Anda di halaman 1dari 17

AKHLAK SOSIAL

Disusun untuk Memenuhi Tugas Al-Islam dan Kemuhammadiyahan IV


Yang Diampu oleh Bapak Lukman Hakim, S.HI, M.Pd.I

Disusun Oleh :
Nama : Citra Dwi Lestari
NIM : 201510410311055
Kelas : Mutaqaddimin A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT karena atas petunjuk dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan seksama.

Makalah yang berjudul AKHLAK SOSIAL ini disusun untuk memenuhi tugas
Al-Islam dan Kemuhammadiyahan IV yang diampu oleh Bapak Lukman Hakim S.HI,
M.Pd.I. Pada makalah ini dibahas adab bertetangga seperti adab bertamu dan menerima
tamu, toleransi inter dan antar umat beragama, hubungan bersosial dalam masyarakat,
pergaulan muda mudi serta ukhuwah Islamiyah.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput
dari kekurangan-kekurangan, baik dari segi materi maupun teknis penulisan. Oleh karena
itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk
penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk
rekan-rekan yang membaca sehingga dapat memperluas ilmu tentang akhlak sosial.

Malang, 22 Februari 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 2
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 2
1.2 Perumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
2.1 Pengertian Akhlaq.......................................................................................... 2
2.2 Bertamu dan Menerima Tamu........................................................................... 2
2.3 Hubungan Baik dengan Tetangga.......................................................................2
2.4 Hubungan Baik dengan Masyarakat....................................................................2
2.4.1 Adab Bergaul dalam Masyarakat..................................................................2
2.4.2 Kewajiban sosial sesama Muslim..................................................................2
2.5 Toleransi Agama............................................................................................ 2
2.6 Pergaulan Muda-Mudi..................................................................................... 2
2.7 Ukhuwah Islamiyah........................................................................................ 2
2.7.1 Menegakkan dan Membina Ukhuwah Islamiyah..............................................2
2.7.2 Memelihara Ukhuwah Islamiyah.................................................................2
BAB III PENUTUP............................................................................................... 2
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 2
3.2 Saran.......................................................................................................... 2
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 2

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam persoalan Akhlak, manusia sebagai makhluk berakhlak berkewajiban


menunaikan dan menjaga akhlak yang baik serta menjauhi dan meninggalkan akhlak
yang buruk. Akhlak merupakan dimensi nilai dari Syariat Islam.
Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara kita
sebagai umat yang senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya, khususnya
umat muslim, sudah sepantasnya kita menampilkan akhlak mulia yang telah dicontohkan
oleh Rasulullah SAW dan para sahabat Beliau yang diridhoi oleh Allah SWT. Berperilaku
atau berakhlak mulia di dalam bertetangga sangat perlu untuk direalisasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Sebagai sesama umat yang seakidah kita perlu menjaga
keharmonisan persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan di dalam berkeyakinan. Islam
mengajarkan agar kita selalu menampilkan kemuliaan akhlak dalam bertetangga. Di
samping itu kita juga harus menampilkan akhlak yang mulia di dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat ditarik adalah sebagai
berikut :
1) Apa yang dimaksud dengan akhlak?
2) Bagaimana akhlak yang baik dalam hal bertamu dan menerima tamu?
3) Bagaimana menjaga hubungan baik dengan tetangga?
4) Bagaimana menjaga hubungan baik dengan masyarakat?
5) Bagaimana toleransi sosial yang sesuai dalam Islam?
6) Bagaimana pergaulan muda mudi yang diatur dalam syariat Islam?
7) Bagaimana bentuk ukhuwah Islamiyah dalam ajaran Islam?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :


1) Untuk mengetahui definisi dan pengertian akhlak secara terkonsep
2) Untuk menjelaskan adab dalam hal bertamu dan menerima tamu
3) Untuk memaparkan hal-hal yang dapat menjaga hubungan baik dengan tetangga

1
4) Untuk memaparkan hal-hal yang dapat menjaga hubungan baik dengan masyarakat
5) Untuk menjelaskan toleransi sosial yang sesuai dengan ajaran Islam
6) Untuk menjelaskan tata pergaulan muda mudi yang baik berdasarkan ajaran Islam
7) Untuk menjelaskan bentuk ukhuwah Islamiyah yang diajarkan dalam Islam

