Anda di halaman 1dari 47

PERATURAN DIREKTUR PT.

HATI MULIA SEJAHTERA
NOMOR …. TAHUN 2016

TENTANG

KETENAGAKERJAAN
RUMAH SAKIT HATI MULIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DIREKTUR PT. HATI MULIA SEJAHTERA

Menimbang: a. bahwa dalam rangka optimalisasi pengelolaan ketenagakerjaan di
Rumah Sakit Hati Mulia, dan guna menjamin efektivitas, efisiensi,
dan profesionalsisme kerja dan pelayanan kesehatan, maka
dipandang perlu menetapkan peraturan ketenagakerjaan;
b. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimasud huruf a
diatas, perlu menetapkan Peraturan Direktur PT. Hati Mulia
Sejahtera tentang Ketenagakerjaan Rumah Sakit Hati Mulia.
Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang Pembentukan
Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I
Sulawesi Utara Tengah (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor
151, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2102) jo.
Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun
1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan
Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan mengubah
Undang-undang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang Pembentukan
Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah dan Daerah Tingkat I
Sulawesi Selatan Tenggara menjadi Undang-undang (Lembaran
Negara Tahun 1964 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2687);
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003
tentang Ketenaga Kerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4279);

1

3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100 ;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495) ;
4. Undang-undang Nomor Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 153;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5072);
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor Kep.100/MEN/VI/2004 tentang Ketentuan
Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu;
6. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor Kep. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja
Lembur dan Upah Kerja Lembur;
7. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor Kep. 233 /MEN/2003tentang Jenis dan Sifat
Pekerjaan yang Dijalankan Secara Terus Menerus.

DIREKTUR PT. HATI MULIA SEJAHTERA

MEMUTUSKAN

Menetapkan : Peraturan tentang Ketenagakerjaan Rumah Sakit Hati Mulia.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Pengertian
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
(1) Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja;
(2) Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri
maupun untuk masyarakat;
(3) Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan
dalam bentuk lain;
(4) Perusahaan adalah Perseroan Terbatas (PT) Hati Mulia Sejahtera,
berkedudukan di Kota Kendari, berkantor di Jalan Donald Isaac Panjaitan Nomor
243, berdasarkan Akta Pendirian Pendirian PT. Hati Mulia Sejahtera Nomor 05
tanggal 02 Desember 2014, yang dibuat oleh Armansyah, SH Notaris di Kota
Kendari;

2

(5) Pemegang Saham adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah
memiliki saham di perusahaan, sehiingga para pemegang saham adalah pemilik
dari perusahaan;
(6) Rapat Umum Pemegang Saham atau disingkat RUPS adalah organ
perusahaan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan dan
memegang segala kewenangan yang tidak diserahkan kepada Direktur
Perusahaan;
(7) Direktur Perusahaan adalah Direktur PT. Hati Mulia Sejahtera;
(8) Rumah Sakit selanjutnya disebut Rumah Sakit adalah Rumah Sakit Hati
Mulia;
(9) Direktur Rumah Sakit adalah Direktur Rumah Sakit Hati Mulia;
(10) Bidang Administrasi dan Keuangan adalah bidang yang menagangi urusan
ketenagakerjaan di Rumah Sakit;
(11) Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan adalah Kepala Bidang
Administrasi dan Keuangan Rumah Sakit Hati Mulia.

Pasal 2
Kedudukan Peraturan Ketenagakerjaan
(1) Peraturan ini berkedudukan sebagai peraturan perusahaan yang mengatur
ketenagakerjaan di lingkungan Rumah Sakit Hati Mulia;
(2) Peraturan ini berisi himpunan ketentuan untuk mengatur penyelenggaraan
hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan;
(3) Pelaksanaan peraturan ini sebagian masih memerlukan petunjuk teknis
pelaksanaan, maka akan dijabarkan secara teknis melalui peraturan atau
keputusan Direktur Perusahaan dan atau peraturan atau keputusan Direktur
Rumah Sakit Hati Mulia, yang disesuaikan dengan kebutuhan, dan dapat diubah
(addendum) sewaktu-waktu dengan menyesuaikan pada dinamika peraturan
perudang-undangan, kebutuhan dan kemampuan perusahaan, serta situasi dan
kondisi perusahaan dan pekerja;
(4) Peraturan dan atau keputusan sebagaimana dimaksud ayat (3) di atas, wajib
mengacu dan tunduk kepada peraturan ketenagakerjaan ini, serta tidak
bertentangan dengan Undang-undang Ketenagakerjaan;
(5) Perubahan peraturan dan atau keputusan sebagaimana dimaksud ayat (3) di atas,
sah bila mendapat persetujuan tertulis dari Pemegang Saham;
(6) Perubahan, penyebaran, dan pengawasan pelaksanaan peraturan ini menjadi
tanggung jawab Direktur Perusahaan;
(7) Proses perubahan, penyebarluasannya, dan pengawasan menjadi tanggung jawab
Direktur Rumah Sakit melalui Bidang Administrasi dan Keuangan;

Pasal 3
Tujuan Peraturan Ketenagakerjaan
3

Peraturan Ketenagakerjaan Rumah Sakit ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut:
(1) Agar setiap tenaga kerja dapat mengetahui persyaratan dan tata tertib kerja yang
berlaku di Rumah Sakit;
(2) Agar setiap tenaga kerja memahami segala aspek yang terdapat dalam hubungan
kerja antara pekerja, rumah sakit, dan perusahaan, utamanya mengenai hak dan
kewajiban, guna mewujudkan keserasian antara peningkatan produktivitas kerja
dengan kesejahteraan pekerja;
(3) Agar setiap tenaga kerja menghayati dan melaksanakan peraturan
ketenagakerjaan yang berlaku di Rumah Sakit, guna mencegah dan atau
meminimalisir terjadinya pelanggaran.

Pasal 4
Status Tenaga Kerja
(1) Status tenaga kerja di Rumah Sakit, terdiri dari:
a. Tenaga kerja tetap;
b. Tenaga kerja tidak tetap, yeng terdiri dari:
1) Tenaga kerja pada masa percobaan;
2) Tenaga kerja harian lepas;
3) Tenaga kerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
(2) Tenaga kerja di Rumah Sakit berdasarkan fungsinya, terdiri dari:
a. Tenaga medis, yaitu dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi
spesialis;
b. Tenaga keperawatan, yaitu perawat dan bidan;
c. Tenaga penunjang medis, terdiri dari:
1) Tenaga kefarmasian, yaitu apoteker, analis farmasi, dan asisten farmasi;
2) Tenaga kesehatan masyarakat, yaitu epidemiolog kesehatan, entomolog
kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator
kesehatan dan sanitarian;
3) Tenaga gizi, yaitu nutrisionis dan dietisien;
4) Tenaga keterapian fisik, yaitu fisioterapis, okupasiterapis dan terapis
wicara;
5) Tenaga keteknisian medis, yaitu radiografer, radioterapis, teknisi gigi,
teknisi elektro medis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik
prostetik, teknisi transfuse, dan perekam medis.
d. Tenaga penunjang non medis, yaitu tenaga kerja administrasi, akuntansi,
umum, perlengkapan, keamanan (security), kebersihan (claning service), dan
petugas parkir.

Pasal 5
Tanggung Jawab Perusahaan
(1) Melakukan pembinaan kepada pekerja;
4

menjaga kebersihan. Pasal 6 Tanggung Jawab Pekerja (1) Melaksanakan perintah/pekerjaan yang layak sesuai dengan uraian pekerjaan serta tugas-tugas lainnya sesuai instruksi tertulis maupun lisan dari atasan/pimpinan untuk kepentingan perusahaan. (4) Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya (the right man on the right job). serta disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. (13) Mengenakan tanda pengenal pekerja (ID Card). (8) Mengemukakan saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan melalui atasan/pimpinan ataupun melalui saluran lain yang ditentukan. Apabila terjadi kelalaian yang mengakibatkan kerusakan sebagian atau seluruhnya. ketentuan. (3) Pekerja dalam melakukan pekerjaannya wajib untuk mengikuti peraturan. (2) Mencapai suatu prestasi kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan. keluarga pasien . (10) Menjaga suasana kerja yang tertib. (11) Menghindari tindakan atau ucapan yang bersifat menghina. berpakaian yang sopan dan rapi. dan syarat-syarat yang berlaku. (12) Menghormati atasan/pimpinan langsung maupun tidak langsung. (9) Menjaga nama baik dan citra perusahaan. perusahaan berhak melakukan tindakan berdasarkan ketentuan yang berlaku.(2) Memberikan imbal jasa yang layak atas kinerja yang telah diberikan pekerja kepada perusahaan. (4) Mentaati peraturan internal dan peraturan perundang-undangan tentang ketenagakerjaan. (6) Secara proporsional menyimpan dan menjaga kerahasiaan semua keterangan yang didapat karena jabatannya maupun pergaulannya di lingkungan perusahaan. sesuai dengan peraturan perusahaan. (14) Memberikan data yang sebenarnya guna melengkapi keterangan mengenai dirinya dan melaporkan segala perubahan kepada perusahaan melaui Bidang Administrasi dan Keuangan. sesama pekerja. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pengunjung atau tamu lainnya yang dijumpai di tempat kerja. celaan dan mengancam atasan atau sesama pekerja. Dalam hal pekerja tidak memberikan keterangan yang sebenarnya maupun perubahannya. (7) Menjaga barang-barang milik perusahaan yang digunakan atau dipercayakan kepadanya. maka perusahaan tidak bertanggung 5 . (5) Memberikan keterangan yang lengkap dan benar mengenai pekerjaan kepada perusahaan yang terkait dengan bidang tugasnya. pasien. menjalankan etika ketenagakerjaan serta menjaga norma-norma kesusilaan. (3) Memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan pekerja.

harus sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan. karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan dengan hukuman lebih dari 5 (lima) tahun. ditambahkan #Pak Herman Lengkapi Pasal 9 Pengangkatan dan Penempatan (1) Calon pekerja tetap dan tidak tetap yang dinyatakan diterima. g. sebaliknya bila mengakibatkan kerugian bagi perusahaan maka sanksi dapat dikenakan kepada pekerja yang bersangkutan. maka terlebih dahulu 6 .sertifikat lain yang menunjang. sebelum diangkat sebagai pekerja dan menandatangani surat perjanjian kerja. c. h. perawat. b. keperawatan. b. d. BAB II PENERIMAAN. Fotocopy Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga yang masih berlaku (bagi yang telah berkeluarga). Lulus seleksi penerimaan tenaga kerja di Rumah Sakit. dan non medis. d. f. Surat referensi kerja atau pengalaman kerja bagi yang pernah bekerja. Pasal 8 Persyaratan Penerimaan Tenaga Kerja (1) Persyaratan umum meliputi : a. dan promosi tenaga kerja medis. Persyaratan dokter. (2) Persyaratan administrasi yang harus dilengkapi meliputi: a. c. mutasi. Persyaratan lain sesuai kebutuhan kualifikasi posisi jabatan. Surat Lamaran. Tidak pernah diberhentikan dengan tidak hormat baik sebagai pekerja negeri maupun sebagai pekerja/buruh swasta. Pas photo berwarna latar belakang biru muda ukuran 4 X 6. yang ditetapkan secara ad hoc oleh perusahaan. e. bidan. Fotocopy Surat keterangan catatan dari Kepolisian. Warga Negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. penempatan. penunjang medis.. dua buah. PENGANGKATAN. Fotocopy ijazah dan transkrip akademik terakhir (dilegalisir) e. Fotocopy sertifikat. PENEMPATAN TENAGA KERJA Pasal 7 Penerimaan Proses penerimaan.…. Tidak pernah dihukum berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. jawab atas kerugian-kerugian yang dialami pekerja akibat hal tersebut.

diangkat sebagai pekerja dalam masa percobaan paling lama 3 (tiga) bulan yang diberitahukan secara tertulis kepada pekerja yang bersangkutan. Grade 9 bagi dokter spesialis dan dokter gigi spesialis. Pasal 11 Pengangkatan Pertama (1) Grade yang di berikan pada pengangkatan pertama bagi tenaga medis yaitu: a. perusahaan akan memberitahukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum kontrak kerja berakhir. Apabila tidak akan diperpanjang. (2) Pekerja tidak tetap diangkat oleh Direktur Perusahaan dengan Surat Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dalam waktu 1 (satu) tahun. sejak pekerja melaksanakan penugasannya. (4) Pembinaan dan evaluasi kinerja dilakukan oleh Direktur Rumah Sakit. (3) Selama masa percobaan baik perusahaan maupun pekerja dapat memutuskan hubungan kerja. 7 . dan hasil penilaian dilaporkan kepada Direktur Rumah Sakit. (4) Pemutusan hubungan kerja kerena pekerja mengundurkan diri tidak diberikan uang pesangon oleh perusahaan. (2) Grade yang di berikan pada pengangkatan pertama bagi tenaga keperawatan. harus dilakukan pemeriksaan keaslian surat-surat keterangan yang diajukan oleh calon pekerja. Grade 8 bagi dokter dan dokter gigi. (2) Penilaian selama masa percobaan dilakukan oleh atasan langsung. b. ditempatkan pada unit kerja sesuai kebutuhan. dengan pemberitahuan sekurang-kurangnya 2 (dua) hari sebelum pemutusan hubungan kerja. dan penunjang non medis. sampai dengan 2 (dua) kali perpanjangan. dapat diperpanjang 1 (satu) tahun sesuai kebutuhan dan evaluasi kinerja bersangkutan. Pasal 10 Masa Percobaan (1) Setiap calon tenaga kerja sebelum diangkat sebagai pekerja tetap. penunjang medis. kecuali upah yang belum dibayarkan sesuai dengan jumlah hari masuk kerja pada bulan berjalan. dan diberikan penugasan sesuai bidang keahlian dan pengalaman yang dimiliki. (3) Pekerja tetap dan tidak tetap yang telah diangkat oleh Direktur Perusahaan. yaitu sesuai dengan pasal 12 peraturan ini. (5) Pekerja yang telah melalui masa percobaan dapat diangkat menjadi pekerja tidak tetap dengan perjanjian kerja waktu tertentu dan kemudian dapat diangkat menjadi pekerja tetap sesuai denga Undang-undang ketenagakerjaan.

