Anda di halaman 1dari 39

TUGAS SISTEM INTEGUMEN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN LUKA BAKAR

OLEH :
KELOMPOK 1

SITI ANDINI MANDATI AMINE KANCINA
AAN SYAIFUL ANDRI IRWAN
ABDUL BAIS ELLY ANITA SANGADJI
ABDUL KADRI PO`OE APRIZAL SALEH LUSSY
ABDUL MAIK PATTIMURA ARDILA KAISUPY
AFRILA MARYANI TIHURUA ARLINDA S LATUAPO
ALIA LET-LET ARYA SAILAN
AMALIA RUMATELA ASMA RUMBOUW
AMELIA SANAKY ASRYATI HASANNUDDIN
AMIN MAMULATI ATRIANTI HITIMALA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)

MALUKU HUSADA

KAIRATU

2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam memahami ”asuhan dasar keperawatan pada luka bakar”.

Dalam proses penyusunan makalah ini penulis banyak mendapatkan
bimbingan serta bantuan baik moril maupun materil, untuk itu penulis
mengucapkan banyak terimah kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi penyempurnaan makalah ini.Harapan saya semoga makalah ini
membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.

.

Kairatu, 28 april 2016

Penyusun

1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................

Daftar Isi.........................................................................................................................

Bab I Pendahuluan..........................................................................................................

1.1 Latar Belakang Masalah.....................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................

Bab II Tinjauan Teori......................................................................................................

Bab III Penutup...............................................................................................................

3.1 Kesimpulan...............................................................................................................

3.2 Saran.........................................................................................................................

Daftar Pustaka.................................................................................................................

2

dan dapat terjadi dimana saja. aliran listrik dan lain-lain. Baik itu dirumah. Mengeluarkan banyak air. 1987) Pendapat diatas tidak akan terwujud tanpa adanya penanganan yang cepat dan tepat serta kerjasama yang baik antara anggota tim kesehatan yang terkait. Ditempati kuman dengan patogenitas tinggi b. Penderita luka bakar memerlukan perawatan secara khusus karena luka bakar berdeda dengan luka tubuh lain 9luka tusuk. Luka bakar yang lebih luas dan dalam memerlukan perawatan/intervensi lebih intensif dibandingkan luka bakar yang 3 . orang dewasa yang mengalami 50% luka bakar mempunyai kesempatan untuk bertahan hidup kurang dari 50%. Penyebab luka bakar pun bermacam-macam bisa berupa api. Memerlukan jaringan untuk menutup Berbagai karakteristik unik dari luka bakar membutuhkan intervensi khusus yang berbeda.serum dan darah d. akan menimbulkan kondisi kerusakan kulit. cairan panas. BAB I PENDAHULUAN 1. Terdapat banyak jaringan yang mati c. Hal ini disebabkan karena pada luka bakar terdapat keadaan seperti: a. sayatan dan lain-lain). tempat kerja. Pada saat ini orang dewasa dengan luka bakar seluas 75% mempunyai kesempatan untuk hidup 50% dan ini bukan hal yang luar biasa jika pasien mendapatkan perawatan yang serius di unit perawatan khusus luka bakar (Feller & Jones. Perbedaan karakteristik tersebut dipengaruhi oleh penyebab luka bakar dan bagian tubuh yang terkena. tembak. Terbuka untuk waktu yang lama (mudah terinfeksi dan terkena trauma) e. Dua puluh tahun yang lalu. Selain itu juga dapat mempengaruhi berbagai system tubuh.1 Latar Belakang Luka bakar dapat dialami oleh siapa saja. Luka bakar yang terjadi. uap panas bahkan kimia. Cedera pada luka bakar terutama pada luka bakar yang dalam dan luas masih merupakan penyebab utama kematian dan disfungsi berat jangka panjang. bahkan di jalan atau di tempat-tempat lain.

Mengetahui komplikasi luka bakar 6. Mengetahui patofisiologi luka bakar 5.1989) Di Indonesia dan mungkin juga banyak Negara lain. maka pasien luka bakar memerlukan penanganan yang serius secara tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu seperti perawat. Mengetahui tanda dan gejala luka bakar 4.3 Tujuan 1. Luka bakar yang mengenai tangan dan kaki dapat mempengaruhi kapasitas fungsi pasien (produktifitas/kemampuan kerja) sehingga memerlukan teknik penanganan yang berbeda dengan bagian tubuh lain (Sherif & Sato. 1. Mengetahui pengertian luka bakar 2.1 Tujuan Umum Mahasiswa dapat memahami asuha keperawatan pada klien dengan luka bakar 1. Luka bakar yang terjadi karena tersiram air panas dengan luka bakar yang disebabkan karena terkena zat kimia. perawatan dan rehabilitasinya masih sukar dan memerlukan ketekunan serta biaya yang mahal. Mengingat banyaknya maslah dan komplikasi yang dapat dialami pasien. Mengetahui pemeriksaan diagnostik 4 . tenaga terlatih dan terampil. radiasi. 1. Mengetahui penyebab terjadinya luka bakar 3.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas . maka penulis merumuskan permasalahan tentang “ Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Luka Bakar” 1. dokter. ahli gizi dan bahkan psikiater serta pekerja social. hanya sedikit dan superfisial.3. luka bakar masih merupakan problem yang berat. atau listrik membutuhkan penangan yang berbeda meskipun luas luka bakarnya sama. Luka bakar yang mengenai daerah genetalia mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya infeksi dibandingkan dengan luka bakar yang ukuran/luasnya sama pada bagian tubuh yang lain.3.2 Tujuan Khusus Berdasarkan latar belakang penulis menetapkan tujuan yaitu. fisiotherapis.

