Anda di halaman 1dari 2

Cerita Rakyat Maluku - Nenek Luhu

Nenek Luhu adalah seorang tokoh yang dikisahkan hilang secara misterius dalam
legenda masyarakat Ambon, Maluku, Indonesia. Namun, tokoh ini sering muncul
ketika hujan turun dengan lebat dan disertai cuaca panas. Menurut kepercayaan
masyarakat setempat, jika terjadi keadaan demikian, maka mereka tidak berani keluar
rumah karena Nenek Luhu akan mengambil siapa saja yang ditemuinya, terutama
anak-anak. Siapa sebenarnya Nenek Luhu itu? Berikut kisahnya.
* **
Pada zaman penjajahan Belanda, ada sebuah negeri yang bernama Luhu. Negeri itu
terletak di Pulau Seram, Maluku. Negeri Luhu adalah negeri yang kaya dengan hasil
cengkeh. Negeri yang jumlah warganya tidak terlalu banyak itu diperintah oleh Raja Gimelaha
Luhu Tuban atau yang lebih dikenal dengan nama Raja Luhu. Sang Raja mempunyai
permaisuri bernama Puar Bulan dan seorang putri bernama Ta Ina Luhu yang cantik
jelita. Ta Ina Luhu berarti anak perempuan dari Luhu atau Putri Negeri Luhu atau
Puteri Luhu. Ia adalah anak sulung sang raja yang memiliki perangai yang baik, yaitu penurut, berbudi pekerti luhur,
rajin beribadah, mandiri, serta sayang kepada seluruh keluarganya. Selain Ta Ina Luhu, Raja Luhu mempunyai dua
orang putra, yaitu Sabadin Luhu dan Kasim Luhu.
Suatu ketika, kabar tentang kekayaan Negeri Luhu di Pulau Seram terdengar oleh penjajah Belanda yang
berkedudukan di Ambon. Mendengar kabar tersebut, Belanda berniat untuk menguasai pulau itu. Dengan
persenjataan lengkap, Belanda menyerang Negeri Luhu. Raja Luhu dan pasukannya berusaha untuk mengadakan
perlawanan sehingga peperangan pun tak terelakkan. Perang itu dikenal dengan nama Perang Pongi, dan ada juga
yang menyebutnya Perang Huamual. Dalam pertempuran itu, penjajah Belanda berhasil menguasai Negeri Luhu.
Raja Luhu berserta keluarga dan seluruh rakyatnya tewas. Satu-satunya orang yang selamat ketika itu adalah putri
raja, Ta Ina Luhu. Namun, ia ditangkap dan dibawa oleh penjajah Belanda ke Ambon untuk dijadikan istri panglima
perang Belanda.
Setibanya di Benteng Victoria, Ambon, Ta Ina Luhu menolak untuk dijadikan istri oleh panglima perang Belanda.
Akibatnya, ia pun diperkosa oleh sang panglima. Putri cantik yang malang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Namun,
karena tidak ingin terus-terusan diperlakukan tidak senonoh oleh panglima itu, Ta Ina Luhu selalu berpikir keras
untuk mencari cara agar keluar dapat dari Kota Ambon.

Suatu malam, Ta Ina Luhu berhasil mengelabui tentara Belanda sehingga ia dapat melarikan diri dari kota Ambon.
Ia berjalan menuju ke sebuah Negeri yang bernama Soya. Di negeri itu, ia disambut baik oleh Raja Soya. Bahkan,
ia kemudian dianggap sebagai keluarga istana Soya. Ia diberi kamar tidur yang bagus dan indah. Atas sambutan
tersebut, Ta Ina Luhu sangat terharu karena teringat ketika ia dulu menjadi putri di negerinya. Tak terasa, air
matanya menetes membasahi kedua pipinya. Wajah kedua orangtua dan adik-adiknya kembali terbayang di
hadapannya. Ta Ina Luhu sangat merindukan keluarganya tersebut.
“Ayah, Ibu! Adikku, Sabadin dan Kasim! Beta sangat merindukan kalian. Beta hanya bisa berdoa semoga kalian
hidup tenang di alam sana!” Setelah beberapa bulan tinggal di dalam istana Soya, Ta Ina Luhu diketahui hamil.
Keadaan demikian membuatnya semakin merasa berat tinggal di istana karena tentu akan semakin merepotkan
keluarga Raja Soya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk meninggalkan istana.
“O, Tuhan! Beta tidak mempunyai keluarga lagi di dunia ini. Tapi, kehadiran beta di tempat ini hanya akan
merepotkan keluarga Raja Soya. Beta harus pergi dari istana ini. Berilah beta petunjuk-Mu, Tuhan!” pinta Ta Ina
Luhu.
Pada suatu malam, saat suasana di dalam istana sudah sepi, Ta Ina Luhu mengendap-endap berjalan menuju ke
pintu belakang istana sambil mengawasi keadaan sekelilingnya. Rupanya, ia benar-benar ingin pergi dari istana
secara diam-diam. Ia sengaja tidak memberitahukan kepergiannya kepada keluarga Raja Soya karena sudah tentu
mereka tidak akan mengizinkannya. Setelah sampai di halaman belakang istana, ia melihat ada seekor kuda
sedang ditambatkan di bawah sebuah pohon. Kuda itu adalah milik Raja Soya yang biasa dipakai ketika akan
menghadap Gubernur Ambon. Dengan hati-hati, Ta Ina Luhu naik di atas punggung kuda itu. Sebelum
meninggalkan negeri itu, sang putri berbisik dalam hati.
“Maafkan beta, Baginda! Maafkan beta, wahai seluruh keluarga istana! Kalian sungguh baik hati kepada beta. Tapi,
beta terpaksa harus pergi karena beta tidak ingin merepotkan kalian. Relakanlah beta pergi dan kalian jangan
mencari beta lagi!”

