Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HASIL PENGAMATAN

KEGIATAN KEDOKTERAN KERJA


TUGAS SISTEM KEDOKTERAN KOMUNITAS II

Dosen Pembimbing

dr. Pitut Aprilia

Oleh :

Nindhita Ayu Andhini

2011730075

STASE ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Kesehatan kerja merupakan kesehatan fisik maupun kesehatan psikis pekerja


sehubungan dengan pekerjaannya(mencakup metode kerja, kondisi kerja dan lingkungan
kerja) yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan kesehatan
pekerja. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja. Konsep dasar kesehatan kerja sendiri memiliki hubungan timbal balik
antara kesehatan dan pekerjaan sehingga menyebabkan keadaan sehat (baik dari segi fisik,
mental maupun sosial).1

Pelayanan seorang dokter yang kompeten dan bermutu sangatlah dibutuhkan bagi
masyarakat karena dokter merupakan tempat mereka untuk berkonsultasi dan juga mengobati
keluhan-keluhan yang mereka rasakan. Selain itu dokter yang kompeten dan bermutu akan
menjadi prioritas utama bagi mereka dalam memilih tempat yang tepat untuk mereka
berkosultasi dan juga mengobati keluhan-keluhan yang mereka rasakan karena di zaman
globalisasi ini masih banyak dokter yang tidak mementingkan kebutuhan yang diinginkan
pasien. Oleh karena itu kita sebagai dokter keluarga dan dokter komunitas hendaknya selalu
memikirkan semua kebutuhan yang diinginkan pasien dengan memberikan pelayanan yang
senyaman mungkin terhadap pasien yang kita hadapi.1

Salah satu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah pelayanan kuratif
yang salah satunya adalah Ilmu Kedokteran Kerja. Ilmu ini sama seperti ilmu kedokteran
lainnya, hanya saja ilmu ini lebih menjurus kepada potensi dan faktor risiko dari pekerjaan
yang dapat mengakibatkan penyakit akibat kerja,serta dibutuhkan improfisasi dalam
melakukan kedokteran kerja. Hal yang harus diperhatikan adalah Keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) yang merupakan instrumen yang digunakan untuk memproteksi pekerja,
perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.
Karena perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan atau
instansi kepada pegawainya. K3 tersebut dibuat untuk mendatangkan manfaat, yaitu
mengurangi,mencegah dan menghilangkan adanya penyakit akibat kerja.1
K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya
kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara dan hal-hal lain yang

2
menyebabkan kerusakan pada pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru,
kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar UV, percikan api dan lain-lain. K3 dalam
konteks kerja berkaitan dengan waktu dan shift dalam bekerja, waktu rekreasi dan libur dan
waktu pergantian dalam shift bekerja.1

Pekerja Kaca dan Aluminium


Cutting atau pemotongan adalah proses pemisahan benda padat menjadi dua atau
lebih, melalui aplikasi gaya yang terarah melalui luas bidang permukaan yang kecil.
Pemotongan sudah tidak asing dalam kehidupan sehari-hari misalnya cermin, etalase, kusen
aluminium, jendela, konstruksi bangunan gedung dan masih banyak lainnya.
Pemotongan menggunakan fenomena tekanan dan geseran dan hanya terjadi ketika
total tegangan yang dihasilkan oleh alat pemotong melebihi kekuatan benda yang dipotong.
Karena tekanan adalah gaya per satuan luas, maka besarnya gaya yang dibutuhkan akan lebih
rendah jika luas area permukaan diperkecil, maka banyak benda tajam yang diasah hingga
lancip untuk memudahkan pemotongan.

3
Hasil Pengamatan Terhadap Kegiatan Pekerjaan

1. Jenis Pengamatan : Kunjungan


2. Cara Pengamatan : Wawancara dan laporan
3. Jenis pekerjaan : Pekerja Kaca dan Alumunium
4. Waktu Pelaksanaan : Rabu, 4 Januari 2017
5. Lokasi : Paku Alam, Serpong Utara