dengan upah pokok sebesar 50% dari Upah Minimum Provinsi. Grade 3 (Junior Staf): pendidikan maksimal SLTP + pengalaman kerja minimal 4tahun: pendidikan maksimal SLTA + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal D1 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. Pasal 12 Grade (1) Grade adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seorang pekerja di Rumah Sakit dalam rangkaian susunan ketenagakerjaan dan digunakan sebagai dasar pengupahan. dengan upah pokok sebesar 60% dari Upah Minimum Provinsi. (2) Susunan grade dan upah pokok pekerja di Rumah Sakit adalah sebagai berikut: a. g. d. j. dengan upah pokok sebesar 100% dari Upah Minimum Provinsi. Grade 6 (Junior Manager/Kasubid) : pendidikan maksimal D2 + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal D3 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal D4 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. Grade 9 (General Manager/Kabid) : pendidikan maksimal S1 + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal S2 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal S3 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. dengan upah pokok sebesar 120% dari Upah Minimum Provinsi. dengan upah pokok sebesar 130% dari Upah Minimum Provinsi. e. Grade 10 (General Manager): pendidikan maksimal S1 + pengalaman kerja minimal 6 tahun: pendidikan maksimal S2 + pengalaman kerja minimal 4 8 . dengan upah pokok sebesar 70% dari Upah Minimum Provinsi. f. Grade 8 (Senior Manager/Kasubid) : pendidikan maksimal D4 + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal S1 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal S2 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. Grade 1 (Non Staf) : pendidikan maksimal SLTP + pengalaman kerja 0 tahun. dengan upah pokok sebesar 90% dari Upah Minimum Provinsi. c. b. dengan upah pokok sebesar 80% dari Upah Minimum Provinsi. dengan upah pokok sebesar 110% dari Upah Minimum Provinsi. Grade 5 (Senior Staf) : pendidikan maksimal D1 + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal D2 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal D3 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. h. Grade 4 (Staf) : pendidikan maksimal SLTA + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal D1 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal D2 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. Grade 7 (Manager/Kasubid) : pendidikan maksimal D3 + pengalaman kerja minimal 4 tahun: pendidikan maksimal D4 + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal S1 + pengalaman kerja minimal 0 tahun. i. Grade 2 (Senior Non Staf) : pendidikan maksimal SLTP + pengalaman kerja minimal 2 tahun: pendidikan maksimal SLTA + pengalaman kerja minimal 0 tahun.

dengan upah pokok sebesar 150% dari Upah Minimum Provinsi. adalah yang dikeluarkan oleh sekolah/perguruan tinggi yang terakreditasi. l. setinggi-tingginya sampai dengan grade 4. Ijasah Sarjana (S2) atau sederajat. Ijasah Sarjana (S1) atau sederajat. tahun: pendidikan maksimal S3 + pengalaman kerja minimal 2 tahun. k. d. Grade 11 (Senior General Manager/Direktur): pendidikan maksimal S2 + pengalaman kerja minimal 6 tahun: pendidikan maksimal S3 + pengalaman kerja minimal 4 tahun. kecuali yang diangkat dalam jabatan direktur setinggi-tingginya sampai dengan grade 11. setinggi-tingginya sampai dengan grade 8. (4) Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) dan ijasah atau yang ditetapkan sederajat dengan ijasah. Ijasah Diploma IV atau sederajat. f. b. Ijasah Sarjana (S3) atau sederajat. (3) Pekerja yang telah menjalankan masa percobaan. Ijasah Diploma I atau sederajat. kecuali yang diangkat dalam jabatan direktur setinggi- tingginya sampai dengan grade 12. Grade 12 (Direktur): pendidikan maksimal S2 + pengalaman kerja minimal 8 tahun: pendidikan maksimal S3 + pengalaman kerja minimal 4 tahun. setinggi-tingginya sampai dengan grade 10. yang pengangkatan pertamanya memiliki: a. h. e. Ijasah Diploma III atau sederajat. i. (6) Batas kenaikan grade reguler bagi tenaga kerja medis yaitu: a. Ijasah Diploma II atau sederajat. b. setinggi-tingginya sampai dengan grade 3. setinggi-tingginya sampai dengan grade 9. dengan upah pokok sebesar 160% dari Upah Minimum Provinsi. 9 . diangkat menjadi pekerja tidak tetap dan atau pekerja tetap dalam grade dan atau jabatan tertentu sesuai dengan tingkat pendidikan dan masa kerja. Ijasah SLTA atau sederajat. penunjang medis. (7) Batas kenaikan grade reguler bagi tenaga kerja keperawatan. Dokter spesialis adan Dokter Gigi Sepesialis setinggi-tingginya sampai dengan grade 11. setinggi-tingginya sampai dengan grade 5. g. setinggi-tingginya sampai dengan grade 6. (5) Khusus bagi lulusan S2/S3 dari luar negeri. dan penunjang non medis. apabila setiap aspek penilaian kinerja sekurang-kurangnya bernilai baik. c. Ijasah SLTP atau sederajat. dengan upah pokok sebesar 140% dari Upah Minimum Provinsi. setinggi-tingginya sampai dengan grade 11. setinggi-tingginya sampai dengan grade 7. ijazahnya harus mendapat legalisasi dari DIKTI. Dokter dan Dokter Gigi setinggi-tingginya sampai dengan grade 10.

2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) tahun sesuai kebutuhan. 4 (empat) digit terakhhir adalah nomor urut. 2 (dua) digit berikutnya adalah bulan sejak pekerja yang bersangkutan diangkat baik melalui Surat Keputusan atau Surat Perjanjian Waktu Tertentu. sebagaimana ditetapkan dalam surat perjanjian perjanjian kerja waktu tertentu. diberikan Nomor Induk Karyawan (NIK) oleh perusahaan sebagai identitas tenaga kerja di Rumah Sakit. 2 (dua) digit urutan pertama adalah tahun sejak pekerja yang b b. (3) Hak dan kewajiban pekerja tidak tetap ditetapkan dalam surat perjanjian kerja waktu tertentu yang disepakati dan ditanda tangani oleh Direktur Perusahaan sebagai pemberi kerja dan pekerja sebagai penerima kerja. (2) Pada prinsipnya ketentuan jam kerja di Rumah Sakit adalah 40 (empat puluh) jam dalam seminggu. Pasal 14 Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (1) Penerimaan tenaga kerja tidak tetap dilakukan dengan sistem perjanjian kerja waktu tertentu.d Sabtu: 10 . tanpa ada kewajiban apapun dari pihak perusahaan. d. Pasal 15 Hari dan Jam Kerja (1) Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit adalah pekerjaan yang menurut jenis dan sifatnya harus dilaksanakan dan dijalankan secara terus menerus. setelah melalui prosedur dan persyaratan penerimaan pekerja sesuai pasal 7 dan 8 peraturan ini. (6) Hubungan kerja berakhir karena mengundurkan diri dan atau pemutusan hubungan kerja dilaksanakan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) tahun sesuai kebutuhan. b. (5) Hubungan kerja berakhir dengan berakhirnya masa kesepakatan kerja. (2) NIK hanya berlaku selama pekerja yang bersangkutan menjadi tenaga kerja di Rumah Sakit. dengan uraian sebagai berikut: a. (4) Pekerja tidak tetap wajib mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di Rumah Sakit. ersangkutan diangkat baik melalui Surat Keputusan atau Surat Perjanjian Waktu Tertentu. Senin s. c. (2) Jangka waktu perjanjian kerja waktu tertentu pekerja tidak tetap adalah : a. (3) NIK dinyatakan dalm 8 digit denagn rincian sebagai berikut: a. Pasal 13 Nomor Induk Karyawan (1) Pekerja yang telah diangkat baik melalui Surat Keputusan atau Surat Perjanjian Waktu Tertentu.

00 s. dan penunjang non medis.00 wita (malam).00 s.00 s.d Kamis dan Sabtu mulai yaitu pukul 12. Bidang Administrasi dan Keuangan bertanggung jawab dalam kelancaran dan ketertiban pelaksanaan kegiatan rekrutmen dan atau seleksi.00 Wita.Malam mulai yaitu pukul 22. 19. Sub Bidang Sumber Daya Manusia/Kepegawaian bertanggung jawab dalam kelancaran dan ketertiban pelaksanaan kegiatan rekrutmen & seleksi. BAB III HUBUNGAN KERJA DAN PEMBERDAYAAN PEKERJA Pasal 17 Hubungan Kerja (1) Mutasi Pekerja a. . (3) Ketentuan tentang jam kerja bagi tenaga kerja medis diatur lebih lanjut oleh Direktur Rumah Sakit. penunjang medis.00 Wita. setelah melalui persetujuan Direktur Perusahaan. (2) Direktur Perusahaan. Waktu istirahat Jum’at mulai yaitu pukul 11. b.d 20.00 Wita.d 22.30 s.00 s. Waktu istirahat Senin s. (4) Dalam rangka pelaksanaan penerimaan tenaga kerja medis. yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit.d 13.penegakan disiplin pekerja.00 Wita (siang).Pagi mulai pukul 08. dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan dalam pembiayaan.d 13. perusahaan berwenang untuk menempatkan.00 s. dan mengalih tugaskan pekerja dari satu posisi ke posisi lainnya baik dalam satu maupun lintas unit kerja. .d 08. dan khusus pekerja yang bertugas malam s. b.d 15. .d pagi menyesuaikan. 11 . (3) Direktur Perusahaan berwenang menetapkan pengangkatan pekerja tetap dan tidak tetap berdasarkan usulan Direktur Rumah Sakit sesuai hasil penyaringan/seleksi. memberikan persetujuan atau penolakan terhadap penambahan tenaga kerja. c. Penempatan dan perpindahan tersebut dilakukan dengan memperhatikan: . Untuk pendayagunaan pekerja. memindahkan. Pasal 16 Wewenang dan Tanggung Jawab Penerimaan Pekerja (1) Perusahaan menyusun rencana kebutuhan tenaga kerja berdasarkan usulan dari Direktur Rumah Sakit.Siang mulai yaitu pukul 15. (5) Pada pelaksanan penerimaan tenaga kerja keperawatan.00 Wita (siang).

. pembinaan. . .kebutuhan pekerjaan di unit kerja tertentu. 12 . pekerja dapat ditugasi untuk menempati posisi/jabatan tertentu yang bersifat sementara dan dilakukan untuk jangka waktu tertentu. setelah melalui seleksi yang dilaksanakan oleh Bidang Administrasi dan Keuangan. c. . evaluasi. . kejujuran. . . memiliki jasa yang dinilai sangat memuaskan. yang dituangkan dalam kontrak kinerja. berdasarkan usulan dari Direktur Rumah Sakit. Perusahaan melalui Direktur Rumah Sakit melaksanakan Manajemen Kinerja (Performance Management System) yang dilakukan setiap tahun kepada seluruh pekerja. Promosi diusulkan oleh atasan langsung dari pekerja yang memiliki prestasi kerja dan atau potensi/kemampuan untuk pengembangan lebih lanjut. Promosi disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit yang selanjutnya menjadi rencana pemberdayaan pekerja yang diusulkan kepada Direktur Perusahaan. b. (4) Demosi a. loyalitas. Tahap dalam Manajemen Kinerja (Performance Management ) yang diterapkan meliputi perencanaan kerja. (2) Promosi a. pemberian kesempatan pada setiap pekerja agar mendapatkan wawasan dan pengalaman.Pekerja memiliki tingkah laku. (3) Penugasan Sementara (Temporary Assignment) Sesuai dengan kebutuhan perusahaan. (5) Manajemen Kinerja (Performance Management ) a. b. dan telah mendapat persetujuan dari Direktur Perusahaan. b. Promosi pekerja ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit. Perusahaan berhak melakukan demosi atau penurunan jabatan dan atau grade setingkat lebih rendah karena: .Pekerja kurang mampu atau tidak memiliki kecakapan meskipun telah dibina dan diberikan tenggang waktu yang cukup. serta ada formasi yang dapat diisi olehnya.Pekerja melakukan tindakan indisipliner. dan rasa tanggung jawab yang tidak patut/sepadan dengan jabatan dan atau grade yang dipangkunya meskipun telah diberikan peringatan. peningkatan kinerja dan kompetensi. Persetujuan demosi pekerja diberikan oleh Direktur Perusahaan.pengurangan pekerjaan pada satu unit kerja dan bertambahnya pekerjaan pada unit kerja lain. terjadinya perubahan struktur organisasi. dan penilaian kinerja. atas penilaian atasan dari pekerja bersangkutan. baik dalam satu maupun lintas unit kerja.

tenaga penunjang medis. c. Jabatan struktural terdiri dari Direktur. (2) Jabatan Struktural: a. Komite Keperawatan. Kepala Sub Bidang. c. tenaga penunjang medis. Diutamakan berstatus sebagai pekerja tetap. Serendah-rendahnya memiliki grade 1 (satu) tingkat di bawah jenjang jabatan yang ditentukan dengan sebutan Pejabat Sementara. sesuai dengan syarat- syarat jabatan. Kepada pemegang jabatan fungsional diberikan tunjangan yang besarnya sesuai dengan kemampuan perusahaan. tanggung jawab. Memenuhi kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan. serta Komite Etik dan Hukum. tenaga keperawatan. Komite Medis. b. d. pelaksanaannya diatur lebih teknis melalui Peraturan Direktur Rumah Sakit. Jabatan fungsional terdiri dari Satuan Pengawas Internal. dan Kepala Sub Seksi. Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas. Jabatan struktural dijabat oleh tenaga medis. d. Kepala Seksi. wewenang dan hak seorang pekerjan yang melaksanakan tugas medis. Jabatan struktural. Kepala Bidang. Penilaian kinerja berkaitan dengan sistem rewads and punishment serta program pelatihan & pengembangan. wewenang. Jabatan fungsional dijabat oleh tenaga medis. b. Pasal 18 Jenis Jabatan (1) Jenis Jabatan terdiri atas: a. c. sesuai dengan syarat- syarat jabatan. dan tanggung jawab serta hak seorang pekerja dalam rangka memimpin suatu satuan unit kerja. dan tenaga penunjang non medis. b. 13 . penunjang medis. Pasal 19 Syarat Jabatan (1) Persyaratan Umum Penempatan dalam jabatan struktural dan fungsional didasarkan atas penilaian terhadap calon pejabat yang meliputi persyaratan umum sebagai berikut: a. Jabatan Struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas. dan penunjang non medis. (3) Jabatan Fungsional: a. keperawatan. dan tenaga penunjang non medis. Kepada pemegang jabatan struktural diberikan tunjangan yang besarnya sesuai dengan kemampuan perusahaan. Jabatan fungsional. tenaga keperawatan. c. b.