4 Manfaat Dengan pembuatan makalah ini. panas dapat 5 . Konsep Teori 2. Mengetahui penatalaksanaan luka bakar 1. mahasiswa dapat mengetahui mengetahui bagaimana melakukan asuhan keperawatan pasien yang mengalami luka bakar BAB II TINJAUAN TEORI A.1 Pengertian Luka Bakar Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas pada tubuh. 7.

2.2 Etiologi Luka bakar banyak disebabkan karena suatu hal. dipindahkan oleh hantaran/radiasi electromagnet (Brunner & Suddarth. bahan kimia. dan lemak. air panas. Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame). diantaranya adalah: a. Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas seperti api. serta sengatan matahari (sunburn) (Moenadjat. Luka bakar adalah kerusakan pada kulit diakibatkan oleh panas. 2003). akibat sengatan listrik. 2003). tersentuh benda panas (kontak panas). terkena air panas (scald). bahan padat 6 . kimia atau radio aktif (Wong. Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn): gas. jilatan api ketubuh (flash). dermis. cairan. listik dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan atau kehilangan jaringan yang mengenai lapisan epidermis. akibat bahan-bahan kimia. 2002).

Luka bakar thermal burn biasanya disebabkan oleh air panas (scald). sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. b. Sering kali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak. api. jilatan api ketubuh (flash). dan lain-lain) (Moenadjat. dan akibat terpapar atau kontak dengan objek- objek panas lainnya(logam panas. baik kontak dengan sumber arus maupun grown (Moenadjat. khusunya tunika intima. c. Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn) Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang biasa digunakan dalam bidang industri militer ataupu bahan pembersih yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga (Moenadjat. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury) Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radio aktif. 2005). dan ledakan. Tipe injury ini sering disebabkan oleh penggunaan radio aktif untuk keperluan terapeutik dalam dunia kedokteran dan industri. kobaran api di tubuh (flam). Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn) Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus. 2005). 2001) d. Akibat terpapar sinar 7 . Kerusakan terutama pada pembuluh darah. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah.

b) Organ-organ kulit seperti folikel rambut. c) Bula mungkin tidak terbentuk beberapa jam setelah cedera. 2. 2001) 2. Luka Bakar Derajat I : 1) Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (superficial) 2) Kulit kering. hiperemik berupa eritema 3) Tidak dijumpai bula 4) Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi 5) Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari (Moenadjat.3 Tanda dan Gejala 1. kelenjar keringat. Derajat II Dangkal (Superficial) a) Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis. Luka Bakar Derajat II: Luka bakar derajat II Dibedakan atas 2 (dua) : a. dan luka bakar pada mulanya tampak seperti 8 . kelenjar sebasea masih utuh. matahari yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi (Moenadjat. 2001).

kelenjar keringat. d) Juga dijumpai bula. d) Ketika bula dihilangkan. e) Jarang menyebabkanhypertrophic scar. luka tampak berwarna pink dan basah. Derajat II dalam (deep) a) Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis b) Organ-organ kulit seperti folikel rambut.(Schwarts et al. kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh. 9 . 1999) b. c) Penyembuhan terjadi lebih lama. tergantung biji epitel yang tersisa. luka bakar derajat satu dan mungkin terdiagnosa sebagai derajat dua superfisial setelah 12 sampai 24 jam. akan tetapi permukaan luka biasanya tampak berwarna pink dan putih segera setelah terjadi cedera karena variasi suplai darah ke dermis (daerah yang berwarna putih mengindikasikan aliran darah yang sedikit atau tidak ada sama sekali. f) Jika infeksi dicegah maka penyembuhan akan terjadi secara spontan kurang dari 3 minggu. daerah yang berwarna pink mengindikasikan masih ada beberapa aliran darah).

tendon dan tulang dengan adanya kerusakan yang luas. Luka Bakar Derajat IV a. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensori karena ujung-ujung syaraf sensorik mengalami kerusakan dan kematian. (Schwarts et al. oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan / kematian. 10 . 1999) 3. Kerusakan meliputi lapisan otot. Luka Bakar Derajat III (Full Thickness Burn): 1) Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam. Tidak dijumpai bula c. 6) Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi. b. 4. 2) Tidak dijumpai bula 3) Apendises kulit rusak 4) Kulit yang terbakar berwarna putih dan pucat 5) Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar. e) Jika infeksi dicegah luka bakar akan sembuh dalam 3 sampai 9 minggu.