Topik yang di pilih pada laporan iniadalah mengenai Kedokteran Kerja yang
membahas Diagnosis Penyakit Akibat Kerja (PAK), Pencegahan PAK, Kegiatan Penunjang
dalam pencegahan PAK dan Pengendalian Faktor Risiko Potensial.
Pasien bekerja sebagai tukang kaca dan alumunium contohnya untuk pembuatan
cermin, etalase dan lain-lain di rumah, kantor, sekolah ataupun toko-toko. Pasien bekerja
setiap hari tergantung pesanan yang ada dan untuk jam kerjanya sekitar 10-12 jam.
Tn.S bekerja hanya sebagai tukang kaca dan alumunium saja, saat bekerja terlihat
bahwa tidak adanya pemakaian alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan, ear phone,
masker, dan apron.
Lalu kami bertanya saat beliau sedang mulai bekerja :
Saya :pak, apakah selama bapak bekerja bapak tidak pernah memakai alat pelindung diri
seperti kacamata, sarung tangan, dan baju pelindung ?
Tn. S : kalau kaca mata kadang dipakai tetapi kalau sarug tangan dan baju pelindung
tidak pernah karena hanya memperlambat kerja saya
Saya : Sebenarnya disini disediakan alat pelindung diri apa tidak pak, kalau disediakan
apa saja alatnya pak ?
Tn. S : yang disediakan disini hanya sarung tangan dan kacamata saja
Saya : Kalau begitu sebaiknya di pakai pak alat pelindung yang disediakan, maaf bapak
juga harus minta baju pelindung pak soalnya kan itu penting bagi bapak, maaf pak sudah
berapa tahun bekerja sebagai tukang las ?
Tn. S : iya nanti saya minta disediakan ke bos, saya sudah sekitar 5 tahun kerja disini

Lalu saya mengikuti Tn. S saat sedang istirahat


Saya :kalau saya boleh tahu biasanya kalau saat bekerja pernah tidak bapak mengalami
hal yang buruk seperti kecelakaan saat kerja pak ?
Tn. S: pernah dan sering, itu mah sudah biasa seperti tertimpa kaca dan alumunium, luka
robek pada tangan karena terkena kaca saat sedang memotong kaca, terkadang telinga saya

4
berdenging akibat tidak memakai headset saat memotong kaca maupun alumunium, dan
banyak deh kecelakaan lainnya
Saya : sekarang apakah ada yang bapak keluhkan tentang kesehatan bapak ?
Tn. S : ada sih sekarang di daerah punggung sama pinggang sakit karena saya sering
memotong alumunium dengan posisi membungkuk

Setelah bertanya kepada Tn.S ternyata potensi bahaya pada pekerja las sangat banyak.
bahaya kimiawi, panas dan posisi yang tidak ergonomis. Di tambah dengan tidak di gunakan
alat pelindung diri. Hanya menggunakan kaca mata yang digunakan tanpa tangan yang di
lindungi sarung tangan dan headset. Belum lagi jam kerja yang tanpa libur yaitu bekerja
setiap hari dari senin sampai minggu, dengan lama kerja 10-12 jam dan tanpa shift kerja.
Risiko kecelakaan akibat kerja juga sangat tinggi karena Tn. S malas mengikuti prosedur
operasional yang aman dalam melakukan pekerjaan, beliau juga kadang harus naik ke atas
gedung yang berisiko terjatuh, mungkin faktor kelalaian penggunaan dan faktor psikososial
kurang mendapatkan informasi bagaimana melakukan tindakan dan pekerjaan yang aman dan
baik. Selain itu bagi atasan di kantornya tidak menginformasikan dan training para pekerja
nya agar dapat bekerja dengan aman dan sehat.

BAB II
PEMBAHASAN

5
A. Identitas Perusahaan / Instansi
a. Nama Perusahaan / Instansi : PT. Paramita
b. Tahun Berdiri Perusahaan /Instansi : 2000
c. Alamat Perusahaan / Instansi : Tangerang Selatan
d. Bergerak dalam Bidang : Kaca dan Alumunium

B. Status Kesehatan Pekerja


STATUS KESEHATAN PEKERJA
( DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT KERJA )

No.Status : 001 Kode: 01


I. Identitas Pekerja
a. Nama : Tn.S
b. Usia : 31 tahun
c. Kedudukan dalam keluarga : Kepala Keluarga
d. Jenis Kelamin : Laki-laki
e. Pendidikan : SMA
f. Pekerjaan : Tukang kaca dan alumunium
g. Perusahaan/ instansi : PT. Paramita
h. Status Perkawinan : Menikah , dengan 1 istri & 1 orang anak
i. Tanggal Kunjungan : Paku Alam, Serpong Utara. 4 Januari 2017

II. Riwayat Penyakit


a. Tanggal : 4 Januari 2017
1. Keluhan Utama : Nyeri punggung sejak 2 bulan
2. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang : pasien mengeluh nyeri
didaerah pinggang dan punggung terasa jika saat pasien sedang istirahat kadang
juga suka terasa panas. Pasien mengatakan bahwa tangan beberapa hari ini sering
merasa kesemutan dan kaku saat malam hari. Bila nyeri biasa pasien hanya
mengobati dengan balsam dan obat warung saja.
3. Riwayat Penyakit Terdahulu : Tidak pernah menderita sakit seperti
ini sebelumnya.
4. Riwayat penyakit dalam keluarga :Di keluarga tidak ada yang
menderita sakit yang seperti apa yang di rasakan bapak.