(4) Pejabat Pelaksana Harian a. minimal selama 1 (satu) bulan. Mempunyai penilaian prestasi kerja yang baik minimal 1 (satu) tahun terakhir. Pejabat rangkap ditetapkan dengan surat tugas dari pejabat yang berwenang. c. Kepadanya diberikan tunjangan jabatan yang tertinggi. Memiliki kesetiaan pada Pancasila. maksimal selama 1 (satu) tahun. d. h. k. d. Pejabat pelaksana harian (PLH) adalah status jabatan untuk melaksanakan tugas jabatan sehari-hari karena pejabat tetap/definitif yang bersangkutan berhalangan sementara. Peraturan perundang- undangan yang berlaku. 14 . Pejabat tetap adalah status pejabat yang telah bersifat tetap/definitif karena dijabat oleh pekerja yang telah memenuhi seluruh syarat jabatan yang ditentukan. pekerja dapat diberi tugas rangkap. Sehat jasmani dan rohani. Memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan. UUD 1945. apabila terjadi rangkap jabatan. b. c. (3) Pejabat Rangkap a. f. i. b. Memiliki keimanan dan ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa. termasuk peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan. Tidak menjadi pekerja/pekerja tetap pada perusahaan lain. Apabila diperlukan. wewenang dan tanggung jawab jabatan yang dipangkunya. Ditetapkan dengan surat tugas dari pejabat yang berwenang. d. dengan masa jabatan maksimal selama 1 (satu) tahun. Pejabat sementara (pjs) adalah status pejabat sementara karena pejabat tetap/definitif yang bersangkutan berhalangan tetap minimal selama 1 (satu) bulan atau selama pekerja yang diangkat pada jabatan tersebut belum memenuhi persyaratan jabatan. g. Kepadanya diberikan hanya satu tunjangan jabatan yang tertinggi. (2) Pejabat Sementara a. (2) Persyaratan Khusus Jabatan Struktural dan Jabatan Fungsional diatur lebih lanjut dalam Peraturan Direktur Rumah Sakit. Pasal 20 Status Jabatan (1) Pejabat Tetap a. Kepadanya diberikan tunjangan jabatan. Pjs melaksanakan tugas dan tanggung jawab jabatan sepenuhnya. e. c. j. Diangkat oleh pejabat yang berwenang dengan surat keputusan. Bertanggung jawab penuh terhadap tugas. Memiliki pengabdian yang tinggi kepada perusahaan. Tidak merangkap sebagai unsur pimpinan pada perusahaan lain. b.

Kepadanya diberikan insentif sebesar selisih tunjangan jabatan PLH dengan tunjangan jabatan definitifnya apabila menjabat minimal 1 (satu) bulan. (4) Masa Jabatan fungsional Staf Medis berlangsung selama tenaga medis yang bersangkutan melaksanakan tugas secara aktif di Perusahaan. tetapi apabila masih diperlukan dan masih potensial untuk melaksanakan tugas maka dapat diperpanjang kembali maksimal 2 (dua) tahun. c. PLH melaksanakan tugas dan tanggung jawab jabatan rutin sehari-hari disamping tugas dan tanggung jawab jabatan definitif yang dipangkunya. (4) Batas usia pensiun untuk pejabat struktural dibawah Direktur Rumah sakit adalah 56 (lima puluh enam) tahun. (2) Batas usia pensiun untuk tenga kerja keperawatan. d. 15 . (5) Batas usia pensiun untuk Direktur Rumah Sakit adalah 58 (lima puluh lima) tahun. Pasal 21 Masa Jabatan (1) Masa jabatan struktural dan fungsional sebagaimana diatur dalam hospital bylaws. tetapi apabila masih diperlukan dan masih potensial untuk melaksanakan tugas maka dapat diperpanjang kembali maksimal 2 (dua) tahun. apabila dipandang mampu meningkatkan kemajuan perusahaan. peraturan dan atau keputusan Direktur Perusahaan lainnya dan atau peraturan dan keputusan Direktur Rumah Sakit. Ditetapkan dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. tetapi apabila masih diperlukan dan masih potensial untuk melaksanakan tugas maka dapat diperpanjang kembali maksimal 2 (dua) tahun. dapat diangkat kembali pada jabatan yang sama dan atau jabatan lain yang sederajat atau setingkat lebih tinggi. tetapi apabila masih diperlukan dan masih potensial untuk melaksanakan tugas maka dapat diperpanjang kembali maksimal 2 (dua) tahun. medical staf bylaws. (2) Pejabat struktural dan fungsional dapat diperpanjang dan atau diangkat kembali maksimal 1 (satu) kali masa jabatan. Pasal 22 Masa Penugasan (1) Baik pekerja tetap maupun pekerja tidak tetap pada dasarnya dapat bertugas hingga mencapai batas maksimal usia pensiun. b. tenaga kerja penunjang medis dan penunjang non medis adalah 56 (lima puluh enam) tahun. (3) Pekerja yang sudah 2 (dua) kali masa jabatan dalam satu jabatan tertentu. (3) Batas usia pensiun untuk tenga kerja medis adalah 58 (lima puluh lima) tahun. atas persetujuan Direktur Perusahaan sesuai usulan pejabat yang berwenang.

Kenaikan grade penyesuaian. c. Telah melalui pertimbangan perusahaan dan diusulkan oleh Direktur Rumah Sakit. Sekurang. ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit setelah mendapat persetujuan dari Direktur Perusahaan. Kenaikan grade regular. yang dibuktikan dalam pernyataan tertulis dan diketahui oleh atasan langsung. bukan merupakan hak pekerja. Mendapat izin tertulis untuk melanjutkan studi dari Direktur Rumah Sakit. Bidang studi yang diambil sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan tugas. dengan syarat: a. (4) Kenaikan grade reguler adalah kenaikan grade yang diberikan kepada pekerja tetap yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Pasal 23 Pengangkatan dan Pemberhentian Pejabat (1) Pengangkatan dan pemberhentian Direktur Rumah Sakit ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Perusahaan. (2) Pengankatan dan pemberhentian pejabat struktural dan fungsional di bawah Direktur Rumah Sakit. Tidak mengganggu jam kerja atau pelaksanaan tugas. e.kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Persyaratan dimaksud antara lain : a.kurangnya 2 (dua) tahun dalam grade yang dimilikinya. (3) Proses kenaikan grade ditetapkan pada tanggal 1 Maret dan 1 September. Telah mencapai masa kerja yang ditentukan untuk kenaikan grade. 16 . (2) Jenis kenaikan grade dan jabatan dalam peraturan kepekerjaan ini adalah sebagai berikut : a. apabila telah memenuhi persyaratan dimaksud antara lain: a. (5) Kenaikan grade penyesuaian dapat dimungkinkan dan dipertimbangkan oleh perusahaan bagi pekerja yang telah meyelesaikan pendidikan pada tingkat tertentu. Pasal 24 Kenaikan Grade dan Jabatan (1) Kenaikan grade dan jabatan pada dasarnya merupakan penghargaan dan atau kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan. Kenaikan grade dalam jabatan struktural. Telah menduduki grade terakhir minimal 2 (dua) tahun. b. f. d. tanpa memperhatikan jabatan struktural atau fungsional yang di pangkunya. Penilaian kinerja sekurang. b. Penilaian kinerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. (6) Kenaikan grade dalam jabatan struktural adalah kenaikan pangkat yang diberikan kepada pekerja karena persyaratan pangkat dalam jabatan struktural. c. b.

Penilaian kinerja minimal bernilai baik dalam 2 (dua) tahun terakhir. Pasal 26 Jenis Pemeliharaan (1) Pemeliharaan yang bersifat materiil. yaitu segala sesuatu yang diterima oleh pekerja untuk dapat menumbuhkan motivasi dan semangat pengabdian untuk melaksanakan tugas-tugas dilingkungan perusahaan dengan sebaik-baiknya. Penghasilan. d. (3) Penghasilan tetap adalah sejumlah dana yang diterima oleh pekerja secara tetap pada setiap awal bulan berikutnya sesuai dengan ketentuan. c. norma. c. (2) Pemeliharaan yang bersifat non materiil. Telah melalui pertimbangan perusahaan dan diusulkan oleh Direktur Rumah Sakit. Telah menduduki jabatan struktural yang dimaksud minimal 1 (satu) tahun. Kesejahteraan. b. Pasal 27 Pemeliharaan Materiil Penghasilan (1) Penghasilan diberikan kepada pekerja sebagai imbal jasa atas hasil kerjanya bedasarkan azas keadilan dan profesionalitas pekerja yang bersangkutan. sebagai berikut: a. Penghasilan tetap. dan b. 3) Tunjangan tetap adalah imbal jasa yang terdiri dari tunjangan istri sebesar 5% (lima persen) dan tunjangan anak I (pertama) dan II (kedua) masing- 17 . Bantuan kesejahteraan. agar mampu melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. BAB IV PEMELIHARAAN PEKERJA Pasal 25 Tujuan Pemeliharaan pekerja bertujuan untuk memberikan kesejahteraan jasmani dan rohani kepada pekerja beserta keluarganya. b. yaitu segala sesuatu yang diterima oleh pekerja untuk kebutuhan jasmani antara lain: a. 2) Upah pokok menjadi dasar dalam pemberian tunjangan tetap. dan indeks berlaku. (2) Penghasilan pekerja berdasarkan jenis penghasilan terdiri dari : a. Penghasilan tidak tetap. Upah pekerja tetap meliputi : 1) Upah pokok merupakan pemberian upah sebagai imbal jasa atau penghargaan atas hasil kerja seseorang pekerja berdasarkan jenjang grade.

minimal 3 (dua) jam dalam sehari atau maksimal 14 jam dalam seminggu. yang diberikan setiap bulannya kepada pekerja tetap. Tunjangan jabatan funsional pekerja yang menduduki/melaksanakan tugas jabatan struktural. 8. sebesar 5% (lima persen) dari upah pokok. Uang transport diberikan kepada pekerja sesuai kehadiran kerja. sebesar 5% (lima persen) dari upah pokok. 3) Upah bagi pekerja dalam masa percobaan mulai berlaku pada tanggal bersangkutan secara nyata mulai melaksanakan tugas. d. Uang lembur. 4) Upah kerja lembur adalah sebesar Rp. Tunjangan jabatan stuktural diberikan kepada pekerja yang menduduki/melaksanakan tugas jabatan struktural. kecuali bagi pekerja yang memegang kendaraan dinas. tegantung pada pelaksanaan tugasnya. e. seperti kebakaran. 18 . c. yang besarnya ditetapkan sesuai kesepakatan antara perusahaan dengan pekerja yang bersangkutan. 2) Upah penugasan. diberikan kepada pekerja tidak tetap yang besarnya ditetapkan sesuai kesepakatan antara perusahaan dengan pekerja yang bersangkutan. (4) Penghasilan tidak tetap adalah sejumlah dana yang diterima oleh pekerja secara tidak tetap. 2) Surat Perintah Kerja Lembur harus diterbitkan setidaknya satu jam sebelum pekerjaan lembur dilaksanakan. yang dibayarkan sejak pekerja melaksanakan tugas jabatan struktural berdasarkan Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit.Pekerjaan yang apabila tidak segera diselesaikan akan membahayakan. yang dibayarkan sejak pekerja melaksanakan tugas jabatan struktural berdasarkan Surat Keputusan Direktur. yang besarnya ditetapkan sesuai dengan kemampuan perusahaan.Keadaan darurat. b. Uang jasa diberikan kepada tenaga medis berdasar atas pelayanan medis yang dilakukan tenaga medis di Rumah Sakit sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kerja Tenaga Medis. 3) Pekerja yang melaksanakan pekerjaan lembur wajib melakukan absensi. diberikan dengan ketentuan lembur sebagai berikut: 1) Pelaksanaan kerja lembur harus atas perintah atasan yang berwenang dengan menggunakan Surat Perintah Kerja Lembur resmi tertulis. diberikan kepada pekerja atau pihak lain yang dipekerjakan oleh perusahaan. b. .000. kecuali dalam hal: ./ Jam (delapan ribu rupiah per jam). Upah pekerja tidak tetap meliputi: 1) Upah bulanan. banjir dan lainnya. masing sebesar 2% (dua persen) dari upah pokok. .Pekerjaan yang apabila tidak segera diselesaikan akan mengakibatkan kerugian besar.. sebagai berikut: a.