Luka bakar derajat II .Kulit kering. 2001) 2. . Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua).Tidak dijumpai bulae .Dasar luka berwarna merah atau pucat. . dan keseriusan luka. (Moenadjat. sering terletak lebih tinggi diatas kulit normal. kedalaman luka.Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi .Dijumpai bulae.Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis. yaitu :  Derajat II dangkal (superficial)  Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis. yakni : 1. Berdasarkan penyebab  Luka bakar karena api  Luka bakar karena air panas  Luka bakar karena bahan kimia  Laka bakar karena listrik  Luka bakar karena radiasi  Luka bakar karena suhu rendah (frost bite). 2. letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar. Berdasarkan kedalaman luka bakar a. .Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari b. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. d.4 Klasifikasi Luka Bakar Untuk membantu mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan. Luka bakar derajat I . hiperemi berupa eritema . 11 . Karena kering. 7) Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka. berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. luka bakar diklasifikasikan berdasarkan penyebab.Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis .

c.  Derajat II dalam (deep) . muka. yaitu: a.Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak.Luka bakar fullthickness lebih dari 20%. . . Organ-organ kulit seperti folikel rambut. . telinga. kelenjar keringat.  Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat.  Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi. Luka bakar derajat III  Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam. .  Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.  Organ-organ kulit seperti folikel rambut. dan perineum. Penyembuhan terjadi lebih lama. . Luka bakar mayor . kelenjar sebasea masih utuh. Biasanya penyembuhan terjadi lebih dari sebulan. 3.Terdapat luka bakar pada tangan.  Organ-organ kulit seperti folikel rambut.  Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi. kelenjar sebasea mengalami kerusakan. Luka bakar moderat 12 .Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan luasnya luka. Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. kelenjar keringat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar. Berdasarkan tingkat keseriusan luka American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori. kaki. kelenjar keringat.  Tidak dijumpai bulae.  Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka. mata. . b. tergantung epitel yang tersisa. oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian. kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.

telinga. .Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang dari 10 % pada anak-anak. .  Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-anak.Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah. Ukuran luas luka bakar Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa metode yaitu : 1. Rule of nine  Kepala dan leher : 9%  Dada depan dan belakang : 18%  Abdomen depan dan belakang : 18%  Tangan kanan dan kiri : 18%  Paha kanan dan kiri : 18%  Kaki kanan dan kiri : 18%  Genital : 1% 2. dan perineum. Luka bakar minor Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak (1992) adalah : .  Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.Luka tidak sirkumfer. kaki.Luka bakar fullthickness kurang dari 2%. Diagram Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram Lund dan Browder sebagai berikut: USIA (Tahun) 13 . fraktur. c. . dan kaki.  Tidak terdapat luka bakar pada tangan. tangan. elektrik. muka. .Tidak terdapat trauma inhalasi. mata.

LENGAN 3 3 3 3 3 BAWAH KA LENGAN 3 3 3 3 3 BAWAH KI. 5.5 KA TANGAN KI 2.5 2.5 2. 5.5 2.5 PAHA KI.5 2. LENGAN 4 4 4 4 4 ATAS KI.5 6 7 BAWAH KA TUNGKAI 5 5 5.5 KANAN KELAMIN 1 1 1 1 1 LENGAN 4 4 4 4 4 ATAS KA.5 8.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.5 6 7 14 .LOKASI 0-1 1-4 5-9 10-15 DEWASA KEPALA 19 17 13 10 7 LEHER 2 2 2 2 2 DADA & 13 13 13 13 13 PERUT PUNGGUN 13 13 13 13 13 G PANTAT 2.5 8.5 2.5 8.5 2.5 8.5 6.5 2.5 9.5 9.5 PAHA KA.5 2.5 2.5 TUNGKAI 5 5 5.5 6.5 2.5 KIRI PANTAT 2. TANGAN 2.

5 2.5 Patofisiologi Luka Bakar Luka bakar suhu pada tubuh terjadi baik karena konduksi panas langsung atau radiasi elektromagnetik.5 3. Kondisi ini dikenal dengan sebutan syok (Moenadjat.5 3. 15 .5 3. penimbunan jaringan masif di intersisiel menyebabkan kondisi hipovolemik. Pada luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas yang hampir menyeluruh.5 3.5 3. dan III. tetapi juga terhadap ketebalan kulit di daerah luka (Sabiston.5 3. II. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang kurang tahan terhadap konduksi panas (Sabiston. Volume cairan intravaskuler mengalami defisit. Kerusakan pembuluh darah ini mengakibatkan cairan intravaskuler keluar dari lumen pembuluh darah.1995). BAWAH KI KAKI 3. timbul ketidakmampuan menyelenggarakan proses transportasi oksigen ke jaringan. Penggunaan sistem klasifikasi ini dapat memberikan gambaran klinik tentang apakah luka dapat sembuh secara spontan ataukah membutuhkan cangkokan.5 3. 1995).5 3. kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap derajat kenaikan temperatur. Kedalaman luka tidak hanya bergantung pada tipe agen bakar dan saat kontaknya. 2001).5 KANAN KAKI KIRI 3. Luka bakar secara klasik dibagi atas derajat I. Sel-sel dapat menahan temperatur sampai 44°C tanpa kerusakan bermakna. dalam hal ini bukan hanya cairan tetapi juga plasma (protein) dan elektrolit.

