Anda di halaman 1dari 6

1. Tidak hanya mahir dalam bernyanyi, kemampuan akademiknya juga cemerlang.

Suatu saat
namanya masuk dalam nomimasi penghargaan Tugas akhir mahasiswa di kampus. Ketika saya
melihat hasil karya tugas akhir perancangan arsitekturnya, saya melihat Tulus sebagai sosok
yang berfikir secara sistematis dan memperhatikan berbagai detail. (Nanda Fushshi Laila ,
www.konteks.org Junior Tulus di Unpar)

2. Tulus. Saat itu rambutnya ikal pendek dan masih menggunakan kaca mata. Tubuhnya yang
tinggi besar membuat dirinya dominan dibanding teman-temannya. Ia mendatangi teman saya
dan menanyakan tentang rencana dan konsep acara. Suaranya yang lantang dan tegas ternyata
membuat teman saya tegang dan kikuk menjawabnya

3. Tulus berasal dari Sumatra Barat, ia baru pindah ke Bandung ketika SMA.

4. Tidak berapa lama, Tulus sering tampil di kampus dalam format band, bernama Band Sikuai
(diambil dari salah satu nama pulau di provinsi Sumatra Barat).

5. Apakah kamu ingat kalau dalam arsitektur ada tiga poin


penting: venustas, firmitas & utilitas. Venustas itu keindahan. Firmitas itu struktur atau ke-
rigid-an. Kemudian utilitas itu fungsi. Menurut saya dalam musik juga sama. Musik harus
memiliki venustas, keindahan. Yang kedua musik itu harus firm, dia harus punya struktur. Kalo
musik tidak berstruktur, dia tidak bisa didefinisikan. Itulah alasan kenapa ada genre, kenapa
ada detail ini atau itu. Begitu juga alasan seseorang memilih rock dibanding jazz, atau soul
dibanding funk, karena ia punya struktur. Dan ketiga musik punya utilitas. Utilitas itu nilai guna
untuk penikmat, kalau musik dibuat sebagus mungkin tapi tidak mendapatkan apresiasi, dia
tidak selesai. Jadi,prinsip-prinsp yang saya pelajari di arsitektur dapat saya aplikasikan di dunia
musik. (Tulus)

6. Terakhir saya bikin ilustrasi untuk iklan Dji Sam Soe. Mereka meminta saya untuk membuatkan
konsep bangunannya. Itu setahun yang lalu.

7. Rumah tinggal sendiri saja dan ada beberapa proyek-proyek komersial.

8. Bukit tinggi, dan punya rumah tinggal di Jogja, dan juga di Stutgart. Ceritanya mau jadi
pengusaha properti apa? di mana-mana ada rumah haha

9. Karena saya kan besar. Saya badannya gede banget. Kalo saya pake baju yang terang-terang tuh,
saya suka gak PD. Jadi berasanya kayak ganggu, bikin distorsi. Jadi kalo pake hitam tuh terasa
badan saya lebih kecil, jadi lebih nyaman aja.

http://www.konteks.org/interview-tulus-merancang-musik-tulus

10. Ya, musik saya bukan musik jazz. Tapi jika ada yang mengartikan sebagai musik jazz, ya boleh-boleh saja,
silahkan-silahkan saja, hehe. (Tulus)

11. Album tersebut rilis akhir 2011, masih baru sih. Saya rilis di Bandung, dan ga pernah terpikir bahwa album
saya bisa beredar di Jakarta juga. Nah, yang design cover albumnya tuh fotografer satu ini, Adit namanya
(Tulus menunjuk ke seseorang yang duduk di belakangnya; -pen.), hehe. Iya, tadinya saya hanya ingin rilis
di Bandung aja. Eh, setelah diedarkan di Jakarta, ternyata lumayan juga. Yasudah, akhirnya saya cetak
ulang lagi untuk khusus rilis di Jakarta.

12. Dari awal saya pertama kali mencoba untuk nyanyi di atas panggung, pas saya kecil, sekitar pas kelas 3
atau 4 SD, saya selalu menikmati penampilan saya. Tentunya sebagai diri saya sendiri. Saya dari kecil
diajarin nyanyi sama Ibu saya. Sehingga saya sangat mencintai seni khususnya bernyanyi. Kamu harus
denger suara ibu saya, bagus banget loh, serius, hehe. Ya, itu tadi intinya, saya sangat menikmati semua
kesempatan yang saya dapat untuk bisa bernyanyi di depan khalayak ramai. Dari dulu sampai sekarang,
saya selalu mampu untuk menikmati semua penampilan saya di atas panggung.

