Anda di halaman 1dari 7

BAB 5

PENGELOLAAN LINGKUNGAN
5.1 Pendahuluan
5.2 Pengelolaan Lingkungan
Prinsip Good Mining Practice yang kami adopsi mendorong PT.Bara Ikoda untuk beroperasi
dengan ramah lingkungan yang artinya merencanakan dan melaksanakan end-to-end mining
process dengan seksama dan bertanggungjawab serta bertujuan untuk meminimalisir dampak
negatif terhadap lingkungan. PT.Bara Ikoda membangun suatu sistem manajemen terpadu yang
menjadi fondasi kami dalam mempertahankan keberlanjutan lingkungan. Sistem manajemen
lingkungan terdiri dari target dan program lingkungan yang berfokus pada:

1. Pencegahan pencemaran

2. Restorasi area pascatambang ke dalam kondisi yang produktif, stabil, dan aman

3. Pemeliharaan keanekaragaman hayati

4. Konservasi air dan efisiensi sumber energi.

5.2.1 Pencegahan Pencemaran


PT. BARA IKODA selalu berusaha untuk melaksanakan upaya-upaya preventif dan pemantauan
rutin demi meminimalisir potensi terjadinya pencemaran lingkungan. Insan PT. BARA IKODA
terus memastikan program prosedur dan target pencegahan pencemaran lingkungan yang telah
ditetapkan dapat diterapkan dengan baik dan berkelanjutan.

A. Pengelolaan Air Asam Tambang (AAT)

Aktivitas penambangan dan rehabilitasi lahan pasca tambang akan berakibat pada terjadinya
perubahan struktur batuan serta kualitas tanah dan air di sekitarnya. Material sisa penambangan
yang akan menghasilkan air asam tambang (AAT) dengan pH rendah akan mengakibatkan
tercemarnya air tanah dan berkurangnya kesuburan tanah. Untuk itu, kami telah melaksanakan
upaya preventif dalam mengelola batuan asam melalui klasifikasi dan pemisahan batuan
penutup dan desain pengelolaan air asam tambang.

1. Pemisahan Batuan Penutup

Proses penanganan air asam tambang diawali melalui proses pencegahan pembentukan AAT
dengan cara menutup material yang berpotensi membentuk AAT. Kegiatan utama dalam proses
ini adalah melakukan analisa Net Acid Generation (NAG) untuk mengindentikasi dan
memisahkan batuan yang bersifat asam (Potential Acid Forming PAF) dari batuan yang tidak
bersifat asam (Non Acid Forming - NAF), baik dalam kegiatan penggalian, penempatan, dan
penimbunan batuan penutup tersebut.

2. Sistem Pengelolaan Air Tambang


Sistem pengelolaan air tambang yang kami miliki bertujuan untuk menghindari dampak air asam
batuan terhadap kualitas badan air permukaan terdekat serta terhadap kualitas tanah. Air
permukaan dari berbagai lokasi kegiatan penambangan dan pengolahan batubara dialirkan ke
sistem pengendali berupa kolam pengendap bertingkat untuk diproses dan dipantau sebelum
dialirkan ke badan air umum. Proses perawatan, pengolahan, dan rehabilitasi kami terapkan
secara rutin pada kolam-kolam pengendapan yang ada. Penambahkan kapur pada kolam-kolam
pengendapan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai pH air, ataupun perawatan kolam rutin
dengan menggunakan kapal keruk, merupakan beberapa metode yang selama ini kami
terapkan. Pemantauan baku mutu air kami lakukan dengan mengambil sampel harian. Sampel
tersebut nantinya akan kami analisa guna memastikan baku mutu air pada kolam-kolam
pengendapan sudah sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 113/2003 dan
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur No. 02/2011. Jika baku mutu air yang ada sudah
memenuhi standar yang ditetapkan, barulah kemudian kami alirkan ke badan air umum.

B. Pengelolaan Air Limbah

Sebelum terjadinya proses pengaliran air limbah PT. BARA IKODA ke badan air umum seperti
sungai atau laut, kami memastikan bahwa keluaran air limbah yang dihasilkan telah memenuhi
baku mutu yang ditetapkan Pemerintah. Seluruh lokasi titik penaatan pembuangan air limbah
telah memperoleh ijin melalui Keputusan Bupati Kutai Timur dan Keputusan Gubernur
Kalimantan Timur.

C. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Limbah B3 yang dikelola termasuk pelumas bekas, barang terkontaminasi hidrokarbon, filter
beroli, hose beroli, limbah medis, limbah hidrogen peroksida, grease bekas, baterai/aki
bekas, toner bekas, limbah kimia, abu insinerator, baterai kering bekas, lampu TL, wadah
terkontaminasi B3, abu batubara, dan tanah terkontaminasi hidrokarbon.

Limbah B3 dari kegiatan operasional PT. BARA IKODA dikelola dengan mengikuti peraturan
pemerintah dan izin pengelolaan limbah B3 yang diperoleh PT. BARA IKODA, mulai dari
penyimpanan sementara, pemanfaatan, pengolahan internal, sampai dengan dikirim ke pihak
ketiga berizin untuk dikelola lebih lanjut. Pihak ketiga berizin yang dimaksud adalah pengelola
limbah B3 yang berada di Indonesia dan telah memiliki izin dari KLH untuk melakukan
pengelolaan sebagian atau semua jenis limbah B3 dari penghasil limbah B3. PT. BARA IKODA
tidak melakukan pengiriman limbah B3 ke luar negeri.

D. Pengelolaan Limbah Non-B3

Limbah non B3 yang dihasilkan meliputi sampah umum yang tidak bisa dimanfaatkan dan yang
bisa dimanfaatkan, seperti kertas berkas, ban bekas, plastik, kardus bekas, dan palet kayu.
Sampah umum yang dikelola oleh PT. BARA IKODA adalah sampah umum yang berasal dari
areal kantor dan juga bengkel PT. BARA IKODA. Sampah umum yang ditimbun di Tempat
Penimbunan Akhir (TPA) untuk kemudian dipilih menjadi sampah yg masih bisa didaur ulang dan
yang tidak bisa didaur ulang, untuk yang bisa didaur ulang akan dijual kembali dan sisanya
langsung dibuang ke TPA wilayah tersebut.

E. Penanganan Tumpahan
Tingginya penggunaan bahan bakar solar dan oli di PT. BARA IKODA, menimbulkan potensi
bahaya dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh tumpahan. Oleh karena itu, kami memiliki
prosedur penanganan tumpahan dan membentuk Oil Spill Response Team agar tumpahan yang
terjadi ditangani dengan sesegera mungkin. Selain itu, PT. BARA IKODA memastikan agar oil
spill kit selalu tersedia di setiap maintenance workshop.

Selain itu, tanah yang telah terkontaminasi minyak dari seluruh maintenance workshop,
khususnya yang berasal dari fasilitas interceptor, diolah secara bioremediasi menggunakan
bakteri petrophylic. Pengolahan tanah terkontaminasi minyak ini dilakukan di area Biological
Treatment Unit (BTU) yang terletak di ....... Dump, sesuai dengan izin yang diperoleh melalui
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.184 Tahun 2010 tertanggal 11 Agustus 2010.

F. Pemantauan dan Pengendalian Emisi

Penggunaan bahan bakar fosil menjadi sumber utama emisi karbon dari kegiatan operasional
PT. BARA IKODA yang bertujuan untuk menunjang aktivitas penambangan, antara lain
penggunaan bahan bakar untuk boiler dan genset, penggunaan bahan bakar untuk kendaraan
operasional, serta landclearing dalam rangka pembukaan lahan untuk pertambangan.

Dalam rangka pengurangan terhadap dampak yang ditimbulkan dari emisi gas pada peralatan
operasional maupun kendaraan operasional, kami selalu melakukan perawatan berkala untuk
menjaga efektivitas proses pembakaran. Dalam pengadaan peralatan baru seperti truk dan alat
berat lainnya, PT. BARA IKODA mengacu pada standar emisi Environmental Protection
Agency (EPA) Tier-1, Tier-2, Tier-3 sehingga kami memastikan bahwa setiap kendaraan yang
masuk dan beroperasional di area PT. BARA IKODA sesuai dengan standar dan layak pakai.

