini disebut spaltung atau depecage.
9. Terdapat pembatasan tertentu mengenai pilihan hukum, namun hal ini masih menjadi
perdebatan. Tidak semua negara membebaskan para pihak memilih hukum yang berlaku
bagi kontrak, jadi mengenai hal ini harus pula merujuk ke hukum nasional masing-
masing negara. Ex: Brazil tidak mengakui pilihan hukum. Bahkan sampai sekarang,
keberadaan pilihan hukum menjadi perdebatan tersendiri.
10. Pandangan-pandangan:
a. Kontra:
Kok bisa pihak perdata (pribadi kodrati/badan hukum) diberikan
wewenang bagai negara dalam kontrak?
Hukum mana yang mengatur kecakapan para pihak?
Didasarkan pada hukum apa keabsahan kontraknya?
Apakah pilihan hukumnya sudah sah?
b. Pro:
Para pihak perdata yang berperikatan tidak diberikan wewenang bagai
negara. Mereka hanya memilih hukum yang berlaku untuk perikatannya.
Perjanjiannya hanya bersifat perdata, hanya mengikat pihak yang terkait,
tidak mengikat orang lain diluarnya.
11. Dasar pembenar pilihan hukum:
Kecakapan para pihak.
Apakah negara masing-masing memperbolehkan pilihan hukum bagi warga
negara dalam kontraknya.
12. Beberapa legislasi yang memperkuat pengakuan pilihan hukum di Indonesia (diluar
doktrin-doktrin dan Landmark Decision ol eh Prof. Sudargo Gautama):
Undang-Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa.
Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan (Pasal 72).
13. Pilihan Hukum:
Secara tegas tertera di surat kontraknya.
Secara diam-diam, dapat dilakukan via:
o Penggunaan bahasa suatu negara, misal apabila kontrak ditulis dalam
bahasa Indonesia maka dianggap pakai hukum Indonesia.
o Penggunaan bank di suatu negara, misal biaya suatu pekerjaan atau
ongkos jual beli antara WNI dengan WNA dibayar melalui bank di
Indonesia.
o Penggunaan mata uang suatu negara, misal bila biaya suatu perikatan
pekerjaan atau jual beli dibayar menggunakan mata uang Rupiah
Indonesia, maka para pihak (yang berbeda kewarganegaraan dan sistem
hukum tentunya) dianggap taat pada hukum Indonesia.
Proper Law of the Contract, melihat pada titik taut/tendensi terkuat dari
kontraknya (lihat pusat gravitasi nya).
Most Characteristic Connection, melihat pada pihak yang prestasinya paling
berkarakter, misal pelbagai perjanjian perbankan (bank-nya dominan) dan kontrak
jual beli (penjualnya dominan).
Dalam hal suatu perjanjian sedemikian sumirnya sehingga tidak diketahui apakah
para pihaknya melakukan suatu pilihan hukum maka dapat merujuk ke lex loci
contractus atau lex loci solutionis.
14. Batasan-batasan tertentu dalam pilihan hukum:
Bidang Hukum, sebatas perjanjian.
Ketertiban Umum.
Legislasi atau kaidah yang super memaksa, misal dalam PP Nomor 42 tahun 2007
tentang Waralaba harus pakai hukum Indonesia, kontrak kerja hulu migas dan
segala bentuk kontrak kerja yang melibatkan WNI yang harus pakai hukum
Indonesia.
Bukan penyelundupan hukum.
15. Apabila kita bicara pilihan hukum, yang kita bicarakan adalah HUKUM SUBSTANTIF,
bukan hukum acara/prosedural nya, karena hukum acara menganut asas lex fori.