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akhlaq

Secara etimologis, akhlaq (bahasa arab) adalah bentuk imolojamak dari khuluq
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqo
yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta) makhluk (yang
diciptakan) dan khalaq (penciptaan). Kesamaan akar kata diatas mengisyaratkan bahwa
dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khaliq
(Tuhan) dengan perilaku makhluk (manusia). Atau dengan kata lain, tata perilaku
seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang
hakiki manakala tindakan atau perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak khalik
(Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti ini, akhlak bukan saja merupakan tata aturan
atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesama manusia tetapi juga norma
yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam
semsesta sekalipun (Ilyas, 2001).
Secara terminologis (istilahan), definisi tentang akhlaq menurut Imam Al-Gozali
yaitu Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-
perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memelrlukan pemikiran dan pertimbangan.

2.2 Bertamu dan Menerima Tamu

Islam memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya kegiatan bertamu dan


bagaimana menerima tamu.
a) Bertamu
Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu
meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Sebagaiman dijelaskan
Allah SWT dalam firman-Nya:

Artinya Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian
itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat (QS. Surat An-Nur : 27).

3
Adab meminta izin : - Memberi salam kemudian meminta izin
- Memberi tahu nama, sifat, dan kedudukan
- Meminta izin tiga kali
- Jangan mengetuk pintu dengan keras
- Menjauh dari pintu ketika meminta izin
- Jika tuan rumah memerintahkan pulang, maka pulanglah

b) Menerima Tamu
Jika tamu datang dari tempat jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib
menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam menurut Rasulullah SAW
menjamu tamu lebih dari tiga hari nilanya sedekah (Ilyas, 2001).

2.3 Hubungan Baik dengan Tetangga

Rasulullah SAW mengatakan, bahwa tetangga yang baik adalah salah satu dari
tiga hal yang membahagiakan hidup. Diantara yang membuat bahagia seorang muslim
adalah tetangga yang baik, rumah yang lapang dan kendaraan yang nyaman (HR.
Hakim)
a) Pentingnya hubungan baik dengan tetangga
Berkali-kali malaikat jibril memesankan kepada Nabi Muhammad SAW untuk
berbuat baik kepada tetangga. Sampai-sampai Beliau mengira tetangga akan
mendapatkan warisan. Beliau bersabda yang artinya : Selalu jibril memesankan kepada
ku (untuk berbuat baik) dengan tetangga, sampai aku menduga bahwa tetangga akan
menerima warisan (HR.Mutafaq Alih)
b) Bentuk-bentuk hubungan baik dengan tetangga
Minimal hubungan baik dengan tetangga diwujudkan dalam bentuk tidak
mengganggu atau menyusahkan mereka. Rasulullah pernah berpesan kepada Abu Dzar :
Jika engkau memasak gulai, perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetangga-
tetanggamu, dan berilah mereka sepantasnya (HR.Musli) (Ilyas, 2001)

2.4 Hubungan Baik dengan Masyarakat

2.4.1 Adab Bergaul dalam Masyarakat

1) Adab bergaul dengan yang lebih tua


Islam mengajarkan bahwa setelah kita menghormati atau menggauli kedua orang
tua dengan penuh kesayangan dan mendoakannya. Kita pun dianjurkan untuk bergaul
dengan orang-orang tua lainnya dengan penuh hormat dan sopan santun. Karena
bagaimanapun mereka adalah merupakan generasi pendahulu kita, yang mewariskan
kebudayaan kepada kita sehingga kita dapat menikmati hasil perjuangan mereka. Dalam

4
hal ini Rasulullah SAW bersabda : "Sebagian tanda memuliakan Allah adalah
menghormati orang Islam yang telah putih rambutny (tua). (HR. Abu Daud)
2) Adab bergaul dengan orang yang sebaya
Pergaulan dengan orang yang sebaya amat penting, karena dalam mengarungi
kehidupan di dunia ini kita tidak luput dari kesulitan. Dan dalam mengatasi kesulitan itu
akan lebih cepat teratasi apabila kita banyak mendapatkan pertolongan orang-orang yang
sebaya dengan kita, karena sama-sama merasakan nasib yang seimbang berdasarkan
keseimbangan pengalaman, pengetahuan, usia dan lain sebagainya. Manusia itu tidak
akan dapat dengan sempurna tanpa ada pertolongan orang lain. Firman Allah SWT :

