Anda di halaman 1dari 8

TPT XX PERHAPI 2011

10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

ANALISIS KOEFISIEN TAHANAN GULIR ALAT ANGKUT


DUMP TRUCK PADA JALAN ANGKUT DI KUARI
BATUGAMPING
Yudhidya Wicaksana, Nuhindro P. Widodo, Suseno Kramadibrata, Ridho
K. Wattimena, Fajar Ismail, Batara Nainggolan
Laboratorium Geomekanika dan Peralatan Tambang, FTTM ITB

Abstrak
Produktifitas penambangan dipengaruhi kinerja alat angkut dan alat
muat, salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dari alat angkut
adalah Tahanan Gulir atau Rolling Resistance (RR). Koefisien tahanan gulir
atau Coeffisien of Rolling Resistance (CRR) adalah besarnya tahanan gulir
yang bekerja dibagi beban normal kendaraan.
Pengukuran nilai CRR dilakukan di skala lapangan dengan menggunakan
alat angkut dump truck bermuatan total 5-15 ton dengan material jalan
batugamping. Variabel-variabel pada penelitian ini adalah berat total
muatan, tekanan pemompaan ban, dan kecepatan penarikan.
Dari hasil pengujian didapatkan nilai CRR untuk material batugamping
dengan jenis ban dump truck tipe bias. Berdasarkan hasil pengujian dapat
ditunjukkan bahwa kenaikan berat muatan dan kecepatan penarikan akan
meningkatkan nilai CRR, sedangkan kenaikan tekanan pemompaan akan
menurunkan nilai CRR. Untuk memperoleh hubungan empirik antara
antara nilai CRR yang dihasilkan dengan parameter terkait maka
dilakukan analisis dimensi.
Kata kunci: rolling resistance, coefficient rolling resistance, batugamping
1. Pendahuluan
Salah satu aktivitas yang dilakukan pada tambang terbuka atau bawah
tanah di antaranya adalah kegiatan pemindahan tanah mekanis yang
meliputi pekerjaan penggalian, pemuatan, pengangkutan tanah atau
batuan. Alat muat pada kegiatan pemindahan tanah mekanis, kinerjanya
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah tahanan gulir (RR,
Rolling Resistance), tahanan kemiringan (GR, Grade Resistance), koefisien
traksi, rimpull, percepatan, ketinggian dari permukaan laut, dan keahlian
operator. Di antara faktor-faktor tersebut, yang bersifat spesifik untuk
setiap kondisi ban dan jalan adalah tahanan gulir karena merupakan
interaksi antara ban dan permukaan jalan.

Halaman 1 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

Prodjosumarto (1996) menyatakan bahwa tahanan gulir dapat


didefinisikan sebagai jumlah segala gaya-gaya luar yang berlawanan
dengan arah gerak kendaraan yang berjalan di atas jalur jalan atau
permukaan tanah. Wong (1993) menyebutkan bahwa tahanan gulir pada
pemukaan jalan yang keras disebabkan terutama oleh adanya defleksi
rangka ban pada saat ban berputar. Karena sifatnya yang berlawanan
dengan arah gerak ban maka semakin besar nilai tahanan gulir maka
diperlukan gaya yang lebih besar untuk mengatasi tahanan gulir tersebut.
Gaya Tarik