begitu ia akan memacu kudanya. ketika ia ingin berhenti hendak mengambilnya. Sejak peristiwa itu. akhirnya ia menemukan sebuah mata air.Setelah itu.” ucap Ta Ina Luhu dengan kagum. Ta Ina Luhu berniat untuk kembali ke puncak Gunung Nona dengan melalui jalan yang berbeda agar tidak bertemu dengan para pengawal Raja Soya. tiba-tiba ia mendengar suara orang yang memanggilnya dari jauh. sang putri tiba-tiba terjatuh dari kudanya hingga tak sadarkan diri. Ketika salah seorang pengawal akan menarik tangannya. ia segera meninggalkan tempat itu. Usai berucap demikian. Ia menyusuri hutan belantara yang sepi dan mencekam. Putri Ta Ina Luhu…! Kembalilah… Baginda Raja Soya sedang menunggumu!” Ta Ina Luhu pun segera naik ke atas kudanya hendak melarikan diri. Hanya saja. ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa lelah yang begitu berat setelah menempuh perjalanan jauh. penduduk Ambon sering diganggu oleh sesosok makhluk halus. Ta Ina Luhu terus menelusuri pantai Amahusu hingga akhirnya sampai ke Ambon. topi yang dikenakannya diterbangkan angin. Biarkanlah beta hidup sendirian!” pinta Ta Ina Luhu. hingga saat ini tak seorang pun yang tahu mengapa Nenek Luhu suka mengganggu orang. Dalam keadaan terdesak. Mereka hanya terperangah menyaksikan peristiwa ajaib itu. perlahan-lahan sang putri berusaha bangkit dan berdiri di samping kudanya. Namun. Putri…. Jika hujan turun bersamaan dengan cuaca panas. Pemandangan itu sejenak mengobati luka-lara sang putri. rombongan itu kemudian menamakan tempat itu “Gunung Nona”. Karena begitu kencangnya. Demikian pula dengan kuda tunggangannya. seringkali ada warga—terutama anak- anak—yang hilang. ia kembali sadar. mereka tidak berhasil menemukan sang putri kecuali kulit jambu bekas sisi-sisa makanan sang putri. Tuhan! Tolonglah beta ini! Beta tidak mau kembali ke istana Soya. Setelah sejenak beristirahat di tempat itu. sebagian rombongan pengawal Raja Soya tiba di tempat itu. topi itu tiba-tiba menjelma menjadi sebuah batu. Akhirnya. tiba-tiba rombongan Raja Soya datang menghadangnya. Tumbuh sang putri tampak begitu lemah karena lapar dan haus. Ta Ina dan Luhu segera meminum air dari mata air tersebut dengan sepuasnya. “Oh. “Putri…. Rupanya. Setelah beberapa jauh berjalan mencari air minum. Konon. sang putri pun berhenti. mata air itu dinamakan “Air Putih”. Namun. makhluk halus yang suka mengambil anak-anak tersebut adalah penjelmaan dari Ta Ina Luhu. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Oleh karena itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat. Ia sangat takjub melihat pemandangan Teluk Ambon yang sungguh mempesona. Ta Ina Luhu segera turun dari kudanya seraya berlutut memohon kepada Tuhan agar rombongan itu tidak membawanya pulang ke istana Soya. Ketika hari menjelang siang. Konon. Sementara itu. terutama anak-anak. Sejak itu pula. Negeriku! Keindahanmu sungguh mempesona. Setibanya di sana. Tak begitu lama setelah kepergiannya. ketika hendak beranjak dari tempat itu. Ia pun sadar bahwa orang-orang tersebut pastilah para pengawal Raja Soya yang datang mencarinya. Tak berapa lama kemudian. tiba-tiba Ta Ina Luhu menghilang secara gaib. Rombongan pengawal tersebut pun tersentak kaget. Menurut cerita. Ta Ina Luhu yang sedang mengandung itu segera pergi sebelum ada warga istana yang melihatnya. Meskipun suasana malam terasa sangat dingin. Putri Raja Luhu itu terus memacu kuda yang ditungganginya menuju ke puncak gunung. Beta tidak mau merepotkan orang lain. Batu itu kemudian diberi nama “Batu Capeu”. tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang memanggilnya. Ta Ina Luhu terus memacu kudanya menuruni lereng gunung itu menuju ke pantai Amahusu. Ta Ina Luhu dipanggil dengan sebutan Nenek Luhu. Ta Ina Luhu masih berada di puncak gunung. “Oh. .