Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH PENGANGGURAN TERHADAP PERTUMBUHAN

EKONOMI DI INDONESIA

Oleh

Meishara Purnama Sari


22115059
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota
meishara3@gmail.com

ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi adalah indikator terpenting dalam menilai kinerja
perekonomian untuk menganaslisis pembangunan ekonomi. Pengangguran tidak bisa
lepas dari perekonomian setiap negara, tidak terkecuali Indonesia sebagai salah satu
negara berkembang yang terus berbenah memperbaiki perekonomiannya. Hal ini
terjadi karena adanya kesenjangan antara penawaran tenaga dengan permintaan akan
tenaga kerja. Kesenjangan ini akan selalu terjadi karena barbagai faktor diantaranya
faktor demokrasi, wilayah, maupun perubahan teknologi. Pengangguran di Indonesia
masih sangat besar hal inidapat dilihata pada tahun 2008 yaitu sebesar 8,39 % dan
tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1 % hal ini menunjukkan bahwa hubungan
antara tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pengangguran sangatlah
berkaitan satu sama lain. Jika tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi maka akan
semakin banyak investasi yang masuk dan jika investasi masuk besar maka akan
meningkatkan produktivitas baik di sektor tenaga kerja maupun sektor lainnya.

KATA KUNCI: Pengangguran, Pertumbuhan ekonomi, kebijakan.

1
Pendahuluan
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang penting dalam menilai
kinerja suatu perekonomian terutama untuk melakukan analisis tentang hasil
pembangunan ekonomi.Pembangunan dilaksanakan untuk mewujudkan kemakmuran
masyarakat melalui berbagai macam pengembangan baik dibidang ekonomi, sosial,
maupun politik. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi
barang dan jasa meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan
sejauh mana aktivitas perekonomian bisa menghasilkan tambahan pendapatan
masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau suatu
wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian
Negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik (1).
Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan
perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan
kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi,
pengangguran, ketidak merataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak (2).
Pengembangan perekonomian dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan
pembangunan dan sesial kemasyarakatan seperti pengangguran dan kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat juga meningkatkan produksi
barang/jasa yang dihasilkan juga harus ditingkatkan. Karena sebab itu diperlukan
tenaga kerja yang banyak untuk memproduksi barang dna jasa tersebut sehingga
pengangguran berkurang dan kemiskinan juga ikut berkurang.
Pengangguran dapat terjadi sebagai akibat dari tingginya tingkat perubahan
angkatan kerja yang tidak di imbangi dengan adanya lapangan pekerjaan yang
memadai untuk menyerap tenaga kerja. Rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi
menyebabkan kurangnya lapangan kerja sehingga menciptakan banyaknya
pengangguran (3).Upaya menurunkan tingkat pengangguran sangatlah penting disisi
lain dengan berkurangnya tingkat pengangguran maka juga akan menurunkan tingkat
kemiskinan, dua hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain dimana pengangguran
merupakan salah satu penyebab terbesar kemiskinan.

2
Jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat dari tahun-ketahun menjadi
salah satu faktor banyaknya pengangguran hal ini karena pencari kerja yang banyak
namun lapangan kerja yang tersedia tidak mencukupi. Berdasrkan data dari BPS
jumlah penduduk Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Seperti pada tahun
2008-2015. Kenaikan jumlah penduduk juga diikuti oleh jumlah pengangguran.
Pembangunan seharusnya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup
dan juga penurunan tingkat pengangguaran yang juga pasti menurunkan tingkat
kemiskinan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa pengangguran selalu terjadi
dalam perekonomian diseluruh dunia khususnya di Indonesia. Hal ini menimbulkan
beberapa masalaha diantaranya pengangguran yang relativ tinggi, ekonomi yang
relative rendah dan kemiskinan yang masih cukup tinggi.

KAJIAN TEORI
Sebelum membahas lebih jauh tentang pengangguran alangkah lebih baiknya kita
mengkaji teori-teori tentang pengangguran yang pertama yaitu mengukur tingkat
pengangguran.

