Anda di halaman 1dari 14

REFRESHING

Fisiologi dan Mekanisme Persalinan
Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih

Disusun Oleh :
Carindha Azaria, S.Ked
2012730019
Dokter Pembimbing :
dr. Helmina, Sp.OG

Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2016

D. Q. A. E. N. Penulis . Semoga refreshing ini dapat berguna bagi kita semua. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan pembuatan refreshing yang berjudul “Fisiologi dan Mekanisme Persalinan”. K.. Mei 2016 O. Sp. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. G. P. khususnya bagi para pembaca dan rekan-rekan sejawat. H. M. Ucapan terima kasih tak lupa penulis ucapkan kepada dr. Helmina. C. L. I. Jakarta. F. Kata Pengantar B. J.OG pembimbing dibagian Ilmu Kesehatan Obstetri dan Ginekologi RSIJ Cempaka Putih dan rekan-rekan yang telah membantu penulis dalam pembuatan refreshing ini.

Menjelang persalinan.R. serta secara berangsur menghilang pada periode postpartum. dan posisi janin V. Tanda dan gejala inpartu 1. AC. Pada pemeriksaan dalam serviks mulai mendatar dan pembukaan lengkap X. W. AA. Kekuatan his bertambah. Beberapa jam terakhir kehamilan ditandai dengan adanya kontraksi uterus yang menyebabkan penipisan. yakni : ukuran kepala janin. Passage T. Power S. Keluar lendir dan darah lebih banyak 3. makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi makin pendek sehingga menimbulkan rasa sakit yang lebih hebat 2. Fungsi dari estrogen ini untuk mendorong serangkaian perubahan pada miometrium dalam pematangan serviks uteri dan kontraktitilitas uterus. Selama kehamilan. AB. plasenta merupakan sumber estrogen primer. Faktor pendukung persalinan 1. Cara penumpang atau janin bergerak disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor. Kadar estrogen ini akan meningkat beriringan dengan bertambahnya usia kehamilan. letak. otot polos uterus mulai menunjukkan aktivitas kontraksi secara terkoordinasi. Passanger U. dan mendorong janin keluar melalui jalan . sikap. dan introitus (lubang luar vagina) janin harus dapat menyesuaikan diri dengan jalan lahir tersebut 3. Jalan lahir terdiri panggul ibu. Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos miometrium yang relatif tenang yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin sampai dengan kehamilan aterm. dilatasi serviks. diselingi dengan suatu periode relaksasi. dasar panggul. dan mencapai puncaknya menjelang persalinan. Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunter secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus 2. Fisiologi Persalinan Normal Z. vagina. Y. presentasi letak kepala. Kontraksi uterus. dinding perut dan daya meneran. yakni bagian tulang yang padat.