Sesi 10

HUKUM YANG BERLAKU DALAM HATAH INTERN

1. Konteksnya dalam hal penggantian hukum dan pilihan hukum.


2. Pilihan hukum dapat saja mengubah status. Yang dimaksud status adalah keberlakuan
hukum bagi seseorang. Pertanyaannya: apakah hukum yang berlaku bagi seseorang
setelah statusnya diubah itu sebagian saja atau seluruhnya?
3. Isu HATAH intern di Indonesia:
Pluralisme hukum.
Penggolongan penduduk di masa Hindia Belanda.
Peristiwa hukum antargolongan.
4. Contoh peristiwa terkait pilihan hukum: Mbak Tita, seorang bersuku Jawa, aslinya
tunduk pada hukum adat Jawa. Namun, ia dapat saja menundukkan diri kepada
Burgerlijk Wetboek dalam tindakan hukum tertentu yang ia perbuat. Hal ini tidak serta
merta mengubah status personal Mbak Tita.
5. Cara-cara penggantian hukum dan menentukan pilihan hukum:
Persamaan hak (gelijkstelling).
Dasar hukum: pasal 131 ayat (2) IS (bisa lihat buku Engelbrecht). Ada
persyaratan tertentu agar seseorang non-Eropa bisa dipersamakan haknya dengan
golongan Eropa, yaitu:
o Memeluk agama Nasrani (tanpa memandang denominasi dalam ajaran
Kekristenan), karena pemeluk agama Nasrani dianggap lebih dekat dengan
golongan Eropa. Diluar kasus ini, terhadap orang-orang Yahudi juga
berlaku hukum Eropa meskipun kepindahan ke agama Yahudi tidak serta
merta menjadi syarat persamaan hak.
o Mendapatkan surat dari Gubernur Jenderal yang menyatakan seseorang
dipersamakan haknya dengan golongan Eropa sehingga hukum Eropa
dapat berlaku kepadanya. SK tersebut harus disetujui oleh Raad van
Indonesie terlebih dahulu.
Selain itu, peristiwa ini dapat juga terjadi secara informal dengan didasarkan
putusan pengadilan. Terdapat pembedaan dalam fase ini. Barang siapa yang
dipersamakan haknya secara formal akan disebut Staatsblad Europeanen
sementara yang dipersamakan haknya secara informal akan disebut Nederlander.
Persamaan hak mempengaruhi seluruh aspek keperdataan + perpajakan dan
berlaku pula untuk ahli warisnya.
Peleburan (oplossing).
Dasar hukum pasal 163 ayat (3) Indische Staatsregeling. Ini adalah peristiwa yang
mana golongan non-pribumi dianggap sama dengan pribumi, melalui beberapa
cara yaitu masuk Islam, hidup dalam masy pribumi, da ikut kebiasaan masyarakat
tsb, contoh kasus Kartoprawiro alias Tjoa Peng An yang meleburkan diri ke
golongan pribumi karena ganti nama, jadi mualaf, dan menikahi perempuan
pribumi.
Pencampuran dengan suku bangsa asli.
Berkenaan dengan mobilitas yuridis internal golongan pribumi yang memiliki
perbedaan golongan hukum adat. Dalam pencampuran, kita bicara mengenai
orang yang berada di luar masyarakat adatnya yang tidak menjadi anggota
masyarakat adat di tempat ia berdiam saat itu. Contoh: SBY dahulu diberikan
marga oleh orang Batak atas kehormatan, namun ia tetap dianggap sebagai orang
Jawa karena beliau tidak hendak menjadi orang Batak, mahasiswa rantau di suatu
universitas, Jupe yang mendapat gelar adat dari Jawa Tengah tetapi tidak serta
merta menjadikannya orang Jawa.
Persatuan dengan masyarakat hukum setempat.
Berkenaan dengan mobilitas yuridis internal golongan pribumi yang memiliki
perbedaan golongan hukum adat. Dalam persatuan, seseorang yang berasal dari
luar masyarakat adat asalnya dianggap sebagai anggota masyarakat adat setempat
melalui upacara adat penerimaan sehingga ia dianggap meninggalkan hukum asal
yg berlaku. Contoh: perempuan non-Batak yang menikah dengan orang Batak,
Ivanka Trump anak perempuan Donald Trump yang menikahi orang Yahudi dan
pindah ke agama Yahudi, serta Melania Trump, istri Donald Trump yang aslinya
dari Slovenia tapi meninggalkan hukum asalnya saat menikah dengan Donald
Trump.
Perkawinan campuran.
Peralihan agama.
Pengakuan dan pengesahan anak.
Untuk anak di luar kawin, aslinya ia memiliki hubungan hukum dengan ibunya.
Apabila bapak biologisnya mengakui anak itu, maka hubungan hukum dengan
ibunya putus dan si anak ikut hukum bapaknya. Hal ini baru dapat terjadi kalau
orangnya berbeda golongan, misal perempuan pribumi dengan laki-laki Eropa.
Contoh kasus: kasus Machica Moechtar.
Penundukkan diri secara sukarela pada hukum perdata Eropa.
Dasar hukum pasal 131 ayat (4) Indische Staatsregeling. Penundukkan diri dapat
dalam skala keseluruhan/sebagian.
PERKAWINAN CAMPURAN DAN PERALIHAN AGAMA