Pengertian Pengangguran

Samuelson (1992) memberikan definisi pengangguran (unemployed) adalah


orang yang tidak bekerja namun giat mencari pekerjaan atau sedang dipanggil
kembali untuk bekerja diperusahaannya. Dengan Kata lain seseorang dikatakan
menganggur apabila dia tidak bekerja dan (a) berusaha mencari pekerjaan selama
empat minggu terakhir, (b) baru diberhentikan dari pekerjaan serta sedang dipanggil
kembali atau (c) sedang mempersiapkan lamaran pekerjaan untuk atau bulan yang
akan datang (4).

Menurut buku pengantar ekonomi makro edisi asia yang ditulis oleh
N.Gregory Mankiw dan kawan-kawan, Angkatan Kerja (labor force) adalah jumlah
orang yang bekerja dan tidak bekerja:

Angkatan Kerja = Jumlah orang yang bekerja + Jumlah yang tidak Bekerja

3
Tingkat Pengangguran (unemployment rate) adalah persentase angkatan kerja yang
tidak bekerja:

Tingkat Pengangguran = Jumlah Orang yang tidak bekerja x100


Angkatan Kerja
Tingkat Pengangguran Alamiah (natural rate of unemployment) adalah tingkat
pengangguran normal dari fluktuasi tingkat pengangguran (5).
Dalam kajian ekonomi terdapat beberapa bentuk pengangguran yaitu:
1. Pengangguran Friksional, pengangguran friksional muncul karena perpindahan
orang yang berpindah dari suatu tempat ketempat lain. Pengangguran ini akan
terus terjadi karena tenaga kerja bar uterus bertambah dan para pekerja yang
berpindah pekerjaan untuk mendapatkan upah yang lebih baik ataupun alasan
lainnya.
2. Pengangguran Silikal, pengangguran ini terjadi karena permintaan total tidak
memadai untuk membeli semua keluaran yang dapat dihasilkan oleh angkatan
kerja dalam kondisi ekonomi dalam pengerjaan penuh.
3. Pengangguran Strukturala adalah pengangguran yang disebabkan oleh
ketidaksesuaian antara struktur angkatan berdasarkan jenis keterampilan,
pekerjaan, industri, atau lokasi geografis dengan struktur permintaan tenaga
kerja.
4. Pengangguran Upah Riil, pengangguran ini terjadi karena upah riil terlalu tinggi
terhadap komponen biaya produksi. Upah yang terlalu tinggi atau berlebihan ini
mendorong perusahaan untuk tidak melakukan kegiatan produksi karena nilai
upah melebihi batas normal sehingga perusahaan tidak mendapatkan
keuntungan dari kegiatan produksi (Lypsey 2007).
Jenis Pengangguran
Menurut tipenya pengangguran dapat dikelompokkan dalam bentuk berikut ini:
1. Pengangguran Terbuka, muncul akibat pertumbuhan kesempatan kerja lebih
rendah dari pertumbuhan angkatan kerja. Hal ini mengakibatkan semakin
banyak tenaga kerja yang tidak mendapatkan pekerjaan.