sakit yang membutuhkan biaya besar. atau suami meninggal dunia. istri. (2) Iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang ditanggung oleh tenaga kerja. (6) Penghentian pembayaran penghasilan dilakukan setelah ada Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit tentang Pemutusan/Pengakhiran Hubungan Kerja (PHK) antara Perusahaan dengan pekerja. (3) Potongan pinjaman/kredit di koperasi atau unit simpan pinjam rumah sakit. (4) Potongan lain-lain yang sah. yang besarnya ditetapkan sesuai dengan kemampuan perusahaan. terdiri dari komponen sebagai berikut: (1) Upah pekerja dibayarkan setelah dipotong pajak penghasilan (PPh Pasal 21) sesuai dengan Peraturan Pajak yang berlaku dan disetorkan pada Kas Negara (Kantor Perbendaharaan Negara) atau Bank yang ditunjuk. b. Bantuan dan atau tunjangan dalam rangka Perayaan Hari Raya Keagamaan sebesar 1 (satu) kali upah pokok. kepada pekerja juga dapat diberikan tunjangan-tunjangan sesuai ketentuan yang berlaku. c. Pasal 30 Upah Selama Sakit 19 . d. Pasal 28 Potongan Potongan Penghasilan adalah potongan wajib yang dikenakan kepada pekerja. tidak diberikan kompensasi rapel. Uang makan harian diberikan kepada pekerja sesuai kehadiran kerja diatas pukul 23. (3) Pekerja yang baru diangkat setelah menjalani masa percobaan. Pasal 29 Upah Bagi Pekerja Baru (1) Upah untuk pekerja baru/pekerja dalam masa percobaan adalah sebesar 80% (delapan puluh persen) dari upah pokok sesuai dengan jenjang grade pekerja yang bersangkutan. (5) Bantuan kesejahteraan diberikan kepada pekerja sebagai berikut: a. anak. dipotong dari upah setiap bulan dan disetorkan ke BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.00. Besarnya bantuan kesejahteraan ditetapkan melalui keputusan Direktur Rumah Sakit setelah mendapat persetujuan Diretur Parusahaan. yang diberikan kepada pekerja yang telah memiliki masa kerja lebih dari 1 (satu) tahun. f. (2) Selain upah pokok. Bantuan bagi pekerja yang mengalami musibah seperti bencana alam.

pekerja yang bersangkutan dikenakan pemutusan hubungan kerja dengan mendapatkan pesangon sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. sebelum PHK dilakukan oleh perusahaan. Untuk selanjutnya setelah melewati waktu sebagaimana ayat (2) huruf a angka 4) di atas. Selama pekerja tidak dapat masuk kerja karena sakit. yang tidak dapat masuk kerja karena sakit. maka perusahaan dapat mengambil tindakan "merumahkan" pekerja. pembayaran akan dilakukan satu hari sebelumnya. (3) Perusahaan mengatur pelaksanaan merumahkan pekerja melalui surat keputusan Direktur Perusahaan pada saat terjadi kondisi seperti tersebut pada ayat (2) di atas. atau dalam perawatan dokter. (4) Besarnya gaji selama pekerja dirumahkan dan diatur dalam perjanjuan kerja sama antara perusahaan dengan pekerja. bencana alam. (2) Perusahaan mempunyai hak prerogatif dalam mengambil tindakan merumahkan pekerja yang dilakukan akibat dari kondisi keuangan yang kurang sehat. Pekerja harian. dan Pekerja dalam masa percobaan. (2) Bilamana hari pembayaran upah tersebut jatuh pada hari minggu atau hari libur besar lainnya. Pasal 32 Waktu Pembayaran Upah (1) Pembayaran upah dilakukan pada setiap minggu I (pertama) bulan berikutnya. b. dirawat di rumah sakit atau dalam perawatan dokter. dirawat di rumah sakit. diberikan upah sebagai berikut: 1) Untuk 3 (tiga) bulan pertama sebesar 100% dari upah 2) Untuk 3 (tiga) bulan kedua sebesar 75% dari upah 3) Untuk 3 (tiga) bulan ketiga sebesar 50% dari upah 4) Untuk 3 (tiga) bulan terakhir sebesar 25% dari upah. (2) Pekerja tetap : a. Pasal 31 Upah Selama Pekerja Dirumahkan (1) Apabila terjadi situasi/kondisi di mana perusahaan terpaksa menghentikan sebagian/seluruh kegiatan/usaha pekerjaan. 20 . dan lain sebagainya yang bersifat vorce majeur. pembayaran upahnya diatur dalam perjanjuan kerja sama antara perusahaan dengan pekerja. (3) Pekerja tidak tetap: Pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu. kecuali bilamana perusahaan mempertimbangkan lain.(1) Upah tetap diberikan kepada pekerja yang menderita sakit sehingga tidak dapat masuk kerja berdasarkan surat keterangan dokter yang asli dan sah serta dapat dipertanggungjawabkan.

Bila disetujui. (3) Perusahaan memberikan bantuan kesejahteraan berupa jaminan sosial kesehatan dan ketenagakerjaan dengan mengikutsertakan setiap pekerja dalam program Jaminan Sosial Kesehatan dan Tenaga Kerja. Penyampaian pemberitahuan PHK tersebut disampaikan 1 (satu) bulan sebelumnya dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Ketenagakerjaan. 21 . (2) Pekerja Tidak Tetap Pelaksanaan penghentian pembayaran upah pekerja tidak tetap. koperasi/unit simpan pinjam. Pasal 35 Bantuan Untuk Keluarga Pekerja Yang Ditahan Oleh Pihak Berwajib (1) Pekerja yang ditahan oleh pihak yang berwajib tidak mendapat upah. Pasal 33 Penghentian Pembayaran Upah (1) Pekerja Tetap: a. Untuk 1 (satu) orang tanggungan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari upah pokok. pembayaran upah dihentikan sejak saat berlakunya pemutusan hubungan kerja dan kepadanya tidak diberikan uang pesangon. dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. tempat ibadah. d. tetapi berhak atas upah sebanyak hari kerja dalam bulan berjalan. yang diatur lebih lanjut dalam keputusan Direktur Rumah Sakit. c. Pekerja yang atas kemauan sendiri ingin memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan harus mengajukan permohonan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelumnya. dan lain sebagainya. Pasal 34 Pemeliharaan Materiil Kesejahteraan (1) Perusahaan menyediakan beberapa fasilitas dan sarana penunjang di lingkungan perusahaan. b. sesuai dengan peraturan perundang- undangan. seperti sarana kesehatan. (2) Bantuan pengobatan kepada pekerja selama sakit diberikan oleh perusahaan. Apabila karena suatu pertimbangan tertentu perusahaan menganggap perlu mengadakan pemutusan hubungan kerja dengan seorang pekerja. (2) Kepada keluarga pekerja yang ditinggalkan diberikan bantuan sebagai berikut: a. maka upah pekerja yang bersangkutan dibayar sesuai dengan ketentuan Undang-undang Keteanakerjaan. sarana olah raga. diatur dalam perjanjuan kerja sama antara perusahaan dengan pekerja.

dan sebagainya. (2) Bantuan duka cita dapat berupa dana dan dukungan fasilitas pengurusan jenazah. maka bantuan duka cita diberikan untuk 1 (satu) orang pekerja saja. maka hubungan kerja akan diputuskan sesuai ketentuan yang berlaku. bantuan diberikan kepada ahli waris yang sah yang terdaftar di perusahaan. (6) Dalam hal pekerja yang menikah dengan sesama pekerja. dan c. (3) Lamanya pemberian bantuan sebagaimana dinyatakan dalam ayat (2) di atas adalah paling lama 6 (enam) bulan. perlengkapan rumah duka. (2) Pinjaman hanya diberikan kepada pekerja tetap yang sudah mempunyai masa kerja selama minimal 2 (dua) tahun kerja secara terus menerus. (3) Mekanisme pinjaman ini diatur lebih lanjut oleh koperasi atau unit simpan pinjam perusahaan atas persetujuan Direktur Rumah Sakit. Untuk 3 (tiga) orang tanggungan sebesar 50% (lima puluh persen) dari upah pokok. (4) Dalam hal anggota keluarga atau orang tua kandung pekerja yang meninggal dunia. dengan tujuan membantu apabila pekerja memerlukan. (3) Dalam hal pekerja yang meninggal dunia. bantuan diberikan kepada pekerja yang bersangkutan. Pasal 36 Bantuan Pinjaman (1) Pinjaman dapat diberikan kepada pekerja melalui koperasi atau unit simpan pinjam perusahaan. (5) Apabila yang meninggal dunia adalah orang tua kandung dari 2 (dua) orang pekerja atau lebih yang bersaudara. b. (7) Besarnya bantuan duka cita diatur di dalam Peraturan Direktur Rumah Sakit. 22 . maka bantuan hanya diberikan melalui 1 (satu) orang pekerja saja. (4) Tanggungan pekerja adalah suami atau isteri dan anak-anak dari pekerja yang sah secara hukum. yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari sekolahnya serta belum menikah dan atau bekerja yang masih menjadi tanggungan orang tua. apabila pekerja atau anggota keluarga pekerja dan atau orang tua kandung meninggal dunia. maksimal jumlah anak 2 (dua) orang dan belum mencapai umur 25 tahun. Untuk 2 (dua) orang tanggungan sebesar 35% (tiga puluh lima persen) dari upah pokok. masih mengikuti pendidikan maksimal S1. Setelah 6 (enam) bulan bila pekerja yang bersangkutan belum juga dibebaskan oleh pihak berwajib. Pasal 37 Bantuan Duka Cita (1) Bantuan duka cita adalah bantuan yang diberikan kepada pekerja atau anggota keluarga pekerja.

Pasal 39 Perjalanan Dinas (1) Perjalanan dinas adalah setiap perjalanan dalam rangka melaksanakan pekerjaan/tugas untuk kepentingan perusahaan. e. pekerja bersangkutan tidak mendapatkan hak upah lembur. meliputi: a. b. Pasal 38 Bantuan Pernikahan (1) Bantuan pernikahan adalah bantuan kepada pekerja untuk pernikahan pertama yang dilaksanakan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. f. (2) Perusahaan membayarkan biaya-biaya perjalanan dinas kepada pekerja yang mendapat tugas ke luar daerah atau ke luar negeri berdasarkan perintah tertulis dari Direktur Rumah Sakit. biaya untuk fiskal. biaya penginapan. biaya transportasi ke dan dari tempat tujuan serta transportasi lokal. (3) Bantuan pernikahan hanya diberikan kepada salah satu pihak jika pernikahan terjadi antara sesame pekerja. biaya telepon/faxsimile ke kantor. (5) Selama melaksanakan perjalanan dinas. Pasal 40 Pemeliharaan Bersifat Non Materiil (1) Pemeliharaan yang bersifat non materiil antara lain meliputi: 23 . (2) Bantuan pernikahan diberikan kepada pekerja tetap yang telah mempunyai masa kerja minimal 2 (dua) tahun secara terus menerus. (6) Tata laksana dan ketentuan tentang biaya perjalanan dinas ditetapkan berdasarkan keputusan Direktur Rumah Sakit. visa. d. uang saku. uang makan. (3) Untuk perjalanan dinas dalam negeri. exit-permit. airport-tax dan biaya lain yang berhubungan sepanjang biaya tersebut menurut pertimbangan perusahaan adalah wajar dengan menyertakan bukti/ kuintasi pengeluarannya. maka biaya perjalanan diberikan berdasarkan kota yang dituju. (4) Bantuan diberikan apabila pekerja yang menikah menyampaikan bukti-bukti salinan surat nikah. baik perjalanan di dalam negeri maupun luar negeri. (5) Besarnya bantuan diatur dalam diatur di dalam Peraturan Direktur Rumah Sakit. c. (4) Untuk perjalanan dinas luar negeri. maka biaya diberikan berdasarkan pada negara yang dituju dan perintah perjalanan dikeluarkan oleh Direktur Perusahaan.