A. PERKAWINAN CAMPURAN
1. Definisi menurut Pasal 1 GHR, Staatsblad 1898 No 158: perkawinan antara dua orang di
Indonesia yang berbeda hukumnya.
2. Definisi menurut Pasal 57 UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan: Perkawinan
antara dua orang di Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan
kewarganegaraan dan salah satu pihaknya adalah WNI.
3. Permasalahan dalam perkawinan campuran di Indonesia:
Perbedaan kewarganegaraan di antara para pihak, yang menyebabkan
permasalahan pembagian harta bersama.
Permasalahan hak asuh anak dalam hal putusnya perkawinan.
Permasalahan hak waris.
Permasalahan proses pemutusan perkawinan kalau ada gugatan cerai.
Perbedaan agama sehingga salah satu pihak harus pindah agama.
Perbedaan ketentuan keabsahan perkawinan.
4. Pasal 7 ayat (2) GHR: perbedaan agama, suku bangsa, dan keturunan BUKAN
penghalang terjadinya suatu perkawinan.
5. Menentukan hukum yang berlaku bagi perkawinan:
Lex loci celebrationis (Didasarkan pada tempat diselenggarakannya perkawinan,
yang berfungsi sebagai syarat formil).
Syarat materil yang kembali merujuk ke hukum masing-masing calon mempelai,
harus lihat pantangan-pantangannya dsb, kalau dalam konteks UU Nomor 1 tahun
1974 tentang Perkawinan tidak boleh bertentangan dengan hukum perkawinan di
Indonesia.
6. Pengecualian Pasal 2 GHR:
Pasal 73 HOCI: dimungkinkan mengikuti hukum istri saat ada laki-laki non-
Nasrani menikah dgn perempuan Nasrani.
Pasal 75 HOCI (ketentuan perkawinan untuk pribumi Nasrani): untuk laki-laki
bumiputera non-Nasrani agar melakukan pilihan hukum ke arah hukum istri saat
kawin dengan perempuan Bumiputera Nasrani.
Pasal 15 OV: sso bukan Eropa yang hendak menikah dengan orang Eropa harus
tunduk lebih dulu pada hukum perdata Eropa. Pasal ini dikecualikan oleh pasal 12
HOCI: Laki-laki pribumi Nasrani boleh melakukan pilihan hukum yaitu
perkawinannya dengan perempuan eropa dilakukan menurut hukum sang suami.
Ini disebabkan dalam hukum perkawinan Nasrani, monogami adalah kepastian.
7. Pasal 57 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 membatasi ruang lingkup perkawinan
campuran. Namun demikian, dua orang WNA yang menikah di Indonesia tetap dianggap
perkawinan campuran (lihat Pasal 19 UU Nomor 12 tahun 2006 jo. Permenkumham
Nomor 02-HL.05.01/2006).
8. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sebenarnya mendiamkan
perihal perkawinan beda agama karena dikembalikan kepada agama masing-masing, mis:
hukum perkawinan Katolik yg cenderung membolehkan beda agama karena sedikit lebih
longgar.
9. Pandangan pasal 35 huruf a Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan sebagaimana diubah oleh Undang-Undang Nomor 24 tahun 2013 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan: sebenarnya dibolehkan perkawinan beda agama, toh tetap diakui dalam
perihal administrasi kependudukan.
10. Keppres Nomor 12 tahun 1983 yang efektif pada 1 Januari 1989 menghapuskan
kewenangan kantor capil untuk mengawinkan pasangan beda agama, lewat kasus Andi
Vonny Gani seorang perempuan Muslimah yang hendak menikah dengan Petrus Nelwan
seorang laki-laki Kristen Protestan. Sejak itu kantor capil hanya boleh mencatatkan
perkawinan dari pihak non-Muslim yang sah kawin menurut hukum agama masing-
masing. Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengakali ini:
Nikah di luar negeri kemudian dicatatkan ke kantor capil Indonesia.
Nikah dua kali (sekali di masjid sekali di gereja dsb). Yang begini menimbulkan
masalah: siapa yang terbitkan surat nikah? Pihak KUA atau gereja, kalau misalnya
melibatkan Muslim dengan Nasrani? Ex: kasus pernikahan Ruhut Sitompul
dengan Anna Rudhiantiana Legawati, yang mana Ruhut mengaku bahwa beliau
hanya kumpul kebo bersama Anna Rudhiantiana Legawati.
Pura-pura pindah agama, yang penting menikah dulu, misal: orang Muslim yang
mau menikah sama orang Nasrani ikut katekisasi kilat biar bisa peneguhan sidi
lalu bisa nikah tak lama setelahnya.
Minta penetapan ke Pengadilan Negeri setempat, misal seperti 2 kasus di PN
Surakarta tahun 2010-2011 yang mengizinkan para pemohon untuk
melangsungkan perkawinan beda agama di hadapan pejabat kantor dinas
Dukcapil (Kependudukan dan Catatan Sipil) Kota Surakarta.
11. Perbandingan prosedur pengesahan nikah:
Islam: kedua calon mempelai mesti mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan
dihadiri saksi.
Kristen: harus terlebih dahulu dibaptis, ikut katekisasi dan peneguhan sidi (sidi itu
proses pengakuan iman Kristiani secara pribadi).
Katolik: lebih baik jangan sampai menikah beda agama. Kalaupun terjadi,
anaknya harus dibesarkan menurut iman Katolik.
Hindu: dilarang.
Buddha: tidak ada larangan secara tegas namun disebutkan bahwa sama
keyakinan merupakan salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga.
Konfusianisme: tidak ada larangan secara tegas.
12. Secara positif, pasangan yang kawin di luar negeri yang hanya mencatatkan perkawinan
di Indonesia boleh menjalankan prosedur perceraian di Indonesia, namun akan menjadi
masalah ketika ada pihak yg mendalilkan bahwa tidak pernah ada perkawinan, atau lebih
buruknya, pengadilan menolak perkara ini, ex: kasus perceraian Julia Perez vs Damian
Perez yang ditolak oleh PN Jaksel dengan alasan mereka menikah di luar negeri.
13. Pernikahan beda warga negara akan memudahkan si WNA untuk mendapatkan ijin
tinggal tetap dan/atau naturalisasi WNI.
14. Perlu hati-hati dalam menikah dengan WNA. Harus melihat ketentuan pemberian
kewarganegaraan melalui perkawinan, karena bisa saja suatu negara otomatis
memberikan kewarganegaraan lewat perkawinan yang pada akhirnya menyebabkan si
WNI yang menikah kehilangan kewarganegaraan Indonesia-nya akibat mengawini warga
negara asing tertentu.
15. Kasus Gloria Natapradja:
Menurut UU Nomor 62 tahun 1958, ia dianggap warga negara Perancis sehingga
harus mengurus izin tinggal secara berkala. Masalahnya, keharusan ini seringkali
menyebabkan anak rentan dideportasi akibat risiko telat mengurus izin tinggal.
Menurut UU Nomor 12 tahun 2006, ia dapat dianggap sebagai WNI karena
mewarisi kewarganegaraan Indonesia dari ibu berdasarkan CEDAW, namun hal
ini tetap masih memerlukan permohonan kepada hakim.
16. Anak-anak eks-kewarganegaraan ganda tetap berhak tinggal di Indonesia karena mereka
diperkenankan mengurus izin tinggal tetap.