Artinya "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan


bersifat lemah". (QS. An Nisa : 28)
3) Adab bergaul dengan yang lebih muda
Kita senantiasa dianjurkan untuk bersikap merendah, yakni bersifat sopan santun
terhadap sesama orang mukmin, termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda dari
pada kita. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman :

Artinya "Dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS.Al-
Hijr:88)".
4) Adab bergaul dengan orang yang berbeda agama
Terhadap orang yang berbeda agama pun kita dianjurkan untuk bergaul dengan
baik karena pada dasarnya mereka pun sama-sama manusia yang tidak berbeda dengan
kita, asal kejadian mereka sama dengan kita. Yang membedakan antara kita dengan
orang-orang yang berlainan agama adalah ketaqwaannya. Firman Allah SWT :

"Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kau disisi Allah

5
adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah maha mengetahui
lagi maha mengenal" (Q.S Al-Hujurat : 13)
5) Adab bergaul dengan lawan jenis
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bergaul dengan lawan jenis,
diantaranya yaitu :
a) Senantiasa menundukkan pandangan.
Menundukkan pandangan adalah suatu hal yang sangat dianjurkan oleh
Rasulullah saw karena sesungguhnya dengan menundukkan pandangan, akan menjadi
sebab Allah ridha kepadanya, dan akan senantiasa membuat qalbunya tentram. Sebab
mata adalah cerminan qalbu.

Arinya Katakan kepaa orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka (Q. S An-Nur : 30)
b) Menjaga hijab/ tidak berkhalwat
Hal yang kedua yang harus kita perhatikan dalam bergaul dengan lawan jenis
adalah agar kita senantiasa menjaga hijab, tidak terlalu bercampur baur dengan lawan
jenis agar kita senantiasa menjaga dijauhkan dari fitnah. Selain itu, kita dilarang untuk
berkhalwat atau berduan dengan lawan jenis. Janganlah laki-laki berkhalwat dengan
seorang perempuan kecuali bersama mahrom (HR. Muslim).
Selain itu, di hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Hakim,
Rasulullah Saw bersabda Ketahuilah tidaklah seorang laki-laki menyendiri dengan
seorang wanita kecuali yang ke tiga adalah syaitan. Dan di hadits lainpun dikatakan
bahwa Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangnlah sekali-
kali menyendiri dengan perempuan lain yang tidak disertai mahramnya. Karena
ditempat yang sepi itu ada setan yang senantiasa mengajak berbuat zina (al-hadits).
c) Berkomunikasi untuk hal yang penting saja.
Untuk menghindari timbulnya perasaan saling mengagumi maka dianjurkan
untuk membatasi pergaulan dengan lawan jenis. Cukuplah berkomunikasi untuk hal-
hal yang penting dan hindari kebiasaan bercanda dengan lawan jenis karena ini bisa
menimbulkan rasa kagum yang akan berujung pada rasa cinta. Dan kemungkinan
terbesar, cinta ini adalah cinta yang hanya berlandas pada nafsu dan akan menodai
kesucian cinta itu. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa bersikap wara dalam bergaul
dengan lawan jenis.

6
2.4.2 Kewajiban sosial sesama Muslim

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menyebutkan ada lima kewajiban seorang
Muslim atas Muslim lainnya. Beliau bersabda: Kewajiban seorang Muslim atas Muslim
lainnya ada lima: Menjawab salam, mengunjungi orang sakit, mengiringkan jenazah,
memenuhi undangan, dan menjawab orang bersin. (HR. Khamsah)
1) Menjawab salam
Mengucapkan dan menjawab salam hukumnya berbeda. Mengucapkannya
sunnah, menjawabnya wajib, karena tidak menjawab salam yang diucapkan, tidak
hanya dapat mengecewakan orang yang mengucapkannya tetapi juga dapat
menimbulkan kesalahpahaman. Allah SWT berfirman:

Artinya Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, balaslah


penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS An-Nisa: 86)

2) Mengunjungi orang sakit


Menurut Rasulullah SAW, orang-orang yang beriman itu ibarat satu batang
tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit, yang lain ikut prihatin. Kunjungan
teman, saudara, adalah obat yang mujarab bagi si sakit. Dia merasa senang
karena masih ada sahabat untuk berbagi duka.

