Anda di halaman 1dari 13

.

.

.

.

Bagus niii .

.

Apa Kehamilan Anggur itu. dok? (MOLA HIDATIDOSA) Oleh: dr. yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta yakni mola hidatidosa parsial dan komplet. dan tidak ditemukan pembuluh darah janin. proliferasi trofoblas. sedangkan mola hidatidosa invasif sebagai borderline keganasan. yaitu degenerasi hidrofik dan kistik dari vili khorealis.1.5-5% setelah terjadinya mola parsial.6 Janin biasanya meninggal dengan villus yang terus tumbuh membesar dan edematus sebagai segugus buah anggur. Para ahli ginekologi dan onkologi sependapat untuk mempertimbangkan kondisi ini sebagai kemungkinan terjadinya keganasan. morfologis. mola hidatidosa tampak seperti gelembung-gelembung berwarna putih. Kehamilan pada mola hidatidosa berkembang secara tidak wajar.7 Mola Hidatidosa merupakan suatu kehamilan patologik dimana khorion mengalami beberapa hal. mola invasif dan placental site trophoblastic tumors. koriokarsinoma. dimana tidak ditemukannya janin dan hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik dan berbentuk seperti gelembung yang menyerupai anggur. Secara histologis terdapat proliferasi trofoblast dengan berbagai tingkatan hiperplasia dan displasia. dan genetik. Vili khorialis terisi cairan. dengan ukuran yang bervariasi yaitu dari beberapa milimeter hingga 1-2 cm. Mola hidatidosa dapat menimbulkan penyakit trofoblas gestasional persisten yang mana ditemukan sekitar 10-30% kasus setelah terjadinya mola komplit dan 0. tembus pandang. membengkak. dan koriokarsinoma yang ganas. Sedangkan Koriokarsinoma juga muncul sekitar 3% .1 Di amerika serikat kasus mola hidatidosa dijumpai satu dari 1500 kehamilan dan diklasifikasikan menjadi mola komplit ataupun mola parsial berdasarkan klinis. dan hanya terdapat sedikit pembuluh darah. dengan mola hidatidosa berprognosis jinak. berisi cairan yang jernih.4Secara makroskopik. Safriani Yovita Mola Hidatidosa adalah salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG). 6.

Mola Hidatidosa Parsial 9 Mola hidatidosa parsial memiliki perubahan villi yang bersifat fokal. periode januari 2002 sampai dengan desember 2005 didapatkan sebanyak 72 kasus mola hidatinosa. Tabel 1. seperti gizi buruk. Hiperplasia trofoblastik lebih bersifat fokal dari pada generalisata. Gambaran Klasifikasi Mola Hidatidosa 9 Gambaran Mola Parsial Mola Sempurna Kariotipe Umumnya 69.6.6. Berdasarkan penelitian retrospektif yang dilakukan pada bagian obstetri dan ginekologi di BLU Dr.4 Mola hidatidosa terbagi atas 2 kategori. Temuan Histologik ditandai oleh:  Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus  Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak  Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi  Tidak adanya janin dan amnion. kurang berkembang. yaitu 1:40 persalinan dengan faktor resiko. Semua kromosom berasal dari paternal. dari 230 kehamilan didapatkan 1. sel darah janin Sering dijumpai Sering dijumpai Bervariasi. ringanberat Gambaran Klinis  . Wanita dengan usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun juga memiliki resiko tinggi untuk terjainya mola hidatidosa. Makassar.XX atau 46. Paritas tidak mempengaruhi faktor resiko ini. yaitu: 9 1.XXY 46. Beberapa faktor-faktor seperti gangguan pada telur.XXX atau 96. etnis.setelah terjadinya mola komplit dan jarang dilaporkan terjadi setelah mola parsial.XY Patologi  Janin  Amnion.XY.fokal Tidak ada Tidak ada Difus  Edema villus  Proliferasi trofoblas Bervariasi. Vili khorialis terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk dengan stroma tropoblastik yang menonjol dan berkelok-kelok. atau satu telur dibuahi oleh 2 sperma.8 Mola hidatidosa terbagi menjadi mola hidatidosa komplet dan parsial.XX dan 10% 46. vili khoriales memiliki ciri seperti buah anggur. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat. sementara villi – villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena. Perkembangannya berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular. dan kelainan rahim dianggap berhubungan dengan peningkatan angka kejadian mola hidatidosa sendiri. Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko 2 kali lipat. riwayat obstetri.7 Sejauh ini penyebab dari mola hidatidosa sendiri masih belum diketahui. 90 % biasanya terdiri dari kariotipe 46. berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok – kelompok menggantung pada tangkai kecil. kekurangan gizi pada ibu hamil.2Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di rumah sakit Charing Cross Hospital di london. Ovum yang tidak bernukleus mengalami fertilisasi oleh sperma haploid yang kemudian berduplikasi sendiri. dan mungkin tampak sebagai jaringan janin. 2.4 Faktor resiko mola hidatidosa sering didapatkan pada wanita usia reproduktif. Wanita usia remaja atau usia perimenopausal amat sangat beresiko. dan genetik serta sering terjadi pada usia kurang dari 20 tahun dan pada usia lebih dari 35 tahun. yaitu komplet mola hidatidosa dan parsial mola hidatidosa. Mola Hidatidosa Komplet 9 Villi korionik pada mola hidatidosa komplet berubah menjadi suatu massa vesikel–vesikel jernih. Eritrosit fetus dan pembuluh darah di vili khorialis sering didapatkan. Mola hidatidosa komplet tidak berisi jaringan fetus. Wahidin Sudirohusodo.3 Mola hidatidosa di Indonesia dianggap sebagai salah satu penyakit yang membutuhkan perhatian khusus dengan insidensi yang tinggi. Wanita usia lebih dari 40 tahun memiliki resiko 7 kali dibanding wanita yang lebih muda. Pada mola yang komplet. Pada mola hidatidosa parsial terdapat jaringan fetus. dan terdapat tropoblastik hiperplasia.fokal ringansedang Bervariasi.3% diantaranya telah berkembang menjadi mola hidatidosa.