B. PERALIHAN AGAMA
1. Secara hukum, sepanjang seseorang sudah menjalani ritual masuk agama (misal:
mengucapkan dua kalimat syahadat dengan disaksikan sejumlah umat untuk masuk Islam
atau menjalani proses pembaptisan dan sidi bagi agama Kristen Protestan, CMIIW),
maka ia dianggap masuk ke agama ybs.
2. Konteks HATAH: ada proses peralihan sosial.
Sudahkah ia meninggalkan ritus-ritus agama sebelumnya?
Sudahkah ia diterima oleh komunitas penganut agama barunya?
Sudahkah cara hidupnya dianggap sama oleh penganut agama barunya?
3. Contoh kasus modern: Asmirandah yang murtad ke agama Kristen Protestan untuk
menikah dengan Jonas Rivano.
4. Contoh kasus zaman dulu: kasus Tjoa Peng An, seorang Tionghoa yang pindah ke agama
Islam dan ganti nama jadi Kartoprawiro namun peralihan sosialnya belum dianggap
lengkap dan kasus Nyonya JMR seorang Eropa yang kawin dengan seorang pengacara
pribumi bernama Mr. I. Tj secara Islam namun kemudian murtad dan menceraikan
suaminya. Putusan ini dikritik keras.
Sesi 11