3) Mengiringkan jenazah
Apabila seseorang meninggal dunia, masyarakat secara kifayah wajib
memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya. Rasulullah SAW
sangat menganjurkan kepada masyarakat untuk dapat menyalatkan dan
mengantarkan jenazah ke kuburan bersama-sama. Beliau bersabda: Barangsiapa
yang menyaksikan jenazah lalu ikut menyalatkannya, baginya satu qirath. Dan
barangsiapa yang menyaksikannya sampai dikuburkan, baginya dua qirath.
Ditanyakan orang: Apa itu dua qirath? Beliau bersabda: Seperti dua gunung
yang besar (pahalanya). (H. Mutafaqun Alaih). Mengantarkan jenazah sampai
ke kuburan dapat mengurangi kedukaan keluarga yang ditinggalkan, juga dapat
mengingatkan kita akan kematian yang pasti akan datang.

4) Mengabulkan undangan
Seorang muslim sangat dianjurkan memenuhi berbagai undangan yang
diterimanya selama tidak ada halangan, dan acara tersebut tidak bertentangan
dengan syariat Islam.

7
5) Menyahuti orang bersin
Orang yang bersin disunatkan membaca Alhamdulillah, bersyukur kepada
Allah, karena biasanya bersin merupakan pertanda badan ringan dari penyakit.
Bagi yang mendengar seseorang bersin, diwajibkan menyahutinya dengan
membaca yarhamukallah (mendoakan semoga Allah mengasihinya). Orang yang
tadi bersin menjawab pula, yahdikumullah wa yushlih balakum (semoga Allah
menunjuki dan memperbaiki keadaanmu). Namun jika yang bersin tidak
mengucapkan Alhamdulillah, kita tidak boleh menyahutinya (Sinaga, 2004)

2.5 Toleransi Agama

Islam tidak hanya menyuruh kita membina hubungan baik dengan sesama muslim
saja, tapi juga dengan non-muslim. Namun demikian dalam hal-hal tertentu ada
pembatasan hubungan dengan non-muslim, terutama yang menyangkut aspek ritual
keagamaan.
Dalam berhubungan dengan masyarakat non muslim, Islam mengajarkan kepada
kita untuk toleransi, tetap menghormati keyakinan umat lain tanpa berusaha memaksakan
keyakinan kita kepada mereka. Toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama
mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat.
Toleransi juga bukan berarti kompromi dalam keyakinan dan ibadah. Kita sama sekali
tidak boleh mengikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun. Sikap kita sudah
cukup jelas dan tegas sebagaimana terdapat dalam QS Al-Kafirun ayat 6: La kum dii
nukum waliyadiin yang berarti Bagimu agamamu, bagiku agamaku. (Ilyas, 2001)

2.6 Pergaulan Muda-Mudi

Dalam pergaulan sehari-hari di tengah masyarakat, terutama antar muda-mudi,


ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu tentang mengucapkan dan
menjawab salam, berjabatan tangan, dan khalwah.
1) Mengucapkan dan Menjawab salam
- Islam mengajarkan kepada sesama Muslim untuk saling bertukar salam apabila
bertemu atau bertamu. Rasulullah saw bersabda: Kamu tidak akan masuk
sorga sebelum beriman, dan tidak akan beriman sebelum berkasih sayang.
Maukah kamu aku tunjukkan suatu amalan yang akan dapat memupuk rasa
kasih sayang sesamamu? Yaitu senantiasalah mengucapkan salam sesamamu.
(HR. Muslim)
- Salam yang diucapkan minimal adalah Assalamualaikum. Namun akan
lebih baik dan lebih besar pahalanya apabila diucapkan secara lebih lengkap.
- Mengucapkan salam hukumnya sunat, tetapi menjawabnya wajib, minimal
dengan salam yang seimbang.

8
- Bila bertamu, yang mengucapkan salam terlebih dahulu adalah si tamu, tetapi
apabila bertemu, yang terlebih dahulu mengucapkan salam adalah yang berada
diatas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada ynag
duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang lebih muda kepada yang
lebih tua. Namun hal tersebut tidaklah berlaku mengikat, bahkan Rasulullah
SAW, memberikan catatan bahwa yang paling utama adalah yang paling dahulu
memberikan salam. Sebagaimana beliau bersabda: Seutama-utama manusia
bagi Allah ialah yang mendahuluoi memberikan salam. (HR. Abu Daud)
Salam tidak hanya diucapkan saat bertemu, tetapi juga tatkala mau berpisah.
- Rasulullah SAW melarang orang Islam mengucapkan dan menjawab salam
Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Jika Ahlul Kitab memberi salam
kepadamu, jawablah dengan Waalaikum. (H. Mutafaqun alaihi). Namun
bila Ahlul Kitab itu berada satu majelis dengan orang-orang Islam, kita boleh
mengucapkan salam kepada majelis itu.
- Pria boleh mengucapkan salam kepada wanita dan begitu pula sebaliknya.
Salam yang diajarkan Islam adalah salam yang bernilai tinggi, universal, dan
tidak terikat dengan waktu. Disebut bernilai tinggi karena mengandung doa
untuk mendapatkan keselamatan, berkah dan rahmat dari Allah SWT. Universal
karena berlaku untuk seluruh umat Islam dimanapun berada.