4
2. Setengah Menganggur (under employment), pengangguran ini terjadi karena
para pekerja bekerja dibawah jam kerja normal, biasanya sekitar 36 jam
perminggu. Mereka yang kurang dari jam kerja tersebut dikelompokkan
dalam kelompok setengah menganggur.
3. Pengangguran Terselubung, pengangguran ini muncul karena jumlah pekerja
dalam suatu kegiatan ekonomi jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan
kebutuhan yang sebenarnya untuk menghasilkan produksi yang efisien.
4. Pengangguran bermusim, banyak terjadi disektor pertanian, pada musim hujan
nelayan dan penyadap karet tidak dapat bekerja, mereka terpaksa menganggur
menunggu musim hujan selesai. Hal ini juga terjadi pada para petani pada
waktu musim kemarau yang menyebabkan petani tidak dapat bekerja karena
lahannya kering dan tidak ada air. Selama musim kemarau ini para petani
terpakasa menganggur (6).
Pengertian Pertumbuhan Ekonomi
Menurut pandangan ekonomi klasik mengemukakan bahwa pada dasarnya ada
empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu (1) jumlah penduduk,
(2) jumlah stok barang dan modal, (3) luas tanah dan kekayaan alam, (4) tingkat
teknologi yang digunakan (Kuncoro, 2004).
Menurut Kuznet pertumbuhan ekonomi adalah proses peningkatan kapasitas produksi
dalam jangka panjang dari suatu negara untuk menyediakan barang ekonomi kepada
penduduknya.
Menurut Todaro (2003), Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu:
1. Pertumbuhan Penduduk dan Angkatan Kerja
Pertumbuhan penduduk sangat berkaitan dengan jumlah angkatan kerja yang
bekerja yang notabennya merupakan salah satu faktor yang akan
mempengaruhi seberapa besar perekonomian dapat menyerap angkatan kerja
yang bekerja produktif.
2. Akumulasi Modal

5
Akumulasi modal merupakan gabungan dari investasi baru yang didalamnya
mencakup lahan, peralatan fiscal dan sumber daya manusia yang digabung
dengan pendapatan sekarang untuk dipergunakan memperbesar output pada
masa datang.
3. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi menurut para ekonom merupakan faktor terpenting
dalam terjadinya pertumbuhan ekonomi. Hal ini di sebabkan karena kemajuan
teknologi memberikan dampak besar karena dapat memberikan cara-cara baru
dan menyempurnakan cara lama dalam melakukan suatu pekerjaan.
Menurut Sandono (2000), alat untuk mangukur keberhasilan perekonomian
suatu wilayah adalah pertumbuhan ekonomi wilayah itu sendiri. Perekonomian
wilayah akan mengalami kenaikan dari tahun ketahun dikarenakan adanya
penambahan pada faktor produksi. Selain faktor produksi, jumlah angkatan kerja
yang bekerja juga akan meningkat dari tahun ketahun sehingga apabila dimanfaatkan
dengan maksimal maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi (7).

METODE PENELITIAN DAN DATA


Dalam penelitian ini data yang digunakan adlah data sekunder yang diperoleh
dengan pengumpulan data melalui berbagai sumber antara lain buku-buku dan jurnal
yang terkain dengan penelitian inil ini. Dlam penelitian ini peneliti menggunakan data
kuantitatif ayang didapat dari BPS. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif. Metode analisis deskriptif adalah
metode analisis data yang berkaitan dengan pengangguran dan tingkat pertumbuhan
ekonomi dari angka-angka yang diperoleh dari data sekunder (8).

Data yang telah diperoleh dari BPS kemudian di tulis ulang ke Ms. Exel dan data
tersebut diantaranya:

Tabel 1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Provinsi, 2008-2015


(dalam persen)