6 Komplikasi 16 .2.

Dekubitus 9. Curhing ulcer (ulkus curhing) 2. Syok sirkulasi 10. akan tetapi bias diatasi dengan tindakan tertentu. Sepsis Kehilangan kulit sebagai pelindung menyebabkan kulit sangat mudah terinfeksi. Pneumonia 4. 5. Ileus parlitik 12.Komplikasi yang sering dialami oleh klien luka bakar yang luas antara lain: 1. Dekubitus Terjadi karena kurangnya mobilisasi pada pasien dengan luka bakar yang cenderung bedrest terus. Burn shock (shock hipovolemik) Merupakan komplikasi yang pertama kali dialami oleh klien dengan luka bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi. Menurut Smeltzer (2000) : 1. Syndrom kompartemen 11. Hipertrofi jaringan parut 8. dapat mengakibatkan sepsis. Septikemia 3. 2. 7. Defisit kalori protein 17 . Kontraktur 7. Jika infeksi ini telah menyebar ke pembuluh darah. 3. Gagal ginjal akut Kondisi gagal ginjal akut dapat terjadi karena penurunan aliran darah ke ginjal. Kontraktur Merupakan gangguan fungsi pergerakan. Hipertensi jaringan akut Merupakan komplikasi kuloit yang biasa dialami pasien dengan luka bakar yang sulit dicegah. 6. 4. Pneumonia Dapat terjadi karena luka bakar dengan penyebab trauma inhalasi sehingga rongga paru terisi oleh gas (zat-zat inhalasi). Deformitas 6. Gagal jantung akut 5.

Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. 5. 4.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. (Doenges. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya. Sedanguntuk kasus luka bakar karena bahan kimia atau benda dingin. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air. 8. Urine : adanya albumin. 10. 2. segera gunakan air atau bahan kain basah untuk memadamkan apinya.8 Penatalaksanaan 1. segeralah hentikan (stop). Oleh karena itu. jatuhkan (drop). Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. 804) 2. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitial/ gangguan pompa natrium. dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein.2. 12. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik. 9. dan gulingkan (roll) orang itu agar api segera padam. Penatalaksanaan Konservatif A. Bila memiliki karung basah. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi 6. segera 18 . BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. 2000. Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. 11. 3. dan akan belari untuk mencari air. Skan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi 7. Hb. Pre Hospital Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/ kehilangan cairan.

Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan. 1) Airway . bulu hidung yang terbakar. misalnya pneumothorax. dan sputum yang hitam. Jangan membawa orang dengan luka bakar dalam keadaan terbuka karena dapat menyebabkan evaporasi cairan tubuh yang terekspose udara luar dan menyebabkan dehidrasi. maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). 2) Breathing . asam mefenamat samapai penggunaan morfin oleh tenaga medis B. dan fraktur costae 3) Circulation . segera lakukan escharotomi. aspirin.basuh dan jauhkan bahan kimia atau benda dingin.luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema.apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi. Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma. Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api. Matikan sumber listrik dan bawa orang yang mengalami luka bakar dengan menggunakan selimut basah pada daerah luka bakar. Manajemen cairan pada pasien luka bakar. hematothorax. C. karenanya harus dicek Airway. ada 2 cara yang lazim dapat diberikan yaitu dengan Formula Baxter dan Evans b) Resusitasi Cairan 19 . luka bakar pada wajah. Orang dengan luka bakar biasanya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit jenis analgetik : Antalgin. B. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas.eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas. breathing dan circulation-nya terlebih dahulu. Hospital a) Resusitasi A.

Laboratorium. 20 . CVP. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairn hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan yang diberikan hari kedua. Sebagai monitoring pemberian lakukan penghitungan diuresis. (3) diberikan dalam 8 jam pertama. c) Infus. 2) Cara Baxter Merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Jumlah kebutuhan cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus : Baxter = % luka bakar X BB (kg) X 4cc Separuh dari jumlah cairan yang diberikan dalam 8 jam pertama. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan ringer laktat karena terjadi hiponatremi. (2). kateter. d) Monitor urine dan CVP. 3. Dua cara yang lazim digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar yaitu : 1) Cara Evans Untuk menghitung kebutuhan pada hari pertama hitunglah : 1. Berat badan (kg) X % luka bakar X 1cc Nacl 2. Untuk hari kedua diberikan setengah dari jumlah pemberian hari pertama.2000cc glukosa 5% Separuh dari jumlah (1). oksigen. Berat badan (kg) X % luka bakar X 1cc larutan koloid 3. sisanya diberikan dalam 16 jam. kultur luka.