Penghargaan dapat berupa kenaikan grade. dengan pertimbangan adanya tugas-tugas penting yang harus dilaksanakan. Pasal 42 Cuti Melahirkan (1) Cuti melahirkan adalah hari-hari istirahat pekerja yang diberikan selama 1 (satu) bulan sebelum melahirkan dan 2 (dua) bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter/bidan yang menanganinya. kenaikan gaji. b. Pembinaan jiwa korsa pekerja. dan sebagainya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dengan ketentuan bahwa penggunaan hak cuti yang tertunda tersebut tidak boleh melewati 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan. (4) Apabila pekerja dalam masa pengambilan cuti tahunan yang bersangkutan mengalami sakit/haid/hal-hal lain yang termasuk dalam ijin meninggalkan pekerjaan dengan upah. Penghargaan karena pencapaian tingkat prestasi tertentu dalam pelaksanaan tugas dan pengabdian sebagai pekerja. (3) Cuti tahunan tidak dapat diuangkan dan/atau diakumulasikan pada periode tahun berikutnya. (2) Cuti tahunan diberikan kepada pekerja selama 12 (dua belas) hari kerja. a. b. maka pekerja tidak dapat dikenakan ijin meninggalkan pekerjaan tanpa gaji melainkan harus dipotong terlebih dulu hak cuti tahunannya. namun atas persetujuan perusahaan cuti dapat dibagi dalam beberapa bagian. Pembinaan mental kerohanian. maka ijin yang dimaksud di atas tidak dapat ditambahkan sebagai hari cuti tahunan. imbalan prestasi. Pasal 41 Cuti Tahunan (1) Cuti tahunan adalah hari-hari istirahat pekerja tetap setelah menjalani masa kerja minimal selama 12 (dua belas) bulan terus-menerus. (6) Hak cuti menjadi gugur apabila pekerja tidak mengambil haknya setelah 3 (tiga) bulan sejak berakhirnya tahun sebelumnya. (7) Dikecualikan dari ketentuan ayat (6) apabila tidak diambilnya hak cuti tersebut karena permintaan dari perusahaan. (3) Penghargaan antara lain: a. (2) Pembinaan mental kerohanian antara lain: a. Pembinaan kehidupan umat beragama sesuai agamanya masing-masing. (8) Pada dasarnya cuti tahunan harus dijalani secara penuh. (5) Apabila pekerja mengambil ijin meninggalkan pekerjaan secara mendadak dan pekerja masih memiliki sisa hak cuti tahunannya. 24 . b. Penghargaan.

(5) Surat keterangan dokter harus sudah diserahkan paling lambat pada hari kedua.(2) Apabila pekerja ingin mengambil cuti melahirkan diluar kondisi sebagaimana dinyatakan ayat (1) di atas. (7) Hak cuti melahirkan hanya berlaku untuk kelahiran sampai maksimal anak ke-2 (dua). (8) Hak cuti melahirkan tidak dapat diakumulasikan dengan hari-hari cuti/ijin lainnya yang berlaku di perusahaan. (4) Perpanjangan cuti melahirkan sampai maksimal 3 (tiga) bulan dapat diberikan berdasarkan keadaan yang dapat membahayakan pekerja. maka diserahkan pada hari kerja berikutnya. Karena kecelakaan sehingga tidak dapat masuk kerja. Pasal 43 Cuti Sakit (1) Cuti sakit diberikan berdasarkan surat keterangan dokter yang menyatakan pekerja tersebut memerlukan perawatan/istirahat. 25 . (6) Cuti melahirkan dapat diambil dengan mengajukan surat permohonan cuti melahirkan minimal 2 (dua) minggu sebelum dimulainya cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter/bidan yang merawatnya. atas dasar surat keterangan dari dokter dan berlaku ketentuan gaji selama sakit. (5) Dalam hal dibutuhkan perpanjangan cuti melahirkan lebih dari 3 (tiga) bulan.5 (satu setengah) bulan sejak kondisi gugur kandungan terjadi berdasarkan surat keterangan dokter kandungan atau bidan yang merawatnya. kecuali : a. maka untuk bulan ke-4 (ke empat) dan seterusnya akan diperhitungkan sebagai sakit berkepanjangan. maka akan dipertimbangkan oleh atasan langsungnya masing-masing. (4) Pekerja yang tidak masuk kerja karena sakit lebih dari 1 (satu) hari. wajib menyerahkan surat keterangan dokter. c. wajib dinyatakan dengan surat keterangan dokter. (3) Hari-hari istirahat pekerja karena gugur kandungan hanya dapat diambil maksimum 1. b. termasuk anak yang dilahirkan sebelum pekerja bekerja di perusahaan. yang diketahui oleh atasan langsung pekerja yang bersangkutan. maka pekerja tersebut wajib membuat surat penyataan untuk menanggung sendiri segala resiko yang diakibatkan dari pengajuan cuti melahirkan. (3) Pekerja yang mengalami kecelakaan dan perlu mendapat perawatan berhak atas cuti sakit sampai dengan yang bersangkutan sembuh. dan diberi waktu istirahat sesuai dengan keterangan tersebut. (2) Pekerja yang sakit lebih dari 2 (dua) hari sampai dengan 14 (empat belas) hari harus mengajukan permintaan cuti sakit secara tertulis dengan dilampiri surat keterangan dokter. Hari kedua jatuh pada hari libur. Pekerja sakit di luar kota dengan radius lebih dari 60 (enam puluh) kilo meter dari tempat bekerja.

untuk waktu minimal 1 (satu) hari dan maksimal 3 (tiga) bulan. mertua. f. (2) Ijin meninggalkan pekerjaan tanpa upah dapat diberikan hanya jika alasan pekerja dianggap layak dan tidak mengganggu kegiatan perusahaan. d. e. Pasal 46 Ijin Menunaikan Ibadah Haji (1) Pekerja mendapat dispensasi khusus untuk menunaikan ibadah haji. kepada pekerja yang bersangkutan tidak dibayarkan upah serta hak-hak keuangan lain yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatannya. dan g. pekerja yang bersangkutan masih dapat menempati posisi/jabatan semula apabila posisi semula masih lowong dan atau ditempatkan pada posisi/jabatan lainnya yang masih lowongan. anak. Pasal 45 Ijin Meninggalkan Pekerjaan Tanpa Upah (1) Ijin meninggalkan pekerjaan tanpa upah untuk kepentingan pribadi/keluarga pekerja dapat diberikan dengan persetujuan Direktur Rumah Sakit. b. selama 2 (dua) hari kerja. 26 . dengan penetapan kembali melalui keputusan Direktur Rumah Sakit. (2) Ijin ini hanya berlaku 1 (satu) kali selama pekerja bekerja di perusahaan. Istri sah melahirkan atau keguguran selama 2 (dua) hari kerja. Pernikahan anak sah selama 2 (dua) hari kerja. Khitanan/Pembatptisan anak sah selama 2 (dua) hari kerja. orang tua kandung.(6) Pekerja yang tidak melaksanakan ketentuan seperti tersebut pada ayat (1) di atas dianggap ijin biasa yang diperhitungkan ke hak cuti tahunan. (2) Untuk pengurusan keperluan-keperluan pribadi yang melebihi ketentuan di atas. (3) Selama meninggalkan pekerjaan dengan alasan ijin. Pernikahan kakak/adik kandung 1 (satu) hari kerja. c. Pernikahan selama 3 (tiga) hari kerja. (4) Setelah berakhinya ijin meninggalkan pekerjaan tanpa upah. Tertimpa musibah selama 2 (dua) hari kerja. kepada pekerja dapat diberikan ijin meninggalkan pekerjaan yang akan diperhitungkan dengan pembayaran upah pekerja yang bersangkutan. Kematian keluarga (suami/istri. dengan syarat pekerja bersangkutan telah bekerja minimal 2 (dua) tahun secara terus menerus. yang dipandang layak oleh perusahaan. saudara kandung. Pasal 44 Ijin Meninggalkan Pekerjaan Dengan Upah (1) Pekerja dapat diberi ijin untuk meninggalkan pekerjaan dengan mendapat upah untuk keperluan-keperluan sebagai berikut: a. menantu. maksimal selama 40 (empat puluh) hari kerja dengan tetap mendapatkan upah.

maka pekerja dapat mengajukan ijin meninggalkan pekerjaan dengan upah untuk jangka waktu maksimal 2 (dua) jam dalam 1(satu) hari kerja dan hanya dapat dilakukan maksimal 1 (satu) kali dalam 1(satu) bulan. tetapi pekerja yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan tersebut dan atau tidak dapat memberikan bukti tertulis perihal ketidakhadirannya. (3) Atasan langsung dapat menolak untuk memberikan ijin apabila alasan pekerja tidak dianggap mendesak dan atau akan menghambat kegiatan perusahaan. BAB V FASILITAS DAN KESEJAHTERAAN PEKERJA Pasal 49 Kesehatan Pekerja Perusahaan memberikan dan menyediakan fasilitas kesehatan bagi pekerja yang diatur lebihlanjut dalam keputusan Direktur Rumah Sakit. (2) Permohonan ijin meninggalkan pekerjaan dengan upah di atas diajukan kepada atasan langsung. (2) Pekerja yang tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas. Pasal 47 Tidak Masuk Kerja (1) Pekerja yang tidak masuk kerja karena sakit diwajibkan untuk memberitahukan ketidakhadirannya dan harus dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang sah. Pasal 48 Ijin Meninggalkan Pekerjaan Pada Jam Kerja (1) Untuk kepentingan pribadi pekerja yang sifatnya mendesak. akan dianggap mangkir. yang diajukan minimal 1 (satu) bulan sebelumnya dengan melampirkan bukti-bukti yang mendukung rencana tersebut. 27 . akan menerima tindakan disiplin sesuai ketentuan yang berlaku. (4) Pekerja yang tidak masuk kerja selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut tanpa pemberitahuan tertulis dengan disertai bukti yang sah dan telah dipanggil oleh perusahaan secara tertulis sebanyak 2 (dua) kali.(3) Pekerja yang akan menunaikan ibadah haji wajib mengajukan ijin kepada Direktur Rumah Sakit melalui Bidang Administrasi dan Keuangan dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari atasan langsung. (3) Pekerja yang tidak mengindahkan kewajiban sebagaimana ayat (1) dan (2) di atas. maka pekerja tersebut dianggap mengundurkan diri.

(4) Pekerja wajib memelihara dan menjaga alat-alat/perlengkapan keselamatan kerja dengan baik dan teliti. kerapihan. perusahaan melarang pekerja merokok di area kerja. (6) Demi kesehatan dan keselamatan pekerja. (3) Apabila pekerja menemukan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan pekerja dan perusahaan. maka perusahaan menyediakan perlengkapan kerja. serta mengikuti/mematuhi ketentuan mengenai keselamatan kerja dan perlindungan kerja sesuai dengang ketentuan yang berlaku. maka seragam kerja tersebut wajib dirawat dan dipelihara dengan baik serta dipakai hanya untuk bekerja di tempat kerja. 28 . (3) Mengingat seragam kerja adalah milik perusahaan. Pasal 51 Perlengkapan Kerja (1) Sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan perusahaan serta tugas dan ruang lingkup kerja. (2) Di luar maupun di dalam waktu dan jam kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan. (3) Setiap pekerja wajib memelihara dan menjaga alat-alat/perlengkapan kerja dengan sebaik-baiknya. (2) Setiap pekerja wajib menjaga keselamatan dirinya dan pekerja lainnya dan wajib memakai peralatan dan perlengkapan untuk keselamatan kerja yang telah disediakan oleh perusahaan. (2) Pekerja yang memperoleh seragam kerja wajib mengenakan pada waktu dan jam kerja yang ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit. dan bagi yang melanggar dikenakan sanksi sesui dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 52 Keselamatan Kerja (1) Sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan perusahaan serta tugas dan ruang lingkup kerja. (5) Pekerja diwajibkan selalu menjaga kebersihan. perusahaan menyediakan peralatan dan perlengkapan untuk keselamatan kerja. Pasal 50 Seragam Kerja (1) Menurut pertimbangan dan kemampuan perusahaan. kecuali di tempat yang disediakan oleh perusahaan. setiap pekerja tidak diperbolehkan memakai menggunakan alat-alat atau perlengkapan kerja milik perusahaan untuk keperluan pribadi sehingga mengganggu kepentingan perusahaan atau kepentingan pelayanan. maka pekerja harus segera melaporkan hal tersebut kepada atasannya. dan ketertiban tempat kerja dan lingkungan kerja dengan sebaik-baiknya. pekerja mendapatkan seragam kerja dalam jumlah dan bentuk sesuai dengan keputusan Direktur Rumah Sakit.

(2) Dengan adanya disiplin yang baik. Jika pekerja yang diperingatkan mendapat surat peringatan pertama telah menunjukkan perbaikan sejak peringatan pertama diberikan. Akan tetapi jika setelah peringatan tersebut ternyata pekerja tetap melakukan pelanggaran/kesalahan lagi walaupun 29 . Surat peringatan kedua. (4) Tindakan disiplin ini bersifat pembinaan. c. Surat peringatan ketiga. b. Peringatan lisan (tercatat). berupa: a. maka peringatan tersebut dengan sendirinya telah selesai. Pasal 54 Dasar Tindakan Disiplin Dasar pengenaan tindakan disiplin. dan tingkat pelanggaran. Surat peringatan pertama. adalah sebagai berikut: (1) Undang-undang dan peraturan ketenagakerjaan lainnya termasuk peraturan perusahaan. akan terjalin hubungan kerja yang harmonis antara perusahaan dengan pekerja serta antar pekerja itu sendiri. dan pendidikan. (2) Jenis. d. BAB VI DISIPLIN DAN TINDAKAN DISIPLIN Pasal 53 Disiplin Dan Tindakan Disiplin (1) Disiplin yang baik timbul karena adanya sikap saling hormat-menghormati dan penuh pengertian terhadap hak-hak dan tanggung jawab antara perusahaan dengan pekerja serta antar sesama pekerja. Pasal 55 Jenis Sanksi Jenis sanksi yang dapat dikenakan oleh perusahaan kepada pekerja yang melakukan pelanggaran adalah sebagai berikut : (1) Sanksi administrasi. pengulangan. perbaikan. (3) Penegakkan disiplin salah satunya dilakukan dengan adanya tindakan disiplin yang dilakukan perusahaan kepada pekerja. maka perusahaan dapat menggunakan haknya untuk memberikan tindakan disiplin berupa sanksi kepada pekerja sesuai ketentuan yang berlaku. (3) Adanya unsur pidana. dikecualikan bagi pelanggaran yang termasuk kategori berat dan tidak memungkinkan untuk diadakan pembinaan.