6
No Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Aceh
9.56 8.71 8.37 9.00 9.06 10.12 9.02 9.93

2 Sumatera Utara
9.10 8.45 7.43 8.18 6.28 6.45 6.23 6.71

3 Sumatera Barat
8.04 7.97 6.95 8.02 6.65 7.02 6.50 6.89

4 Riau
8.20 8.56 8.72 6.09 4.37 5.48 6.56 7.83

5 Jambi
5.14 5.54 5.39 4.63 3.20 4.76 5.08 4.34

6 Sumatera Selatan
8.08 7.61 6.65 6.60 5.66 4.84 4.96 6.07

7 Bengkulu
4.90 5.08 4.59 3.46 3.62 4.61 3.47 4.91

8 Lampung
7.15 6.62 5.57 6.38 5.20 5.69 4.79 5.14
Kepulauan Bangka
9 Belitung 5.99 6.14 5.63 3.86 3.43 3.65 5.14 6.29

10 Kepulauan Riau
8.01 8.11 6.90 5.38 5.08 5.63 6.69 6.20

11 DKI Jakarta
12.16 12.15 11.05 11.69 9.67 8.63 8.47 7.23

12 Jawa Barat
12.08 10.96 10.33 9.96 9.08 9.16 8.45 8.72

13 Jawa Tengah
7.35 7.33 6.21 7.07 5.61 6.01 5.68 4.99

14 DI Yogyakarta
5.38 6.00 5.69 4.39 3.90 3.24 3.33 4.07

15 Jawa Timur
6.42 5.08 4.25 5.38 4.11 4.30 4.19 4.47

16 Banten
15.18 14.97 13.68 13.74 9.94 9.54 9.07 9.55

17 Bali
3.31 3.13 3.06 2.95 2.10 1.83 1.90 1.99
Nusa Tenggara
18 Barat 6.13 6.25 5.29 5.25 5.23 5.30 5.75 5.69
Nusa Tengggara
19 Timur 3.73 3.97 3.34 3.11 3.04 3.25 3.26 3.83

20 Kalimantan Barat
5.41 5.44 4.62 4.60 3.54 3.99 4.04 5.15

21 Kalimantan Tengah
4.59 4.62 4.14 3.54 3.14 3.00 3.24 4.54

22 Kalimantan Selatan
6.18 6.36 5.25 6.29 5.19 3.66 3.80 4.92

23 Kalimantan Timur
11.11 10.83 10.10 11.43 9.02 7.95 7.38 7.50

24 Kalimantan Utara
- - - - - - - 5.68

25 Sulawesi Utara
10.65 10.56 9.61 10.10 7.98 6.79 7.54 9.03

26 Sulawesi Tengah
5.45 5.43 4.61 6.78 3.95 4.19 3.68 4.10

27 Sulawesi Selatan
9.04 8.90 8.37 8.13 6.01 5.10 5.08 5.95

28 Sulawesi Tenggara
5.73 4.74 4.61 4.69 4.14 4.38 4.43 5.55

29 Gorontalo
5.65 5.89 5.16 6.74 4.47 4.15 4.18 4.65

30 Sulawesi Barat
4.57 4.51 3.25 3.35 2.16 2.35 2.08 3.35

31 Maluku
10.67 10.57 9.97 10.81 7.71 9.91 10.51 9.93

7
No Provinsi 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

32 Maluku Utara
6.48 6.76 6.03 5.34 4.82 3.80 5.29 6.05

33 Papua Barat
7.65 7.56 7.68 6.73 5.42 4.40 5.02 8.08

34 Papua
4.39 4.08 3.55 5.02 3.71 3.15 3.44 3.99
Indonesia
8.39 7.87 7.14 7.48 6.13 6.17 5.94 6.18
Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)

Data 2011-2013 menggunakan Backcast dari Penimbang Proyeksi Komponen N.

Dari Tabel diatas bisa kita lihat tingkat pengangguran dari tiap provinsi dari tahun
2008-2016. Dari data dapat dilihat tingkat pengangguran Indonesia paling tinggi pada
tahun 2008 sebesar 8,39 persen dan pada tahun 2015 telah mengalami penurunan
menjadi 6,18 persen. Dengan kata lain penurunan ini tentu baik hal ini harus terusdi
lanjutkan hingga persentase tingkat pengangguran berkurang sebanyak-banyaknya
guna meningkatkan perekonomian yang lebih baik.

Sementara itu data dari BPS berikut menggambarkan pertumbuhan ekonomi


Indonesia dari tahun 2008-2015:

Tabel 2 Tabel Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 2008-2015


Tingkat Pertumbuhan
Tahun Ekonomi
2008 6,1
2009 4,5
2010 6,1
2011 6,4
2012 6,2
2013 5,78
2014 5,1
2015 5,6
Sumber: BPS,2015

Dari data diatas bisa kita lihat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun 2008-2015
yang tidak stabil dan terus naik turun.