2) Berjabatan tangan
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa untuk lebih menyempurnakan salam dan
menguatkan tali ukhuwah islamiyah, sebaiknya ucapan salam diikuti dengan berjabatan
tangan jika memungkinkan. Rasulullah bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu,
lalu bersalaman, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosa keduanya sebelum
mereka berpisah. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain). Berjabatan tangan haruslah
dilakukan dengan penuh keikhlasan. Rasulullah SAW mengajarkan kalau menjabat
tangan seseorang harus dengan penuh perhatian, keramahan, dan muka manis. Jangan
bersalaman sambil memandang objek yang lain. Jangan juga menarik tangan dengan
cepat dan tergesa yang mengesankan kita berjabatan tangan tidak dengan senang hati.
Anjuran untuk berjabatan tangan tidak berlaku antar pria dan wanita kecuali antara suami
isteri atau seseorang dengan mahramnya. Lebih tegas lagi Rasulullah SAW bersabda:
Sungguh, jika kepala seseorang di antara kamu ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik
bagi dia daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thabrani dan
Baihaqi). Jelaslah bahwa seorang pria tidak boleh berjabatan tangan dengan wanita yang
bukan isteri bukan juga mahramnya, begitu pula sebaliknya. Salah satu hikmah larangan
tersebut adalah sebagai tindakan preventif dari perzinaan. Mungkin timbul pertanyaan,
apakah menolak berjabat tangan itu tidak menimbulkan kesan angkuh? Penilaian
seseorang terhadap sesuatu tergantung nilai atau norma yang menjadi pegangannya.
Kalau nilai yang menjadi pegangannya bukan nilai Islam, bisa jadi kesan seperti itu akan
muncul. Tapi secara umum seorang yang beragama akan menghormati orang lain yang
teguh memegang norma agama dalam kehidupannya.

9
3) Khalwah
Yang sangat penting diperhatikan dalam pergaulan pria dan wanita, terutama antar
muda-mudi adalah masalah pertemuan diantara mereka, terutama pertemuan-pertemuan
pribadi. Rasulullah SAW melarang wanita berkhalwah, baik di tempat umum, apalagi di
tempat sepi. Yang dimaksud dengan khalwah adalah berdua-duan antara pria dan wanita
yang tidak punya hubungan suami isteri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga.
Mengapa Rasulullah SAW melarang berkhalwah? Apa bahayanya? Apakah tetap dilarang
apabila masing-masing saling mempercayai? Beliau bersabda: Jauhilah berkhalwah
dengan wanita. Demi (Allah) yang diriku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah
berkhalwah seorang laki-laki dengan seorang wanita kecuali syaitan akan masuk di antara
keduanya. (HR. Thabrani). Syaitan akan selalu mencari peluang dan memanfaatkan
segala kesempatan untuk menjerumuskan anak cucu Adam. Dalam hadits lain Rasulullah
menjelaskan bahwa zina akan masuk lewat bermacam-macam pintu. Beliau bersabda:
Sudah menjadi suratan nasib manusia itu senantiasa dibayangi oleh zina dan dia pun
pasti menyadari hal yang demikian itu: Dua mata, zinanya adalah pandangan; dua telinga,
zinanya adalah pendengaran; lidah zinanya adalah pembicaraan; tangan, zinanya adalah
berpegangan; dan kaki, zinanya adalah melangkah. Dan hatipun mulai bergejolak dan
berkhayal. Akhirnya naluri seksualnya pun terpengaruh untuk menerima atau menolak.
(H. Mutafaqun alaih). Dalam hadits diatas Rasulullah saw mengingatkan bahwa
seseorang bisa terjatuh ke lembah perzinaan disebabkan oleh panca inderanya yang tidak
terkendali.