(4) Sanksi penurunan grade (Demosi). maka kepada pekerja yang bersangkutan dikenakan sanksi yang berikutnya dan atau ditingkatkan sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan. kepada yang bersangkutan diberi peringatan tingkat berikutnya. yang dilakukan berdasarkan pertimbangan situasi dan kondisi. tetapi dapat pula berupa peringatan pertama/terakhir. Pasal 56 Masa Berlaku Sanksi Masa berlaku jenis sanksi adalah sebagai berikut: (1) Sanksi administrasi: Masing-masing jenis sanksi administrasi berlaku selama 1 (satu) bulan. dan III. b. (3) Sanksi demosi diberikan sesuai dengan kebijakan perusahaan dengan mempertimbangkan kinerja dan performa pekerja yang bersangkutan. atau surat peringatan kedua/terakhir. 30 . (2) Tidak ada kenaikan grade. (3) Sanksi pemotongan upah. maka pekerja dikenakan hal-hal sebagai berikut : a. (4) Sanksi pembebasan dari jabatan diberikan sesuai dengan kebijakan perusahaan dengan mempertimbangkan tingkat pelanggaran pekerja yang bersangkutan. (2) Masa berlaku sanksi pemotongan upah adalah selama 1 (satu) bulan atau setiap bulan berjalan. Sanksi tidak ada kenaikan grade dan atau pemotongan upah. Surat peringatan yang diberikan untuk pelanggaran ringan tidak selalu berupa surat peringatan pertama. yaitu apabila pelanggaran pekerja mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Apabila selama masa berlakunya sanksi tersebut pekerja yang bersangkutan melakukan pengulangan dengan jenis pelanggaran yang sama atau melakukan jenis pelanggaran lainnya. II. (5) Sanksi pemutusan hubungan kerja diberikan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan dan kebijakan perusahaan dengan mempertimbangkan tingkat pelanggaran pekerja yang bersangkutan. kedua. Akibat dari sanksi administrasi. tergantung pertimbangan atas pelanggaran yang dilakukan. dan atau ketiga. (7) Sanksi ganti rugi. Sanksi dapat dikenakan bersamaan dengan sanksi administrasi yaitu surat peringatan I. (6) Sanksi Pengakhiran hubungan kerja. bentuk/jenis pelanggaran/kesalahannya berbeda. (5) Sanksi pembebasan dari jabatan. yang dilakukan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Pemotongan upah. berupa Sanksi Administrasi dengan Surat Peringatan II. sehingga dalam pengenaan sanksi tidak dikenakan menurut urut-urutan sanksi. dijatuhkan kepada pekerja oleh Kepala Bidang Administrasi dan Keuangan. dan dapat berakibat sebagai berikut: a. 60. maka perusahaan berhak untuk memanggil dan melakukan pemeriksaan terhadap pekerja yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusahaan. dijatuhkan kepada pekerja oleh atasan langsung. Pemotongan upah. 31 . 62. berupa Sanksi Administrasi dengan Surat Peringatan I. Contoh : Sesuai dengan jenis pelanggaran dan atau tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja. Pasal 57 Mekanisme Pengenaan Sanksi (1) Apabila terdapat indikasi atau ditemukan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja. Tidak ada kenaikan grade. 61. (3) Tingkat III (Sedang). Tidak ada kenaikan grade. (2) Tingkat II (Ringan). dan dapat berakibat sebagai berikut: a. maka perusahaan dapat langsung mengeluarkan surat peringatan III (ketiga) tanpa harus memberikan surat peringatan I (pertama) atau surat peringatan II (kedua) terlebih dahulu. (4) Peningkatan sanksi dapat dilakukan dengan memperhatikan dasar tindakan disiplin sebagaimana diatur dalam pasal 54 peraturan ini. dijatuhkan kepada pekerja oleh Direktur Rumah Sakit. maka perusahaan berhak untuk melakukan pengakhiran hubungan kerja sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. 59. Pasal 58 Tingkat Pelanggaran dan Yang Berwenang/Berkewajiban Menjatuhkan Sanksi (1) Tingkat I (Ringan). dan tingkat pelanggaran yang dilakukan diatur dalam pasal 58. b. berupa peringatan lisan (tercatat). (7) Sanksi dapat dikenakan bersamaan. (2) Sanksi dikenakan sesuai ketentuan dalam pasal 55 dan 56 peraturan ini. dan 63 peraturan ini. (5) Apabila segala upaya dalam hal pembinaan dan penyelesaian perselisihan telah dilakukan dan tidak memperoleh jalan keluar. b. (3) Mekanisme pengenaan sanksi oleh perusahaan kepada pekerja akan diatur lebih lanjut dalam keputusan Direktur Perusahaan.(6) Sanksi ganti rugi dibayarkan oleh pekerja secara sekaligus atau secara bertahap sesuai dengan kebijakan perusahaan.

(8) Mengabaikan kebersihan pada ruangan kerjanya. (2) 2 (dua) kali atau berkali. (4) Tingkat IV (Berat). b. dijatuhkan kepada pekerja oleh Direktur Perusahaan. (11) Tidak dapat menunjukkan kinerja yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja sesuai dengan uraian kerja dan atau standar kerja yang diharapkan walaupun telah dilakukan pembinaan. (3) Mengganggu tugas/ pekerjaan orang lain. tamu atau pengunjung. Skorsing. (13) Melanggar disiplin. 32 . dijatuhkan kepada pekerja oleh Direktur Rumah Sakit. (6) Memakai pakaian kerja yang tidak sopan atau tidak sewajarnya sesuai dengan norma-norma di perusahaan. Pembebasan dari jabatan. pasien dan keluarga pasien. berupa Pemutusan/Pengakhiran Hubungan Kerja. Penurunan grade. e. Penurunan grade. (5) Tingkat V (Sangat Berat). (10) Tidak mempergunakan alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja dalam melaksanakan tugasnya yang mewajibkan hal tersebut. Tidak ada kenaikan grade. f. dan dapat berakibat sebagai berikut: a. c. d. serta dengan sesama pekerja. dan kode etik pekerja. etika.turut dalam satu bulan dan tanpa surat keterangan yang sah atau tanpa kabar/penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. c. Pemutusan/Pengakhiran hubungan kerja (oleh Direktur Perusahaan). berupa Sanksi Administrasi dengan Surat Peringatan III. Skorsing. e. Pasal 59 Pelanggaran Tingkat I (Pertama) (1) Tidak masuk kerja selama 2 (dua) hari tidak berturut. d. Pemotongan upah. (12) Perlakuan yang dapat dikategorikan tidak sopan baik terhadap atasan. (7) Makan/minum di tempat yang dilarang. (9) Tidak melakukan absensi pada waktu jam masuk kerja dan/atau pada waktu jam pulang kerja. (4) Berjualan di lingkungan tempat kerja tanpa persetujuan dari perusahaan.kali dalam 1 (satu) minggu datang terlambat atau pulang lebih awal dan/atau meninggalkan tugas tanpa alasan yang jelas. (5) Tidak memakai tanda pengenal pekerja/ID Card dan/atau seragam kerja. Pembebasan dari jabatan.

dan atau memasukkan nomor identitas pekerja lain yang tidak hadir. (4) Tidak mempergunakan alat-alat keselamatan dan kesehatan kerja dalam melaksanakan tugasnya yang mewajibkan hal tersebut. (2) Dengan sengaja melakukan tindakan mengotori ruangan tempat kerja dan atau seluruh aset milik perusahaan dan atau barang (peralatan/perlengkapan) yang berada di lingkungan perusahaan. Pasal 62 Pelanggaran Tingkat IV(Ke Empat) (1) Pengulangan atas pelanggaran tingkat III (ke tiga). baik dalam jam kerja maupun diluar jam kerja. (2) Pekerja mencatatkan kehadiran pekerja lainnya. (4) Bermain game pada saat jam kerja dan di lingkungan kerja. (11) Membuat laporan yang tidak benar dan atau tidak sesuai dengan kenyataannya kepada atasan/pimpinan. dan atau pekerja terbukti meminta/menyuruh pekerja lain untuk mencatatkan kehadirannya. meskipun sudah ditegur/diperingatkan minimal 2(dua) kali secara lisan (tercatat) oleh atasan langsung. dengan alasan yang tidak jelas. (6) Mengganggu tugas/pekerjaan pekerja lain. (5) Merokok selama berada di area kerja dan tempat yang dilarang untuk merokok. (5) Kinerja pekerja tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan sampai dengan 1 (satu) tahun periode penilaian pekerja yang bersangkutan. (8) Mengabsenkan. (3) Meninggalkan pekerjaan (tidak berada di tempat) pada jam kerja lebih dari 1 (satu) jam tanpa izin atasan. (9) Berkali-kali datang terlambat. (10) Menolak untuk diperiksa oleh petugas yang diberikan kewenangan memeriksa oleh perusahaan. (3) Berkali. 33 . (7) Menolak perintah yang layak dari atasannya. Pasal 61 Pelanggaran Tingkat III (Ke Tiga) (1) Pengulangan atas pelanggaran tingkat I (Pertama) dan atau II (ke dua).kali berada di luar lingkungan tempat kerja dan dalam waktu kerja tanpa ada ijin dan atau instruksi tugas/pekerjaan yang diberikan kepada pekerja bersangkutan. (2) Tidak melaporkan segala macam bentuk kehilangan atau penemuan yang seharusnya dilaporkan pada atasan atau perusahaan. Pasal 60 Pelanggaran Tingkat II (Ke Dua) (1) Pengulangan atas pelanggaran tingkat I (pertama).

(7) Mabuk. (10) Kedapatan tidur atau bermalas-malasan pada waktu jam kerja. madat. di tempat kerja. minum-minuman keras. memakai obat bius atau menyalahgunakan obat-obatan terlarang atau obat-obatan perangsang lainnya yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan.turut tanpa alasan yang sah dan atau tidak jelas. baik dengan sengaja atau tidak sengaja. sehingga barang tersebut tidak dapa dipergunakan sesuai dengan fungsinya atau menjadi berkurang fungsinya. (2) Pekerja tidak hadir bekerja selama 5 (lima) hari berturut . (6) Menolak melakukan perintah kerja/membangkang terhadap atasan atau perusahaan setelah mendapatkan surat peringatan III. memindahkan. (4) 3 (tiga) kali berturut-turut pekerja tetap menolak untuk menaati perintah atau penugasan sesuai dengan uraian kerja dari atasan Langsung. dan telah dipanggil secara tertulis namun tidak memenuhi panggilan sebanyak dua kali. (5) Menggunakan. (8) Menghasut untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum atau kesusilaan kepada teman sekerja di lingkungan kerjanya. tanpa seijin perusahaan. (5) Pekerja tidak dapat mencapai prestasi kerja seperti yang telah ditetapkan sebelumnya. dan atau meminjamkan barang-barang milik perusahaan untuk kepentingan pribadi. (4) Bekerja pada perusahaan lain selama hubungan kerjanya dengan perusahaan belum putus/berhenti tanpa sepengetahuan dan atau seijin perusahaan. (8) Membawa senjata tajam/senjata api atau bahan berbahaya ke tempat kerja yang tidak ada hubungannya dengan tugas tanpa seijin perusahaan. (11) Masuk kerja dengan membawa senjata api atau senjata tajam yang bukan barang inventaris perusahaan. sesudah mendapat peringatan ke-3 (ketiga) terakhir. (9) Dengan sengaja membiarkan teman sekerjanya dalam keadaan bahaya.(3) Tidak hadir selama maksimal 3 (tiga) hari kerja berturut-turut tanpa kabar/penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pasal 63 Pelanggaran Tingkat V (Ke Lima) (1) Melakukan pelanggaran tingkat IV (ke empat) pada saat sedang dalam masa surat peringatan I sampai dengan surat peringatan III. (6) Menghilangkan atau merusak barang-barang milik perusahaan. (3) Melakukan kecerobohan kerja sehingga mengakibatkan kerugian bagi perusahaan dan atau nama baik perusahaan. (9) Dengan sengaja melakukan unjuk rasa tanpa mengikuti prosedur perundang- undangan yang berlaku atau kegiatan lainnya yang mengakibatkan terganggunya 34 . (7) Penganiayaan terhadap pimpinan dan teman sekerja.

