Anda di halaman 1dari 7

Konservasi air dan efisiensi sumber energi. Untuk itu. BARA IKODA terus memastikan program prosedur dan target pencegahan pencemaran lingkungan yang telah ditetapkan dapat diterapkan dengan baik dan berkelanjutan.Bara Ikoda membangun suatu sistem manajemen terpadu yang menjadi fondasi kami dalam mempertahankan keberlanjutan lingkungan.2.1 Pencegahan Pencemaran PT. kami telah melaksanakan upaya preventif dalam mengelola batuan asam melalui klasifikasi dan pemisahan batuan penutup dan desain pengelolaan air asam tambang. dan aman 3. Insan PT. baik dalam kegiatan penggalian. PT. A. BAB 5 PENGELOLAAN LINGKUNGAN 5.Bara Ikoda untuk beroperasi dengan ramah lingkungan yang artinya merencanakan dan melaksanakan end-to-end mining process dengan seksama dan bertanggungjawab serta bertujuan untuk meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.1 Pendahuluan 5. BARA IKODA selalu berusaha untuk melaksanakan upaya-upaya preventif dan pemantauan rutin demi meminimalisir potensi terjadinya pencemaran lingkungan. 1. Pencegahan pencemaran 2. Pemisahan Batuan Penutup Proses penanganan air asam tambang diawali melalui proses pencegahan pembentukan AAT dengan cara menutup material yang berpotensi membentuk AAT. Restorasi area pascatambang ke dalam kondisi yang produktif. Sistem Pengelolaan Air Tambang . Pemeliharaan keanekaragaman hayati 4. Pengelolaan Air Asam Tambang (AAT) Aktivitas penambangan dan rehabilitasi lahan pasca tambang akan berakibat pada terjadinya perubahan struktur batuan serta kualitas tanah dan air di sekitarnya. 2.2 Pengelolaan Lingkungan Prinsip Good Mining Practice yang kami adopsi mendorong PT. Kegiatan utama dalam proses ini adalah melakukan analisa Net Acid Generation (NAG) untuk mengindentifikasi dan memisahkan batuan yang bersifat asam (Potential Acid Forming – PAF) dari batuan yang tidak bersifat asam (Non Acid Forming . penempatan. dan penimbunan batuan penutup tersebut. 5. Material sisa penambangan yang akan menghasilkan air asam tambang (AAT) dengan pH rendah akan mengakibatkan tercemarnya air tanah dan berkurangnya kesuburan tanah.NAF). stabil. Sistem manajemen lingkungan terdiri dari target dan program lingkungan yang berfokus pada: 1.

BARA IKODA tidak melakukan pengiriman limbah B3 ke luar negeri. B. hose beroli. Air permukaan dari berbagai lokasi kegiatan penambangan dan pengolahan batubara dialirkan ke sistem pengendali berupa kolam pengendap bertingkat untuk diproses dan dipantau sebelum dialirkan ke badan air umum. Jika baku mutu air yang ada sudah memenuhi standar yang ditetapkan. BARA IKODA ke badan air umum seperti sungai atau laut. kardus bekas. BARA IKODA dikelola dengan mengikuti peraturan pemerintah dan izin pengelolaan limbah B3 yang diperoleh PT. 02/2011. Seluruh lokasi titik penaatan pembuangan air limbah telah memperoleh ijin melalui Keputusan Bupati Kutai Timur dan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur. Pemantauan baku mutu air kami lakukan dengan mengambil sampel harian. baterai/aki bekas. Limbah B3 dari kegiatan operasional PT. dan rehabilitasi kami terapkan secara rutin pada kolam-kolam pengendapan yang ada. wadah terkontaminasi B3. PT. E. plastik. Sampah umum yang ditimbun di Tempat Penimbunan Akhir (TPA) untuk kemudian dipilih menjadi sampah yg masih bisa didaur ulang dan yang tidak bisa didaur ulang. sampai dengan dikirim ke pihak ketiga berizin untuk dikelola lebih lanjut. Penanganan Tumpahan . limbah hidrogen peroksida. limbah medis. Sampah umum yang dikelola oleh PT. untuk yang bisa didaur ulang akan dijual kembali dan sisanya langsung dibuang ke TPA wilayah tersebut. lampu TL. Pengelolaan Limbah Non-B3 Limbah non B3 yang dihasilkan meliputi sampah umum yang tidak bisa dimanfaatkan dan yang bisa dimanfaatkan. ban bekas. BARA IKODA adalah sampah umum yang berasal dari areal kantor dan juga bengkel PT. 113/2003 dan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur No. D. grease bekas. Pengelolaan Air Limbah Sebelum terjadinya proses pengaliran air limbah PT. BARA IKODA. limbah kimia. barulah kemudian kami alirkan ke badan air umum. kami memastikan bahwa keluaran air limbah yang dihasilkan telah memenuhi baku mutu yang ditetapkan Pemerintah. abu batubara. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Limbah B3 yang dikelola termasuk pelumas bekas. abu insinerator. seperti kertas berkas. dan tanah terkontaminasi hidrokarbon. ataupun perawatan kolam rutin dengan menggunakan kapal keruk. Sampel tersebut nantinya akan kami analisa guna memastikan baku mutu air pada kolam-kolam pengendapan sudah sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. pengolahan. mulai dari penyimpanan sementara. dan palet kayu. Pihak ketiga berizin yang dimaksud adalah pengelola limbah B3 yang berada di Indonesia dan telah memiliki izin dari KLH untuk melakukan pengelolaan sebagian atau semua jenis limbah B3 dari penghasil limbah B3.Sistem pengelolaan air tambang yang kami miliki bertujuan untuk menghindari dampak air asam batuan terhadap kualitas badan air permukaan terdekat serta terhadap kualitas tanah. filter beroli. C. baterai kering bekas. pemanfaatan. Penambahkan kapur pada kolam-kolam pengendapan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai pH air. barang terkontaminasi hidrokarbon. toner bekas. Proses perawatan. merupakan beberapa metode yang selama ini kami terapkan. pengolahan internal. BARA IKODA.

tanah yang telah terkontaminasi minyak dari seluruh maintenance workshop. Namun. penggunaan bahan bakar untuk kendaraan operasional. antara lain penggunaan bahan bakar untuk boiler dan genset. khususnya yang berasal dari fasilitas interceptor. diolah secara bioremediasi menggunakan bakteri petrophylic. Dalam pengadaan peralatan baru seperti truk dan alat berat lainnya. serta landclearing dalam rangka pembukaan lahan untuk pertambangan. Pengolahan tanah terkontaminasi minyak ini dilakukan di area Biological Treatment Unit (BTU) yang terletak di . sesuai dengan izin yang diperoleh melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. PT. Pemantauan dan Pengendalian Emisi Penggunaan bahan bakar fosil menjadi sumber utama emisi karbon dari kegiatan operasional PT. bukan memberikan dampak negatif.. kami memiliki prosedur penanganan tumpahan dan membentuk Oil Spill Response Team agar tumpahan yang terjadi ditangani dengan sesegera mungkin. BARA IKODA mengacu pada standar emisi Environmental Protection Agency (EPA) Tier-1. PT. Oleh karena itu. serta insinerator. BARA IKODA.. BARA IKODA yang bertujuan untuk menunjang aktivitas penambangan. Selain itu. Itu sebabnya. strategi reklamasi KPC memang diarahkan untuk bisa memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat. BARA IKODA sesuai dengan standar dan layak pakai. Genset kami gunakan sebagai penghasil energi yang mendukung seluruh kegiatan perusahaan. F.. Kami juga melakukan penyiraman rutin setiap hari untuk meminimalisir debu. kami selalu melakukan perawatan berkala untuk menjaga efektivitas proses pembakaran. G.184 Tahun 2010 tertanggal 11 Agustus 2010. serta produktivitas area pascatambang seperti sediakala. menimbulkan potensi bahaya dan dampak lingkungan yang disebabkan oleh tumpahan. Sementara insinerator kami gunakan untuk memusnahkan limbah terkontaminasi hidrokarbon (filter dan majun) serta limbah medis dari klinik. sudah menjadi tujuan utama bagi KPC untuk mengembalikan kondisi lingkungan. Tier-2. Bukan hal mustahil bahwa lahan bekas penambangan yang direklamasi dengan benar akan menjadikan lahan tersebut lebih bernilai dan bermanfaat dibanding sebelum adanya kegiatan penambangan. Pemantauan Kualitas Udara PT.2. Upaya pelaksanaan kegiatan restorasi di KPC telah melalui perencanaan yan matang dan terukur berdasarkan dokumen Desain Restorasi Ekosistem Lahan Bekas Tambang Batubara . BARA IKODA memastikan agar oil spill kit selalu tersedia di setiap maintenance workshop. 