G. Pemantauan Kualitas Udara

PT. BARA IKODA selalu melakukan pemantauan terhadap kualitas udara ambien, terutama debu
di area pertambangan, genset, serta insinerator. Genset kami gunakan sebagai penghasil energi
yang mendukung seluruh kegiatan perusahaan. Sementara insinerator kami gunakan untuk
memusnahkan limbah terkontaminasi hidrokarbon (filter dan majun) serta limbah medis dari
klinik. Kami juga melakukan penyiraman rutin setiap hari untuk meminimalisir debu.

5.2.2 Restorasi Ekosistem Area Pasca Tambang

Kegiatan penambangan kerap dikonotasikan sebagai salah satu kegiatan yang merusak alam
dan lingkungan. Namun, sudah menjadi tujuan utama bagi KPC untuk mengembalikan kondisi
lingkungan, habitat flora dan fauna, serta produktivitas area pascatambang seperti sediakala.
Kami selalu memegang teguh prinsip bahwa kegiatan pertambangan haruslah memperoleh
manfaat yang positif, bukan memberikan dampak negatif. Bukan hal mustahil bahwa lahan
bekas penambangan yang direklamasi dengan benar akan menjadikan lahan tersebut lebih
bernilai dan bermanfaat dibanding sebelum adanya kegiatan penambangan. Itu sebabnya,
strategi reklamasi KPC memang diarahkan untuk bisa memberikan nilai tambah bagi lingkungan
dan masyarakat.

Upaya pelaksanaan kegiatan restorasi di KPC telah melalui perencanaan yan matang dan
terukur berdasarkan dokumen Desain Restorasi Ekosistem Lahan Bekas Tambang Batubara
KPC yang dirumuskan pada 2009. Dokumen ini telah dikembangkan melalui Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam yang berkolaborasi dengan Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

5.2.3 Pemeliharaan Keanekaragaman Hayati

Bagi KPC, pemeliharaan keanekaragaman hayati tidak hanya penting bagi keseimbangan
ekosistem dan kesuksesan aktivitas restorasi di area kami, tetapi lebih dari itu. Kami menilai
bahwa keanekaragaman hayati yang terpelihara dengan baik merupakan warisan yang tidak
ternilai bagi generasi mendatang.

Orangutan merupakan salah satu fauna khas Indonesia yang populasinya hanya terdapat di
Sumatera dan Kalimantan. Di Kalimantan, populasi orangutan diperkirakan mencapai 20.000
ekor dan terancam menurun karena kawasan hutan hujan yang menjadi habitatnya dijadikan
lahan kelapa sawit, penebangan pohon, dan pertambangan. Oleh karena itu, KPC bertanggung
jawab penuh terhadap lokasi operasional KPC yang telah menjadi habitat alami orangutan.
Salah satu tujuan utama reklamasi dan program pelestarian keanekaragaman hayati KPC
adalah untuk melestarikan habitat dan populasi orangutan di area reklamasi kami.

5.1.4. Konservasi Air dan Efisiensi Sumber Energi

Pemerintah Indonesia mulai menata sistem manajemen energi pada 2010 yang kemudian
ditindaklanjuti KPC dengan memegang teguh komitmen terhadap konservasi energi yang
tercantum di dalam dokumen kebijakan K3L dan PB (Keselamatan, Kesehatan, Keamanan,
Lingkungan dan Pembangunan Berkesinambungan). Kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi
serta mengontrol beban pemakaian energi fosil yang hingga saat ini masih sering digunakan.
KPC sebagai salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia, berupaya untuk turut serta
dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber daya energi yang terbarukan di lingkungan
KPC.

A. Penggunaan Material untuk Operasi Penambangan

Operasional penambangan di KPC dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu proses produksi atau
proses penambangan dan proses pencucian batubara kotor. Material utama yang kami gunakan
dalam proses produksi batubara adalah bahan peledak. Sedangkan material utama dalam
proses pencucian batubara kotor adalah magnetite, flocculants, dan lime.