13. Mayoritas lirik-lirik yang saya tulis itu awalnya berasal dari essay. Saya memang suka menulis cerpen.
Nah, dalam menulis cerita, kita pasti bikin kerangka karangannya dulu kan?! Nah, si kerangka
karangannya itu merupakan point-point yang nantinya menjadi bagian-bagian penting yang layak dalam
lirik-lirik lagu saya. Kalau kamu merasa lirik-lirik yang saya tulis itu seperti story-telling, berarti pesan saya
sampai. Dan saya pun menyampaikannya betahap. Ada bagian perkenalannya dulu, bagian konfliknya,
lalu penyelesaiannya. Saya mengkonsep lagu saya seolah ada storyline tersendiri.

14. Itu benar-benar terjadi di luar perkiraan saya loh. Karena setiap saya berkarya, saya tidak pernah
menjadikan target pendengar sebagai titik awal dalam proses berkarya itu sendiri. Karena kalaupun saya
begitu, peluang untuk eksplorasi dan bermain-main di banyak ruang kreasi akan menjadi lebih sempit.
Saya hanya membiarkan semuanya berjalan dan mengalir begitu saja.

http://gigsplay.com/tulus-saya-selalu-menikmati-penampilan-saya/

15. Bagimana cerita awalnya Anda bisa terjun ke dunia musik? Padahal Anda
merupakan lulusan Teknik Arsitektur?
Saya sudah menyukai musik sejak kecil. Dulu ibu saya sering membelikan saya kaset dari
berbagai musisi. Kesenangan masa kecil ini terbawa sampai sekarang. Setelah
menyelesaikan pendidikan di Teknik Arsitektur UNPAR, saya memberanikan diri untuk mulai
serius di musik. Sejujurnya, tidak terpikir untuk seserius sekarang, hanya rekaman dan
memperdengarkan hasilnya ke teman-teman. Ternyata, jalannya jadi beda sejak saya
berkesempatan untuk bekerja sama dengan label independen yang bersedia untuk
memperbanyak dan mendistribusikan karya saya. Saya enggak pernah menyangka bakal
didengar banyak orang.

16. Bagaimana tanggapan keluarga, teman, dan orang sekitar tentang keputusan Anda
tersebut?
Keluarga sempat ragu. Tapi saya tidak patah semangat untuk terus berkarya dan
membuktikan kalau saya ingin jadi musisi. Kerja dan usaha itulah yang akhirnya
menghilangkan keraguan keluarga. Teman-teman, mereka senang pastinya.

17. Suara Anda dikenal sangat empuk dan enak sekali didengar. Ketika mendengarkan
album Anda saya pun rela memutar kembali tiap track-nya. Apakah sebelumnya
Tulus memang pernah belajar menyanyi?
Terima kasih. Saya belajar menyanyi dari mendengarkan ibu saya yang rajin menyanyikan
lagu-lagu untuk pengantar tidur saya waktu kecil dulu.

18. Sebagai penyanyi yang juga merangkap sebagai songwriter. Saat membuat lagu
Anda mendapatkan inspirasinya dari mana saja?
Bisa dari mana saja. Paling mudah memang dari cerita yang nyata.

19. Mengenai genre, banyak orang yang bilang Tulus termasuk dalam genre musik
jazz. Anda sendiri menganggap genre musik yang dimiliki saat ini termasuk dalam
genre musik apa ?
Saya sebut musik ekletik. Entah istilah itu ada atau tidak. Namun, mungkin itulah yang paling
tidak memiliki batasan. Disebut sebagai musisi jazz, saya senang sekaligus khawatir. Saya
belum tahu banyak tentang jazz.

http://areamagz.com/article/read/2013/04/26/tulus-bermodal-ketulusan-
ciptakan-musik-yang-syahdu

20. Katanya juga, tiap konser dia selalu minta kipas angin dideketnya.
21. Saya tau Tulus ga sombong dari omongannya, sederhana, baek sama penggemar, apa
adanya. Belakangan saya tau kenapa kata-kata di liriknya bagus. Pria ini cerdas loh.
Saya suka isi blog pribadinya.

22. Dia duluan yang minta manajernya motoin kita bertiga! Tulus emang suka ngajakin
foto-foto.

23. Soal gosip dengan Raisa, Tulus cuman ketawa sambil bilang "tar ada yang marah".
Ga tau juga artinya apa.
24. Tulus pertamanya ngerekam lagu kurang lebih 100 keping, cuman buat nunjukin
suaranya ke temen-temen. Ternyata laris dan dilirik Rollingstone. Disitulah pintu ke
dunia musik terbuka. Kalo katanya Tulus, kejutan-kejutan mulai bermunculan.

25. Karir Tulus naik setelah menamatkan kuliah arsiteknya di Unpar Bandung. Dia masih
gambar-gambar gitu. Kalo sekarang, ada yang minta designkan dia masih mau
nerima. Cuman untuk sekarang emang fokus di musik aja.