III. Riwayat Pekerjaan


a. Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan Yang berisiko Tempat Kerja Lama Kerja


Tukang Kaca dan- Tangan tergores Berdiri dan Bekerja 10 jam
- Kejatuhan

6
Alumunium - Potongan kaca membungkuk setiap hari
tajam sampai berjam-
- Terpotong mesin
jam saat harus Sudah bekerja
- Debu, panas,
memotong kaca sebagai tukang kaca
percikan api
dan alumunium dan alumunium
dan asap.
selama 5
tahun,sejak tahun
2011 sampai dengan
saat ini

b. Uraian tugas / pekerjaan

- Cara melakukan pekerjaan

Pekerja menggunakan jenis gerindra alat potong (Tool Grinding Machine),


yaitu mesin pemotong dengan menggunakan mata gerindera.

Cara pemasangan dan penggunaan gerindra :

1. Pastikan pekerja telah memakai alat pelindung diri (APD) seperti sarung
tangan, kaca mata, headset dan alat pelindung diri. Ingat dalam bekerja harus
mengutamakan keelamatan dan kesehatan kerja (K3).
2. Pasangkan benda yang ingin dipotong, pasangkan pada ragum, lalu ilat dengan
kuat agar benda yang akan dipotong tidak lepas atau goyang ketika dipotong.
3. Pastikan kabel listrik telah terhubung, lalu tekan tombol ON
4. Lalu letakkan tangan kiri pada gagang mesin gerindra potong dan tekan
tombolnya, lalu mata gerindra (roda gerindra) akan berputar, lalu tekan gagang
gerindra potong kebawah sehingga mata potong gerindra bias mengenai benda
yang akan dipotong.
5. Tekan dengan perlahan selagi roda gerindra berputar, sehingga benda
terpotong.
6. Lakukan tahap tersebut sesuai kebutuhan.

Fungsi utama mesin gerindra :


1. Memotong benda kerja yang ketebalannya yang tidak relatif tebal
2. Menghaluskan dan meratakan permukaan benda kerja
3. Sebagai proses jadi akhir pada benda kerja
4. Mengasah alat potong agar tajam
5. Menghilangkan sisi tajam pada benda kerja
6. Membentuk suatu profil pada benda kerja

7
Detil aktifitas selama 10 jam kerja (jamnya tidak tentu)
- Urutan aktifitas jam kerja : jam kerja tidak tentu (tergantung pesanan)

7. Alat Pelindung Diri :


- Alat pelindung diri yang dikenakan oleh pekerja adalah :Kacamata untuk
mencegah matanya terkena percikan api, kaca dan alumunium saat sedang
dipotong

8. Bahaya Potensial
- Fisik :
a. Potongan besi : 1) kulit luka terinjak/lecet pada kulit,infeksi
2) mata : korpus alineum, iritasi mata.

b. Bising mesin : Gangguan pendengaran

- Kimia : -
- Biologis: -
- Ergonomi :
Posisi Memotong yang tidak sesuai (tidak ergonomis), sikap badan
yang kurang baik , menyebabkan kelainan tulang belakang atau alat
gerak yang lain perubahan fisik pekerja nyeri punggung atau
nyeri tulang belakang.
- Psikososial :
a. Keadaan yang membosankan karna bekerja setiap hari
b. Waktu kerja lama (10 jam )stress
c. Terpapar percikan terlalu lama lelah

Gangguan Kesehatan yang mungkin timbul

1. Potongan kaca dan alumunium : Luka pada kulit dan infeksi


2. Percikan kaca : Luka pada kulit
3. Bising : Gangguan pendengaran
4. Posisi tidak ergonomi : LBP (Low Back Pain)

Risiko kecelakaan kerja

Iritasi mata
Terpotong mesin (gerindera)
Luka tajam
Gangguan penglihatan
Gangguan pendengaran
Kelainan kulit
Stress

8
IV. Pemeriksaan :
a. Pemeriksaan Fisik (secara umum)
1. Keadaan umum : Baik
2. Tanda Vital :
- Tekanan Darah : 130/90 mmHg
- Frekuensi Nadi : 86 kali/menit
- Frekuensi Nafas : 19 kali/menit

b. Pemeriksaan Klinis
1. Mata :
- Pupil : bulat isokor/bulat isokor
- Reflex cahaya : postif/positif
- Sklera : normal/normal
- Konjungtiva : anemis/anemis
- Bola mata : normal/normal
- Visus : Dx 6/30 / Sx 6/30
- Persepsi warna : baik/baik
2. Hidung :
- Septum nasi : normal
- Mukosa : baik
- Penciuman : normosmik/normosmik
3. Telinga : inspeksi : normal
Palpasi : normal
Tes pendengaran : tidak dilakukan