relatif pasif dibandingkan dengan segmen atas. Bagian atas uterus. dan mendorong janin keluar. Banyak energi dikeluarkan pada waktu ini. dan bagian ini berkembang menjadi jalan lahir yang berdinding jauh lebih tipis. bagian ini ditarik ke atas pada kutub bawah janin. berkontraksi ke bawah meski pada saat isinya berkurang.lahir. membentuk suatu saluran muskular dan fibromuskular yang menipis sehingga janin dapat menonjol keluar. Namun. sehingga tegangan miometrium tetap konstan. Kontraksi miometrium pada persalinan terasa nyeri sehingga sering disebut nyeri persalinan. AH. tegangannya tetap sama seperti sebelum kontraksi. Diferensiasi Aktivitas Uterus AF. AD. Segmen bawah. Pemanjangan janin berbentuk ovoid yang ditimbulkannya diperkirakan telah mencapai antara 5-10 cm.Selama persalinan. Efek kedua pemanjangan uterus yaitu serabut longitudinal ditarik tegang dan karena segmen bawah dan serviks merupakan satu-satunya bagian uterus yang fleksibel. Miometrium pada segmen atas uterus tidak berelaksasi maksimal. Dengan perubahan bentuk ini. AE. sebagai respon terhadap gaya dorong kontraksi segmen atas. Karena pemendekan serat otot yang terus menerus pada setiap kontraksi. dengan menekankan kutub atasnya rapat-rapat terhadap fundus uteri. Efek ini merupakan faktor yang penting untuk dilatasi serviks pada otot-otot segmen bawah dan serviks. mengalami retraksi. Perubahan Bentuk Uterus AI. Segmen bawah uterus dan serviks akan semakin lunak berdilatasi. sementara kutub bawah didorong lebih jauh ke bawah dan menuju ke panggul. Setiap kontraksi menghasilkan pemanjangan uterus berbentuk ovoid disertai pengurangan diameter horisontal. terjadi dua efek penting pada proses persalinan. AG. atau segmen aktif. . Segmen atas berkontraksi. Efek akhirnya adalah mengencangkan yang kendur dengan mempertahankan kondisi menguntungkan yang diperoleh dari ekspulsi janin dan mempertahankan otot uterus tetap menempel erat pada isi uterus. tetapi relatif menetap pada panjang yang lebih pendek. yaitu pengurangan diameter horisontal menimbulkan pelurusan kolumna vertebralis janin. segmen atas uterus yang aktif menjadi semakin menebal di sepanjang kala pertama dan kedua persalinan dan menjadi tebal sekali tepat setelah pelahiran janin. Segmen atas berkontraksi secara aktif menjadi lebih tebal ketika persalinan berlangsung. uterus berubah bentuk menjadi dua bagian yang berbeda.

AK. dan mungkin juga penting pada kala tiga persalinan pada saat ekspulsi spontan plasenta.Obliterasi atau pendataran serviks adalah pemendekan saluran serviks dari panjang sekitar 2cm menjadi hanya berupa muara melingkar dengan tepi hampir setipis kertas. Oleh karena itu. Proses ini disebut sebagai pendataran (effacement) dan terjadi dari atas ke bawah. Gaya-gaya Tambahan pada Persalinan AL. Pendataran Serviks AP. Gaya ini terbentuk oleh kontraksi otot-otot abdomen secara bersamaan melalui upaya pernapasan paksa dengan glotis tertutup. AR. tekanan ini merupakan bantuan tambahan yang diperlukan oleh kontraksi-kontraksi uterus pada kala dua persalinan. AQ. Secara spesifik. Serabut-serabut otot setinggi os serviks internum ditarik ke atas.Jika dibandingkan dengan korpus uteri. Pendataran menyebabkan ekspulsi sumbat mukus ketika saluran serviks memendek. tetapi ekspulsi bayi dapat terlaksana dengan lebih mudah kalau ibu diminta mengejan. struktur- . dan dapat melakukan perintah tersebut selama terjadi kontraksi uterus. gaya yang paling penting pada proses ekspulsi janin adalah gaya yang dihasilkan oleh tekanan intraabdominal ibu yang meninggi. segmen bawah uterus dan serviks merupakan daerah yang resistensinya lebih kecil. AT. sementara kondisi os eksternum untuk sementara tetap tidak berubah. Dilatasi Serviks AV. Sebagai hasil dari aktivitas miometrium yang meningkat sepanjang persiapan uterus untuk persalinan. AO. menuju segmen bawah uterus. AS. AN.AJ. Setelah serviks berdilatasi penuh. Dilatasi serviks yang sebagian besar adalah hasil dari kontraksi uterus yang berkerja pada serviks yang melunak berlangsung secara normal. Sifat gaya yang ditimbulkan sama dengan gaya yang terjadi pada defekasi. atau dipendekkan. pendataran sempurna pada serviks yang lunak kadangkala telah selesai sebelum persalinan aktif dimulai. selama terjadi kontraksi. AM. yang disebut mengejan. tetapi intensitasnya biasanya jauh lebih besar. AU.