Perkawinan campuran - perpindahan agama

Pasal 1 GHR --> Perkawinan antara orang2 yg di Indonesia ada di bawah


hukum yg berlainan.
Pasal 7 ayat 2 GHR --> oerbedaan agama, suku bangsa, kdturunan bukan
menjadi penghalang bagi perkawinan.

Perkawinan
- formeel
- materieel --> hukum masing2 pihak yg menikah

Locus regit actum --> hukum berangkat dari tempat ia dilakukan


Lex Loci Celebrationis --> perkawinan --> sekedar syarat formil perkawinan
--> tata perkawinannya

Kenapa perkawinan bisa jadi alasan persamaan hak --> karena ada ketentuan
hukum swuami

Pasal 56 ayat 1 UU Perkawinan --> syarat formil plus penunjukkan ke materil

Pasal 2 GHR --> istri ikut hukum suami --> hendak memberikan refleksi
persamarataan

Pasal 6 ayat 1 --> oerkawinan campuran dilaksanakan menurut hukum


suami.
9\
Pengecualian terhadap pasal 2 GHR
1. pasal 75 HOCI --> laki2 non nasrani bisa milih tunduk pada hukum istri klo istri
nasrani
2. Pasal 73 HOCI --> bisa dipakai hukum sang istri klo istri nasrani dan suami
non nasrani
3. Pasal 15 OV (perkawinan eropa) --> non eropa yg mau nikah dgn eropa harus
tunduk kepada hukum perdata eropa dulu --> utk melindungi cewek eropa

Pengecualian atas pasal 15 OV


- pasal 12 HOCI --> diberi keleluasaan pada laki2 nasrani pribumi utk
melakukan pilihan hukum
- pasal 13 HOCI --> bisa juga si indonesia nasrani utk memilih tunduk pasal 15
OV

OV, HOCI, GHR masih berlaku kalau tidak diatur dalam UU Perkawinan -->
pasal 66 UU Perkawinan

Pasal 57 UU Perkawinan --> Yang dimaksud dengan perkawinan campuran


dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarga-
negaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. --> terjadi
pembatasan ruang lingkup perkawinan campuran

Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan --> perkawinan menurut agama masing-


masing
Pasal 35 UU Kependudukan --> SOAL PENCATATAN DI KCS yg perkawinan
masing-masing atas penetapan pengadilan

Solusi menikah beda agama:


- menikah di luar negeri
- menikah dua kali, di gereja di penghulu
- peralihan agama secara pura-pura

Kasus Andi Vonny Gany vs Petrus Nelwan 1989

Perkawinan beda Kewarganegaraan

Pasal 19 UU 12 2006 --> klo udh kawin sah, 5 tahun turut2 atau 10 tahun
turut2, atau klo gk mau bisa dpt izin tinggal tetap. Hati2 klo negara lawan
ngasih kewarganegaraan.

Klo anak dari dua orangtua beda WN, bisa dimintakan dwi kewarganegaraan
terbatas ke kementerian hukum dan ham.