Tahanan Aerodinamis
Ft
Ra
Tahanan Kemiringan
Ftlc
2
Rg =
W si
n

Rr Rolling resistance
Winch
Machine Rr

W cos
W
Ft LC

Gambar 1. Gaya-gaya yang bekerja pada kendaraan

Penelitian ini merupakan kelanjutan penelitian sebelumnya yaitu


Kramadibrata dkk. (2002) dan Widodo dkk. (2009) dimana pada penelitian
tersebut didapatkan nilai koefisien tahanan gulir (CRR, Coefisien of Rolling
Resistance) pada berbagai variasi variabel, seperti: variasi beban, jenis
landasan, kemiringan, dan tekanan ban. Widodo dkk. (2009) melakukan
penelitian pada jalan angkut di tambang terbuka batubara hingga beban
maksimum 1 ton dengan berbagai variasi jenis ban, kemiringan jalan dan
tekanan ban.
Penelitian ini merupakan salah satu tahap persiapan untuk penelitian di
jalan angkut tambang batubara dengan skala yang lebih besar (mencapai
40 ton beban maksimum). Penelitian ini dilakukan pada jalan angkut
dengan material batugamping di lokasi tambang kuari yang berlokasi di
Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Beban
maksimum pada jalan dengan material batugamping mencapai 15 ton.
2. Batasan penelitian
Penelitian dilakukan untuk mencari nilai koefisien tahanan gulir pada
berbagai kondisi parameter. Adapun batasan-batasan masalah penelitian
ini, yaitu:

Halaman 2 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

Penelitian dilakukan di tambang batugamping di Desa Citatah,


Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Alat angkut yang digunakan adalah dump truck bermuatan
maksimal 15 ton yang ditarik oleh dump truck lainnya yang
bermuatan lebih besar.
Berat muatan dump truck bervariasi mulai muatan total 5 ton, 10
ton, dan 15 ton.
Ban yang digunakan adalah ban dump truck dengan jenis ban bias
dengan diameter 94 cm dan lebar ban 19 cm dengan variasi
tekanan ban 140 Psi (772,18 kPa) dan 112 Psi (965,23 kPa).
3. Uji Lapangan
3.1. Kondisi Jalan Pada Lokasi Pengujian
Pengujian tahanan gulir dilakukan pada jalan tambang batugamping di
lokasi perbukitan. Material pembentuk jalan adalah material batugamping
yang diasumsikan relatif homogen tanpa adanya sisipan material lainnya.
Pada jalan yang digunakan untuk penelitian, lapisan atasnya terdapat
lapisan tipis debu dan kerikil-kerikil kecil.
Profil kemiringan jalan terbagi menjadi tiga segment besar, yaitu
kemiringan 0% dengan panjang 6 m, kemiringan 4% dengan panjang
80 m, dan 10% dengan panjang 14 m. Penelitian dilakukan pada segment
jalan dengan kemiringan 4% karena jalan dengan kemiringan 4% lebih
panjang daripada jalan pada kemiringan 0% dan 10%. (lihat Gambar 2).
Beda elevasi titik awal dan titik akhir pengujian adalah 1,4 m.
Grade 10 % Titik akhir
Grade 4 % Titik start
Grade 0 %

14 m
80 m
6m

Gambar 2. Penampang memanjang jalan tambang pada daerah pengujian

3.2. Pengambilan data


Pengujian di lapangan menggunakan peralatan berupa dump truck
bermuatan 5-15 ton sebagai dump truck yang ditarik dan truck bermuatan
maksimal 25 ton sebagai kendaraan penarik. Penggunaan truck yang
berbeda muatan ini dimaksudkan agar truck yang bermuatan lebih besar
kuat menarik truck yang lebih kecil. Dump truck yang berada di depan
menarik dump truck di belakang dengan menggunakan sambungan besi

Halaman 3 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

yang telah dimodifikasi sehingga pada sambungan tersebut dapat


ditempatkan load cell tekan. Fungsi load cell tekan ini menggantikan fungsi
dari load cell tarik yang digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya.
Alasan pemilihan load cell tekan adalah karena load cell tekan memiliki
nilai tekanan yang lebih besar daripada load cell tarik, sehingga load cell
tekan dapat mengakomodir penelitian pada skala lapangan yang
menggunakan dump truck berukuran besar. Gambaran sistematik
pengambilan data di lapangan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Pengambilan data di lapangan

3.3. Hasil dan analisis


Gambar 4.a merupakan hubungan koefisien tahanan gulir terhadap
berat pada berbagai kecepatan dan tekanan pemompaan untuk
kemiringan 4%. Secara umum, Gambar 4.a menunjukan bahwa
semakin besar muatan total yang bekerja, maka nilai koefisien
tahanan gulir yang bekerja semakin besar, kecenderungan ini
diakibatkan semakin besar muatan yang bekerja maka semakin besar
deformasi dan defleksi rangka ban pada lintasan sehingga deformasi
dan gesekan antara ban dengan jalan semakin besar, yang akan
menyebabkan gaya tarik yang diperlukan untuk menarik dump truck
semakin besar dan meningkatkan koefisien tahanan gulir
Gambar 4.b merupakan hubungan koefisien tahanan gulir terhadap
tekanan ban pada kecepatan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam serta
variasi berat total untuk kemiringan 4%. Gambar 4.b menunjukkan
kecenderungan bahwa semakin besar tekanan pemompaaan yang