5. genset. Dump.Tingginya penggunaan bahan bakar solar dan oli di PT. Kami selalu memegang teguh prinsip bahwa kegiatan pertambangan haruslah memperoleh manfaat yang positif. Selain itu. Tier-3 sehingga kami memastikan bahwa setiap kendaraan yang masuk dan beroperasional di area PT.. BARA IKODA selalu melakukan pemantauan terhadap kualitas udara ambien. terutama debu di area pertambangan. Dalam rangka pengurangan terhadap dampak yang ditimbulkan dari emisi gas pada peralatan operasional maupun kendaraan operasional... habitat flora dan fauna.2 Restorasi Ekosistem Area Pasca Tambang Kegiatan penambangan kerap dikonotasikan sebagai salah satu kegiatan yang merusak alam dan lingkungan.

populasi orangutan diperkirakan mencapai 20. Kesehatan. Material utama yang kami gunakan dalam proses produksi batubara adalah bahan peledak.2. B. Hal ini merupakan langkah kongkrit yang kami lakukan untuk memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat sekitar. flocculants. Kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi serta mengontrol beban pemakaian energi fosil yang hingga saat ini masih sering digunakan.4. 5. KPC tidak menggunakan sumber air baru untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan operasional batubara. Kami menilai bahwa keanekaragaman hayati yang terpelihara dengan baik merupakan warisan yang tidak ternilai bagi generasi mendatang. hingga akhir tahun 2015 tidak ada keluhan dari masyarakat sekitar mengenai penurunan kuantitas air sungai atau air tanah akibat konsumsi .3 Pemeliharaan Keanekaragaman Hayati Bagi KPC. Di Kalimantan. Lingkungan dan Pembangunan Berkesinambungan). dan lime. air dari area pascatambang. berupaya untuk turut serta dalam pengembangan dan pemanfaatan sumber daya energi yang terbarukan di lingkungan KPC. Oleh karena itu. A. tetapi lebih dari itu. kami menggunakan air untuk mencuci batubara.1. Menggunakan Air dengan Bijak Pada operasi penambangan kami. KPC sebagai salah satu perusahaan pertambangan di Indonesia. 5. pemeliharaan keanekaragaman hayati tidak hanya penting bagi keseimbangan ekosistem dan kesuksesan aktivitas restorasi di area kami. yaitu proses produksi atau proses penambangan dan proses pencucian batubara kotor. Air yang kami gunakan diperoleh dari air hujan. Dokumen ini telah dikembangkan melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam yang berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Konservasi Air dan Efisiensi Sumber Energi Pemerintah Indonesia mulai menata sistem manajemen energi pada 2010 yang kemudian ditindaklanjuti KPC dengan memegang teguh komitmen terhadap konservasi energi yang tercantum di dalam dokumen kebijakan K3L dan PB (Keselamatan. Penggunaan Material untuk Operasi Penambangan Operasional penambangan di KPC dibagi menjadi dua bagian besar. Salah satu tujuan utama reklamasi dan program pelestarian keanekaragaman hayati KPC adalah untuk melestarikan habitat dan populasi orangutan di area reklamasi kami. dan pertambangan. Orangutan merupakan salah satu fauna khas Indonesia yang populasinya hanya terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Keamanan. dan air daur ulang dari pencucian batubara itu sendiri.000 ekor dan terancam menurun karena kawasan hutan hujan yang menjadi habitatnya dijadikan lahan kelapa sawit. Dapat kami laporkan.KPC yang dirumuskan pada 2009. Sedangkan material utama dalam proses pencucian batubara kotor adalah magnetite. penebangan pohon. KPC bertanggung jawab penuh terhadap lokasi operasional KPC yang telah menjadi habitat alami orangutan.