dan penggelapan barang/uang milik perusahaan atau milik teman sekerja atau milik pasian dan keluarga pasien. (18) Melakukan perbuatan menghasut dan atau menggerakkan pekerja lainnya atau pihak manapun untuk mengadakan unjuk rasa atau kegiatan lainnya yang merugikan perusahaan. baik di dalam maupun di luar lingkungan perusahaan. pelaksanaan kegiatan perusahaan. menghina secara kasar pimpinan perusahaan atau keluarga pimpinan atau pekerja lainnya. (21) Melakukan tindakan-tindakan negatif yang mengandung unsur SARA (Suku. (22) Melanggar ketentuan perundang-undangan dan/atau ketentuan hukum yang berlaku. kecuali untuk kepentingan Negara. memperdagangkan barang terlarang. (12) Melakukan perbuatan asusila atau melakukan perjudian dalam bentuk apapun di lingkungan perusahaan. (17) Membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik perusahaan dan atau keluarga pimpinan perusahaan yang seharusnya dirahasiakan. (14) Menganiaya. (23) Melakukan tindakan yang menguntungkan diri sendiri atau pihak lain yang mengakibatkan kerugian pada pihak perusahaan. 35 . (15) Membujuk Atasan atau pimpinan perusahaan atau pekerja lainnya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan/atau norma dan/atau kesusilaan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. mengancam secara fisik atau mental. (11) Memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan atau segala bentuk pemalsuan. sehingga menimbulkan kerugian secara materiil serta nama atau citra perusahaan. ataupun tindakan lain yang dikategorikan sebagai pelanggaran atau kejahatan. mengintimidasi atau menipu. pengunjung atau customer perusahaan. (20) Melakukan tindakan untuk mengubah dan sejenisnya terhadap segala macam bentuk formulir dan segala macam lainnya yang diterbitkan oleh perusahaan tanpa adanya persetujuan terlebih dahulu dari perusahaan. baik di lingkungan perusahaan maupun di luar lingkungan perusahaan. (13) Melakukan tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran atau kejahatan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. sehingga merugikan perusahaan atau kepentingan umum dan negara. (19) Menawarkan atau menjanjikan kerja pada pihak lain dengan menerima atau meminta imbalan dalam bentuk apapun juga. Agama. misalnya menyerang. (16) Dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan diri atau pekerja lainnya dalam keadaan bahaya atau membiarkan milik perusahaan dalam keadaan bahaya. (10) Penipuan. Ras dan Antar Golongan) dan atau pelecehan seksual sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan atau ketentuan hukum yang berlaku. pencurian.

dan menyebutkan dalam berita acara bahwa pekerja yang diperiksa menolak menandatangani berita acara. (6) Pekerja yang diperiksa wajib menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh pejabat berwenang/tim pemeriksa. selama 2 (dua) kali panggilan berturut. (7) Berita Acara pemeriksaan ditandatangani oleh pejabat pemeriksa. (3) Pemeriksaan dihadiri oleh pekerja bersangkutan. pekerja yang diperiksa dan saksi. Apabila tidak mau menjawab pertanyaan atau mempersulit pemeriksaan. (4) Pekerja yang diduga melakukan pelanggaran disiplin. dengan lisan atau apabila tidak hadir maka panggilan dilakukan secara tertulis. dipanggil untuk diperiksa oleh pejabat yang berwenang. yang belum atau tidak tercantum/termasuk dalam jenis pelanggaran tingkat I (pertama) sampai dengan V (ke lima) di atas. pejabat yang berwenang memberi sanksi mempelajari dengan teliti hasil pemeriksaan serta wajib memperhatikan dengan seksama faktor.faktor yang menyebabkan pelanggaran disiplin oleh pekerja. akan ditentukan sesuai kebijakan perusahaan dengan memperhatikan pasal-pasal dasar tindak disiplin peraturan ini. termasuk pelanggaran atas peraturan internal perusahaan. (8) Apabila pekerja yang diperiksa menolak menandatangani berita acara pemeriksaan. 36 .turut. pejabat berwenang. Apabila ada isi berita acara pemeriksaan yang tidak sesuai menurut pekerja yang diperiksa. hal tersebut diberitahukan kepada pejabat pemeriksa untuk perbaikan. baik secara materiil maupun nama baik dan atau citra perusahaan. maka cukup ditandatangani oleh pemeriksa dan saksi (bila ada).(24) Pelanggaran-pelanggaran lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam ketentuan ini akan tetapi yang menurut sifat dan akibatnya dapat merugikan perusahaan. dan hasil pemeriksaan harus dibuat dalam bentuk Berita Acara Hasil Pemeriksaan. serta saksi (bila ada). (2) Pemeriksaan dilakukan oleh pejabat pemeriksa yaitu Satuan Pengawas Internal dan atau Dewan Penwawas. Pasal 64 Sanksi Lain-Lain Sanksi untuk jenis pelanggaran. (5) Apabila pekerja bersangkutan tidak memenuhi panggilan kedua. maka hal tersebut tidak menghalangi penjatuhan sanksi. dan dengan tetap berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 65 Pemeriksaan (1) Sebelum menjatuhkan sanksi. maka dianggap mengakui pelanggaran disiplin yang disangkakan kepadanya.

yang disampaikan secara tertulis kepada Direktur Rumah Sakit dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak diterimanya penyampaian keberatan tersebut. (4) Apabila dipandang perlu. harus mempertimbangkan dengan seksama bahwa sanksi yang dijatuhkan tersebut adil atau setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. (10) Usulan penjatuhan sanksi disampaikan pejabat pemeriksa kepada pejabat yang berwenang memberi sanksi. terhadapnya dijatuhi sanksi yang lebih berat dari sanksi sebelumnya. (5) Direktur Rumah Sakit wajib mengambil keputusan atas keberatan yang diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) minggu terhitung sejak tanggal diterimanya tanggapan dari Direktur Perusahaan. (3) Direktur Perusahaan wajib memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan. Direktur Perusahaan dapat memanggil dan mendengar keterangan dari Direktur Rumah Sakit atau pejabat pemeriksa. Pasal 68 Berlakunya Sanksi 37 . dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktur Rumah Sakit dalam jangka paling lama waktu 14 (empat belas) hari terhitung tanggal yang bersangkutan menerima keputusan sanksi tersebut. wajib menyampaikan keberatan tersebut kepada Direktur Perusahaan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja.bukti dan berita acara pemeriksaan. disertai bukti. dalam rangka melengkapi keterangan dan menjamin objektivitas. pejabat berwenang memberi sanksi dapat meminta keterangan mengenai atau yang menyangkut pelanggaran disiplin dari orang lain. Pasal 67 Keberatan Atas Sanksi (1) Pekerja yang dijatuhi sanksi. Pasal 66 Pertimbangan Dalam Penentuan Sanksi (1) Dalam menentukan jenis sanksi yang akan dijatuhkan. (2) Kepada pekerja yang pernah dijatuhi sanksi tertentu dan kemudian melakukan kesalahan yang sifatnya sama. untuk selanjutnya diproses sesuai peraturan dan Undang-undang Ketenagakerjaan. maka pekerja dapat menempuh upaya sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. terhitung mulai tanggal yang bersangkutan menerima surat keberatan. sehingga sanksi itu dapat diterima dengan rasa keadilan. (9) Apabila dipandang perlu. (2) Direktur Rumah Sakit. (6) Apabila pekerja masih keberatan atas keputusan terhadap sanksi yang dijatuhkan kepadanya.

(3) Pembebasan tugas sementara (skorsing). hukuman berlaku pada hari ke 15 (lima belas) terhitung mulai tanggal ditetapkannya keputusan sanksi tersebut.(1) Sanksi dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang. maka dilakukan pemotongan upah sesuai ketentuan yang berlaku. (2) Pejabat yang berwenang memberi sanksi adalah Direktur perusahaan dan atau Direktur Rumah Sakit. (3) Apabila pekerja tidak hadir pada saat penyampaian sanksi. kepada pekerja yang bersangkutan dalam bentuk surat keputusan. dan atau terdapat dugaan berat bahwa pekerja yang bersangkutan melakukan hal-hal lainnya yang merugikan perusahaan. b. PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN DAN PENGAKHIRAN HUBUNGAN Pasal 70 Pembebasan Tugas Sementara (SKORSING) (1) Perusahaan dapat melakukan pembebasan tugas sementara terhadap pekerja karena: a. (2) Selama pembebasan tugas sementara. Pasal 69 Wewenang dan Tanggung Jawab Pemberian Sanksi (1) Prosedur sanksi pada dasarnya melalui usulan secara berjenjang/bertingkat dari bawah ke atas dan selanjutnya ditetapkan oleh pejabat yang berwenang memberi sanksi. dapat diperpanjang dan selanjutnya diproses berdasarkan hasil pemeriksaannya. Menunggu keputusan karena pekerja melakukan pelanggaran tingkat III (sedang) atau pelanggaran tingkat IV (berat). Berada dalam tahanan pihak yang berwajib karena diduga telah melakukan tindak pidana. BAB VII PEMBEBASAN TUGAS SEMENTARA. dan apabila tidak terbukti bersalah maka dilakukan rehabilitasi. Pasal 71 Pembebasan Dari Jabatan 38 . dan atau perusahaan dapat mempertimbangkan untuk tetap atau tidak membayarkan upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Sanksi berlaku terhitung mulai tanggal pekerja yang bersangkutan menerima keputusan sanksi tersebut. dan apabila terbukti bahwa pekerja bersalah maka dapat diproses PHK. dana dapat diberikan hak-haknya sesuai peraturan yang berlaku.

i.(1) Perusahaan dapat melakukan pembebasan dari jabatan terhadap seseorang pekerja karena: a. e. Menunggu keputusan karena pekerja melakukan pelanggaran tingkat III (sedang) atau pelanggaran tingkat IV (berat). b. dan dapat diberikan hak-haknya sesuai peraturan yang berlaku. Berada dalam tahanan pihak yang berwajib karena diduga telah melakukan tindak pidana. baik di dalam maupun diluar hubungan kerja dengan perusahaan. dan apabila tidak terbukti bersalah maka dilakukan rehabilitasi. (2) Selama pembebasan dari jabatan. (3) Apabila terbukti bahwa pekerja bersalah maka dapat diproses PHK. (3) Berakhirnya hubungan kerja antara perusahaan dengan pekerja dapat disebabkan karena hal-hal sebagai berikut: a. b. Pengakhiran Hubungan Kerja karena alasan-alasan lain sesuai dengan pertimbangan perusahaan dan peraturan perundang-undangan. Pemberhentian umum. h. Pekerja mengundurkan diri. Pekerja meninggal dunia. (2) Dalam keadaan yang memaksa sehingga terjadi Pengakhiran Hubungan Kerja. Pemberhentian akibat pekerja melakukan pelanggaran tingkat IV (berat) dan V (sangat berat). Kepada pekerja yang dibebaskan dari jabatannya bersangkutan tidak diberikan tunjangan jabatan. Pemberhentian karena pekerja telah mencapai batas usia pensiun. Pasal 72 Pemutusan/Pengakhiran Hubungan Kerja (1) Perusahaan berupaya meksimal untuk mencegah terjadinya pengakhiran hubungan kerja antara perusahaan dengan pekerja. g. Pekerja tidak mencapai prestasi kerja yang ditetapkan perusahaan. Masa sakit yang berkepanjangan dan atau ketidakmampuan bekerja karena alasan kesehatan. c. Pemberhentian karena pekerja melakukan tindak pidana. dan atau terdapat dugaan berat bahwa pekerja yang bersangkutan melakukan hal-hal lainnya yang merugikan perusahaan. d. j. perusahaan akan bertindak dengan mengacu pada Undang-undang Ketenagakerjaan. f. k. Berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu. Pekerja tidak memenuhi syarat pada masa percobaan. Pasal 73 Pekerja Meninggal Dunia 39 .

Pasal 75 Berakhirnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (1) Berakhirnya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu adalah sebagaimana dinyatakan dan disepakati dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. maka pekerja melakukan serah terima pekerjaan yang menjadi kewajibannya. (2). 40 . maka pekerja yang bersangkutan berhak mendapatkan imbalan/pesangon sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. serta hal-hal yang dianggap penting dan perlu diselesaikan. dan (3) di atas. dan telah dipanggil secara tertulis namun tidak memenuhi panggilan sebanyak dua kali. maka pekerja tidak berhak atas surat keterangan kerja dan perusahaan memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. menyerahkan kembali barang-barang dan inventaris lainnya milik perusahaan. Pasal 74 Pekerja Mengundurkan Diri Pekerja dapat mengajukan pengunduran diri kepada perusahaan sesuai dengan ketentuan sebagai berikut: (1) Pekerja mengajukan permohonan pengunduran diri secara tertulis selambat- lambatnya 15 (lima belas) hari atau lebih sebelumnya.(1) Pekerja meninggal dunia mengakibatkan hubungan kerja berakhir dengan sendirinya. maka pekerja tersebut dianggap mengundurkan diri. (3) Apabila seorang pekerja diberhentikan hubungan kerja karena meninggal dunia. (2) Pengunduran diri harus atas sepengetahuan dari atasan langsung pekerja yang bersangkutan. (6) Dalam hal pengunduran diri pekerja telah memenuhi ketentuan-ketentuan sebagaimana dinyatakan dalam huruf (1). uang penghargaan masa kerja. maka akan diberikan pesangon.. (7) Apabila seorang pekerja tidak masuk kerja selama lima hari kerja secara berturut- turut tanpa alasan yang jelas dan sah. (5) Dalam hal pekerja belum dan atau tidak menyelesaikan seluruh kewajiban sebagaimana dinyatakan dalam huruf ayat (1). dan (3) di atas. sehingga perusahaan dapat memproses pemutusan hubungan kerja sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. (4) Tidak terlibat hutang piutang dengan perusahaan. (2) Dalam hal pekerja meninggal dunia. (2). dan uang penggantian hak sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. maka perusahaan akan memberikan santuan duka cita sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (3) Apabila pengunduran diri pekerja yang bersangkutan disetujui oleh perusahaan.