dan gejala-gejala lainnya. tetapi ada beberapa kasus dimana kista lutein baru ditemukan sewaktu kita melakukan pemeriksaan berhari-hari. sedikit-sedikit atau banyak. Kasus mola hidatidosa dengan kista lutein memiliki faktor resiko untuk terjadinya degenerasi keganasan empat kali lebih besar dibandingkan dengan kasus mola hidatidosa tanpa disertai kista lutein. Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan. Sebenarnya pada tiap-tiap kehamilan selalu ada migrasi dari sel-sel trofoblas ke paru-paru tanpa memberikan gejala apa-apa. Dengan pemeriksaan klinis insidensi kista lutein lebih kurang 10.1 Uterus pada mola hidatidosa tumbuh lebih cepat daripada kehamilan biasa.1 Mola hidatidosa juga dapat disertai dengan pre-eklamsia ataupun eklamsia layaknya kehamilan biasa.kadang dijumpai emboli paru A.1 Masalah lain yang juga sering muncul akhir-akhir ini pada kasus mola hidatidosa adalah tirotoksikosis. Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan: 1. baik unilateral ataupun bilateral.1 Penyulit lain yang mungkin terjadi adalah emboli sel trofoblas ke paruparu. 1 Perdarahan merupakan gejala utama mola hidatidosa. sehingga menyebabkan pasien mengalami anemia dari ringan hingga berat dan dapat berujung pada syok hingga kematian. yaitu berupa rasa mual. namun apabila menggunakan Ultra Sonografi (USG) angka insidensinya meningkat hingga 50%. pada mola hidatidosa terkadang jumlah dari sel trofoblas begitu banyak. adanya kerangka janin pada pemeriksaan roentgen. Biasanya disini penderita meninggal diakibatkan oleh krisis tiroid. Selanjutnya perkembangan lebih pesat. sehingga perlu dipikirkan kemungkinan adanya jenis dying mole. Sifat dari perdarahan ini dapat intermiten. Dalam hal ini perkembangan trofoblas tidak begitu aktif. pusing. hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat dari pada kehamilan biasa. Biasanya keluhan perdarahan inilah yang mendorong pasien untuk datang ke rumah sakit. Adapun kasus-kasus dimana uterusnya sama kecil atau sama besarnya dengan usia kehamilan.tanda adanya janin didalamnya.10 (1)Umumnya ukuran uterus pada . Namun. Perdarahan ini biasanya terjadi antara bulan pertama hingga bulan ke tujuh dengan rata-rata usia 12 sampai dengan usia 14 minggu. gerak janin pada auskultasi.Diagnosis  Ukuran uterus  Kista teka lutein  Penyulit medis  Penyakit Pasca mola Missed abortion Kecil untuk masa kehamilan Jarang Jarang Kurang dari 5-10% Gestasi mola 50% besar untuk masa kehamilan 25-30% Sering 20% Gejala awal pada mola hidatidosa tidak jauh berbeda dengan kehamilan biasanya. sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari pada usia kehamilan. pada uterus yang besar ini tidak terdapat tanda. hanya saja perbedaannya ialah pre-eklamsia ataupun eklamsia pada mola hidatidosa terjadinya lebih muda dari pada usia kehamilan biasa.1 Mola hidatidosa juga sering disertai dengan kista lutein.1 Diagnosis penyakit ini meliputi:10 (1)Perdarahan per vaginam disertai keluarnya gelembung gelembung seperti buah anggur (gelembung mola) atau villus (2)Tejadi gejala toksemia pada trisemester I-II (3)Terjadi hiperemis gravidum (4)Dijumpai gejala- gejala tirotoksikosis atau hipertiroid (5)Kadang. Maka dari itu Martaadisoebrata menganjurkan agar semua kasus mola hidatidosa harus dicari tanda-tanda tirotoksikosis secara aktif seperti kita yang selalu waspada terhadap tanda-tanda pre-eklamsi ataupun eklamsi pada tiap kehamilan.2 %. muntah. seperti ballotement pada palpasi. sehingga dapat menimbulkan emboli paru akut yang dapat berujung pada kematian. walaupun jaringannya belum dikeluarkan. dan adanya denyut jantung pada ultrasonografi.