Hal ini dilakukan untuk sirkulasi bagian distal akibat pengerutan dan penjepitan dari eskar. petidine)  Antasida : kalau perlu 2. kemudian kehilangan daya rasa menjadi kebal pada ujung-ujung distal.  Tulle  Silver sulfa diazin tebal.  Analgetik : kuat (morfin.9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik. 21 .  Tutup kassa tebal. 2000).  Evaluasi 5 – 7 hari. Debirdemen diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial. (Arif Mansjoer. Tindakan yang dilakukan yaitu membuat irisan memanjang yang membuka eskar sampai penjepitan bebas. Penatalaksanaan Pembedahan Eskaratomi dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh. Tanda dini penjepitan berupa nyeri. f) Obat – obatan  Antibiotika : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian. e) Topikal dan tutup luka  Cuci luka dengan savlon : NaCl 0.  Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai kultur. kecuali balutan kotor.

2000) yang perlu dikaji : 1. yaitu keterampilan intelektual. sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan klien tersebut. Dalam melaksanakan proses keperawatan tersebut seorang perawat harus harus mempunyai keterampilan khusus agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. perencanaan. pelaksanaan dan evaluasi. diagnosa keperawatan. yaitu pengkajian. sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan klien tersebut.9. Identitas klien Nama : - Umur : - Jenis Kelamin : - Alamat : - Diagnosa medis : - b. teknikal dan interpersonal.1 Pengkajian Asuhan Keperawatan Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya. Konsep Asuhan Keperawatan 2. Data dasar pengkajian klien dengan luka bakar (Doengoes. Pemeriksaan Fisik a. Riwayat kesehatan 1) Riwayat Kesehatan Sekarang a) Alasan masuk RS b) Keluhan utama saat dikaji 2) Riwayat Kesehatan Dahulu 2.9 Asuhan Keperawatan Dalam proses keperawatan terdiri dari lima tahap. Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya. 2000) yang perlu dikaji : 2.B. Pengumpulan Data a. Data dasar pengkajian klien dengan luka bakar (Doengoes. Aktifitas/istirahat 22 .

Integritas ego Gejala: Masalah tentang keluarga. marah. luka bakar derajat tiga tidak nyeri. ditekan. Nyeri/kenyamanan Gejala : Berbagai nyeri. Tanda : Ansietas. gangguan massa otot. menyangkal. gerakan udara dan perubahan suhu. menarik diri. kesemutan. penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. tahanan. khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik. diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi). sementara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf. e. Tanda: Perubahan orientasi. ketergantungan. menangis. keuangan. takikardia (syok/ansietas/nyeri). Sirkulasi Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT) : Hipotensi (syok). penurunan bising usus/tak ada. mual/muntah. pekerjaan. Neurosensori Gejala: Area batas. c. mengindikasikan kerusakan otot dalam. pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar). g. luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri. Eliminasi Tanda : Haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat. kecacatan. Makanan/cairan Tanda : Oedema jaringan umum. d. afek. b. contoh luka bakar derajat pertama secara ekstern sensitif untuk disentuh. perilaku. perubahan tonus. Tanda : Penurunan kekuatan. keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit. anoreksia. 23 . warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin. f.

batuk mengi. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis. merah. edema lingkar mulut dan / atau lingkar nasal.2 Diagnosa Keperawatan 1. Diagnosa Keperawatan Menurut Doengus (2000) diagnosa keperawatan yang bisa ditegakkan pada klien dengan luka baker adalah : a.d obstruksi trakeobronkial. i. pucat. mukosa hidung dan mulut kering. partikel karbon dalam sputum. edema mukosa dan hilangnya kerja silia (inhalasi asap). terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab. Keamanan Tanda : . jalan nafas atau stridor/mengi (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. oedema laringeal). 2. . dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. Bulu hidung gosong. Cedera Api  Terdapat area cedera campuran dalam sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. indikasi cedera inhalasi. Pernafasan Gejala : Terkurung dalam ruang tertutup. stridor (oedema laringeal). lepuh pada faring posterior. 24 . Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. h.9. Tanda : Serak. bunyi nafas: gemericik (oedema paru).Kulit umum  Destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. sekret jalan nafas dalam (ronkhi).