Halaman 4 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

diberikan maka nilai koefisien tahanan gulir yang dihasilkan semakin


kecil. Untuk kondisi kemiringan 4% nilai CRR yang dihasilkan akan turun
seiring dengan kenaikan tekanan pemompaan ban mengikuti persamaan
linear. Penurunan nilai kemiringan CRR akan jelas terlihat untuk kondisi
berat total muatan 150 kN dengan kecepatan penarikan 20 km/jam, hal ini
dikarenakan laju penetrasi dan deformasi yang diakibatkan tekanan
pemompaan ban lebih kecil dibandingkan daya dukung tanah untuk
mengatasi tekanan ban dan rangkanya.
Pemberian berat muatan yang besar harus diimbangi dengan pemberian
tekanan pemompaan yang optimum untuk meneruskan beban vertikal ke
permukaan kontak antara ban dengan tanah. Pada beban 50 kN dengan
kecepatan penarikan 10 km/jam penambahan tekanan pemompaan ban
memberikan pengaruh terhadap penurunan CRR relatif kecil hal ini
dikarenakan beban muatan yang bekerja ringan.
Pada Gambar 4.c terlihat kenaikan nilai koefisien tahanan gulir untuk
kecepatan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20 km/jam. Menurut Wong (1993),
semakin besar kecepatan yang bekerja pada kendaraan maka semakin
besar deformasi yang terjadi pada ban dan lintasan, dan semakin besar
getaran pada struktur ban. Gambar 4.a menunjukan kurva koefisien
tahanan gulir untuk tekanan pemompaan yang sama, CRR pada
kecepatan 20 km/jam berada diatas kurva CRR dengan kecepatan 15
km/jam dan 10 km/jam, kenaikan CRR seiring dengan kenaikan kecepatan
karena pada kecepatan rendah gaya yang digunakan stabil dan tidak
terjadi kenaikan percepatan yang cepat, pada kecepatan tinggi terjadi
kenaikan percepatan yang tiba-tiba sehingga saat terjadi kenaikan
kecepatan tersebut akan terjadi kenaikan gaya secara tiba-tiba. Gambar 4.c
ini sesuai dengan teori Wong (1993)
Pengujian tahanan gulir adalah pengujian yang mengacu pada gaya yang
terjadi akibat adanya kontak antara ban dan material jalan. Karena itu luas
kontak yang terjadi perlu dianalisis karena sangat berpengaruh terhadap
gesekan yang terjadi. Luas kontak yang diukur saat pengujian
dihubungkan dengan berat total muatan yang bekerja dan tekanan
pemompaan yang diberikan.
Gambar 4.d menunjukkan hubungan antara penambahan beban dengan
luas kontak antara ban dan material jalan. Ketika dilakukan penambahan
beban, maka terjadi penambahan tekanan pada permukaan material
sehingga menyebabkan defleksi pada ban. Karena adanya defleksi ini
maka luas kontak yang terjadi akan semakin bertambah besar. Parameter
yang dihasilkan akibat hubungan antara ban dan material jalan tidak
hanya pada luas kontak yang dihasilkan, tetapi juga benaman dan

Halaman 5 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

penetrasi ban yang diakibatkan tekanan kendaraan. Pada penelitian ini


tidak dilakukan analisis terhadap benaman dan penetrasi karena
perbedaan benaman yang dihasilkan relatif kecil, dan pengujian tahanan
gulir dilakukan berulang kali, sehingga tinggi benaman yang dihasilkan
kurang baik.
Pada Gambar 4.e menunjukan kecenderungan semakin besar tekanan
pemompaan yang diberikan akan memberikan luas kontak yang
dihasilkan semakin kecil. Luas kontak yang dihasilkan menunjukan
deformasi yang dihasilkan antara ban dengan material lintasan. Pada
penelitian ini, pemberian tekanan pemompaan semakin besar
menyebabkan deformasi yang terjadi semakin kecil. Untuk berat muatan
semakin besar diperlukan tekanan pemompaan optimum untuk
mengimbangi tekanan yang dihasilkan oleh ban.