26. Kita berhasil minta Tulus nyanyi langsung selama dua kali.

27. Tulus berhasil kita ajak ngomong Melayu.

28. Sewaktu kecil, Ibu nya jualan kaset. Makanya Tulus suka dengerin macam-macam
musik.

29. Soal gosip dengan Raisa, Tulus cuman ketawa sambil bilang "tar ada yang marah".
Ga tau juga artinya apa.

30. Tulus pertamanya ngerekam lagu kurang lebih 100 keping, cuman buat nunjukin
suaranya ke temen-temen. Ternyata laris dan dilirik Rollingstone. Disitulah pintu ke
dunia musik terbuka. Kalo katanya Tulus, kejutan-kejutan mulai bermunculan.

31. Karir Tulus naik setelah menamatkan kuliah arsiteknya di Unpar Bandung. Dia masih
gambar-gambar gitu. Kalo sekarang, ada yang minta designkan dia masih mau
nerima. Cuman untuk sekarang emang fokus di musik aja.

32. Kita berhasil minta Tulus nyanyi langsung selama dua kali.

33. Tulus berhasil kita ajak ngomong Melayu.

34. Sewaktu kecil, Ibu nya jualan kaset. Makanya Tulus suka dengerin macam-macam
musik.

http://chiiraa.blogspot.co.id/2014/11/interview-with-tulus.html

35. Gue selalu nunggu-nunggu malem. Kalo pas sekolah, pengen cepet
balik dan pengen cepet-cepet malem. Soalnya di setiap malem itu, ibu
gue selalu nyanyiin lagu buat gue. Dan gue seneng banget!
36. Mungkin pertanyaannya udah sering juga di tanyain sama yang lain, kan
awalnya arsitek, terus kenapa memilih jadi penyanyi?
37.
38. Belum pernah ditanyain tuh. Gw tuh sebenernya cinta banget sama dunia
arsitektur. Yang gw pelajarin dari arsitektur itu sebenernya bukan how to
build a great or good building atau buat bangunan yang wowww. Tapi gw
lebih ke kaya pola pikir dasarnya. Di arsitek tuh ada istilahnya, ada tiga
point yang merupakan hal terpenting dari setiap keindahan, dari setiap
karya seni. Ada firmitas, utilitas, venustas. Ternyata setelah gw pikir pikir,
membuat karya seni itu sama. Seni lukis pasti ada strukturnya, kenapa
warna kuning bisa melekat di warna merah, dan lain lain. Kenapa warna ini
di campur dengan warna ini berubah warnanya. Itu kan struktur. Terus seni
lukis juga pasti ada keindahannya. Terus dia juga ada utilitasnya,
kegunaannya kan. Kalau lukisan entah cuma ditaro, entah jadi untuk
mengenang sesuatu gitu kan. Semua seni itu kaya gitu. Dan menurut gw,
dengan apa pun yang gw lakukan, selama itu masih bergerak di bidang seni,
gw tidak merasa meninggalkan arsitektur. Karena feels like still doing same
thing. Kayanya itu itu aja sih, semua seni kaya gitu sih. Ada utilitasnya,
ada firmitasnya, ada venustas apapun, dalam seni apapun, termasuk puisi
sekalipun gitu ya misalnya. Juga ada struktur penulisannya, ada sistematika
penulisan, ada cara membaca yang indah seperti apa. Nyanyi juga gitu ada
struktur lagu ada chorus, ada bridge, ada reff, ada gunanya untuk di
dengerin, untuk di download, untuk dibajak.
39. Memang dari kecil suka nyanyi?

40. Iya dari sejak gw kecil banget. Jadi waktu kecil itu setiap hari itu moment
yang paling gw tunggu adalah setiap mau tidur. Karena nyokap gw selalu
nyanyi buat gw setiap gw mau tidur. Dari kecil sampe gw SD kelas 2 gitu
kelas 1. Nyanyi apapun, lagu lagu apapun. Gw tuh kaya dari sekolah tuh
gw pengen cepet cepet malem, pengen cepet cepet tidur. Nah dari situ
gw udah suka banget sama musik.

41. Terus dari keluarga ada yang musisi?

42. Ga ada 1 pun dari keluarga gw yang musisi. Sekarang tuh dengan gw serius
di musik , itu jadi kaya pioneer gitu di keluarga gw. Keluarga gw tuh
mayoritas pedagang.