bagian menonjol yang sedikit padat.000 IU/ml  Beta HCG serum diatas 40.5 minggu. serta masa . Selanjutnya dapat dilakukan kuretase menggunakan kuret tumpul untuk mengeluarkan sisa-sisa konseptus. Setelah 7-10 hari pengeluaran mola dapat dilakukan kerokan ulangan dengan kuret tajam untuk memastikan bahwa uterus benar-benar kosong dan untuk memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa trofoblas yang dapat ditemukan. maka dapat dilakukan pengeluaran mola dengan sunction curettage dan untuk memperbaiki kontraksi dapat diberikan oksitosin secara intravena. kemudian keduanya diperiksakan secara patologi anatomik. walaupun ukuran kehamilan besar B. misalnya pada usia tua dan paritas tinggi yang menolak untuk dilakukan histerektomi atau kasus mola dengan hasil histopatologi yang dicurigai memiliki tandatanda keganasan. Pemeriksaan MRI 1. kemudian mengecil sendiri. karena dapat menyebabkan perforasi. Kedua ovarium dapat ditemukan membesar menjadi kista teka lutein. Diperlukan kontrasepsi yang adekuat selama periode ini. sistemik atau barier selama waktu monitoring. Namun.10  Tidak tampak janin  Jaringan mola terlihat jelas Penanganan awal pada mola hidatidosa adalah perbaikan keadaan umum. Sebelum tindakan kuret dilakukan.10  Tidak terdapat janin  Tampak sebagian plasenta normal C. yaitu:  Lebih besar dari usia kehamilan (50%-60%)  Besarnya sama dengan usia kehamilan (20%-25%)  Lebih kecil daripada usia kehamilan (5%-10%) (2)Dijumpai kista lutein yang biasanya lebih besar dari kista lutein biasa (3)Tidak teraba bagian janin (4)Terdapat bentuk asimetris. akibat pengaruh hormonal. biasanya disebut dengan mola destruen (5)Tak ada ballotement (6)Tidak dijumpai adanya denyut jantung janin.12  Pemulihan biasanya memerlukan waktu sekitar 4. Selanjutnya pengeluaran mola yang dapat dilakukan dengan histerektomi pada wanita usia lanjut dan sudah memiliki anak dengan jumlah yang diinginkan dengan alasan bahwa usia tua dan parietas yang tinggi merupakan faktor predisposisi terjadinya keganasan.1  Setelah dilakukan evakuasi.1. Kerokan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.8  Terapi profilaksis dengan sitostatika dapat diberikan pada kasus mola dengan risiko tinggi akan terjadi keganasan. Biasanya diberikan methotrexate atau actinomycin D. Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim(AKDR) tidak dianjurkan sampai dengan kadar HCG tidak terdeteksi karena terdapat resiko perforasi rahim jika masih terdapat mola invasif. Batasan yang dipakai adalah wanita usia 35 tahun yang telah memiliki tiga anak yang hidup. Pemeriksaan USG Serial Tunggal 1. Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi dan terapi sulih hormon dianjurkan setelah kadar hCG kembali normal. ada baiknya melakukan prmeriksaan roentgen paru untuk melihat kemungkinan metastase. Pemeriksaan Laboratorium 1.10  Beta HCG urin tinggi lebih dari 100.11  Sediaan kuret dipisahkan dari sediaan kuret tumpul dan kuret tajam.000 IU/ml D. Pemberian pil kontrasepsi berguna dalam 2 hal yaitu mencegah kehamilan dan menekan pembentukan LH oleh hipofisis yang dapat mempengaruhi pemeriksaan kadar HCG.mola hidatidosa bervariasi. dianjurkan uterus beristirahat 4 – 6 minggu dan penderita disarankan untuk tidak hamil selama 12 bulan. pada wanita muda yang masih menginginkan untuk memiliki anak. biasanya dilakukan pemasangan batang laminaria atau dengan menggunakan dilatator Hegar untuk membuka serviks. Pasien dianjurkan untuk memakai kontrasepsi oral.6. Sebelum mola dievakuasi.

Pasien dinyatakan sembuh apabila kadar beta-hCG normal yakni . serta masa pengawasan 2 tahun.5 minggu.pengawasan 2 tahun. Pasien dinyatakan sembuh apabila kadar beta-hCG normal yakni Pemulihan biasanya memerlukan waktu sekitar 4.