Anda di halaman 1dari 3

4.2.5.

Perkembangan embrio ikan lele

Berdasarkan hasil praktikum pengamatan perkembangan embrio yang

diperoleh dibutuhkan waktu dari proses cleavage pertama ke proses morula

dibutuhkan waktu selama 15 menit yaitu dari pukul 06.45-07.00 WIB. Tahap

morula berlangsung selama 30 menit dari pukul 07.00-07.30 WIB kemudian

embrio memasuki tahap blastula. Waktu yang terjadi saat tahap blastula

berlangsung selama satu jam yaitu dari pukul 07.30-08.30 WIB. Tahap blastula

ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang

tidak beraturan. Selanjutnya, gastrula adalah bentukan lanjutan dari blastula yang

pelekukan tubuhnya sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh

embrio serta rongga tubuh, waktu yang dibutuhkan pada tahap ini selama 4 jam

yaitu dari pukul 08.30-12.30 WIB. Tahap akhir dari embriogenesis yaitu

organogenesis yaitu proses pembentukan organ-organ tubuh pada makhluk hidup.

Tahapan organogenesis terjadi mulai pukul 12.3021.30 WIB dimana organ-organ

seperti mata, tulang, kepala, ekor semakin nampak jelas berkembang dengan baik.

Mulai dari pukul 21.30 WIB embrio terlihat bergerak aktif. Hal ini diperkuat oleh

Aer et al. (2015) menyatakan bahwa telur-telur hasil pemijahan yang dibuahi

selanjutnya berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva,

sedangkan telur yang tidak dibuahi akan mati. Lama waktu perkembangan hingga

menetas menjadi larva tergantung pada spesies ikan dan suhu.

Embriogenesis adalah proses pembelahan sel dan diferensiasi sel dari

embrio ikan yang terjadi pada saat tahap-tahap awal dari perkembangan ikan

hingga penetasan telur. Pada tahapan embriogenesis akan berlangsung proses

ataupun tahapan yang pertama cleavage, morula, blastula, gastrula, dan yang
terakhir adalah organogenesis. Faktorfaktor yang mempengaruhi proses

perkembangan embrio antara lain suhu, kelarutan oksigen dan intensitas cahaya.

Menurut Andriyanto et al. (2013), suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat

mempengaruhi pertumbuhan ratarata dan menentukan waktu penetasan serta

berpengaruh langsung pada proses perkembangan embrio dan larva. Secara umum

fase awal yaitu fase embrio dan larva merupakan fase yang paling sensitif dan

mudah menjadi stress dalam menerima pengaruh lingkungan. Sedangkan,

Kelarutan oksigen terlarut dan intensitas cahaya juga akan mempengaruhi proses

penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi sejumlah organ embrio. Cahaya yang

kuat dapat menyebabkan laju penetasan yang cepat, kematian dan pertumbuhan

embrio yang jelek serta figmentasi yang banyak yang berakibat pada

terganggunya proses penetasan.

Perbedaan waktu pada tahap penetasan ini disebabkan kemampuan embrio

yang rendah sehingga tidak mampu melepaskan diri dari cangkang telur dan

meningkatnya adrenalin selama penetasan sehingga menyebabkan stress fisik

pada embrio saat akan meninggalkan cangkang telur. Keterlambatan penetasan

telur yang terjadi pada telur yang diinkubasi disebabkan karena suhu di dalam

wadah inkubasi terlalu rendah. Telur yang ditetaskan didaerah yang bersuhu

tinggi, waktu penetasannya lebih cepat dibanding telur yang ditetaskan di daerah

bersuhu rendah. Telur yang diinkubasi pada suhu tinggi akan menghasilkan larva

yang lebih cepat menetas. Suhu merupakan faktor penting dalam mempengaruhi

proses perkembangan embrio, daya tetas telur dan kecepatan penyerapan kuning

telur. Suhu yang rendah membuat enzim (chorion) tidak bekerja dengan baik pada

kulit telur dan membuat embrio akan lama dalam melarutkan kulit, sehingga
embrio akan menetas lebih lama. Sebaliknya pada suhu tinggi dapat menyebabkan

penetasan prematur sehingga larva atau embrio yang menetas akan tidak lama

hidup. Kerja kelenjar pensekresi enzim pereduksi lapisan chorion telur sangat

peka terhadapa kondisi lingkungan terutama suhu (Nugraha et al., 2013).