43. Lirik liriknya kan ditulis sendiri tuh, kalau suka nulis juga sejak kapan?

44. Gw suka nulis sejak kuliah.

45. Esai. Gw suka nulis pendek pendek. Dulu tuh gw suka kaya nulis d tissue,
di kertas gambar, sampe ada salah satu sahabat gw yang namanya Jatidiri
Putra Wicaksono adalah dia seniman grafis gitu, terus dia bilang sayang
tulisan lo ga di apa apain, udah gw ambil aja buat bikin buku buat TA gw.
Akhirnya dikumpulin terus sama dia dibawa ke Jakarta, kertas kertas di
belakang struck toll gitu, di belakang struck parkir yang gw tulis tulis
dibawa ke Jakarta pokoknya dia rapihin semua jadi buku. Sempet mau
diterbitin tapi ga jadi, alasan teknis.
46. Kalau menurut gw, inspirasi itu 3 : apa yang lo denger, apa yang lo lihat,
apa yang lo rasa. Dan menurut gw sebenernya ketiga tiganya itu semua
orang sama. Jadi kalau misalnya lo tanya inspirasi datang dari mana,
mungkin jawaban yang paling general ya dari 3 hal itu apa yang gw lihat,
apa yang gw denger, apa yang gw rasa. Dan gw rasa semua orang juga gitu
sih.
47. Gw suka menggambar. Gw suka banget menggambar. Gambar apapun.
48. Teman hidup itu, jadi gw kan muslim, gw tuh percaya banget sama Quran,
nah di Quran tuh kan di tulis gitu kan sama Tuhan, menurut gw di semua
kitab pasti ada tentang jodoh, tentang pasangan, kan ditulis kalau manusia
itu sudah diciptakan berpasang pasangan dan kita akan merasa lebih
tenang kalau ada di dekat pasangan kita. Karena gw percaya banget Quran
itu adalah apa yang diucapkan oleh Tuhan. Maka gw pengen menyampaikan
sebuah optimisme, gw tuh ga suka ngeliat orang yang terlalu mengeluhkan
kesendiriannya. Gw ga suka, gw ga suka orang kaya gitu. Jadi gw berusaha
menyampaikan lewat lagu itu kalau sebenarnya kalau Tuhan udah ngomong
gitu, yakin ga yakin, itu pasti benar. Jadi sebenarnya memang sudah ada
seseorang buat lo. Intinya lo ga akan pernah benar benar sendiri sih. Jadi
ya santai aja gitu. Ya itulah gw bikin lagu Teman Hidup itu, kenapa cara
menyanyikannya seperti itu, kenapa musiknya seperti itu, karena ya gw
pengen menyampaikan dengan cara seperti itu, kalau itu adalah sesuatu
yang benar kalau lo ga pernah benar benar sendiri. Yakin gw di setiap kitab
pasti dijelasin ko, tentang manusia itu ada temannya. Manusia itu diturunin
ga sendiri. Tergantung seberapa yakin lo. Dan gw berharap kalau orang
denger lagu itu dia akan merasa yakin gitu, kalau memang ada ko orang
buat lo.
49. Ga tau gw. Apa ya? Gw orangnya ga romantis deh. Liriknya ya? Mungkin
setiap orang itu punya sisi lain gitu kali ya. Bisa bisa aja lagi. Itu kaya
pengarangnya Harry Potter, ibu rumah tangga kan tapi bisa bikin cerita kaya
gitu, kalau di tanya hidup lo seseru itu kah. Engga gitu, ibu rumah tangga
doang. Mungkin gitu kali ya. Gw ga romantis, sumpah gw ga ada romantis
romantisnya. Gw marah marah mulu malah.
50. Waktu kecil cita citanya pengen jadi apa?
51.
52. Arsitek. Ga tau, jadi asik aja kayanya jadi arsitek gelarnya insinyur. Kaya si
Doel. Tukang insinyur. Dulu kata nyokap gw, waktu kecil, gw bisa ngegambar
rumah. Dan gw bener bener ngegambar rumah yang detail. Nyokap gw
kaget sendiri, waktu sebelum TK, di kelompok bermain gitu, orang orang
tuh disuruh gambar bebas, tau ga lo gw gambar apa? Gw gambar lemari!
Gw ngegambar lemari, sementara yang lain gambar bunga, terus ada yang
gambar diberi pisang diberi pisang gitu. Gw malah gambar lemari.
53. Waktu kecil cita citanya pengen jadi apa?
54.
55. Arsitek. Ga tau, jadi asik aja kayanya jadi arsitek gelarnya insinyur. Kaya si
Doel. Tukang insinyur. Dulu kata nyokap gw, waktu kecil, gw bisa ngegambar
rumah. Dan gw bener bener ngegambar rumah yang detail. Nyokap gw
kaget sendiri, waktu sebelum TK, di kelompok bermain gitu, orang orang
tuh disuruh gambar bebas, tau ga lo gw gambar apa? Gw gambar lemari!
Gw ngegambar lemari, sementara yang lain gambar bunga, terus ada yang
gambar diberi pisang diberi pisang gitu. Gw malah gambar lemari.

http://www.laughonthefloor.com/topics/tulus/