Osteum uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama. Baru kemudian osteum uteri eksternum membuka. Ketika kontraksi uterus menimbulkan tekanan pada selaput ketuban. Pola dilatasi serviks yang terjadi selama berlangsungnya persalinan normal mempunyai bentuk kurva sigmoid. tekanan pada bagian terbawah janin terhadap serviks dan segmen bawah uterus juga sama efektifnya. Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau sudah lengkap. BB. BA. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida. Fase aktif dibagi dalam 3 fase. terbagi dalam 2 fase yaitu : a. sehingga serviks akan mendatar dan menipis. AX. intensitas. Pada multi gravida pun terjadi demikian. Kala Persalinan 1. dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. yaitu :  Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 2cm tersebut menjadi 4cm  Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4cm menjadi 9cm  Fase deselarasi : pembukaan menjadi lambat kembali. fase aktif. AW. umumnya berlangsung selama 8 jam. Kala I (Stadium pendataran dan dilatasi serviks) AY. dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9cm menjadi lengkap AZ. dan fase deselerasi terjadi lebih pendek. Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. akan tetapi fase laten. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 2cm b. tekanan hidrostatis kantong amnion akan melebarkan saluran serviks.Dimulai ketika telah tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau . yang dalam prosesnya serviks mengalami tarikan sentrifugal. Bila selaput ketuban sudah pecah.struktur ini mengalami peregangan. Fase laten : lamanya lebih bervariasi. Kala satu perssalinan selesai ketika serviks sudah pembukaan lengkap (sekitar 10 cm) sehingga memungkinan kepala janin lewat. Pada multigravida osteum uteri internum sudah sedikit terbuka. pada yang pertama ostium uteri internum akan membuka terlebih dahulu.

1 mg/kgBB IM atau tramadol 50mg per oral atau 100mg supositoria atau metamizol 500mg per oral c. BC. dan berakhir ketika janin sudah lahir. BD. Jika ibu tersebut tampak kesakitan. tetapi jika ibu ingin di tempat tidur sebaiknya dianjurkan tidur miring ke kiri  Sarankan untuk berjalan  Ajak orang yang menemaninya (suami atau ibunya) untuk memijat atau menggosok punggungnya atau membasuh mukanya di antara kontraksi  Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai dengan kesanggupannya  Ajarkan teknik bernapas : ibu diminta untuk menarik napas panjang. 2. dukungan/asuhan yang dapat diberikan :  Lakukan perubahan posisi  Posisi sesuai dengan keinginan ibu. tidak menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin pasien/ibu d. kira-kira 2 sampai 3 menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini janin sudah masuk ruang panggul. telah lengkap. Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan. Bila ketuban telah pecah sebelum pembukaan mencapai 5cm. menahan napasnya sebentar kemudian dilepaskan dengan cara meniup udara ke luar sewaktu terasa kontraksi  Jika diperlukan berikan petidin 1mg/kgBB (maksimal 100mg) IM atau IV secara perlahan atau morfin 0. disebut ketuban pecah dini. Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin BE. ketakutan. atasi dengan cara :  Gunakan kipas angin atau AC dalam kamar  Anjurkan ibu untuk mandi sebelumnya g. berikan cukup minum h. Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi. Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah buang air kecil/besar f. Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah. His menjadi lebih kuat dan lebih cepat. Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan e. Penanganan : a. dan kesakitan :  Berilah dukungan dan yakinkan dirinya  Berikan informasi mengenai proses dan kemajuan persalinannya  Dengarkan keluhannya daan cobalah untuk lebih sensitif terhadap perasaannya b. Kala II (Stadium ekspulsi janin) BF.Dimulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap. maka pada his dirasakan . antara lain menggunakan penutup atau tirai. Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat.

