Anda di halaman 1dari 5

LO 3

Jenis-jenis rujukan (menurut lingkup pelayanan)
1. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan
penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum
daerah.
a. Transfer Of Patient
Penatalaksanaan pasien dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata
pelayanan kesehatan yang lebih sempurna atau sebaliknya untuk pelayanan tindak
lanjut
b. Transfer Of Specimen
Pengiriman bahanbahan pemeriksaan bahan laboratorium dari strata pelayanan
kesehatan yang kurang mampu ke strata yang lebih mampu atau sebaliknya, untuk
tindak lanjut.
c. Transfer Of Knowledge/ personel
Pengiriman dokter/ tenaga kesehatan yang lebih ahli dari strata pelayanan kesehatan
yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk
bimbingan dan diskusi atau sebaliknya, untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan.
2. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya
peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya,
Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa atau
berjangkitnya penyakit menular, pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu
wilayah, pemberian makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk pengungsi atas
terjadinya bencana alam.

Pengiriman pasien ini sebaiknya dilaksanakan setelah diselesaikan administrasi yang bersangkutan. Prosedur Standar Merujuk Pasien a. pengobatan dan perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2. . 6. Prosedur Administratif: 1. Lembar kedua disimpan sebagai arsip. Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata tidak mampu diatasi. 2. Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau ambulans. Menyiapkan sarana transportasi dan sedapat mungkin menjalin komunikasi dengan tempat tujuan rujukan. tetapi pemeriksaan harus disertai pasien yang bersangkutan. Dalam prosedur merujuk dan menerima rujukan pasien ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak yang merujuk dan pihak yang menerima rujukandengan rincian beberapa prosedur sebagai berikut : 1. 3. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medik untuk menentukan diagnosa utama dan diagnose banding. Melakukan anamnesa. Memberikan Informed Consent (persetujuan/penolakan rujukan) 4. Merujuk dan Menerima Rujukan Pasien Pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk. 4. Prosedur Klinis: 1. Untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas Medis /Paramedis yang kompeten dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien. Lembar pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersangkutan. Prosedur standar memberi rujukan balik pasien. agar petugas dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGD tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut mendapat pelayanan dan kesimpulan dirawat inap atau rawat jalan. Prosedur standar menerima rujukan balik pasien. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap. Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan. Prosedur standar menerima rujukan pasien. 2. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien. 3. 5.LO 4 Tata Cara Pelaksanaan Sistem Rujukan A. 5. 1. Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO). 2. Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan. 3. Prosedur standar merujuk pasien 2. b. Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi. 4. 3. Adapun kriteria pasien yang dirujuk adalah bila memenuhi salah satu dari: 1. Membuat catatan rekam medis pasien. 4. 7.

d. . Setelah stabil. 3. diobati dan dirawat tetapi penyembuhan selanjutnya perlu di follow up oleh Rumah Sakit/Puskesmas/ Polindes/Poskesdes pengirim. Membuat informed consent (persetujuan tindakan. 2. c. Prosedur Standar Menerima Rujukan Pasien. meneruskan pasien ke ruang perawatan elektif untuk perawatan selanjutnya atau meneruskan ke sarana kesehatan yang lebih mampu untuk dirujuk lanjut. Prosedur Standar Membalas Rujukan Pasien a. b. Menerima. diselesaikan tindakan kegawatan klinis. Mencatat identitas pasien di buku register yang ditentukan. Prosedur Administratif: 1. Prosedur Klinis: 1. 5. tetapi pengobatan dan perawatan selanjutnya dapat dilakukandi Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim. meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang telah diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien. 3. 2. Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda terima pasien sesuai aturan masing-masing sarana. 4. b. Segera memberikan informasi tentang keputusan tindakan/perawatan yang akan dilakukan kepada petugas / keluarga pasienyang mengantar. Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib mengembalikan pasien ke RS / Puskesmas / Polindes/ Poskesdes pengirim setelah dilakukan proses antara lain: a. Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada kartu catatan medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya sesuai kondisi pasien. 2. 3. Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain.2. a. 7. maka harus merujuk ke RSU yang lebih mampu dengan membuat surat rujukan pasien rangkap 2 kemudian surat rujukan yang asli dibawa bersama pasien. Pasien sudah meninggal. persetujuan rawat inap atau pulang paksa). Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan. Prosedur Klinis: 1. Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan Puskesmas /RSUD yang bersangkutan). prosedur selanjutnya sama seperti merujuk pasien. Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosa bahwa kondisipasien sudah memungkinkan untuk keluar dari perawatan Rumah Sakit / Puskesmas tersebut dalam keadaan: a. 6. Sesudah pemeriksaan medis. Segera menerima dan melakukan stabilisasi pasien rujukan sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO). Sesudah pemeriksaan medis. Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien. b. Sehat atau Sembuh.

3. Melakukan kunjungan rumah pasien dan melakukan pemeriksaan fisik.handphone. Surat balasan rujukan boleh dititip melalui keluarga pasien yang bersangkutan dan untuk memastikan informasi balik tersebutditerima petugas kesehatan yang dituju. Segera memberi kabar kepada dokter pengirim bahwa surat balasan rujukan telah diterima. PR . Prosedur Standar Menerima Balasan Rujukan Pasien a. 4. b. Rumah Sakit / Puskesmas yang merawat pasien berkewajiban memberi surat balasan rujukan untuk setiap pasien rujukan yang pernah diterimanya kepada Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes yang mengirim pasien yang bersangkutan. Melakukan tindak lanjut atau perawatan kesehatan masyarakat dan memantau (follow up) kondisi klinis pasien sampai sembuh. b. Prosedur Administratif: 1. kemudian menyimpannya pada rekam medis pasien yang bersangkutan dan memberi tandatanggal/jam telah ditindaklanjuti. 2. 2. Meneliti isi surat balasan rujukan dan mencatat informasi tersebutdi buku register pasien rujukan. Memperhatikan anjuran tindakan yang disampaikan oleh Rumah Sakit/ Puskesmas yang terakhir merawat pasien tersebut. Rumah Sakit / Puskesmas yang menerima rujukan pasien harus memberikan laporan / informasi medis / balasan rujukan kepada Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes / Poskesdes pengirim pasien mengenai kondisi klinis terahir pasien apabila pasien keluar dari Rumah Sakit / Puskesmas. 3. Prosedur Administratif: 1. dianjurkan berkabar lagi melalui sarana komunikasi yang memungkinkan seperti telepon. faksimili dan sebagainya. 2. Prosedur Klinis: 1.

Kasus yang disebutkan termasuk dalam rujukan horizontal dimana Rujukan horizontal merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan. peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap. Panduan Rujukan Pasien Ed 1.Tegal:RSUD Kardinah . Rujukan horizontal dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas. Sumber: 1. 2004. Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Kota Tegal Kardinah. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan 2.