jaringan traumatik. Nyeri b. f. Rencana Asuhan Keperawatan Adapun perencanaan keperawatan pada klien dengan luka bakar dijelaskan oleh Doengus (2000) dibawah ini : a. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) b. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan neuromuskular. manipulasi jaringan cidera. d. 2. Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri: 25 . g. Resiko tinggi infeksi b. Kriteria Hasil : Menunjukkan bunyi napas jelas. pembentukan edema. Defisit volume cairan b. edema mukosa dan hilangnya kerja silia (inhalasi asap). penurunan kekuatan. tidak sianosis.d perubahan primer tidak adekuat : kerusakan perlindungan kulit.60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau metabolisme protein. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. nyeri/tak nyaman.d kerusakan kulit/jaringan. Kerusakan integritas kulit b. frekuensi pernapasan dalam rentang normal.d peningkatan permeabilitas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang intravaskular keruang intertitial. tahanan.d krisis situasi : kejadian traumatik peran klien tergantung.d obstruksi trakeobronkial. kecacatan dan nyeri. e.d trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam) h.d status hipermetabolik (sebanyak 50 % . Kerusakan mobilitas fisik b. c.b. Tujuan : Bersihan jalan nafas efektif.

pengkajian lanjut status pernafasan. Data dasar penting untuk 3. 3. 3. Meningkatkan ekspansi paru Hindari penggunaan bantal optimal/fungsi pernapasan. Meningkatkan resiko edema paru. Dugaan cedera inhalasi 2. 5. Awasi/gambaran seri GDA. O2 memperbaiki hipoksemia. dan drainase sekret. Menunjukkan atelektasis/endema paru. Berikan O2 sesuai indikasi. 4. 2. Kaji reflek menelan 1. Berikan fisioterapi dada. Tinggikan kepala tempat tidur. 4. 2. Membantu mempertahankan jalan nafas bersih. 1. 6. Meningkatkan ekspansi paru. Kaji ulang isi ronsen. memobilisasi. 3. 26 . Dorongan nafas dalam/batuk dan perubahan posisi sering. Hisapan lendir pada perawatan ekstrim. Awasi frekuensi. 2. Mengalirkan aliran area dependen paru b. Kolaborasi : Kolaborasi : 1. 5.irama sianosis. Menunjukkan ditres pernafsan/ kedalaman pernafasan. 4. dibawah kepala sesuai dengan indikasi. Defisit volume cairan b. edema. Awasi 24 jam keluaran cairan. 1. 6.d peningkatan permeabilitas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang intravaskular keruang intertitial. 4.

Memperkirakan luas odema/ 4. tanda vital stabil (suhu. Berikan penggantian cairan IV hilang. 1. 3. 4. Mungkin diindikasikan untuk 4. Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1. Pedoman penggantian cairan. Pasang kateter urine. 3. Tujuan : Perbaikan keseimbangan cairan. Awasi TTV. N). Menggantikan cairan/elektrolit yang 2. Awasi haluaran urine. yang dihitung. Awasi pemeriksaan laborator 4. Mengidentifikasi kehilangan darah. 2.rata haluaran urine 30 – 50 ml/jam. 3. 2. Memungkinkan ketat fungsi ginjal. pertama dan perubahan selanjutnya. Kolaborasi : Kolaborasi : 1. Untuk menyakinkan rata. 1. contoh manitol (Osmitrol). 27 . membran mukosa lembab. TD. Mis : Diuretik. Timbang BB setiap hari. Kriteria hasil : Haluaran urine adekuat. Berrikan obat sesuai indikasi meningkatkan haluaran urine dan mencegah nekrosis. RR. 2. yang terbakar tiap hari. Penggantian cairan tergantung BB 3. Ukur lingkaran ekstremitas perpindahan cairan.

Resiko tinggi infeksi b.c. Mencegah terpejan pada organisme masker dan teknik aseptik ketat. 4. 3. 5. bebas eksudat. Untuk menurunkan proses infeksi 2. Batasi pengunjung. Bersihkan jaringan nekrotik. Berikan perawatan khusus pada 5. Ganti balutan dan bersihkan 6. Cuci area membuang balutan dan jaringan degngan agen pembersih ringan. 6.d perubahan primer tidak adekuat : kerusakan perlindungan kulit. Indikator sepsis. Meningkatkan penyembuhan. 8. 8. parut 7. infeksius. jaringan traumatik. Identifikasi adanya penyembuhan . Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1. Tujuan : Tidak terjadi infeksi. Isolasi yang tepat 1. Periksa luka tiap hari.sarung tangan. 9. Air melembutkan dan membantu area terbakar. Awasi TTV untuk demam. Mata membengkak karena infeksi mata. Mencegah kontaminasi silang dari pengunjung. 28 . Gunakan skort. purulen dan tidak demam. Kriteria hasil :Mencapai penyembuhan luka tepat waktu. 7. Tekankan teknik cuci tangan 2. Mencegah kontaminasi silang yang baik untuk semua individu 3. 4. 9.