atau dasar panggul.5jam. labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his. Setelah istirahat sebentar. his mulai lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota bayi. dalam keadaan normal fleksi terjadi dan dagu mendekat kearah dada janin  Putaran paksi dalam : dimulai pada bidang setinggi spina iskiadika. BJ. kepala dikatakan telah menancap (engaged) pada pintu atas panggul BI. dan dagu melewati perineum.5jam dan pada multipara rata-rata 0. BK. dan kontraksi diafragma serta otot-otot abdomen ibu pada tahap kedua persalinan  Fleksi : segera setelah kepala yang turun tertahan oleh serviks. BG. BH. Mekanisme persalinan normal :  Engagement : bila diameter biparietal kepala melewati pintu atas panggul. tekanan langsung kontraksi fundus pada janin. yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dengan suboksiput di bawah simfisis dan dahi.  Penurunan : gerakan bagian presentasi melewati panggul. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. hal ini juga dipengaruhi elastisitas diafragma pelvis . Setiap kali terjadi kontraksi kepala janin diarahkan ke bawah lengkung pubis. sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior). Penurunan terjadi akibat tiga kekuatan yaitu tekanan dari cairan amnion. Pada primigravida kala II berlangsung rata-rata 1. Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi. tekanan pada otot-otot dasar panggul. Wanita merasa pula tekanan pada rectum dan hendak buang air besar. muka. kepala tidak masuk lagi di luar his. dinding panggul. dan kepala hampir selalu berputar saat mencapai otot panggul.

Terjadi penurunan kepala ke dalam rongga panggul.  Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring. bahu akan berada dalam posisi depan belakang. Mula-mula oksiput melewati permukaan bawah simfisis pubis. kepala akan defleksi ke arah anterior oleh perineum. kemudian bahu belakang. dahi. Putaran paksi luar terjadi saat bahu engaged dan turun dengan gerakan mirip dengan gerakan kepala  Ekspulsi : setelah bahu keluar. kepala segera mengadakan rotasi. pinggul / trokanter depan dan belakang. kepala dan bahu diangkat ke atas tulang pubis ibu badan bayi dikeluarkan dengan gerakan fleksi lateral ke arah simfisis pubis BL.Dengan suboksiput sebagai hipomoklion. Bahu depan dilahirkan terlebih dahulu. Selanjutnya lahir badan (toraks. setelah bahu lahir. akibat dari :  Elastisitas diafragma pelvis  Tekanan intrauterin yang disebabkan oleh his berulang-ulang BR. abdomen) dan lengan.  Dengan kekuatan his bersama dengan kekuatan mengejan. kepala mengadakan defleksi untuk dapat dilahirkan. BQ. . dan akhirnya dagu. bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. anus membuka dinding rektum. BP. BT. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya  Apabila kepala telah dilahirkan. tungkai dan kaki. BO. Ekstensi : saat kepala janin mencapai perineum. Dengan fleksi kepala janin memasuki ruang panggul. BS.  Sesudah kepala lahir. kemudian kepala muncul keluar akibat ekstensi  Restitusi dan putaran paksi luar : restitusi adalah gerakan berputar setelah kepala bayi lahir hingga mencapai posiis yang sama dengan saat ia memasuki pintu atas. BM.  Ekspulsi. sampai di dasar panggul kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal. Kemudian terjadi putaran paksi dalam. muka.  Pada tiap his vulva lebih membuka dan kepala janin semakin tampak. perineum menjadi semakin lebar dan tipis. berturut-turut tampak bregma. akibat dari :  Tekanan intrauterin yang disebabkan oleh his berulang-ulang  Tekanan langsung dari kontraksi fundus pada janin  Tekanan dari cairan amnion BN. yang disebut putaran paksi luar.

Mengatur posisi ibu. ibu dianjurkan berkemih sesering mungkin g. Berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban janin. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu dengan :  Mendampingi ibu agar merasa nyaman  Menawarkan minum. Karena bayi . BW. 3. BV. Memberikan cukup minum untuk menambah tenaga dan mencegah dehidrasi BX. Menjaga kandung kemih tetap kosong. Dimulai segera setelah janin lahir dan melibatkan pelepasan dan ekspulsi plasenta. mengipasi dan memijat ibu b. Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu d. Kala III (Stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta) BY. Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu. BU. Menjaga kebersihan diri :  Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi  Jika ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan c. Penanganan : a. dalam membimbing mengedan dapat dipilih posisi berikut :  Jongkok  Menungging  Tidur miring  Setengah duduk f. dengan cara :  Menjaga privasi ibu  Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan  Penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan dan keterlibatan ibu e.