(2) Perusahaan dapat memberitahukan kepada pekerja tentang alasan pengakhiran hubungan kerja dalam masa percobaan. Pasal 78 Ketidakmampuan Bekerja Karena Alasan Kesehatan Atau Masa Sakit Yang Berkepanjangan (1) Seorang pekerja yang karena kesehatannya dipandang tidak mampu bekerja yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter. Pasal 77 Pekerja Tidak Mencapai Prestasi Kerja Yang Ditetapkan Perusahaan (1) Pekerja yang tidak dapat mencapai prestasi kerja seperti yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perusahaan walaupun telah dibina. maka untuk 41 . maka dapat dikenakan tindakan Pengakhiran Hubungan Kerja. (3) Pengakhiran Hubungan Kerja dalam masa percobaan ini tidak disertai dengan pemberian imbalan. (2) Seorang pekerja yang tidak dapat melakukan tugasnya karena masih dalam perawatan dokter/rumah sakit. perusahaan tidak berkewajiban untuk memberikan imbalan/pesangon di luar hal-hal yang tercantum dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.(2) Dengan berakhimya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Pasal 76 Pekerja Tidak Memenuhi Syarat Pada Masa Percobaan (1) Selama masa percobaan. uang penghargaan masa kerja. perusahaan berhak sewaktu-waktu untuk melakukan Pengakhiran Hubungan Kerja dengan pekerja apabila pekerja dianggap tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh perusahaan. (3) Pengakhiran Hubungan Kerja dalam hal pekerja sakit berkepanjangan yang telah mencapai 12 (dua belas) bulan di mana hal tersebut dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang sah dan dapat diterima oleh perusahaan. serta surat keterangan kerja. kecuali upah sampai dengan hari terakhir pekerja bekerja setelah diperhitungkan dengan kewajiban/hutang pekerja kepada perusahaan. Namun pada prinsipnya pekerja yang tidak dapat melakukan pekerjaan karena faktor kesehatan. pesangon. dan uang penggantian hak Undang- undang Ketenagakerjaan. pembayaran upahnya ditentukan sebagaimana diatur dalam pasal 30 peraturan ini. dapat diberhentikan dengan hormat dari pekerjaannya. maka kepada pekerja yang diberhentikan diberikan pesangon. tidak dapat dikenakan pengakhiran hubungan kerja selama masih dalam batas-batas yang ditentukan oleh peraturan ketenagakerjaan. (2) Pengakhiran Hubungan Kerja karena pekerja tidak mencapai prestasi kerja yang ditetapkan perusahaan.

dan atau uang pisah sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. (2) Pemutusan hubungan kerja sebagaimana ayat (1) di atas. pelaksanaan administratif Pengakhiran Hubungan Kerja. maka perusahaan memberikan hak- hak pekerja sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. sedangkan untuk pelanggaran tingkat IV (berat) setelah mendapat peringatan III (ke tiga/terakhir) pemutusan hubungan kerja dapat dilaksanakan. uang penggantian hak . maka perusahaan memberikan pesangon sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. maka pekerja tersebut dapat dipertimbangkan untuk dipekerjakan kembali sebagai pekerja dalam masa perpanjangan batas usia pensiun. (2) Ketentuan mengenai pengakhiran hubungan kerja karena pekerja telah mencapai batas usia pensiun. Pasal 79 Pemberhentian Umum (1) Atas prakarsa perusahaan dengan adanya suatu program penggabungan/peleburan/reorganisasi/rasionalisasi atau pengubahan sistem kerja yang mengakibatkan pekerja tidak dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. serta sejauh tenaganya masih dibutuhkan. dan uang penggantian hak sesuai Undang-undang Ketenagakerjaan. maka akan diberikan pesangon. uang penghargaan masa kerja. (3) Apabila seorang pekerja diberhentikan karena mencapai batas usia pension. berprestasi kerja baik. dengan pelaksanaan administratif Pengakhiran Hubungan Kerja sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. dilaksanakan sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. maka perusahaan dapat memberikan uang oesangon. maka pekerja yang bersangkutan dapat diberhentikan dengan hormat oleh perusahaan. Pasal 80 Pekerja Telah Mencapai Batas Usia Pensiun (1) Bagi pekerja telah mencapai batas usia pensiun tetapi dinilai memiliki kecakapan atau keahlian khusus dan terbukti berkelakuan baik. (2) Untuk pelanggaran tingkat V (sangat berat) pemutusan hubungan kerja tidak perlu melalui proses surat peringatan. (4) Apabila seorang pekerja diberhentikan karena melakukan pelanggaran berat. perusahaan berpedoman kepada peraturan ketenagakerjaan. Pasal 81 Pemberhentian Karena Pelanggaran Disiplin (1) Perusahaan dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja yang melakukan pelanggaran tingkat V (sangat berat). 42 . (4) Pekerja yang diberhentikan dengan hormat karena faktor kesehatan yang dibuktikan dengan surat keterangan Dokter.

adalah perselisihan yang terjadi karena tidak dipenuhinya hak- hak pekerja. kesimpulan dan hasil perundingan. dan atau perubahan syarat. tanggal dan tempat perundingan. Setiap penyelesaian permasalahan harus dibuat Berita Acara dan ditandatangani oleh pekerja yang bersangkutan dan Direktur Perusahaan. Pasal 82 Uang Pesangon. (3) Perselisihan pengakhiran hubungan kerja. pendapat pekerja yang bersangkutan dan pihak perusahaan. akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap perundang-undangan. Setiap perundingan harus dibuat Berita Acara dan ditandatangani oleh para pihak yang terlibat.syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja. maka permasalahan diselesaikan melalui rapat dengan para pemegang saham. serta tanggal dan tanda tangan para pihak yang terlibat dalam perundingan. Pasal 84 Tata Cara Penyelesaian Perselisihan Hak dan Kepentingan (1) Perselisihan dapat diselesaikan dengan cara pekerja yang bersangkutan menyampaikan alasan-alasan yang memungkinkan terjadinya perselisihan hak atau kepentingan kepada Direktur Perusahaan untuk ditetapkan penyelesaiannya. (2) Apabila permasalahan belum dapat ditetapkan penyelesaiannya. dan diupayakan penyelesaiannnya melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat. atau peraturan perusahaan. adalah perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak. Uang Penggantian Hak Akibat Pengakhiran Hubungan Kerja. Uang Penghargaan. Uang Penggantian Hak Akibat Pengakhiran Hubungan Kerja Uang Pesangon. perjanjian kerja atau peraturan perusahaan. dengan mekanisme dan besarannya sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan. (2) Perselisihan kepentingan. alasan-alasan keputusan. 43 . Uang Penghargaan. hanya diberikan kepada pekerja tetap. dan harus selesai paling lama 30 (tiga ) puluh hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan. BAB VIII PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Pasal 83 Jenis Perselisihan (1) Perselisihan hak. adalah perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan. (3) Berita Acara Perundingan memuat nama lengkap dan alamat para pihak.

(3) Dalam hal perundingan mencapai kata kesepakatan. dengan merujuk pada ketentuan yang berlaku. yang kemudian menyampaikan anjuran secara tertulis kepada kedua belah pihak selambat- lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang mediasi pertama. maka dianggap menolak anjuran tersebut. alasan-alasan keputusan. perselisihan hak atau perselisihan kepentingan diselesaikan sampai dengan tingkat internal tanpa melibatkan pihak ke tiga. dan harus selesai paling lama 30 (tiga) puluh hari kerja sejak tanggal dimulainya perundingan. maka pekerja yang bersangkutan maupun perusahaan mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan dengan melampirkan bukti bahwa upaya-upaya penyelesaian bipartit telah dilakukan. kesimpulan dan hasil perundingan. Setiap perundingan harus dibuat Berita Acara dan ditandatangani oleh oleh para para pihak yang terlibat dalam perundingan. (5) Apabila perundingan bipartit gagal. Kemudian dilakukan penyelesaian perselisihan melalui perundingan konsiliasi ( untuk perselisihan kepentingan dan PHK) atau perundingan mediasi dengan cara musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih sebagai mediator yang netral. (6) Pekerja yang bersangkutan dan perusahaan harus memberikan jawaban secara tertulis kepada konsiliator/mediator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran tertulis paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja setelah menerima anjuran tertulis.(4) Untuk kebaikan masing-masing pihak. Selanjutnya dalam hal salah satu pihak atau kedua belah menolak anjuran tertulis maka salah satu pihak atau kedua belah pihak dapat 44 . serta tanggal dan tanda tangan para pihak yang melakukan perundingan. yakni pekerja instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan yang memenuhi syarat-syarat sebagai konsiliator atau mediator dengan tugas mengadakan penelitian dan sidang konsiliasi atau mediasi selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan. tanggal dan tempat perundingan. (4) Apabila perjanjian bersama tidak dilaksanakan oleh salah satu pihak. maka harus ditungkan dalam perjanjian bersama dan harus ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan dibubuhi materi. perjanjian bersama tersebut didaftarkan kepada pengadilan hubungan industrial. pendapat pekerja yang bersangkutan dan Direktur Perusahaan. (7) Jika salah satu pihak tidak memberikan pendapatnya. Pasal 85 Tata Cara Penyelesaian Perselisihan Pengakhiran Hubungan Kerja (1) Perselisihan wajib diupayakan penyelesaiannnya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Setelah ditandatangani. maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada pengadilan hubungan industrial untuk mendapatkan penetapan eksekusi. (2) Berita Acara Perundingan memuat nama lengkap dan alamat para pihak.

BAB IX PENUTUP Pasal 87 Peraturan Peralihan (1) Semua pekerja yang telah bertugas di perusahaan pada saat ditetapkannya peraturan ini. (10) Putusan pengadilan hubungan industrial mengenai pemutusan hubungan kerja mempunyai kekuatan hukum tetap apabila tidak diajukan permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak putusan dibacakan dalam sidang majelis hakim atau sejak tanggal pemberitahuan putusan diterima. (8) Gugatan yang diajukan harus melampirkan bukti Berita Acara konsiliasi atau mediasi. baik yang menyangkut syarat kerja maupun kondisi kerja. adalah pekerja yang diatur berdasarkan peraturan ini. melanjutkan atau mengajukan gugatan penyelesaian perselisihan kepada pengadilan hubungan industrial. (6) Selama proses penyelesaian keluhan/pengaduan. (2) Penyesuaian dan penyelesaian administrasi berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan ini dilaksanakan secara bertahap dan telah dapat 45 . (5) Proses penyelesaian keluhan dan pengaduan akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (4) Pengaduan adalah bentuk laporan tertulis yang disampaikan oleh pekerja kepada Bidang Administrasi dan Keuangan. (3) Keluhan adalah segala sesuatu permasalahan yang dirasakan oleh pekerja. pekerja harus tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. (9) Dalam putusan pengadilan hubungan industrial ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan dan atau hak yang harus diterima oleh para pihak atau salah satu pihak atas setiap penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan kerja. baik yang menyangkut syarat kerja maupun kondisi kerja. Gugatan oleh pekerja yang bersangkutan atas pemutusan hubungan kerja dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu 1 (satu) tahun sejak diterimanya atau diberitahukannya keputusan dari perusahaan. Pasal 86 Penyelesaian Keluhan dan Pengaduan (1) Pada prinsipnya setiap keluhan dan pengaduan pekerja diselesaikan dengan adil dan secapat mungkin. (2) Setiap keluhan dan pengaduan pekerja sedapat mungkin diselesaikan oleh atasan langsung pekerja yang bersangkutan.

(3) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka peraturan ini akan ditinjau untuk disesuaikan melalui addendum. baik dalam bab-bab. (3) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan ini akan diatur dengan Peraturan tersendiri. (2) Jika ada persyaratan kerja dalam peraturan ini yang kurang dan atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 90 Ketentuan Penutup (1) Dengan ditetapkannya peraturan ini. Pasal 88 Pokok-pokok Pelaksanaan (1) Perusahaan berhak untuk memberikan penafsiran mengenai keseluruhan isi peratuan ini. Ditetapkan di Kendari Pada Tanggal …………………………. diselesaikan secara menyeluruh dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak ditetapkannya peraturan ini. Pasal 89 Ketentuan Pelaksanaan (1) Selama belum ada peraturan perusahaan yang baru setelah berakhirnya peraturan ini. 46 . ketentuan dalam peraturan ini akan tetap berlaku. dan b. (3) Dalam pelaksanaan peraturan ini. (2) Hal-Hal yang belum diatur dalam peraturan ini akan disusun kemudian dan ditambahkan sebagai addendum peraturan ini atau merupakan peraturan pelaksanaan yang dibuat dalam bentuk keputusan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan tidak bertentangan dengan peraturan ini.. maka semua peraturan sebagai berikut: a. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. ayat-ayat maupun kata-kata sehingga dapat dihindari adanya pemaknaan ganda. Keputusan Direktur Rumah Sakit Hati Mulia Nomor 001 Tahun 2013. pasal-pasal. (2) Bila dipandang perlu. peraturan ini dapat dirubah atau diperbaiki sebagaimana mestinya melalui addendum. bila dipandang perlu akan dikeluarkan Surat Keputusan Direktur Perusahaan dan atau Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit. (3) Semua peraturan pelaksanaan yang mengatur tentang pelaksanaan dan atau operasional perusahaan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan peraturan ini. Keputusan Direktur Rumah Sakit Hati Mulia Nomor 001 Tahun 2014.

Hj. PT. MULIA RAHMAN. SP. HATI MULIA SEJAHTERA DIREKTUR. MP 47 . A.