2. tepat. tutup luka sesegera mungkin 1.berpartisipasi dalam aktivitas dan istirahat dengan tepat. Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1.menunjukan ekspresi wajah / postur tubuh rileks. Antibiotik pilihan pada infeksi luka bakar invasif. Nyeri b. suhu tubuh berubah dan kecuali perewatan luka bakar gerakan udara dapat metode pemajanan pada udara menyebabkan nyeri hebat pada 29 . Kolaborasi : Kolaborasi : 1 Berikan agen topikal sesuai 1. mengontrol infeksi luka.d kerusakan kulit/jaringan. Berikan obat denbgan tepat. mekanisme pertahanan contoh : Tetanus toksoid / meningkatkan risiko terjadinya antitoksin klostridial dengan tetanus atau gangren. Membantu untuk mencegah/ indikasi. manipulasi jaringan cidera. pembentukan edema. d. Tujuan : nyeri berkurang / hilang Kriteria hasil : melaporkan nyeri berkurang / terkontrol. Mis : Mafedin asetat (sulfaminol). Kerusakan jaringan/ perubahan 2.

metode IV sering di gunakan Kolaborasi : pada awal untuk memaksimalkan efek obat 1. dorong ekpresi perasaan tentang komplikasi nyeri 4. terbuka pemajanan ujung saraf 2. mengidentifikasi terjadinya 4. pernyataan memungkinkan 5. perhatikan menurunkan pembentukan lokasi/ karakter dan intensitas edema (skala 0-10) 3. tinggikan ekstremitas luka 2. kekurangan tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri/kemampuan koping menurun kolaborasi : 1. kaji keluhan nyeri. berikan analgesik (nerkotik dan non nerkotik) sesuai indikasi 30 . tingkatkan periode tanpa pengungkapan emosi dan dapat gangguan menigkatkan mekanisme koping 5. peninggian mungkin di bakar secara periodik perlukan pada awal untuk 3.

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.kaji bakar. rujuk ke ahli diet kebutuhan nutrisi individu dan 2. berguna dalam membuat 1.d status hipermetabolik (sebanyak 50 % .tetapi biasanya dalam ulang persen area 46-48 jam dimana makanan permukakn tubuh oral dapat di mulai terbuka/luka tiap minggu 2. mulut bersih mengkatkan rasa dan membantu nafsu makan yang baik kolaborasi : Kolaborasi : 1.regenerasi jaringan Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1. berikan makanan dalam memasuki kalori porsi kecil sedikit tapi 3. pedoman tetap untuk 3.60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau metabolisme protein. pertahankan jumlah kalori dengan periode pasca luka ketat. berikan makanan sedikit mengidentifikasi rute yang melalui selang enterik bila tepat 31 . berikan kebersihan oral meningkatkan pemasukan sebelum makan 4. ileus sering berhubungan 2.timbang tiap hari.e. membantu mencegah distensi sering gaster/ketidaknyamanan dan 4. auskultasi bising usus 1. Tujuan : nutrisi adekuat Kriteria hasil : BB stabil.

nyeri/tak nyaman. Meningkatkan keamanan ambulasi Kolaborasi : Kolaborasi : 1. Menurunkan kekakuan otot 4. Beri obat sebelum aktivitas 3. Mencengah tekanan lama pada 32 . Perhatikan 1. Lakukan latihan rentang mengencangkan jaringan parut gerak secara konsisten dan kontraktur 3. Kerusakan mobilitas fisik b. Bantu dalam mobilitas aktivitas 5.nyeri berkurang / hilang Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1. memberikan makanan bila pasien tidak mampu untuk mengkonsumsi kebutuhan kalori total harian f.gerakan dan fungsional pada ekstremitas sensasi jari secara sering 2. Tujuan : kerusakan mobilitas fisik tidak terjadi Kriteria hasil : menyatakan dan menunjukan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas. Meningkatkan kekuatan dan aktivitas perawatan tolerasi pasien terhadap 5. Meningkatkan posisi sirkulasi. Mencegah secara progresif 2.d gangguan neuromuskular. penurunan kekuatan. di butuhkan 2. Jadwalkan pengobatan dan 4.

d trauma : kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit (parsial/luka bakar dalam) Tujuan : integritas kulit normal / baik Kriteria hasil : adanya regenerasi jaringan. Tinggikan area draft bila 33 . Bersihkan dan tutup luka parut dan infeksi bakar dengan cepat g. resiko infeksi/ kegagalan draft 2. 1. Kaji /catat kulit dan kemungkinan petunjuk ukuran.kedalaman tentang sirkulasi pada area graft. luka. Berikan tempat tidur yang jaringan nyaman 2. Untuk menurunkan jaringan 2. Menyiapkan jaringan untuk nekrotik dan kondisi di sekitar penanaman dan menurunkan luka.mencapai penyembuhan luka tempat waktu pada area luka Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : Pra operasi 1.warna. Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penanaman 1. Berikan perawatan luka bakar yang tepat dan terkontrol infeksi Pasca operasi Pasca operasi 3. Kerusakan integritas kulit b.perhatikan jaringan 2.