rangsang putting payudara ibu atau susukan bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau berikan ergometrin 0. dan pemisahan terjadi di tempat ini. Agar plasenta dapat mengakomodasikan diri terhadap permukaan yang mengecil ini. tetapi bukan melakukan PTT. terjadi pelepasan plasenta dan mengecilnya ukuran tempat implantasi di bawahnya. Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta :  Oksitosin dapat diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran bayi  Jika oksitosin tidak tersedia. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso kranial – ke arah belakang dan ke arah kepala ibu  Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6cm di depan vulva  Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat 2-3menit  Selama kontraksi. BZ. Ketika uterus sedang tidak berkontraksi. pada saat bayi selesai dilahirkan rongga uterus hampir terobliterasi dan organ ini berupa suatu massa otot yang hampir padat. CA. atau desidua spongisoa mengalah. dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus c. Normalnya. Tegangan yang dihasilkannya menyebabkan lapisan desidua yang paling lemah lapisan spongisoa. Penyusutan ukuran uterus yang mendadak ini selalu disertai dengan pengurangan bidang tempat implantasi plasenta. uterus secara spontan berkontraksi keras dengan isi yang sudah kosong. lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus menerus. Tangan pada uterus merasakan kontraksi. Penanganan : a. Fundus uteri sekarang terletak di bawah batas ketinggian umbilikus. Biasanya plasenta lepas dalam 6-15 menit setelah bayi lahir. tangan petugas dapat tetap berada pada uterus. dengan tebal beberapa sentimeter di atas segmen bawah yang lebih tipis. ibu dapat juga memberi tahu petugas ketika ia merasakan kontraksi. plasenta terpaksa menekuk. organ ini memperbesar ketebalannya. sudah lahir. Lakukan PTT (Penegangan Tali pusat Terkendali) atau CTT (Controled Cord Traction) dengan cara :  Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat di atas simfisis pubis. tetapi elastisitas plasenta terbatas. PTT dilakukan hanya selama uterus berkontraksi. Oleh karena itu.2 mg IM b. Ulangi langkah-langkah PTT pada setiap kontraksi sampai plasenta terlepas .

keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta. d. atau jika perdarahan hebat terjadi. CD. 4. Jika kontraksi tidak kuat. ikuti protokol untuk peradarah pascapersalinan f. Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua . berikan oksitosin 10 unit IM. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan pascapersalinan. nadi. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban e. Hal ini dapat mengurangi kehilangan darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan b. Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit. Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 30 menit :  Periksa kandung kemih dan lakukan kateterisasi jika kandung kemih penuh  Periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta  Berikan oksitosin 10 unit IM dosis ketiga. CE. dosis kedua dalam jarak waktu 15 menit dari dosis pertama g. Rata-rata perdarahan normal adalah 250 cc. Begitu plasenta terasa lepas. Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan. otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan. perdarahan persalinan yang lebih dari 500 cc adalah perdarahan abnormal. masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Periksa tekanan darah. dalam jarak 15 menit dosis sebelumnya  Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta h. Kala IV CC. segera lakukan kompresi bimanual dalam. Penanganan : a. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa. masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi. Periksa daerah kewanitaan secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episiotomi CB. Dimulai saat plasenta lahir sampai 2 jam pertama post partum. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1-2 menit. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10-15 detik. keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. kantung kemih.

menyusui juga membantu uterus berkontraksi h. Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. sebagai permulaan dengan menyusui bayinya g. Biarkan ibu beristirahat. Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi. Jika ibu perlu ke kamar mandi. Ajari ibu atau anggota keluarga tentang :  Cara memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi  Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi . bantu ibu pada posisi yang nyaman f. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI. Tawarkan ibu makanan dan minuman yang disukainya d. Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering e. Pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 3jam pasca persalinan i. ibu boleh bangun. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. pastikan ibu dibantu karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.c.

Daftar Pustaka CG. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo CI.CF. . Sarwono. editor. Abdul Bari. Ilmu Kebidanan. Saifuddin. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo CJ. 2014. 2014. CH. Prawirohardjo. Edisi Keempat. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.