Peralihan Agama

Dalam HATAH diperlukan peralihan sosial juga, selain peralihan agama:


- sudah diterima oleh golongan penduduk hukum yg baru
- tidak mempedulikan lagi golongan hukum yg ditinggalkan
- cara hidup dan cara yang bersangkutan diperlakukan oleh golongan hukum
baru dianggap sama

Kasus:
- Tjoa Peng An
- Mr I.TJ

Sesi 12

Perikatan lahir karena perjanjian dan undang-undang

Perikatan lahir karena perjanjian --> Wanprestasi


Perikatan lahir karena undang-undang --> PMH

Lex loci delicti --> indonesia --> 18 AB


Lex fori
Hukum si pelaku
Hukum si korban

Hatah atau tidak?


Yurisdiksi atau bukan?
Pmh atau bukan?
Akibatnya apa?
Hukum apa yang berlaku bagi pmh?

Kasus orang yang dipenjara Jamaika vs Inggris


Pemenjaran itu PMH di jamaika apa nggak?
Klo di teritori hukum saya gimana?

Actionability
Justifiability

Tergugat bakal ngegugat di tempat yg dia tahu hukumnya

Jerman --> orang jerman gk bisa dituntut lbh besar dari yg diatur di jerman

Proper Law of the Tort


Kasus New York
- lebih proper
- perjalanan dimulai dari new york
- lebih adil bagi korban

Lex loci delicti gk bisa diberlakukan krn terlalu kaku --> muncul proper law of
the tort

Kasus Dibb vs Gordon --> juga proper law of the tort

PMH

PERBUATAN MELAWAN HUKUM

1. Dalam PMH berlaku asas lex loci delicti commissi (hukum yang berlaku adalah hukum
tempat PMH itu dilakukan). Asas lain yang dapat juga berlaku yaitu lex fori, Recht van
de dader (hukum yang berlaku adalah hukum yang berlaku bagi si pelaku) dan masuknya
pelaku ke dalam suasana hukum korban.
2. Bila dalam suatu PMH tempatnya sulit ditentukan dapat digunakan lex fori, yaitu
dikembalikannya hukum yang berlaku pada hakim.
3. Recht van de dader dapat diterapkan apabila masalah PMH yang terjadi melibatkan antar-
golongan, mis: apabila orang Bumiputera melakukan PMH terhadap orang golongan
Eropa maka yang berlaku adalah hukum adatnya.
4. Lex loci delicti commissi dapat digunakan apabila tempat PMH jelas.
5. Persoalan-persoalan HATAH dalam PMH:
Hukum mana yang berlaku?
Apakah menurut hukum yang berlaku perbuatan tersebut masuk PMH?
Apabila masuk PMH, apa akibatnya? Bagaimanakah ganti ruginya?
6. Dalam perihal PMH, Hard and fast rule didasarkan pada dimana perbuatan fisik yang
dianggap PMH itu dilakukan tanpa memandang akibatnya. Namun demikian, ini dapat
berubah mengingat penentuan locus tidak selamanya merujuk kepada lokasi dimana
PMH itu terlaksana, namun bisa saja merujuk ke di mana akibatnya terasa.
7. Dalam konteks HATAH Ekstern, kita juga bicara yurisdiksi, misal: dalam penerbangan
Japan Airlines jurusan Jakarta Amsterdam via Osaka, ada orang kehilangan kopernya.
Sepanjang penerbangan ia dianggap tunduk pada hukum Jepang sesuai nomor lambung
pesawatnya, namun saat ia hendak menggugat dapat digunakan hukum Indonesia demi
alasan efektivitas dan efisiensi.
8. Perbandingan: Indonesia menganut lex loci delicti commissi dengan subsider lex fori
dalam praktik, sementara Inggris menganut actionability (apakah PMH yang dimaksud
merupakan PMH menurut kedua belah pihak), justifiability, dan Proper Law of the Tort.
Jerman, di sisi lain, punya aturan yang berbeda dalam hal ganti rugi, yakni hanya berhak
mengganti rugi menurut hukum Jerman.
9. Proper Law of the Tort: mana hukum yang dianggap paling sesuai diterapkan dalam
perkara perdata. Sebab: lex loci delicti commissi dipandang terlalu kaku untuk PMH yang
kebetulan. Sama seperti Proper Law of the Contract, Proper Law of the Tort juga
merujuk kepada pusat gravitasi alias yurisdiksi mana yang dianggap lebih dominan.

Anda mungkin juga menyukai