2.6 Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah adalah istilah yang menunjukkan persaudaraan antar sesama


Muslim di seluruh dunia tanpa melihat perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa, dan
kewarganegaraan. Persaudaraan seiman itu ditegaskan Allah SWT :

Artinya Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, oleh karena itu
damaikanlah antar dua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat
rahmat. (QS. Al-Hujurat:10)

10
2.7.1 Menegakkan dan Membina Ukhuwah Islamiyah

Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan berdiri kokoh diperlukan empat tiang
penyangga, yaitu taaruf, tafahum, taawun, dan tafakul.
1) Taaruf
Saling kenal mengenal, tidak hanya taaruf fisik atau identitas belaka, tapi lebih
jauh lagi juga taaruf latar belakang, pendidikan, budaya, keagamaan; taaruf pemikiran,
ide, cita-cita; dan taaruf problem kehidupan yang dihadapi.
2) Tafahum
Saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing-
masing, sehingga segala macam bentuk kesalahfahaman dapat dihindari.
3) Taawun
Tolong menolong atau taawun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat
dipungkiri. Kenyataan membuktikan, bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang
membutuhkan pihak lain, pasti tidak akan dapat dilakukan sendirian oleh seseorang meski
dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu. Ini menunjukkan, bahwa
tolong-menolong dan saling membantu adalah keharusan dalam hidup manusia. Allah
Taala telah berfirman,

Dan tolong-menoolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan


jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. Al-Maidah: 2)
4) Takaful
Saling memikul resiko diantara sesama muslim sehingga antara satu dengan yang
lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Saling pikul resiko ini dilakukan
atas dasar saling tolong menolong dalam kebaikan dengan cara, setiap orang

11
mengeluarkan dana kebajikan yang ditujukan untuk menanggung resiko tersebut (Sinaga,
2004)

2.7.2 Memelihara Ukhuwah Islamiyah

Ada enam sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah untuk memelihara
ukhuwah islamiyah antara lain :
- Memperolok-olokkan orang lain
- Mencaci orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan
- Memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang tidak disukai
- Berburuk sangka
- Mencari-cari kesalahan orang lain
- Bergunjing (Sinaga, 2004)

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Akhlak adalah tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya
yang mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan atau perilaku tersebut
didasarkan kepada kehendak khalik (Tuhan). sebagai umat yang senantiasa bersosialisasi
khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menampilkan akhlak mulia yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Selain menjaga hubungan baik dengan tetangga kita
juga harus menjaga hubungan baik kita di dalam bermasyarakat dengan memperhatikan
etika/tata cara kita bergaul di lingkungan masyarakat, seperti adab bertamu dan
menerima tamu, menjaga hubungan baik dengan tetangga dan masyarakat, adab bergaul
dengan yang lebih tua, sebaya, lebih muda, beda agama dan lawan jenis. Memperhatikan
kewajiban kita terhadap muslim lainnya, dan selalu menjaga toleransi sosial dan ukhuwah
Islamiyah dengan selalu memacu dan memupuk tali silaturahim antar sesama muslim

3.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, saran yang dapat diberikan adalah
sebagai berikut :
- Sebagai umat muslim yang baik, selain kepada Allah, kita harus menjaga hubungan
yang baik pula dengan tetangga dan masyarakat.
- Hendaknya kita senantiasa mengedepankan adab-adab yang baik dalam kehidupan
bermasyarakat
- Menciptakan suasana pergaulan yang baik, yang sesuai dengan syariat Islam
- Menciptakan ukhuwah Islamiyah yang diridhoi oleh Allah SWT demi tali
silahturahim yang baik antar sesama umat mulim
- Menciptakan rasa sosial, tenggang rasa, saling menghargai antar masyarakat

13
DAFTAR PUSTAKA

Akhlak Bermasyarakat Dalam Islam. http://abusuhud.blogspot.co.id/2009/09/akhlak-


bermasyarakat-dalam-islam.html (diakses pada 22 Februari 2017)

Divta Iqbal. http://blog.umy.ac.id/divtaiqbal/2012/11/19/makalah-akhlak-bermasyarakat/

(diakses pada 21 Februari 2017)

Ilyas, Prof. Dr. H. Yunahar. 2001. Kuliah Akhlak. Yogyakarta : LPPI Universitas

Muhammadiyah

Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin. 2004. Pengantar Studi Akhlak .Jakarta : PT. Raja
Grafindo

14