(a)

(b)

Halaman 6 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

(c)

(d)

(e)
Gambar 4. (a) Hubungan CRR terhadap berat pada berbagai kecepatan dan tekanan
pemompaan; (b) Hubungan CRR terhadap tekanan pemompaan ban pada berbagai
kecepatan dan berat total; (c) Hubungan CRR terhadap kecepatan penarikan pada
berbagai tekanan ban dan berat total; (d) Hubungan penambahan beban terhadap luas
kontak; (e) Hubungan penambahan tekanan ban terhadap luas kontak

4. Analisa dimensi
Penelitian di lapangan menghasilkan variabel-variabel yang dapat
digunakan untuk analisis dimensi. Variabel yang dianalisis ada 6 buah

Halaman 7 dari 8
TPT XX PERHAPI 2011
10-11 Oktober 2011, The Santosa Villas and Resort Sengigi, Lombok, NTB

(n=6) yang ditunjukkan dalam Tabel IV.11. Variabelvariabel tersebut


adalah berat total muatan (W), tahanan gulir (RR), tekanan pemompaan
ban (P), kecepatan (v), luas kontak (A), dan diameter ban (d).
Tabel 1. Parameter dimensi yang bekerja

Parameter Simbol Unit Dimensi


Dengan menggunakan
Berat W kg.m/s2 MLT-2
teorema Buckingham, maka
Tahanan Gulir RR kg.m/s2 MLT-2
persamaan tahanan gulir
Tekanan Ban P kg/m.s2 ML-1T-2
adalah:
Kecepatan v m/s1 MT-1
Luas Kontak A m2 L2 RR = 0.013 .W
Diameter ban d m L

5. Kesimpulan
Dari hasil uji lapangan didapatkan nilai CRR bernilai antara 0,016 0,031
dengan nilai rata-rata 0,021. Parameter yang digunakan adalah jenis ban
dump truck bermuatan maksimal 15 ton adalah ban bias, material lintasan
adalah batugamping, kecepatan penarikan 10 km/jam, 15 km/jam, dan 20
km/jam, tekanan pemompaan yang digunakan 112 psi dan 140 psi, beban
50 kN, 100 kN, dan 150 kN dan kemiringan lintasan 4%.
Berdasarkan hasil analisis dimensi maka nilai tahanan gulir pada kondisi
material jalan batugamping dapat dituliskan sebagai berikut:
RR = Rolling Resistance atau Tahanan Gulir
RR = 0.013 .W P = Tekanan Pemompaan Ban (kPa)
A = Luas Kontak Ban dengan Jalan (m2)
W = Beban Total Kendaraan (kN)

Daftar pustaka
1. Komandi, G., An Evaluation of the Concept of Rolling Resistance, Journal of
Terramechanics, 1999
2. Kramadibrata, S, dkk., Analysis of Rolling Resistance Coefficient of Dried Silt and Wet Silt
at Laboratory Scale, Mine Planning and Equipment Selection (MPES), 2002
3. Kramadibrata, S., The Use of Dimensional Analysis, Department of Mining Engineering
ITB, Bandung, 1998
4. Prodjosumarto, P., Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik Pertambangan, ITB,
Bandung, 1996
5. Widodo, N.P., Wicaksana, Y., Wattimena, R.K., A Preliminary Field-Study to Determine
Rolling Resistance Surface Coal Mines, Faculty of Mining and Petroleum Engineering,
Bandung Institut of Technology, 2009
6. Wong, Theory of Ground Vehicles, 2nd Edition, John Wiley and Sons, Inc, New York,
1993

Halaman 8 dari 8

The author has requested enhancement of the downloaded file. All in-text references underlined in blue are linked to publications on ResearchGate.