4. Tenggorokan :
(pharing/nasopharing/laring/tonsil) normal
5. Leher :
Kelenjar thyroid normal / JVP normal

6. Thorak :
Paru-paru (ronkhi)
Jantung dalam batas normal
7. Abdomen :
Hati/limfa (tidak terdapat pembesaran)

8. Kulit : dalam batas normal

V. Analisis hubungan pekerjaan dengan penyakit yang diderita


1. Pemeriksaan ruang/tempat kerja :
Pekerjaan dilakukan diruang terbuka di pinggir jalan yang terdapat
banyak debu dan panas. Jadi berisiko mengganggu sisitem pernapasan serta
terpapar terutama di daerah mata. Posisi kerjanya yang tidak ergonomis, bisa
mengakibatkan kecelakaan akibat kerja dan penyakit sendi dan nyeri
pinggang.3

2. Pembuktian hubungan penyakit dengan bekerja:

9
Pasien bekerja sebagai tukang kaca dan alumunium berpotensi risiko
terpapar percikan kaca dan bisa menyebabkan iritasi mata dan luka tajam pada
kulit. Waktu kerja 10 jam yang bisa menyebabkan Tn. S lemas dan cepat
capek. Posisi saat memotong kaca dan alumunium sering dengan posisi berdiri
dan membungkuk (tidak ergonomis) yang menyebabkan Tn. S nyeri pinggang
dan nyeri tulang belakang. Potongan kaca dan alumunium serta benda tajam
yang bisa menyebabkan kaki atau tangan luka.3

3. Pembuktian tidak adanya hubungan penyakit dengan penyebab di luar


pekerjaan :
Aktifitas di luar pekerjaan selain menjadi tukang las tidak ada. Tn. S bekerja
selama 5 tahun, bekerja setiap hari selama 10 jam dan bisa lebih dari itu jika
pesanan banyak.

Menegakkan Diagnosa Penyakit Akibat Kerja


Diagnosa Kerja :
Low Back Pain
Carpal Tunnel Syndrome

VI. Prognosa
Ad Vitam : Ad Bonam (menyangkut kehidupan)
Ad Fungsionam : dubia ad malam (menyangkut fungsional)
Ad Sanasionam : dubia ad malam (menyangkut kesembuhan)

Prognosa Okupasi : Ad Bonam

PEMECAHAN MASALAH

VII. Permasalahan pasien dan rencana penatalaksanaannya

Target Waktu &


Jenis Permasalahan Rencana Tindakan
Evaluasi
APD yang tidak sesuai Mewajibkan penggunaan Prosedur monitor &
APD yang sesuai standart pemeriksaan
yang direkomendasikan. lingkungan kerja :

10
Dengan : Evaluasi pajanan saat
Helm dengan filter cahaya
kerja (10 jam kerja)
Kacamata (google)
Masker seharusanya di
Baju keselamatan/apron evalusi dan di adakan
sarung tangan
shift kerja dan hari
sepatu boots
Proteksi pendengaran libur

Posisi bekerja yang tidak Diberi edukasi cara posisi


ergonomic mengelas yang baik dan
benar

BAB III
KESIMPULAN & SARAN

A. Kesimpulan
Kecelakaan pada tukang kaca dan alumunium pada umumnya disebabkan oleh
kelalaian pada pekerja saat melakukan pekerjaannya tidak menggunakan APD yang
sesuai, dan pemakaian pelindung yang kurang tepat. Selain itu faktor kebiasaan dari
pekerja yang meremehkan pemakaian APD. Dan di karenakanan kurangnya sosialisasi
serta traning dan penyluhan manfaat penggunaan APD. Belum di tetapkannya
peraturan dan hukuman jika para pegawai tidak menggunakan APD. Keluhan nyeri
punggung dan tangan kesemutan karena posisi yang tidak ergonomis saat bekerja
serta tangan yang sering digunakan berulang-ulang.
B. Saran

11
Alat Pelindung Diri di usahakan untuk selalu digunakan dalam melakukan pekerjaan
mengelas besi. Perlu adanya tim pengawas yang memberi tahu kewajiban
penggunaaan APD dan risiko jika tidak menggunakan APD.

LAMPIRAN KEGIATAN

12
13