upaya ini dilakukan untuk menjaga kapasitas kolam saat hujan tinggi. Selain penggunaan air untuk pencucian batubara. Konsumsi dan Konservasi Energi Kami selalu membutuhkan energi untuk menjalankan seluruh aktivitas operasional. sedangkan kolam pengendap exsisting dilengkapi dengan saluran keluaran on- off yang diletakkan di level lebih rendah dari spill way kolam dan di fungsikan saat kualitas air di kolam baik. yaitu kolam retensi banjir dan kolam pengendap. Program ini telah memberikan dampak yang sangat positif terkait penghematan energi. Kegiatan-kegiatan yang kami lakukan antara lain:  Pemasangan KWH meter di kantor dan pabrik  Pemasangan saklar yang dilengkapi sensor cahaya di lokasi pabrik yang memperoleh cahaya berlebih pada siang hari  Pemasangan timer AC di perkantoran  Implementasi SOP untuk mematikan semua peralatan listrik bila tidak digunakan  Penggunaan lampu hemat energi  Pengurangan jumlah lampu berlebih di area parkir  Memasukkan hemat energi sebagai kriteria perancangan peralatan di KPC . Melihat besarnya kebutuhan akan energi. Penghematan Listrik Sejak 2010. KPC juga melakukan uji karakterisktik sedimentasi untuk menetapkan dimensi kolam yang dibutuhkan agar kualitas air yang dikeluarkan ke lingkungan dapat diketahui sesuai rencana design kolam pengendap. Perubahan cuaca ini di gunakan oleh KPC untuk melakukan perawatan kolam pengendap untuk menjaga kapasitas kolam pengendap tetap optimal. sedangkan untuk strategi perencanaan kolam pengendap yang baru dibuat dengan 2 konfigurasi kolam. Sistem Pengelolaan Air (Water Management System) Kondisi curah hujan 2015 lebih rendah dibandingkan 2014. E. Sistem ini menjadi solusi dalam mengontrol debit sehingga dapat dikelola saat hujan tinggi sehingga proses penetralan dan pengendapan air tambang dapat berlangsung secara optimal di kolam sedimentasi.air KPC. kami juga mengkonsumsi air bersih dan air minum untuk keperluan karyawan KPC. Upaya Efisiensi Energi & Penggunaan Energi Alternatif Ramah Lingkungan 1. D. kami memiliki program penghematan listrik yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan listrik berlebih yang sebenarnya tidak perlu digunakan. kami memprioritaskan program konservasi energi dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. C.

KPC menugaskan sebuah tim khusus untuk mengidentifikasi penyebab keborosan secara kontinu. serta pada akhirnya menerapkan sistem perbaikan.  Mengganti AC Window dengan AC Split  Revisi Program Perbaikan Lingkungan KPC untuk menyertakan program hemat energi 2. Penghematan Bahan Bakar Sejak 2008. kami telah menginisiasi program penghematan bahan bakar.  Melakukan Pemasangan lampu khusus di truk untuk memantau apakah operator benar- benar mematikan mesin pada saat kondisi truk standby.3 Rencana Pasca Tambang .  Melakukan peninjauan ulang terhadap range match factor optimal terhadap pilihan untuk mematikan shovel saat tidak digunakan atau mematikan truk saat sedang berhenti untuk waktu yang cukup lama. 5. seperti:  Melakukan sosialisasi SOP untuk mematikan mesin pada kondisi tidak produktif dan SOP untuk menjaga match factor (keseimbangan) truck-shovel pada operasional yang optimum.