Graf kulit diambil dari kulit bedah balutan orang itu sendiri atau orang biologis.d krisis situasi : kejadian traumatik peran klien tergantung. Heterograft sementara pada luka bakar luas sampai kulit orang itu siap di tanam.tes graft 2. Area mungkin di tutupi oleh berlubang. Siapkan /bantu prosedur 1.petroleum. Menurunkan 4.tak bahan dengan permukaan tembus berekat pandang tak reatif untuk mmenghilangkan robekan dari epitel baru /melindungi jaringan sembuh Kolaborasi : Kolaborasi : 1. Pertahankan balutan diatas pembengkakan/pembatasan area draft baru dan atau sisi resiko pemisahan draft donor sesuai indikasi con : 4. mungkin/tepat 3.con : hemograft meninggal (donor mati) (alograft) digunakan untuk penutupan 2. kecacatan dan nyeri Tujuan : untuk menyatakan penerimaan situasi diri kriteria hasil : memasukan perubahan konsep diri tanpa harga diri negatif 34 . Gangguan citra tubuh (penampilan peran) b. Kulit graft mungkin dari binatang dengan penggunaan yang sama untuk heterograft yang berlubang h.

con : layanan 1. Berikan penguatan positif mendukung terjadinya koping terhadap kemajuan dan positif dorong usaha untuk mengikuti tujuan rehabilitasi Kolaborasi : Kolaborasi : 1.perhatiakn perilaku 2.membuat pasien/orang terdekat perasaan kehilangan pada 2.pada 3. Membantu dalam identifikasi sosial .konsul pskiatrik. Episode traumatik mengakibatkan kehilangan/perubahan pada perubahan tiba-tiba. Terima dan akui ekspresi kehilangan aktual /yang di frustasi. Kaji makna 1. Persikap realitis dan positif terjadi perbaikan selama pengobatan.psikologis sesuai cara untuk meningkatkan kebutuhan /mempertahankan kemandirian 35 . Meningkatkan kepercayaan dan penyuluhan kesehatan. Penerimaan perasaan sebagai menarik diri respon normal terhadap apa yang 3. Rujuk terapi fisik.ketergantungan rasakan marah.dan mengadakan hubungan antara menyusun tujuan dalam pasien dan perawat keterbatasan 4. Intervensi Rasional Mandiri : Mandiri : 1. Kata – kata penguatan dapat 4.

listik dan radiasi yang mengakibatkan kerusakan atau kehilangan jaringan yang mengenai lapisan epidermis. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn). bahan padat.1 Kesimpulan Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas seperti api. Untuk 36 . bahan kimia. Dan IV. II. Luka bakar bahan kimia (Chemical Burn). cairan. III. dan lemak. Luka bakar memiliki beberapa klasifikasi yaitu : luka bakar derajat I . BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3. dedermis. air panas. Beberapa penyebab terjadinya luka bakar yaitu : Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn): gas. Luka bakar radiasi (Radiasi Injury).

Carpenito. Textbook of Medical Surgical Nursing. 37 . Jakarta. Philadelphia. pembaca dapat mengambil manfaat dari isi makalah. Medical Surgical Nursing. Djohansjah.J. Sixth Edition. Edisi 2 (terjemahan). Philadelpia.H. Philadelpia. F. Pengelolaan Luka Bakar. Nursing Care Plan.melakukan asuhan keperawatan seorang perawat perlu mengetahui diagnosa pasien terlebih dahulu. (1991).A. Saunders Company. Hal. Diharapkan setelah membaca makalah ini pembaca dapat mengetahui Asuhan keperawatan pada pasien luka bakar.  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma Kerusakan permukaan kulit karena destruksi lapisan kulit  Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal luka. J. J.B. Doenges M. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Carolyn. Fifth Edition. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). (1989). Daftar Pustaka Brunner and suddart. kerusakan perlindungan kulit  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik 3.L. Hal. 1293 – 1328. et. (1990). M. 357 – 401. J. Lippincott Campany.B. (1988).E. Hal. M. Lippincott Campany. (1991). Philadelpia. Bayne. Penulis mengakui bahwa pembuatan makalah ini jauh dari sempurna. B.  Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat . Surabaya. Airlangga University Press. Donna D. al. A Nursing Process Approach.Ignatavicius dan Michael. W. (1999). PT EGC. 752 – 779. Davis Company. beberapa diagnose keperawatan pada kasus luka bakar yaitu:  Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan . Critical Care Nursing.2 Saran Penulis berharap setelah pembaca membaca makalah ini.

38 . Volume I. Edisi 9.L. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Volume I. Marylin E. Panduan Tindakan Keperawatan Klinik Praktis. Bandung. Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. (1995).Engram. Barbara. (terjemahan). Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta Hudak & Gallo. Perawatan Medikal Bedah. (2000). PT EGC. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. S. (1997). (1998). (1997). Penerbit Buku Kedoketran EGC. Yasmin Asih. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Doenges. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. Goodner. Brenda & Roth. Barbara C. Guyton & Hall. Alih bahasa Ni Luh G. Jakarta. volume 2. Jakarta. Long. (terjemahan). (1996). Penerbit Buku Kedoketran EGC.