B. Menggunakan Air dengan Bijak

Pada operasi penambangan kami, kami menggunakan air untuk mencuci batubara. Air yang
kami gunakan diperoleh dari air hujan, air dari area pascatambang, dan air daur ulang dari
pencucian batubara itu sendiri. Hal ini merupakan langkah kongkrit yang kami lakukan untuk
memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar.

KPC tidak menggunakan sumber air baru untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan
dengan operasional batubara. Dapat kami laporkan, hingga akhir tahun 2015 tidak ada keluhan
dari masyarakat sekitar mengenai penurunan kuantitas air sungai atau air tanah akibat konsumsi
air KPC. Selain penggunaan air untuk pencucian batubara, kami juga mengkonsumsi air bersih
dan air minum untuk keperluan karyawan KPC.

C. Sistem Pengelolaan Air (Water Management System)

Kondisi curah hujan 2015 lebih rendah dibandingkan 2014. Perubahan cuaca ini di gunakan oleh
KPC untuk melakukan perawatan kolam pengendap untuk menjaga kapasitas kolam pengendap
tetap optimal, sedangkan untuk strategi perencanaan kolam pengendap yang baru dibuat
dengan 2 konfigurasi kolam, yaitu kolam retensi banjir dan kolam pengendap. Sistem ini menjadi
solusi dalam mengontrol debit sehingga dapat dikelola saat hujan tinggi sehingga proses
penetralan dan pengendapan air tambang dapat berlangsung secara optimal di kolam
sedimentasi, sedangkan kolam pengendap exsisting dilengkapi dengan saluran keluaran on-
off yang diletakkan di level lebih rendah dari spill way kolam dan di fungsikan saat kualitas air di
kolam baik, upaya ini dilakukan untuk menjaga kapasitas kolam saat hujan tinggi. KPC juga
melakukan uji karakterisktik sedimentasi untuk menetapkan dimensi kolam yang dibutuhkan agar
kualitas air yang dikeluarkan ke lingkungan dapat diketahui sesuai rencana design kolam
pengendap.

D. Konsumsi dan Konservasi Energi

Kami selalu membutuhkan energi untuk menjalankan seluruh aktivitas operasional. Melihat
besarnya kebutuhan akan energi, kami memprioritaskan program konservasi energi dan
pemanfaatan sumber energi terbarukan.

E. Upaya Efisiensi Energi & Penggunaan Energi Alternatif Ramah Lingkungan

1. Penghematan Listrik

Sejak 2010, kami memiliki program penghematan listrik yang bertujuan untuk mengurangi
penggunaan listrik berlebih yang sebenarnya tidak perlu digunakan. Program ini telah
memberikan dampak yang sangat positif terkait penghematan energi. Kegiatan-kegiatan yang
kami lakukan antara lain:

Pemasangan KWH meter di kantor dan pabrik

Pemasangan saklar yang dilengkapi sensor cahaya di lokasi pabrik yang memperoleh
cahaya berlebih pada siang hari

Pemasangan timer AC di perkantoran

Implementasi SOP untuk mematikan semua peralatan listrik bila tidak digunakan

Penggunaan lampu hemat energi

Pengurangan jumlah lampu berlebih di area parkir

Memasukkan hemat energi sebagai kriteria perancangan peralatan di KPC


Mengganti AC Window dengan AC Split

Revisi Program Perbaikan Lingkungan KPC untuk menyertakan program hemat energi

2. Penghematan Bahan Bakar

Sejak 2008, kami telah menginisiasi program penghematan bahan bakar. KPC menugaskan
sebuah tim khusus untuk mengidentifikasi penyebab keborosan secara kontinu, serta pada
akhirnya menerapkan sistem perbaikan, seperti:

Melakukan sosialisasi SOP untuk mematikan mesin pada kondisi tidak produktif dan
SOP untuk menjaga match factor (keseimbangan) truck-shovel pada operasional yang
optimum;

Melakukan peninjauan ulang terhadap range match factor optimal terhadap pilihan untuk
mematikan shovel saat tidak digunakan atau mematikan truk saat sedang berhenti untuk
waktu yang cukup lama;

Melakukan Pemasangan lampu khusus di truk untuk memantau apakah operator benar-
benar mematikan mesin pada saat kondisi truk standby.

5.3 Rencana Pasca Tambang