8
DISKUSI
Pengangguran sudah ada sejak Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1945. Dari
tahun ketahun pengangguran di Indonesia mengalami pasang surut dapat dilihat pada
Tabel 1 dapat dilihat bahwa tingkat pengangguran paling tinggi berada pada tahun
2008 yaitu sebesar 8,39 persen hal ini menunjukkan bahwa angka terbesar tingkat
pengangguran Indonesia dari rentang tahun 2008-2015 sangat memprihatinkan
sementara itu pada tahun berikutnya yaitu pad tahun 2009 mengalami penurunan
dengan tingkat pengangguran sebesar 7,87 dan terus mengalami penurunan hingga
tahun 2014 namun sayangnya ditahun 2015 hal ini tidak terjadi malah terjadi
penaikan persentase pengangguran yang pada tahun sebelumnya sebesar 5,94 menjadi
6,18 persen hal ini sangat di sayangkan.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada tahun 2011
sebesar 6,4 persen dan yang paling rendah yaitu pada tahun 2009 sebesar 4,5 persen.
Jika dilihat dengan tingkat pengangguran pada tahun 2011 masih tinggi yaitu sebesar
7,48 hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan
tingkat pengangguran. Secara teoritis laju pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa
ada investasi yang masuk dalam system perekonomian nasional. Investari tersebut
akan mendorong adanya permintaan akan faktor produksi yang berupa tenaga kerja
dna sumber daya alam (9). Adanya kebutuhan akan tenaga tentunya akan
meningkatkan permintaan tenaga kerja yang akan meningkatkan penyerapan tenaga
kerja. Proses ini akan terus berlangsung selama ada pertumbuhan ekonomi yang
didorong oleh investasi di sektor riil (10). Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dengan tingkat pengangguran yang tinggi menunjukan bahwa terjadi kegagalan
pemerintah dalm menjalankan pembangunan ekonomi. Kebijakan untuk mengatasi
pengangguran harus bertumpu pada peningkaatan investasi di sektor riil, khususnya
pada sektor pertanian dan sektor industri.

9
KESIMPULAN

Dari data dna diskusi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tingginya
tingkat pengangguran juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi jika pertumbuhan
ekonomi tinggi dan di barengi dengan investasi yang tinggi dibidang industri dan
pertanian maka tingkat pengangguran pun akan bisa ditekan sebab jika investasi besar
maka akan ada penambahan produksi dan penambahan ini pasti akan membutuhkan
faktor produksi yaitu tenaga kerja yang banyak dan ini akan membantu menekan
jumlah pengangguran dan akan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pengaruh Tingkat Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota
di provinsi Kalimantan Barat. Yacoub, Yerlina. Pontianak : s.n., 2012, Vol. 8.

2. Potret Ketenaga Kerjaan, Pengangguran, dan Kemiskinan di Indonesia. HM,


Muhdar. - : s.n., 2015, Vol. 11.

3. Pengaruh Jumlah Penduduk dan Angka Pengangguran Terhadap Pertumbuhan


EkonomiKabupaten Jember . Arianto, Ceistiawan Eka. Jember : s.n., 2015, Vols. -.

4. Prof. Ida Bagoes Mantra, Ph.D. Demografi Umum. Yogyakarta : s.n., 2003.

5. Mankiw, N. Gregory, Quah, Euston and Wilson, Peter. Pengantar Ekonomi Makro
Edisi Asia. Jakarta : s.n., 2013.

6. Pengaruh Pengangguran dan Inflasi Terhadap Pertumbuhan ekonomi di


kabupaten trenggalek. Pramesti, Rovia Nugrahani. Surabaya : s.n., -, Vols. -.

7. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Faktor-faktor yang memepengaruhi


(Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah). Pambudi, Eko Wicaksono. 2013, p. 22.

8. Walpole, Ronal E. Pengantar Statistika. Jakarta : 2005, 2005.

9. Analisis faktor faktor yang mempengaruhi produktivitas dan tingkat


pengangguran. Zulhanafi, Hasdi, Efrizal Syofyan. - : s.n., 2013, Vol. 11.

10. Pembangunan nasional. Harianti. jakarta : s.n., 2013.

11. Pengangguran dan pembangunan Nasional. Harjanto, Toto. Jakarta : s.n., 2014,
Vol. 2.

10
11